You are on page 1of 10

Artikel asli PERBANDINGAN TEKNIK ENDOSCOPIC THIRD VENTRICULOSTOMY (ETV) DENGAN VENTRICULOPERITONEAL SHUNTING (VP shunting) PADA HIDROSEFALUS OBSTRUKTIF

: PERBAIKAN KLINIS DAN PERUBAHAN INTERLEUKIN-1β, INTERLEUKIN-6, DAN NEURAL GROWTH FACTOR CAIRAN SEREBROSPINALIS *Sri Maliawan, *Tjokorda Mahadewa, **Andi Asadul Islam, ***I Made Bakta *Sub Bag/SMF Bedah Saraf FK Unud/RSUP Sanglah-Denpasar ** Sub Bag/SMF Bedah Saraf FK Unhas/RSUD Wahidin Sudiro Husodo, Makasar *** Bag/SMF Ilmu Penyakit Dalam FK Unud/ RSUP Sanglah-Denpasar. ABSTRACT COMPARISON OF ENDOSCOPIC THIRD VENTRICULOSTOMY (ETV) AND VENTRICULOPERITONEAL SHUNTING (VP shunting) TECHNIQUES IN OBSTRUCTIVE HYDROCEPHALUS: THE SIGNIFICANCE OF CLINICAL FINDING AND CEREBROSPINAL FLUID INTERLEUKIN-1β, INTERLEUKIN-6, AND NEURAL GROWTH FACTOR The purpose of this study is to compare the efficacy of surgery techniques for obstructive hydrocephalus based on “clinical findings” and cerebrospinal fluid (CSF) IL-1 , IL-6 and NGF between ETV to VP shunting techniques. This was an experimental study, with the use of randomized pretest-posttest control group design. 40 patients with obstructive hydrocephalus, aged between 1-72 months fulfilled the research’s inclusion criteria. From the 40 patients, 20 patients (50%) were operated by ETV, the remains using VP shunting. The level of CSF IL-1 , IL-6 and NGF preoperative and postoperative were measured by ELISA. The results of the study revealed that the reducing level preoperative and 7 days postoperative of IL-1 with VP shunting technique was 4.49 ± 1.54 pg/ml, and with ETV technique the reducing level of IL-1 was 6.95 ± 3.54 pg/ml. There was a significant difference between those two IL-1 reducing levels with p<0.05. The study had shown there were reducing level of IL-6 with VP shunting technique 13.71 ± 8.94 pg/ ml and 25.61 ± 14.28 pg/ ml with ETV technique. The difference was statistically significant with p< 0.05. For The NGF levels in these two groups, there were a difference reduction of NGF between VP shunting technique 35.93 ± 20.68 pg/ml, and ETV 47.51 ± 23.20 pg/ ml. These differences were statistically significant with p<0.05. In this study those CSF IL-1 , IL-6, and NGF reduction with ETV technique were all statistically significant with p < 0.05 compared to VP shunting technique. Clinical outcomes such as diplopia (strabismus convergent), sunset phenomena, eyes opening,

Perbandingan Teknik Endoscopic Third Ventriculostomy (Etv) dengan Ventriculoperitoneal Shunting (Vp Shunting) pada Hidrosefalus Obstruktif: Perbaikan Klinis dan Perubahan Interleukin-1β, Interleukin-6, dan Neural Growth Factor Cairan Serebrospinalis Sri Maliawan, Tjokorda Mahadewa, Andi Asadul Islam, I Made Bakta

1

seperti. alat yang putus. sedangkan yang berumur di atas 2 tahun didapatkan perbaikan klinis 100 % dan perbaikan radiologis 73%. Kateter dilengkapi klep pengatur tekanan dan mengalirkan CSS satu arah yang kemudian diserap oleh peritonium dan masuk ke aliran darah.muscular spasticity and verbal response were evaluated within 6 months period postoperatively.4 Sedangkan di Indonesia 5. di Belanda dilaporkan terjadi kasus sekitar 0. sedangkan untuk penderita dengan usia di atas 2 tahun keberhasilannya mencapai 64 – 74%. VP shunting. dan infeksi.7 Komplikasi pada bulan pertama mencapai 25-50%. Keywords: ETV. letak alat tidak pas. Volume 9 Nomor 1 Bulan Januari 2008 .11-14 Pada infantil hidrosefalus keberhasilan mencapai 46%. akan sangat membebani keluarga penderita.8-10 Pada penderita HO yang berumur di bawah 2 tahun dengan ETV didapatkan perbaikan klinis 70% dan perbaikan radiologis 63%. biaya murah dan sederhana. biomarker. Keuntungan teknik ETV lainnya adalah sekali tindakan saja. Di Indonesia umumnya dan di Bali khususnya masalah utama adalah harga alat yang relatif mahal apalagi kalau terjadi penggantian waktu revisi. Revision of VP shunting group after 6 months.1. sehingga aliran CSS dibuat hampir mendekati aliran fisiologis menuju sistem penyerapan pada vili arakhnoid. berarti tidak memerlukan perawatan lebih lanjut.8 Setiap VP shunting memiliki kemungkinan risiko revisi sekitar 3 kali dalam 10 tahun pasca operasi. over shunting. The results of the study for those five parameters were significantly better in the ETV technique group compared to VP shunting technique with p < 0.6 mencapai 10 permil. Pada teknik ETV tidak ada alat yang dipasang. Teknik ETV hanya dilakukan pada hidrosefalus obstruktif (HO). were 40% while ETV none.2. Terapi definitif hidrosefalus gold standar adalah VP shunting menggunakan kateter silikon dipasang dari ventrikel otak ke peritonium. Bisa terjadi bermacam-macam komplikasi. IL-6. ETV technique had been proven.3 Prevalensi hidrosefalus di dunia cukup tinggi. and NGF. so that ETV technique should be considered as the first choice for obstructive hydrocephalus therapy. to have better results than VP shunting technique as far as clinical outcomes. setelah itu. under shunting. 2 J Peny Dalam. diskoneksi komponen alat.2 Hidrosefalus dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu hidrosefalus obstruktif (HO) dan hidrosefalus komunikan (HK).05. ETV had a lower revision rate and lower cost.4 Operasi dengan teknik ETV prinsipnya adalah pengaliran CSS dari dasar ventrikel III ke sisterna basalis yaitu ruang subarakhnoid di belakang sela tursika. and reduction of CSF IL-1 . erosi alat ke kulit atau organ perut. Para peneliti mendapatkan angka keberhasilan yang berbeda-beda dari 40 – 100%. in this study.65 permil pertahun dan di Amerika sekitar 2 permil pertahun.1. clinical outcomes PENDAHULUAN Hidrosefalus merupakan suatu kondisi dimana meningkatnya tekanan intrakranial akibat akumulasi cairan serebro spinalis (CSS) pada sistem ventrikel otak karena tidak seimbangnya produksi dan absorbsi CSS. pertahun 4-5% dan setiap komplikasi berarti harus dilakukan revisi. buntu di proksimal atau distal. perdarahan subdural.

Dilakukan di SMF Bedah Saraf RSUP Sanglah Denpasar. Sebanyak 40 orang penderita hidrosefalus obstruktif umur antara 1 – 72 bulan memenuhi kriteria inklusi penelitian.05. Andi Asadul Islam. bagaimana kadar sitokin proinflamasi (IL-1ß.6 Oleh karena itu bila dari kedua teknik ini tidak mendapatkan perhatian yang serius. dan IL-6 CSS dilakukan sebelum dan 7 hari pasca operasi sesuai prosedur standar. IL-6 dan NGF CSS akibat perlakuan teknik operasi VP shunting dan ETV. dilakukan analisis statistik.5. sunset phenomena. Il-6 dan NGF) CSS. respon motorik. IL-6 dan NGF CSS pada kelompok ETV dengan Perbandingan Teknik Endoscopic Third Ventriculostomy (Etv) dengan Ventriculoperitoneal Shunting (Vp Shunting) pada Hidrosefalus Obstruktif: Perbaikan Klinis dan Perubahan Interleukin-1β. Analisis perbedaan rata-rata antara hasil pengukuran IL-1β. analisis komparabilitas. Berdasarkan pemikiran tersebut maka peneliti berupaya untuk menentukan efektivitas kedua teknik tersebut. dan Neural Growth Factor Cairan Serebrospinalis Sri Maliawan. maka para klinikus sangat sulit untuk menentukan metode mana yang lebih aman digunakan pada penanggulangan penderita HO. Analisis equality of variance menggunakan Levene’s Test untuk Equality of Variance pada α = 0. Pemeriksaan NGF CSS dilakukan menggunakan prinsip tes capture ELISA yang dibeli dari R&D (USA). Pemeriksaan IL-1β.14.05). Interleukin-6. dan respon verbal. yang diberi skor. dan pada hari ke 7 sistem drainase sudah boleh dikatakan optimal. Dengan teknik ETV memungkinkan membuka sistim drainase dan kalau vili arakhnoid masih berfungsi memerlukan waktu antara 2-4 hari untuk kembalinya sistem drainage CSS yang fisiologis. Untuk menganalisis perbedaan penurunan kadar IL-1β. Pemeriksaan luaran klinis dilakukan sampai 6 bulan pasca operasi. Dari ke-40 orang penderita tersebut.sangat ideal untuk penderita di Indonesia.15 BAHAN DAN CARA Penelitian ini merupakan penelitian experimental dengan rancangan randomized pre test post test control group design. sedangkan sisanya 20 orang (50%) menggunakan teknik VP shunting. selama 1 tahun dari Januari 2007 sampai Desember 2007.12 Hari kedua sampai hari ke empat setelah ETV absorbsi CSS oleh vili arakhnoid sudah memadai. Tjokorda Mahadewa. Kondisi ini akan menurunkan pelepasan sitokin proinflamasi dan NGF CSS.05. I Made Bakta 3 . spastisitas otot. Besar sampel dihitung dengan rumus Pocock. uji normalitas menggunakan uji Shapiro Wilk pada α = 0. Penurunan NGF CSS ini dapat digunakan sebagai parameter pertumbuhan sel neuron otak. Di Rumah Sakit Sanglah Bali teknik ETV dilakukan pertama kali pada tanggal 7 Maret 2005 dan juga merupakan yang pertama di Indonesia. Pemeriksaan menggunakan teknik elaborasi ELISA menggunakan kit yang dibeli dari R&D (USA). dilakukan terhadap nilai pre-test kelompok ETV dan kelompok VP shunting menggunakan uji-t group (α = 0. Pemeriksaan berupa diplopia. sehingga teknik yang lebih efektif dapat digunakan pada penanggulangan penderita hidrosefalus obstruktif atau dapat digunakan sebagai gold standard penatalaksanaan hidrosefalus obstruktif. Untuk itu diperlukan data yang valid tentang bagaimana luaran klinik kedua tehnik tersebut. sebanyak 20 orang (50%) dioperasi menggunakan teknik ETV. Penderita hidrosefalus yang dioperasi dengan teknik ETV maupun VP shunting berakibat terjadi penurunan tekanan CSS dan mengalami reperfusi oksigen. membuka mata.

IL-6 Dan NGF CSS Rata-rata kadar IL-1 pra operasi VP shunting 17.40 ± 3.05). pra-operasi Rata-rata kadar IL-1beta (pg/ml) 20 15 10 5 0 VP Shunting Teknik operasi ETV 17. Kadar rerata IL-1β CSS pra dan paska operasi pada kelompok VP shunting dan ETV Rata-rata kadar IL-6 pra-operasi VP shunting 36.72 4 J Peny Dalam.28pg/ml (p<0. lebih rendah dibandingkan dengan kelompok ETV 25.54pg/ml (p<0.95 ± 3.61 pg/ml (p>0.52 pg/ml (p>0.5%) dan 21 perempuan.61 ± 14.5 pos-operasi 16.49 ± 1.85 ± 18.36 bulan dengan kisaran 1 – 36 bulan. Tabel 1.53 1 – 72 ETV 8.20 ± 17.50 ± 1.90 < 0. Volume 9 Nomor 1 Bulan Januari 2008 . HASIL P ENELITIAN Penurunan kadar IL-1ß. lebih rendah dibandingkan dengan kelompok ETV 6.10 ± 18.28 ± 18.30 ± 15.76 kg dan rerata Rasio Evan 64.46 Grafik 1.03.05 < 0.05). rerata berat badan 6.53 bulan dengan kisaran 1-72 bulan.5 %) 21 (52.6 ± 2. dan pada kelompok ETV adalah 8.76 64.87pg/ml dan pada ETV 16.20 ± 17.36 1 – 36 p < 0.85 ± 18.94 pg/ml.05 Semua kelompok VP -shunting 13. 11.53 pg/ml dan pada ETV 41.05 ± 15.09 1 .79 ± 3.41 ± 2.05 13.05). Rata-rata penurunan kadar IL1 pra-operasi dan paska operasi pada kelompok VP shunting 4. menggunakan uji Mann-Whitney atau u-test.6 ± 2.05. sedangkan pada kelompok ETV adalah 8 orang (40 %) dan 12 orang (60 %).5%) Rerata umur 11.25 ± 10. (52.05). Umur penderita hidrosefalus kelompok yang dioperasi dengan teknik VP shunting adalah 13.05 ± 15.36 60.15 68.54 pg/ml. Rata-rata penurunan kadar IL-6 pra-operasi dan paska operasi pada kelompok VP shunting 1371±8. Analisis perbedaan rata-rata data luaran klinis menggunakan uji nonparametrik karena besaran yang didapat berupa besaran skala ordinal.5 %) 6.09 bulan. Pasien berjenis kelamin laki-laki dan perempuan pada kelompok VP shunting adalah berturut-turut 11 orang (55 %) dan 9 orang (45%). dimana 19 bayi laki-laki (47.01 9.kelompok VP shunting yang ditentukan berdasarkan nilai post-test antara kedua kelompok tersebut dianalisis dengan uji-t dependent sample atau uji-t group (dua sampel bebas) pada tingkat kemaknaan α = 0.22 ± 11.25 ± 10.4 Jumlah sampel penelitian ini adalah 40 orang. Karakteristik penderita Karakteristik Umur (bulan) Kisaran (bulan) Jenis Kelamin: Laki-laki Perempuan Berat Badan (kg) Rasio Evan 19 (47.03 11 (55 %) 9 (45 %) 6.16 8 (40 %) 12 (60 %) 6.

Andi Asadul Islam.60pg/ml dan pada ETV 72. tetapi kalau sudah tejadi kematian sel yang permanen kortek serebri tipis maka pebaikan sel setelah shunt tidak sebaik shunt dini. terjadi aktivasi kaspase-1 menghasilkan prekursor IL-1ß yang sudah matang untuk disekresikan.64 Pos-operasi PEMBAHASAN 41. Selama inisiasi sintesis IL-1ß.93 ± 20.27 25 0 VP Shunting 24.68pg/ml.8.28 30 20 10 0 15. ada sebagian yang berpindah ke dalam sekresi khusus lisosom. Pada hidrosefalus berat dengan sublethal ischemia setelah shunt akan terjadi poliferasi astrosit dan pebaikan sel neuron.21 ± 16. Efflux ion kalium memberi sinyal untuk terjadinya influx ion kalsium. lebih rendah dibandingkan dengan kelompok ETV 47. sesuai dengan penelitian Tarnaris dan Watkins tahun 2006. Interleukin-6. IL-6. Walaupun kebanyakan prekursor IL-1ß berada di dalam sitosol. Peptida LL37 yang dilepaskan dari pengaktifan neutrofil dan sel epitel juga menstimulasi pelepasan pembentukan IL-1ß melalui reseptor P2X7.Pra-operasi 60 50 40 36. kejadian sebaliknya akan mengaktifkan fosfolipase. Tjokorda Mahadewa.03pg/ml (p>0. dan Hidrosefalus Pada hidosefalus berat dengan evan rasio > 60% dan sudah mendekati arrested hydocephalus terjadi kerusakan atau kematian neuron dan mikroglia yang banyak.51 ± 23.40 ± 26. maka inflamasi dan biomarker akan menurun.22 22.01). Rata-rata penurunan kadar NGF pra-operasi dan paska operasi pada kelompok VP shunting 35.05). Ini menunjukkan bahwa fosfolipase A2 yang bergantung pada kalsium diperlukan untuk pemrosesan kaspase-1 dalam lisosom.67 VP Sunting Teknik operasi ET V Grafik 2.89 ETV teknik operasi Grafik 3. Neural Growth Factor (NGF) CSS. Agonis toll-like receptor (TLRa) seperti endotoksin menginisiasi sintesis prekursor IL-1ß yang tidak aktif.11 Pada keadaan normal produksi IL-1ß adalah melalui siklus sekresi protein nonclassical. Kadar rerata NGF CSS pra dan paska operasi pada VP shunting dan ETV Interleukin-1β (IL-1β). I Made Bakta 5 . sedangkan rata-rata kadar NGF (pg/ml) Rata-rata kadar IL-6 (pg/ml) Perbandingan Teknik Endoscopic Third Ventriculostomy (Etv) dengan Ventriculoperitoneal Shunting (Vp Shunting) pada Hidrosefalus Obstruktif: Perbaikan Klinis dan Perubahan Interleukin-1β.21 72. dan Neural Growth Factor Cairan Serebrospinalis Sri Maliawan. Kadar rerata IL-6 CSS pra dan paska operasi pada VP shunting dan ETV Rata-rata kadar NGF pra-operasi VP shunting 72. pra-operasi 100 75 72.24 pos-operasi 50 36. Pada lisosom ini prekursor IL-1ß berkoloni dengan prokaspase-1. Langkah berikutnya adalah konversi prokaspase-1 yang tidak aktif menjadi kaspase-1 aktif melalui suatu kompleks protein yang disebut IL-1ß inflammasome.20pg/ml (p<0.

Kecendrungan yang serupa juga ditemukan pada sekresi IL-1β dan IL-6 paska operasi baik pada teknik VP shunting maupun ETV.53 pg/ml. IL-1. maka tinggi rendahnya kadar IL-1β. Telah dibuktikan pula bahwa semakin kronis hidrosepalus maka semakin tinggi kadar sitokin proinflamasi dan makin tinggi pula kadar NGF CSS.87 dan 36. dan NGF CSS sangat dipengaruhi oleh tingkat kronis hidrosefalus. nantinya sel-sel yang rusak ini akan dihancurkan oleh makrofag.8.61 pg/ml.20 pg/ml dapat menginduksi pembentukan IL-6 sebesar 22.1.12 pg/ml dapat 6 J Peny Dalam.46 ± 3. IL-6.16 Kosmann. Memperhatikan hal ini dalam penelitian ini didapatkan bahwa besarnya kadar IL-1β baik pada pra maupun paska operasi pada teknik VP shunting dan ETV dapat menstimuli terbentuknya sitokin proinflamasi IL-6.27 ± 7.64 ± 9. interleukin-8 (IL-8) dan TNF dapat menginduksi peningkatan pembentukan growth factor seperti NGF. interleukin-6 (IL-6). Pada dasarnya jumlah IL-1β di dalam otak adalah sedikit.70 pg/ml pada paska operasi menggunakan teknik VP shunting. 9. namun konsentrasinya meningkat apabila terjadi cedera iskemik.50 ± 1. Memperhatikan hal ini. Sebagai contoh pada penelitin ini ditemukan rata-rata kadar IL-1β sebesar 13. dan IL-8) berkisar antara 3800 – 7900 pg/ml dan akan menginduksi NGF (astrosit) sebesar 202 – 434 pg/ml.61 pg/ml.40 ± 3.16-18 Peneliti sebelumnya juga mendapatkan bahwa pada traumatic brain injury terjadi peningkatan IL-1β dibandingkan dengan keadaan normal yang dapat dideteksi pada CSS. yang melepaskan beberapa sitokin proinflamasi seperti interleukin-1 (IL-1). Kedua sitokin yang didapatkan ini selanjutnya menstimuli induksi terentuknya NGF CSS yang pada penelitian ini didapatkan sebesar 36. Volume 9 Nomor 1 Bulan Januari 2008 .12. Apabila terjadi gangguan pada masing-masing langkah ini misalnya pada kasus hidrosefalus dapat mengakibatkan peningkatan sekresi IL-1ß. interleukin-8 (IL-8) dan TNF .52 dan 41. Demikian juga hal yang serupa didapatkan pada teknik ETV paska operasi. Selanjutnya IL-6 dapat menginduksi terbentuknya NGF CSS. yaitu kadar IL-1β adalah 9.22 ± 11.fosfolipase C fosfatidilkolin diperlukan untuk pelepasan dan eksositosis lisosom. interleukin-6 (IL-6). Sementara pada penelitian ini didapatkan bahwa sekresi IL-1β dan IL-6 CSS pra-operasi pada teknik VP shunting masing-masing sebesar 17. Pada dasarnya penderita hidrosefalus selalu mengalami keadaan iskemia yang akan memicu pelepasan radikal bebas yang dapat merusak sel neuron dan neuroglia.12 Seperti telah diuraikan di atas bahwa sitokin proinflamasi seperti interleukin-1 (IL-1).01 ± 2. Adanya aktvitas lisosom merupakan tanda aktivasi makrofag. melaporkan bahwa pada iskemia kronis terjadi pelepasan sitokin (TNF . yang akan menginduksi peningkatan pembentukan growth factor seperti neural growth factor (NGF). dkk pada tahun 1997. dengan rata-rata kadar NGF CSS pada hidrosefalus (evan’s ratio 39-43%) adalah 225 pg/ml dibandingkan dengan 4 pg/ml pada orang normal. Sedangkan sekresi IL-1β dan IL-6 pra-operasi pada teknik ETV didapatkan masing-masing sebesar 16. IL-6.15 Pada anak yang menderita hidrosefalus. Hal ini mengimplikasikan bahwa memang benar adanya IL1β menstimuli terbentuknya IL-6.28 ± 18. NGF diekspresikan ke CSS oleh sel neuroglia akibat hipoksia yang disebabkan oleh kenaikan tekanan intrakranial kronis dan pada hidrosefalus terjadi kenaikan NGF 50 kali dibandingkan dengan pada orang normal.

prostaglandin.54 pg/ml dengan nilai p = 0. dan NGF CSS paska operasi pada kedua teknik VP shunting dan EV adalah berbeda secara bermakna dengan nilaip < 0.49 ± 1. Kemungkinan mekanisme stimuli IL-1β menghasilkan IL-6 yang diteruskan dengan stimuli induksi NGF adalah IL-1β dapat berperan sebagai aktivator sel-sel astroglial.05. berdasarkan uji beda mean menggunakan uji-t didapatkan pula bahwa penurunan kadar IL-1β.05. Interleukin-6. IL-6. Tjokorda Mahadewa. Sebagai contoh rata-rata penurunan kadar IL-1β CSS dengan teknik VP shunting didapatkan sebesar 4. dengan rincian seorang mengalami infeksi dan exposed. IL-6.menginduksi pembetukan IL-6 sebesar 15. dan seorang mengalami revisi disertai infeksi kulit. seorang mengalami proksimal buntu. Hal ini berimplikasi bahwa teknik operasi ETV untuk penanganan hidrosefalus obstruktif memberikan peningkatan penurunan biomarker yang lebih baik dibandingkan dengan teknik VP shunting yang juga berimplikasi pada perbaikan luaran klinis yang lebih baik. Selanjutnya IL-6 yang dihasilkan dapat menginduksi terbentuknya NGF CSS sampai dihasilkan tingkat NGF yang optimal serta aktivasi NGF dalam menjaga kelestarian sistem saraf pusat.95 ± 3. Selajutnya kedua sitokin ini dapat menginduksi NGF CSS sebanyak 24. Andi Asadul Islam. IL-6.05. Berdasarkan hasil analisis statistika uji-t didapatkan bahwa perbedaan data biomarker IL-1β. 4 orang mengalami kateter buntu. I Made Bakta 7 .15 Pada penelitian ini dari 20 orang sampel penderita hidrosefalus yang dioperasi dengan teknik VP shunting sebanyak 8 orang (40%) merupakan operasi ulang. Kemudian IL-1β juga dapat memicu produksi molekul adesi dan menginduksi produksi sitokin termasuk IL-6 dan TNF-α. dan NGF CSS antara teknik VP shunting dengan ETV adalah berbeda secara bermakna dengan nilai p < 0.67 ± 5. dan NGF CSS yang lebih tinggi pada teknik ETV.89 ± 4. dan NGF CSS pra-operasi pada kedua teknik VP shunting dan ETV adalah komparabel ditunjukkan dengan niai p > 0. Selanjutnya. dan NGF CSS dengan teknik ETV lebih tinggi dibandingkan teknik VP shunting.01. dan NGF CSS pada Teknik VP shunting dan ETV Pada penelitian ini didapatkan bahwa data kadar IL-1β. Kecendrungan terjadinya inflamasi ataupun infeksi pada operasi menggunakan teknik VP shunting dibandingkan dengan teknik ETV merupakan salah satu penyebab terjadi penurunan kadar IL-1β. IL-6.54 pg/ml bandingkan dengan teknik ETV rata-rata penurunannya mencapai 6. khususnya dengan menggunakan teknik ETV. Memahami anatomi membran Liliquest adalah sangat penting dalam menangani hidrosefalus. Ini berarti kedua teknik tersebut memang memberikan hasil analisis biomarker yang berbeda. di samping juga sebagai mediator stimuli inflamasi lainnya. matriks metalloproteinase.15 pg/ml. Data juga menunjukan bahwa rata-rata penurunan kadar IL-1β.16 Penurunan kadar IL-1β. nitrit oksida. IL-6. IL-6. seorang mengalami infeksi kateter peritoneal. Perbandingan Teknik Endoscopic Third Ventriculostomy (Etv) dengan Ventriculoperitoneal Shunting (Vp Shunting) pada Hidrosefalus Obstruktif: Perbaikan Klinis dan Perubahan Interleukin-1β. dan Neural Growth Factor Cairan Serebrospinalis Sri Maliawan. 14. siklooksigenase-2 (Cox-2).26 pg/ml. Demikian juga untuk rata-rata penurunan kadar IL-6 dan NGF CSS. Dengan teknik ETV diciptakan hubungan langsung antara ventrikel III dengan ruang subarakhnoid melalui sisterna interpenduncularis dan sisterna pre-pontin. dan kolagenase. Pengaliran pintas ini dapat mengalirkan CSS ke ruang subaraknoid menuju sitim penyerapannya. seperti fosfolipase A2.

16 Komplikasi Pada kontrol setelah 6 bulan. dengan kasus infeksi berkisar antara 1. Hal ini akibat dari teknik VP shunting selalu diikuti revisi sebagai konsekuensi dari tidak berfungsinya implan. respon motorik dan verbal enam bulan pasca operasi pada teknik VP shunting berbeda secara bermakna dibandingkan dengan teknik ETV. diplopia dan sunset phenomena memberikan hasil luaran klinis yang berbeda antara ke dua teknik operasi yang digunakan. enam bulan pasca-operasi dan untuk mendapatkan gambaran yang jelas juga dilakukan pengamatan saat praoperasi. bahkan pada 1 kasus dilakukan 3 kali revisi selama 6 bulan. Secara umum kegagalan VP shunting 31.5 – 38 % pasien.Miele. Hasil temuan dalam penelitian ini. spastisitas otot. 7. spastisitas otot. Tidak demikian halnya dengan luaran klinis: diplopia. Terjadi infeksi pada 3 kasus (15%). Hal ini terlihat dari hasil uji Mann Whitney untuk semua parameter luaran klinis tersebut memberikan nilai p > 0. Tidak ada revisi maupun infeksi pada ETV.5% setiap tahun. sunset phenomena. Disfungsi dapat terjadi pada distal. Volume 9 Nomor 1 Bulan Januari 2008 . ada revisi sebanyak 8 kasus (40%) pada kelompok VP shunting.05. Dilaporkan pula bahwa terjadinya infeksi tidak hanya disebabkan oleh adanya slang inflan yang dianggap sebagai benda asing oleh tubuh sehingga memicu munculnya respon terhadap benda inflan tersebut. strabismus (asotopia dan exotopia) sehingga untuk mengatasi hal ini sangat diperlukan peran serta akhli ophthalmologi.05 untuk kelima parameter tersebut. sunset phenomena.05. juga mendapatkan terjadi disfungsi atau malfungsi VP shunting. Didapatkan bahwa luaran klinis. diplopia. dan bahkan pada keduanya. ditunjukkan dengan nilai p < 0. hal ini adalah akibat terjadi abnormalitas ophthalmologic mencakup hyperopia. membuka mata. respon motorik dan verbal paska operasi pada teknik VP shunting dan ETV tidak memberikan perbedaan yang bermakna. Hal serupa juga dilaporkan bahwa terjadi infeksi akibat komplikasi ventrikel intrakranial pada operasi dengan teknik VP shunting. luaran klinik paska operasi baik dengan teknik VP shunting maupun ETV kesemuanya tidak memberikan perbedaan yang bermakna. Disamping juga kemungkinan adanya bakteri komensal yang menempel pada slang inflan yang akhirnya terjadi adesi bakteri terhadap lingkungannya sehingga menimbulkan kolonisasi bakteri yang pada akhirnya menstimuli infeksi. Teknik ETV memberikan luaran klinis yang lebih baik dibandingkan dengan teknik VP shunting utamanya untuk longterm outcome klinis. proksimal. 8 J Peny Dalam. Dilaporkan disfungsi berupa komplikasi abdominal distal mencapai 25%. Luaran klinis diplopia dan sunset phenomena atau secara umum dikatakan fungsi visual yang abnormal ditemukan pada kasus hidrosefalus yang telah mengalami operasi baik dengan teknik VP shunting dan ETV. dkk pada tahun 2004.10 Luaran Klinis Pada penelitian ini luaran klinis diamati dalam kurun waktu setelah operasi. Namun.3% pada tahun petama dan bertambah 4. Hal ini juga telah dibuktikan dalam penelitian ini. 6 bulan pasca operasi luaran klinis dengan teknik ETV didapatkan berbeda secara bermakna dengan VP shunting pada p < 0.

Perlu penelitian lebih lanjut tentang biomarkers lainnya dan jumlah sample yang lebih besar. Pediatr Neurosurg 1993. Hanlo PW. Andi Asadul Islam. Suny.I. Piatt JH Jr. dan pembahasan pada penelitian ini dapat disimpulkan: 1. Carlson CV. DAFTAR RUJUKAN 1. 2006. November 2007. 13th Interim Meeting/The 12th Asian. maka ETV harus dijadikan pilihan pertama pada penanganan hidrosefalus obstruksi. Drexel University College of Medicine 2003. Maliawan S. Gooskens. Perbandingan Teknik Endoscopic Third Ventriculostomy (Etv) dengan Ventriculoperitoneal Shunting (Vp Shunting) pada Hidrosefalus Obstruktif: Perbaikan Klinis dan Perubahan Interleukin-1β. World Federation of Neurosurgical Societies.05). Rata-rata penurunan kadar NGF CSS pada operasi HO dengan metode ETV lebih tinggi dibandingkan dengan metode VP shunting (p < 0. J Neurosurg 2007. 4.05). Rata-rata penurunan kadar IL-6 CSS pada operasi HO dengan metode ETV lebih tinggi dibandingkan dengan operasi VP shunting (p < 0. 3. Last Modified: 2003. A search for determinants of cerebrospinal fluid shunt survival: retrospective analysis of a 14 year institutional experience. Nusa Dua.KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian. 3. dan Neural Growth Factor Cairan Serebrospinalis Sri Maliawan. ΙL-6. Outcome in pediatric hydrocephalus: a comparison between previously used outcome measures and the hydrocephalus outcome questionnaire. Rata-rata penurunan kadar IL-1β CSS operasi HO dengan ETV lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata penurunan kadar IL-1β dengan teknik VP shunting (p < 0. Maliawan S. Endoscopic 3rd Ventriculostomy versus vp shunt in: annual scientific meeting of indonesian society of neurological surgeons in conjunction with the world federation of neurological societies (WFNS). NGF CSS yang lebih baik pada ETV dibandingkan VP shunting.107(1 Suppl Pediatrics):26-31. analisis. 5.19:233-42. Sampai saat ini saya telah mengerjakan 132 kasus ETV. Ucapan Terimakasih Terimakasih kepada Antonio Pieri (Pediatric Neurosurgeon) dari Italy yang dengan penuh dedikasi mensupervisi saya dalam penangan penderita ini menggunakan tehnik ETV. I Made Bakta 9 . Bali – Indonesia. juga kepada Idanna Pucci yang telah menyumbangkan alat endoskopi ke pada RSUP Sanglah sehingga penelitian ini bisa dilakukan. 2.05). 2. Mahadewa T. dan Mahadewa TG.05).March 26. Suny Upstete Medical University. Interleukin-6. 4. Piatt JH Jr. About Hydrocephalus: for parents and patients. Golden N. The clinical improvement between ventriculoperitoneal shunt and endoscopic third ventriculostomy. Tjokorda Mahadewa.Australian Congress of Neurological Surgeons. Platenkamp M. Rendahnya angka komplikasi dan adanya perbaikan klinis yang lebih baik dan penurunan kadar IL-1β. Asadul A. 6. Fischer K. Perbaikan luaran klinis pada operasi hidrosefalus obstruktif dengan metode ETV lebih baik dibandingkan dengan metode VP shunting (p < 0.

789:194-200. 14. Singh H. Changes in cerebrospinal fluid hydrodynamics following endoscopic third ventriculostomy for shuntdependent noncommmunicating hydrocephalus. Palfi S.105 (3 Suppl Pediatrics):21926. Singh A. 10 J Peny Dalam. Kossmann T. Heinz R. J Neurosurg 2006.7. Nishiyama K. Mori H. Neurol India 2003.98:1027-31. Res 1998. Stening W. Brain. 18. Wensheng Guo. J Neurosurg 2002.17: 280-9.51:39-42. et al. Ikarashi Y.88:496-505.. Florida D. Volume 9 Nomor 1 Bulan Januari 2008 . Gaab MR. Djindjian M. Sherman CS.104(3 Suppl Pediatrics):157-9. Van-Gelder J. Hård AL. Decq P. Le Guerinel C. A new device for endoscopic third ventriculostomy. Cerebrospinal Fluid Research. MorgantiKossmann MC. 17. Kumar S. Keravel Y. What We don’t (but should) know about hydrocephalus. J Neurosug 2007. 12. 13. Gupta V. J Neurosurg 2006. Schroeder HWS. 15. Van Nie FA. Takahashi A.107(6 Suppl. 16. Goyal A. Van-Aalst J. Lenzlinger PM. Vles JSH. Guenter S.. 11. Johnston M. Madsen JR. Sinha S. Pediatics):448-54. Kwok B. Persson EK. Teo C. J Neurosurg 2005. Andersson S. O’Brien DF. Singh D. 10. Endoscopic third ventriculostomy in obstructed hydrocephalus. Bergsneider M. J Neurosurg 1998. Rolf WD. Hellström A. NGF delays rather than prevents the cholinergic terminal damage and delayed neuronal death in the hippocampus after ischemia. Otmar T. McAllister II. Hayhurst C.I(Suppl I):S9.56:1271-8. Abnormal visual functions in children with hydrocephalus. 2004. Kranz D. Egnor MR. Mallucci CL. Tanaka R. Pizer B. Cornips EMJ. J Neurosurg 2003. Long term reliability of endoscopic third ventriculostomy. Uvebrant P. Outcomes in patients undergoing singletrajectory endoscopic third ventriculostomy and endoscopic biopsy for midline tumors presenting with obstructive hydrocephalus.96:597-9. 9. Beuls EAM. J Neurosurg 2000. Ishimaru H. Nyuyen JP. acute distortion of the anatomy of the third ventricle during third ventriculostomy report of four cases. Dutton G. A mathematical model of survival in a newly inserted venticular shunt. 93:509-12. Stahel PF. Vonau M. MaruyamaY. Journal of Cerebral Blood Flow and Metabolism1997. Interleukin-8 released into the cerebrospinal fluid after brain injury is associated with blood-brain barrier dysfunction and nerve growth factor production. technical note. Aring E. 8. Neuroendoscopic approach to intraventricular lesions.