You are on page 1of 5

1.6.

1 Pendekatan Teoritis
Karena sangat kompleknya dalam pendekatan mengenai bentuk dasar ini maka sampai
saat ini semua model matematika dibuat berdasarkan asumsi aliran potensial dua dimensi.
Berhubungan dengan pentingnya bentuk dasar pada hambatan terhadap aliran dan angkutan
sedimen, percobaan yang telah dibuat untuk memprediksi tipe (jenis) dan dimensi pada
bentuk dasar (bedform) dibawah kondisi aliran dan sedimen yang berbeda. Banyak analisis
empiris yang ada di alam. Teori analisis yanag digunakan idealnya pada asumsi aliran
potensial dua dimensi atau persamaa kontinuitas pada angkutan sedimen. Suatu contoh klasik
yang didasarkan konstinuitas pada pergerakan bentuk dasar (bedform) yakni pekerja yang
dihasilkan oleh Exner (1925).
Pertimbangan pergerakan dunes dalam arah hilir sebagai mana yang tunjukan pada
Gambar 3. Persamaan kontinuitas pada pergerakan bentuk dasar (bedform) yakni :
0 =
c
c
+
c
c
x
q
t
y
s
s
¸
.......................................................(1.18)
dimana :
¸
s
= berat spesifik sedimen
y = elevasi dasar atau tinggi bentuk dasar dari posisi x sepanjang saluran pada waktu ke t
s
q

= debit sedimen dalam berat persatuan lebar dalam waktu dan
x = panjang daerah pada bagian hilir.
Dari rumus di atas dapat dilihat bahwa suku pertama menyatakan laju deposisi
sedimen di dasar dan suku kedua menyatakan perubahan debit sedimen pada jarak x
sepanjang saluran. Selanjutnya kedua suku tersebut selalu berlawanan tanda, yaitu bila
x
q
s
c
c

bernilai negatip maka
t
y
c
c
akan bernilai positip dan bentuk dasar akan naik ke atas, dan
sebaliknya.






Exner (1925) memberikan asumsi bahwa:
Gambar 1.16. Konfigurasi bentuk dasar yang bergerak ke hilir (Yang, 1996).

o o s
U A q = ........................................................(1.19)
dimana A
o
adalah suatu konstanta dan U
o
adalah kecepatan di dekat dasar saluran. Substitusi
persamaan (1.19) ke persamaan (1.18) memberikan :
0 =
c
c
+
c
c
x
U
A
t
y
o
o
S
¸
.................................................................(1.20)
yang selanjutnya dikenal dengan persamaan Exner. Persamaan (1.20) dapat diselesaikan sekali
dengan kondisi awal dan batas yang diberikan. Sebagai contoh penyelesaian Persamaan
Exner dapat dilihat pada (gambar 1.17).









Potensial Kecepatan dan Fungsi Arus
Kecepatan adalah vektor dengan tiga komponen, sehingga dalam menghitungnya
kita memerlukan tiga persamaan. Untuk itu kita dapat mendefinisikan suatu fungsi skalar
tunggal |(x,y,z), dimana kita dapat mendapatkan kecepatan tersebut dengan :
| | V = = ) ( gradient V ..............................................................................(1.21)
yang dalam bentuk komponennya dapat ditulis :
x
u
c
c
=
|

y
v
c
c
=
|

z
w
c
c
=
|
........................... (1.22)
Secara matematis fungsi |(x,y,z) ini ada dan dapat diselesaikan bila syarat perlu dan syarat
cukup dapat terpenuhi, yaitu :
0 = |
.
|

\
|
c
c
c
c
÷
|
|
.
|

\
|
c
c
c
c
x y y x
| |

0 = |
.
|

\
|
c
c
c
c
÷ |
.
|

\
|
c
c
c
c
z x x z
| |

Penyimpangan
akhir pada
karekteristik

Gambar 1.17. Variasi pada Bentuk Dasar sebagai fungsi Waktu (Exner, 1925).

0 =
|
|
.
|

\
|
c
c
c
c
÷ |
.
|

\
|
c
c
c
c
y z z y
| |
.......................................................(1.23)
Dengan mensubtitusikan persamaan (1.22) ke persamaan (1.23) diperoleh :
0 =
c
c
÷
c
c
y
u
x
v

0 =
c
c
÷
c
c
x
w
z
u

0 =
c
c
÷
c
c
z
v
y
w
...........................................(1.24)
ketiga persamaan tersebut adalah komponen persamaan (1.24) sehingga tebukti bahwa
keberadaan fungsi |(x,y,z) jika alirannya adalah irrotational. Fungsi |(x,y,z) ini disebut
dengan potensial kecepatan. Potensial kecepatan dapat didefinisikan hanya untuk aliran
irrotational. Dan kecepatan yang diturunkan dari fungsi potensial ini selalu berlaku pada
aliran irrotational. Penyelesaian untuk sebuah fungsi tunggal ini biasanya lebih mudah
daripada penyelesaian untuk dua atau tiga komponen kecepatan. Sehingga untuk masalah-
masalah aliran tak kental (inviscid) dan tidak berotasi (irrotational) selalu menganalisa
masalah potensial kecepatan. Dari situlah mengapa bidang yang berhubungan dengannya
disebut dengan teori potensial aliran. Potensial kecepatan juga dapat didefinisikan pada fluida
yang mampu mampat (compressible). Aliran potensial yang dibatasi pada fluida tak mampu
mampat disebut dengan teori aliran ideal (ideal flow theory) atau hidrodinamika
(hydrodynamics).
Bila kita mengasumsikan fluida adalah tidak kental (inviscid) dan tidak mampu
mampat (incompressible), maka persamaan pengatur dalam koordinat kartesian untuk
persamaan kontinuitas dapat ditulis :
0 =
c
c
+
c
c
+
c
c
z
z
y
v
x
u
................................................(1.25)
Dengan maksud untuk mendapatkan potensial kecepatan dari suatu bentuk geometri
khusus aliran, maka kita harus menyelesaikan suatu fungsi tunggal. Dengan menganggap
fungsi tersebut dapat diturunkan dari persamaan kontinuitas, maka kita subtitusikan
komponen kecepatan dari persamaan (1.24) ke persamaan (1.25).
0 = |
.
|

\
|
c
c
c
c
+
|
|
.
|

\
|
c
c
c
c
+ |
.
|

\
|
c
c
c
c
z z y y x x
| | |
.........................................(1.26)

yang disederhanakan menjadi :
0
2
2
2
2
2
2
2
= V =
c
c
+
c
c
+
c
c
|
| | |
z y x
.............................................. (1.27)
persamaan terakhir ini disebut dengan persamaan Laplace, dan sangat dikenal dalam semua
bidang matematika dan engineering sebagai persamaan differensial. Dalam banyak hal sering
ditulis dalam notasi vektor, mengingat notasi vektor ini sangat aplikatif terhadap semua
sistem koordinat.
0 ) ( .
2
= V V = V | | . ..................................................(1.28)
Perhitungan untuk aliran tiga dimensi, tiga arah dari aliran potensial adalah sangat sulit.
Untuk aliran dua dimensi, dua arah terdapat banyak karakter penting dari aliran potensial ini
dan lebih mudah untuk diselesaikan.
Bila kita membatasi dalam aliran dua dimensi dan dua arah dengan memilih sumbu
koordinat x,y dan komponen kecepatan u,v maka persamaan | (x,y) sebagai persamaan
Laplace dua dimensi :
0
2
2
2
2
=
c
c
+
c
c
y x
| |
.....................................................(1.29)
Untuk aliran dua dimensi, kita dapat mendefinisikan sebuah fungsi skalar sekunder yang
mana komponen kecepatan dapat diturunkan. Telah kita ketahui Stream function atau
streamline function (fungsi alir), ¢ (x,y), dapat kita turunkan untuk memperoleh komponen
kecepatan tersebut, yaitu :
,
y
u
c
c
=
¢
dan
x
v
c
c
÷ =
¢
.............................................(1.30)
dimana u dan v adalah masing –masing kecepatan dalam arah x dan y dan | adalah aliran
potensial.
seperti telah kita ketahui dari uraian diatas bahwa :
- syarat perlu dan syarat cukup untuk keberadaan fungsi arus ini adalah persamaan
kontinuitas dua dimensi.
- Medan kecepatan yang diturunkan dari fungsi alir ini secara otomatis akan membuktikan
persamaan kontinuitas.
- Garis alir (streamlines) adalah garis imaginer dengan ¢ = konstan dan tegak lurus dengan
vektor kecepatan.
Perlu dicatat bahwa untuk keberadaan fungsi alir (¢) ini tidak perlu aliran harus irrotational,
meskipun fungsi alir (¢) ini dapat berada pada kondisi aliran yang tidak berotasi
(irrotational).


Pendekatan Bentuk Dasar
Beban Dasar dapat dihitung langsung dari pertimbangan bentuk dasar dari gambar (1.16)
Persamaan kontinuitas dari persamaan gelombang pasir adalah

............................................................................................(1.31)
Dimana p adalah porositas pada dasar pasir.
o = x – V,t
Dimana V adalah kecepatan pada gelombnag pasir
Kemudian

o

= - V
s

o

=

Persamaan (1.31) menjadi
- V
s

o
+

= 0
Dengan mengintegrasikan didapat

=

= volume pada pergerakan sedimen per unit lebar =

dan
A = amplituo rata-rata pada bentuk segitiga gelombang pasir..