Judul Skripsi: Evaluasi Sistem Manajemen Registrasi Dan Dokumentasi Berdasarkan Standar Direktorat Museum, Departemen Kebudayaan Dan

Pariwisata (Studi Kasus: Museum Batik Yogyakarta)

Title : Evaluation Of Registration And Documentation Management Based On Museum Directorate Standard, Department Of Culture And Tourism (Study Case: Yogyakarta’s Batik Museum)

ABSTRAKSI SKRIPSI

Evaluasi Sistem Manajemen Registrasi Dan Dokumentasi Berdasarkan Standar Direktorat Museum, Departemen Kebudayaan Dan Pariwisata (Studi Kasus: Museum Batik Yogyakarta). Penulis : Tulus Wichaksono Tahun lulus : 2008 Pembimbing : Drs. Djoko Dwiyanto, M.Hum. Topik: Mengetahui keserasian sistem registrasi dan dokumentasi di Museum Batik Yogyakarta yang terletak di Jalan Dr. Sutomo, Yogyakarta dengan sistem yang digunakan oleh Direktorat Museum, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dengan metode evaluasi sehingga nantinya akan memberikan rekomendasi untuk pengembangan museum di masa mendatang. Permasalahan dan tujuan: Permasalahan: 1. Bagaimanakah sistem registrasi dan dokumentasi koleksi di Museum Batik Yogyakarta? 2. Apakah sistem registrasi dan dokumentasi koleksi di Museum Batik Yogyakarta sudah sesuai dengan standar yang dikeluarkan oleh Direktorat Museum? Tujuan: Mengetahui keserasian antara sistem manajemen registrasi dan dokumentasi yang diterapkan Museum Batik Yogyakarta dengan standar Direktorat Museum, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Metode: Penalaran : induktif Sifat penelitian: evaluatif. Pendekatan : evaluasi Kesimpulan: Setelah melalui tahapan penilaian, maka penilaian untuk mengetahui keserasian antara sistem manajemen registrasi dan dokumentasi yang diterapkan Museum Batik Yogyakarta dengan standar Direktorat Museum Departemen Kebudayaan Dan Pariwisata mendapatkan kategori cukup. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya adalah peneliti dapat memberikan model system manajemen dan dokumentasi yang sesuai dengan standar ICOM, sehingga museum ini nantinya dapat menggunakan system internasional. Kata kunci: arkeologi; museulogi

Abstracts Evaluation Of Registration And Documentation Management Based On Museum Directorate Standard, Department Of Culture And Tourism (Study Case: Yogyakarta’s Batik Museum) Writer Graduation year Counselor : Tulus Wichaksono : 2008 : Drs. Djoko Dwiyanto, M.Hum.

Topic: To Know the relation between registration and documentation system in Yogayakarta’s Batik Museum, which is located on jalan Dr. Sutomo, Yogyakarta with the system that is used by the Museum Directorate, Department Of Culture And Tourism, with evaluation method so there will be a recommendation for museum development in near future. Problems and Purpose: Problems: 1. How are the registration and documentation system in Yogyakarta’s Batik Museum? 2. Are the registration and collection documentation system meets the standard issued by the Museum Directorate? Purpose: Discover the harmony between system of management registration and documentation which implemented by the Batik Museum of Yogyakarta with the standard or Directorate Museum, Department Of Culture And Tourism. Method: Reasoning Research characteristic Rapprochement

: inductive : evaluative : evaluation

Conclusion: Following the appraisal step, to discover the harmony between system of management and documentation which implemented by Batik Museum of Yogyakarta with the standard of Directorate Museum, Department Of Culture And Tourism had achieve adequately category. Researcher was expected to make a model system of management registration and documentation appropriate with ICOM’s standard, for later in the future the museum can apply the international standard system as a model. Key Word: archeology; museology.

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini: Nama NIM Jurusan Alamat : Tulus Wichaksono : 00/140246/SA/11879 : Arkeologi : Jl. Meranti I, No.8, Kelurahan Jatiwaringin, Kecamatan Pondok Gede, Kota Madya Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Dengan ini menyatakan bersedia mempublikasikan skripsi saya dengan judul “Evaluasi Sistem Manajemen Registrasi Dan Dokumentasi Berdasarkan Standar Direktorat Museum, Departemen Kebudayaan Dan Pariwisata (Studi Kasus: Museum Batik Yogyakarta)”. Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya untuk kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia.

Yogyakarta, 17 April 2008

Tulus Wichaksono

EVALUASI SISTEM MANAJEMEN REGISTRASI DAN DOKUMENTASI BERDASARKAN STANDAR DIREKTORAT MUSEUM DEPARTEMEN KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA (STUDI KASUS: MUSEUM BATIK YOGYAKARTA)

Oleh:

Tulus Wichaksono 00/140246/SA/11879

FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2007

EVALUASI SISTEM MANAJEMEN REGISTRASI DAN DOKUMENTASI BERDASARKAN STANDAR DIREKTORAT MUSEUM DEPARTEMEN KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA (STUDI KASUS: MUSEUM BATIK YOGYAKARTA)

Oleh:

Tulus Wichaksono 00/140246/SA/11879

Skripsi ini diajukan kepada Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana dalam Ilmu Arkeologi 2007

i

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar acuan pustaka.

Yogyakarta,

Desember 2007

Tulus Wichaksono

ii

Skripsi ini diterima oleh Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Pada Tanggal ...............

Drs. Djoko Dwiyanto, M.Hum. Ketua

Drs. Tjahjono Prasodjo, M.A. Sekretaris

Drs. Tular Sudarmadi, M.A. Penguji Utama

iii

KATA PENGANTAR

Terima kasih penulis ucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga skripsi ini dapat penulis selesaikan dengan judul: “Evaluasi Sistem Manajemen Registrasi dan Dokumentasi Berdasarkan Standar Direktorat Museum Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Studi Kasus: Museum Batik Yogyakarta)”. Penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam skripsi ini. Dengan bantuan, kritikan, dan saran dari berbagai pihak, kekurangan tersebut akhirnya dapat terpenuhi. Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah bersedia memberikan dukungan baik moral maupun material, serta membantu memberikan berbagai masukan dan kritikan yang membangun bagi penulis. Sekali lagi penulis ucapkan terima kasih kepada: 1. Drs. Djoko Dwiyanto, M.Hum. sebagai dosen pembimbing akademik sekaligus dosen pembimbing skripsi yang selalu menyediakan waktunya untuk terus membimbing penulis hingga mampu menyelesaikan tugas akhir ini. 2. Dr. Inajati Adrisijanti, selaku Ketua Jurusan Arkeologi dan seluruh staff pengajar Jurusan Arkeologi FIB UGM yang telah memberikan wawasan dan pengetahuan tentang segala hal, baik akademis maupun non akademis. 3. Bapak Drs. Bejo Haryono yang telah banyak memberikan pengetahuan tentang permuseuman. 4. Bapak Hadi Nugroho dan Ibu Dewi Hadi Nugroho selaku pemilik museum yang telah memperkenankan penulis melakukan penelitian di Museum Batik Yogyakarta, staff Museum Batik Yogyakarta Ibu Sri Purwani dan Bapak

Prayogo yang telah memberikan banyak kemudahan selama penulis melakukan pengambilan data di lapangan.

iv

5. Staff Perpustakaan Balai Besar Batik Yogyakarta, perpustakaan Museum Sonobudoyo unit I, perpustakaan UPT UGM unit I dan unit II, perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya UGM, perpustakaan Jurusan Arkeologi FIB UGM yang telah menyediakan litelatur sehingga kebutuhan data sekunder dalam penulisan skripsi ini dapat terpenuhi. 6. Keluarga Bapak H. Kardjono dan Ibu Hj. Endang Kusumaningsih yang tiada henti mendorong penulis untuk terus tekun menjalankan studi serta menemani penulis hingga akhir penulisan. Kedua kakakku Laksono Kurniawan dan Yoga Wibowo, kakak ipar Silvy serta keponakanku Carren Syafira yang telah memberikan semangat untuk terus menyelesaikan penulisan skripsi. 7. Agustine Dwi Kurniawati yang telah menemani penulis dalam mencari, dan menganalisis data di lapangan, serta menterjemahkan beberapa literatur berbahasa asing ke dalam bahasa Indonesia. 8. Keluarga Bapak Rony Subijatno di Bantul yang telah menyediakan tempat tinggal selama proses pengambilan data skripsi. 9. Keluarga Eyang Maria Sri Maryati di Kalasan yang telah menjadi wali selama penulis menempuh studi di Yogyakarta. 10. Pengelola industri Batik Plentong, terutama Bapak Hadisuwito atas informasi dalam wawancara proses pembuatan batik. 11. Teman-teman Jurusan Arkeologi angkatan 2000 Universitas Gadjah Mada yang telah menjadi tempat untuk berdiskusi dan bertukar pikiran selama proses penulisan berlangsung. 12. Teman-Teman Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Gadjah Mada dengan misi tri darmanya yang telah menjadi tempat untuk bertukar pikiran dan saran sehingga penulis memperoleh masukan selama proses penulisan.

v

13. Teman-Teman Pencinta Alam Lab School, terutama Tommy Schricandra Satriatomo, Mahyuzar, Andono Nugrahadi, Ryan Febian, Muhammad Fahmi, Annisa Anwar, Puti Maharani, Estu Prameswari atas dukungan, diskusi, dan peminjaman buku-buku tentang museum, serta terjemahan literatur

berbahasa asing ke dalam bahasa Indonesia. 14. Teman-teman fotografi, Acink di Visual Solution, Dimas Susilohadi di

Perfect Circle, Blasius Bayu dan Barori Furqon di Mawa Art Photography yang telah memberikan kritik foto selama proses pengambilan data skripsi. 15. Taufik Istiqhal di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata atas data-data produk hukum tentang benda cagar budaya dan museum yang berkaitan dengan penulisan skripsi ini. 16. Diniartha Ikha Muharram yang telah bersedia menyumbangkan keahliannya dalam
menggambar peta dan lampiran dalam skripsi ini.

Penulis

vi

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………………….... DAFTAR FOTO ………………………………………………………………….... DAFTAR PETA ……………………………………………………………………. DAFTAR DENAH ………………………………………………………………… DAFTAR TABEL ………………………………………………………………….. DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………………….. DAFTAR SINGKATAN …………………………………………………………… BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………………. A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian C. Tinjauan Pustaka D. Metode Penelitan II. GAMBARAN UMUM MUSEUM BATIK YOGYAKARTA …………………. A. B. C. D. Administrasi, geografis, dan lingkungan. Sejarah Kain Batik . Sejarah Berdirinya Museum Batik Yogyakarta . Lingkungan Fisik dan Koleksi Museum Batik Yogyakarta .

iii viii xi xii xiii xiv xv

1

18

III. SISTEM REGISTRASI dan DOKUMENTASI MUSEUM ………………... A. B. Ruang Lingkup Studi Museologi. Standard Direktorat Museum Tentang Sistem Registrasi dan Dokumentasi C. Sistem Registrasi dan Dokumentasi pada Museum Batik Yogyakarta

67

vii

IV. EVALUASI SISTEM MANAJEMEN REGISTRASI DAN DOKUMENTASI MUSEUM BATIK YOGYAKARTA ……………………... A. Perbandingan dan Penilaian Sistem Manajemen Registrasi dan Dokumentasi Museum Batik Yogyakarta Dengan Standar Direktorat Museum B. Rekomendasi Untuk Perkembangan Museum Batik Yogyakarta V. PENUTUP ………………………………………………………………........ 123 125 130 131 108

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………. DAFTAR NARASUMBER ………………………………………………………... LAMPIRAN ………………………………………………………………………… A. Buku Registrasi Koleksi B. Buku Induk Inventaris Koleksi C. Buku Inventaris Koleksi D1. Kartu Registrasi Sisi Muka D2. Kartu Registrasi Sisi Belakang DAFTAR ISTILAH …………………………………………………………………

136

viii

DAFTAR FOTO

Foto No. 2.1 Foto No. 2.2 Foto No. 2.3 Foto No. 2.4 Foto No. 2.5 Foto No. 2.6 Foto No.2.7 Foto No. 2.8 Foto No. 2.9 Foto No. 2.10 Foto No. 2.11 Foto No. 2.12 Foto No. 2.13 Foto No. 2.14

: Batik motif kawung ………………........................... : Batik motif parang rusak …………………………… : Batik motif cemukiran ………………………………. : Batik motif sawat ……………………………………. : Batik motif udan liris ………………………………… : Batik motif semen romo ……………………………. : Batik motif alas-alasan ……………………………... : Kain panjang Indramayu …………………………… : Batik cirebon motif mega mendung ………………. : Kain panjang Pekalongan …………………………. : Sarung bang-biron dari Lasem ……………………. : Kain Tuban ………………………………………….. : Kain panjang Madura motif buk …………………… : Gawangan yang digunakan dalam proses

28 29 30 30 31 32 33 34 36 37 38 39 40 41

membatik pada industri batik Plentong …………... Foto No. 2.15 : Anglo yang biasa digunakan dalam poses 42

membatik …………………………………………….. Foto No. 2.16 : Anglo, wajan, dan malam serta canting sebagai peralatan membatik ………………………………… Foto No.2.17 Foto No. 2.18 : Canting dalam berbagai bentuk dan kegunaan …. : Malam sebagai bahan inti dalam teknik penahan warna dalam membatik …………………………….. Foto No. 2.19 Foto No. 2.20 Foto No. 2.1 : Proses nyorek pada industri batik Plentong ……... : Proses medel pada industri batik Plentong ……… : Proses soga pada industri batik Plentong ……….. 46 47 48 44 45 43

ix

Foto No. 2.22 Foto No. 2.23 Foto No. 2.24

: Proses nglorot pada industri batik Plentong ……... : Proses batik cap pada industri batik Plentong …... : Neraca yang digunakan dalam meracik pewarna buatan pada indutri batik Plentong ………………..

48 49 50

Foto No. 2.25

: Pintu masuk samping pada Museum Batik Yogyakarta …………………………………………..

57

Foto No. 2.26

: Ruang Pengenalan dan Ruang Pasren pada Museum Batik Yogyakarta ………………………….

58

Foto No. 2.27

: Ruang

Jawa

Solo

pada

Museum

Batik

59

Yogyakarta …………………………………………... Foto No. 2.28 : Ruang Pesisiran pada Museum Batik 60

Yogyakarta ………………………………………….. Foto No. 2.29 : Ruang Perawatan pada Museum Batik 61

Yogyakarta …………………………………………... Foto No. 2.30 : Toko Cendera Mata dan Galeri pada Museum Batik Yogyakarta ……………………………………. Foto No. 2.31 : Museum Sulaman yang menjadi satu dengan Museum Batik Yogyakarta …………………………. Foto No. 2.32 : Aktivitas pada Ruang Batik Museum Batik 63 63 62

Yogyakarta …………………………………………... Foto No. 2.33 : Ruang Perpustakaan pada Museum Batik 64

Yogyakarta …………………………………………... Foto No.2.34 : Pencahayaan dan sistem sirkulasi udara pada Museum Batik Yogyakarta …………………………. Foto No. 3.1 : Pencahayaan di Museum TNI AU Dirgantara Mandala, Yogyakarta ………………………………. 78 66

x

Foto No. 3.2

: display dengan media panil pada Museum Bank Indonesia, Jakarta …………………………………..

81

Foto No. 3.3

: Display

rekontruksi

pada

Museum

Bank

82

Indonesia, Jakarta ………………………………….. Foto No. 3.4 : Display Audio Visual Pada Museum Bank 82

Indonesia, Jakarta ………………………………….. Foto No. 3.5 : Virtual Display pada Museum Bank Indonesia, Jakarta ………………………………………………. Foto No. 3.6 : Label pendahuluan pada Museum Bank 97 83

Indonesia, Jakarta ………………………………….. Foto No. 3.7 : label grup pada Museum Sonobudoyo, 98

Yogyakarta ………………………………………….. Foto No. 3.8 : Label individual pada Museum Sonobudoyo, Yogyakarta ………………………………………….. Foto No. 3.9 : Label identifikasi pada koleksi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, Yogyakarta ……………... Foto No. 3.10 Foto No. 3.11 Foto No. 3.12 : Kartu registrasi pada Museum Batik Yogyakarta .. : Label individu pada Museum Batik Yogyakarta …. : Berita Acara pada Museum Batik Yogyakarta …... 103 104 106 99 98

xi

DAFTAR PETA : Keletakan Museum Batik Yogyakarta terhadap
museum lain di Yogyakarta ………………………………

Peta No. 2.1

51

xii

DAFTAR DENAH : Pembagian Ruangan di Museum Batik Yogyakarta …..

Denah No. 2.1

56

xiii

DAFTAR TABEL : Evaluasi rencana penelitian …………………………….. : Matriks rencana evaluasi penelitian …………………… : Proses evaluasi penelitian ……………………………… : Bahan alam untuk pembuatan pewarna alami batik ….. : Struktur pengurus Yayasan Batik Yogyakarta ………… : Alur tata pameran Museum Batik Yogyakarta ………… : Struktur organisasi museum ……………………………. : Kode inventaris jenis koleksi ……………………………. : Ukuran kolom buku registrasi dan koleksi ……………. : Ukuran kolom buku induk inventaris koleksi ………….. : Ukuran kolom buku inventaris koleks …………………. : Prosedur administrasi koleksi …………………………… : Struktur organisasi Museum Batik Yogyakarta ………... : Prosedur administrasi koleksi Museum Batik
Yogyakarta …………………………………………………

Tabel No. 1.1 Tabel No. 1.2 Tabel No. 1.3 Tabel No. 2.1 Tabel No. 2.2 Tabel No. 2.3 Tabel No. 3.1 Tabel No. 3.2 Tabel No. 3.3 Tabel No. 3.4 Tabel No. 3.5 Tabel No. 3.6 Tabel No. 3.7 Tabel No. 3.8

12 14 17 50 52 55 74 88 90 91 91 93 101 102

Tabel No. 4.1

: Matriks evaluasi penelitian ……………………………….

116

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A

: Buku registrasi koleksi berdasarkan standar Direktorat Musem, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata …………………………………………….

131

Lampiran B

: Buku standar

induk

inventaris

koleksi Musem,

berdasarkan Departemen

132

Direktorat

Kebudayaan dan Pariwisata ………………………. Lampiran C : Buku inventaris koleksi berdasarkan standar Direktorat Musem, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata ……………………………………………. Lampiran D1 : Kartu registrasi sisi muka berdasarkan standar Direktorat Musem, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata …………………………………………… Lampiran D2 : Kartu standar registrasi sisi belakang Musem, berdasarkan Departemen 135 134 133

Direktorat

Kebudayaan dan Pariwisata ……………………….

xv

DAFTAR SINGKATAN

°c BI BPS cm Depbudpar DIY dkk. DVD FIB H. ha HB Hj. hlm. ICOM JPEG km KRT. mb mdpl mm MURI PB S.H. SDM

: derajat celcius : Bank Indonesia : Biro Pusat Statistik : centimeter : Departemen Kebudayaan dan Pariwisata : Daerah Istimewa Yogyakarta : dan kawan-kawan : Digital Compact Disc : Fakultas Ilmu Budaya : Haji : hektare : Hamengku Buwana : Hajah : halaman : International Council of Museum : Joint Photographic Experts Group : kilometer : Kanjeng Raden Tumenggung : mili bar : meter diatas permukaan laut : mili meter : Museum Rekor Indonesia : Paku Buwana : Sarjana Hukum : Sumber Daya Manusia

xvi

TIFF TL tt TV UGM UNESCO

: Tagged-Image File Format : Tube Luminescent : tanpa tahun : Televisi : Universitas Gadjah Mada : United Nations Educational, Scientific, and Cultural

Organization UPT VCD : Unit Pelaksana Teknis : Video Compact Disc

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Hubungan manusia dengan masa lampau adalah hal yang mutlak karena manusia tidak dilahirkan dalam kehampaan. Perkembangan biologis dan kultural adalah hasil dan warisan manusia selama beribu tahun. Demi kemantapan perkembangan manusia ke depan, pengetahuan mengenai masa lampau sama pentingnya dengan pengetahuan mengenai lingkungan, jika manusia berpegang pada prinsip tersebut maka semua kegiatan arkeologi yang berupa penelitian untuk mengungkapkan masa lampau maupun pelestarian, sepenuhnya adalah

pengabdian kepada masyarakat. Semua kegiatan dalam bidang arkeologis, khususnya di Indonesia dibiayai oleh uang rakyat yang diperoleh pemerintah melalui pajak. Oleh karena itu setiap individu yang bekerja dalam bidang arkeologi harus menyadari bahwa dalam menjalankan kegiatan melayani masyarakat untuk memperoleh haknya

mengetahui masa lampau harus sepenuhnya disadari oleh orang yang bekerja dalam bidang arkeologi dalam melaksanakan kegiatannya, dan bukan sekedar melaksanakan tugas fungsional sebagai jawatan atau membuktikan keilmiahannya (Direktorat Permuseuman 1997a, 41). Davis (1992, 97) dalam satu tulisannya mengemukaan apakah tinggalan arkeologi penting untuk sebuah ilmu pengetahuan? Jawabnya adalah hampir semua tinggalan arkeologi untuk ilmu pengetahuan. Kemudian pertanyaan kedua adalah apakah semua tinggalan arkeologi penting untuk publik? Maka, jawabannya adalah tidak selalu, tetapi tergantung dari situs dan bagian apakah yang dibicarakan oleh masyarakat umum.

2

Letak kepulauan Indonesia yang strategis di antara dua samudra dan dua benua, pulau-pulau dengan muara sungai yang lebar, pantai-pantai dengan teluk-teluknya menjadikan wilayah ini pada masa lalu sebagai pusat perdagangan. Selain rempahrempah yang menjadi komoditas utama perdagangan, barang-barang tekstil juga menjadi salah satu primadona perdagangan di nusantara. Barang tekstil tersebut dibawa oleh para pedagang yang berasal dari negeri Arab, Cina, dan India. Selanjutnya barang tekstil tersebut diperjualbelikan dengan alat tukar uang ataupun menggunakan sistem barter dengan barang lain yang dianggap senilai. Salah satu contoh komoditas tekstil yang menjadi primadona perdagangan di nusantara adalah kain batik. Batik adalah kain bergambar yang pembuatannya dilakukan secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain itu, kemudian

pengolahannya diproses dengan cara tertentu (Kamus Besar Bahasa Indonesia 2001, 112). Teknik yang digunakan dalam pembuatan batik adalah penahan warna (resist dye). Kain bergambar dari pengolahan khusus tersebut menjadikan kain batik sebagai barang komoditas yang banyak diminati oleh pedagang untuk

diperjualbelikan, perdagangan tersebut kemudian dikaitkan dengan sejarah masuknya batik di Indonesia. Pendapat mengenai masuknya batik di Indonesia hingga saat ini dikelompokkan menjadi dua. Pendapat pertama adalah yang mengatakan bahwa batik berasal dari luar Indonesia seperti Cina dan India, sedangkan pendapat kedua mengatakan bahwa batik berasal dari Indonesia. Rouffaer dan Jaynboll adalah penganut pendapat pertama. Mereka mengatakan bahwa batik Indonesia pertama kali dibawa oleh para pedagang dari Kalingga, Koromandel, dan India. Pernyataan tersebut didasarkan pada teknik yang digunakan untuk pencelupan batik yang hampir sama dengan yang ada di Indonesia. Di Cina, pembuatan batik semacam itu sudah berlangsung sejak masa

3

T’ang (Laran) dan Suku Hmongnya yang sampai pertengahan abad XX M masih membuat batik dengan semacam gips (Lombard 2000, 193). Pendapat kedua dinyatakan oleh R.M. Sucipto Wiryosuparto yang menolak pernyataan Rouffaer dengan alasan di Kalingga tidak ditemukan motif-motif tradisional yang sama dengan batik di Indonesia, seperti motif ceplok, motif kawung, dan motif lereng. Motif-motif tersebut merupakan motif yang terkenal pada abad VIII-XIII M (Susanto 1980, 307). Pendapat tersebut dikuatkan dengan pernyataan Kern bahwa batik merupakan salah satu unsur kebudayaan bangsa Indonesia yang sudah berkembang sebelum datangnya pengaruh Hindu. Menurut Kern, sebelum kedatangan pengaruh Hindu, bangsa Indonesia telah mengenal sepuluh keterampilan, di antaranya adalah astronomi, batik, gamelan, ilmu hitung, mata uang, pemerintahan yang teratur, penanaman padi di sawah, pengerjaan logam, teknologi pelayaran, dan wayang (Ayatrohaedi 1986, 156-159). Perbedaan lain adalah proses pewarnaan yang dilakukan di India menggunakan cairan panas mendidih, sedangkan di Indonesia menggunakan cairan dingin. Selain itu perbedaan dapat ditemukan pula pada warna yang dihasilkan (Tirtaamidjaja 1966, 3). Menurut KRT. Hardjonegoro, batik lahir di dalam kalangan petani. Biasanya para petani melakukan pekerjaan membatik sebelum mereka turun ke sawah, dan apabila telah datang musim panen, maka pekerjaan membatik dihentikan. Pada zaman Kerajaan Mataram Islam, karena adanya perhatian khusus dari keraton, maka batik masuk ke lingkungan keraton. Masuknya batik ke keraton merupakan manifestasi dari pengabdian kepada raja. Setelah memasuki lingkungan keraton, teknik pembuatan batik makin diperhalus, baik motif maupun teknik pewarnaannya. Untuk mendukung hal tersebut perlu diciptakan motif-motif batik bermutu tinggi,

4

sehingga layak dipersembahkan kepada raja dan keluarga (Helmi dan Mujiyono 1992, 52). Pemakaian alat memberi corak tersendiri pada corak batik. Batik Indonesia dengan menggunakan canting merupakan salah satu penyebab tingginya mutu kesenian kain batik yang dapat memperlihatkan keindahan yang sama pada sisi dalam maupun sisi luar kain. Hal ini tidak terdapat dalam kain batik karya dari India Selatan yang hanya menggunakan stempel atau pena kayu sebagai alat pembatik yang hanya memperhatikan bagian luar saja (Tirtaamidjaja 1966, 3). Selain itu teknik penahan warna tidak hanya terdapat pada daerah yang mengalami pengaruh Hindu, tetapi juga terdapat di daerah lain seperti Toraja, Flores, Halmahera, bahkan Papua. Adapun daerah industri batik di Pulau Jawa antara lain: Jakarta, Cirebon,

Ciamis, Garut, Indramayu, Tasikmalaya, Purwokerto, Kebumen, Purworejo, Yogyakarta, Klaten, Boyolali, Solo, Wonogiri, Pekalongan, Lasem, Tegal, Kudus, Tulungagung, Ponorogo, Mojokerto, Gresik, dan Sidoarjo. Penggunaan kain berwarna dan bermotif hidup di masa klasik, kemudian berkembang sampai masa Islam, dan penyebutan istilah batik mulai digunakan. Kata batik tepatnya muncul pada tahun 1769 dalam sebuah aturan yang ditulis oleh Sri Susuhunan Pakubuwono III dengan menggunakan bahasa Jawa. Kemudian pada tahun 1820, kata batik juga digunakan dalam Serat Centhini yang ditulis oleh Adipati Anom yang kemudian menjadi Sinuwun PB V. PB VIII juga menggunakan kata batik dalam naskah yang berisi aturan penggunaan busana kebesaran Keraton Yogyakarta, di antaranya adalah batik, payung, warna busana, dan ornamen (Nurjanti 1993, 175). Sebagai sebuah produk kebudayaan, batik merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan karena batik mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan sehingga layak disebut sebagai benda cagar

5

budaya. Bentuk pelestarian warisan tersebut salah satunya adalah melalui museum sebagai lembaga tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang perlindungan dan pelestarian kekayaan bangsa. Ilmu tentang museum dan permuseuman, yang meliputi museum dan lingkungannya serta sistem pengelolaannya disebut museologi. Museologi sebagai studi tentang material culture, terutama benda-benda tinggalan kebudayaan yang tersimpan dalam koleksi museum hakikatnya adalah mempelajari manajemen koleksi. Oleh karena itu dasar-dasar museologi, registrasi dan dokumentasi, konservasi, perancangan pameran, serta survei pengunjung dan evaluasi dikelompokkan untuk mempertajam analisis kajian museologi (Dwiyanto 1998a, 45). Registrasi adalah kegiatan pencatatan suatu benda, setelah benda tersebut ditentukan secara resmi menjadi koleksi museum, ke dalam buku induk registrasi. Pencatatan dilakukan pula terhadap dokumen-dokumen yang terkait dengan koleksi tersebut, seperti berita acara, dan surat wasiat. Hasil pencatatan ini sangat diperlukan untuk penelitian koleksi lebih lanjut, karena merupakan sumber informasi awal dari koleksi tersebut. Registrasi diperlukan dalam proses peminjaman koleksi atau koleksi yang untuk sementara tidak berada dalam pengawasan museum untuk beberapa maksud, misalnya untuk pengujian atau identifikasi. Registrasi sebaiknya disusun untuk membantu menginspeksi secara periodik terhadap koleksi untuk terjaminnya ketepatan dalam menangani koleksi, serta mengetahui jumlah koleksi yang dimiliki, titipan, atau yang dikeluarkan. Penyusunan dapat mencegah adanya penipuan atau pengakuan dari seorang atas kepemilikan koleksi tersebut, dan dapat membantu ilmuwan dalam penelitian (Direktorat Museum 2007, 7). Sedangkan dokumentasi objek permuseuman adalah keterangan tertulis mengenai koleksi museum. Setiap museum sebaiknya telah menetapkan sistem dokumentasi untuk

6

melindungi data koleksi (Direktorat Museum 2007, 5). Sedangkan dokumentasi objek museum adalah keterangan tertulis mengenai koleksi museum untuk melindungi koleksi museum, yang didalamnya terdapat fungsi registrasi dan kuratorial (Direktorat Museum 2007, 5).

B.

RUMUSAN MASALAH DAN TUJUAN PENELITIAN

Berbagai perundangan dan peraturan yang melindungi objek arkeologi dan berbagai bentuk warisan budaya yang lain telah dihasilkan oleh pemerintah seperti: 1. Undang-Undang Nomor 5 tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya yang mencakup tujuan dan lingkup BCB; penguasaan, pemilikan, penemuan dan pencarian BCB; perlindungan dan pemeliharaan BCB; pengelolaan BCB; pemanfaatan BCB; pengawasan BCB; hingga ketentuan pidana (Badan

Perencanaan Pembangunan Nasional, 1992), 2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 1995 Tentang Pemeliharaan dan Pemanfaatan Benda Cagar Budaya di Museum dapat diartikan sebagai pencerminan usaha untuk menjamin agar masyarakat dapat memperoleh pengetahuan tentang masa lampau secara terusmenerus. Pada Peraturan Pemerintah ini mencakup tujuan pemeliharaan, penyimpanan, perawatan, pengamanan, pemanfaatan, persyaratan museum, pembinaan, dan pengawasan, hingga peran serta masyarakat (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 1995), 3. Surat Keputusan Menteri Nomor KM.33/PL.303/MKP/2004 Tentang Pengelolaan Museum yang di dalamnya mencakup berbagai hal dalam bidang permuseuman mulai dari pendirian, pengelolaan, pendaftaran koleksi museum, pendanaan, hingga pembinaan di museum (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 2004). Museum dapat dibedakan berdasarkan koleksi yang disimpan, berupa museum umum dan museum khusus. Museum dalam hal ini dapat didirikan oleh instansi pemerintah, yayasan, atau badan usaha yang dibentuk berdasarkan hukum

7

Indonesia. 1. Museum Umum

Museum umum yang ciri koleksinya terdiri dari kumpulan bukti material hasil budaya manusia dan atau lingkungan yang berkaitan dengan berbagai cabang seni, disiplin ilmu, dan teknologi.

2. Museum Khusus

Museum khusus yang ciri koleksinya terdiri dari kumpulan bukti material hasil budaya manusia dan atau lingkungan yang berkaitan dengan satu cabang ilmu atau cabang teknologi. Setiap museum memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Sifat ini terjadi karena koleksi setiap museum berbeda. Kalaupun ada persamaan maka hal itu sangat terbatas, sehingga jika terdapat adanya standarisasi permuseuman, maka hal itu hanya merupakan arti administratif. Dalam fungsionalisasi, standar diartikan sebagai tingkatan mutu. Filsafat dasar setiap museum berhubungan dengan tujuan museum itu didirikan, dan jenis koleksi di antara berbagai museum merupakan petunjuk akan persamaan filsafat dasar (Direktorat Permuseuman 1997b, 22). Museum sebagai sebuah institusi yang di dalamnya pasti mempunyai struktur yang bertujuan untuk memperlancar kinerja museum tersebut mencapai tujuan pendiriannya, salah satunya adalah bidang registrasi dan dokumentasi. Museum Batik Yogyakarta adalah salah satu museum khusus yang berada di Yogyakarta. Museum ini merupakan museum swasta, dan dimiliki oleh keluarga Hadi Nugroho, sebuah keluarga pengusaha batik. Museum ini beralamat di Jalan Dr. Sutomo No. 13 Yogyakarta dan koleksi dari museum ini adalah khusus menampilkan kain batik dan perlengkapannya yang telah dimiliki oleh tiga generasi sebelumnya.

8

Dengan koleksinya yang mencapai ribuan, maka tentunya museum ini memiliki sistem registrasi dan dokumentasi koleksi. Dengan adanya sistem tersebut, tujuan dari museum ini sebagai museum pemberi kontribusi dalam upaya melestarikan, mengembangkan, dan mengkomunikasikan batik sebagai karya cipta umat manusia maupun sebagai khasanah budaya nusantara demi memperkaya akal budi dan meningkatkan nilai-nilai kemanusiaan dapat terwujud. Berdasarkan latar belakang dan kondisi di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Bagaimanakah sistem registrasi dan dokumentasi koleksi di Museum Batik Yogyakarta? 2. Apakah sistem registrasi dan dokumentasi koleksi di Museum Batik Yogyakarta sudah sesuai dengan standar yang dikeluarkan oleh Direktorat Museum? Berdasarkan pada rumusan permasalahan tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keserasian antara sistem manajemen registrasi dan dokumentasi yang diterapkan Museum Batik Yogyakarta dengan standar Direktorat Museum. Standar acuan yang digunakan dalam evaluasi adalah standar dari Direktorat Museum, karena instansi ini bertugas untuk melaksanakan penyiapan rumusan kebijakan, standar, norma, kriteria, dan prosedur serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang permuseuman (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 2007). Penulis tidak menggunakan standar acuan yang dikeluarkan ICOM, karena ICOM hanya mengeluarkan acuan yang menjadi rambu-rambu di bidang permuseuman saja, sedangkan untuk pelaksanaannya diserahkan kepada masingmasing negara anggota ICOM, karena kebijakan setiap negara akan hal ini berbeda-beda.

9

A. TINJAUAN PUSTAKA

Museum menurut tim Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001, 766) mempunyai pengertian yaitu gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran tetap benda-benda yang patut mendapatkan perhatian umum seperti peninggalan sejarah, seni, dan ilmu. Definisi museum yang dikemukakan oleh Douglas Allan yang dipergunakan dari tahun 1960 hingga tahun 1967 adalah suatu bangunan yang berisi berbagai macam koleksi untuk diselidiki, dipelajari, dan dinikmati (Allan 1978, 13). Kemudian definisi dari ICOM sebelum tahun 1974, museum adalah: Any permanent establishment set up for purpose of preserving, studying, enchanging by various means and, in particular, of exhibiting to the public for its delections and instruction, artistic, historical, scientific and technological collections (Sutaarga 1991, 33). Pengertian museum yang tertuang di dalam Surat Keputusan Menteri Nomor KM.33/PL.303/MKP/2004 Tentang Museum, pasal satu ayat satu disebutkan bahwa museum adalah lembaga tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang perlindungan dan pelestarian kekayaan bangsa (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 2004). Definisi resmi museum yang kini digunakan adalah definisi yang dikeluarkan dalam rapat umum ICOM ke-10 di Copenhagen, museum adalah lembaga yang bersifat badan hukum yang tetap, tidak mencari keuntungan dalam pelayanannya kepada masyarakat, tetapi didirikan untuk kemajuan masyarakat dan

lingkungannya, serta terbuka untuk umum (International Council Of Museum 2007, 3). Berangkat dari pengertian ICOM bahwa museum didirikan untuk kemajuan masyarakat dan lingkungannya, maka telah dihasilkan kajian ilmu pengetahuan mengenai permuseuman, salah satunya adalah sistem manajemen registrasi dan

10

dokumentasi. Kajian yang lengkap tentang evaluasi sistem manajemen registrasi dan dokumentasi di Museum Batik Yogyakarta sampai saat ini belum ditemukan. Sumber pustaka yang ada hanya rata-rata menyajikan tulisan tentang ragam hias koleksi museum tersebut. Tulisan mengenai Museum Batik Yogyakarta pernah ditulis oleh Diorita Wijayanti dalam skripsinya menurut sudut pandang arsitektural (Wijayanti, 2005). Dalam skripsinya ini, Diorita menjelaskan bahwa Museum Batik Yogyakarta mempunyai landasan konseptual dalam perencanaan dan

perancangannya. Secara umum, Museum Batik Yogyakarta pernah dibahas dalam booklet yang dikeluarkan oleh Badan Musyawarah Musea (BARAHMUS) DIY bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia pada tahun 2004. Sedangkan Alphaliyanri Lasria dalam proyek akhirnya, membahas tentang optimalisasi media pelengkap pameran (supplementary exhibition media) sebagai upaya peningkatan peran pendidikan di Museum Zoology Bogor (Lasria, 2003).

B. METODE PENELITIAN

Berdasarkan pada tujuan penelitian yang hendak diselesaikan, maka penelitian ini menggunakan penalaran induktif, yaitu penalaran yang bergerak dari kajian khusus ke umum. Kajian khusus dalam penelitian ini adalah data arkeologis dan museologi. Kajian arkeologis yang disajikan berupa koleksi dari Museum Batik Yogyakarta meliputi kain-kain batik, dan peralatan membatik yang telah berumur puluhan tahun, serta memiliki perkembangan gaya dan teknologi. Kajian museologi meliputi pengertian, fungsi-fungsi dan organisasi museum, museum dan kepariwisataan, dan upaya pengembangan museum. Adapun kajian yang bersifat umum pada penelitian ini adalah sistem registrasi dan dokumentasi pada Museum Batik Yogyakarta. Registrasi dan dokumentasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah nomor

11

registrasi, buku induk registrasi, kartu registrasi, label registrasi, nomor inventaris, buku inventaris, kartu inventaris, dan kartu katalog. Sifat penelitian yang digunakan adalah evaluasi, yaitu penelitian yang dimaksudkan untuk mengambil keputusan yang didasarkan pada tolok ukur atau kriteria tertentu (Arikunto 2005, 227). Kriteria yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mengevaluasi apakah manajemen koleksi dan dokumentasi Museum Batik Yogyakarta telah sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Direktorat Museum, agar dapat ditarik sebuah kesimpulan akhir dari sebuah penelitian. Evaluasi mengandung pengertian sebagai proses mengumpulkan informasi, penetapan kriteria, analisis, pertimbangan, penarikan kesimpulan, dan pengambilan keputusan. Evaluasi dapat digolongkan dalam tiga jenis evaluasi, yaitu evaluasi awal (preevaluation), evaluasi proses, dan evaluasi akhir. Maka untuk menjawab tujuan permasalahan dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode evaluatif, dengan jenis metode evaluasi proses. Evaluasi proses adalah evaluasi yang dilakukan selama proses sedang berlangsung. Pengamatan dilakukan terhadap komponen-komponen proses atau unsur kegiatan. Sering pula evaluasi proses tidak dapat dilakukan pada saat proses sedang berlangsung karena berbagai alasan, misalnya karena waktu yang terlalu lama, atau juga karena biaya. Apabila hal ini terjadi maka dapat dilakukan evaluasi terhadap komponen proses pada akhir program. Evaluasi ini lebih bersifat

menyeluruh terhadap semua komponen serta lebih ditujukan untuk melihat keterkaitan berbagai komponen untuk mencapai tujuan. Evaluasi proses sering pula disebut evaluasi pelaksanaan. Metode evaluasi mempunyai prinsip yang sama dengan penelitian ilmiah dengan ragam bobot mulai yang paling sederhana sampai yang paling ilmiah. Sebagai suatu kegiatan yang formal dan ilmiah, prinsip dan prosedur ilmiah di dalam evaluasi perlu diperhatikan. Sikap yang perlu ditumbuhkan dalam melakukan

12

penelitian evaluasi dicirikan oleh berbagai karakteristik, yaitu: faktual, analisis, imparsial, objektif, terpercaya. Proses evaluasi yang dilakukan terhadap sistem manajemen registrasi dan dokumentasi di Museum Batik Yogyakarta melalui enam tahap (Irawan 2001, 9), yaitu: 1. Penentuan Tujuan Evaluasi Pada tahap pertama ini, semua tujuan evaluasi ditentukan. Proses ini sangatlah penting karena tahap inilah yang menentukan corak dan proses evaluasi secara keseluruhan. Dengan tujuan-tujuan yang jelas dan rinci, maka langkah-langkah berikutnya dapat dengan mudah ditentukan siapa yang akan melakukan apa, kapan, dan bagaimana. Evaluasi yang dilakukan pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keserasian antara sistem manajemen registrasi dan dokumentasi yang diterapkan Museum Batik Yogyakarta dengan standar Direktorat Museum. Untuk mempermudah pekerjaan, akan dibuat matriks yang berisi informasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan tahap penentuan tujuan evaluasi ini. Tabel evaluasi rencana penelitian dapat dilihat dibawah ini:
No 1. Sistem Informasi yang dibutuhkan manajemen di registrasi Museum dan Batik Rincian informasi yang dibutuhkan a. Sistem manajemen registrasi Museum Batik Yogyakarta. b. Sistem manajemen dokumentasi

dokumentasi Yogyakarta.

Museum Batik Yogyakarta. 2. Apakah sistem manajemen registrasi dan dokumentasi di Museum Batik Yogyakarta telah memenuhi standar Direktorat Museum? a. Sistem manajemen registrasi Direktorat Museum. b. Sistem manajemen dokumentasi

Direktorat Museum. Tabel 1.1: Evaluasi rencana penelitian.

13

2. Desain Evaluasi Desain evaluasi atau perancangan evaluasi baru dapat dilaksanakan apabila telah ditentukan tujuan-tujuan evaluasi. Pada tahap ini, ada dua hal yang ditentukan, yaitu pendekatan evaluasi apakah yang paling cepat agar tujuan-tujuan evaluasi yang sudah ditentukan dapat tercapai secara optimal dan siapa yang akan melakukan evaluasi (Irawan 2001, 11). Pendekatan evaluasi pada tahap ini adalah penentuan siapa yang akan melakukan evaluasi. Hal ini diperlukan setelah memperhatikan tingkat kesulitan untuk mendapatkan sumber informasi. Penelitian evaluasi dapat dilakukan oleh orang luar (external evaluator) atau orang dalam (internal evaluator). Penelitian yang dilakukan oleh orang luar ataupun orang dalam mempunyai keuntungan dan kerugian sendiri-sendiri. Evaluasi yang dilakukan oleh orang luar, misalnya oleh konsultan, ahli evaluasi, dan mahasiswa, maka akan memungkinkan proses evaluasi yang berjalan atau yang dilakukan akan berjalan secara objektif dan akan menghasilkan hasil-hasil yang lebih objektif pula. Kerugiannya adalah proses evaluasi yang dilakukan mungkin akan berjalan lebih lama. Hal ini terjadi jika apa yang akan dievaluasi itu cukup rumit, sehingga orang luar biasanya akan memerlukan waktu yang lebih banyak untuk melaksanakan tugasnya. Kerugian lainnya yaitu keterlibatan pihak luar mungkin dianggap sebagai intervensi kepada pihak yang dievaluasi. Evaluasi yang dilakukan oleh orang dalam, misalnya pegawai museum itu sendiri, maka memungkinkan proses evaluasi yang dilakukan akan berlangsung lebih cepat dan lebih sedikit memakan biaya. Kerugiannya adalah evaluasi ini akan menghasilkan hasil-hasil yang lebih subjektif. Apalagi jika evaluatornya adalah mereka yang mempunyai kepentingan pribadi, maka besar kemungkinan mereka akan melaporkan kebenaran yang kira-kira tidak akan meninggalkan dampak

14

negatif (Irawan 2001, 12). Oleh karena itu untuk mengurangi beberapa tema yang ada, biasanya evaluasi dilakukan oleh orang luar dan dalam secara bersama-sama. Evaluasi pada penelitian ini dilakukan oleh penulis. Teknik dan instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan review dokumen. Observasi dilakukan dengan cara observasi langsung yaitu, dengan datang secara langsung ke objek yang akan dievaluasi, dalam hal ini adalah Museum Batik Yogyakarta. Wawancara dilakukan kepada responden yang mengetahui seluk beluk tentang sistem registrasi dan dokumentasi yang diterapkan di Museum Batik Yogyakarta, misalnya Kepala Museum, Kurator, dan Registrar. sedangkan review adalah cara untuk menggali informasi dengan cara meneliti dokumen, misalnya dengan buku pedoman dari Direktorat Museum, Peraturan Tertulis seperti Undang-undang, Peraturan Pemerintah, dan Surat Keputusan Menteri Pariwisata dan Kebudayaan. Matriks rencana evaluasi penelitian ini adalah sebagai berikut:
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Subjek Standar Direktorat Museum Penerapan di Museum Batik Yogyakarta Nilai

Buku Registrasi Buku Induk Inventaris Koleksi Buku Inventaris Koleksi Katalogisasi Koleksi Kartu Registrasi Prosedur Administrasi Koleksi Label Pemotretan Koleksi Pengukuran Koleksi Berita Acara Aplikasi Komputer Tabel 1.2: Matriks rencana evaluasi penelitian.

15

3. Pengembangan Instrumen Evaluasi Pengembangan instrumen evaluasi dilakukan setelah tujuan evaluasi ditentukan dan desain umum diselesaikan. Setidaknya ada empat instrumen yang selama ini lazim digunakan dalam suatu evaluasi, yaitu kuesioner, interviu, observasi, dan review dokumen (Irawan 2001, 14). Cara perolehan informasi kuesioner dan interviu pada dasarnya sama. Kedua istilah ini digunakan hanya untuk membedakan bahwa pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner cenderung tertutup dan terstruktur, sedangkan pertanyaanpertanyaan interviu biasanya terbuka dan fleksibel. Observasi atau pengamatan sudah cukup popular dan sering digunakan dalam penelitian, sedangkan review adalah cara untuk menggali informasi dengan cara meneliti dokumen, misalnya dengan buku pedoman dari Direktorat Museum, Peraturan Tertulis seperti Undangundang, Peraturan Pemerintah, dan Surat Keputusan Menteri Pariwisata dan Kebudayaan. Pada tahap ini, harus mulai mengidentifikasi berbagai pertanyaan yang harus dijawab oleh responden. Oleh karena itu perlu ditegaskan bahwa semua pertanyaan yang akan dibuat harus konsisten dengan informasi yang dibutuhkan serta rincian yang sudah ditentukan sebelumnya (lihat tabel 1.2). Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat tersebut juga harus sesuai dengan teknik dan instrumen pengumpulan datanya. 4. Pengumpulan Data Data dan informasi bisa terkumpul hanya jika sumber informasi atau responden mau memberikan informasinya kepada evaluator, sehingga evaluator dituntut untuk dapat berkomunikasi yang baik dengan responden. Untuk mempermudah proses pengumpulan data, hal yang penting penulis cek kembali adalah: responden, instrumen penelitian, serta tempat dan waktu pengumpulan data.

16

Responden adalah pegawai museum yang terdiri dari pengelola museum dan petugas tata usaha. Instrumen penelitian yang digunakan menggunakan data sekunder berupa buku pedoman yang diterbitkan oleh Direktorat Museum. Waktu dan tempat pengumpulan data dilakukan di Museum Batik Yogyakarta setiap waktu berkunjung museum. 5. Analis dan Intrepretasi Data Analis dan intepretasi data menggunakan komputer dengan alasan kecepatan, kemudahan, dan ketelitian. Pada tahap ini evaluator dalam hal ini penulis, dituntut untuk bersikap objektif. 6. Tindak Lanjut Tujuan dari evaluasi ini adalah mengetahui keserasian antara sistem manajemen registrasi dan dokumentasi yang diterapkan Museum Batik Yogyakarta dengan standar Direktorat Museum, sehingga diharapkan hasil dari evaluasi ini dapat dijadikan tolak ukur dalam pengambilan keputusan untuk pengembangan Museum Batik Yogyakarta dikemudian hari.

PROSES EVALUASI
META EVALUASI ↓ ↓ Penentuan Tujuan Evaluasi ↓ 1. Tujuan evaluasi diadakan. → ↓ Perancangan (Desain) Evaluasi ↓ 1. Pendekatan model evaluasi yang dipakai. 2. Evaluator oleh penulis. 3. Jadwal evaluasi. 4. Teknik dan instrumen pengumpulan data. 5. Anggaran. → ↓ Pengembangan Instrumen Evaluasi ↓ 1. Kesesuaian instrumen dengan data yang dicari. 2. Pengujian instrumen. ↓ → Pengumpulan Data ↓ 1. Sifat data kuantitatif. → ↓ Analisis dan Interpretasi Data ↓ 1. Proses data dengan komputer. 2. Penafsiran hasil evaluasi. ↓ → Tindak Lanjut ↓ 1. Hasil evaluasi ini untuk tolak ukur pengambilan keputusan. 2. Hasil evaluasi objektif dan absah.

2. Data tertulis yang tersedia melalui buku pedoman Direktorat Museum. 3. Responden adalah pegawai museum. 4. Data primer: Museum Batik Yogyakarta. 5. Waktu dan tempat pengumpulan data.

Sumber: Irawan 2001, 9 Tabel 1.3: Proses evaluasi penelitian.

