PRESENTASI KASUS KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK RS HUSADA, FK UKRIDA Nama : Ignatius Andre NIM : 11-2010-141

Dokter Pembimbing : dr. Sri Rochani Soedjarwo SpA (K).

I. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis kelamin Alamat Agama Tanggal masuk RS : An E : 1 tahun 5 bulan : Perempuan : Jl. Pangeran Jayakarta : Islam : 20 Januari 2012

IDENTITAS ORANG TUA Nama Ayah Umur Pendidikan terakhir Pekerjaan Penghasilan II. ANAMNESIS Alloanamnesis dari ibu pasien tanggal 20 Januari 2012 jam 13.15 Keluhan utama Keluhan tambahan : Kejang sejak 2 jam SMRS : Demam : Tn. B : 31 tahun : SMA : Karyawan : 2.000.000 Nama Ibu Umur Pekerjaan Penghasilan : Ny. R : 28 tahun : Ibu rumah tangga :-

Pendidikan terakhir : SMA

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG Sejak 4 jam SMRS pasien demam tinggi, tidak diukur dengan termometer, tidak ada mimisan, tidak ada bintik-bintik merah di kulit.

Sejak 2 jam SMRS, pasien kejang sebanyak 2 kali dalam satu hari dengan lamanya kejang 5 menit, diantara serangan kejang pasien sadar. Kejang terjadi pada seluruh anggota badan. Kejang tidak dimulai pada salah satu sisi tangan ataupun kaki. Saat kejang pasien mendelik keatas dan badan kelojotan. Pasien pernah kejang sebelumnya, yaitu pada umur 4 bulan dan 12 bulan. Sesampai di unit gawat darurat pasien kejang lagi, lalu diberi obat dari dubur dan kejang berhenti, kejang tidak lebih dari 5 menit. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Kejang demam pada umur 5 bulan dan 12 bulan RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA Tidak ada RIWAYAT KEHAMILAN DAN PERSALINAN A. Antenatal care C. Ditolong oleh D. Cara persalinan : Teratur : Bidan : Spontan F. Masa gestasi : Cukup bulan/Aterm B. Tempat kelahiran : Klinik bersalin G. Berat badan lahir : 3100 gram H. Panjang badan lahir: 45 cm I. Sianosis J. Ikterus : Tidak ada : Tidak ada

E. Penyakit kehamilan: Tidak ada

Kesan : Bayi cukup bulan dan sesuai masa kehamilan RIWAYAT IMUNISASI
Imunisasi 0 I I I Waktu Pemberian Bulan 1 2 3 4 5 I II II II III Tahun 5 6

6 III IV III

9

15

18

12

BCG DPT Polio (OPV) Hepatitis B Campak

I

Kesan : Imunisasi dasar lengkap , imunisasi tambahan (non-PPI) belum dilakukan.

baud an keadaan lingkungan kurang baik.Usia 1 tahun sampai sekarang : Pasien minum PASI (Lactogen ) 4-5 x 200cc ditambah Nasi Tim (wortel. berukuran 30m2. hanya minum PASI ( Lactogen) 4 x 80cc : Tidak minum ASI. Cahaya dapat masuk. Data Keluarga: Ayah ibu pasien tidak mempunyai hubungan keluarga.12 bulan : PASI (lactogen) 4-5 x 100cc. terletak di permukaan padat. Usia 9 .Berjalan : 10 bulan Berlari Kesan : Pertumbuhan dan perkembangan tidak sesuai usia. pisang) porsi makan dihabiskan. melon. Data Perumahan: Rumah milik sendiri. Keadaan lingkungan: Saluran air sekitar rumah kurang lancer. Nestle sereal 1-2x.9 bulan : Tidak minum ASI.RIWAYAT PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN Psikomotor .Tengkurap: 3 bulan .Membaca dan menulis : Belum . ventilasi cukup. umur ibu 25 tahun. pernikahan pertama. Usia 0 . Kesan : Kualitas cukup Kuantitas : cukup RIWAYAT KELUARGA Corak reproduksi: Pasien anak tunggal dalam keluarga. satu kamar mandi. terdiri dari dua kamar tidur. D. Nestle sereal 3 x 1.Merangkak: 7 bulan . Usia 6 . Bubur susu E.6 bulan C. umur ayah saat menikah 28 tahun.Duduk : 6 bulan : 12 bulan . daging) 3x 1 mangkuk kecil + buah (papaya. . Usia 4 .4 bulan B. Rumah memiliki satu pintu masuk. RIWAYAT MAKANAN A.Berbicara : Belum .Berdiri : 8 bulan . Sumber air dari PAM. hanya minum PASI ( Lactogen) 3 x 60cc : Tidak minum ASI. tidak ada got. hanya minum PASI ( Lactogen) 3 x 100cc.

Pemeriksaan Sistematis Kepala Mata : Bentuk normal. serumen -/-. perbandingan usia dengan panjang badan terletak di persentil 25 dan 50.Kesan: Keadaan rumah di permukaan padat. refleks cahaya +/+. III. rambut hitam distribusi merata. tidak teraba benjolan.Ubun-ubun besar sudah menutup.Berdasarkan kurva NCHS. palpebra superior dan inferior tidak cekung. sklera kanan dan kiri tidak ikterik. sekret -/- . Telinga : Bentuk normal.Tekanan darah .Pernapasan B. kornea kanan dan kiri jernih. Kesan : status Gizi cukup C. perbandingan usia dengan berat badan terletak di persentil 10 dan 25.40C : 28 x / menit . kedua pupil bulat isokor diameter 3 mm. konjungtiva kanan dan kiri tidak anemis. CAE lapang. . tidak mudah dicabut. PEMERIKSAAN FISIK Tanggal 20 januari 2012 A. : Bentuk normal.Berdasarkan kurva NCHS.Nadi .Suhu . kedudukan bola mata dan alis mata simetris. Data Antropometri • • • • Berat badan Panjang badan Lingkar kepala Lingkar lengan atas : 12 Kg : 80 cm : 46 cm : 15 cm : (-) : 120 x / menit : 38. ventilasi cukup dan keadaan lingkungan kurang baik. Status Generalis Keadaan umum Kesadaran Tanda vital : Tampak sakit sedang : Compos mentis : .

Leher : Tidak ada kelainan. shifting dullness (-).Hidung Mulut : Bentuk normal.Palpasi . deviasi septum tidak ada. : Tidak tampak pulsasi ictus cordis : Teraba pulsasi ictus cordis di sela iga V linea mid clavicula sinistra. Thorax Paru-paru . Pemeriksaan neurologist : Kaku kuduk (-). tidak ada tanda radang. turgor kulit baik. Genitalia eksterna Wanita.II reguler.Perkusi . : Suara napas vesikuler.Auskultasi Abdomen . : Fremitus kanan sama dengan kiri : Sonor pada kedua lapang paru. : Tidak di lakukan : Bunyi jantung I .Inspeksi . Ekstremitas Kulit : Akral hangat.Inspeksi .Auskultasi : Datar.Palpasi . tidak tampak gambaran vena kolateral. tidak ada edema. : Bising usus (+). nyeri tekan (-). petechiae.Auskultasi Jantung . tepi tajam. murmur (-). gigi geligi tidak ada karies . tidak ada deformitas. bibir merah tidak kering. : Bentuk tidak ada kelainan. wheezing -/-. : Warna sawo matang. hepar teraba 1/3-1/3. faring tidak hiperemis.Inspeksi . : Supel. konsistensi kenyal. gallop (-) : Bentuk normal. : Timpani.Perkusi . permukaan rata. ronki -/-. lidah kotor dengan tepi hiperemis. lien tidak teraba. . simetris keadaan stasis dan dinamis. nyeri tekan epigastrium (-). sianosis tidak ada. kelenjar getah bening tidak teraba membesar. Kerniq (-). Laseque (-). sekret tidak ada. tonsil T1-T1. trakea di tengah.Perkusi .Palpasi . tidak ada tremor.

Kalium .Trombosit .Nadi . Pasien pernah kejang sebelumnya.2 juta / μl) (5-10 x 10 3 / μl) (150-350 x 103 / μl) Pemeriksaan neurologist : Reflex fisiologis dan patologis semua dalam batas normal .2juta / μl : 9500 / μl : 324. kejang sebanyak 2 kali dalam satu hari dengan lamanya kejang 5 menit. Kejang didahului dengan demam tetapi tidak diukur dengan termometer.8-6. kejang tidak lebih dari 5 menit. Kejang tidak dimulai pada salah satu sisi tangan ataupun kaki. yaitu pada umur 4 bulan dan 12 bulan.000 / μl : 4. Pemeriksaan fisik : Tanda vital : .Klorida V. IV PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium Tanggal 20 januari 2012 Hematologi . Kejang terjadi pada seluruh anggota badan. Saat kejang pasien mendelik keatas dan badan kelojotan.Pernapasan : 120 x / menit : 38.Suhu .Eritrosit .40C : 28 x / menit : 11 g / dl : 32 Vol % : 4. Sesampai di unit gawat darurat pasien kejang lagi.Refleks fisiologis : normo refleksi Refleks patologis : (-).13 : 132 : 105 (11-15 g / dl) (37-47 Vol %) (4. diantara serangan kejang pasien sadar. lalu diberi obat dari dubur dan kejang berhenti.Hemoglobin .Natrium . berat badan 10 kg datang dengan keluhan keluhan kejang sejak 2 jam SMRS. RESUME Pasien anak perempuan umur 1 tahun 5 bulan.Leukosit .Hematokrit .

Umur pasien diantara 6 bulan – 5 tahun.Eritrosit .Kalium . IVFD KAEN 3A Maintenance : 12 x 100 = 1200 cc .Klorida VI.2 juta / μl) (5-10 x 10 3 / μl) (150-350 x 103 / μl) VII.4 ̊ C ( >38 ̊ C) Tidak ada gejala kelainan neurologik pra/pasca kejang. PEMERIKSAAN ANJURAN Darah lengkap. Dasar yang mendukung: Demam 38. Kejang bersifat umum.Natrium . : 11 g / dl : 32 Vol % : 4. Ca darah EEG PENATALAKSANAAN 1.Hematokrit .Hemoglobin .13 : 132 : 105 (11-15 g / dl) (37-47 Vol %) (4.000 / μl : 4.2juta / μl : 9500 / μl : 324. DIAGNOSA BANDING Tidak ada VIII.8-6. DIAGNOSIS KERJA 1) Kejang demam sederhana.Pemeriksaan laboratorium Tanggal 20 januari 2012 Hematologi .Leukosit .Trombosit .

). P: IVFD KAEN 3A 1200cc (maintenance) Paracetamol 100mg 22 januari 2012 S: O: Demam ( . 3. kejang ( .).).4 x 12% x 1000 = 168 cc → 1700 cc/ 24 jam 2.Koreksi suhu : 1.tanda vital : Suhu : 37. Tanda.tanda vital : Suhu : 36.1 ºC Nadi : 120x/menit A : Kejang demam membaik. Tanda. Antipiretrik : paracetamol 100 mg/kali pemberian. Tanda.). Untuk kejangnya dapat diberikan diazepam rektal 5 mg. P: IVFD KAEN 3A 1200cc (maintenance) Paracetamol 100mg 23 januari 2012 S: O: Demam ( .). kejang ( .). PROGNOSIS Ad vitam Ad sanationam FOLLOW UP 21 januari 2012 S: O: Demam ( .tanda vital : Suhu : 37. Untuk rumatan berikan asam valproat 150 mg/hari. Diazepam oral 3 mg tiap 8 jam. 5.8 ºC napas : 28x/menit napas : 28x/menit : bonam : dubia ad bonam Ad fungsionam : dubia ad bonam .4 ºC Nadi : 120x/menit A : Kejang demam membaik. 4. kejang ( .

Nadi : 120x/menit A : Kejang demam membaik. P: IVFD KAEN 3A 1200cc (maintenance) Paracetamol 100mg napas : 28x/menit TINJAUAN PUSTAKA .

Kira-kira dari tiap 25 orang anak. Ada riwayat kejang demam keluarga yang kuat pada saudara kandung dan orang tua. biasanya terjadi antara umur 3 bulan sampai 5 tahun. Menu rut Consensus Statement on Febrile Seizures (1980). gangguan sensorik. EPIDEMILOGI Sebanyak 2-5 % anak. Puncak umur mulainya adalah sekitar 14-18 bulan dan insiden mendekati 3-4 % anak kecil. ensefalitis atau enselopati. makin kecil kemungkinan terjadinya kejang tambahan 4. terjadi pada anak di atas umur 1 bulan dan tidak ada riwayat kejang tanpa demam sebelumnya 11. Kejang demam harus dibedakan mengenai epilepsi. Definisi ini menyingkirkan penyakit saraf separti meningitis. atau kelainan otonom 2. Makin tua umur anak saat kejang pertama timbul. setidaknya satu kali akan mengalami kejang demam dan 1-3 dari anak-anak ini akan mengalami kejang demam tambahan.DEFINISI Kejang didefinisikan sebagai suatu gangguan fungsi otak yang involunter yang dimanifestasikan sebagai penurunan atau kehilangan kesadaran. menunjukkan bahwa vasopressin arginin dapat merupakan mediator penting pada patogenesis kejang akibat hipertermia. Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada saat demam (suhu rectal di atas 38 0C) tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat (SSP) atau gangguan elektrolit akut.anak yang berumur antara 6 bulan sampai 5 tahun pernah mengalami kejang yang disetai demam. kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi atau anak.berhubungan dengan demam tetapi tadak terbukti adanya infeksi intracranial atau penyebab tertentu 9. Kejang keadaan ini mempunyai prognosis berbeda dengan kejang demam karena keadan yang mendasarinya mengenai susunan saraf pusat. Kejang demam adalah tergantung umur dan jarang sebelum umur 9 bulan dan sesudah umur 5 tahun. . Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rectal lebih dari 38 0C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. yaitu yang ditandai dengan kejang berulang tanpa demam. perilaku yang abnormal. Beberapa anak mengalami lebih dari 3 kali kejang selama hidupnya. aktivitas motorik yang abnormal.

dan paling sering terjadi selama hari pertama demam. Faktor-faktor yang mungkin berperan dalam menyebabkan kejang demam. ETILOGI Pada tingkat pengetahuan kita saat ini dapat dikatakan bahwa infeksi pada sebagian besar kejang demam adalah tidak spesifik dan timbulnya serangan terutama didasarkan atas reaksi demam yang terjadi. Biasanya demam yang mencetuskan kejang demam pada disebabkan oleh suatu infeksi pada tubuh anak. otitis media. Demam itu sendiri 2. Kejang demam sedikit lebih sering pada anak laki-laki 4. Umumnya kejang demam timbul pada tahun kedua kehidupan (17. Infeksi yang paling sering adalah infeksi pada saluran atas. Bahan baku untuk memetabolisme otak yang terpenting adalah glukosa. 5. campak. diperlukan suatu energi yang didapat dari metabolisme.Kejadian kejang demam diperkirakan 2-4% di Amerika Serikat. Perubahan keseimbangan cairan atau elektrolit. Untuk mempertahankan hidup sel atau organ otak. beberapa faktor fisiologis dianggap bertanggung jawab atas berkembangnya suatu kejang 1. Respon alergik atau keadaan imun yang abnormal oleh infeksi 4. gastroenteritis dan infeksi saluran kemih 11.kira 20% kasus merupakan kejang demam kompleks. Ensefalitis viral (radang otak akibat virus) yang ringan yang tidak diketahui atau encefalopati toksik sepintas 6. pneumonia.kira 80% dan mungkin mendekati 90% dari seluruh kejang demam adalah kejang demam sederhana. Amerika Selatan. Beberapa studi prospektif menunjukan bahwa kira. Gabungan semua faktor diatas Kebanyakan kejang demam terjadi karena peningkatan suhu tubuh yang mendadak. PATOFISIOLOGI Meskipun mekanisme pasti terjadinya kejang tidak diketahui.23). misalnya: 1. Eropa Barat. Efek produk toksin daripada mikroorganisme (kuman dan virus) terhadap otak 3. Kira. Sifat proses itu adalah oksidasi dimana oksigen disediakan dengan perantaraan . Di negara Asia dilaporkan lebih tinggi.

. laktat asidosis disebabkan metabolisme anaerob. kejang baru dapat terjadi pada suhu 40oC atau lebih 4.fungsi paru-paru dan diteruskan ke otak melalui sistem kardiovaskuler. Pada kejang yang berlangsung lama biasanya disertai terjadinya apnea. kecuali ion klorida (Cl-). 3. sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang tinggi. misalnya mekanis. Rangsangan yang datangnya mendadak. dan dalam waktu yang singkat dapat terjadi difusi ion kalium listrik. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel. 2. Pada keadaan demam. kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya. hipoglikemia. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel neuron. meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet sedangkan otot pernafasan tidak efisien sehingga tidak sempat bernafas yang akhirnya terjadi hipoksemia. hiperkapnea. Perubahan dari patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan. kenaikan 1oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat sampai 20%. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium (Na+) dan elektrolit lainnya. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran tetangganya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter dan terjadilah kejang. kejang sudah dapat terjadi pada suhu 38 oC. Sel dikelilingi oleh suatu membran yang terdiri dari permukaan dalam adalah lipid dan permukaan luar adalah ionik. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah. maka terdapat perbedaan potensial yang disebut potensial membran dari sel neuron. Jadi sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. Untuk menjaga keseimbangan petensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim NaK-ATPase yang terdapat pada permukaan sel. Keseimbangan petensial membran ini dapat diubah oleh adanya: 1. Perubahan konsentrasi ion diruang ekstraseluler. Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung dari tinggi rendahnya ambang kejang seorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu tubuh tertentu. Akibatnya kosentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ menjadi rendah sedangkan di luar sel neuron terjadi keadaan sebaliknya.

Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam 5. Bagian Ilmu Kesehatan Anak. Saraf Anak PERDOSSI. Kejang bersifat umum 4. Kejang berlangsung sebentar tidak melebihi 15 menit 3. Jakarta digunakan klasifikasi kriteria Livingston sebagai pedoman untuk membuat diagnosis kejang demam sederhana sebagai berikut: 1. Pemerisaksaan EEG yang dibuat sedikitnya satu minggu setelah suhu normal tidak menunjukan kelainan 7.hipotensi artenal disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh yang semakin meningkat oleh karena meningkatnya aktivitas otot dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otot meningkat. KLASIFIKASI Dahulu di Sub bagian Saraf Anak. Namun kriteria ini sudah tidak digunakan lagi karena studi epidemilogi membuktikan bahwa resiko berkembangnya epilepsi atau berulangnya kejang tanpa demam tidak sebanyak yang diperkirakan 2. Frekuensi bangkitan kejang dalam 1 tahun tadak melebihi 7 kali Kejang demam yang tidak memenuhi salah satu atau lebih dari ke tujuh kriteria di atas digolongkan pada epilepsi yang diprovokasi oleh demam. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah mengakibatkan hipoksia sehingga meninggikan permeabilitas kapiler dan timbul oedem otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron. Kejang demam sederhana (Simple febrile seizure) . Pemeriksaan neurologis sebelum dan setelah kejang normal 6. yang membagi kejang demam menjadi 2 yaitu : 7 1. FKUI. Saat ini klasifikasi yang dipakai adalah klasifikasi berdasarkan kesepakatan UKK Neurologi IDAI. Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa berulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang yang rendah sehingga di dalam penanggulangannya perlu diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita menjadi kejang. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan sampai 4 tahun 2.

Manifestasi klinik yang sering dijumpai adalah: • • • • • • • • • • • Didahului oleh kenaikan suhu yang cepat.2. Bangkitan kejang tonik atau tonik. biasanya terjadi bila suhu diatas 390C Kehilangan kesadaran Kejang menyeluruh Serangan berupa kejang klonik atau tonik. Tidak berulang dalam waktu 24 jam Kriteria kejang demam kompleks Kejang berlangsung lama lebih dari 15 menit. Kejang fokal atau partial satu sisi atau kejang umum didahului kejang partial.klonik tanpa gerakan fokal. Kejang berulang atau lebih dari 24 jam.klonik bilateral Mata mendelik ke atas Anak dapat menahan napasnya tanpa sadar Dapat mengeluarkan suara seperti teriakan melengking atau menangis Mungkin mengompol Selanjutnya diikuti gerakan ritmis berulang seluruh tubuh yang involunter yang tidak dapat dihentikan Setelah kejang pasien mengalami periode mengantuk singkat Setelah beberapa detik atau menit anak akan bangun dan sadar kembali tanpa adanya defisit neurologis . Kejang demam kompleks (Complex febrile seizure) Kriteria kejang demam sederhana: • • • • • • Kejang berlangsung singkat umumnya serangan akan berhenti sendiri dalam watu kurang dari 10 menit. MANIFESTASI KLINIK Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak terkait dengan kenaikan suhu yang cepat dan biasanya terjadi jika suhu tubuh (rectal) mencapai 38 0C atau lebih.

Faktor resiko kejang demam berulang • • • • • Usia muda kurang dari 12 bulan Riwayat kejang demam Cepat timbulnya kejang setelah demam Temperatur yang rendah saat timbulnya kejang(< 380C) Riwayat keluarga epilepsi. Faktor resiko menjadi epilepsi Seluruh jenis epilepsi termasuk absens. Rekurensi lebih sering bila serangan pertama terjadi pada bayi berumur kurang dari 1 tahun yaitu sebanyak 50% dan bila terjadi pada usia lebih dari 1 tahun resiko rekurensi menjadi 28% 6. Anak dengan pengawasan. National Institute of Neurologic Disoder and Stroke (NINDS) Perinatal Colaborative project (NCPP)L tingginya resiko epilepsi seperti berikut: melaporkan . Bila seorang anak mempunyai 2 atau lebih faktor resiko tersebut diatas. dan partial kompleks dapat terlihat pada pasien dengan riwayat kejang demam. Kadar natrium rendah.maka resiko untuk mendapatkan kejang demam kira. Perkembangan terlambat.kira 30% 6. Temperatur yang tinggi. Permulaan noenatus >28 hari.• Kejang dapat diikuti hemiparesis sementara (hemiparesis Tood) yang berlangsung beberapa jam atau beberapa hari FAKTOR RESIKO KEJANG DEMAM Faktor resiko kejang demam pertama • • • • • • Riwayat keluarga dengan kejang demam. tonik–klonik umum.

Pemeriksaan yang dianjurkan pada kejang yang pertama adalah kadar glukosa darah. perdarahan kulit. Bila dicurigai adanya meningitis bakterialis dilakukan pemeriksaan kultur darah. Pada kejang demam beberapa peneliti menemukan kadar yang normal terhadap pemeriksaan diatas. paresis. terutama pada pasien dengan kejang demam yang pertama.• • • Perkembangan abnormal sebelum kejang demam pertama. Pungsi lumbal Pemeriksaan cairan cerebrospinalis dilakukan untik menyingkirkan kemungkinan meningitis. Dari 34% anak dengan 1 faktor resiko 3% akan menjadi epilepsi dan jika mempunyai 2 atau 3 faktor resiko maka kejadian epilepsi akan menjadi 13% 4. oleh karenanya tidak diindikasikan pada kejang demam. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. hitung jenis dan prorombin time. elektrolit. Laboratorium Pemeriksaan laboratorium pada anak kejang ditujukan selain untuk mencari etiologi kejang juga untuk mencari komplikasi akibat kejang yang lama. peningkatan sel darah putih. gejala infeksi. Selain itu pungsi lumbal dapat dipertimbangkan pada pasien dengan kejang disertai penurunan status kesadaran. Pada bayi kecil sering manifestasi meningitis tidak jelas sehingga pungsi lumbal harus dilakukan pada bayi berumur kurang dari 12 bulan. Riwayat keluaga dengan epilepsi. kecuali bila didapatkan kelainan pada anamnesis dan pemeriksaan fisik. dan kultur cairan cerebrospinalis. atau tidak adanya faktor pencetus yang jelas.18 bulan dan dipertimbangkan pada anak berumur diatas 18 bulan. 2. Jenis pemeriksan laboratorium disesuaikan dengan kebutuhan. dianjurkan pada pasien berumur 12. Kejang demam kompleks Enam puluh persen anak dengan kejang demam tidak memiliki satupun dari faktor resiko diatas. 2% akan berkembang epilepsi sebelum usia 7 tahun. . kaku kuduk.

Kerusakan sel otak . dan kokain. biasanya berupa perlambatan di bagian posterior. sedang kejang demam kompleks dapat menimbulkan komplikasi.3. DIFERENSIAL DIAGNOSIS 1. perkembangan terlambat tanpa adanya kelainan pada kelainan pada CT Scan dan bila terdapat lesi ekuivokal pada CT Scan. Komplikasi yang mungkin dapat terjadi. KOMPLIKASI Komplikasi jarang terjadi pada kejang demam sederhana. epolepsi lobus temporalis.kira 30% penderita yang mengalami perlambatan di posterior akan menghilang 7-10 hari kemudian. MRI dapat dipertimbangkan pada anak dengan kejang yang sulit diatasi. Kedua pemeriksaan ini diindikasikan pada pasien yang dicurigai terdapat lesi intrakranial berdasarkan adanya riwayat pemeriksaan neurologis yang abnormal. 4.anak dengan kejang demam sederhana mempunyai gambaran EEG yang normal. Akan tetapi EEG yang dikerjakan 1 minggu setelah kejang demam dapat abnormal. Menurut American Academy of Pediatric EEG tidak dianjurkan pada penderita kejang demam sederhana maupun kompleks. Ensefalitis 3. Elektroensefalografi Saat ini EEG tidak diindikasikan untuk anak-anak dengan kejang demam demam sederhana.obatan tertentu seperti difehidramin. Meningitis 2. anti depresan trisiklik. karena hasil studi menunjukan bahwa mayoritas dari anak. 4. Dehidrasi yang mengakibatkan gangguan keseimbangan air dan elektrolit. Neuroimaging Pemeriksaan ini meliputi CT Scan dan MRI. ametamin. yaitu: 1. Obat. Kira.

Ellenberg dan Nelson melaporkan bahwa IQ pada 42 pasien kejang demam tidak berbeda bila dibandingkan dengan saudara kandungnya yang tidak menderita kejang demam. hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh meninggi disebabkan meningkatnya aktivitas dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat. 4. PENATALAKSANAAN Pada tatalaksana kejang demam ada 3 hal yang perlu dikerjakan 4: . 3.9. 2. asidosis laktat oleh karena metabolisme anaerob. Penurunan IQ Ganguan intelek dan gangguan belajar jarang terjadi pada kejang demam sederhana. Kelumpuhan Hemiperesis biasanya terjadi pada penderita yang mengalami kejang lama (berlangsung lebih dari setengah jam) baik bersifat umum atau fokal.Pada kejang yang berlangsung lama (> 15 menit) biasanya disertai terjadinya apnea. Epilepsi Kerusakan pada daerah medial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang berlangsung lama. Selain itu resiko retardasi mental pada pasien dengan kejang demam yang berulang menjadi 5x lebih besar 4. Mula –mula kelumpuhan bersifat flasid tetapi setelah 2 minggu spastisitas. sehingga sering terjadi serangan epilepsi spontan dikemudian hari. IQ lebih rendah ditemukan pada pasien kejang demam yang berlangsung lama dan sebelumnya telah terdapat gangguan perkembangan atau kelainan neurologis. Rangkaian di atas adalah penyebab tejadinya kerusakan neuron otak. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga meningkatkan permeabilitas kapiler dan timbul edema otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak.11. Dapat menjadi matang dikemudian hari. hiperkapnea. meningkatnya kebutuhan O2 dan energi untuk kebutuhan otot skelet yang akhirnya hipoksemia.

berikan fenobarbital dosis 10.3-0. Diazepam dapat diberikan secara intravena atau intratekal. pernapasan perlu diikuti dengan seksama.lahan dengan kecepatan 1-2 mg/menit dengan dosis maksimal 20 mg. Diazepam dapat diberikan 2 kali dengan jarak 5 menit bila anak masih kejang selain itu diazepam tidak boleh diberikan secara intramuskuler karena absorpsinya tidak baik. kemudian penderita dimiringkan agar jangan terjadi aspirasi ludah atau lendir dari mulut. 12. keadaan jantung. Pada anak yang masih mengalami kejang dilakukan perawatan yang adekuat meliputi: semua pakaian yang ketat dilonggarkan. Jika masih kejang rawat di Ruang Rawat Intensif. Pengobatan profilaksis terhadap berulangnya kejang demam Pengobatan pada fase akut Pada sebagian kejang besar kasus kejang demam sering kali kejang berhenti sendiri. Kejang harus segera dihentikan untuk mencegah agar tidak terjadi kerusakan pada otak. suhu tubuh. Dosis selanjutnya diberikan 4-8mg/kgBB/hari (dosis pemeliharaan).24 setelah dosis awal. bila kejang berhenti sebelum dosis habis hentikan penyuntikan.1. Pengobatan pada fase akut 2. Fungsi vital seperti kesadaran. Mencari dan mengobati penyakit 3. bila perlu diberikan tambahan oksigen.20 mg/kgBB dan pasang ventilator bila perlu. Suhu yang tinggi harus segera diturunkan dengan kompres atau pemberian antipiretik. Dosis intravena 0. tekanan darah. Bila kejang belum berhenti juga setelah pemberian diazepam ulangan diberikan fenitoin dengan dosis awal 20mg/kgBB/menit atau kurang dari 50mg/menit. Obat yang paling cepat menghentikan kejang adalah diazepam. meninggalkan gejala sisa atau bahkan menyebabkan kematian. jalan napas harus bebas agar oksigenasi terjamin. Mencari dan mengobati penyakit . Dan untuk mencegah agar kejang tidak berulang kembali sebaiknya diberikan profilaksis anti konvulsan karena kejang masih dapat kambuh selama anak masih demam.5 mg diberikan secara perlahan.

Mencari faktor penyebab sesuai dengan pemeriksaan penunjang yang tersedia. Profilaksis jangka panjang (rumat) 1. Antipiretik Efektif menurunkan suhu tubuh sehingga anak tampak lebih tenang. Terdiri dari pemberian antipiretik dan antikonvulsan.3 mg/kgBB/hari tiap 8 jam saat demam atau diazepam rectal 0. Dapat diberikan diazepam oral dengan dosis 0.9.15 mg/kgBB/x dan diberikan sebanyak 4x sehari Ibuprofen 10 mg/kgBB/x diberikan sebanyak 3x sehari Antikonvulsan Antikonvulsan hanya diberikan pada waktu pasien demam dengan ketentuan orang tua atau pengasuh pasien mengetahui dengan cepat adanya demam pada anak. yaitu: 1. 2. Profilaksis intermiten Yang dimaksud dengan pengobatan intermiten adalah pengobatan yang diberikan pada saat anak mengalami demam. mengantuk dan hipotonia 4. Antipiretik yang digunakan antara lain: • • Parasetamol atau Asetaminofen 10. Pengobatan profilaksis Pengobatan profilaksis di bagi menjadi 2. Profilaksis jangka panjang ( rumat) .dengan tujuan mencegah terjadinya kejang demam. Efek samping diazepam adalah ataksia. Kejang demam biasanya disebabkan oleh suatu infeksi sehingga pemberian antibiotik yang tepat sangat di perlukan. meskipun tidak terbukti dapat mengurangi resiko rekurensi. Profilaksis Intermiten 2.5 mg/kgBB/hari setiap 8 jam bila demam diatas 380C.

menerus untuk waktu yang cukup lama. Frekuensi berulangnya kejang berkisar antara 25-50% dan umumnya terjadi pada 6 bulan pertama dan resiko untuk eskipun belum mendapatkan epilepsy rendah 11.hal dibawah ini: Kejang demam pertama pada umur dibawah 12 bulan. oleh karena kejang diprovokasi oleh demam. Pengobatan ini diberikan bila terdapat lebih dari satu keadaan dibawah ini 6 : • • • • • Kejang demam lebih dari15 menit Adanya defisit neurologist yang jelas baik sebelum demam maupun setelah demam Kejang demam fokal Adanya riwayat epilepsi dalam keluarga Dipertimbangkan bila terdapat lal. Obat yang biasanya diberikan .18. sedangkan pemakaian asam valproat pada usia kurang dari 2 tahun dapat menyebabkan gangguan pada fungsi hati. PROGNOSIS Dengan penanggulangan yang cepat dan tepat. Kejang berulang dalam waktu 24 jam Kejang demam berulang (lebih dari 4 kali pertahun) Obat rumat yang dapat menurunkan resiko berulangnya demam hanya fenobarbital (3-5mg/kgBB/hari. satu bulan kemudian setiap 3 bulan 2. obat ini diberikan terus menerus selama satu tahun setelah kejang terakhir kemudian dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan.dibagi dalam 2-3 dosis) dan asam valproat (15-40 mg/kgBB/hari dan dibagi dalam 2 dosis per hari). sehingga jangan lupa diperiksakan kadar SGOT dan SGPT setelah 2 minggu.7. PENCEGAHAN Meskipun belum diketahui dengan pasti efektifitasnya dalam meminimalkan resiko kejang demam namum cukup beralasan bila dilakukan pengawasan dan pengontrolan demam.Pengobatan rumat adalah pengobatan yang diberikan terus. Gangguan prilaku dan kesulitan belajar adalah efek samping pemakaian fenobarbital setiap harinya. prognosisnya baik dan tidak menyebabkan kematian.

meskipun kejang telah berhenti Kejang berlangsung lebih dari 5 menit Terdapat kejang berulang segera setelah kejang pertama berhenti Anak kesulitan bernapas Selain itu pasien dengan kejang demam dapat pula dirujuk kerumah sakit apabila menunjukkan tanda.tanda 9: • • • • • Kejang demam kompleks Hiperpireksia Kejang demam pertama Usia dibawah 6 bulan Dijumpai kelainan neurologis . Walaupun kejang demam tidak terlalu berbahaya tetapi disarankan kepada orang tua untuk membawa anak dengan kejang demam bila: • • • • Keaadan anak tidak cepat membaik.adalah Asetamonofen atau Ibuprofen yang diberikan sebanyak 3-4 kali sehari. Menurunkan demam juga dapat dilakukan dengan kompres menggunakan air hangat.

Jilid kedua. Penanganan demam pada anak secara professional. 5. Kejang demam apa yang perlu diwaspadai. hal 434-437. 4. California: MacGraw. Febrile seizure. edisi 15.Hill Medical publishing Division. hal 2059. Dwi Putro Widodo. volume 3. Paduan Pelayanan Kesehatan Medis. Behrman RE. Abraham M Rudolph.segi praktis Ilmu Kesehatan Anak. MA Guggenheim. Jakarta:EGC 2005. Nelson Ilmu Kesehatan anak. 10. Rudolph Fundamental Of Pediatrics. page 105-106.2000. Kesepakatan UUK Neurologi IDAI. 2004. Philadelphia: WB Sauders company. edisi2. Kliegman RM.819 2.2000. .MD.15 th edition. page 812. 9. Departemen Ilmu Kesehatan Anak. febrile seizures. 6. MD. Behrman RE. Julia A McMillan. Rahman M. Jensen HB.154. WB. hal 58-66. Derajat MT. Kliegman RM. page 1813.s Pdiatrics Principles and Practise. salemba. hal 151. Jakarta.Philadelpia. Nelson Text book of pediatrics. 2004.DAFTAR PUSTAKA 1. Current Pediatrics Therapy. PERDOSSSI.page 19491951. Seizuure and Epilepsy.3rd edition. Saaf Anak Jakarta. publisher:Lippincott& wilkins. Philadelphia. 1999.2066. Jakarta: EGC 2005.Sauders company. Penerbit Media Aesculapius fakultas kedokteran Universitas Indonesia. Arvio. Departemen Ilmu Kesehatan Anak. Kim J. 3rd edition. Robert K. Oski. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ketiga. 7. Hal 171-176.1829. kejang demam. chapter 404. Kejang Demam. 17 th edition. RCSM 2005. 8. 2002.Jakarta. Segi. 3.

. 12. FKUI. 1985 hal 847-855.11.251. Soetomenggolo. Buku Ajar neorologi Anak. Taslim. 1999. Staff Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. hal 244. Bagian Ilmu Kesehatan Anak. Kejang demam. Jakarta:Ikatan Dokter Anak Indonesia. Buku kuliah 2 ilmu kesehatan anak.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful