You are on page 1of 98

PT PERTAMINA EP - PPGM

2.2. LINGKUP RONA LINGKUNGAN HIDUP AWAL Sesuai dengan hasil telaahan kaitan komponen kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak dan jenis-jenis dampak potensial yang ditimbulkannya, maka berikut ini adalah komponen lingkungan yang relevan untuk ditelaah dalam studi ANDAL. a) Komponen geo-fisik-kimia yang meliputi iklim dan kualitas udara ambien, kebisingan, kebauan dan getaran, fisiografi dan geologi, hidrologi dan kualitas air, hidrooceonografi, ruang, lahan dan tanah serta transportasi. b) Komponen biologi meliputi biota darat dan biota air. c) Komponen sosial ekonomi, budaya dan kesehatan masyarakat meliputi kependudukan, sosial-ekonomi, sosial-budaya dan kesehatan masyarakat. 2.2.1. Komponen Geo-Fisik-Kimia 2.2.1.1. Iklim, Kualitas Udara dan Kebisingan 1. Iklim Menurut klasifikasi ikllim Schmidt dan Ferguson, daerah Banggai bertipe iklim B, dengan nisbah rata-rata jumlah bulan kering dan rata-rata jumlah bulan basah (Q) adalah 5, atau termasuk wilayah cukup basah. Data curah hujan stasiun meterologi bandar Udara Bubung Luwuk selama pencatatan 16 tahun (tahun 1985 -2001) menunjukkan bahwa musim hujan berlangsung dari bulan Maret sampai Juli dengan jumlah curah hujan berkisar dari 115 mm pada bulan Mei sampai 169 pada bulan Juli. Musim kemarau berlangsung dari bulan Agustus sampai Februari, dengan curah hujan berkisar dari 41 mm pada bulan Oktober sampai 85 mm pada bulan Desember. Suhu udara rata-rata bulanan berkisar dari 25,9 C pada bulan Juli sampai 28,3 C pada bulan November. Suhu udara maksimum terendah 28,9 C pada bulan Juli dan yang tertinggi 30,0 C pada bulan Maret. Suhu udara berkisar dari 22,9 C pada bulan Juli sampai 24,5 C pada bulan Februari. Tabel 2.14. Data Iklim Wilayah Studi
Unsur Iklim Jan 81 Feb 81 Mar Apr 140 127 Mei 115 Bulan Jun Jul 130 169 Agt 78 Sep 45 Okt Nov Des 41 69 85 Setahun 1161 27,4 31,6 23,8 5,1
o o o o o o

1. Curah hujan (mm) 2. Suhu udara (o C)  Rata-rata 28,1  Maksimum 31,6  Minimum 24,2 3. Kelembaban Nisbi Udara (%) 77 4. Kecepatan angin rata-rata (knot) 4,5 (Sumber data: St. Meteorologi Bandara

28,1 27,1 27,7 27,2 26,6 25,9 26,0 27,0 28,1 28,3 28,1 31,6 32,0 30,8 30,2 29,6 28,9 29,1 30,2 30,9 31,7 31,6 24,3 24,1 24,2 23,9 23,4 22,9 23,0 23,2 23,7 24,0 24,2 78 79 80 80 81 81 78 74 73 75 78 4,6 4,6 4,3 5,1 5,6 6,0 6,5 6,5 5,5 4,4 4,1 Bubung Luwuk), 1985-2001

Keterangan : ٠ Curah hujan (rata-rata 1985-2001), ٠Suhu udara dan kelembaban nisbi udara (rata-rata 1996-2001), ٠Kecepatan angin (rata-rata 1996-2000)

KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok

II-74

PT PERTAMINA EP - PPGM

Wilayah studi merupakan daerah pesisir sehingga kelembaban nisbi udara cenderung tinggi. Kelembaban udara rata-rata bulanan ± 73 % pada bulan oktober yang bertepatan dengan musim kemarau sampai 81% pada bulan Juni dan Juli yang bertepatan dengan musim hujan. 2. Kualitas Udara, Kebisingan dan Getaran Hasil pengamatan sesaat di lokasi-lokasi sekitar rencana kegiatan secara kualitatif kondisi udara, tingkat kebisingan dan tingkat getaran masih sangat baik. Kualitas udara Gambaran umum tingkat kualitas udara di wilayah sekitar Proyek masih baik. Hal itu didasarkan atas data sekunder dari hasil pengukuran kualitas udara yang telah dilakukan sebelumnya di sekitar lokasi pemboran eksplorasi sumur Maleo Raja (MLR), Matindok (MTD), Donggi (DNG), dan Anoa Besar (ANB). disajikan pada Tabel 2.15 . Tabel 2.15. Jumlah dan Lokasi Pengambilan Sampel untuk Kualitas Udara, Kebisingan dan Kebauan No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.
Sumber : 1. 2. 3. UPL dan UKL Pemboran Eksplorasi Sumur Maleoraja-A dan Matindok-A, Banggai-Sulteng, 2003. UPL dan UKL Pemboran Delineasi Sumur Donggi-B, Banggai-Sulteng 2002. UPL dan UKL Pemboran Eksplorasi Sumur Anoa Besar-A, Banggai-Sulteng 2002.

Jumlah dan lokasi pengambilan sampel

Kode Sampel MLR-1 MLR-2 MLR-3 MTD-1 MTD-2 MTD-3 DNG-1 DNG-2 DNG-3 ANB-1 ANB-2 ANB-3

Desa / lokasi Tapak proyek Maleo raja Jalan masuk lokasi Maleo raja Permukiman penduduk desa Batui IV Tapak proyek Matindok Jalan masuk lokasi Matindok Permukiman penduduk desa SPA Ondo Ondolu Tapak proyek Donggi Jalan masuk lokasi Donggi Pasar Sindang sari Tapak proyek Anoa besar Permukiman penduduk desa Kamiwangi Jalan raya Anoa besar

KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok

II-75

PT PERTAMINA EP - PPGM

Parameter yang diteliti, cara pengambilan sampel, metode analisis setiap parameter telah sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, Keputusan Gubernur KDH Tingkat I Sulawesi Tengah No. 188.44/1443/Ro.BKLH tanggal 14 Maret 1990 dan mengacu pada Compendium Methods dari USEPA (United States Environmental Protection Agency) dengan nomor EPA/625/R-96/01, July 1999. Pengolahan data hasil analisis laboratorium, dilakukan dengan mengacu pada Kep.Ka.BAPEDAL No. Kep-107/KABAPEDAL/11/1997 tentang Pedoman Teknis Perhitungan dan Pelaporan Serta Informasi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) serta berpedoman pada National Ambient Air Quality Standards (NAAQS) yang ditentukan oleh USEPA. Hasil perhitungan ISPU dikonversi menjadi skala kualitas lingkungan atau Rona Lingkungan Awal. Konversi ISPU menjadi skala kualitas lingkungan disajikan pada Tabel 2.16. Skala Kualitas Lingkungan (SKL) secara seragam digunakan untuk perhitungan pada tahap prakiraan dampak rencana kegiatan terhadap lingkungan sekitarnya. Tabel 2.16. Konversi ISPU menjadi Skala Kualitas Lingkungan ISPU 1 – 50 51 – 100 101 – 199 200 – 299 > 300
Sumber: USEPA, 1999

Kategori Baik Sedang Tidak sehat Sangat tidak sehat Berbahaya

Skala Kualitas Lingkungan 5 4 3 2 1

Kategori Sangat baik Baik Buruk Sangat buruk Sangat buruk sekali

Rekapitulasi hasil analisis kualitas udara rona lingkungan awal berdasarkan data sekunder tersebut pada Tabel 2.15 di sekitar lokasi rencana kegiatan (sebanyak 12 lokasi), disajikan pada Tabel 2.17. Rekapitulasi hasil pengolahan data dengan besaran skala kualitas lingkungan rona awal, disajikan pada Tabel 2.18.

KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok

II-76

07 0. CO Nitrogen Dioksida.05 0. Banggai-Sulteng.BKLH Sumber : 1.018 91 5.12 18.67 6.07 0.00 4.76 3.20 6. 2003 UPL dan UKL Pemboran Delineasi Sumur Donggi-B.59 0.18 3.08 0.85 0.20 0.43 14.03 0.13 0.35 0.06 0.58 4.44/1443/Ro.06 0.03 124 Baku *) Mutu 260 2250 92.02 89 2.06 0. 2.63 14.07 0.028 124 2.40 8.29 8.88 12.10 0.02 112 3. Banggai-Sulteng 2002 UPL dan UKL Pemboran Eksplorasi Sumur Anoa Besar -A.53 15.87 0.03 92 5.26 15.04 87 1.02 85 2.10 3.10 0.14 13.048 0.45 3.15 0.02 86 2.61 3.73 0.09 0.KDH TK I Sulawesi Tengah No.03 0.10 0.02 83 2.025 84 2.50 3. SO 2 Karbon Monoksida.21 0.52 9.08 0.PPGM Tabel 2.09 0.05 0. 1 2 3 4 5 6 7 Parameter Sulfur Dioksida.42 3. O 3 Amoniak Hidrogen Sulfida Dust TSP MLR-1 MLR-2 MLR-3 MTD-1 MTD-2 MTD-3 DNG-1 DNG-2 DNG-3 ANB-1 1.06 0. Hasil Analisis Kualitas Udara dan Kebauan No.08 0.36 4.09 0.06 0.095 0. UPL dan UKL Pemboran Eksplorasi Sumur Maleoraja-A dan Matindok-A.10 19. Kep.045 0. 188.82 10.Gub.13 0. 3. NO 2 Oksidan.PT PERTAMINA EP .5 200 1360 42 260 *) Kep.01 95 ANB-2 ANB-3 2. Banggai-Sulteng 2002 KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-77 .31 0.08 0.17.

bangunan maupun nilai estetika Keterangan MLR-1 Tapak proyek maleo raja MLR-2 Jalan masuk lokasi maleo raja MLR-3 Permukiman penduduk desa Batui IV MTD-1 Tapak proyek matindok MTD-2 Jalan masuk lokasi matindok MTD-3 Permukiman penduduk desa SPA Ondo Ondolu DNG-1 Tapak proyek donggi DNG-2 Jalan masuk lokasi donggi DNG-3 Pasar sindang sari ANB-1 Tapak proyek anoa besar ANB-2 Permukiman penduduk desa kamiwangi ANB-3 Jalan raya anoa besar Sumber: Hasil analisis Data dari Tabel 2. Matindok (MTD). Gambaran umum tingkat kebisingan di daerah itu diambil dari data sekunder yang telah ada yang merupakan hasil pengukuran di sekitar lokasi sumur Maleoraja (MLR). dan Anoa Besar (ANB).BKLH tanggal 14 Maret 1990.44/1443/Ro. Kep-48/MENLH/11/ 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan dan mengacu pada Keputusan Gubernur KDH Tingkat I Sulawesi Tengah No.17 Dari hasil analisis kualitas udara dan kebisingan. Tingkat kebisingan suatu lokasi menunjukkan ukuran energi bunyi yang dinyatakan dalam satuan desibel atau disingkat dengan notasi dB. perhitungan dan evaluasi tingkat kebisingan berpedoman pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 188.PPGM Tabel 2. terlihat bahwa rona lingkungan awal kualitas udara dan kebauan di sekitar lokasi kegiatan tergolong sangat baik (SKL= 5).19 . Hasil Pengukuran Tingkat Kebisingan. Cara pengukuran. Rona Lingkungan Awal Kualitas Udara dan Kebauan di Sekitar Rencana Kegiatan Kode Lokasi SKL 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 Tingkat kualitas udara tidak berpengaruh pada kesehatan manusia maupun hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan.18. Kebisingan Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari suatu kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan pada kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan.PT PERTAMINA EP .17. Jumlah dan lokasi pengambilan sampel KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-78 . disajikan pada Tabel 2. Donggi (DNG). disajikan pada Tabel 2.

dengan kelerengan berkisar antara 5 o . Fisiografi dan Geologi Geomorfologi daerah penelitian secara umum merupakan daerah pantai dengan lebar pantai sekitar 100 m sampai 1 km. yaitu antara 3 .40o. Proses pelapukan dengan disertai erosi pada daerah ini cukup intensif.19.2. Berdasarkan data sekunder hasil pengukuran yang disajikan pada Tabel 2. Oleh karena itu kualitas lingkungan untuk semua lokasi = 5 atau kategori sangat baik. Banggai-Sulteng . 2002.1. Aliran sungainya ada yang bersifat perenial dan ada juga yang intermiten. UPL dan UKL Pemboran Eksplorasi Sumur Anoa Besar-A. UPL dan UKL Pemboran Eksplorasi Sumur Maleoraja-A dan Matindok-A. Pada sisi bagian barat dijumpai adanya rangkaian perbukitan yang membujur searah dengan garis pantai dengan ketinggian berkisar antara 50 sampai dengan 450 meter. Tabel 2.19 terlihat bahwa semua lokasi berada di bawah ambang batas baku tingkat kebisingan.PT PERTAMINA EP . 2003 2. 2. yang seluruhnya bermuara di Selat Peleng. Oleh karena itu. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-79 . UPL dan UKL Pemboran Delineasi Sumur Donggi-B. Ketebalan lapisan tanahnya cukup tebal. Banggai-Sulteng.4 meter. Hasil Pengukuran Tingkat Kebisingan Kode MLR-1 MLR-2 MLR-3 MTD-1 MTD-2 MTD-3 DNG-1 DNG-2 DNG-3 ANB-1 ANB-2 ANB-3 Sumber : Lokasi Tapak proyek maleo raja Jalan masuk lokasi maleo raja Permukiman penduduk desa Batui IV Tapak proyek matindok Jalan masuk lokasi matindok Permukiman penduduk desa SPA Ondo Ondolu Tapak proyek donggi Jalan masuk lokasi donggi Pasar sindang sari Tapak proyek anoa besar Permukiman penduduk desa kamiwangi Jalan raya anoa besar Tingkat Kebisingan (dB) 31-35 38-42 46-50 30-34 35-40 46-50 39-42 43-45 47-51 38-41 45-48 47-53 1. hasil pengukuran dibandingkan terhadap Baku Tingkat Kebisingan untuk Kawasan Permukiman dan Perumahan (55 dB) dan Ruang Terbuka Hijau (50 dB).PPGM Lokasi pengukuran tingkat kebisingan merupakan lingkungan kegiatan perumahan dan permukiman serta ruang terbuka hijau.2. Sistem aliran sungai yang berkembang disini adalah paralel. Banggai-Sulteng. 2002 3.

PT PERTAMINA EP . sedangkan lingkungan pengendapannya adalah outer neritic hingga upper bathyal. Terdiri atas batuan lepas yang berukuran lempung hingga kerakal dan ditemukan pula hasil endapan teras sungai yang banyak ditemui di Batui river basin . terdiri dari napal pasiran dan batupasir. Formasi Kintom. Ketinggian dari teras sungai adalah antara 10 – 30 meter. umur dari satuan ini adalah Kuarter (Holosen). Formasi ini melampar dari bagian utara sampai selatan dimana terkosentrasi pada bagian barat. dengan luas penyebaran adalah 20% dari daerah penelitian. Formasi ini melampar pada bagian utara kota Batui. terdiri dari batugamping terumbu dan sedikit napal. Formasi Kintom sering pula disebut dengan Formasi Batui. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-80 . Formasi Bongka terdiri atas konglomerat. Satuan Terumbu Koral Kuarter. maka umur Formasi Kintom adalah Miosen Akhir sampai Pliosen Awal. napal dan batugamping.PPGM Stratigrafi daerah Luwuk sampai Batui terdiri atas Formasi Bongka. dengan luas sekitar 40% dari daerah penelitian. Di daerah penelitian Formasi Bongka ini tersingkap di sebelah barat dari Kintom dan Mendono. dan melampar di sebagian besar dari daerah penelitian di sepanjang tepi pantai. Satuan ini hanya terdapat di sekitar muara-muara sungai seperti di Muara Sungai Kuala Batui di Batui. lanau. umur dari formasi ini adalah Miosen Akhir hingga Plistosen. Satuan Terumbu Koral Kuarter dan Satuan Aluvium. Batuan yang menyusun formasi ini sebagian besar adalah batugamping koral bersisipan napal dan sebagian batupasir Berdasarkan kandungan fosil yang ditemukan di “Matindok-1 well” yaitu Globigerinoides extremus. Formasi ini melampar di sebelah barat dari Formasi Bongka. batupasir. Satuan aluvium ini ditemukan pada daerah di dekat muara sungai dari Batui hingga Luwuk. hal ini mengindikasikan bahwa pengangkatan di daerah ini masih berlangsung.

dimana fragment dari Australia Utara . Satuan batuan di wilayah ini antara lain adalah satuan batupasir. Peta Geologi Daerah Batui Struktur geologi daerah penelitian cukup komplek.PPGM (Sumber: Baseline Study Proyek Pengemb. 1. 2007) Gambar 2. Struktur dari daerah Sulawesi Selatan didominasi oleh sesar naik dan sesar geser.21 ). Gas Matindok. satuan konglomerat.Irian Jaya. Sesar naik ini berarah timur laut – barat daya. namun ada beberapa ruas yang lokasinya sangat dekat dengan perbukitan. Sedangkan struktur geologi yang dijumpai pada rencana jalur pipa ini terdiri atas sesar-sesar minor (minor faults) yang secara umum berarah barat laut-tenggara dan Utara-Selatan. satuan batugamping-konglomerat karbonatan dan endapan pasir lempungan.PT PERTAMINA EP .21. Hal ini diakibatkan karena daerah ini merupakan zone kolosi antara microkontinen Banggai-Sula. dimana hal ini merupakan karakteristik daerah kolosi. dan Ophiolite Belt dari Sulawesi bagian timur. Kolosi menempati arah mengikuti perpindahan ke barat dari mikrocontinen Banggai-Sula sepanjang sesar transform Sula-Sorong. Sesar geser umumnya berarah barat laut-tenggara dengan panjang yang bervariasi (Gambar 2. Kondisi Geologi pada Jalur Pipa Secara umum rencana jalur pipa berada pada morfologi pantai dimana ketinggiannya tidak berbeda jauh dengan ketinggian muka air laut. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-81 .

Agihan litologi dan struktur geologi daerah penelitian selengkapnya disajikan pada Lampiran 5 . Pada satu meter bagian atas mengalami pelarutan yang paling tinggi. warna putih. Diantaranya tersusun oleh batugamping setebal 3 m. fragmen berukuran 1 – 20 cm terdiri dari koral (5 – 20 cm) dan fragmen batuan beku dan metamorf (2 mm – 1 cm). ukuran butir kerikil–kerakal.5 meter. tersusun oleh matrik dan fragmen dengan matrik dominan. fragmen berukuran 1 – 20 cm terdiri dari koral (5 -20 cm) dan fragmen batuan beku dan metamorf (2 mm – 1 cm). tersusun oleh batugamping warna putih. tersemenkan kuat (grainstone ). Sementara ke arah utara makin banyak dijumpai fosil jejak. Untuk mengurangi kerusakan akibat adanya gempa tersebut. Sedangkan pada km 50 jalur pipa akan melewati singkapan batugamping dengan warna lapuk abu-abu cerah. grainsupported . ukuran butir lempungpasir.5 meter. Selanjutnya jalur pipa di daerah Kasambang melewati singkapan batugamping konglomeratan setebal 5.80 meter di km 53 dengan sisipan paleosoil. Makin ke atas fragmen makin dominan dan berubah menjadi paleosoil. berukuran butir pasir terdiri dari material karbonat. + 700 m dari tugu km 42 ke arah Luwuk rencana jalur pipa melewati singkapan batugamping pada tebing setebal 12 -15 m. pelecypoda dan pecahan koral (rudstone ). rencana jalur pipa akan melewati singkapan dimana pada bagian atas merupakan tanah lapukan setebal 0. gastropoda. mengalami karstifikasi lanjut dengan tebal singkapan 8m. pembangunan jaringan pipa akan dilakukan pada struktur yang lentur sehingga dapat mengantisipasi adanya getaran yang ditimbulkan oleh gempa tersebut. fragmen dominan forambesar. Batugamping konglomeratan berwarna putih kecoklatan. ukuran butir pasir. ukuran butir 2 mm – 20 cm dan tersusun oleh tubuh utuh koral berbentuk bulat ( framestone ). Pada bagian bawah (+ 3 m) dan atas (9 m). kemudian pada bagian bawah batugamping konglomeratan dengan tebal 1. Pada barat jalan Batui . Sedangkan batupasir berwarna putih kecoklatan dan bersifat non karbonatan. ukuran butir kerikil – kerakal. berukuran butir pasir terdiri dari material karbonat. Paleosoil warna coklat kehitaman.5 meter.PT PERTAMINA EP .PPGM Di daerah Batui (km 57). Kondisi geologi regional daerah Batui dan sekitarnya (Lampiran 5) yang cukup kompleks ini menyebabkan sering terjadinya gempa bumi. tebal 30 cm. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-82 . warna putih kecoklatan.Kintom. kemudian batu pasir dengan tebal lebih dari 1. warna segar putih kecoklatan. tersusun oleh matrik dan fragmen dengan matrik dominan. ukuran butir 2 mm – 8 cm. Selain itu rencana peletakan pipa juga mempertimbangkan jalur sesar (faults) yang ada di wilayah itu.

Daerah rencana tapak LNG ini termasuk daerah yang rawan bencana tsunami. Rencana Lokasi Kilang di Kawasan Uso Terletak di sebelah barat jalan Batui-Luwuk (0464548. pada kedalaman ± 2. Dengan kondisi dan data tersebut dapat diperkirakan berapa beban konstruksi yang masih dapat diterima oleh batuan. Daerah ini cukup untuk pendirian lokasi LNG. Morfologi hampir sama dengan kondisi di Desa Solan yakni berupa dataran aluvial pantai lebar kurang lebih 750 m. dengan ukuran butir kerikil sampai kerakal. dan dijumpai muka air tanah sangat dangkal yakni sekitar 3. misal dengan menggunakan pondsi tapak ataupun pondasi rakit. Material penyusun bentuklahan ini pada umumnya terdiri dari pasir lempungan dengan warna coklat kehitaman.PT PERTAMINA EP . Berdasarkan pengamatan dari sumur penduduk. dan tidak mengandung gamping. ukuran butir lempung-pasir. Bangunan penahan pasang air laut ataupun tsunami perlu dibangun mengingat jarak lokasi ini dari pantai dekat dan seringnya timbul gempa di daerah ini. Ke arah pantai endapan berubah menjadi kerakal dengan komposisi rombakan batuan andesit. Geologi dan litologi yang berupa pasir kerikil agak kompak ini pada umumnya mempunyai nilai daya dukung berkisar antara 200-400 kg/m . serpentinit dan gabro. 2 KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-83 . Topografi datar. sehingga mengurangi resiko terlanda banjir dari sungai maupun dari pasang air dari laut.5 m dari permukaan tanah.PPGM 2. Kondisi Geologi pada Rencana Lokasi Kilang a. sehingga perlu diperhatikan tindakan preventif dan antipasinya. Hal ini untuk mengantisipasi adanya penurunan akibat pemadatan (compaction) dalam jangka panjang yang akan dapat menyebabkan terjadinya kerusakan serius atau mempengaruhi fungsi struktur. Ketinggian loksi berkisar 1 – 15 m dai permukaan laut. Perlu dipertimbangkan sistem pembangunan konstruksi pada daerah ini. 9874633).6 m dijumpai lapisan konglomerat. penimbunan tanah (land fill ) dapat dilakukan di daerah ini untuk meninggikan elevasi permukaan tanah. kuarsit. Dataran aluvial pantai ini tersusun atas endapan aluvial dan koluvial yang berasal dari daerah perbukitan di sebelah baratnya. dengan fragmen batuan penyusunnya berasal dari rombakan batuan beku dan metamorf. Mengingat daerah yang datar dan elevasi rendah.

3. grainstone . kemas tertutup. rounded . Konglomerat berwarna abu-abu putih. tersusun oleh massa dasar berukuran pasir dan fragmen > pasir (tersusun oleh koral yang dominan berbentuk nodular). struktur gradasi normal walau tidak tegas. memotong lapisan batupasir-konglomerat di bagian bawahnya. Selain itu dibeberapa tempat dapat teramati batugamping konglomeratan dengan warna coklat muda. Batugamping sudah mengalami karsifikasi intensif. Kolosi menempati arah mengikuti perpindahan ke barat dari o o o o KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-84 . ukuran butir matrik pasir dan fragmen 2. ukuran butir 2 mm – 10 cm. jumpai pula adanya kekar dengan arah 80 /195 dan 80 /46. Di sekitar tugu perbatasan Kintom-Batui (0458817. non karbonatan. Lebar dataran + 80 meter. Batugamping berupa packstone. ukuran pasir sedang-kasar. Perbukitan dengan tinggi 5 – 15 meter dan slope 20 – 30 o tersusun oleh lempung pasiran dengan fragmen batugamping berukuran 2 – 20cm. Gempa dan Tsunami Kondisi Geologi di daerah penelitian yang merupakan zone kolosi antara microkontinen Banggai-Sula. batuan beku dan karbonat/batugamping. Rencana Lokasi Kilang di Desa Padang Calon lokasi kilang ini di sekitar 200 meter ke arah barat dari tugu km 47 mengikuti aliran sungai (0456009. 9862435).Irian Jaya.PT PERTAMINA EP . 986249) berada pada teras sungai berupa endapan konglomerat – batupasir yang belum kompak. makin ke arah selatan lebar dataran < 80 meter. Selain itu pada daerah + 400 meter dari tugu km 47 ke arah utara dijumpai kontak morfologi dataran dengan perbukitan (0456369. Pada pantai endapan berubah menjadi endapan kerakal. struktur gradasi normal.9863580) pada tepi barat jalan BatuiLuwuk dijumpai singkapan batugamping warna putih.PPGM b. Pada dataran tersusun oleh endapan pasir warna coklat kehitaman berukuran dominan pasir sedang-kasar. dan rudstone atau framestone yang telah mengalami pelarutan intensif. dimana fragment dari Australia Utara .4 cm. tersusun oleh fragmen batuan beku dan metamorf. Strike/dip N 68 E/9 . tersusun atas kuarsit. dan Ophiolite Belt dari Sulawesi bagian timur. Pada tubuh sungai terdapat endapan berukuran kerakal. Distribusi keruangan formasi geologi daerah penelitian selengkapnya disajikan pada Peta Geologi Lampiran 5. Batupasir warna coklat. rounded .

memperlihatkan bahwa di sebelah tenggara Batui (Teluk Tolo) diperkirakan adanya sesar naik. 2007) Berdasarkan data tersebut maka di daerah penelitian dimungkinkan sering terjadi gempa tektonik. Peta Seismicity Sulawesi dari Tahun 1900 (Sumber: Baseline Study Proyek Pengemb. Data lain berdasarkan Peta Seismotektonik Indonesia yang dibuat pada tahun 1992. Hal itu dapat dilihat pada Gambar 2 . Gambar 2.22. dan juga pada kedalaman antara 70 – 150 km. yang memperlihatkan Peta Seismisitas dengan skala magnitud 5 dan terjadi sejak tahun 1900. yaitu di sekitar Pulau Banggai. dimana hal ini merupakan karakteristik daerah kolosi.PT PERTAMINA EP . yang termasuk dalam kategori gempa dangkal. Sesar naik ini berarah timur laut – barat daya.PPGM mikrocontinen Banggai-Sula sepanjang sesar transform Sula-Sorong. Struktur dari daerah Sulawesi Selatan didominasi oleh sesar naik dan sesar geser.tenggara dengan panjang yang bervariasi.22. Sesar naik ini dimungkinkan bila aktif akan dapat menimbulkan adanya KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-85 . Gas Matindok. Dari gambar tersebut memperlihatkan banyaknya episentrum gempa di sekitar daerah penelitian. Sesar geser umumnya berarah barat laut. Kedalaman episentrum gempa sebagian besar adalah pada kedalaman antara 0 – 33 km.

Kualitas dan Kuantitas Air 1.1. Wujud sumberdaya air tersebut adalah pada atau hamparan lahan sawah yang sangat luas dengan irigasi teknis di dataran dan pelelbaban di ketiga kecamatan tersebut.PT PERTAMINA EP . Oleh karena itu pemilihan lokasi perlu mempertimbangkan kemungkinan terjadinya gelombang tsunami ini. 2. Hidrologi Pada wilayah studi terdapat beberapa sungai besar yang mengalir sepanjang tahun berurutan dari barat daya ke timur laut yaitu S. Sistem drainase dan jaringan irigasi persawahan di Kecamatan batui dan Toili teratur dan tertata dengan baik. Semua sungai mengalir kea rah barat laut menuju muaranya di tenggara. Toili. gelombang terbesar bila terjadi tsunami arahnya pasti sejajar dengan pusat gempa. Hal ini dikarenakan. Namun melihat dari letaknya yang ada di sebelah selatan dari lokasi rencana kilang. Kintom. Kayowa/Matindok. Sinorang. S. Pusat gempa yang dimungkinkan terjadi (yang merupakan daerah sesar) letaknya ada di selatan lokasi rencana kilang dan berjarak dari Batui sekitar 30 – 50 km. S. Omolu. Kondisi umum yang akan mempengaruhi atau yang akan menjadi kendala dalam rencana pembangunan di tiga lokasi alternatif adalah ancaman bahaya yang datang dari berbagai arah. bahkan jaringan atau saluran-saluran irigai tersier dibangun sesuai dengan aturan irigasi teknis dan setengah teknis. Toili dan Toili Barat dapat diperoleh air bawah tanah yang cukup dengan kedalam aquifer diperkirakan tidak terlalu dalam (shallow groundwater). Selain sungai-sungai tersebut terdapat juga sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari sungai besar atau sungai sendiri yang bermuara langsung ke laut seperti S. Bangkiriang. Sedikit dijumpai rwa permanen kecuali rawa belakang (back swamp) di Suaka Margasatwa Bangkiriang. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-86 . S. S. S. Tangkiang dan S. Batui.3.2. S.PPGM tsunami. Pada perbukitan dan pegunungan diantara Kecamatan Batui. Hidrologi. maka bila terjadi tsunami maka arus atau gelombang yang sampai di lokasi rencana kilang tidak terlalu besar. Bakung.

dan anoa besar (ANB). 3. Banggai-Sulteng. 2003 UPL dan UKL Pemboran Delineasi Sumur Donggi-B.416 tahun 1990 untuk air minum. Kualitas air tanah Gambaran umum kualitas air tanah diketahui berdasarkan data sekunder hasil pengukuran terhadap kualitas air sumur penduduk. 3. matindok (MTD). 1. Pengambilan sampel air tanah dilakukan di sekitar lokasi pemboran eksplorasi sumur maleo raja (MLR). Kode Sampel BTI SPA SDS KMW-1 KMW-2 Desa/lokasi Air sumur penduduk desa Batui IV Air sumur penduduk desa SPA Ondo Ondolu Air sumur penduduk desa Sindang Sari Air sumur penduduk desa Kamiwangi 1 Air sumur penduduk desa Kamiwangi 2 Data sekunder hasil pengukuran disajikan pada Tabel 2. 5.21 . 2.20. 2. Lokasi pengambilan sampel sebanyak 5 titik. 4.PT PERTAMINA EP . Tabel 2. Sumber : 1. donggi (DNG). Lokasi Pengambilan Sampel untuk Kualitas Air Tanah No.PPGM 2. Kualitas air a. Banggai-Sulteng 2002. Banggai-Sulteng 2002 UPL dan UKL Pemboran Eksplorasi Sumur Anoa Besar-A. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-87 . UPL dan UKL Pemboran Eksplorasi Sumur Maleoraja-A dan Matindok-A. Cara pengukuran dan perhitungan dan pedoman kualitas air tanah mengacu pada Permenkes RI No.

002 <0. Banggai-Sulteng. TDS COD Suhu udara/air Amoniak Air raksa. Banggai-Sulteng 2002 Hasil analisis kualitas air sumur penduduk dibandingkan terhadap baku mutu air minum.001 <0.001 <0. Zn Sianida.001 0.001 <0.72 <0.001 <0.011 <0. MBAS Zat Organik (KMnO4) Minyak dan lemak 6+ Parameter BTI 1.001 0.022 <0. Cr Mangan.001 <0.001 0.001 <0.001 4.001 <0.001 <0. Hasil Analisis Kualitas Air Sumur Penduduk No.001 <0.80 30/26 <0.001 0.022 <0. H2 S Tembaga.001 <0.34 98 7.001 <0.001 0. dikonversi terhadap pedoman Skala Kualitas Lingkungan menurut Canter dan Hill (1979) yang selengkapnya disajikan pada Tabel 2.001 2. 2003 UPL dan UKL Pemboran Delineasi Sumur Donggi-B.001 <0.001 <0.75 94 6.39 109 6. 3.05 0.001 <0.001 <0.001 <0.28 90 10.001 7.001 <0.001 <0.001 <0.05 0.013 <0.001 KMW-2 3.013 <0. Cd Hexavalent Kromium.012 <0.001 0.032 <0.001 <0.5 0.012 <0. As Besi. Cu Timbal.45 <0.001 7.001 <0. Hg Arsen.22.001 <0.005 <0.001 <0.001 KMW-1 4. CN Hidrogen Sulfida.001 <0. Mn Nitrat (NO3 -N) Nitrit (NO2-N) pH Seng.001 <0.001 <0.29 28/26 0.21.12 <0.001 <0.001 0. UPL dan UKL Pemboran Eksplorasi Sumur Maleoraja-A dan Matindok-A.001 <0. 2.001 0.001 <0. Banggai-Sulteng 2002 UPL dan UKL Pemboran Eksplorasi Sumur Anoa Besar -A.001 <0. Pb Fenol Senyawa biru metilen.99 - SDS 2. F Cadmium.001 <0. Fe Fluorida.56 31/28 0.38 <0.001 7.014 <0.001 <0.05 0.02 <0.5 0.001 7.12 32/26 0.001 <0. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-88 .001 <0.PT PERTAMINA EP .001 7.001 <0.001 <0.005 0.001 0.001 6.10 0.022 <0. kemudian untuk mendapatkan Skala Kualitas Lingkungan.1 10 1 6.69 - SPA 2.05 1 0.001 <0.001 <0.5 5 0.028 <0.001 <0.001 0.001 <0.01 <0.001 <0.29 <0.001 <0.001 <0. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 BOD5 Zat padat terlarut.001 <0.001 <0.001 7.001 <0.05 10 - Satuan mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L Sumber: 1.26 140 12.62 0.001 <0.3 1.006 <0.PPGM Tabel 2.001 <0.5-8.001 <0.001 2.022 <0.57 31/28 0.001 <0.001 Baku Mutu 1000 3 0.

donggi (DNG). Lokasi pengambilan sampel sebanyak 6 titik. 188. UPL dan UKL Pemboran Eksplorasi Sumur Anoa Besar -A.BKLH tanggal 14 Maret 1990. Kode Sampel SKH-1 SKH-2 SBH-1 SBH-2 SSS SDG Desa / lokasi Sungai Kayowa Hulu Sungai Kayowa Hilir Sungai Boiton Hulu Sungai Boiton Hilir Sungai Sindang Sari Sungai Dongin Sumber: 1. 4.PT PERTAMINA EP . 42 Tahun 1996 tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi Kegiatan Minyak dan Gas serta Panas Bumi.23. 2003 2. 3. b. seperti disajikan pada Tabel 2. Kualitas Air Sungai Kualitas air sungai pada lokasi penelitian. Hasil analisis kualitas air tersebut selanjutnya dibandingkan dengan Kriteria Kualitas Air Sungai sesuai Keputusan Gubernur KDH Tingkat I Sulawesi Tengah No. UPL dan UKL Pemboran Eksplorasi Sumur Maleoraja-A dan Matindok-A. dan anoa besar (ANB). matindok (MTD). Pengukuran.LH No. perhitungan dan evaluasi kualitas air sungai yang telah dilakukan tersebut telah mengikuti pedoman Peraturan Pemerintah No.PPGM Tabel 2. 5. Rekapitulasi Skala Kualitas Lingkungan Air Sumur Penduduk Kode Lokasi Sampel BTI Air sumur penduduk desa Batui IV SPA SDS Air sumur penduduk desa SPA Ondo Ondolu Air sumur penduduk desa Sindang Sari Parameter yang BML melebihi BML Suhu 4 Suhu 3 Suhu 6 Suhu 3 SKL 4 5 4 5 5 KMW-1 Air sumur penduduk desa Kamiwangi 1 KMW-2 Air sumur penduduk desa Kamiwangi 2 Sumber: Analisis Data dari Tabel 2.22. 1. 2. diperoleh dari data sekunder hasil pengukuran kualitas air sungai di sekitar lokasi pemboran eksplorasi sumur Maleoraja (MLR). Banggai-Sulteng 2002 3. 6. Tabel 2. Banggai-Sulteng.44/ 1443/Ro. 20 tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air dan Kep.Men.23. UPL dan UKL Pemboran Delineasi Sumur Donggi-B. Lokasi Pengambilan Sampel untuk Kualitas Air Sungai No.21. Banggai-Sulteng 2002 KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-89 .

45 0.05 5 1.001 <0.014 <0.5 0. Tabel 2.88 SBH -1 SBH -2 SSS SDG Baku mutu 6 1500 50 0. Analog dengan perhitungan kualitas udara.24.80 106 9.15 0. Banggai-Sulteng.001 <0. Cd Hexavalent Kromium. Hasil Analisis Kualitas Air Sungai No.001 <0.032 <0.25 . F Cadmium. CN Hidrogen Sulfida. dan hasil selengkapnya disajikan pada Tabel 2. Pb Fenol Senyawa biru metilen.PPGM Hasil pengukuran disajikan pada Tabel 2. Untuk mendapatkan Skala Kualitas Lingkungan. Banggai-Sulteng 2002 UPL dan UKL Pemboran Eksplorasi Sumur Anoa Besar -A.024 0.008 7.018 0.254 0.269 0.01 0.001 <0.029 <0.77 SKH -2 2. 2.014 6. Mn Nitrat (NO3-N) Nitrit (NO2-N) pH Seng.001 0. 2003 UPL dan UKL Pemboran Delineasi Sumur Donggi-B. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 BOD 5 Zat padat terlarut.20 30/27 0. hanya dihitung skala kualitas lingkungan berdasar parameter yang tidak memenuhi baku mutu lingkungannya.002 0. 3.05 0.001 <0. Banggai-Sulteng 2002 KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-90 .001 0. Zn Sianida.001 0.042 <0.24 .048 <0.00 30/28 0.001 0.5 10 1 5-9 5 0.5 0.038 <0.31 0. dikonversi terhadap pedoman Skala Kualitas Lingkungan menurut Canter dan Hill (1979). Cr Mangan.022 <0. UPL dan UKL Pemboran Eksplorasi Sumur Maleoraja-A dan Matindok-A.001 0. Hg Arsen.001 <0.5 - Satuan mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L Sumber: 1.018 6.001 0.001 0. Fe Fluorida. As Besi. TDS COD Suhu udara/air Amoniak Air raksa. MBAS Zat Organik (KMnO4) Minyak dan lemak 6+ Parameter SKH -1 2.001 0. H2 S Tembaga.05 0.001 <0.51 0. Cu Timbal.04 106 8.011 7.05 1 0.001 <0.001 0.031 <0.PT PERTAMINA EP .

895. data debit yang dipantau secara periodik adalah Sungai Batui. lokasi = 5 atau kategori sangat baik. terlihat bahwa kualitas air di semua lokasi berada di bawah baku mutu lingkungan (BML) kualitas air sungai. adalah: Sungai Singkoyo (64 m /dtk). Direktorat Jendral Sumber Daya Air.25. Penentuan besarnya debit aliran sungai didasarkan pada hasil perhitungan persamaan garis lengkung (rating curve) Q = 50. Debit keseluruhan sungai-sungai tersebut diperkirakan sekitar 1. Kabupaten Palu tahun 1995-2004. Sungai Batui (85. Sungai Mendono (60 m 3/dtk). Rekapitulasi Skala Kualitas Lingkungan Air Sungai Kode Sampel SKH-1 SKH-2 SBH-1 SBH-2 SSS SDG Lokasi Sungai Kayowa Hulu Sungai Kayowa Hilir Sungai Boiton Hulu Sungai Boiton Hilir Sungai Sindang Sari Sungai Dongin Parameter yang melebihi BML BML SKL 5 5 5 5 5 5 Sumber: Hasil analisis Data Tabel 2. Sungai Mansahang (41 m /dtk).24 dan rekapitulasi skala kualitas lingkungan pada Tabel 2. diperlukan data ketersediaan debit air permukaan. Sungai Tangkiang (60 m3 /dtk). Oleh karena itu kualitas lingkungan untuk semua c.PT PERTAMINA EP . Dari hasil pengukuran tersebut pada Tabel 2. Luas daerah aliran sungai Batui sekitar 240 km .PPGM Tabel 2. Sungai Sinorang (24 m3 /dtk).25. 2006). beberapa sungai besar dengan data debit sesaat yang berada di wilayah penelitian.24.78 x 106 m3 /tahun.978(H-0.750 2 3 3 yang diperoleh dari perhitungan tinggi muka air dan debit sungai mulai dari hasil pencatatan debit 1990 sampai KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-91 . Dari sekian banyak sungai di daerah penelitian. dalam hal ini debit air sungai yang ada di daerah penelitian.010) 2. Sungai Toili (40 m 3/dtk).2 m 3/dtk). Kuantitas Air Sungai Terkait dengan kebutuhan akan air bersih untuk keperluan proyek pengembangan gas Matindok yang cukup besar. Dari data sekunder yang ada (BAPPEDA Kabupaten Banggai. Data yang digunakan berupa data sekunder hasil pengukuran dan pencatatan tinggi muka air sungai serta perhitungan yang dilakukan oleh Departemen Pekerjaaan Umum.

80 17.26.30 30.71 58.83 Sumber: Departemen Pekerjaaan Umum.60 23.00 11.093 m3 /hari.64 17.32 10.30 15.70 532. maka apabila pelaksanaan uji hidrostatik menggunakan air sungai sebesar 20.90 17.000 m3 .15 14.20 11.00 24.22 42.64 24.67 19.80 6.81 51.60 86.70 64.23 6.10 18.40 9.50 48.90 215.23 622.20 36. Kabupaten Palu tahun 1995 -2004 Dengan demikian dapat dikatagorikan bahwa kualitas lingkungan dari segi kuantitas air sungai adalah sangat baik.27 40.99 20.82 192.30 22.09 10.38 12.82 14.50 14.10 28.67 26.80 10.80 78.50 59.16 15.40 6.30 42.56 0.80 7.50 17.77 6.62 2. Apalagi apabila pelaksanaan uji hidrostatik dilakukan pada musim penghujan.43 73. Direktorat Jendral Sumber Daya Air.70 15.33 142.65 77.31 1999 5.78 13.72 3. maka tidak akan ada pengaruhnya terhadap penurunan debit sungai.55 50.82 20.26 menyajikan hasil perhitungan debit aliran Sungai Batui yang diukur dikampung Sambang 57 km dari kota Luwuk kejurusan Toili. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-92 .33 25.91 26.15 1.00 62.38 2. Tabel 2.84 2003 16.84 40.PT PERTAMINA EP .40 54. 122o 31’00’’BT.54 5.50 17.50 15.57 51.09 11.86 35.22 423.31 9.10 15.PPGM dengan 2004.94 2000 5.17 2.05 7.27 431. dimana saat itu kondisi debit sungai adalah mempunyai aliran stabil.56 7.70 87.58 35. Apabila diperhitungkan debit sungai Batui rata-rata harian maka akan diperoleh sebesar 94.40 16.45 14.30 21.19 9.34 1997 10.75 9.96 1998 5.60 69.1 44.24 13.55 2001 14.20 15.57 9.32 2004 41.30 31.97 1996 36.35 1.00 41.83 27.24 2002 7.50 26.27 9.76 20.72 191. Dengan melihat cadangan kuantitas (debit) air sungai tersebut.77 17.98 19.46 5.12 8.60 33. Kabupaten Banggai Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah Rt Hrn Debit aliran (m3/detik) 1995 25.72 11.60 33. Debit Harian Rata-rata Sungai Batui.64 44.60 36.34 3. Kebutuhan air untuk kegiatan uji hidrostatik diperkirakan sekitar sekitar 20. Tabel 2.20 10.32 3.79 55.57 122.40 29. Lokasi stasiun pencatat tinggi muka air otomatis (AWLR) tersebut terletak pada koordinat 01 014’29’’S.67 66.13 10.48 207.23 30.40 7.76 2.27 23.20 30.70 15.28 246.77 5.70 30.30 25.33 18.70 61.30 47.000 m 3 dan hanya sekali.17 57.30 25.60 7.

KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-93 . dan kilang LNG (75 m3 /hari). Batu Gamping dan Sedimen Napal. Daerah penelitian tersusun dari beberapa formasi batuan. Ketinggian lokasi pantai berkisar antara 1 sampai 5 m di atas muka air laut. Topografi garis pantai sepanjang lokasi studi secara umum dapat dikatakan landai. 2. potensi air tanah tahunan adalah sebesar 387 X 10 6 m3/tahun atau 1. maka kecil sekali pengaruhnya terhadap penurunan debit air tanah. kecuali di dua tanjung yaitu Tanjung Kanali dan Tanjung Uling yang berjarak kurang lebih 500 m sampai 1000 m. Kondisi Hidro-Oseanografi 1.1. yaitu: Formasi Batuan Volkanik Tua. operasional BS (25 m3/hari). Formasi-formasi tersebut mempunyai kemampuan untuk imbuh air tanah dari hujan yang terjadi dengan kecepatan yang berbeda.4. Di daerah Sekitar Tanjung Batui terdapat karang di beberapa tempat.2. namun tidak pada sepanjang garis pantai. Kuantitas Air Tanah Keberadaan air tanah suatu daerah sangat dipengaruhi oleh curah hujan dan karakteristik formasi geologi daerah yang bersangkutan. Di beberapa pantai dijumpai karang baik yang sudah mati maupun yang masih hidup. Berdasarkan data sekunder potensi air tanah dari Bappeda Kabupaten Banggai (2006).035 X 10 6 m3 /hari.PT PERTAMINA EP . Batimetri Kedalaman perairan di sekitar lokasi rencana kegiatan adalah 20 m dicapai pada jarak kurang lebih 50 m hingga 100 m dari garis pantai. Volkanik Recent. Dengan memperhatikan cadangan kuantitas (debit) air tanah tersebut. Jarak 100 m dari garis pantai kedalaman laut relatif curam dengan kedalaman mencapai 100 m. Jalan raya berjarak kurang lebih 200 sampai 500 m dari garis pantai. Debit air tanah tersebut termasuk dalam jumlah yang sangat besar di daerah tersebut.PPGM d. maka apabila digunakan untuk keperluan pemboran sumur (420 m 3 /sumur).

KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-94 . dengan konstanta pasang surut yang diperoleh dari pengukuran selama 15 hari sebagai berikut. Gas Matindok. Pasang surut Pasang surut di perairan pantai calon lokasi kilang dan dermaga mempunyai fase dan tinggi yang hampir sama.PPGM Gambar 2.PT PERTAMINA EP . Beda tinggi air pasang dan air surut berkisar antara 100-120 cm. 2007) 2. Peta Batimetri Wilayah Studi dan Calon Lokasi Rencana Pelabuhan (Sumber: Baseline Study Proyek Pengemb.23. Tipe pasang surut daerah tersebut adalah campuran condong ke harian ganda (mixed semi- diurnal) dengan dua kali pasang dan dua kali surut dalam satu hari.

31 158.98 252 (Sumber: Baseline Study Pproyek Pengemb.25 : semi diurnal : campur tetapi dominan semi diurnal : campur tetapi dominan diurnal : semi diurnal 0. 2007) Bilangan formal: untuk menentukan tipe pasang surut.732877  tipe campuran condong ke harian ganda (mixed semi-diurnal) M S 2 2 F < 0.42 141.714 94.76 240.4451 321.01 70.1493 2.1475 6.15 3.3342 156.95 355. Gas Matindok. Konstanta Pasut yang Diperoleh dari Pengukuran 15 hari No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Nama Konstanta ZO MSF O1 K1 M2 S2 M3 SK3 M4 MS4 S4 2MK5 2SK5 M6 2MS6 2SM6 3MK7 M8 Amplitudo (mm) 1635.3 226.84 180.166 343.09 131.9 39.704 20.679 7.26 36.09 91.27.50 < F < 3.3341 3.PPGM Tabel 2.6695 6.9445 4.PT PERTAMINA EP .00 F > 3.7501 12.25 < F < 1.2211 10.18 288.15 33.24 166.0581 Phase (derajat) 0 182. K O 1 1 F 0.50 1.21 306.00 Datum terhadap MSL (ZO) No 1 2 3 4 5 6 7 Nama HAT HHWL HWL MSL LWL LLWL LAT Elevasi 1008 1353 526 0 -878 -970 -1008 KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-95 .7391 6.6106 4.984 3.

Kecepatan angin maksimum harian berkisar antara 3 sampai 27 knot dengan arah dominan dari Selatan. Gas Matindok. Mawar angin berdasarkan pencatatan jam-jaman antara tahun 2000-2004 Stasiun Meteorologi Bandara Bubung seperti Gambar 2. Penggambaran Muka air Pasang Surut di Tanjung Kanali (Sumber: Baseline Study Proyek Pengemb. Studi gelombang Kondisi gelombang di lokasi studi relatif kecil dan sangat tenang. 2007) 3. kecepatan angin rata-rata harian 3-6 knot.5 m terjadi di sekitar sore hari.25 . Berdasarkan data angin dari bandara Bubung. Arah angin dominan sebagaimana dalam mawar angin tergambar utamanya dari selatan.1 m sampai 0. disusul dari timur dan kemudian tenggara.PPGM 1800 T inggi muk a air (mm) 1600 1400 1200 1000 800 10:30 manual 17:30 0:30 tide g 7:30 14:30 Waktu (jam) 21:30 4:30 11:30 Gambar 2. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-96 .24.PT PERTAMINA EP . Gelombang terlihat antara 0.

1991) untuk ketenangan kolam labuh (calmness of basin) untuk ukuran kapal sedang dan besar maka ketinggian gelombang kritis untuk cargo yang diizinkan adalah 0. Berdasarkan persyaratan (OCDI. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-97 . (Sumber: Baseline Study Proyek Pengemb. Gas Matindok.5 m. 2007) Mawar Angin Maksimum di Wilayah Studi Dari data angin dan data panjang seret gelombang (fecth) dari masing-masing arah dapat dihitung tinggi dan periode gelombang dengan menggunakan persamaan SMB seperti yang telah disebutkan di atas.PT PERTAMINA EP . Hasil hitungan data gelombang digambarkan dalam bentuk grafis berupa mawar gelombang seperti pada Gambar 2. Berdasarkan hasil hitungan tersebut gelombang maksimum yang terjadi sebesar 1.25.PPGM Gambar 2.26 . sehingga diperlukan bangunan pemecah gelombang. Gelombang tersebut terjadi pada saat angin musim Timur dan Tenggara atau terjadi pada bulan April sampai bulan Agustus.5 m.

Arus Data arus di daerah surf zone diambil di perairan pantai Sekitar Tanjung Batui. Gas Matindok.2d. Secara umum arus di daerah studi relatif kecil berkisar antara 0. Pada kedalaman tersebut.6d. Pengambilan arus pasang surut dilakukan di lokasi yang hampir sama dengan pengambilan lokasi arus di daerah surf zone. Pengukuran arus digunakan cara float tracking.26.9 m/det.PT PERTAMINA EP . 0.PPGM (Sumber: Baseline Study Proyek Pengemb. Mawar Gelombang Maksimum 4.27 .1 sampai 0. 2007) Gambar 2. Hasil pencatatan arus digambarkan dalam KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-98 . Sementara untuk peramalan arus di laut dalam (offshore zone) akibat pasang surut dilakukan pengukuran di 2 (dua) titik masing-masing pada kedalaman berbeda (0.8d) dengan interval pengambilan setiap 1 jam selama 25 jam. hanya pada kedalaman –20 m. 0. bentuk mawar arus seperti Gambar 2. gelombang belum pecah.

Gas Matindok. 2007) Gambar 2. Dari indikasi tersebut dapat dinyatakan bahwa lokasi studi sedikit mengalamai sedimentasi. kecuali daerah-daerah yang merupakan muara sungai.PT PERTAMINA EP . Mawar Arus Pasang Surut 5.27. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-99 . Diduga sedimen tersebut merupakan endapan dari sungai. Pada sedimen pantai terlihat adanya pasir halus yang mengandung lempung. Sedimen Melayang dan Sedimen Pantai Kondisi sedimen melayang di lokasi studi secara umum terlihat sangat jernih yang berarti tidak mengandung sedimen. Untuk daerah Sekitar Tanjung Batui dijumpai sedimen berupa pasir kasar.PPGM (Sumber: Baseline Study Proyek Pengemb.

2. dan sebagian kecil untuk cadangan pemanfaatan lain-lain. Batui dan Kintom termasuk dalam Wilayah Pengembangan Selatan ( Gambar 2. perkebunan rakyat. tanaman pangan. Penggunaan Lahan Pemanfaatan lahan yang telah ada di sekitar areal rencana kegiatan antara lain adalah jalan provinsi yang menghubungkan Luwuk dengan Baturube dan sekitarnya.28). transmigrasi. Sepanjang jalan tersebut terdapat konsentrasi permukiman penduduk. dimana ibukota Kecamatan Toili direncanakan akan menjadi Kota Pusat Kegiatan Lokal (KPKL).5. Banggai. permukiman. Lahan dan Tanah 1. setiap wilayah kecamatan lokasi proyek juga berbeda-beda (Gambar 2. Sementara itu bagian wilayah Kecamatan Batui yang menjadi lokasi tapak proyek pengembangan gas Matindok akan dimanfaatkan untuk hutan suaka (Suaka Margasatwa Bangkiriang). Di daerah sekitar lapangan pengambang terdapat daerah konservasi Suaka Margaasatwa Bangkiriang dan sebelah selatan berbatasan dengan perairan Selat Peleng. lokasi perusahaan. areal ex transmigrasi di Toili dan Toili Barat dan pertambangan migas yang dikelola oleh JOB – Medco E & P Tomori Sulawesi. menurut skenario moderat. permukiman dan sebagian kecil untuk cadangan pemanfaatan lain-lain. tanaman pangan. Ruang. pertanian. Tata Ruang Berdasarkan Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Banggai Tahun 2003-20013 (Bappeda Kab. tanaman pangan.1.PPGM 2. Pola pemanfaatan ruang.PT PERTAMINA EP . Di bagian wilayah wilayah Kecamatan Toili yang menjadi tapak proyek pengembangan gas Matindok akan dimanfaatkan untuk pengembangan lokasi perusahaan. kawasan lindung. ibukota Kecamatan Batui akan diakembangkan menjadi Kota Pusat Kegiatan Sub Wilayah (KPKSW). Di bagian wilayah Kecamatan Toili Barat yang menjadi tapak proyek pengembangan gas Matindok akan dimanfaatkan untuk pengembangan permukiman. dan ibukota Kecamatan Kintom akan dikembangkan menjadi Kota Pusat Kegiatan Khusus (KPKK). lokasi industri dan perkebunan. kawasan lindung.2. tanaman pangan.29) . Toili. 2003) menunjukkan bahwa wilayah rencana kegiatan yaitu Kecamatan Toili Barat. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-100 . Rencana struktur ruang wilayah untuk masing-masing ibukota kecamatan di wilayah kegiatan PPGM akan dikembangkan berbeda-beda. perkebunan besar.

Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten Banggai KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-101 .28.PT PERTAMINA EP .PPGM Gambar 2.

PPGM Gambar 2.PT PERTAMINA EP . Pola Pemanfaatan Ruang Skenario Moderat KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-102 .29.

21 Ha. dan di sebelah utaranya berupa perbukitan dan pegunungan dengan KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-103 . Kecamatan Toili dan Kecamatan Batui meliputi sebagian besar desa-desa di wilayah itu. rambutan dan tanaman industri seperti kelapa sawit. 3. sawah. Batui. perkebunan 4.373.871. Pertanian/Perkebunan Rakyat Kegiatan pertanian/perkebunan rakyat yang diusahakan masyarakat sekitar rencana kegiatan berupa tanaman semusim seperti padi sawah dan palawija. permukiman 1. Apabila tanaman cokelat atau tanaman kelapa sudah tidak produktif akan diremajakan lagi. jambu. hutan 17.. tanaman jagung.895. Toili. beting karang 291. luas masing-masing jenis penggunaan lahan adalah: belukar 1.196.50 Ha. Penduduk di sekitar rencana kegiatan. nangka.02. Lahan hail pembukaan tersebut umumnya digunakan untuk penanaman padi ladang sampai 2 kali tanam. tanaman buah-buahan di pekarangan seperti kelapa.87 Ha dan hutan suaka 271. Topografi dan Jenis Tanah Topografi di wilayah rencana kegiatan pada umumnya adalah dataran yang terletak membujur dari barat daya ke timur laut di bagian selatan areal rencana kegiatan dengan lereng datar (0-3%).094.385. tanaman cokelat dan kelapa. Selain coklat dan kelapa yang cukup dominan.PPGM Permukiman Permukiman penduduk terdekat atau yang terkait langsung dengan rencana lokasi kegiatan yaitu: a) Sumur-sumur produksi dan GPF terletak di Kecamatan Toili Barat. tegalan/ladang 7.65.908. b) Pemasangan saluran gas GPF ke Junction di Senoro selanjutnya disalurkan ke konsumen dan Kilang LNG dan pengangkutan kondensat dari BS ke Bajo melewati sebagian besar wilayah desa-dea di Kecamatan Toili Barat. pisang mangga. 8. tanaman cokelat dan kelapa. c) Pembangunan kilang LNG terletak di sekitar Uso (Kecamatan Batui) atau di sekitar Padang (Kecamatan Kintom). Dari uraian di atas dan Peta Penggunaan Lahan Daerah Penelitian (lihat Lampiran 5). juga kelapa sawit mulai diusahakan oleh sebagin masyarakat yang mempunyai permodalan cukup memadai.29 Ha. sawah tadah hujan 1.PT PERTAMINA EP .57 Ha. Pada lahan-lahan yang jauh dari permukiman.36.54 Ha. umumnya bertempat tinggal di sekitar jalan provinsi yang menghubungkan Luwuk – Baturube. umumnya pola tanam berupa perladangan yang dimulai dengan tebang-bakar tetapi cenderung tidak berpindah.

14%) dan yang tidak dirinci sebesar 50%. Menurut sistem klasifiksi Puslitanak (1983) tanah di wilayah studi terdiri dari renzina. Apabila dilihat dari arah tenggara ke barat laut maka secara berurutan topografi areal rencana kegiatan dari dataran. Kambisol eutrik dapat dijumpai pada wilayah yang lebih landai atau kaki bukit hingga datara dengan ciri tanah yang bau berkembang (horizonisasi belum berkmbang jelas).2. aspal (15.41% dari total kendaraan yang ada di wilayah Kabupaten Banggai merupakan kendaraan dari wilayah Kecamatan Luwuk. Aluvial eutrik dominan berada pada dataran pelembahan dengan lapisan-lapisan tanah yang diendapkan pada waktu berbeda dan bertekstur dari halus hingga agak kasar.99%). Grumusol tersebar pada lahan yang datar dengan warna tanah kelabu. Sekitar 70. tanah (10. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-104 . Jenis kendaraan bermotor yang dominan beroperasi adalah bus. Hal ini dapat dipahami mengingat Kecamatan Luwuk sebagai pusat pemerintahan dan kegiatan perekonomian. sehingga keberadaan sarana prasarana penunjang termasuk kendaraan bermotor juga tersentral di Luwuk. dengan permukaan jalan berupa kerikil (23. Selain itu salah satu prasarana transportasi yang sangat penting adalah sarana jalan yang merupakan pendukung kelancaran transportasi antara daerah satu dengan lainnya. Transportasi Sarana prasarana transportasi merupakan unsur yang sangat penting bagi kelancaran arus lalulintas barang dan jasa serta pertumbuhan perekonomian suatu wilayah. Sementara itu banyaknya kendaraan bermotor di wilayah Kabupaten Banggai adalah sebagai berikut. aluvial eutrik. agak curam dan curam.6. kambisol eutrik.PT PERTAMINA EP . grumusol dan regosol.208. Total panjang jalan di wilayah Kabupaten Banggai adalah 3.86%). Renzina dan litosol dapat ditemui di wilayah perbukitan dan pegunungan dengan ciri lapisan atau ketebalan tanah sangat dangkal (kurang dari 20 cm) dan langsung menempel di atas batuan induk.PPGM lereng agak curam (15-40%) hingga sangat curam (>40%). diikuti Toili dan Bualemo. truk dan pick up.1.20 km. Regoso di wilayah rencana studi hanya dijumpai di daerah pantai yaitu beting pantaiseperti di Kampung Nonong. litosol. bertekstur liat berat atau sangat ekat pada saat basah (musim hujan) dan merekah saat kering (musim kemarau). bertekstur sedang. 2. perbukitan dan pegunungan atau dari datar. Luwuk merupakan kecamatan yang mempunyai jalan terpanjang.

). Jenis-jenis flora yang terindentifikasi pada proses pelingkupan antara lain: (HL) Mangrove. jambu air (Eugenis sp. Hutan Produksi yang dapat Dikonservasi (HPK). medang ( Cinnamomun sp. b) Flora yang dijumpai hutan pantai. pohon jati (Tectona grandis ). hutan alam sekunder. kolaka (Parinarium sp. petai. HL Mangrove maupun kawasan pelindungan setempat. termasuk kawasan permukiman. akasia (Acasia decurens ) dan albasia ( Albazia sp.). bintangur ( Callophylum sp. bintangur (Calophyllum sp. misalnya ketapang ( Terminalia sp. Ceriops sp.. Hutan Lindung pantai. kebun campur. palem kambuno ( Palmaceae).1. bakau ( Rhizophora sp.). tegalan/ladang dan pekarangan). jambu biji (Psidium guajava ). dan semak belukar. uru (Elmerillia sp. palapi ( Heritiera sp. (Palaguium sp.). dan kawasan perlindungan setempat berupa kawasan lindung sempadan sungai dan sempadan a) Flora di hutan alam pegunungan rendah yang masih tersisa yang dijumpai sekitar sumur Sukamaju antara lain kayu hitam ( Diospyros sp. Hutan Produksi Terbatas (HPT). kelapa sawit (Elaeis gueinenis). kelapa ( Cocos nucifera). Komponen Biologi 2.)..2. Pandan (Pandanus sp).) api-api (Sonneratia sp. rambutan ( Nephellium lappaceum). kangkung darat (Ipomoea sp.2. dama-dama atau kenari ( Canarium sp.).). kakao (Theobroma cacao ). hutan pantai. jambu-jambuan (Eugenia sp.).).PT PERTAMINA EP . vegetasi budidaya (sawah. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-105 . padi (Oryza sativa).). bambu berbagai jenis (bambuceae). HSM Bangkiriang di areal rencana kegiatan didominasi oleh semak belukar dan perkebunan kelapa sawit.). meskipun statusnya sebagai HSM Bangkiriang. damar (Agathis sp.2.) dan kayu ara ( Ficus sp.). mangga (Mangifera sp.).). jagung. durian (Durio Bruguiera sp.) dan Lei zibethinus ). kayu pasokan ( Shorea sp.). hampir seluruhnya dapat dijumpai di setiap fungsi kawasan. wilayah sekitar areal rencana kegiatan terdiri atas Areal Penggunaan Lain (APL).PPGM 2. c) Flora hasil budidaya yang dijumpai antara lain karet ( Hevea brasiliensis). Hutan Suaka Margasatwa (HSM). pisang (Musa sp).). johar (Cassia siamea). Biota Darat 1. singkong (Manihot utilissima ).). Tipe komunitas vegetasi di areal sekitar rencana kegiatan terdiri atas vegetasi hutan alam primer. nangka (Artocarpus integra ). Vegetasi Berdasrkan fungsi kawasan.2. Tipe-tipe komunitas vegetasi tersebut.

nuri kepala biru (Trichoglossus ornatus). maka mereka tidak dapat mengetahui dengan jelas apakah yang mereka jumpai juga termasuk babirusa (Babyroussa ) atau bukan. anoa (Bubalus sp) dan monyet hitam (Macaca tonkeana ).) dan kodok (Bufo sp. tekukur ( Streptopelia chinensis). Kawasan HSM Bangkiriang merupakan habitat jenis satwa endemik Sulawesi dan statusnya dilindungi misalnya burung maleo (Macrocephalon maleo). berbagai jenis raja udang (Alcedinidae). tikus sawah (Rattus argentiventer) dan babi hutan ( Sus celebensis).PT PERTAMINA EP . Menurut penduduk setempat satwa liar yang sering dianggap sebagai hama adalah burung pipit. Imperata cylindrica. Colubridae). musang abuabu ( Viverra sp. Mimosa pudica. Marsilea crenata kirinyuh (Euphatorium sp). kutilang (Pycnonotus sp. kadal ( Mabouya multifasciata). sendusuk ( Melastoma sp).). harendong (Clidemia hirta).). Satwa liar yang paling melimpah adalah babi hutan Sulawesi (Sus celebensis). srigunting (Dicrurus sp . 2.). rusa (Cervus sp. Satwa liar Keanekaragaman jenis dan kelimpahan satwa liar di sekitar rencana kegiatan tergantung dari tipe vegetasi dan kualitas habitatnya. elang cokelat (Elanus sp.). mereka pernah menjumpai hewan mamal seperti kus kus Sulawesi (Phalanger sp. belibis hutan (Anas gibberifrons). KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-106 . Adapun satwa liar burung (Anggota Kelas Aves) yang umum dijumpai di berbagai tipe vegetasi antara lian adalah allo/rangkong (Rhycticeros sp. dan berbagai jenis rerumputan (Graminae). Jenis herpertofauna yang dijumpai antara lain adalah biawak (Varanus sp. Satwa liar Herpetofauna (Anggota Kelas Reptilia dan Amphibia) lebih umum dijumpai di dataran banjir sungai. ayam hutan ( Gallus varius) dan burung gereja ( Passer montanus). burung gagak (Corvus sp. kepodang ( Oriolus chinensis). katak pohon (Rhacophorus sp.).).) musang cokelat ( Macrogalidia sp. Kyllinga monocephala.). pecuk ular (Anhinga melanogaster ).). Tridax procumbens. menurut penuturan penduduk yang sering memasuki wilayah hutan. berbagai jenis ular (Fam. bangau putih (Egretta sp.).).PPGM d) Flora yang dijumpai di semak belukar antara lain turi (Sesbania grandiflora ).). Walaupun keberadaannya sudah jarang ditemukan. katak (Rana sp. Karena jenis hewan itu aktif malam hari.). elang laut (Haliastur indus ).

teri. Pengamatan dari hasil penangkapan dengan jaring tarik (dilakukan oleh 6 orang) menunjukkan berbagai jenis pelagis di perairan dekat Kayowa antara lain ikan selar.2.2. Jumlah Penduduk Menurut Rasio dan Jenis Kelamin di Wilayah Studi Tahun 2004 Kecamatan 1.96 994.3. 2.2. Hal ini dapat dipahami mengingat kecamatan ini merupakan pusat aktivitas pertanian yang berkembang pesat sehingga banyak penduduk yang menetap di wilayah ini.350 24.491 12.661 jiwa. Jenis biota air lain yang sering ditangkap antara lain kerang.106 12.147 149. Gambaran lebih lengkap tentang jumlah. ikan lidah.632 10.380 9. Toili Barat 3.2. Batui 4. sedangkan KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-107 . Jenis ikan air tawar yang sering ditangkap antara lain ikan mujair.PPGM 2. Kintom Kabupaten Luas (km2) 982. Tabel 2. siput. udang karang dan cumi.66 1.1.670. kembung. Komponen Sosial 2. Toili 2.661 Kepadatan Seks Rasio (jw/km 2) 45 19 18 24 30 106 109 108 100 105 Sumber: Kabupaten Banggai Dalam Angka 2004 Tabel tersebut menunjukkan bahwa Kecamatan Toili merupakan wilayah yang paling banyak jumlah penduduknya dan terpadat dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan lainnya. ikan mata sebelah. ikan nilam dan tembakang. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Berdasarkan data statistik tahun 2004 jumlah penduduk Kabupaten Banggai 292. Kependudukan 1. kepadatan penduduk dan rasio jenis kelamin dapat dilihat pada tabel berikut. lemuru. lele.72 9.28.65 Penduduk Laki-laki 22. sepat.310 292.244 11.PT PERTAMINA EP .090 6.033 Jumlah 44. tembang dan tiga waja.33 518.390. Nilai penting secara ekonomi dapat terlihat dari aktivitas masyarakat melakukan kegiatan penangkapan ikan dan biota air lain baik yang hidup di air tawar maupun di air laut.628 Perempuan 21.163 143.801 6.2.012 19. Sedangkan jenis biota air laut yang ditangkap lebih beranekaragam.3. udang. Sementara itu kecamatan yang paling sedikit jumlah penduduknya adalah Kecamatan Kintom. Biota Air Keberadaan biota air di wilayah sekiatar rencana kegiatan memiliki nilai ekologi dan ekonomi yang penting.

Jumlah penduduk Kabupaten Banggai pada tahun 2003 adalah 284. Diantara 4 kecamatan wilayah studi. Rasio antara jumlah penduduk laki-laki dan perempuan di Kabupaten Banggai adalah 105 hal ini menunjukkan bahwa secara umum jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan penduduk perempuan. mata pencaharian.000 Meninggal 18 15 9 37 836 Datang 4 56 5.491 jiwa. Gambaran tentang perubahan penduduk di wilayah kecamatan studi secara lebih rinci disajikan pada berikut. Komposisi Penduduk Komposisi penduduk dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian antara lain menurut umur. Tabel 2. dengan demikian mengalami kenaikan sebanyak 8. mobilitas penduduk. Datang dan Pergi Di Wilayah Studi Tahun 2004 Kecamatan 1. 3. Faktor penentu pertumbuhan penduduk di wilayah Kabupaten Banggai secara umum adalah adanya kelahiran dan migrasi masuk (datang).PT PERTAMINA EP .386 jiwa atau sekitar 2%.119 Perubahan 734 383 176 -122 3. 2.460 Sumber: Kabupaten Banggai Dalam Angka 2004 3.275 jiwa dan pada tahun 2004 meningkat menjadi 292. Hal ini dikarenakan daerah ini mempunyai wilayah yang paling luas dan dihuni sebanyak 24. Kematian. 4.29.415 Pindah 34 40 21 205 4. Jumlah Penduduk Menurut Kelahiran. Tingkat Pertumbuhan Penduduk Pertumbuhan penduduk selalu dipengaruhi oleh adanya pertumbuhan penduduk secara alami (kelahiran dan kematian) dan adanya mobilitas penduduk.PPGM yang paling jarang penduduknya adalah Kecamatan Batui dengan tingkat kepadatan 18 jiwa/km2 . Hanya Kecamatan Kintom yang jumlah penduduk antara lakilaki dan perempuan relatif sama. 2. pendidikan. Toili Toili Barat Batui Kintom Kabupaten Lahir 786 434 206 64 3. Kecamatan Toili memiliki perubahan jumlah penduduk yang paling besar dan Kecamatan Kintom adalah yang terkecil sebagai akibat banyaknya warga Kintom yang melakukan migrasi ke luar (pergi/pindah). KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-108 .661 jiwa.

92 53.03 100.92 yang berarti bahwa setiap 100 orang usia produktif selain menanggung dirinya juga harus menanggung sekitar 80 orang usia tidak produktif.32 190.00 6.27 10. Secara keseluruhan angka beban tanggungan di wilayah studi rata-rata adalah 63. b.PPGM a. Penduduk Menurut Pendidikan Untuk mengukur keberhasilan tingkat pendidikan masyarakat pada umumnya di suatu wilayah digunakan kriteria penilaian persentase tingkat pendidikan Sekolah Dasar yang ditamatkan bagi penduduk berumur 10 tahun ke atas.661 0. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-109 .169 601 24.56 0.27 3.829 44.30 sehingga hampir setiap 2 orang yang bekerja dan mendapatkan penghasilan harus menanggung sekitar 1 – 2 orang yang belum atau tidak berpenghasilan. Penduduk menurut tingkat pendidikan per kecamatan di di wilayah studi tahun 2004 disajikan pada Tabel 2.962 1.012 % 0.491 0. Secara umum rata-rata persentase penduduk di wilayah studi dengan tingkat pendidikan tamat SD sekitar 46%.191 19.65 0.377 0. Tabel 2.125 9. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Rasio Beban Tanggungan di Kecamatan Wilayah Studi Tahun 2004 Kelompok umur 0 – 14 15 – 64 ≥65 Jumlah Toili Jml 13.65 0.310 0.159 292. Penduduk Menurut Kelompok Umur Komposisi penduduk menurut kelompok umur merupakan salah satu hal yang dapat digunakan untuk melihat kondisi ketenagakerjaan setempat.00 Kecamatan di Kabupaten Banggai Toili Barat Batui Kintom Jml % Jml % Jml % 7. 2006 78.38 6.31 0.70 42.02 100.00 Rasio beban 51.350 0.96 tanggungan Sumber: Hasil Analisis.298 0.56 0.06 100. Tabel 2.721 0.828 1.04 100.30.170 12.331 0.00 17.65 79.17 100.00 Kabupaten Jml % 93. bahkan juga di tingkat kabupaten.71 0.221 28.30 menunjukkan penduduk menurut kelompok umur dan rasio beban tanggungan per kecamatan di wilayah studi.842 2.93 Tabel tersebut menunjukkan bahwa Kecamatan Batui mempunyai jumlah penduduk usia produktif yang paling tinggi diantara kecamatan-kecamatan lainnya.PT PERTAMINA EP .31. Rasio beban tanggungan yang tertinggi ada di Kecamatan Kintom yakni 79.

02%. Mata Pencaharian Penduduk Secara umum masyarakat di wilayah Kabupaten Banggai bermata pencaharian di bidang pertanian (71. Tamat SMA 6.31.602 17.581 2.929 27.030 6.PT PERTAMINA EP . penduduk akan sulit bersaing untuk dapat meraih kesempatan kerja yang kebetulan membutuhkan tenaga kerja dengan kualifikasi pendidikan dan ketrampilan memadahi.532 261.479 50.08 10. Gambaran lebih lengkap tentang jenis mata pencaharian penduduk di wilayah studi disajikan pada Tabel 2.00 Kintom Jumlah % 164 1.884 231 153 19.00 Toili Barat Jumlah % 1.433 1.90 6.53 45.98 11.13%) dan perdagangan (8.00 Batui Jumlah % 1.10%.35 100.67 100. Akademi atau Diploma sekitar 0.27 46. Penduduk Berumur 5 Tahun Keatas Menurut Tingkat Pendidikan Per Kecamatan Wilayah Studi Tahun 2004 Tingkat Pendidikan 1.024 5.638 1. Tidak/Blm Tamat SD 3. c.46 12.014 1.092 106.784 2.18%). Tamat Akademi 7.90 6.89 0. kemudian diikuti tingkat pendidikan menengah pertama atau SLTP (14.24%). Dengan tingkat pendidikan yang ada.55 15.98 11.96 13.03 1.24 9. SLTA (8.08 4.77 100.PPGM Tabel 2.279 3.95% dan yang berpendidikan Sarjana sebanyak 1.67 100.499 32.01 61.89 0.17 2.95 0.95 44.355 2. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-110 .206 17. Tamat Sarjana Jumlah Toili Jumlah % 2.636 9.508 27.661 7.706 4.00 Kab.54 1. Oleh karena itu perlu adanya upaya peningkatan pendidikan dan ketrampilan penduduk lokal agar mereka dapat lebih berperan dalam setiap kesempatan kerja yang ada.14 4.229 40.63 1. Banggai Jumlah % 13.191 5.89%).95 0.177 151 112 16.32. Tidak/Blm Sekolah 2.96 100.46 1.678 343 255 38.62 19. sedangkan jenis lapangan pekerjaan yang paling sedikit digeluti penduduk adalah bidang Pertambangan dan Galian yakni hanya sekitar 0.32 40. Tamat SD 4.343 6. Tamat SMP 5.00 Sumber: Kabupaten Banggai Dalam Angka 2004 Rata-rata tingkat pendidikan penduduk di wilayah studi masih didominasi dengan tingkat pendidikan dasar (45.843 4.953 23.921 23.16 0.53 45. jasa (9.34 2.446 2.88%).44%).485 248 239 12.93 12.

75%) yang semuanya berlokasi di wilayah Kecamatan Kintom.536 Kintom 2.899 162 6 67 293 109 9.PPGM Tabel 2. Jenis mata pencaharian yang paling sedikit ditekuni penduduk adalah bidang Pertambangan/ Penggalian yakni hanya oleh sekitar 13 orang (0.257 408 9 199 1. terdiri dari 128.32.738 13 666 187 223 37 3.074 190 24 250 19.741 128.592 orang sedang bekerja dan 2. Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Menurut Lapangan Pekerjaan per Kecamatan di Wilayah Studi Tahun 2004 No. Angkatan kerja adalah penduduk yang berumur 15 tahun ke atas yang secara aktif melaksanakan kegiatan ekonomis.17%) dan perdagangan sebanyak 16. Jenis mata pencaharian dominan lainnya adalah sektor industri (24.PT PERTAMINA EP . Tidak termasuk dalam kategori ini adalah penduduk yang benar-benar tidak mempunyai pekerjaan dan yang sedang bersekolah.533 134 5.864 Kab. Angkatan kerja di Kabupaten Banggai pada tahun 2004 berjumlah sekitar 131.604 orang mencari kerja. hal ini sejalan dengan lokasi studi khususnya di wilayah Kecamatan Toili dan Toili Barat yang merupakan sentra produksi padi di Kabupaten Banggai. hal ini berarti bahwa tingginya tingkat pertumbuhan penduduk akan menyebabkan pula tingginya pertumbuhan angkatan kerja.039 200 1 107 248 46 14 101 7. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis Mata Pencaharian Pertanian Pertambangan/Penggalian Industri Listrik.941 162 2. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-111 . Banggai 91.592 Sumber: Kabupaten Banggai Dalam Angka 2004 Sama halnya di tingkat kabupaten.196 orang.411 Toili Barat 7.756 Batui 8.688 560 11. jenis mata pencaharian penduduk di wilayah studi juga didominasi oleh sektor pertanian (39.94%. Gas dan Air Konstruksi Perdagangan Komunikasi Keuangan Jasa Jumlah Toili 17.26%).850 4. d. Angkatan Kerja Pertumbuhan angkatan kerja di negara berkembang identik dengan pertumbuhan penduduk.983 10.

Sementara itu pertumbuhan lapangan kerja tidak sebanding dengan pertumbuhan pencari kerja yang ada. Kesempatan Kerja Berdasarkan data dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Banggai (2003). Kondisi ini nampaknya akan terus berkembang pada masa-masa yang akan datang dan diperlukan perhatian dari semua pihak untuk dapat mengatasinya agar tingkat pengangguran tidak terus meningkat dari tahun ke tahun. Secara keseluruhan TPAK di Kabupaten Banggai pada tahun 2004 sebesar 78. Persewaan Bangunan dan Jasa Perusahaan. Sehingga pemerintah masih mempunyai tanggungan sebanyak 2.29%) dan hal ini akan terus meningkat dengan adanya pencari kerja tahun berikutnya. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-112 . Pada tahun 2004 tercatat adanya pencari kerja sebanyak 2.40% dibandingkan dengan tahun 2003. serta Jasa Kemasyarakatan Sosial dan Perorangan. Dari total pencari kerja hanya sekitar 331 orang (12. Industri Pengolahan.52% dari total angkatan kerja yang ada.604 orang.PPGM Jumlah angkatan kerja yang terbesar ada di wilayah Kecamatan Toili yaitu sebesar 47.51%.PT PERTAMINA EP .273 orang (87.37% yang berarti mengalami peningkatan sekitar 26. lowongan kerja atau kesempatan kerja yang secara transparan diumumkan di wilayah Kabupaten Banggai adalah dalam sektor Pertambangan dan Penggalian.85% dan yang terendah ada di wilayah Kecamatan Kintom yakni sebesar 9. Besarnya persentase pekerja terhadap angkatan kerja di Kabupaten Banggai sebesar 98.02% yang berarti mengalami peningkatan sekitar 0. Peningkatan ini terjadi sebagai akibat banyaknya lulusan sekolah menengah yang tidak melanjutkan sekolah dan kemudian terjun ke dunia kerja. Jumlah pencari kerja yang tidak disalurkan terus meningkat dari tahun ke tahun. Tingkat pendidikan pencari kerja tersebut pada umumnya berpendidikan tamatan SLTA yaitu sebesar 68. Pertumbuhan angkatan kerja selain dipengaruhi struktur umur juga dipengaruhi oleh Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK).26% dibandingkan dengan tahun 2003.71%) yang telah ditempatkan. Keuangan dan Asuransi. e.

PDRB Kabupaten Banggai berdasarkan harga berlaku pada tahun 2003 mencapai 1.PPGM 2. Hotel dan Restoran sebesar 8.04%. Sosial Ekonomi 1.39%. antara lain Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).405 juta rupiah atau tumbuh sebesar 0.16% dibandingkan tahun sebelumnya. Peranan sektoral PDRB Kabupaten Banggai secara lengkap disajikan pada Tabel 2.3.927 juta rupiah atau naik 8. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-113 .97% yang berasal dari Jasa Pemerintahan Umum dan Swasta.34. Sementara itu apabila diperhitungkan berdasarkan harga konstan 1993.65%) dan Kehutanan sebesar 6. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kondisi perekonomian suatu daerah dapat dilihat dari beberapa indikator makro ekonomi. Penyumbang terbesar kedua adalah Sektor Jasa-jasa Lainnya sebesar 9.56%.86% terhadap total PDRB. Penyumbang terbesar PDRB tahun 2003 adalah Sektor Pertanian yaitu sebesar 56.2. Perekonomian Wilayah a. yang didukung oleh sub sektor Tanaman Perkebunan yang mencapai 25. Penyumbang terkecil PDRB Kabupaten Banggai adalah sektor Listrik dan Air Bersih dengan persentase sebesar 0.33 dan distribusi persentase PDRB menurut lapangan usaha disajikan pada Tabel 2.58% yang diikuti oleh sektor Penggalian (1.PT PERTAMINA EP .90% dibandingkan tahun 2002. kemudian diikuti oleh Pertanian Tanaman Bahan Makanan (15.2. Penyumbang terbesar ketiga adalah sektor Perdagangan.21%). sektor Keuangan dan Jasa Perusahaan dengan kontribusi sebesar 4.371. Besarnya nilai PDRB yang berhasil dicapai merupakan refleksi dari kemampuan daerah dalam mengelola sumberdaya alam dan sumberdaya manusianya.62%. nilai PDRB yang dicapai sebesar 385.

4730 115.935 455 676 50.Angkutan Laut 6.159 2.386 177 3.648 261 55 7.293 9.981 163 35 4.776 13.307 6.072 242 5.33.550 1.036 136.004 PDRB 807.074 7.665 8.868 30 6.807 121.931 2.0820 109.007  Swasta 18. Listrik dan Air Bersih 4.086 5.276  Kertas & Barang Cetakan 1.054 46.673 35.208  Kehutanan 59. Penggalian 10.824 16.415 1.940 4.PT PERTAMINA EP .764 1.811 11.134 90. Kimia & Brg dari Karet 161  Semen & Brg Galian bukan Logam 3.927 Sumber: Kabupaten Banggai Dalam Angka Tahun 2004 KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-114 .170 2002 703.313 601 899 65.764 191 41 5.Angkutan Jalan Raya 33. Persewaan & Jasa Perush 26. Hotel & Restoran 74.928 2.456 1.371.750 38.191 95.586 5.Hiburan & Rekreasi 27 .794 64.618 36 8.433 191.756 43 10.952 20.653 83.832 21.821 1.731 105. dari Kulit & Alas Kaki 156  Kayu & Hasil Hutan Lainnya 32.042 96.657 2.700  Perdagangan Besar dan Eceran 73.605 1.660 206 4.376 39.183 .757 207 43.624 102.737 1.080.581 285 60.957  Makanan.784 41.985  Komunikasi 1. Angkutan & Komunikasi 46.312 75.700 15.259.6830 208.792 168.318 279 6.190  Pemerintahan Umum 70. Jasa-Jasa 88.906  Bank 4.526  Alat Angkut.995 228 48 7.391  Listrik 3.235 227.052 20.010 65.0540 6.000  Tanaman Perkebunan 137.661 348. Pertanian 434.645 6.475 30.108 .741 .Sosial Kemasyarakatan 12.873 115.334 97.793  Air Bersih 598 5. Mesin & Peralatannya 147  Barang Lainnya 32 4.232 2.197 87.326 2.5104 45.432  Tekstil. Bangunan 59.955 1.388 52.350 38.788 83.137 793 77.466 4.786 3.849 539 803 58.835 2001 596.299 28.376 1.723 68.364 2.128 926 89.268 672 64.019 16.5554 89.466 944 4.151 .600 48.785 76.153 Usaha 1.029 34.530  Peternakan 30. Industri Pengolahan 61.545 1.615 119.321  Lembaga Keuangan Tanpa Bank 1.686  Tanaman Bahan Makanan 161.978 214.404 63.733 13.582 250 53.457 9. Keuangan.779 30.926 17. Minuman & Tembakau 24.272  Angkutan 44.624 69.955 76.672  Hotel 419  Restoran 609 7.340 1.365 1.Jasa Penunjang Angkutan 3.690 113.671 6. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Banggai Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 1999-2003 (Juta Rupiah) 1999 2000 491.868 10.248 5.066 80.114 25.477 174 36.569 8.629 25.Angkutan Udara 869 .519 2003 775.068 173.973 657 985 71.515 32.611  Jasa Perusahaan 1. Brg.608 41.093 2.017  Perikanan 46.374 32.Perorangan & Rumahtangga 6.997 6.735 2.PPGM Tabel 2.370 37 8.435 96.084 2.401 24.540 1.226 88.939 50.227  Pupuk.741 29.812 108.808 27. Perdagangan.203 5.682  Sewa Bangunan 19.637 56.703 .859 36.659 1.930 5.535 901.781 40.463 82.725 293.

01 3.02 0.74 0.70 21.43 5.00 0.51 0.11 6.49 2.71 0.97 7.72 3.86 0. Bangunan 6.15 0.02 4. Minuman & Tembakau  Tekstil.18 2.56 15.21 7.25 0.71 2.45 0.30 1.68 100.86 8. Kimia & Brg dari Karet  Semen & Brg Galian bukan Logam  Alat Angkut.87 0.73 5.02 0. Keuangan.34.38 0.00 0.96 0.76 100.19 5.55 7.54 0.19 3.00 0.17 7.00 0.48 8.02 4.77 0.25 1.49 0.65 25.02 4.19 3.00 0.62 0.74 7.08 5.44 0.03 3.33 7. Listrik dan Air Bersih  Listrik  Air Bersih 5.08 7.Hiburan & Rekreasi .26 1.50 0.15 9.55 0.860 16.61 5.05 0.42 4.Perorangan & Rumahtangga PDRB Sumber: Kabupaten Banggai Dalam Angka Tahun 2004 KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-115 .48 0.05 0.31 5.45 0.07 5.00 0.25 9.49 0.74 8.03 6.30 1.67 3.04 0. Mesin & Peralatannya  Barang Lainnya 4.20 2.62 6.02 0.60 0.81 1.64 19.86 1.81 0.15 9.54 0.03 0.55 0.10 0. Pertanian  Tanaman Bahan Makanan  Tanaman Perkebunan  Peternakan  Kehutanan  Perikanan 2.07 7.00 0.02 4.06 1.PT PERTAMINA EP .05 0.070 8.54 0.02 0.20 0.69 0.34 7.PPGM Tabel 2.74 100.03 0.10 0.05 0.Sosial Kemasyarakatan .16 9.00 2002 55.21 17.02 0.52 0.85 6.15 9.39 9.00 2003 56. Persewaan & Jasa Perush  Bank  Lembaga Keuangan Tanpa Bank  Sewa Bangunan  Jasa Perusahaan 1999 53.11 2.83 19.44 0.00 1.29 7.15 0.02 0.98 0.93 6.18 2.00 9.67 2.94 17.24 3.04 0.89 0. Jasa-Jasa  Pemerintahan Umum  Swasta .33 0.Angkutan Jalan Raya .20 2.07 7.07 3.07 7.00 0.45 0.05 0.16 10.00 0.25 5.47 0.58 0.77 0.92 8.06 8.47 0.25 3.27 0.00 2001 55.16 10.19 3.20 3. Angkutan & Komunikasi  Angkutan .49 0.53 0. Penggalian 3.02 3.77 0.54 0.51 0.25 0.05 1.74 3.47 0.32 3. Brg.00 8.74 100.10 0.12 0.Jasa Penunjang Angkutan  Komunikasi 8. Hotel & Restoran  Perdagangan Besar dan Eceran  Hotel  Restoran 7.07 5.39 2.56'1 0.46 0.23 5.11 0.57 23.15 0.54 4.02 0.36 0.49 0.72 8.01 1.Angkutan Laut .00 0. Distribusi Persentase Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Banggai Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 1999-2003 (%) Usaha 1. Perdagangan.15 0.02 0. dari Kulit & Alas Kaki  Kayu & Hasil Hutan Lainnya  Kertas & Barang Cetakan  Pupuk.18 0.00 2000 54.03 0.55 18.83 0.76 100.08 5.19 3.170 3.02 3.07 7.16 10.44 0.05 0.230 9.44 0. Industri Pengolahan  Makanan.00 0.26 7.10 0.02 0.02 0.07 5.00 0.21 2.10 0.10 8.83 0.18 2.43 0.Angkutan Udara .04 0.44 2.39 0.

PT PERTAMINA EP . juga mengalami peningkatan menjadi 25. Penyumbang terbesar ketiga berasal dari subsektor kehutanan (6. dan cengkeh. Namun bila dibandingkan dengan tahun 2002. Dibandingkan dengan tahun 2002 terjadi peningkatan sebesar 0. Sektor jasa-jasa merupakan penyumbang PDRB terbesar kedua dengan kontribusi sebesar 9.23% atau menduduki peringkat ke-6 dalam memberikan peranannya terhadap PDRB. hotel dan restoran merupakan penyumbang PDRB terbesar ke-3 dengan kontribusi sebesar 8.PPGM b.86%. Sektor perdagangan. Sektor penggalian merupakan penyumbang PDRB peringkat ke-8. Struktur Perekonomian Struktur perekonomian regional Kabupaten Banggai beberapa tahun terakhir mengalami perubahan cukup cepat terutama di sektor Pertanian. disamping produksi tanaman bahan makanan seperti padi dan palawija juga mengalami peningkatan menjadi 5. Peningkatan kontribusi tersebut terlihat pada tahun 2003 sebesar 0.02% dibandingkan dengan tahun 2002. Pada tahun 2003 kontribusi yang diberikan sebesar 0. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-116 .04%. Peranan sektor penggalian adalah sebesar 1. Beberapa produksi komoditas perkebunan seperti kelapa.65%. kemudian perikanan (6.58% atau meningkat sebesar 0. kelapa sawit. Kontribusi sektor angkutan dan komunikasi sebesar 5.49% atau menduduki peringkat ke-4 dalam sumbangannya terhadap total PDRB.7% baik berdasarkan harga berlaku maupun harga konstan. Sektor keuangan dan persewaan jasa perusahaan menduduki peringkat ke-7 dalam memberikan kontribusinya terhadap PDRB dengan persentase sebesar 3. tampak bahwa sektor pertanian tetap memberikan peranan yang terbesar dalam struktur perekonomian Kabupaten Banggai.97% atau meningkat sekitar 0.62%).85%.556% terhadap total PDRB.21% atau mengalami penurunan sekitar 0.39%.05%) dan yang paling kecil kontribusinya adalah subsektor peternakan sebesar 2. Sektor industri pengolahan memberikan kontribusi sebesar 7.06% atau menduduki perangkat ke-5 dalam PDRB. Demikian juga dengan sektor jasa-jasa dan sektor perdagangan.80% dibandingkan dengan tahun 2002. kakao.14%. Sektor listrik dan air bersih selama 5 tahun terakhir rata-rata memberikan kontribusi sebesar 0. hotel dan restoran tetap sebagai penyumbang terbesar kedua dan ketiga terhadap nilai total PDRB.68%. Sementara itu kontribusi yang diberikan sektor bangunan sebesar 7. namun tetap merupakan sektor yang kontribusinya paling kecil dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya. Jika dilihat berdasarkan PDRB harga konstan tahun 1993. terjadi penurunan kontribusi sebesar 1.02% dibandingkan tahun 2002.

Sektor Industri Pengolahan tumbuh sebesar 5.33% terdapat di wilayah studi yaitu di Kecamatan Toili. Pertumbuhan terbesar kedua adalah Sektor Pertanian yang tumbuh sekitar 8. Pertumbuhan Ekonomi Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banggai periode 1999-2003 cukup rnenggembirakan. Fasilitas Perekonomian 1) Perkantoran Beberapa fasilitas yang dapat memacu bergeraknya roda perekonomian di wilayah studi adalah adanya sarana perkantoran.08% dibandingkan dengan tahun 2002.66% atau meningkat sekitar 1. Pertumbuhan terbesar berasal dari Sektor Listrik dan Air Bersih sebesar 8. dan Sektor Penggalian sebesar 5.PPGM c. d.65%.53%. dan tingkat pertumbuhan terbesar ketiga adalah Sektor Bangunan sebesar 7. Dari jumlah total hotel tersebut. Keberadaan perkantoran ini telah mampu membangkitkan aktivitas perekonomian baik formal maupun informal di sekitarnya diantaranya dengan tumbuhnya warung-warung. 7 diantaranya atau sekitar 33.16% sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 8.82%.PT PERTAMINA EP . yang mengalami peningkatan sebesar 0. perdagangan dan aktivitas perekonomian lainnya. Laju pertumbuhan ekonomi pada tahun 2003 mencapai 6. Keberadaan hotel/penginapan selama ini telah mampu mendukung aktivitas pariwisata. Diperlukan berbagai upaya agar tingkat perekonomian sektoral Kabupaten Banggai dapat semakin seimbang dan mantap serta merata ke seluruh daerah dan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.49% dibandingkan dengan tahun 2002.33% sedangkan target pada periode yang sama sebesar 3.69%.82%. dan lain sebagainya. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-117 . kios. toko.98% yang berarti lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2002 yang sebesar 6. Pertumbuhan terendah dialami oleh Sektor Keuangan Persewaan dan Jasa Perusahaan yakni sebesar 4. 2) Hotel Sampai dengan tahun 2004 di wilayah Kabupaten Banggai terdapat sebanyak 21 buah hotel/penginapan dengan kapasitas kamar sebanyak 217 buah dan 349 tempat tidur. terbukti dengan Pertumbuhan tahunan dapat dicapai rata-rata 3.45%. Sektor Perdagangan Hotel dan Restoran tumbuh sebesar 5.61%.32%.

Kondisi ini menggambarkan bahwa aktivitas perekonomian di wilayah Kecamatan Toili cukup tinggi yang diantaranya karena Toili merupakan pusat aktivitas pertanian di Kabupaten Banggai.982 juta rupiah. Kecamatan Toili memiliki sarana perdagangan yang paling banyak yaitu pasar 6 buah. Kecamatan Toili memiliki jumlah kendaraan bermotor yang paling banyak dibanding- KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-118 . 5) Sarana Transportasi Sarana transportasi mempunyai peran yang sangat penting dalam membuka keterisolasian wilayah dan memajukan ekonomi wilayah. Di wilayah studi.18 km dengan kondisi sedang (48. kerikil (32. pick up.93%. Kecamatan Toili mempunyai jumlah jalan yang terpanjang dibandingkan dengan kecamatan lainnya yaitu sepanjang 297. Jumlah kendaraan bermotor yang beroperasi di wilayah studi meliputi bus. toko 28 buah.70 km dan umumnya dalam kondisi sedang (61.357.53%).PPGM 3) Lembaga Keuangan Lembaga keuangan khususnya bank sangat besar peranannya dalam mendukung kelancaran peredaran uang. mobil penumpang dan pribadi serta sepeda motor. Bank sampai saat ini masih tersentral di ibukota kabupaten. Sektor yang paling besar menyerap kredit adalah sektor perdagangan dengan besar kredit 105. 4) Sarana Perdagangan Sarana perdagangan yang ada di wilayah studi meliputi pasar.29%). Penyebaran koperasi di wilayah studi adalah: 8 buah di Kecamatan Toili. Di Kabupaten Banggai terdapat jalan Provinsi sepanjang 652. truk. 5 buah di Batui dan 1 buah di Kintom. Lembaga keuangan lain yang beroprasi adalah koperasi. Jumlah koperasi di seluruh wilayah Kabupaten Banggai adalah 162 buah dan 20 atau 12. kios 293 buah dan warung 52 buah. Disamping itu juga terdapat jalan kabupaten sepanjang 1. Jumlah sarana perdagangan terbanyak kedua adalah di wilayah Kecamatan Toili kemudian di Kecamatan Batui. Di antara wilayah studi.35% diantaranya terdapat di wilayah studi.77%). 6 buah di Toili Barat.35 km.PT PERTAMINA EP .30%) dan tanah sekitar 15. kios dan warung.488 juta rupiah dan sektor pertanian sebesar 87. Dari 4 kecamatan wilayah studi. Jenis permukaan jalan yang ada meliputi aspal (51. toko.25 km dan Kecamatan Toili Barat mempunyai jumlah jalan yang terpendek yakni hanya sekitar 47.

PT PERTAMINA EP - PPGM

kan dengan kecamatan lainnya. Pada tahun 2004 di wilayah studi tercatat sekitar 43,75% mobil dan 52,61% sepeda motor yang beroperasi di wilayah Kecamatan Toili dan hanya sekitar 12,17% mobil dan 13,34% sepeda motor yang beroperasi di wilayah Kecamatan Kintom. Kondisi ini menggambarkan bahwa wilayah Kecamatan Toili memiliki aktivitas perekonomian paling sibuk yang didukung oleh kondisi sosial ekonomi masyarakatnya yang cukup baik pula dibandingkan dengan wilayah studi lainnya. 6) Sarana telekomunikasi Pada tahun 2003 di wilayah Kabupaten Banggai terdapat sarana telekomunikasi berupa sentral telepon dari Bunta 392, Luwuk 4.412, Pagimana 512, wartel 103 SST, dan telepon umum koin sebanyak 99 buah. Sarana telekomunikasi ini belum tersebar merata di semua kecamatan, termasuk kecamatan wilayah studi. Berdasarkan

Kecamatan Dalam Angka Tahun 2004, hanya di Kecamatan Toili yang telah terdapat sarana komunikasi ini yaitu Wartel 6 buah dan telepon rumah tangga sebanyak 145 SST. Kedepan sarana telekomunikasi perlu dikembangkan di semua bagian wilayah agar informasi dan berbagai kemajuan lainnya dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. 2.2.3.3. Sosial Budaya 1. Kebudayaan Masyarakat a. Sistem Organisasi Sosial Sistem Oraganisasi sosial atau kekerabatan yang dianut oleh masyarakat di wilayah studi ini adalah sistem patrilineal, yaitu menurut garis ayah. Struktur-struktur kekerabatan mencakup keluarga sebagai unit terkecil dan bentuk kelompok yang merupakan perluasan keluarga, yaitu seperti suku atau klen. Di Kabupaten Banggai terdapat 3 suku asli, yaitu Suku Saluan, Suku Banggai dan Suku Balantak. Selain ketiga suku-suku asli tersebut ada suku pendatang yaitu Suku Bajo yang merupakan masyarakat nelayan pendatang tertua dari Kendari (Sulawesi Tenggara), Suku Jawa dan Suku Bali yang merupakan transmigran, serta pendatang yang mencari peluang kerja yaitu dari Suku Bugis, Suku Padang, Suku Gorontalo, Suku Menado dan Suku Muna. Hubungan antara penduduk suku asli dan suku pendatang selama ini tidak ada masalah, mereka terjalin dalam hubungan yang saling membutuhkan.

KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok

II-119

PT PERTAMINA EP - PPGM

b. Sistem Teknologi Potensi wilayah studi kaya akan hasil hutan dan laut, sehingga teknologi yang diciptakan adalah alat yang dapat mempermudah manusia dalam mengolah sumber daya alam tersebut. Hutan dan perkebunan menghasilkan rotan, kopra, enau dan sagu, maka

masyarakat membuat alat-alat produktif agar dapat memudahkan dalam mengolah hasil hutan tersebut, misalnya sagu merupakan makanan pokok penduduk di wilayah studi telah merubah menjadi tepung yang siap untuk dimasak. Laut yang kaya ikan dan kerang mutiara memunculkan ide untuk membuat perahu ketingting, alat tangkap ikan, dan alat untuk mengolah kerang mutiara menjadi perhiasan yang bernilai jual tinggi dan menjadi potensi wisata Kabupaten Banggai.

c. Sistem Budaya Warisan budaya yang saat ini masih dipegang teguh oleh masyarakat di Banggai adalah warisan budaya yang berupa fisik dan yang non fisik. Kabupaten Banggai merupakan daerah peninggalan sejarah pada masa kerajaan abad VI dengan peninggalan berupa makam raja di Banggai Kepulauan. Untuk menjaga kelestarian budaya adat masyarakat Banggai diadakan upacara untuk melestarikan adat Tumpe di Batui, kesenian tradisional berupa tari dan musik daerah, Hikayat Adi Soko serta adat-istiadat dari ketiga etnis suku asli Kabupaten Banggai yaitu Suku Banggai, Suku Balantak dan Suku Saluan.

Adat yang menjadi amanat dan tidak dapat dilupakan oleh penduduk asli Batui adalah pelaksanaan upacara adat Tumpe setiap tahun oleh Tua-tua adat yang terdiri dari Kelurahan Batui, Tolando, Balantang dan Bugis (Totonga). Upacara adat Tumpe adalah tradisi penghantaran telur burung Maleo yang pertama dari Banggai Darat (Kecamatan Batui, di Suaka Margasatwa Bangkiriang) ke Kerajaan Banggai Kepulauan. Maksud dan tujuan pelaksanaan Upacara Adat Kebudayaan Batui ini adalah (1) sebagai ucapan/doa selamatan bahwa Tumpe telah selesai dilaksanakan; (2) Hari atau peringatan Kebudayaan/peristiwa budaya; (3) hari lahirnya Agama Islam di Batui; (4) Hari lahirnya pemerintahan Batui.

KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok

II-120

PT PERTAMINA EP - PPGM

d. Kesenian Bentuk-bentuk kesenian di daerah ini antara lain alat musik tabuh berupa gong, gendang, kakula, dan rebana; alat musik tiup berupa lalove atau seruling; alat musik petik berupa kecapi, yang semuanya ditata dan disimpan dalam ruang museum di Palu. Di wilayah studi juga memiliki kesenian tradisional yaitu Tari Perang (Cakalele) yang merupakan seni tari tradisional masyarakat di Kecamatan Kintom, Tarian Salamat Kopiang Saluan (Tarian Penyambutan) yang biasa dilakukan di Kecamatan Luwuk. e. Bahasa Masing-masing suku di wilayah studi memiliki bahasa sendiri yaitu bahasa Saluan, bahasa Banggai dan bahasa Balantak yang tidak mengenal perbedaan dalam hal penerapan pemakaian berbicara antara orang tua dengan anak-anak dan sebaliknya, dalam arti tidak mengenal bahasa halus dan kasar. Sebagai alat komunikasi antar sesama memakai bahasa pengantar atau bahasa resmi yaitu bahasa Melayu. f. Sistem Religi Sebelum agama masuk ke wilayah Sulawesi Tengah, penduduknya masih menganut kepercayaan animisme, yaitu kepercayaan yang menganggap segala sesuatunya memiliki kekuatan gaib. Tradisi selamatan yang berhubungan dengan siklus hidup manusia, yaitu peristiwa kelahiran, perkawinan dan kematian merefleksikan kepercayaan tersebut. Tradisi ke makam leluhur atau ke tempat-tempat yang dikeramatkan juga dilakukan oleh masyarakat Batui dan pelaksanaannya jatuh pada bulan Syawal, atau minggu ke dua setelah Hari Raya Idhul Fitri. Masyarakat Batui yang masih memegang adat adalah Suku Saluan Batui. Dalam lingkungan masyarakat Batui masih memegang kepercayaan

terhadap tempat-tempat kramat yang dahulu merupakan tempat berkumpulnya masyarakat Batui untuk membahas masalah yang ada di lingkungan masyarakat Batui. Setelah agama masuk dalam kehidupan masyarakat di wilayah studi, maka kepercayaan terhadap sesuatu yang gaib tersebut masih ada sehingga terjadi sinkretisme. Tabel 2.35 merupakan data banyaknya pemeluk agama menurut Kecamatan di wilayah studi pada tahun 2004.

KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok

II-121

434 Hindu 3.36.081 18.35. Hal ini menunjukkan bahwa penganut agama Hindhu dan Budha di wilayah studi cukup dominan.009 201.12%).477 5.188 Budha 155 19 3 740 1.833 447 1.18%).159 Kabupaten Banggai 2003 2002 2001 Sumber : Kabupaten Banggai Dalam Angka Tahun 2004 Dari Tabel di atas tampak bahwa masyarakat di wilayah studi memeluk berbagai macam agama.209 1.456 230. Sementara itu banyaknya tempat ibadah di wilayah studi disajikan pada berikut.207 10.054 10.491 12.PPGM Tabel 2.372 41.92%.248 41.721 17. Tabel 2. Banyaknya Tempat Ibadah Menurut Kecamatan di Wilayah Studi Tahun 2004 No Kecamatan 1 2 2 4 Toili Toili Barat Batui Kintom 2003 2002 2001 2000 Masjid 38 16 33 20 399 508 484 331 312 Langgar Musholla 80 5 103 73 65 135 110 1 47 68 62 40 36 Gereja Kristen 18 3 4 4 173 149 146 147 131 Gereja Katholik 2 2 24 24 23 23 24 Pura 6 26 2 46 65 65 62 59 Vihara 2 1 1 6 5 5 4 5 Kab.701 18.310 292.625 13.PT PERTAMINA EP . Banggai Sumber : Kabupaten Banggai Dalam Angka Tahun 2004 KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-122 .387 21.012 19.350 24.275 280.507 260.261 4. Katholik (0.529 872 869 Jumlah 44.33%). Banyaknya Pemeluk Agama menurut Kecamatan di Wilayah Studi Tahun 2004 No 1 2 2 4 Kecamatan Toili Toili Barat Batui Kintom Islam 38. Mayoritas agama yang dianut masyarakat di wilayah studi adalah Islam (79.97%).64% dan untuk umat Budha adalah 23.851 37.39%) dan Budha (0.232 217.740 39.740 5. disusul Hindu (14. Kristen (5.680 Kristen 1. yang umumnya merupakan penduduk transmigran dari Pulau Bali.736 8.988 Khatolik 236 32 128 5.661 284.329 2.176 215. Total pemeluk agama Hindhu di wilayah studi terhadap total pemeluk agama Hindhu di tingkat kabupaten adalah 75.

Gereja Kristen (10.67% terhadap jumlah total Vihara di tingkat kabupaten.86%).50%. Fasilitas/Sarana Kesehatan Kabupaten Banggai Berbagai usaha dilakukan pemerintah Kabupaten Banggai untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. maka keberadaan tempat ibadah umat Islam adalah yang terbanyak yakni dengan persentase sebanyak 72. Sementara itu keberadaan Vihara di wilayah studi adalah 66. Lain Swasta 1 18 104 16 2 1 14 3 358 178 1 5 Jumlah 1 18 104 16 2 1 14 3 358 178 6 Jumlah 675 3 23 701 Sumber: Profil Kesehatan Kabupaten Banggai Tahun 2004 KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-123 .2. 2.PT PERTAMINA EP . Sumberdaya Kesehatan a. kemudian disusul tempat ibadah bagi umat Hindhu (12.PPGM Mengingat bahwa mayoritas agama yang dipeluk masyarakat adalah Islam. Jumlah sumberdaya kesehatan di Kabupaten Banggai ditunjukkan pada tabel berikut.Kes Dep. Komponen Kesehatan Masyarakat 2. maka keberadaan Pura di wilayah studi juga dominan yaitu sekitar 73.91% terhadap jumlah total di tingkat kabupaten.28%.73%).2. dan Gereja Katholik serta Vihara masing-masing sebanyak 1. Tabel 2. Jumlah Sarana Kesehatan Menurut Jenis Sarana dan Status Kepemilikan di Kabupaten Banggai Tahun 2003 No 1 2 3 4 5 6 6 7 7 8 9 10 Jenis Sarana Kesehatan Rumah Sakit Umum Puskesmas Puskesmas Pembantu Puskesmas Keliling Balai Pengobatan/Poliklinik Rumah Sakit Bersalin Praktek Dokter Perorangan Praktek Dokter Bersama Praktek Bidan Posyandu Polindes Apotek Status Kepemilikan Dep. Mengingat bahwa pemeluk agama Hindhu di wilayah studi cukup dominan terhadap total umat Hindhu di tingkat kabupaten.4. diantaranya dengan menyediakan dan memperbaiki kualitas sumberdaya kesehatan yang meliputi sarana dan prasarana kesehatan beserta tenaga medis meliputi Dokter dan perawat.4.1.37.

8 : 100. Fasilitas kesehatan yang dikelola departemen lain dan swasta adalah Balai Pengobatan/Poliklinik.8 : 100. Persebaran dokter umum relatif merata di setiap kecamatan.7 : 100.PT PERTAMINA EP .12% dari jumlah total dokter yang ada.PPGM Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa di Kabupaten Banggai hanya terdapat 1 buah rumah sakit yaitu Rumah Sakit Umum Daerah Luwuk. Tenaga Medis Sementara itu jumlah tenaga kesehatan yang meliputi tenaga medis (dokter) dan paramedis (bidan. Rasio tenaga kesehatan per penduduk Kabupaten Banggai tahun 2003 adalah: 1) dokter 15. 2. 8. Banyaknya Dokter Menurut Kecamatan di Kabupaten Banggai Tahun 2003 Kecamatan 1. praktek dokter perorangan dan bersama serta apotek. 6. Tabel 2.12%) dan dokter spesialis sebanyak 4 orang atau sekitar 12.000 penduduk. 5.67% bila dibandingkan tahun 2002. 7. dan dokter spesialis 1. 9. Toili Batui Bunta Kintom Luwuk Pagimana Bualemo Lamala Balantak 2003 2002 2001 2000 Dokter Umum 5 2 2 2 11 1 1 1 25 37 34 30 Dokter Spesialis 4 4 3 3 3 Dokter Gigi 1 3 4 5 4 2 Sumber: Kabupaten Banggai Dalam Angka Tahun 2003 Jumlah dokter yang ada di seluruh wilayah Banggai adalah 33 orang yang terinci menjadi dokter umum 25 orang (75.76%). Namun secara umum nampak bahwa jumlah dokter tahun 2003 menurun sekitar 26. 3) dokter gigi 1. sedangkan dokter spesialis hanya terdapat di Luwuk dan dokter gigi di Toili dan Luwuk. dan Polindes yang berada dibawah pembinaan Departemen Kesehatan. 2) dokter umum 12. perawat) yang dirinci menurut kecamatan di wilayah Kabupaten Banggai disajikan pada tabel berikut. 3. dokter gigi 4 orang (12.38.4 : 100. b.000 penduduk. Posyandu. 4. Fasilitas/sarana kesehatan lainnya yang tersedia meliputi Puskesmas. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-124 .000 penduduk.000 penduduk.

1 tahun. Madya.06% dari 193 orang pada tahun 2002 menjadi 224 orang pada tahun 2003.PPGM c. Untuk tenaga bidan terjadi peningkatan sebesar 16. Tenaga Paramedis Tenaga paramedis yang terdiri dari bidan dan perawat pada tahun 2003 jumlahnya meningkat dibandingkan pada tahun 2002.0 berbanding 100. Tenaga paramedis ini tersebar merata di setiap kecamatan di wilayah Kabupaten Banggai. Purnama dan Mandiri. yaitu dari 17 menjadi 16 per 1000 kelahiran hidup. Posyandu yang benar-benar telah mandiri belum dijumpai di wilayah Kabupaten Banggai. Pada tahun tersebut tercatat bahwa usia harapan hidup laki-laki adalah 63. dan pada tahun 1999 meningkat menjadi 63. Usia Harapan Hidup Usia harapan hidup masyarakat Banggai cenderung terus meningkat dari tahun ketahun. b. 2. dan posyandu purnama sebanyak 8.PT PERTAMINA EP .2 dan perempuan 67. Jumlah posyandu seluruhnya adalah 358 buah dengan persentase terbesar (69. kemudian diikuti posyandu madya sebanyak 21. Pada tahun 1996.2. Usia harapan hidup di Kabupaten Banggai merupakan tertinggi kedua setelah Palu di Provinsi Sulawesi Tengah.5%. Mortalitas Angka Kematian Bayi (AKB) Tahun 2003 AKB di Kabupaten Banggai sebesar 16 per 1000 kelahiran hidup dengan AKB tertinggi di Puskesmas Toili III. Derajat Kesehatan Masyarakat a.000 penduduk. Usia harapan hidup perempuan umumnya lebih tinggi daripada laki-laki.7%.52% dibandingkan tahun sebelumnya.2. Rasio tenaga bidan per penduduk Kabupaten Banggai adalah 83. Tenaga perawat tahun 2003 sebanyak 191 orang atau meningkat sekitar 5. rata-rata usia harapan hidup masyarakat adalah 61.15 tahun.000 penduduk. AKB tahun 2003 relatif turun bila dibandingkan dengan tahun 2002.8%) merupakan posyandu pratama. Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Posyandu di Kabupaten Banggai dibedakan atas Posyandu Pratama.4 tahun. sedangkan untuk perawat adalah 101 berbanding 100.4. d. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-125 .5 tahun dan pada tahun 2000 meningkat lagi menjadi 65.

50 2.50 2. 4. 3. 2.30 2. Pada tahun 2003 angka kematian balita akibat pnemonia sebesar 12. atau meningkat 3 kematian per 1000 kelahiran hidup dibandingkan dengan tahun 2002.000 kelahiran hidup adalah 249 yang berarti mengalami penurunan 145 kematian dibandingkan tahun 2002.00 Sumber: Profil Kesehatan Kabupaten Banggai Tahun 2004 Jenis penyakit utama yang banyak diderita penduduk umumnya terkait dengan pernafasan seperti ISPA.PPGM Angka Kematian Balita (AKABA) Angka kematian balita merupakan jumlah kematian anak umur 0-4 tahun per 1000 kelahiran hidup. Hal ini terjadi antara lain sebagai akibat kualitas udara yang terancam terus menurun oleh berbagai aktivitas yang banyak menghasilkan debu dan berbagai zat pencemar dan kemungkinan akibat karakteristik mobilitas penduduk yang tinggi yang dapat memicu terjadinya penyebaran penyakit tersebut. c.70 9.20 100. Persentase Sepuluh Besar Penyakit di Kabupaten Banggai Tahun 2003 Jenis Penyakit 1. 5.50 6.39. Angka Kematian Ibu Angka kematian maternal merupakan jumlah kematian ibu hamil + jumlah kematian ibu bersalin + jumlah kematian ibu nifas. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Penyakit Kulit dan Jaringan Bawah Kulit Malaria Klinis Tekanan Darah Tinggi Diare Asma Pnemonia Karies Gigi Penyakit Kulit dan Jamur Penyakit Lain-lain Jumlah Persentase 29. 8.10 6.00 8. pnemonia dan bronchitis.PT PERTAMINA EP . KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-126 . 7. Tahun 2003 kematian ibu maternal di Kabupaten Banggai adalah 15 kematian. 6.10 28. 10. Morbiditas Sepuluh besar penyakit yang banyak diderita penduduk Kabupaten Banggai disajikan pada tabel berikut. Tabel 2.10 2. 9. asma. Angka kematian ibu melahirkan per 100.

70%) balita yang ditimbang pada tahun 2003. Terdapat 3 kecamatan bebas rawan gizi pada tahun 2003. Kondisi ini menggambarkan bahwa tingkat pendapatan dan kesejahteraan masyarakat relatif masih sangat rendah.000. Namun demikian. berarti telah terjadi penurunan 10 kasus dibandingkan pada tahun 2002.00) dan umumnya masyarakat belum atau bahkan tidak mengalokasikan sebagian dananya untuk biaya kesehatan. terdapat sekitar 5. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-127 .43% dan yang menderita marasmus/kwasiorkor (gizi buruk) sebanyak 35 anak atau 0.50%. Dari 7. Sementara itu penggunaan dana untuk non pangan rata-rata sangat kecil (kurang dari Rp. Penyakit ini dan jenisjenis penyakit degeneratif lainnya diprakirakan akan terus meningkat pada masa-masa yang akan datang.392 (27.10%) yang berat badannya naik. yaitu Kecamatan Bualemo.PT PERTAMINA EP .47% dan telah diberikan perawatan 100%.625 balita (76. e. maka upaya peningkatan penyuluhan dari para kader gizi kepada ibu-ibu balita tentang konsumsi gizi dan upaya peningkatan / penambahan Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kepada balita perlu terus dilakukan. Kasus tertinggi terjadi di Kecamatan Toili. Pada tahun 2003 terdapat 68 kasus atau sekitar 1. 40. mengingat bahwa kesehatan balita merupakan salah satu indikator penting untuk melihat rawan tidaknya kesehatan masyarakat.732 atau sekitar 23. Status Gizi Mengingat bahwa kelompok bayi dan balita sangat rentan terhadap penyakit-penyakit kekurangan gizi. balita BGM sebanyak 1.PPGM Sementara itu penyakit darah tinggi yang termasuk dalam kategori penyakit degeneratif menduduki peringkat keempat dengan persentase sebesar 6.1% kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). diantaranya sebagai akibat adanya transisi demografi yaitu meningkatnya usia lanjut yang pada akhirnya banyak memunculkan berbagai penyakit non menular (degeneratif) dan karena adanya perubahan pola makan. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Di berbagai bagian wilayah Banggai umumnya (lebih dari 50%) masyarakat masih membelanjakan sebagian besar pendapatannya untuk keperluan bahan makanan pokok. Luwuk dan Toili. d. Secara umum nampak bahwa jenis-jenis penyakit infeksi (menular) masih mendominasi pola penyakit yang ada. maka status gizi bayi dan balita merupakan indikator yang digunakan dalam mengukur status gizi masyarakat.

Pada tahun 2003 diperoleh data bahwa pemberian ASI eksklusif adalah 0-4 bulan dan dari 4.4% penduduk Kabupaten Banggai. dalam kegiatan pengembangan gas Matindok ini dimunculkan beberapa alternatif yaitu: KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-128 . dan sebagainya). Kondisi kesehatan lingkungan dicerminkan dari keberadaan rumah sehat. PELINGKUPAN 2.40%) rumah yang diperiksa.1. 2. Kesehatan Lingkungan Kesehatan lingkungan merupakan suatu kondisi atau keadaan lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimum pula.589 bayi atau sekitar 86. Dalam hal ini berarti perlu adanya program untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memelihara kesehatan lingkungan baik di rumah maupun lingkungan sekitarnya.PT PERTAMINA EP . pemberantasan sarang nyamuk. cakupan air bersih. pengelolaan sampah dan cakupan SPAL (Sarana Pembuangan Air Limbah). Dengan demikian baru sekitar 40.3.513 (86.8%.133 bayi yang ada. Pada tahun 2003 terdapat sebanyak 61.2. pendapat masyarakat tentang konsep sakit dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat berkaitan dengan kondisi lingkungannya. yang diberikan ASI eksklusif adalah 3.164 kunjungan.3. kepemilikan jamban keluarga. Proses Pelingkupan Seperti diuraikan pada deskripsi rencana kegiatan. 2.934 buah rumah di Kabupaten Banggai. pola pemberian ASI.PPGM Pola perilaku lainnya yang tercakup dalam PHBS diantaranya adalah tingkat partisipasi masyarakat dalam program-program kesehatan (posyandu. Pada tahun 2003 jumlah kunjungan masyarakat ke Puskesmas baik rawat jalan maupun rawat inap adalah 114.30% diantaranya yang telah memenuhi syarat sebagai rumah sehat. kualitas air bersih.20% penduduk Kabupaten Banggai yang telah memanfaatkan Puskesmas sebagai salah satu upaya pengelolaan kesehatannya. angka bebas rokok dalam rumah tangga. Sementara itu pemanfaatan RSUD baru dilakukan oleh 4. dan sebanyak 53. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran ibu-ibu tentang pentingnya ASI bagi bayi mereka sudah cukup baik. baru sekitar 44.4.3.

Alternatif jalur trunkline dari BS Donggi ke LNG Plant Jalur pipa trunkline dari BS Donggi ke LNG Plant akan dibuat tiga jalur alternatif sebagai berikut:. Jalur alternatif-2 dan jalur alternatif-3 dimaksudkan untuk menghindari gangguan pada lahan di Bangkiriang sebagai Suaka Margasatwa. Jalur alternatif-3 yaitu pemasangan trunkline dari BS Donggi akan dilakukan melalui pantai SM Bangkiriang sepanjang sekitar 4 km. Oleh karena itu dalam kajian AMDAL ini dua rencana lokasi akan menjadi kajian alternatif. Jalur alternatif-1 yaitu pemasangan pipa trunkline dari BS Donggi melintasi SM Bangkiriang berdampingan jalan provinsi. b.PPGM a. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-129 . survei literatur. Air tawar diambil dari air tanah dalam 2. 2.PT PERTAMINA EP . maka penyediaan air tawar diusahakan dari 3 alternatif yaitu: 1. Proses pelingkupan rencana pengembangan gas Matindok dilakukan dengan cara diskusi antar pakar penyusun dokumen ANDAL. Air tawar disuling dari air laut 3. Air tawar diambil dari air permukaan c. 1. penggelaran pipa ditanam sedalam 2 meter kemudian ditimbun kembali. Jalur alternatif-2 yaitu pemasangan pipa melintasi SM Bangkiriang dilakukan dengan sistem pemboran horizontal. Alternatif lokasi LNG Plant dan Pelabuhan Khusus Sementara ini PPGM masih mengkaji dua kemungkinan lokasi LNG Plant dan pelabuhan khusus yaitu di Desa Uso (Kecamatan Batui) dan Desa Padang (Kecamatan Kintom). survei lapangan. walaupun kondisi hutan di SM Bangkiriang sekarang ini sudah rusak. 3. hasil konsultasi publik yang telah dilaksanakan saat akan menyusun dokumen ANDAL. serta dengan menggunakan proffessional judgement. Alternatif penyediaan air tawar untuk LNG Plant Dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan air tawar yang besar untuk operasional LNG Plant.

termasuk didalamnya alternatif-alternatif yang telah ditetapkan. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-130 .30 . Jadi kajian alternatif tidak ditampilkan secara terpisah. Pada tahap operasional ketiga alternatif rencana penyediaan air tawar untuk operasional Kilang LNG yang diambil dari air permukaan diduga akan berpotensi menimbulkan dampak yang berbeda nyata pada subkomponen geofisik-kimia dan soseskbud.PT PERTAMINA EP . dan Gambar 2.31. Hasil identifikasi dampak potensial menunjukkan bahwa pada tahap konstruksi dan operasi ketiga jalur alternatif pemasangan pipa akan terjadi perbedaan dampak potensial yang signifikan pada subkomponen biologi. dan sebaliknya tidak akan ada perbedaan yang signifikan untuk subkomponen geofisik-kimia. Alur pikir dan hasil proses pelingkupan dapat diringkaskan seperti tercantum dalam Gambar 2. namun kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakatnya relatif berbeda. Hal ini disebabkan semua alternatif melewati lahan yang dimiliki negara sehingga tahap prakonstruksi tidak berpotensi menimbulkan dampak.PPGM Dalam proses pelingkupan. sosekbud dan kesmas. Sementara untuk semua tahapan kegiatan dari dua alternatif lokasi kompleks LNG Plant dan Pelabuhan Khusus diduga dampak potensial yang terjadi akan berbeda nyata pada soseskbud. melainkan akan diintegrasikan pada setiap komponen lingkungan yang terkena dampak. identifikasi dampak potensial berdasarkan atas pertimbangan atas kombinasi antara kondisi rona lingkungan hidup dan informasi jenis dan intensitas setiap kegiatan yang direncanakan. karena kedua lokasi yang relatif dekat itu merupakan hamparan ekosistem yang relatif sama. maka proses pelingkupan ini meliputi setiap rencana kegiatan dan termasuk didalamnya alternatif-alternatifnya. Dengan mempertimbangkan identifikasi dampak potensial pada setiap alternatif yang dimunculkan tersebut diatas.

30.PPGM Gambar 2. Bagan Alir Identifikasi Dampak Potensial Rencana Kegiatan PPGM PT PERTAMINA Di Kabupaten Banggai (ambil di file Gb.30) KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-131 .PT PERTAMINA EP . 2.

Komponen Kesmas Penurunan sanitasi lingkungan Penurunan tingkat kesehatan masyarakat Identifikasi Dampak Potensial DAMPAK PENTING HIPOTETIS A. Gangguan biota air tawar 11. Gangguan bioata air laut 12. Perubahan sikap dan persepsi masyarakat 16. Geofisikkimia  Komp. Perubahan pola kepemilikan lahan 2. Gangguan biota air laut 8. Terjadi kebisingan 3. Gangguan satwa liar 10. Biologi  Komp. Peningkatan kualitas air laut 5. Gangguan biota air tawar 7. Penurunan kualitas air laut 8. Sosekbud  Komp. Perubahan sikap dan persepsi masyarakat Deskripsi Rencana Kegiatan  Pra-Konstruksi  Konstruksi  Operasi  Pasca Operasi Deskripsi Rona Lingkungan Awal  Komp.31. Gangguan sistem drainase dan Irigasi 4. Gangguan transportasi darat 6. Terjadi erosi tanah 3. Perubahan sikap dan persepsi masyarakat 13. Gangguan transportasi darat 6. Penurunan tingkat kesehatan masyarakat Pasca Operasi: 1.PT PERTAMINA EP . Geo-Fisik-Kimia Perubahan iklim mikro Perubahan kualitas udara ambien Terjadi kebisingan Perubahan sifat tanah Peningkatan kuantitas aliran permukaan Peningkatan debit air sungai Penurunan debit air sungai Terjadi erosi tanah Gangguan sistem drainase dan irigasi Penurunan kualitas air permukaan Penurunan kualitas air laut Penurunan kuantitas air tanah Gangguan transportasi darat Gangguan transportasi laut B. Penurunan sanitasi lingkungan Operasi: 1. Adanya kesempatan berusaha 14. Penurunan pendapatan masyarakat 7. Terjadi kebisingan 3. Perubahan kependudukan 9. Adanya kesempatan berusaha 11. Gangguan transportasi darat 5. Perubahan kualitas udara ambien (debu dan gas) 2. Peningkatan kuantitas aliran permukaan 6. Hilangnya kesempatan berusaha 8. Peningkatan pendapatan masyarakat 13. Gangguan proses sosial 15. Terjadi kebisingan 2. Komponen Kesmas Penurunan sanitasi lingkungan Penurunan tingkat kesehatan masyarakat Prakonstruksi: 1. Penurunan sanitasi lingkungan 14. Sulawesi Tengah KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-132 . Gangguan vegetasi 9. Perubahan sikap dan persepsi masyarakat Konstruksi: 1. Peningkatan pendapatan masyarakat 10. Geo-Fisik-Kimia Perubahan kualitas udara ambien Terjadi kebisingan Peningkatan kuantitas aliran permukaan Terjadi erosi tanah Gangguan sistem drainase dan irigasi Penurunan kualitas air permukaan Penurunan kualitas air laut Gangguan transportasi darat B. Kesmas EVALUASI DAMPAK POTENSIAL KLASIFIKASI DAN PRIORITAS Gambar 2. Penurunan kualitas air permukaan 4. Gangguan proses sosial 12. Komponen Sosekbud Perubahan kependudukan Perubahan pola kepemilikan lahan Peningkatan/penurunan pendapatan masyarakat Adanya kesempatan berusaha Gangguan proses sosial Perubahan sikap dan persepsi masyarakat D. Komponen Biologi Gangguan vegetasi Gangguan satwa liar Gangguan biota air tawar Gangguan biota air laut C.PPGM PRIORITAS DAMPAK DAMPAK POTENSIAL A. Peningkatan kualitas air permukaan 4. Kerangka Proses Pelingkupan Isu Pokok Kegiatan Proyek Pengembangan Gas Matindok di Kabupaten Banggai. Komponen Sosekbud Perubahan kependudukan Perubahan pola kepemilikan lahan Peningkatan/penurunan pendapatan masyarakat Adanya kesempatan berusaha Gangguan proses sosial Perubahan sikap dan persepsi masyarakat D. Komponen Biologi Gangguan vegetasi Gangguan satwa liar Gangguan biota air tawar Gangguan biota air laut C. Penurunan kualitas air laut 5. Peningkatan kualitas udara ambien (debu dan gas) 2. Penurunan kualitas air permukaan 7.

sehingga buangan sebelum masuk ke udara bebas hanya berupa sisa pembakaran (SO 2 . Kilang LNG dan jalur pipa akan menyebabkan perubahan suhu dan kelembaban udara di daerah tersebut. Komponen Geo-Fisik-Kimia 1. Kegiatan operasi produksi di pusat pengolahan gas dan pencairan gas akan menimbulkan panas dan cahaya yang berumber dari colok api (flare stack). Demikian pula halnya dengan perubahan iklim mikro (pencahayaan dan suhu udara) yang diduga terjadi dari colok api karena gas yang dibakar jumlahnya kecil. Perubahan Iklim Mikro Tahap Prakonstruksi Komponen kegiatan terutama pembukaan dan pematangan lahan untuk lokasi pemboran sumur pengembangan. Sementara itu sekitar kilang LNG akan relatif lebih panas karena operasi produksi LNG. Perubahan iklim mikro akibat kegiatan pembukaan dan pematangan lahan tidaklah signifikan karena lahan yang dibuka relatif sempit dibanding dengan lahan sekitarnya yang lebih luas dan masih tertutup oleh vegetasi. Akan tetapi karena luas wilayah yang dibuka untuk kegiatan-kegiatan tersebut relatif kecil dibandingkan dengan luas daerah sekitarnya yang hampir 100% tertutup oleh vegetasi. penyebaran panas dan cahaya relatif pendek dan tidak mengganggu penduduk. Dengan demikian. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-133 . maka pengaruhnya tidak signifikan dalam mempengaruhi iklim mikro. Dalam keadaan normal hanya berupa nyala kecil. Panas dan cahaya akan menyebar ke sekitarnya dari nyala api yang terdapat di colok api tersebut. sehingga perubahan iklim mikro tersebut mempunyai intensitas perubahan kecil. Dalam keadaan demikian maka gas akan dialirkan ke colok api untuk dibakar. Namun karena lokasinya di pantai dengan angin yang kencang maka perubahan ini tidak akan signifikan. Oleh karena itu perubahan iklim mikro secara hipotetik tidak akan menjadi dampak penting. Tahap Operasi Perubahan iklim mikro dapat terjadi secara signifikan sebagai akibat kegiatan operasi produksi gas dan gas cair.PT PERTAMINA EP . GPF. gas yang dibakar dari colok api adalah gas buangan dalam jumlah dan tekanan kecil. dan ditetapkan sebagai bukan dampak negatif hipotetik. Tujuan pembakaran gas di colok api dilakukan sebagai pengamanan apabila terjadi tekanan gas yang berlebihan dari sumbernya dan pada proses produksi gas dan gaas cair.PPGM A. NO2 dan debu).

Sebaliknya pada tahap pasca operasi. Sementara kebisingan juga muncul karena suara genset dan mesin rig selama pemboran sumur gas. Terjadi Kebisingan Tahap Konstruksi Kebisingan akan timbul diakibatkan suara kendaraan berat dan lalu lintas kendaraan proyek selama kegiatan mobilisasi dan demobilisaasi peralatan. hidrokarbon dan debu. pembangunan GPF dan Kilang LNG serta pemasangan pipa. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-134 . terutama dari emisi kompresor. alat-alat berat untuk konstruksi itu dan penerangan. CO. Hal itu disebabkan kegiatan itu menggunakan bantuan peralatan berbahan bakar fosil seperti genset untuk pengelasan. tidak akan menjadi dampak penting. hidrokarbon dan debu. Perubahan Kualitas Udara Ambien Tahap Konstruksi Kualitas udara ambien mengalami perubahan yang cukup signifikan diakibatkan oleh kegiatan-kegiatan konstruksi pemboran gas. Kebisingan juga muncul karena suara dari mesin-mesin atau peralatan dan genset yang digunakan serta suara-suara lain yang timbul selama kegiatan pembukaan dan pematangan lahan. Sebaliknya pada Tahap Pasca Operasi yaitu kegiatan penutupan sumur dan penghentian operasi produksi gas dan gas cair gas-gas tersebut tidak diemisikan.PT PERTAMINA EP . GPF dan Kilang LNG cukup signifikan sehingga secara hipotetik akan menjadi dampak negatif penting. NO2 dan debu. sehingga secara hipotetik. material dan tenaga kerja. kualitas udara akan menjadi lebih baik. 3. Dari genset dan kompresor akan dikeluarkan SO 2 .PPGM 2. NO2. sehingga kualitas udara menjadi relatif lebih baik daripada tahap operasi. genset dan pembakaran di colok api. relatif kecil. NO2 . dan diharapkan dapat seperti kondisi udara di areal sekitarnya yang tidak terkena proyek. Akan tetapi pada tahap operasi jumlah gas dan debu yang dikeluarkan dari mesin-mesin dan emisi gas dari colok api untuk operasi produksi gas di BS. kegiatan pembangunan fasilitas produksi gas dan kilang LNG. seperti genset. Tahap Operasi Kegiatan operasional proses produksi gas dan gas cair akan menimbulkan limbah gas. Debu dan gas yang muncul pada kegiatan tahap konstruksi yang dikeluarkan oleh peralatan. sementara dari pembakaran colok api dikeluarkan SO2 . Operasional mesin-mesin menyebabkan timbulnya gas-gas buang SO 2.

pembangunan fasilitas produksi gas dan gas cair serta pemasangan pipa akan menyebabkan hilangnya tanah pucuk yang subur.PPGM Tahap Operasi Kebisingan akan muncul diakibatkan suara kompresor dari pusat pemrosesan gas dan gas cair dengan tingkat kebisingan yang tinggi sehingga dapat mencapai 100 dBA. Dengan hilangnya solum tanah tersebut akan berpengaruh terhadap sifat fisik dan kimia tanah yang akan berubah. secara hipotetik. dan menjadikan tingkat kesuburan semakin rendah serta dapat berpengaruh tehadap organisme dalam tanah. 4. Kebisingan yang muncul pada kegiatan tahap konstruksi yang dikeluarkan oleh peralatan. seperti genset. terutama mesin kompressor. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-135 .PT PERTAMINA EP . tingkat kebisingan akan menurun dan diharapkan akan seperti kondisi kebisingan di daerah sekitar yang tidak ada proyek. tidak akan menjadi dampak penting. Selain itu. Dengan demikian unsur hara atau bahan organik yang ada dalam solum tersebut ikut tercuci hilang terangkut oleh aliran permukaan. Sebaliknya pada tahap pasca operasi. Namun bila dibandingkan luasan lahan tertutup vegetasi di sekitarnya menjadi relatif sempit yang akan menjadi areal terbuka. sehingga secara hipotetik. Luasan lahan pada kegiatan pembukaan dan pematangan lahan cukup luas. Sebaliknya pada Tahap Pasca Operasi. Sifat fisik-kimia tanah yang akan mengalami perubahan karena kegiatan pembukaan lahan cukup luas pula. Apalagi dengan tidak adanya penutup lahan saat konstruksi. Akan tetapi pada tahap operasi kebisingan yang dikeluarkan dari mesin-mesin. relatif kecil dan penduduk di sekitarnya masih jarang. di BS. tanah yang dibuka tersebut memang dipersiapkan untuk pembangunan tahapan berikutnya berupa lokasi yang akan segera dikelola atau segera mengalami suksesi alami secara cepat. sehingga sifat tanah tidak akan berpengaruh secara signifikan. Perubahan Sifat Tanah Tahap Konstruksi Kegiatan pembukan dan pematangan lahan untuk persiapan areal pemboran (100 m x 100 m). Bila perumahan dekat dengan sumber suara itu. sehingga kualitas udara menjadi relatif lebih baik. maka penduduk akan menerima dampaknya. Oleh karena itu. perubahan sifat tanah tidak menjadi dampak penting hipotetik. GPF dan Kilang LNG cukup signifikan sehingga secara hipotetik akan menjadi dampak negatif penting. maka hujan yang jatuh akan langsung menghantam tanah dan mengerosi tanah pucuk (top soil ) secara berangsur sehingga solum tanah menjadi tipis atau hilang selamanya. penghentian proses produksi akan kebisingan itu akan terhenti pula.

Aliran permukaan tersebut nantinya akan menyebar keluar tapak proyek dan mengalir kedaerah bagian hilir yang lebih rendah ke lahan millik masyarakat di sisi bagian hilir lokasi dan kemungkinan sambil membawa material sedimen ke arah pantai. secara hipotetik akan menjadi dampak penting hipotetik.PT PERTAMINA EP . dan pengelupasan tanah oleh kegiatan pembukaan lahan dan pematangan lahan dalam rangka menyiapkan lahan untuk kegiatan pemboran sumur gas. Peningkatan aliran air permukaan tersebut dipengaruhi oleh tiga faktor penting yaitu faktor koefisien aliran permukaan. Dengan dibukanya lahan dari penutup vegetasi. Aliran permukaan tanah tersebut nantinya masih terus terjadi meskipun pembangunan bangun-bangunan prasarana fasilitas produksi gas telah selesai. maka akan berakibat tetesan hujan menghantam (impact) langsung kepermukaan tanah dan aliran permukan tanah terjadi. Akibat aliran permukaan tersebut berdampak pada terjadinya proses berikutnya berupa erosi tanah.PPGM 5. berbukit dan bergunung). bergelombang. Oleh karena itu dampak peningkatan kuantitas air permukaan. Peningkatan aliran permukaan pada saat pembukaan dan pematangan lahan dilaksanakan pada lokasi-lokasi sumur pemboran. kemiringan lereng. Peningkatan kuantitas aliran air permukaan Tahap Konstruksi Aliran permukaan dan peningkatan aliran permukaan akan terjadi akibat hilangnya vegetasi penutup lahan oleh kegiatan pembukaan dan pematangan lahan untuk penyiapan lahan lokasi kegiatan pemboran gas. intensitas hujan dan luas kawasan (area). 6. fasilitas produksi gas dan gas cair serta pemasangan pipa. vegetasi penutup tindakan konservasi. terutama pada lokasi yang tidak datar (topografi landai. sehingga dapat mengganggu penduduk bagian hilir. panjang lereng. pembangunan fasilitas produksi gas dan gas cair serta pemasangan pipa. Selama kegiatan penyiapan lahan tersebut akan menyebabkan terjadinya proses erosi di lokasi tersebut. Proses erosi tersebut dipengaruhi oleh lima faktor penyebab erosi antara yaitu faktor erosivitas hujan. dan pemasangan pipa (sepanjang ± 75 km). Dengan dibukanya tanah dari penutup KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-136 . Terjadinya Erosi Tanah Tahap Konstruksi Erosi tanah diprakirakan akan terjadi ketika vegetasi penutup lahan hilang akibat pembukaan dan pematangan lahan untuk penyiapan lahan kegiatan pemboran gas. Selama kegiatan penyiapan lahan tersebut akan terjadi aliran air permukaan langsung (runoff) di lokasi tersebut. erodibilitas tanah. berombak.

sehingga dapat mengganggu penduduk. saluran drainase dan irigasi. Terganggunya sistem drainase dan irigasi. sehingg a dapat menggenangi persawahan atau lahan sekitarnya. secara hipotetik akan menjadi dampak penting. Kondisi seperti ini akan berlangsung selama permukaan lahan masih terbuka ditempat tersebut dan segera berkurang atau terhenti setelah lahan tertutup kembali dengan bangunan-bangunan atau vegetasi.PPGM vegetasi. karena pembukaan lahan khususnya untuk jalur pipa banyak yang memotong sungai-sungai yang mengalir ke arah perairan Selat Peleng. terutama pada lokasi yang tidak datar dan kondisi tanah yang peka erosi. Erosi tanah akan besar terutama pada pembukaan dan pematangan lahan pada lokasi-lokasi sumur pemboran. yang bila tidak dilakukan dengan sistem pemasangan pipa semacam jembatan atau saluran pengelak akan menggaggu aliran air. dan pemasangan pipa (sepanjang ± 75 km). Oleh karena itu dampak terhadap erosi tanah. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-137 . Gangguan Sistem Drainase dan Irigasi Tahap Konstruksi Kegiatan pembukaan dan pematangan lahan khususny a untuk jalur pipa gas akan memotong beberapa sungai. Partikel tanah hasil erosi tersebut diperkirakan akan menyebar ke lahan yang lebih rendah millik masyarakat di sisi bagian hilir lokasi dan sebagian masuk sungai sebagai material sedimen dan terbawa aliran sungai ke arah pantai. maka akan berakibat tetesan hujan menghantam (impact) langsung dan melepaskan serta mengangkut agregat tanah sehingga diprakirakan akan terjadi peningkatan aliran permukaan yang mampu mengerosi tanah permukaan. 7. saluran irigasi dan beberapa alur sungai tersebut yang selama ini dipergunakan untuk mengairi sawah penduduk sehingga sistem drainase dan irigasi menjadi terganggu. secara hipotetik akan menjadi dampak penting. Toili dan Batui akan terganggu oleh karena terpotong oleh jalur pipa. Sistem drainase dan irigasi di persawahan wilayah Kecamatan Toili Barat. Tanah bekas galian untuk kegiatan pemasangan pipa gas juga akan mengganggu aliran air. atau mungkin aliran permukaan akan terbendung timbunan tanah galian.PT PERTAMINA EP .

Oleh karena itu secara hipotetik. dapat dijelaskan disini bahwa data debit sungai yang digunakan adalah berdasarkan data sekunder yang ada (BAPPEDA Kabupaten Banggai. Peningkatan debit akibat pembukaan lahan relatif kecil karena luas lahan yang dibuka bila dibandingkan areal sekitarnya yang masih tertutup rapat oleh vegetasi relatif kecil.PT PERTAMINA EP . selain itu pelaksanaan uji hidrostatis memakan waktu yang pendek. Terkait dengan kebutuhan akan air bersih untuk keperluan proyek pengembangan gas Matindok yang cukup besar. Direktorat Jendral Sumber Daya Air. dampak pada debit air sungai tidak akan menjadi dampak penting. Sungai Sinorang (24 m3 /dtk). 9. Seperti dijelaskan terdahulu bahwa di daerah penelitian terdapat beberapa sungai besar dengan data debit sesaat yaitu: Sungai Singkoyo (64 m 3/dtk). 3 3 3 KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-138 . Sungai Mansahang (41 m 3/dtk). Sungai Toili (40 m3 /dtk).PPGM 8. Pembukaan lahan ini akan menyebabkan terjadinya perubahan nilai koefisien aliran permukaan (run off) menjadi besar sehingga hujan yang jatuh di daerah tersebut sebagian besar akan menjadi aliran permukaan yang selanjutnya masuk ke sungai dan menyebabkan meningkatnya debit aliran permukaan dan debit sungai. Sungai Batui (85. Debit air sungai juga tidak akan terpengaruh secara signifikan oleh kegiatan hydrotest yang sekalipun kebutuhan airnya besar. namun bila dibandingkan dengan ketersediaan air di sungai terdekat terutama bila pada musim penghujan maka menjadi relatif kecil. 2006). Salah satu sungai yang data debitnya dipantau secara periodik oleh Departemen Pekerjaaan Umum. Sungai Tangkiang (60 m /dtk).2 m3 /dtk). Peningkatan Debit Air Sungai Tahap Konstruksi Debit air sungai akan meningkat akibat mendapat imbuh dari aliran permukaan (run-off) akibat pembukaan lahan dan pematangan lahan untuk persiapan kegiatan pembangunan fasilitas produksi gas dan kegiatan pemasangan pipa.78 x 106m /tahun.895. Debit keseluruhan sungai-sungai tersebut diperkirakan sekitar 1. Sungai Mendono (60 m /dtk). Penurunan Debit Air Sungai Tahap Konstruksi Diperkirakan debit air sungai akan menurun ketika air sungai diambil untuk keperluan pemboran dan uji hidrostatis pemasangan pipa pada kegiatan pembangunan fasilitas produksi gas (khususnya pemboran sumur).

Daerah penelitian tersusun dari beberapa formasi batuan. Hal itu disebabkan oleh kegi atan pembukaan lahan dan penyiapan lahan untuk pemboran sumur.093 m 3/hari. 3 Diperkirakan bahwa kebutuhan air untuk kegiatan uji hidrostatik sekitar 20. Batu Gamping dan Sedimen Napa.035 X 10 m /hari. maka dampak hipotetis yang terjadi tidak dikatagorikan sebagai dampak negatif penting hipotetis. Akan tetapi luas permukaan yang akan terbuka relatif sedikit dibanding luasan lahan yang tertutup oleh vegetasi. 10. pembangunan fasilitas produksi gas dan gas cair serta untuk jalur pipa. Hal ini menujuk kan bahwa debit sungai tersebut ditinjau secara kualitas lingkungan dari segi kuantitas air sungai adalah sangat baik.000 m 3 dan hanya sekali. Volkanik Recent. Dengan demikian ditinjau dari dampaknya maka dampak penuruan kuantitas air permukaan dalam hal ini air sungai tidak dikatagorikan kedalam dampak negatif penting hipotetik. Penurunan Kuantitas Air Tanah Tahap Konstruksi Kuantitas air tanah diperkirakan akan berpotensi menurun karena vegetasi penutup lahan hilang (land clearing) dan pengelupasan tanah serta aliran permukaan yang lebih tinggi sehingga terjadi gangguan dalam penyerapan air. Apalagi apabila pelaksanaan uji hidrostatik dilakukan pada musim penghujan.000 m . Debit air tanah tersebut termasuk dalam 6 3 6 3 KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-139 . potensi air tanah tahunan adalah sebesar 387 X 10 m /tahun atau 1. yaitu: Formasi Batuan Volkanik Tua. yang masing-masing mempunyai kemampuan untuk imbuh air tanah dari hujan dengan kecepatan yang berbeda satu sama lain. apabila pelaksanaan uji hidrostatik menggunakan air sungai sebesar 20. Telah dijelaskan terdahulu bahwa data kuantitas air tanah yang digunakan adalah data sekunder dari Bappeda Kabupaten Banggai (2006). Dengan melihat cadangan kuantitas (debit) air sungai tersebut. dimana saat itu kondisi debit sungai adalah mempunyai aliran stabil. Berdasarkan data sekunder potensi air tanah). dengan debit rata-rata harian sebesar 94.PT PERTAMINA EP . Air tanah di suatu daerah sangat dipengaruhi oleh curah hujan dan karakteristik formasi geologi daerah yang bersangkutan. maka tidak akan ada pengaruhnya terhadap penurunan debit sungai.PPGM Kabupaten Palu tahun 1995-2004 adalah Sungai Batui.

dampak berupa penurunan kuantitas air tanah untuk keperluan pemboran sumur adalah tidak sigifikan dan ditetapkan tidak sebagai dampak negatif penting hipotetik. Dengan memperhatikan cadangan kuantitas (debit) air tanah tersebut. kualitas air permukaan juga akan menurun sebagai akibat dari pembuangan air bekas hydrotest dari kegiatan konstruksi/pembangunan fasilitas produksi gas dan kegiatan pemasangan pipa transmisi gas (pipeline) selesai dilaksanakan. 11. Pada penjelasan di sub bab sebelumnya telah disampaikan bahwa potensi air tanah tahunan mempunyai debit sebesar 387 X 106 m3 /tahun atau 1. Kemungkinan pula. Dengan demikian dampak penurunan kuantitas air tanah untuk keperluan operasional BS dan kilang LNG tidak ditetapkan sebagai dampak negatif penting hipotetik. Penurunan Kualitas Air Permukaan Tahap Konstruksi Kualitas air permukaan (sungai) akan menurun karena erosi tanah yang menyebabkan peningkatan kekeruhan akibat kegiatan pembukaan dan pematangan lahan. dan kilang LNG secra keseluruhan adalah sekitar 75 m 3/hari.PPGM jumlah yang sangat besar.PT PERTAMINA EP . Tahap Operasi Kualitas air sungai akan menurun kemungkinan akibat pembuangan air limbah dari instalasi pengolahan air limbah (waste water treatment) di fasilitas produksi gas dan gas cair selama operasional serta pemboran sumur pengembangan. 3 KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-140 . Selanjutnya air sungai yang kualitasnya telah menurun itu bila meresap ke dalam tanah akan berpotensi menurunkan kualitas air sumur penduduk. Apabila digunakan untuk operasional BS sebesar 25 m3/hari dan opersional kilang LNG sebesar 75 m3/hari.035 X 106 m 3/hari . maka sangat kecil sekali pengaruhnya terhadap penurunan debit air tanah. maka sangat kecil sekali pengaruhnya terhadap penurunan debit air tanah. Dengan demikian. maka apabila digunakan untuk keperluan pemboran sumur (420 m 3 /sumur). Tahap Operasi Operasional BS akan membutuhkan air tanah sekitar 25 m /hari. dan pemboran sejumlah sumur pengembangan dilakukan secara tidak bersamaan waktunya.

dan pemasangan pipa di laut. Selain itu pembuangan lumpur bor ke laut juga akan menurunkan kualitas air laut. jenis dampak pada kualitas air permukaan akan menjadi dampak negatif sama. dan pembangunan fasilitas produksi gas dan gas cair. Kualitas air yang menurun akan berdampak pada komponen lain misalnya bila pada areal yang sama digunakan oleh masyarakat untuk penangkapan ikan dan dapat pula mempengaruhi kehidupan biota air laut. 12.PT PERTAMINA EP . Secara hipotetik. Sebaliknya. Kualitas air laut juga akan menurun karena pencemaran minyak dan bahan kimia lain akibat adanya kapal-kapal termasuk kapal tanker yang berlabuh di dermaga di komplek kilang LNG pada kegiatan operasi fasilitas produksi gas dan gas cair. Kualitas air yang menurun akan berdampak pada komponen lain misalnya badan air yang sama di bagian hilirnya digunakan oleh masyarakat dan dapat pula mempengaruhi kehidupan biota air tawar.PPGM Penurunan kualitas air permukaan akan terjadi pada tahap konstruksi dan akibat limbah cair dari operasi produksi. setelah selesai operasi produksi. kualitas air permukaan akan menjadi sama dengan bagian hulu badan air yang (waste water treatment) /IPAL di fasilitas produksi gas dan gas cair selama operasional yang akhirnya mengalir di laut. Kualitas air laut akan turun pada tahap konstruksi khususnya pada asat pemasangan pipa lepas pantai dan pembangunan dermaga di Kilang LNG serta operasi produksi gas dan gas cair. jenis dampak pada kualitas air laut akan menjadi dampak negatif penting. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-141 . Sebaliknya. Kualitas air laut juga akan menurun disebabkan oleh pembuangan air bekas hydrotest dari kegiatan pemboran sumur. Tahap Operasi Kualitas air laut akan menurun karena pembuangan air limbah dari instalasi pengolahan air penting. Secara hipotetik. kualitas air laut akan menjadi sama dengan bagian laut sekitarnya. Penurunan Kualitas Air Laut Tahap Konstruksi Kualitas air laut akan menurun karena pengerukan tanah di pantai untuk pembangunan jetty dan dermaga khusus untuk pengapalan LNG yang menyebabkan peningkatan kekeruhan akibat kegiatan pembukaan dan pematangan lahan. setelah selesai operasi produksi.

namun klas jalan bila ditinjau dari tekanan gandar maksimum setara dengan jalan klas II (kekuatan maksimum < 8 ton). Pekerjaan pemasangan pipa yang memotong jalan hanya pada tempat-tempat tertentu dan sifatnya tidak permanen (dapat segera dipulihkan). Gangguan keselamatan pengguna jalan. Kerusakan Jalan dan Jembatan Tahap konstruksi Pada tahap konstruksi k egiatan mobilisasi peralatan dan pengangkutan material bahan konstruksi melalui jalan darat ke lokasi rencana kegiatan pemipaan dan fasilitas produksi serta LNG diperkirakan akan berdampak pada gangguan stabilitas perkerasan jalan dan jembatan. Pengotoran jalan. Gangguan Transportasi Darat Pada dasarnya gangguan transportasi darat mencakup beberapa macam dampak seperti a). Kerusakan jalan disebakan pula oleh kegiatan Pemasangan Pipa Penyalur Gas pada jalur darat yang memotong jalan raya. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-142 . c). Dengan demikian parameter kerusakan jalan dan jembatan pada kegiatan mobilisasi peralatan. khususnya pada wilayah yang sering mengalami banjir serta kondisi jembatan yang sempit (lebar 3. b). Berdasarkan hasil observasi awal di lokasi. beberapa ruas jalan sudah menunjukkan gejala kerusakan. Jalan yang akan dijadikan rute pengangkutan meskipun sebagai jalan provinsi.PPGM 13. Kerusakan jalan tersebut tidak dapat dikembalikan seperti kondisi semula. Kerusakan jalan dan jembatan. Gangguan kelancaran lalulintas. a. kecuali melalui proses perbaikan struktur jalan (pemadatan dan pengaspalan). akan merusak jalan raya (ada kegiatan penggalian). Peralatan berat akan diangkut dengan menggunakan trailer dengan muatan sumbu terberat dapat mencapai > 10 ton. sehingga dikhawatirkan adanya lalulintas tersebut dapat merusak jalan dan jembatan.PT PERTAMINA EP . Dengan demikian parameter kerusakan jalan pada kegiatan pemasangan pipa penyalur gas dikategorikan bukan sebagai dampak penting hipotetik.20 meter) dikhawatirkan terjadi kerusakan jalan maupun jembatan. material dan tenaga kerja dikategorikan sebagai dampak penting hipotetik. dan d).

Hal ini dimungkinkan mengingat klas jalan berdasarkan tekanan gandar belum mencapai 10 ton. sehingga tidak tahan lama/cepat rusak.PT PERTAMINA EP . kegiatan penyaluran kondensat melalui jalan darat dilakukan dengan menggunakan mobil tanki akan berdampak pula pada peningkatan kerusakan jalan dan jembatan. sehingga dikhawatirkan adanya lalulintas tersebut dapat merusak jalan dan jembatan. Tahap Pasca Operasi Pada Tahap Pasca Operasi. Beban yang besar dan intensitas pembebanan yang berulang. Dengan demikian parameter kerusakan jalan dan jembatan pada kegiatan demobilisasi peralatan dikategorikan sebagai dampak penting hipotetik. Peralatan berat akan diangkut dengan menggunakan trailer diperkirakan memiliki muatan sumbu terberat mencapai > 10 ton. maka aktivitas tersebut dikhawatirkan menambah kerusakan jalan maupun menyebabkan kerusakan jembatan.20 meter). Mengingat kondisi beberapa ruas jalan sudah menunjukkan gejala kerusakan khususnya pada wilayah yang sering mengalami banjir serta kondisi jembatan yang sempit (lebar 3. Mengingat kondisi beberapa ruas jalan sudah menunjukkan gejala kerusakan.5 meter). karena roda kendaraan keluar perkerasan. kegiatan demobilisasi peralatan melalui jalan darat diperkirakan akan berdampak pada gangguan stabilitas perkerasan jalan dan jembatan. khususnya pada wilayah yang sering mengalami banjir serta kondisi jembatan yang sempit (lebar 3. akan menyebabkan umur rencana jalan cepat tercapai. maka aktivitas tersebut dikhawatirkan menambah kerusakan jalan maupun menyebabkan kerusakan jembatan. Dengan demikian parameter kerusakan jalan dan jembatan pada kegiatan penyaluran kondesat dengan transportasi darat dikategorikan sebagai dampak penting hipotetik.PPGM Tahap Operasional Pada Tahap Operasional. bila terjadi simpangan akan merusak bahu jalan (lebar perkerasan rata-rata hanya 4. Lebar kendaraan yang lebih dari 2 meter. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-143 .20 meter).

Namun pengangkutan peralatan tersebut tidak terlalu mengganggu kelancaran lalulintas di sepanjang ruas jalan yang dijadikan rute pengangkutan. Batui. maka kegiatan pembukaan dan pematangan lahan akan bersinggungan dengan jalur lalulintas. sedangkan lebar jalan/jembatan relatif sempit. Apabila ada gangguan pada ruas jalan KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-144 . baik jaringan jalan maupun jembatan). khususnya pipa untuk kegiatan pemipaan akan menimbulkan dampak pada parameter kelancaran lalulintas. Toili dan Toili Barat ke kecamatan Kintom maupun Kota Luwuk. Hanya saja pada saat pengangkutan material. sehingga harus menghentikan arus lalulintas menerus. maka gangguan kelancaran pada ruas jalan tersebut akan berakibat pada kemacetan di seluruh wilayah kecamatan tersebut. Ruas jalan yang terkena dampak kegiatan pembukaan dan pematangan lahan adalah ruas jalan satu-satunya yang menghubungkan wilayah kecamatan Batui. Gangguan Kelancaran Lalulintas Tahap Konstruksi Aktvitas mobilisasi peralatan dan pengangkutan material bahan konstruksi dilakukan pada saat awal pekerjaan konstruksi dan pengangkutan material melalui jalan darat dilakukan selama tahap pembangunan (tahap konstruksi akan berdampak pada gangguan kelancaraan jalan). Selama belum ada pengalihan sistem jaringan jalan dan jembatan yang sudah ada saat ini. Dengan demikian parameter gangguan kelancaran lalulintas pada kegiatan mobilisasi dan demobilisasi peralatan. Mengingat jalur jalan yang dijadikan rute pengangkutan merupakan jalur satu-satunya yang menghubungkan Kota Luwuk-dengan kota-kota kecamatan (Kintom.PPGM b. material dan tenaga kerja dikategorikan sebagai dampak penting hipotetik Kegiatan pembukaan dan pematangan lahan khususnya untuk area pembangunan kilang LNG di wilayah Batui maupun Kintom berada di wilayah yang sudah terbangun (permukiman maupun sistem jaringan infrstruktur. Toili dan Toili Barat).PT PERTAMINA EP . Gangguan kelancaraan disebabkan oleh aktivitas alatalat berat yang melintas/memotong jalan. sehingga mengakibatkan tundaan lalulintas pada salah satu arah. sehingga menyebabkan gangguan pada parameter kelancaran lalulintas. Hal ini disebabkan oleh intensitas pengangkutan yang cukup tinggi.

Batui. Kegiatan pemasangan pipa pada jalur darat oleh penutupan akan memotong jalan raya dan diprakirakan akan menggangu pergerakan lalulintas di jalan raya. maka gangguan kelancaran pada ruas jalan tersebut akan berakibat pada kemacetan di seluruh wilayah kecamatan tersebut. sehingga dapat mengalirkan arus lalulintas untuk kedua arah. proses pengangkutan peralatan setelah berakhirnya kegiatan operasional (demobilisasi peralatan) . Dengan demikian parameter gangguan kelancaran lalulintas pada kegiatan penyaluran kondesat dengan transportasi darat dikategorikan sebagai dampak penting hipotetik. Hal ini diakibatkan separuh lebar jalan (pekerjaan dilakukan bertahap) dan kurangnya jalur-jalur alternatif untuk mengalihkan arus lalulintas. Toili dan Toili Barat). Tahap Pasca Operasi Pada tahap pasca operasi. Pekerjaan pemasangan pipa yang memotong jalan dapat dilakukan secara bertahap dan disertai dengan pembuatan jalan darurat. maka dampaknya akan dirasakan oleh sebagian besar warga masyarakat yang tinggal di wilayah kecamatan tersebut. Tahap Operasi Pada tahap operasi aktivitas pergerakan mobil tanki mengangkut kondensat dari fasilitas produksi gas ke lokasi Tangki Penampung Kondensat milik JOB Pertamina-Medco Tomori Sulawesi di Bajo akan membebani ruas jalan provinsi. Dengan demikian parameter gangguan kelancaran lalulintas pada kegiatan pemasangan pipa penyalur gas dikategorikan bukan sebagai dampak penting hipotetik. Tambahan arus lalulintas ini dapat mengakibatkan penurunan kinerja jalan.PPGM tersebut. Gangguan kelancaraan lalulintas disebabkan masuknya kendaraan angkutan berukuran besar ke dalam arus lalulintas.PT PERTAMINA EP . Mengingat jalur jalan yang dijadikan rute pengangkutan merupakan jalur satu-satunya yang menghubungkan Kota Luwuk-dengan kota-kota kecamatan (Kintom. sehingga berakibat pada besarnya tundaan lalulintas ( gangguan kelancaran lalulintas). Jalan raya yang sempit akan KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-145 . Dengan demikian parameter gangguan kelancaran lalulintas pada kegiatan pembukaan dan pematangan lahan dikategorikan sebagai dampak penting hipotetik. akan dapat mengakibatkan gangguan kelancaran laluintas.

Kondisi jalan dan jembatan yang sempit. maka banyak tempat-tempat yang berpotensi terjadinya kecelakaan lalulintas. Toili dan Toili Barat). khususnya pengendara kendaraan bermotor di jalan raya. karena kecepatan arus sangat tergantung pada kecepatan kendaraan angkutan akibat kesulitan dalam melakukan gerakan menyalip (gerakan mendahului kendaraan di depannya). material dan tenaga kerja dikategorikan sebagai dampak penting hipotetik. Batui. Dengan demikian parameter gangguan kelancaran lalulintas pada kegiatan demobilisasi peralatan dikategorikan sebagai dampak penting hipotetik. maka gangguan kelancaran pada ruas jalan tersebut akan berakibat pada kemacetan di seluruh wilayah kecamatan tersebut.PPGM menyebabkan iringan kendaraan. Kegiatan aktivitas pembukaan dan pematangan lahan (pembangunan kilang LNG) yang bersinggungan dengan arus lalulintas di jalan raya diprakirakan akan berdampak pada gangguan keselamatan pengguna jalan . c. Gangguan keselamatan pengguna jalan diakibatkan oleh gerakan/manuver kendaraan proyek maupun alat-alat proyek seperti excavator dan bulldozer yang memotong jalan maupun beraktivitas di area yang berdekatan dengan jalan raya.PT PERTAMINA EP . KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-146 . Mengingat jalur jalan yang dijadikan rute pengangkutan merupakan jalur satu-satunya yang menghubungkan Kota Luwuk-dengan kota-kota kecamatan (Kintom. Dengan demikian parameter gangguan keselamatan pengguna jalan pada kegiatan mobilisasi dan demobilisasi peralatan. Banyaknya kawasan permukiman dan kawasan perkotaan yang padat kegiatan di sekitar rute angkutan tersebut. faktor lingkungan di sekitar jalan yang banyak potensi pejalan kaki (kawasan permukiman dan perkotaan) maupun binatang ternak yang berada di jalan raya menjadi faktor utama penyebab kecelakaan lalulintas. maka proses mobilisasi dan demobilisasi pengangkutan peralatan konstruksi maupun pengangkutan material bahan konstruksi diperkirakan akan memberikan dampak pada parameter keselamatan pengguna jalan pada tahap konstruksi. Gangguan Keselamatan Pengguna Jalan Tahap Konstruksi Dengan terjadinya kerusakan jalan dan gangguan kelancaran pengguna jalan.

menyebabkan peningkatan resiko terjadinya kecelakaan yang dibebabkan kebebasan samping yang kurang memadai.PPGM Kelalaian operator dan pelaksana proyek di lapangan yang tidak mematuhi SOP. Pekerjaan pemasangan pipa yang memotong jalan tidak dapat dilakukan dengan segera dan membutuhkan waktu untuk pengembalian kondisi jalan seperti semula. Bekasbekas galian dan gundukan tanah bisa menyebabkan terjadinya kecelakaan. Pemasangan pipa pada jalur darat yang memotong jalan raya.PT PERTAMINA EP . khususnya di malam hari (perlu penerangan dan rambu peringatan).5 meter) dan lebar perkerasan yang kurang dari 5 meter (jalan dan sebagai jembatan). berpotensi pada peningkatan kerawanan terhadap kecelakaan (gangguan keselamatan pengguna jalan). Dengan demikian parameter gangguan keselamatan pengguna jalan pada kegiatan pembukaan dan pematangan lahan dikategorikan sebagai dampak penting hipotetik. Tahap Operasi Penambahan arus lalulintas yang diakibatkan oleh proses pengangkutan kondensat lewat jalan darat. menyebabkan rawan terjadinya gangguan keselamatan pengguna jalan berupa kecelakaan khususnya pada waktu malam hari. yaitu kurangnya penerangan jalan dan proses pengembalian kondisi jalan seperti semula tidak dapat dilakukan dalam jangka pendek. khususnya di kawasan permukiman maupun daerah perkoataan. sehingga mengharuskan penutupan separuh lebar jalan (pelaksanaan bertahap). Hal ini disebabkan oleh dimensi kendaraan angkutan yang besar (lebar kendaraan berkisar 2. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-147 . dapat mengakibatkan kecelakaan yang menimpa pengemudi kendaraan bermotor di jalan raya (pengguna jalan).25 – 2. Faktor lain yang menyebabkan terjadinya rawan kecelakaan adalah pengoperasian alat berat di lokasi kegiatan yang bersingungan dengan jalan raya. Dengan demikian parameter gangguan keselamatan pengguna jalan pada kegiatan pemasangan pipa penyalur gas dikategorikan sebagai dampak penting hipotetik. Potensi kejadian kecelakaan disebabkan oleh beberapa faktor. Kendaraan bila akan simpangan harus keluar perkerasan jalan dan beresiko pada konflik dengan pejalan kaki.

Dengan demikian parameter pengotoran jalan pada kegiatan pembukaan dan pematangan lahan dikategorikan bukan sebagai dampak penting hipotetik. maka banyak tempat-tempat yang berpotensi terjadinya kecelakaan lalulintas. d. maka pengotoran jalan sifatnya hanya setempat/tidak menyebar. Rawan kecelakaan dapat terjadi di daerah yang banyak pejalan kaki dan jalan antar kota yang terdapat binatang ternak yang dibiarkan di badan jalan serta jembatan yang sempit ( bottle neck).PT PERTAMINA EP . Pengotoran Jalan Tahap Konstruksi Aktivitas hilir mudiknya kendaraan proyek pada saat kegiatan pembukaan dan pematangan lahan (pembangunan kilang LNG) dapat menyebabkan pengotoran jalan akibat tanah yang menempel pada ban roda kendaraan proyek dan jatuh atau lengket pada badan jalan. sehingga mengganggu kenyamanan dan berkendaraan bagi pengemudi kendaraan bermotor di jalan raya. maka banyak tempat-tempat yang berpotensi terjadinya kecelakaan lalulintas. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-148 . Mengingat aktivitas kendaraan proyek pada saat kegiatan pembukaan dan pematangan lahan (pembangunan kilang LNG) hanya melintas/memotong jalan. Dengan demikian parameter gangguan keselamatan pengguna jalan pada kegiatan demobilisasi peralatan dikategorikan sebagai dampak penting hipotetik. maka dikhawatirkan banyak terjadi kecelakaan. Banyaknya kawasan permukiman dan kawasan perkotaan yang padat kegiatan di sekitar rute angkutan tersebut. Apabila pengemudi angkutan tersebut kurang memahami lokasi proyek.PPGM Banyaknya kawasan permukiman dan kawasan perkotaan yang padat kegiatan di sekitar rute angkutan tersebut. Dengan demikian parameter gangguan keselamatan pengguna jalan pada kegiatan penyaluran kondesat dengan transportasi darat dikategorikan sebagai dampak penting hipotetik Tahap Pasca Operasi Penggunaan kendaraan berukuran besar pada proses pengangkutan kembali (demobilisasi) peralatan konstruksi diperkirakan akan memberikan dampak pada parameter keselamatan pengguna jalan. Pengotoran ini akan semakin besar bila dilakukan pada saat musim penghujan.

saat ini terdapat 1 (satu) pelabuhan umum di Luwuk ibukota Kabupaten Banggai. Pembangunan dermaga ini akan menganggu pelayaran kaitannya dengan keselamatan pelayaran di sekitar lokasi proyek. akan berdampak pada gangguan keselamatan pelayaran. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-149 . Kegiatan pelabuhan khusus dilakukan dalam skala kecil dan hanya untuk keperluan proyek dan tidak akan digunakan untuk keperluan komersial lainnya atau pembuatan kapal laut.PPGM 14. lalu lintas kapal yang berhubungan dengan pelabuhan ini terdiri dari kapal barang dari/ke Luwuk. Dari hasil observasi awal di wilayah studi. Dengan demikian parameter gangguan keselamatan pelayaran pada kegiatan operasional kilang LNG dan fasilitas lainnya dikategorikan tidak sebagai dampak penting hipotetik. dan intensitas kapal nelayan sendiri juga masih jarang. Berdasarkan hasil observasi awal di wilayah studi. Letak pelabuhan umum ini sekitar 50 km dari rencana lokasi dermaga.PT PERTAMINA EP . Salah satu fasilitas yang akan dibangun adalah pembangunan dermaga khusus yang akan dipergunakan dan dikelola sendiri untuk kepentingan operasi Kilang LNG dan Fasilitas Produksi Gas serta tidak diperuntukkan untuk masyarakat umum. lokasi rencana dermaga jauh dari pelabuhan umum serta intensitas kapal nelayan yang masih sedikit diperkirakan tidak terlalu menganggu aktivitas nelayan setempat. Gangguan keselamatan pelayaran Tahap Konstruksi Pada tahap Konstruksi kegiatan konstruksi fasilitas produksi dan kompleks kilang LNG berada pada daerah pantai. Pada umumnya. kapal penumpang Tilong Kabila jurusan Indonesia Timur milik PELNI. Dengan demikian parameter gangguan keselamatan pelayaran pada kegiatan pembangunan konstruksi fasilitas produksi dan kompleks kilang LNG dikategorikan tidak sebagai dampak penting hipotetik Tahap Operasi Pengoperasian kilang LNG dan fasilitas lainnya terkait dengan proses pengangkutan lewat jalur laut yang akan didistribusikan ke wilayah lain. Gangguan Transportasi Laut a. Adanya bangkitan arus lalulintas kapal angkutan yang berlabuh di dermaga khusus tersebut.

secara hipotetik.PPGM B. namun di sisi lain karena alasan untuk keindahan dan perbaikan lingkungan maka pada sisa-sisa lahan yang memungkinkan akan ditanami dengan pepohonan dan semak-semak serta tanaman berbunga.PT PERTAMINA EP . lokasi GPF. sehingga vegetasi hutan di sekitar lokasi kegiatan akan mengalami resiko kerusakan.laydown area) akan dilaksanakan dengan penebangan dan perataan untuk footprint yang diperlukan untuk mendukung pekerjaan yang sedang berlangsung secara aman. Gangguan Vegetasi Tahap Konstruksi Kegiatan pembukaan dan pematangan lahan Pembukaan untuk lokasi jalan masuk dan sumur pengembangan BS. Areal yang dibuka di dalam hutan memang relatif kecil. Berkurangnya vegetasi akan menyebabkan dampak lebih lanjut yaitu dapat merubah iklim mikro. namun demikian lokasi sumur bor ternyata ada yang terletak di areal berhutan. jalan. Oleh karenanya dampak positif yang akan terjadi tidak ditetapkan sebagai dampak penting hipotetik. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-150 . dampak pada vegetasi akibat kegiatan pembukaan dan pematangan lahan ini akan menjadi dampak penting hipotetik. Luas areal yang akan direvegetasi di dalam kompleks LNG Plant relatif sangat kecil dibandingkan dengan total area yang digunakan untuk bangunan dan sarana serta prasarana LNG Plant. fasilitas produksi gas. Pembukaan lahan ini terjadi di lokasi-lokasi sumur. pemasangan pipa. Tahap Operasi Kegiatan operasional Kilang LNG dan fasilitas pendukungnya Operasional kilang LNG di satu sisi akan menyebabkan penurunan kualitas udara yang berpotensi menganggu pertumbuhan vegetasi di sekitarnya. Secara keseluruhan kegiatan tersebut akan berdampak positif terhadap lingkungan. namun areal yang dibuka untuk akses jalan yang dibangun untuk pemasangan pipa akan memicu terjadinya illegal logging. mempercepat aliran air permukaan setempat dan menambah resiko erosi. Sebagian besar areal bervegetasi yang akan dibuka merupakan areal budidaya (persawahan dan kebun) dan semak . Selain itu rencana jalur pipa alternatif 1 dan 2 terletak pada jalur yang melalui kawasan Suaka Margasatwa Bangkiriang yang meupakan kawasan konservasi. Oleh karenanya. Kilang LNG dan fasilitas (base camp. Komponen Biologi 1. jalur pipa dan fasilitas produksi gas cair seluas lebih dari 200 ha. Kegiatan ini akan menyebabkan pengurangan penutupan lahan oleh vegetasi.

dan masing-masing jenis berkurang anggota individu penyusunan atau berkurangnya komunitas tumbuhan. Dalam teknik analisis vegetasi kedua parameter tersebut sudah tercakup didalamnya. Sebagian diantaranya pada jalur yang melalui kawasan Suaka Margasatwa Bangkiriang yang merupakan kawasan konservasi. Oleh karena itu dampak positif yang terjadi tidak merupakan dampak penting hipotetik.PT PERTAMINA EP . namun areal yang dibuka untuk akses KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-151 . Jadi berkurangnya vegetasi dapat diartikan berkurangnya jenis-jenis tumbuhan atau terjadi penurunan keanekaragaman jenisnya. Sementara di jalur pipa dan lokasi sumur tetap terjaga/tetap terbuka sampai saat diserahkan kepada Pemerintah. Gangguan Satwa Liar Tahap Konstruksi Kegiatan pembukaan dan pematangan lahan Pembukaan untuk lokasi jalan masuk dan sumur pengembangan. Namun demikian karena kemungkinan besar fasilitas tersebut juga akan digunakan untuk kegiatan lain dan tidak akan dijadikan lahan hutan kembali. setelah itu akan dilakukan program revegetasi lahan-lahan terbuka dengan ditanami berbagai jenis tumbuhan lokal yang cepat tumbuh pada lokasi bekas BS. jadi merupakan dampak positif. BS pemasangan pipa. selain itu akan memberikan ruang dan waktu untuk proses suksesi yang dimulai dari tumbuhnya jenis-jenis pionir. Luas areal bervegetasi hutan untuk pemasangan pipa jalur 1 dan 2 memang relatif kecil. 2. jalan. lokasi GPF. GPF dan LNG plant. sehingga terjadi hilangnya satwa liar di areal yang dibuka. Dengan berkurangnya vegetasi yang juga menjadi habitat satwa liar menyebabkan satwa liar akan pindah di daerah sekitarnya. sehingga dampak yang ada bukan merupakan dampak permanen (melainkan bersifat sementara).PPGM Tahap Pasca Operasi Kegiatan penghentian operasi produksi gas Pada kegiatan penghentian operasi produksi gas dilakukan pembongkaran fasilitas produksi. Kilang LNG dan fasilitas (base camp. laydown area) akan membuka vegetasi seluas lebih dari 200 ha. Demikian pula hal sebaliknya. Program revegetasi menyebabkan penutupan lahan oleh vegetasi akan meningkat. Parameter vegetasi yang dipelajari Pengertian vegetasi adalah komposisi tumbuhan di suatu tempat dan waktu tertentu. Pada daerah yang akan menjadi tempat hidup yang baru akan terjadi keseimbangan baru kehidupan satwa liar dan hal itu akan menyebabkan berkurangnya satwa liar.

Tahap Operasi Kegiatan operasional Kilang LNG dan fasilitas pendukungnya Operasional kilang LNG di satu sisi akan menyebabkan penurunan kualitas udara yang berpotensi menganggu pertumbuhan vegetasi di sekitarnya. Oleh karenanya. namun di sisi lain karena alasan untuk keindahan dan perbaikan lingkungan pada sisa-sisa lahan yang memungkinkan akan ditanami dengan pepohonan dan semak-semak serta tanaman berbunga. Program revegetasi menyebabkan penutupan lahan oleh vegetasi akan meningkat. Oleh karenanya dampak positif yang akan terjadi bukan merupakan dampak penting hipotetik. Luas areal yang akan direvegetasi di dalam kompleks LNG Plant relatif sangat kecil dibandingkan dengan total area yang digunaka n untuk bangunan dan sarana serta prasarana LNG Plant. Secara keseluruhan kegiatan tersebut akan berdampak positif. Oleh karena itu dampak positif yang terjadi tidak merupakan dampak penting hipotetik. Namun demikian karena kemungkinan besar fasilitas tersebut juga akan digunakan untuk kegiatan lain dan bukan akan dijadikan lahan hutan kembali. jadi merupakan dampak positif. secara hipotetik.PPGM jalan yang dibangun untuk pemasangan pipa akan memicu terjadinya illegal logging dan akses utuk perburuan satwa liar di wilayah konservasi yang salah jenis di dalamnya adalah keberadaan burung maleo. sehingga dampaknya bukan merupakan dampak permanen (melainkan bersifat sementara). dampak pada satwa liar akibat kegiatan pembukaan dan pematangan lahan ini akan menjadi dampak penting. Sementara di jalur pipa dan lokasi sumur tetap terjaga/tetap terbuka sampai saat diserahkan kepada Pemerintah. Berkurangnya satwa liar akan menyebabkan dampak lebih lanjut yaitu potensi daya tarik wisata alam di Suaka Margasatwa Bangkiriang berkurang dan keunikannya terancam hilang. Tahap Pasca Operasi Penghentian operasi produksi gas Pada kegiatan penghentian operasi produksi gas dilakukan pembongkaran fasilitas produksi. selain itu akan memberikan ruang dan waktu untuk proses suksesi yang dimulai dari tumbuhnya jenis-jenis pionir. GPF dan LNG plant.PT PERTAMINA EP . setelah itu akan dilakukan program revegetasi lahan-lahan terbuka dengan ditanami dengan jenis tumbuhan lokal yang cepat tumbuh pada lokasi bekas BS. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-152 .

Dengan demikian pendekatan studi yang akan diterapkan dalam kajian AMDAL ini akan dilakukan dengan perhitungan dari parameter keanekaragaman jenis atau kekayaan jenis. Selanjutnya penurunan kualitas air berpotensi menimbulkan gangguan pada biota air. misalnya adanya jenis-jenis yang sangat takut akan keberadaan manusia dan adanya jenisjenis yang aktif di senja dan malam hari. terutama ikan akan mengganggu masyarakat yang sering menangkap ikan dan atau memelihara ternak bebek di sekitar lokasi kegiatan. 3. Selain itu banyaknya aliran sungai yag terpotong oleh kegiatan pembukaan dan pematangan lahan terutama utuk pemasangan pipa akan menyebabkan gangguan pada migrasi harian ikan di badan air itu. perataan dan pengerasan lahan akan berpotensi menimbulkan erosi dan selanjutnya menyebabkan kekeruhan. Selain itu kegiatan pembukaan dan pematangan lahan untuk pemasangan pipa banyak yang memotong sungai. Kegiatan konstruksi fasilitas processing gas dan kilang LNG Kegiatan konstruksi fasilitas processing gas dan kilang LNG akan menyebabkan penurunan kualitas air. jadi akan sangat sulit kiranya dapat dilakukan sensus untuk seluruh jenis satwa liar yang ada. terutama plankton dan benthos. Secara umum kegiatan tersebut berlangsung relatif lama. Penurunan komunitas biota air tawar. Kekeruhan dan gangguan langsung pada habitat biota air akan berpotensi menyebabkan penurunan komunitas biota air tawar. dampak penurunan biota air yang disebabkan oleh kegiatan pembukaan dan pematangan lahan ditetapkan sebagai dampak negatif penting hipotetik. Oleh karenanya. Pada lokasi-lokasi yang berbatasan langsung dengan sungai anak sungai kemungkinan akan terjadi longsor tanah setempat akan langsung menyebabkan sungai yang menjadi habitat biota air terganggu. Namun karena sifat dan perilaku masing-masing jenis sangat bervariasi. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-153 . secara hipotetik. sungai kecil dan saluran irigasi. Gangguan Biota Air Tawar Tahap Konstruksi Kegiatan pembukaan dan pematangan lahan Kegiatan pembukaan. Hal itu disebabkan oleh pembuangan air bekas hydrotest dan pemberihan peralatan sebelum komisioning akan dibuang ke sungai. plankton dan benthos selanjutnya akan mempengaruhi biota air lain yang memakannya.PT PERTAMINA EP .PPGM Parameter satwa liar yang dipelajari Dampak berupa penurunan satwa liar idealnya dipelajari melalui parameter-parameter keanekaragaman jenis dengan teknis inventarisasi dan densitas masing-masing jenis dengan teknik sensus.

Oleh karena di pantai tersebut besar kemungkinan terdapat komunitas terumbu karang. seperti peningkatan TSS. Kegiatan operasi produksi gas dan kegiatan operasional kilang LNG Kedua kegiatan yaitu Kegiatan operasi produksi gas dan kegiatan operasional kilang LNG akan membuang limbah cair baik dari operasi produksi. dan film minyak akan mempengaruhi biota air khususnya plankton dan benthos yang selanjutnya akan mempengaruhi kehidupan ikan yang mungkin menjadi sumber ekonomi masyarakat.PT PERTAMINA EP . material sand blasting (grit) cuttings yang dicuci dan dibuang ke sungai selama pengeboran. Gangguan Biota Air Laut Tahap Konstruksi Pemasangan pipa Jalur pemasangan pipa dengan alternatif ke 3 yaitu jalur melalui pantai akan berpotensi menimbulkan dampak pada biota air laut. maka dampak pada biota air tawar ini merupakan dampak penting hipotetik. domestik dan atau air cucian pemeliharaan fasilitas produksi. Selain itu tumpahan tidak sengaja jenis material. berlangsung relatif sinkat dan terjadi pada lokasi yang relatif terbatas. dan berlangsung di lokasi terbatas oleh karenanya dampak pada biota air tawar ini tidak ditetapkan sebagai dampak negatif penting hipotetik. 4. Kegiatan operasi berlangsung lama. bahan bakar atau cat juga akan menurunkan kualitas air. Kegiatan pemboran berlangsung relatif pendek. air bekas uji hidrostastis. maka dampak pemasangan pipa lewat laut ini pada biota air laut merupakan dampak negatif penting hipotetik. Air limbah ini akan dikelola dengan IPAL yang airnya kemudian dialirkan ke air permukaan sehingga terjadi penurunan kualitas air. Perubahan kualitas. kekeruhan. Tahap Operasi Pemboran sumur pengembangan Kegiatan pemboran sumur menggunakan lumpur bor water-based dan tidak berracun untuk kedalaman bagian atas pengembangan sumur. pembersihan peralatan sebelum komisioning yang dibuang di sungai akan berpotensi menurunkan kualitas air sungai. Penurunan kualitas air ini berpotensi menimbulkan dampak pada biota air tawar. Penurunan kualitas air ini berpotensi menimbulkan penurunan biota air. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-154 .PPGM Penurunan komunitas biota air tawar ini tidak merupakan dampak penting hipotetik karena penurunan kualitas air tawa yang terjadi bukan pencemaran berat.

sehingga akan menimbulkan dampak turunan lain yang ikut menggerakkan perekonomian lokal dan merubah struktur sosial masyarakat lokal. Penurunan kualitas air ini berpotensi menimbulkan dampak pada biota air tawar. terutama kegiatan operasional kilang LNG. apalagi bila para pekerja disertai dengan keluarganya untuk jangka selama operasi yang lebih dari 20 tahun menetap. Hal itu disebabkan pekerjaan operasi produksi gas dan gas cair sebagian harus dikerjakan oleh pekerja terapil dan khusus yang kemungkinan tidak tercukupi oleh tenaga kerja lokal. jumlah pekerja pendatang relatif besar. Hal ini akan berdampak terhadap kondisi kependudukan. Oleh karena di pantai tersebut kemungkinan besar terdapat komunitas terumbu karang. dan film minyak akan mempengaruhi biota air tawar selanjutnya air yang telah turun kualitasnya mengalir di laut sehingga berpotensi menimbulkan dampak pada biota air laut. kekeruhan. Air limbah ini akan dikelola dengan IPAL yang airnya kemudian dialirkan ke air permukaan sehingga terjadi penurunan kualitas air. Tahap Operasi Kegiatan operasional kilang LNG Kegiatan operasional kilang LNG akan membuang limbah cair baik dari operasi produksi. domestik dan atau air cucian pemeliharaan fasilitas produksi. maka dampak pemasangan pipa lewat laut ini pada biota air laut merupakan dampak negatif penting hipotetik. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-155 . Ekonomi dan Budaya 1. C. seperti peningkatan TSS. Secara hipotetik. Perubahan kualitas. Komponen Sosial.PT PERTAMINA EP . Kegiatan operasi berlangsung lama.PPGM Kegiatan konstruksi kilang LNG dan fasilitas pendukungnya . maka dampak pada biota air laut ini merupakan dampak negatif penting hipotetik. dampak kependudukan pada tahap operasi akan menjadi dampak penting. Perubahan Kependudukan Tahap Operasi Jumlah penduduk lokal akan bertambah karena akan banyak pekerja datang dari daerah lain karena adanya peneriman tenaga kerja untuk kegiatan operasi produksi gas dan gas cair serta kegiatan pemeliharaan peralatan dan fasilitas produksi. Kehadiran pekerja pendatang akan meningkatkan kepadatan penduduk dan merubah komposisi penduduk setempat khususnya kelompok umur dan jenis kelamin. Kegiatan konstruksi kilang LNG dan fasilitas pendukungnya termasuk pembangunan dermaga yang terletak di pantai akan berpotensi menimbulkan dampak pada biota air. Pada tahap Operasi.

Perubahan Pola Kepemilikan Lahan Tahap Prakonstruksi Pemilikan/pengelolaan lahan.PT PERTAMINA EP . tukang cat dan pembantu operator alat berat. Oleh karena itu dampak peningkatan pendapatan masyarakat ditetapkan sebagai dampak positif penting hipotetik. Masyarakat bukan pekerja dan yang memanfaatkan kesempatan usaha yang ada juga berpeluang untuk meningkatkan pendapatan karena uang yang diterima para pekerja akan dibelanjakan untuk memenuhi berbagai keperluan hidup mereka. tukang las. tukang bangunan. Tenaga kerja yang diambil meliputi tenaga ahli dan bukan tenaga ahli misalnya kuli angkut. terutama para pekerja yang terlibat langsung dalam kegiatan konstruksi akan meningkat. tegal dan kebun. Jumlah tenaga kerja yang direkrut untuk konstruksi mulai dari mobilisasi dan demobilisasi alat/bahan/pekerja. pemasangan pipa dan pembangunan fasilitas produksi gas serta gas cair cukup besar dengan periode waktu yang lebih dari 1 tahun dan dengan gaji standar. karena kegiatan yang dilakukan pemrakarsa meneruskan kegiatan sebelumnya.PPGM 2. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-156 . kompleks bangunan fasilitas produksi gas dan gas cair. tenaga keamanan. Kesempatan kerja yang ada ini akan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Lahan yang dibebaskan sebenarnya juga telah dilakukan untuk banyak lokasi sumur. 3. pembukaan dan pematangan lahan. misalnya yang sebelumnya untuk kegiatan pertanian akan beralih fungsi menjadi jalur pipa. baik berupa lahan sawah. Perubahan pola kepemilikan lahan ini termasuk sebagai dampak negatif penting hipotetik. Selanjutnya lahan yang sudah berhasil dibebaskan tersebut akan berubah fungsi dari peruntukan semula. Rekrutmen tenaga kerja dilakukan oleh kontraktor atau perusahaan yang ditunjuk pemrakarsa. dari penduduk sebagai pemilik lahan yang legal beralih kepemilikan secara permanen/pengelolaannya kepada PT. karena diprakirakan dalam proses pembebasannya akan menyebabkan pihak-pihak tertentu merasa tidak puas dengan nilai ganti rugi yang ada. PERTAMINA EP – PPGM karena dibeli atau disewa. Peningkatan Pendapatan Masyarakat Tahap Konstruksi Pendapatan masyarakat. Perubahan kepemilikan lahan secara permanen akan terjadi setelah kegiatan pembebasan lahan dan tanam tumbuh selesai. maka proses seleksi akan berjalan sesuai prosedur standar sehingga tenaga kerja lokal yang terserap adalah yang memunuhi persayaratan yang telah ditentukan.

terutama pekerja. tenaga untuk pemeliharaan fasilitas produksi seperti petugas kebersihan. office boy (pembantu). Masyarakat bukan pekerja namun yang penghasilannya terkait dengan perusahaan atau para pekerja juga akan ikut menurun. proses seleksi akan dilaksanakan secara standar sehingga tenaga kerja lokal yang terserap adalah yang benar-benar memunuhi persayaratan yang telah ditentukan. Peningkatan pendapatan masyarakat dari berbagai kegiatan pada tahap operasi ini ditetapkan sebagai dampak positif penting hipotetik. Secara hipotetik.PPGM Tahap Operasi Pendapatan masyarakat. Tahap Pasca Operasi Pendapatan masyarakat akan menurun khususnya bagi para pekerja yang selama ini terlibat langsung aktivitas operasi seiring dengan berlangsungnya kegiatan penglepasan tenaga kerja. yang direkrut proyek untuk operasi produksi akan meningkat. pertamanan. tukang cat dan pembantu operator alat berat. pendapatan masyarakat. pemeliharaan gedung seperti tukang bangunan. terutama masyarakat pekerja yang terlibat langsung dalam kegiatan pada tahap operasi akan meningkat. pendapatan masyarakat lain yang menyediakan jasa dan untuk memenuhi kepentingan proyek atau kebutuhan para pekerja KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-157 . karena uang yang diterima para pekerja akan dibelanjakan untuk memenuhi berbagai keperluan hidup para pekerja dan keluarganya. yang direkrut proyek untuk konstruksi akan meningkat. Tenaga kerja yang diambil meliputi tenaga ahli dan bukan tenaga ahli misalnya tenaga keamanan. pendapatan masyarakat lain yang menyediakan jasa dan untuk memenuhi kepentingan proyek atau kebutuhan para pekerja yang menjadi konsumen juga akan meningkat. peningkatan pendapatan masyarakat pada tahap konstruksi akan menjadi dampak penting. Pendapatan masyarakat. Dampak kenaikan pendapatan masyarakat ini akan menambah gerakan ekonomi lokal dan bagi masyarakat lain yang yang selama ini menganggur juga mendapat kesempatan usaha yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan masyarakat.PT PERTAMINA EP . yaitu lebih dari 20 tahun dan dengan gaji yang standar. line checker (pengawas ROW). Masyarakat bukan pekerja juga berpeluang untuk meningkatkan pendapatan melalui kesempatan usaha yang ada. Oleh karena rekruitmen tenaga kerja dilakukan oleh kontraktor atau perusahaan yang ditunjuk pemrakarsa. Pada tahap operasi. terutama pekerja. Jumlah tenaga kerja yang direkrut untuk operasi produksi gas dan gas cair cukup besar dengan periode waktu yang lebih lama. tukang las.

pemasok bahan bangunan. peningkatan pendapatan masyarakat pada tahap operasi penting hipotetik. hotel. Kesempataan berusaha yang berkembang adalah seperti warung makanan.PPGM dan keluarganya yang jumlahnya lebih dari 5000 orang yang menjadi konsumen juga akan meningkat. las dan lainnya terbuka saat kegiatan pemasangan pipa berlangsung. Usaha kontraktor pembukaan lahan dan penyewaan alat berat dan laln-lain terbuka pada kegiatan pembukaan lahan dan pematangan lahan. tok o akan menjadi dampak positif kelontong. Kesempatan berusaha tersebut dapat dilakukan oleh penduduk setempat selama memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh kontraktor. Dengan demikian. Adanya Kesempatan Berusaha Tahap Konstruksi Kesempatan berusaha bagi masyarakat terbuka pada tahap konstruksi. Jasa penyewaan alat berat. dan usaha lain untuk memenuhi keperluan hidup pekerja dan keluarganya serta usaha-usaha yang berkaitan dengan kepentingan operasional produksi gas dan gas cair. jasa transportasi. Usaha jasa transportasi pengangkutan pipa dan jasa penyewaan crane dan lainya terbuka pada kegiatan mobilisasi dan demobilisasi alat/material/pekerja. Dengan demikian. Usaha pembangunan fasilitas. Dampak kenaikan pendapatan masyarakat ini akan menambah gerakan ekonomi lokal dan bagi masyarakat lain yang selama ini menganggur juga mendapat kesempatan usaha yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan masyarakat. 4. Kesempatan berusaha ini akan berdampak positif lain berupa peningkatan pendapatan masyarakat dan tumbuhnya perekonomian lokal.PT PERTAMINA EP . pemasok bahan makanan dan penyewaan rumah dan jasa transportasi akan terbuka saat kegiatan pembangunan fasilitas produksi. Secara hipotetik. maka adanya kesempatan berusaha pada tahap konstruksi ini ditetapkan sebagai dampak positif penting hipotetik. adanya kesempatan berusaha pada tahap operasi ini ditetapkan sebagai dampak positif penting hipotetik Tahap Pasca Operasi Kesempatan usaha akan terkuka misalnya bagi kontraktor pembongkaran fasilitas dan jasa pengangkutan peralatan yang akan dipindahkan atau dibongkar pada kegiatan KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-158 . Tahap Operasi Kesempatan berusaha penduduk setempat terbuka pada tahap operasi.

pemotongan saluran irigasi. hal mana berpotensi menimbulkan permasalahan-permasalahan dalam masyarakat. Namun demikian. kesempatan berusaha bagi masyarakat yang secara tidak langsung bergantung pada kepentingan produksi atau pemeliharaan fasilitas produksi serta pemenuhan keperluan keluarga karyawan akan menurun seiring dengan kegiatan penutupan sumur dan penghentian operasi produksi dan kegiatan penglepasan tenaga kerja. apabila tenaga kerja dari luar dapat memahami dan menyesuaikan diri dengan pola perilaku dan adat-istiadat yang berlangsung di daerah setempat maka konflik akan dapat dihindari. dan bila proses ini tidak mengikuti peraturan yang berlaku atau kesepakatan sebelumnya maka akan menimbulkan gangguan hubungan sosial dalam masyarakat. 5. Oleh karenanya dampak menurunnya kesempatan berusaha pada tahap pasca operasi ditetapkan sebagai dampak negatif penting hipotetik. Tahap Konstruksi Proses soial yang bersifat disosiatif akan muncul bila terjadi gangguan lalu lintas (kerusakan jalan dan kecelakaan lalu lintas) akibat kegiatan mobilisasi dan demobilisasi alat/bahan/ personil. pemotongan jalan akibat kegiatan pemasngan pipa. Oleh karena itu.PT PERTAMINA EP . KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-159 .PPGM pembongkaran fasilitas produksi dan demobilisasi peralatan. Salain itu Proses sosial yang bersifat disosiatif juga akan muncul bila terjadi kekeruhan sungai. maka adanya gangguan proses sosial pada tahap prakonstruksi ini ditetapkan bukan sebagai dampak negatif penting hipotetik. Proses sosial yang bersifat disosiatif juga akan muncul karena masuknya tenaga kerja dari luar daerah untuk konstruksi. Setelah berakhirnya tahap konstruksi akan terjadi penglepasan tenaga kerja. Gangguan Proses Sosial Tahap Prakontruksi Proses sosial yang bersifat disosiatif diduga akan muncul bila tidak diperoleh kesepakatan nilai ganti rugi yang diterima masyarakat saat kegiatan pembebasan lahan. Dengan demikian. Sebaliknya. Proses hubungan sosial yang kurang harmonis (kecemburuan) antara penduduk lokal dan tenaga kerja pendatang terjadi karena perbedaan perilaku dan adatistiadat. Disosiasi juga timbul bila terjadi gangguan kenyamanan masyarakat akibat kebisingan dan penurunan kualitas udara akibat kegiatan pembangunan fasilitas produksi. adanya gangguan proses sosial pada tahap konstruksi ini ditetapkan sebagai dampak negatif penting hipotetik.

6. Padahal periode waktu operasi produksi lama dan mencakup luas wilayah yang luas. Proses sosial yang bersifat disosiatif akan muncul bila tidak diperoleh kesepakatan nilai ganti rugi lahan dan tanaman pada kegiatan pembebasan lahan dan tanam tumbuh (Tahap Prakonstruksi). persepsi negatif akan muncul bila proses pembebasan lahan tidak dilakukan melalui musyawarah dan mufakat dan tidak ada kesepakatan dalam hal nilai ganti rugi. Disosiasi akan muncul karena kegiatan konstruksi lain melibatkan banyak pekerja yang berisiko timbulnya gesekan sosial. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-160 . Sebaliknya. Proses disosiatif juga dapat muncul bila dalam kegiatan proses produksi tidak melibatkan masyarakat lokal sebagai pekerja.PT PERTAMINA EP . seperti munculnya orang kaya baru. maka akan terjadi persepsi yang negatif.PPGM Tahap Operasi Proses sosial yang bersifat disosiatif akan muncul akibat munculnya kebisingan. padat dan gas ditambah kemungkinan tidak terakomodasinya keinginan masyarakat lokal menjadi karyawan akan menimbulkan disosiasi. Demikian juga persepsi positif akan muncul bila masyarakat lokal mendapatkan kesempatan bekerja di proyek secara proporsional yang direkrut untuk konstruksi. tetapi bila terjadi kesalahpahaman dalam proses pembayaran juga berpotensi menimbulkan proses disosiatif. kerusakan jalan dan kecelakaan saat kegiatan mobilisasi dan demobilisasi alat/ bahan/personil. Pada tahap operasi. perubahan status yang semula petani/pedagang kemudian menjadi pekerja proyek. Dimungkinkan proses pembebasan lahan dan rekrutmen tenaga kerja lokal yang berlangsung tidak transparan akan dapat menimbulkan kecemburuan dalam masyarakat. Tahap Prakonstruksi Persepsi positif terhadap perusahaan atau pemrakarsa akan mun cul bila harga ganti untung tanah yang diterima masyarakat sesuai dengan harapan mereka. bau gas (H 2) dan pencemaran air dari kegiatan operasi produksi gas dan gas cair. bila rekrutmen itu dipandang tidak proporsional. dan adanya perubahan status sosial. Sebaliknya. Oleh karena itu. Perubahan Sikap dan persepsi masyarakat Persepsi masyarakat merupakan gabungan berbagai dampak yang dapat bersifat positif dan atau negatif serta terjadi pada semua tahapan pekerjaan. proses produksi yang menghasilkan limbah cair. Oleh karena itu. Walaupun sudah tercapai kesepakatan nilai ganti rugi lahan. Proses sosial yang bersifat disosiatif akan muncul bila terjadi gangguan lalu lintas. proses sosial yang bersifat disosiatif secara hipotetik akan menjadi dampak negatif penting hipotetik. munculnya sikap dan persepsi masyarakat pada tahap prakonstruksi ini ditetapkan sebagai dampak negatif penting hipotetik.

Persepsi masyarakat akan bersifat negatif bila dalam proses konstruksi terjadi banyak dampak lingkungan seperti kebisingan. gangguan lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas pada kegiatan mobilisasi dan demobilisasi alat/bahan/ personil.PPGM Tahap Konstruksi Sikap dan persepsi negatif akan muncul bila terjadi kerusakan jalan. Persepsi masyarakat terhadap perusahaan akan bersifat positif bila rekrutmen tenaga (pada tahap prakonstruksi) yang bekerja untuk konstruksi melibatkan tenaga kerja lokal secara proporsional. Sebaliknya. demikian sebaliknya. Persepsi negatif akan muncul bila aksesibilitas masyarakat sekitar terganggu akibat pemotongan jalan dan saluran irigasi serta timbulnya kekeruhan akibat pemasangan pipa. Jumlah masyarakat yang lahannya dibebaskan banyak dan daerah yang dibebaskan luas serta pengalihan hak itu berlangsung permanen. Oleh karena jumlah manusia yang terkena dampak relatif banyak mengingat lokasi kegiatan berada di konsentrasi penduduk (walaupun tidak mengenai permukiman) atau lahan milik penduduk dan meliputi wilayah yang panjangnya lebih dari 75 km dan luasnya lebih dari 125 ha dengan periode waktu kegiatan konstruksi seluruhnya lebih dari KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-161 . pemotongan saluran irigasi. maka sikap dan persepsi masyarakat pada tahap konstruksi ini dikatagorikan sebagai dampak negatif penting hipotetik. persepsi positif akan muncul bila pemrakarsa banyak memanfaatkan tenaga lokal dan berubahnya estetika lingkungan sekitar dan dalam kompleks fasilitas produksi menjadi indah. persepsi positif akan muncul bila kegiatan itu banyak menyerap tenaga lokal dan bekas tebangan terlihat diatur dengan baik. pemotongan jalan dan penurunan aksesibilitas jalan raya yang dirasa mengganggu kenyamanan dan keamanan masyarakat. Sebaliknya. Persepsi negatif akan muncul bila pekerja yang digunakan dalam kegiatan pembukaan dan pematangan lahan tidak mengutamakan pekerja lokal dan bila kayu-kayu hasil tebangan dan material lainnya dirasakan mengganggu masyarakat. Persepsi masyarakat terhadap perusahaan akan bersifat positif bila nilai ganti rugi dan proses pembebasan lahan dan tanam tumbuh dirasa memuaskan. demikian sebaliknya. Persepsi negatif akan muncul bila terjadi kebisingan dan dirasakan mengganggu masyarakat pada kegiatan pembanguan fasilitas poduksi.PT PERTAMINA EP . Sebaliknya. Tahap Operasi Persepsi negatif akan muncul bila terjadi kebisingan. Mengingat bahwa sikap dan persepsi negatif masyarakat dalam hal ini lebih dominan muncul. debu. bau (H2S) dan pencemaran air akibat operasi produksi gas dan gas cair serta tidak terakomodasinya masyarakat sebagai pekerja di perusahaan. persepsi positif akan muncul bila pemrakarsa ikut berpartisipasi dalam peningkatan kapasitas jalan dan bahkan membangun jalan.

Walaupun pihak perusahaan telah menyediakan MCK portable dan disertai dengan pengawasan dari pihak kontraktor. namun karena jumlah pekerja relatif banyak di area tersebut sehingga MCK dapat berfungsi secara maksimal. Penurunan Tingkat Kesehatan Masyarakat Tahap Konstruksi Kesehatan masyarakat akan menurun seiring dengan penurunan kualitas udara dan air dari kegiatan mobilisasi alat berat dan material. Apabila tidak ditangani dengan baik maka akan merubah sanitasi lingkungan menjadi buruk sebagai akibat para pekerja membuang limbah domestik. dampak sikap dan persepsi masyarakat akan menjadi dampak negatif penting hipotetik. baik padat maupun cair secara sembarangan. Dengan perubahan sanitasi lingkungan secara signifikan maka sanitasi lingkungan pada tahap konstruksi ini ditetapkan sebagai dampak negatif penting hipotetik. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-162 . Komponen Kesehatan Masyarakat 1. Oleh karena jumlah manusia yang terkena dampak relatif banyak karena lokasi kegiatan berada di konsentrasi penduduk dan lama berlangsungnya dampak lebih dari 20 tahun. Pada tahap konstruksi intensitas dampaknya relatif kecil sehingga dampak pada kesehatan masyarakat tidak dikatagorikan sebagai dampak negatif penting hipotetik. Penurunan Sanitasi Lingkungan Tahap Konstruksi Sanitasi lingkungan akan menurun oleh karena adanya kegiatan konstruksi fasilitas produksi gas dan kompleks kilang LNG serta kegiatan pemasangan pipa penyalur gas. Bahan polutan yang dihasilkan adalah limbah domestik oleh karena kurang berfungsinya MCK secara maksimal. pembangunan fasilitas produksi dan pemasangan pipa. D. Bekas galian pipa penyalur gas yang belum dikembalikan seperti semula akan menghasilkan lubanglubang air sebagai media berkembangnya vektor penyakit.PT PERTAMINA EP . dan bila arus lalu lintas darat dan laut di sekitar lokasi kegiatan dirasakan mengganggu warga. Persepsi positif muncul bila kegiatan rekrutmen tenaga kerja untuk operasi produksi melibatkan warga lokal secara proporsional. Namun sebaliknya dampak negatif juga akan muncul karena kemungkinan masyarakat akan merasa terganggu dengan adanya limbah cair. 2. air dan gas yang merupakan dampak primer. Gangguan kesehatan masyarakat merupakan dampak turunan dari akibat penurunan kualitas udara. kegiatan pembukaan dan pematangan lahan. dampak sikap dan persepsi masyarakat akan bersifat negatif penting.PPGM 1 tahun. maka secara hipotetik. padat dan gas yang dihasilkan proses produksi. maka secara hipotetik.

Walaupun paparan terhadap pencemaran itu relatif kecil.PT PERTAMINA EP . Dengan demikian. dari kegiatan operasional fasilitas produksi gas (BS dan GPF) dan kegiatan oeprasional kilang LNG dan fasilitas lainnya. maka sanitasi lingkungan pada tahap operasi ini ditetapkan sebagai dampak negatif penting hipotetik. Kesehatan masyarakat khususnya para pekerja/karyawan akan terganggu oleh karena terjadi penurunan kualitas lingkungan akibat kebisingan. Dengan dioperasikannya kegiatan ini sanitasi lingkungan menjadi lebih buruk apabila para pekerja/pihak perusahaan tidak mengelola limbah domestik sesuai dengan ketentuan. namun berlangsung cukup lama (lebih dari 20 tahun) dan mengenai pekerja yang jumlahnya sangat banyak terutama pada proses produksi kilang LNG. maka dampak terganggunya kesehatan pekerja ini dikatagorikan sebagai dampak negatif penting hipotetik. Apabila penampungan sampah berdampingan dengan hunian penduduk dan berlangsung dalam waktu yang lama. Gangguan kesehatan masyarakat merupakan dampak turunan dari penurunan kualitas udara dan air yang merupakan dampak primer seiring dengan penurunan kualitas udara dan kualitas air. dan padat. kebisingan. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-163 . pencemaran air dari proses produksi gas dan gas cair. Oleh karena kegiatan pada tahap operasi berlangsung cukup lama maka kemungkinan volume sampah menumpuk dan bercampur dengan bahan organik maupun non organik yang dapat memicu berkembangnya populasi vektor penyakit. Kesehatan juga akan terganggu bila terjadi pencemaran gas yang mengandung H 2S (berbau). cair. limbah gas.PPGM Tahap Operasi Sanitasi lingkungan bisa memburuk diakibatkan oleh adanya kegiatan operasi block station (BS) dan Fasilitas Produksi Gas (GPF) dan kegiatan operasional kilang LNG dan fasilitas lainnya.

Penurunan kualitas air laut 5. Gangguan transportasi darat 5. Gangguan biota air tawar 12. Gangguan biota air laut 13. Peningkatan kuantitas aliran permukaan 6. Penurunan kualitas air permukaan 4. Terjadi kebisingan 2. Terjadi kebisingan 3. Operasi: 1. Perubahan kualitas udara ambien (debu dan gas) 2. Gangguan transportasi darat 6. Gangguan proses sosial 16. Penurunan debit air sungai 9. Peningkatan pendapatan masyarakat 14. Gangguan vegetasi 10. Perubahan sikap dan persepsi masyarakat 17. Adanya kesempatan berusaha 15. Penurunan sanitasi lingkungan c.PT PERTAMINA EP . Konstruksi: 1.PPGM Klasifikasi dan Prioritas Prioritas Dampak Penting Hipotetik: a. Penurunan kualitas air permukaan 7. Terjadi erosi tanah 3. Prakonstruksi: 1. Gangguan sistem drainase dan irigasi 4. Perubahan sikap dan persepsi masyarakat b. Penurunan kualitas air laut 8. Gangguan biota air tawar KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-164 . Gangguan satwa liar 11. Perubahan pola kepemilikan lahan 2.

Gangguan transportasi darat 6. Dampak Penting Hipotetik Walaupun telah ditemukan dampak hipotetiknya tidak berarti bahwa dampak penting hipotetik lainnya tidak dikaji. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-165 . Dampak penting hipotetik merupakan puncak-puncak permasalahan lingkungan yang timbul sebagai akibat dilaksanakannya suatu rencana kegiatan. maka dapat dihasilkan dampak penting hipotetik dari rencana pelaksanaan kegiatan proyek pengembangan gas Matindok di Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah dapat diringkas seperti pada tabel berikut. Gangguan proses sosial 12.1. Perubahan sikap dan persepsi masyarakat 13. Terjadi kebisingan 3. Hasil Pelingkupan 2. Pasca Operasi: 1. Peningkatan pendapatan masyarakat 10. Peningkatan kualitas air permukaan 4. Penurunan pendapatan masyarakat 7.PT PERTAMINA EP . Adanya kesempatan berusaha 11.2. Berdasarkan atas analisis keterkaitan antar dampak yang dilakukan oleh pemrakarsa dan para ahli secara brain storming. Gangguan biota air laut 8. Perubahan kependudukan 9. Hilangnya kesempatan berusaha 8. Peningkatan kualitas udara ambien (debu dan gas) 2. sehingga dalam rangka mempertahankan mutu lingkungan permasalahan tersebut harus dapat diatasi dengan baik.3. Perubahan sikap dan persepsi masyarakat 2. Penurunan tingkat kesehatan masyarakat d. Peningkatan kualitas air laut 5.2.3.PPGM 7. Penurunan sanitasi lingkungan 14.

Ringkasan Jenis-jenis dampak hipotetik Rencana Kegiatan Proyek Pengembangan Gas Matindok Di Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah Komponen Rencana Kegiatan PraKomponen Lingkungan Konstruksi Operasi Konst 1 2 1 2 3 4 1 2 3 4 5 6 7 GEO-FISIK-KIMIA Kualitas udara ambien Kebisingan Erosi tanah Sistem drainase dan irigasi Kualitas air permukaan Kualitas air laut Transportasi darat . Penyaluran gas dan kondensat melalui pipa 4. Pemeliharaan fasilitas produksi (Gas dan LNG) D. Mobilisasi dan demobilisasi peralatan. Tahap Prakonstruksi – = dampak negatif 1. Penglepasan Tenaga Kerja KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-166 . material dan tenaga kerja 2. Kegiatan Pemasangan Pipa Penyalur Gas C. Pembebasan lahan dan tanam tumbuh + = dampak positif 2.40. Demobilisasi peralatan 3. Kegiatan Konstruksi Fasilitas Produksi Gas dan Kompleks Kilang LNG 4.+/BIOLOGI Vegetasi Satwa liar Biota air tawar Biota air laut SOSIAL-EKONOMI-BUDAYA Kependudukan + Pola kepemilikan lahan +/Pendapatan masyarakat + + + + + + + + + Kesempatan berusaha + + + + + + + + + Proses sosial +/. Tahap Operasi 1.+ +/KESEHATAN MASYARAKAT Sanitasi lingkungan Tingkat kesehatan masyarakat - Pasca Operasi 1 2 3 + + + + + - Keterangan: A. Penerimaan tenaga kerja 2. Penghentian operasi produksi gas (MS dan BS) dan Kilang LNG 2. Tahap Pasca Operasi 1. Pemanfaatkan tenaga kerja setempat B.+/Sikap & persepsi masyarakat +/. Kegiatan operasi fasilitas produksi gas (MS dan BS) 6. Tahap Konstruksi 1. Operasional Kilang LNG dan fasilitas lainnya 7.PT PERTAMINA EP . Penyaluran kondesat dengan transportasi darat 5.+/.PPGM No 1 2 3 4 5 6 7 1 2 3 4 1 2 3 4 5 6 1 2 Tabel 2. Pembukaan dan pematangan lahan 3. Pemboran sumur pengembangan 3.

PT PERTAMINA EP - PPGM

2.3.2.2. Lingkup Wilayah Studi dan Batas Waktu Kajian 1. Batas Wilayah Studi a. Batas Proyek Batas tapak proyek adalah ruang di mana suatu rencana usaha dan/atau kegiatan akan melakukan kegiatan prakonstruksi, konstruksi, operasi dan pasca operasi. Penentuan batas proyek didasarkan pada rencana pengembangan gas Matindok di lapangan Donggi, Minahaki, Sukamaju, Matindok dan Maleo Raja dengan luas masing-masing sekitar 5 ha dan area pembuatan jalan baru dan peningkatan jalan yang sudah ada dengan panjang kumulatif sekitar 15 km dan lebar 6-8 m ; ROW pipa selebar 20 m dari dari masing-masing sumur di lapangan menuju ke fasilitas produksi gas dan selanjutnya gas dari lokasi GPF di Donggi dan Matindok ke lokasi kilang LNG di Batui atau Kintom dengan panjang total sekitar 60 km (= sekitar 150 ha) yang melewati wilayah Kecamatan Toili Barat, Toili, Batui dan lahan untuk lokasi Kilang LNG seluas 200 ha di Batui. b. Batas Ekologis Dalam studi ini batas ekologis meliputi lokasi-lokasi lapangan gas, jalur pipa (darat dan laut) dan fasilitas Kilang LNG serta wilayah di luarnya yang diperkirakan merupakan daerah sebaran dampak. Daerah-daerah tersebut terdiri dari area lahan basah berupa persawahan, daerah perkebunan, hutan dan permukiman penduduk. Sebaran debu diperkirakan menyebar sejauh 200 m dari kiri-kanan jalur pipa, lokasi sumur, fasilitas produksi gas dan kilang LNG pada saat kegiatan tahap konstruksi. Kebisingan dan pencemaran udara tersebar melalui angin yang arah dominannya adalah ke barat laut ke tenggara dan sebaliknya. Kegiatan proses produksi gas dan gas cair dari fasilitas produksi gas (BS) di Donggi menyebabkan kebisingan yang diperkirakan mencapai sejauh 500 m dari pusat kegiatan dan perubahan kualitas udara akibat emisi gas (tergantung dari kecepatan dan arah angin yang signifikan sehingga melebihi baku mutu diperkirakan tidak akan melebihi 1 km dari pusat kegiatan. Namun penyebaran kebisingan dan emisi gas dari Kilang LNG di Batui atau Kintom akan menyebar lebih dari 2 km. Sementara sebaran dampak melalui aliran air akan sangat tergantung dari debit badan air penerima, diperkirakan akan mencapai 2 km ke arah hilir untuk aliran yang kecil dan akan tidak akan lebih dari 1 km dari aliran air sungai besar yang terpotong aliran air tawar dan air laut serta

KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok

II-167

PT PERTAMINA EP - PPGM

jalur pipa dan dari pipa pembuangan limbah cair dari fasilitas produksi gas dan gas cair; sedangkan penyebaran dampak sehingga menimbulkan penurunan kualitas air yang signifikan di perairan laut tidak akan lebih dari 2 km dari sekitar dermaga fasilitas Kilang LNG. Sementara dampak terhadap satwa liar di SM Bangkiriang tidak akan melebihi 3 km kanan kiri pipa yang melewati kawasan konservasi tersebut c. Batas Sosial Batas sosial adalah ruang di sekitar rencana kegiatan yang merupakan berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (struktur sosial), sesuai dengan dinamika kelompok masyarakat yang diprakirakan terpengaruh akibat kegiatan Pengembangan Gas Matindok. Justifikasi batas sosial adalah adanya interaksi masyarakat dengan adanya kegiatan pembebasan lahan untuk tapak BS, GPF, pipa dan Kilang LNG; pemasangan jalur pipa, pembangunan BS dan GPF serta pembangunan Kilang LNG serta mobilisasi dan demobilisasi alat/bahan/ personil. Desa yang menjadi batas sosial disajikan pada Tabel 2.41. d. Batas Administrasi Batas administrasi adalah wilayah administrasi pemerintahan dan mulai tingkat secara desa/kelurahan dimana kegiatan proyek berlangsung berinteraksi

kelembagaan atau institusional yang sangat berpengaruh terhadap tingkat keberhasil pelaksanaan proyek. Nama-nama wilayah administrasi desa/kelurahan yang berinteraksi langsung dengan rencana kegiatan Proyek Pengembangan Gas Matindok di Kabupaten Banggai disajikan pada Tabel 2.42 . 2. Batas Waktu Kajian Dalam proses pelingkupan ini batas waktu kajian yang dirancang untuk kurun waktu 5 tahun, dengan asumsi bahwa rencana kegiatan serupa di wilayah studi yaitu JOB Pertamina – Medco E & Tomori Sulawesi terealisasi terlebih dahulu dan mempertimbangkan perubahan kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang akan mengalami perubahan cepat karena berbagai kegiatan lain terkait dengan adanya dua kegiatan pengembangan gas. Penentuan batas waktu kajian akan digunakan sebagai dasar untuk melakukan penentuan perubahan rona lingkungan tanpa adanya rencana usaha dan/atau kegiatan atau dengan adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. Hasil prakiraan dan evaluasi didasarkan atas perbandingan dinamika atau kecenderungan perubahan lingkungan 5 tahun ke depan bila tanpa adanya kegiatan ini dengan adanya rencana kegiatan ini.

KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok

II-168

PT PERTAMINA EP - PPGM

Tabel 2.41. Desa/Kelurahan yang Menjadi Batas Sosial Kegiatan Pengembangan Gas Matindok di Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah.
Kecamatan Desa/Kelurahan Jalur pipa V V v V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V Tapak sumur Justifikasi Batas Sosial Tapak Block Station Tapak GPF Tapak Kilang LNG V* V** Mobilisasi dan demobilisasi peralatan, material dan tenaga kerja V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V

No

Nama

No

Nama Padang Tangkiang Kalolos Uso Honbola Lamo Balantang Bugis Batui Tolando Sisipan Ondo-ondolu I Nonong Kayowa Masing Batui IV Batui 21 Sukamaju I Bonebalantak Sinorang Mulyoharjo Argo Kencana Minahaki Rusa Kencana Agro Estate Singkoyo Tolisu Bukit Jaya Uwelolu Pandan Wangi Dongin Kamiwangi Sendang Sari Bukit Makarti Bukit Harapan Makapa Karya Makmur

1 2 3 2. Batui 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 3. Toili 21 22 23 24 25 26 27 28 4. Toili Barat 29 30 31 32 33 34 35 36 37 1. Kintom

V

V V V V V

V V V V V

V V V V

V V

V

Keterangan: *: Lokasi LNG alternatif 1; **: Lokasi LNG alternatif 2

KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok

II-169

PT PERTAMINA EP .PPGM Tabel 2. 1. Desa/Kelurahan yang Menjadi Batas Administrasi Kegiatan Pengembanga Gas Matindok di Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah Kecamatan No.32 . Toili 4.42. batas ekologis. Nama Kintom No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 Padang Tangkiang Kalalos Uso Honbola Lamo Balantang Bugis Batui Tolando Sisipan Ondo-ondolu I Nonong Kayowa Masing Batui IV Batui 21 Sukamaju I Bonebalantak Sinorang Mulyoharjo Argo Kencana Minahaki Rusa Kencana Agro Estate Singkoyo Tolisu Bukit Jaya Uwelolu Pandan Wangi Dongin Kamiwangi Sendang Sari Bukit Makarti Bukit Harapan Makapa Karya Makmur Desa/kelurahan Nama 2. Batui 3. seperti yang disajikan pada Gambar 2. KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-170 . batas sosial dan batas administrasi merupakan batas wilayah studi. Toili Barat Resultante dari batas tapak proyek.

PPGM Gambar 2.32. Peta Batas Wilayah Studi AMDAL KA-ANDAL Proyek Pengembangan Gas Matindok II-171 .PT PERTAMINA EP .