Fatwa Ekonomi Syari’ah Di Indonesia Agustianto (Penulis adalah Sekjen DPP IAEI dan Dosen Pascasarjana Ekonomi dan

Keuangan Syariah Universitas Indonesia Jakarta) http://tazkiaonline.com/artikel.php3?sid=596 Pendahuluan Perkembangan ekonomi syari’ah di Indonesia demikian cepat, khususnya perbankan, asuransi dan pasar modal. Jika pada tahun 1990-an jumlah kantor layanan perbankan syariah masih belasan, maka tahun 2000an, jumlah kantor pelayanan lembaga keuangan syariah itu melebihi enam ratusan yang tersebar di seluruh Indonesia. Asset perbankan syari’ah ketika itu belum mencapai Rp 1 triliun, maka saat ini assetnya lebih dari Rp 20 triliun. Lembaga asuransi syariah pada tahun 1994 hanya dua buah yakni Asuransi Takaful Keluarga dan Takaful Umum, kini telah berjumlah 34 lembaga asuransi syariah (Data AASI 2006). Demikian pula obligasi syariah tumbuh pesat mengimbangi asuransi dan perbankan syariah. Para praktisi ekonomi syari’ah, masyarakat dan pemerintah (regulator) membutuhkan fatwafatwa syariah dari lembaga ulama (MUI) berkaitan dengan praktek dan produk di lembagalembaga keuangan syariah tersebut. Perkembangan lembaga keuangan syariah yang demikian cepat harus diimbangi dengan fatwa-fatwa hukum syari’ah yang valid dan akurat, agar seluruh produknya memiliki landasan yang kuat secara syari’ah. Untuk itulah Dewan Syari’ah Nasional (DSN) dilahirkan pada tahun 1999 sebagai bagian dari Majlis Ulama Indonesia. Kedudukan Fatwa Fatwa merupakan salah satu institusi dalam hukum Islam untuk memberikan jawaban dan solusi terhadap problem yang dihadapi umat. Bahkan umat Islam pada umumnya menjadikan fatwa sebagai rujukan di dalam bersikap dan bertingkah laku. Sebab posisi fatwa di kalangan masyarakat umum, laksana dalil di kalangan para mujtahid (Al-Fatwa fi Haqqil ’Ami kal Adillah fi Haqqil Mujtahid). Artinya, Kedudukan fatwa bagi orang kebanyakan, seperti dalil bagi mujtahid. Kehadiran fatwa-fatwa ini menjadi aspek organik dari bangunan ekonomi islami yang tengah ditata/dikembangkan, sekaligus merupakan alat ukur bagi kemajuan ekonomi syari’ah di Indonesia. Fatwa ekonomi syari’ah yang telah hadir itu secara teknis menyuguhkan model pengembangan bahkan pembaharuan fiqh muamalah maliyah. (fiqh ekonomi) Secara fungsional, fatwa memiliki fungsi tabyin dan tawjih. Tabyin artinya menjelaskan hukum yang merupakan regulasi praksis bagi lembaga keuangan, khususnya yang diminta praktisi ekonomi syariah ke DSN dan taujih, yakni memberikan guidance (petunjuk) serta pencerahan kepada masyarakat luas tentang norma ekonomi syari’ah. Memang dalam kajian ushul fiqh, kedudukan fatwa hanya mengikat bagi orang yang meminta fatwa dan yang memberi fatwa. Namun dalam konteks ini, teori itu tidak sepenuhnya bisa diterima, karena konteks, sifat, dan karakter fatwa saat ini telah berkembang dan berbeda dengan fatwa klasik. Teori lama tentang fatwa harus direformasi dan diperpaharui sesuai dengan perkembangan dan proses terbentuknya fatwa. Maka teori fatwa hanya mengikat mustaft (orang yang minta fatwa) tidak relevan untuk fatwa DSN. Fatwa ekonomi syariah DSN saat ini tidak hanya mengikat bagi praktisi lembaga ekonomi syariah, tetapi juga bagi masyarakat Islam Indonesia, apalagi fatwa-fatwa itu kini telah dipositivisasi melalui Peraturan Bank Indonesia (PBI). Bahkan DPR baru-baru ini, telah mengamandemen UU No 7/1989 tentang Perdilan Agama yang secara tegas memasukkan masalah ekonomi syariah sebagai wewenang Peradilan Agama. Fatwa-fatwa ekonomi syari’ah saat di Indonesia dikeluarkan melalui proses dan formula fatwa kolektif, koneksitas dan melembaga yang disebut ijtihad jama’iy (ijtihad ulama secara kolektif), bukan ijtihad fardi (individu), Validitas jama’iy dan fardi jelas sangat berbeda. Ijtihad jama’iy telah mendekati ijma’. Seandainya hanya negara Indonesia yang ada di dunia ini, pastilah kesepakatan para ahli dan ulama Indonesia itu disebut Ijma’. Fatwa dalam definisi klasik bersifat opsional ”ikhtiyariah” (pilihan yang tidak mengikat secara legal, meskipun mengikat secara moral bagi mustafti (pihak yang meminta fatwa), sedang bagi selain mustafti bersifat ”i’lamiyah” atau informatif yang lebih dari sekedar wacana. Mereka terbuka untuk mengambil fatwa yang sama atau meminta fatwa kepada mufti/seorang ahli yang lain. Jika ada lebih dari satu fatwa mengenai satu masalah yang sama maka ummat boleh memilih mana yang lebih memberikan qana’ah (penerimaan/kepuasan) secara argumentatif atau secara batin. Sifat fatwa yang demikian membedakannya dari suatu putusan peradilan (qadha) yang mempunyai kekuatan hukum yang mengikat bagi para pihak yang berperkara. Namun, keberadaan fatwa ekonomi syari’ah yang dikeluarkan DSN di zaman kontemporer ini, berbeda dengan proses fatwa di zaman klasik yang cendrung individual atau lembaga parsial. Otoritas fatwa tentang ekonomi syari’ah di Indonesia, berada dibawah Dewan Syari’ah Nasional Majlis Ulama Indonesia. Komposisi anggota plenonya terdiri dari para ahli syari’ah dan ahli ekonomi/keuangan yang mempunyai wawasan syari’ah. Dalam membahas masalah-masalah yang hendak dikeluarkan fatwanya, Dewan Syari’ah Nasional (DSN) melibatkan pula lembaga mitra seperti Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia dan Biro Syari’ah dari Bank Indonesia. Fatwa dengan definisi klasik mengalami pengembangan dan penguatan posisi dalam fatwa kontemporer yang melembaga dan kolektif di Indonesia. Baik yang dikeluarkan oleh Komisi Fatwa MUI untuk masalah keagamaan dan kemasyarakatan secara umum, maupun yang dikeluarkan

memelihara warisan intelektual klasik yang masih relevan dan membiarkan terus praktek yang telah ada di zaman modern. Prinsip ini tidak boleh dilanggar. dsb. karena bentuk dan pola transaksi yang berkembang di era modern ini demikian cepat. bebas produk haram dan praktek akad fasid/batil. fatwa DSN MUI lebih komplet muatannya. demikian pula mengikat masyarakat yang berinteraksi dengan LKS. Apakah kemaslahatan dalam tataran teoritis mendapatkan pembenaran dalam penerapannya di lapangan. karena telah menjadi aksioma dalam fiqh muamalah. antara lain. obligasi syariah mudharabah. Dewan Syariah Nasional. nasabah. Al-Ashlu fil muamalah al-ibahah hatta yadullad dalilu ’ala at-tahrim ( Pada dasarnya semua praktek muamalah boleh. Konsep maslahah dalam muamalah menjadi prinsip yang paling penting. berupa uraian ilmiyah singkat yang mengantarkan pada kesimpulan-kesimpulan isi fatwa. baik maslahat bagi lembaga syariah. pedoman umum penerapan prinsip syariah di pasar modal. sertifikat wadiah Bank Indoensia. Saran Struktur dan format fatwa sudah memadai dengan rumusan yang simple. murabahah. pahala. tabungan. Produk Fatwa DSN Sejak berdirnya tahun 1999. sistem distribusi hasil usaha dalam lembaga keuangan syari’ah. safe deposit box. belum bersifat ”ifadah ’ilmiah” yakni memberikan kegunaan pencerahan wawasan keilmuan. training atau seminar. Padahal telah dikirim ke MUI Propinsi. harus diadakan muraja’ah maidaniyah (pencocokan di lapangan) setelah berjalan waktu yang cukup dalam implementasi fatwa ekonomi. seperti. pencadangan penghapusan aktiva produktiv dalam LKS. . fatwa tentang giro. potongan pelunasan dalam murabahah. investasi reksadana syariah. Kemaslahatannya tidak hanya diakui secara tanzhiriyah (perhitungan teoritis) tetapi juga secara tajribiyah (pengalaman empirik di lapangan). selama tidak ada petunjuk yang mengharamkannya. pedoman umum asuransi syariah. raha (gadai). maka di situ ada syariah Allah”. sehingga wawasannya menjadi luas dan mampu memahami bahkan menjawab persoalan kekinian secara valid dan akurat. tidak maysir (spekulatif). Dalam ushul fiqh telah populer kaedah. Al-muhafazah bil qadim ash-sholih wal akhz bil jadid aslah. yaitu. sanksi atas nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran. Oleh karena itu. Letter of Credit (LC) impor syariah. khususnya secara moral. kartu kredit. Fatwa yang dikeluarkan oleh Komisi Fatwa MUI menjadi rujukan yang berlaku umum serta mengikat bagi ummat Islam di Indonesia.oleh DSN MUI untuk fatwa tentang masalah ekonomi syari’ah khususnya Lembaga Ekonomi Syari’ah. syorga dan neraka. prinsip bebas riba. sehingga kurang memberikan bekalan kepada kalangan di luar para ulama ekonomi syariah. jual beli salam. ijarah muntahiyah bit tamlik. istishna’. LC untuk export. kecuali ada dalil yang mengharamkannya). pemerintah (regulator) maupun masyarakat luas. diskon dalam murabahah. bebas gharar (ketidak-jelasan atau ketidakpastian) dan tadlis. telah mengeluarkan sedikitnya 47 fatwa tentang ekonomi syariah. tapi kajian Islam yang komprehensif. Watak maslahat syar’iyah antara lain berpihak kepada semua pihak atau berlaku umum. Kaedah dan Prinsip Fiqh muamalah klasik yang ada tidak sepenuhnya relevan lagi diterapkan. Namun format fatwa DSN-MUI hanya terbatas memberikan penentuan status hukum masalah yang difatwakan. ”Di mana ada mashlalah. pemikiran teologi. agar umat mengetahui hukumhukum ekonomi syariah. pembiayaan rekening koran syariah. Pertama. Formulasi fatwa juga berpegang pada prinsip maslahah atau ”ashlahiyah” (mana yang maslahat atau lebih maslahat untuk dijadikan opsi yang difatwakan. dalam konteks ini diterapkan dua kaedah. pembiayaan pengurusan haji di LKS. obligasi syariah. hawalah. ijarah. Fatwa ini seharusnya disebarkan oleh MUI kepada masyarakat. jual beli istisna’ paralel. Sosio-ekonomi dan bisnis masyarakat sudah jauh berubah dibanding kondisi di masa lampau. musyarakah. sertifikat investasi mudharabah (IMA). mudharabah. wakalah. uang muka dalam murabahah. Karena itu disarankan agar setiap fatwa disertai lampirannya. Jika dibandingkan dengan format fatwa mufti Mesir misalnya. al-qaradh. kafalah. asuransi haji. Karena itu untuk menguji shalahiyah (validitas) fatwa. obligasi syariah ijarah. jual beli mata uang. Jangan hanya berkutat dalam persoalan kajian ibadah. Selain itu para ulama berpegang kepada prinsip-prinsip utama muamalah. Sedang fatwa DSN menjadi rujukan yang mengikat bagi lembaga-lembaga keuangan syari’ah (LKS) yang ada di tanah air. Para ulama harus meningkatkan pengetahuan ekonomi syariah kontemporer melalui workshop. Pasar Uang antar Bank Syariah. rahn emas. pengalihan hutang. Kedua. Sangat disayangkan pengursu MUI kabupaten kota pun kadang tidak memiliki buku fatwa ekonomi syariah MUI tersebut.

Yang tidak bisa ditoleransi adalah jika tahkim (penghakiman) itu dipaksakan kepada masyarakat luas sementara status hukumnya sendiri masih tidak mutlak keharamannya. ketika sekarang bank syariah sudah semakin banyak. Tetapi kenyataan yang demikian ini sebenarnya tidak mengagetkan. sebab jika fatwa keharaman bunga bank tersebut dikeluarkan dalam situasi di mana sarana perbankan syariah belum tersedia.Mengkaji Fatwa (Bisnis) MUI Oleh: Faiz Manshur (Bisnis Indonesia) Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa keharaman bunga bank konvensional. sungguh aneh jika keinginan kalangan perbankan syariah ngotot mengatakan sistem bagi hasil sebagai representasi hukum Islam.’ Ada baiknya jika MUI kini berpikir lebih mendasar mengenai ’halal-haramnya’ perekonomian kapitalisme neo-liberal. dan keterbelakangan adalah sesuatu hal yang sangat penting untuk dipersoalkan. alasan MUI di atas hanya tepat dijadikan tahkim (penghakiman) ketika bunga bank adalah riba. tapi ada pula yang mengatakan hukumnya subhat. Sebab. Karena itu. Selain itu selama dalam setahun uang nasabah tersimpan. Bagi mereka yang mengharamkan akan mencari-cari legitimasi keharaman. Kedua. untuk soal ini penulis memilih sikap toleran kepada mereka yang menghalalkan bunga. tidak memiliki ketetapan hukum. terutama kalangan perbankan syariah. Dengan demikian pertanyaannya. Dua organisasi massa Islam di Indonesia. maka dengan sendirinya visi dan misi asli ajaran itu terdistorsi. Kalau pun perbankan punya kewajiban membagi hasil dalam setiap tahun. Bank Indonesia. Tidak mustahil jika para nasabah bank konvensional ini akan tertekan secara psikologis karena dianggap memakan riba. Sengaja penulis tidak memilih masuk dalam perdebatan studi hukum halal-haramnya bunga bank. maka MUI beranggapan fatwa sudah saatnya dikeluarkan. dll. tetapi ternyata pengelolaannya tetap tidak beranjak dari sistem keuangan kapitalisme yang diharamkan. Demikian juga sebaliknya yang menghalalkan. Tetapi. kebodohan. Tapi jika kita mau sedikit jeli. mengapa MUI memilih jalan kontroversi ini sebagai pilihannya? Objek potensial Keberadaan bank syariah itu sendiri masih dikatakan sedikit dibandingkan dengan bank konvensional. bicaralah halal-haram untuk itu semua! . Ma’ruf Amin. Arus dana yang masuk masih diperkirakan hanya 0. karena saat ini umat Islam sudah memiliki alternatif menyimpan uang di perbankan syariah. maka dikhawatirkan akan menimbulkan kekacauan. yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhamadiyah. Ada sebagian yang mengatakan halal karena bunga bank tidak termasuk riba. misalnya. Rasionalitas agama yang ideal menjadi rasionalitas birokrasi yang nota bene adalah mesin ’kepentingan’ manusia-manusia yang berada di dalamnya. Lalu. kejahatan KKN para pejabat negara. maka tidak tertutup kemungkinan para pelaku bisnis perbankan menjadikan umat Islam sebagai objek bisnis potensial. Syariah BRI. Atau mungkin juga mengeluarkan fatwa haramnya kebijakan pemerintah jika menggusur rakyat miskin tanpa memberikan jaminan tempat tinggal. karena bank syariah sekarang dianggap memiliki potensi pasar. Demikian pula. Pertama. Mengenai desakan kalangan perbankan syariah yang diklaim merepresentasikan umat Islam oleh MUI juga menjadi satu alasan yang kuat. di pihak lain MUI punya ’dalil’ untuk melegitimasi para peminta fatwa itu. perbankan tidak terbebani membayar bunga kepada para nasabah yang menabung. fatwa itu dikeluarkan sebagai penegas terhadap fatwa keharaman bunga bank yang pernah dikeluarkan MUI pada 2000.44% dari keseluruhan arus dana perbankan konvensional di Indonesia. dan ulama-ulama yang berada di MUI. dengan sistem bagi hasil. fatwa itu keluar juga karena desakan dari masyarakat. Pertimbangan itu sekilas tampak punya logika mendasar. Di satu sisi perbankan syariah dan BI melihat sisi pasar potensial pada umat Islam. atau yang mengharamkannya. biasanya akan cenderung mengarah pada debat kusir. Sebab jika perdebatan memasuki ke arah ini. Ada asumsi bahwa sistem bagi hasil itu sendiri lebih menguntungkan perbankan syariah ketimbang sistem bunga. Ada baiknya jika kompetisi dalam dunia perbankan dibiarkan bebas tanpa harus menakut-nakuti umat Islam dengan cara mengharamkan ’sesuatu yang belum jelas. Sebab bagaimana pun MUI yang notabene ’representasi’ masyarakat muslim memang harus menjadi bagian dari kepentingan umatnya. Di negeri ini berbagai persoalan mendasar seperti ketimpangan sosial-ekonomi. Sebab ketika setiap ajaran agama atau ideologi bersetubuh dengan birokasi negara. dari mana bank syariah (terutama yang kedudukannya di bawah bank konvensional) bisa mengatakan sebagai bank Islam sementara arus uang nasabah dikelola seperti bank konvensional? Karena itu. Karena itu. Sementara kita ketahui status hukum mengenai bunga bank itu sendiri dalam Islam tidak mutlak keharamananya. Karena itu. Dalam konteks inilah kita melihat kepentingan fatwa itu muncul. Ini bisa dilihat di counter bank syariah yang didirikan oleh perbankan konvensional. Ada dua alasan yang mendasari rencana fatwa tersebut. MUI. seperti Bank Syariah Danamon. para karyawan bank konvensional yang mayoritas beragama Islam akan merasakan bagaimana pahitnya menjadi karyawan yang setiap hari bergelut dengan keharaman. dipastikan akan dimanfaatkan oleh perbankan syariah untuk diputar di bank konvensional. ketentuan pembagian hasil itu tidak diketahui secara pasti oleh para nasabahnya. logis jika para kritikus melihat bahwa MUI-dalam soal fatwa ini-lebih mengedepankan kepentingan bisnis ketimbang misi agama. Ada semacam kecocokan kepentingan antara pelaku perbankan syariah. Menurut ketuanya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful