You are on page 1of 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Lemak Ayam Kandungan lemak pada ayam sebanyak 10 % rata-rata per kilogram berat total, tetapi kandungan ini meningkat menjadi 40 – 50 % pada kulit ayam. Di beberapa kota di Indonesia seperti kota Pekanbaru, kulit ayam merupakan limbah pemotongan ayam. Biasanya limbah ini dimanfaatkan masyarakat untuk tambahan pakan ikan, dengan diubah menjadi biodiesel diharapkan akan meningkatkan nilai dari limbah lemak ayam tersebut. Semakin tinggi rasio H-Zeolit dalam reaksi esterifikasi lemak ayam, persentase biodiesel yang dihasilkan semakin tinggi sampai batas optimum. Konversi terbesar diperoleh pada H-Zeolit 3,75% sebesar 47,84%. Berdasarkan data ASTM, biodiesel yang diperoleh memiliki kualifikasi sebagai bahan bakar biodiesel dan diesel dan memenuhi karakter SNI Biodiesel dan minyak solar. Minyak nabati atau hewani merupakan trigliserida melalui reaksi transesterifikasi dengan metanol akan menghasilkan, gliserin, metil stearat, metal oleat. Metil oleat atau biodiesel dan gliserin harus dipisahkan melalui suatu tangki pengendap. Setelah gliserin dipisahkan larutan dicuci dengan air dan selanjutnya di distilasi sehingga menghasilkan biodiesel sesuai standar yang diinginkan. Masalah yang timbul pada proses transesterifikasi dengan metode tersebut relatif mahal, di samping itu hasil samping gliserin membutuhkan proses tambahan agar dapat dimanfaatkan lagi untuk industri terkait lainnya. Produk akhir biodiesel merupakan bahan bakar mesin/motor menghasilkan emisi NOx lebih tinggi, tetapi emisi CO lebih rendah dibandingkan dengan emisi yang dihasilkan dalam pemanfaatan BBM. (Hadi, 2009). 2.2 Transesterifikasi Biodiesel dibuat melalui suatu proses kimia yang disebut transesterifikasi (transesterification) dimana reaksi antara senyawa ester (CPO/minyak kelapa sawit) dengan senyawa alkohol (metanol). Proses ini menghasilkan dua produk yaitu metil esters (biodiesel) dan gliserin (pada umumnya digunakan untuk pembuatan sabun

katalis dibutuhkan karena alkohol larut dalam minyak. Minyak nabati kandungan asam lemak bebas lebih rendah dari pada lemak hewani. minyak nabati biasanya selain mengandung ALB juga mengandung phospholipids. asam lemak bebas (ALB) dan zat-pencemar dimana tergantung pada pengolahan pendahuluan dari bahan baku tersebut. Minyak nabati yang digunakan dapat dalam bentuk minyak Produk biodiesel tergantung pada minyak nabati yang digunakan sebagai bahan baku seta pengolahan pendahuluan dari bahan baku tersebut (Rahayu. Dalam bagian buku ini dibahas teknologi pembuatan biodiesel agar para pengkaji. lemak bekas/lemak daur ulang. phospholipids dapat dihilangkan pada proses degumming dan ALB dihilangkan pada proses refining. lemak hewani. peneliti dan masyarakat luas dapat mengetahui lebih dalam tentang proses pembuatan bahan bakar alternatif ini. Biodiesel dibuat melalui suatu proses kimia yang disebut transesterifikasi dimana gliserin dipisahkan dari minyak nabati. Gambar 2. Sedangkan sebagai bahan baku penunjang yaitu alkohol. Proses ini menghasilkan dua produk yaitu metil esters (biodiesel)/mono-alkil ester dan gliserin yang merupakan produk samping.dan lain produk). Semua bahan baku ini mengandung trigliserida.1 Reaksi Transesterifikasi . Bahan baku utama untuk pembuatan biodiesel antara lain minyak nabati. Pada ini pembuatan biodiesel dibutuhkan katalis untuk proses esterifikasi. 2008).

5-1. Katalis harus terhindar dari kontak dengan udara agar tidak mengalami reaksi dengan uap air dan karbon dioksida. 2008) Beberapa kondisi reaksi yang mempengaruhi konversi serta perolehan biodiesel melalui transesterifikasi adalah sebagai berikut : a. Selain itu. Karena air akan bereaksi dengan katalis. Banyak peneliti yang menyarankan agar kandungan asam lemak bebas lebih kecil dari 0. Reaksi transesterifikasi akan menghasilkan konversi yang maksimum dengan jumlah katalis 0.8:1 dapat menghasilkan konversi 98%. sehingga jumlah katalis menjadi berkurang. metanol akan memberikan perolehan ester yang tertinggi dibandingkan dengaan menggunakan etanol atau butanol. c. Pengaruh air dan asam lemak bebas Minyak nabati yang akan ditransesterifikasi harus memiliki angka asam yang lebih kecil dari 1. sedangkan pada 3:1 adalah 74-89%. jumlah alkohol yang dibutuhkan untuk reaksi adalah 3 mol untuk setiap 1 mol trigliserida untuk memperoleh 3 mol alkil ester dan 1 mol gliserol. Pengaruh perbandingan molar alkohol dengan bahan mentah Secara stoikiometri. Katalis basa yang paling populer untuk reaksi transesterifikasi adalah natrium hidroksida (NaOH).5%). setelah 1 jam konversi yang dihasilkan adalah 98-99%. . Pada rasio molar 6:1.5%-b minyak nabati untuk natrium metoksida dan 1%-b minyak nabati untuk natrium hidroksida. Pengaruh jenis alkohol Pada rasio 6:1. b. dan kalium metoksida (KOCH3). maka konversi yang diperoleh juga akan semakin bertambah.5%-b minyak nabati. semua bahan yang akan digunakan harus bebas dari air. d. Pengaruh jenis katalis Alkali katalis (katalis basa) akan mempercepat reaksi transesterifikasi bila dibandingkan dengan katalis asam.(Rahayu.5% (<0. kalium hidroksida (KOH). Perbandingan alkohol dengan minyak nabati 4. Jumlah katalis yang efektif untuk reaksi adalah 0. Katalis yang baik bagi reaksi sebenarnya adalah ion metilat (metoksida). Nilai perbandingan yang terbaik adalah 6:1 karena dapat memberikan konversi yang maksimum. Secara umum ditunjukkan bahwa semakin banyak jumlah alkohol yang digunakan. natrium metoksida (NaOCH3).

Temperatur yang rendah akan menghasilkan konversi yang lebih tinggi namun dengan waktu reaksi yang lebih lama. (Destianna. dkk. Pertama yaitu biodiesel mempunyai kadar belerang yang jauh lebih kecil (sangat ramah lingkungan karena kadar belerang . mesin-mesin pabrik yang menggunakan diesel. f. 2007) 2. konversi yang diperoleh akan semakin tinggi untuk waktu yang lebih singkat. Biodiesel dapat sebagai pengganti 100% minyak solar. Campuran minyak solar dengan biodiesel diberi kode B (Blending). Untuk waktu 6 menit. pada temperatur 60 oC konversi telah mencapai 94% sedangkan pada 45 oC yaitu 87% dan pada 32oC yaitu 64%. juga alat transportasi termasuk mobil yang bermesin diesel. Akan tetapi solar yang berkadar belerang rendah memiliki daya pelumasan rendah.e. Namun apabila produk metil ester akan digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel. Pengaruh temperatur Reaksi transesterifikasi dapat dilakukan pada temperatur 30 – 65 °C (titik didih metanol sekitar 65 °C). Sementara itu produksi solar Indonesia masih sangat tinggi kadar belerangnya (1500-4100 ppm) Dengan demikian biodiesel sebagai campuran minyak solar mempunyai dua keuntungan sekaligus. seperti untuk pembangkit listrik. Semakin tinggi temperatur. cukup digunakan bahan baku berupa minyak yang telah dihilangkan getahnya dan disaring. Minyak solar dengan biodiesel dapat dicampur dengan berbagai perbandingan. Sebagai contoh bahan bakar B5 adalah campuran yang terdiri 95% volume minyak solar dengan 5 % volume biodiesel. maupun sebagai campuran minyak solar tanpa modifikasi mesin. Penerapan peraturan emisi kendaraan mendorong diturunkannya kadar belerang dalam minyak solar. Metanolisis Crude dan Minyak Nabati Murni Perolehan metil ester akan lebih tinggi jika menggunakan minyak nabati murni.3 Biodiesel Biodiesel dapat digunakan untuk bahan bakar mesin diesel. Penurunan kadar belerang dapat menurunkan emisi gas buang kendaraan berupa gas SOx dan SPM (Solid Particulate Matters) yang mengotori udara. yang biasanya menggunakan minyak solar.

maka dapat menurunkan keausan piston sehingga mesin yang menggunakan bahan bakar biodiesel menjadi lebih awet. sehingga biodiesel mempunyai daya pelumasan yang lebih baik daripada solar. Dengan demikian emisi senyawa karbon non-CO2 dalam gas buang kendaraan sangat kecil dan penggunaan bahan bakar lebih efisien (Asri. sehingga pembakaran di dalam mesin nyaris sempurna dan hanya membutuhkan nisbah udara/bahan bakar rendah. Viskositas biodiesel lebih tinggi dibandingkan viskositas solar. . Selain itu biodiesel sudah mengandung oksigen dalam senyawanya.kurang dari 15 ppm) dan yang kedua adalah biodiesel dapat meningkatkan daya pelumasan. Oleh karena mampu melumasi mesin dan sistem bahan bakar. 2010).

Produk samping yang berupa gliserol dipisahkan dari metil ester sebelum dimasukkan ke dalam reaktor kedua. yaitu temperatur 80 oC dan tekanan 3 kg/cm2. Gambar 2. Tahap transesterifikasi ini terdiri dari dua tahap dengan total dua reaktor berpengaduk yang dipasang secara seri. Pada reaktor kedua ini ditambahkan katalis 7. Transesterifikasi tahap pertama ini menggunakan katalis basa dengan jumlah 0.2. Reaksi berlangsung selama ± 30 menit dengan konversi asam lemak bebas > 95 %. minyak mentah direaksikan dengan metanol berlebih. 2007) . Diagram proses produksi biodiesel MPOB dapat dilihat pada Gambar 2.2 Diagram Proses Pembuatan Biodiesel MPOB (Destianna.35 % berat umpan dan metanol. Reaksi dilakukan dalam reaktor unggun tetap (fixed bed reactor) dengan kondisi reaksi.1 (Destianna. dan katalis asam yang berupa padatan. Tahap kedua ini bertujuan untuk menyelesaikan reaksi yaitu agar konversi trigliserida > 98 %. dkk.2 % berat metanol. Konversi > 80 % dicapai dalam waktu ± 30 menit.4 Aplikasi Transesterifikasi (Intensifikasi Proses Produksi Biodiesel) Pada tahap esterifikasi. Kondisi reaksi pada reaktor pertama adalah temperatur 70 oC dan tekanan 1 kg/cm2. Metil ester yang terbentuk dicuci dengan air panas dan dikeringkan secara vakum. dengan perbandingan molar 6 : 1 dengan jumlah minyak. Produk tahap ini yang berupa metil ester dan gliserida yang belum direaksikan dimasukkan ke dalam reaktor transesterifikasi sedangkan air yang terbentuk dipisahkan agar tidak terjadi reaksi saponifikasi dan metanol yang tersisa direcovery dan didaur ulang. 2007). dkk.