You are on page 1of 5

Sekilas tentang Pendidikan dan Pembelajaran

Oleh: Eka Lusiandani Koncara

Pendidikan
Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian
khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian
pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk
mengajar kebudayaan melewati generasi.
Dalam Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan,
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”
Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional
Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.

Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan nasional sebagaimana diamanatkan oleh Pembukaan UUD 1945 adalah
mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia
beriman, bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan
dan keterampilan, serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Dalam UU RI No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa
pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu
kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional,
dengan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya,
yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur,
memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap
dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Dalam UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Urutan tujuan pendidikan diawali dari Tujuan Pendidikan Nasional, kemudian Tujuan
Institusional, Tujuan Kurikuler sampai pada Tujuan Instruksional.
Sistem persekolahan di negara kita adalah berjenjang yang melembaga pada suatu tingkatan.
Untuk itu maka pada tiap lembaga hendaknya juga digariskan adanya suatu tujuan pendidikan yang
kita sebut tujuan institusional.
Suatu lembaga pendidikan dalam melaksanakan kegiatan pendidikan akan memberikan
sejumlah isi pengajaran yang disusun sedemikian rupa sehingga merupakan sejumlah pengalaman
belajar yang menunjang tercapainya tujuan pendidikan, inilah yang disebut dengan tujuan kurikuler.
Tujuan instruksional merupakan penjabaran yang terakhir dari tujuan-tujuan yang terdahulu
dan lebih atas. Tujuan ini diharapkan dapat tercapai pada saat terjadinya proses belajar mengajar
secara langsung yang terjadi pada setiap hari. Dalam pelaksanaannya tujuan ini harus dirumuskan
pada saat penyusunan atuan pelajaran.

Standar Pendidikan
Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga
kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus
ditingkatkan secara berencana dan berkala. Standar nasional pendidikan digunakan sebagai acuan
pengembangan kurikulum, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, dan
pembiayaan.
Pengembangan standar nasional pendidikan serta pemantauan dan pelaporan pencapaiannya
secara nasional dilaksanakan oleh suatu badan standardisasi, penjaminan, dan pengendalian mutu
pendidikan.

Belajar dan Pembelajaran


Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai
hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara
stimulus dan respon. Learning is usually defined as any modification of behavior resulting from an
individual’s previous experience. (Freeman, 1982:182)
Sedangkan pembelajaran merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan
pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan
tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran
adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Pembelajaran adalah
suatu proses yang akan membuat seseorang menjadi lebih baik atau lebih meningkat sesuatunya dari
sebelumnya. (Bahaudin, 2007:116)

Kurikulum
Istilah kurikulum semula berasal dari istilah yang dipergunakan dalam dunia taktik curere yang
berarti ‘berlari'. Istilah tersebut erat hubungannya dengan kata curier atau kurir yang berarti
penghubung atau seseorang yang bertugas menyampaikan sesuatu kepada orang atau tempat lain.
Seseorang kurir harus menempuh suatu perjalanan untuk mencapai tujuan, maka istilah kurikulum
kemudian diartikan sebagai orang sebagai suatu jarak yang harus ditempuh (S. Nasution, 1980 : 5).
Kurikulum kemudian diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran atau ilmu pengetalman yang
ditempult atau dikuasai untuk mencapai suatu tingkat tertentu atau ijazah. Disamping itu, kurikulum
juga diartikan sebagai suatu rencana yang disengaja dirancang untuk mencapai sejumlah tujuan
pendidikan. Itulah sebabnya orang pada waktu lalu juga menyebut kurikulum dengan istilah "Rencana
Pelajaran" yang merupakan terjemahan istilah Leerplan. Rencana pelajaran merupakan salah satu
komponen dalam asas-asas didaktik yang harus dikuasai (atau paling tidak diketahui) oleh seorang
guru atau calon guru.
Kurikulum merupakan suatu yang dijadikan pedoman dalam segala kegiatan pendidikan yang
dilakukan, termasuk kegiatan belajar mengajar di kelas. Dalam hal ini kita dapat memandang bahwa
kurikulum merupakan suatu program yang didesain, direncanakan, dikembangkan dan akan
dilaksanakan dalam situasi belajar mengajar yang sengaja diciptakan di sekolah. Atas dasar hal
tersebut, kurikulum kemudian dapat didefenisikan sebagai suatu program pendidikan yang
direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan tertentu (Winamo
Surahmad, 1977 : 5).
Media Pembelajaran
Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa
pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara itu, Briggs (1977)
berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi
pembelajaran. Sedangkan, National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media
pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk
teknologi perangkat keras.
Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu
yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik
sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.
Jerold Kemp (1986) dalam Pribadi (2004:1.4) mengemukakan beberapa faktor yang
merupakan karakteristik dari media, antara lain :
1. Kemampuan dalam menyajikan gambar (presentation)
2. Faktor ukuran (size); besar atau kecil
3. Faktor warna (color): hitam putih atau berwarna
4. Faktor gerak: diam atau bergerak
5. Faktor bahasa: tertulis atau lisan
6. Faktor keterkaitan antara gambar dan suara: gambar saja, suara saja, atau gabungan
antara gambar dan suara.
Selain itu, Jerold Kemp dan Diane K. Dayton dalam Pribadi (2004:1.5) mengemukakan
klasifikasi jenis media sebagai berikut :
1. Media cetak
2. Media yang dipamerkan (displayed media)
3. Overhead transparancy
4. Rekaman suara
5. Slide suara dan film strip
6. Presentasi multi gambar
7. Video dan film
8. Pembelajaran berbasis komputer (computer based learning)
Terdapat berbagai jenis media belajar, diantaranya:
1. Media Visual: grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik
2. Media Audial: radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya
3. Projected still media: slide, projector, dan sejenisnya
4. Projected motion media: film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya.

Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk
mencapai tujuan pembelajaran.
Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan
strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5)
laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, (10) curah
pendapat, (11) penugasan, (12) bermain peran, (13) study kasus, (14) inquiry, dan sebagainya.

Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan segala perilaku yang dimiliki seseorang sebagai akibat proses belajar
yang telah ditempuhnya. William Burton (2005) menyatakan bahwa hasil belajar adalah pola-pola
perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, abilitas, dan kemampuan yang
dicapai oleh pembelajar/peserta didik.
Hasil belajar bukan sekedar penguasaan suatu hasil latihan melainkan adanya perubahan
perilaku tahap-demi tahap, baik dalam ranah kognitif, afektif, ataupun psikomotor, yang lambat laun
terintegrasi menjadi suatu kepribadian. Seseorang yang telah melakukan proses belajar akan terlihat
perubahan dalam salah satu atau beberapa ranah tingkah laku tersebut.

Evaluasi
Evaluasi pendidikan dan pengajaran adalah proses kegiatan untuk mendapatkan informasi
data mengenai hasil belajar mengajar yang dialami siswa dan mengolah atau menafsirkannya menjadi
nilai berupa data kualitatif atau kuantitatif sesuai dengan standar tertentu. Hasilnya diperlukan untuk
membuat berbagai putusan dalam bidang pendidikan dan pengajaran.
Evaluasi antara lain mengunakan tes atau non tes untuk melakukan pengukuran hasil belajar.
Tes dapat didefinisikan sebagai seperangkat pertanyaan dan/atau tugas yang direncanakan
untuk memperoleh informasi tentang trait, atribut pendidikan, psikologik atau hasil belajar yang
setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap
benar.
Non tes adalah penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan dengan tanpa
menguji peserta didik, melainkan dengan cara:
1. Skala bertingkat, yaitu tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan anak didik
berdasarkan tingkat tinggi rendahnya penguasaan dan penghayatan pembelajaran yang
telah diberikan.
2. Daftar cocok, yaitu suatu tes yang berbentuk daftar pertanyaan yang akan dijawab dengan
membubuhkan tad cocok (x) pada kolom yang telah disediakan.
3. Wawancara, yaitu semua proses tanya jawab lisan, dimana dua orang atau lebih berhadap-
hadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka yang lain, mendengar dengan
telinganya sendiri suaranya.
4. Daftar angket, yaitu bentuk tes yang berupa daftar pertanyaan yang diajukan pada
responden, baik berupa keadaan diri, pengalaman, pengetahuan, sikap dan pendapatnya
tentang sesuatu.
5. Pengamatan, yaitu teknik evaluasi yang dilakukan dengan cara meneliti secara cermat dan
sistematis dengan menggunakan alat indra terhadap aspek-aspek tingkah laku siswa
disekolah.
6. Riwayat hidup, yaitu salah satu tehnik non tes dengan menggunakan data pribadi
seseorang sebagai bahan informasi penelitian.
Secara klasik tujuan evaluasi hasil belajar adalah untuk membedakan kegagalan dan
keberhasilan seorang peserta didik. Namun dalam perkembangannya evaluasi dimaksudkan untuk
memberikan umpan balik kepada peserta didik maupun kepada pembelajar sebagai pertimbangan
untuk melakukan perbaikan serta jaminan terhadap pengguna lulusan sebagai tanggung jawab
institusi yang telah meluluskan.
Ada dua jenis evaluasi pembelajaran yang dikenal, yaitu :
1. Evaluasi harian (ulangan harian). Dilaksanakan setiap selesai masa satu periode
pembelajaran. Untuk materi yang bersifat pemikiran atau pengetahuan umum, evaluasi
dilakukan secara lisan. Untuk materi yang membutuhkan keahlian, evaluasi dilakukan
dengan praktek secara langsung.
2. Evaluasi umum (Ujian umum). Ujian umum diselenggarakan 2 kali dalam setahun. Ujian
diselenggarakan secara terpisah untuk setiap jurusan di ke 3 jenjang.
Guru dan Dosen sebagai Ujung Tombak Pendidikan
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan,
mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan,
penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki,
dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Kompetensi
yang harus dimiliki guru dan dosen meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian,
kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.
Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi
sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang
memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.
Profesi guru dan profesi dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan
berdasarkan prinsip sebagai berikut:
1. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme;
2. Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan
akhlak mulia;
3. Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas;
4. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas;
5. Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan;
6. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja;
7. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan
dengan belajar sepanjang hayat;
8. Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan; dan
9. Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan
dengan tugas keprofesionalan guru.
Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen. Sertifikat
pendidik merupakan bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai
tenaga profesional.

Referensi
- Badan Nasional Standar Pendidikan. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: BNSP
- Departemen Pendidikan Nasional. 2000. Penilaian dan Pengujian Untuk Guru.
- Hamalik, Oemar. 2005. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara
- Hidayat, Kosadi, dkk. 1996. Evalusi Pendidikan dan Penerapannya dalam Pengajaran Bahasa
Indonesia. Alfabeta
- http://media.diknas.go.id/media/document/3553.pdf
- http://www.evaluasipendidikan.blogspot.com
- Nana Sudjana, Ibrahim. 2007. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Sinar Baru Algesindo.
- Sakni, Ridwan. Pengembangan Sistem Evaluasi. P3RF. IAIN Raden Fatah Palembang.
- Soedijarto. 1997. Menuju Pendidikan yang Relevan dan Bermutu. Jakarta: Balai Pustaka
- Sudrajat, Akhmad. 2008. Media Pembelajaran. http://akhmadsudrajat/ wordpress.com/
- Sudrajat, Akhmad. 2008. Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model
Pembelajaran. http://www.psb-psma.org/
- Tim PEKERTI-AA. 2007. Panduan Evaluasi Pembelajaran. PPSP LPP Universitas Sebelas Maret.
- Toyib, Farida Yusuf. 2000. Evaluasi Program. Rineka Cipta.
- UU Republik Indonesia No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional
- UU Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
- UU Republik Indonesia No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen