ATAS NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH YANG MAHA PENYAYANG

firmnNya yang maha tinggi: “istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka
datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai. Dan
utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan
ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Na. Dan sampaikanlah
kabar gembira kepada orang yang beriman.”
Mengenainya ada enam permasalahan:
1. firmnNya yang maha tinggi: “istri-istrimu adalah ladang
bagimu...”para imam meriwayatkan – sedang lafadz menurut
muslim – dari Jabir bin Abdullah ia berkata: orang yahudi pernah
mengatakan: jika seseorang mensetubuhi istrinya dari dubur
kedalam kubulnya maka anaknya akan julin (ahwal), lalu ayat “istri-
istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan
saja dengan cara yang kamu sukai” turun. Dalam satu riwayat dari
al Zuhriy menambahkan: jika ia mau telungkup (mujabbiyah) atau
jika mau tidak telungkup, hanya saja bahwa itu pada tempat yang
satu. Diriwayatkan fisimamin wahidin dengan huruf siin, itu
dikatakan al Turmudziy.
i

Al Bukhariy
ii
meriwayatkan dari Nafi‟ ia mengatakan: Ibn Umar
jikaia membaca al Qur‟an ia tidak berkata-kata hingga ia selesai
darinya, lalu pada suatu hari saya menyimaknya
iii
, lalu ia membaca
surat Al Baqarah hingga berhenti pada suatu tempat Ia berkata:
apakah kamu tahu mengenai apa ia turun? Saya jawab: tidak, ia
berkata: ia turun mengenai ini dan ini, lalu ia berlalu”.
Dan dari abdushshamad ia mengatakan: bapak membacakan hadis
padaku ia bersabda: membacakan hadis padaku Ayub, dari nafi‟
dari Ibn Umar: “maka datangilah ladangmu sesuka kakimu” ia
mengatakan: mendatanginya pada ... al Humaidi mengatan yaitu
vagina.
Abu daud meriwayatkan dari ibn Abbas ia mengatakan: “bahwa ibn
Umar – semoga Allah mengampuninya – ragu, kehidupan cara
begini adalah dari golongan anshar, mereka itulah para penyembah
berhala, disamping cara hidup ini dari yahudi, dan mereka itulah
ahli kitab. Mereka beranggapan mereka memiliki kelebihan atas
mereka dalam hal ilmu, maka mereka itu dijadikan anutan pada
mayoritas perbuatan mereka, dan diantara permasalahan ahli kitab
adala mereka hanya mensetubuhi istrinya dengan cara berbaring,
dan itu hal yang sangat intim pada perempuan, dan kehidupan ini
dari orang anshor yang mereka ambil hal itu dari perbuatan
mereka, dan kehidupan ini dari bangsa Quraisy yang nyatakan para
istri sebagai yang munkar (tidak taat); mereka menikmati para istri
baik menghadap, membelakangi maupun terlentang, lalu saat
orang-orang muhajirin tiba di madinah serta yang pria dari
kalangan mereka menikahi sebagian wanita anshor, lalu ia
melakukan begitu kepada mere, maka si wanita mengingkarinya,
sambil berkata: kami hanya disetubuhi dengan cara berbaring,
lakukanlah begitu, jika tidak jauhilah aku, hingga urusan keduanya
menyebar (syariya)? Lalu hal itu sampai pada Nabi saw., maka
Allah azza wa jalla menurunkan: “maka datangilah ladangmu itu
kapan saja dengan cara yang kamu sukai” yaitu sambil menghadap,
membelakangi dan terlentang, yakni pada tempat keluar anak itu.
Al Turmudziy meriwayatkan dari Ibn Abbas ia berkata: Umar datang
kepada Rasulullah saw. Lalu ia berkata: “wahai rasulullah, celaka
aku! Beliau bertanya: “apa yang membuatmu celaka?” ia
menjawab: saya merubah tidurku pada malam ini, ia mengatakan:
rasulullah saw. Tak menjawab apapun padanya; ia mengataka: lalu
diwahyukan pada rasulullah saw. Ayat ini: “istri-istrimu adalah
ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan
cara yang kamu sukai” “hadapilah, belakangilah tapi hati hati pada
dubur dan waktu haid”. Ia mengatakan ini hadis hasan sahih.
An Nasaiy meriwayatkan dari Abi Nadlar bahwa ia berkata pada
Nafi‟ maula ibn Umar: terkadang saya banyak mengatakan padamu
bahwa kamu berkata dari ibn Umar: bahwa ia memberikan fatwa
untuk mensetubuhi istri-istri dari dubur mereka. Nafi‟ menjawab:
“mereka berdusta atasku! Tapi saya akan beritakan padamu
bagaimana masalah sebenarnya: bahwa Ibn Umar pada
menyerahkan mushaf pada Ali dan saya ada dipinggirnya hingga
sampai :”istri-istrimu adalah ladang bagimu”; ia berkata: “Nafi;
tahukah kamu apa masalah ayat ini? Sungguhnya kami bangsa
Quraisy mensetubuhi istri seperti yang sujud, lalu saat kami masuk
madinah dan kami menikahi istri anshar, kami menemukan dari
mereka seperti yang kami inginkan dari istri-istri kami; lalu jika
mereka tak menyukainya dan mereka merasa angkuh, dan
perempuan anshar itu hanya disetubuhi dengan cara berbaring,
maka Allah menurunkan : “istri-istrimu adalah ladang bagimu,
maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu
sukai”
2. ayat ini teks mengenai pembolehan seluruh kondisi dan gaya jika
menyetubuhi pada tempat tumbuh; yaitu: sesukamu, baik dari
belakang, dari depan, duduk, terlentang dan berbaring; sedangkan
persetubuhan pada selain tempat keluar (anak) maka itu tidak
boleh. Penyebutan tempat tumbuh (hartsun) menunjukan pada
bahwa persetubuhan selain tempat keluar anak itu haram.
Kata “hartsun” adalah tasybih; karena mereka itu tempat
ditanamnya keturunan, maka kata “hartsun” memberikan bahwa
pembolehan itu tidak ada kecuali pada vagina (farji) saja karena
itulah tempat menanam. Tsa‟lab bersenandung:
“bagi kita rahim itu laksana yang ditanami”
“tanggung jawab kita menanam padanya dan tanggung jawa Allah
menumbuhkannya”
Maka vagina istri laksana bumi, air mani laksana benih, dan anak
laksana tumbuhan, maka kata „hartsun‟ (tanaman) dengan makna
„muhtaratsun‟ (tempat menanam). Kata hartsu ditunggalkan karena
masdar (gerund), seperti yang dikatan: rajulun shaumun, qaumun
shaumun.
3. firmanNya yang maha tinggi: “sesukamu” maknanya menurut
mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabiin dan para imam
fatwa: dari arah manapun, depan dan belakang, sepert yang kami
sampaikan barusan. Kata “Annaa” terkadang ada sebagai
pertanyaan dan berita dari urusan yang memiliki beberapa arah
maka secara kebahasaan itu lebih umum dari “kaifa”, “aina”, dan
“mataa”. Ini merupakan penggunaan bangsa arab pada kata
“annaa”. Orang-orang mentafsirkan “annaa” dalam ayat ini dengan
kata-kata ini. Itu ditafsirkan oleh Syibawaih dengan “kaifa” dan
“dari mana”, secara berbarengan.sekelempok yang mentafsirkan
dengan “aina” berpandangan bahwa mensetubuhi pada dubur itu
boleh. Dan diantara yang dinisbatkan pada pendapat ini: Sa‟ad ibn
al Musayab, Nafi‟, Ibn Umar, Muhamad ibn Ka‟b al Quradziy,
Abdulmalik ibn al Majisyun, itu dihikayatkan dari imam Malik dalam
kitabnya yang dinamai “kitabussirr”. Penganut imam malik yang
cemerlang dan guru-guru besarnya mengingkari kitab itu, dan
Imam Malik lebih agung dari pada kitab sirr miliknya itu, pendapat
ini ada dalam kitab utbiyyah.
Ibnu Arabiy menuturkan bahwa ibn Sya‟ban menyandarkan
pendapat ini pada sekelompok besar dari sahabat dan tabi‟in, dan
pada imam Malik dari riwayat yang sangat banyak dalam kitab
“Jima‟ul Niswan wa Ahkamil Qur‟an”.
Al Kiya al Thabariy meriwayatkan: diriwayatkan dari muhamad ibn
Ka‟b al Quradziy bahwa dia tidak menganggap hal itu berbahaya; ia
menta‟wilkan mengenai itu firman Allah azza wa jalla:
4pO¬>··>Ò¡ 4p-4O^e~.- =}g`
4×-g©ÞUE¬^¯- ^¯g)÷ 4pÒ+OEO·>4Ò 4`
4-ÞUE· ¯7¯·¯ ª7¯¬4O ;}g)` ª7¯´_4Ò^eÒ¡ _
¯4 ¯ª+^Ò¡ N¯¯O·~ ¬]Ò÷1~4× ^¯gg÷
165. Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia,
166. Dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu
untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui
batas".
Dan ia mengatakan perkiraannya: kamu meninggalkan seperti itu
dari istri-istri kalian, sekiranya seperti itu dari istri-istri tidak
dibolehkan maka itu tak benar, dan yang dibolehkan dari tempat
lain tidak semisal dengannya, sehingga dikatakan kamu melakukan
hal itu dan meninggalkan semacamnya dari yang dibolehkan.
Al Kiya mengatakan: ini mengenainya ada penganalisaan, karena
maknanya: kalian meninggalkan istri-istri yang dicipatakan tuhan
kalian untuk kalian yaitu peredam syahwat kalian yang ada pada
mereka; dan kelezatan bersetubuh yang terperoleh dengan
keduanya secara serempak, maka pencercaaan pada makna ini
boleh. Dan dalam firmanNya yang maha tinggi: “maka jika mereka
suci, datangilah mereka dari arah yang diperintahkan Allah pada
kalian” serta firmanNya: datangilah ladang kalian” yang
menunjukan bahwa hanya pada tempat keluar, dan itu dikhususkan
pada tempat melahirkan.
Saya katakan: Inilah yang benar dalam masalah ini. Abu Umar ibn
Abulbarr menuturkan bahwa ulama tak berselisih mengenai rotak
(ratqau) yang yang tidak menyampaikan pada mensetubuhinya itu
aib yang ditolak, kecuali sesuatu yang datang dari Umar ibn Abdul
Aziz dari segi yang tidak kuat bahwa dia tidak menolak ratqa dan
juga yang lainnya, sedangkan para fakar fiqh semuanya
bersebrangan dengan hal itu; karena yang diraba itu yang
dimaksud dengan nikah, dan dalam kesepakatan mereka atas ini
ada dalil bahwa dubur bukan tempat persetubuhan, sekiranya itu
tempat untuk persetubuhan tak akan ditolak yang tidak
menyampaikan pada persetubuhan bersamanya (istri) pada vagina.
Dan dalam kesepakatan mereka juga bahwa bagi yang mandul yang
tak melahirkan anak tak ditolak. Yang sahih mengenai masalah ini
yang telah kami jelaskan.
Dan hal yang dihubungkan kepada Malik dan pengikutnya dari
masalah ini adala batil dan mereka terbebas dari itu semua; karena
pemboleh persetubuhan khusus pada tempat tananm; berdasarkan
firmanNya yang maha tinggi: “datangilah ladang kalian”, karena
hikmah dalam penciptaan pasangan adalah memperbanyak
keturunan, maka selain tempat lahir tak diperoleh kepemilikan
nikah, inilah yang benar.
Penganut Abu Hanifah mengatakan: bahwasannya menurut kami
semburit laki-laki sama dalam hukum, karena kotoran dan sakit
dalam lubang belakang itu lebih banyak dari pada darah haid, maka
itu lebih keji. Sedangkan lubang kencing itu bukan lubang rahim.
Ibn Arabi dalam Kitab Qobasnya mengatakan: “guru besar Imam
fakhrul islam Abu Bakar Muhamad ibn Ahmad ibn al Hasan pakar
fikih saat itu dan imamnya mengatakan pada kita: „Vagina itu
menyerupai sesuatu dengan 35; sambil ia mengeluarkan tangannya
mengakadkannya („aqidan biha). Dan ia mengatakan: tempat
kencing itu dibawah yang tiga puluh, sedangkan tempat penis dan
haid yang tercakup oleh yang lima.
Allah mengharamkan vagina saat menstruasi karena najis yang
muncul, maka lebih layak dubur haram sebab najis yang senantiasa
ada.
Malik mengatakan pada Ibn Wahb dan Ali ibn Ziyad; saat ia
memberitahukannya bahwa orang-orang di Mesir menggosipkannya
bahwa ia membolehkan hal itu, maka ia lari dari hal tersebut dan
segera mendustakan si pengutip; ia mengatakan: “mereka telah
berdusta atas namaku, mereka berdusta atasku, mereka berdusta
atasku! Kemudian ia berkata: bukankah kalian bangsa Arab?
Bukankan Allah berfirman: “istri-istri kalian adalah ladang untuk
kalian”? apakah ada tanaman kecuali dalam tempat tumbuh?!.
Yang dijadikan dalil oleh yang menentang yaitu bahwa firmanNya
azza wa jalla: مخئش ً
ّ
وأ Mencakup pada beberapa tempat dengan
hukum keumumanny, itu tidak bisa dijadikan hujjah, karena itu
dikhususkan dengan yang telah kami sebutkan, dan dengan
beberapa hadis sahih, hasan serta yang populer yang diriwayatkan
dari Rasulullah saw. Oleh dua belas sahabat dengan beberapa
matan yang berbeda, semuanya menyatakan haramnya
mensetubuhi perempuan pada duburnya; dituturkan oleh ahmad
ibn Hanbal dalam musnadnya, abu daud, an Nasai, al Tirmidziy dan
yang lainnya. Dan itu telah dikumpulkan oleh Abu al Faraj ibn al
Juziy dengan beberap jalurnya dalalm satu juz yang ia namakan
“tahrimul mahalil makruh”. Dan karya guru kita Abul abbas juga
dalam satu juz mengenai itu yang ia namakan “idzharul idbari man
ajazal watha fil adbar”.
Saya katakan inilah yang benar yang diikuti dan yang sahih dalam
masalah ini, tak semestinya bagi yang iman pada Allah dan hari
akhir untuk menempuh yang meleset ini berdasarkan kekeliruan
seorang yang alim setelah sahih darinya. Dan kita telah
diperingatkan mengenai kekeliruan orang berilmu. Yang
bersebrangan dengan hal ini dan pengkafiran yang melakukannya
telah diriwayatkan dari Ibn Uma; inilah yang laik baginya ra. Begitu
juga Nafi menganggap dusta orang yang memeberitakan hal itu
darinya; seperti yang dituturkan oleh an Nasai; dan itu telah
dikemukakan. Dan itu diingkari oleh imam Malik dan dianggap dosa
besar, dan menganggap berdusta orang yang menghubungkan hal
itu kepadanya.
Ad Darimiy Abu Muhamad dalam musnadnya meriwayatkan dari
said ibn Yasar Abil Hubab ia mengatakan : „saya bertanya kepada
Ibn Umar: apa yang anda katakan mengenai istri-istri manakala
saya melakukan tahmidl kepada mereka?‟ ia bertanya : „apa itu
tahmidl‟? saya katakan padanya „dubur‟; lalu ia menjawab: „apakah
itu pernah dilakukan oleh seorangpun dari kalangan muslim!
Saya mengisnadkan dari Khuzaimah ibn Tsabit: saya mendengar
rasulullah saw. Bersabda: “wahai manusia, sesungguhnya Allah tak
akan malu mengenai kebenaran, jangan kalian setubuhi perempuan
dari dubur mereka”. Beliau bersabda: “siapa yang mensetubuhi istri
pada duburnya, Allah tak memandangnya pada hari kiamat”
Abu Daud At Thayalisiy dalam musnadnya meriwayatkan dari
Qatadah, dari Amr ibn Syu‟aib, dari bapaknya dari Abdullah ibn
Amr, dari Nabi saw. Beliau bersabda: “itu adalah sodomi kecil” yaitu
mensetubuhi perempuan dari duburnya.
Diriwayatkan dari Thawus bahwa ia berkata: “permulaan perbuatan
kaum Lut itu mensetubuhi perempuan pada dubur mereka”. Ibn
Mundzir mengatakan: “Jika sesuatu tetap dari rasul saw. Maka yang
selainnya tak dibutuhkan”
4. firmanNYa: مكسفول اىمدلو yaitu: dahulukanlah yang bermanfaat untuk
kalian pada hari esok, maka objeknya dibuang, dan itu telah
dijelaskan dalam firmanNya yang maha tinggi:
ادىع يودجح زيخ هم مكسفول اىمدمح بمو :ةزمبنا( 111 ) maka maknanya maka
dahulukanlah untuk diri kalian kepatuhan, dan amal salih.
Katanya: mencari anak dan keturunan; karena anak merupakan
kebaikan dunia dan akhirat, karena terkadang ia menjadi penolong
dan penyelamat”.
Katanya itulah menikah pada istri-istri yang terhormat; agar
anaknya itu salih serta suci.
Katanya itulah mengedepankan yang lebih, seperti sabda Nabi saw.
: “siapa yang mengedepankan tiga hal dari anak maka ia tak
mencapai al hintsa, serta tak tersentuh api neraka kecuali
penghalalan pembagian”. Hadits. Dan itu akan ada dalam surat
“Maryam” insya Allah ta‟ala.
Ibn Abas dan Thawus mengatakan: yaitu: dahulukanlah mengingat
Allah ketika bersetubuh, seperti yang disabdakan Beliau saw.
“apabila salah seorang diantara mereka mensetubuhi istrinya maka
ia katakan: „atas nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari syetan,
dan jauhkanlah syetan dari yang engkau karuniakan kepada kami‟
maka bahwasanny jika ditakdirkan seorang anak diantara
keduanya, selamanya ia tak akan dimadlaratkan syetan”.
Dikeluarkan oleh Muslim.
5. firmanNya yang maha tinggi: ا اىمحاو peringatan يىمهم مكوأ اىمهعاو khabar
yang menuntut sangat dalam peringatan, yaitu: maka dialah yang
membalas kalian atas kebaikan dan dosa. Ibn Uyainah
meriwayatkan dari Amr ibn Dinar ia mengatakan: saya mendengar
Said ibn Jubair dari Ibn Abas ia berkata: saya mendengar rasulullah
saw. Bersabda sambil berkhutbah: “sesungguhnya kalian akan
menemui Allah dalam keadaan telanjang serta berjalan tanpa alas
kaki” kemudia rasulullah saw. membacakan يىمهم مكوأاىمهعاو ااىمحاو.
Dikeluarkan oleh Muslim dengan hal yang senada.
6. firmanNya yang maha tinggi: هيىمؤمنازشبو penjinak bagi pelaku
kebaikan dan pencari sunah-sunah petunjuk.
FIRMANNYA:
ºº4Ò W-O¬UE¬^_Ò` -.- LO=¯¯ONN
¯ª¬:g4E©uC+· ]Ò¡ W-ÒGOE¯·> W-O¬³+-·>4Ò
W-O÷·)U¯¬>4Ò ¬-u-4 +EE4¯- ¯ +.-4Ò
77Og¼E- _¦1)U4× ^ggj÷
224. Jangahlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai
penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan Mengadakan ishlah di
antara manusia[139]. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

[139] Maksudnya: melarang bersumpah dengan mempergunakan nama
Allah untuk tidak mengerjakan yang baik, seperti: demi Allah, saya tidak
akan membantu anak yatim. tetapi apabila sumpah itu telah terucapkan,
haruslah dilanggar dengan membayar kafarat.
Mengenainya ada empat permasalahan:
1. ulama mengatakan: saat Allah menyuruh infaq, bergaul dengan
para yatim dan istri dengan hubungan kekeluargaan yang indah
maka ia menfirmankan: kalian jangan terhalang melakukan suatu
kebaikanpun dengan dalih bahwa kami telah bersumpah telah
melakukan seperti ini. Dengan hal yang senada ibn Abas, an
Nakhoi, Mujahid ar Rabi‟ dan selain mereka mengatakan. Said ibn
Jubair mengatakan: “seseorang bersumpah untuk tak melakukan
kebaikan dan silaturahim serta berbuat kemaslahatan diantara
manusia, lalu dikatakan kepadanya: „berbuat baiklah‟, lalu ia
menjawab: saya telah bersumpah.
Sebagian pentakwil mengatakan: maknanya: kalian jangan
bersumpah karena Allah sambil berdusta bahwa kalian
menghendaki kebaikan, takwa dan kemaslahatan, maka tak perlu
perkiraan “ل” setelah "نأ" .
Katanya: maknanya kalian jangan banyak bersumpah atas nama
Allah, karena itu merusak hait, karena inilah Dia berfirman: اىظفحاو
:ةدئبمنا( مكىميأ 98 ) dan mencerca yang banyak bersumpah, maka ia
berfirman: :مهمنا( هيهم فلح مك عطح لو" 11 ) orang arab terpuji sebab sedikit
sumpah, hingga salah seorang penyair mereka mengatakan:
“yang sedikit bersumpah yang memelihara janji, dan jika terlanjur
keluar sumpah darinya ia tepati”.
Dan berdasarkan ini "اوزبح نأ" maknanya: sedikitlah bersumpah untuk
kebaikan dan takwa yang ada di dalamnya, karena banyaknya itu
keluar dari pelanggar sumpah dan minim memelihara hak Allah swt,
inilah takwil yang baik.
Malik ibn Anas: sampai padaku bahwasannya bersumpah atas nama
Allah dalam segala hal.
Katanya: maknanya: janganlah kalian jadikan sumpah sebagai
pencampur adukan تنذخبم dalam setiap yang hak dan yang batil.
Az Zujaj dan yang lainnya mengatakan: makna ayat seseorang jika
dituntut melakukan pekerjaan yang baik ia berdalih atas nama
Allah, lalu ia berkata: saya telah bersumpah, maka dia itu tak
bersumpah.
Al Qutabiy mengatakan Maknanya: Jika Kalian bersumpah untuk
tidak menyambungkan kekeluargaan kalian dan bersedekah serta
berbuat kemaslahatan, dane pada hal serupa yang termasuk pintu-
pintu kebaikan, maka hendaknya ia menghapus sumpah.
Saya katakan ini yang baik berdasar yang telah kami jelaskan, dan
itulah yang ditunjukan oleh sebab turunnya, berdasarkan yang akan
kami jelaskan dalam persalahan setelah ini.
2. Katanya: diturunkan sebab ash Shiddiq; karena ia bersumpah untuk
tidak berinfaq pada misthah saat ia berbicara mengenai Aisyah ra,
seperti yang ada dalam hadis ifk – dan penjelasannya akan tiba
dalam surat “an Nuur” – dari Ibn Juraij.
Katanya: diturunkan mengenai as shidiq juga saat ia bersumpah
untuk tidak makan bersama tamu.
Katanya: diturunkan mengenai Abdulah Ibn Rawahah saat ia
bersumpah untuk tidak berbicara kepada Basyir ibn an Nu‟man
sedangkan ia itu khitannya pada saudara perempuannya, allahlah
yang lebih tahu.
3. firmanNya مكىميل تضزع yaitu dinasabkan; dari al Jauhariy. Si Anu
„Urdlah‟ hal itu, atau „urdlah‟ untuk hal itu, yaitu: yang
menemaninya, yang menguatan hal itu. Dan „urdlah‟: kepentingan.
Mengatakan:
“allah berfirman sungguh aku telah mempermudah dengan bala
tentara”
“mereka itulah para penolong urdlahnya pertemuan”
Si anu urdlah bagi manusia: mereka senantiasa berada padanya.
Saya jadikan si anu urdlah karena hal ini, yaitu saya menegakan
untuknya, dan dikatakan: urdlah dari syiddah dan quwah,
diantaranya perkataan mereka pada istri: urdlah lin nikah, jika ia
laik untuknya, dan kuat baginya, dan bagi si anu urdlah: yaitu: kuat
berjalan dan berperang, Ka‟ab ibn Zuhair mengatakan:

Abdulah ibn al Zubair mengatakan:

Yang lainnya mengatakan:

Aus ibn Hajar mengatakan:

Maknanya: kalian jangan menjadikan sumpah atas nama Allah
sebagai kekuatan untuk dirimu sendiri, dan sebagai alasan dalam
rangka menghalangi dari kebaikan.
4. firmanNya yang maha tinggi: “kaliaan berbuat baik dan
bertakwa” mubtada, sedang khabarnya dibuang, yaitu: kebaikan
dan ketakwaan dan kemaslahatan itu lebih utama dan laik, seperti
“kepatuhan dan ucapan yang baik” [muhamad:21]. Dari az
Zujaj dan an Nuhas.
Katanya: mahalnya nasab, yaitu: kalian jangan terhalangi oleh
sumpah atas nama Allah untuk kebaikan, takwa dan berbuat baik.
Dari al Zujaj juga.
Katanya: maf‟ul min Ajlih.
Katanya: maknanya untuk tidak berbuat baik; maka membuang "ل",
seperti firmanNya yang maha tinggi: :ءبسىنا[ اىهضح نأ مكن ا هيبي" 171 ] , yaitu:
اىهضحل, itu dikatakan oleh at Tabariy dan an Nuhas.
Dan cara yang ke empat dari berbagai cara nasab: karena makruh
untuk berbuat baik, kemudian dibuang, itu dituturkan oleh an
Nuhas dan al Mahdawiy.
Dan katanya itu dalam kondisi khafadl berdasarkan pendapat al
Khalil dan al Kisaiy, perkiraannya: اوزبح نأ ًف, kata ًف disembunyikan
itudikhafadlkan denganya.
Dan dia maha mendengar, yaitu: pada ucapan-ucapan hamba-
hambanya. Maha mengetahui pada niat mereka.
firmnNya yang maha tinggi:
او مكبىهل جبسكبمب مكذخاؤي هكنو مكىميأ ًف ىغهنبب ا مكذخاؤي ل ميهح رىفغ 222
Mengenainya ada empat permasalahan:
1. firmanNya yang maha tinggi ىغهنبب adalah mashdar kata
َ
ي
ِ
غنو ,اىغن ىغهي بغن
بغن يغهي: jika ia membawakan yang tak perlu dalam perkataan, atau
hal yang tak ada nilai kebaikannya, atau yang dosanya ditimpakan”.
Dalam hadis: “jika kamu berkata pada temanmu sedangkan imam
sedang khutbah pada hari jum‟at: diamlah, maka kamu telah sia-
sia”. Bahasa Abu Hurairah: “maka telah sia-sia”. Penyair
mengatakan:

Yang mengatakan:

Engkau tak disiksa sebab kesia-siaan yang kamu katakan
Jika engkau tak menyengaja aneka akad rencana
2. ulama berselisih mengenai sumpah yang merupakan kesia-siaan,
ibn Abas mengataka: itu perkataan seorang dalam perkataannya
yang sempit dan tergesa-gesa dalam percakapan: tidak demi Allah,
ya demi Allah; tanpa maksud untuk sumpah.
Al Maruziy mengatakan: laghwul yamin yang disepakati ulama
bahwa itu laghwun adalah ucapan seseorang: tidak demi Allah, dan
ya demi Allh; dalam percakapan dan perkataannya tanpa meyakini
dan menghendakinya.
Ibn Wahb meriwayatkan dari Yunus dari ibn Syihab bahwa Urwah
menceritakannya bahwa Aisyah istri Nabi saw. Berkata: sumpah-
sumpah yang sia-sia itu yang ada dalam mira, senda gurau, canda
dan percakapan yang tak dikehendaki hati.
Dalam bukhari dari Aisyah ra. Ia mengatakan: firmannya:
مكىميأ ًف ىغهنبب ا مكذخاؤي ل mengenai ucapa seseorang: tidak demi Allah, ya
demi Allah.
Katanya: allaghwu yang digunakan dalam bersumpah berdasarkan
dugaan, lalu ia melanggarnya, itu dikatakan Malik; itu dihikayatkan
ibn al Qasim darinya, dan dengan hal itu sejumlah dari salaf
berpendapat. Abu Hurairah mengatakan: Jika seseorang bersumpah
atas sesuatu yang ia tak menduga kecuaali ia padanya, lalu jika ia
tidak begitu, maka itulah sia-sia, dan padanya tak ada kafarat di
dalamnya, dan seumpanya dari Ibn Abas.
Diriwayatkan bahwa mengambil kembali ucapan di hadapan
rasulullah saw. Dan mereka melontarkan (ucapan) dihadapan
beliau; lalu salah seorang mereka bersumpah: aku telah melakukan
aku telah salah wahi “A”, lalu tiba-tiba permasalahannya
bersebrangan dengan hal itu, lalu seseorang berkata: dia telah
melanggar sumpah wahai utusan Allah, lalu Nabi saw. Bersabda:
“sumpah yang melontarkan ucapan adalah laghwun tak ada
pencidraan dan kafarat mengenainya”.
Malik mengatakan dalam al Muwatha‟: hal terbaik yang saya dengar
mengenai itu bahwa laghwu sumpah orang atas sesuatu yang ia
yakini bahwa hal itu demikian, kemudian didapati sebaliknya, maka
tak ada kafarat dalam hal itu. Dan yang bersumpah terhadap
sesuatu dan ia tahu bahwa dalam sesuatu itu ada dosa serta dosa
untuk diridlai pada seseorang, atau beralangan pada makhluk, atau
sebabnya terampas harta, maka ini lebih besar daripada adanya
kafarat padanya; kafarat hanyalah bagi yang bersumpah untuk
tidak melakukan sesuatu yang diperbolehkan melakukannya
kemudian ia melakukannya, atau untu melakukannya kemudian ia
tidak melakukannya, seperti: jika ia bersumpah untuk tidak menjual
pakaiannya dengan harga sepuluh dirham, kemudian ia menjual
dengan seperti itu, atau ia bersumpah ia akan memukul anaknya,
kemudian ia tidak memukul anaknya.
Diriwayatkan dari Ibn Abas – jika sahih darinya – ia mengatakan:
“sumpah yang sia-sia kamu bersumpah sedangkan kamu marah,
dikatakan Thawus.
Ibn Abas meriwayatkan bahwa rasulullah saw. Bersabda: “tak ada
sumpah dalam keadaan marah”
Said ibn Jubair mengatakan: “ itu pengharaman yang halal; lalu ia
mengatakan: hartaku haram bagiku jika saya melakukan seperi
begitu, atau yang halal bagiku haram, itu dikatakan oleh Makhul ad
Dimasyqiy, dan juga malik, kecuali mengenai istri, karena ia
memestikan haram mengenainya; kecuali ia dikeluarkan oleh yang
bersumpah dengan hatinya.
Katanya itu adalah sumpah untuk kedurhakaan, dikatakan oleh Said
ibn Musayab, Abu Bakar ibn Abdurahman, Urwah dan Abdulah ibna
Zubair, seperti ia bersumpah akan meminum Khamr, atau
memutuskan tali persaudaraan, maka kebaikannya adalah
meninggalkan pekerjaan itu, dan tak ada kafarat baginya, dalil
mereka adalah hadis Amr ibn Syu‟aib,dari bapaknya, dari kakeknya,
bahwa Nabi saw. Bersabda: “barang siapa yang bersumpah pada
suatu janji, lalu ia melihat yang lainnya lebih baik darinya maka
hendaklah ia meninggalkannya, karena meninggalkannya adalah
kafarat, dikeluarkan oleh ibn Majah dalam sunannya, dan juga itu
akan ada dalam surat “almaidah”.
Zaid ibn Aslam mengatakan: “sumpah yang sia-sia do‟a seseorang
pada dirinya sendiri: “semoga Allah membutakan penglihatannya”,
semoga Allah melenyapkan hartanya”, dia seorang yahudi, dia
musyrik, dia terlaknat jika melakukan seperti ini. Mujahid:
keduanya adalah orang yang sedang jual beli, salah satunya
berkata: „demi Allah saya tak akan menjual seperti itu padamu‟ dan
yang satunya lagi berkata „demi Allah saya tak akan membeli yang
seperti ini darimu. An Nakha‟i mengatakan: itu seorang yang
bersumpah untuk tidak melakukan sesuatu, kemudian dia lupa lalu
melakukannya”.
Ibn Abas dan ad Dahak juga mengatakan, “sumpah yang sia-sia
adalah yang dikifarati, yaitu: jika kamu mengkafarati sumpah, itu
gugur dan menjadi sia-sia, dan Allah tak mengadzabnya sebab
pengkafaratannya dan kembalinya pada yang lebih baik. Ibn abdul
bar menghikayatkan satu pendapat: bahwa yang sia-sia sumpah
yang terpaksa.
Ibn Arabi mengatakan: “sumpah disertai lupa; tak diragukan sia-
sianya; karena itu muncul tidak sejalan dengan maksudnya, maka
itu murni sia-sia.
Saya katakan, “sedangkan sumpah yang terpaksa dengan
kekuatannya”. Hukum sumpah yang terpaksa insya Allah akan ada
dalam surat an Nahl.
Ibn Arabi mengatakan: “sedangkan ynag mengatakan: „bahwa itu
sumpah yang durhaka; maka itu batal, karena yang bersumpah
untuk meninggalkan kedurhakaan sumpahnya menjadi ibadah, dan
yang bersumpah melakukan kedurhakaan sumpahnya menjadi
kedurhakaan, dan katakan padanya, “jakan lakukan, kifaratilah”,
jika terlanjur melakukan dosa maka ia berdosa karena
keterlanjurannya‟ dan baik dalam sumpahnya. Sedangkan yang
mengatakan: bahwa itu do‟a seseorang pada dirinya sendiri: jika
tidak seperti itu maka turun seperti ini, maka itu perkataan yang
sia-sia, dalam cara pengkafaratannya, tetapi itu jadi dalam tujuan,
makruh, dan acapkali disiksa karenanya; karena Nabi saw.
Bersabda: salah seorang mereka hendaknya tak berdo‟a pada
dirinya sendirim, maka acapkali ia mendapati satu waktu dimana
tak seorangpun berdoa pada Allah sesuatupun keculi ia
memberikannya padanya”. Sedangkan yang mengatakan itu
sumpah yang marah, maka itu dibantah oleh sumpahnya Nabi saw
saat marah agar tidak memikul al asy‟ariyin, dan dian menanggung
mereka dan mengkafarati sumpahnya. Itu akan ada dalam surat
“bara‟ah”.
Ibn Arabi mengatakan: sedangkan yang mengatakan: „bahwa itu
sumapah yang dikafarati, maka tak dihubungkan padanya yang ia
hikayatkan. Dan juga itu dianggap lemah oleh ib Athiyah, dan ia
berkata: Allah azza wa jallaa telah mengangkat pengambilan secara
mutlak mengenai kesia-siaan, maka hakikatnya tak ada dosa dan
kafarat di dalamnya, sedang pengambilan dalam sumpah itu
dengan siksa akhirat dalam sumpah yang dusta lagi salah dan
mengenai yang ia tinggalkan kafaratnya dari yang di dalamnya ada
kafarat dan dengan siksaan dunia mengenai kemestian kafarat,
maka pendapat bahwa itu sumpah yang dikafarati lemah, karena
pengambilan telah ada padanya, dan pengkhususan bahwa
pengambilan bahwa itu diakhirat saja bersifat hukum.
3. FiramanNya yang maha tinggi: مكوبميأ ًف kata نبميلا bentuk jamak dari
kata هيمي dan itu bermakna sumpah, asalnya adalah bahwa bangsa
arab jika bersumpah atau berakad maka seseorang mengambil
tangan kanan yang bersumpah dengan tangan kanannya, kemudian
itu terus-menerus hingga sumpah dan janji dengan sendirinya
dinamakan هيمي. Katanya kata يمي ه berwazan ميعف dari kata همينا yaitu
berkah, itu dinamai Allah dengan itu; karena sesungguhnya itu
memelihara aneka hak. Kata هيمي dimaskulinkan dan difemininkan,
dan dijamakan: نبميأ dan ه
ُ
ميأ, Zahir mengatakan:
Lalu sumpah-sumpah dikumpulkan dari kami dan kamu..
Ditempat sumpah yang ditetesi (رىمح) darah
4. firmanNya yang maha tinggi: مكبىهل جبسك بمب مكذخاؤي هكنو seperti firmanNya
:ةدئبمنا[ وبميلا محدمع بمب مكذخاؤي هكنو 98 ] disana ada pembahasan yang
memadai, insya Allah ta‟ala.
Zaid ibn Aslam mengatakan: firmanNya yang maha tinggi:
مكبىهل جبسك بمب مكذخاؤي هكنو itu mengenai seseorang yang berkata:dia
musrik jika melakukan, yaitu: ini sia-sia, kecuali ia menghendaki
musyrik dengan hatinya dan melakukannya. Dan ميهح رىفغ dua sifat
yang layak dengan melemparkan siksaan yang disebutkan; karena
itu bab كفر dan pelapangan.

firmnNya yang maha tinggi
نيحر رىفغ ا ىئف وءبف ىئف زهشأ تعبرأ صبزح نهئبضً يه ىىلؤي ييذلل 222 نيلع عيوص ا ىئف قلطلااىهزع ىإو
222
Pada ayat tersebut ada dua puluh empat permasalah:
1. firmanNya yang maha tinggi: ىىٌلؤي ييذلل kata ىىلؤي makananya
mereka bersumpah, bentuk masdarnya ةىلإ ,ةىلأ ,تيلأ ,ءليإ. Ubay dan Ibn
Mas‟ud membaca: “ ىىوضمي ييذلل”. Dan diketahui bahwa kata ىىوضمي
adalah penafsiran kata "ىىلؤي".
Dibaca: "اىلا ييذلل" dikatakan: ,ءلخئا ىلخئاو ,بي
ّ
لأح ىلأحو ,ءليإ ىلؤي ىلآ yaitu:
sumpah, diantaranya:
ºº4Ò ÷·>·4C W-O7¯Òq¡ ÷;_E¼^¯-
¯¦7¯Lg` gOE¬OO¯-4Ò pÒ¡ W-EO¬>u·NC
Oj¯Òq¡ _OÞ.¯O¬³^¯- 4×-´¯=OE©^¯-4Ò
¬-¯@O´×E_÷©^¯-4Ò O)× ÷O):Ec *.- W
W-O¬¼u¬4O^¯4Ò W-EO÷·E¼¯4O^¯4Ò ¯ ººÒ¡
4pOclg4q` pÒ¡ 4Og¼^¯4C +.- ¯¦7¯·¯ ¯
+.-4Ò EOO¬¼EN N®7gO·O ^gg÷

Penyair mengatakan:
yang lainnya mengatakana:
Ibn Duraid mengatakan:
abdulah ibn Abas mengatakan: sumpah orang jahiliyah setahun dua
tahun, dan lebih lama dari itu, dengan hal itu ia bermaksud
menyakiti perempuan pada masa paceklik, lalu ia memberi waktu
bagi mereka empat bulan, maka barang siapa yang melakukan ila
lebih sedikit dari itu; maka itu bukan hukum iila.
Saya katakan: nabi telah melakukan ila dan mencerai, sebab ilanya
permintaan nafkah istri-istrinya pada hal yang ia tidak miliki, seperti
itulah dalam shahih muslim. Katanya Zainab mengembalikan
pemberiannya, lalu rasulullah saw marah, maka ia melakukan ila
pada sebagian mereka, dituturkan oleh Ibn Majah.
2. Ila memestikan setiap yang dimestikan oleh cerai, makan yang
merdeka, budak dan yang mabuk mesti baginya Ila, seperti itu juga
yang dungu dan anak angkat jika ia telah dewasa dan bukan yang
gila, dan begitu juga يصخلا jika dia tidak ببىبجه, orang tua jika
padanya masih ada sisi semangat da hasrat )كهر(.
Pendapat Syafi‟i mengenai yang majbub jika dia mengila, maka
dalam satu pendapat: tidak ada ila baginya, dan dalam ungkapan:
ilanya sah [dan itu cukup dengan lisan]. Yang pertama yang paling
sahih dan paling dekat kepada al kitab dan sunah rasulullah saw.
Karena tebusan itu yang menggugurkan sumpah; dan harta
rampasan perang dengan satu ungkapan tidak menggugurkannya;
jika sumpah yang terhalang dari pelanggaran sumpah tetap, maka
hukum ila tetap ada.
Mengila bagi yang bisu cukup dengan isyrat yang difahami dari
penulisan, atau isyarat yang terfahami serta mesti untuknya., dan
begitu juga mereka non arab jika mengila para istri-isttrinya.
3. Ulama berselisih mengenai sumpah yang sebabnya terjad ila,
sebagian kaum mengatakan: ila tidak terjadi kecuali dengan
sumpah atas nama Allah saja; berdasarkan sabda beliau saw:
barang siapa bersumpah maka bersumpahlah karena Allah, atau
diamlah”. Dan dengan ini Syafi‟i berpendapat dalam yang baru.
Ibnu Abas mengatakan, “setiap sumpah yang menghalangi
bersetubuh maka itulah ila”, dengan ini Sya‟bi, an Nakhoi, Malik,
penduduk Hijaj, Sufyan ats-Tsauriy, penduduk Irak, dan Syafi‟i
dalam pendapat yanglain, Abu Tsaur, Abu Ubaid, Ibn Mundzir dan
Qadli Abu Bakar ibn Arabi berpendapat.
Ibn Abdulbar mengatakan: “setiap sumpah yang pelakunya tidak
bisa bersetubuh dengan istrinya karena sumpah tersebut kecuali ia
melanggarnya, maka dengan hal tersebut ia melakukan ila; jika
sumpahnya lebih lama dari empat bulan, maka setia yang
bersumpah atas nama allah atau atas salah satu sifatNya, atau ia
mengatakan: saya bersumpah atas nama Allah, saya bersaksi atas
nama Allah, atau wajib bagiku perjanjian Allah, tanggungan, janji
dan jaminannya, maka itu memestikannya melakukan ila”.
Lalu apabila ia mengatakan: saya bersumpah atau saya bermaksud,
tapi dia tidak menyebutkan “atas nama Allah”, maka katanya: dia
tidak termasuak yang melakukan ila, kecula jika ia menghendaki
“atas nama Allah” dan meniatkannya. Dan siapa yang mengatakan:
“bahwa itu sumpah masuk kedalamnya, penjelasannya akan tiba
dalam “al maidah” insya Allah.
Lalu apabila dia bersumpah berpuasa untuk tidak mensetubuhi
istrinya, ia mengatakan: “jika saya mensetubuhimu maka saya
wajib puasa satu bulan atau satu tahun, maka ia pelaku ila. Begitu
juga setiap yang wajib baginya seperti haji, cerai, memerdekakan,
sembahyang, atau sedekah. Dasar mengenai kalimat ini adalah
keumuman firmanNya yang maha tinggi “bagi mereka yang meng-
ila” dan ia tidak merinci, maka bila ia meng-ila dengan sedekah,
memerdekakan budak yang tertentu atau tidak tentu, maka wajib
baginya ila.
4. Jika ia bersumpah atas nama Allah tidak mensetubuhiny, dan ia
mengecualikan lalu dia berkata: jika Allah menghendaki, maka jika
terjadi begitu maka ia melakukan ila, tapi jika ia mensetubuhinya
maka tidak wajib kafarat dalam satu riwayat ibn Qasim dari Malik.
Ibn Al Majisyun mengatakan dalam Kitab “al Mabsuth”: “dia bukan
yang melakukan ila, itulah pendapat pakar fikih mesir; karena ia
menjelaskan pengecualikan bahwa dia tidak berencana untuk
melakukan. Dan bentuk yang diriwayatkan oleh ibn Qasim
berdasarkan bahwa pengecualian itu tak menghalalkan sumpah,
tetapi itu berdamapak pada gugurnya kafarat, berdasarkan
penjelasannya dalam “al Maidah yang akan tiba. Maka manakala
sumpahnya tetap terjadi, maka wajib baginya hukum ila sekalipun
tak wajib kafarat baginya.
5. Apabila ia bersumpah atas nama nabi, malaikat, atau ka‟bah untuk
tidak mensetubuhinya; atau ia mengatakan:”dia yahudi, nasrani,
atau pezina jika ia mensetubuhinya, maka ini bukan yang
melakukan ila, itu dikatakan Malik dan yang lainnya. Al baji
mengatakan: “makna itu menurutku bahwa ia menyatakannya
bukan berdasarkan cara sumpah, sedangkan jika menyatakannya
berdasarkan bahwa dia melakukan ila dengan yang dikatakannya
atau selainnya, maka dalam “al Mabsuth” bahwa ibn Qasim ditanya
mengenai seseorang yang berkata pada istrinya: “tidak ada
sambutan, dengan itu ia menghendaki ila maka ia pelaku ila, ia
berkata: Malik mengatakan: setiap ungkapan yang dimaksudkan
cerai maka ia bercerai, ini dan cerai sama”.
6. Ulama berselisih mengenai ila yang disebutkan dalam al Qur‟an, ibn
Abas mengatakan: itu bukan pelaku ila sehingga ia bersumpah
untuk tidak menyentuhnya selamanya.
Sekelompok mengatakan: jika ia bersumpah untuk tidak mendekati
istrinya satu hari atau kurang atau lebih, kemudian ia tidak
mensetubuhinya selama empat bulan, maka darinya telah
menegakan ila, ini diriwayatkan dari ibn Mas‟ud, an Nakha‟i, Ibn Abi
Laila, al Hakam, Hamad ibn Abi Sulaiman, Qatadah, dan dengan ini
Ishaq berpendapat.
Ibn Mundzir mengatakan: “pendapat ini diingkari sebagian besar
ahli ilmu”.
Mayoritas ulam mengatakan: “ila adalah ia bersumpah untuk tidak
mensetubuhi lebih dari empat bulan, lalu apabila ia bersumpah
untuk empat bulan atau dibawahnya, ia tidak termasuk pelaku ila,
menurut mereka itu sumpah murni; jika ia mensetubuhinya pada
masa ini maka tak wajib apapun baginya seperti sumpah-sumpah
yang lainnya, ini pendapat Malik, Syafi‟i, Ahmad dan Abu Tsaur.
Ats Tsauriy dan ulama Kufah mengatakan: “Allah menjadikan masa
menunggu dalam ila selama empat bulan seperti menjadikan masa
menunggu yang meninggal empat bulan sepuluh hari, dan dalam
masa menunggu (haid) tiga kali suci, maka setelahnya tidak ada
masa menunggu (lagi). Mereka mengatakan: “maka setelah masa
menunggu mesti gugurnya ila, dan tidak gugur kecuali dengan
tebusan, dan itu menjima di dalam masa menunggu, dan cerai
setelah habis empat bulan.
Malik dan syafi‟i keduanya mengatakan: “Allah menjadikan bagi si
pelaku ila empat bulan, maka itu keseluruhannya untuknya tidak
ada ada penentangan pada istrinya terhadapnya pada waktu itu;
sebagaimana bahwa hutang yang ditangguhkan pemiliknya tak
berhak menuntutnya kecuali setelah habis tempohnya. Bentuk
pendapat ishaq – dalam minimal masa pelakunya itu menjadi
pelaku ila jika ia tidak mensetubuhinya – adalah analogi pada yang
bersumpah melebihi empat bulan, maka ia itu pelaku ila; karena ia
bermaksud menyengsarakan dengan sumpahnya, makna ini ada
dalam masa yang sangat singkat.
7. Mereka berselisih bahwa yang bersumpah untuk tidak mensetubuhi
istriny lebih dari empat bulan, lalu empat bulan itu batal dan
istrinya tidak menuntutnya, maka ia (istrinya) tidak mengangkatnya
kepada pemerintah untuk menyepakatinya, baginya tak wajib
apapun menurut Malik, para pengikutnya dan mayoritas ahli
madinah. Diantara ulama kita ada yang mengatakan: “baginya
wajib cerai rujuk sebab habis masa empat bulan. Diantara mereka
dan yang lainny ada yang berpendapat: “baginya mesti cerai bain
sebab habisnya masa empat bulan.
Yang sahih yang dipegang oleh Malik dan pengikutna, yaitu bahwa
pelaku ila tidak mesti baginya cerai sehingga disepakati oleh
pemerintah sebab tuntutan istrinya padanya untuk menebus, lalu ia
merujuk istrinya dengan bersetubuh, mengkafarati sumpahnya atau
menjatuhkan talak, dan ia tidak dibiarkan sehingga ia menebus
atau mencerai.
Tebusan: persetubuhan pada yang mungkin bersetubuhnya.
Sulaiman ibn Yasar mengatakan: “sembilan belas orang sahabat
nabi saw. Berdiam diri mengenai ila, Malik mengatakan: masalah itu
menurut kami, dan dengan itu al Laitsi, Syafi‟i, Ahmad, Ishaq, dan
Abu Tsaur berpendapat, dan itu dipilih oleh Ibn Mundzir.
8. Dan masa meng-ila sejak hari bersumpah, bukan dari hari
pertengkarannya dengan istrinya, dan diajukannya kepada hakim,
lalu jika istrinya bertengkar dengannya dan tidak meridlai dengan
terhalangnya dari persetubuhan, Pemerintah memutuskan untuknya
empat bulan sejak hari ia bersumpah, lalu jika ia bersetubuh, maka
ia telah menebus hak istrinya, dan mengkafarati sumpahnya, dan
jika ia tidak menebus maka ia telah bercerai dengan cerai rujuk.
Malik mengatakan: jika ia merujuk maka tak sah merujuknya
sehingga ia mensetubuhinya pada masa menunggu. Al Abhariy
mengatakan: “hal itu karena cerai hanya terjadi untuk melenyapkan
kemadlaratan, maka saat ia tidak mensetubuhinya maka
kemadlaratan tetap ada, maka tak ada artinya untuk rujuk kecuali
ia memiliki alangan yang menghalanginya dari persetubuhan, maka
rujuknya sah; karena kemadaratan telah lenyap, dan
keterhalangannya dari bersetubuh bukan karena madlarat, tapi itu
semata-mata karena alangan.
9. Ulama berselisih mengenai ila bukan dalam kondisi marah, Ibn
Abas mengatakan: “tak ada ila kecuali sebab marah, dan itu
diriwayatkan dari Ali ibn Abi Talib ra. Dalam yang mashur darinya,
dan itu dikatakan Al Laitsi, as Sya‟biy, al Hasan, dan Atha,
semuanya mengatakan: ila hanya ada berdasarkan bentuk
kemarahan, kejelekan dan kesesusahan dan perbantahan
(muanakidah) untuk tidak mensetubuhinya pada parjinya untuk
memadlaratkannya, baik dalam kandungan itu memaslahatkan
anak ataupun tidak, maka apabila bukan karena marah, itu bukan
ila.
Ibn Sirin mengatakan: “baik sumpah dalam kondisi marah maupun
bukan itu ila, itu dikatakan Ibn Mas‟ud ats Tsauriy,Malik, Penduduk
Iraq, Syafi‟i dan pengikutnya serta Ahmad, kecuali Malik yang
mengatakan selama tak menghendaki demi memaslahatkan anak.
Ibn Mundzir mengatakan: “inilah yang paling sahih; karena mereka
saat menyepakati bahwa dzihar, cerai, dan semua sumapah itu
sama baik dalam kondisi marah maupun rela, maka ila juga seperti
itu.
Saya katakan: itu ditunjukan oleh keumuman al Qur‟an, dan
pengkhususan kondisi marah membutuhkan pada suatu dalil, dan
itu tak diambil dari bentuk yang mesti. Allahlah yang lebih tahu.
10. Ulama kita mengatakan: “siapa yang terhalang dari
mensetubuhi istrinya tanpa sumpah yang ia berikan kepadanya
demi memadlaratkannya maka ia disuruh untuk mensetubuhinya,
lalu jika ia menentang maka ia diposisikan karena penentangannya
untuk memadlaratkannya, antara dia dan istrinya dipisahkan tanpa
menentukan waktu. Dan katanya ditentukan masa ila. Dan katanya:
pada orang itu tidak masuk ila dalam hal menjauihi istrinya dan
sekalipun itu berlaku beberapa tahun tidak mensetubuhinya, tapi ia
dinasihati dan diperintahkan untuk takwa kepada Allah swt.
Mengenai agar ia tidak mempertahankannya demi kemadlaratan.
11. Mereka berselisih mengenai yang bersumpah untuk tidak
mensetubuhi istrinya hingga ia menyapih anaknya; agar itu tidak
memadaratkan anaknya dan ia tak menghendaki kemadlaratan
untuknya, hingga terhenti masa menyusui, maka menurut Malik
bagi istrinya tak berhak menuntutnya; demi kemaslahatan anak.
Malik mengatakan: telah sampai padaku bahwa Ali ibn Abi Talib
ditanya mengenai hal itu, lalu ia tak memandangnya sebagai ila.
Dan dengan hal itu Syafi‟i berpendapat dalam salah satu
pendapatnya, dan pendapat yang lain itu pelaku ila, dan tak ada
perhitungan dengan menyusui anak. Denga dengan itu Abu Hanifah
berpendapat.
12. Malik, Syafi‟i, Abu Hanifah serta para pengikut mereka, al
Auza‟iy, dan Ahmad ibn Hanbal berpendapat pada bahwasannya ia
itu bukan pelaku ila yang bersumpah untuk tidak mensetubuhi
istrinya dalam rumah ini atau di kamar ini; karena ia menemukan
cara untuk mensetubuhinya di selain tempat itu. Ibn Abi Laila dan
Ishaq mengatakan: “jika ia meninggalkannya empat bulan maka itu
ditegakan sebagai ila, tidakkah kamu lihat bahwa dia didiamkan
pada empat bulan, lalu jika dia bersumpah untuk tidak
mensetubuhinya di kotanya atau di negerinya, maka ia itu pelaku
ila menurut Malik, dan ini semata-mata ada di perjalanan yang
terbebani biaya dan beban bukan kebunnya atau ladangnya yang
dekat.
13. firmanNya نهئبضً يه padanya termasuk mereka yang merdeka,
kafir dzimmiy, dan budak belian jika mereka dinikahi. Hamba
sahaya dimestikan ila karena istrinya; syafi‟i, ahmad dan abu tsaur
mengatakan: “ila-nya seperti ila yang merdeka, dan hujah mereka
dzahirnya firmanNya yang maha tinggi: نهئبضً يه ىىلؤي ييذلل maka itu
untuk seluruh istri.
Ibn mundzir mengatakan: “dan dengan hal itu saya berpendapat,
dan malik az zuhri, atha ibn abi rabah, ishaq mengatakan waktuya
dua bulan”.
Al hasan dan an nakha‟i mengatakan: “ilanya dari istrinya yang
budak dua bulan, dan dari yang merdeka empat bulan, dan dengan
hal itu abu hanifah berpendapat.”
Sya‟biy mengatakan: “ila hamba sahaya setengah ila yang
merdeka.
14. Malik dan pengikutnya, abu hanifah dan pengikutnya, al
auza‟iy, an nakha‟i dan yang lainnya mengatakan: yang disetubuhi
maupun yang tidak sama saja dalam hal kemestian ila pada
keduanya. Az zuhriy atha dan ats tsauriy mengatakan: “tidak ada
ila kecuali setelah disetubuhi”. Malik mengatakan: “tak ada ila dari
yang kecil belum balig, maka jika ia meng-ilanya lalu ia balig, maka
ila mesti sejak hari balignya”.
15. Sedangkan kafir dzimmiy; ila-nya tak sah, sebagaimana
dzihar dan cerainya tidak sah, dan hal itu karena sesungguhnya
nikahnya orang musyrik – menurut kami – bukan nikah yang sah,
itu hanyalah kepemilikan yang meragukan bagi mereka, dan karena
mereka tak dibebani syari‟at maka wajib bagi mereka beberapa
kafarat sumpah, lalu apabila mereka diajukan kepada kita dalam
hukum ila maka bagi hakim kita tak seyogyanya menghukumi
diantara mereka, dan mereka diberangkatkan kepada hakim
mereka, tapi jika mereka melakukan hal itu dengan cara
kedzaliman diantara merek; maka hukumilah dengan hukum islam;
seperti apabila seorang muslim meninggalkan mensetubuhi istrinya
untuk memadaratkan istrinya tanpa ada sumpah.
16. firmanNya زهشأ تعبرأ صبزح kata صبزح bermakna tenang dan
terakhir, bentuk pembalikan dari kata زبصح; penyair mengatakan:

Kegunaan pemberian waktu empat bulan berdasarkan yang
dituturkan Ibn abas dari masyarakat jahiliyah seperti yang telah
dikemukakan, maka Allah menolak hal itu, dan menjadikan bagi
suami masa empat bulan dalam mendidik istri dengan pisah
ranjang, berdasarkan firmanNya yang maha tinggi: ىف يهوزجهاو"
:ءبــضٌلا[ل "عجبضولا 43 ] nabi melakukan ila kepada istri-istrinya untuk
mendidik mereka selama satu bulan.
Dan katanya: empat bulan adalah yang punya suami tak sanggup
untuk bersabar darinya lebhi darinya. Diriwayatkan Bahwa Umar ibn
khatab ra. Pernah berkeliling di madinah, lalu ia mendengar
seorang perempuan bersenandung:

Lalu esok harinya, umar memanggil perempuan itu, lalu bertanya
padanya: “dimana suamimu?” ia menjawab: “engkau kirim ke iraq!
Lalu ia memanggil istri-istri, lalu ia bertanya pada mereka mengenai
perempuan: berapa ukuran kamu sabar mengenai suamimu? Lalu
mereka menjawab: dua bulan, dan kesabarannya meminim pada
tiga bulan, dan lenyap kesabarannya pada empat bulan, maka umar
menjadikan masa perang seseorang itu empat bulan, jika telah
berlalu empat bulan ia menarik tentara, dan mengirimkan kaum
yang lain, dan ini – allahlah yang lebih tahu – memperkuat
pengkhususan masa meng-ila dengan empat bulan.
17. FirmanNya: وءبف ىئف maknanya: mereka kembali, diantaranya
:ثازجحلا[ )ا زهأ ىلإ ئفح ىخح( 9 ] diantaranya dikatakan untuk bayangan
setelah tergelincir matahari : ئف; karena ia kembali dari sisi masyrik
ke sisi magrib, dikatakan: "اءىيف تئيف ئفي ءبف". Sungguh ia itu تئيفلا عيزص
(cepat pulang), ia (suhaim) mengatakan:


18. Ibn mundzir mengatakan: “setiap yang diyakini ahli ilmu
bersepakat bahwa kembali bersetubuh bagi yang tak memiliki
alangan; tapi bila ia memiliki alangan karena sakit, terpenjara atau
semacam itu; maka permintaan rujuknya sah, yaitu istrinya, lalu
jika hilang alangan dengan datangnya dari perjalanan atau
sembuhnya dari sakitnya, atau keluarnya dari penjara, lalu ia tidak
mau bersetubuh, maka keduanya dipisahkan jika masanya telah
habis, itu dikatakan Malik dalam kitab al mudawanah dan al
mabsuth.
Abdul malik mengatakan: “itu menjadi cerai bain karenanya pada
hari habis masanya, lalu jika alangannya benar dengan kembali jika
istrinya memungkinkannya, maka dihukumi dengan benarnya pada
yang telah lalu; lalu jika ia mendustakan kembali yang ia akui
dengan menolak saat ia mampu padanya, maka urusannya
dimasukan pada kedustaan dan permusuhan kepadanya, dan
hukum-hukum disetujui berdasarkan yang wajib pada waktu itu.
Satu kelompok mengatakan: “jika ada bukti yang jelas terhadap
kembalinya pada kondisi beralangan maka itu boleh baginya, itu
dikatakan al hasan, ikrimah, an nakha‟i, dan dengan itulah al
auza‟iy berpendapat. An nakha‟iy juga mengatakan: kembali sah
dengan ucapan dan saksi saja, dan hukum ila gugur, apakah kamu
berpandangan jika ia tidak menyebarkan persetubuhan?
Ibn Athiyah mengatakan: “pendapat ini dikembalikan jka ia tidak
bersetubuh pada bab kemadlaratan.
Ahmad ibn hanbal mengatakan: “jika ia memiliki alangan ia kembali
dengan hatinya, dengan ini abu qilabah berpendapat. Abu hanifah
mengatakan: “ jika ia tak mampu bersetubuh, maka ia
mengatakan: saya telah kembali kepadanya”.
Al kiya al tabariy mengatakan: “abu hanifah mengatakan mengenai
yang melakukan ila sedangkan ia sakit dan antaranya dan antara
istrinya ada masa empat bulan, sedangkan ia ratqa atau kecil atau
dia itu impoten: sesungguhnya jika ia kembali dengan lisannya, dan
masa berlalu dan alangan ada, maka itu kembali yang sah, syafi‟i
bersebrangan dengnnya pada salah satu madzhabnya.
Satu kelompok mengatakan:kembali tidak ada kecuali dengan
bersetubuh pada kondisi ada alangan maupun tidak; seperti itulah
yang dikatakan Said ibn Jubair, ia mengatakan: dan begitu juga jika
ia diperjalanan ataupun di penjara.
19. malik, syafi‟i, abu hanifah serta pengikut mereka, dan
mayoritas ulama mewajibkan kafarat pada yang melakukan ila jika
ia kembali dengan mensetubuhi istrinya. Al hasan mengatakan:
“takwajib kafarat untuknya”, dan dengan itu an nakha‟iy
berpendapat; an nakha‟iy mengatkan: “mereka mengatakan: jika ia
kembali maka tak ada kafarat baginya”. Ishaq mengatakan:
“sebagian ahli takwil mengatakan mengenai firmanNya: اوءبف ىئف yaitu
pada sumpah yang mereka langgar, itu satu madzhab mengenai
sumpah bagi sebagian tabiin mengenai sumpah atas kebaikan atau
takwa, atau pintu kebaikan yang hendak tidak ia lakukan, lalu pada
kenyataannya ia melakukannya maka tak wajib kafarat atasanya,
dan argument untuk itu adalah firmanNya yang maha tinggi وءبف ىئف
نيحر رىفغ ا ىئف dan ia tak menuturkan kafarat; dan juga karena
sesungguhnya ini terjadi pada bahwa sumpah serapah yang
disumpahkan atas kemaksiatan, dan meninggalkan persetubuhan
pada istri itu maksiat”.
Saya katakan: terkadang dijadikan dalil untuk pendapat ini dari
sunah dengan hadis amr ibn Syu‟aib, dari bapaknya, dari kakeknya
dari rasulullah saw. Beliau bersabda: “barang siapa yang
bersumpah atas suatu sumpah, lalu ia memandang bahwa yang
lainnya lebih baik darinya, maka tinggalkanlah karena
meninggalkannya itu kafarat untuknya”. Dikeluarkan oleh Ibn Majah
dalam sunannya. Dan penjelasan tambahan untuk hal ini akan ada
dalam ayat tentang sumpah insya Allah. Argument mayoritas ulama
adalah sabda beliau saw. “barang siapa yang bersumpah atas suatu
sumpah, lalu ia meliahat yang lainnya lebih baik darinya, maka
lakukanlah yang lebih baik itu, dan kafaratilah tentang sumpahnya”.
20. Jika ia mengkafarati sumpahnya maka gugur ila darinya. Itu
dikatakan ulama kita. Dalam hal tersebut ada dalil mendahulukan
kafarat atas pelanggaran dalam madzhab ini, dan itu kesepakatan
dalam masalah ila, dan dalil bagi abu hanifah dalam masalah
sumpah; karena ia tidak berpandangan boleh mendahulukan
kafarat atas pelanggaran sumpah. Itu dikatakan ibn Arabi.
21. Saya katakan: dengan ayat ini, Muhamad ibn al hasan
berhujah atas terlarang bolehnya kafarat sebelum pelanggaran
sumpah, lalu dia mengatakan: “manakala Allah menghukumi orang
yang melakuakan ila denga salah satu hukum yaitu kembali atau
azimah cerai; seandainya bole mendahulukan kafarat atas
pelanggaran sumpah maka ila batal tanpa kembali atau azimah
cerai, karena sesungguhnya jika ia melanggar sumpah maka tak
wajib apapun sebab pelanggaran atas sumpah itu, dan saat yang
sumpah tak wajib apapun sebab pelanggaran sumpahnya maka ia
bukan pelaku ila, dan dalam pembolehan mendahulukan kafarat
ada pengguguran hukum ila tanpa yang disebutkan Allah, dan itu
bersebrangan dengan al Kitab.
22. Allah yang maha tinggi berfirman: نيلع عيوص ا ىئف قلطلااىهزع ىإو
azimah adalah rencana yang pasti aka sesuatu, dikatakan: ,هيلع مزع
بهزُ ع مزعي تويزع و بهازخعاو ,بًبهزع ,بويزعو , dan kalimat يلعفخل كيلع ُ جهزع, yaitu saya
bersumpah atasmu. Syamir mengatakan azimah dan al „uzmu hal
yang akan engkau lakukan engkau akadkan atas dirimu sendri.
Kata قلطلا dari kata كلطح ةأزولا جملط – berdasarkan wazan زصٌي زصً - بللط,
maka ia itu كلبط dan juga تملبط. Al a‟sya mengatakan:

Boleh juga جم
ُ
لط – denga harakat dlamah – seperti ن
ُ
ظعي ن
ُ
ظع, tapi itu
diinkari al Akhfasy.
Cerai adalah melepas akad pertikahan, asalnya ,قلطًلا dan yang
dicerai itu yang dikosongkan, dan cerai itu kekosongan, dikatanan:
,كلبط تلبً ,كلبط تجعً yaitu: bebas ditinggalkan ditempat mengembala, tak
ada pengikat dan pengembala atasnya, dan ك
ُ
ل
ُ
ط زيعب, dengan domah
huruf tha dan lamnya: tidak diikat, bentuk jamaknya قلطأ, ىف ىلف شبح
بملط يجضلا (seseorang dipenjarakan di penjara tanpa diikat, yang cerai
dari unta adalah: yang ditinggalkan oleh pengembalanya sendiri
yang ia tidak menggiringnya ketempat air, dikatakan: تلبً ىعازلا كلطخصا
هضفٌل (si pengembala membiarkan untanya untuk dirinya sendiri).
Lalu perempuan yang kosong pertaliannya dengan kata yang
digunakan untuk menamai kambing atau unta yang dibiarkan
urusannya.
Katanya itu diambil dari kata سزفلا كلط, yaitu keberangkatan tidak
dihalangi dengan cambukan, lalu perempuan yang kosong disebut
كلبط, ia tak terhalangi dirinya setelah ia terhalang.
23. Pada firmanNya: قلطلا اىهزع ىإو ada argumen pada bahwa ia
tidak dicerai sebab habisnya masa empat bulan, seperti yang
dikatan Malik, selama tidak terjadi ungkapan perceraian setelah
masa itu, dan juga karen itulah Dia berfirman : “maha mendengar”,
yang mendengar menuntut yang didengar setelah habisnya. Abu
hanifah mengatakan: “ia maha mendengar” kepada ilanya “maha
tahu” pada rencananya yang ditunjukan oleh berlalunya empat
bulan. Suhail ibn abi salih meriwayatkan dari bapaknya ia berkata:
saya bertanya pada dua belas orang dari sahabat rasulullah saw
mengenai seseoarang yang meng-ila istrinya, maka semuanya
mengatakan: “tak ada kewajiban apapun atasnya sehingga habis
masa empat bulan, lalu ditetapkan, maka jika ia kembali dan jika
tidak ia bercerai.
Qadli ibn Arabi mengatakan: “penegasan permasalahan bahwa
perkiraan ayat menurut kami: Kepada orang-orang yang meng-ilaa'
isterinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). Kemudian jika
mereka kembali (kepada isterinya) setelah habis waktunya, maka
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan
jika mereka ber'azam (bertetap hati untuk) talak, maka
sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Sedangkan perkiraannya menurut mereka: Kepada orang-orang
yang meng-ilaa' isterinya diberi tangguh empat bulan (lamanya).
Kemudian jika mereka kembali (kepada isterinya) pada waktunya,
maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dan jika mereka ber'azam (bertetap hati untuk) talak dengan tidak
kembali pada waktunya, ia menghendaki masa menunggu padanya,
maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Ibn Arabi: “inilah kemungkinan yang sama, dan karena samanya
para sahabat diam mengenainya.
Saya katakan jika kemungkinan itu sama maka pendapat ulama
Kufah lebih kuat, dengan analogi pada yang diberi masa menunggu
dengan bulan dan suci, karena itu semua masa yang dibuat Allah
swt, lalu dengan berakhirnya maka berakhir ishmah, dan dijelaskan
tanpa perselisihan, dan bagi suaminya tak ada jalan padanya
kecuali dengan izinnya, maka begitu juga ila, sehingga seandainya
ia lupa kembali dan berakhir masa, maka terjadilah cerai, Allahlah
yang lebih tahu.
24. firmanNya: قلطلا اىهزع ىإو dalil atas bahwasannya hamba
sahaya sebab sumpah kepemilikan padanya tidak ada ila, karena
baginya tak ada cerai, allahlah yang lebih tahu.
firmnNya yang maha tinggi
¬e·³^U·C÷©^¯-4Ò ¬;¯+4O4¨4C
O})_´O¬¼^Ò) ·O·1ÞUÒ¦ ¡7¼ÒNO¬~ _ ºº4Ò Og4·©
O}+¤O± pÒ¡ =};©+'¯4C 4` 4-ÞUE· +.- EO)×
O})_g`~4Þ¯OÒ¡ p)³ O}7 O}g`u·NC *.)
g¬¯O4O^¯-4Ò @O´=E- _ O}×g+©·¯ON¬+4Ò
O-EOÒ¡ O}g-g¢14O) O)× Elg¯·O up)³
W-¼Ò÷1-4OÒ¡ w·ÞU;)³ _ O}+¤O±4Ò Nu1g`
Og~-.- O}jg¯OÞU4N ´Ò^Ou¬O^·¬) _
´·E_@´OUg¯4Ò O}jg¯OÞU4N ¬OE_4OE1 ¯
+.-4Ò NOCjG4N N®7´¯EO ^ggg÷
firmanNya: “Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri
(menunggu) tiga kali quru'” mengenainya ada lima permasalahan:
1. firmanNya: dan mereka (istri-istri) yang dicerai saat allah
menuturkan ilaa dan terkadang cerai itu terjadi padanya maka Dia
menjelaskan hukum perempuan setelah cerai.
Dalam kitab Abu Daud dan an Nasa‟iy dari ibn Abas ia berkata
mengenai firman Allah yang maha tinggi: “Wanita-wanita yang
ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'”
ayat, dan itu bahwa seseorang jika ia mencerai istrinya maka ia
yang paling berhak padanya sekalipun ia mencerainya tiga kali, lalu
itu dihapus dan Dia berfirman: "نبحزم قلطنا" cerai itu dua kali.
Kata “mereka yang dicerai” kata umum, tapi yang dimaksud khusus
pada yang sudah disetubuhi, dan dikecualikan yang dicerai sebelum
disetubuhi dengan ayat (dalam surat) al ahzab: “maka tak ada hak
iddah yang kamu hitung untukmu yang wajib atas mereka (para
istri) [49] berdasarkan yang akan tiba, dan begitu juga yang
sedang mengandung dengan firmanNya:”Dan perempuan-
perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai
mereka melahirkan kandungannya...” [at thalaq: 4]
Yang dimaksud dengan “Aqra” adalah pembersihan, berbeda
dengan masa menunggu yang ditinggal wafat yang merupakan
ibadah. Allah menjadikan iddh anak kecil yang belum haid dan
orang dewasa yang sudah monopous berdasarkan yang akan
datang.
Satu kaum mengatakan: “bahwa keumuman dalam cerai mencakup
mereka kemudian dihapus, dan itu lemah, ayat itu hanyalah
mengenai yang haid saja, dan itu kebiasaan perempuan, dan
padanya sebagian besar perempuan.
2. firmanNya yang maha tinggi: هصبزخي menunggu berdasarkan yang
sudah dikemukakan.
Ini berita, tapi yang dimaksud perintah; seperti firmanNya: 233.
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya [al Baqarah:233]
dan “seseorang mengumpulkan pakaiannya”, “cukup bagimu satu
dirham” yaitu kamu harus cukup dengan satu dirham; ini adalah
ungkapan ahli bahasa tanpa ada perselisihan diantara mereka
dalam hal yang dituturkan (oleh) ibn asy syajariy.
Ibn Arabi: “ini salah, itu hanyalah berita mengenai hukum syara‟;
maka jika ditemukan yag dicerai tak menunggu maka itu tak
termasuk syara‟, dan tak mesti karena hal itu adanya berita Allah
yang maha tinggi berserbrangan denga pemberi beritanya. Katanya
maknanya hendaknya mereka menunggu, lalu lam dibuang.

3. Mayoritas orang membaca: ٍ ءوُ ز
ُ
ل berdasarkan wazan لىٌ ع
ُ
ف yang jadi
lamnya adalah hamzah, diriwayatkan dari nafi‟
ٍ
وُ ز
ُ
ل dengan kasrah
huruf wau yang ditasydidkan tanpa hamzah, al hasan membaca:

ٍ
وْ زَل ٌ ٌdengan fathah huruf qaf dan sukun huruf ra serta tanwin.
Kata ءوُ ز
ُ
ل bentuk jamak kata ؤُ ز
ْ
لا dan ُ ءا َ ز
ْ
لأ, bentuk tunggalnya ُ ءْ زَل
dengan dlamah huruf qaf, itu dikatakan al ashmu‟i, Abu zaid
mengatakan dengan fathah huruf qaf. Keduanya mengatakan: ثأزلأ
ةأزمنا kalau ia haid; maka ia itu ئزمم dan ثأزلأ yaitu suci.
Al akhfasy mengatakan: “ ةأزمنا ثأزلأ jika ia menjadi yang punya haid;
maka jika ia haid kamu katakan: ثأزل tanpa alif; dikatakan ةأزمنا
ِ
ثأزل
.هيخضيح وأ
ً
تضيح Dan كخجبح
ْ
ثأزلأ yaitu dekat, dari al Jauhariy. Abu Amr
ibn Ala mengatakan: “dikalangan arab ada yang menamakan haid
itu اءْ زل dan diantara mereka ada yang menamakan suci اءْ زل, dan
diantara mereka ada yang menggabungkan keduanya; maka haid
dan suci dinamakan اءْ زل, itu dituturkan an Nuhas.
4. Ulalma berselisih mengenai ءازلأ, penduduk kufah mengatakan: itu
adalah haidl, dan itu pendapat Umar, Ali, Ibn Masu‟d, Abu Musa,
Mujahid, Qatadah, Ad Dahak, Ikrimah dan as Sudiy.
Penduduk hijaj mengatakan: itu suci, itu adalah pendapat Aisyah,
Ibn Umar, Zaid bin Tsabit, Az Zuhriy, Aban ibn Utsman dan Syafi‟i.
Maka siapapun yang menjadikan اءْ زل sebagai nama bagi haid maka
ia menamainya dengan itu; karena berkumpulnya darah di rahim,
dan siapapun yang menamakannya suci maka karena
berkumpulnya di tubuh, dan yang menegaskan padamu asal dalam
اءْ زل ini adalah waktu; dikatakan: بهئربلو بهئزمن حيزنا جبه yaitu pada
waktunya, penyair mengatakan:

Maka dikatakan haidl memiliki waktu, dan suci memiliki waktu;
karena keduanya kemabali pada waktu yang diketahui, dan Al a‟sya
mengatakan mengenai suci:


Yang lain mengatalakn tentang haidl:

Yaitu bahwa dia itu mencercanya, maka dia memiliki darah seperti
darah haidl.
Satu kaum mengatakan: “itu diambil dari kata ضىحنا ًف ءبمنا ءزل, yaitu
kumpulnya, diantaranya نآزمنا karena berkumpulnya makna, dan
katanya karena huruf-hurufnya yang terkumpul, dan dikatakan: أزل بم

طل ًهس تلبىنا yaitu tak berkumpul pada mulutnya, da Amr ibn Kutsum
mengatakan:

Maka seolah-olah rahim mengumpulkan darah pada waktu haid,
dan tubuh mengumpulkannya pada waktu suci.
Abu amr ibn Abdulbar mengatakan: perkataan yang
mengatakan:”bawa ءزمنا diambil dari perkataan mereka: ًف ءبمنا جيزل
ضىحنا; bukan apa-apa, karena kata ءزل itu mahmuz, sedangkan ini
tidak mahmuz.
Saya katakan ini yang sahih dengan pengutipan ahli bahasa: al
jauhariy dan yang lainnya. Dan nama untuk air itu adalah يً ز
ِ
ل
dengan kasrah qaf yang maqshur.
Katanya: “ءزمنا, keluar baik dari suci kepada haidl, maupun dari haidl
kepada suci; dan berdasarkan hail ini syafi‟i mengatakan dalam
satu pendapat: ءزمنا pindah dari suci kepada haidl. Dan ia tidak
menganggap keluar dari haidl kepada suci sebagai اءزل. Dan itu
dengan hukum istihqaq mesti اءزل, dan makna firmanNya “Wanita-
wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu)
tiga kali quru'”yaitu: tiga putaran, tiga kali pindah, sedangkan
yang dicerai tersifati dua kondisi saja, terkadang pindah dari suci
kepada haidl, dan terkadang dari haidl kepada suci, maka makna
ungkapan lurur dalam penunjukannya pada suci dan haid secara
serempak, maka itu menjadi kata benda yang ambigu.
Atau dikatakan: jka tetap bahwa qaru itu perpindahan, maka
keluarnya dari haidl kepada suci sama sekali tak dimaksud oleh
ayat, karena itulah cerai pada waktu haidl bukan cerai yang sunnah
serta diperintah, itulah cerai karena iddah; karena cerai untuk iddah
selama dalam suci, dan hal itu menunjukan pada adanya qaru
diambil dari perpindahan.
Jika cerai dalam keadaan suci itu sunnah, maka perkiraan
ungkapan; maka iddahnya tiga kali perpindahan, permulaannya
perpindahan dari suci yang padanya terjadi cerai dan yang
merupakan perpindahan dari haidl kepada suci tidak dijadikan satu
qar‟u; karena bahasa tidak menunjuk padanya, tapi kita
mengetahui dengan dalil yang lain bahwa Allah swt. Tak
menghendaki perpindahan dari haidl kepada suci, lalu apabila salah
satunya keluar dari yang dimaksud, maka tersisa yang lainnya –
yaitu perpindahan dari suci kepada haidl –menjadi yang
dikehendaki, maka berdasarkan ini iddahnya tiga kali perpindahan:
yang pertamanya suci, dan berdasarkan ini mungkin
menyempurnakan tiga qaru yang sempurna, jika cerai terjadi pada
kondisi suci, dan itu tidak dimungkan pada pada majaz dengan cara
apapun.
Al kiya at tabariy mengatakan: “ini pembahasan yang sangat dalam
mengenai puncak pengarahan pada madzhab syafi‟i, dan dalam hal
itu mungkin disebutkan sesuatu yang pemahamannya jauh dari
kedalaman hukum-hukum syariat, dan itu bahwa perpindahan dari
suci kepada haidl dijadikan satu qaru hanyalah untuk
penunjukannya pada kosongnya rahim, karena yang sedang hamil
biasanya tidak haidl; maka haidlnya tanda atas rahimnya yang
kosong, sedangkan perpindahan dari haidl kepada suci
bersebrangan dengannya, karena yang haidl boleh jadi hamil di
penghujung haidlnya, dan bila terus menerus masa hamil dan anak
menguat maka darahnya terhenti, karena itulah bangsa arab
merasa terpuji sebab istri-istrinya yang hamil pada kondisi suci,
Aisah memuji rasulullah saw.dengan ungkapan penyair:

Yaitu bahwa ibunya tidak menghamilkannya pada sesisa haidlnya.
Karena inilah bagi ulama dan ahli bahasa tak berhak menakwilkan
kata al qaru.
Mereka mengatakan: اءز
ُ
ل ةأزمنا ثأزل: yaitu jika ia haidl atau suci, dan
ثأزل juga: jika dia hamil.
Mereka sepakat bahwa ءزمنا itu waktu, maka apabila kamu katakan:
“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri
(menunggu) tiga kali waktu”, ayat menjadi ditafsirkan dalam
hitungan yang dimungkinkan pada yang dihitung, maka mesti
mencari penjelasan untuk yang dihitung dari yang lainnya, maka
dalil kita firmanNya yang maha tinggi: :قلطنا[ ههحدعن ههىمهطف 1 ] dan tak
ada perselisishan bahwa diperintah cerai pada waktu suci, maka itu
mesti menjadi yang muktabar dalam iddah, karena Dia berfirman:
ههحدعن ههىمهطفyaitu waktu yang kamu hitung, kemudian Dia berfirman:
:قلطنا[ ةدعنا اىصحأو 1 ] Dia menghendaki yag dihitung orang yand dicerai,
yaitu suci yang pada waktu itu ia dicerai; Beliau saw. Bersabda
pada umar: suruhlah dia dan hendaknya ia merujuknya, kemudian
pertahankanlah hingga suci, kemudian haid, kemudian suci, maka
itulah iddah yang allah perintahkan perempuan dicerai padanya”.
Dikeluarkan oleh Muslim dan yang lainnya.
Inilah teks mengenai bahwa waktu suci adalah yang dinamai iddah,
yaitu yang pada waktu tersebut perempuan dicerai. Dan tak ada
pereselisihan bahwa yang mencerai dalam keadaan haidl tidak
terhitung iddah dengan haidl itu, dan yang mencerai pada saat suci
maka itu terhitung dengan suci itu menurut mayoritasa ulama,
karena hal itulebih utama.
Abu bakar ibn abdurahman mengatakan: “ kami tak menemukan
seorangpun dari pakar fikh kita kecuali mengatakan dengan
perkataan aisyah mengenai bahwa qaru itu suci.
Maka jika seseorang mencerai dalam keadaan suci yang ia tidak
mensetubuhinya pada saat itu, ia menghitung dengan yang tersisa
darinya sekalipun sesaat dan sekejap, kemudian ia menghadapi suci
yang kedua setelah haid yang pertama, kemudian yang ketiga
setelah haid yang kedua, maka jika ia melihat darah haidl yang
ketiga maka ia halal bagi suaminya, dan keluar dari masa iddah.
Lalu jika orang yang mencerai mencerai pada masa suci yang ia
telah menjamahnya pada masa tersebut, maka mesti baginya cerai
dan ia telah menyakiti, dan hitunglah dengan suci tersebut yang
tersisa.
Az zuhri mengatakan mengenai perempuan yang dicerai pada
sebagian masa sucinya: ia dihitung dengan tiga kali suci selain sisa
suci tersebut. Abu umar mengatakan: “saya tak mengetahui
seorangpun yang mengatakan al aqra itu suci; ia mengatakan ini
pada selain Ibn Syihab az zuhriy; karena ia mengatakan: “ia
menghanguskan suci yang padanya ia dicerai, kemudian
menghitung dengan tiga kali suci; karena Allah azza wa jalla
berfirman: “tiga quru‟”.
Saya katakan: berdasarkan pendapatnya perempuan yang dicerai
tidak halal sehingga ia memasuki haidl yang ke empat, sedangkan
pendapat ibn al qasim, malik dan mayoritas pengikutnya, syafi‟i,
dan ulama madinah mengatakan: “bahwa perempuan yang dicerai
apabila ia melihat tetesan darah haidl yang pertama dari haidl yang
ketiga ia keluar dari ikatan, dan itu madzhab zaid ibn tsabit, aisyah,
dan ibn umar, dan dengan itu ahmad ibn hanbal berpendapat, dan
pada hal itulah daud ibn ali dan pengikutnya bermadzhab.
Argument bagi az zuhriy bahwa nabi saw mengizinkan cerai yang
suci tanpa jima, dan ia tidak mengatakan awal dan akhirnya.
Asyhab mengatakan: ishmah dan waris tak terputus sehingga nyata
bahwa itu darah haidl; agar tidak menjadi darah penolakan dari
darah haidl.
Ulama kufah berargumen dengan sabda beliau saw pada fatimah
binti Abi Hubaisy saat darah berhenti: “itu hanyalah keringat,
perhatikanlah, jika datang qaru mu kamu jangan salat, dan jika
qaru mu berlalu bersucilah, kemudian salatlah dari satu qaru
kepada yang lainnya”. Dia yang maha tinggi berfirman: Dan
perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-
perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), Maka masa iddah
mereka adalah tiga bulan; [ath-thalaq:4].
Dia menjadikan yang monopause ditempat yang haid; maka itu
menunjukan bahwa itu adalah iddah, dan menjadikan pengganti
darinya bulan jika itu tidak ada. Umar berkata dihadapan para
sahabat:iddahnya hamba sahaya dua kali haid, setengah iddah
perempuan merdeka, dan seandainya saya bisa untuk
menjadikannya satu setengah haidl tentu saya lakukan; dan tak
seorangpun mengingkarinya. Dan itu menunjukan bahwa itu
kesepakatan dari mereka; itulah pendapat sepuluh sahabat,
diantara mereka empat khalifah, cukuplah bagimu yang mereka
katakan! Dan firmanNya yang maha tinggi:

Menunjukan pada hal itu; karena makna menunggu tiga quru‟, ia
menghendaki sempurna, dan ini tak mungkin kecuali berdasarkan
ungkapan kita bahwa al aqra itu haid; karena yang mengatakan:
„bahwa itu suci membolehkan untuk menghitung dengan dua kali
setengah suci; karena bahwasannya jika dia mencerai pada saat
suci ia (perempuan) menghitung padanya dengan sesisa suci
tersebut sebagai satu quru.
Sedangkan menurut kami ia memulai dari awal haidl hingga nama
itu benar, maka jika seseorang mencerai istrinya dalam keadaan
suci yang ia tidak mensetubuhinya pada saat itu, ia menghadapi
satu haid, kemudian satau haidl, kemudian satua haidl; jika ia
bersuci dari yang ketiga ia keluar dari masa iddah.
Saya katakan, „ini ditolak oleh firmanNya yang maha tinggi:

Ia mengukuhkan nya pada “delapan hari” karena hari itu mudzakar,
begitu juga quru, maka itu menunjukan bahwa itulah yang
dimaksud.
Abu hanifah sejalan dengan kami bahwa jika ia (perempuan) dicerai
dalam keadaan haidl sesungguhnya ia tida menghitung denga haidl
saat ia dicerai, dan(juga) bukan dengan suci yang setelahnya, tapi
ia haya menghitung dengan haidl setelah suci tersebut.
Sedangkan menurut kami ia menghitung suci tersebut, berdasarkan
yang telah kami jelaskan.
Ahli bahasa membolehkan mereka meredaksikan dari sebagian
dengan kata jamak; seperti Dia berfirman:
, yang dimaksud dua bulan
setengah, begitu juga firmanNya: tiga kali quru”. Allahlah yang
lebih tahu.
Sebagian yang mengatakan dengan haidl mengatakan: “jika ia suci
dari yang ketiga, iddahnya habis setelah mandi, dan rujuk batal. Itu
dikatakn Said ibn jubair, thawur, ibn syubrumah dan al auza‟iy.
Seorang kawan mengatakan: “jika seorang perempuan berlalu
(terlewat) mandi dua puluh tahun; maka suaminya berhak merujuk
selama belum mandi. Diriwayatkan dari ishaq ibn rahawaih bahwa
ia berkata: “jika perempuan tha‟ana pada haid yang ketiga, lenyap
dan terputus rujuknya suami, hanya saja bahwa tak halal baginya
untuk nikah sehingga ia mandi dari haidnya. Senada itu
diriwayatkan dari Ibn Abas; itu pendapat yang lemah, berdasarkan
dalil firman Allah yang maha tinggi:

Berdasarkan yang akan tiba.
Sedangkan yang dituturkan syafi‟i bahwa substansi perpindahan
dari suci kepada haidl dinama quru; maka faidahnya meringankan
iddah bagi perempuan, dan hal itu apabila ia mencerai istri pada
penghujung waktu sucinya lalu memasuki haid maka ia
menghitungnya satu quru, dan dengan substansi perpindahan dari
suci yang ketiga terputuslah ishmah dan ia hala. Allahlah yang lebih
tahu.
5. Mayoritas ulama berpendapat bahwa iddah hamba sahaya yang
sedang haidl dari cerai suaminya dua kali haidl.
Diriwayatkan dari ibn sirin bahwa ia mengatakan: “saya tak melihat
iddah hamba sahaya kecuali seperti iddah perempuan merdeka,
hanya saja sudah berlalu sunah mengenai itu, maka sesungguhnya
sunnah lebih layak untuk diikuti.
Alasham abdurahman ibn kisan, daud ibn ali dan sekelompok
pengikut dzahir mengatakan: “bahwa ayat-ayat mengenai idah
cerai dan wafat dengan beberapa bulan dan quru itu umu pada hak
amat dan perempuan merdeka; maka iddah perempuan merdeka
dan hamba sahaya sama.
Ulama mayoritas berargumen dengan sabda belau saw. “cerai
hamba sahaya dengan dua cerai, dan iddahnya dengan dua haid”.
Diriwayatkan oleh ibn jaraij dari Mudzahir ibn aslam,dari bapaknya,
dari al qasim ibn muhamad, dari aisyah ia mengatakan: rasulullah
saw. Bersabda: “cerai hamba sahaya denga dua tala dan quruny
dua kali haidl” maka dihubungkan padanya cerai dan idah
serempak; hanya saja mudzahir ibn aslam menyendiri dengan hadis
ini dan dia itu lemah. Diriwayatkan dari ibn Umar: sipapaun
diantara keduanya itu budak cerainya berkurang; sekelompok
ulama berpendapat denganya.
firmanNya: “tidak boleh mereka Menyembunyikan apa yang
diciptakan Allah dalam rahimnya” mengenainya ada dua
permasalahan:
1. firmanNya: “tidak boleh mereka Menyembunyikan apa yang
diciptakan Allah dalam rahimnya” yaitu dari haidl; itu dikatakan
oeh ikrimah, az zuhriy dan an nakha‟i. Katanya hamil; itu dikatakan
oleh Umar dan ibn abas.
Mujahid mengatakan: serempak haid dan hamil: ini berdasarkan
bahwa yang hamil itu haid.
Makna yang dimaksud dari ayat bahwasannya manakala berpuatar
urusan iddah pada haidl dan suci dan tidak ada yang menelaah
pada keduanya kecuali dari pihak perempuan, maka pendapat yang
dijadikan adalah pendapatnya jika ia mengaku berhenti iddah atau
tidaknya, dan jadikanlah mereka itu yang amanah akan hal
tersebut; itulah tuntutan firmanNya yang maha tinggi: “tidak
boleh mereka Menyembunyikan apa yang diciptakan Allah
dalam rahimnya”. Sulaiman ibn yasar mengatakan: “kita tidak
diperintah untuk membuka perempuan lalu melihat farji mereka,
tetapi itu diwakilkan kepada mereka karena mereka amanah”.
Makna larangan dari menyembunyikan adalah laarngan
memadlaratkan suami dan melenyapkan haknya, jika perempuan
yang dicerai mengatakaan: “saya haid; padahal dia tidak haid, ia
telah melenyapkan haknya untuk rujuk, dan jika ia mengatakan:
saya tidak haid; padahal ia haid, maka ia telah mewajibkan nafakah
yang (sejatinya) tak wajib baginya maka ia telah
memadlararkannya. Atau ia bermaksud membohongkannya dalam
meniadakan haid agar ia tidak dirujuk hingga iddah habis dan syara‟
memutuskan haknya, dan begitu juga yang hamil menyembunyikan
hamilnya, agar ia memutuskan haknya dari rujuk. Qatadah
mengatakan: “kebiasaan mereka (istri kafir quraisy) di jaman
jahiliyah menyembunyikan kehamilan agar mereka dapa
melekatkan anak kepada suami yang baru, maka mengenai hal itu
turun ayat ini.
Dihikayatkan bahwa seseorang dar Asyja‟ mendatangi rasulullah
saw lalu ia berkata: “wahai rasulullah, saya telah mencerai istriku
padahal ia itu hamil, dan saya tak tenang ia menikah, lalu anakku
menjadi milik orang lainl maka Allah menurunkan ayat ini, dan
perempuan itu dikembalikan kepada al asyja‟iy.

2. Ibnul mundzir mengatakan: “setiap yang saya hafal mengenainya
termasuk ahli ilmu mengatakan, „jika perempuan berkata pada
sepuluh hari: saya haidl tiga kali haid dan iddahku habis;
sesungguhnya dia tidak dapat dipercaya dan itu tak diterima
darinya, kecuali ia katakan: saya benar-benar telah menggugurkan
dan bentuknya telah jelas.
Mereka berselisih mengenai masa iddah yang pada masa tersebut
perempuan dapat dipercaya; malik mengatakan: jika ia
mengatakan: iddahku telah berlalu pada sepanjang habis iddah
yang ada pada semisalnya; ucapannya diterima; tapi jika ia
memberitahukan iddah pada masa jarang adanya; ada dua
pendapat: dalam al mudawawanah ia mengatakan: jika
mengatakan: “saya haid tiga kali haid dalam sebulan, ia dibenarkan
jika ia dibenarkan perempua, dengan pendapat itu Syuraih
mengatakan, ali ibn abi thalib berkata padanya: “qaluuna. Yaitu:
kamu benar dan bagus. Dan ia berkata dalam kitab muhamad:
jangan dipercaya kecuali pada satu setengah bulan. Dan senada itu
pendapat Abu Tsaur; abu tsaur mengatakan: “yang paling sedikit
mengenai hal itu pada empat puluh tujuh hari, dan hal itu bahwa
minimal masa suci lima belas hari, dan minimal haidl sehari. An
Nu‟man mengatakan: jangan dipercaya pada yang kurang dari
enam puluh hari; dan dengan itulah Syafi‟i berpendapat.
firmanNya yang maha tinggi: “jika mereka beriman kepada
Allah dan hari akhirat.” Ini ancaman yang besar lagi keras untuk
menegaskan haramnya menyembunyikan, dan mewajibkan
pelaksanaan amanah dalam memberitahukan tentang rahim dengan
kenyataan yang sebenarnya, yaitu: maka jalan yang diberi amanah
agar tidak menyembunyikan kebenaran; firmanNya “jika mereka
beriman pada Allah” bukan berdasarkan bahwa ia membolehkan
bagi yang tak beriman menyembunyikan; karena hal itu tak halal
bagi yang diberi amanah, itu seperti ungkapanmu: „jika engkau
saudaraku maka engkau jangan menganiayaku, yaitu: maka
seyogyanya keimanan kepadanya زجحي نأmu; karena ini tidak
termasuk pekerjaan ahli iman.
firmanNya: “dan suami-suaminya berhak merujukinya”
mengenainya ada sebelas permasalahan:
1. FirmanNya:)ههخنىعبو( kata تنىعبنا bentuk jamak kata معبنا, yatu suami;
dinamakan لعب karena tingginya diatas istri sebab keistrian yang
dimilikinya; diantaranya firmanNya yang maha tinggi: )لعب نىعدحأ(
:ثبفصنا[ 122 ] yaitu: tuhan, karena tingginya kerububiyahan dalam
masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki
ishlah. dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang
dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. akan tetapi
Para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada
isterinya[143]. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
firmnNya yang maha tinggi

i
Sunan Al Turmudziy 2979
ii
Sahih Al Bukhari 4526
iii
Ucapan fa akhadztu yauman, al Hafidz Ibn Hajar dalam Al Fath 8/189 mengatakan: “yaiut: saya memegang
mushaf sedangkan ia membaca dihafal”

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful