PATOFISIOLOGI & PATOGENESIS SIROSIS HATI

A. Patofisiologi

Tiga lesi hati utama akibat induksi alkohol adalah 1). dan 3). Sel stellata berperan dalam membentuk ekstraselular matriks ini. Sirosis alkoholik. Fibrosis yang terjadi dapat berkontraksi di tempat cedera dan merangsang pembentukan kolagen. B. Pada cedera yang akut sel stellata membentuk kembali ekstraselular matriks ini sehingga ditemukan pembengkakan pada hati.Hepatitis alkoholik. glikoprotein. Sirosis mikronodular dapat pula diakibatkan oleh cedera hati lainnya. Faktor parakrine ini mungkin dilepaskan oleh hepatocytes. Perlemakan hati alkoholik. Hepatitis Alkoholik Fibrosis perivenular berlanjut menjadi sirosis panlobular akibat masukan alkohol dan destruksi hepatosit yang berkepanjangan. Hati kemudian merespon kerusakan sel tersebut dengan membentuk ekstraselular matriks yang mengandung kolagen. Perlemakan Hati Alkoholik Steatosis atau penlemakan hati. ada beberapa parakrine faktor yang menyebabkan sel stellata menjadi sel penghasil kolagen.Hati dapat terlukai oleh berbagai macam sebab dan kejadian. sel Kupffer. Sel stellata dalam memproduksi kolagen mengalami kontraksi yang cukup besar untuk menekan daerah perisinusoidal Adanya kapilarisasi dan kontraktilitas sel stellata inilah yang menyebabkan penekanan pada banyak vena di hati sehingga mengganggu proses aliran darah ke sel hati dan pada akhirnya sel hati mati. 2. Sebagai contoh peningkatan kadar sitokin transforming growth facto beta 1 (TGF-beta1) ditemukan pada pasien dengan Hepatitis C kronis dan pasien sirosis. 1. dan proteoglikans. kejadian tersebut dapat terjadi dalam waktu yang singkat atau dalam keadaan yang kronis atau perlukaan hati yang terus menerus yang terjadi pada peminum alcohol aktif. kehilangan sel-sel hati yang uniform. Namun. hepatosit teregang oleh vakuola lunak dalam sitoplasma berbentuk makrovesikel yang mendorong inti hepatosit ke membran sel. dan endotel sinusoid sebagai respon terhadap cedera berkepanjangan. 2). Peningkatan deposisi kolagen pada perisinusoidal dan berkurangnya ukuran dari fenestra endotel hepatic menyebabkan kapilerisasi (ukuran pori seperti endotel kapiler) dari sinusoid. TGF-beta1 kemudian mengaktivasi sel stellata untuk memproduksi kolagen tipe 1 dan pada akhirnya ukuran hati menyusut . Patogenesis Sirosis alkoholik atau secara historis disebut sirosis Laennec ditandai oleh pembentukan jaringan parut yang difus. Kompresi dari vena pada hati akan dapat menyebabkan hipertensi portal yang merupakan keadaan utama penyebab terjadinya manifestasi klinis. Sehingga kadang-kadang disebut srosis mikronodular. dan sedikit nodul regeneratif. Di daerah peniportal dan . kematian hepatocytes dalam jumlah yang besar akan menyebabkan banyaknya fungsi hati yang rusak sehingga menyebabkan banyak gejala klinis.

3). dan menghasilkan limfosit yang tersensitisasi serta antibodi spesifik yang menyerang hepatosit pembawa antigen ini. dan TGF-beta. dan jaringan yang normal akan diganti oleh jaringan ikat. Dalam keadaan normal sel stelata mempunyai peran dalam keseimbangan pembentukan matriks ekstraselular dan proses degradasi. protein adesif (fibronektin dan laminin). serta gel proteoglikan dari hialuronan. Matriks adalah merupakan homeostasis dinamik . Infiltrasi/aktivitas neutrofil. ukuran hati mengecil berbenjol-benjol (nodular) menjadi keras. Ekstraselular matrik Jaringan tubuh tersusun dari berbagai sel yang dikelilingin oleh matriks ektra seluler yang terdiri dari protein fibrin (kolagen dan elastin). mengatur proliferasi sel. Diperkirakan mekanismenya sebagai berikut: 1). Mekanisme cedera hati alkoholik masih belum pasti. antara lain faktor nekrosis tumor. dan sitokin. Matriks ekstraseluler adalah merupakan rangkaian protein dan proteglikan yang mendukung struktur dan fungsi regulator pada jaringan. FDGF. Jalinan jaringan ikat halus ini mengelilingi massa kecil sel hati yang masih ada yang kemudian mengalami regenerasi dan membentuk nodulus. Pembentukan radikal bebas oleh jalur alternatif dan metabolisme etanol. Patogenesis fibrosis alkoholik meliputi banyak sitokin. Maka sel stelata akan menjadi sel yang membentuk kolagen.perisental timbul septa jaringan ikat seperti jaring yang akhirnya menghubungkan triad portal dengan vena sentralis. disebut sistem yang mengoksidasi enzim mikrosomal. Matriks ekstraseluler berfungsi mendukung motilitas sel dalam jaringan ikat. Formasi acetaldehyde-protein adducts berperan sebagai neoantigen. Namun demikian kerusakan sel yang terjadi melebihi perbaikannya. Asetaldehid kemungkinan mengaktifasi sel stelata tetapi bukan suatu faktor patogenik utama pada fibrosis alkoholik. Sirosis Hati Pasca Nekrosis Patogenesis sirosis hati menurut penelitian terakhir. 3. Jika proses berjalan terus maka fibrosis akan berjalan terus di dalam sel stelata. Penimbunan kolagen terus berlanjut. 2). bentuk dan fungsi sedemikian rupa sehingga nutrisi dan bahanbahan kimia dapat berdisfungsi dengan bebas. Jika terpapar faktor tertentu yang berlangsung secara terus menerus (misal: hepatitis virus. 4). Sel yang berpengaruh pada patogenesis hati : a. Hipoksia sentrilobular. interleukin-1. metabolisme asetaldehid etanol meningkatkan konsumsi oksigen lobular. proteasa. Cedera jaringan dapat terjadi dan neutrofil dan hepatosit yang melepaskan intermediet oksigen reaktif. terbentuk sirosis alkoholik. memperlihatkan adanya peranan sel stelata (stellate cell). terjadi pelepasan chemoattractants neutrofil oleh hepatosit yang memetabolisme etanol. terjadi hipoksemia relatif dan cedera sel di daerah yang jauh dari aliran darah yang teroksigenasi (misal daerah perisentral). Pembentukan fibrosis menunjukkan perubahan proses keseimbangan. bahanbahan hepatotokaik).

sel Kupffer berasal dari promonosit di sumsum tulang. Cairan ini berisi konsentrasi albumin yang tinggi. bertipe CRIg (bahasa Inggris: complement receptro of the immunoglobulin family). Sel stellata Sel stellata berperan dalam membentuk ekstraselular matriks ini. ada beberapa parakrine faktor yang menyebabkan sel stellata menjadi sel penghasil kolagen. beredar di dalam darah dan terdiferensiasi menjadi sel Kupffer. Namun. . Peningkatan aliran menyebabkan peningkatan tekanan kapiler di pembuluh. b. Sel kupffer Sejenis makrofaga yang hanya bermukim pada hati. dan endotel sinusoid sebagai respon terhadap cedera berkepanjangan c. Hal ini terjadi sebagai akibat langsung berpindahnya albumin serum pada asites dan akibat gangguan sintesis protein. yang menyebabakan terjadinya edema interstisium. Mekanisme Terjadinya Asites Asites biasanya terjadi akibat hipertensi porta. Di percobaan pada tikus. Apabila konsentrasi protein plasma berkurang.pembuluh rongga abdomen ini sehingga terjadi filtrasi bersih cairan keluar dari pembuluh dan masuk ke rongga peritonium. Edema interstisium juga terjadi di seluruh tubuh pada penyakit hati stadium lanjut. Selain itu. maka kekuatan yang mendorong reabsorsi cairan ke dalam semua kapiler dari ruang interstisium menurun sehingga terjadi edema di kompartemen interstisium. sel Kupffer.pembuluh mesenterika (abdomen peritonium). lalu monosit. Keluarnya albumin dari dari kompartemen vaskular ( darah ) pada asites berperan pada penurunan protein darah yang dijumpai pada penyakit hati stadium lanjut selain berperan pada penurunan tekanan osmotik plasma. Faktor parakrine ini mungkin dilepaskan oleh hepatocytes. kemudian menjadi monoblas. aliran darah dialihkan ke pembuluh . Seperti makrofaga pada umumnya.yang dipertahankan melalui degradasi konstan dan resintesis komponen matriks serta remondeling dari komponen matriks selama beberapa proses fisiologis. Akibat tingginya resistensi terhadap aliran darah yang melintasi hati. tiadanya CRIg menghilangkan kemampuan sistem kekebalan turunan untuk melawan patogen yang terbalut oleh protein yang dihasilkan sistem komplemen. Pada cedera yang akut sel stellata membentuk kembali ekstraselular matriks ini sehingga ditemukan pembengkakan pada hati. Helmy et all menemukan sejenis pencerap pada sel Kupffer. Sel Kupffer bertugas untuk membersihkan sel hampir mati dan debris dari sirkulasi darah dengan proses fagositosis dan hasil eksositosis kemudian disekresi ke dalam empedu. tekanan yang tinggi di hati itu sendiri menyebabkan cairan mengalir keluar hati untuk masuk ke rongga peritonium. A. tepatnya pada dinding sinusoid sistem retikuendotelial.

hal: 445. 2007. 2009 .hal: 448.Aru W.2006.Buku ajar Ilmu penyakit dalam. dkk. ED V. hal 670-671. dkk.ac. ☻ Sudoyo. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Panyakit Dalam FK UI: Jakarta ☻ http://library.pdf .Jakarta:FKUI ☻ Sudoyo. Internal publishing. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV.Jakarta.usu. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi IV.id/download/fk/penydalam-srimaryani5. GASTROENTEROLOGI halaman 477. aru W. 2002. Bandung: ALUMNI. Asites. ☻ Yogiantoro.Daftar Pustaka ☻ Hadi. jilid 1.2006. Sirosis Hati.dkk.Jakarta:FKUI ☻ Sudoyo. Sujono. Aru W.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful