Borang Portofolio No. ID dan Nama Peserta : dr. Febria Arma No.

ID dan Nama Wahana : RSUD MA Hanafiah Batusangkar Topik : Bedah Tanggal (kasus) : 7 Juni 2013 Nama Pasien : Tn. S No. MR Tanggal Presentasi : Juni 2013 Pendamping : dr. Martining Saswati Tempat Presentasi : RSUD MA Hanafiah Batusangkar Objektif Presentasi : Keilmuan √ Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka √ Diagnostik √ Manajemen Masalah √ Istimewa Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa √ Lansia Bumil Deskripsi : Laki-Laki, 34 tahun, datang dengan keluhan nyeri perut kanan bawah. Penegakan diagnosa dan pengobatan yang tepat Tujuan Bahan Tinjauan Pustaka Riset Kasus √ Audit Bahasan : Cara Membahas : Data Pasien : Nama : Tn.S Nama Klinik : RSUD MA Hanafiah Data Utama untuk Bahan Diskusi : Telp : No. Registrasi : Terdaftar sejak : Diskusi Presentasi dan Diskusi √ E-mail Pos

1. Diagnosis /Gambaran Klinis : : Appendisitis Akut / Nyeri perut kanan bawah sejak ± 2

hari sebelum masuk rumah sakit. Riwayat demam (+), mual (+), muntah (-). Pada pemeriksaan fisik ditemukan nyeri tekan dan nyeri lepas di titik McBurney, Rovsing sign (+), Obturator sign (+), Psoas sign (+). Pada pemeriksaan rectal toucher ditemukan nyeri tekan pada arah jam 9 dan jam 11.
2. Riwayat Pengobatan : Riwayat pengobatan sebelumnya tidak ada. 3. Riwayat Kesehatan/ Penyakit : Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini

sebelumnya.
4. Riwayat Keluarga : Tidak ada keluarga pasien yang memiliki keluhan seperti pasien 5. Riwayat Pekerjaan : Pasien seorang petani 6. Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik : 7. Riwayat Imunisasi (disesuaikan dengan pasien dan kasus) : Lain-lain : Daftar Pustaka :

1. De Jong, Wim. 2004. Apendisitis Akut, dalam Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi II. Hal 640- 645. Jakarta: EGC. 2. Mansjoer, Arif dkk. 2000. Apendisitis, dalam Kapita Selekta Kedokteran, edisi III, jilid II. Hal 307-313. Jakarta: Media Aesculapius. 3. Rudi Ali Arsyad. 2006. Pemakaian Sistem Skor dalam Menegakkan Diagnosis

Dua puluh menit yang lalu sebelum dibawa ke IGD pasien mengkonsumsi obat sakit gigi yang dibeli di apotek karena sakit pada giginya. Sardjito Tahun 2004-2006.id Hasil Pembelajaran : 1. muntah serta keringat dingin. DR. Kira-kira lima menit setelah makan obat pasien merasa sesak nafas. BU (+) normal Ekstremitas : Akral hangat Laboratorium : Hb : 12.Apendisitis Akut pada Anak Usia 6-14 Tahun di Bagian Bedah Anak RS. irama teratur. Abdomen : supel. Penegakan diagnosa appendisitis akut 2. batas jantung dalam batas normal. hepar dan lien tidak teraba. Tatalaksana appendisitis Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio Subjektif : Seorang laki-laki. wheezing +/+ Jantung : iktus tidak terlihat. sklera tidak ikterik : JVP 5-2 cm H2O : Paru : inspeksi : gerakan dinding dada simetris kiri kanan Palpasi : fremitus kiri = kanan Perkusi : sonor Auskultasi : rhonki -/-.5ºC Tekanan Darah : 70/P .ugm. diikuti mual. Lalu keluarga pasien langsung membawa pasien ke RS. iktus teraba 1 jari media LMCS RIC V.9 gr% : E4M6V4 = GCS 14 : 130 x/mnt : 28x/mnt : 37. gatal seluruh tubuh. usia 30 tahun diantar oleh keluarganya ke IGD RSUD MA Hanafiah Batusangkar dengan keluhan sesak nafas. Objektif : Keadaan umum : Sedang Kesadaran Nadi Nafas Suhu Status Lokalis: Mata Leher Thoraks : Konjungtiva tidak anemis.ac. Diunduh dari http://arc. bising tidak ada.

yang menghasilkan leukotrine dan prostaglandin. terpapar pada sel plasma dan menyebabkan pembentukan IgE spesifik terhadap alergen tertentu. Efek biologis histamin terutama melalui reseptor H1 dan H2 yang berada pada permukaan saluran sirkulasi dan respirasi. Pada paparan berikutnya. spasme bronkus dan spasme pembuluh darah koroner sedangkan stimulasi reseptor H2 menyebabkan dilatasi bronkus dan peningkatan mukus dijalan nafas. Efek histamin. Sangat kurang data yang akurat dalam insiden dan prevalensi terjadinya syok anafilaktik. Stimulasi reseptor H1 menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah. Insidens syok anafilaktik 40 – 60 persen adalah akibat gigitan serangga. Oleh karena itu syok anafilaktik adalah suatu tragedi dalam dunia kedokteran.000/mm Pemeriksaan EKG : irama sinus takikardi Assestment : Reaksi anafilaksis merupakan sindrom klinis akibat reaksi imunologis (reaksi alergi) yang bersifat sistemik. Ikatan antigen antibodi ini juga memicu sintesis SRS-A ( Slow reacting substance of Anaphylaxis ) dan degradasi dari asam arachidonik pada membrane sel. Patofisiologi Reaksi anafilaksis timbul bila sebelumnya telah terbentuk IgE spesifik terhadap alergen tertentu. Reaksi ini segera mencapai puncaknya setelah 15 menit. sistem pernafasan maupun makanan. Sebaliknya penurunan cGMP justru menghambat pelepasan mediator. dan 10 – 20 persen akibat pemberian obat penicillin. Alergen yang masuk kedalam tubuh lewat kulit. keadaan ini dapat menimbulkan malapetaka yang berakibat ganda. Anafilaksis yang fatal hanya kira-kira 4 kasus kematian dari 10 juta masyarakat pertahun. yang membutuhkan pertolongan cepat dan tepat. mukosa. Terjadi kenaikan cAMP kemudian penurunan drastis sejalan dengan pelepasan mediator dan granula kedalam cairan ekstraselluler. leukotrine (SRS-A) dan prostaglandin pada pembuluh darah maupun otot polos bronkus menyebabkan timbulnya gejala pernafasan dan syok.400/mm3 : 37. 20-40 persen akibat zat kontras radiografi. alergen akan terikat pada Ige spesifik dan memicu terjadinya reaksi antigen antibodi yang menyebabkan terlepasnya mediator yakni antara lain histamin dari granula yang terdapat dalam sel.Leukosit Hematokrit Trombosit : 7.7 % : 332. IgE spesifik ini kemudian terikat pada reseptor permukaan mastosit dan basofil. Obat-obatan ini antara lain adalah katekolamin (meningktakan sintesis cAMP) dan methyl . Jika reaksi tersebut cukup hebat sehingga menimbulkan syok disebut sebagai syok anafilaktik yang dapat berakibat fatal. Rasio H1 – H2 pada jaringan menentukan efek akhirnya. Aktivasi mastosit dan basofil menyebabkan juga respon bifasik dari cAMP intraselluler. Obatobatan yang mencegah penurunan cAMP intraselluler ternyata dapat menghilangkan gejala anafilaksis. sirkulasi. cepat dan hebat yang dapat menyebabkan gangguan respirasi. pencernaan dan kulit. Tanpa pertolongan yang cepat dan tepat.

eritema. pertama akibat terjadinya vasodilatasi pembuluh darah perifer dan kedua akibat meningkatnya permeabilitas dinding kapiler sehingga selain resistensi pembuluh darah menurun. Sistem Sirkulasi Biasanya gangguan sirkulasi merupakan efek sekunder dari gangguan respirasi. sebaliknya obat-obat yang dapat meningkatkan cGMP (misalnya obat cholinergik) dapat memperburuk keadaan karena dapat merangsang terlepasnya mediator. Pada tahap selanjutnya mediatormediator ini menyebabkan pula rangkaian reaksi maupun sekresi mediator sekunder dari netrofil. Pada dasarnya makin cepat reaksi timbul makin berat keadaan penderita. Manifestasi Klinik Walaupun gambaran atau gejala klinik suatu reaksi anafilakis berbeda-beda gradasinya sesuai berat ringannya reaksi antigen-antibodi atau tingkat sensitivitas seseorang. Walaupun gejala ini tidak mematikan namun gejala ini amat penting untuk diperhatikan sebab ini mungkin merupakan gejala prodromal untuk timbulnya gejala yang lebih berat berupa gangguan nafas dan gangguan sirkulasi. Oleh karena itu setiap gangguan kulit berupa urtikaria.mediator primer dan sekunder menimbulkan berbagai perubahan patologis pada vaskuler dan hemostasis. atau pruritus harus . tapi bisa juga berdiri sendiri. tiap gangguan sirkulasi pada gilirannya menimbulkan gangguan respirasi. Hipotensi terjadi sebagai akibat dari dua faktor. Gangguan kulit Merupakan gejala klinik yang paling sering ditemukan pada reaksi anafilaktik. artinya terjadi gangguan sirkulasi tanpa didahului oleh gangguan respirasi. demikian pula sebaliknya.Gejala hipotensi ini dapat terjadi dengan drastis sehingga tanpa pertolongan yang cepat segera dapat berkembang menjadi gagal sirkulasi atau henti jantung. Gejala hipotensi merupakan gejala yang menonjol pada syok anafilaktik. hidung tersumbat atau batuk saja yang kemudian segera diikuti dengan udema laring dan bronkospasme. Umumnya gangguan respirasi berupa udema laring dan bronkospasme merupakan pembunuh utama pada syok anafilaktik. namun pada tingkat yang berat barupa syok anafilaktik gejala yang menonjol adalah gangguan sirkulasi dan gangguan respirasi.xanthine misalnya aminofilin (menghambat degradasi cAMP). Kedua gejala terakhir ini menyebabkan penderita nampak dispnue sampai hipoksia yang pada gilirannya menimbulkan gangguan sirkulasi. Sistem Pernafasan Gangguan respirasi dapat dimulai berupa bersin. Kedua gangguan tersebut dapat timbul bersamaan atau berurutan yang kronologisnya sangat bervariasi dari beberapa detik sampai beberapa jam. juga banyak cairan intravaskuler yang keluar keruang interstitiel (terjadi hipovolume relatif).eosinofil dan trombosit.

sehingga absorbsi obat tidak terjadi. sehingga penderita dengan cepat terhindar dari hipoksia yang merupakan pembunuh utama. Dosis ulangan umumnya diperlukan.mual. mengingat lama kerja adrenalin cukup singkat.muntah sampai diare merupakan manifestasi dari gangguan gastrointestinal yang juga dapat merupakan gejala prodromal untuk timbulnya gejala gangguan nafas dan sirkulasi. melalui peningkatan produksi cyclic AMP sehingga produksi dan pelepasan chemical mediator dapat berkurang atau berhenti. sebaiknya dihindari pada syok anafilaktik karena efeknya lambat bahkan mungkin tidak ada akibat vasokonstriksi pada kulit.diwaspadai untuk kemungkinan timbulnya gejala yang lebih berat. dapat diberi secara intravenous setelah 0.Mengembalikan fungsi organ dari perubahan patofisiologik akibat efek mediator. Pemberian subkutan. • Adrenalin merupakan histamin bloker. 2.1 – 0. Gangguan Gastrointestinal Perut kram. Terapi medikamentosa Prognosis suatu syok anafilaktik amat tergantung dari kecepatan diagnose dan pengelolaannya. diberikan perlahan-lahan. 1. Jika respon pemberian secara intramuskuler kurang efektif. Dosis dan cara pemberiannya. Penanganan syok anafilaktik I.Adrenalin merupakan drug of choice dari syok anafilaktik. 0. • Adrenalin merupakan vasokonstriktor pembuluh darah dan inotropik yang kuat sehingga tekanan darah dengan cepat naik kembali.5 ml adrenalin dari larutan 1 : 1000 diberikan secara intramuskuler yang dapat diulangi 5 – 10 menit.3 – 0.harus diantisipasi untuk dapat berkembang kearah yang lebih berat. Dengan kata lain setiap keluhan kecil yang timbul sesaat sesudah penyuntikan obat. Skema perubahan patofisiologi pada syok anafilaktik Pengelolaan Anafilaksis dan syok Anafilaksis Secara umum terapi anafilaksis bertujuan : 1.Aminofilin Dapat diberikan dengan sangat hati-hati apabila bronkospasme belum hilang dengan .2 ml adrenalin dilarutkan dalam spoit 10 ml dengan NaCl fisiologis. Mencegah efek mediator • • Menghambat sintesis dan pelepasan mediator Blokade reseptor 2. Hal ini disebabkan 3 faktor yaitu : • Adrenalin merupakan bronkodilator yang kuat .

Cairan plasma expander (Dextran) merupakan pilihan utama guna dapat mengisi volume intravaskuler secepatnya. Pemberian Oksigen Jika laring atau bronkospasme menyebabkan hipoksi. Kewaspadaan Tiap penyuntikan apapun bentuknya terutama obat-obat yang telah dilaporkan bersifat antigen . Mengingat kemungkinan terjadinya henti jantung pada suatu syok anafilaktik selalu ada. Kedua obat tersebut kurang manfaatnya pada tingkat syok anafilaktik. pemberian O2 3 – 5 ltr / menit harus dilakukan. Dapat diberikan setelah gejala klinik mulai membaik guna mencegah komplikasi selanjutnya berupa serum sickness atau prolonged effect. Merupakan pilihan kedua setelah adrenalin. Resusitasi Kardio Pulmoner (RKP) Seandainya terjadi henti jantung (cardiac arrest) maka prosedur resusitasi kardiopulmoner segera harus dilakukan sesuai dengan falsafah ABC dan seterusnya. Dapat dilanjutkan 250 mg lagi melalui drips infus bila dianggap perlu. Jika cairan tersebut tak tersedia. Terapi supportif Terapi atau tindakan supportif sama pentingnya dengan terapi medikamentosa dan sebaiknya dilakukan secara bersamaan. perangkat infus dan cairannya juga perangkat resusitasi(Resucitation kit ) untuk memudahkan tindakan secepatnya. Jika semua usaha-usaha diatas telah dilakukan tapi tekanan darah masih tetap rendah maka pemasangan infus sebaiknya dilakukan. Antihistamin yang biasa digunakan adalah difenhidramin HCl 5 – 20 mg IV dan untuk golongan kortikosteroid dapat digunakan deksametason 5 – 10 mg IV atau hidrocortison 100 – 250 mg IV. Pada keadaan yang amat ekstrim tindakan trakeostomi atau krikotiroidektomi perlu dipertimbangkan. 3. 4. 3. Antihistamin dan kortikosteroid.pemberian adrenalin. maka sewajarnya ditiap ruang praktek seorang dokter tersedia selain obat-obat emergency. Pemberian cairan infus sebaiknya dipertahankan sampai tekanan darah kembali optimal dan stabil. Ringer Laktat atau NaCl fisiologis dapat dipakai sebagai cairan pengganti. 2.Pemasangan infus. 1. Posisi Trendelenburg Posisi trendeleburg atau berbaring dengan kedua tungkai diangkat (diganjal dengan kursi ) akan membantu menaikan venous return sehingga tekanan darah ikut meningkat. Pencegahan 1. 250 mg aminofilin diberikan perlahan-lahan selama 10 menit intravena. sebab keduanya hanya mampu menetralkan chemical mediators yang lepas dan tidak menghentikan produksinya. II.

Pengetahuan.9% 1 liter guyur sampai tekanan darah sistole 100 Inj ephineprin 0.Penderita yang tergolong resiko tinggi (ada riwayat asma. nadi 120 x / menit. 4.v Pendidikan : Edukasi pada pasien dan keluarga bahwa syok anafilaktik adalah keadaan gawat darurat dan harus Follow up : . selain itu hasilnyapun dapat diandalkan. juga merupakan tindakan yang aman. penisillin. Pemberian antihistamin dan kortikosteroid . atau penyakit-penyakit alergi lainnya) harus lebih diwaspadai lagi. vital sign dan produksi urine TD 50/palp. Jangan mencoba menyuntikan obat yang sama bila sebelumnya pernah ada riwayat alergi betapapun kecilnya. lemah  Epinephrine 0. Early diagnosis dan early treatment secara lege-artis serta tersedianya obata-obatan beserta perangkat resusitasi lainnya merupakan modal utama guna mengelola syok anafilaktik yang mungkin tidak dapat dihindari dalam praktek dunia kedokteran. Plan : Diagnosis : Syok Anafilaktik Pengobatan : Pada pasien ini diberikan : • • • • • • • O2 binasal 5-10ℓ/i Tidurkan pasien dengan posisi Tredelenberg IVFD NaCl 0. 2.m  Ranitidine 1 amp i. anestesi lokal dll ) harus selalu waspada untuk timbulnya reaksi anfilaktik.v  Diphenhydramine 1 cc i.(serum. eksim. Test kulit Test kulit sebaiknya dilakukan secara rutin sebelum pemberian obat bagi penderita yang dicurigai. Sebaiknya mengganti dengan preparat lain yang lebih aman.3 ml i.3 ml im Inj ranitidin 1 x 1 amp iv Inj dexamethasone 1 x 1 amp iv Kontrol keadaan umum. Sebagai pencegahan sebelum penyuntikan obat. 3. rinitis. Tindakan ini tak dapat diandalakan dan bukannya tanpa resiko tapi minimal kita dapat terlindung dari sanksi hukum. Pada penderita dengan resiko amat tinggi dapat dicoba dengan stracth test dengan kewaspadaan dan persiapan yang prima. keterampilan dan peralatan.

serta berhati-hati dalam membeli obat bebas di apotek karena bisa berisiko mengakibatkan syok anafilaktik.mendapat pertolongan segera. Konsultasi : Konsultasi belum diperlukan Rujukan : - .