KONTROVERSI JIHAD DALAM AGAMA ISLAM !

Sekitar bulan November tahun 2008, dunia dikejutkan dengan “drama” penyanderaan dan aksi terror di Mumbai, India yang dilakukan oleh sekelompok orang dari gerakan Islam Militan. Sama dengan reaksi aksi terorisme sejenis yang sebelumnya juga dilakukan oleh sekelompok umat Islam yang fanatik, maka umat Islam yang lain akan dengan lantang meneriakkan suara “ Mereka bukan orang-orang Muslim yang sejati, Islam tidak mengajarkan kekerasan tetapi perdamaian dan cinta kasih ! “ Banyak umat muslim di seluruh dunia yang merupakan orang-orang yang cinta damai serta ingin hidup berdampingan dengan penuh toleransi dengan tetangga-tetangga mereka yang tidak memiliki keyakinan yang sama dengan mereka, baik yang beragama lain atau bahkan dengan mereka yang ateis ! Ini merupakan kerinduan bagi mayoritas umat Muslim di seluruh dunia, tidak hanya di negara-negara di mana mereka tinggal sebagi minoritas, tetapi juga di negaranegara mayoritas, seperti negara Indonesia yang kita cintai ini, yang di kenal sebagai negara No. 1 dari segi jumlah pemeluk agama Islam terbanyak di seluruh dunia ! Terjadi berbagai kontroversi dari kalanangan umat Muslim sendiri, disatu sisi ada yang menolak cara-cara kekerasan dengan alasan Al-quran lebih mengajarkan cinta kasih, toleransi dan perdamaian, tetapi disisi lain mereka yang bukan hanya mendukung tetapi melaksanakan jalan kekerasan untuk mendukung tujuan dari agama Islam dan mengatakan bahwa itu lah yang diajarkan oleh Al-quran yang sebenarnya ! Mana yang benar dari kedua pihak yang saling berseberangan ? Perdebatan dikalangan sarjana-sarjana Islam sendiri masih berlangsung dengan masing-masing pihak mengajukan berbagai klaim yang kita orang-orang Kristen sering sebut “Alkitabiah” ! Hanya “Allah” mereka sendiri yang tahu mana yang benar dari kedua pihak yang saling berseberangan tersebut. Nah bagi kita selaku orang-orang Kristen yang menjadi pengikut Tuhan Yesus, biar bagaimanapun menurut saya lebih baik memahami mengenai apa yang diajarkan oleh Alquran baik mengenai cinta kasih, toleransi dan perdamaian dan juga apa yang diajarkan oleh Alquran mengenai Jihad yang penuh kekerasan, tetapi bukan dari cara pandang Alkitab, tetapi dari cara pandang kerangka berpikir mereka dengan melihat apa yang ditulis oleh seorang mantan muslim dan juga mantan professor Al-Azhar University, Kairo, Mesir, Mark A. Gabriel yang sekarang telah menjadi pengikut Kristus yang setia, selain apa yang ditulis oleh M. Ali dalam bukunya ISLAM REVIEWED yang telah beberapa kali saya kutip di beberapa postingan saya sebelumnya. Ada dua buku dari Mark. A. Gabriel yang membahas mengenai masalah JIHAD, yang pertama berjudul, “ ISLAM and TERORISM – What the Quran teach about Christianity, violence dan the goals of Islamic Jihad” dan yang kedua berjudul, “ Journey into the Mind of n ISLAMIC TERORIST, Why they hate us and how we change their minds.” Dalam pembahasan ini saya hanya akan memakai bukunya yang pertama “ISLAM and TERORISM. “

Ini apa yang dikatakan oleh Mark A. Gabriel, yang sudah saya terjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia : Lima belas tahun yang lalu [ catatan saya : kira-kira tahun 1987, karena buku tersebut terbit tahun 2002 ] saya dalah seorang imam dari sebuah mesjid di kota Giza, Saya memberikan pesan dalam salah satu khotbah hari Jumat yang setiap minggu dilaksanakan. Saya berkata kepada 250 orang yang bersila di lantai di hadapan saya sebagai berikut : “Jihad dalam Islam adalah membela negara Islam, umat Muslim dan Agama Islam dari serangan musuh-musuhnya. Islam adalah satu agama damai dan hanya akan melawan kepada mereka yang melawan Islam. Mereka adalah orang orang kafir, penyesat, penyembah berhala, orang-orang Kristen dan orang-orang Yahudi yang menyedihkan bagi Allah. Mereka orang-orang Kristen dan Yahudi menyebarkan mitos bahwa Islam sebagai agama kekerasan dan pedang. Orang-orang Kafir ini yang mengutuk Agama Islam, tidak akan bisa lepas dari pedang Allah. “ Pada saat itu saya mengutip satu ayat dari Alquran yang terdapat dalam Sura 17:33 sebagai berikut : Dalam Terjemahan Bahasa Inggris sbb. : “ And do not kill anyone whose killing Allah has forbidden, except for a just cause. “ [ Dari The Quran Transalation, 7th edition, by Abdullah Yusuf Ali (Elmhurst, NY : Tahrike Tarslie Quran, Inc., 2001) ] Dalam Terjemahan Bahasa Indonesia sbb. : “Dan janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah (membunuhnya) ,kecuali dengan suatu (alasan) yang benar. ..” [ Dari
Mushaf Al-Quran Terjemah Edisi tahun 2002, Departemen Agama RI yang diterbitkan oleh Al Huda, Jakarta, 2005 ]

Ketika saya berkhotbah saat itu, saya baru saja lulus dari Al-Azhar University. Saya mengajar juga di universitas ini dan menjadi imam dari setiap khotbah Jumat di Mesjid. Saya berkhotbah dengan apa yang telah mereka ajarkan kepada saya, tetapi di dalam hati saya dibuat bingung dengan kebenaran dari Agama Islam. Saya tahu bahwa apa yang saya ajarkan di Mesjid dan yang saya terima di AlAzhar adalah bukan yang sebenarnya di ajarkan dalam Al-Quran, yang telah saya hafalkan seluruh ayatnya dari awal sampai akhir, ketika saya berusia 12 tahun. Apa yang membingungkan saya adalah di satu pihak Alquran mengajarkan agar menjadi orang Muslim yang penuh kasih, murah hati, dan penuh pengampunan. Tetapi pada saat yang bersamaan, orang-orang Muslim fundamentalis – yang seharusnya menunjukkan mempraktekkan ajaran yang benar tentang Islam yang penuh kasih – melakukan banyak pengeboman gereja-gereja dan membunuh banyak orang-orang Kristen.

Pada waktu itu gerakan jihad sangat aktif di Mesir. Laporan-laporan pengeboman gereja dan penyerangan kepada orang-orang Kristen adalah hal yang biasa. Saya sendiri tumbuh dalam satu keluarga Muslim yang mapan. Kebingunan saya, akhirnya menyebabkan saya membuka seluruh kajian-kajian atas Alquran dan buku-buku mengenai hukum Islam, dengan harapan untuk mendapatkan jawaban yang pasti atas kontradiksi yang ada. Pada akhirnya Saya tidak dapat merubah realitas yang ada. Sebagai seorang Muslim, Saya menyadari saya mempunyai dua pilihan : Melanjutkan untuk menjadi seorang Islam yang damai, penuh kasih, penuh pengampunan atau seperti satau agama Islam dengan nafas “Kristen”, seperti yang selalu menjadi tujuan dari Pemerintah Mesir, dn harus saya lakukan apabila saya tetap ingin mendapatkan status atau pekerjaan saya di universitas. Atau menjadi seorang Islam Fundamentalis dan melaksanakan Islam menurut Al-quran dan apa yang diajarkan oleh Muhammad. Muhammad berkata, “ Aku meninggal sesuatu kepada kalian [ Alquran ]. Jika kalian berpegang pada apa yang aku tinggalkan, kalian tidak akan pernah tersesat selamanya. “ [ All hadith from Al-bukhari can be source to
Sahih Al-Bukhari, 9. vol. set. English transalation by Mushi Khan ( Cairo, Egypt : Dar Ah’ya Us-sunnah ]

Seringkali saya mencoba untuk merasionalkan dan mengatakan bahwa agama Islam yang saya praktekkan adalah benar dengan berkata pada diri sendiri, “ Baiklah, kamu sudah benar dalam menjalankan Islam dan tidak melangkah terlalu jauh, toh pada kenyataannya banyak ayat-ayat Alquran tentang kasih, perdamaian, pengampunan dan toleransi. Kamu hanya perlu untuk menolak bagian-bagian Alquran yang mengajarkan tentang Jihad dan perintah membunuh orang-orang non-Muslim. “ Saya selalu berusaha untuk mencari setiap interpretasi dari Alquran yang mencoba untuk menolak Jihad dan peritah membunuh orang-orang nonMuslim, yang masih saya yakini dan pegang dan praktekkan pada saat itu, dengan selalu menolak ajakan dari organisas-organisa Muslim Fundamentalis. Para sarjana menyetujui bahwa Setiap orang Muslim harus melaksanakan Jihad kepada orang-orang kafir atau mereka yang menolak Islam dan kepada orang-orang yang tersesat atau mereka yang telah meninggalkan Islam. Sampai sekarang tidak ada sesuatu yang bisa mendukung keselarasan antara ajaran jihad dengan ajaran tentang hidup berdampingan dengan damai bersama orang-orang non-Muslim. Semua kontradiksi dalam Alquran sungguh-sungguh menjadi masalah bagi agama Islam yang menjadi keyakinan saya dan amat saya percayai adalah agama dari Tuhan yang sejati. Pada akhirnya setelah lulus dari tingkat sarjana

saya terus melanjutkan studi saya sampai mencapai tingkat doctoral dengan tujuan utama agar saya bisa mendapat jawaban atas berbagai kontradiksi dalam apa yang diajarkan Alquran. Para sarjana Islam mempunyai solusi teologis (Theological Solutions ) atas maalah-masalah kontradiksi dalam Alquran. Tetapi yang jadi pikiran dalam hati saya adalah mengapa Allah Yang Maha Kuasa dapat mengeluarkan wahyu atau ajaran-ajaran yang saling bertentangan dan tidak konsisten dari dirinya sendiri. Dan juga yang mengherankan saya adalah Muhammad , nabi dari agama Islam yang sangat saya cintai dan hormati [ sebelum bertobat ] mempraktekkan keyakinannya dengan jalan melakukan semua Kontradiksi yang ada dalam Alquran. Solusi Teologis yang ditawarkan oleh para sarjana Muslim adalah apabila ada pertentangan atau kontradiksi dalam Al-quran, hal ini dapat diselesaikan dengan prinsip dari Naskh ( principle of naskh ). Naskh didasarkan pada Fakta bahwa Alquran diturunkan kepada Muhammad dalam waktu-waktu yang berbeda selama kira – kira 22 tahun. Beberapa bagian dalam Alquran datang kemudian dan beberapa bagian dalam Alquran datang terlebih dahulu. Apabila terjadi kontradiksi diantara bagian-bagian dalam Al-quran yang datang sebelum dan sesudahnya, para sarjana Muslim menyelesaikan kontradiksi tersebut dengan memutuskan bahwa wahyu-wahyu yang terbaru atau terakhir akan mengesampingkan atau menolak (nasikh) atas wahyu-wahyu terdahulu. Ada 114 ayat dalam Alquran yang berbicara tentang kasih, hidup damai, pengampunan, Salah satu contohnya dalam surah 2:62, 109. Tetapi ketika Surah 9:5 yang diwahyukan kemudian besifat kontradiksi terhadap 114 ayat tersebut, maka surah ini membatalkan wahyu-wahyu sebelumnya. Ayat ini mengatakan : Terjemahan dalam bahasa Inggris : “ Fight and slay the Pagans wherever you find them, and zeise them, beleaguer them, and lie in wait for them in every stratagem ( of war ); but if they repent, and establish regular players and practice regular charity, then open the way for them; for Allah is oft-forgiving, Most Merciful. “ -Ali TranslationTerjemahan dalam bahasa Indonesia : ‘Apabila telah habis bulan-bulan haram, maka perangilah orang-orang musyrik di mana saja kamu temui, tangkaplah dan kepunglah mereka, dan awasilah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan melaksanakan shalat serta menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka, Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” - Mushaf Al-Quran Teremah, Dept. Agama RI-

Ayat ini dikenal dengan ayat pedang, dan Ayat ini menjelaskan bahwa setiap orang Muslim harus melawan setiap orang yang menolak untuk memeluk agama Islam, baik mereka berada di luar atau di dalam wilayah Arab. Ayat ini yang dipertimbangkan untuk mewakili tahapan akhir dari perkembangan Jihad dalam Agama Islam [ Beberapa sumber yang mengkonfirmasikan ide ayat tersebut
yang menggantikan dan menghapus ke 114 ayat Alquran tentang pengampunan, cinta kasih dan tidak membunuh orang-orang non-Muslim, adalah sbb. : Jalal al-Din Al-syowty, Ab-Bab Al-Nuzul (The Reason for the Revelation) {Beirut, Lebanon: Dar Eh’yeh al-Alown [The signs of Revival House], 1983}, vol. 2, p.37, and Al-Hafz Al Kalbbi, Al Tasshel Fi Aleolom Al Tanze. ]

Prinsip Nasikh ini sangat kuat. Jika satu ayat adalah nasikh, atau digantikan, maka hal ini berarti seperti menganggap bahwa ayat tersebut tidak pernah ada.
Kalian ( non-Muslim atau orang-orang Kristen ) pasti bertanya, “ Mengapa ayatayat yang mengajarkan kasih, pengampunan dan tidak membunuh non-muslim ditempatkan yang pertama dan bukan yang terakhir ? Mengapa wahyu-wahyu yang datang sering kali berubah ? “. Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah dengan melihat dari kehidupan Muhammad, nabi dari Islam. Demikian Apa yang dijelaskan oleh Mark Gabriel mengenai bagaimana para sarjana dan ahli agama Islam menyelesaikan kontradiksi yang terjadi dalam ajaran-ajaran Alquran. Mana yang dipegang, apakah prinsip Nasikh diterima atau ditolak oleh kalangan sarjana Islam dan orangorang yang ahli dalam agama Islam, seperti imam, sheikh, mullah atau uztad dsbnya, saya tidak ingin membahasnya ! karena saya hanya ingin mejelaskan bagaimana kontroversi Jihad dalam Agama itu sendiri. Bagi saya, yang hendak saya beritahukan kepada saudara-saudara saya dalam kristus adalah, masalah JIHAD telah menjadi satu kontroversi bagi umat Muslim di seluruh dunia, ada yang menolak seperti kalangan Muslim moderat yang sejati, ada menerima dan mempraktekkan seperti umat Muslim fundamentalis dan radikal dan ada juga yang bersikap di awal menolak dan kemudian menerima ketika tujuan telah dicapai….. Bagaimana dengan kondisi Umat Muslim di Indonesia ? yang pasti banyak dari mereka yang saya ketahui menolak ajaran Jihad tetapi ada juga yang mendukung. Pada dasarnya ada dua golongan besar umat Muslim di negara kita, yang pertama golongan Umat Muslim tradisional yang mengajarkan Nilai-nilai Islam dengan tidak melupakan nilai-nilai kebudayaan asli masyarakat kita yang ramah, toleran dan ingin hidup damai dan selalu mengkaitkan Ajaran Alquran dalam masalah ini, dan golongan kedua adalah mereka yang menginginkan pemurnian ajaran Islam bagi para umat Muslim di Indonesia. Siapakah saja mereka dari golongan Muslim Tradisional dan golongan Muslim

yang menghendaki kemurnian ajaran Islam ? kita bisa melihat dari siapa mereka yang sangat mendukung dan membela gerakan dan tindakan Islam radikal dan militant seperti yang dilakukan Imam Sanudera cs, dan mereka yang menolaknya. Sebagai Penutup dibawah ini saya sajikan juga apa yang dikatakan oleh M. Ali

dalam bukunya ISLAM REVIEWED tentang masalah Jihad Bab 13 dengan tema Jihad, sebagai berikut
JIHAD yang secara literal berarti “ a great striving [ suatu perjuangan yang hebat atau besar ] “ dan perjuangan tersebut meliputi suatu agresi atau penyerangan ke seluruh dunia tanpa belas kasihan dan kejam. Jihad adalah suatu bentuk peperangan dalam banyak aksi, sesuatu perang yang lebih “total” daripada yang dipraktekkan oleh pemimpin fasis dan komunisme di abad ini. Jihad tidak hanya panggilan untuk berjuang mengangkat senjata, tetapi jihad juga berarti suatu perang melalui tindakan subversi dan propaganda, melalui perubahan dari non-Muslim menjadi Islam, dan tindakan penetrasi untuk mempengaruhi suatu masyarakat non-Muslim. Meliputi tekanan politik dan ekonomi, seperti memberhentikan pasokan minyak atau membeli property di negara-negara “target’ [ Hal ini dilakukan dalam
praktek selama Jihad-Yom-Kippur melawan Israel pada 17 Oktober 1973, ketika para Raja dan Syeikh negara-negara Arab tiba-tiba menaikkan harga minyak bumi empat kali lipat. Sejak itu minyak bumi memiliki nama yang baru, emas hitam {black gold} ( suatu komoditas yang mahal ). Kenaikan harga tersebut menjadi alasan utama dari memuncakknya krisis ekonomi di seluruh dunia dari timur ke barat yang terus berlanjut, dari beberapa negara, khususnya negara dunia ketiga, yang tercekik karena hutang ].

Negara-negara Barat waspadalah ! Sebagai contoh, negara-negara Arab, khususnya Arab Saudi, sekarang memiliki perusahaan-perusahaan holding yang penting di Amerika Serikat dan negara-negara barat lainnya, yang semuanya dibeli dari uang minyak negara-negara barat. Bagaimana semua hal itu dimulai ? Baiklah saya jelaskan. Usaha-usaha Muhammad untuk membujuk masyarakat suku-nya memeluk apa yang diajarkan-nya dengan cara – cara damai hanya membawa ancaman, cemohan dan perlakuan buruk yang keras.. Penduduk Mekah merasa gusar karena Muhammad kelihatannya melakukan suatu kudeta agama dengan menyatakan hanya satu dari 360 berhala yang ada, yang bernama Allah. Hal tersebut yang menjadi penyebab utama dari hijrahnya Muhammad bersama sekelompok pengikutnya dari Mekah ke Medina ( dulu Yatrib ) di tahun 622 AD (Masehi). Dari Kalimat dalam Alquran yang di dukung oleh hadist-hadist dan ditulis para sarjana Islam, Muhammad mengangkat pedang hanya ketika diperintahkan oleh Allah. Sura 2:216; 4:73-80 meyakinkan kita untuk percaya bahwa orang-orang Muslim dengan tujuan utama menyebarkan agama Islam dengan ide atau cara melakukan perang phisik. Sebagai satu minoritas yang menderita dan mengalami perlakukan buruk di Mekah, mereka mengerti Jihad menjadi suatu pertahanan lisan dari iman mereka. Tetapi keuntungan material yang

menarik dari barang-barang rampasan, ketidakterbatasan dalam memanfaatkan para wanita tawanan perang, dan izin masuk surga yang otomatis membuktikan terlalu banyak godaan bagi orang-orang Muslim untuk bertahan pada tujuan dakwah. Sebagai hasilnya, expedisi-expedisi pertama dapat lebih baik digambarkan sebagai latihan menjarah dari pada suatu misi “dakwah” yang dinspirasikan semangat agama. Dalam suatu peranan baru-nya sebagai “Jendral Militer” , Muhammad memerintahkan suatu kawanan para pelaku jihad untuk menyergap setiap karavan orang Mekah yang tanpa pertahanan senjata dan merampok barangbarang mereka. Kejadian ini mengambil tempat dalam satu bulan ketika semua pertempuran dilarang sesuai dengan perjanjian yang disepakati. Ketika kawanan pelaku jihad tersebut kembali ke Medina dengan barang rampasan mereka dari serangan tiba-tiba tersebut, mendapatkan kutukan dari masyarakat dengan suara bulat. Tetapi apa yang dianggap orang-orang Madina sebagai suatu perampokan bersenjata dalam pandangan umum yang jelas, mendapatkan persetujuan ilahi : “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, “Berperang dalam bulan itu adalah (dosa) besar,Tetapi menghalangi (orang) dari jalan Allah, ingkar kepada-Nya (menghalangi orang masuk) Masjidilharam, dan mengusir penduduk dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) dalam pandangan Allah. Sedangkan fitnah lebih kejam dari pembunuhan…” ( Sura 2/ Al-Baqarah : 217 ) Dalam Al-quran Terjemahan Bahasa Inggris karya Yusuf. Ali : “They ask thee concerning fighting in prohibited month. Say: Fighting therein is a grave [offence] : But graver is it the sight of God to prevent access to the path of God to deny Him, to prevent access to the sacred mosque, and drive out its members. Tumult and oppression is worse than slaughter…” [ Sura 2: 217 ] Jika anda menerima pernyataan ini sebagai “wahyu” dari Allah, kemudian anda akan bertemu dengan seorang Allah yang mengijinkan bahwa berperang dalam bulan yang dilarang adalah “Pelanggaran yang Serius [ Grave Offence ]” , tetapi yang juga kemudian berbalik dan membela “pelanggaran serius” tersebut dengan mengatakan bahwa “mencegah orang-orang pergi ke mesjid suci adalah lebih sebagai pelanggaran dari berperang dalam bulan yang dilarang”. Dua kesalahan tidak membuat salah satu menjadi benar dari yang yang lain atau dengan kata lain dua dosa tidak dapat membawa salah satu menjadi benar. Tuhan Yang Sejati tidak pernah membela dosa. Kesimpulannya adalah janji barang rampasan adalah salah satu daya tarik yang memotivasi para pelaku jihad untuk berperang dapat dengan jelas di lihat dalam Alquran. Perhatikan sura dibawah ini : “ Allah menjanjikan kepadamu harta rampasan perang yang banyak yang dapat kamu ambil, maka Dia segerakan (harta rampasan perang) ini

untukmu, dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan) mu (agar kamu mensyukuri-Nya), dan agar menjadi bukti bagi orang-orang mukmin, dan agar Dia menunjukkan kamu ke jalan yang lurus. “ [ Sura 48 / Al-Fath : 20 ] Bahwa pembicara ayat tersebut diatas membuat janji yang baik dengan memperkaya pada pelaku jihad dengan harta barang rampasan dibuktikan dari kehidupan orang-orang Muslim yang berpindah ke Medina dengan Muhammad. Banyak dari mereka yang datang ke Medina dengan menderita kemiskinan, kemudian mendapatkan keberuntungan di kepala mereka [ Baca dalam “the life of Abd Rahman, in Rauzatu’s Safa Vol. 2, P.253 ]. Dengan insentif duniawi yang seperti ini dan terlebih lagi dalam surga, Jihad dalam agama Islam meningkat sampai kemudian jihad menjadi dasar dan alasan perang untuk menaklukkan, tidak hanya bagi setiap orang yang terlibat, tetapi menjadi landasan bagi seluruh negara dan bangsa. Philip Schaff, menulis dalam sejarah dari Gereja Kristen, menyatakan hal tersebut dengan cara seperti ini : “Pedang”, kata Muhammad “adalah kunci dari surga dan neraka; satu titik darah yang tertumpah karena Allah, satu malam yang dipakai dengan senjata, adalah lebih bermanfaat dari pada dua bulan dengan berpuasa dan berdoa; Siapapun yang gugur dalam pertempuran, dosanya diampuni, dan pada hari penghakiman anggota badannya akan di berikan sayap seperti malaikat atau kerubim. “ Ini adalah rahasia kesuksesan-nya. Para penyembah berhala harus memilih diantara masuk Islam, menjadi budak atau mati; Orang-orang Yahudi dan Kristen diperbolehkan untuk mendapatkan toleransi yang terbatas dengan pembayaran jizzya ( pajak kerendahan hati ), tetapi meskipun demikian tetap dalam perbudakan yang lebih rendah… Para Khalifa atau khilafa, penerus Muhammad yang seperti dia menyatukan keilahian imam dan raja, dan membawa kepada penduduk yang ditaklukkan mereka tangis peperangan, “ Dihadapan kalian adalah surga, dibelakang kalian adalah kematian dan neraka.” Diilhami oleh kelemahan kekaisaran Byzantium dan kebingungan dari gereja Yunani, anak-anak padang pasir yang puas dengan makanan yang paling sederhana, dan disiplin dalam sekolah perang, kekerasan dalam hidup kemudian menaklukkan Palestina, Siria dan Mesir, memanfaatkan tanah peninggalan dari kekristenan klasik. Beribu-ribu dari gereja Kristen yang berada dalam diose patriak Yerusalem, Antiokia dan Alexandria dihancurkan tanpa belas kasihan atau dirubah menjadi mesjid. Dua puluh tahun setelah kematian Muhammad, bulan sabit memerintah atas kerajaan yang seluas kekaisaran Roma.” Perintah untuk berjuang di jalan Allah diberikan dalam banyak Sura di Alquran, salah satunya :