18

BAB II

GAMBARAN UMUM MUSEUM BATIK YOGYAKARTA

A. Administrasi, Geografis, dan Lingkungan 1. Letak dan Lokasi Museum Batik Yogyakarta Museum Batik Yogyakarta terletak di wilayah Kelurahan Bausasran, Kecamatan Danurejan, Kotamadya Yogyakarta, DIY. Letak ketinggiannya dari permukaan laut kurang lebih 155 mdpl (Biro Pusat Statistik 2007, 1). Kecamatan Danurejan terdiri dari tiga kelurahan, yaitu: Kelurahan Suryatmajan, Kelurahan Tegal Panggung, dan Kelurahan Bausasran. Secara astronomis, Museum Batik Yogyakarta terletak 110°22’38,29’’ Bujur Timur dan 07°47’44,95” Lintang Selatan. Secara administratif Museum Batik Yogyakarta dibatasi oleh: 1. sebelah utara Kecamatan Gondokusuman, 2. sebelah timur kecamatan Gondokusuman, 3. sebelah selatan Kecamatan Pakualaman, 4. sebelah barat Kecamatan Gedong Tengen. Wilayah Kecamatan Danurejan dilintasi oleh Sungai Code di sisi barat. 2. Iklim Secara umum, rata-rata curah hujan tertinggi di Kecamatan Danurejan adalah 586 mm/ tahun. Suhu temperatur udara tertinggi di Kecamatan Danurejan adalah 32° c, dan suhu temperatur udara terendah adalah 22° c (Biro Pusat Statistik 2007, 1). 3. Luas Wilayah Museum Batik Yogyakarta yang terletak di wilayah Kelurahan Bausasran merupakan wilayah terluas dengan luas 47,38 ha atau sekitar 42,95%. Sedangkan wilayah kelurahan lain yaitu Kelurahan Suryatmajan memiliki luas 27,87 ha atau

19

25,27% dan Kelurahan Tegal Panggung dengan luas 35,06 ha atau 31,78 % (Biro Pusat Statistik 2007, 2). 4. Demografi Kelurahan Bausasran menempati urutan ke-dua dalam hal kepadatan penduduk di wilayah Kecamatan Danurejan. Dengan luas 0,4738 km2, Kelurahan Bausasran memiliki penduduk sejumlah 12.581 jiwa yang terdiri dari 6.893 pria dan 5.688 wanita (Biro Pusat Statistik 2007, 10). Di dalam Kelurahan Danurejan tersebut terdapat penyandang masalah kesejahteraan sosial, yaitu fakir miskin 412 jiwa, rumah tidak layak huni 51 buah, dan anak jalanan sejumlah lima jiwa (Biro Pusat Statistik 2007, 40). Menurut data di kantor polisi, Kelurahan Danurejan merupakan wilayah dengan tingkat kejahatan tertinggi, dengan rincian pencurian sembilan kasus, dan penganiyaan tiga kasus (Biro Pusat Statistik 2007, 41).

B. SEJARAH KAIN BATIK Data arkeologi yang digunakan untuk mendukung keberadaan kain batik adalah data artefaktual dan data tekstual. Data artefaktual yang digunakan di antaranya adalah arca dan relief. Adapun data tekstual adalah data yang berupa tulisan-tulisan kuno baik yang berupa tulisan-tulisan kuno baik prasasti, dokumen-dokumen kuno, naskah kesusastraan, ataupun berita Cina. Penggunaan data artefaktual dan kontekstual tersebut didasarkan pada keberadaan indikasi adanya kain batik. Kain yang digunakan saat ini merupakan hasil budaya manusia yang berkembang dari masa ke masa. Indikasi awal keberadaan batik mulai muncul pada masa klasik. Hal ini dibuktikan dengan adanya kain berwarna dan berornamen yang disebut dalam prasasti. Dalam beberapa prasasti juga disebutkan bahwa kain termasuk barang yang dikenai pajak dan menjadi salah satu yang diperdagangkan.

20

Pendapat mengenai asal mula batik dapat dikelompokan menjadi dua. Pertama adalah anggapan bawa batik berasal dari luar Indonesia (India, Cina) dan yang kedua adalah pendapat yang mengatakan bahwa batik merupakan produk asli Indonesia. Tidak ditemukannya motif-motif tradisional yang sama dengan motif batik di Indonesia seperti motif ceplok, motif kawung, motif lereng pada daerah Kalingga merupakan alasan R.M Sucipto Wiryosuparto untuk menolak pernyataan Rouffaer dan Jaynboll. Motif-motif tersebut adalah motif yang paling terkenal pada abad VIIIXIII M (Susanto 1980, 307). Menurut Kern, sebelum kedatangan orang-orang Hindu, Indonesia telah mengenal sepuluh keterampilan. Keterampilan tersebut di antaranya adalah batik, wayang, gamelan, pengerjaan logam, mata uang, metrik, teknologi pelayaran, astronomi, penanaman padi di sawah, dan pemerintahan yang teratur (Ayatrohaedi 1986, 156-159). Berbagai pengertian tentang batik coba diungkapkan oleh berbagai versi. Hamzuri (1981, VI) mengatakan batik adalah lukisan atau gambar pada mori yang dibuat dengan menggunakan alat bernama canting. Orang melukis atau menggambar atau menulis pada mori memakai canting disebut membatik. Menurut tim Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001, 112), batik adalah kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain itu, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu. Menurut KRT. Hardjonegoro dalam karya tulis ilmiah Helmi dan Mujiyono (1992, 52-53), batik lahir di dalam kalangan petani. Pada zaman Kerajaan Mataram, karena adanya perhatian khusus dari keraton, maka batik masuk ke lingkungan keraton. Masuknya batik ke keraton merupakan manifestasi dari pengabdian kepada raja. Setelah memasuki lingkungan keraton, teknik pembuatan batik makin diperhalus, baik motif maupun teknik pewarnaannya. Untuk mendukung hal tersebut

21

perlu diciptakan motif-motif batik bermutu tinggi, sehingga layak dipersembahkan kepada raja dan keluarga. Penciptaan motif-motif batik oleh para empu, tidaklah dilakukan dengan jalan asal mencoret saja. Sama halnya dengan pembuatan keris, pencarian ilham untuk sebuah motif batik dilakukan dengan meditasi dan mutih. Karena dalam proses penciptaan motif-motif tersebut tidaklah dengan cara yang mudah, maka dalam pemakaian batik yang bermotif sesuai dengan hasil ciptaan melalui meditasi, tidak bisa digunakan oleh sembarang orang karena batik dibuat dengan motif-motif yang mengandung magis tinggi. Maka pihak keraton dalam hal ini Sri Susuhunan Paku Buwana III pada tahun 1769 mengeluarkan peraturan tentang larangan

penggunaannya. 1. Data Artefaktual Motif batik ditinjau dari segi arkeologis sudah ada sejak zaman kerajaan HinduBudha di Pulau Jawa. Data artefaktual ini dapat ditemukan pada relief candi, dan atribut yang digunakan oleh arca-arca. Hal ini dapat dilihat dari ragam hias batik di beberapa bangunan, antara lain (Departemen Perindustrian 1986, 5-28): a. Motif Dasar Lereng: terdapat pada pakaian Çiwa, di daerah Gemuruh, Wonosobo, Jawa Tengah. b. Motif Lereng: terdapat pada gambar pakaian Manjusri dari Ngemplak, Semarang sekitar abad XX M. c. Motif Dasar Ceplok: terdapat pada Arca Ganesa dari Candi Banon, dalam kompleks Candi Borobudur; pada Arca Çiwa dan Arca Durga dari Candi Singosari (abad XIII M). d. Motif yang memakai titik-titik digambarkan pada pakaian Padmapani, dari zaman kebudayaan Jawa Tengah (abad VIII-X M).

22

e. Motif Dasar Kawung terdapat pada Arca Hari-Hara di Blitar, Arca Çiwa di Candi Singosari, Arca Budha Mahadewa dari Umpang, dan Bhrkuti dari Candi Jago, Jawa Timur. f. Motif Dasar Sidomukti, berbentuk segi empat yang diberi isen-isen garuda pada Arca Ganesa dan Arca Durga di Candi Singosari. g. Beberapa motif hias pada kain batik yang banyak dijumpai dalam relief antara lain adalah motif kertas tempel. Penggunaan motif ini pada candi adalah sebagai motif penghias pada bidang-bidang yang berbentuk persegi panjang. Motif ini dapat dijumpai pada beberapa dinding candi di Jawa Tengah, misalnya Candi Sewu, Candi Borobudur, dan Candi Prambanan. 2. Data Tekstual Sementara itu, selain terdapat pada bangunan candi, ragam hias batik juga disebutkan dalam naskah kesusastraan antara lain: a. Naskah Pararaton yang ditulis antara tahun 1478-1486, disebutkan bahwa ketika Raden Wijaya hendak maju berperang melawan pasukan dari Cina, untuk menambah semangat prajuritnya, maka Raden Wijaya membagikan kain gringsing kepada para prajuritnya sehelai seorang (Pitono dalam Setiawan 2006, 28). Gringsing adalah motif isen batik klasik khas Yogyakarta. b. Serat Centhini yang mulai digubah pada tahun 1820 oleh Adipati Anom Amengku Negara III yang kemudian di sebut Sinuwun Pakubuwana V, menunjukkan bahwa penggunaan kata mbatik telah digunakan pada masa ini (Yasandalem Kanjeng Gusti 1985, 58). Teks (dalam bahasa jawa dengan huruf latin): 21 pangkur
25. Kepek kekalih punika, kang setunggal pan isi sinjang lurik, warna-warni corekanipun, miwah sinjang prausan, dhetar tepen renda myang praosanipun dene kepek satunggil, isi kampuh gadhung mlathi.

23

34 maskumbang
6. 7. Nyumerepi sawuwaning angi-angi, pon-empon babakan, eron ingkang maedahi, ngektosi kanggening karya. Nganlih nenun nyulam nyongket andondomi, angraronce sekar (m)batik (m)babar adi, mamantes isining wisma.

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:
25. 21 Pangkur Kedua kantung itu, yang satu berisi kain lurikl bercorak warna-warni dan kain prada, ikat kepala dengan tepi berenda serta berprada pula, sedangkan kantung yang satu berisi kampuh (kain kebesaran ningrat) bermotif gadhung melati. 34 Maskumbang Mengetahui penggunaan segala daun-daun yang bermanfaat untuk obat-obatan. Bertenun, menyulam, membuat batik sampai dengan menyelesaikannya menjadi kain yang bagus, pandai mengatur rumah.

6. 7.

c. Dalam Layar Damarmulan, seperti yang dikutip oleh D. Hinloopen Laberton dalam buku Ragam Hias dari Masa ke Masa disebutkan bahwa para prajurit (ksatria-ksatria) Majapahit dan Blambangan dalam peperangan menunggang kuda mengenakan kampuh khusus untuk punggawa tertentu di suatu kerajaan Majapahit, dengan ragam hias motif alas-alasan” (Yusuf dkk. 1988, 5). d. Naskah Sumanasantaka 19.6 dan naskah Maradahana 4.7 dan 25.10, juga menyebutkan adanya berbagai jenis pekerjaan yang berhubungan dengan kain. Penyebutannya adalah anglukis (seniman lukis), anulis (membatik), asipet (tukang sulam), dan angjahit (tukang jahit) (Pinardi 1992, 211). e. Undang-undang Manuskrip yang berbahasa Jawa dari Surakarta yang ditulis oleh Sri Susuhunan Pakubuwono III pada tahun 1769 berisi tentang peraturan penggunaan batik di lingkungan keraton. Batik dalam proses penciptaan motifmotif tersebut tidaklah dengan cara yang mudah sehingga tidak bisa digunakan oleh sembarang orang karena batik dibuat dengan motif-motif yang

24

mengandung magis yang tinggi. Perundangan ini merupakan sumber tertulis tertua yang menyebutkan istilah batik yang ditulis dalam Bahasa Jawa (Soejoko dalam Setiawan 2006, 29). Teks dalam Bahasa Jawa: “Ana dene kang arupo jajarit kang kalebu ing laranganingsun batik sawat lan batik parang rusak, batik cemungkiri kang calacap, madang, bangun tulak, lenga-teleng, daragem lan tumpal. Ana dene batik cumangkirang ingkang a calacap lung-lungan utama kekembangan, angangoka ingkang ingsung

kawenangaken

pepatih-ingsunlan

sentaningsun, kawula ningsun, wedana.” Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: “Adapun yang berupa kain panjang (jarit) yang termasuk dalam laranganku adalah batik sawat dan batik parang rusak, batik cemukiran terdiri dari medang, bangun-tulak, lenga-teleng, daragem dan tumpal. Adapun batik cemukiran yang terdiri dari lung-lungan, atau stiliran kembang (bunga). Yang kuijikan dipakai oleh patih dan kerabatku, hambaku wedana.”

f. Serat yang dikeluarkan oleh Sultan Hamengku Buwono VIII, menyebutkan peraturan tentang penggunaan kain batik. Serat tersebut berisi aturan-aturan tentang penggunaan busana kebesaran Keraton Yogyakarta Hadiningrat terutama yang menggunakan ornamen. Serat ini aslinya ditulis dalam bahasa dan huruf Jawa, kemudian disalin dalam Bahasa Jawa dengan huruf latin. Teks dalam Bahasa Jawa dengan huruf latin yang terdapat dalam Bab 3 tersebut, kutipannya seperti berikut ini (Nurjanti 1993, 175):

25

Wujude batikan dodot, sarta bebet prajuritan kaya ing ngisor iki: 1. parang rusak barong gedene sak nduwure gendreh,

2. parang rusak gendreh, dene garisan jupuk saka tengah-tengah mlinjon, nyiku bener ora luwih saka wolung sentimeter, 3. parang rusak klitik, gedene garisan uga kaya dene prang rusak gendreh, ananging ora keno luwih saka patang sentimeter, 4. semen gede sawat gruda, 5. semen gede sawat lar kang dudu gruda, 6. udan riris, 7. rujak sente, 8. parang-parangan kang dudu parang rusak, gede cilike garisan hiya miturut parang rusak, Sedangkan kutipan yang terdapat dalam Bab 4, adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. parang rusak baro, parang rusak gendreh, parang rusak kliti, semen gede sawat gruda, semen gede sawat lar kang dudu gruda, udan liris, rujak sente, parang-parangan kang dudu parang rusak.

Terjemahan dari kutipan tersebut dalam Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut: Bab 3 Wujudnya batikan dodot, serta pakaian keprajuritan seperti di bawah ini: 1. parang rusak barong besarnya setinggi(nya) gendreh,

26

2. parang rusak gendreh, (jika) seperti penggaris diambil dari tengahtengahnya mlinjon, benar-benar siku tidak lebih dari delapan centimeter, 3. parang rusak klitik, besarnya garis juga seperti parang rusak gendreh, tetapi tidak boleh lebih dari empat centimeter, 4. semen gede sawat gruda, 5. semen gede sawat lar yang bukan gruda, 6. udan riris, 7. rujak sente, 8. parang-parangan yang bukan parang rusak, besar kecilnya garis juga menurut parang rusak. Bab 4 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. parang rusak barong, parang rusak gendreh, parang rusak klitik, parang gede sawat gruda, semen gede sawat lar yang bukan gruda, udan riris, rujak sente, parang-parangan yang bukan parang rusak.

Motif batik pada arca-arca dan relief candi tersebut membuktikan bahwa pada abad IX-XVI M bangsa Indonesia telah mendapatkan motif lereng ceplok, kawung, sidomukti, semen, pemakaian isen-isen cecek dan titik, sedangkan India Selatan baru dimulai pada tahun 1516 dan mencapai puncaknya pada abad XVII-XIX M. Pemakaian alat memberikan corak tersendiri pada motif batik. Batik Indonesia dengan menggunakan canting merupakan salah satu wujud tingginya mutu kesenian kain batik yang dapat memperlihatkan keindahan yang sama dengan pada sisi luar maupun dalam. Hal ini tidak terdapat di India Selatan yang memakai

27

stempel sebagai alat pembatik sehingga hanya memperhatikan bagian luar saja (Tirtaamidjaja 1996, 3). Teknik penahan warna tidak hanya terdapat pada daerah yang mengalami pengaruh Hindu saja, tetapi juga terdapat pada daerah seperti Toraja (Sulawesi Selatan), Flores (NTT), Halmahera (Maluku), bahkan hingga Papua. Motif batik pada umumnya dipengaruhi dan erat hubungannya dengan beberapa faktor-faktor, antara lain (Djumena 1990,1): 1. Letak geografis daerah pembuatan batik yang bersangkutan, 2. Sifat dan tata kehidupan daerah yang bersangkutan, 3. Kepercayaan dan adat istiadat yang ada di daerah bersangkutan, 4. Keadaan alam sekitarnya, termasuk flora dan fauna, 5. Adanya kontak atau hubungan antar daerah pembatikan. Sedangkan seni batik dapat dilihat dari beberapa aspek, antara lain: proses pembatikan atau pembuatan, mutu pembatikan, ragam hias dan tata warna (Djumena 1990,2).

C. PENGELOMPOKAN JENIS BATIK Sejak zaman penjajahan Belanda, terdapat pengelompokan besar jenis batik berdasarkan daerah pembatikan, yaitu: 1. Batik Keraton Batik-batik dari Keraton Yogyakarta dan Surakarta menurut G.B.R.A Murywati Darmokusumo (1990, 31) mempunyai kekhasan dan keasrian masing-masing yang bisa dibedakan berdasarkan wujudnya. Batik Yogyakarta lebih banyak berlatar putih cerah dan menampilkan perbedaan warna yang tajam antara biru nila dan coklat soga yang hangat. Sedangkan latar batik Surakarta putih Gading. Sekalipun

28

demikian keduanya sama-sama mempunyai nilai dan filsafat yang tinggi. Ragam hias pada batik kraton bersifat simbolis berlatarkan kebudayaan Hindu-Jawa. Perkembangan teknik yang menghasilkan kain batik bermutu tinggi di keratonkeraton Jawa ditunjang dengan munculnya canting tulis. Suatu alat membatik yang terdiri dari wadah kuningan bercorong yang dipasang pada sebuah gagang buluh bambu kecil. Alat ini mampu menuliskan ragam hias yang paling rumit sesuai keterampilan dan kemampuan pembatik. Walaupun adanya perkembangan zaman di mana gaya hidup lama disesuaikan dengan yang baru, seni batik tetap merupakan suatu lambang tingginya citra budaya yang terdapat dalam keratonkeraton Jawa (Edleson dan Soedarmadji J.H Damais 1990, 7-8). Beberapa contoh motif batik keraton dan simbolisme yang melatarbelakanginya antara lain (Majalah Femina 1985, 8-10):

1.1. Kawung

Foto 2.1: Batik Motif Kawung. (difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Batik Klasik, hlm. 45)

29

Diinterpretasikan sebagai gambar bunga teratai dengan 4 lembar daun yang sedang mekar. Bunga teratai melambangkan umur panjang dan kesucian. Diperuntukkan bagi keluarga bangsawan sampai yang paling rendah yaitu Raden.

1.2. Parang Motif ini mempunyai pola pedang yang menunjukkan kekuasaan atau kekuatan. Menurut kepercayaan, motif parang harus dibatik tanpa salah, karena akan menghilangkan kekuatan gaib dari kain ini. Komposisi miring pada parang menandakan kekuatan dan gerak cepat, karena para ksatria diharapkan bergerak dengan gesit. Yang mempunyai daya magis pada motif parang adalah bagian “mlinjon”, yaitu pemisah pada komposisi miring yang berbentuk ketupat.

Foto 2.2: Batik Motif Parang Rusak. (difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik hlm. 62)

1.3. Cemukiran Mirip motif parang, tetapi mempunyai pola seperti sinar. Pola yang mirip sinar itu diibaratkan sebagai sinar matahari yang melambangkan kehebatan dan kebesaran alam semesta atau Batara Guru. Batara Guru menurut kepercayaan Jawa menjelma

30

dalam diri raja. Oleh karena itu hanya raja dan putra mahkota yang boleh menggunakan motif cemukiran.

Foto 2.3: Batik Motif Cemukiran. (difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik hlm. 62)

1.4. Sawat

Foto 2.4: Batik Motif Sawat. (difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik hlm. 62)

31

Motif ini ditandai dengan adanya lukisan sayap, baik sayap pasangan maupun tunggal. Sayap ini diibaratkan burung garuda. Dalam mitologi Hindu Jawa, garuda adalah jenis burung yang bertubuh dan berkaki manusia, tetapi bersayap dan berkepala seperti burung. Garuda ini membawa terbang Dewa Wisnu ke nirwana. 1.5. Udan Liris Motif ini berarti hujan gerimis. Motif ini adalah lambang kesuburan dan berhubungan dengan pertanian.

Foto 2.5: Batik Motif Udan Liris. (difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik hlm. 62)

1.6. Semen Berasal dari kata semi (bahasa Jawa) yang berarti tumbuh. Motif ini penuh dengan simbolisme yang menunjukan pujaan terhadap kesuburan dan tata tertib alam semesta.

32

Foto 2.6: Batik motif Semen Romo. (difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Batik Klasik, hlm. 73)

Lukisan yang terdapat dalam semen bermacam-macam, tetapi yang utama adalah pohon atau tanaman dengan akar dan sulur-suluran. 1.7. Alas-alasan Motif ini mirip dengan motif semen. Perbedaannya adalah banyak terdapat lukisan hewan. Alas-alasan berarti seperti hutan. Ada motif alas-alasan yang dilukiskan sebagai pinggiran dodot kembang (polos dengan warna-warna bunga). Kain semacam ini disebut bangun tulak. Bangun tulak hanya dikenakan oleh Raja Surakarta pada waktu upacara-upacara kerajaan. Kain ini juga digunakan oleh para penari tarian kuno Bedoyo Ketawang, yang merupakan tarian ungkapan percintaan antara Nyai Loro Kidul dengan

Panembahan Senopati.

33

Foto 2.7: Batik motif Alas-Alasan. (difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Batik Klasik, hlm. 73)

2. Batik Pesisiran Batik pesisir adalah istilah yang digunakan pada produk-produk dari luar dinding keraton. Keberadaanya tidak di bawah kendali dan dominasi aristokrasi keraton, berikut segenap tata aturan, alam pikiran dan filsafat kebudayaan keraton Jawa. Pertumbuhannya berangkat dari beberapa faktor yaitu masyarakat pelaku produksinya, yakni rakyat jelata. Sifatnya cenderung merupakan komoditas dagang berikut segenap dampak yang ditimbulkan pada teknologi produksinya, dan ikonografi yang sarat dengan pengaruh etnis. Sebagai produk perdagangan, batik ini banyak mengalami dinamika

perkembangan di kalangan pengusaha Cina dan Muslim, diikuti kelompok keturunan Belanda (Indo). Bersama-sama mereka melengkapi sejarah

perkembangan perbatikan di wilayah nusantara (Anas dkk. 1997, 82). Masyarakat nusantara yang beraneka ragam budaya, sebagai konsumen batik juga turut mempengaruhi ragam hias dan warna, sehingga muncul berbagai perbedaan ragam hias dan warna pada batik yang dibuat oleh masyarakat perajin

34

yang berbeda tempat. Perbedaan tempat ikut mempengaruhi perbedaan ragam hias dan warna, karena didasari oleh faktor pengalaman yang dimiliki oleh perajin dan wirausaha yang pada hakekatnya berbeda. Perbedaan ini dipertajam karena pilihan segmen pasar dan mutu batik mempengaruhi babaran proses yang berbeda. Pusat-pusat batik pesisir di Pulau Jawa adalah daerah pembatikan yang terdapat pada jalur pesisir utara Jawa, dari barat ke timur meliputi kota-kota pembatikan Indramayu, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Juana, Rembang, Lasem, Tuban, Sidoarjo, dan daerah Madura seperti Tanjung Bumi, Sampang, dan Sumenep. 2.1. Indramayu Desa pembuatan yang dikenal terdapat di daerah Paoman. Teknik yang digunakan umumnya batik tulis, dengan produk yang paling banyak dipakai untuk jarit dan sarung. Batik Indramayu dibuat dengan teknik “babar pisan”, artinya hanya sekali proses pelorodan, tidak ada proses ulang untuk sogan. Warna yang dipakai umumnya warna gelap (tua) dan terang (putih).

Foto 2.8: Kain Panjang Indramayu. (difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik, hlm. 95)

35

Ciri yang menonjol dari batik Indramayu adalah langgam flora dan fauna diungkap secara datar, dengan banyak bentuk lengkung dan garis-garis yang meruncing (ririan), latar putih dan warna gelap, dan banyak titik yang dibuat dengan teknik cacahan jarum, serta bentuk isen-isen (sawot) yang pendek dan kaku. 2.2. Cirebon

Daerah pembatikan Cirebon terletak di daerah Trusmi dan Kali Tengah. Pengusaha Trusmi umumnya membuat batik untuk jarit, sarung dan ikat kepala serta barang-barang rumah tangga seperti taplak, sarung bantal, dan sebagainya. Ciri yang sangat menonjol pada batik Cirebon yaitu batik Keraton dan batik BangBiron. Di samping itu, terdapat corak batik yang jarang dipakai untuk pakaian seharihari dengan simbol spiritual, yakni batik yang dihias dengan kaligrafi Arab, berisi bagian-bagian ayat Al-Quran atau doa-doa dalam bahasa Arab. Batik ini disebut Kain Besurek yang dalam bahasa Indonesia berarti bersurat dan banyak diminati oleh orang-orang Sumatera seperti Minangkabau, Bengkulu, dan Jambi. Batik keraton Cirebon memiliki ciri warna putih (dasar), biru (indigo), dan coklat (soga). Ragam hias yang dipilih banyak terkait dengan mitologi yang berkembang di Cirebon seperti Paksi Naga Liman, Singa Barong, Taman Arum, Naga Seba, dan sebagainya.

36

Foto 2.9: Batik Cirebon Motif Mega Mendung. (difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik, hlm. 98)

Tata letak batik Cirebon umumnya tersusun horizontal dalam tiga lajur yang menggambarkan jajaran atas, tengah, dan bawah. Sekarang pembatik Cirebon telah banyak menggunakan pewarna buatan yang memungkinkan terciptanya berbagai kombinasi warna untuk memperkaya ragam hias. 2.3. Pekalongan Dikenal sebagai kota batik, karena memiliki potensi yang cukup besar sebagai penghasil batik yang tersebar ke seluruh nusantara. Salah satu motif batik Pekalongan yang terkenal adalah motif jlamprang yang saat ini sudah jarang diproduksi lagi. Menurut Ninuk Mardiana Pambudi dalam artikelnya yang berjudul Perjalanan Panjang Batik (2000, 236-237), motif jlamprang meniru motif patola yang berasal dari Gujarat. Kehalusan motif yang dihasilkan ikat patola dengan cepat menarik minat para bangsawan kerajaan Jawa. Namun karena kelangkaan pasokan, maka para artisan batik dengan cepat meniru motif tersebut.

37

Foto 2.10: Kain Panjang Pekalongan. (difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik, hlm. 101)

Beberapa daerah pembatikan yang terkenal sebagai penghasil batik dengan ciri ragam hias dan warna antara lain Kauman, Pesindan, Sampangan, Klego, Sugihwaras, Keraton, Grogolan, Krapyak, Panjang, Bendan, dan Poncol.

Sedangkan di luar kota Pekalongan antara lain Buaran, Pekajangan, Kedungwuni, Wonopringgo, Bojong, Wira Desa, Comal, dan Pencongan. Daerah batik di Kabupaten Batang antara lain Setono, Warung Asem, Sukoharjo, Karanganyar, Dracik, Kecepak, Klidang, Gamer, dan Slumprit. Ciri yang menonjol pada batik Pekalongan adalah ragam hias dan tata warnanya senantiasa silih berganti, dinamis, dan mengikuti perkembangan pasar. Berbagai teknik pewarnaan diperkenalkan seperti teknik coletan, besutan, sinaran,

pewarnaan radian, formika, dan berbagai pengembangan zat pewarna seperti naphtol, indigosol, cat basa, cat ergan, cat rapid, dan reaktif.

38

2.4. Lasem Lasem, kota kecamatan di bagian timur Kabupaten Rembang, terletak kurang lebih 13 km dari ibu kota kabupaten. Nama Lasem selama ini lebih dikenal dibandingkan ibu kota kabupatennya sendiri, Rembang. Sebagian besar bus dari luar daerah selalu transit di terminal Lasem dan menempatkan Lasem sebagai jalur kendaraan, dan bukan Rembang, misalnya, bus jalur Semarang-Lasem (Nurbiajanti, 2004).

Foto 2.11: Sarung Bang-Biron dari Lasem. (difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik, hlm. 109)

Batik dari daerah ini memiliki corak khas, terutama pada warna merahnya yang menyerupai merah darah ayam, yang konon tidak dapat ditiru oleh pembatik dari daerah lain. Kekhasan lain terletak pada coraknya yang merupakan gabungan pengaruh budaya Tionghoa, budaya lokal masyarakat pesisir utara, dan budaya keraton (Surakarta dan Yogyakarta). Perajin di kota ini umumnya keturunan Cina dengan modal yang cukup besar, sehingga dapat melakukan pembelian bahan-bahan pembatikan secara banyak, langsung dari pabrik atau pedagang bahan impor, dengan tujuan efisiensi.

39

Ketika membuat desain untuk motif batik produksi mereka, para pengusaha pembatikan Lasem dipengaruhi budaya leluhur mereka seperti kepercayaan dan legendanya. Ragam hias burung hong dan binatang legendaris Kilin (semacam singa) dan sebagainya mereka masukkan dalam motif batik produksi mereka. Bahkan, cerita percintaan klasik Tiongkok seperti Sam Pek Eng Tay pernah menjadi motif batik di daerah ini. Tidak mengherankan bila kemudian batik produksi Lasem sering disebut sebagai batik Encim. Encim adalah sebutan kaum Tionghoa peranakan untuk wanita yang usianya telah lanjut (Wargatjie, 2003). 2.5. Tuban Daerah pembatikan Tuban terdapat di beberapa desa di Kecamatan Kerek, Merak, Urak, dan di kota Tuban sendiri. Batik di ketiga daerah ini memiliki ciri yang berlainan.

Foto 2.12: Kain Tuban. (difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik, hlm. 111)

Di Kecamatan Kerek, khususnya di Desa Worgorejo, Kedung Rejo, dan Gaji serta pembatikan di Kecamatan Warak dan Urak, pembatikan dilakukan diatas kain gedok tenun tangan dengan benang pintal tangan, sedangkan di Waru Tuban tidak

40

biasa memakain kain gedok untuk batik, melainkan kain dari jenis katun prismissima dan prima. 2.6. Sidoarjo Batik Sidoarjo merupakan komuditas dagang yang ditujukan untuk segmen masyarakat pesisir utara Jawa Timur dan Madura. Corak tradisional batik Sidoarjo beragam jenis flora dengan paduan warna hitam, coklat, dan merah. Corak ini terutama digemari oleh orang-orang Madura sehingga disebut batik Maduran. Corak tradisional ini berpola agak besar-besar dengan isen-isen agak besar. Pengusaha batik Sidoarjo sebagian besar golongan keturunan Cina, sehingga kurang memperhatikan kaidah batik tradisional tetapi cenderung mengikuti perubahan pasar. 2.7. Madura

Foto 2.13: Kain Panjang Madura Motif Buk. (difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik, hlm. 113)

41

Batik Madura terutama dikerjakan oleh perajin batik dari Tanjung Bumi, Sampang, Pamekasan, dan Bangkalan. Tanjung Bumi merupakan penghasil batik yang beraneka ragam dan rumit. 2.8. Ciamis dan Tasikmalaya

Ragam hias dan warna batik Tasikmalaya dan Ciamis mendapat pengaruh kuat dari batik keraton, yakni ragam hias lereng dan kawung dengan pewarnaan krem, coklat, dan hitam. Belakangan, pengaruh batik pesisiran juga mewarnai batik Tasikmalaya dan Ciamis, seperti tampak pada corak flora dan tata warnanya yang menggunakan pewarna sintesis naphtol dan indigosol. Dalam proses, pembuatan batik diperlukan beberapa peralatan, antara lain: 1. Gawangan Gawangan ialah perkakas untuk menyangkutkan dan membentangkan mori sewaktu dibatik. Gawangan dibuat dari bahan kayu atau bambu. Gawangan dibuat sedemikian rupa, sehingga mudah dipindah-pindah, tetapi harus kuat dan ringan.

Foto 2.14: Gawangan pada industri batik Plentong. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

42

2. Bandul Bandul dibuat dari timah atau kayu atau batu yang dikantongi. Fungsi pokok bandul ialah untuk menahan mori yang baru dibatik agar tidak mudah bergeser ditiup angin, atau tarikan si pembatik secara tidak disengaja. Jadi tanpa bandul, pekerjaan tetap dapat dilaksanakan. 3. Wajan Wajan ialah perkakas untuk mencairkan malam. Wajan dibuat dari logam baja, atau tanah liat. Wajan sebaiknya bertangkai supaya mudah diangkat dan diturunkan dari perapian tanpa mempergunakan alat lain. Oleh karena itu wajan yang dibuat dari tanah liat lebih baik dari pada yang logam, karena tangkainya tidak mudah panas. Tetapi wajan dari bahan tanah liat lebih lama mencairkan malam. 4. Anglo

Foto 2.15: Anglo yang biasa digunakan dalam poses membatik. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

Anglo dibuat dari tanah liat, atau bahan lain. Anglo ialah alat perapian sebagai pemanas malam. Apabila mempergunakan anglo, maka bahan untuk membuat

43

api ialah arang kayu. Jika menggunakan kayu bakar, anglo diganti dengan keren. Keren inilah yang banyak dipergunakan orang di desa-desa. Keren pada prinsipnya sama dengan anglo, tetapi tidak bertingkat. 5. Tepas Tepas ialah alat untuk membesarkan api menurut kebutuhan, terbuat dari bambu. Selain tepas, digunakan juga ilir. Tepas dan ilir pada pokoknya sama, hanya berbeda bentuk. Tepas berbentuk empat persegi panjang dan meruncing pada salah satu sisi lebarnya dan tangkainya terletak pada bagian yang runcing itu. Sedangkan ilir berbentuk bujur sangkar dan tangkainya terletak pada salah satu sisinya serta memanjang ke samping. 6. Taplak Taplak ialah kain untuk menutup paha si pembatik supaya tidak kena tetesan malam panas sewaktu canting ditiup, atau waktu membatik. Taplak biasanya dibuat dari kain bekas.

Foto 2.16: Anglo, wajan, dan malam serta canting sebagai peralatan membatik. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

44

7. Saringan malam

Saringan ialah alat untuk menyaring malam panas yang sangat banyak kotorannya. Jika malam disaring, maka kotorannya dapat dibuang, sehingga tidak menggangu jalannya malam pada cucuk canting sewaktu dipergunakan untuk membatik. 8. Dingklik Dingklik atau lincak pada prinsipnya sama, yaitu tempat duduk si pembatik. Tetapi pembatik juga dapat duduk di atas tikar. 9. Canting

Foto 2.17: Canting dalam berbagai bentuk dan kegunaan. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

Canting adalah alat pokok untuk membatik yang menentukan apakah hasil pekerjaan itu dapat disebut batik, atau bukan batik. Canting dipergunakan untuk menulis, membuat motif batik yang diinginkan. Sultan HB X dalam buku Sekaring Jagad Ngayogyakarta Hadiningrat mengatakan bahwa perkembangan teknik yang menghasilkan kain batik bermutu tinggi di keraton-keraton Jawa ditunjang dengan munculnya canting tulis. Suatu alat membatik yang terdiri dari wadah kuningan bercorong dipasang pada sebuah gagang buluh bambu kecil. Alat ini

45

mampu menghasilkan ragam hias yang paling rumit sesuai keterampilannya dan kemampuan si pembatik 10. Malam Malam adalah bahan yang dipergunakan untuk membatik. Sebenarnya malam tidak habis, karena akhirnya diambil kembali pada waktu proses mbabar. Malam yang dipergunakan untuk membatik macam-macam kualitasnya. Kualitas ini berpengaruh terutama pada daya serap, warna yang dapat mempengaruhi warna mori (kain), halusnya cairan, dan sebagainya. Maka harganya pun akan berbedabeda, tetapi dalam pemakainnya tergantung pada kebutuhan.

Foto 2.18: Malam sebagai bahan inti dalam teknik penahan warna dalam membatik. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

11. Kain Mori Mori adalah bahan baku batik dari katun. Kualitas mori bermacam-macam, dan jenisnya sangat menentukan baik buruknya kain batik yang dihasilkan, karena kebutuhan mori dari macam-macam kain tidak sama. Jenis-jenis mori antara lain: (a). mori primisima: merupakan kain mori terbaik dan halus, sering juga disebut mori sen, (b). mori prima: merupakan kain mori dibawah kualitas mori primisima,

46

tetapi tetap halus, (c). mori biru: merupakan kain mori dengan kualitas dibawah mori prima. Untuk menghasilkan kain batik tulis dengan kualitas tinggi memerlukan sembilan tahap/ proses (Hadisuwito, 2007). Sedangkan untuk pembuatan batik cap, terdapat beberapa proses yang tidak dilalui, disebabkan proses tersebut telah diambil alih oleh cap batik. Adapun tahapan membatik adalah: 1. nyorek Adalah proses memindahkan desain motif batik ke bahan mori.

Foto 2.19: Proses nyorek pada industri batik Plentong. (difoto oleh: Agustine Dwi Kurniawati)

2. ngegreng Adalah menutup desain batik dengan malam, dan masih berupa kosongan. 3. klowongan Adalah memberi isian dalam motif batik 4. nembok Adalah menutup motif dengan malam khusus, supaya hasil akhirnya menjadi putih.

47

5. medel Adalah memberi warna biru atau indigo. Kain batik direndam dalam cairan indigo selama 15 menit, kemudian di kerek selama 2 hari secara bergantian.

Foto 2.20: Proses medel pada industri batik Plentong. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

6. dilorot pertama Adalah proses menghilangkan lilin dengan cara direbus. Pada proses ini batik sudah setengah jadi. 7. digranit Adalah proses memberi titik pada garis pensil. 8. mbironi Adalah proses menutup cecek dengan malam.

48

9. disoga Adalah proses memberi warna coklat dengan cara direndam.

Foto 2.21: Proses soga pada industri batik Plentong. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

10. dilorot terakhir Adalah proses terakhir dengan cara direndam agar semua malam yang masih melekat sebagai penahan warna hilang.

Foto 2.22: Proses nglorot pada industri batik Plentong. (difoto oleh: Agustine Dwi Kurniawati)

49

Pada pembuatan batik cap, proses pembatikannya lebih singkat karena mulai dari proses nyorek sampai klowongan dikerjakan dengan alat cap yang terbuat dari kuningan, namun setelah itu dilanjutkan dengan proses seperti layaknya batik tulis.

Foto 2.23: Proses batik cap pada industri batik Plentong. (difoto oleh: Agustine Dwi Kurniawati)

Dalam pewarnaan batik, dapat menggunakan pewarnaan alami maupun buatan. Zaman sekarang kebanyakan indutri batik menggunakan pewarna buatan karena mereka dapat menghewat waktu produksi. Sedangkan pewarna alami tetap digunakan, namun hanya pada produksi kain batik tertentu saja.

50

Dalam pewarna alami, bahan dari alam yang digunakan antara lain (Setiawan 2006, 46-64):
a. nila atau tom (Indigofera tinctoria L) c. jambal (Peltophorum pterocarpum DC) e. soga (Pelthorum pterocarpum backer) g. mahoni (Swetenia mahoni JACO) i. ulin (Eusideroxylon zwageri T) k. jati (Tectona grandis L) m. nangka (Artocarpus integra MEER) o. gambir (Uncaria gambir ROXB) q. kepel (Stelechocarpus burahol HOOK) s. jambu biji (Psidium gujavana L) u. srigading (Nyctanthes arbor tritis L) w. senggani LINN) y. kunyit (Curcuma domistica) (melastoma malabathicum b. tingi (Ceriop tagal PEER) d. jalawe (Termalia belerica ROXB) f. j. l. mengkudu (Morinda citrilofia L) bawang merah (Allium ascalonium L) teh (Acalypha wilkesiana) h. apokat (Persea Gratisima G)

n. kenikir (Sonchus oleracheus LINN) p. mangga (Magifera indica LINN) r. randu (Ceiba pentandra GAERTH) t. v. kesumba (Bixa Orellama L) tembelekan (Lantana camara L) (Maclura cochinchinensis LOUR) z. secang (caesal pinia sappan LINN)

x. tegeran

Tabel 2.1: Bahan alam untuk pembuatan pewarna alami batik.

Foto 2.24: Neraca untuk meracik pewarna buatan pada indutri batik Plentong. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

51

D. SEJARAH BERDIRINYA MUSEUM BATIK YOGYAKARTA Secara administratif Museum Batik Yogyakarta terletak di Kotamadya

Yogyakarta, Kecamatan Danurejan, Kelurahan Bausasran, tepatnya di Jalan Dr. Sutomo nomor 13. Museum ini terletak di dalam pemukiman yang padat penduduk dan wilayah dengan tingkat kejahatan yang tertinggi di Kecamatan Danurejan. Museum ini dapat dikunjungi setiap hari kerja mulai pukul sembilan pagi hingga pukul tiga sore dan diselingi waktu istirahat pada pukul 12 hinggal pukul 13. Pada hari Minggu dan Hari Besar, museum ini tutup. Museum Batik Yogyakarta berdiri pada tanggal 12 Mei 1977, karena faktor kesehatan yang diderita oleh Bapak Hadi Nugroho sebagai pemilik, maka museum baru dapat diresmikan dua tahun setelahnya, pada tanggal 12 Mei 1979 oleh pejabat dari Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang telah berganti menjadi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata), dengan akta notaris nomor 22 tanggal 25 Mei 1977 dan pejabat pembuat akta adalah Daliso Rudianto, S.H.

52

Peta 2.1: Keletakan Museum Batik Yogyakarta terhadap museum lain di Yogyakarta. (digambar oleh: Diniartha Ikha Muharram)

Koleksi yang terdapat pada Museum Batik Yogyakarta berasal dari milik pribadi dan pembelian yang dikumpulkan mulai tahun 1960. Koleksi yang berasal dari pribadi diperoleh keluarga Bapak Hadi Nugroho yang pada masa itu merupakan pengusaha batik di Yogyakarta, sedangkan beliau sendiri adalah generasi ketiga dari keluarganya. Museum ini berdiri atas prakarsa keluarga Hadi Nugroho yang merasa tergugah ketika banyak wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara yang mencari barang-barang antik, khususnya batik. Kemudian beliau memulainya dengan mengumpulkan koleksi dari tiga generasi, yaitu dari eyang, orang tua, dan beliau sendiri. Bila dilihat dari jenis koleksinya, museum ini masuk ke dalam klasifikasi museum khusus, dan bila dilihat dari aspek penyelenggaraannya Museum Batik Yogyakarta

53

merupakan museum swasta yang dimiliki oleh Yayasan Batik Yogyakarta dengan struktur pengurus sebagai berikut: Penasehat Ketua Sekretaris Komisaris Ketua Anggota : : : : KRT. Soebandi Kusumonegoro R. Ma’roef Soeprapto Ir. Sri Sudewi Samsi RnGT. Dewi Sukaningsih : : : : GPPH Hadiningrat Hadi Nugroho Suharjono Dewi Hadi Nugroho

Tabel 2.2: Struktur pengurus Yayasan Batik Yogyakarta.

Dengan

visi

“Memberikan

Kontribusi

dalam

Upaya

Melestarikan,

Mengembangkan dan Mengkomunikasikan Batik sebagai Karya Cipta Umat Manusia maupun sebagai Khasanah Budaya Nusantara demi Memperkaya Akal Budi dan Meningkatkan Nilai-nilai Kemanusiaan”, Museum Batik mempunyai misi, yaitu: 1. Mengembangkan museum batik dengan koleksi yang bernilai tinggi melalui sarana fisik yang representatif dan prasarana manajerial yang andal. 2. Mengembangkan fasilitas perawatan koleksi batik beserta perlengkapan teknologinya pendukungnya. 3. Mengembangkan diferensiasi daya tarik wisata edukasi berbasis museum. 4. Mengembangkan fasilitas rekreatif yang dipadu dengan fasilitas ekspresi seni di Yogyakarta. Dalam mencapai visi dan misinya tersebut, museum ini mengembangkan dua pola kegiatan secara garis besar, yaitu kegiatan intern dan ekstern. Kegiatan intern museum adalah mengadakan pameran rutin, mengadakan festifal batik, pertemuan sebagai dokumentasi seni dan budaya masyarakat

54

dengan para pelaku industri batik, lomba lukis motif batik serta kursus membatik. Sedangkan untuk kegiatan ekstern yang dilakukan adalah mengadakan kerja sama dengan instansi pemerintah, mengundang media masa untuk meliput koleksi dan mempublikasikan kepada masyarakat, serta mengikuti pameran-pameran (Haryono, 2007) Koleksi Museum Batik Yogyakarta merupakan kumpulan dari koleksi dengan cakupan lokal dan nasional, dengan maksud agar museum ini dapat memberikan wawasan nusantara kepada para pengunjung melalui koleksinya. Museum batik Yogyakarta saat ini memiliki koleksi 1.219 buah koleksi yang terdiri dari 500 kain batik yang terdiri dari batik kraton dan batik pesisir, 560 buah canting cap, 124 canting tulis, dan peralatan lain seperti wajan dan anglo sebanyak 35 buah. Koleksi ini berumur sangat tua sampai pada batik yang pembuatannya yang diolah secara modern antara lain: 1. Sarung isen-isen antik karya E.V. Zeuylen dari Belanda. Batik ini berasal dari Pekalongan dengan tahun pembuatan sekitar tahun 1880-1890. Sarung tersebut memiliki corak untaian bunga, tumpal blabakan, galar selinglung daun dengan warna biru tom hijau warna kayu, dikerjakan dengan teknik proses batik tulis dengan tingkat kesulitan sedang dan berbahan mori primisima, 2. Sarung isen-isen antik (kelengan) karya seorang nyonya Belanda yang tidak diketahui namanya. Batik ini berasal dari Pekalongan dengan tahun pembuatan sekitar tahun 1880-1890. Sarung tersebut memiliki corak buketan isen-isen, dasar galar seling halus dan unik dengan warna biru tom kuning kayu hijau kombinasi, dikerjakan dengan teknik proses batik tulis halus cecek jarum dan berbahan mori primisima, 3. Sarung panjang soga jawa karya Lie Djing Kiem. Batik ini berasal dari Yogyakarta dengan tahun pembuatan sekitar tahun 1920-1930. Sarung tersebut memiliki corak boketan adu jago dasar polos dengan warna soga jawa, hitam, dan putih, dikerjakan dengan teknik proses batik tulis sedang dan berbahan mori primisima. Koleksi tertua yang dimiliki museum ini adalah kain pethuk manten, yaitu kain batik yang

55

digunakan pada waktu upacara srah-srahan pengantin jawa dengan tahun pembuatan 1740 (Haryono, 2007). Dalam pengembangannya, saat ini Museum Batik Yogyakarta sejak tahun 2004 telah merintis pengembangan Museum Batik Yogyakarta di Dusun Kaliwaru, Kelurahan Condong Catur, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Provinsi DIY. Museum ini nantinya akan didirikan diatas tanah seluas 7.000 m2 dengan luas bangunan 5.600 m2 dan saat ini sedang dalam tahap izin pemakaian tanah kas desa di tingkat kelurahan. Rencananya museum ini akan dilengkapi dengan fasilitas aula pameran temporer, aula penerima audio visual, ruang audio visual, gerai cenderamata, aula kantor, ruang administrasi, ruang kurasi, restoran dan kafe, ruang bermain untuk anak-anak, area bongkar muat, bengkel kerja, wisma tamu, pendopo, gudang alat, aula museum, perpustakaan, ruang penyiapan pajang, ruang pajang koleksi, dan gardu pandang (Dwiyanto dkk. 2004, 4).

C. LINGKUNGAN FISIK DAN KOLEKSI MUSEUM BATIK YOGYAKARTA Bangunan Museum Batik Yogyakarta menempati areal seluas 400 m². Luas tanah seluruhnya 600 m², merupakan rumah tinggal keluarga Hadi Nugroho. Secara umum, tata pameran museum ini terkesan sempit. Pengunjung hanya bisa satupersatu untuk menikmati koleksi ketika melewati ruang Batik Pesisiran dan ruang Batik Soga Yogya Solo. Hal ini disebabkan panil terletak di sebelah kiri dan kanan pengunjung, sementara jarak antar panil di sisi kiri dan kanan tersebut hanya sekitar satu meter, sehingga hanya cukup untuk dilewati oleh satu orang pengunjung dewasa.

56

Alur tata pameran pada Museum Batik Yogyakarta pada mulanya adanya sebagai berikut:
Pintu Masuk ↓ Ruang Pengenalan ↓ Ruang Batik Soga Yogya Solo ↓ Ruang Batik Pesisiran ↓ Ruang Cenderamata ↓ Pintu Keluar

Tabel 2.3: Alur tata pameran Museum Batik Yogyakarta.

Pembagian ruangan Museum Batik Yogyakarta adalah:

Denah 2.1: Pembagian Ruangan di Museum Batik Yogyakarta (difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari surat kabar Kompas, hlm. H)

a. Pintu Masuk Utama

57

Pintu masuk utama museum berada di sebelah selatan, karena dinilai terlalu banyak gangguan, akhirnya pada tahun 2003 pintu utama tersebut ditutup dan akses masuk museum dipindah ke pintu samping yang terletak di sisi barat museum. b. Pintu Masuk Samping

Foto 2.25: Pintu masuk samping pada Museum Batik Yogyakarta (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

Terletak di sisi barat museum, terlihat sepertinya dahulu ini merupakan akses untuk pintu keluar, karena ketika kita masuk dari pintu samping ini, kita akan langsung bertemu dengan toko cenderamata, yang pada museum umumnya terletak pada bagian akhir rute kunjungan museum. Masuk dari pintu ini, pengunjung langsung bertemu dengan meja administrasi pengunjung. Di meja ini akan disambut dengan petugas museum yang akan siap menjadi pemandu. Untuk menikmati koleksi dan semua pelayanan yang diberikan, setiap pengunjung dikenakan biaya lima belas ribu rupiah.

c. Ruang Pengenalan

58

Merupakan ruangan untuk mengenalkan peralatan dan proses membatik. Sebelum tahun 2004, ruangan ini merupakan ruangan pertama yang akan dijumpai oleh pengunjung museum. Pada ruangan ini terdapat koleksi yang menjelaskan tahap-tahap proses membatik, dan peralatan batik seperti cantingcanting mulai dari yang kuno hingga canting yang digunakan pada masa kini, cap, dan pewarna alami, serta motif batik. d. Pasren Merupakan sebuah panggung kecil di depan pintu masuk yang lama, dan menjadi satu bagian dari ruang pengenalan. Pada panggung ini terdapat patung Loro Blonyo yang merupakan perlambang dari Dewi Sri, yang oleh masyarakat Jawa di dalamnya terkandung konsep kematian, kelahiran, dan pertumbuhan (Wibowo dkk. 1996, 42).

Foto 2.26: Ruang Pengenalan dan Ruang Pasren pada Museum Batik Yogyakarta. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

e. Ruang Batik Soga Yogya Solo

59

Merupakan lorong dengan koleksi kain batik dengan gaya kraton. Didalamnya terdapat sekitar tiga puluh satu buah koleksi kain batik gaya kraton. Pada Koleksi di ruang batik soga Yogya Solo dan ruang Pesisiran semuanya merupakan replika dari koleksi yang asli. Koleksi aslinya disimpan dalam vitrin di pojok ruangan sisi barat ruang pesisiran. Sesuatu yang sebetulnya dilarang, dimana koleksi asli berada di ruang pameran permanen.

Foto 2.27: Ruang Soga Yogya Solo pada Museum Batik Yogyakarta. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

Ruangan di sini bukan seperti ruangan yang sebenarnya biasa kita lihat dengan berbatas atau terlingkung oleh bidang, tetapi merupakan lajur yang di sisi kiri dan kanannya dibatasi oleh panil-panil dari koleksi tersebut. f. Ruang Pesisiran Merupakan kumpulan panil-panil yang memamerkan koleksi batik-batik motif pesisiran dan beberapa motif Belanda. Di sini banyak ditemukan koleksi-koleksi sejak abad XVIII M. Jumlah koleksi pada ruang pesisiran mencapai 37 buah.

60

Foto 2.28: Ruang Pesisiran pada Museum Batik Yogyakarta (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

g. Ruang Perawatan Merupakan ruangan kecil berukuran 2 x 1 m. Di dalam ruangan ini, terdapat alat perawatan batik secara manual, yaitu menggunakan ratus yang terbuat dari akar wangi. Ratus atau dupa harum ini terbukti cukup efektif dalam proses menghambat atau mematikan jamur yang biasa menyerang benda koleksi museum, karena sama efektifnya dengan perawatan kimia menggunakan fungisida, waktu yang diperlukan relatif lebih cepat, tingkat resiko terhadap kesehatan dalam prosesnya lebih rendah dan biaya yang dikeluarkan lebih murah.

61

Foto 2.29: Ruang Perawatan pada Museum Batik Yogyakarta. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

h. Toko Cenderamata dan Geleri Ruangan ini terletak di sisi timur meja resepsionis. Cendera mata yang dipamerkan antara lain adalah canting, buku-buku panduan membatik, bukubuku katalog koleksi batik yang tertata dalam tiga buah etalase kaca. Selain itu juga terdapat pakaian batik dan yang dipajang dalam lemari gantung serta beberapa sulaman.

62

Foto 2.30: Toko Cenderamata dan Galeri pada Museum Batik Yogyakarta. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

i. Museum Sulaman Museum ini baru berdiri pada tanggal 12 Mei 2001, menempati ruangan di sisi paling barat dari ruang Museum Batik Yogyakarta. Di sini ditampilkan beberapa koleksi dari sulaman Ibu Dewi. Salah satu dari koleksi Museum Sulaman ini memperoleh piagam penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai sulaman tangan terpanjang dengan ukuran 400 x 90 cm, dengan judul Penyaliban Yesus di Bukit Golgota. Sebagian besar karya sulaman yang dipajang adalah bermotif Yesus, Bunda Maria, dan mantan presiden Soekarno.

63

Foto 2.31: Museum Sulaman yang menjadi 1 dengan Museum Batik Yogyakarta. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

j. Ruang Batik Ruang ini terletak di sisi utara pintu masuk samping. Ruang ini digunakan untuk kegiatan membuat duplikat koleksi batik yang merupakan pesanan para pengunjung, juga digunakan sebagai tempat untuk membuat panil-panil baru.

Foto 2.32: Aktivitas pada Ruang Batik Museum Batik Yogyakarta. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

64

k. Ruang Preparasi Saat ini kegiatan preparasi banyak dilakukan di ruang batik karena sumber daya manusia yang tersedia saat ini sedikit sehingga cukup dilakukan di ruang batik, tidak seperti dulu, ketika museum ini memiliki banyak pegawai, sehingga ruang ini saat ini menjadi tempat untuk menyimpan peralatan l. Perpustakaan Ruangan ini terletak di sisi utara Museum Sulaman. Di dalamnya terdapat dua buah lemari buku dari kayu, sebuah lemari berbahan besi serta dua buah kursi baca. Koleksi buku yang terdapat di museum ini antara lain: buku tentang museum, buku tentang batik, dan buku tentang pengetahuan umum. Terdapat pencahaan alami pada ruangan ini, karena menggunakan genting kaca, selain sebuah lampu jenis TL.

Foto 2.33: Ruang Perpustakaan pada Museum Batik Yogyakarta. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

Pelayanan lain yang diberikan oleh museum ini adalah membuka kelas batik bagi masyarakat umum. Hal ini merupakan salah satu terobosan untuk terus melestarikan budaya batik, selain sebagai usaha pendamping untuk pendanaan

65

operasional museum di luar tiket masuk, penjualan cenderamata, dan layanan perawatan koleksi batik. Koleksi-koleksi tersebut diperoleh dengan berbagai cara, antara lain dengan pembelian, hibah, dan warisan. Dalam prosesnya, koleksi yang akan dibeli atau akan menjadi milik koleksi museum harus disetujui oleh tim ahli yang terdiri dari seksi konservasi dan koleksi serta seksi edukasi dan preparasi. Untuk mencegah tumbuhnya jamur, Museum Batik Yogyakarta sangat

memperhatikan tingkat temperatur ruangan dan kelembaban. Untuk temperatur ruangan adalah 25°-28°C dan tingkat kelembaban adalah 45% - 65%. Dalam buku Pedoman Pengelolaan Museum, disebutkan bahwa untuk museum di Indonesia secara umum tingkat suhu udara yang cocok dalam ruang penyimpanan adalah antara 20° - 24°C, sedangkan tingkat kelembaban adalah 45% - 60%. Penggunaan air conditioner tidak dianjurkan khususnya untuk museum-museum di daerah. Lebih dianjurkan menggunakan ventilasi yang baik sehingga suhu di dalam dan luar ruangan tetap sama. Dengan ventilasi saja, dapat terjadi tingkat kelembaban di dalam ruangan yang tinggi. Maka untuk menjaga tingkat kelembaban relatif di dalam ruang penyimpanan dapat digunakan alat dehumidifier yang berfungsi sebagai penyerap kelembaban udara yang berlebihan. Alat ini cocok digunakan di Indonesia karena iklim tropisnya yang dikelilingi laut, sehingga pada musim kemarau pun tingkat kelembaban tetap tinggi (Dinas Kebudayaan Provinsi DIY 2004, 39). Pencahayaan dalam sebuah ruangan museum amatlah penting. Pada tempat yang memiliki intensitas cahaya yang kurang, kehadiran lampu akan membantu indera penglihatan kita. Tanpa cahaya, keunikan suatu arsitektur bangunan museum, unsur dekoratif pada elemen yang memiliki bidang rata, detail tekstur, dan ornamen akan hilang atau tidak tampak.

66

Foto 2.34: Pencahayaan dan sistem sirkulasi udara pada Museum Batik Yogyakarta. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

Cahaya juga dapat meningkatkan nilai estetika bangunan dan ruangan museum. Detail dan elemen pada benda koleksi dapat ditonjolkan dengan jenis pencahayaan tertentu sehingga koleksi tersebut menjadi lebih dominan. Cahaya juga dapat menciptakan nuansa dan karakter pada ruangan museum, sehingga ruangan akan terlihat lebih luas atau memberi kesan tertentu yang berpengaruh terhadap pengunjungnya (Majalah Rumah tt, 4). Pada Museum Batik Yogyakarta

pencahayaan menggunakan lampu TL atau yang lebih dikenal dengan lampu neon. Untuk mencegah pengaruh negatif dari intensitas cahaya, jarak pencahayaan pada koleksi minimal adalah 40 cm.

67

BAB III

SISTEM REGISTRASI DAN DOKUMENTASI MUSEUM

A. RUANG LINGKUP STUDI MUSEOLOGI Di antara ilmu-ilmu budaya atau humaniora yang telah dikenal adalah arkeologi dan museologi. Kedua cabang ilmu ini saling berdekatan dan sangat erat hubungannya, karena sama-sama mempelajari benda–benda yang menjadi tinggalan kebudayaan manusia. Oleh karena itu hakikat mempelajari arkeologi dan museologi adalah ingin mengetahui manusia dan kebudayaannya. Di dalam pengertian ini keduanya merupakan cabang ilmu antropologi budaya (Dwiyanto 1998a, 2). Arkeologi adalah suatu cabang ilmu yang mempelajari manusia dan kebudayaan masa lalu melalui benda-benda yang ditinggalkannya. Oleh karena itu secara garis besar kajian ilmu arkeologi diarahkan untuk (Dwiyanto 1998a, 2-3): 1. Melacak peristiwa yang terjadi di masa lalu. 2. Meneliti dan menafsirkan artefak untuk mengetahui proses perkembangan kebudayaan. 3. Penyusunan sejarah kebudayaan. Museologi adalah ilmu tentang museum dan permuseuman, yang meliputi museum dan lingkungannya serta sistem pengelolaannya. Oleh karena itu museologi sering diberikan tiga pengertian sesuai dengan pendekatannya, yaitu (Dwiyanto 1998a, 3): 1. Museologi sebagai studi tentang hubungan yang khas antara manusia terhadap realitasnya. 2. Museologi sebagai studi tentang implementasi dan integrasi dari sejumlah aktivitas dasar yang meliputi warisan kebudayaan dan alam.

68

3. Museologi sebagai studi tentang tujuan dan organisasi museum. Kedua cabang itu mempunyai persamaan yang mendasar, yaitu sebagai upaya perlindungan, penyelamatan, dan pelestarian tinggalan kebudayaan masa lalu. Di dalam perkembangannya, arkeologi menjadi ilmu yang mempelajari manajemen sumber daya budaya, sedangkan museologi lebih ditekankan lagi sebagai ilmu yang mempelajari manajemen koleksi karena lebih ditekankan pada artefak dan ekofak yang dapat dipindahkan (Dwiyanto 1998a, 2-3). Museologi sebagai studi tentang material culture dan natural material terutama benda-benda tinggalan kebudayaan yang tersimpan dalam koleksi museum hakekatnya adalah mempelajari manajemen koleksi. Oleh karena itu dasar-dasar museologi, registrasi dan dokumentasi, konservasi, perancangan pameran, serta survei pengunjung dan evaluasi dikelompokkan untuk mempertajam analisis kajian museulogi (Dwiyanto 1998a, 5). Dasar-dasar museologi meliputi pengertian, fungsi-fungsi, organisasi museum, museum dan kepariwisataan, upaya pengembangan museum. Registrasi dan dokumentasi meliputi sistem registrasi, pembuatan katalog, kartu inventaris, sertifikat peminjaman, deskripsi benda koleksi, aplikasi komputer dalam registrasi dan dokumentasi. Konservasi meliputi pengukuran benda koleksi, pengukuran suhu dan kelembaban udara, penyinaran, mekanisme konservasi, restorasi dan rekonstruksi, contoh konservasi benda koleksi. Perancangan pameran meliputi penyusunan alur cerita, seleksi benda koleksi, teknik penyajian, evaluasi pameran dan survei pengunjung, meliputi penyusunan instrumen survei, pengolahan data, penulisan laporan, dan evaluasi program (Dwiyanto 1998a, 5).

69

1. Pengertian Museum Museum menurut tim Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001, 766) mempunyai pengertian gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran tetap bendabenda yang patut mendapatkan perhatian umum seperti peninggalan sejarah, seni dan ilmu. Definisi museum yang dikemukakan oleh Douglas Allan yang dipergunakan dari tahun 1960 hingga tahun 1967 adalah suatu bangunan yang berisi berbagai macam koleksi untuk diselidiki, dipelajari, dan dinikmati (Allan 1978, 13). Kemudian definisi ICOM sebelum tahun 1974 adalah: Any permanent establishment set up for purpose of preserving, studying, enchanging by various means and, in particular, of exhibiting to the public for its delections and instruction, artistic, historical, scientific and technological collections (Sutaarga 1991, 33). Sedangkan pengertian museum yang tertuang di dalam Surat Keputusan Menteri Nomor KM.33/PL.303/MKP/2004 Tentang Museum, pasal satu ayat satu disebutkan bahwa museum adalah lembaga tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang perlindungan dan pelestarian kekayaan bangsa. Definisi resmi museum yang kini digunakan adalah definisi yang dikeluarkan dalam rapat umum ke-10 di Copenhagen, museum adalah lembaga yang bersifat badan hukum tetap, tidak mencari keuntungan dalam pelayanannya kepada masyarakat tetapi untuk kemajuan masyarakat dan lingkungannya, serta terbuka untuk umum (International Council Of Museum 2007, 3). Secara etimologis, museum berasal dari bahasa Yunani, mouseion, yang sebenarnya merujuk kepada nama kuil pemujaan terhadap Muses, dewa yang berhubungan dengan kegiatan seni. Bangunan lain yang diketahui berhubungan

70

dengan sejarah museum adalah bagian kompleks perpustakaan yang dibangun khusus untuk seni dan sains, terutama filosofi dan riset di Alexandria oleh Ptolemy I Soter pada tahun 280 SM. Museum berkembang seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan manusia semakin membutuhkan bukti-bukti otentik mengenai catatan sejarah kebudayaan. Museion merupakan sebuah bangunan tempat suci untuk memuja sembilan dewi seni dan ilmu pengetahuan. Salah satu dari sembilan dewi tersebut ialah: Mouse, yang lahir dari maha Dewa Zous dengan isterinya Mnemosyne. Dewa dan dewi tersebut bersemayam di Pegunungan Olympus. Museion selain tempat suci, pada waktu itu juga untuk berkumpul para cendekiawan yang mempelajari serta menyelidiki berbagai ilmu pengetahuan, juga sebagai tempat pemujaan dewa dewi (Direktorat Museum, 2007). Museum pertama yang dibuka untuk umum adalah The Ashmolean Museum, yang dimiliki oleh Universitas Oxford di Inggris pada tahun 1683, kemudian disusul oleh The British Museum yang dibuka di London pada tahun 1759 serta Museum Lovre di Paris pada tahun 1793 (Lewis 2004, 2). Sebuah perkumpulan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda yang menamakan dirinya Bataviaasch

Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Perkumpulan Batavia untuk Kesenian dan Ilmu), berdiri pada tahun 1778 dan menjadi cikal bakal museum umum di Asia dengan koleksi batu-batuan, perabot rumah tangga, dan gambargambar dari masa lalu yang berkaitan dengan Jakarta (Heuken 1997, 59, 92). Museum tertua di Indonesia adalah Museum Radya Pustaka di kota Solo, Jawa Tengah. Museum Radya Pustaka didirikan pada tanggal 28 Oktober 1890 oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV yang menjabat sebagai patih pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwana IX, sedangkan museum koleksinya paling lengkap di Indonesia adalah Museum Nasional yang lebih dikenal sebagai Museum Gajah di Jakarta. Dasar hukum pendirian museum di Indonesia adalah: 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya,

71

2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, 3. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1995 Tentang Pemeliharaan dan Pemanfaatan Benda Cagar Budaya di Museum. Sedangkan dasar hukum pengelolaan museum diatur dalam Surat Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor KM.33/PL.303/MKP/2004 Tentang Museum. Tugas pokok Direktorat Museum adalah melaksanakan penyiapan rumusan kebijakan, standar, norma, kriteria, dan prosedur, serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang permuseuman. Dalam melaksanakan tugas, Direktorat Museum menyelenggarakan fungsi (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 2007): 1. Pelaksanaan permuseuman. 2. Perumusan standar, norma, kriteria dan prosedur di bidang registrasi, pengamanan dan pengendalian, pemeliharaan dan perawatan, serta penyajian dan kerja sama permuseuman. 3. Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang registrasi, pengamanan dan pengendalian, pemeliharaan dan perawatan, serta penyajian dan kerja sama permuseuman. Visi Direktorat Museum adalah mewujudkan museum-museum di Indonesia yang mandiri guna menunjang kebijaksanaan Direktorat Jenderal Kebudayaan dalam memajukan kebudayaan bangsa untuk tercapainya kemajuan adab, masyarakat demokratis, dan persatuan bangsa. Untuk mencapai visi tersebut, misi dan penyiapan bahan rumusan kebijakan di bidang

permuseuman adalah untuk membina dan mengembangkan museum-museum di Indonesia sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan, menanamkan nilai-nilai luhur, memperkokoh persatuan dan kesatuan, serta mempertebal jati diri bangsa.

72

ICOM merupakan singkatan dari International Council of Museum. Sebuah organisasi permuseuman internasional di bawah UNESCO yang berdiri pada tahun 1946 dan berkedudukan di Paris, Perancis. Organisasi ini bertujuan menciptakan standar etik dan profesional untuk aktivitas permuseuman, mengadakan pelatihan, pengembangan pengetahuan, membuat rekomendasi untuk beberapa isu yang sedang berkembang, serta membangun kepedulian budaya masyarakat melalui jaringan global dan program kerja sama. Di Indonesia, tugas dan wewenang bidang permuseuman dikelola oleh Direktorat Museum. Museum terdiri dari berbagai macam dan dapat ditinjau dari berbagai aspek, seperti aspek koleksi, aspek penyelenggaraan, dan aspek kedudukan. Klasifikasi museum berdasarkan koleksi yang disimpan terbagi menjadi dua, yaitu museum umum dan museum khusus. Museum umum adalah museum yang menyimpan koleksi berupa kumpulan bukti material hasil budaya manusia dan lingkungan yang berkaitan dengan berbagai cabang seni, disiplin ilmu dan teknologi. Sedangkan museum khusus koleksinya hanya berkaitan dengan satu cabang seni, disiplin ilmu atau teknologi. Dilihat dari aspek penyelenggaranya, museum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu museum pemerintah dan museum swasta. Museum pemerintah adalah museum yang dikelola dan diselenggarakan oleh pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah. Sedangkan museum swasta adalah museum yang dikelola dan diselenggarakan oleh pihak swasta. Menurut data yang dikeluarkan oleh Departemen Budaya dan Pariwisata, sampai tahun 2005 Indonesia baru memiliki museum sejumlah 269 buah yang terdiri dari tujuh buah UPT (dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis Depbudpar), departemen atau pemerintah daerah sebanyak 176 (dikelola oleh departemen atau pemerintah daerah) dan sisanya sebanyak 86 buah dikelola oleh swasta (Direktorat Museum, 2006).

73

Bila dibedakan berdasarkan kedudukannya, maka museum dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu museum nasional, museum provinsi, dan museum lokal. Museum nasional adalah museum yang koleksinya mewakili dan berkaitan dengan seluruh wilayah negara dan bernilai nasional. Museum provinsi adalah museum yang koleksinya mewakili dan berkaitan dengan salah satu provinsi tertentu, sedangkan museum lokal adalah museum yang koleksinya mewakili dan berkaitan dengan wilayah kabupaten atau kotamadya saja (Dinas Kebudayaan Provinsi DIY 2004, II3). Sebagai badan yang mempunyai tugas dan kegiatan untuk memamerkan dan menerbitkan hasil-hasil penelitian serta pengetahuan tentang benda-benda yang penting bagi kebudayaan dan ilmu pengetahuan, museum mempunyai fungsi antara lain: 1. Pusat dokumentasi dan penelitian ilmiah, 2. Pusat penyaluran ilmu untuk umum, 3. Pusat penikmatan karya seni, 4. Pusat perkenalan kebudayaan antar daerah dan antar bangsa, 5. Objek wisata, 6. Media pembinaan pendidikan kesenian dan ilmu pengetahuan, 7. Suaka alam dan suaka budaya, 8. Cermin sejarah manusia, alam dan kebudayaan, 9. Sarana untuk bertaqwa dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Untuk menjalankan semua fungsinya tersebut, museum mempunyai struktur organisasi secara sederhana, yaitu:

74

Kepala Museum

Tata Usaha dan Perpustakaan

Kurator Koleksi

Konservator Laboratorium

Preparator Studio

Edukator, Bimbingan, dan Penyuluhan

Tabel 3.1: Struktur organisasi museum.

Adapun fungsi dari masing-masing jabatan adalah kepala museum berfungsi sebagai koordinator dan penanggung jawab pengelolaan museum. Tata usaha dan perpustakaan berfungsi sebagai pendokumentasian koleksi. Kurator koleksi berfungsi sebagai penganalisis koleksi yang dimiliki dan akan menjadi milik museum. Konservator laboratorium sebagai penanggung jawab terhadap proses konservasi koleksi museum dan menilai pantas tidaknya sebuah koleksi dimiliki oleh museum tersebut. Preparator studio berfungsi mempersiapkan pameran di museum. Edukator, bimbingan, dan penyuluhan bertanggung jawab untuk mempublikasikan koleksi museum kepada masyarakat dan media sehingga diketahui oleh masyarakat luas. Sedangkan untuk kebutuhan pengembangan

museum yang semakin komplek diperlukan organisasi yang lebih membutuhkan banyak sumber daya manusia agar semua dapat berjalan sinergis.

1. Museum dan Kepariwisataan Museum dan kepariwasataan adalah sesuatu yang tidak bisa dilepaskan sama lain, karena museum merupakan objek pariwisata. Hal ini tercermin dari visi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, yaitu terwujudnya kebudayaan dan pariwisata yang maju, dinamis dan berwawasan lingkungan, yang mampu

75

mencerdaskan kehidupan bangsa, serta meningkatkan peradaban, persatuan dan persahabatan antar bangsa. Sedangkan visi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DIY adalah terwujudnya Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2020 sebagai daerah wisata andalan, yang ditopang oleh budaya daerah, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan daerah, serta turut mendukung pelestarian nilai-nilai seni budaya dan kemanusiaan serta tertanamnya kebanggan jati diri bangsa (Sulistyo 2002, 2-3). Untuk mendatangkan penghasilan yang dapat dimanfaatkan untuk membiayai operasional serta pengembangan pelayanan, maka museum diharapkan

mengembangkan potensi-potensi jasa pelengkap untuk mendapatkan pemasukan finansial. Dukungan dan pendanaan dari luar serta kegiatan yang menghasilkan pemasukan seperti bantuan sponsor, donatur, toko, restoran, kemitraan dengan swasta dan organisasi non pemerintah diperkenankan untuk dilakukan sepanjang tidak bertentangan dengan kode etik museum. Manfaat bagi museum sebagai institusi harus didapatkan dari penggalian pemasukan ini, namun tetap konsisten dengan status non-profitnya. Dengan didukung profesionalisme dan panduan pengelolaan, otonomi museum secara finansial dapat lebih diperbesar sejauh maksud pelestarian pusaka dan pemanfaatannya bagi masyarakat tetap terjamin (Utomo dan Indro Sulistyanto 2003, 3-4).

2. Konservasi di Museum Kegiatan konservasi terkadang membutuhkan waktu lama dan biaya yang lebih besar dibandingkan dengan kegiatan ekskavasi. Tanpa konservasi, artefak-artefak hasil ekskavasi tersebut akan rusak bahkan data yang tersimpan didalamnya akan hilang.

76

Untuk melakukan konservasi di bidang arkeologi dibutuhkan prosedur agar berjalan sebagaimana mestinya. Prosedur tersebut antara lain (Hamilton 1999a, 12): 1. Mengantisipasi setiap hal yang mungkin terjadi pada penelitian arkeologi, melakukan sebuah survei, pengujian, dan ekskavasi dalam skala besar. 2. Mewaspadai tipe-tipe kerusakan pada objek arkeologi, hasil dari

kerusakan, dan penurunan tingkat yang mungkin akan dialami oleh material yang telah dikonservasi tersebut. 3. Mempekerjakan seorang ahli yang memiliki pengalaman ekskavasi lapangan untuk memastikan bahwa artefak yang dikonservasi tersebut diperlakukan sebagaimana mestinya. 4. Membuat rancangan dimana artefak tersebut kemungkinan bisa

dikonservasi kembali. 5. Peneliti menyadari bahwa ini adalah sebuah proyek penelitian arkeologi, dan tidak hanya akan berhenti di lapangan saja, tetapi tetap berlanjut ke laboratorium. Dibandingkan dengan artefak berbahan dasar tulang, kaca, dan gerabah, artefak yang terbuat dari bahan organik seperti kulit, kayu, dan tekstil adalah artefak yang rentan terhadap kerusakan. Penyimpanan artefak dari bahan tekstil, baik yang berasal dari hewan maupun tumbuhan seperti wool, bulu, sutra, katun, rami, maupun rumput memerlukan lingkungan yang khusus karena artefak tersebut rentan terhadap sinar ultra violet, serangga, mikroorganisme, dan polusi udara. Kelembaban relatif untuk artefak tekstil adalah 68% dan idealnya koleksi tekstil harus disimpan di dalam tempat gelap dengan temperatur 10°c dan kelembaban 50% (Hamilton 1999b, 1, 9). Pengaturan suhu dan kelembaban udara yang sesuai dengan sifat dan tuntutan bahan dasar dari benda budaya sangat diperlukan. Untuk Indonesia secara umum,

77

tingkat suhu udara yang cocok dalam penyimpanan adalah antara 20°c sampai 24°c, sedangkan tingkat kelembaban antara 45% sampai 60%. Penggunaan AC tidak dianjurkan khususnya untuk museum-museum daerah. Lebih dianjurkan untuk menggunakan ventilasi yang baik sehingga suhu di dalam dan di luar gedung tetap sama. Apabila hanya dengan ventilasi dapat terjadi tingkat kelembaban yang relatif tinggi di dalam ruang penyimpanan, sehingga untuk mencegahnya dapat digunakan alat dehumidifier. Alat ini lebih cocok digunakan daripada AC karena Indonesia adalah negara tropis yang dikelilingi laut, sehingga pada musim kemarau pun kelembaban udara relatif tinggi. Selain dehumidifier, penggunaan silica gel juga sangat menolong. Sedangkan penggunaan airlock dapat mengurangi pencemaran dengan cara menyaring debu gas yang dihasilkan zat-zat kimia, debu garam yang dibawa angin laut dan sebagainya. Pemakaian airlock ini akan sangat membantu kebersihan ruangan gedung secara keseluruhan (Dinas Kebudayaan Provinsi DIY 2004, 39).

3. Pencahayaan di Museum Pencahayaan dalam sebuah ruangan museum amatlah penting. Pada tempat yang memiliki intensitas cahaya yang kurang, kehadiran lampu akan membantu indera penglihatan kita. Tanpa cahaya, keunikan suatu arsitektur bangunan museum, unsur dekoratif pada elemen yang memiliki bidang rata, detail tekstur, dan ornamen akan hilang atau tidak tampak. Cahaya juga dapat meningkatkan nilai estetika bangunan dan ruangan museum. Detail dan elemen pada benda koleksi dapat ditonjolkan dengan jenis pencahayaan tertentu sehingga koleksi tersebut menjadi lebih dominan. Cahaya juga dapat menciptakan nuansa dan karakter pada ruangan museum, sehingga ruangan akan terlihat lebih luas atau memberi kesan tertentu yang berpengaruh terhadap pengunjungnya (Majalah Rumah t.t., 4).

78

Standar penyinaran untuk sebuah museum dengan koleksi tekstil dan berbahan kertas, sebaiknya tingkat intensitas cahaya adalah 50 lux untuk koleksi bergambar dan 150 lux untuk koleksi tidak bergambar. Untuk koleksi yang sensitif dengan cahaya seperti bahan tekstil, manuskrip, cat air dapat menggunakan pencahayaan dengan pengatur tingkat intensitas cahaya (Michalski 2004, 78).

Foto 3.1: Pencahayaan di Museum TNI AU Dirgantara Mandala, Yogyakarta. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

4. Pameran di Museum Penyajian benda koleksi yang paling tepat adalah dengan menggelar pameran. Pameran museum adalah salah satu bentuk penyajian informasi tentang benda koleksi yang dimiliki oleh museum, dan koleksi yang dipamerkan tidak hanya diletakkan begitu saja, tetapi semua harus diatur sedemikian rupa dan terencana, sehingga pameran tersebut mudah dipahami dan dimengerti oleh pengunjung. Pameran di museum merupakan salah satu sarana belajar, maka harus diciptakan suatu situasi di mana pengunjung mendapatkan rangsangan-rangsangan untuk belajar sendiri. Untuk suatu pameran harus diperhatikan adanya hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan fisik intelektual dan emosional dari publiknya. Tujuan lain dari pameran adalah untuk memberikan informasi kepada pengunjung museum

79

tentang benda-benda koleksi yang dimiliki museum, sehingga dengan adanya pameran dapat meningkatkan penghayatan terhadap warisan budaya dan kesadaran akan sejarah bangsa (Direktorat Permuseuman 1986, 7). Museum dengan pamerannya adalah situasi pendidikan informal yang dialami sebagai situasi pengajaran langsung. Situasi pengajaran informal mengandung unsur pemilihan yang bebas, setiap pengunjung menentukan sendiri tujuan-tujuan kunjungannya. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa penyajian koleksi dalam bentuk tata pameran, selain memerlukan hal-hal yang berhubungan dengan estetika dan teknik penyajian memerlukan psikologi pendidikan (Direktorat Permuseuman 1994a, 1). Dalam memamerkan koleksinya tersebut, museum harus memenuhi standar teknik penyajian, antara lain ukuran, tata cahaya, tata letak, tata pengamanan, label, dan foto penunjang. Apabila standar tersebut sudah terpenuhi, maka penataan dapat dilaksanakan sesudah dibuatkan desain penataan berdasarkan metode penyajian estetis, intelektual, dan romantik. Pendekatan estetis adalah cara penyajian benda-benda koleksi dengan mengutamakan segi keindahan benda itu sendiri. Pendekatan intelektual adalah cara penyajian benda-benda koleksi yang disusun sedemikian rupa sehingga dapat mengungkapkan suasana tertentu yang berhubungan dengan benda-benda yang dipamerkan, sedangkan pendekatan romantika adalah cara penyajian benda-benda koleksi yang disusun sedemikan rupa, sehingga dapat mengungkapkan suasana tertentu yang berhubungan dengan benda-benda yang dipamerkan. Persentase pembagian ruang mengikuti standar adalah evokatif: 10% x ruang; edukatif: 20% x ruang; artistik: 30% x ruang; dan kosong: 40% x ruang (Dwiyanto 1998b, 5). Dalam menyajikan koleksi pameran, sebaiknya tidak semua koleksi disajikan di dalam ruang pameran permanen. Namun rotasi koleksi pameran harus tetap diagendakan secara tetap dan tidak terlalu lama sehingga menghindarkan museum

80

dari citra statis dan tanpa gairah. Di dalam pembagiannya, koleksi yang dipamerkan maksimal adalah 2/3 dari seluruh koleksi dan sisanya (1/3) disimpan di ruang penyimpanan koleksi. Pameran di museum terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu pameran tetap, pameran khusus dan pameran keliling. Pameran tetap merupakan usaha atau kegiatan penyajian koleksi untuk jangka waktu lima tahun, berdasarkan sistem dan metode tertentu, dengan tujuan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap bukti-bukti material manusia dan lingkungannya. Pameran khusus (temporer) adalah pameran dengan jangka waktu tertentu dan variasi waktu yang relatif singkat dengan mengambil tema khusus mengenai suatu unsur kebudayaan dan atau kegiatan yang berhubungan dengan kebudayaan dan atau lingkungannya. Pameran khusus bertujuan untuk memberikan dimensi tambahan informasi pameran tetap kepada masyarakat dengan tema khusus dalam rangka meningkatkan apresiasi masyarakat (Direktorat Permuseum 1986, 6). Pameran pameran keliling sebagai usaha untuk menyajikan koleksi dalam jangka waktu tertentu dan variasi waktu yang relatif singkat dengan mengambil tema khusus mengenai suatu unsur kebudayaan atau suatu kegiatan yang berhubungan dengan kebudayaan dan atau lingkungannya serta dilakukan di luar museum. Pameran keliling bertujuan untuk memperkenalkan suatu unsur kebudayaan atau suatu kegiatan yang berhubungan dengan kebudayaan dan atau lingkungannya kepada masyarakat daerah tempat pameran keliling tersebut diselenggarakan (Direktorat Permuseum 1986, 6). Sementara itu, pendapat Michael Belcher yang dikutip dalam artikel Herreman (2004, 92) membagi pameran menjadi 3 jenis berdasarkan lama waktunya. Pameran jangka pendek untuk pameran dengan jangka waktu antara satu hingga tiga bulan, pameran jangka menengah untuk pameran dengan jangka waktu antara tiga hingga enam bulan, dan pameran jangka panjang untuk pameran dengan

81

jangka waktu diatas enam bulan hingga tak terbatas. Jenis displai yang disajikan museum bermacam-macam, antara lain: 1. displai kontemplatif: mengajak pengunjung untuk merenungkan, berpikir, 2. didaktik: mengajarkan, menyampaikan sesuatu, 3. rekonstruksi, 4. grup: objek bersama-sama didisplay dengan sedikit penjelasan, 5. penyimpanan yang dapat dilihat, 6. displai penemuan: pengunjung diajak terlibat dengan objek. Banyak cara yang digunakan pengelola museum dalam menyajikan informasi baik yang berkaitan secara langsung dengan koleksi maupun dengan tema pameran. Media yang digunakan dalam penyajian menggunakan alat peraga antara lain: 1. Konvensional, yang menggunakan panil untuk foto, lukisan, poster, dan gambar komik.

Foto 3.2: display dengan media panil pada Museum Bank Indonesia, Jakarta. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

2. Tiga Dimensi Benda a. bendanya

82

b. penataan ruang c. rekontruksi

Foto 3.3: display rekontruksi pada Museum Bank Indonesia, Jakarta. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

d. diorama 3. Audio Visual

Foto 3.4: display audio visual pada Museum Bank Indonesia, Jakarta. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

83

4. Virtual Display

Foto 3.5: virtual display pada Museum Bank Indonesia, Jakarta. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

Penggunaan teknologi dalam bidang pameran saat ini sudah sangat maju. Beberapa museum sudah menyediakan layanan QTVR atau Quick Time Virtual Reality yaitu sebuah fasilitas teknologi yang disediakan oleh museum berupa penyajian gambar tentang koleksi museum secara cuma-cuma kepada masyarakat luas melalui jaringan internet, seperti yang telah dilakukan oleh Museum Louvre, Paris sejak tahun 2004. Museum sebagai wahana pengetahuan bagi publik diharapkan dapat terus memberikan informasi yang mendidik lewat koleksi yang dimilikinya sehingga akan mencerdaskan masyarakat dan lingkungannya. Selain itu program-program yang diadakan di beberapa museum telah melibatkan pengunjung untuk aktif di dalamnya, sehingga pengunjung dapat merasakan suasana yang berbeda dari sekedar melihat koleksi dalam vitrin-vitrin museum. Dalam hal ini museum

84

merupakan sebuah wahana yang sangat penting dalam proses pertukaran, pengayaan, dan pengembangan budaya. Sebagai tempat bimbingan edukatif, museum bertujuan memberi stimulan kepada pengunjung, khususnya kepada para pelajar untuk mengembangkan imajinasi dan kepekaan. Pengembangan imajinasi dan kepekaan ini dapat dilakukan melalui kegiatan: 1. Bimbingan keliling museum, 2. Kegiatan ceramah, 3. Kegiatan pemutaran audio visual, 4. Kegiatan bimbingan karya tulis, 5. Kegiatan museum keliling. Sebelumnya, museum hanya dikunjungi oleh para pelajar, itupun karena program dari sekolah yang mewajibkan mereka untuk mengunjungi museum. Saat ini di Indonesia sudah mulai berkembang kesadaran untuk mengunjungi museum bagi segala lapisan masyarakat. Salah satu contoh perkembangannya adalah Sahabat Museum. Sahabat museum adalah sebuah komunitas pencinta sejarah, museum, bangunan tua, dan suasana tempo dulu. Tujuan komunitas ini adalah sebagai wahana untuk berbagi cerita, pengalaman mengunjungi museum atau situs-situs sejarah hingga mengadakan kegiatan mengunjungi tempat wisata sejarah dengan konsep edutaiment (education and entertaiment).

B. SISTEM REGISTRASI DAN DOKUMENTASI BERDASARKAN STANDAR DIREKTORAT MUSEUM 1. Registrasi Kegiatan registrasi pada dasarnya adalah suatu kegiatan pencatatan keluar masuknya koleksi serta pendeskripsian koleksi tersebut secara singkat, jelas, dan sesempurna mungkin.

85

Tujuan dibuat standar oleh Direktorat Museum adalah untuk menciptakan keseragaman dan kelancaran pengelolaan koleksi sehingga administrasi koleksi lebih baik serta tertib sesuai ilmu permuseuman. Apabila koleksi dikelola dengan baik, maka koleksi akan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk pengamanan koleksi sesuai dengan tujuan awal didirikannya sebuah museum, yaitu sebagai tempat pendidikan, studi, dan rekreasi. Awal penanganan benda setelah benda itu resmi menjadi milik koleksi adalah dilakukannya suatu penanganan yang disebut registrasi. Registrasi merupakan suatu kegiatan pencatatan tentang koleksi meseum yang sangat diperlukan untuk penelitian lebih lanjut karena merupakan sumber informasi awal dari benda koleksi tersebut. Kegiatan ini harus dilakukan oleh petugas pencatat koleksi yang biasa disebut registrar dengan teratur dan kontinu. Pencatatan data koleksi museum perlu ditertibkan, yang gunanya untuk pengamanan dan mengetahui secara cepat seluruh kekayaan museum yang berupa koleksi. Selain itu juga, registrasi merupakan pendataan yang pertama sebagai dasar untuk penelitian lebih lanjut. Setiap museum hanya memiliki satu macam buku registrasi koleksi yang mempunyai kedudukan sebagai buku induk dan dikelola oleh seorang registrar, di bawah tanggung jawab bagian tata usaha, serta dua macam buku inventaris koleksi. Buku inventaris koleksi terdapat dua macam, yaitu buku induk inventaris koleksi dan buku inventaris koleksi. Buku induk inventaris koleksi dikelola oleh kepala seksi koleksi, sedangkan buku inventaris koleksi dikelola oleh staff koleksi lainnya yang telah telah ditunjuk. 1. 1. Standar Buku Registrasi, Buku Induk Inventaris, dan Buku Inventaris Koleksi. Buku Registrasi berfungsi untuk menertibkan administrasi pencatatan data koleksi museum. Buku ini memuat semua data awal setiap benda yang sudah resmi

86

menjadi milik museum. Hal ini tidak mempermasalahkan apakah koleksi tersebut hasil pembelian, hibah, titipan, sitaan, hasil penelitian, dan hasil tukar menukar. Tetapi yang perlu ditekankan adalah bahwa benda tersebut sudah diteliti dan diseleksi sehingga menjadi koleksi museum dan benda itu resmi menjadi milik museum. Sedangkan fungsi dari buku induk inventaris koleksi dan buku inventaris koleksi adalah (Direktorat Permuseman 1994b, 10): 1. Untuk mengetahui jenis dan jumlah koleksi museum. 2. Memudahkan pemanfaatan koleksi untuk penelitian dan menyebarluaskan koleksi. 3. Sebagai bahan pertimbangan untuk pengadaan koleksi lebih lanjut. 4. Untuk mempermudah pelacakan bila terjadi kehilangan koleksi. Agar mencapai hasil yang baik dalam pencatatan inventaris koleksi maka perlu diketahui bahwa (Direktorat Permuseuman 1994b, 11): 1. Seorang pengelola koleksi sebaiknya memiliki pengetahuan tentang latar belakang koleksi. 2. Koleksi yang diterima registrar harus segera dicatat dalam buku induk inventaris koleksi berdasarkan catatan pada kartu yang diterima dari registrar. 3. Isi catatan pada kolom buku inventaris harus lengkap pada saat pengisian (nomor registrasi, nomor inventaris, dan catatan lain pada kolom yang tersedia). 4. Jika semua data telah dicatat, kartu yang berasal dari registrar harus dilengkapi dengan nomor inventaris dan dikirimkan kembali ke registrar. Nomor inventaris itu akan dicatat dalam buku registrasi oleh registrar. 5. Catatan pada kolom uraian singkat dalam buku inventaris harus lengkap/ berbobot, karena buku inventaris berfungsi sebagai panduan pemanfaatan koleksi.

87

6. Nomor inventaris koleksi yang ditulis dalam buku inventaris harus sama dengan yang dicantumkan pada koleksinya. Dalam kegiatan registrasi dan inventarisasi dilakukan hal-hal sebagai berikut (Direktorat Museum 2007, 8-10): 1. Penomoran Penomoran yang diregistrasi dan inventarisasi diberi nomor registrasi dan inventarisasi. Penomoran ini untuk mengamankan dan mempermudah dalam pengelolaan koleksi. Penomoran pada registrasi koleksi adalah penomoran kepada seluruh koleksi museum secara berurutan, berdasarkan masuknya koleksi ke museum. Sedangkan penomoran inventarisasi koleksi didasarkan kepada jenis klasifikasi dan jumlah koleksi dalam satu jenis koleksi, kemudian diikuti oleh nomor urut koleksi dalam satu jenis klasifikasi. 2. Klasifikasi Klasifikasi merupakan pengelompokan koleksi berdasarkan kriteria tertentu, yaitu menurut disiplin ilmu, sub disiplin ilmu, serta berdasarkan jenis, bahan, asal daerah, dan kronologi. Tujuan klasifikasi adalah untuk menciptakan pengelompokan dan mempermudah dalam pengelolaan dan penelitian sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan pendidikan, studi, dan rekreasi. 3. Katalogisasi Koleksi Katalogisasi koleksi merupakan suatu kegiatan merekam, baik secara verbal maupun visual, serta menguraikan indentifikasi koleksi pada lembaran kerja yang mempunyai format tertentu. Katalogisasi bertujuan untuk menghasilkan kartu katalog koleksi yang berisi bahan informasi tentang koleksi dan latar belakang secara lengkap serta dapat dijadikan sumber penelitian dan bahan publikasi. 4. Pengukuran Koleksi Pengukuran koleksi dilakukan oleh petugas museum, baik pada saat benda akan dijadikan koleksi maupun sudah menjadi koleksi museum. Pengukuran dilakukan

88

oleh petugas museum yang bertugas sebagai tim survei dan pengadaan koleksi, registrar, dan kurator. 5. Pemotretan Koleksi pemotretan koleksi dilakukan mulai dari saat pengadaan koleksi (untuk laporan), dokumentasi dalam pengelolaan koleksi, bahkan pada setiap koleksi yang akan dan sesudah dikonservasi atau direstorasi. Pemotretan koleksi dapat menggunakan media film analog maupun digital, baik dalam hitam putih maupun berwarna. 6. Berita Acara Berita acara adalah sebuah keterangan resmi tentang status atau keberadaan sebuah koleksi yang ditandatangani dua pihak beserta saksi, atas sepengetahuan penanggung jawab koleksi. Berita acara biasanya dibuat dengan pihak luar atau antar penanggung jawab pengelola koleksi di museum. Berita acara dibuat oleh tim pengadaan koleksi ke bagian koleksi, kemudian dari bagian koleksi ke bagian preparasi, untuk disajikan atau disimpan di gudang. Di dalam museologi, jenis koleksi museum telah disepakati kode inventarisnya, sehingga akan memudahkan inventarisasi, yaitu (Direktorat Permuseuman 1994b, 12): No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Jenis Koleksi Geologika/ Geografika Koleksi Biologika Koleksi Etnografika Koleksi Arkeologika Koleksi Historika Koleksi Numismatika dan Heraldika Koleksi Fisiologika Koleksi Keramologika Koleksi Seni Rupa Koleksi Teknologika
tabel 3.2: Kode inventaris jenis koleksi.

Kode Inventaris 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10

89

Buku registrasi dan buku inventaris koleksi bersifat dokumentar dan monumental sehingga harus dicetak khusus dengan huruf judul buku yang besar dan proposional. Tulisan judul buku dan logo pada sampul pertama dengan tinta emas. Logo Departemen Kebudayaan dan Pariwisata ditempatkan pada bagian tengah atas sampul. Penulisan judul buku hanya dilakukan pada sampul pertama dan kedua. Sampul pertama dari kerta tebal berlapis kain linen berwarna biru tua, sedangkan sampul kedua dari kertas HVS polos minimal 80 gram. Cara penulisan pada judul adalah pada sampul pertama hanya terdapat judul dan logo. Kemudian pada sampul kedua, selain terdapat tulisan utama berupa judul buku dan logo, pada bagian bawah terdapat tulisan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, dan Direktorat Museum. Tulisan tidak perlu besar, namun harus tetap proposional. Luas bagian sampul buku adalah 50 x 32 cm dengan isi 250 lembar menggunakan kertas HVS 80 gram. Pada lembar isinya terdapat kolom-kolom isian dan tulisan kepala kolom yang sudah dicetak. Di luar kolom harus bersih, kecuali tulisan nomor halaman di kanan atas. Luas halaman efektif setelah dikurangi kelebihan sampul teknis adalah 49 x 31 cm (panjang mendatar). Dengan ukuran kolom sebagai berikut (Direktorat Permuseuman 1994b, 5-6): a. Garis horizontal pertama dobel (tebal dan tipis) 3 cm dari atas. b. Garis horizontal penutup kolom pada tiap halaman 2 cm dari bawah. c. Kolom horizontal untuk tulisan kepala atau jarak garis horizontal pertama dan kedua adalah 1,5 cm. d. Kolom halaman atau jarak garis isian adalah 0,7 cm. Garis isian jauh lebih tipis dari garis kolom. e. Kolom vertikal

90

1) Buku registrasi dan koleksi
Tulisan Kepala Kolom Nomor registrasi Nomor inventaris (Kode jenis koleksi = 1,5 cm) (nomor urut koleksi dalam jenis koleksinya = 4,5 cm) Nama koleksi Umum : 3 cm Khusus : 3 cm Uraian singkat Tempat pembuatan Tempat perolehan Cara perolehan Ukuran Tanggal/ tahun masuk Harga Keterangan Panjang halaman efektif horizontal 8,5 cm 4 4 3 3 3 3 4 cm cm cm cm cm cm cm + 6 cm Lebar Kolom 4,5 cm 6 cm

49 cm

Tabel 3.3: Ukuran kolom buku registrasi dan koleksi.

91

2) Buku induk inventaris koleksi
Tulisan Kepala Kolom Nomor registrasi Nomor inventaris (Kode jenis koleksi = 1,5 cm) (nomor urut koleksi dalam jenis koleksinya = 4,5 cm) Nama koleksi Umum : 3 cm Khusus : 3 cm Uraian singkat Tempat pembuatan Tempat perolehan Cara perolehan Ukuran Tanggal/ tahun masuk Keterangan Panjang halaman efektif horizontal 10,5 cm 4 4 3 3 3 5 cm cm cm cm cm cm + 6 cm Lebar Kolom 4,5 cm 6 cm

49 cm

Tabel 3.4: Ukuran kolom buku induk inventaris koleksi.

3) Buku inventaris koleksi
Tulisan Kepala Kolom Nomor registrasi Kode sub jenis koleksi Nomor registrasi Nama koleksi Umum : 3 cm Khusus : 3 cm Uraian singkat Tempat pembuatan Tempat perolehan Cara perolehan Ukuran Tanggal/ tahun masuk Penempatan Keterangan Panjang halaman efektif horizontal 8,5 cm 4 4 3 3 3 3 4 cm cm cm cm cm cm cm + Lebar Kolom 4,5 cm 1,5 cm 4,5 cm 6 cm

49 cm

Tabel 3.5: Ukuran kolom buku inventaris koleksi.

92

Dalam

menentukan

kebijakan

pengadaan

koleksi,

museum

perlu

mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: A. Prinsip dan persyaratan sebuah benda menjadi koleksi, antara lain: 1. Memiliki nilai sejarah dan nilai ilmiah (termasuk nilai estetika). 2. Dapat diidentifikasikan mengenai bentuk, tipe, gaya, fungsi, makna, asal secara historis dan geografis. 3. Harus dapat dijadikan dokumen, dalam arti sebagai bukti nyata dan eksistensinya bagi penelitian ilmiah. B. Prinsip skala prioritas, yaitu penilaian untuk benda-benda yang bersifat: 1. Masterpiece, merupakan benda yang terbaik mutunya. 2. Unik, merupakan benda yang memiliki ciri khas tertentu karena dalam jangka waktu yang sudah terlalu lama tidak dibuat lagi. 3. Hampir punah, merupakan benda yang sulit ditemukan karena dalam jangka waktu yang sudah terlalu lama tidak dibuat lagi; 4. Langka, merupakan benda-benda yang sulit ditemukan karena tidak dibuat lagi atau karena jumlah hasil pembuatannya hanya sedikit. 2. Dokumentasi Dokumentasi objek museum adalah keterangan tertulis mengenai koleksi museum. Apabila objek museum tidak mempunyai keterangan tertulis perlu dicari keterangan dengan jalan melaksanakan: studi perbandingan koleksi yang menggunakan berbagai macam metode sesuai dengan kebutuhan, penelitian secara tipologis, penelitian secara historis, penelitian secara antropologis, dan sebagainya. Setiap museum sebaiknya telah menetapkan sistem dokumentasi untuk melindungi data koleksi. Dokumentasi koleksi dibagi dalam dua kategori umum, yaitu (Direktorat Museum 2007, 5-6):

93

a. Dokumentasi yang disertai fungsi registrasi. Dokumen utama ini merupakan stasus legal dari sebuah objek atau pada proses peminjaman koleksi di museum, serta koleksi yang berpindah di bawah pengawasan museum. b. Dokumentasi yang disertai fungsi kuratorial, yaitu memberikan informasi yang lebih luas mengenai sebuah objek dan menempatkan objek pada tempat yang tepat dan penting di dalam kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Dokumentasi koleksi sebaiknya disimpan di lokasi yang aman, terpelihara, dan disertai dengan metode penyimpanan yang baik. Pendokumentasian ini umumnya dilakukan dengan pembuatan kartu simpan. Adapun prosedur administrasi koleksi adalah (Direktorat Museum 2007, 6):
koleksi ↓ nomor registrasi buku induk registrasi nomor inventarisasi kartu registrasi label registrasi ↓ buku induk inventarisasi kartu inventarisasi ↓ kartu katalog ↓ kartu simpan/ kartu kontrol Tabel 3.6: Prosedur administrasi koleksi.

Prosedur administrasi koleksi museum adalah ketika koleksi akan dimasukkan sebagai koleksi museum, calon koleksi tersebut akan diberikan nomor registrasi. Selanjutnya calon koleksi akan diteliti oleh tim ahli yang terdiri dari seksi koleksi, seksi edukasi, dan seksi preparasi. Apabila oleh tim ahli, calon koleksi tersebut

94

disetujui untuk menjadi koleksi museum, maka dicatat ke dalam buku induk registrasi yang dikelola oleh registrar dan memperoleh nomor inventarisasi. Setelah itu koleksi akan disertakan kartu registrasi dan label registrasi. Kemudian koleksi akan disimpan sementara ke dalam ruang karantina. Selanjutnya koleksi dicatat ke dalam buku induk inventaris yang dikelola oleh koodinator koleksi. Kemudian data koleksi tersebut akan disalin secara singkat ke dalam kartu inventarisasi. Apabila dikemudian hari koleksi tersebut diteliti secara ilmiah, maka hasil penelitian koleksi tersebut akan disertakan pada kartu katalog. Untuk memudahkan proses pencarian, maka pada tahap terakhir, koleksi akan dicatat pada kartu simpan. Awal penanganan benda setelah benda itu resmi menjadi milik koleksi adalah dilakukannya suatu penanganan yang disebut registrasi. Registrasi merupakan suatu kegiatan pencatatan tentang koleksi meseum yang sangat diperlukan untuk penelitian lebih lanjut karena merupakan sumber informasi awal dari benda koleksi tersebut. Kegiatan ini harus dilakukan oleh petugas pencatat koleksi yang biasa disebut registrar dengan teratur dan kontinu. Pencatatan data koleksi museum perlu ditertibkan, yang gunanya untuk pengamanan dan mengetahui secara cepat seluruh kekayaan museum yang berupa koleksi. Selain itu juga, registrasi merupakan pendataan yang pertama sebagai dasar untuk penelitian lebih lanjut. Untuk menertibkan administrasi pencatatan data koleksi museum perlu dibuat buku yang disebut buku registrasi. Buku ini memuat semua data awal setiap benda yang sudah resmi menjadi milik museum. Hal ini tidak mempermasalahkan apakah koleksi tersebut hasil pembelian, hibah, titipan, sitaan, hasil penelitian, dan hasil tukar menukar. Tetapi yang perlu ditekankan adalah bahwa benda tersebut sudah diteliti dan diseleksi sehingga menjadi koleksi museum dan benda itu resmi menjadi milik museum.

95

Buku inventaris terdiri dari buku induk inventaris koleksi dan buku inventaris koleksi. Fungsi dari buku inventaris antara lain (Direktorat Permuseman 1994b, 10): 1. Untuk mengetahui jenis dan jumlah koleksi museum. 2. Memudahkan pemanfaatan koleksi untuk penelitian dan menyebarluaskan koleksi. 3. Sebagai bahan pertimbangan untuk pengadaan koleksi lebih lanjut. 4. Untuk mempermudah pelacakan bila terjadi kehilangan koleksi. Agar mencapai hasil yang baik dalam pencatatan inventaris koleksi maka perlu diketahui bahwa (Direktorat Permuseuman 1994b, 11): 1. Seorang pengelola koleksi sebaiknya memiliki pengetahuan tentang latar belakang koleksi. 2. Koleksi yang diterima registrar harus segera dicatat dalam buku induk inventaris koleksi berdasarkan catatan pada kartu yang diterima dari registrar. 3. Isi catatan pada kolom buku inventaris harus lengkap pada saat pengisian (nomor registrasi, nomor inventaris dan catatan lain pada kolom yang tersedia). 4. Jika semua data telah dicatat, kartu yang berasal dari registrar harus dilengkapi dengan nomor inventaris dan dikirimkan kembali ke registrar. Nomor inventaris itu akan dicatat dalam buku registrasi oleh registrar. 5. Catatan pada kolom uraian singkat dalam buku inventaris harus lengkap/ berbobot, karena buku inventaris berfungsi sebagai panduan pemanfaatan koleksi. 6. Nomor inventaris koleksi yang ditulis dalam buku inventaris harus sama dengan yang dicantumkan pada koleksinya.

96

3. Label Prinsip-prinsip dalam membuat label meliputi (Direktorat Permuseuman 1993, 67): 1. label harus memiliki “daya tarik”, 2. label harus memiliki “daya ikat”, 3. label harus membantu daya ingat pengunjung kepada sesuatu hal yang pernah dilihat atau diketahuinya, 4. label harus memberikan informasi yang diperlukan oleh pengunjung, 5. label siap untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang ingin diketahui oleh pengunjung, 6. label harus memberikan umpan balik. Jenis label pada umumnya terdiri dari 6 jenis, yaitu (Direktorat Permuseuman 1993, 11-15): 1. Label Judul Label judul sangat penting peranannya, karena sangat diperlukan agar pameran lebih menarik dan memberikan informasi awal tentang tema apa yang dipamerkan. 2. Label Sub Judul Merupakan bagian kedua yang diperlukan untuk memberikan tambahan keterangan dari label judul. 3. Label Pendahuluan Label ini berisi tentang penjelasan penting pada suatu pameran, dan merupakan penjelasan awal dari apa yang dipamerkan atau dari tema pameran, serta merupakan ringkasan cerita dari pameran. Contoh label pendahuluan terdapat pada salah satu ruang koleksi di Museum Bank Indonesia, Jakarta. Melalui label pendahuluan ini diinformasikan tentang

97

datangnya bangsa asing pada abad ke XIV, barang-barang yang menjadi primadona serta penjelasan tentang pengaruh syahbandar terhadap

pelabuhan itu sendiri, sehingga menjadikan nusantara pada waktu itu sudah mengenal perniagaan internasional.

Foto 3.6: Label Pendahuluan pada Museum Bank Indonesia, Jakarta. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

4. Label Grup Merupakan pengembangan informasi yang diberikan untuk lebih menjelaskan hubungan antara benda-benda yang dipamerkan di dalam vitrin. Dalam foto 3.8, label grup pada salah satu koleksi Museum Sonobudoyo ini memberikan keterangan tujuh contoh pola geometris pada batik yang berasal dari Yogyakarta.

98

Foto 3.7: label grup pada Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

5. Label Individual

Foto 3.8: Label individual pada Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

Berisi informasi yang cukup sederhana. Pada foto 3.8, label yang diberikan oleh Museum Sonobudoyo terhadap salah satu koleksinya yang berada di ruang batik sangat sederhana sekali.

99

6. Label Identifikasi Benda Berisi tentang keterangan mendasar dari fakta benda tersebut seperti nama benda, tanggal didapat atau dibeli, nama penyumbang, dan sebagainya. Seperti pada foto 3.9, label yang diberikan oleh pihak Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala terhadap koleksi pesawat P-51 Mustang adalah memuat data tentang negara asal, buatan pabrik, jenis, berat, panjang badan pesawat, tinggi terbang maksimum, persenjataan, dan jumlah awak pesawat. Data dari label tersebut pengunjung dapat memperoleh informasi yang bernilai penting walaupun hanya disajikan secara sederhana.

Foto 3.9: Label indentifikasi pada Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, Yogyakarta. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

100

Hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan label antara lain adalah (Direktorat Permuseuman 1993, 17-21): a. Penempatan label dan pengunjung Penempatan label hendaknya tidak menggangu alur pengunjung. Sebaiknya label diletakkan sedemikan rupa sehingga pengunjung museum dapat membaca label dari arah kiri ke kanan. b. Materi atau isi label Dalam mengisi label, hendaknya pegawai museum bisa memberikan informasi yang menarik perhatian pengunjung, tidak hanya memberikan informasi yang faktual dengan rumusan baku who, when, where, how dan way tetapi juga harus bisa menuangkan esensi dari label ke dalam bahasa dan gaya bahasa yang dapat dipahami oleh para pengunjung museum yang beraneka ragam latar belakang. Namun, tidak semua pegawai museum memiliki kemampuan untuk menyusun label dengan baik sehingga diperlukan latihan terus menerus dari pegawai museum. c. Format dan warna label Warna pada label pada umumnya berwarna pastel seperti krem sehingga memberikan kesan luas. Pada koleksi yang mencirikan benda religius atau sakral, dapat menggunakan warna dasar merah atau hitam. d. Penempatan letak label Penempatan label hendaknya memperhatikan batas maksimal pandangan mata manusia, sehingga pengunjung tidak cepat lelah dalam membaca label.

101

C. SISTEM REGISTRASI DAN DOKUMENTASI PADA MUSEUM BATIK YOGYAKARTA 1. Struktur Organisasi Struktur organisasi museum dalam Museum Batik Yogyakarta saat ini masih menggunakan struktur organisasi yang sederhana. Kepala Museum

Kepala Tata Usaha

Pengelola Museum

Seksi Edukasi
Tabel 3.7: Struktur organisasi Museum Batik Yogyakarta.

Struktur yang sederhana tersebut dikarenakan sedikitnya sumber daya manusia dan pendanaan museum tersebut. Saat ini hanya terdapat 4 orang pegawai museum. Dengan rincian kepala museum dijabat oleh Bapak Hadi Nugroho sebagai pemilik museum, sedangkan kepala tata usaha dijabat oleh Ibu Sri Purwani, dan pengelola museum dijabat oleh Bapak Bejo Haryono, dan satu orang lagi yaitu Bapak Prayogo memiliki jabatan sebagai seksi edukasi. 2. Prosedur Administrasi Koleksi Prosedur administrasi koleksi baru berjalan pada tahun 2003, sejak dikelola oleh pegawai yang mengerti bidang museologi. Sebelumnya prosedur administrasi koleksi, dilakukan tanpa melakukan pencatatan yang rinci tentang koleksinya (Haryono, 2007). Saat ini prosedur administrasi koleksi adalah:

102

Koleksi ↓ Nomor inventarisasi Buku induk inventarisasi Kartu inventarisasi ↓ Ruang pamer
Tabel 3.8: Prosedur administrasi koleksi Museum Batik Yogyakarta.

3. Buku Registrasi Saat ini Museum Batik Yogyakarta belum memiliki buku registrasi, hal ini disebabkan terbatasnya sumber daya manusia. Namun pengelola museum sedang merencanakan pembuatan buku registrasi, sehingga nantinya pun akan

memudahkan kerja pengelola museum. Sesuai dengan kesepakatan yang dibuat oleh Direktorat Museum, Kode inventaris 03 yang merupakan jenis koleksi etnografika digunakan pada koleksi kain batik, gawangan, bandul, timbangan, ngemplong. Kode inventaris 10 untuk

teknologika seperti koleksi canting, cap, talam, wajan, sarangan, kenceng, cumplung, ekor, cucuk, luju, jegoal, cawuk, kuwuk. 4. Buku Induk Inventaris Koleksi Buku induk yang dimiliki oleh Museum Batik Yogyakarta sedikit berbeda dengan standar yang dikeluarkan oleh Direktorat Museum. Namun hal tersebut bukan menjadi masalah yang berarti, karena perbedaan hanya terletak di ukuran kertas yang dipakai sedangkan isi seluruh kolom sama. Saat ini buku induk inventaris koleksi di Museum Batik Yogyakarta menggunakan kertas ukuran kuarto.

103

5. Buku Inventaris Koleksi Buku inventaris koleksi Museum Batik Yogyakarta terdiri dari belum mengalami proses penjilidan. Buku ini masih berupa lembaran kertas ukuran kuarto. Lembaran ini dikumpulkan dalam map. Sebagian besar koleksi museum sudah tercatat dalam buku ini 6. Kartu Registrasi Kartu registrasi pada Museum Batik Yogyakarta saat ini baru mencakup pada seluruh koleksi batik saja yang berjumlah 500, sedangkan kartu simpan untuk koleksi lain sedang dalam tahap pengerjaan. Pada bagian belakang kartu simpan terdapat kolom uraian singkat yang biasanya memuat data tentang teknik pembuatan, bahan, ragam hias, dan fungsi.

Foto 3.10: Kartu Registasi pada Museum Batik Yogyakarta, Yogyakarta. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

104

7. Katalogisasi Koleksi Pembuatan katalog pada Museum Batik Yogyakarta belum terlaksana, hal ini dikarenakan katalogisasi memuat data ilmiah koleksi, sehingga diperlukan penelitian pada koleksi tersebut. Sedangkan pada koleksi di Museum Batik Yogyakarta belum dilakukan penelitian pada seluruh koleksinya, sehingga hal ini akan menjadi sia-sia saja. 8. Label Label yang digunakan dalam Museum Batik Yogyakarta menggunakan label jenis individu karena semua koleksi berdiri sendiri. Label ini menggunakan warna dasar putih dengan label yang berwana hitam, namun di beberapa label, warna label telah memudar. Label ini memuat data nomor inventaris, objek, pola, warna, bahan, teknik proses, daerah asal, ukuran, catatan, dan nama pembuat. Label ini dilengkapi dengan bahasa Inggris.

Foto 3.11: Label Individual pada Museum Batik Yogyakarta. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

105

9. Pemotretan Koleksi Perekaman data koleksi dalam bentuk visual di museum belum dapat terlaksana. Tidak tersedianya fasilitas berupa kamera dan mahalnya biaya produksi foto menjadikan salah satu alasan kenapa pemotretan koleksi hingga saat ini belum dapat terlaksana, padahal foto koleksi yang tercantum dalam kartu simpan sangat penting dan akan memudahkan proses pencarian koleksi bila sewaktu-waktu koleksi tersebut hilang. Untuk museum yang sudah siap untuk memiliki sistem manajemen koleksi menggunakan komputer, dalam rangka pendokumentasian koleksi museum dengan media foto, sebaiknya menggunakan foto dengan resolusi yang tinggi minimal 3 mega piksel dan menggunakan format foto terbaik seperti TIFF. Format foto TIFF tidak mengalami penurunan kualiatas sehingga warna dan detail gambar yang diperoleh tetap sebaik benda aslinya. Foto dengan format ini, disimpan pada pusat data sistem manajemen koleksi museum dan diduplikat ke dalam VCD atau DVD dan lokasi penyimpanan berada di luar museum, sebagai sebuah tindakan preventif bila terjadi musibah. Untuk penggunaan publikasi di internet, dapat menggunakan foto dengan format JPEG yang telah mengalami kompresi sehingga ukuran filenya lebih kecil. 10. Pengukuran Koleksi Pengukuran di Museum Batik Yogyakarta hanya dikerjakan seorang diri oleh pengelola museum, karena terdapat kendala internal dan eksternal. Kendala eksternal adalah prosedur di dalam permuseuman yang menyatakan bahwa

pengukuran koleksi hanya dilakukan oleh tim survei dan pengadaan alat, registrar, dan kurator. Kendala internal adalah sedikitnya SDM museum ini sendiri.

106

11. Berita Acara Berita acara digunakan oleh pihak museum digunakan pada saat koleksi museum dipinjam oleh pihak luar, sedang dilakukan perbaikan, atau sedang berada di luar museum karena sedang mengikuti pameran keliling.

Foto 3.12: Berita Acara pada Museum Batik Yogyakarta. (difoto oleh: Tulus Wichaksono)

107

12. Aplikasi Komputer Keunggulan yang dimiliki dalam teknologi komputer belum dapat diaplikasikan pada Museum Batik Yogyakarta. Sampai sat ini museum masih menggunakan mesin tik yang berjumlah 1 unit. Padahal jika museum ini memiliki komputer, akan banyak sekali kegiatan di museum yang dapat dilakukan dengan teknologi ini, mulai dari proses administrasi museum, pembuatan label, penyiapan desain pameran, penyimpanan data dalam format digital, dan banyak lagi keunggulan bila menggunakan aplikasi komputer.

108

BAB IV

EVALUASI SISTEM MANAJEMEN REGISTRASI DAN DOKUMENTASI MUSEUM BATIK YOGYAKARTA

A.

Perbandingan dan Penilaian Sistem Manajemen Registrasi dan Dokumentasi Museum Batik Yogyakarta Berdasarkan Standar Direktorat Museum

Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk mencari keserasian antara sistem registrasi dan dokumentasi yang diterapkan Musem Batik Yogyakarta dengan standar yang dikeluarkan oleh Direktorat Museum. Sehingga diharapkan dengan adanya evaluasi ini, dapat menjadi pijakan bagi pengelola museum untuk pengembangan museum di masa yang akan datang. Dalam bukunya, Arikunto menggolongkan evaluasi menjadi tiga jenis, yaitu:

evaluasi awal (pre-evaluasion), evaluasi proses, dan evaluasi akhir (2005, 224). Evaluasi ini juga menggunakan pelaku dari luar program dalam hal ini dari luar struktur Museum Batik Yogyakarta yaitu penulis sendiri, sehingga diharapkan penilaian dan hasil yang dilaporkan bersifat objektif. Pada penelitian ini penulis menggunakan instrumen penelitian berupa

wawancara dengan responden kurator Museum Batik Yogyakarta dan observasi langsung ke lapangan untuk mencocokan data hasil wawancara serta review dokumen. Variabel yang akan diuji berjumlah 12 buah meliputi buku registrasi, buku induk inventaris koleksi, buku inventaris koleksi, katalogisasi koleksi, kartu registrasi, prosedur administrasi koleksi, label, pemotretan koleksi, pengukuran koleksi, berita acara, dan aplikasi komputer.

Matriks Metode Evaluatif Sistem Registrasi dan Dokumentasi Berdasarkan Standar Direktorat Museum
No. Subjek REGISTRASI a. b. buku dengan luas sampul 50 x 32 cm. isi 250 halaman dengan kertas HVS 80 gram. c. d. e. 1. Buku Registrasi luas halaman efektif 49 x 31 cm. dikelola oleh registrar. memuat data: 1. nomor registrasi 2. nomor inventaris 3. nama koleksi 4. uraian singkat 5. tempat pembuatan 6. tempat perolehan 7. cara perolehan Belum memiliki buku registrasi 1 Standar Direktorat Museum Penerapan di Museum Batik Yogyakarta Nilai

8. ukuran 9. tanggal/ tahun masuk 10. harga 11. keterangan INVENTARISASI a. Buku dengan luas sampul 50 x 32 cm, isi 250 halaman dengan kertas 80 gram. b. c. 2. Buku Induk Inventaris Koleksi 2. nomor inventaris 3. nama koleksi 4. uraian singkat 5. tempat pembuatan 6. tempat perolehan 7. cara perolehan 2. 3. 4. 5. 6. 7. nomor inventaris nama koleksi uraian singkat tempat pembuatan tempat perolehan cara perolehan Dikelola oleh koordinator koleksi. Memuat data: b. c. 1. a. Buku dengan luas sampul 29.7 x 21.5 cm, isi 100 halaman dengan kertas 70 gram. Dikelola oleh curator. Memuat data: nomor registrasi 3

1. nomor registrasi

8. ukuran 9. tanggal/ tahun masuk 10. keterangan a. Buku dengan luas sampul 50 x 32 cm, isi 250 halaman dengan kertas kertas 80 gram. b. Memuat data:

8. 9. 10. a.

ukuran tanggal/ tahun masuk keterangan Berupa lembaran kertas yang dijilid dalam map.

b.

Kertas menggunakan ukuran 33 x 21.5 cm, berat 60 gram.

1. nomor inventaris 2. kode sub jenis koleksi 3. nomor registrasi 3. Buku Inventaris Koleksi 4. nama koleksi 5. uraian singkat 6. tempat pembuatan 7. tempat perolehan 8. cara perolehan 9. ukuran 10. tanggal/ tahun masuk

c. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Memuat data: nomor inventaris nomor registrasi 2 nama koleksi tempat asal keterangan singkat ukuran cara perolehan literatur tempat koleksi

11. penempatan 12. keterangan

10. 11. 12.

petugas pencatat dikeluarkan oleh alasan pengoleksian

a.

Memuat data:

1. nama dan alamat museum 2. 3. 4. 5. 6. 4. katalogisasi Koleksi 7. 8. 9. kurun waktu/ zaman cara pengadaaan tanggal pengadaan nomor inventarisasi/ katalog nama koleksi deskripsi ukuran dan timbangan tempat asal Belum memiliki katalogisasi koleksi 1

10. lokasi penyimpanan 11. referensi publikasi 12. keterangan lain

a. b. 1. 2. 3. 5. Kartu Registrasi 4. 5. 6. 7. 8. 9. DOKUMENTASI

Ukuran kartu 18 x 14 cm. Memuat data: nomor registrasi nomor inventarisasi nama koleksi tempat pembuatan tempat perolehan cara perolehan ukuran tanggal/ tahun masuk keterangan

a. b. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Ukuran kartu 18 x 14 cm. Memuat data: nomor registrasi nomor inventarisasi nama koleksi tempat pembuatan tempat perolehan cara perolehan ukuran tanggal/ tahun masuk keterangan 3

Koleksi Prosedur Administrasi 6. Koleksi Nomor registrasi Buku induk registrasi ↓

Koleksi ↓ 2 Nomor inventarisasi Buku induk inventarisasi

Nomor inventarisasi Kartu registrasi Label registrasi ↓ Buku induk inventaris Kartu inventaris ↓ Kartu katalog ↓ Kartu simpan/ kartu kontrol a. b. c. 7. Label Label harus memiliki “daya tarik”. Label harus memiliki “daya ikat”. Label harus membantu daya ingat pengunjung kepada sesuatu hal yang pernah dilihat atau diketahuinya. d. Label harus memberikan informasi yang diperlukan pengunjung. d. a. b. c.

Kartu inventarisasi ↓ Kartu simpan

Label sudah memiliki “daya tarik”. Label sudah memiliki “daya ikat”. Label sudah membantu daya ingat pengunjung kepada sesuatu hal yang pernah dilihat atau 3

diketahuinya. Label sudah memberikan informasi

e.

Label balik.

harus

memberikan

umpan e.

yang diperlukan pengunjung. Label sudah memberikan umpan balik. f. Label belum dapat memberikan jawaban atas pertanyaan yang ingin diketahui oleh pengunjung.

f.

Label

siap

untuk

memberikan

jawaban atas pertanyaan yang ingin diketahui oleh pengunjung.

a.

Dilakukan saat pengadaan koleksi, dalam pengelolaan koleksi dan

8.

Pemotretan Koleksi b.

sesudah dikonservasi. Mengunakan media film hitam putih, berwarna ataupun slide. a. Dilakukan pengadaan kurator. a. Ditandatangani kedua pihak beserta saksi. dibuat oleh tim pengadaan koleksi oleh alat, tim survei dan dan

Belum dilakukan pemotretan pada koleksi

1

a.

Dilakukan oleh kurator. 2

9.

Pengukuran Koleksi

registrar,

a.

Ditandatangani kedua pihak beserta saksi. dibuat oleh tim pengadaan koleksi 3

10.

Berita Acara

↓ bagian koleksi ↓ bagian preparasi ↓ Disimpan a. Pekerjaan museum 11. Aplikasi Komputer dengan pendokumentasian menggunakan program di a. Pekerjaan museum mesin tik.

↓ Kepala kurator ↓ disimpan

pendokumentasian masih

di

komputer

mengugunakan 1

perkantoran

(Microsoft Office, Office Org, dan program sejenis lainnya).

TOTAL
Tabel 4.1: Matrik evaluasi penelitian

22

117

Alasan penilaian dalam matrik metode evaluatif sistem registrasi dan dokumentasi berdasarkan standar Direktorat Museum adalah: 1. Subjek Buku Registrasi mendapat nilai 1, karena standar dari Direktorat

Museum ini belum diterapkan pada Museum Batik Yogyakarta. Hal ini disebabkan belum tersedianya media, yaitu buku registrasi dan kurangnya sumber daya manusia di Museum Batik Yogyakarta. 2. Subjek Buku Induk Inventaris Koleksi mendapatkan nilai 3. Standar Direktorat Museum ini sudah diterapkan di Museum Batik Yogyakarta, hanya terdapat perbedaan pada ukuran, berat, dan jumlah kertas, serta buku yang dikelola oleh kurator. 3. Subjek Inventaris Koleksi mendapatkan nilai 2, karena standar Direktorat Museum ini sudah diterapkan pada Museum Batik Yogyakarta. Namun masih terdapat kekurangan yaitu belum digunakannya buku beserta format yang dianjurkan. Museum masih menggunakan kertas ukuran folio yang disatukan dengan penjepit kertas. 4. Subjek Katalogisasi Koleksi mendapatkan nilai 1, karena standar Direktorat Museum ini belum diterapkan pada Museum Batik Yogyakarta. 5. Subjek Kartu Registrasi mendapatkan nilai 3, karena standar Direktorat Museum ini sudah diterapkan dengan baik oleh Museum Batik Yogyakarta. 6. Subjek Prosedur Administrasi Koleksi mendapatkan nilai 2, karena sudah hampir mendekati standar Direktorat Museum. Hanya karena sedikitnya sumber daya manusia yang dimiliki, maka tidak semua tahapan dapat terlaksana. 7. Subjek Label mendapatkan nilai 3, karena standar Direktorat Museum ini sudah diterapkan di museum ini. Namun beberapa label berada dalam

118

kondisi yang tulisannya sudah mulai memudar sehingga mengurangi minat pengunjung untuk membaca label guna memperoleh informasi. 8. Subjek Pemotretan Koleksi mendapatkan nilai 1, karena standar Direktorat Museum ini belum diterapkan. Gambar dari koleksi sangat penting artinya, sehingga akan semakin melengkapi data yang berdapat pada koleksi tersebut. Apabila terjadi kasus kehilangan koleksi, dengan adanya bentuk visual dari koleksi ini, akan memudahkan tugas pihak yang berwajib untuk menangani kasus tersebut. 9. Subjek Pengukuran Koleksi mendapatkan nilai 2, karena belum sesuai standar Direktorat Museum. Minimnya SDM menyebabkan pekerjaan pengukuran koleksi hanya dilakukan oleh seorang kepala kurator. 10. Subjek Berita Acara mendapatkan nilai 3, karena standar Direktorat Museum sudah terpenuhi, sehingga ketika koleksi harus berpindah untuk sementara ke luar museum, pihak museum telah memiliki dokumentasi serta memiliki kekuatan secara hukum untuk menuntut kepada pihak berwajib bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. 11. Subjek Aplikasi Komputer mendapatkan nilai 1, karena standar Direktorat Museum untuk penggunaan komputer belum diterapkan pada Museum Batik Yogyakarta.

119

Untuk memberikan penilaian dalam matrik metode evaluatif, penulis menggunakan acuan yang dirumuskan sebagai berikut: Ketentuan Nilai: a. Nilai minimal setiap subjek b. Nilai maksimal setiap subjek c. Nilai minimal seluruh subjek d. Nilai maksimal seluruh subjek :1 :4 : 11 : 44

Ketentuan Kategori: a. Kategori kurang b. Kategori cukup c. Kategori baik d. Kategori sangat baik : nilai 11-21 : nilai 22-32 : nilai 33-43 : nilai 44

Analisis data dinyatakan dalam sebuah predikat yang menunjuk pada pernyataan keadaan, ukuran kualitas. Oleh karena itu, hasil penelitian yang berupa bilangan tersebut harus diubah menjadi predikat, yaitu: kurang, cukup, baik, dan sangat baik. Setelah melalui tahapan penilaian, maka penilaian untuk mengetahui keserasian antara sistem manajemen registrasi dan dokumentasi yang diterapkan Museum Batik Yogyakarta dengan standar Direktorat Museum mendapatkan total nilai 22, sehingga bila disesuaikan dengan kategori, Museum Batik Yogyakarta dalam melaksanakan sistem registrasi dan dokumentasi memiliki kategori Cukup.

120

B. REKOMENDASI UNTUK PERKEMBANGAN MUSEUM BATIK YOGYAKARTA

Untuk mencapai bentuk museum dapat menarik minat masyarakat luas, bukan saja para pencinta sejarah dan budaya batik saja, museum ini memerlukan pembenahan pada sistem registrasi dan dokumentasi, antara lain: 1. Buku Registrasi. Sebaiknya pihak museum batik yogyakarta memiliki buku registrasi, mengingat fungsi buku ini yang sangat vital. Meskipun tidak sesuai dengan ukuran standar yang dikeluarkan oleh pihak Direktorat Museum, minimal buku ini memiliki format yang sama, sehingga informasi di dalamnya tetap dapat diperoleh. 2. Katalogisasi Koleksi Katalogisasi koleksi merupakan tahapan lanjutan dari proses pendokumentasian koleksi, karena pada tahapan ini merupakan kegiatan ilmiah, berupa penelitian lebih lanjut dari koleksi museum. Sebaiknya pihak museum bekerja sama dengan instansi pemerintah dalam pelaksanaannya, karena membutuhkan sumber pendanaan dan SDM. 3. Label Label pada Museum Batik Yogyakarta sebaiknya dikemas dengan baik lagi, dan tidak hanya disajikan seperti saat ini, karena akan menambah minat pengunjung untuk membacanya. 4. Pemotretan Koleksi Pentingnya fungsi dokumentasi visual koleksi dan semakin murahnya harga kamera seharusnya menjadi pertimbangan bagi Museum Batik Yogyakarta untuk meningkatkan kualitas sistem registrasi dan dokumentasi. Dengan Koleksi museum

121

yang berukuran masif maka tidak membutuhkan peralatan dokumentasi khusus, sehingga tidak memerlukan biaya yang tinggi. 5. Pengukuran Koleksi Pengukuran koleksi merupakan faktor yang penting, karena akan berhubungan dengan faktor lainnya seperti buku registrasi koleksi, buku induk inventaris koleksi, buku inventaris koleksi, dan label. Sehingga dengan pembenahan di bidang ini, akan meninggkatkan kuliatas data koleksi. 6. Aplikasi Komputer Saat ini, hampir sebagian besar kegiatan administrasi dilakukan dengan komputer karena keunggulan yang dimilikinya, antara lain: kecepatan, ketelitian, dan ukuran penyimpanan yang praktis. Penggunaan aplikasi komputer oleh Museum Batik Yogyakarta adalah sudah menjadi keharusan. Dengan jumlah koleksi yang berjumlah 1.219 buah, akan sangat bijaksana bila Museum Batik Yogyakarta memiliki teknologi pengolah dan penyimpan data ini. Rekomendasi untuk bidang diluar sistem registrasi dan dokumentasi, antara lain: 1. SDM Pengelola Museum. Sumber daya manusia di Musem Batik saat ini hanya memiliki 4 orang tenaga tetap, dan beberapa tenaga kerja honorer. Di antara 4 orang tersebut, hanya 1 orang yang memiliki pengetahuan yang memadai dalam bidang Museum, yaitu Bapak bejo Haryono, karena beliau adalah mantan Kepala Museum Sonobuyodo. Bila hanya ada 1 orang saja yang ahli dibidangnya tentunya perkembangan museum ke arah yang lebih baik tetap belum dapat maksimal, sehingga diperlukan beberapa tenaga museum untuk dapat melaksanakan fungsi museum.

122

2. Organisasi Museum Sedikitnya SDM mengakibatkan kinerja museum tidak optimal. Untuk mencapai kinerja yang optimal sebaiknya Museum Batik Yogyakarta menambah SDM dengan memperhatikan struktur organisasi dibawah ini, sehingga dapat terlihat, struktur mana sajakah yang membutuhkan tambahan SDM. 3. Manajemen Pengelolaan Sebaiknya museumnya sudah mulai melakukan pengelolaan sesuai dengan standar pengelolaan yang dikeluarkan oleh Direktorat Museum. Sesuai dengan standar tersebut tentunya juga akan memberikan banyak kemudahan bagi pihak museum untuk mengelola museum, khususnya koleksi di dalamnya. Penyesuaian pembuatan buku registrasi, buku induk inventaris koleksi, katalogisasi koleksi, dan penggunaan aplikasi komputer harus mendapat perhatian dari pengelola museum agar hal-hal tersebut dapat diperbaiki. Tentunya saran-saran tersebut dapat terlaksana dengan dukungan finansial yang memadai, sehingga diharapkan kembali agar pihak Museum Batik Yogyakarta dapat mengembangkan potensi-potensi jasa pelengkap untuk mendapatkan pemasukan finansial sejauh maksud pelestarian pusaka dan pemanfaatannya bagi masyarakat tetap terjamin

123
BAB V

PENUTUP

Museum Batik Yogyakarta yang berada di jalan Dr. Sutomo nomor 13 Yogyakarta merupakan salah museum khusus yang menyimpan koleksi batik kuno hingga modern dengan jenis batik keraton maupun pesisir. Koleksi yang tersimpan di museum ini

terdiri dari koleksi etnografi dan koleksi teknologika yang mencapai 1.219 buah. Koleksi etnografi seperti kain batik, gawangan, bandul, timbangan, ngemplong. Koleksi

teknologika pada museum ini antara lain: canting, cap, talam, wajan, sarangan, kenceng, cumplung, ekor, cucuk, luju, jegoal, cawuk, dan kuwuk. Koleksi yang mencapai ribuan untuk sebuah museum swasta dengan luas 400 m2 membutuhkan sebuah sistem manajemen koleksi museum yang baik. Direktorat Museum sebagai instansi pemerintah yang mempunyai tugas dan wewenang di bidang permuseuman telah menciptakan keseragaman dan kelancaran pengelolaan koleksi sehingga administrasi koleksi lebih baik dan tertib sesuai ilmu permuseuman. Dalam standar registrasi dan dokumentasi, Direktorat Museum mempunyai 11 subjek yang harus diperhatikan, antara lain: buku registrasi, buku induk inventarisasi koleksi, katalogisasi koleksi, kartu registrasi, prosedur administrasi koleksi, label, pemotretan koleksi, pengukuran koleksi, berita acara, dan aplikasi komputer. Museum Batik Yogyakarta sebagai museum yang berada dibawah naungan Direktorat Museum wajib melaksanakan sistem registrasi dan dokumetasi tersebut, agar peran museum sebagai: pusat dokumentasi dan penelitian ilmiah, pusat penyaluran ilmu untuk umum, pusat penikmatan karya seni, pusat perkenalan kebudayaan antar daerah dan antar bangsa, objek wisata, media pembinaan pendidikan kesenian dan ilmu pengetahuan, suaka alam dan suaka budaya, sarana untuk bertaqwa dan bersyukur kepada Tuhan tetap dapat berfungsi.

124
Secara umum, sistem registrasi dan dokumentasi di Museum Batik Yogyakarta sudah berjalan cukup baik walaupun masih terdapat kekurangan di beberapa bidang. Beberapa standar dalam sistem registrasi dan dokumentasi belum dapat terlaksana di museum ini, antara lain buku registrasi, katalogisasi koleksi, pemotretan koleksi dan aplikasi komputer. Sistem lainnya seperti prosedur administrasi koleksi, dan pengukuran koleksi sudah berjalan namun belum secara maksimal, hal ini dikarenakan beberapa hal seperti kurangnya sumber daya manusia di museum dan keterbatasan dana untuk dapat mewujudkan sistem permuseuman yang sesuai dengan standar Direktorat Museum. Untuk penerapan buku inventaris koleksi, kartu registrasi, label, dan berita acara sudah berjalan dengan baik di museum ini. Namun begitu diharapkan Museum Batik Yogyakarta tetap terus berbenah diri untuk terus meningkatkan kualitasnya, baik dari segi fisik maupun non-fisik sehingga akan meningkatkan jumlah pengunjung museum, selain tugas pemerintah dalam hal ini Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk mempromosikan museum kepada masyarakat luas.

125

DAFTAR ACUAN PUSTAKA

Allan, Douglas A. 1978. “The Museum And It’s Functions”. Dalam The Organization Of Museums: Practical Advice. Paris: UNESCO, Hlm. 13. Anas, Binarul dkk. 1997. Indonesia Indah – Batik. Jakarta: Yayasan Harapan Kita. Arikunto, Suharsimi 2005. Manajemen Peneltian. Jakarta: Rineka Cipta. Ayatrohaedi 1986. Kebudayaan Indonesia Sebelum Datangnya Pengaruh India, Dalam Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Jakarta: Dunia Pustaka Jaya. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 1992. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya. Diperoleh dari http://www.bappenas.go.id/pesisir/frontend/dokumen.php?id=1247&PHPSE SSID=913c1340d011a244c05f80fc6f5458f2. 6 Juni 2007. Baskara, Bima 2006. “Jelajah Hikayat Batik di Museum Batik dan Sulaman”. Dalam surat kabar Kompas. Jakarta: Kompas Media Nusantara, Hlm. H. Biro Pusat Statistik Kota Yogyakarta 2007. Kecamatan Danurejan Dalam Angka 2006. Yogyakarta: Biro Pusat Statistik Kota Yogyakarta. Darmokusumo, GBRA Murywati 1990. Batik Kraton Yogyakarta. Jakarta: Himpunan WASTAPRENA. Daryanto 1981. Teknik Pembuatan Batik dan Sablon. Semarang: C.V Aneka. Davis, Hester 1992. “Is An Archeological Site Important To Science Or To The Public, An Is There A Difference”. Dalam Heritage Interpretation Vol.I, The Natural & Built Environment. Eds. David Uzzell. London: Belhaven Press, Hlm. 97. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata 1995. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1995 Tentang: Pemeliharaan dan Pemanfaatan Benda Cagar Budaya di Museum. Diperoleh melalui faksimile dari bagian Humas Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. 20 November 2007. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata 2004. Keputusan Menteri Nomor KM.33/PL.303/MKP/2004 Tentang Museum. Diperoleh melalui faksimile dari Bagian Humas Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. 20 November 2007. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata 2007. Tugas Pokok dan Fungsi Eselon 2 2007. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Diperoleh dari http://www.budpar.go.id/page.php?ic=572&id=1486. 12 November 2007. Departemen Perindustrian, 1986. Sejarah Industri Batik di Indonesia. Yogyakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Industri, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Kerajinan dan Batik.

126

Dinas

Kebudayaan Provinsi DIY 2004. Pedoman Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Provinsi DIY.

Pengelolaan

Museum.

Direktorat Permuseuman 1986. Buku Pinter Bidang Permuseuman. Jakarta: Proyek Pembinaan Permuseuman Jakarta. Direktorat Permuseuman 1993. Petunjuk Penyusunan Label Jakarta: Proyek Pembinaan Permuseuman Jakarta. di Museum.

Direktorat Permuseuman 1994a. Pedoman Teknis Pembuatan Sarana Pameran Di Museum. Jakarta: Proyek Pembinaan Permuseuman Jakarta. ____________ 1994b. Pedoman Buku Registrasi, Buku Induk Inventaris dan Buku Inventaris Koleksi Museum di Indonesia. Jakarta: Proyek Pembinaan Permuseuman. Direktorat Permuseuman 1997a. “Beberapa Pertimbangan Dalam Masalah Pelestarian di Indonesia”. Dalam Bunga Rampai Permuseuman. Jakarta: Proyek Pembinaan Permuseuman Jakarta, Hlm. 41. ____________ 1997b. “Museum sebagai komunikator”. Dalam Bunga Rampai Permuseuman. Jakarta: Proyek Pembinaan Permuseuman Jakarta, Hlm. 22. Direktorat Museum 2006. Museum di Indonesia Tahun 2005-2006. Direktorat Museum. Diperoleh dari http://www.budpar.go.id/page.php?id=156&ic=522. 12 November 2007. Direktorat Museum 2007. Apakah itu Museum. Direktorat Museum. Diperoleh dari http://www.museumindonesia.net/index.php?option=com_content&task=view&id=2&Itemid=69. 22 November 2007. Direktorat Museum 2007. Pengelolaan Koleksi Museum: Pengadaan dan Administrasi, Registrasi, Inventarisasi, dan Penelitian Koleksi. Jakarta: Direktorat Museum. Djumena, Nian S. 1990. Ungkapan Sehelai Batik: It’s Mistery and Meaning. Jakarta: Djambatan. Djumena, Nian S.1990. Batik dan Mitra, Batik and it’s Kind. Jakarta: Djambatan. Dwiyanto, Djoko 1998a. Arkeologi dan Museulogi: Suatu Intruduksi. Makalah disampaikan pada Ceramah Penyuluhan Kebudayaan dalam rangka liburan Cawu I siswa SMU se-Jawa Tengah. ____________1998b. Ruang Lingkup Kajian Museuologi Dan Museografi. Makalah disampaikan dalam Penataran Permuseuman Tipe Dasar Angkatan II. Yogyakarta: 28 Oktober-2 November 1998. Dwiyanto, Djoko dkk. 2004. “Proposal Pengembangan Museum Batik Yogyakarta”. Tidak Diterbitkan. Yogyakarta.

127

Edleson, Marij dan Soedarmadji J.H Damais 1990. Sekaring Jagad Ngayogyakarta Hadiningrat. Jakarta: himpunan WASTRAPENA. Hadisuwito 2007. Kepala Produksi Industri Batik PLENTONG. (Wawancara). 11 Juli. Hamilton, Donny L 1999a. Overview of Conservation in Archaeology; Basic Conservation Procedures. Texas: Department of Anthropology Texas A&M University. Diperoleh dari http://nautarch.tamu.edu/class/anth605/File1.htm. 16 Desember 2007. Hlm. 12. ____________1999b. Textile Conservation. Texas: Department of Anthropology Texas A&M University. Diperoleh dari http://nautarch.tamu.edu/class/anth605/File8.htm. 16 Desember 2007. Hlm. 1, 9. Hamzuri 1981. Batik Klasik. Jakarta: Djambatan. Haryono, Bejo 2007. Kepala Museum Batik Yogyakarta. (Wawancara). 16 Desember. Helmi, Ampri dan Mujiyono 1992. Batik Tradisional: Kemunduran dan Pencegahannya. Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional Tahun 1991/1992.

Herreman, Yani 2004. “Display, Exhibits and Exhibitions”. Dalam Running a Museum : A Practical Handbook. Ed. Patrick J. Boylan. Paris: ICOM, Hlm. 92. Heuken, Adolf 1997. Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka. International Council Of Museum 2007. ICOM Statue. Paris: ICOM. Irawan, Prasetya 2001. Evaluasi Proses Belajar Mengajar, Proyek Pengembangan Universitas Terbuka. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan, Departemen Pendidikan Nasional. Lasria, Alphaliyanri 2003. “Optimalisasi Media Pelengkap Pameran (Supplementary Exhibition Media) Sebagai Upaya Peningkatan Peran Pendidikan Di Museum Zoology Bogor”. Proyek Akhir. Manajemen Pariwisata. Bandung: Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung. Lewis, Geoffrey 2004. “The Role Of Museums And the Professional Code Of Ethics”. Dalam Running a Museum: A Practical Handbook. Ed. Patrick J. Boylan. Paris: ICOM, Hlm. 2. Lombard, Denys 2000. Silang Budaya, Kajian Sejarah Terpadu, Jaringan Asia, bagian II. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Majalah Femina, nomor 28/XIII-23 Juli 1985. Simbolisme, Motif, dan Warna Batik. Jakarta: PT. Gramedia.

128

Majalah Rumah, tanpa tahun. Edisi Lighting: Mempercantik Interior dan Eksterior . Jakarta: PT. Gramedia. Michalski, Stefan 2004. “Care and Preservationof Collections”. Dalam Running a Museum: A Practical Handbook. Ed. Patrick J. Boylan. Paris: ICOM, Hlm. 78. Nurbiajanti, Siwi 2004. Meraih Kembali Masa Kejayaan Batik Lasem. Kompas Cyber Media. Diperoleh dari http://www.kompas.com/kompascetak/0404/22/ekora/970856.htm.10 Oktober 2007. Nurjanti, Nunung 1993. “Batik Yogyakarta Abad XX, Fungsi dan Perkembangannya”. Tesis. Program Pasca Sarjana. Yogyakarta: UGM. Pambudy, Ninuk Mardiana 2000. “Perjalanan Panjang Batik”. Dalam 1000 Tahun Nusantara. Ed. J.B. Kristanto. Jakarta: Kompas, Hlm. 236-237. Pinardi, Slamet 1992. “Sektor Industri Pada Masa Majapahit” dalam 700 Tahun Majapahit, (1293-1993) Suatu Bunga Rampai. Surabaya: CV. Wisnu Murti Surabaya, Hlm. 211. Setiawan, Adi Dian 2006. “Studi Etnoarkeologi Terhadap Pewarna Alami Batik di Beberapa Industri Batik Tradisional di Yogyakarta”. Skripsi. Fakultas Ilmu Budaya. Yogyakarta: UGM. Sulistyo, Djoko Budhi 2002. Visi Misi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Makalah disampaikan dalam Sarasehan Pengelolaan Museum Se-DIY oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi DIY. 24 Agustus. Yogyakarta. Sumadio, Bambang 1997. “Museum Sebagai Komunikator”. Dalam Bunga Rampai Permuseuman. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Permuseuman, Hlm. 22. Sumadio, Bambang 1997. “Beberapa Pertimbangan Dalam Masalah Pelestarian di Indonesia”. Dalam Bunga Rampai Permuseuman. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Permuseuman, Hlm. 41. Susanto, Sewan 1980. Seni Kerajinan Batik di Indonesia. Yogyakarta: Balai Penelitian Batik dan Kerajinan Pendidikan Industri. Sutaarga, Moh. Amir 1991. Studi Permuseuman Jakarta. Museuologia. Jakarta: Proyek Pembinaan

Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Tirtaamidjaja, N 1966. Batik, Pola dan Corak. Jakarta: Djambatan.

129

Utomo, Rizon Pamardhi dan Indro Sulistyanto 2003. Peran Swasta dan Masyarakat Dalam Pengembangan Museum di Provinsi DIY. Makalah disampaikan dalam Sarasehan Permuseuman Provinsi DIY. Yogyakarta: 16 Desember 2003. Wargatjie, S.N. 2003. Batik Lasem, Nasibnya Kini. Kompas Cyber Media. Diperoleh dari http://www.kompas.com/kompascetak/0305/25/keluarga/295393.htm. 10 Oktober 2007. Wibowo, H.J., dkk. 1996. Sistem Pengetahuan Tradisional Dalam Bidang Mata Pencaharian di Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. Wijayanti, Diorita 2005. Landasan Konseptual Perencanaan dan Perancangan Museum Batik di Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Tehnik, Universitas Atmajaya Yogyakarta. Yasandalem Kanjeng Gusti Adipati Anom Amengkunegara (Ingkang Sinuwun Paku buwana V Ing Surakarta) 1985. Serat Centhini; (Suluk Tembangraras), Transliterasi Latin oleh Kamajaya. Yogyakarta: Yayasan Centhini. Yusuf, Achmad dkk. 1988. Ragam Hias Tradisional Dari Masa ke Masa. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Permuseuman.

130

DAFTAR NARASUMBER

1. Nama Usia Pekerjaan

: Drs. Bejo Haryono. : 59 tahun. : Pengelola Museum Batik Yogyakarta, Yogyakarta.

Alamat kantor : Jl. Dr. Sutomo No. 13, Yogyakarta. 2. Nama Usia Pekerjaan : Hadisuwito. : 68 tahun. : Kepala Produksi Batik Plentong.

Alamat kantor : Jl. Tirtodipuran No. 48, Yogyakarta.

LAMPIRAN A BUKU REGISTRASI KOLEKSI
NO. INVENTARIS
KODE JENIS NO. URUT KOLEKSI DLM. JENIS KOLEKSINYA

NO. REGISTRASI

NAMA KOLEKSI UMUM KHUSUS

URAIAN SINGKAT

TEMPAT PEMBUATAN

TEMPAT PEROLEHAN

CARA PEROLEHAN

UKURAN

TGL/THN MASUK

HARGA

KETERANGAN

dibuat oleh: Diniartha Ikha Muharram

LAMPIRAN B BUKU INDUK INVENTARIS KOLEKSI
NO. INVENTARIS
KODE JENIS NO. URUT KOLEKSI DLM. JENIS KOLEKSINYA

NO. REGISTRASI

NAMA KOLEKSI UMUM KHUSUS

URAIAN SINGKAT

TEMPAT PEMBUATAN

TEMPAT PEROLEHAN

CARA PEROLEHAN

UKURAN

TGL/THN MASUK

KETERANGAN

dibuat oleh: Diniartha Ikha Muharram

LAMPIRAN C BUKU INVENTARIS KOLEKSI
KODE SUB JENIS KOLEKSI

NO. INVENTARIS

NO. REGISTRASI

NAMA KOLEKSI UMUM KHUSUS

URAIAN SINGKAT

TEMPAT PEMBUATAN

TEMPAT PEROLEHAN

CARA PEROLEHAN

UKURAN

TGL/THN MASUK

PENEMPATAN

KETERANGAN

dibuat oleh: Diniartha Ikha Muharram

LAMPIRAN D1 SISI MUKA KARTU REGISTRASI

KARTU REGISTRASI

2 cm

1.

No. Registrasi

1,5 cm

2.

No. Inventaris

1,5 cm

3.

Nama Koleksi

1,5 cm

4.

Tempat Pembuatan

1,5 cm

18 cm

5.

Tempat Perolehan

1,5 cm

6.

Cara Perolehan

1,5 cm

7.

Ukuran

1,5 cm

8.

Tgl/thn masuk

1,5 cm

9.

Keterangan
4 cm

14 cm

Skala
0 0,5 1 2 3 4

dibuat oleh: Diniartha Ikha Muharram

LAMPIRAN D2 SISI BELAKANG KARTU REGISTRASI

URAIAN SINGKAT

18 cm

14 cm

Skala
0 0,5 1 2 3 4

dibuat oleh: Diniartha Ikha Muharram

136

DAFTAR ISTILAH

Angjahit Anglukis Anulis Asipet Batik

: Tukang jahit. : Seniman lukis. : Membatik. : Tukang sulam. : kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain itu, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu.

Canting

: Alat untuk membatik yang terdiri dari wadah kuningan bercorong untuk menempatkan malam yang dipasang pada sebuah gagang buluh bambu kecil.

Kurator Lux

: Pengurus atau pengawas museum. : Satuan unit hitung untuk intensitas cahaya. 1 lux adalah 1 lumen per meter persegi.

Malam

: Lilin penahan warna yang digunakan dalam proses membatik.

Museologi

: Ilmu tentang museum dan permuseuman, yang meliputi museum dan lingkungannya serta sistem pengelolaannya.

Mutih

: Ritual puasa, dengan hanya memakan dan minum nasi putih dan air putih saja.

Registrar Ririan

: Petugas pencatat pada proses registrasi koleksi museum. : Garis meruncing pada motif batik

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.