TUGAS METODELOGI PENELITIAN (MAKNA HIDUP PEKERJA SEX KOMERSIAL

)

OLEH : SYAMSUL ARIFIN 090910301066

ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS NEGERI JEMBER

2012

BAB I

PEDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam kehidupan sekarang ini keberadaan wanita tuna susila atau sering disebut PSK merupakan fenomena yang tidak asing lagi dalam kehidupan masyarakat Indonesia, akan tetapi keberadaan tersebut ternyata masih menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat. Pertanyaan apakah Pekerja Seks Komersial (PSK) termasuk kaum yang tersingkirkan atau kaum yang terhina, hal tersebut mungkin sampai sekarang belum ada jawaban yang dirasa dapat mengakomodasi konsep pekerja seks komersial itu sendiri. Hal ini sebagaian besar disebabkan karena mereka tidak dapat menanggung biaya hidup yang sekarang ini semuanya serba mahal. Prostitusi di sini bukanlah semata-mata merupakan gejala pelanggaran moral tetapi merupakan suatu kegiatan perdagangan. Kegiatan prostitusi ini berlangsung cukup lama, hal ini mungkin di sebabkan karena dalam prakteknya kegiatan tersebut berlangsung karena banyaknya permintaan dari konsumen terhadap jasa pelayanan kegiatan seksual tersebut oleh sebab itu semakin banyak pula tingkat penawaran yang di tawarkan. Di negara-negara lain istilah prostitusi dianggap mengandung pengertian yang negatif. Di Indonesia, para pelakunya diberi sebutan Pekerja Seks Komersial. Ini artinya bahwa para perempuan itu adalah orang yang tidak bermoral karena melakukan suatu pekerjaan yang bertentangan dengan nilai-nilai kesusilaan yang berlaku dalam masyarakat. Karena pandangan semacam ini, para pekerja seks mendapatkan cap buruk (stigma) sebagai orang yang kotor, hina, dan tidak bermartabat. Tetapi orang-orang yang mempekerjakan mereka dan mendapatkan keuntungan besar dari kegiatan ini tidak mendapatkan cap demikian. (6 Maret 2007 dari http://www.pikiran rakyat.com/)

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah diatas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah : Bagaimana makna hidup bagi seorang PSK pada rentang usia dewasa awal?

C. Tujuan Penelitian
Dengan rumusan masalah diatas, maka secara umum tujuan dari penelitian ini adalah : Mengetahui apa makna hidup bagi seorang Pekerja Seks Komersial pada rentang usia dewasa awal

D. Kegunaan penelitian

Dari hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberi manfaat, baik secara teoritis maupun praktis. 1. Manfaat teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan dan memperkaya teori mengenai Makna Hidup Pekerja Seks Komersial pada rentang usia dewasa awal. Dengan pengetahuan ini, diharapkan juga dapat meningkatkan segala hal yang berhubungan dengan Makna Pekerja Seks Komersial pada rentang usia dewasa awal. 2. Manfaat praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberika perubahan yang lebih dalam pada masyarakat mengenai masalah makna hidup yang terjadi pada seorang pekerja seks komersial. Perubahan ini selanjutnya diharapkan dapat mengubah sikap masyarakat yang semata-mata memandang rendah seorang pekerja seks komersial (PSK). Dengan demikian diharapkan dari masyarakat untuk memikirkan langkah apa yang dapat dilakukan untuk menanggulangi permasalaha prosstitusi yang terjadi selam ini.

BAB II

LATARBELAKANG

A. Pengertian Makna Hidup Makna hidup adalah hal-hal khusus yang dirasakan penting dan diyakini sebagai sesuatu yang benar serta layak dijadikan sebagai tujuan hidup yang harus diraih. Makna hidup ini bila berhasil dipenuhi akan menyebabkan kehidupan seseorang dirasakan penting dan berharga yang pada gilirannya akan menimbulkan penghayatan bahagia (Bastaman, 2000 : 73). Frankl mengartikan makna hidup sebagai kesadaran akan adanya satu kesempatan atau kemungkinan yang dilatarbelakangi oleh realitas atau menyadari apa yang bisa dilakukan pada situasi tertentu (Frankl, 2004 : 221) Adanya suatu dorongan fundamental yang dimiliki oleh manusia, yaitu kehendak untuk memaknai hidup. Pencarian manusia mengenai makna hidup merupakan kekuatan utama dalam hidup dan bukan merupakan suatu ”rasionalisasi sekunder” dari bentuk insting-insting. Makna tersebut bersifat unik dan spesifik yang hanya dapat diisikan oleh dirinya sendiri, karena hanya dengan caracara tersebut seseorang akan mendapatkan sesuatu yang penting yang akan memuaskan keinginan manusia untuk memaknai hidup (Frankl, 2003 : 110)

MAKNA HIDUP DAN LOGOTERAPI Logoterapi dengan konsep keinginan akan makna memiliki komitmen dengan fenomenologi Scheler, sekaligus dengan konsep kebebasannya menunjukan komitmen dan eksistensialisme. Sesuai dengan akar kata “Logos” yang dalam bahasa Yunani berarti “Meaning”(makna) dan juga “Spirituallity” (Keruhanian) maka Logoterapi adalah aliran psikologi atau psikiatri yang mengakui adanya demensi keruhanian disamping dimensi-dimensi ragawi kejiwaan dan lingkungan social budaya, serta beranggapan bahwa kehendak untuk hidup bermakna (the Will to the Meaning) merupakan dambaan utama manusia

untuk meraih kehidupan yang dihayati bermakna (The Meaningfull Life). Dengan jalan menemukan sumber-sumber makna hidup dan merealisasikannya (Bastaman, 1995 : 193 – 194) Tepatnya logoterapi memiliki tiga konsep yang menjadi landasan filosofinya yakni kebebasan berkeinginan, keinginan akan makna dan makna hidup (Koeswara, 1992 :46) : 1. Kebebasan Berkeinginan Dalam pandangan Frankl, kebebasan termasuk kebebasan berkeinginan adalah ciri yang unik dari keberadaan pengalaman manusia (Koeswara, 1987 : 37). Frankl mengakui kebebasan manusia sebagai mahluk yang terbatas, adalah sebagai kebebasan didalam batas-batas. Manusia tidaklah bebas dari kondisi – kondisi biologis, psikologis dan sosiologis akan tetapi manusia berkebebasan untuk mengambil sikap terhadap kondisi – kondisi tersebut (Koeswara, 1992 : 46)

2. Keinginan akan Makna Frankl (dalam Koeswara, 1987 : 38) mengawali gagasannya mengenai keinginan akan makna dengan mengkritik prinsip kesenangan dari Freud dan keinginan pada kekuasaan ( The Will to Power) dari Adler sebagai konsep yang terlalu menyederhanakan fenomena keberadaan dan tingkah laku manusia. Menurut Frankl, kesenangan dan kekuasaan bukanlah tujuan utama, melainkan efek yang dihasilkan oleh tingkah laku dalam rangka pemenuhan diri (Self – Fullfillment) yang bersumber pada atau diarahkan oleh keinginan kepada makna. Kesenangan adalah efek dari pemenuhan makna, sedangkan kekuasaan merupakan prasarat bagi pemenuhan makna menyebabkan arti yang kita cari memerlukan tanggung jawab pribadi tidak ada orang atau sesuatu yang lain, bukan orang tua, partner, atau bangsa dapat memberi kita pengertian tentang arti dan maksud dalam kehidupan kita. Tanggung jawab kitalah untuk menemukan cara kita sendiri dan tetap bertahan didalamnya segera setelah ditemukan (Scultz, 1991 : 151) Frankl menambahkan bahwa tegangan yang dialami manusia bukanlah semata-mata tegangan yang ditimbulkan oleh naluri – naluri melainkan tegangan antara keberadaan dan hakikat atau tegangan antara ada dan makna. Karena itukah orientasi atau keinginan yang utama yang tidak pernah padam pada manusia.

3. Makna Hidup

Makna hidup adalah hal – hal yang oleh seseorang dipandang penting, dirasakan berharga dan diyakini sebagai sesuatu yang benar serta dapat dijadikan tujuan hidupnya (Bastaman, 1995 : 1994) manusia bisa (berpeluang) menemukan makna hidup atau membuat hidupnya bermakna sampai nafasnya yang terakhir. Individu hanya bisa menemukan makna dari hidupnya dengan merealisasikan tiga nilai yang ada yaitu :

1. Nilai – nilai Daya Cipta atau Kreatif
Nilai- nilai kreatif dalam wujud kongkritnya muncul berupa pelaksanaan aktivitas kerja menurut Frankl (dalam Koeswara, 1992 : 63) setiap bentuk pekerjaan bisa mengantarkan individu kepada hidup (kehidupan diri dan sesama) yang didekati secara kreatif dan dijalankan sebagai tindakan komitmen pribadi yang berakar pada keberadaan totalnya. Nilai kreatif yang direalisasikan dalam bentuk aktivitas kerja menghasilkan sumbangan bagi masyarakat. Komunitas atau masyarakat pada gilirannya mengantarkan individu pada penemuan makna. 2. Nilai – nilai Pengalaman Menurut Bastaman (1995 : 195) hal ini meliputi meyakini dan menghayati kebenaran, kebajikan, keindahan, keadilan, keimanan dan nilai – nilai yang dianggap berharga.

3. Nilai – nilai Sikap Frankl menyebut nilai ke tiga ini sebagai nilai yang paling tinggi, dengan merealisasikan nilai bersikap ini berarti individu menunjukan keberanian dan kemuliaan menghadapi penderitaanya. Frankl menekankan bahwa penderitaannya itu memiliki makna pada dirinya ketika menderita karena sesuatu, individu bergerak kedalam menjauhi sesuatu itu. membentuk suatu jarak diantara kepribadiannya dan sesuatu itu. Penderitaan menurut Frankl memiliki makna ganda, membentuk karakter sekaligus membentuk kekuatan dan ketahanan diri. Menurut Frankl, esensi suatu nilai bersikap terletak pada cara yang dengannya seseorang secara ikhlas dan tawakal menyerahkan dirinya pada suatu keadaan yang tidak bisa dihindarinya. Frankl menyimpulkan bahwa hidup bisa dibuat bermakna melalui 3 jalan : a) Melalui apa yang kita berikan kepada hidup (kerja kreatif) b) Melalui apa yang kita ambil dari hidup (menemui keindahan, kebenaran dan cinta)

c) Melalui sikap yang kita berikan terhadap ketentuan atau nasib yang bisa kita ubah Sedangkan menurut Bastaman (1995 : 1996), mereka yang menghayati hidup bermakna menunjukan corak kehidupan yang penuh gairah dan optimisme dalam menjalani kehidupan sehari – hari. Tujuan hidup baik jangka pendek maupun jangka panjang jelas bagi mereka. Dengan demikian kegiatan – kegiatan mereka menjadi lebih terarah dan lebih mereka sadari, serta merasakan sendiri kemajuan – kemajuan yang telah dicapai. Makna hidup seperti yang dikonsepkan Frankl (dalam Bastaman 1995 : 194 – 195) memiliki beberapa karakteristik, diantarannya : 1) Makna hidup itu sifatnya unik dan personal, sehingga tidak dapat diberikan oleh siapapun melainkan harus ditemukan sendiri 2) Makna hidup itu spesifik dan kongkrit, hanya dapat ditemukan dalam pengalaman dan kehidupan nyata sehari – hari, serta tidak selalu harus dikaitkan dengan tujuan idealistis maupun renungan filosofis. 3) Makna hidup memberikan pedoman dan arah terhadap kegiatan – kegiatan yang dilakukan 4) Makna hidup diakui sebagai sesuatu yang bersifat mutlak, sempurna dan paripurna. MASA DEWASA AWAL Batasan Masa Dewasa Awal Pada penelitian menyebutkan bahwa salah satu tugas perkembangan pada masa dewasa awal (18 – 40 tahun) adalah mencari pasangan hidup (Havighurst dalam Monks, 2001: 290), yang selanjutnya akan diteruskan pada proses membentuk dan membina keluarga. Pada akhir usia 20 tahun pemilihan struktur hidup menjadi semakin penting. Pada usia natara 28-33 tahun pilihan struktur kehidupan ini menjadi lebih tetap dan stabil. Dalam fase kemantapan (33 – 40 tahun) orang dengan kematangannya mampu menemukan tempatnya dalam masyarakat dan berusaha untuk memajukan karier sebaik-baiknya. Pekerjaan dan kehidupan keluarga membentuk struktur peran yang memunculkan aspek-aspek kepribadian yang diperlukan dalam aspek tersebut (Levinson dalam Monks, 2001: 296 ). Lebih lengkapnya lagi mengenai batasan masa dewasa awal akan diuraikan pada bagian ini. Secara hukum seseorang dikatakan dewasa bila ia sudah menginjak usia 21 tahun (meski belum menikah) atau sudah menikah (meskipun belum berusia 21 tahun). Di Indonesia batas kedewasaan adalah 21 tahun juga. Hal ini berarti bahwa pada usia itu seseorang sudah dianggap

dewasa dan selanjutnya dianggap sudah mempunyai tanggung jawab terhadap perbuatanperbuatannya ( Monks, 2001: 291). Dikatakan oleh Hurlock (1990) bahwa seseorang dikatakan dewasa bila telah memiliki kekuatan tubuh secara maksimal, siap berproduksi, dan telah dapat diharapkan memiliki kesiapan kognitif, afektif, dan psikomotor, serta dapat diharapkan memainkan peranannya bersama dengan individu-individu lain dalam masyarakat.

Fakta – Fakta 1. PSK ingin hubungan intim dengan kliennya cepat berakhir. PSK ingin hubungan intim yang dilakukannya dengan klien cepat berakhir, atau bahkan mereka sangat menginginkan tak perlu adanya hubungan seksual diantara ia dan kliennya. Sebab, tiap kali melakukan itu, mereka mengaku malu dengan keadaan yang mereka jalani. 2. Mereka memiliki nama samaran yang kerap berganti serta no HP yang sulit dihubungi Untuk menutupi identitasnya, para PSK acap kali berganti-ganti nama, bahkan mereka bisa memiliki nama yang berbeda hingga 4 kali dalam satu malam. Selain itu, mereka memiliki nomer HP yang diberikan untuk klien mereka (mungkin maksudnya untuk langganan) namun no HP itu jarang diaktifkan karena takut ketahuan keluarga atau orang terdekat.

3. Ingin dapat suami dari kalangan baik-baik dan ingin segera bertobat Lazimnya wanita pada umumnya, PSK juga memiliki impian membangun keluarga yang dinahkodahi oleh lelaki baik-baik dan memiliki keluarga yang sakinah mawardah, dan warahmah. Selain itu, mereka juga sebenarnya siap kapan saja untuk bertobat dan keluar dari lokalisasi, asalkan kehidupannya sudah terjamin. Mereka juga mengaku tiap kali pulang kerumah atau kossan selalu bertekad untuk tobat dari dunia pelacuran, namun realitas hidup harus memaksa mereka menempuh jalan pintas.

4. PSK tak menikmati hubungan seksual, malah kadang menyakitkan. Karena yang menggunakan tubuh mereka dalam semalam bisa 2-4 orang, maka PSK mengaku melakukan hubungan intim dengan klien hanya sebatas tuntutan profesi saja, tak ada kenikmatan disana, sebab klien datang dengan berbagai tipe yang kebanyakan ingin melampiaskan dan cepat selesai, jarang yang memang memadu hubungan intim dengan dinamika seperti forplaymain course-orgasme-after play, kebanyakan dari mereka “main tancap” saja. Meskipun menyakitkan, PSK sudah siap dengan situasi itu. Selain itu, PSK juga mengaku kalau mereka kerap H2C (Harap-Harap Cemas) apakah sang klien puas dengan servis mereka atau apakah klien tersinggung dengan mereka yang mengakibatkan klien tsb tak menjadi langganan tetap atau membayar lebih jasa mereka. 5. Sering terenyuh saat teringat keluarga Saat menjalani profesinya itu, mereka kerap ingat dengan wajah ibunya, adik/kakaknya, serta ayahnya yang tentu saja kecewa berat apabila tau profesinya adalah sebagai pelacur. Mereka terkadang tak mampu menahan air mata ketika rasa kangen dan rasa bersalah itu semakin memuncak.

E. Hipotensis

Perlu diakui bahwa eksploitasi seksual, pelacuran dan perdagangan manusia semuanya adalah tindakan kekerasan terhadap perempuan dan karenanya merupakan pelanggaran martabat perempuan dan adalah pelanggaran berat hak asasi manusia. Jumlah Pekerja Seks Komersial (PSK) meningkat secara dramatis di seluruh dunia karena sejumlah alasan ekonomis, sosial dan kultural. Dalam kasus perempuan yang terlibat telah mengalami kekerasan patologis atau kejahatan seksual sejak masa anak. Lain-lainnya terjeremus ke dalam pelacuran untuk mendapat nafkah cukup untuk diri sendiri atau keluarganya. Beberapa mencari sosok ayah atau relasi cinta dengan seorang pria. Lain-lainnya mencoba melunasi utang yang

tak masuk akal. Beberapa meninggalkan keadaan kemiskinan di negeri asalnya, dalam kepercayaan bahwa pekerjaan yang ditawarkan akan mengubah hidup mereka.

BAB III

METODE PENELITIAN A. Tipe Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan tipe penelitian kualitatif. Dan sebelum membicarakan metode penelitian yang digunakan, sebaiknya diketahui dulu paradigma apa yang digunakan dalam penelitian ini. Paradigma mengacu pada set proposisi (pernyataan) yang menerangkan bagaimana dunia dan kehidupan dipersepsikan. Paradigma mengandung pandangan tentang dunia, cara pandang untuk menyederhanakan kompleksitas dunia nyata. Dalam konteks pelaksanaan penelitian, memberi gambaran mengenai apa yang penting, apa yang dianggap mungkin dan sah untuk dilakukan, apa yang dapat diterima akal sehat (Patton, 1990: dalam Poerwandari, 2001:10).

Pertimbangan dipilihnya paradigma ini adalah

a. Penelitian

kualitatif

dekat

dengan

asumsi-asumsi

paradigma

fenomenologis-interpretif

(Poerwandari, 2001:15) b. Pendekatan kualitatif mencoba menerjemahkan pandangan-pandangan dasar interpretif dan fenomenologis yang antara lain : 1. Realitas sosial adalah sesuatu yang subjektif dan diinterpretasikan, bukan sesuatu yang lepas diluar individu-individu 2. Manusia tidak secara sederhana disimpulkan mengikuti hukum-hukum alam diluar diri, melainkan menciptakan rangkaian makna menjalani hidupnya 3. Ilmu didasarkan pada pengetahuan sehari-hari, bersifat induktif, idiografis dan tidak bebas nilai

4. Penelitian bertujuan untuk memahami kehidupan sosial (Sarantakos, 1993 dalam Poerwandari, 2001:16). Paradigma menurut Kuhn (1970) merupakan sebuah orientasi dasar pada penelitian. Paradigma penelitian adalah keseluruhan sistem pemikiran yang termasuk asumsi-asumsi dasar, pertanyaanpertanyaan penting yang harus dijawab atau teka-teki yang harus diselesaikan, teknik penelitian yang digunakan dan contoh-contoh penelitian yang baik (Neuman, 2000: 65). Ada dua paradigma besar menurut Sarantakos yang mendasari perkembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu-ilmu sosial dan ilmu tentang manusia, yakni paradigma positivistik dan paradigma interpretif. Sarantakos masih menyebutkan lagi satu paradigma, yakni paradigma kritikal yang menyusul berkembang dan memberikan banyak masukan bagi ilmu pengetahuan (Poerwandari, 2001:11). Penelitian ini menggunakan paradigma interpretif-fenomenologis. Dimana dalam paradigma ini penelitian sosial tidak selalu dan tidak langsung memiliki nilai instrumental untuk sampai pada peramalan dan pengendalian fenomena sosial. Penelitian dilakukan untuk mengembangkan pemahaman. Penelitian membantu mengerti dan menginterpretasi apa yang ada dibalik peristiwa: latar belakang pemikiran manusia yang terlibat di dalamnya, serta bagaimana manusia meletakkan makna pada peristiwa yang terjadi. Pengembangan hukum umum tidak menjadi tujuan penelitian, upaya-upaya mengendalikan atau meramalkan juga tidak menjadi aspek penting (Poerwandari, 2001:12). Pertimbangan dipilihnya paradigma ini adalah, c. Penelitian kualitatif dekat dengan asumsi-asumsi paradigma fenomenologis-interpretif

(Poerwandari, 2001:15) d. Pendekatan kualitatif mencoba menerjemahkan pandangan-pandangan dasar interpretif dan fenomenologis yang antara lain : 5. Realitas sosial adalah sesuatu yang subjektif dan diinterpretasikan, bukan sesuatu yang lepas diluar individu-individu 6. Manusia tidak secara sederhana disimpulkan mengikuti hukum-hukum alam diluar diri, melainkan menciptakan rangkaian makna menjalani hidupnya 7. Ilmu didasarkan pada pengetahuan sehari-hari, bersifat induktif, idiografis dan tidak bebas nilai 8. Penelitian bertujuan untuk memahami kehidupan sosial (Sarantakos, 1993 dalam Poerwandari, 2001:16).

Paradigma interpretif memberikan implikasi bagi peneliti untuk menggunakan metode ilmiah yang mampu menangkap makna dari fenomena kehidupan manusia secara mendalam demi menggambarkan intisari permasalahan dengan lengkap. Pendekatan yang digunakan kemudian dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Karakteristik dari penelitian deskriptif adalah (Newman, 1994:22), 1. Memberikan detail dan gambaran yang akurat 2. Menempatkan data baru yang bisa jadi berlawanan dengan data lama 3. Menciptakan kategori dan tipe klasifikasi 4. Mengklarifikasi konsekuensi dari tahap atau langkah 5. Mendokumentasikan proses atau mekanisme sebab akibat 6. Melaporkan pada background atau konteks dari sebuah situasi

B. Fokus Penelitian Fokus penelitian ini adalah Makna Hidup yang terjadi dalam diri Pekerja Seks Komersial pada rentang usia dewasa awal. Penekanan selanjutnya Makna hidup adalah hal-hal khusus yang dirasakan penting dan diyakini sebagai sesuatu yang benar serta layak dijadikan sebagai tujuan hidup yang harus diraih, Makna hidup dapat diuraikan sebagai hal-hal apa saja yang diinginkan selama menjalani kehidupan, serta kendala apa yang dirasakan oleh Pekerja Seks Komersial pada rentang usia dewasa awal dalam mencapai makna hidup. Hal ini akan menjadi menarik karena Makna Hidup ini akan diteliti pada kaum mereka, dimana mereka diartikan sebagai seseorang yang memiliki identitas jelek dalam kehidupan lingkungan masyarakat. Dalam penelitian ini istilah PSK difokuskan pada individu yang berprofesi sebagai wanita penghibur dimana ditelusuri dari perjalanan untuk dapat menemukan apa yang mereka berikan dalam hidup, apa saja yang dapat diambil dari perjalanan mereka selama ini, serta sikap yang bagaimana yang diberikan terhadap ketentuan atau nasib yang bisa mereka ubah.

C. Metoda Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan alat pengumpul data berupa wawancara mendalam (depth interview) dan observasi dengan atau terhadap subjek penelitian yang terpilih. Keduanya dapat dirinci sebagai berikut:

Wawancara Wawancara adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Wawancara dilakukan untuk memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subjektif yang dipahami individu berkenaan dengan topik yang diteliti dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu-isu lain yang berkaitan dengan topik tersebut (Poerwandari, 1998: 73). Beberapa model wawancara menurut Patton (dalam Poerwandari, 1998:73), antara lain: a. Wawancara konvensional yang informal: Proses wawancara didasarkan sepenuhnya pada berkembangnya pertanyaan-pertanyaan secara spontan dalam interaksi alamiah. Tipe wawancara demikian umumnya dilakukan peneliti yang melakukan observasi partisipatif. Situasi demikian membuat orang-orang yang diajak bicara kemungkinan tidak menyadari bahwa ia sedang diwawancarai secara sistematis untuk menggali data. b. Wawancara dengan pedoman umum: Proses wawancara ini dilengkapi dengan pedoman wawancara yang sangat umum, yang mencantumkan isu-isu yang harus diliput tanpa menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin tanpa bentuk pertanyaan eksplisit. Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan peneliti mengenai aspek-aspek yang dibahas, sekaligus menjadi daftar pengecek apakah aspek-aspek relevan tersebut telah ditanyakan atau dibahas.

c. Wawancara dengan pedoman terstandar yang terbuka: Wawancara ini menggunakan pedoman yang ditulis secara rinci, lengkap dengan set pertanyaan dan penjabarannya dalam kalimat.

Penelitian ini menggunakan jenis wawancara dengan pedoman umum. Isu-isu yang bersifat umum ditetapkan untuk menjaga perkembangan pembicaraan dalam wawancara tetap dalam fokus penelitian. Selain itu, tema pertanyaan yang akan dijawab subjek adalah tema yang masih bisa berkembang dalam pelaksanaan wawancara nantinya. Setiap subjek bisa memiliki Makna Hidup yang bebeda-beda, sehingga pengembangan pertanyaan wawancara yang menyesuaikan dengan kehidupan subjek sangat diperlukan. Jadi, pedoman umum untuk pertanyaan awal wawancara akan dibuat sama, sedangkan perkembangan berikutnya akan menyesuaikan dengan kekhasan di lapangan pada masing-masing subjek.

Observasi

Observasi adalah metode pengumpulan data yang paling umum dilakukan oleh peneliti, utamanya yang meneliti tentang perilaku manusia. Observasi merupakan metode untuk menangkap fenomena subjek dari kacamata peneliti. Penggambaran setting yang diperlajari, aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, dengan cara melihat kejadian dari perspektif peneliti (Poerwandari, 2001:64). Observasi mempunyai peran penting dalam mengungkap realitas subjek. Intensitas hubungan subjek dengan bagaimana subjek berperilaku ketika bersosialisasi dengan orang lain ataupun dengan peneliti ketika wawancara maupun di luar wawancara merupakan pembanding yang baik dengan hasil wawancara dalam mengidentifikasi dinamika yang terjadi dalam diri subjek. Berbagai pertimbangan tersebut menjadikan pilihan observasi yang dilakukan adalah jenis observasi yang terbuka, dimana diperlukan komunikasi yang baik dengan lingkungan sosial yang diteliti, sehingga mereka dengan sukarela dapat menerima kehadiran peneliti atau pengamat. Selain itu, observasi yang dilakukan juga merupakan observasi yang tidak terstruktur, dimana peneliti tidak mengetahui dengan pasti aspek-aspek apa yang ingin diamati dari subjek penelitian. Konsekuensinya, peneliti harus mengamati seluruh hal yang terkait dengan permasalahan penelitian dan hal tersebut dianggap penting. Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi perilaku subyek secara umum sebelum dilakukannya wawancara, perilaku subyek ketika sedang melakukan proses wawancara dan observasi ketika subyek telah melakukan wawancara. Observasi juga tidak tertuju pada tempat ataupun lokasi wawancara, peneliti berusaha untuk melakukan wawancara di tempat tinggal subyek agar peneliti dapat memperoleh bayangan ataupun abstraksi maupun gambaran kehidupan yang dijalani oleh subyek. F. Kesimpulan Walaupun fakta itu berbeda antara subyek satu dengan subyek lainnya akan tetapi dapat kita tarik benang merahnya bahwa semua subyek berharap agar kelak dapat keluar atau berhenti dari profesi yang dijalani sekarang ini dan menjalani hidup yang lebih baik. 1. Keinginan yang dirasakan paling besar adalah perubahan kehidupan yang lebih baik dari kehidupan yang sekarang ini di jalani dan berusaha untuk mendapatkan pasangan hidup yang benar-benar setia kepada mereka.

2. Kendala-kendala yang dihadapi yaitu belum adanya penerimaan positif dari masyarakat terhadap keberadaan mereka sebagai seorang PSK, modal belum cukup untuk membuka usaha yang lain, dan belum menemukan pasangan hidup yang diharapkan dapat membawa perubahan dalam hidup mereka sehingga menjadi lebih baik. G. Daftar Pustaka

-

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0107/05/jateng/sema21.htm http://kabarnesia.com/1854/fakta-menyakitkan-psk/ Bungin, B (2001) Metodelogi Penelitian Surabaya : Airlangga University Press Koentjoro, Ph.D., (2004) Tutur Dari Sarang Pelacur, Yogyakarta : Tinta Corey. G (1999) Teori dan Praktek : Konseling dan Psikoterapi. Bandung : Refika Aditama

-

Setiyono, F., A., (2004) Kebermaknaan Hidup Para Meditator. Skripsi, Surabaya : Fakultas Psikologi airlangga

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful