You are on page 1of 21

Peter Kasenda

Teror Orde Baru Melalui KOPKAMTIB


Buku Teror Orde Baru adalah karya pertama yang pernah ditulis untuk menggambarkan kekuatan KOPKAMTIB (Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) yang sebenarnya beserta pengaruhnya terhadap perilaku pemerintahan Indonesia (termasuk angkatan bersenjata, kepolisian dan kehakiman) dan masyarakat yang menjadi korban propaganda dan teror. Julie Southwood dan Patrick Flanagan dalam melakukan analisis tidak dimulai dengan seperangkat teori tetapi berdasarkan sekumpulan fakta bagaimana sesungguhnya sistem hukum Indonesia diterapkan atau cenderung diabaikan oleh orang-orang yang ditunjuk untuk mengaturnya. Melalui buku Teror Orde Baru, Julie Southwood dan Patrick Flanagan mencoba merangkai fakta bagaimana hukum, propaganda dan teror diciptakan untuk merebut, memanipulasi dan mempertahankan kekuasaan. Propaganda dan teror itu mula-mula dicetuskan lewat pertunjukan kolosal, pembunuhan politik dan pembantaian massal pada 1965. Tahun itu, adalah titik petualangan Soeharto dalam panggung politik nasional. Kegaduhan politik militer yang berujung dengan tewasnya sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat pada pagi hari 1 Oktober 1965 dimanfaatkan Soeharto untuk memuluskan rencana pengambilalihan kekuasaan yang sah. Melalui buktibukti yang kuat, kedua sarjana ini berani menyatakan bahwa Soeharto terlibat dalam kudeta. Kudeta Soeharto bermula dengan peristiwa 1 Oktober 1965 dan berakhir secara de facto dengan pengangkatan Soeharto sebagai pejabat Presiden pada 12 Maret 1967 dan penunjukkannya secara resmi sebagai Presiden pada 27 Maret 1968 (Julie Southwood dan Patrick Flanagan, 2013 : 3 ). Kendati bernafas pendek, kata John Rossa, G30S mempunyai dampak yang penting. Ia menandai awal berakhirnya masa kepresidenan Soekarno, sekaligus bermula masa kekuasaan Soeharto. Sampai saat itu, Soekarno merupakan satu-satunya pemimpin nasional yang paling terkemuka selama dua dasawarsa lebih, yaitu dari sejak ia bersama Mohammad Hatta mengumumkan kemerdekaan Indonesia. Ia satu-satunya presiden negarabangsa baru ini. Dengan karisma, kefasihan lidah, dan patriotismenya yang

menggelora, ia tetap popular di tengah-tengah kekacauan politik dan salah urus perekonomian pascakemerdekaan. (John Rossa, 2008 : 4 ) Menurut RE Elson, penulis biografi politik Soeharto, bahwa Soeharto yang paling bertanggung jawab atas pembantaian massal ini. Ia berkonspirasi menciptakan kondisi yang menyulut balas dendam penuh kekerasaan dan mendorong serta menyetujui pembersihan total PKI di akhir tahun 1965 dan awal 1966, baik yang dilakukan militer maupun masyarakat sipil yang didukung militer. ( RE Elson, 2005 : 242 ) Amerika Serikat dan Strategi Pembangunan Kudeta Soeharto tersebut mendapat dukungan dari pemerintah Amerika Serikat. Sebagaimana kita ketahui, nasionalisme Soekarno yang anti imperialis sudah berseberangan dengan kepentingan Amerika Serikat. Bagi para perencana kebijakan intelejen dan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat di bawah Dulles Bersaudara, Soekarno adalah produk terbaik komunisme. Melalui sejumlah rujukan, kedua sarjana ini menunjukkan bukti mengenai keterlibatan CIA dalam kudeta Soeharto dan pembantaian massal 1965. Menurut majalah Time, penggulingan Soekarno adalah berita asing terbaik yang ditunggu selama bertahun-tahun di Asia. Harus diakui betapa mengembirakan membaca berita para pemuda Islam membakar kantor pusat PKI untuk sebuah perubahan sambil meneriakkan Jayalah Amerika, tulis sebuah editorial di The Chicago Tribune seakan kejahatan antikomunis yang dilakukan Amerika Serikat di Indo-Cina dan wilayah lainnya di dunia tidaklah cukup. Dukungan Amerika Serikat terhadap kudeta dan pemerintahan Soeharto dalam konteks perwujudan aksi antikomunisnya di Indo-Cina menjadi perhatian bagi sejumlah ilmuwan Amerika Serikat. Berdirinya rezim pemerintahan Soeharto yang pro Amerika Serikat telah memperkuat ketergantungan AS pada Indonesia. Indonesia dijadikan poros kebijakan antikomunis AS di Asia terutama sejak ambruknya citra militer di Indo Cina pada 1975. Di samping itu. kekayaan alam Indonesia yang meliputi minyak bumi, gas, timah, bauksit, batubara, emas, perak, permata, mangan, fosfat, nikel, tembaga, karet, kopi, minyak kelapa sawit, tembakau, gula, kelapa, rempahrepah dan kayu, Indonesia sejak lama dilihat Amerika Serikat yang kapitalis sebagai hadiah terbesar di kawasan Asia Tenggara dan berupaya mengusir Belanda dan Inggris dari sektor-sektor produksi minyak bumi dan karet
2

sejak Perang Dunia I. Selain minyak bumi dan gas alam, Amerika juga sangat bergantung pada pasokan bahan-bahan mentah Indonesia yang bernilai strategis, baik secara ekonomi maupun militer. Melihat serangkaian fakta ini, hasrat AS setelah menggantikan Belanda adalah menjaga hadiah terbesar di kawasan tersebut dari ancaman komunis. ( Julie Southwood dan Patrick Flanagan, 2013: 12 17 ). Tujuan utama rezim Soeharto adalah melanggengkan kekuasaan. Untuk itu, stabilitas perekonomian yang goyah pada 1965 perlu segera dipulihkan agar alat kelembagaan kekuasaan dapat dipertahankan sekaligus diperkuat. Rezim menentukan solusinya sendiri melalui peningkatan penanaman modal asing, ketergantungan pendapatan dari minyak, industrialisasi yang berorientasi ekspor serta bantuan asing. Dengan kata lain, ini berarti represi ditingkatkan Pada dasarnya, strategi pembangunan ekonomi rezim Soeharto tidak memberikan ruang pada oposisi yang sebenarnya. Pemerintah Orde Baru menanggapi protes dan perbedaan pendapat dengan kekerasaan karena bagaimanapun juga, pelanggengan status quo adalah prasyaratnya. Demi status quo, kekuasaan terpusat diberlakukan. Ketertiban menjadi prasyarat dan sarana untuk mempertahankan pemerintah Orde Baru. Instrumen kekuasaan digunakan secara khusus oleh pemerintah atas nama ketertiban. Ini adalah kunci untuk memahami bentuk lain kekerasaan yang menandai relasi kuasa Orde Baru. Selain dijadikan instrumen untuk melanggengkan kekuasaan, ketertiban didengungkan berkali-kali sebagai tujuan pemerintah. Jadi, Soeharto berada di tampuk kekuasaan berbekal mandat Presiden Soekarno untuk memulihkan keamanan dan ketertiban. Pemerintah kini menciptakan hubungan retorik antara keamanan dan ketertiban, serta kesejahteraan bagi seluruh rakyat sesuai ideologi pembangunan. Namun, siapa pun yang mendukungnya dan dalam kemasan apa pun entah itu, kedamaian, keselarasan, stabilitas, kesejahteraan, keamanan dan ketertiban hanyalah eufisme untuk melanggengkan kekuasaan. Sistem kekuasaan di Indonesia melibatkan berbagai kelompok dan lembaga yang tujuannya kerap bertentangan dengan mereka yang ada di lingkaran rezim. Itu sebabnya, lembaga hukum berdiri berdampingan dengan badan keamanan inteljen yang bebas menjalankan kekuasaan tanpa kekangan konsitusi. Rezim menyatakan bahwa mereka menegakkan konsitusi dan pada saat yang sama, melanggarnya. Persidangan politik digelar namun
3

putusannya sudah ditentukan sebelum kata-kata pembuka hakim dibacakan. Pensiunan jenderal dan mahasiswa mengecam praktik bisnis keluarga Soeharto yang korup - dan banyak lagi. Bagaimanapun, kondisi ini beserta kontradiksi-kontradiksi lainnya sejalan dengan tujuan rezim yang mempertahankan status quo. Dengan demikian, dalam batasan tertentu pemerintahan rezim memberi ruang keberadaan organisasi, kelompok dan orang-orang yang berseberangan paham. Kelompok-kelompok tersebut, memberi keabsahan terhadap eksistensi rezim. Mereka merepresentasikan kesempatan dan batasan dalam sistem kekuasaan yang diterapkan Indonesia. ( Julie Southwood dan Partick Flanagan, 2013 : 57 60 ) Kopkamtib, Propaganda dan Teror KOPKAMTIB adalah organisasi pengamanan yang paling menonjol. Didirikan dengan status sementara pasca kudeta 1965, KOPKAMTIB kini malah lebih berkuasa, dengan kewenangan menangkap dan menahan, mengeluarkan peraturan, mempengaruhi kebijakan dan mengontrol pers. Pada dasarnya, keberadaan KOPKAMTIB membuat Indonesia dapat dipandang sebagai negara keamanan-militer de facto di bawah undang-undang darurat militer. Keutamaaan KOPKAMTIB dibandingkan organisasi keamanan intelejen lainnya (BAKIN dan OPSUS KOSTRAD) adalah bahwa kendalinya menyebar ke seluruh lapisan rakyat Indonesia hingga ke desa-desa. Sebagai komando militer istimewa, KOPKAMTIB menerapkan kekuasaannya di seluruh hirarki Angkatan Darat. Jadi, selain menjalankan tugas biasa mengawasi dan mengintimidasi warga desa, para komandan militer provinsi, kabupaten dan kecamatan hingga pejabat eksekutif militer di desa-desa juga menjabat sebagai petugas ekskutif KOPKAMTIB. Mereka diberikan kewenangan menggunakan kekuasaan KOPKAMTIB untuk menangkapi dan menahan siapa pun tanpa persidangan. Jaringan polisi rahasia ini, memainkan peran yang jauh lebih aktif dalam represi terbuka dibandingkan lembaga politik lainnya di Indonesia. Ada kemiripan metode dan organisasi KOPKAMTIB dan Gestapo Nazi Jerman. Kekerasaan seringkali diidentikan dengan kekuatan fisik semata, padahal sesungguhnya lebih dari itu. Di bawah rezim Soeharto kekerasaan memiliki banyak bentuk. Seperti teror dan propaganda di Indonesia yang bertujuan memanipulasi rakyat untuk patuh dan mau bersikap kooperatif dengan kekuasaan betapa pun brutal, eksploitatif dan melanggar kebebasan.
4

Propaganda adalah bentuk teror. Melukai atau mengancam akan melukai orang lain adalah salahsatu bentuk teror, begitu pula dengan penindasan, menebarkan rasa takut atau menjadikan kematian tragis orang lain sebagai contoh ancaman. Propaganda bisa dikatakan sebagai bentuk kekerasaan laten dan tersamar. Namun, propaganda tetap merupakan senjata yang kejam, efektif dan efisisen dengan gayanya sendiri sebagai bagian pasukan tempur. Tujuan propagandais adalah mendapatkan kepatuhan masyarakat yang membabi buta dan tidak kritis terhadap perintah serta kebijaksanaan penguasa. Tidak sulit bagi propagandais mencapai tujuannya seiring bertambahnya akses dan kontrol terhadap instrumen teknis pembuatan dan penyebaran pesan. Pada praktiknya, instrumen ini dijadikan alat kekuasaan negara. Kedua sarjana ini menfokuskan pada propaganda antikomunis. Pertama, pemalsuan fakta mengenai Persitiwa Madiun pada 1948; Kedua, propaganda yang difokuskan kepada konflik agraria; Ketiga, propaganda yang didasarkan pada konflik keagamaan dan yang terakhir, penggalian jasad para jenderal dan seorang ajudan AH Nasution, Pierre Tendean, dari Lubang Buaya. Dalam setiap kasus, slogan menyisip dua pesan. Pertama, kekejaman komunis; Kedua, pemahaman terselubung bahwa hanya militer yang dapat membebaskan rakyat dari bahaya laten komunis. (Julie Southwood dan Patrick Flanagan, 2013 : 83 - 88 ) Propaganda antikomunis menggambarkan PKI beserta antek-anteknya sebagai penghianat negara, pembunuh, dan musuh besar Islam. Sebaliknya, pemimpin Angkatan Bersenjata menyebut diri mereka patriot, pengayom, asset berharga dan Islam. Perpolitikan Indonesia sejak 1965 adalah politik kekerasaan terhadap umat manusia. Kekerasaan terwujud dalam banyak bentuk. Teror terbuka saja bukan alat kekuasaan yang efektif. Secara historis, bahkan rezim yang paling kejam sekalipun terpaksa menutupi teror dengan jubah demokrasi dan hukum. Demikian pula dengan rezim Soeharto. Kekerasaan politik mengadopsi wajah ramah kelembagaan padahal lembaga-lembaga itu hanya dijadikan topeng dari perwujudan sistem kekuasaan yang berlaku. Dengan demikian, semua itu adalah unsur penting teror negara yang terorganisasi. Sistem hukum Indonesia menggabungkan antara kebajikan dan teror. Bukan hanya alat untuk meneror rakyat, sistem hukum Indonesia juga merupakan sekumpulan norma dan cara memanipulasi orang per orang, juga banyak
5

orang. Sistem hukum berfungsi untuk mengontrol pikiran dan perilaku supaya patuh terhadap status quo. Ini berarti sistem hukum tidak berfungsi, selain menjadi bagian dari keseluruhan sistem kekuasaan. Status dan prasyarat keberadaan sistem hukum tergantung peran fungsionalnya dalam sistem. Seluruh sistem kekuasaan dikendalikan dan diawasi jaringan keamanan intelejen, khususnya KOPKAMTIB. Kekuasaan yang luarbiasa memungkinkan KOPKAMTIB memainkan peran menyeluruh di dalam masyarakat Indonesia. KOPKAMTIB menguasai atas Angkatan Darat, Kepolisian, Pers, Pendidikan, Kelompok Islam, Buruh dan Pekerja. Meski memiliki peran utama dalam mengontrol dan mengatur represi, bukan berarti KOPKAMTIB merupakan satu-satunya lembaga represif di Indonesia. Peran penting KOPKAMTIB adalah bahwa lembaga ini merupakan lembaga represi pusat yang paling berkuasa. Ia menyatukan semua lembaga lain ke dalam sistem kekuasaan yang sangat efektif. Perangkat terkuat KOPKAMTIB untuk mengontrol lembaga-lembaga lain adalah sistem hukum yang meliputi kewenangan untuk menangkap, menginterogasi, menahan, menggelar persidangan, memenjarakan dan mengeksekusi. Sistem ini memberi sejumlah lembaga kesempatan untuk melancarkan aksi gabungan propaganda dan teror. Dalam pengujiannya, gugatan norma hukum sebenarnya merupakan peringatan bagi kekuasaan koersif dan represif negara. Namun KOPKAMTIB menjalankan kekuasaan berdasarkan sistem hukum. Atas dasar itulah ia mengontrol sistem hukum. Inilah yang terjadi KOPKAMTIB mengawasi pemberlakuan sistem hukum dengan alasan mengedepankan keamanan nasional. Tetapi di waktu yang bersamaan sistem hukum pada tingkat tertentu mewajibkan KOPKAMTIB untuk menghormati dan menjalankan aturan-aturannya. Ini berarti bahwa pelanggaran batas kekuasaan yang dilakukan KOPKAMTIB terhadap lembaga-lembaga lainnya seterusnya dapat dibenarkan atas nama hukum. Itu semua berkat status dan kekuasaan hukum KOPKAMTIB yang luar biasa. Singkatnya, KOPKAMTIB memerlukan hukum atas menempatkannya di atas hukum. Paradoks hukum dan legalitas palsu ini adalah titik awal untuk memahami sistem hukum Indonesia. (Julie Southwood dan Patrick Flanagan, 2013 : 121 - 124 )

Kendati demikian, Pangab Mohammad Jusuf telah lama menentang kewenangan luarbiasa KOPKAMTIB dan kebebasannya berhadapan dengan tentara. Ketika ada suara ketakutan akan ancaman keamanan nasional yang di kemukakan oleh Pangkopkamtib Sudomo dan Mendagri Amir Machmud, Mohammad Jusuf secara blak-blakan menyatakan bahwa mentalitas ancaman secara serius mengganggu keamanan nasional karena hanya menciptakan ketegangan politik. Menurutnya, kepentingan keamanan nasional sinonim dengan kepentingan para penguasa. Terlepas dari pandangan orang nomor satu di militer itu, keamanan atau mengamankan status quo sama-sama menjadi tujuan penting rezim Orde Baru sekaligus syarat mutlak untuk melanggengkan kekuasaannya. ( Julie Southwood dan Patrick Flanagan , 2013 : 77 78) Para pendiri Orde Baru menyatakan Indonesia adalah Negara Hukum, tetapi di negara hukum ini hukum berfungsi untuk menghukum, bukan melindungi orang-orang yang tak bersalah. Norma yuridis dalam Negara Hukum ini diwakili KOPKAMTIB yang merupakan perwujudan Negara Dalam Keadaan Bahaya. Pengadilan-pengadilan G30S tidak dibentuk hanya demi menjatuhkan hukuman. Rezim tidak membutuhkan pengadilan untuk menjalankan aksi pembantaian, Seperti apa pun persidangan-persidangan G30S digelar, keputusan selalu terlebih dahulu ditetapkan di tempat lain lewat pembubaran PKI dan pembunuhanpembunuhan massal. Mereka hanya menunjukkan dan melegitimasi kekerasaan yang mendahuluinya. Pembunuhan besar-besaran melenyapkan oposisi yang terorganisasi dan menciptakan iklim teror. Konsolidasi Kekuasaan dan Pemujaan Hukum Soeharto menyebut dirinya pelindung Undang-Undang Dasar 1945. Tetapi, hukum yang berlaku pada masa itu adalah Ketetapan-Ketetapan yang dibuat Soeharto bersama sekutu-sekutunya disertai dengan hukum-hukum kolonial dan era Soekarno. rezim Soeharto berhasil mengoptimalkan pemanfaatan Ketetapan Antisubversib (Penpres 11/1963 dan Penpres 5/1959) milik Soekarno (yang pada waktu itu belum terlalu banyak digunakan). Membuat realita hukum baru dalam interprestasi serta peraturan-peraturan hukum baru tidaklah luarbiasa. Dasar hukum naiknya Soeharto ke tampuk kekuasaan adalah serangkaian mandat terbatas yang mencapai puncaknya pada peristiwa Supersemar ditulis Soekarno dibawa ancaman akan terjadinya perang saudara. Bagi
7

Soeharto itu berarti kekuasaan penuh. Langkah pertamanya pada 12 Maret 1966 adalah menandatangani atas nama Soekarno, dokumen yang mengesahkan pembubaran pemerintahan Soekarno. Dokumen itu dikenal sebagai Dekrit Presiden I/3/1966 yang secara resmi menyatakan PKI sebagai partai terlarang, kendati Presiden Soekarno menolak membubarkan PKI. Dekrit ini adalah tahap penting kudeta karena secara de jure melumpuhkan satu dari tiga fondasi NASAKOM ( Nasionalisme, Agama dan Komunis ) . Fungsi kedua penggunaan hukum dalam konsolidasi kekuasaan adalah persidangan sebagai ritual formal bagi rezim baru. Persidangan menterimenteri senior Soekarno seperti Soebandrio, Jusuf Muda Dalam dan Omar Dhani sama artinya dengan mengadili rezim Soekarno. Pengadilanpengadilan ini mempertontonkan betapa Soekarno tidak layak menjadi Presiden karena telah membiarkan dirinya dipengaruhi penasihat-penasihat yang terbukti tidak kompeten dan dalam beberapa kasus berada di belakang kudeta. Fungsi dasar ketiga sistem hukum adalah pengesahan Orde Baru dengan propaganda dan teror sebagai alatnya dan persidangan-persidangan sebagai senjata utama untuk menunjukkan kontrol rezim terhadap alat paksaan tersebut. Persidangan-persidangan yang diselenggarakan menyebabkan penderitaan yang luarbiasa terhadap ribuan korban. Itu kejahatan dan hukuman Orde Baru. Negara tidak perlu mendefinisikan kejahatan apa pun, tidak perlu juga memusingkan prinsip dasar sistim hukum mana pun. Hukum yang kredibel dan kejahatan yang nyata tidak dibutuhkan. Pada prinsipnya hukum adalah penjelmaan dari keadilan. Idealnya, hukum berfungsi sebagai alat yang diperlukan untuk mewujudkan keadilan sosial bagi setiap individu. Tapi kenyataan di lapangan justru berkata lain. Hukum tidak lagi digunakan untuk mewujudkan keadilan sosial bagi setiap individu. Secara spesifik hukum hadir untuk melanggengkan kekuasaan dan kepentingan-kepentingan elite berkuasa. Orang seringkali keliru dengan menganggap peraturan dan prosedur hukum Indonesia sebagai keadilan. Penguasa seperti Soeharto tak pelak memanfaatkan supremasi hukum untuk tujuan-tujuan propaganda. Dalam hal ini, salah persepsi tersebut memang kekeliruan yang disengaja. Sementara itu para advokat (yang tunduk terhadap konsitusi dan menjunjung tinggi supremasi hukum) berasumsi bahwa seperangkat gagasan hukum,
8

kepercayaan dan nilai dapat terwujud dalam hukum Orde Baru, Tapi, sistem hukum Orde Baru tidak sejalan dengan keadilan. Barisan advokat sejati itu mengedepankan hukum untuk membentuk sejumlah organisasi seperti LBH dan Paradin. Tapi, beberapa peristiwa yang menggambarkan betapa pemerintah tidak mematuhi aturan-aturan yang berlaku telah menyebabkan kritik di dalam sistem hukum. Ini semua harus dibayar dengan penjara, penganiayaan dan bentuk kekerasan lain. yang membatasi kebebasan mereka. Mereka yang menjadi korban viktimisasi. Proses viktimisasi adalah kategorisasi, penangkapan, bantuan hukum, pemeriksaan, persidangan, vonis, hukuman, pembebasan dan re-viktimisasi. Penangkapan merupakan proses penting karena di sinilah KOPKAMTIB mempraktikan kekuasaannya yang mungkin paling substansial. Penangkapan menjadi simbolisasi sekaligus mengawali seluruh proses viktimisasi, baik itu terhadap petani, buruh, jurnalis, mahasiswa, kaum muslim dan anggota Angkatan Bersenjata maupun tahan politik yang telah dibebaskan. Nasib terburuk yang menimpa tahanan yang dibebaskan adalah dipanggil kembali untuk mengulang seluruh proses viktimisasi. ( Julie Southwood dan Patrick Flanagan, 2013 : 131 154 ) Mengingat sistem kekuasaan yang ada, barisan advokat ini hanya dapat bekerja sesuai aturan hukum yang berlaku sistem keadilan Orde Baru. Advokat yang menjujung tinggi supremasi hukum sudah pasti tunduk di hadapan sistem hukum, terutama karena adanya pengawasan dari KOPKAMTIB. Dalam sistem hukum, para pengacara ini, lagi-lagi harus tarik menarik dengan satu pelanggaran yang diikuti oleh pelanggaran yang lainnya-aturan hukum baru di satu sisi, interprestasi baru di sisi lain dan pelanggaran prosedural di sisi yang lainnya lagi. Tantangan sekelompok kecil advokat ini terbilang luarbiasa dan secara teori, berpengaruh besar pada praktiknya sangat tidak berdaya.

Terungkap dalam sejarah Indonesia, bahwa para penguasa, kolaborator dan korban selama berabad-abad telah mengkultuskan hukum dalam sistem kekuasaan walaupun untuk tujuan berrbeda. Rezim menggunakan hukum yang memaksa untuk memanipulasi harapan, keinginan dan ketakutan-ketakutan masyarakat. Berturut-turut barisan rezim di bawah raja-raja prakolonial, Belanda, Soekarno dan Soeharto telah menciptakan sekaligus memanfaatkan pengkultusan semacam ini untuk kepentingan kekuasaan. Pemujaan para kolaborator terhadap hukum adalah perwujudan harapan keinginan dan ketakutan terhadap relasi kuasa yang tidak dapat diubah Hal ini benar menurut kolaborator lainnya advokat penegak hukum yang berharap dapat membuat hukum berubah menjadi keadilan sejati. Kelompok-kelompok Islam yang menginginkan pemilu yang adil, Petisi Kelompok Lima Puluh yang para anggotanya menyatakan perlawanan terhadap korupsi istana yang tidak tersentuh hukum dan tentu saja para mahasiswa yang menyeruhkan keadilan sosial dan mengidamkan lebih banyak demontrasi di kampus-kampus. Sebaliknya pemujaan para korban terhadap hukum mengingatkan kita pada pandangan Marx mengenai agama bahwa agama adalah candu, keluh kesah dari yang tertindas, Pemujaan mereka terhadap hukum adalah ekspresi sekaligus harapan bahwa mungkin masih ada sedikit keadilan di dunia yang tidak adil dan cenderung menindas ini. Kepatuhan mendasar terhadap hukum yang berlaku sebenarnya muncul karena adanya unsur keterpaksaan ; pemujaan terhadap hukum membuat siapa saja tidak berhenti berharap akan situasi yang seharusnya terjadi. Sebagai candu, pengharapan semacam itu diharapkan sedikitnya bisa menggantikan apa yang dicita-citakan masyarakat. Tragisnya, kepuasan yang sedikit ini bahkan hanya ilusi. Di Indonesia, rakyat dari beberapa kelompok berbeda; masyarakat umum, aparat hukum, kuasa hukum, tahanan politik, petani singkatnya penguasa, kolaborator dan korban menyeruhkan pemujaan terhadap hukum. Para penguasa, membunuh, melakukan penangkapan yang sewenang-wenang dan meneror dengan dalih melindungi demokrasi Pancasila. Aparat hukum kerapkali membawa-bawa UUD 1945 yang sakral sebagai pembenaran hukum walaupun UUD sendiri ditetapkan secara inkonstitusional. Para kuasa hukum ; penegak supremasi hukum membela para korban, terlibat dalam sistem hukum yang tidak adil, akan-akan sistem
10

itu tidak memiliki legitimasi yang nyata. Tahanan-tahanan politik tidak punya pilihan. Mereka yang cukup beruntung bisa disidangkan, dipaksa terlibat dalam mimpi buruk prosedural atas persidangan mereka, membela diri dari kejahatan yang sebenarnya tidak pernah ada. Beberapa dari mereka yang dijatuhi hukuman mati oleh sistem hukum ini dengan tragis dan nyaris mustahil memohon grasi pada Presiden. (Julie Southwood dan Patrick Flanagan, 2013: 214 - 218 ) Mahasiswa dan Bentuk Perlawanan Sejak akhir 1966 mahasiswa telah menjadi oposisi vokal yang bersuara paling lantang di Indonesia dan mereka dikategorikan sebagai kolaborator kritis yang istimewa. Mahasiswa menjadi yang terdepan dalam aksi protes sejak 1966 dan harus menanggung konsekuensinya sendiri. Dalam berbagai kesempatan mereka dijadikan sasaran tembak, dipukuli, ditangkap, disiksa, dipenjara dan diadili. Rezim bahkan mengkambinghitamkan mereka ketika merebak isu kekecewaan terhadap rezim. Aksi mahasiswa menentang rezim terbagi atas tiga fase. Periode pertama, aksi Angkatan 1966 yang pada mulanya mendukung kelompok Soeharto kemudian berangsur-angsur menjauh. Periode kedua adalah intensitas pergerakan mahasiswa yang mencapai puncaknya pada unjuk rasa Malari 1974, bersamaan dengan kunjungan Perdana Menteri Tanaka ke Indonesia. Periode ketiga adalah gelombang protes di awal 1977 dan berujung sejumlah persidangan yang digelar pada 1979. Aktivitas politik mahasiswa kemudian direduksi hanya sebatas untuk kegiatan mahasiswa untuk mengekang kebebasan institusional mereka yang jelas-jelas terbelenggu. Politik mahasiswa Indonesia yang berulangkali dimanipulasi rezim cenderung menggambarkan dalam topeng konflik di kalangan penguasa. Fakta bahwa ini adalah konflik serius antarpengauasa dalam tubuh militer harus disamarkan. Para mahasiswa dilibatkan dalam konflik perebutan kekuasaan antara kepentingan-kepentingan ekonomi yang bertikai. Pertikaian ini membelit pemodal Jepang serta bantuan dan investasi AS yang diwakili antek-antek Soeharto (khususnya para penasihatnya ASPRI asisten pribadi) dan Departemen Pertahanan dan Keamanan. Beberapa bulan sebelum meletus pertistiwa Malari 1974, Soemitro kala itu terlibat dalam serangan terhadap kubu Soeharto dan kebijakan yang pro Jepang. Tentu saja, dirinya aktif mendorong kelompok-kelompok Islam dan
11

himpunan mahasiswa serta pers (semua di masa lalu ditindak KOPKAMTIB ) untuk menyerang Soeharto beserta penasihat-penasihat terdekatnya. Ia mengunjungi kampus-kampus di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur dan mengajak mahasiswa-mahasiswa demonstran menentang kebijakan ASPRI dengan janji-janji pola kepemimpinan baru. Ali Moertopo tidak berdiam diri dan mengorganisir diri untuk mengadakan perlawanan dengan membentuk Kelompok Sepuluh untuk menyingkirkan Ketua Dewan Mahasiswa UI Hariman Siregar yang dikenal anti-ASPRI. ( Julie Southwood dan Patrick Flanagan, 2013 : 235 247 ) Apakah perubahan sosial secara mendasar bisa terwujud ? Untuk menjawab pertanyan tersebut kita harus terlebih dahulu memahami bentuk aksi ofensif dan defensif. Aksi ofensif dipahami sebagai aksi yang berusaha mengubah kondisi atau relasi kuasa yang berlaku. Sebaliknya aksi defensif ditandai dengan sikap sabar, tabah dan menerima terhadap kondisi atau situasi yang ada. Secara umum, seseorang hanya akan bertindak hanya bila ia memiliki kekuatan. Sebaliknya, bila tidak mempunyai kekuatan, ia akan bertindak defensif. Sikap defensif adalah gejala atau perwujudan minimnya kekuatan seseorang untuk mengubah situasi yang ada. Kerap terjadi, hasil akhir aksi ofensif di Indonesia adalah penderitaan bahkan kematian. Kemampuan Orde Baru yang telah terbukti sanggup menghancurkan aksi-aksi ofensif terekam dalam pembantaian 1965-1966 terhadap ratusan atau ribuan orang yang mungkin telah menjadi agresor. Ingatan tentang mereka yang tewas membuat masyarakat Indonesia dewasa ini berpikir dua kali sebelum melakukan aksi ofensif. Ada tiga alasan mendasar di balik pencegahan aksi ofensif yang ditujukan terhadap dominasi rezim. Kekuatan koersif di dalam bidang perekonomian ; masyarakat berusaha untuk tidak mempersulit diri sendiri agar dapat bertahan hidup; Kedua, ketidakhadiran bentuk organisasi dan kepemimpinan yang dibutuhkan. Ketiga, lembaga militer berserta kekuasaan koersifnya terutama keberadaan dan operasi KOPKAMTIB yang menjamur di manamana. Dengan kekuasaan ditangannya, KOPKAMTIB berhak melakukan intervensi dalam semua ranah kehidupan sosial dan politik. Insitusi ini mendominasi pusaran konflik tenaga kerja. Mereka mengganggu kedamaian serta privasi rumahtangga dengan melakukan penelusuran dari rumah ke rumah melalui Operasi Sapu Jagat untuk mencegah rakyat berkumpul dan
12

merencanakan aksi menentang rezim. Kekuatan teror dan jerat hukum KOPKAMTIB melalui sistem hukum mendorong lahirnya sikap apatis. Bukan hanya kebijakan rezim seperti doktrin massa mengambang yang melarang kegiatan politik di desa tetapi kuatnya penegakan KOPKAMTIB. Kendati demikian, kondisi tersebut dapat berubah dan sedikitnya memungkinkan dilakukannya aksi ofensif. Rezim yang otoriter memang dapat menghancurkan raga secara permanen tetapi tidak untuk semangat dan cita-cita akan hadirnya hak asasi serta penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia. Rakyat telah membuktikan bahwa dalam kondisi yang paling berat, terlihat tanpa harapan dan mustahl sekalipun, mereka mampu melakukan tindakan reponsif. Dalam kondisi-kondisi berikut, ketidakberdayaan membuat korban Orde Baru nyaris mustahil melancarkan aksi ofensif melawan rezim Soeharto. Secara umum, hanya para kolaborator yang dapat menentang rezim secara terbuka. Tiadanya kondisi yang mendukung aksi ofensif membuat oposisi mengambil tiga bentuk dasar. Pertama, aksi oposisi yang setia dan berkompromi dengan sistem kekuasaan Orde Baru. Misalnya, LBH, mahasiswa, kelompok Islam, Pengusaha Pribumi, Petisi Lima Puluh dan yang terakhir jurnalis, penulis dan penerbit jualah yang setiap hari berjuang untuk kebebasan berpikir dan berekspresi di dalam bidang penyesoran. Terkadang, seseorang atau lebih kelompok oposisi setia memilih melawan. Kedua, aksi individual atau perlawanan berskala kecil mungkin merupakan tindakan yang paling radikal melawan Orde Baru dan yang paling dikenal luas. Aksi semacam itu dilakukan para kolaborator dan korban. Bentuk perlawanan masa kini adalah aksi demontrasi petani dan buruh. Secara umum, mereka yang melawan dalam kasus-kasus ini dihukum berat. Ketiga, Biasanya hanya kolaborator kritis yang dapat keluar dari sikap kompromi mereka untuk terlibat dalam pemberontakan yang lebih terbuka. Aksi pemberontakan terbuka memerlukan kondisi istimewa agar secara metaforis pemberonratakan dapat berkolaborasi di siang hari dan memberontak di malam hari, seperti yang terjadi di Revolusi Perancis. Jika aksi pemberontakan mendapat dukungan, radikal dan popular, aksi dapat berkembang menjadi ofensif. Situasi Indonesia saat ini tidak memungkinkan dilancarkan pemberontakan yang terorganisasi.

13

Ketiga model tindakan yang tadi disebut tergolong defensif. Ketiganya bahkan terkena imbas viktimisasi secara politis. Bukan hanya aksi ofensif yang beresiko tinggi. Tujuan rezim Orde Baru adalah penciptaan mitos yang dengan tujuan propagandanya memastikan rakyat dibawah kontrol kekuasaan untuk tertib diri. Tindakan apa pun yang menunjukkan potensi kemandirian dari pihak yang dikuasai, baik dalam bentuk tindakan maupun pemikiran, adalah ancaman serius bagi rezim dan karena itu harus dilenyapkan tanpa sisa. Tumbangannya Sebuah Rezim Orde Baru adalah sistem kekuasaan yang hebat. Namun, bukan berarti akan mudah baginya untuk terus bertahan. Pada dasarnya, penting untuk diingat bahwa apa yang menjadi sasaran tekanan dan penindasan tidak dapat dimusnahkan. Hanyalah tubuh yang dapat dihancurkan. Sebenarnya kekuatan kreatif manusia yakni harapan dan kebutuhan dengan kata lain cita-cita akan hadirnya hak asasi dan penghargaan terhadap harkat dari martabat manusia tidak dapat dihancurkan. Sistem kekuasaan datang dan pergi dalam berbagai bentuk. Namun cita-cita akan datangnya kebebasan, keadilan dan kebahagian yang berlaku konstan. Tidak ada sistem yang menyembunyikan ketidakadilan sanggup bertahan tanpa dukungan populis, betatapun efektif metode memberi hadiah dan penghukuman yang dilancarkan baik melalui kepatuhan maupun keterpaksaan. Keadilan yang digaungkan Orde Baru telah bertahan selama 15 tahun (sewaktu buku ini ditulis pada 1983). Berapa lama lagi rezim Soeharto mampu bertahan ? Kendati tidak ada jawaban pasti yang bisa diberikan. Namun, kata Julie Southwood dan Patrick Flanagan, ada beberapa faktor relevan yang dapat ditelaah. Pertama, sistem kekuasaan itu sendiri. Tidak lama lagi, perhitungan waktu. langkah dan karakter perubahan sosial di Indonesia kemungkinan akan dipercepat yang seluruhnya dipengaruhi oleh konflik-konflik terutama antar penguasa yang berebut kekuasaan dan uang. Upaya mempertahankan kondisi ekonomi untuk bisnis yang menguntungkan tampaknya menjadi lebih sulit pada 1980-an mengingat terjadinya perubahan-perubahan dalam perekonomian kapitalis dan sisten aliansi negara-bangsa. Kedua, siapa yang akan menggantikan Soeharto dan kapan hal tersebut terjadi ? Ini menjadi persoalan yang sulit ketika hanya ada sekelompok kecil
14

penguasa dan intelejen yang tergantung pada Angkatan Bersenjata yang tidak sepenuhnya bersatu. Lebih fundamental lagi, paradoks kekuasaan-kehancuran. Keefektifan sistem kekuasaan Orde Baru terletak pada fakta bahwa sistem ini bukan sistem kekuasaan total. Sistem semacam itu efektif selama ia memungkinkan kolaborator dan korban membiarkan diri mereka sendiri hidup dalam sistem yang koersif. Paradoksnya, karena sistem mana pun yang tidak sekuat kekuasaan total secara inheren tidak akan stabil. Kondisi sosial-ekonomi di Indonesia saat ini, keberadaan oposisi makin menguat dan perlawanan memastikan bahwa rezim tidak akan mampu menikmati kontrol koersifnya. Sejauh mana kontrol koersif dapat diperketat ? Panglima ABRI Mohammad Jusuf telah mengemukakan sikap oposisi terhadap penindasan yang kian diperkuat karena dianggap justru dapat menyebabkan lebih banyak kehancuran. Sejumlah peristiwa telah membuktikan bahwa ia benar. Pertanyaan kuncinya yang telah diabaikan penguasa zalim sebatas apa kesabaran mereka akan diuji ? Pada titik apa korban akan memutuskan bahwa mereka sudah tidak tahan lagi. Lima tahun sesudah buku Indonesia : Law, Propaganda and Teror terbit, Soeharto membubarkan KOPKAMTIB yang dikepalai Moerdani, pada September 1988. Kapasitas KOPKAMTIB yang terkenal kejam dan bisa bergerak kemana-mana untuk melakukan tindakan represif yang idenpenden dan sewenang-wenang itu pun disingkirkan Badan baru, BAKORSTANAS (Badan Koordinasi Stabilitas Nasional) di bawah kepemimpinan Try Sutrisno dan mengikutsertakan anggota-anggota dari kalangan sipil, dimaksudkan untuk mengordinasikan kegiatan-kegiatan seperti itu, di masa mendatang, yang hanya dijalankan dengan persetujuan presiden. Banyak alasan diajukan untuk menjelaskan penghapusan KOPKAMTIB, namun yang paling jelas adalah keinginan Soeharto untuk membatasi serta membongkar jaringan intelejen rumit yang digunakan Moerdani dalam mendorong kenaikkannya ke panggung politik. Tak usah diragukan lagi, Soeharto juga peka dengan niatnya untuk memainkan peran internasional yang lebih menonjol terhadap reputasi menakutkan KOPKAMTIB yang bisa merugikan gengsi internasionalnya. Mungkin juga ia menyadari ( seperti yang konon dialami oleh Soemitro selama memegang jabatan tersebut) bahwa konfigurasi sosial Indonesia yang baru, tidak lagi

15

merupakan tempat yang tepat bagi operasi dengan gaya KOPKAMTIB ( RE Elson, 2005 : 502 503 ) Periode akhir Orde Baru menyaksikan bahwa cengkraman rezim atas masyarakat seamkin bertambah longgar. Ada beberapa alasan untuk itu. Salah satunya adalah bahwa Soeharto tidak dapat lagi dukungan penuh dalam militer. Moerdani dipertahankan dalam kabinet sebagai menteri pertahanan dan keamanan pada 1988, tetapi kekuatan yang loyal kepadanya di DPR dan dinas intelejen menggunakan pengaruh mereka untuk menghembus-hembuskan kritik terhadap presiden yang semakin berumur. Namun pada tingkat yang lebih luas, hal itu adalah karena masyarakat telah berubah. Orang-orang Indonesia semakin terdidik, lebih sehat lebih dan tinggi mobilitasnya, dan lebih sejahtera dibandingkan dengan keadaan mereka pada akhir-1960-an. Periode pertumbuhan ekonomi dan stabilitas yang berlangsung lama telah menghasilkan kelas menengah yang besar dan kelas pekerja perkotaan yang meluas dengan cepat. Orang-orang ini membaca surat kabar dan menonton televisi ; mereka mengetahui perihal hal asazi manusia dan bergunjing tentang korupsi kalangan elite. Banyak di antara mereka yang semakin sinis terhadap peringatan pemerintah tentang bahaya laten komunisme .dan retorika resmi mengenai demokrasi Pancasila. Singkatnya, Orde Baru mulai kehilangan koherensinya karena bangunan politiknya tidak mampu lagi mengakomodasi perubahan-perubahan sosial yang dashyat yang telah berlangsung selama dua dekade terakhir. Soeharto tidak buta menghadapi perubahan-perubahan ini. Dalam upaya merebut kembali prakarsa, ia menggulurkan tangannya ke komunitas Muslim yang telah dipinggirkan oleh pemerintahannya pada 1970-an dan 1980-an. Ia mensponsori pembentukan ICMI, yang kemudian disambut hangat oleh kalangan Muslim kelas menengah di perkotaan, termasuk sejumlah aktivis LSM dan intelektual yang sebelumnya beroposisi terhadap pemerintah. Dukungan dari konsituen penting ini meredakan kritik kaum Muslim terhadap Soeharto pada tahun-tahun terakhir masa jabatannya. Presiden juga berusaha berdamai dengan para pengeritiknya. Didorong oleh imbauan dari anggota DPR dari kalangan militer untuk melonggarkan kendali poltiknya, dan juga tidak diragukan lagi, oleh iklim internasional sebagai akibat berakhirnya Perang Dingin, Presiden mengisyaratkan bahwa ia mendukung keterbukaan politik yang yang semakin besar. Hal ini

16

menimbulkan suatu pengendoran kontrol yang sifnifikan atas media dan suatu periode debat publik yang terbuka pada awal 1990-an. Demokrasi merupakan topik favorit dalam perdebatan pada masa ini. Konsekuensi logisnya, demikian banyak orang beragumen, adalah bahwa struktur politik negara yang kaku dan otoriter juga seharusnya dirombak untuk memungkinkan partisipasi dan akuntabilitas yang lebih lebih besar. Kelompok-kelompok lain lebih terilhami oleh memanjaknya status hak asazi manusia pascaPerang Dingin, dan karena itu mereka menekan Soeharto untuk mengakui keabsahan standar hak-hak asasi manusia internasional. Rezim ini membuat sejumlah konsensi terhadap tekanan-tekanan ini, dengan membentuk Komisi Nasional Hak Azasi Manusia pada 1993.

17

Sementara itu, aktivis radikal mulai memberi dampak pada kalangan rakyat bawah yaitu dengan memobilisasi petani dan pekerja. Radikalimse berawal pada gerakan mahasiswa. Setelah diambil tindakan keras terhadap para aktivis kampus pada akhir 1970-an, para mahasiswa mulai mengorganisasi diri dalam kelompok-kelompok kecil yang berbasis bukan-kampus. Dalam organisasi-organisasi itu mereka membaca literatur Marxisme yang dulu ditiadakan dalam pendidikan formal. Banyak juga yang sangat antusias dengan tradisi sayap kiri yang telah berperan penting di Indonesia sejak awal abad ke-20. Pada akhir 1980an, bagian-bagian gerakan mahsiswa secara terbuka berpihak pada kaum petani yang terkalahkan dalam pertikaian lahan, sering menyertai mereka dalam konfrontasi dengan aparat keamanan. Protes-protes ini sering memancing pembalasan yang keras, pembunuhan buruh pabrik /aktiis Marsinah pada 1993 merupakan contoh yang paling terkenal. Kemampuan satu kelompok inti dari aktivis-aktivis radikal ini untuk mengorganisasikan protes mahasiswa /buruh yang besar pada periode 1989 1994 membantu kembali membangkitkan protes massa, yang sebelumnya telah ditindas melalui teror pada1965, sebagai suatu bentuk aksi politik. Kebangkitan ini hanya membuka jalan bagi demontrasidemontrasi yang memperlemah rezim Soeharto antara 1996 dan berakhirnya rezim itu pada 1998. ( David Bouchier dan Vedi R Hadiz, 2006 : 22 24 ) Ketika akhirnya Orde Baru tak bisa bertahan melawan arus krisis moneter yang menggoyahkan tatanan ekonomi dan sosial-politik, maka bukan saja sebuah rezim harus jatuh, Indonesia pun menghadapi berbagai jenis krisis dan konflik sosial. Ketika krisis moneter yang fatal itu datang dan segera menggerogoti segala landasan ketangguhan ekonomi dan kemantapan sosial, daya tahan politik Orde Baru pun habis. Presiden Soeharto yang yakin bahwa badai pasti berlalu akhirnya harus mengakui juga kenyataan bahwa kehandirannya di puncak pemerintahan tidak lagi diinginkan, meskipun ia baru terpilih dengan suara bulat untuk ketujuh kalinya. ( Taufik Abdullah, 2005 : xlii xlii ). Jatuhnya Soeharto sebagai pertanda bahwa Indonesia tampil sebagai contoh negara yang ingin mendapatkan kembali landasan kehidupan demokrasi, yang nyaris terbenam selama empat dasawarsa.

18

Makalah ini diprsentasikan pada acara Pekan Sejarah IV yang diselenggarakan oleh Komunitas Bambu di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 4 April 2013.

Panglima Kopkamtib
Soeharto Maraden Panggabean Soemitro Soeharto 10 Oktober 1965 19 November 1969 19 November 1969 27 Maret 1973 27 Maret 1973 28 Januari 1974 28 Januari 1974 17 April 1978

( Komando sehar-hari dijalankan oleh Kepala Staf KOPKAMTIB Sudomo ) Sudomo LB Moerdani 17 April 1978 29 Maret 1983 29 Maret 1983 22 September 1988

KOPKAMTIB dihapuskan pada September 1988 dan digantikan dengan BAKORSTANAS, yang kemudian dihapuskan pada Maret 2000. Sumber Robert Cribb & Audrey Kahin. Kamus Sejarah Indonesia. Jakarta: Komunitas Bambu, 2013, Hlm. 587.

19

Bibliografi
Abdullah, Taufik. Kata Pengantar, dalam David Bourchier dan Vedi R Hadiz (ed). 2006. Pemikiran Sosial dan Politik Indonesia Periode 1965-1999. Jakarta : Grafiti dan Freedom Institute, Hlm. xlii xliii. Bourchier, David dan Vedi R Hadiz (ed).2006.Pemikiran Sosial dan Politik Indonesia Periode 1965 1999. Jakarta : Garfiti dan Freedom institute. Budiman, Arief dan Olle Tornquist (ed). 2001. Aktor Demokrasi. Catatan tentang Perlawanan di Indonesia. Jakarta; Institut Studi Arus Informasi. Cribb, Robert & Audrey Kahin. 2013. Kamus Sejarah Indonesia. Jakarta : Komunitas Bambu. Elson, RE. 2005. Suharto Sebuah Biografi Politik. Jakarta : Minda. Kasenda, Peter. 2012. Hari-Hari Terakhir Soekarno. Jakarta : Komunitas Bambu. Latief, Yudi. 2005. Intelgensia Muslim dan Kuasa. Geneologi Intelgensia Muslim Indonesia Abad ke 20. Bandung : Mizan. Luhulima, James. 2007. Hari-Hari Terpanjang. Menjelang Mundurnya Presiden Soeharto dan Beberapa Peristiwa Terkait. Jakarta : Penerbit Buku Kompas. Ramadhan KH, 1996. Soemitro . Former Commander of Indonesia Securuty Apparatus. Jakarta : Sinar Harapan.

20

Roosa, John. 2008. Dalih Pembunuhan Massal. Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto. Jakarta : ISSI dan Hasta Mitra . Southwood, Julie dan Patrick Flanagan . 2013. Teror Orde Baru. Penyelewengan Hukum & Propaganda 1965 1981. Jakarta : Komunitas Bambu.

21