1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru. Tuberkulosis paru (TB paru) adalah penyakit kronis yang dapat menurunkan daya tahan tubuh penderitanya secara serius. Hal ini disebabkan oleh karena adanya kerusakan jaringan paru yang bersifat permanen. Penyakit ini menyebar dan ditularkan melalui udara, ketika orang yang terinfeksi TB paru, batuk, bersin, berbicara atau meludah.1,2 Diperkirakan sepertiga populasi dunia terinfeksi Mycobacterium

tuberculosis, bakteri penyebab tuberkulosis (TB). Dan dari populasi yang terinfeksi tersebut, setiap tahun lebih dari 8 juta orang menjadi sakit, serta 2 juta orang meninggal karena TB. Indonesia berada pada tingkat ketiga terbesar di dunia dalam jumlah penderita TB, setelah India dan China.1,3 Sekitar 40% dari kasus TB dunia ditemukan di wilayah Asia Tenggara dan hampir satu juta kematian setiap tahunnya. Sekitar 95% dari kasus kasus yang dilaporkan terjadi di Bangladesh, India, Indonesia, Myanmar, dan Thailand. Di negara-negara tersebut TB telah dikenal sebagai salah satu masalah kesehatan masyarakat yang paling besar. Situasi tersebut menjadi jauh lebih rumit dengan penyebaran HIV yang sangat cepat dan munculnya jenis TB yang kebal terhadap pengobatan wilayah tersebut. Angka kejadian TB paru di wilayah kerja Puskesmas Tempuran bulan Januari - Agustus 2011 sendiri ialah sebanyak 9

2

orang. Pasien tersebut harus mendapatkan penatalaksanaan yang tepat dari pelayanan kesehatan di wilayah tersebut, dalam hal ini Puskesmas Tempuran.4 Menurut WHO, kematian wanita karena TBC lebih banyak daripada kematian karena kehamilan, persalinan dan nifas. Bila tak dikendalikan, dalam 20 tahun mendatang TB akan membunuh 35 juta orang. Melihat kondisi tersebut, WHO menyatakan TB sebagai kedaruratan global sejak 1993. WHO telah merekomendasikan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short Course strategy) sebagai strategi dalam penanggulangan TB sejak tahun 1995. Strategi ini memasukkan pendidikan kesehatan, penyediaan obat anti TB gratis dan pencarian secara aktif kasus TB. Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien, prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular.5,6 Selain itu, untuk mengurangi bertambahnya jumlah penderita TB paru dan masalah yang ditimbulkan, penanganan awal yang dapat dilakukan dimulai dari lingkungan keluarga, di mana keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Keluarga dalam hal ini sangat berperan sebagai pengawas minum obat maupun pengingat untuk selalu hidup sehat, sehingga pengobatan TB paru dapat berhasil dan penularan dapat diminimalkan.1,7

1.2. Perumusan Masalah 1. Apa saja permasalahan yang ditemukan dalam keluarga pasien? 2. Faktor apa saja yang mempengaruhi timbulnya masalah kesehatan pasien dan keluarganya?

3

3. Bagaimana cara memecahkan permasalahan yang ada dalam keluarga? 4. Bagaimana cara intervensi pasien dengan menggunakan pendekatan kedokteran keluarga?

1.3. Tujuan 1.3.1. Tujuan Umum Melakukan pendekatan kedokteran keluarga terhadap pasien TB paru dan keluarganya. 1.3.2. Tujuan Khusus a. Mengetahui karakteristik (fungsi keluarga, bentuk keluarga, dan siklus keluarga) keluarga pasien TB paru. b. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya masalah kesehatan pada pasien TB paru dan keluarganya. c. Mendapatkan pemecahan masalah kesehatan pasien TB paru dan keluarganya.

1.4. Manfaat 1.4.1. Bagi Penulis Menambah pengetahuan penulis tentang kedokteran keluarga, serta penatalaksanaan kasus TB paru dengan pendekatan kedokteran keluarga. 1.4.2. Bagi Tenaga Kesehatan Sebagai bahan masukan kepada tenaga kesehatan agar setiap memberikan penatalaksanaan kepada pasien TB paru dilakukan secara holistik dan

4

komprehensif serta mempertimbangkan aspek keluarga dalam proses kesembuhan. 1.4.3. Bagi Pasien dan Keluarga Memberikan informasi kepada pasien dan keluarganya bahwa keluarga juga memiliki peranan yang cukup penting dalam kesembuhan pasien TB paru.

Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam. yang berbentuk batang dan mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Kuman TBC cepat mati dengan sinar matahari langsung. Kuman dapat tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun di lemari es). Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis menjadi aktif lagi.8 2. Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant.2 Penyebab Penyebab tuberkulosis paru adalah kuman Mycobacterium tuberculosis. tetapi dapat bertahan hidup 14 jam di tempat gelap dan lembab.1.1. Dalam suasana . tergantung pada ada tidaknya sinar ultraviolet. ventilasi yang buruk dan kelembaban.5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.8 2.1 Definisi Tuberkulosis adalah setiap penyakit menular pada manusia dan hewan lain yang disebabkan oleh species Mycobacterium dan ditandai dengan pembentukan tuberkel dan nekrosis kaseosa pada jaringan setiap organ.1 Tuberkulosis 2.1.3 Perjalanan Penyakit Penularan tuberkulosis paru terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara sekitar kita.

Kebanyakan partikel ini akan mati atau dibersihkan oleh makrofag keluar dari percabangan trakeobronkial bersama gerakan silia dengan sekretnya. Kuman dapat juga masuk ke saluran gastrointestinal. Berdasar hasil pemeriksaan dahak (BTA) TB paru dibagi atas: . Kompleks primer ini selanjutnya dapat menjadi sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat. Bila partikel infeksi ini terhirup oleh orang sehat. Proses ini berlangsung selama 38minggu. berkembang biak dalam sitoplasma makrofag. ginjal. tidak termasuk pleura. berkomplikasi dan menyebar.4 a. orofaring dan kulit terjadi limfadenopati regional kemudian bakteri masuk ke dalam vena dan menjalar ke seluruh organ seperti otak. Kuman akan dihadapi pertama kali oleh neutrofil. Partikel dapat masuk ke alveolar bila ukuran partikel < 5 mikrometer.6 yang gelap dan lembab kuman dapat bertahan berhari-hari sampai berbulan-bulan. jaringan limfe. ia akan menempel pada saluran napas atau jaringan paru. Bila menjalar ke pleura maka akan menjadi efusi pleura. Di sini ia dapat terbawa masuk ke organ tubuh lainnya. sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa gari-garis fibrotik. Bila kuman menetap di jaringan paru. tulang. 8 2. Kuman yang bersarang di jaringan paru akan berbentuk sarang tuberkulosis dan disebut sarang primer afek primer atau fokus ghon. kemudian baru oleh makrofag.1. Klasifikasi 4 Tuberkulosis Paru Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru.

tuberculosis positif.7 1.  Kasus kambuh (relaps) Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap. Tuberkulosis paru BTA (+) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA positif. . kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan positif. Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan kelainan radiologik menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif. 2. Ada beberapa tipe pasien berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya yaitu :  Kasus baru Adalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan. gambaran klinik dan kelainan radiologis menunjukkan tuberkulosis aktif.  Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan biakan M. Tuberkulosis paru BTA (-)  Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif. Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan biakan positif.

Juga dikatakan gagal apabila pasien dengan hasil BTA negatif gambaran radiologik positif menjadi BTA positif pada akhir bulan ke-2 pengobatan. bronkiektasis dll) Dalam hal ini berikan dahulu antibiotik selama 2 minggu.  Kasus kronik / persisten Adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah selesai pengobatan ulang kategori 2 dengan pengawasan yang baik. kemudian dievaluasi. selaput .8  Bila BTA negatif atau biakan negatif tetapi gambaran radiologik dicurigai lesi aktif / perburukan dan terdapat gejalaklinis maka harus dipikirkan beberapa kemungkinan : 1) Infeksi non TB (pneumonia. Tuberkulosis Ekstra Paru Tuberkulosis ekstra paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru.  Kasus gagal Adalah pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan. TB paru kambuh  Kasus defaulted atau drop out Adalah pasien yang tidak mengambil obat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai. misalnya pleura. 2) Infeksi jamur 3. kelenjar getah bening. b.

1. kulit. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas terutama pada kasus baru. persendian. Biasanya batuk ringan sehingga dianggap batuk biasa atau akibat rokok. Dahak Dahak awalnya bersifat mukoid dan keluar dalam jumlah sedikit. Diagnosis sebaiknya didasarkan atas kultur positif atau patologi anatomi. sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara klinik (Alsagaff.9 otak. Proses yang paling ringan ini menyebabkan sekret akan terkumpul pada waktu penderita tidur dan dikeluarkan saat penderita bangun pagi hari. 2. a. perikard.4 Gejala Klinis7 Keluhan yang dirasakan pasien tuberkulosis paru dapat bermacam-macam atau banyak pasien ditemukan TB paru tanpa keluhan sama sekali. alat kelamin dan lain-lain. 2008). saluran kencing. ginjal. tulang. Untuk kasus-kasus yang tidak dapat dilakukan pengambilan spesimen maka diperlukan bukti klinis yang kuat dan konsisten dengan TB ekstra paru aktif. Gejala TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat. b. Batuk Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan. usus. . kemudian berubah menjadi purulen/kuning atau kuning hijau sampai purulen dan kemudian berubah menjadi kental bila sudah terjadi perlunakan.

e. 2. hipertensi pulmonal dan korpulmonal. bronkostenosis. Dispneu Dispneu merupakan late symptom dari proses lanjut tuberkulosis paru akibat adanya restriksi dan obstruksi saluran pernapasan serta loss of vascular bed / thrombosis yang dapat mengakibatkan gangguan difusi. peradangan. . ulserasi dan lain-lain (pada tuberkulosis lanjut). Bila nyeri bertambah berat berarti telah terjadi pleuritis luas (nyeri dikeluhkan di daerah aksila. f. jaringan granula.5 Gejala-gejala umum7 1) Panas badan Merupakan gejala paling sering dijumpai dan paling penting sering kali panas badan sedikit meningkat pada siang maupun sore hari. Batuk Darah Darah yang dikeluarkan penderita mungkin berupa bercak-bercak darah.1. Nyeri Dada Nyeri dada pada tuberkulosis paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. Wheezing Wheezing terjadi karena penyempitan lumen endobronkus yang disebabkan oleh sekret. di ujung skapula atau di tempat-tempat lain). gumpalan-gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak.10 c. d.

seringkali baru disadari oleh penderita setelah ia memperoleh terapi dan saat ini masih lebih baik dari sebelumnya/Retrospective tuberkulosis Symptomatology .11 2) Menggigil Dapat terjadi bila panas badan naik dengan cepat. Gejala umum ini. tetapi tidak diikuti pengeluaran panas dengan kecepatan yang sama atau dapat terjadi sebagai suatu reaksi umum yang lebih hebat. kurang tidur dan keadaan sehari-hari yang kurang menyenangkan. 3) Keringat malam Keringat malam bukanlah gejala yang patognomonis untuk paru. 4) Gangguan menstruasi Gangguan menstruasi sering terjadi bila proses tuberkulosis paru sudah menjadi lanjut. karena itu harus dianalisa dengan baik dan harus lebih berhati-hati. 5) Anoreksia Anoreksia/penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan merupakan manifestasi toksemia yang timbul belakangan dan lebih sering dikeluhkan bila proses progresif . 6) Lemah badan Gejala-gejala ini dapat disebabkan oleh kerja berlebihan. Keringat malam umumnya baru timbul bila proses telah.

pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). 3. Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. 4. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko Terinfeksi TB selama satu tahun. berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun. sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. 5. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab.6 Cara Penularan 1. ARTI sebesar 1%.1. Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif. makin menular pasien tersebut. Risiko penularan 1. 2. Pada waktu batuk atau bersin. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan. 2. Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak. Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.12 2. .

diperkirakan diantara 100. Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif. Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah. maka jumlah pasien TB akan meningkat. ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%. Pasien TB yang tidak diobati. akan: 1.13 3. Risiko menjadi sakit TB 1. 4. sehingga jika terjadi infeksi penyerta (oportunistic). 50% meninggal 2.000 penduduk rata-rata terjadi 1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun. 25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi . 2. seperti tuberkulosis. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (cellular immunity). 3. maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bias mengakibatkan kematian. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat. 4. Dengan ARTI 1%. Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB. setelah 5 tahun. HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk). dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula. Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif.

Pada tuberculosis paru. kelainan yang .7 Diagnosis Apabila seseorang dicurigai menderita atau tertular TB Paru. suhu demam (subfebris). badan kurus atau berat badan menurun. sesak napas. Anamnesa baik terhadap pasiern maupun keluarganya Keluhan : batuk.14 3. Pemeriksaan fisik secara langsung Pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien mungkin ditemukan konjungtiva pucat atau kult yang pucat karena anemia. 25% menjadi kasus kronis yang tetap menular Gambar 2. batuk berdarah. 2. nyeri dada dan napas berbunyi yang berlangsung lama. maka ada beberapa hal pemeriksaan yang perlu dilakukan untuk memberikan diagnosa yang tepat antara lain: 1.1.1. Faktor Risiko Kejadian TB 2.

Kelainan paru pada umumnya terletak di daerah lobus superior terutama daerah apeks dan segmen posterior. darah. Pada permulaan. Pemeriksaan laboratorium (darah. bilasan bronkus. Pada perkusi ditemukan pekak. Pada pleuritis tuberculosis. perkembangan penyakit umumnya tidak (atau sulit sekali) menemukan kelainan.15 didapat tergantung luas kelainan struktur paru.Pagi (keesokan harinya) . bilasan lambung. liquor cerebrospinal. faeces dan jaringan biopsy (termasuk biopsi jarum halus/BJH). urin. cairan pleura.Sewaktu / spot (dahak sewaktu saat kunjungan) .Sewaktu / spot ( saat mengantarkan dahak pagi ) . Paru : apeks lobus superior dan lobus inferior 3. kelainan pemeriksaan fisik tergantung dari banyaknya cairan di rongga pleura. serta daerah apeks lobus inferior. pada auskultasi suara napas yang melemah sampai tidak terdengar pada sisi yang terdapat cairan Gambar 2. dahak. Cara pengambilan dahak 3 kali (SPS) : . Pada perkusi didapatrkan perkusi yang redup dan auskultasi suara napas bronchial.2. cairan otak) Bahan untuk pemeriksaan bakteriologi ini dapat berasal dari dahak.

8 Pengobatan a. 2. 1 kali positif.1. Tujuan Pengobatan Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien. mencegah kekambuhan. tetapi bisa juga mengenai lobus bawah (bagian inferior). mencegah kematian. gambaran radiologis berupa bercak-bercak seperti awan dan dengan batas tidak tegas. b. Pada kavitas bayangannya berupa cincin yang mula-mula berdinding tipis. memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT (Obat Anti Tuberkulosis). Bila terdapat fibrosis terlohat bayangan yang bergaris-garis. 1 kali negatif  BTA positif. 2 kali negatif  BTA positif  Bila 3 kali negatif  BTA negative 4. 2 kali negatif  ulang BTA 3 kali. Pada awal penyakit.prinsip sebagai berikut: . kemudian bila 1 kali positif. lesi merupakan sarang-sarang pneumonia. Lokasi lesi tuberculosis umumnya di daerah apeks paru. Lama-lama dinding jadi sklerotik dan terlihat menebal. Rontgen dada (thorax photo) Sesuai dengan gambaran tuberculosis paru. Prinsip Pengobatan Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip .16 lnterpretasi hasil pemeriksaan dahak dari 3 kali pemeriksaan :   3 kali positif atau 2 kali positif.

 Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat.17  OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi).1. Jenis. o Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat. Jenis OAT Isoniazid (H) Rifampicin (R) Pyrazinamide (Z) Streptomycin (S) Ethambutol (E) Tabel 2. yaitu tahap intensif dan lanjutan. Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT/Obat Anti Tuberkulosis-Kombinasi Dosis Tetap) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan.  Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap. . Sifat dan Dosis OAT Sifat Dosis Yang Direkomendasikan (mg/kg) Harian 3 X Seminggu Bakterisid 5 10 (4-6) (8-12) Bakterisid 10 10 (8-12) (8-12) Bakterisid 25 35 (20-30) (30-40) Bakterisid 15 15 (12-18) (12-18) Bakteriostati 15 30 k (15-20) (20-35) - Tahap awal (intensif) o Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. o Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan. dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).

Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:  Pasien baru TB paru BTA positif. OAT Sisipan (HRZE) Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari) . namun dalam jangka waktu yang lebih lama o Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan Paduan OAT dan peruntukannya a. Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobat sebelumnya:  Pasien kambuh  Pasien gagal  Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat (default) c.  Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif  Pasien TB ekstra paru b.18 - Tahap Lanjutan o Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit.

keluarga adalah kumpulan dua orang manusia atau lebih yang satu sama lain saling terkait secara emosional.2. beberapa di antaranya dikemukakan sebagai berikut: a. atau ibu dan anaknya. Keluarga campuran (blended family) . keluarga adalah tidak hanya merupakan suatu kumpulan individu yang bertempat tinggal yang sama dalam satu ruang fisik dan psikis yang sama saja.2. struktur kekuasaan. peranan. tata cara negosiasi. 2. bentuk keluarga terdiri sembilan macam. atau suami istri dan anaknya. yang memungkinkan berbagai tugas dapat dilaksanakan secara efektif. Menurut Friedman. keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri. 10 Tahun 1992. c. Keluarga besar (extended family) c. serta bertempat tinggal yang sama dalam satu daerah yang berdekatan. bentuk komunikasi. serta tata cara penyelesaian masalah yang disepakati bersama. Menurut Goldenberg (1980).9 b. antara lain:9 a. Bentuk Keluarga Menurut Goldenberg.1. UU No. Definisi Keluarga Bermacam-macam batasan keluarga.19 2.2 Kedokteran Keluarga 2.2. Keluarga inti (nuclear family) b. atau ayah dan anaknya. mematuhi peraturan. tetapi merupakan suatu sistem sosial alamiah yang memiliki kekayaan bersama.

Fungsi pendidikan . dan materiil yang layak.20 d.2. Fungsi dan Siklus Keluarga Berdasarkan peraturan pemerintah No. Keluarga serial (serial family) h. Olehnya disebutkan. Yang dimaksud keluarga sejahtera adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah. Fungsi pelindungan c. Fungsi rekreasi e. fungsi melindungi. yaitu fungsi keagamaan. bahwa keluarga memiliki fungsi:9 a. fungsi cinta kasih. dan fungsi pembinaan lingkungan. Fungsi agama d.9 Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ogburn (1969). fungsi budaya. mampu memenuhi kehidupan spiritual. Keluarga hidup bersama (commune family) g. Keluarga orang tua tunggal f. Fungsi ekonomi b. fungsi ekonomi. fungsi reproduksi. Hidup bersama dan tinggal bersama (co habitation family) 2. telah terbukti adanya perubahan pelaksanaan fungsi keluarga.3. Keluarga gabungan (composive family) i. Keluarga menurut hukum umum (common law family) e. Apabila fungsi keluarga terlaksana dengan baik. fungsi sosialisasi dan pendidikan. 21 Tahun 1994 fungsi keluarga dibagi menjadi delapan jenis. maka dapat diharapkan terwujudnya keluarga yang sejahtera.

Tahap keluarga dengan anak-anak yang meninggalkan keluarga g. mencegah. Tahap keluarga dengan anak usia remaja f. Keluarga sebagai suatu kelompok yang mempunyai peranan mengembangkan. maka pemahaman keluarga akan membantu memperbaiki masalah kesehatan masyarakat. Adapun arti dan kedudukan keluarga dalam kesehatan adalah sebaga berikut:9 a. mengadaptasi.4. yaitu:9 a. Tahap keluarga dengan anak usia pra sekolah (family with children in school) d. Tahap keluarga dengan bayi (birth of the first child) c. Arti dan Kedudukan Keluarga dalam Kesehatan Keluarga memiliki peranan yang cukup penting dalam kesehatan. dan atau memperbaiki masalah kesehatan yang diperlukan dalam keluarga. Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat dan melibatkan mayoritas penduduk.3. Tahap keluarga dengan anak usia sekolah (family with children in school) e. bila masalah kesehatan setiap keluarga dapat di atasi maka masalah kesehatan masyarakat secara keseluruhan akan dapat turut terselesaikan. Fungsi status sosial 8 tahap pokok yang terjadi dalam keluarga (siklus keluarga). Tahap orang tua usia menengah h.21 f. . Tahap keluarga usia jompo 2. b. Tahap awal perkawinan (newly married family) b.

10 . dan hasil pemeriksaan perkusi.22 c. Masalah kesehatan lainnya. d. keletihan. anoreksia. misalnya ada salah satu anggota keluarga yang sakit akan mempengaruhi pelaksanaan fungsi-fungsi yang dapat dilakukan oleh keluarga tersbut yang akan mempengaruhi terhadap pelaksanaan fungsifungsi masyarakat secara keseluruhan. jumlah dan warna sekresi. fremitus. egofoni. Keluarga adalah pusat pengambilan keputusan kesehatan yang penting. dan nyeri dada dikaji. batuk dan pembentukan sputum mengharuskan pengkajian fungsi pernafasan yang lebih menyeluruh.3. 2. keringat malam. Paru-paru dikaji terhadap konsolidasi dengan mengevaluasi bunyi nafas. e. penurunan berat badan. yang terasa sangat nyeri. Setiap perubahan suhu tubuh atau frekuensi pernafasan. yang akan mempengaruhi kebrhasilan layanan kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Pasien juga bisa mengalami pembesaran nodus limfe. Pengkajian Keluarga dengan TBC Pengkajian yang harus dilakukan pada pasien TBC antara lain : riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik yang lengkap dilakukan. Kesiapan emosional pasien untuk belajar. Manifestasi klinis seperti demam. frekuensi dan batuk parah. juga persepsi dan pengertiannya tentang tuberculosis dan pengobatannya juga dikaji. Keluarga sebagai wadah dan ataupun saluran yang efektif untuk melaksanakan berbagai upaya dan atau menyampaikan pesan-pesan kesehatan.

dengan cara : jelaskan komplikasi dari TBC. dengan cara : jelaskan cara mencegah TBC.4. jelaskan penyebab TBC. 5. Bantu keluarga memodifikasi lingkungan dengan cara : ajarkan klien untuk jemur kasur bekas penderita secara teratur 1 minggu 1x. Bantu klien untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan dengan cara : jelaskan manfaat dari pelayanan kesehatan. ajarkan cara membuang sputum dengan sputum pot. yaitu :10 1. Prinsip Intervensi Keluarga dengan TBC Langkah-langkah dalam pengembangan rencana kedokteran keluarga menurut Mubarak (2006). Bantu keluarga mengenal tentang TBC dengan cara : jelaskan pengertian TBC.23 2. jelaskan cara perawatan anggota keluarga di rumah dengan TBC. 4. jelaskan tanda dan gejala TBC. 3. Bantu keluarga agar mampu merawat anggota keluarga dengan TBC. motivasi keluarga untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan terdekat. ajarkan klien tentang diet tinggi kalori dan tinggi protein (TKTP). motivasi keluarga dalam mengambil keputusan untuk merawat anggota keluarga dengan TBC. Bantu keluarga mengambil keputusan untuk merawat anggota keluarga dengan TBC. ajarkan klien tentang perilaku hidup bersih dan sehat. 2. . Buka jendela lebarlebar agar udara segar dan sinar matahari dapat masuk.

Magelang Agama Suku Bangsa : Islam : Jawa Tengah Pendidikan Terakhir : Tamat SD Pekerjaan : Ibu rumah tangga 2. Sumber Arum. Tempuran. Y : 54 Tahun : Perempuan : Menikah : Boto RT 004 RW 001. Magelang Agama : Islam . Identitas Keluarga 1. Tempuran. Identitas Anak (Pengambil Keputusan) Nama Umur Jenis Kelamin Status perkawinan Alamat : Tn. Sumber Arum.1. A : 32 Tahun : Laki-laki : Belum menikah : Boto RT 004 RW 001. Identitas Pasien (Kepala Keluarga) Nama Umur Jenis Kelamin Status perkawinan Alamat : Ny.24 BAB III LAPORAN HASIL KUNJUNGAN RUMAH 3.

Anak tunggalnya belum menikah dan tinggal bersama ibunya. Untuk memnuhi kebutuhan sehari-hari. dan kemudian hanya diberikan obat-obatan simtomatik. tapi kemudian kambuh lagi. Sumber Arum. Karakteristik Kedatangan Penderita ke Klinik Penderita datang pertama kali pada tanggal 7 Juni 2011. pasien didiagnosa TBC berdasarkan hasil sputum BTA (+) 3.Y. Pada tanggal 9 Juni 2011.2. pasien diminta untuk memeriksa sputum dahaknya karena dicurigai pasien menderita TBC pada tanggal 11 Juni 2011. Daerah tersebut merupakan daerah pemukiman penduduk yang cukup padat. . Magelang.25 Suku Bangsa Pendidikan terakhir Pekerjaan : Jawa Tengah : SLTP : Tidak bekerja 3.3. Karakteristik Demografis Keluarga Alamat penderita di Boto RT 004 RW 001. Penderita tinggal bersama anak tunggalnya. Penderita datang dengan diantar oleh keponakannya. mereka mengandalkan pemberian dari kakak Ny. Penderita datang dengan keluhan batuk yang lama dan sesak napas. Suaminya meniggalkan rumah dan keluarganya karena keadaan ekonomi sejak anaknya duduk di bangku kelas 5 SD. Tempuran.

Penderita 7. Nama Ny.1. Sakit Sehat Sumber : data primer hasil wawancara dengan penderita 1 2 3 4 8 7 6 5 9 Diagram 3. Anak : sudah meninggal : sudah meninggal : sudah meninggal : sudah meninggal : tidak diketahui kondisi kesehatannya : sakit. hipertensi : sehat : sehat . Genogram keluarga Keterangan : 1. Y Tn. 2.S Anak Sex P L Umur Pendidikan (thn) Terakhir 54 Tamat SD 32 Tamat SLTP Pekerjaan Ibu rumah tangga Tidak bekerja Ket. A Kedudukan di keluarga Ibu KK atau istri Tn.1. Ayah suami penderita 2. Ibu suami penderita 3. Ibu penderita 5. Kakak ipar penderita 9. Kakak penderita 8.26 Tabel 3. Ayah penderita 4. Daftar anggota keluarga serumah No 1. Suami penderita 6. TBC BTA (+) : sakit.

kemudian sering disertai dengan sesak. dokter mendiagnosa pasien menderita penyakit jantung (dekompensasi kordis). 1 November 2011 pukul 11.00 WIB di rumah penderita. Riwayat penyakit keluarga Kakak dari penderita menderita hipertensi yang sampai sekarang tidak terkontrol tekanan darahnya (TD : 160/90 mmHg). Selain itu pasien juga mempunyai riwayat gastritis. b. keringat dingin. S Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada hari Selasa. a. mual.1. Selain itu. Anamnesis Ny. Riwayat penyakit dahulu Pasien mengaku kakinya bengkak dan setelah periksa di puskesmas. penderita juga mengeluh berat badannya menurun drastis.27 3. dan pusing. Resume Penyakit dan Penatalaksanaan yang Telah Diberikan 3. Penderita mengeluh jika melakukan pekerjaan yang berat seperti mengangkat barang-barang berat. penderita akan merasa lemas. c. d. Keluhan utama Batuk-batuk dan sesak napas sejak 6 bulan yang lalu. Sputum tanpa darah akan keluar setelah batuk. susah bernafas. .4.4. Keluhan tambahan Batuk tetap kambuh walaupun sudah meminum obat-obatan simtomatik.

bising (-). dahi simetris : konjungtiva palpebra anemis (+/+). pembesaran KGB (-/-) . turgor normal.7o C Tenggorok : T1-1. ikterik (-). dinamis : simetris.28 3. gallop (-) : simetris statis.      Keluhan utama : batuk sejak 6 bulan lalu Keadaan umum : terlihat lemas dan terlihat sangat kurus Kesadaran Gizi Tanda vital : kompos mentis : buruk : TD : 120/80 mmHg N : 90x/menit  Status Generalis Kepala Mata Kulit : normosefalus. faring hiperemis (-) Leher Dada Jantung I P P A Paru I : ictus cordis tak tampak : ictus cordis teraba di SIC V 2 cm medial LMCS : konfigurasi jantung dalam batas normal : Bunyi Jantung I-II murni. 1 November 2011 pukul 11. keringat dingin (+) Telinga Mulut : discharge (-/-) : bibir sianosis (-).2. sianosis (-). kripte dan detritus[-].4. sklera ikterik (-/-) : pucat (+).00 WIB di rumah penderita. kering (+) RR : 23 x/menit T : 36. Hasil Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik dilakukan pada hari Selasa.

4. venektasi (-) : bising usus (+) normal : nyeri tekan (-) : timpani. pekak sisi (+) normal. Hasil Pemeriksaan Penunjang  Laboratorium BTA (+)  Rontgen Tidak dilakukan pemeriksaan rontgen 3.29 P P : fremitus kanan = kiri : sonor hampir di seluruh lapang paru.4.4. ronki (+) pada basis pulmo dextra Abdomen I A P P Ekstremitas Oedem Sianosis Akral dingin : datar. pekak alih (-) Superior -/-/-/Inferior +/+ -/-/- 3. Diagnosis Kerja TB paru BTA (+) disertai dekompensasi kordis .3. redup di basis pulmo dextra A : suara dasar vesikuler.

4. pasien rajin untuk minum obatnya. 3.6. 6) Minum OAT dan obat jantung secara teratur. Selain itu. Hasil Penatalaksanaan Medis  Pada saat kunjungan rumah pada jtanggal 3 November 2011. dan istirahat cukup. Terapi medikamentosa OAT Obat Jantung (Furosemid.30 3. 3) Menutup mulut saat penderita batuk. faktor pendukung psiko-sosial tinggi. Tempat tinggal . Rencana Penatalaksanaan a.4. 7) Menjelaskan pentingnya peranan PMO dalam pengobatan TB.  Faktor pendukung : Kesadaran penderita untuk sembuh tinggi .5. penderita merasa keluhan batuknya berkurang. 2) Cuci tangan dengan sabun sesudah penderita batuk. Aspar-K) b. Penderita krajin beribadah dan berdoa untuk kesembuhannya. 5) Mengkonsumsi makanan yang bergizi.  Faktor penghambat : penghasilan keluarga kurang mencukupi. Edukasi 1) Membuka pintu setiap pagi agar terjadi pertukaran udara. 4) Membersihkan perabotan rumah dari debu. peran keluarga untuk mengingatkan minum obat maupun hidup sehat. sehingga untuk memenuhi kebutuhan gizinya kurang.

: pengetahuan meningkat. Penderita dan suami mempunyai 1 orang anak laki-laki.6. dan penyakit jantung. Waktu luang digunakan untuk mengobrol dengan ibu dan keluarga ibunya. Penderita tidak pernah keguguran dan anak tunggalnya lahir cukup bulan dalam keadaan sehat.6. tidak memiliki riwayat DM. asma. Hubungan dengan keluarga baik.5.6. Anak tunggalnya tidak bekerja.2.1. yaitu keluarga yang terdiri dari ibu dan anak. Fungsi Psikologis Saat ini penderita tinggal dengan anak tunggalnya dan tinggal satu rumah dengan pasien. Anak tunggalnya dalam keadaan sehat. Semua . salah satunya tidak terdapat ventilasi sehingga tidak ada pertukaran udara yang baik. 3. Perencanaan kelahiran anak didiskusikan oleh penderita dan suaminya. Keluarga ini berada dalam siklus keluarga tahap orang tua usia menengah. Bentuk dan Siklus Keluarga Bentuk keluarga ini ialah keluarga inti. keluhan 3.  Indikator keberhasilan berkurang. Penderita dulu menggunakan pil KB sejak tahun 1981 hingga 1993.31 tidak memenuhi syarat rumah sehat. Identifikasi Fungsi-Fungsi Keluarga 3. 3. orang tua tunggal (single parents). Fungsi Biologis dan Reproduksi Dari hasil wawancara didapatkan informasi bahwa saat ini semua anggota keluarga kecuali pasien dalam keadaan sehat.

3. Anak tunggal penderiita tamat SLTP. Hubungan dengan tetangga terjalin baik dan pergaulan umumnya berasal dari kalangan menengah dan menengah ke bawah.6. Dan belanja harian dilakukan kakak penderita. Penderita rajin beribadah dan dan . pemenuhan kebutuhan primer dan sekunder kurang dapat terpenuhi.000. Fungsi Religius Penderita dan anak tunggalmya melakukan ibadah di rumah.6.32 masalah yang berhubungan dengan keluarga diselesaikan dengan musyawarah dan keputusan dia diambil oleh anak tunggalnya yang sekarang berperan sebagai kepala kelurga.6.4. yang bekerja sebagai buruh dengan rata-rata penghasilan per bulannya Rp 500. Listrik dalam rumah penderita tidak ada.5. Dengan penghasilan tersebut. Tidak ada ruangan khusus untuk ibadah di rumah.3. Fungsi Pendidikan Pendidikan terakhir penderita tamat SD. karena tidak ada biaya untuk memasang listrik. 3. Jika ada masalah pribadi dibicarakan dengan anak tunggalnya.6.6. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan Sumber penghasilan dalam keluarga dari keluarga penderita. Tidak terdapat perencanaan dan dana khusus untuk pendidikan anak. 3. Fungsi Sosial Penderita tinggal di kawasan perkampungan yang cukup padat penduduk. dan suami penderita juga tamat SD. 3.

bayam. Penderita dan keluarga yang tinggal serumah dengannya jarang membuka pintu rumah. sayur (sup. dan suami penderita darisebelum menikah sudah menjadi perokok dengan jumlah 3-5 batang per harinya. Puskesmas maupun tempat praktik dapat ditempuh dengan angkutan desa. Faktor Non-Perilaku Sarana kesehatan di sekitar rumah cukup jauh. tidak dilakukan lagi. sayur asem. Pola Konsumsi Makan Penderita dan Keluarga Frekuensi makan penderita dan keluarga tidak teratur. 3. Penderita dan keluarga tidak pernah ikut serta pada program kesehatan (posyandu dan perkumpulan kesehatan lainnya) di lingkungan rumah. Pendanaan kesehatan tidak ada. Makanan diolah oleh kakak penderita dengan makanan yang hampir sama setiap hari. tapi sejak penderita sakit. 3.7. sayur kangkung. dll).1. Jika ada anggota keluarga yang sakit. Identifikasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan 3. penderita berjualan di Pasar Jambu. sudah tidak datang lagi.2. tempe. Makanan yang dikonsumsi keluarga antara lain: nasi. tetapi juga dapat menggunakan .33 mengikuti pengajian di lingkungan rumahnya.8. tetapi setelah sakit. Faktor Perilaku Keluarga Penderita jarang berolahraga. Penderita tidak rutin mengkonsumsi susu. 3. Saat waktu luang sebelum sakit. telur).8. terkadang 2-3kali setiap harinya. lauk (tahu. penderita dan keluarga tidak langsung berobat ke dokter praktik maupun puskesmas.8.

Begitu pula dengan kamar mandi hanya ada satu yang dipakai bersama-sama dengan tetangga. lantai dari tanah. Ruangan terasa lembab karena kesan ventilasi tidak ada di dalam rumah dan tidak ada pencahayaan. Atap rumah dari seng.9.5 m2/jiwa. Jarak septik tank dengan sumber air minum + 3 meter. dengan ukuran 9x6 m2 dengan kepadatan 43.1. tata letak barangbarang di dalam rumah tidak rap dan terkesan banyak debu.. kebersihan di dalam rumah kurang bersih. . dengan bentuk jamban leher angsa. dengan ukuran 2x3 m2. cuci. Limbah rumah tangga dialirkan ke saluran limbah (got) dan meresap ke tanah. 3. Identifikasi Lingkungan Rumah 3.34 sepeda motor milik anak keponakannya. 2 ruang tidur (ukuran 3x3 m2). Sumber air minum. Secara umum rumah terdiri atas 1 ruang tamu (ukuran 6x5 m2). Gambaran Lingkungan Rumah penderita terletak di pemukiman penduduk yang cukup padat. Penerangan di dalam rumah tidak ada karena tidak terdapat listrik. dinding dari anyaman bambu yang sudah rapuh. serta tempat sampah di luar rumah tidak tertutup. Pembiayaan pengobatan penderita maupun keluarga dengan menggunakan jamkesmas bencana. dan masak dari sumur bor yang dipakai bersama dengan tetangga.9.

3.1. tamu Kamar Ibu Y Ruang Makan Beranda Gambar 3.9.2. Peta Rumah Dicapai dari Pelayanan Kesehatan S U masjid Puskesmas M B E R A R U M Rumah Ny. Denah Rumah Kamar anak Dapur R. Peta rumah dari pelayanan kesehatan .Y Dusun Boto Desa Sumber Arum Gambar 3.9.2.35 3. Denah rumah 3.

3. Penderita menderita TBC BTA (+) yang terdiagnosis sejak 5 bulan yang lalu.10. b. . b. Hubungan dengan suami kurang baik. Fungsi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan Perekonomian keluarga tidak cukup sehingga kebutuhan kurang dapat terpenuhi. Fungsi sosial Dapat bersosialisasi terhadap lingkungan sekitar dengan baik 3.10.3.10. Diagnosis Fungsi-Fungsi Keluarga 3. Masalah pribadi dibicarakan dengan anak dan kakak. Tidak ada anggota keluarga lain yang sakit seperti ini.10.10. Hubungan dengan anak baik. Fungsi penguasaan masalah dan kemampuan beradaptasi a. Penderita mengalami bengkak di kedua kakinya d. b. Hubungan dengan kelurga yang lain baik.2. Fungsi Biologis a. d.5. Hubungan dengan tetangga baik.36 3.4.1. c. 3. Penderita sudah batuk sejak 6 bulan yang lalu. Fungsi Psikologis a.10. Masalah yang berhubungan dengan keluarga diselesaikan dengan musyawarah. c. dan batuk sering kambuh. 3.

Penderita tidak memiliki kebiasaan berolah raga. .10. Tidak mencuci tangan setelah batuk e.10.37 3. Tidak menutup mulut sewaktu batuk d. 3. Faktor nonperilaku Sarana pelayanan kesehatan cukup jauh dari rumah dan tidak ada saran transportasi umum untuk mencapai tempat pelayanan kesehatan. b. Penderita ridak mau memriksakan kesehatannya di pelayanan kesehatan termasuk puskesmas. c.6.7. Penderita dan keluarga jarang membersihkan rumah. Faktor perilaku a.

Tidak mencuci tangan setelah batuk e. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan dalam keluarga . Diagram Realita yang Ada Pada Keluarga Lingkungan     Kebersihan kurang Ventilasi tidak ada Pencahayaan kurang Rumah lembab Genetik Mempunyai riwayat penyakit yang dapat diturunkan Pelayanan Kesehatan Derajat kesehatan Ny. c. Penderita dan keluarga jarang membersihkan rumah. Y Pelayanan kesehatan sulit terjangkau Penderita TBC BTA (+) Perilaku a.38 3.2.11. Penderita tidak mau memriksakan kesehatannya di pelayanan kesehatan termasuk puskesmas. Penderita tidak memiliki kebiasaan berolah raga. Diagram 3. b. Tidak menutup mulut sewaktu batuk d.

2. Penderiita dan Edukasi tentang pentingnya rumah keluarga jarang sehat dan bersih membersihkan rumah 2. Faktor pendukung : a. Masalah kesehatan dan rencana pembinaan Risiko dan Masalah No. serta pengetahuan tentang TB Hasil kegiatan Pengetahuan tentang TB meningkat 6. Penderita dan 2011 dari tanda dan gejala. Sasaran Penderita dan keluarga Penderita Penderita Penderita Penderita 5. Tingkat pemahaman : Pemahaman terhadap penyuluhan yang dilakukan cukup baik 2.39 4. penularan keluarga dan pencegahan pengobatan untuk penderita TB. Risiko. Rencana pembinaan Kesehatan 1. Kesimpulan Pembinaan Keluarga 1. Pembinaan dan Hasil Kegiatan Tabel 3. Permasalahan. Tidak menutup mulut Penyuluhan tentang pencegahan sewaktu batuk penularan TB 4. Pembinaan dan hasil kegiatan Keluarga Tanggal Kegiatan yang dilakukan yang terlibat 3 November Penyuluhan tentang penyakit TB. dan Rencana Pembinaan Kesehatan Keluarga Tabel 3. Penderita tidak Penyuluhan ke keluarga tentang memiliki kebiasaan manfaat berolah raga berolah raga 3. Tidak mencuci tangan Penyuluhan tentang pencegahan setelah batuk penularan TB 5. Pasien dan keluarga dapat memahami dan menangkap penjelasan yang diberikan . Penderita tidak mau Penyuluhan tentang pencegahan memeriksakan penularan TB kesehatannya di pelayanan kesehatan termasuk puskesmas.

Indikator keberhasilan : a. Pengetahuan meningkat sehingga dapat mengurangi penularan ke keluarga yang lain b. Faktor penyulit : ekonomi kurang mencukupi 4.40 b. sehingga pasien dan keluarga sangat kooperatif untuk mengubah perilaku yang tidak baik bagi kesehatan 3. Kesadaran pasien dan keluarganya untuk dapat sembuh. Kesadaran PMO dalam mengawasi penderita minum obat .

perilaku. 2. lingkungan. dan pelayanan kesehatan. Adapun faktor yang paling berpengaruh adalah perilaku yaitu Ny. Untuk Keluarga Pasien Kepada keluarga untuk selalu melakukan pengawasan minum obat dan memberikan dukungan moral kepada penderita. Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan Ny. . terutama dalam hal pengawasan minum obat dan memberikan dukungan moral kepada pasien. 6. Keluarga memiliki peranan dalam proses kesembuhan pasien TBC paru.41 BAB IV PENUTUP 6. Kesimpulan 1. Y terdiri dari empat hal yaitu faktor genetik.2. Y dan keadaan tempat tinggal Ny.Y dan keluarganya. Saran 1. 3. Untuk Puskesmas Untuk pembinaan selanjutnya agar dilakukan pemantauan dan pembinaan yang berkesinambungan terhadap masalah-masalah kesehatan pasien.1. Untuk tenaga kesehatan Melakukan pendekatan kedokteran keluarga dalam menangani kasus TBC paru. 2.

unimus.com/2010/04/08/tuberkulosis-tb/ 4.depkes. Febrian.id diakses pada tanggal 15 November 2011 7. Tuberculosis. Wirasti.go. [Diakses pada: 15 November 2011]. 2011. Jakarta : Depkes RI 6. Departemen Kesehatan RI.ac. Kementrian Kesehatan RI.go. Bagas. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis.id. Diunduh dari http://digilib. Hubungan Antara Karakteristik dan Pengetahuan Tentang Tuberkulosis Paru Dengan Perilaku Penularan Tuberkulosis Paru Di Puskesmas Sawangan Kota Depok Tahun 2010.id/ files/disk1/103/jtptunimus-gdl-riafebrian-5117-1-bab1. Hubungan Status Gizi Anak dan Tingkat Pendidikan Serta Pengetahuan Ibu terntang Gizi Terhadap Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis Pada Anak Di Puskesmas Pisangan Tahun 20092010 .wordpress. 2008. Profil Kesehatan Indonesia 2008.42 DAFTAR PUSTAKA 1. 2007. Arimas. 2011. Skripsi Program Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional “Verterran” Jakarta (skripsi). Ria. Asuhan keperawatan keluarga dengan masalah TB paru. Departemen Kesehatan RI.pdf 3. Available from : www.pdf diakses pada tanggal 15 November 2011 2. Skripsi Program Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional “Verterran” Jakarta . [Diakses pada 15 November 2011).depkes. Diunduh dari http://keluargasehat. Available from : www. Pengendalian Tuberkulosis Salah Satu Indikator Keberhasilan MDG’s. Bramantyo. 5. 2009.

[Diakses pada 15 Agustus 2010]. 2006. 2003 10. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid ke-2 Revisi IV.html . Sudoyo Aru W.43 8. Anies. Semarang: Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Pencegahan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Jakarta : Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 9.com/2009/03/konsep-dasar- keluarga-dan-tbc. Kedokteran keluarga & pelayanan kedokteran yang berprinsip pencegahan Lecture notes. Diunduh dari http://healthreference-ilham.blogspot. Konsep dasar keluarga dan TBC.

44 Lampiran 1. Dokumentasi .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful