You are on page 1of 86

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, yang merata, baik materiil maupun spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; bahwa dalam pelaksanaan pembangunan nasional, tenaga kerja mempunyai peranan dan kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku dan tujuan pembangunan; bahwa sesuai dengan peranan dan kedudukan tenaga kerja, diperlukan pembangunan ketenagakerjaan untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja dan peransertanya dalam pembangunan serta peningkatan perlindungan tenaga kerja dan keluarganya sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan; bahwa perlindungan terhadap tenaga kerja dimaksudkan untuk menjamin hak-hak dasar pekerja/buruh dan menjamin kesamaan kesempatan serta perlakuan tanpa diskriminasi atas dasar apapun untuk mewujudkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya dengan tetap memperhatikan perkembangan kemajuan dunia usaha; bahwa beberapa undang-undang di bidang ketenagakerjaan dipandang sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan tuntutan pembangunan ketenagakerjaan, oleh karena itu perlu dicabut dan/atau ditarik kembali; bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana tersebut pada huruf a, b, c, d, dan e perlu membentuk Undang-undang tentang Ketenagakerjaan.

b. c.

d.

e.

f.

Mengingat: Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (2), Pasal 27 ayat (2), Pasal 28, dan Pasal 33 ayat (1) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Dengan persetujuan bersama antara DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA DAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG KETENAGAKERJAAN. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1

1

Dalam undang -undang ini yang dimaksud dengan: 1. 2. 3. 4. 5. a. b. c. Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja. Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan-badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain. Pengusaha adalah: orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan milik sendiri; orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya; orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia. Perusahaan adalah: a. setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak, milik orang perseorangan, milik persekutuan, atau milik badan hukum, baik milik swasta maupun milik negara yang mempekerjakan pekerja/buruh dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain; usaha-usaha sosial dan usaha-usaha lain yang mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.

6.

b. 7.

Perencanaan tenaga kerja adalah proses penyusunan rencana ketenagakerjaan secara sistematis yang dijadikan dasar dan acuan dalam penyusunan kebijakan, strategi, dan pelaksanaan program pembangunan ketenagakerjaan yang berkesinambungan. Informasi ketenagakerjaan adalah gabungan, rangkaian, dan analisis data yang berbentuk angka yang telah diolah, naskah dan dokumen yang mempunyai arti, nilai dan makna tertentu mengenai ketenagakerjaan. Pelatihan kerja adalah keseluruhan kegiatan untuk memberi, memperoleh, meningkatkan, serta mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap, dan etos kerja pada tingkat keterampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi jabatan atau pekerjaan. Kompetensi kerja adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang ditetapkan. Pemagangan adalah bagian dari sistem pelatihan kerja yang diselenggarakan secara terpadu antara pelatihan di lembaga pelatihan dengan bekerja secara langsung di bawah bimbingan dan pengawasan instruktur atau pekerja/buruh yang lebih berpengalaman, dalam proses produksi barang dan/atau jasa di perusahaan, dalam rangka menguasai keterampilan atau keahlian tertentu. Pelayanan penempatan tenaga kerja adalah kegiatan untuk mempertemukan tenaga kerja dengan pemberi kerja, sehingga tenaga kerja dapat memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya, dan pemberi kerja dapat memperoleh tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhannya. Tenaga kerja asing adalah warga negara asing pemegang visa dengan maksud bekerja di wilayah Indonesia.

8.

9.

10. 11.

12.

13.

2

14. 15. 16.

Perjanjian kerja adalah perjanjian antara pekerja/buruh dengan pengusaha atau pemberi kerja yang memuat syarat-syarat kerja, hak, dan kewajiban para pihak Hubungan kerja adalah hubungan antara pengusaha dengan pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja, yang mempunyai unsur pekerjaan, upah, dan perintah. Hubungan industrial adalah suatu sistem hubungan yang terbentuk antara para pelaku dalam proses produksi barang dan/atau jasa yang terdiri dari unsur pengusaha, pekerja/buruh, dan pemerintah yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Serikat pekerja/serikat buruh adalah organisasi yang dibentuk dari, oleh, dan untuk pekerja/buruh baik di perusahaan maupun di luar perusahaan, yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab guna memperjuangkan, membela serta melindungi hak dan kepentingan pekerja/buruh serta meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya. Lembaga kerja sama bipartit adalah forum komunikasi dan konsultasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan industrial di satu perusahaan yang anggotanya terdiri dari pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh yang sudah tercatat instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan atau unsur pekerja/buruh. Lembaga kerja sama tripartit adalah forum komunikasi, konsultasi dan musyawarah tentang masalah ketenagakerjaan yang anggotanya terdiri dari unsur organisasi pengusaha, serikat pekerja/serikat buruh, dan pemerintah. Peraturan perusahaan adalah peraturan yang dibuat secara tertulis oleh pengusaha yang memuat syarat-syarat kerja dan tata tertib perusahaan. Perjanjian kerja bersama adalah perjanjian yang merupakan hasil perundingan antara serikat pekerja/serikat buruh atau beberapa serikat pekerja/serikat buruh yang tercatat pada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan dengan pengusaha, atau beberapa pengusaha atau perkumpulan pengusaha yang memuat syarat-syarat kerja, hak dan kewajiban kedua belah pihak. Perselisihan hubungan industrial adalah perbedaan pendapat yang mengakibatkan pertentangan antara pengusaha atau gabungan pengusaha dengan pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh karena adanya perselisihan mengenai hak, perselisihan kepentingan, dan perselisihan pemutusan hubungan kerja serta perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh hanya dalam satu perusahaan. Mogok kerja adalah tindakan pekerja/buruh yang direncanakan dan dilaksanakan secara bersama-sama dan/atau oleh serikat pekerja/serikat buruh untuk menghentikan atau memperlambat pekerjaan. Penutupan perusahaan (lock out) adalah tindakan pengusaha untuk menolak pekerja/buruh seluruhnya atau sebagian untuk menjalankan pekerjaan. Pemutusan hubungan kerja adalah pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara pekerja/buruh dan pengusaha. Anak adalah setiap orang yang berumur dibawah 18 (delapan belas) tahun. Siang hari adalah waktu antara pukul 06.00 sampai dengan pukul 18.00. 1 (satu) hari adalah waktu selama 24 (dua puluh empat) jam. Seminggu adalah waktu selama 7 (tujuh) hari.

17.

18.

19.

20. 21.

22.

23.

24. 25. 26. 27. 28. 29.

30. Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan,

3

termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan. 31. Kesejahteraan pekerja/buruh adalah suatu pemenuhan kebutuhan dan/atau keperluan yang bersifat jasmaniah dan rohaniah, baik di dalam maupun di luar hubungan kerja, yang secara langsung atau tidak langsung dapat mempertinggi produktivitas kerja dalam lingkungan kerja yang aman dan sehat. 32. Pengawasan ketenagakerjaan adalah kegiatan mengawasi dan menegakkan pelaksanaan peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan. 33. Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan. BAB II LANDASAN, ASAS, DAN TUJUAN Pasal 2 Pembangunan ketenagakerjaan berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 3 Pembangunan ketenagakerjaan diselenggarakan atas asas keterpaduan dengan melalui koordinasi fungsional lintas sektoral pusat dan daerah. Pasal 4 Pembangunan ketenagakerjaan bertujuan: a. b. c. d. memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi; mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah; memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan; dan meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya.

BAB III KESEMPATAN DAN PERLAKUAN YANG SAMA Pasal 5 Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan. Pasal 6 Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha.

BAB IV PERENCANAAN TENAGA KERJA DAN INFORMASI KETENAGAKERJAAN Pasal 7 (1) Dalam rangka pembangunan ketenagakerjaan, pemerintah menetapkan kebijakan dan menyusun perencanaan tenaga kerja.

4

penduduk dan tenaga kerja. pengupahan dan kesejahteraan tenaga kerja. diperoleh dari semua pihak yang terkait. baik di dalam maupun di luar hubungan kerja. Pelatihan kerja diselenggarakan berdasarkan program pelatihan yang mengacu pada standar kompetensi kerja. c. (3) Perencanaan tenaga kerja meliputi: perencanaan tenaga kerja makro. Pasal 8 (1) Perencanaan tenaga kerja disusun atas dasar informasi ketenagakerjaan yang antara lain meliputi: a. produktivitas tenaga kerja. BAB V PELATIHAN KERJA Pasal 9 Pelatihan kerja diselenggarakan dan diarahkan untuk membekali. kesempatan kerja. dan kesejahteraan. d. Pelatihan kerja dapat dilakukan secara berjenjang. Pasal 11 5 .(2) a. produktivitas. dan perencanaan tenaga kerja mikro. b. pelatihan kerja termasuk kompetensi kerja. b. dan mengembangkan kompetensi kerja guna meningkatkan kemampuan. strategi. dan jaminan sosial tenaga kerja. Dalam penyusunan kebijakan. hubungan industrial. meningkatkan. (2) (3) Informasi ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). f. kondisi lingkungan kerja. g. pemerintah harus berpedoman pada perencanaan tenaga kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan pelaksanaan program pembangunan ketenagakerjaan yang berkesinambungan. Ketentuan mengenai tata cara penetapan standar kompetensi kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Keputusan Menteri. e. baik instansi pemerintah maupun swasta. Ketentuan mengenai tata cara memperoleh informasi ketenagakerjaan dan penyusunan serta pelaksanaan perencanaan tenaga kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 10 (1) (2) (3) (4) Pelatihan kerja dilaksanakan dengan memperhatikan kebutuhan pasar kerja dan dunia usaha. h.

Setiap tenaga kerja berhak untuk memperoleh dan/atau meningkatkan dan/atau mengembangkan kompetensi kerja sesuai dengan bakat. dan d. adanya kurikulum yang sesuai dengan tingkat pelatihan. Ketentuan mengenai tata cara perizinan dan pendaftaran lembaga pelatihan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Keputusan Menteri. Pasal 14 (1) (2) Lembaga pelatihan kerja swasta dapat berbentuk badan hukum Indonesia atau perorangan. Pasal 16 (1) (2) (3) Lembaga pelatihan kerja swasta yang telah memperoleh izin dan lembaga pelatihan kerja pemerintah yang telah terdaftar dapat memperoleh akreditasi dari lembaga akreditasi. minat. tersedianya dana bagi kelangsungan kegiatan penyelenggaraan pelatihan kerja. Pasal 12 (3) Setiap pekerja/buruh memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti pelatihan kerja sesuai dengan bidang tugasnya. b. tersedianya tenaga kepelatihan. Lembaga pelatihan kerja yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah mendaftarkan kegiatannya kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan di kabupaten/kota. Lembaga akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersifat independen terdiri atas unsur masyarakat dan pemerintah ditetapkan dengan Keputusan Menteri. dan kemampuannya melalui pelatihan kerja. c. Pasal 12 (2) Peningkatan dan/atau pengembangan kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwajibkan bagi pengusaha yang memenuhi persyaratan yang diatur dengan Keputusan Menteri. Pasal 13 (1) (2) (3) Pelatihan kerja diselenggarakan oleh lembaga pelatihan kerja pemerintah dan/atau lembaga pelatihan kerja swasta. tersedianya sarana dan prasarana pelatihan kerja. Lembaga pelatihan kerja swasta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memperoleh izin atau mendaftar ke instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan di kabupaten/kota. Pasal 17 (3) (4) 6 . Lembaga pelatihan kerja pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam menyelenggarakan pelatihan kerja dapat bekerja sama dengan swasta. Organisasi dan tata kerja lembaga akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Keputusan Menteri. Pelatihan kerja dapat diselenggarakan di tempat pelatihan atau tempat kerja. Pasal 15 Penyelenggara pelatihan kerja wajib memenuhi persyaratan: a. Pasal 12 (1) Pengusaha bertanggung jawab atas peningkatan dan/atau pengembangan kompetensi pekerjanya melalui pelatihan kerja.

apabila di dalam pelaksanaannya ternyata: a. Pasal 21 Pelatihan kerja dapat diselenggarakan dengan sistem pemagangan. b. dan kemampuan tenaga kerja penyandang cacat yang bersangkutan. Ketentuan mengenai bentuk. mekanisme. Pasal 19 (2) (3) (4) (5) Pelatihan kerja bagi tenaga kerja penyandang cacat dilaksanakan dengan memperhatikan jenis. tidak sesuai dengan arah pelatihan kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9. atau pelatihan di tempat kerja. lembaga pelatihan kerja swasta. Ketentuan mengenai tata cara penghentian sementara. dan kelembagaan sistem pelatihan kerja nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. dikembangkan satu sistem pelatihan kerja nasional yang merupakan acuan pelaksanaan pelatihan kerja di semua bidang dan/atau sektor. pencabutan izin. Untuk melaksanakan sertifikasi kompetensi kerja dibentuk badan nasional sertifikasi profesi yang independen. Pembentukan badan nasional sertifikasi profesi yang independen sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Sertifikasi kompetensi kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat pula diikuti oleh tenaga kerja yang telah berpengalaman. Penyelenggara pelatihan kerja yang tidak menaati dan tetap melaksanakan program pelatihan kerja yang telah dihentikan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dikenakan sanksi pencabutan izin dan pembatalan pendaftaran penyelenggara pelatihan. dan pembatalan pendaftaran diatur dengan Keputusan Menteri. Bagi penyelenggara pelatihan kerja dalam waktu 6 (enam) bulan tidak memenuhi dan melengkapi saran perbaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenakan sanksi penghentian program pelatihan. (2) 7 . dan/atau tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15.(1) Instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan di kabupaten/kota dapat menghentikan sementara pelaksanaan penyelenggaraan pelatihan kerja. (2) Penghentian sementara pelaksanaan penyelenggaraan pelatihan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1). derajat kecacatan. Pengakuan kompetensi kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui sertifikasi kompetensi kerja. disertai alasan dan saran perbaikan dan berlaku paling lama 6 (enam) bulan. Pasal 18 (3) (4) (5) (6) (1) Tenaga kerja berhak memperoleh pengakuan kompetensi kerja setelah mengikuti pelatihan kerja yang diselenggarakan lembaga pelatihan kerja pemerintah. penghentian. Pasal 20 (1) Untuk mendukung peningkatan pelatihan kerja dalam rangka pembangunan ketenagakerjaan. Penghentian sementara pelaksanaan penyelenggaraan pelatihan kerja hanya dikenakan terhadap program pelatihan yang tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dan Pasal 15.

masyarakat. Pasal 28 (1) Untuk memberikan saran dan pertimbangan dalam penetapan kebijakan serta melakukan koordinasi pelatihan kerja dan pemagangan dibentuk lembaga koordinasi pelatihan kerja nasional. (2) Penyelenggaraan pemagangan di luar wilayah Indonesia harus memperhatikan: harkat dan martabat bangsa Indonesia. Untuk memperoleh izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Dalam menetapkan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). penyelenggara pemagangan harus berbentuk badan hukum Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. penguasaan kompetensi yang lebih tinggi. Pemagangan yang diselenggarakan tidak melalui perjanjian pemagangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan negara. Menteri harus memperhatikan kepentingan perusahaan. atau perusahaan lain.Pasal 22 (1) (2) Pemagangan dilaksanakan atas dasar perjanjian pemagangan antara peserta dengan pengusaha yang dibuat secara tertulis. termasuk melaksanakan ibadahnya. Pasal 25 (1) (2) Pemagangan yang dilakukan di luar wilayah Indonesia wajib mendapat izin dari Menteri atau pejabat yang ditunjuk. Ketentuan mengenai tata cara perizinan pemagangan di luar wilayah Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (3) (3) Menteri atau pejabat yang ditunjuk dapat menghentikan pelaksanaan pemagangan di luar wilayah Indonesia apabila di dalam pelaksanaannya ternyata tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sekurang-kurangnya memuat ketentuan hak dan kewajiban peserta dan pengusaha serta jangka waktu pemagangan. c. Pasal 27 (1) (2) Menteri dapat mewajibkan kepada perusahaan yang memenuhi persyaratan untuk melaksanakan program pemagangan. Pasal 26 (1) a. diatur dengan Keputusan Menteri. baik di dalam maupun di luar wilayah Indonesia. Pasal 23 Tenaga kerja yang telah mengikuti program pemagangan berhak atas pengakuan kualifikasi kompetensi kerja dari perusahaan atau lembaga sertifikasi. Perjanjian pemagangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 24 Pemagangan dapat dilaksanakan di perusahaan sendiri atau di tempat penyelenggaraan pelatihan kerja. dianggap tidak sah dan status peserta berubah menjadi pekerja/buruh perusahaan yang bersangkutan. 8 . b. dan perlindungan dan kesejahteraan peserta pemagangan.

dan kemampuan dengan memperhatikan harkat. Pasal 32 (1) (2) Penempatan tenaga kerja dilaksanakan berdasarkan asas terbuka. dan tata kerja lembaga koordinasi pelatihan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1). asal 35 (3) 9 . Pembentukan. keterampilan. mendapatkan. Lembaga produktivitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk jejaring kelembagaan pelayanan peningkatan produktivitas. bakat. dan perlindungan hukum. obyektif. dan setara tanpa diskriminasi. bebas. diatur dengan Keputusan Presiden.(2) Pembentukan. keanggotaan. Pasal 29 (1) (2) (3) Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah melakukan pembinaan pelatihan kerja dan pemagangan. penempatan tenaga kerja di dalam negeri. yang bersifat lintas sektor maupun daerah. dan penempatan tenaga kerja di luar negeri. Pasal 33 Penempatan tenaga kerja terdiri dari: a. martabat. teknologi. atau pindah pekerjaan dan memperoleh penghasilan yang layak di dalam atau di luar negeri. minat. Peningkatan produktivitas sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dan efisiensi kegiatan ekonomi. Penempatan tenaga kerja diarahkan untuk menempatkan tenaga kerja pada jabatan yang tepat sesuai dengan keahlian. Pasal 30 (1) (2) (3) Untuk meningkatkan produktivitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (2) dibentuk lembaga produktivitas yang bersifat nasional. keanggotan. etos kerja. dan tata kerja lembaga produktivitas nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan efisiensi penyelenggaraan pelatihan kerja dan produktivitas. Pasal 34 Ketentuan mengenai penempatan tenaga kerja di luar negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 huruf b diatur dengan undang-undang. kualitas. diatur dengan Keputusan Presiden. Pembinaan pelatihan kerja dan pemagangan ditujukan ke arah peningkatan relevansi. menuju terwujudnya produktivitas nasional. BAB VI PENEMPATAN TENAGA KERJA Pasal 31 Setiap tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk memilih. serta adil. Penempatan tenaga kerja dilaksanakan dengan memperhatikan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan program nasional dan daerah. dilakukan melalui pengembangan budaya produktif. b. hak asasi.

dilarang memungut biaya penempatan. d. hanya dapat memungut biaya penempatan tenaga kerja dari pengguna tenaga kerja dan dari tenaga kerja golongan dan jabatan tertentu. pencari kerja. dan kesehatan baik mental maupun fisik tenaga kerja. Pasal 36 (1) (2) Penempatan tenaga kerja oleh pelaksana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) dilakukan dengan memberikan pelayanan penempatan tenaga kerja. (2) (3) 10 . Pasal 37 (1) Pelaksana penempatan tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) terdiri dari: a. Pelaksana penempatan tenaga kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memberikan perlindungan sejak rekrutmen sampai penempatan tenaga kerja Pemberi kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam mempekerjakan tenaga kerja wajib memberikan perlindungan yang mencakup kesejahteraan. informasi pasar kerja. keselamatan. dan lembaga swasta berbadan hukum. lowongan pekerjaan. baik langsung maupun tidak langsung. Lembaga penempatan tenaga kerja swasta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dalam melaksanakan pelayanan penempatan tenaga kerja wajib memiliki izin tertulis dari Menteri atau pejabat yang ditunjuk. Golongan dan jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Keputusan Menteri. sebagian atau keseluruhan kepada tenaga kerja dan pengguna tenaga kerja. Pelayanan penempatan tenaga kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersifat terpadu dalam satu sistem penempatan tenaga kerja yang meliputi unsur-unsur: a. mekanisme antar kerja. Pasal 38 (1) Pelaksana penempatan tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (1) huruf a. (2) instansi pemerintah yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan. dan kelembagaan penempatan tenaga kerja. b. Lembaga penempatan tenaga kerja swasta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (1) huruf b. b. (3) Unsur-unsur sistem penempatan tenaga kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilaksanakan secara terpisah yang ditujukan untuk terwujudnya penempatan tenaga kerja. e. c.(1) (2) (3) Pemberi kerja yang memerlukan tenaga kerja dapat merekrut sendiri tenaga kerja yang dibutuhkan atau melalui pelaksana penempatan tenaga kerja.

Pasal 40. dan ayat (3) dalam pasal ini diatur dengan Peraturan Pemerintah. sumber daya manusia dan teknologi tepat guna. penerapan teknologi tepat guna. Pemerintah dan masyarakat bersama-sama mengupayakan perluasan kesempatan kerja baik di dalam maupun di luar hubungan kerja.BAB VII PERLUASAN KESEMPATAN KERJA Pasal 39 (1) (2) (3) (4) Pemerintah bertanggung jawab mengupayakan perluasan kesempatan kerja baik di dalam maupun di luar hubungan kerja. Pasal 40 (1) Perluasan kesempatan kerja di luar hubungan kerja dilakukan melalui penciptaan kegiatan yang produktif dan berkelanjutan dengan mendayagunakan potensi sumber daya alam. dan pendayagunaan tenaga kerja sukarela atau pola lain yang dapat mendorong terciptanya perluasan kesempatan kerja. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dibentuk badan koordinasi yang beranggotakan unsur pemerintah dan unsur masyarakat. Semua kebijakan pemerintah baik pusat maupun daerah di setiap sektor diarahkan untuk mewujudkan perluasan kesempatan kerja baik di dalam maupun di luar hubungan kerja. penerapan sistem padat karya. Kewajiban memiliki izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tidak berlaku bagi perwakilan negara asing yang mempergunakan tenaga kerja asing sebagai pegawai diplomatik dan konsuler. Pemerintah dan masyarakat bersama-sama mengawasi pelaksanaan kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan pembentukan badan koordinasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39. Penciptaan perluasan kesempatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan pola pembentukan dan pembinaan tenaga kerja mandiri. dan dunia usaha perlu membantu dan memberikan kemudahan bagi setiap kegiatan masyarakat yang dapat menciptakan atau mengembangkan perluasan kesempatan kerja. 11 . Pemberi kerja orang perseorangan dilarang mempekerjakan tenaga kerja asing. BAB VIII PENGGUNAAN TENAGA KERJA ASING Pasal 42 (1) (2) (3) Setiap pemberi kerja yang mempekerjakan tenaga kerja asing wajib memiliki izin tertulis dari Menteri atau pejabat yang ditunjuk. Ketentuan mengenai perluasan kesempatan kerja. (2) Pasal 41 (1) (2) (3) (4) Pemerintah menetapkan kebijakan ketenagakerjaan dan perluasan kesempatan kerja. Lembaga keuangan baik perbankan maupun non perbankan.

