You are on page 1of 17

BAB I TINJAUAN PUSTAKA 1.

1 Definisi Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38
0

C) yang disebabkan oleh suatu proses

ekstrakranium. Anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam, kemudian kejang demam kembali tidak termasuk dalam kejang demam. Anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam kemudian kejang demam kembali tidak termasuk dalam kejang demam. Kejang disertai demam pada bayi berumur kurang dari 1 bulan tidak termasuk dalam kejang demam. Bila anak berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami kejang didahului demam, pikirkan kemungkinan lain misalnya infeksi SSP, epilepsi yang kebetulan terjadi bersama demam.1,2 1.2 Epidemiologi Insiden terjadinya kejang demam terutama pada golongan anak umur 6 bulan sampai 4 tahun. Hampir 3 % dari anak yang berumur di bawah 5 tahun pernah menderita kejang demam. 80 % merupakan kejang demam sederhana, sedangkan 20% kasus adalah kejang demam kompleks. Kejang pertama terbanyak di antara umur 17 - 23 bulan. Kejang demam lebih sering didapatkan pada laki-laki daripada perempuan. 1,2 1.3 Etiologi Etiologi dan pathogenesis kejang demam sampai saat ini belum diketahui, akan tetapi umur anak, tinggi dan cepatnya suhu meningkat mempengaruhi terjadinya kejang. Faktor hereditas juga mempunyai peran yaitu 8-22% anak yang mengalami kejang demam mempunyai orang tua dengan riwayat kejang demam pasa masa kecilnya.3 Semua jenis infeksi bersumber di luar susunan saraf pusat yang menimbulkan demam dapat menyebabkan kejang demam. 1.4 Patofisiologi

1

Kejang demam yang berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya disertai apnea.4 Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda tergantung dari tinggi rendahnya ambang kejang seseorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu. klonik. kejang telah terjadi pada suhu 38 C sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang tinggi. hiperkapnia. tonik. hipotensi artenal disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh meningkat yang disebabkan makin meningkatnya aktifitas otot dan mengakibatkan metabolisme otak meningkat.Pada keadaan demam kenaikan suhu 1oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10-15 % dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%.5 Manifestasi Klinik Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat.4 1. Umumnya kejang berhenti sendiri. Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam. fokal atau akinetik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel sekitarnya dengan bantuan “neurotransmitter” dan terjadi kejang. Oleh karena itu kenaikan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium akibat terjadinya lepas muatan listrik. Pada anak 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65 % dari seluruh tubuh dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15 %. otitis media akuta. Namun anak akan terbangun dan sadar kembali setelah beberapa detik atau menit tanpa adanya kelainan neurologik. membagi kejang demam menjadi dua1 2 . meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia. asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme anerobik. furunkulosis dan lainlain. berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik. bronkitis. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah.4 Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia. kejang baru terjadi pada suhu 40 C.

interval antara 2 serangan kejang sifat kejang (fokal atau umum) Bentuk kejang (tonik. tonik-klonik) Kesadaran sebelum dan sesudah kejang (menyingkirkan diagnosis meningoensefalitis) - Riwayat demam ( sejak kapan. air dan elektrolit dan adanya lesi structural pada system saraf. anak sadar kembali di antara bangkitan kejang. lebih dari 15 menit Kejang fokal atau parsial satu sisi. atau kejang umum didahului dengan kejang parsial Kejang berulang 2 kali atau lebih dalam 24 jam. 1. klonik. perubahan akut pada keseimbangan homeostasis. menetap atau naik turun) 3 . 1. durasi. timbul mendadak atau perlahan. di antaranya: infeksi susunan saraf pusat. misalnya epilepsi.6 Diagnosis Diagnosis kejang demam dapat ditegakkan dengan menyingkirkan penyakit-penyakit lain yang dapat menyebabkan kejang. Anamnesis 2. pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang yang menyeluruh untuk menegakkan diagnosis ini. tonik-klonik tanpa gerakan fokal Tidak berulang dalam waktu 24 jam Kejang berlangsung lama. frekuensi. Diperlukan anamnesis. pemeriksaan fisik. Kejang demam kompleks (hanya dengan salah satu kriteria berikut) waktu terjadi kejang.1. Kejang demam sederhana (harus memenuhi semua kriteria berikut) Berlangsung singkat Umumnya serangan berhenti sendiri dalam waktu < 15 menit Bangkitan kejang tonik.

- Menentukan penyakit yang mendasari terjadinya demam (ISPA. GE) - Riwayat kejang sebelumnya (kejang disertai demam maupun tidak disertai demam atau epilepsi) - Riwayat gangguan neurologis (menyingkirkan diagnosis epilepsi) Riwayat keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan Trauma kepala 2. reaksi pupil terhadap cahaya negatif. yang biasanya menunjukkan adanya kelainan struktur otak. - Kesadaran tiba-tiba menurun sampai koma dan berlanjut dengan hipoventilasi. henti nafas. OMA. - Pada kepala apakah terdapat fraktur. perlu dicari luka atau bekas tusukan janin dikepala atau fontanel enterior yang disebabkan karena kesalahan penyuntikan obat anestesi pada ibu. Pada bayi yang lahir dengan kesadaran menurun. kejang tonik. - Pemeriksaan fisik Tanda vital terutama suhu Manifestasi kejang yang terjadi. posisi deserebrasi. 4 . - Transluminasi kepala yang positif dapat disebabkan oleh penimbunan cairan subdural atau kelainan bawaan seperti parensefali atau hidrosefalus. dan terdapatnya kuadriparesis flasid mencurigakan terjadinya perdarahan intraventikular. Ubun –ubun besar yang tegang dan membenjol menunjukkan adanya peninggian tekanan intrakranial yang dapat disebabkan oleh pendarahan sebarakhnoid atau subdural. depresi atau mulase kepala berlebihan yang disebabkan oleh trauma. misal : pada kejang multifokal yang berpindah-pindah atau kejang tonik.

IL-1 alfa & IL-6 pada CSS.6.- Pemeriksaan untuk menentukan penyakit yang mendasari terjadinya demam (ISPA.7 %. Bayi antara 12-18 bulan : dianjurkan 3. 3. Pemeriksaan penunjang1 a. Elektroensefalografi 5 . b. Bayi kurang dari 12 bulan : sangat dianjurkan dilakukan 2. Diare. hal lain yang dpt mengganggu keseimbangan elektrolit atau gula darah. - Pemeriksaan laboratorium Darah tepi lengkap Elektrolit. jika meningkat dapat dicurigai Ensefalitis akut / Ensefalopati. Bayi > 18 bulan : tidak rutin Bila yakin bukan meningitis secara klinis tidak perlu dilakukan pungsi lumbal. Risiko terjadinya meningitis bakterialis adalah 0. muntah. OMA. GE) - Pemeriksaan refleks patologis Pemeriksaan tanda rangsang meningeal (menyingkirkan diagnosis meningoensefalitis) 3.6 % . - Pemeriksaan fungsi hati dan ginjal untuk mendeteksi gangguan metabolisme - Kadar TNF alfa. glukosa darah. Pada bayi kecil sering manifestasi meningitis tidak jelas secara klinis. Pungsi lumbal Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan meningitis. oleh karena itu pungsi lumbal dianjurkan pada: 1.