Ketentuan mengenai jabatan tertentu dan waktu tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditetapkan dengan Keputusan Menteri. jangka waktu penggunaan tenaga kerja asing. jabatan dan/atau kedudukan tenaga kerja asing dalam struktur organisasi perusahaan yang bersangkutan. Pasal 46 12 . Ketentuan mengenai jabatan dan standar kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Keputusan Menteri. Pasal 44 (1) (2) Pemberi kerja tenaga kerja asing wajib menaati ketentuan mengenai jabatan dan standar kompetensi yang berlaku. d. Tenaga kerja asing sebagaimana dimaksud pada ayat (4) yang masa kerjanya habis dan tidak dapat diperpanjang dapat digantikan oleh tenaga kerja asing lainnya. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi tenaga kerja asing yang menduduki jabatan direksi dan/atau komisaris. Rencana penggunaan tenaga kerja asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurangkurangnya memuat keterangan: a. dan penunjukan tenaga kerja warga negara Indonesia sebagai pendamping tenaga kerja asing yang dipekerjakan. b. Pasal 43 (1) (2) Pemberi kerja yang menggunakan tenaga kerja asing harus memiliki rencana penggunaan tenaga kerja asing yang disahkan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk. c. Pasal 45 (1) a. (3) (4) alasan penggunaan tenaga kerja asing. badan-badan internasional dan perwakilan negara asing. Pemberi kerja tenaga kerja asing wajib: menunjuk tenaga kerja warga negara Indonesia sebagai tenaga pendamping tenaga kerja asing yang dipekerjakan untuk alih teknologi dan alih keahlian dari tenaga kerja asing. b.(4) (5) (6) Tenaga kerja asing dapat dipekerjakan di Indonesia hanya dalam hubungan kerja untuk jabatan tertentu dan waktu tertentu. Ketentuan mengenai tata cara pengesahan rencana penggunaan tenaga kerja asing diatur dengan Keputusan Menteri. dan melaksanakan pendidikan dan pelatihan kerja bagi tenaga kerja Indonesia sebagaimana dimaksud pada huruf a yang sesuai dengan kualifikasi jabatan yang diduduki oleh tenaga kerja asing. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi istansi pemerintah.

perwakilan negara asing. Pasal 51 (1) Perjanjian kerja dibuat secara tertulis atau lisan. 13 . lembaga sosial. (2) Perjanjian kerja dibuat atas dasar: kesepakatan kedua belah pihak. Pasal 52 (1) a. b.(1) (2) Tenaga kerja asing dilarang menduduki jabatan yang mengurusi personalia dan/atau jabatan-jabatan tertentu. Ketentuan mengenai jabatan-jabatan tertentu di lembaga pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Keputusan Menteri. Pasal 48 (3) (4) Pemberi kerja yang mempekerjakan tenaga kerja asing wajib memulangkan tenaga kerja asing ke negara asalnya setelah hubungan kerjanya berakhir. (2) Perjanjian kerja yang dipersyaratkan secara tertulis dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 49 Ketentuan mengenai penggunaan tenaga kerja asing serta pelaksanaan pendidikan dan pelatihan tenaga kerja pendamping diatur dengan Keputusan Presiden. Jabatan-jabatan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Keputusan Menteri Pasal 47 (1) (2) Pemberi kerja wajib membayar kompensasi atas setiap tenaga kerja asing yang dipekerjakannya. adanya pekerjaan yang diperjanjikan. BAB IX HUBUNGAN KERJA Pasal 50 Hubungan kerja terjadi karena adanya perjanjian kerja antara pengusaha dan pekerja/buruh. Perjanjian kerja yang dibuat oleh para pihak yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dapat dibatalkan. kemampuan atau kecakapan melakukan perbuatan hukum. dan jabatan-jabatan tertentu di lembaga pendidikan. kesusilaan. Kewajiban membayar kompensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi instansi pemerintah. badan-badan internasional. lembaga keagamaan. Ketentuan mengenai besarnya kompensasi dan penggunaannya diatur dengan Peraturan Pemerintah. d. c. dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan pekerjaan yang diperjanjikan tidak bertentangan dengan ketertiban umum.

tidak boleh bertentangan dengan peraturan perusahaan. Pasal 54 (1) a. Pasal 53 Segala hal dan/atau biaya yang diperlukan bagi pelaksanaan pembuatan perjanjian kerja dilaksanakan oleh dan menjadi tanggung jawab pengusaha. b. g. b. umur. tempat dan tanggal perjanjian kerja dibuat. f. tempat pekerjaan. jangka waktu. dan jenis usaha. yang mempunyai kekuatan hukum yang sama. c. perjanjian kerja bersama. Perjanjian kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat sekurang-kurangnya rangkap 2 (dua). besarnya upah dan cara pembayarannya.(3) Perjanjian kerja yang dibuat oleh para pihak yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dan d batal demi hukum. mulai dan jangka waktu berlakunya perjanjian kerja. syarat-syarat kerja yang memuat hak dan kewajiban pengusaha dan pekerja/ buruh. e. Perjanjian kerja untuk waktu tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan atas: a. dan alamat pekerja/buruh. dan tanda tangan para pihak dalam perjanjian kerja. h. (2) Perjanjian kerja yang dibuat secara tertulis sekurang-kurangnya memuat: nama. dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. jabatan atau jenis pekerjaan. Pasal 57 14 . Pasal 55 (3) Perjanjian kerja tidak dapat ditarik kembali dan/atau diubah. alamat perusahaan. Pasal 56 (1) (2) Perjanjian kerja dibuat untuk waktu tertentu atau untuk waktu tidak tertentu. Ketentuan dalam perjanjian kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e dan f. jenis kelamin. nama. atau selesainya suatu pekerjaan tertentu. d. kecuali atas persetujuan para pihak. i. serta pekerja/buruh dan pengusaha masing-masing mendapat 1 (satu) perjanjian kerja.

yaitu: a. dan ayat (6) maka demi hukum menjadi perjanjian kerja waktu tidak tertentu. Dalam hal perjanjian kerja dibuat dalam bahasa Indonesia dan bahasa asing. Pengusaha yang bermaksud memperpanjang perjanjian kerja waktu tertentu tersebut. d. paling lama 7 (tujuh) hari sebelum perjanjian kerja waktu tertentu berakhir telah memberitahukan maksudnya secara tertulis kepada pekerja/buruh yang bersangkutan. apabila kemudian terdapat perbedaan penafsiran antara keduanya. kegiatan baru. pembaruan perjanjian kerja waktu tertentu ini hanya boleh dilakukan 1 (satu) kali dan paling lama 2 (dua) tahun. ayat (5).(1) (2) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu dibuat secara tertulis serta harus menggunakan bahasa Indonesia dan huruf latin. Dalam hal disyaratkan masa percobaan kerja dalam perjanjian kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Pasal 58 (1) (2) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu tidak dapat mensyaratkan adanya masa percobaan kerja. c. Pembaruan perjanjian kerja waktu tertentu hanya dapat diadakan setelah melebihi masa tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari berakhirnya perjanjian kerja waktu tertentu yang lama. ayat (2). (5) (6) (7) (8) 15 . b. Perjanjian kerja untuk waktu tertentu tidak dapat diadakan untuk pekerjaan yang bersifat tetap. masa percobaan kerja yang disyaratkan batal demi hukum. Perjanjian kerja untuk waktu tertentu dapat diperpanjang atau diperbaharui. maka yang berlaku perjanjian kerja yang dibuat dalam bahasa Indonesia. Perjanjian kerja untuk waktu tertentu yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) (3) (4) pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya. atau pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru. pekerjaan yang bersifat musiman. pekerjaaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak terlalu lama dan paling lama 3 (tiga) tahun. Pasal 59 (1) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu hanya dapat dibuat untuk pekerjaan tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu. Perjanjian kerja untuk waktu tertentu yang dibuat tidak tertulis bertentangan dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan sebagai perjanjian kerja untuk waktu tidak tertentu. Perjanjian kerja waktu tertentu yang didasarkan atas jangka waktu tertentu dapat diadakan untuk paling lama 2 (dua) tahun dan hanya boleh diperpanjang 1 (satu) kali untuk jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun. atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan. Hal-hal lain yang belum diatur dalam pasal ini akan diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri. ayat (4).

atau berakhirnya hubungan kerja bukan karena ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (1). ahli waris pekerja/buruh berhak mendapatkan hak-haknya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau hak-hak yang telah diatur dalam perjanjian kerja. ahli waris pengusaha dapat mengakhiri perjanjian kerja setelah merundingkan dengan pekerja/buruh. Dalam hal terjadi pengalihan perusahaan maka hak-hak pekerja/buruh menjadi tanggung jawab pengusaha baru. (2) (3) Perjanjian kerja tidak berakhir karena meninggalnya pengusaha atau beralihnya hak atas perusahaan yang disebabkan penjualan. d. pewarisan. berakhirnya jangka waktu perjanjian kerja. adanya putusan pengadilan dan/atau putusan atau penetapan lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.Pasal 60 (1) (2) Perjanjian kerja untuk waktu tidak tertentu dapat mensyaratkan masa percobaan kerja paling lama 3 (tiga) bulan. Dalam masa percobaan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Dalam hal pengusaha. (4) (5) Pasal 62 Apabila salah satu pihak mengakhiri hubungan kerja sebelum berakhirnya jangka waktu yang ditetapkan dalam perjanjian kerja waktu tertentu. kecuali ditentukan lain dalam perjanjian pengalihan yang tidak mengurangi hak-hak pekerja/buruh. orang perseorangan. Surat pengangkatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). atau perjanjian kerja bersama. Perjanjian kerja berakhir apabila: pekerja meninggal dunia. atau hibah. pihak yang mengakhiri hubungan kerja diwajibkan membayar ganti rugi kepada pihak lainnya sebesar upah pekerja/buruh sampai batas waktu berakhirnya jangka waktu perjanjian kerja. atau adanya keadaan atau kejadian tertentu yang dicantumkan dalam perjanjian kerja. Pasal 63 (1) (2) Dalam hal perjanjian kerja waktu tidak tertentu dibuat secara lisan. peraturan perusahaan. 16 . sekurang. nama dan alamat pekerja/buruh. pengusaha dilarang membayar upah di bawah upah minimum yang berlaku. meninggal dunia. maka pengusaha wajib membuat surat pengangkatan bagi pekerja/buruh yang bersangkutan.kurangnya memuat keterangan: a. Dalam hal pekerja/buruh meninggal dunia. peraturan perusahaan. c. atau perjanjian kerja bersama yang dapat menyebabkan berakhirnya hubungan kerja. Pasal 61 (1) a. b.

dan tidak menghambat proses produksi secara langsung. d. Pasal 64 Perusahaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lainnya melalui perjanjian pemborongan pekerjaan atau penyediaan jasa pekerja/buruh yang dibuat secara tertulis. Pasal 65 (1) (2) Penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lain dilaksanakan melalui perjanjian pemborongan pekerjaan yang dibuat secara tertulis. (3) (4) dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama. Perusahaan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus berbentuk badan hukum. maka hubungan kerja pekerja/buruh dengan pemberi pekerjaan sesuai dengan hubungan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (7). jenis pekerjaan. dan ayat (3). dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi pekerjaan. (5) (6) (7) (8) (9) Pasal 66 (1) Pekerja/buruh dari perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh tidak boleh digunakan oleh pemberi kerja untuk melaksanakan kegiatan pokok atau kegiatan yang berhubungan langsung dengan proses produksi. Pekerjaan yang dapat diserahkan kepada perusahaan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a. c. maka demi hukum status hubungan kerja pekerja/buruh dengan perusahaan penerima pemborongan beralih menjadi hubungan kerja pekerja/buruh dengan perusahaan pemberi pekerjaan. Hubungan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dapat didasarkan atas perjanjian kerja waktu tidak tertentu atau perjanjian kerja waktu tertentu apabila memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59. d. b. kecuali untuk kegiatan jasa penunjang atau kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi. merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan. Perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja bagi pekerja/buruh pada perusahaan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya sama dengan perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja pada perusahaan pemberi pekerjaan atau sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Hubungan kerja dalam pelaksanaan pekerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam perjanjian kerja secara tertulis antara perusahaan lain dan pekerja/buruh yang dipekerjakannya. 17 .b. tidak terpenuhi. Dalam hal hubungan kerja beralih ke perusahaan pemberi pekerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (8). Perubahan dan/atau penambahan syarat-syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri. tanggal mulai bekerja. c. dan besarnya upah.

syarat-syarat kerja. huruf b. ayat (2) huruf a. dan perjanjian antara perusahaan pengguna jasa pekerja/buruh dan perusahaan lain yang bertindak sebagai perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh dibuat secara tertulis dan wajib memuat pasal-pasal sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini. Pasal 69 18 . maka demi hukum status hubungan kerja antara pekerja/buruh dan perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh beralih menjadi hubungan kerja antara pekerja/buruh dan perusahaan pemberi pekerjaan. dan huruf d serta ayat (3) tidak terpenuhi. adanya hubungan kerja antara pekerja/buruh dan perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh. b. BAB X PERLINDUNGAN. DAN KESEJAHTERAAN Bagian Kesatu Perlindungan Paragraf 1 Penyandang Cacat Pasal 67 (1) (2) Pengusaha yang mempekerjakan tenaga kerja penyandang cacat wajib memberikan perlindungan sesuai dengan jenis dan derajat kecacatannya. serta perselisihan yang timbul menjadi tanggung jawab perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh. Pemberian perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). c. (3) (4) Penyedia jasa pekerja/buruh merupakan bentuk usaha yang berbadan hukum dan memiliki izin dari instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan. d. Paragraf 2 Anak Pasal 68 Pengusaha dilarang mempekerjakan anak. perjanjian kerja yang berlaku dalam hubungan kerja sebagaimana dimaksud pada huruf a adalah perjanjian kerja untuk waktu tertentu yang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 dan/atau perjanjian kerja waktu tidak tertentu yang dibuat secara tertulis dan ditandatangani oleh kedua belah pihak. PENGUPAHAN. perlindungan upah dan kesejahteraan.(2) Penyedia jasa pekerja/buruh untuk kegiatan jasa penunjang atau kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi harus memenuhi syarat sebagai berikut: a.

b. c. izin tertulis dari orang tua atau wali. (3) di bawah pengawasan langsung dari orang tua atau wali. Pengusaha yang mempekerjakan anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi syarat: a. dan sosial. Pasal 70 (1) (2) (3) a. b. waktu kerja paling lama 3 (tiga) jam sehari. f dan g dikecualikan bagi anak yang bekerja pada usaha keluarganya. (2) (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a. Anak dapat melakukan pekerjaan di tempat kerja yang merupakan bagian dari kurikulum pendidikan atau pelatihan yang disahkan oleh pejabat yang berwenang. dan menerima upah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pasal 71 (1) (2) Anak dapat melakukan pekerjaan untuk mengembangkan bakat dan minatnya.(1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 dapat dikecualikan bagi anak berumur antara 13 (tiga belas) tahun sampai dengan 15 (lima belas) tahun untuk melakukan pekerjaan ringan sepanjang tidak mengganggu perkembangan dan kesehatan fisik. waktu kerja maksimum 3 (tiga) jam. d. Pekerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan dengan syarat: diberi petunjuk yang jelas tentang cara pelaksanaan pekerjaan serta bimbingan dan pengawasan dalam melaksanakan pekerjaan. mental. f. dan diberi perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja. Pasal 72 19 . dilakukan pada siang hari dan tidak mengganggu waktu sekolah. Anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit berumur 14 (empat belas) tahun. g. sosial. Pengusaha yang mempekerjakan anak pada pekerjaan ringan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan: a. Ketentuan mengenai anak yang bekerja untuk mengembangkan bakat dan minat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Keputusan Menteri. e. b. b. mental. adanya hubungan kerja yang jelas. keselamatan dan kesehatan kerja. perjanjian kerja antara pengusaha dengan orang tua atau wali. dan waktu sekolah. c. dan kondisi dan lingkungan kerja tidak mengganggu perkembangan fisik.

segala pekerjaan yang memanfaatkan. atau moral anak. Pasal 73 Anak dianggap bekerja bilamana berada di tempat kerja. pukul 07. Paragraf 3 Perempuan Pasal 76 (1) (2) Pekerja/buruh perempuan yang berumur kurang dari 18 (delapan belas) tahun dilarang dipekerjakan antara pukul 23. b. kecuali dapat dibuktikan sebaliknya. Pasal 75 (1) (2) Pemerintah berkewajiban melakukan upaya penanggulangan anak yang bekerja di luar hubungan kerja. b.00.d. segala pekerjaan yang memanfaatkan. d.d.d. produksi pornografi. (3) Jenis-jenis pekerjaaan yang membahayakan kesehatan.00 wajib: a. atau melibatkan anak untuk produksi dan perdagangan minuman keras.Dalam hal anak dipekerjakan bersama-sama dengan pekerja/buruh dewasa. narkotika. Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh perempuan antara pukul 23. menyediakan. keselamatan. (3) 20 . atau moral anak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d ditetapkan dengan Keputusan Menteri. Upaya penanggulangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.00 s. menyediakan. psikotropika. keselamatan. atau perjudian. atau menawarkan anak untuk pelacuran. Pekerjaan-pekerjaan yang terburuk yang dimaksud pada ayat (1) meliputi: segala pekerjaan dalam bentuk perbudakan atau sejenisnya. pukul 07. 07. c. dan/atau semua pekerjaan yang membahayakan kesehatan. Pasal 74 (1) (2) a. pertunjukan porno. dan zat adiktif lainnya.00 s. Siapapun dilarang mempekerjakan dan melibatkan anak pada pekerjaan-pekerjaan yang terburuk. memberikan makanan dan minuman bergizi. dan menjaga kesusilaan dan keamanan selama di tempat kerja.00 s. Pengusaha dilarang mempekerjakan pekerja/buruh perempuan hamil yang menurut keterangan dokter berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan kandungannya maupun dirinya apabila bekerja antara pukul 23. maka tempat kerja anak harus dipisahkan dari tempat kerja pekerja/buruh dewasa.00.

sekurang-kurangnya setengah jam setelah bekerja selama 4 (empat) jam terus menerus dan waktu istirahat tersebut tidak termasuk jam kerja. Waktu kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: 7 (tujuh) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu. b. (2) (3) (4) ada persetujuan pekerja/buruh yang bersangkutan.d. b. Ketentuan mengenai waktu kerja pada sektor usaha atau pekerjaan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Keputusan Menteri. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) diatur dengan Keputusan Menteri. b. dan waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 (tiga) jam dalam 1 (satu) hari dan 14 (empat belas) jam dalam 1 (satu) minggu. Waktu istirahat dan cuti sebagaimana dimaksud pada ayat (1).00 s. istirahat mingguan 1 (satu) hari untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu atau 2 (dua) hari untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu. atau 8 (delapan) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu.(4) (5) Pengusaha wajib menyediakan angkutan antar jemput bagi pekerja/buruh perempuan yang berangkat dan pulang bekerja antara pukul 23. 21 . Ketentuan mengenai waktu kerja lembur dan upah kerja lembur sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Keputusan Menteri. pukul 05. Ketentuan waktu kerja lembur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b tidak berlaku bagi sektor usaha atau pekerjaan tertentu. Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh melebihi waktu kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib membayar upah kerja lembur. Pasal 78 (1) Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh melebihi waktu kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 ayat (2) harus memenuhi syarat: a. Pengusaha wajib memberi waktu istirahat dan cuti kepada pekerja/buruh. meliputi: istirahat antara jam kerja.00. Pasal 79 (1) (2) a. Paragraf 4 Waktu Kerja Pasal 77 (1) (2) a. (3) (4) Setiap pengusaha wajib melaksanakan ketentuan waktu kerja. Ketentuan waktu kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku bagi sektor usaha atau pekerjaan tertentu.

5 (satu setengah) bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan. dan istirahat panjang sekurang-kurangnya 2 (dua) bulan dan dilaksanakan pada tahun ketujuh dan kedelapan masing-masing 1 (satu) bulan bagi pekerja/buruh yang telah bekerja selama 6 (enam) tahun secara terus-menerus pada perusahaan yang sama dengan ketentuan pekerja/buruh tersebut tidak berhak lagi atas istirahat tahunannya dalam 2 (dua) tahun berjalan dan selanjutnya berlaku untuk setiap kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun. 22 . atau perjanjian kerja bersama. Perusahaan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan Keputusan Menteri. dan Pasal 82 berhak mendapat upah penuh. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam perjanjian kerja. (2) Pasal 83 Pekerja/buruh perempuan yang anaknya masih menyusu harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja. atau perjanjian kerja bersama. c. d.5 (satu setengah) bulan atau sesuai dengan surat keterangan dokter kandungan atau bidan. Pasal 80 Pengusaha wajib memberikan kesempatan yang secukupnya kepada pekerja/buruh untuk melaksanakan ibadah yang diwajibkan oleh agamanya. dan d.c. peraturan perusahaan. cuti tahunan. Hak istirahat panjang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d hanya berlaku bagi pekerja/buruh yang bekerja pada perusahaan tertentu. Pasal 80. (3) (4) (5) Pelaksanaan waktu istirahat tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c diatur dalam perjanjian kerja. tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu haid. Pasal 81 (1) (2) Pekerja/buruh perempuan yang dalam masa haid merasakan sakit dan memberitahukan kepada pengusaha. Pasal 82 (1) Pekerja/buruh perempuan berhak memperoleh istirahat selama 1. Pekerja/buruh perempuan yang mengalami keguguran kandungan berhak memperoleh istirahat 1. peraturan perusahaan. Pasal 84 Setiap pekerja/buruh yang menggunakan hak waktu istirahat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat (2) huruf b.5 (satu setengah) bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1. sekurang-kurangnya 12 (dua belas) hari kerja setelah pekerja/buruh yang bersangkutan bekerja selama 12 (dua belas) bulan secara terus menerus.

Paragraf 5 Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pasal 86 (1) a.Pasal 85 (1) (2) Pekerja/buruh tidak wajib bekerja pada hari-hari libur resmi. (3) (4) Untuk melindungi keselamatan pekerja/buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja. (2) Untuk mewujudkan penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. (3) Kebijakan pengupahan yang melindungi pekerja/buruh sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi: a. Pengusaha dapat mempekerjakan pekerja/buruh untuk bekerja pada hari-hari libur resmi apabila jenis dan sifat pekerjaan tersebut harus dilaksanakan atau dijalankan secara terusmenerus atau pada keadaan lain berdasarkan kesepakatan antara pekerja/buruh dengan pengusaha. (2) Ketentuan mengenai penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. 23 . upah tidak masuk kerja karena berhalangan. upah minimum. Ketentuan mengenai jenis dan sifat pekerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Keputusan Menteri. c. (2) (3) Setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas: keselamatan dan kesehatan kerja. b. Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. moral dan kesusilaan. Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh yang melakukan pekerjaan pada hari libur resmi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib membayar upah kerja lembur. Pasal 87 (1) Setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan. dan perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama. c. pemerintah menetapkan kebijakan pengupahan yang melindungi pekerja/buruh. Bagian Kedua Pengupahan Pasal 88 (1) Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. upah kerja lembur.

dan pengusaha wajib membayar upah pekerja/buruh menurut peraturan perundangundangan yang berlaku. f. Upah minimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Gubernur dengan memperhatikan rekomendasi dari Dewan Pengupahan Provinsi dan/atau Bupati/Walikota. Bagi pengusaha yang tidak mampu membayar upah minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 dapat dilakukan penangguhan. e. (4) Pemerintah menetapkan upah minimum sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a berdasarkan kebutuhan hidup layak dan dengan memperhatikan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Tata cara penangguhan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Keputusan Menteri. (2) 24 . Pasal 89 (1) a. Dalam hal kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) lebih rendah atau bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. upah minimum berdasarkan sektor pada wilayah provinsi atau kabupaten/kota. h. Pasal 91 (1) Pengaturan pengupahan yang ditetapkan atas kesepakatan antara pengusaha dan pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh tidak boleh lebih rendah dari ketentuan pengupahan yang ditetapkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. kesepakatan tersebut batal demi hukum. g. j. hal-hal yang dapat diperhitungkan dengan upah. denda dan potongan upah. upah untuk pembayaran pesangon. struktur dan skala pengupahan yang proporsional. Upah minimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan kepada pencapaian kebutuhan hidup layak. upah karena menjalankan hak waktu istirahat kerjanya. Komponen serta pelaksanaan tahapan pencapaian kebutuhan hidup layak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Keputusan Menteri. upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain di luar pekerjaannya. bentuk dan cara pembayaran upah. Pasal 90 (1) (2) (3) Pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89. b. i. k.d. (2) (3) (4) Upah minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88 ayat (3) huruf a dapat terdiri atas: upah minimum berdasarkan wilayah provinsi atau kabupaten/kota. dan upah untuk perhitungan pajak penghasilan.

Pasal 92 (1) (2) (3) Pengusaha menyusun struktur dan skala upah dengan memperhatikan golongan, jabatan, masa kerja, pendidikan, dan kompetensi. Pengusaha melakukan peninjauan upah secara berkala dengan memperhatikan kemampuan perusahaan dan produktivitas. Ketentuan mengenai struktur dan skala upah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Keputusan Menteri.

Pasal 93 (1) (2) Upah tidak dibayar apabila pekerja/buruh tidak melakukan pekerjaan. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku, dan pengusaha wajib membayar upah apabila: a. b. pekerja/buruh sakit termasuk pekerja/buruh perempuan yang sakit pada hari pertama dan kedua masa haidnya sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan; pekerja/buruh tidak masuk bekerja karena pekerja/buruh menikah, menikahkan, mengkhitankan, membaptiskan anaknya, isteri melahirkan atau keguguran kandungan, suami atau isteri atau anak atau menantu atau orang tua atau mertua atau anggota keluarga dalam satu rumah meninggal dunia; pekerja/buruh tidak dapat melakukan pekerjaannya karena sedang menjalankan kewajiban terhadap negara; pekerja/buruh tidak dapat melakukan pekerjaannya karena menjalankan ibadah yang diperintahkan agamanya; pekerja/buruh bersedia melakukan pekerjaan yang telah dijanjikan tetapi pengusaha tidak mempekerjakannya, baik karena kesalahan sendiri maupun halangan yang seharusnya dapat dihindari pengusaha; pekerja/buruh melaksanakan hak istirahat; pekerja/buruh melaksanakan tugas serikat pekerja/serikat buruh atas persetujuan pengusaha; dan pekerja/buruh melaksanakan tugas pendidikan dari perusahaan.

c. d. e.

f. g. h. (3)

Upah yang dibayarkan kepada pekerja/buruh yang sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a sebagai berikut: a. b. c. d. untuk 4 (empat) bulan pertama, dibayar 100% (seratus perseratus) dari upah; untuk 4 (empat) bulan kedua, dibayar 75% (tujuh puluh lima perseratus) dari upah; untuk 4 (empat) bulan ketiga, dibayar 50% (lima puluh perseratus) dari upah; dan untuk bulan selanjutnya dibayar 25% (dua puluh lima perseratus) dari upah sebelum pemutusan hubungan kerja dilakukan oleh pengusaha.

(4)

Upah yang dibayarkan kepada pekerja/buruh yang tidak masuk bekerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b sebagai berikut: a. b. pekerja/buruh menikah, dibayar untuk selama 3 (tiga) hari; menikahkan anaknya, dibayar untuk selama 2 (dua) hari;

25

c. d. e. f. g. (5)

mengkhitankan anaknya, dibayar untuk selama 2 (dua) hari; membaptiskan anaknya, dibayar untuk selama 2 (dua) hari; isteri melahirkan atau keguguran kandungan, dibayar untuk selama 2 (dua) hari; suami/isteri, orang tua/mertua atau anak atau menantu meninggal dunia, dibayar untuk selama 2 (dua) hari; dan anggota keluarga dalam satu rumah meninggal dunia, dibayar untuk selama 1 (satu) hari.

Pengaturan pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama.

Pasal 94 Dalam hal komponen upah terdiri dari upah pokok dan tunjangan tetap maka besarnya upah pokok sedikit-dikitnya 75 % (tujuh puluh lima perseratus) dari jumlah upah pokok dan tunjangan tetap.

Pasal 95 (1) (2) Pelanggaran yang dilakukan oleh pekerja/buruh karena kesengajaan atau kelalaiannya dapat dikenakan denda. Pengusaha yang karena kesengajaan atau kelalaiannya mengakibatkan keterlambatan pembayaran upah, dikenakan denda sesuai dengan persentase tertentu dari upah pekerja/buruh. Pemerintah mengatur pengenaan denda kepada pengusaha dan/atau pekerja/buruh, dalam pembayaran upah. Dalam hal perusahaan dinyatakan pailit atau dilikuidasi berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku, maka upah dan hak-hak lainnya dari pekerja/buruh merupakan utang yang didahulukan pembayarannya.

(3) (4)

Pasal 96 Tuntutan pembayaran upah pekerja/buruh dan segala pembayaran yang timbul dari hubungan kerja menjadi kedaluwarsa setelah melampaui jangka waktu 2 (dua) tahun sejak timbulnya hak. Pasal 97 (1) Ketentuan mengenai penghasilan yang layak, kebijakan pengupahan, kebutuhan hidup layak, dan perlindungan pengupahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88, penetapan upah minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89, dan pengenaan denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. (2) Dalam hal di perusahaan yang bersangkutan telah terbentuk serikat pekerja/serikat buruh maka wakil pekerja/buruh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pengurus serikat pekerja/serikat buruh. (3) Dalam hal di perusahaan yang bersangkutan belum terbentuk serikat pekerja/serikat buruh, wakil pekerja/buruh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pekerja/buruh yang dipilih secara demokratis untuk mewakili kepentingan para pekerja/buruh di perusahaan yang bersangkutan. Pasal 98

26

(1) Untuk memberikan saran, pertimbangan, dan merumuskan kebijakan pengupahan yang akan ditetapkan oleh pemerintah, serta untuk pengembangan sistem pengupahan nasional dibentuk Dewan Pengupahan Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota. (2) Keanggotaan Dewan Pengupahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri dari unsur pemerintah, organisasi pengusaha, serikat pekerja/-serikat buruh, perguruan tinggi, dan pakar. (3) Keanggotaan Dewan Pengupahan tingkat Nasional diangkat dan diberhentikan oleh Presiden, sedangkan keanggotaan Dewan Pengupahan Provinsi, Kabupaten/Kota diangkat dan diberhentikan oleh Gubenur/ Bupati/Walikota. (4) Ketentuan mengenai tata cara pembentukan, komposisi keanggotaan, tata cara pengangkatan dan pemberhentian keanggotaan, serta tugas dan tata kerja Dewan Pengupahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), diatur dengan Keputusan Presiden. Bagian Ketiga Kesejahteraan Pasal 99 (1) Setiap pekerja/buruh dan keluarganya berhak untuk memperoleh jaminan sosial tenaga kerja. (2) Jaminan sosial tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 100 (1) Untuk meningkatkan kesejahteraan bagi pekerja/buruh dan keluarganya, pengusaha wajib menyediakan fasilitas kesejahteraan. (2) Penyediaan fasilitas kesejahteraan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dilaksanakan dengan memperhatikan kebutuhan pekerja/buruh dan ukuran kemampuan perusahaan. (3) Ketentuan mengenai jenis dan kriteria fasilitas kesejahteraan sesuai dengan kebutuhan pekerja/buruh dan ukuran kemampuan perusahaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 101 (1) Untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh, dibentuk koperasi pekerja/buruh dan usahausaha produktif di perusahaan. (2) Pemerintah, pengusaha, dan pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh berupaya menumbuhkembangkan koperasi pekerja/buruh, dan mengembangkan usaha produktif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (3) Pembentukan koperasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (4) Upaya-upaya untuk menumbuhkembangkan koperasi pekerja/buruh sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), diatur dengan Peraturan Pemerintah. BAB XI HUBUNGAN INDUSTRIAL Bagian Kesatu Umum Pasal 102

27

(1) Dalam melaksanakan hubungan industrial, pemerintah mempunyai fungsi menetapkan kebijakan, memberikan pelayanan, melaksanakan pengawasan, dan melakukan penindakan terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan. (2) Dalam melaksanakan hubungan industrial, pekerja/buruh dan serikat pekerja/serikat buruhnya mempunyai fungsi menjalankan pekerjaan sesuai dengan kewajibannya, menjaga ketertiban demi kelangsungan produksi, menyalurkan aspirasi secara demokratis, mengembangkan keterampilan, dan keahliannya serta ikut memajukan perusahaan dan memperjuangkan kesejahteraan anggota beserta keluarganya. (3) Dalam melaksanakan hubungan industrial, pengusaha dan organisasi pengusahanya mempunyai fungsi menciptakan kemitraan, mengembang-kan usaha, memperluas lapangan kerja, dan memberikan kesejahteraan pekerja/buruh secara terbuka, demokratis, dan berkeadilan. Pasal 103 Hubungan Industrial dilaksanakan melalui sarana: a. serikat pekerja/serikat buruh; b. organisasi pengusaha; c. lembaga kerja sama bipartit; d. lembaga kerja sama tripartit; e. peraturan perusahaan; f. perjanjian kerja bersama; g. peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan; dan h. lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial.

Bagian Kedua Serikat Pekerja/Serikat Buruh Pasal 104 (1) Setiap pekerja/buruh berhak membentuk dan menjadi anggota serikat pekerja/serikat buruh. (2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102, serikat pekerja/serikat buruh berhak menghimpun dan mengelola keuangan serta mempertanggungjawabkan keuangan organisasi termasuk dana mogok. (3) Besarnya dan tata cara pemungutan dana mogok sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur dalam anggaran dasar dan/atau anggaran rumah tangga serikat pekerja/serikat buruh yang bersangkutan. Bagian Ketiga Organisasi Pengusaha Pasal 105 (1) Setiap pengusaha berhak membentuk dan menjadi anggota organisasi pengusaha (2) Ketentuan mengenai organisasi pengusaha diatur sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. Bagian Keempat Lembaga Kerja Sama Bipartit Pasal 106 (1) Setiap perusahaan yang mempekerjakan 50 (lima puluh) orang pekerja/ buruh atau lebih wajib membentuk lembaga kerja sama bipartit. (2) Lembaga kerja sama bipartit sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berfungsi sebagai forum komunikasi, dan konsultasi mengenai hal ketenagakerjaan di perusahaan.

28

(3) Susunan keanggotaan lembaga kerja sama bipartit sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) terdiri dari unsur pengusaha dan unsur pekerja/buruh yang ditunjuk oleh pekerja/buruh secara demokratis untuk mewakili kepentingan pekerja/buruh di perusahaan yang bersangkutan. (2) Lembaga Kerja sama Tripartit sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan b. terdiri dari: a. Bagian Keenam Peraturan Perusahaan Pasal 108 (1) Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) orang wajib membuat peraturan perusahaan yang mulai berlaku setelah disahkan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk. Pasal 109 Peraturan perusahaan disusun oleh dan menjadi tanggung jawab dari pengusaha yang bersangkutan. (4) Tata kerja dan susunan organisasi Lembaga Kerja sama Tripartit sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Lembaga Kerja sama Tripartit Sektoral Nasional. wakil pekerja/buruh sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah pekerja/buruh yang dipilih secara demokratis untuk mewakili kepentingan para pekerja/buruh di perusahaan yang bersangkutan. (3) Dalam hal di perusahaan yang bersangkutan belum terbentuk serikat pekerja/serikat buruh. dan serikat pekerja/serikat buruh. hak dan kewajiban pengusaha. dan pendapat kepada pemerintah dan pihak terkait dalam penyusunan kebijakan dan pemecahan masalah ketenagakerjaan. (2) Dalam hal di perusahaan yang bersangkutan telah terbentuk serikat pekerja/serikat buruh maka wakil pekerja/buruh sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah pengurus serikat pekerja/serikat buruh. Pasal 111 (1) Peraturan perusahaan sekurang-kurangnya memuat: a. Provinsi. 29 . (4) Ketentuan mengenai tata cara pembentukan dan susunan keanggotaan lembaga kerja sama bipartit sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (3) diatur dengan Keputusan Menteri. organisasi pengusaha. Provinsi. (3) Keanggotaan Lembaga Kerja sama Tripartit terdiri dari unsur pemerintah. dan Kabupaten/Kota. Pasal 110 (1) Peraturan perusahaan disusun dengan memperhatikan saran dan pertimbangan dari wakil pekerja/buruh di perusahaan yang bersangkutan. saran. Lembaga Kerja sama Tripartit Nasional. dan Kabupaten/ Kota. (2) Kewajiban membuat peraturan perusahaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku bagi perusahaan yang telah memiliki perjanjian kerja bersama. Bagian Kelima Lembaga Kerja Sama Tripartit Pasal 107 (1) Lembaga kerja sama tripartit memberikan pertimbangan.

dan jangka waktu berlakunya peraturan perusahaan. Pasal 114 Pengusaha wajib memberitahukan dan menjelaskan isi serta memberikan naskah peraturan perusahaan atau perubahannya kepada pekerja/buruh. (2) Peraturan perusahaan hasil perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendapat pengesahan dari Menteri atau pejabat yang ditunjuk. (4) Selama masa berlakunya peraturan perusahaan. d. maka peraturan perusahaan tetap berlaku sampai habis jangka waktu berlakunya. maka dalam waktu 30 (tiga puluh) hari kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sudah terlampaui dan peraturan perusahaan belum disahkan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk. Bagian Ketujuh Perjanjian Kerja Bersama Pasal 116 30 . maka peraturan perusahaan dianggap telah mendapatkan pengesahan. (2) Ketentuan dalam peraturan perusahaan tidak boleh bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. maka pengusaha wajib melayani. syarat kerja. (2) Apabila peraturan perusahaan telah sesuai sebagaimana ketentuan dalam Pasal 111 ayat (1) dan ayat (2). Pasal 113 (1) Perubahan peraturan perusahaan sebelum berakhir jangka waktu berlakunya hanya dapat dilakukan atas dasar kesepakatan antara pengusaha dan wakil pekerja/buruh. (5) Dalam hal perundingan pembuatan perjanjian kerja bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak mencapai kesepakatan. (4) Dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak tanggal pemberitahuan diterima oleh pengusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (3). apabila serikat pekerja/ serikat buruh di perusahaan menghendaki perundingan pembuatan perjanjian kerja bersama. (3) Masa berlaku peraturan perusahaan paling lama 2 (dua) tahun dan wajib diperbaharui setelah habis masa berlakunya.b. Pasal 115 Ketentuan mengenai tata cara pembuatan dan pengesahan peraturan perusahaan diatur dengan Keputusan Menteri. pengusaha wajib menyampaikan kembali peraturan perusahaan yang telah diperbaiki kepada Menteri atau pejabat yang ditunjuk. tata tertib perusahaan. Pasal 112 (1) Pengesahan peraturan perusahaan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 108 ayat (1) harus sudah diberikan dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak naskah peraturan perusahaan diterima. hak dan kewajiban pekerja/buruh. (3) Dalam hal peraturan perusahaan belum memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111 ayat (1) dan ayat (2) Menteri atau pejabat yang ditunjuk harus memberitahukan secara tertulis kepada pengusaha mengenai perbaikan peraturan perusahaan. e. c.

maka perjanjian kerja bersama tersebut harus diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh penerjemah tersumpah dan terjemahan tersebut dianggap sudah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). maka penyelesaiannya dilakukan melalui prosedur penyelesaian perselisihan hubungan industrial. Dalam hal dukungan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak tercapai maka serikat pekerja/serikat buruh yang bersangkutan dapat mengajukan kembali permintaan untuk merundingkan perjanjian kerja bersama dengan pengusaha setelah melampaui jangka waktu 6 (enam) bulan terhitung sejak dilakukannya pemungutan suara dengan mengikuti prosedur sebagaimana dimaksud pada ayat (2). maka para serikat pekerja/serikat buruh membentuk tim perunding yang keanggotaannya (2) (3) (2) (3) 31 . Pasal 119 (1) Dalam hal di satu perusahaan hanya terdapat satu serikat pekerja/serikat buruh. Perjanjian kerja bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dibuat secara tertulis dengan huruf latin dan menggunakan bahasa Indonesia. Penyusunan perjanjian kerja bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara musyawarah. maka serikat pekerja/serikat buruh tersebut berhak mewakili pekerja/buruh dalam perundingan pembuatan perjanjian kerja bersama dengan pengusaha apabila memiliki jumlah anggota lebih dari 50% (lima puluh perseratus) dari jumlah seluruh pekerja/buruh di perusahaan yang bersangkutan. Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) atau ayat (2) tidak terpenuhi. Dalam hal di satu perusahaan hanya terdapat satu serikat pekerja/serikat buruh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tetapi tidak memiliki jumlah anggota lebih dari 50% (lima puluh perseratus) dari jumlah seluruh pekerja/buruh di perusahaan maka serikat pekerja/serikat buruh dapat mewakili pekerja/buruh dalam perundingan dengan pengusaha apabila serikat pekerja/serikat buruh yang bersangkutan telah mendapat dukungan lebih 50% (lima puluh perseratus) dari jumlah seluruh pekerja/buruh di perusahaan melalui pemungutan suara. Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi. Pasal 120 (1) Dalam hal di satu perusahaan terdapat lebih dari 1 (satu) serikat pekerja/serikat buruh maka yang berhak mewakili pekerja/buruh melakukan perundingan dengan pengusaha yang jumlah keanggotaannya lebih dari 50% (lima puluh perseratus) dari seluruh jumlah pekerja/buruh di perusahaan tersebut. Pasal 117 (2) (3) (4) Dalam hal musyawarah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 116 ayat (2) tidak mencapai kesepakatan. maka serikat pekerja/serikat buruh dapat melakukan koalisi sehingga tercapai jumlah lebih dari 50% (lima puluh perseratus) dari seluruh jumlah pekerja/buruh di perusahaan tersebut untuk mewakili dalam perundingan dengan pengusaha. Dalam hal terdapat perjanjian kerja bersama yang dibuat tidak menggunakan bahasa Indonesia.(1) Perjanjian kerja bersama dibuat oleh serikat pekerja/serikat buruh atau beberapa serikat pekerja/serikat buruh yang telah tercatat pada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan dengan pengusaha atau beberapa pengusaha. Pasal 118 Dalam 1 (satu) perusahaan hanya dapat dibuat 1 (satu) perjanjian kerja bersama yang berlaku bagi seluruh pekerja/buruh di perusahaan.

tetap berlaku untuk paling lama 1 (satu) tahun. serikat pekerja/serikat buruh dan pekerja/buruh wajib melaksanakan ketentuan yang ada dalam perjanjian kerja bersama. jangka waktu dan tanggal mulai berlakunya perjanjian kerja bersama. (3) Perundingan pembuatan perjanjian kerja bersama berikutnya dapat dimulai paling cepat 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya perjanjian kerja bersama yang sedang berlaku. d. 32 . maka ketentuan yang bertentangan tersebut batal demi hukum dan yang berlaku adalah ketentuan dalam peraturan perundang-undangan. Pasal 121 Keanggotaan serikat pekerja/serikat buruh sebagaimana dimaksud dalam Pasal 119 dan Pasal 120 dibuktikan dengan kartu tanda anggota. hak dan kewajiban serikat pekerja/serikat buruh serta pekerja/buruh. Ketentuan dalam perjanjian kerja bersama tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (4) Dalam hal perundingan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak mencapai kesepakatan maka perjanjian kerja bersama yang sedang berlaku. Dalam hal isi perjanjian kerja bersama bertentangan dengan peraturan perundangundangan yang berlaku sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 125 Dalam hal kedua belah pihak sepakat mengadakan perubahan perjanjian kerja bersama. maka perubahan tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjanjian kerja bersama yang sedang berlaku. Pasal 123 (1) Masa berlakunya perjanjian kerja bersama paling lama 2 (dua) tahun. Pasal 124 (1) a. Pasal 122 Pemungutan suara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 119 ayat (2) diselenggarakan oleh panitia yang terdiri dari wakil-wakil pekerja/buruh dan pengurus serikat pekerja/serikat buruh yang disaksikan oleh pihak pejabat yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan dan pengusaha. (2) Perjanjian kerja bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diperpanjang masa berlakunya paling lama 1 (satu) tahun berdasarkan kesepakatan tertulis antara pengusaha dengan serikat pekerja/serikat buruh. (2) (3) Perjanjian kerja bersama paling sedikit memuat: hak dan kewajiban pengusaha.ditentukan secara proporsional berdasarkan jumlah anggota masing-masing serikat pekerja/serikat buruh. dan tanda tangan para pihak pembuat perjanjian kerja bersama. c. Pasal 126 (1) Pengusaha. b.

Pasal 128 Dalam hal perjanjian kerja tidak memuat aturan-aturan yang diatur dalam perjanjian kerja bersama maka yang berlaku adalah aturan-aturan dalam perjanjian kerja bersama. Pasal 127 (1) (2) Perjanjian kerja yang dibuat oleh pengusaha dan pekerja/buruh tidak boleh bertentangan dengan perjanjian kerja bersama. maka ketentuan yang ada dalam peraturan perusahaan tidak boleh lebih rendah dari ketentuan yang ada dalam perjanjian kerja bersama. maka ketentuan dalam perjanjian kerja tersebut batal demi hukum dan yang berlaku adalah ketentuan dalam perjanjian kerja bersama. Pengusaha harus mencetak dan membagikan naskah perjanjian kerja bersama kepada setiap pekerja/buruh atas biaya perusahaan. Dalam hal perjanjian kerja bersama yang sudah berakhir masa berlakunya akan diperpanjang atau diperbaharui dan di perusahaan tersebut terdapat lebih dari 1 (satu) serikat pekerja/serikat buruh dan serikat pekerja/serikat buruh yang dulu berunding tidak lagi memenuhi ketentuan Pasal 120 ayat (1).(2) (3) Pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh wajib memberitahukan isi perjanjian kerja bersama atau perubahannya kepada seluruh pekerja/buruh. Dalam hal ketentuan dalam perjanjian kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertentangan dengan perjanjian kerja bersama. Dalam hal perjanjian kerja bersama yang sudah berakhir masa berlakunya akan diperpanjang atau diperbaharui dan di perusahaan tersebut terdapat lebih dari 1 (satu) serikat pekerja/serikat buruh dan tidak satupun serikat pekerja/serikat buruh yang ada memenuhi ketentuan Pasal 120 ayat (1). maka perpanjangan atau pembuatan pembaharuan perjanjian kerja bersama tidak mensyaratkan ketentuan dalam Pasal 119. selama di perusahaan yang bersangkutan masih ada serikat pekerja/serikat buruh. maka perpanjangan atau pembuatan pembaharuan perjanjian kerja bersama dilakukan menurut ketentuan Pasal 120 ayat (2) dan ayat (3). Pasal 130 (1) Dalam hal perjanjian kerja bersama yang sudah berakhir masa berlakunya akan diperpanjang atau diperbaharui dan di perusahaan tersebut hanya terdapat 1 (satu) serikat pekerja/serikat buruh. Pasal 129 (1) (2) Pengusaha dilarang mengganti perjanjian kerja bersama dengan peraturan perusahaan. (2) (3) Pasal 131 33 . Dalam hal di perusahaan tidak ada lagi serikat pekerja/serikat buruh dan perjanjian kerja bersama diganti dengan peraturan perusahaan. maka perpanjangan atau pembuatan pembaharuan perjanjian kerja bersama dilakukan oleh serikat pekerja/serikat buruh yang anggotanya lebih 50% (lima puluh perseratus) dari jumlah seluruh pekerja/buruh di perusahaan bersama-sama dengan serikat pekerja/serikat buruh yang membuat perjanjian kerja bersama terdahulu dengan membentuk tim perunding secara proporsional.

(1) Dalam hal terjadi pembubaran serikat pekerja/serikat buruh atau pengalihan kepemilikan perusahaan maka perjanjian kerja bersama tetap berlaku sampai berakhirnya jangka waktu perjanjian kerja bersama. (2) (3) Pasal 132 (1) (2) Perjanjian kerja bersama mulai berlaku pada hari penandatanganan kecuali ditentukan lain dalam perjanjian kerja bersama tersebut. perpanjangan. Pasal 133 Ketentuan mengenai persyaratan serta tata cara pembuatan. (2) Dalam hal penyelesaian secara musyawarah untuk mufakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak tercapai. pemerintah wajib melaksanakan pengawasan dan penegakan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan. dan pendaftaran perjanjian kerja bersama diatur dengan Keputusan Menteri. Perjanjian kerja bersama yang ditandatangani oleh pihak yang membuat perjanjian kerja bersama selanjutnya didaftarkan oleh pengusaha pada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan. dan pemerintah. Dalam hal terjadi penggabungan perusahaan (merger) dan masing-masing perusahaan mempunyai perjanjian kerja bersama maka perjanjian kerja bersama yang berlaku adalah perjanjian kerja bersama yang lebih menguntungkan pekerja/buruh. Pasal 134 Dalam mewujudkan pelaksanaan hak dan kewajiban pekerja/buruh dan pengusaha. perubahan. Pasal 135 Pelaksanaan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan dalam mewujudkan hubungan industrial merupakan tanggung jawab pekerja/buruh. maka pengusaha dan pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh menyelesaikan perselisihan hubungan industrial melalui prosedur penyelesaian perselisihan hubungan industrial yang diatur dengan undang-undang. pengusaha. Paragraf 2 Mogok Kerja Pasal 137 34 . Bagian Kedelapan Lembaga Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Paragraf 1 Perselisihan Hubungan Industrial Pasal 136 (1) Penyelesaian perselisihan hubungan industrial wajib dilaksanakan oleh pengusaha dan pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh secara musyawarah untuk mufakat. Dalam hal terjadi penggabungan perusahaan (merger) antara perusahaan yang mempunyai perjanjian kerja bersama dengan perusahaan yang belum mempunyai perjanjian kerja bersama maka perjanjian kerja bersama tersebut berlaku bagi perusahaan yang bergabung (merger) sampai dengan berakhirnya jangka waktu perjanjian kerja bersama.

pekerja/buruh dan serikat pekerja/serikat buruh wajib memberitahukan secara tertulis kepada pengusaha dan instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan setempat. dan jam) dimulai dan diakhiri mogok kerja. maka pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditandatangani oleh perwakilan pekerja/buruh yang ditunjuk sebagai koordinator dan/atau penanggung jawab mogok kerja. melarang para pekerja/buruh yang mogok kerja berada di lokasi kegiatan proses produksi. b. c. dapat memenuhi atau tidak memenuhi ajakan tersebut. Pekerja/buruh yang diajak mogok kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Pasal 141 (1) Instansi pemerintah dan pihak perusahaan yang menerima surat pemberitahuan mogok kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 140 wajib memberikan tanda terima. Dalam hal mogok kerja dilakukan tidak sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tanggal.Mogok kerja sebagai hak dasar pekerja/buruh dan serikat pekerja/serikat buruh dilakukan secara sah. (3) waktu (hari. tempat mogok kerja. Pasal 138 (1) Pekerja/buruh dan/atau serikat pekerja/serikat buruh yang bermaksud mengajak pekerja/buruh lain untuk mogok kerja pada saat mogok kerja berlangsung dilakukan dengan tidak melanggar hukum. (2) Pasal 139 Pelaksanaan mogok kerja bagi pekerja/buruh yang bekerja pada perusahaan yang melayani kepentingan umum dan/atau perusahaan yang jenis kegiatannya membahayakan keselamatan jiwa manusia diatur sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu kepentingan umum dan/atau membahayakan keselamatan orang lain. alasan dan sebab-sebab mengapa harus melakukan mogok kerja. pengusaha dapat mengambil tindakan sementara dengan cara: a. maka demi menyelamatkan alat produksi dan aset perusahaan. (2) Dalam hal mogok kerja akan dilakukan oleh pekerja/buruh yang tidak menjadi anggota serikat pekerja/serikat buruh. b. 35 . dan tanda tangan ketua dan sekretaris dan/atau masing-masing ketua dan sekretaris serikat pekerja/serikat buruh sebagai penanggung jawab mogok kerja. Pasal 140 (1) Sekurang-kurangnya dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja sebelum mogok kerja dilaksanakan. Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya memuat: a. tertib. dan damai sebagai akibat gagalnya perundingan. d. atau bila dianggap perlu melarang pekerja/buruh yang mogok kerja berada di lokasi perusahaan.

tertib. dan damai. pengusaha dilarang: a. pekerja/buruh berhak mendapatkan upah. Dalam hal perundingan tidak menghasilkan kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). maka pegawai dari instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan segera menyerahkan masalah yang menyebabkan terjadinya mogok kerja kepada lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial yang berwenang. Pasal 144 Terhadap mogok kerja yang dilakukan sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 140. mengganti pekerja/buruh yang mogok kerja dengan pekerja/buruh lain dari luar perusahaan. dan damai sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. tertib. instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan wajib menyelesaikan masalah yang menyebabkan timbulnya pemogokan dengan mempertemukan dan merundingkannya dengan para pihak yang berselisih. Pasal 143 (1) (2) Siapapun tidak dapat menghalang-halangi pekerja/buruh dan serikat pekerja/serikat buruh untuk menggunakan hak mogok kerja yang dilakukan secara sah. maka atas dasar perundingan antara pengusaha dengan serikat pekerja/serikat buruh atau penanggung jawab mogok kerja. b. Akibat hukum dari mogok kerja yang tidak sah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) akan diatur dengan Keputusan Menteri. Dalam hal perundingan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak menghasilkan kesepakatan. (3) (4) (5) Pasal 142 (1) (2) Mogok kerja yang dilakukan tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139 dan Pasal 140 adalah mogok kerja tidak sah. Paragraf 3 36 . atau memberikan sanksi atau tindakan balasan dalam bentuk apapun kepada pekerja/buruh dan pengurus serikat pekerja/serikat buruh selama dan sesudah melakukan mogok kerja.(2) Sebelum dan selama mogok kerja berlangsung. Siapapun dilarang melakukan penangkapan dan/atau penahanan terhadap pekerja/buruh dan pengurus serikat pekerja/serikat buruh yang melakukan mogok kerja secara sah. Dalam hal perundingan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menghasilkan kesepakatan. mogok kerja dapat diteruskan atau dihentikan untuk sementara atau dihentikan sama sekali. Pasal 145 Dalam hal pekerja/buruh yang melakukan mogok kerja secara sah dalam melakukan tuntutan hak normatif yang sungguh-sungguh dilanggar oleh pengusaha. maka harus dibuatkan perjanjian bersama yang ditandatangani oleh para pihak dan pegawai dari instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan sebagai saksi.

meliputi rumah sakit. tanggal. Tindakan penutupan perusahaan (lock out) harus dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. (2) (3) Pasal 147 Penutupan perusahaan (lock out) dilarang dilakukan pada perusahaan-perusahaan yang melayani kepentingan umum dan/atau jenis kegiatan yang membahayakan keselamatan jiwa manusia. maka harus dibuat perjanjian bersama yang ditandatangani oleh para pihak dan pegawai dari instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan sebagai saksi. serta kereta api. Pasal 148 (1) Pengusaha wajib memberitahukan secara tertulis kepada pekerja/buruh dan/atau serikat pekerja/serikat buruh. tanggal. instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan berwenang langsung menyelesaikan masalah yang menyebabkan timbulnya penutupan perusahaan (lock out) dengan mempertemukan dan merundingkannya dengan para pihak yang berselisih. pusat pengendali telekomunikasi. Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya memuat: a. Dalam hal perundingan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menghasilkan kesepakatan.Penutupan Perusahaan (lock-out) Pasal 146 (1) Penutupan perusahaan (lock out) merupakan hak dasar pengusaha untuk menolak pekerja/buruh sebagian atau seluruhnya untuk menjalankan pekerjaan sebagai akibat gagalnya perundingan. waktu (hari. dan b. pelayanan jaringan air bersih. Pengusaha tidak dibenarkan melakukan penutupan perusahaan (lock out) sebagai tindakan balasan sehubungan adanya tuntutan normatif dari pekerja/buruh dan/atau serikat pekerja/serikat buruh. (3) alasan dan sebab-sebab melakukan penutupan perusahaan (lock out). Pasal 149 (1) Pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh dan instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan yang menerima secara langsung surat pemberitahuan penutupan perusahaan (lock out) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 148 harus memberikan tanda bukti penerimaan dengan mencantumkan hari. (2) (3) 37 . pusat penyedia tenaga listrik. Sebelum dan selama penutupan perusahaan (lock out) berlangsung. serta instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan setempat sekurang-kurangnya 7 (tujuh) hari kerja sebelum penutupan perusahaan (lock out) dilaksanakan. dan jam penerimaan. (2) Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditandatangani oleh pengusaha dan/atau pimpinan perusahaan yang bersangkutan. pengolahan minyak dan gas bumi. dan jam) dimulai dan diakhiri penutupan perusahaan (lock out).

pekerja/buruh. penutupan perusahaan (lock out) dapat diteruskan atau dihentikan untuk sementara atau dihentikan sama sekali. perjanjian kerja bersama. pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh melanggar ketentuan normatif yang ditentukan dalam perjanjian kerja. Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak diperlukan apabila: a. dengan segala upaya harus mengusahakan agar jangan terjadi pemutusan hubungan kerja. serikat pekerja/serikat buruh. maka atas dasar perundingan antara pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh. Pasal 151 (1) (2) Pengusaha. atau peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam hal segala upaya telah dilakukan. Penetapan atas permohonan pemutusan hubungan kerja hanya dapat diberikan oleh lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial jika ternyata maksud untuk memutuskan hubungan kerja telah dirundingkan.(4) Dalam hal perundingan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak menghasilkan kesepakatan. maupun usaha-usaha sosial dan usaha-usaha lain yang mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain. Permohonan penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diterima oleh lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial apabila telah dirundingkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 151 ayat (2). peraturan perusahaan. (3) 38 . Apabila perundingan tidak menghasilkan kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). tetapi pemutusan hubungan kerja tidak dapat dihindari. milik persekutuan atau milik badan hukum. baik milik swasta maupun milik negara. b. maka pegawai dari instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan segera menyerahkan masalah yang menyebabkan terjadinya penutupan perusahaan (lock out) kepada lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial. (3) Pasal 152 (1) (2) Permohonan penetapan pemutusan hubungan kerja diajukan secara tertulis kepada lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial disertai alasan yang menjadi dasarnya. maka maksud pemutusan hubungan kerja wajib dirundingkan oleh pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh atau dengan pekerja/buruh apabila pekerja/buruh yang bersangkutan tidak menjadi anggota serikat pekerja/serikat buruh. tetapi perundingan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan. pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh melanggar prosedur mogok kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 140. BAB XII PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA Pasal 150 (5) (6) Ketentuan mengenai pemutusan hubungan kerja dalam undang-undang ini meliputi pemutusan hubungan kerja yang terjadi di badan usaha yang berbadan hukum atau tidak. milik orang perseorangan. dan pemerintah. pengusaha hanya dapat memutuskan hubungan kerja dengan pekerja/buruh setelah memperoleh penetapan dari lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial. Dalam hal perundingan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) benar-benar tidak menghasilkan persetujuan.

atau perjanjian kerja bersama. perjanjian kerja bersama. j. atau status perkawinan. b. b. g. d. kondisi fisik. pekerja/buruh mendirikan. Pasal 154 Penetapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 151 ayat (3) tidak diperlukan dalam hal: a. pekerja/buruh mencapai usia pensiun sesuai dengan ketetapan dalam perjanjian kerja. pekerja/buruh berhalangan menjalankan pekerjaannya karena memenuhi kewajiban terhadap negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. menjadi anggota dan/atau pengurus serikat pekerja/serikat buruh. c. atau berdasarkan ketentuan yang diatur dalam perjanjian kerja. atau perjanjian kerja bersama. pekerja/buruh yang mengadukan pengusaha kepada yang berwajib mengenai perbuatan pengusaha yang melakukan tindak pidana kejahatan. berakhirnya hubungan kerja sesuai dengan perjanjian kerja waktu tertentu untuk pertama kali. Pasal 155 39 . (2) Pemutusan hubungan kerja yang dilakukan dengan alasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) batal demi hukum dan pengusaha wajib mempekerjakan kembali pekerja/buruh yang bersangkutan. pekerja/buruh dalam keadaan cacat tetap. pekerja/buruh menjalankan ibadah yang diperintahkan agamanya. pekerja/buruh mengajukan permintaan pengunduran diri. pekerja/buruh mempunyai pertalian darah dan atau ikatan perkawinan dengan pekerja/buruh lainnya di dalam satu perusahaan. pekerja/buruh melakukan kegiatan serikat pekerja/serikat buruh di luar jam kerja. bilamana telah dipersyaratkan secara tertulis sebelumnya. i. Pengusaha dilarang melakukan pemutusan hubungan kerja dengan alasan: pekerja/buruh berhalangan masuk kerja karena sakit menurut keterangan dokter selama waktu tidak melampaui 12 (dua belas) bulan secara terus-menerus. pekerja/buruh menikah. h. atau sakit karena hubungan kerja yang menurut surat keterangan dokter yang jangka waktu penyembuhannya belum dapat dipastikan. atau peraturan perundang-undangan. atau pekerja/buruh meninggal dunia. peraturan perusahaan. atau di dalam jam kerja atas kesepakatan pengusaha. aliran politik. secara tertulis atas kemauan sendiri tanpa ada indikasi adanya tekanan/intimidasi dari pengusaha. melahirkan. agama. e. peraturan perusahan. sakit akibat kecelakaan kerja. d. f. gugur kandungan. peraturan perusahaan.Pasal 153 (1) a. pekerja/buruh masih dalam masa percobaan kerja. suku. golongan. jenis kelamin. pekerja/buruh perempuan hamil. karena perbedaan paham. c. atau menyusui bayinya. warna kulit. kecuali telah diatur dalam perjanjian kerja.

3 (tiga) bulan upah. 2 (dua) bulan upah. 40 . 7 (tujuh) bulan upah. 3 (tiga) bulan upah. pengusaha diwajibkan membayar uang pesangon dan atau uang penghargaan masa kerja dan uang penggantian hak yang seharusnya diterima. 1 (satu) bulan upah. Selama putusan lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial belum ditetapkan. (3) masa kerja kurang dari 1 (satu) tahun. masa kerja 3 (tiga) tahun atau lebih tetapi kurang dari 6 (enam) tahun. tetapi kurang dari 6 (enam) tahun. e. masa kerja 2 (dua) tahun atau lebih tetapi kurang dari 3 (tiga) tahun.(1) (2) (3) Pemutusan hubungan kerja tanpa penetapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 151 ayat (3) batal demi hukum. masa kerja 1 (satu) tahun atau lebih tetapi kurang dari 2 (dua) tahun. masa kerja 3 (tiga) tahun atau lebih tetapi kurang dari 4 (empat) tahun. 2 (dua) bulan upah. 5 (lima) bulan upah. Perhitungan uang pesangon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit sebagai berikut: a. masa kerja 7 (tujuh) tahun atau lebih tetapi kurang dari 8 (delapan) tahun. b. masa kerja 9 (sembilan) tahun atau lebih tetapi kurang dari 12 (duabelas) tahun. 5 (lima) bulan upah. masa kerja 5 (lima) tahun atau lebih. b. c. i. Pasal 156 (1) Dalam hal terjadi pemutusan hubungan kerja. d. masa kerja 4 (empat) tahun atau lebih tetapi kurang dari 5 (lima) tahun. (2) Perhitungan uang penghargaan masa kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sebagai berikut: a. 4 (empat) bulan upah. 9 (sembilan) bulan upah. masa kerja 8 (delapan) tahun atau lebih. 4 (empat) bulan upah. baik pengusaha maupun pekerja/buruh harus tetap melaksanakan segala kewajibannya. f. masa kerja 6 (enam) tahun atau lebih tetapi kurang dari 9 (sembilan) tahun. h. d. c. Pengusaha dapat melakukan penyimpangan terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berupa tindakan skorsing kepada pekerja/buruh yang sedang dalam proses pemutusan hubungan kerja dengan tetap wajib membayar upah beserta hak-hak lainnya yang biasa diterima pekerja/buruh. masa kerja 12 (duabelas) tahun atau lebih tetapi kurang dari 15 (lima belas) tahun. masa kerja 6 (enam) tahun atau lebih tetapi kurang dari 7 (tujuh) tahun. g. 6 (enam) bulan upah. 8 (delapan) bulan upah.

g. maka penghasilan sehari adalah sama dengan pendapatan rata-rata per hari selama 12 (dua belas) bulan terakhir.e. 7 (tujuh) bulan upah. biaya atau ongkos pulang untuk pekerja/buruh dan keluarganya ketempat dimana pekerja/buruh diterima bekerja. peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama. yang apabila catu harus dibayar pekerja/buruh dengan subsidi. Dalam hal upah pekerja/buruh dibayarkan atas dasar perhitungan satuan hasil. d. termasuk harga pembelian dari catu yang diberikan kepada pekerja/buruh secara cuma-cuma. dan uang pengganti hak yang seharusnya diterima yang tertunda. b. masa kerja 21 (duapuluh satu) tahun atau lebih tetapi kurang dari 24 (duapuluh empat) tahun. Uang penggantian hak yang seharusnya diterima sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. segala macam bentuk tunjangan yang bersifat tetap yang diberikan kepada pekerja/buruh dan keluarganya. dengan ketentuan tidak boleh kurang dari ketentuan upah minimum provinsi atau kabupaten/kota. maka perhitungan upah sebulan dihitung dari upah rata-rata 12 (dua belas) bulan terakhir. dan uang penggantian hak sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dan ayat (4) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah Pasal 157 (1) Komponen upah yang digunakan sebagai dasar perhitungan uang pesangon. masa kerja 18 (delapan belas) tahun atau lebih tetapi kurang dari 21 (duapuluh satu) tahun. potongan/borongan atau komisi. perhitungan uang penghargaan masa kerja. (2) (3) Dalam hal penghasilan pekerja/buruh dibayarkan atas dasar perhitungan harian. 10 (sepuluh ) bulan upah. c. maka sebagai upah dianggap selisih antara harga pembelian dengan harga yang harus dibayar oleh pekerja/buruh. maka penghasilan sebulan adalah sama dengan 30 kali penghasilan sehari. uang penghargaan masa kerja. 6 (enam) bulan upah. 8 (delapan) bulan upah. hal-hal lain yang ditetapkan dalam perjanjian kerja. b. Dalam hal pekerjaan tergantung pada keadaan cuaca dan upahnya didasarkan pada upah borongan. (4) masa kerja 15 (lima belas) tahun atau lebih tetapi kurang dari 18 (delapan belas) tahun. ayat (3). upah pokok. terdiri atas: a. penggantian perumahan serta pengobatan dan perawatan ditetapkan 15% (limabelas perseratus) dari uang pesangon dan atau uang penghargaan masa kerja bagi yang memenuhi syarat. h. (5) Perubahan perhitungan uang pesangon. Pasal 158 (4) (1) Pengusaha dapat memutuskan hubungan kerja terhadap pekerja/buruh dengan alasan pekerja/buruh telah melakukan kesalahan berat sebagai berikut: 41 . f. masa kerja 24 (duapuluh empat) tahun atau lebih. cuti tahunan yang belum diambil dan belum gugur.

i. menganiaya. (3) Pekerja/buruh yang diputus hubungan kerjanya berdasarkan alasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). untuk 1 (satu) orang tanggungan: 25% (dua puluh lima perseratus) dari upah. melakukan perbuatan asusila atau perjudian di lingkungan kerja. diberikan uang pisah yang besarnya dan pelaksanaannya diatur dalam perjanjian kerja. (2) melakukan penipuan. memakai dan atau mengedarkan narkotika. pekerja/buruh yang bersangkutan dapat mengajukan gugatan ke lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial. b. mengancam. atau bukti lain berupa laporan kejadian yang dibuat oleh pihak yang berwenang di perusahaan yang bersangkutan dan didukung oleh sekurang-kurangnya 2 (dua) orang saksi. atau melakukan perbuatan lainnya di lingkungan perusahaan yang diancam pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih. c. maka pengusaha tidak wajib membayar upah tetapi wajib memberikan bantuan kepada keluarga pekerja/buruh yang menjadi tanggungannya dengan ketentuan sebagai berikut: a. menyerang. Pasal 159 (4) Apabila pekerja/buruh tidak menerima pemutusan hubungan kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 ayat (1). atau penggelapan barang dan/atau uang milik perusahaan. d. atau mengintimidasi teman sekerja atau pengusaha di lingkungan kerja. membujuk teman sekerja atau pengusaha untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. dapat memperoleh uang penggantian hak sebagai dimaksud dalam Pasal 156 ayat (4). f. dengan ceroboh atau sengaja membiarkan teman sekerja atau pengusaha dalam keadaan bahaya di tempat kerja. h.a. peraturan perusahaan. membongkar atau membocorkan rahasia perusahaan yang seharusnya dirahasiakan kecuali untuk kepentingan negara. dengan ceroboh atau sengaja merusak atau membiarkan dalam keadaan bahaya barang milik perusahaan yang menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Kesalahan berat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus didukung dengan bukti sebagai berikut: a. c. mabuk. dan zat adiktif lainnya di lingkungan kerja. ada pengakuan dari pekerja/buruh yang bersangkutan. psikotropika. Bagi pekerja/buruh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang tugas dan fungsinya tidak mewakili kepentingan pengusaha secara langsung. e. memberikan keterangan palsu atau yang dipalsukan sehingga merugikan perusahaan. j. atau perjanjian kerja bersama. 42 . pencurian. pekerja/buruh tertangkap tangan. Pasal 160 (1) Dalam hal pekerja/buruh ditahan pihak yang berwajib karena diduga melakukan tindak pidana bukan atas pengaduan pengusaha. b. g. meminum minuman keras yang memabukkan.

uang penghargaan masa kerja 1 (satu) kali ketentuan Pasal 156 ayat (3) dan uang penggantian hak sesuai ketentuan dalam Pasal 156 ayat (4). memperoleh uang penggantian hak sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (4). dan ketiga secara berturut-turut. Dalam hal pengadilan memutuskan perkara pidana sebelum masa 6 (enam) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berakhir dan pekerja/buruh dinyatakan tidak bersalah. untuk 3 (tiga) orang tanggungan: 45% (empat puluh lima perseratus) dari upah. d. maka pengusaha wajib mempekerjakan pekerja/buruh kembali. mengajukan permohonan pengunduran diri secara tertulis selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sebelum tanggal mulai pengunduran diri. (2) (3) untuk 2 (dua)orang tanggungan: 35% (tiga puluh lima perseratus) dari upah. setelah kepada pekerja/buruh yang bersangkutan diberikan surat peringatan pertama. uang penghargaan masa kerja sebesar 1 (satu) kali ketentuan Pasal 156 ayat (3) dan uang penggantian hak sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (4). c. Dalam hal pengadilan memutuskan perkara pidana sebelum masa 6 (enam) bulan berakhir dan pekerja/buruh dinyatakan bersalah. untuk 4 (empat) orang tanggungan atau lebih: 50% (lima puluh perseratus) dari upah. (3) Pekerja/buruh yang mengalami pemutusan hubungan kerja dengan alasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memperoleh uang pesangon sebesar 1 (satu) kali ketentuan Pasal 156 ayat (2). Pengusaha dapat melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap pekerja/buruh yang setelah 6 (enam) bulan tidak dapat melakukan pekerjaan sebagaimana mestinya karena dalam proses perkara pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). maka pengusaha dapat melakukan pemutusan hubungan kerja kepada pekerja/buruh yang bersangkutan. pengusaha dapat melakukan pemutusan hubungan kerja.b. Pekerja/buruh yang mengundurkan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi syarat: a. peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama. Pemutusan hubungan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (5) dilakukan tanpa penetapan lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial. kecuali ditetapkan lain dalam perjanjian kerja. Pasal 161 (4) (5) (6) (7) (1) Dalam hal pekerja/buruh melakukan pelanggaran ketentuan yang diatur dalam perjanjian kerja. kedua. peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama. yang tugas dan fungsinya tidak mewakili kepentingan pengusaha secara langsung. selain menerima uang penggantian hak sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (4) diberikan uang pisah yang besarnya dan pelaksanaannya diatur dalam perjanjian kerja. Pasal 162 (1) (2) Pekerja/buruh yang mengundurkan diri atas kemauan sendiri. peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama. (2) Surat peringatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) masing-masing berlaku untuk paling lama 6 (enam) bulan. Bantuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan untuk paling lama 6 (enam) bulan takwin terhitung sejak hari pertama pekerja/buruh ditahan oleh pihak yang berwajib. (3) 43 . Pengusaha wajib membayar kepada pekerja/buruh yang mengalami pemutusan hubungan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (5). Bagi pekerja/buruh yang mengundurkan diri atas kemauan sendiri.

atau peleburan perusahaan. dengan ketentuan pekerja/buruh berhak atas uang pesangon sebesar 1 (satu) kali ketentuan Pasal 156 ayat (2). maka pekerja/buruh berhak atas uang pesangon sebesar 2 (dua) kali ketentuan Pasal 156 ayat (2). dan uang penggantian hak sesuai ketentuan dalam Pasal 156 ayat (4). peleburan. atau keadaan memaksa (force majeur). Pasal 166 Dalam hal hubungan kerja berakhir karena pekerja/buruh meninggal dunia. dengan ketentuan pekerja/buruh berhak atas uang pesangon sebesar 1 (satu) kali ketentuan Pasal 156 ayat (2) uang penghargaan masa kerja sebesar 1 (satu) kali ketentuan Pasal 156 ayat (3) dan uang penggantian hak sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (4). dan pengusaha tidak bersedia menerima pekerja/buruh di perusahaannya. (2) Pasal 164 (1) Pengusaha dapat melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap pekerja/buruh karena perusahaan tutup yang disebabkan perusahaan mengalami kerugian secara terus menerus selama 2 (dua) tahun. penggabungan. kepada ahli warisnya diberikan sejumlah uang yang besar perhitungannya sama dengan perhitungan 2 (dua) kali uang 44 . (4) tidak terikat dalam ikatan dinas. Kerugian perusahaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dibuktikan dengan laporan keuangan 2 (dua) tahun terakhir yang telah diaudit oleh akuntan publik. Pengusaha dapat melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap pekerja/buruh karena perusahaan tutup bukan karena mengalami kerugian 2 (dua) tahun berturut-turut atau bukan karena keadaan memaksa (force majeur) tetapi perusahaan melakukan efisiensi. (2) (3) Pasal 165 Pengusaha dapat melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap pekerja/buruh karena perusahaan pailit.b. dan tetap melaksanakan kewajibannya sampai tanggal mulai pengunduran diri. Pengusaha dapat melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap pekerja/buruh karena perubahan status. uang penghargaan masa kerja sebesar 1 (satu) kali ketentuan Pasal 156 ayat (3) dan uang penggantian hak sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (4). penggabungan. Pasal 163 (1) Pengusaha dapat melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap pekerja/buruh dalam hal terjadi perubahan status. uang penghargaan masa kerja sebesar 1 (satu) kali ketentuan Pasal 156 ayat (3) dan uang penggantian hak sesuai sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (4). uang penghargaan masa kerja 1 (satu) kali ketentuan dalam Pasal 156 ayat (3). uang perhargaan masa kerja 1 (satu) kali ketentuan Pasal 156 ayat (3) dan uang penggantian hak sesuai ketentuan dalam Pasal 156 ayat (4). atau perubahan kepemilikan perusahaan dan pekerja/ buruh tidak bersedia melanjutkan hubungan kerja. Pemutusan hubungan kerja dengan alasan pengunduran diri atas kemauan sendiri dilakukan tanpa penetapan lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial. dengan ketentuan pekerja/buruh berhak atas uang pesangon sebesar 2 (dua) kali ketentuan Pasal 156 ayat (2). maka pekerja/buruh berhak atas uang pesangon sebesar 1 (satu) kali sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (2). c.

1 (satu) kali uang penghargaan masa kerja sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (3). maka yang diperhitungkan dengan uang pesangon yaitu uang pensiun yang premi/iurannya dibayar oleh pengusaha. Pasal 167 (1) Pengusaha dapat melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap pekerja/buruh karena memasuki usia pensiun dan apabila pengusaha telah mengikutkan pekerja/buruh pada program pensiun yang iurannya dibayar penuh oleh pengusaha.pesangon sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (2). peraturan perusahaan. uang penghargaan masa kerja 1 (satu) kali ketentuan Pasal 156 ayat (3) dan uang penggantian hak sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (4). (2) (3) Pasal 169 (1) Pekerja/buruh dapat mengajukan permohonan pemutusan hubungan kerja kepada lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial dalam hal pengusaha melakukan perbuatan sebagai berikut: 45 . ayat (2). uang penghargaan masa kerja sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (3). maka pekerja/buruh tidak berhak mendapatkan uang pesangon sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (2). dan ayat (3) dapat diatur lain dalam perjanjian kerja. peraturan perusahaan. (2) (3) (4) (5) (6) Pasal 168 (1) Pekerja/buruh yang mangkir selama 5 (lima) hari kerja atau lebih berturut-turut tanpa keterangan secara tertulis yang dilengkapi dengan bukti yang sah dan telah dipanggil oleh pengusaha 2 (dua) kali secara patut dan tertulis dapat diputus hubungan kerjanya karena dikualifikasikan mengundurkan diri. Dalam hal pengusaha tidak mengikutsertakan pekerja/buruh yang mengalami pemutusan hubungan kerja karena usia pensiun pada program pensiun maka pengusaha wajib memberikan kepada pekerja/buruh uang pesangon sebesar 2 (dua) kali ketentuan Pasal 156 ayat (2). Dalam hal pengusaha telah mengikutsertakan pekerja/buruh dalam program pensiun yang iurannya/preminya dibayar oleh pengusaha dan pekerja/buruh. ayat (2). dan uang penggantian hak sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (4). dan ayat (4) tidak menghilangkan hak pekerja/buruh atas jaminan hari tua yang bersifat wajib sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan uang penggantian hak sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (4). tetapi tetap berhak atas uang penggantian hak sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (4). Dalam hal besarnya jaminan atau manfaat pensiun yang diterima sekaligus dalam program pensiun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ternyata lebih kecil daripada jumlah uang pesangon 2 (dua) kali ketentuan Pasal 156 ayat (2) dan uang penghargaan masa kerja 1 (satu) kali ketentuan Pasal 156 ayat (3). Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Keterangan tertulis dengan bukti yang sah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diserahkan paling lambat pada hari pertama pekerja/buruh masuk bekerja. ayat (3). atau perjanjian kerja bersama. Hak atas manfaat pensiun sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1). maka selisihnya dibayar oleh pengusaha. atau perjanjian kerja bersama. Pemutusan hubungan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pekerja/buruh yang bersangkutan berhak menerima uang penggantian hak sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (4) dan diberikan uang pisah yang besarnya dan pelaksanaannya diatur dalam perjanjian kerja.

Pasal 171 Pekerja/buruh yang mengalami pemutusan hubungan kerja tanpa penetapan lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial yang berwenang sebagaimana dimaksud pada Pasal 158 ayat (1). dan uang penghargaan masa kerja sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (3). kesehatan. b. dan pekerja/buruh yang bersangkutan tidak dapat menerima pemutusan hubungan kerja tersebut. membujuk dan/atau menyuruh pekerja/buruh untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. kecuali Pasal 158 ayat (1).a. BAB XIII 46 . Pasal 172 Pekerja/buruh yang mengalami sakit berkepanjangan. dan Pasal 169 batal demi hukum dan pengusaha wajib mempekerjakan pekerja/buruh yang bersangkutan serta membayar seluruh upah dan hak yang seharusnya diterima. menghina secara kasar atau mengancam pekerja/buruh. f. e. tidak membayar upah tepat pada waktu yang telah ditentukan selama 3 (tiga) bulan berturut-turut atau lebih. c. maka pekerja/buruh dapat mengajukan gugatan ke lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial dalam waktu paling lama 1 (satu) tahun sejak tanggal dilakukan pemutusan hubungan kerjanya. uang penghargaan masa kerja 2 (dua) kali ketentuan Pasal 156 ayat (3). dan uang penggantian hak sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (4). menganiaya. Dalam hal pengusaha dinyatakan tidak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) oleh lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial maka pengusaha dapat melakukan pemutusan hubungan kerja tanpa penetapan lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial dan pekerja/buruh yang bersangkutan tidak berhak atas uang pesangon sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (2). d. atau memberikan pekerjaan yang membahayakan jiwa. dan uang pengganti hak 1 (satu) kali ketentuan Pasal 156 ayat (4). uang penghargaan masa kerja 1 (satu) kali ketentuan Pasal 156 ayat (3). keselamatan. Pasal 162. dan kesusilaan pekerja/buruh sedangkan pekerjaan tersebut tidak dicantumkan pada perjanjian kerja. dan Pasal 162. memerintahkan pekerja/buruh untuk melaksanakan pekerjaan di luar yang diperjanjikan. mengalami cacat akibat kecelakaan kerja dan tidak dapat melakukan pekerjaannya setelah melampaui batas 12 (dua belas) bulan dapat mengajukan pemutusan hubungan kerja dan diberikan uang pesangon 2 (dua) kali ketentuan Pasal 156 ayat (2). (3) Pasal 170 Pemutusan hubungan kerja yang dilakukan tidak memenuhi ketentuan Pasal 151 ayat (3) dan Pasal 168. Pasal 160 ayat (3). tidak melakukan kewajiban yang telah dijanjikan kepada pekerja/buruh. Pasal 160 ayat (3). (2) Pemutusan hubungan kerja dengan alasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pekerja/buruh berhak mendapat uang pesangon 2 (dua) kali ketentuan Pasal 156 ayat (2).

PEMBINAAN Pasal 173 (1) (2) (3) Pemerintah melakukan pembinaan terhadap unsur-unsur dan kegiatan yang berhubungan dengan ketenagakerjaan. dan organisasi profesi terkait. BAB XIV PENGAWASAN Pasal 176 Pengawasan ketenagakerjaan dilakukan oleh pegawai pengawas ketenagakerjaan yang mempunyai kompetensi dan independen guna menjamin pelaksanaan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan. Pasal 175 (1) (2) Pemerintah dapat memberikan penghargaan kepada orang atau lembaga yang telah berjasa dalam pembinaan ketenagakerjaan. Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). uang. organisasi pengusaha. Pasal 180 (2) (2) 47 . dan pemerintah kabupaten/kota. Pasal 174 Dalam rangka pembinaan ketenagakerjaan. dilaksanakan secara terpadu dan terkoordinasi. Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). serikat pekerja/serikat buruh. Pasal 177 Pegawai pengawas ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 176 ditetapkan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk. dapat mengikutsertakan organisasi pengusaha. Pasal 179 (1) Unit kerja pengawasan ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 178 pada pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota wajib menyampaikan laporan pelaksanaan pengawasan ketenagakerjaan kepada Menteri. pemerintah. Pasal 178 (1) Pengawasan ketenagakerjaan dilaksanakan oleh unit kerja tersendiri pada instansi yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang ketenagakerjaan pada pemerintah pusat. pemerintah provinsi. serikat pekerja/serikat buruh dan organisasi profesi terkait dapat melakukan kerja sama internasional di bidang ketenagakerjaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tata cara penyampaian laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Menteri. dan ayat (2). dan/atau bentuk lainnya. Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan dalam bentuk piagam. Pelaksanaan pengawasan ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Keputusan Presiden.

tidak menyalahgunakan kewenangannya. merahasiakan segala sesuatu yang menurut sifatnya patut dirahasiakan. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang ketenagakerjaan. dan menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti yang membuktikan tentang adanya tindak pidana di bidang ketenagakerjaan. b. d. f.Ketentuan mengenai persyaratan penunjukan. Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang: a. (2) Kewenangan penyidik pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum sehubungan dengan tindak pidana di bidang ketenagakerjaan. serta wewenang pegawai pengawas ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 176 sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. BAB XVI KETENTUAN PIDANA DAN SANKSI ADMINISTRATIF Bagian Pertama Ketentuan Pidana 48 . melakukan pemeriksaan atas surat dan/atau dokumen lain tentang tindak pidana di bidang ketenagakerjaan. melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana di bidang ketenagakerjaan. juga kepada pegawai pengawas ketenagakerjaan dapat diberi wewenang khusus sebagai penyidik pegawai negeri sipil sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 181 Pegawai pengawas ketenagakerjaan dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 176 wajib: a. melakukan pemeriksaan atau penyitaan bahan atau barang bukti dalam perkara tindak pidana di bidang ketenagakerjaan. BAB XV PENYIDIKAN Pasal 182 (1) Selain penyidik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. b. e. hak dan kewajiban. g. (3) melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan serta keterangan tentang tindak pidana di bidang ketenagakerjaan. c.

Pasal 69 ayat (2). Pasal 93 ayat (2). Pasal 188 (1) Barang siapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2).000.000. Pasal 67 ayat (1). Pasal 79 ayat (1) dan ayat (2). dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp10. Pasal 45 ayat (1).00 (lima ratus juta rupiah).00 (empat ratus juta rupiah). (2) Pasal 184 (1) Barang siapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 167 ayat (5).000.000. Pasal 68.00 (empat ratus juta rupiah).000. dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp100.000.00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp400.000. dan Pasal 144.000.00 (sepuluh juta rupiah) dan paling banyak Rp400. dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp200. Pasal 76.000.Pasal 183 (1) Barang siapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74.00 (seratus juta rupiah). Pasal 38 ayat (2). dan Pasal 160 ayat (4) dan ayat (7). Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan tindak pidana pelanggaran.000. dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan atau denda paling sedikit Rp100.000.000. Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan tindak pidana kejahatan.00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp500. Pasal 78 ayat (1). (2) Pasal 186 (1) Barang siapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2) dan ayat (3).00 (sepuluh juta rupiah) dan paling banyak Rp100. (2) (2) 49 . Pasal 78 ayat (2). (2) Pasal 185 (1) Barang siapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (1) dan ayat (2). dan Pasal 148. Pasal 63 ayat (1).000. Pasal 187 (1) Barang siapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (2).000.000. Pasal 85 ayat (3).00 (lima puluh juta rupiah). Pasal 137 dan Pasal 138 ayat (1). Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan tindak pidana kejahatan. dikenakan sanksi pidana kurungan paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp10.000. Pasal 71 ayat (2). Pasal 139.000.00 (lima juta rupiah) dan paling banyak Rp50.00 (lima ratus juta rupiah). Pasal 90 ayat (1). Pasal 111 ayat (3).000. dikenakan sanksi pidana denda paling sedikit Rp5. Pasal 114.000. Pasal 143. Pasal 82. Pasal 108 ayat (1).000.000. Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan tindak pidana pelanggaran.00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp500.000. Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan tindak pidana kejahatan. Pasal 44 ayat (1).000.000. Pasal 80.

pembatalan pendaftaran. BAB XVII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 191 Semua peraturan pelaksanaan yang mengatur ketenagakerjaan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan/atau belum diganti dengan peraturan yang baru berdasarkan Undang-undang ini. dan/atau denda tidak menghilangkan kewajiban pengusaha membayar hak-hak dan/atau ganti kerugian kepada tenaga kerja atau pekerja/buruh. Pasal 6. dan Pasal 160 ayat (1) dan ayat (2) Undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya. f. h.(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan tindak pidana pelanggaran. Pasal 48. kurungan. penghentian sementara sebahagian atau seluruh alat produksi. Pasal 106. d. pembatalan persetujuan. Pasal 87. Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa: a. pembatasan kegiatan usaha. Pasal 126 ayat (3). c. b. Pasal 189 Sanksi pidana penjara. BAB XVIII KETENTUAN PENUTUP 50 . Pasal 45 ayat (1). g. Pasal 47 ayat (1). peringatan tertulis. Bagian Kedua Sanksi Administratif Pasal 190 (1) Menteri atau pejabat yang ditunjuk mengenakan sanksi administratif atas pelanggaran ketentuan-ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 5. Pasal 15. pencabutan ijin. pembekuan kegiatan usaha. (2) Ketentuan mengenai sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut oleh Menteri. Pasal 38 ayat (2). (3) teguran. e. Pasal 25.

51 . 4. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1958 tentang Penempatan Tenaga Asing (Lembaran Negara Tahun 1958 Nomor 8 ). Undang-undang Nomor 28 Tahun 2000 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 3 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 1998 tentang Perubahan Berlakunya Undang-undang Nomor 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan Menjadi Undang-undang (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 240. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3702). dan Badan Yang Vital (Lembaran Negara Tahun 1963 Nomor 67). 12. Ordonansi tanggal 4 Mei 1936 tentang Ordonansi untuk Mengatur Kegiatan-kegiatan Mencari Calon Pekerja (Staatsblad Tahun 1936 Nomor 208). Ordonansi tentang Pemulangan Buruh Yang Diterima Atau Dikerahkan Dari Luar Indonesia (Staatsblad Tahun 1939 Nomor 545). Jawatan. Undang-undang Nomor 21 Tahun 1954 tentang Perjanjian Perburuhan Antara Serikat Buruh Dan Majikan (Lembaran Negara Tahun 1954 Nomor 69. Ordonansi Nomor 9 Tahun 1949 tentang Pembatasan Kerja Anak-anak (Staatsblad Tahun 1949 Nomor 8). 10. 11. 9. 6.Pasal 192 Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini. 3. dinyatakan tidak berlaku lagi. 7. 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja (Lembaran Negara Tahun 1969 Nomor 55. Ordonansi Tahun 1926 Peraturan mengenai Kerja Anak-anak Dan Orang Muda Di Atas Kapal (Staatsblad Tahun 1926 Nomor 87). Undang-undang Nomor 7 Pnps Tahun 1963 tentang Pencegahan Pemogokan dan/atau Penutupan (Lock Out) Di Perusahaan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4042). maka: 1. Undang-undang No. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2270). memerintahkan pengundangan undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Ordonansi tentang Pengerahan Orang Indonesia Untuk Melakukan Pekerjaan Di Luar Indonesia (Staatsblad Tahun 1887 Nomor 8). 5. 13. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1961 tentang Wajib Kerja Sarjana (Lembaran Negara Tahun 1961 Nomor 207. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2912). Undang-undang Nomor 11 Tahun 1998 tentang Perubahan Berlakunya Undang-undang Nomor 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara 1998 Nomor 184. 8. Pasal 193 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan Agar setiap orang mengetahuinya. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3791). 15. Tambahan Lembaran Negara Nomor 598a). 2. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya Undang-undang Kerja Tahun 1948 Nomor 12 Dari Republik Indonesia Untuk Seluruh Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1951 Nomor 2). 14. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 73. Ordonansi tanggal 17 Desember 1925 Peraturan tentang Pembatasan Kerja Anak Dan Kerja Malam Bagi Wanita (Staatsblad Tahun 1925 Nomor 647).

Ttd. BAMBANG KESOWO LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2003 NOMOR 39 52 . Ttd.Disahkan Di Jakarta Pada Tanggal 25 Maret 2003 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. MEGAWATI SOEKARNOPUTRI Diundangkan Di Jakarta Pada Tanggal 25 Maret 2003 SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA.

..........Darul Arqam Tingkat Nasional Majelis Pendidikan Kader PP Muhammadiyah DATA KADER DARUL ARQAM TINGKAT NASIONAL 2008 01....................... NAMA LENGKAP UTUSAN JABATAN NBM 02.......................................................... SD / MI ................................................... HP ............ : ... SMA /SMK/ MA .................................................. LULUS TAHUN ....... : ...................1................................................................................................................................................ LULUS TAHUN ............................................TAHUN.............................. TANGGAL LAHIR : ............................................. 09........................ LULUS TAHUN ................................................................................................................................................................................ UMUR 04. 05 ............................ PENDIDIKAN FORMAL YANG DITEMPUH: 9........................2........... ................. SMP / MTS ... TEMPAT LAHIR : ..................................................... KEAHLIAN/KETERAMPILAN YANG DITEKUNI .................................... 07........................... JUMLAH ANAK : ..................................................... 53 ...........................................2... 9..........................3........................................................ 06..................................................................................................................................... 5.................. PEKERJAAN / JABATAN PEKERJAAN .................................................................................................... KABUPATEN / KOTA ................................... E-MAIL ............................... NAMA ISTRI / SUAMI: ......................... FAKS ........................................................ : PROPINSI ......... 9.................................................................................................. STATUS PERKAWINAN : ( 1 ) BELUM KAWIN ( 2 ) KAWIN ( 3 ) CERAI ( 4 ) CERAI HIDUP 5............................................................ ALAMAT RUMAH : ..................... NO TELP ....... : (1) LAKI-LAKI (2) PEREMPUAN : ....1..................................................... JENIS KELAMIN 03........................................ : ......................................................... 08................

.................. LULUS TAHUN .................. PROGRAM DIPLOMA ................................................5...................................... PRODI........................................9......................................................................................................................................................... KEMAMPUAN TENTANG MEMBACA AL-QURAN: (A) LANCAR (A) SELALU (A) SANGAT BAIK (B) TERBATA-BATA (B) SERING (B) BAIK (C) BELUM BISA (D) TIDAK PERNAH (D) TIDAK MAMPU 14........... ................................... LULUS TAHUN .. AKTIFITAS MEMBACA AL-QUR’AN DALAM SEHARI: (C) JARANG (C) CUKUP 15............................................... LULUS TAHUN ............................................................. PENDIDIKAN AGAMA / PESANTREN YANG PERNAH DITEMPUH: (1) ........................ S2 .................................................................................................................................................................................................. PELATIHAN LAIN YANG PERNAH DITEMPUH: (1) ................................... (2) ........4....................... 9................................................................................................................................................................ (2) ......................................... 10................................... (3) ............ S3 ..................................................... KEMAMPUAN MEMAHAMI BACAAN AL-QUR’AN 16................................................................................................. AKTIFITAS SHALAT BERJAMAAH DI MASJID: 54 (5) BAHASA JERMAN (6) BAHASA CHINA (7) LAINNYA SEBUTKAN ........... PERGURUAN TINGGI: S1 .......................................... LULUS TAHUN ............ JUMLAH HAFALAN AL-QUR’AN (A) KURANG DARI 18 SURAT-SURAT DALAM JUZ ’AMMA (B) HAFAL LEBIH DARI 18 SURAT-SURAT DALAM JUZ ’AMMA (C) HAFAL SEMUA SURAT-SURAT DALAM JUZ ’AMMA (D) HAFAL BEBERAPA AYAT DALAM ALQUR’AN (E) HAFIDH AL-QUR’AN 17............................................................................................................ .............................. JUR / FAK .......................... 12.......... PRODI ..................................... 11................. PENGUASAAN BAHASA ASING (AKTIF): (1) BAHASA INGGRIS (2) BAHASA ARAB (3) BAHASA JEPANG (4) BAHASA PERANCIS 13.........................................................

.5 TAHUN ( 3 ) ANTARA 6 ......................................................................... JUMLAH KOLEKSI BUKU AGAMA ( + ) ........................................................................ BUKU TENTANG MUHAMMADIYAH YANG PERNAH DIBACA: ....................................................... 21................. SEBUTKAN WAKTUNYA .................................. JELASKAN ALASANNYA .....1....................................................................................................................................................................................... 24................................................................................................................ ............................................... 18............ SUMBER INFORMASI TENTANG MUHAMMADIYAH (BOLEH LEBIH DARI SATU): (A) MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH (B) BUKU-BUKU TERBITAN PERSYARIKATAN (C) WEBSITE PERSYARIKATAN MUHAMMADIYAH (D) CERAMAH TOKOH-TOKOH MUHAMMADIYAH (E) MEDIA MASSA NASIONAL / LOKAL (F) LAIN-LAINNYA ............................................................................. WAKTU YANG DILUANGKAN UNTUK MEMBACA BUKU PER HARI : ( + ) ................................................................. 23.............................................................................................................. ....................................................................................................... JAM 20............................................................................... ........ ................. TOKOH MUHAMMADIYAH YANG PALING BERPENGARUH BAGI ANDA: ............................................... RIWAYAT KEGIATAN DI MUHAMMADIYAH 24......................................10 TAHUN ( 4 ) LEBIH DARI 11 TAHUN 24............................................................. ........... APAKAH BERLANGGANAN MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH ? 22...............(A) LIMA WAKTU BERJAMAAH (B) TIDAK RUTIN..................................... 19................................2........................................... TELAH AKTIF DI MUHAMMADIYAH : ( 1 ) KURANG DARI 1 TAHUN ( 2 ) ANTARA 1 . YAITU: (1) IKATAN PELAJAR / REMAJA MUHAMMADIYAH (IPM / IRM) ......................................................................... AKTIF DI ORTOM MUHAMMADIYAH : ( 1 ) TIDAK PERNAH (2) IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH (IMM) (3) PEMUDA MUHAMMADIYAH (4) NASYIATUL ’AISYIYAH (5) HIZBUL WATHAN 55 [ YA / TIDAK ] ( 2 ) PERNAH.... ........................ .............................................................................................

.............................................................................................. 25....... ................................................4.......7........5....................... SEBAGAI . 2........................................................ SEBAGAI ..........................................................1.................... ADAKAH JAMAAH BINAAN : (1) ADA BERAPA JUMLAH JAMAAH BINAAN .............................................................. 24............. JABATAN DALAM PERSYARIKATAN YANG PERNAH DIDUDUKI : (1) TINGKAT RANTING (2) TINGKAT CABANG (3) TINGKAT DAERAH (4) TINGKAT WILAYAH (5) TINGKAT PUSAT SEBAGAI .............................................................................................. 56 ................................... TAHUN ........................................................................ ................. TAHUN .. 24........ TAHUN .............................(6) TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH (7) ’AISYIYAH 24................. AKTIVITAS DI MAJELIS/BADAN/LEMBAGA : ( 1 ) TIDAK PERNAH ( 2 ) PERNAH YAITU MAJELIS/LEMBAGA/BADAN : 1...................................... AKTIF DI AMAL USAHA MUHAMMADIYAH : ( 1 ) TIDAK PERNAH ( 2 ) PERNAH YAITU : (1) AMAL USAHA SOSIAL (2) AMAL USAHA PENDIDIKAN (3) AMAL USAHA KESEHATAN (4) AMAL USAHA EKONOMI (5) AMAL USAHA LAINNYA..... PELATIHAN / TRAINING YANG PERNAH DIIKUTI DI MUHAMMADIYAH : (1) TRAINING DI LINGKUNGAN ORTOM (2) TRAINING D AMAL USAHA MUHAMMADIYAH (3) TRAINING DI PERSYARIKATAN MUHAMMADIYAH (4) LATIHAN MUBALIGH (5) LATIHAN KADER TARJIH (6) LAINNYA SEBUTKAN : ....................................................................... ...... SEBAGAI . (2) TIDAK ADA 24............................3..................... 3...... SEBUTKAN ............................................................... PERNAH AKTIF DI ORGANISASI PELAJAR / MAHASISWA (1) PII (2) IPNU (3) HMI (4) PMII (5) LAINNYA SEBUTKAN .......................................... SEBAGAI ..... 24............. RIWAYAT ORGANISASI DI LUAR MUHAMMADIYAH 25.......................... ......6......

...........................................................................25....................................................................................................................................................... ORGANISASI POLITIK NAMA PARTAI POLITIK STATUS KEAKTIFAN PENGURUS KADER ANGGOTA PERIODE 25...........................................................2........... APA HARAPAN ANDA TERHADAP MUHAMMADIYAH ? ....................... ORGANISASI LAINNYA NAMA ORGANISASI STATUS KEAKTIFAN PENGURUS KADER ANGGOTA PERIODE 26...................... 57 ................................................ ......................................................................... ......................................................................................................... .......................................................................... APA YANG AKAN ANDA LAKUKAN DALAM MUHAMMADIYAH ? ....................................................................................................................................3........................ .............4................................................................................... 27........ ORGANISASI PROFESI NAMA ORGANISASI STATUS KEAKTIFAN PENGURUS KADER ANGGOTA PERIODE 25............................................... ............ ..

.... sehingga diperlukan institusi dan mekanisme penyelesaian perselisihan hubungan industrial yang cepat... bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana tersebut pada huruf a.. tepat.. 4... masalah perselisihan hubungan industrial menjadi semakin meningkat dan kompleks... d... Mengingat : 1.. c.. bahwa hubungan industrial yang harmonis. Menimbang : a. dan Pasal 28 D ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945....... 2.. 58 . dan c perlu ditetapkan undang-undang yang mengatur tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial... Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 39. Pasal 27 ayat (1) dan ayat (2).. Pasal 24.. Pasal 25..... Dengan persetujuan bersama antara DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA DAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : 3... Tambahan Lembaran Negara Nomor 3327). adil..... Pasal 5 ayat (1)... Undang-undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 73.... b. 6.. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3879)... dinamis. Undang-undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 131. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan�ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Tahun 1970 Nomor 74. Pasal 20. 5... Tambahan Lembaran Negara Nomor 2951) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 35 Tahun 1999 (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 147. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3989)... bahwa Undang-undang Nomor 22 Tahun 1957 tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan dan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1964 tentang Pemutusan Hubungan Kerja di Perusahaan Swasta sudah tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat.. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4279)......... b. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum (Lembaran Negara Tahun 1986 Nomor 20. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3316)..... dan murah. (tanda tangan & nama lengkap) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2004 TENTANG PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. dan berkeadilan perlu diwujudkan secara optimal sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.. bahwa dalam era industrialisasi.

terbuka. atau milik badan hukum. 10. Perselisihan pemutusan hubungan kerja adalah perselisihan yang timbul karena tidak adanya kesesuaian pendapat mengenai pengakhiran hubungan kerja yang dilakukan oleh salah satu pihak. Perselisihan kepentingan adalah perselisihan yang timbul dalam hubungan kerja karena tidak adanya kesesuaian pendapat mengenai pembuatan. atau peraturan perusahaan. b. Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. atau badan hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia. demokratis.Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL. dan/atau perubahan syarat-syarat kerja yang ditetapkan dalam perjanjian kerja. usaha-usaha sosial dan usaha-usaha lain yang mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain. persekutuan. oleh. perselisihan pemutusan hubungan kerja dan perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh dalam satu perusahaan. dan bertanggung jawab guna memperjuangkan. Perusahaan adalah : a. membela serta melindungi hak dan kepentingan pekerja/buruh serta meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya. karena tidak adanya persesuaian paham mengenai keanggotaan. 59 . dan untuk pekerja/buruh baik di perusahaan maupun di luar perusahaan. 6. perselisihan pemutusan hubungan kerja. atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan milik sendiri. 8. persekutuan. setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak. atau perjanjian kerja bersama. orang perseorangan. orang perseorangan. 7. baik milik swasta maupun milik negara yang mempekerjakan pekerja/buruh dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain. Perselisihan Hubungan Industrial adalah perbedaan pendapat yang mengakibatkan pertentangan antara pengusaha atau gabungan pengusaha dengan pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh karena adanya perselisihan mengenai hak. Mediasi Hubungan Industrial yang selanjutnya disebut mediasi adalah penyelesaian perselisihan hak. atau perjanjian kerja bersama. 9. perselisihan kepentingan. b. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. c. Pengusaha adalah : a. dan 2. Perselisihan hak adalah perselisihan yang timbul karena tidak dipenuhinya hak. pelaksanaan hak. peraturan perusa-haan. Perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh adalah perselisihan antara serikat pekerja/serikat buruh dengan serikat pekerja/serikat buruh lain hanya dalam satu perusahaan. mandiri. dan kewajiban keserikatpekerjaan. perselisihan kepentingan. Perundingan bipartit adalah perundingan antara pekerja/ buruh atau serikat pekerja/serikat buruh dengan pengusaha untuk menyelesaikan perselisihan hubungan industrial. persekutuan. atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya. 3. 11. orang perseorangan. Serikat pekerja/serikat buruh adalah organisasi yang dibentuk dari. milik orang perseorangan. yang bersifat bebas. akibat adanya perbedaan pelaksanaan atau penafsiran terhadap ketentuan peraturan perundangundangan. milik persekutuan. 5. perjanjian kerja. 4.

d. perselisihan hak. dan perselisihan antar serikat pekerja/ serikat buruh hanya dalam satu perusahaan. perselisihan pemutusan hubungan kerja. 15. 13. Hakim Kasasi adalah Hakim Agung dan Hakim Ad-Hoc pada Mahkamah Agung yang berwenang memeriksa. 60 . 17. Arbitrase Hubungan Industrial yang selanjutnya disebut arbitrase adalah penyelesaian suatu perselisihan kepentingan. perselisihan kepentingan. mengadili dan memberi putusan terhadap perselisihan hubungan industrial. Mediator Hubungan Industrial yang selanjutnya disebut mediator adalah pegawai instansi pemerintah yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan yang memenuhi syarat-syarat sebagai mediator yang ditetapkan oleh Menteri untuk bertugas melakukan mediasi dan mempunyai kewajiban memberikan anjuran tertulis kepada para pihak yang berselisih untuk menyelesaikan perselisihan hak.perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh hanya dalam satu perusahaan melalui musyawarah yang ditengahi oleh seorang atau lebih mediator yang netral. 12. Hakim Ad-Hoc adalah Hakim Ad-Hoc pada Pengadilan Hubungan Industrial dan Hakim AdHoc pada Mahkamah Agung yang pengangkatannya atas usul serikat pekerja/ serikat buruh dan organisasi pengusaha. Pasal 2 Jenis Perselisihan Hubungan Industrial meliputi : a. b. c. Konsiliasi Hubungan Industrial yang selanjutnya disebut konsiliasi adalah penyelesaian perselisihan kepentingan. Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan. 21. Arbiter Hubungan Industrial yang selanjutnya disebut arbiter adalah seorang atau lebih yang dipilih oleh para pihak yang berselisih dari daftar arbiter yang ditetapkan oleh Menteri untuk memberikan putusan mengenai perselisihan kepentingan. 16. perselisihan kepentingan. 19. Pasal 3 (1) Perselisihan hubungan industrial wajib diupayakan penyelesaiannya terlebih dahulu melalui perundingan bipartit secara musyawarah untuk mencapai mufakat. Konsiliator Hubungan Industrial yang selanjutnya disebut konsiliator adalah seorang atau lebih yang memenuhi syarat-syarat sebagai konsiliator ditetapkan oleh Menteri. yang bertugas melakukan konsiliasi dan wajib memberikan anjuran tertulis kepada para pihak yang berselisih untuk menyelesaikan perselisihan kepentingan. dan perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh hanya dalam satu perusahaan. di luar Pengadilan Hubungan Industrial melalui kesepakatan tertulis dari para pihak yang berselisih untuk menyerahkan penyelesaian perselisihan kepada arbiter yang putusannya mengikat para pihak dan bersifat final. 14. perselisihan pemutusan hubungan kerja. (2) Penyelesaian perselisihan melalui bipartit sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 18. harus diselesaikan paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal dimulainya perundingan. perselisihan pemutusan hubungan kerja atau perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh hanya dalam satu perusahaan. dan perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh hanya dalam satu perusahaan. mengadili dan memberi putusan terhadap perselisihan hubungan industrial. 20. Hakim adalah Hakim Karier Pengadilan Negeri yang ditugasi pada Pengadilan Hubungan Industrial. perselisihan pemutusan hubungan kerja atau perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh hanya dalam satu perusahaan melalui musyawarah yang ditengahi oleh seorang atau lebih konsiliator yang netral. Pengadilan Hubungan Industrial adalah pengadilan khusus yang dibentuk di lingkungan pengadilan negeri yang berwenang memeriksa. dan perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh hanya dalam satu perusahaan yang diserahkan penyelesaiannya melalui arbitrase yang putusannya mengikat para pihak dan bersifat final.

(5) Penyelesaian melalui konsiliasi dilakukan untuk penye-lesaian perselisihan kepentingan. maka instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan melimpahkan penyelesaian perselisihan kepada mediator. pendapat para pihak. instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan setempat wajib menawarkan kepada para pihak untuk menyepakati memilih penyelesaian melalui konsiliasi atau melalui arbitrase. Pasal 7 (1) Dalam hal musyawarah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dapat mencapai kesepakatan penyelesaian. tanggal dan tempat perundingan.(3) Apabila dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) salah satu pihak menolak untuk berunding atau telah dilakukan perundingan tetapi tidak mencapai kesepakatan. (6) Penyelesaian melalui arbitrase dilakukan untuk penyelesaian perselisihan kepentingan atau perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh. BAB II TATA CARA PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL Bagian Kesatu Penyelesaian Melalui Bipartit Pasal 6 (1) Setiap perundingan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 harus dibuat risalah yang ditandatangani oleh para pihak. maka perundingan bipartit dianggap gagal. perselisihan pemutusan hubungan kerja. (2) Risalah perundingan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sekurang-kurangnya memuat : a. (2) Apabila bukti-bukti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak dilampirkan. Pasal 5 Dalam hal penyelesaian melalui konsiliasi atau mediasi tidak mencapai kesepakatan. 61 . maka instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan mengembalikan berkas untuk dilengkapi paling lambat dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya pengembalian berkas. maka salah satu atau kedua belah pihak mencatatkan perselisihannya kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan setempat dengan melampirkan bukti bahwa upaya-upaya penyelesaian melalui perundingan bipartit telah dilakukan. maka dibuat Perjanjian Bersama yang ditandatangani oleh para pihak. dan tanggal serta tanda tangan para pihak yang melakukan perundingan. kesimpulan atau hasil perundingan. b. atau perselisihan antar serikat pekerja/ serikat buruh. (3) Setelah menerima pencatatan dari salah satu atau para pihak. e. Pasal 4 (1) Dalam hal perundingan bipartit gagal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3). f. maka salah satu pihak dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan Hubungan Industrial. nama lengkap dan alamat para pihak. (4) Dalam hal para pihak tidak menetapkan pilihan penyelesaian melalui konsiliasi atau arbitrase dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja. d. pokok masalah atau alasan perselisihan. c.

e. dan berkelakuan tidak tercela. adil. maka pihak yang dirugikan dapat mengajukan permohonan eksekusi kepada Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri di wilayah Perjanjian Bersama didaftar untuk mendapat penetapan eksekusi. dan syarat lain yang ditetapkan oleh Menteri. (3) Perjanjian Bersama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib didaftarkan oleh para pihak yang melakukan perjanjian pada Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri di wilayah para pihak mengadakan Perjanjian Bersama. Pasal 12 62 . d. jujur. berwibawa. beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. c. (5) Apabila Perjanjian Bersama sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dan ayat (4) tidak dilaksanakan oleh salah satu pihak. mediator harus sudah mengadakan penelitian tentang duduknya perkara dan segera mengadakan sidang mediasi. berpendidikan sekurang-kurangnya Strata Satu (S1). Pasal 10 Dalam waktu selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah menerima pelimpahan penyelesaian perselisihan. Pasal 9 Mediator sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 harus memenuhi syarat sebagai berikut : a. (4) Perjanjian Bersama yang telah didaftar sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diberikan akta bukti pendaftaran Perjanjian Bersama dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Perjanjian Bersama. berbadan sehat menurut surat keterangan dokter. Bagian Kedua Penyelesaian Melalui Mediasi Pasal 8 Penyelesaian perselisihan melalui mediasi dilakukan oleh mediator yang berada di setiap kantor instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan Kabupaten/ Kota. maka pemohon eksekusi dapat mengajukan permohonan eksekusi melalui Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri di wilayah domisili pemohon eksekusi untuk diteruskan ke Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri yang berkompeten melaksanakan eksekusi. f. (2) Saksi atau saksi ahli yang memenuhi panggilan berhak menerima penggantian biaya perjalanan dan akomodasi yang besarnya ditetapkan dengan Keputusan Menteri. Pasal 11 (1) Mediator dapat memanggil saksi atau saksi ahli untuk hadir dalam sidang mediasi guna diminta dan didengar keterangannya. warga negara Indonesia. b. (6) Dalam hal pemohon eksekusi berdomisili di luar Pengadilan Negeri tempat pendaftaran Perjanjian Bersama sebagaimana dimaksud dalam ayat (3).(2) Perjanjian Bersama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) mengikat dan menjadi hukum serta wajib dilaksanakan oleh para pihak. menguasai peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan. g.

maka harus ditempuh prosedur sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. maka pihak yang dirugikan dapat mengajukan permohonan eksekusi kepada Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri di wilayah Perjanjian Bersama didaftar untuk mendapat penetapan eksekusi. (3) Mediator wajib merahasiakan semua keterangan yang diminta sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).(1) Barang siapa yang diminta keterangannya oleh mediator guna penyelesaian perselisihan hubungan industrial berdasarkan undang-undang ini. Perjanjian Bersama yang telah didaftar diberikan akta bukti pendaftaran dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Perjanjian Bersama. mediator mengeluarkan anjuran tertulis. maka dalam waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kerja sejak anjuran tertulis disetujui. 63 . (2) Dalam hal tidak tercapai kesepakatan penyelesaian perselisihan hubungan industrial melalui mediasi. wajib memberikan keterangan termasuk membukakan buku dan memperlihatkan surat-surat yang diperlukan. pihak yang tidak memberikan pendapatnya sebagaimana dimaksud pada huruf c dianggap menolak anjuran tertulis. Pasal 14 (1) Dalam hal anjuran tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2) huruf a ditolak oleh salah satu pihak atau para pihak. maka dibuat Perjanjian Bersama yang ditandatangani oleh para pihak dan disaksikan oleh mediator serta didaftar di Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri di wilayah hukum pihakpihak mengadakan Perjanjian Bersama untuk mendapatkan akta bukti pendaftaran. para pihak harus sudah memberikan jawaban secara tertulis kepada mediator yang isinya menyetujui atau menolak anjuran tertulis dalam waktu selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja setelah menerima anjuran tertulis. (2) Penyelesaian perselisihan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan dengan pengajuan gugatan oleh salah satu pihak di Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri setempat. maka pemohon eksekusi dapat mengajukan permohonan eksekusi melalui Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri di wilayah domisili pemohon eksekusi untuk diteruskan ke Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri yang berkompeten melaksanakan eksekusi. anjuran tertulis sebagaimana dimaksud pada huruf a dalam waktu selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sejak sidang mediasi pertama harus sudah disampaikan kepada para pihak. (2) Dalam hal keterangan yang diperlukan oleh mediator terkait dengan seseorang yang karena jabatannya harus menjaga kerahasiaan. mediator harus sudah selesai membantu para pihak membuat Perjanjian Bersama untuk kemudian didaftar di Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri di wilayah hukum pihakpihak mengadakan Perjanjian Bersama untuk mendapatkan akta bukti pendaftaran. d. dalam hal pemohon eksekusi berdomisili di luar wilayah hukum Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri tempat pendaftaran Perjanjian Bersama. e. maka: a. (3) Pendaftaran Perjanjian Bersama di Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) huruf e dilakukan sebagai berikut : a. Pasal 13 (1) Dalam hal tercapai kesepakatan penyelesaian perselisihan hubungan industrial melalui mediasi. b. b. maka para pihak atau salah satu pihak dapat melanjutkan penyelesaian perselisihan ke Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri setempat. apabila Perjanjian Bersama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) huruf e tidak dilaksanakan oleh salah satu pihak. c. c. dalam hal para pihak menyetujui anjuran tertulis sebagaimana dimaksud pada huruf a.

Pasal 21 (1) Konsiliator dapat memanggil saksi atau saksi ahli untuk hadir dalam sidang konsiliasi guna diminta dan didengar keterangannya. berwibawa. menguasai peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan. Pasal 18 (1) Penyelesaian perselisihan kepentingan. (2) Penyelesaian oleh konsiliator sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 19 Konsiliator sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17. Pasal 16 Ketentuan mengenai tata cara pengangkatan dan pemberhentian mediator serta tata kerja mediasi diatur dengan Keputusan Menteri. e.Pasal 15 Mediator menyelesaikan tugasnya dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak menerima pelimpahan penyelesaian perselisihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (4). harus memenuhi syarat : a. adil. 64 . Pasal 20 Dalam waktu selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah menerima permintaan penyelesaian perselisihan secara tertulis. konsiliator harus sudah mengadakan penelitian tentang duduknya perkara dan selambat-lambatnya pada hari kerja kedelapan harus sudah dilakukan sidang konsiliasi pertama. perselisihan pemutusan hubungan kerja atau perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh hanya dalam satu perusahaan melalui konsiliasi dilakukan oleh konsiliator yang wilayah kerjanya meliputi tempat pekerja/buruh bekerja. Bagian Ketiga Penyelesaian Melalui Konsiliasi Pasal 17 Penyelesaian perselisihan melalui konsiliasi dilakukan oleh konsiliator yang terdaftar pada kantor instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan Kabupaten/Kota. beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. d. memiliki pengalaman di bidang hubungan industrial sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun. dilaksanakan setelah para pihak mengajukan permintaan penyelesaian secara tertulis kepada konsiliator yang ditunjuk dan disepakati oleh para pihak. (3) Para pihak dapat mengetahui nama konsiliator yang akan dipilih dan disepakati dari daftar nama konsiliator yang dipasang dan diumumkan pada kantor instansi Pemerintah yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan setempat. g. jujur. h. b. pendidikan minimal lulusan Strata Satu (S-1). warga negara Indonesia. berbadan sehat menurut surat keterangan dokter. i. f. berumur sekurang-kurangnya 45 tahun. c. Konsiliator yang telah terdaftar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberi legitimasi oleh Menteri atau Pejabat yang berwenang di bidang ketenagakerjaan. dan syarat lain yang ditetapkan oleh Menteri. dan berkelakuan tidak tercela.

b. konsiliator harus sudah selesai membantu para pihak membuat Perjanjian Bersama untuk kemudian didaftar di Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri di wilayah pihak-pihak mengadakan Perjanjian Bersama untuk mendapatkan akta bukti pendaftaran. maka pihak yang dirugikan dapat mengajukan permohonan eksekusi di Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri di wilayah Perjanjian Bersama di daftar untuk mendapat penetapan eksekusi. maka harus ditempuh prosedur sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) Dalam hal keterangan yang diperlukan oleh konsiliator terkait dengan seseorang yang karena jabatannya harus menjaga kerahasiaan. (3) Pendaftaran Perjanjian Bersama di Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) huruf e dilakukan sebagai berikut : a. wajib memberikan keterangan termasuk membukakan buku dan memperlihatkan surat-surat yang diperlukan. Pasal 24 Dalam hal anjuran tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) huruf a ditolak oleh salah satu pihak atau para pihak. Perjanjian Bersama yang telah didaftar diberikan akta bukti pendaftaran dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Perjanjian Bersama. maka pemohon eksekusi dapat mengajukan permohonan eksekusi melalui Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri di wilayah domisili pemohon eksekusi untuk diteruskan ke Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri yang berkompeten melaksanakan eksekusi. c. dalam hal para pihak menyetujui anjuran tertulis sebagaimana dimaksud pada huruf a. maka salah satu pihak atau para pihak dapat melanjutkan penyelesaian perselisihan ke Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri setempat. konsiliator mengeluarkan anjuran tertulis. (3) Konsiliator wajib merahasiakan semua keterangan yang diminta sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). c. dalam hal pemohon eksekusi berdomisili di luar wilayah hukum Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri tempat pendaftaran Perjanjian Bersama. maka dibuat Perjanjian Bersama yang ditandatangani oleh para pihak dan disaksikan oleh konsiliator dan didaftar di Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri di wilayah hukum pihak-pihak mengadakan Perjanjian Bersama untuk mendapatkan akta bukti pendaftaran. anjuran tertulis sebagaimana dimaksud pada huruf a dalam waktu selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sejak sidang konsiliasi pertama harus sudah disampaikan kepada para pihak. Pasal 23 (1) Dalam hal tercapai kesepakatan penyelesaian perselisihan hubungan industrial melalui konsiliasi. (2) Dalam hal tidak tercapai kesepakatan penyelesaian perselisihan hubungan industrial melalui konsiliasi. b. para pihak harus sudah memberikan jawaban secara tertulis kepada konsiliator yang isinya menyetujui atau menolak anjuran tertulis dalam waktu selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja setelah menerima anjuran tertulis. apabila Perjanjian Bersama sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf e tidak dilaksanakan oleh salah satu pihak. e. d. 65 . Pasal 22 (1) Barang siapa yang diminta keterangannya oleh konsiliator guna penyelesaian perselisihan hubungan industrial berdasarkan undang-undang ini. maka dalam waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kerja sejak anjuran tertulis disetujui. maka: a. pihak yang tidak memberikan pendapatnya sebagaimana dimaksud pada huruf c dianggap menolak anjuran tertulis.(2) Saksi atau saksi ahli yang memenuhi panggilan berhak menerima penggantian biaya perjalanan dan akomodasi yang besarnya ditetapkan dengan Keputusan Menteri.

berbadan sehat sesuai dengan surat keterangan dokter. menguasai peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan yang dibuktikan dengan sertifikat atau bukti kelulusan telah mengikuti ujian arbitrase. (2) Wilayah kerja arbiter meliputi seluruh wilayah negara Republik Indonesia. cakap melakukan tindakan hukum. f. dan pencabutan legitimasi konsiliator serta tata kerja konsiliasi diatur dengan Keputusan Menteri. berumur sekurang-kurangnya 45 (empat puluh lima) tahun. b. Ketentuan mengenai pengujian dan tata cara pendaftaran arbiter diatur dengan Keputusan Menteri. c. h. Pasal 28 Tata cara pendaftaran calon. pendidikan sekurang-kurangnya Strata Satu (S1). d. Pasal 26 (1) Konsiliator berhak mendapat honorarium/imbalan jasa berdasarkan penyelesaian perselisihan yang dibebankan kepada negara. dan memiliki pengalaman di bidang hubungan industrial sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun. Pasal 30 (1) Arbiter yang berwenang menyelesaikan perselisihan hubungan industrial harus arbiter yang telah ditetapkan oleh Menteri. Pasal 27 Kinerja konsiliator dalam satu periode tertentu dipantau dan dinilai oleh Menteri atau Pejabat yang berwenang di bidang ketenagakerjaan. Pasal 25 Konsiliator menyelesaikan tugasnya dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak menerima permintaan penyelesaian perselisihan. pengangkatan. e.Penyelesaian perselisihan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan dengan pengajuan gugatan oleh salah satu pihak. Bagian Keempat Penyelesaian Melalui Arbitrase Pasal 29 Penyelesaian perselisihan hubungan industrial melalui arbitrase meliputi perselisihan kepentingan dan perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh hanya dalam satu perusahaan. g. Pasal 31 Untuk dapat ditetapkan sebagai arbiter sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) harus memenuhi syarat : a. Pasal 32 Penyelesaian perselisihan hubungan industrial melalui arbiter dilakukan atas dasar kesepakatan para pihak yang berselisih. beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. warga negara Indonesia. 66 . (2) Besarnya honorarium/imbalan jasa sebagaimana dimak-sud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Menteri.

b. tanggal pembuatan surat perjanjian. nama lengkap dan alamat atau tempat kedudukan para pihak yang berselisih dan arbiter. dibuat rangkap 3 (tiga) dan masing-masing pihak mendapatkan 1 (satu) yang mempunyai kekuatan hukum yang sama. tempat. dan 67 . dan tanda tangan para pihak yang berselisih. Para pihak yang berselisih dapat menunjuk arbiter tunggal atau beberapa arbiter (majelis) dalam jumlah gasal sebanyak-banyaknya 3 (tiga) orang. sekurang-kurangnya memuat : a. d. pokok-pokok persoalan yang menjadi perselisihan dan yang diserahkan kepada arbiter untuk diselesaikan dan diambil keputusan. nama lengkap dan alamat atau tempat kedudukan para pihak yang berselisih. Dalam hal para pihak sepakat untuk menunjuk beberapa arbiter (majelis) dalam jumlah gasal. tanggal pembuatan surat perjanjian. biaya arbitrase dan honorarium arbiter. Dalam hal para pihak tidak sepakat untuk menunjuk arbiter baik tunggal maupun beberapa arbiter (majelis) dalam jumlah gasal sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). (2) Perjanjian penunjukan arbiter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sekurang-kurangnya memuat hal-hal sebagai berikut : a. c. Surat perjanjian arbitrase sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). e. e. pokok-pokok persoalan yang menjadi perselisihan dan yang diserahkan kepada arbitrase untuk diselesaikan dan diambil putusan. dan tempat. b. c. d. Seseorang yang menerima penunjukan sebagai arbiter sebagaimana dimaksud dalam ayat (6) harus memberitahukan kepada para pihak mengenai penerimaan penunjukannya secara tertulis. maka atas permohonan salah satu pihak Ketua Pengadilan dapat mengangkat arbiter dari daftar arbiter yang ditetapkan oleh Menteri. Pasal 33 Dalam hal para pihak telah menandatangani surat perjanjian arbitrase sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (3) para pihak berhak memilih arbiter dari daftar arbiter yang ditetapkan oleh Menteri. Dalam hal para pihak sepakat untuk menunjuk arbiter tunggal. Pasal 34 (1) Arbiter yang bersedia untuk ditunjuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (8) membuat perjanjian penunjukan arbiter dengan para pihak yang berselisih.Kesepakatan para pihak yang berselisih sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dinyatakan secara tertulis dalam surat perjanjian arbitrase. pernyataan para pihak yang berselisih untuk tunduk dan menjalankan keputusan arbitrase. masing-masing pihak berhak memilih seorang arbiter dalam waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kerja. Seorang arbiter yang diminta oleh para pihak. f. pernyataan para pihak yang berselisih untuk tunduk dan menjalankan keputusan arbitrase. dan tanda tangan para pihak yang berselisih dan arbiter. Penunjukan arbiter sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dan ayat (4) dilakukan secara tertulis. pernyataan arbiter atau para arbiter untuk tidak melampaui kewenangannya dalam penyelesaian perkara yang ditanganinya. sedangkan arbiter ketiga ditentukan oleh para arbiter yang ditunjuk dalam waktu selambatlambatnya 7 (tujuh) hari kerja untuk diangkat sebagai Ketua Majelis Arbitrase. maka para pihak harus sudah mencapai kesepakatan dalam waktu selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja tentang nama arbiter dimaksud. wajib memberitahukan kepada para pihak tentang hal yang mungkin akan mempengaruhi kebebasannya atau menimbulkan keberpihakan putusan yang akan diberikan. jumlah arbiter yang disepakati.

g. maka para arbiter harus menunjuk arbiter pengganti berdasarkan kesepakatan para arbiter. (5) Apabila para pihak atau para arbiter sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) tidak mencapai kesepakatan. maka yang bersangkutan tidak dapat menarik diri. Pasal 35 Dalam hal arbiter telah menerima penunjukan dan menandatangani surat perjanjian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1). (4) Dalam hal arbitrase dilakukan oleh beberapa arbiter. Dalam hal permohonan penarikan diri tidak mendapat persetujuan para pihak. arbiter harus mengajukan permohonan pada Pengadilan Hubungan Industrial untuk dibebaskan dari tugas sebagai arbiter dengan mengajukan alasan yang dapat diterima. harus mengajukan permohonan secara tertulis kepada para pihak. Pasal 37 Arbiter pengganti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 harus membuat pernyataan kesediaan menerima hasil-hasil yang telah dicapai dan melanjutkan penyelesaian perkara. maka para pihak atau salah satu pihak atau salah satu arbiter atau para arbiter dapat meminta kepada Pengadilan Hubungan Industrial untuk menetapkan arbiter pengganti dan Pengadilan harus menetapkan arbiter pengganti dalam waktu selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal diterimanya permintaan penggantian arbiter. masing-masing pihak dan arbiter mendapatkan 1 (satu) yang mempunyai kekuatan hukum yang sama. tidak mempunyai hubungan keluarga sedarah atau semenda sampai dengan derajat kedua dengan salah satu pihak yang berselisih. Pasal 38 (1) (2) (3) 68 . kecuali atas persetujuan para pihak. (4) Para pihak atau para arbiter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). maka asli dari perjanjian tersebut diberikan kepada Ketua Majelis Arbiter. maka penunjukan arbiter pengganti diserahkan kepada pihak yang memilih arbiter. maka para pihak harus menunjuk arbiter pengganti yang disepakati oleh kedua belah pihak. Pasal 36 (1) Dalam hal arbiter tunggal mengundurkan diri atau meninggal dunia. (3) Dalam hal arbiter ketiga yang dipilih oleh para arbiter mengundurkan diri atau meninggal dunia. Dalam hal para pihak dapat menyetujui permohonan penarikan diri sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). (3) Perjanjian arbiter sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) sekurang-kurangnya dibuat rangkap 3 (tiga). dan ayat (3) harus sudah mencapai kesepakatan menunjuk arbiter pengganti dalam waktu selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja. ayat (2). atau meninggal dunia. Arbiter yang akan menarik diri sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). maka yang bersangkutan dapat dibebaskan dari tugas sebagai arbiter dalam penyelesaian kasus tersebut. (2) Dalam hal arbiter yang dipilih oleh para pihak mengundurkan diri.

Pasal 42 Dalam sidang arbitrase. Pasal 40 Arbiter wajib menyelesaikan perselisihan hubungan industrial dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja sejak penandatanganan surat perjanjian penunjukan arbiter.(1) (2) (3) (1) (2) (3) Arbiter yang telah ditunjuk oleh para pihak berdasarkan perjanjian arbitrase dapat diajukan tuntutan ingkar kepada Pengadilan Negeri apabila cukup alasan dan cukup bukti otentik yang menimbulkan keraguan bahwa arbiter akan melakukan tugasnya tidak secara bebas dan akan berpihak dalam mengambil putusan. Pemeriksaan atas perselisihan harus dimulai dalam waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kerja setelah penanda. Hak ingkar terhadap arbiter tunggal yang disepakati diajukan kepada arbiter yang bersangkutan. Tuntutan ingkar terhadap seorang arbiter dapat pula diajukan apabila terbukti adanya hubungan kekeluargaan atau pekerjaan dengan salah satu pihak atau kuasanya. Putusan Pengadilan Negeri mengenai tuntutan ingkar tidak dapat diajukan perlawanan.tanganan surat perjanjian penunjukan arbiter. Atas kesepakatan para pihak. Hak ingkar terhadap anggota majelis arbiter yang disepakati diajukan kepada majelis arbiter yang bersangkutan. Pasal 41 Pemeriksaan perselisihan hubungan industrial oleh arbiter atau majelis arbiter dilakukan secara tertutup kecuali para pihak yang berselisih menghendaki lain. 69 . arbiter berwenang untuk memperpanjang jangka waktu penyelesaian perselisihan hubungan industrial 1 (satu) kali perpanjangan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja. para pihak yang berselisih dapat diwakili oleh kuasanya dengan surat kuasa khusus. Pasal 39 Hak ingkar terhadap arbiter yang diangkat oleh Ketua Pengadilan ditujukan kepada Ketua Pengadilan yang bersangkutan.

maka arbiter atau majelis arbiter dapat membatalkan perjanjian penunjukan arbiter dan tugas arbiter atau majelis arbiter dianggap selesai. arbiter atau 70 . Apabila pada hari sidang pertama dan sidang-sidang selanjutnya salah satu pihak atau kuasanya tanpa suatu alasan yang sah tidak hadir walaupun untuk itu telah dipanggil secara patut.Pasal 43 (1) (2) (3) (1) (2) (3) (4) (5) Apabila pada hari sidang para pihak yang berselisih atau kuasanya tanpa suatu alasan yang sah tidak hadir. walaupun telah dipanggil secara patut.

majelis arbiter dapat memeriksa perkara dan menjatuhkan putusannya tanpa kehadiran salah satu pihak atau kuasanya. oleh arbiter harus diawali dengan upaya Apabila perdamaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tercapai. Pasal 47 Barang siapa yang diminta keterangannya oleh arbiter atau majelis arbiter guna penyelidikan untuk penyelesaian perselisihan hubungan industrial berdasarkan undang-undang ini wajib memberikannya. Dalam hal terdapat biaya yang dikeluarkan berkaitan dengan perjanjian penunjukan arbiter sebelum perjanjian tersebut dibatalkan oleh arbiter atau majelis arbiter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). maka arbiter atau majelis arbiter wajib membuat Akta Perdamaian yang ditandatangani oleh para pihak yang berselisih dan arbiter atau majelis arbiter. dokumen atau bukti lainnya yang dianggap perlu dalam jangka waktu yang ditentukan oleh arbiter atau majelis arbiter. biaya tersebut tidak dapat diminta kembali oleh para pihak. termasuk membukakan buku dan memperlihatkan surat-surat yang diperlukan. Biaya pemanggilan dan perjalanan rohaniawan untuk melaksanakan pengambilan sumpah atau janji terhadap saksi atau saksi ahli dibebankan kepada pihak yang meminta. Sebelum memberikan keterangan para saksi atau saksi ahli wajib mengucapkan sumpah atau janji sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Akta Perdamaian yang telah didaftar diberikan akta bukti pendaftaran dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Akta Perdamaian. Pasal 44 Penyelesaian perselisihan hubungan industrial mendamaikan kedua belah pihak yang berselisih. dalam hal pemohon eksekusi berdomisili di luar wilayah hukum Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri tempat pendaftaran Akta Perdamaian. Biaya pemanggilan dan perjalanan saksi atau saksi ahli yang diminta oleh arbiter dibebankan kepada para pihak. maka pemohon eksekusi dapat mengajukan permohonan eksekusi melalui Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri di wilayah domisili pemohon eksekusi untuk diteruskan ke Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri yang berkompeten melaksanakan eksekusi. c. Biaya pemanggilan dan perjalanan saksi atau saksi ahli dibebankan kepada pihak yang meminta. (2) Arbiter atau majelis arbiter berhak meminta kepada para pihak untuk mengajukan penjelasan tambahan secara tertulis. Pendaftaran Akta Perdamaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dilakukan sebagai berikut : a. 71 . Akta Perdamaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) didaftarkan di Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri di wilayah arbiter mengadakan perdamaian. arbiter atau majelis arbiter meneruskan sidang arbitrase. Pasal 45 (1) Dalam persidangan arbitrase para pihak diberi kesempatan untuk menjelaskan secara tertulis maupun lisan pendirian masing-masing serta mengajukan bukti yang dianggap perlu untuk menguatkan pendiriannya dalam jangka waktu yang ditetapkan oleh arbiter atau majelis arbiter. apabila Akta Perdamaian tidak dilaksanakan oleh salah satu pihak. maka pihak yang dirugikan dapat mengajukan permohonan eksekusi kepada Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri di wilayah Akta Perdamaian didaftar untuk mendapat penetapan eksekusi. Pasal 46 Arbiter atau majelis arbiter dapat memanggil seorang saksi atau lebih atau seorang saksi ahli atau lebih untuk didengar keterangannya. Apabila upaya perdamaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) gagal. b.

dan penjelasan lebih lanjut para pihak yang berselisih. maka pihak yang dirugikan dapat mengajukan permohonan fiat eksekusi di Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan pihak terhadap siapa putusan itu harus dijalankan. perjanjian. maka harus ditempuh prosedur sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. jawaban. nama lengkap dan alamat arbiter atau majelis arbiter. pokok putusan. Dalam putusan. agar putusan diperintahkan untuk dijalankan. Pasal 49 Putusan sidang arbitrase ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan tanda tangan arbiter atau majelis arbiter. kepala putusan yang berbunyi "DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA". Pasal 52 (1) 72 . pertimbangan yang menjadi dasar putusan. j. keadilan dan kepentingan umum. i. Perintah sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) harus diberikan dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja setelah permohonan didaftarkan pada Panitera Pengadilan Negeri setempat dengan tidak memeriksa alasan atau pertimbangan dari putusan arbitrase. nama lengkap dan alamat para pihak. b. d.Dalam hal keterangan yang diperlukan oleh arbiter terkait dengan seseorang yang karena jabatannya harus menjaga kerahasiaan. f. Putusan arbitrase sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didaftarkan di Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri di wilayah arbiter menetapkan putusan. Arbiter wajib merahasiakan semua keterangan yang diminta sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 50 (1) Putusan arbitrase memuat : a. kebiasaan. Alasan tentang tidak adanya tanda tangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) harus dicantumkan dalam putusan. g. Pasal 51 Putusan arbitrase mempunyai kekuatan hukum yang mengikat para pihak yang berselisih dan merupakan putusan yang bersifat akhir dan tetap. Pasal 48 Terhadap kegiatan dalam pemeriksaan dan sidang arbitrase dibuat berita acara pemeriksaan oleh arbiter atau majelis arbiter. e. ditetapkan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja harus sudah dilaksanakan. mulai berlakunya putusan. hal-hal yang termuat dalam surat perjanjian yang diajukan oleh para pihak yang berselisih. Tidak ditandatanganinya putusan arbiter oleh salah seorang arbiter dengan alasan sakit atau meninggal dunia tidak mempengaruhi kekuatan berlakunya putusan. ikhtisar dari tuntutan. tempat dan tanggal putusan. c. Dalam hal putusan arbitrase sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak dilaksanakan oleh salah satu pihak. h.

(2) (3) Terhadap putusan arbitrase. yang disembunyikan oleh pihak lawan. kecuali dapat dibuktikan adanya itikad tidak baik dari tindakan tersebut. b. putusan melampaui kekuasaan arbiter hubungan industrial. e. putusan diambil dari tipu muslihat yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam pemeriksaan perselisihan. atau putusan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Dalam hal permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikabulkan. diakui atau dinyatakan palsu. surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan. d. Mahkamah Agung memutuskan permohonan pembatalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak menerima permohonan pembatalan. Pasal 54 Arbiter atau majelis arbiter tidak dapat dikenakan tanggung jawab hukum apapun atas segala tindakan yang diambil selama proses persidangan berlangsung untuk menjalankan fungsinya sebagai arbiter atau majelis arbiter. salah satu pihak dapat mengajukan permohonan pembatalan kepada Mahkamah Agung dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja sejak ditetapkannya putusan arbiter. Pasal 53 Perselisihan hubungan industrial yang sedang atau telah diselesaikan melalui arbitrase tidak dapat diajukan ke Pengadilan Hubungan Industrial. BAB III PENGADILAN HUBUNGAN INDUSTRIAL Bagian Kesatu Umum 73 . setelah putusan dijatuhkan. apabila putusan diduga mengandung unsur-unsur sebagai berikut : a. setelah putusan diambil ditemukan dokumen yang bersifat menentukan. c. Mahkamah Agung menetapkan akibat dari pembatalan baik seluruhnya atau sebagian putusan arbitrase.

Bagian Kedua Hakim.000. dengan Keputusan Presiden harus segera dibentuk Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri setempat. di tingkat pertama mengenai perselisihan hak. Hakim Ad-Hoc. b. pihak-pihak yang berperkara tidak dikenakan biaya termasuk biaya eksekusi yang nilai gugatannya di bawah Rp 150. dan Hakim Kasasi Pasal 61 Hakim Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri diangkat dan diberhentikan berdasarkan Keputusan Ketua Mahkamah Agung. Hakim Ad-Hoc pada Mahkamah Agung. Hakim. Panitera. Pasal 59 (1) Untuk pertama kali dengan undang-undang ini dibentuk Pengadilan Hubungan Industrial pada setiap Pengadilan Negeri Kabupaten/Kota yang berada di setiap Ibukota Propinsi yang daerah hukumnya meliputi propinsi yang bersangkutan. Panitera Muda. c. di tingkat pertama mengenai perselisihan pemutusan hubungan kerja. Pasal 62 Pengangkatan Hakim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) Kabupaten/Kota terutama yang padat industri. b.00 (seratus lima puluh juta rupiah). Panitera Pengganti. d. Pasal 56 Pengadilan Hubungan Industrial bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus : a.Pasal 55 Pengadilan Hubungan Industrial merupakan pengadilan khusus yang berada pada lingkungan peradilan umum. Pasal 57 Hukum acara yang berlaku pada Pengadilan Hubungan Industrial adalah Hukum Acara Perdata yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum. Susunan Pengadilan Hubungan Industrial pada Mahkamah Agung terdiri dari : a. Hakim Ad-Hoc. 74 . dan d. Pasal 58 Dalam proses beracara di Pengadilan Hubungan Industrial. di tingkat pertama dan terakhir mengenai perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh dalam satu perusahaan. kecuali yang diatur secara khusus dalam undang-undang ini. dan c. c.000. di tingkat pertama dan terakhir mengenai perselisihan kepentingan. b. Pasal 60 Susunan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri terdiri dari : a. Hakim Agung.

Pasal 65 (1) Sebelum memangku jabatannya. berumur paling rendah 30 (tiga puluh) tahun. c. tidak sekali-kali akan menerima langsung atau tidak langsung dari siapapun juga suatu janji atau pemberian. Saya bersumpah/berjanji bahwa saya. berpendidikan serendah-rendahnya Strata Satu (S-1) kecuali bagi Hakim Ad-Hoc pada Mahkamah Agung syarat pendidikan Sarjana Hukum. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan segala undangundang serta peraturan lain yang berlaku bagi negara Republik Indonesia. jujur. g. harus memenuhi syarat sebagai berikut : a. seksama dan dengan tidak membedakan orang dan akan melaksanakan kewajiban saya sebaik-baiknya dan seadil-adilnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Calon Hakim Ad-Hoc sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diajukan oleh Ketua Mahkamah Agung dari nama yang disetujui oleh Menteri atas usul serikat pekerja/serikat buruh atau organisasi pengusaha. b. Pasal 64 Untuk dapat diangkat menjadi Hakim Ad-Hoc pada Pengadilan Hubungan Industrial dan Hakim AdHoc pada Mahkamah Agung. tidak memberikan atau menjanjikan barang sesuatu kepada siapapun juga. akan setia kepada dan akan mempertahankan serta mengamalkan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa.Pasal 63 (1) (2) (3) Hakim Ad-Hoc Pengadilan Hubungan Industrial diangkat dengan Keputusan Presiden atas usul Ketua Mahkamah Agung. Saya bersumpah/berjanji bahwa saya senantiasa akan menjalankan jabatan saya ini dengan jujur. berwibawa. berbadan sehat sesuai dengan keterangan dokter. langsung atau tidak langsung. setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Hakim Ad-Hoc Pengadilan Hubungan Industrial wajib mengucapkan sumpah atau janji menurut agama atau kepercayaannya. bunyi sumpah atau janji itu adalah sebagai berikut: � Saya bersumpah/berjanji dengan sungguh-sungguh bahwa saya untuk memperoleh jabatan saya ini. d. e. untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatan ini. dengan menggunakan nama atau cara apapun juga. h. dan berpengalaman di bidang hubungan industrial minimal 5 (lima) tahun. Saya bersumpah/berjanji bahwa saya. Ketua Mahkamah Agung mengusulkan pemberhentian Hakim Ad-Hoc Hubungan Industrial kepada Presiden. dan berkelakuan tidak tercela. 75 . f.� Hakim Ad-Hoc Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri diambil sumpah atau janjinya oleh Ketua Pengadilan Negeri atau pejabat yang ditunjuk. bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan ideologi nasional. adil. warga negara Indonesia. dasar negara.

Dalam hal seorang Hakim Ad-Hoc yang merangkap jabatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). j. kepala daerah/kepala wilayah. pegawai negeri sipil. permintaan sendiri. e. c. pengurus serikat pekerja/serikat buruh atau pengurus organisasi pengusaha. i. dipidana karena bersalah melakukan tindak pidana kejahatan. g. b. g. sakit jasmani atau rohani terus menerus selama 12 (dua belas) bulan. atau melanggar sumpah atau janji jabatan. atas permintaan organisasi pengusaha atau organisasi pekerja/organisasi buruh yang mengusulkan. atau k. lembaga legislatif tingkat daerah. pengurus partai politik.Pasal 66 Hakim Ad-Hoc tidak boleh merangkap jabatan sebagai : a. arbiter. Pasal 68 Hakim Ad-Hoc Pengadilan Hubungan Industrial diberhentikan tidak dengan hormat dari jabatannya dengan alasan : a. c. b. b. anggota Lembaga Tinggi Negara. d. e. meninggal dunia. pengacara. f. h. Pasal 67 (1) Hakim Ad-Hoc Pengadilan Hubungan Industrial dan Hakim Ad-Hoc Hubungan Industrial pada Mahkamah Agung diberhentikan dengan hormat dari jabatannya karena: a. konsiliator. (2) Masa tugas Hakim Ad-Hoc untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan. tidak cakap dalam menjalankan tugas. Pasal 69 Hakim Ad-Hoc Pengadilan Hubungan Industrial sebelum diberhentikan tidak dengan hormat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 ayat (1). anggota TNI/Polri. c. f. telah berumur 62 (enam puluh dua) tahun bagi Hakim Ad-Hoc pada Pengadilan Hubungan Industrial dan telah berumur 67 (enam puluh tujuh) tahun bagi Hakim Ad-Hoc pada Mahkamah Agung. dapat diberhentikan sementara dari jabatannya. Pemberhentian tidak dengan hormat dengan alasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan setelah yang bersangkutan diberi kesempatan untuk mengajukan pembelaan kepada Mahkamah Agung. atau telah selesai masa tugasnya. jabatannya sebagai Hakim Ad-Hoc dapat dibatalkan. selama 3 (tiga) kali berturut-turut dalam kurun waktu 1 (satu) bulan melalaikan kewajiban dalam menjalankan tugas pekerjaannya tanpa alasan yang sah. 76 . d. mediator.