Pencitraan Foto X-ray kepala dan neuropencitraan seperti Computed Tomography (CT) atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) jarang sekali dikerjakan. Pada kelompok ini gejala meningitis sering tidak khas dan gangguan neurologisnya kurang nyata. Kelainan neurologik fokal yang menetap (hemiparesis) 2. Apabila datang dalam 6 . 1. kejang sudah berhenti. ensefalitis. Baru setelah itu dipikirkan apakah kejang demam ini tergolong dalam kejang demam atau epilepsi yang dprovokasi oleh demam. Kelainan di dalam otak biasanya karena infeksi. harus dipikirkan apakah penyebab kejang itu di dalam atau diluar susunan saraf pusat. Papiledema 1. Menegakkan diagnosa meningitis tidak selalu mudah terutama pada bayi dan anak yang masih muda. abses otak. Oleh karena itu agar tidak terjadi kekhilafan yang berakibat fatal dapat dilakukan pemeriksaan cairan serebrospinal yang umumnya diambil melalui pungsi lumbal. seperti: 1.8 Penatalaksanaan4 Penatalaksanaan kejang demam meliputi penanganan pada saat kejang dan pencegahan kejang: a. Oleh karenanya tidak direkomendasikan Pemeriksaan EEG masih dapat dilakukan pada keadaan kejang demam yang tidak khas. tidak rutin dan atas indikasi. c.7 Diagnosis Banding4 Menghadapi seorang anak yang menderita demam dengan kejang.oleh sebab itu perlu waspada untuk menyingkirkan dahulu apakah ada kelainan organis di otak. misalnya meningitis. Parese nervus VI 3. atau memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada pasien kejang demam.Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) tidak dapat memprediksi berulangnya kejang. atau kejang demam fokal. Misalnya: kejang demam kompleks pada anak usia lebih dari 6 tahun.Penanganan Pada Saat Kejang Biasanya kejang demam berlangsung singkat dan pada saat datang ke tempat pelayanan kesehatan. dan lain-lain.

Bila kejang tetap belum berhenti diberikan fenithoin secara iv dengan loading dose 10-20 mg/kgbb/kali dengan kecepatan 1 mg/kgbb/menit atau kurang dari 50 mg/menit.1 KEJANG 1. Dan disini dapat dimulai pemberian diazepam intravena dengan dosis 0.5 mg/kgBB/kali secara perlahan dengan kecepatan 1-2 mg/menit atau dalam waktu 2 menit dengan dosis maksimal 20 mg.5 mg/kg atau Berat badan < 10 kg : 5 mg Berat badan > 10 kg : 10 mg Diazepam iv 0.1 mg/menit (3 . Kejang yang tetap belum berhenti dengan diazepam rektal dapat diulang lagi dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit. dianjurkan orang tua untuk segera ke rumah sakit. pemberian obat selanjutnya tergantung dari jenis kejang demamnya dan faktor resikonya apakah kejang demam sederhana atau kejang demam kompleks. 1996). Diazepam rektal 0.3 – 0. Obat yang praktis dan dapat diberikan kepada orang tua atau di rumah adalah diazepam rektal dengan dosis 0. Bila 2 kali dengan diazepam rektal masih kejang.5 mg/kgBB/kali.5 mg/kg KEJANG Diazepam rektal (5 menit) Di Rumah Sakit 2.0. Bila kejang telah berhenti.3-0.keadaan kejang obat yang paling cepat untuk menghentikan kejang adalah diazepam yang diberikan secara intravena dengan dosis 0.3 – 0. maka pasien harus dirawat di ruang intensif (Fukuyama Y dkk. selanjutnya diberikan dosis rumatan 4-8 mg/kgbb/hari (12 jam setelah pemberian loading dose).75 mg/kgBB/kali atau diazepam rektal 5 mg untuk anak berat badan di bawah 10 kg dan 10 mg untuk anak dengan berat badan diatas 10 kg.5 menit) (Depresi pernapasan dapat terjadi) 7 .5 mg untuk anak usia di atas 3 tahun. Bila kejang berhenti. Bila kejang belum berhenti. KEJANG Diazepam iv Kecepatan 0.5 .5 . Atau diazepam rectal dengan dosis 5 mg untuk anak di bawah 3 tahun atau dosis 7.

Asetaminofen dapat menyebabkan sindroma Reye terutama pada anak kurang dari 18 bulan.5 – 1 mg/kgBB/menit KEJANG Transfer ke ruang rawat intensif Jika kejang telah berhenti: Berikan dosis awal fenobarbital Neonatus : 30 mg IM 1 bln-1 thn : 50 mg IM >1 thn : 75 mg IM 4 jam kemudian Dosis: hari I dan II : fenobarbital 8-10 mg/kgbb/2 dosis hari berikutnya : fenobarbital 4-5 mg/kgbb/2 dosis b. karbamazepin. Dosis asetaminofen yang digunakan berkisar 10-15 mg/kgbb/kali diberikan 4 kali sehari dan tidak boleh diberikan lebih dari 5x per hari. Begitu pula dengan diazepam rektal dosis 0. Parasetamol 10 mg/kgbb sama efektifnya dengan ibuprofen 5 mg/kgbb dalam menurunkan suhu tubuh. Antikonvulsan Pemakaian diazepam oral dosis 0. Fenobarbital.1 d.3 mg/kgbb setiap 8 jam pada saat demam menurunkan resiko berulangnya kejang (1/3 s.5 mg/kgbb setiap 8 jam pada suhu > 38. iritabel. dan fenitoin pada saat demam tidak berguna untuk mencegah kejang demam. meskipun jarang. dan sedasi yang cukup berat pada 25-39% kasus.5 0C.KEJANG Fenitoin bolus iv 10-20 mg/kg Kecepatan 0.d 2/3 kasus).Pemberian obat rumat 8 .1 c. Turunkan Demam Antipiretik pada saat kejang dianjurkan walaupun tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi resiko terjadinya kejang demam. Dosis ibuprofen 5-10 mg/kgbb/kali diberikan 3-4x per hari. Dosis tersebut cukup tinggi dan menyebabkan ataksia.

Pencegahan kontinu diperuntukkan bagi kejang demam komplek.3 mg/kgbb/dosis per oral dan antipiretika. cerebral palsy. Faktor risiko berulangnya kejang demam adalah : 1. Pencegahan berkala diperuntukkan bagi kejang demam sederhana. Pengobatan rumat kejang demam diberikan sampai1 tahun bebas kejang.Kejang fokal . berupa asam valproat 15-40 mg/kgbb/hari per oral dibagi menjadi 2-3 dosis. . Temperatur yang rendah saat kejang 4. diberikan pada saat anak menderita penyakit yang disertai demam. Usia kurang dari 12 bulan 3. dan hidrosephalus.Pengobatan rumatan hanya diberikan bila kejang demam menunjukkan cirri sebagai berikut (salah satu): .adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang misalnya hemiparesis. kemudian dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan. Terapi rumat kejang demam dibedakan menjadi pencegahan berkala (intermitten) dan pencegahan kontinu.Pengobatan rumat dipertimbangkan apabila • Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam • Kejang demam terjadi pada bayi kurang 12 bulan • Kejang demam ≥ 4 kali per tahun Sebagian besar peneliti setuju bahwa kejang > 15 menit merupakan indikasi pengobatan rumat.9 Prognosis1 Kejang demam akan terjadi kembali pada sebagian kasus. Riwayat kejang demam dalam keluarga 2. Kelainan neurologis tidak nyata misalnya keterlambatan perkembangan ringan bukan merupakan indikasi. retardasi mental. Cepatnya kejang setelah demam 9 . 1. berupa diazepam 0. Kejang fokal atau fokal menjadi umum menunjukkan bahwa anak mempunyai fokus organik.kejang > 15 menit .

Kejadian kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan.tinggi.Bila seluruh faktor di atas ada.terus menerus. BAB II LAPORAN KASUS Identitas pasien Nama anak Jenis kelamin Umur Suku bangsa : A : Laki-laki : 1 tahun. Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada pasien yang sebelumnya normal.Demam sejak 4 jam sebelum masuk rumah sakit. Kemungkinan berulang paling besar pada tahun pertama.tidak menggigil.15 % kemungkinan berulang. kemungkinan berulang 80 %. dan kelainan ini biasanya terjadi pada kasus dengan kejang lama atau kejang berulang baik umum atau fokal. 2bulan : Minangkabau Anamnesis Diberikan Oleh : Ibu kandung pasien Keluhan Utama : Kejang berulang 2 jam sebelum masuk rumah sakit Riwayat Penyakit Sekarang : . tidak berkeringat 10 . Penelitian lain secara retrospektif melaporkan kelainan neurologis pada sebagian kecil kasus. Kematian karena kejang demam tidak pernah dilaporkan. sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut hanya 10 % .

Kejang berulang 2 jam yang lalu.riwayat trauma kepala tidak ada .buang air besar warna dan konsistensi biasa .jarak antar 1/2 jam.hidung. merokok (-).900 gram.muntah tidak ada . Riwayat Penyakit Dahulu : Tidak pernah kejang disertai atau tanpa demam sebelumnya Riwayat Penyakit Keluarga : ibu kandung pasien menderita kejang umur 2-10 tahun Riwayat Kehamilan • • • Pasien lahir cukup bulan.merupakan kejang pertama.anak sadar setelah kejang. kemudian di rujuk ke igd. sesak nafas tidak ada . .frekuensi 2x. Riwayat Makan Dan Minum • ASI: dari lahir sampai sekarang 11 .kejang seluruh tubuh dengan mata melihat ke atas.lama kejang 510 menit/kejang.batuk pilek tidak ada. Ibu pasien rutin memriksakan kehamilan kebidan Riwayat mengkonsumsi alkohol (-). lahir langsung menangis. jamu-jamuan (-).riwayat perdarahan kulit. obat-obatan (-).. di bidan anak kejang pertama kali. PB 49 cm.saluran cerna dan tempat lain tidak ada .sebelum ke rumah sakit anak dibawa ke bidan karena demam.buang air kecil jumlah dan warna biasa . Tidak ada riwayat demam selama kehamilan. secara spontan ditolong oleh bidan BBL 2.

BB/U: 89.Berat badan : 8.BB/TB: 90 % Kesan Kulit Leher KGB : Gizi baik : Teraba hangat : Kaku kuduk tidak ada : Tidak teraba pembesaran kelenjer getah bening 12 : Sadar : sakit sedang : 90/60 : 140 x : 38 ºC : 42 x / menit : Tidak ada : Tidak ada .Keadaan umun .Pernafasan .Kesadaran .Tinggi badan : 71cm .Ikterus .• • Susu formula : dari lahir sampai sekarang Nasi tim : >6 bulan Riwayat Imunisasi Imunisasi dasar lengkap sesuai umur Riwayat Tumbuh Kembang Perkembangan fisik dan mental normal PEMERIKSAAN FISIK .1 % .Edema .Nadi .2 kg .Tekanan darah .Sianosis .3% .TB/U: 99.Suhu .Anemis : Tidak ada : Tidak ada .

Kepala Rambut Mata : Bulat. lingkar kepala 43 cm (normocepal) : Hitam. faring hiperemis Gigi & Mulut : Mukosa gigi dan mulut basah Leher Dada. hepar dan lien tidak teraba Perk : Timpani Ausk : Bising usus (+) Normal Punggung : Tidak ditemukan kelainan 13 . tidak mudah dicabut : Konjungtiva tidak anemis. bising tidak ada Abdomen : Insp : Distensi tidak ada Palp : Supel. Paru : JVP 5-2 cm H2O : Insp : Normochest Palp : sulit dinilai Perk : Sonor Ausk : bronkoVesikuler. sklera tidak ikterik Pupil isokor. ronkhi tidak ada. reflek cahaya +/+ normal Telinga Hidung : Tidak ditemukan kelainan : Tidak ditemukan kelainan Tenggorokan : Tonsil T1–T1. wheezing tidak ada Cor : Insp : Iktus kordis tidak terlihat Palp : Iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V Perk : sulit dinilai Ausk : Irama teratur. Ø 2 mm. hiperemis.

9 Natrium Kalium Cl GDS DIAGNOSIS KERJA Kejang demam kompleks Tonsilofaringitis Akut : 134 : 4. perfusi bagus RF +/+.Alat Kelamin : Tidak ditemukan kelainan Anus Extremitas : Colok dubur tidak dilakukan : Akral hangat.5 : 100 : 113 Rencana Pemeriksaan -Lumbal pungsi TERAPI Non farmakologis farmakologis 14 ASI OD Nasi tim 3x/hari O2 1l/m . RP -/LABORATORIUM Darah Hb Leukosit : 11 g/dl : 10600 /mm³ Hitung jenis : 0/3/2/43/50/2 Hematokrit : 32.

Kejang tidak ada . sadar . ronkhi tidak ada. 50 mg IM Luminal 2x25 mg po Paracetamol 100 mg (T>38. Nadi Nafas Suhu Mata Thorak : 110 x/menit. bising tidak ada Pulmo vesikuler. perfusi baik Kesan : hemodinamik stabil Rencana: Lumbal pungsi : keluarga pasien menolak dilakukan lumbal pungsi 15 .- Luminal Inj.Batuk tidak ada . : 32 x/menit : 38 ºC : konjungtiva tidak anemis.5) FOLLOW UP 3 juni 2013 : S/ . wheezing tidak ada Abdomen Extremitas : Distensi tidak ada.Muntah tidak ada . bising usus (+) normal : Akral hangat.Sklera tidak ikterik : Cor irama teratur.Demam tidak ada .BAK warna dan jumla biasa .BAB belum ada O/ Sakit sedang.

Kejang bersifat umum. 16 . pasien mengalami kejang saat demam sebanyak 2 x dalam waktu 24 jam. dengan lama kejang ±5-10 menit. Hal ini sesuai dengan kriteria diagnosis kejang demam kompleks. Pasien juga tidak mempunyai riwayat kejang pada saat tidak demam.T/ : ASI OD Nasi tim 3x/hari Luminal 2x25 mg Paracetamol 3x80 mg (jika T > 38.5 C) BAB III DISKUSI Penegakan diagnosis kejang demam kompleks dilakukan berdasarkan anamnesis. Dari anamnesis didapatkan.Pasien sadar setelah kejang. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. untuk mensingkirkan diagnosis epilepsi.

Behrman. sehingga diberikan obat anti kejang rumatan fenobarbital 50 mg IM dilanjutkan fenobarbital dengan dosis 8-10 mg/kgbb/2 dosis. Jakarta: 2006. sehingga untuk mengatasi demamnya hanya diberikan obat penurun panas berupa parasetamol. Pusponegoro HD.. 18 edition. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Pasien masuk keruangan bangsal dalam keadaan tidak kejang lagi. Pada pasien ini dianjurkan pemeriksaan kadar elektrolit dalam darah untuk menyingkiran kemungkinan kejang akibat gangguan elektrolit. DAFTAR PUSTAKA 1. Jenson. Kliegman. Kejang demam: Buku Ajar Neurologi Anak. 3. 2006 : 1 – 14. EGC.. Nelson Ilmu Kesehatan Anak : Kejang Demam. Ilmu Kesehatan anak.1985 17 . Sofyan I. Jakarta. Soetomenggolo. 4. Pada pasien tidak diberikan antibiotik karena dicurigai penyebab demamnya adalah infeksi pada tonsil dan faring oleh virus. Widodo DP. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. refleks patologis menunjukkan penyebab kejang demam pada pasien tidak disebabkan oleh proses intrakranial walaupun hal ini harus dipastikan lebih lanjut dengan pemeriksaan pungsi lumbal. Unit Kerja Koordinasi Neurologi Ikatan Dokter Anak Indonesia. rangsang meningeal. Richard E. BP IDAI. Bagian ilmu kesehatan AnakFKUI. Tidak adanya kaku kuduk. Pemeriksaan pungsi lumbal juga dianjurkan pada pasien ini untuk memastikan tidak adanya penyebab intrakranial untuk terjadinya kejang. Taslim S. Hal B. Jakarta. Ismail S. Robert M. penyunting. Jakarta 2007.Dari pemeriksaam fisik didapatkan adanya hiperemis pada tonsil dan faring yang dicurigai sebagai penyebab kejang demam akibat tonsilifaringitis. 2.