Hakim Ad-Hoc. dan pemberhentian sementara Hakim Ad-Hoc sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67. Pasal 71 Ketua Pengadilan Negeri melakukan pengawasan atas pelaksanaan tugas Hakim. Pasal 68. berlaku pula ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 ayat (2). dan b. pemberhentian dengan tidak hormat.Hakim Ad-Hoc yang diberhentikan sementara sebagai-mana dimaksud dalam ayat (1). Ketua Pengadilan Negeri dapat memberikan petunjuk dan teguran kepada Hakim dan Hakim Ad-Hoc. menyelenggarakan administrasi Pengadilan Hubungan Industrial.>/p> (2) Dalam melaksanakan tugasnya. Dalam melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 73 Tunjangan dan hak-hak lainnya bagi Hakim Ad-Hoc Pengadilan Hubungan Industrial diatur dengan Keputusan Presiden. dan Pasal 69 diatur dengan Peraturan Pemerintah. pemberhentian dengan hormat. Panitera Muda. Ketua Mahkamah Agung dapat memberikan petunjuk dan teguran kepada Hakim Kasasi. Dalam melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). Petunjuk dan teguran sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dan ayat (4) tidak boleh mengurangi kebebasan Hakim. Panitera Muda. Ketua Mahkamah Agung melakukan pengawasan atas pelaksanaan tugas Hakim Kasasi. Pasal 75 Sub Kepaniteraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 ayat (1) mempunyai tugas : a. Untuk pertama kalinya pengangkatan Hakim Ad-Hoc Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri paling sedikit 5 (lima) orang dari unsur serikat pekerja/ serikat buruh dan 5 (lima) orang dari unsur organisasi pengusaha. Pasal 72 Tata cara pengangkatan. 77 . dan Panitera Pengganti Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri sesuai dengan kewenangannya. Hakim Ad-Hoc dan Hakim Kasasi Pengadilan Hubungan Industrial dalam memeriksa dan memutus perselisihan. dan Panitera Pengganti Pengadilan Hubungan Industrial pada Mahkamah Agung sesuai dengan kewenangannya. Panitera Muda sebagai-mana dimaksud dalam ayat (1) dibantu oleh beberapa orang Panitera Pengganti. Pasal 70 Pengangkatan Hakim Ad-Hoc Pengadilan Hubungan Industrial dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan dan sumber daya yang tersedia. membuat daftar semua perselisihan yang diterima dalam buku perkara. Bagian Ketiga Sub Kepaniteraan dan Panitera Pengganti Pasal 74 (1) Pada setiap Pengadilan Negeri yang telah ada Pengadilan Hubungan Industrial dibentuk Sub Kepaniteraan Pengadilan Hubungan Industrial yang dipimpin oleh seorang Panitera Muda.

Semua buku perkara dan surat-surat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) baik asli maupun foto copy tidak boleh dibawa keluar ruang kerja Sub Kepaniteraan kecuali atas izin Panitera Muda. dan jenis perselisihan. sekurang-kurangnya memuat nomor urut. nama dan alamat para pihak. (2) Berita Acara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan pemberhentian Panitera Muda dan Panitera Pengganti Pengadilan Hubungan Industrial diatur lebih lanjut menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. ditandatangani oleh Hakim. Hakim Ad-Hoc. Pasal 77 (1) Untuk pertama kali Panitera Muda dan Panitera Pengganti Pengadilan Hubungan Industrial diangkat dari Pegawai Negeri Sipil dari instansi Pemerintah yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan. dan tata kerja Sub Kepaniteraan Pengadilan Hubungan Industrial diatur dengan Keputusan Ketua Mahkamah Agung. Pasal 78 Susunan organisasi. Pasal 82 Gugatan oleh pekerja/buruh atas pemutusan hubungan kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 159 dan Pasal 171 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjan. tata cara pengangkatan. dapat diajukan hanya dalam tenggang waktu 1 (satu) tahun sejak diterimanya atau diberitahukannya keputusan dari pihak pengusaha. Pasal 80 Panitera Muda bertanggung jawab atas buku perkara dan surat-surat lainnya yang disimpan di Sub Kepaniteraan.Buku perkara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b. Pasal 79 (1) Panitera Pengganti bertugas mencatat jalannya persidangan dalam Berita Acara. BAB IV PENYELESAIAN PERSELISIHAN MELALUI PENGADILAN HUBUNGAN INDUSTRIAL Bagian Kesatu Penyelesaian Perselisihan Oleh Hakim Paragraf 1 Pengajuan Gugatan Pasal 81 Gugatan perselisihan hubungan industrial diajukan kepada Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat pekerja/buruh bekerja. tugas. Pasal 83 78 . Pasal 76 Sub Kepaniteraan bertanggung jawab atas penyampaian surat panggilan sidang. penyampaian pemberitahuan putusan dan penyampaian salinan putusan. dan Panitera Pengganti. (2) Ketentuan mengenai persyaratan.

pencabutan gugatan oleh penggugat akan dikabulkan oleh Pengadilan Hubungan Industrial hanya apabila disetujui tergugat. Apabila pihak yang dipanggil tidak ada di tempat tinggalnya atau tempat tinggal kediaman terakhir. Penerimaan surat penggilan oleh pihak yang dipanggil sendiri atau melalui orang lain dilakukan dengan tanda penerimaan. (2) Apabila tergugat sudah memberikan jawaban atas gugatan itu. Pasal 87 Serikat pekerja/serikat buruh dan organisasi pengusaha dapat bertindak sebagai kuasa hukum untuk beracara di Pengadilan Hubungan Industrial untuk mewakili anggotanya. Pasal 85 (1) Penggugat dapat sewaktu-waktu mencabut gugatannya sebelum tergugat memberikan jawaban. surat panggilan disampaikan melalui Kepala Kelurahan atau Kepala Desa yang daerah hukumnya meliputi tempat tinggal pihak yang dipanggil atau tempat kediaman yang terakhir. (3) Untuk membantu tugas Majelis Hakim sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditunjuk seorang Panitera Pengganti. Apabila tempat tinggal maupun tempat kediaman terakhir tidak dikenal. Pasal 88 (1) Ketua Pengadilan Negeri dalam waktu selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah menerima gugatan harus sudah menetapkan Majelis Hakim yang terdiri atas 1 (satu) orang Hakim sebagai Ketua Majelis dan 2 (dua) orang Hakim Ad-Hoc sebagai Anggota Majelis yang memeriksa dan memutus perselisihan. Pasal 84 Gugatan yang melibatkan lebih dari satu penggugat dapat diajukan secara kolektif dengan memberikan kuasa khusus. Pasal 86 Dalam hal perselisihan hak dan/atau perselisihan kepentingan diikuti dengan perselisihan pemutusan hubungan kerja. maka Pengadilan Hubungan Industrial wajib memutus terlebih dahulu perkara perselisihan hak dan/atau perselisihan kepentingan. hakim meminta penggugat untuk menyempurnakan gugatannya. maka surat panggilan ditempelkan pada tempat pengumuman di gedung Pengadilan Hubungan Industrial yang memeriksanya. Pemanggilan untuk datang ke sidang dilakukan secara sah apabila disampaikan dengan surat panggilan kepada para pihak di alamat tempat tinggalnya atau apabila tempat tinggalnya tidak diketahui disampaikan di tempat kediaman terakhir. (2) Hakim Ad-Hoc sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri atas seorang Hakim Ad-Hoc yang pengangkatan-nya diusulkan oleh serikat pekerja/serikat buruh dan seorang Hakim Ad-Hoc yang pengangkatannya diusulkan oleh organisasi pengusaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat (2).(1) Pengajuan gugatan yang tidak dilampiri risalah penyelesaian melalui mediasi atau konsiliasi. (2) Hakim berkewajiban memeriksa isi gugatan dan bila terdapat kekurangan. maka Ketua Majelis Hakim harus sudah melakukan sidang pertama. Pasal 89 Dalam waktu selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak penetapan Majelis Hakim. maka hakim Pengadilan Hubungan Industrial wajib mengembalikan gugatan kepada pengugat. Pasal 90 79 .

setelah mendapat peringatan dari atau atas perintah Ketua Majelis Hakim.Majelis Hakim dapat memanggil saksi atau saksi ahli untuk hadir di persidangan guna diminta dan didengar keterangannya. Pasal 91 Barang siapa yang diminta keterangannya oleh Majelis Hakim guna penyelidikan untuk penyelesaian perselisihan hubungan industrial berdasarkan undang-undang ini wajib memberikannya tanpa syarat. Pasal 96 (1) Apabila dalam persidangan pertama. kecuali Majelis Hakim menetapkan lain. maka harus ditempuh prosedur sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hakim Ketua Sidang harus segera menjatuhkan Putusan Sela berupa perintah kepada pengusaha untuk membayar upah beserta hak-hak lainnya yang biasa diterima pekerja/buruh yang bersangkutan. Dalam hal tergugat atau kuasa hukumnya yang sah setelah dipanggil secara patut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 tidak datang menghadap Pengadilan pada sidang penundaan terakhir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93 ayat (3). Dalam hal keterangan yang diminta Majelis Hakim terkait dengan seseorang yang karena jabatannya harus menjaga kerahasian. maka Majelis Hakim dapat memeriksa dan memutus perselisihan tanpa dihadiri tergugat. secara nyata-nyata pihak pengusaha terbukti tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 155 ayat (3) Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. (3) Penundaan sidang karena ketidakhadiran salah satu atau para pihak diberikan sebanyakbanyaknya 2 (dua) kali penundaan. Pasal 92 Sidang sah apabila dilakukan oleh Majelis Hakim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88 ayat (1). Pasal 94 Dalam hal penggugat atau kuasa hukumnya yang sah setelah dipanggil secara patut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 tidak datang menghadap Pengadilan pada sidang penundaan terakhir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93 ayat (3). Hakim wajib merahasiakan semua keterangan yang diminta sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (2) Hari sidang berikutnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan dalam waktu selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak tanggal penundaan. maka gugatannya dianggap gugur. Pasal 93 (1) Dalam hal salah satu pihak atau para pihak tidak dapat menghadiri sidang tanpa alasan yang dapat dipertanggung jawabkan. Setiap orang yang tidak mentaati tata tertib persidangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). Setiap orang yang hadir dalam persidangan wajib menghormati tata tertib persidangan. Ketua Majelis Hakim menetapkan hari sidang berikutnya. termasuk membukakan buku dan memperlihatkan surat-surat yang diperlukan. Setiap orang yang dipanggil untuk menjadi saksi atau saksi ahli berkewajiban untuk memenuhi panggilan dan memberikan kesaksiannya di bawah sumpah. akan tetapi penggugat berhak mengajukan gugatannya sekali lagi. dapat dikeluarkan dari ruang sidang. Pasal 95 Sidang Majelis Hakim terbuka untuk umum. 80 .

(2) Putusan Sela sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dijatuhkan pada hari persidangan itu juga atau pada hari persidangan kedua. Paragraf 3 Pemeriksaan Dengan Acara Cepat Pasal 98 (1) Apabila terdapat kepentingan para pihak dan/atau salah satu pihak yang cukup mendesak yang harus dapat disimpulkan dari alasan-alasan permohonan dari yang berkepentingan. Ketua Pengadilan Negeri mengeluarkan penetapan tentang dikabulkan atau tidak dikabulkannya permohonan tersebut. ayat (2) tidak dapat digunakan upaya Paragraf 4 Pengambilan Putusan Pasal 100 Dalam mengambil putusan. menentukan Majelis Hakim. para pihak dan/atau salah satu pihak dapat memohon kepada Pengadilan Hubungan Industrial supaya pemeriksaan sengketa dipercepat. Hakim Ketua Sidang memerintahkan Sita Jaminan dalam sebuah Penetapan Pengadilan Hubungan Industrial. perjanjian yang ada. ayat (1) sebagai putusan Pengadilan 81 . Ketua Pengadilan Negeri dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja setelah dikeluarkannya penetapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 ayat (2). Pasal 97 Dalam putusan Pengadilan Hubungan Industrial ditetapkan kewajiban yang harus dilakukan dan/atau hak yang harus diterima oleh para pihak atau salah satu pihak atas setiap penyelesaian perselisihan hubungan industrial. Tenggang waktu untuk jawaban dan pembuktian kedua belah pihak. (3) Terhadap penetapan sebagaimana dimaksud dalam hukum. Pasal 101 (1) Putusan Majelis Hakim dibacakan dalam sidang terbuka untuk umum. Ketua Majelis Hakim memerintahkan kepada Panitera Pengganti untuk menyampaikan pemberitahuan putusan kepada pihak yang tidak hadir tersebut. kebiasaan. (4) Putusan Sela sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan Penetapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak dapat diajukan perlawanan dan/atau tidak dapat digunakan upaya hukum. Pasal 99 Dalam hal permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 ayat (1) dikabulkan. hari. dan waktu sidang tanpa melalui prosedur pemeriksaan. dan keadilan. (3) Dalam hal selama pemeriksaan sengketa masih berlangsung dan Putusan Sela sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak juga dilaksanakan oleh pengusaha. (2) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja setelah diterimanya permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). masing-masing ditentukan tidak melebihi 14 (empat belas) hari kerja. Majelis Hakim mempertimbang-kan hukum. tempat. (2) Dalam hal salah satu pihak tidak hadir dalam sidang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (3) Putusan Majelis Hakim sebagaimana dimaksud dalam Hubungan Industrial.

nama Hakim. Panitera Muda harus sudah menerbitkan salinan putusan. pertimbangan terhadap setiap bukti dan data yang diajukan hal yang terjadi dalam persidangan selama sengketa itu diperiksa. harus sudah menyampaikan pemberitahuan putusan kepada pihak yang tidak hadir dalam sidang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (2). ringkasan pemohon/penggugat dan jawaban termohon/ tergugat yang jelas.(4) Tidak dipenuhinya ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berakibat putusan Pengadilan tidak sah dan tidak mempunyai kekuatan hukum. jabatan. meskipun putusannya diajukan perlawanan atau kasasi. b. hari. nama Panitera. Pasal 102 Putusan Pengadilan harus memuat : a. d. Pasal 104 Putusan Pengadilan Hubungan Industrial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ditandatangani oleh Hakim. Pasal 110 Putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri mengenai perselisihan hak dan perselisihan pemutusan hubungan kerja mempunyai kekuatan hukum tetap apabila tidak diajukan 82 . kewarganegaraan. Pasal 108 Ketua Majelis Hakim Pengadilan Hubungan Industrial dapat mengeluarkan putusan yang dapat dilaksanakan lebih dahulu. Pasal 106 Selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah putusan ditandatangani. g. f. Tidak dipenuhinya salah satu ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat menyebabkan batalnya putusan Pengadilan Hubungan Industrial. e. amar putusan tentang sengketa. alasan hukum yang menjadi dasar putusan. Pasal 103 Majelis Hakim wajib memberikan putusan penyelesaian perselisihan hubungan industrial dalam waktu selambat-lambatnya 50 (lima puluh) hari kerja terhitung sejak sidang pertama. tanggal putusan. tempat kediaman atau tempat kedudukan para pihak yang berselisih. Hakim Ad-Hoc yang memutus. Hakim Ad-Hoc dan Panitera Pengganti. Pasal 107 Panitera Pengadilan Negeri dalam waktu selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah salinan putusan diterbitkan harus sudah mengirimkan salinan putusan kepada para pihak. serta keterangan tentang hadir atau tidak hadirnya para pihak. Pasal 109 Putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri mengenai perselisihan kepentingan dan perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh dalam satu perusahaan merupakan putusan akhir dan bersifat tetap. c. nama. kepala putusan berbunyi: �DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA�. Pasal 105 Panitera Pengganti Pengadilan Hubungan Industrial dalam waktu selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah putusan Majelis Hakim dibacakan.

Pasal 111 Salah satu pihak atau para pihak yang hendak mengajukan permohonan kasasi harus menyampaikan secara tertulis melalui Sub Kepaniteraan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri setempat. bagi pihak yang hadir. Pasal 114 Tata cara permohonan kasasi serta penyelesaian perselisihan hak dan perselisihan pemutusan hubungan kerja oleh Hakim Kasasi dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 115 Penyelesaian perselisihan hak atau perselisihan pemutusan hubungan kerja pada Mahkamah Agung selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak tanggal penerimaan permohonan kasasi. bagi pihak yang tidak hadir. BAB V SANKSI ADMINISTRASI DAN KETENTUAN PIDANA Bagian Kesatu Sanksi Administratif Pasal 116 (1) Mediator yang tidak dapat menyelesaikan perselisihan hubungan industrial dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja tanpa alasan yang sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dapat dikenakan sanksi administratif berupa hukuman disiplin sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil. terhitung sejak putusan dibacakan dalam sidang majelis hakim. Pasal 112 Sub Kepaniteraan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri dalam waktu selambatlambatnya 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak tanggal penerimaan permohonan kasasi harus sudah menyampaikan berkas perkara kepada Ketua Mahkamah Agung. terhitung sejak tanggal menerima pemberitahuan putusan. (2) Panitera Muda yang tidak menerbitkan salinan putusan dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah putusan ditandatangani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 dan Panitera yang tidak mengirimkan salinan kepada para pihak paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 107 dapat dikenakan sanksi administratif sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 117 (1) Konsiliator yang tidak menyampaikan anjuran tertulis dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) butir b atau tidak membantu para pihak membuat Perjanjian Bersama dalam waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kerja sebagaimana 83 . Bagian Kedua Penyelesaian Perselisihan Oleh Hakim Kasasi Pasal 113 Majelis Hakim Kasasi terdiri atas satu orang Hakim Agung dan dua orang Hakim Ad-Hoc yang ditugasi memeriksa dan mengadili perkara perselisihan hubungan industrial pada Mahkamah Agung yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung.permohonan kasasi kepada Mahkamah Agung dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja: a. b.

(3) Sanksi sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (2). (2) Konsiliator yang telah mendapatkan teguran tertulis sebanyak 3 (tiga) kali sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (2) Sanksi administratif berupa pencabutan tetap sebagai arbiter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) mulai berlaku sejak tanggal arbiter menyelesaikan perselisihan yang sedang ditanganinya. dapat dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. arbiter paling sedikit telah 3 (tiga) kali mengambil keputusan arbitrase perselisihan hubungan industrial melampaui kekuasaannya. Pasal 119 dan Pasal 120 dijatuhkan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk. Pasal 118. Pasal 121 (1) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117. (3) Sanksi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) baru dapat dijatuhkan setelah yang bersangkutan menyelesaikan perselisihan yang sedang ditanganinya. (4) Sanksi administratif pencabutan sementara sebagai arbiter diberikan untuk jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan. Pasal 120 (1) Arbiter dapat dikenakan sanksi administratif berupa pencabutan tetap sebagai arbiter dalam hal : a. (4) Sanksi administratif pencabutan sementara sebagai konsiliator diberikan untuk jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan. Pasal 118 Konsiliator dapat dikenakan sanksi administratif berupa pencabutan tetap sebagai konsiliator dalam hal: a. c. Pasal 119 (1) Arbiter yang tidak dapat menyelesaikan perselisihan hubungan industrial dalam waktu selambatlambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja dan dalam jangka waktu perpanjangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (1) dan ayat (3) atau tidak membuat berita acara kegiatan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48. c. bertentangan dengan per-aturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) huruf d dan e dan Mahkamah Agung telah mengabulkan permohonan peninjauan kembali atas putusan-putusan arbiter tersebut. menyalahgunakan jabatan. b. b. dan/atau membocorkan keterangan yang diminta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (3). arbiter telah dijatuhi sanksi administratif berupa pencabutan sementara sebagai arbiter sebagaimana dimaksud dalam Pasal 119 ayat (2) sebanyak 3 (tiga) kali. d. 84 . baru dapat dijatuhkan setelah yang bersangkutan menyelesaikan perselisihan yang sedang ditanganinya. menyalahgunakan jabatan. terbukti melakukan tindak pidana kejahatan. konsiliator telah dijatuhi sanksi administratif berupa pencabutan sementara sebagai konsiliator sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 ayat (2) sebanyak 3 (tiga) kali. (2) Arbiter yang telah mendapat teguran tertulis 3 (tiga) kali sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dikenakan sanksi administratif berupa pencabutan sementara sebagai arbiter. d. dapat dikenakan sanksi administratif berupa pencabutan sementara sebagai konsiliator.dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) huruf e dapat dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis. terbukti melakukan tindak pidana kejahatan.

BAB VII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 124 (1) Sebelum terbentuk Pengadilan Hubungan Industrial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59. Pasal 91 ayat (1) dan ayat (3). Bagian Kedua Ketentuan Pidana Pasal 122 (1) Barang siapa yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1).000. maka diselesaikan oleh Mahkamah Agung. maka diselesaikan oleh Mahkamah Agung. Putusan Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Daerah atau lembaga-lembaga lain sebagaimana dimaksud pada huruf a yang ditolak dan diajukan banding oleh salah satu pihak atau para pihak dan putusan tersebut diterima masih dalam tenggang waktu 14 (empat belas) hari. c.000. dan b. (2) Dengan terbentuknya Pengadilan Hubungan Industrial berdasarkan undang-undang ini. Putusan Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat atau lembaga-lembaga lain sebagaimana dimaksud pada huruf c yang ditolak dan diajukan banding oleh salah satu pihak atau para pihak dan putusan tersebut diterima masih dalam tenggang waktu 90 (sembilan puluh) hari. d.00 (lima puluh juta rupiah). Pasal 90 ayat (2). BAB VI KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 123 Dalam hal terjadi perselisihan hubungan industrial pada usaha-usaha sosial dan usaha-usaha lain yang tidak berbentuk perusahaan tetapi mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar upah. perselisihan hubungan industrial dan pemutusan hubungan kerja yang telah diajukan kepada : a. dikenakan sanksi pidana kurungan paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 10.000. Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat atau lembaga-lembaga lain yang setingkat yang menyelesaikan perselisihan hubungan industrial atau pemutusan hubungan kerja dan belum diputuskan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 1227). (2) Perbuatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan tindak pidana pelanggaran. Pasal 22 ayat (1) dan ayat (3).(2) Tata cara pemberian dan pencabutan sanksi akan diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri. Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Daerah dan Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat tetap melaksanakan fungsi dan tugasnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 85 . Pasal 47 ayat (1) dan ayat (3). Undang-undang Nomor 22 Tahun 1957 tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan (Lembaran Negara Tahun 1957 Nomor 42.000. maka diselesaikan oleh Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri setempat.00 (sepuluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 50. BAB VIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 125 (1) Dengan berlakunya undang-undang ini. Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Daerah atau lembaga-lembaga lain yang setingkat yang menyelesaikan perselisihan hubungan industrial atau pemutusan hubungan kerja dan belum diputuskan. maka : a. maka diselesaikan oleh Mahkamah Agung. maka perselisihannya diselesaikan sesuai dengan ketentuan undang-undang ini.

ttd. c. semua Peraturan Perundang-undangan yang merupakan Peraturan Pelaksanaan dari Undang-undang Nomor 22 Tahun 1957 tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan (Lembaran Negara Tahun 1957 Nomor 42. (2) Pada saat undang-undang ini mulai berlaku.b. Tambahan Lembaran Negara Nomor 1227) dan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1964 tentang Pemutusan Hubungan Kerja Di Perusahaan Swasta (Lembaran Negara Tahun 1964 Nomor 93. BAMBANG KESOWO LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2004 NOMOR 6 Salinan sesuai dengan aslinya Deputi Sekretaris Kabinet Bidang Hukum dan Perundang-undangan 86 . memerintahkan pengundangan undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. MEGAWATI SOEKARNOPUTRI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 14 Januari 2004 SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA. Disahkan di Jakarta pada tanggal 14 Januari 2004 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2686). Tambahan Lembaran Negara Nomor 2686) dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam undang-undang ini. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1964 tentang Pemutusan Hubungan Kerja Di Perusahaan Swasta (Lembaran Negara Tahun 1964 Nomor 93. dinyatakan tidak berlaku lagi. Agar setiap orang mengetahuinya. ttd. Pasal 126 Undang�undang ini mulai berlaku 1 (satu) tahun setelah diundangkan.