“Dan berperanglah kamu di jalan Allah, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. “ [ Sura 2 / Al-Baqarah : 244 ] Perintah untuk berperang tanpa belas kasihan diberikan dalam Sura 4:74. Dalam Sura 8: 65, Allah membangkitkan Muhammad untuk mengajak orang-orang Muslim dalam berperang. Perhatikan apa yang Allah perintahkan dalam Jihad : “Apabila telah habis bulan-bulan haram, maka perangilah orang-orang musyrik dimana saja kamu temui, tangkaplah dan kepunglah mereka, dan awasilah di tempat pengintaian, jika mereka bertobat dan melaksanakan shalat, serta menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka. Sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. “ [Sura 9 / AtTaubah : 5 ) “Wahai orang beriman ! Perangilah orang-orang kafir…” [ Sura 9 / AtTaubah : 123 ] Mereka yang menolak tentang Alquran dan Islam akan menjadi takut ketika mereka melihat orang-orang Muslim menyiksa orang-orang Kristen dan memang begitu kebenarannya. Kita mungkin merasa sedikit lebih baik mengenai hal ini jika kita memahami bahwa teman-teman muslim kita hanya melakukan apa yang mereka percayai adalah kebenaran yang harus ditaati. Allah secara khusus memerintahkan orang-orang Muslim untuk berperang melawan orang-orang Kristen dan orang-orang Yahudi sampai mereka menjadi lebih buruk dari budak-budak : “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, mereka yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya dan mereka yang tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang telah diberikan Kitab [ orang-orang Kristen dan Yahudi ], hingga mereka membayar jizyah (pajak) dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk [ menjadi budak ]” [ Sura 9 / At-Taubah : 29 ] Dalam Bahasa Inggris : “Fight those who believe not in God [Allah], and his Apostle, nor acknowledge the religion of truth [even if they are] of the people of the book [ i.e. Jews and Christians ], until they pay jizya [ humiliating tax ] with willing submission, and feel themselves subdued [enslaved]”
( Catatan : Kata dalam kurung dan dicetak miring adalah penjelasan penulis, demikian juga dengan penjelasan selanjutnya baik untuk ayat dalam Alkitab atau ayat dalam Alquran )

Siapakah mereka yang hidup dengan tekun dan sekuat tenaga dan dengan sikap pasti berusaha menghancurkan Bangsa Yahudi dan orang-orang

Kristen, sekarang siapakah yang memungkinkan hal itu terjadi ? Alkitab mempunyai jawaban dalam Wahyu 12 : 17. Andaikan anda mempunyai dua anak lelaki dan salah satunya adalah keras kepala. Akankah anda memerintahkan anak yang baik untuk menyiksa anak yang keras kepala ? Tentu saja tidak. Tidak ada orang tua yang mengasihi akan melakukan tindakan seperti itu. Jika tidak ada orang tua di muka bumi akan melakukan hal tersebut, bagaimana mungkin Tuhan Yang Maha Pemurah dan jauh lebih baik dari manusia melakukan tindakan tersebut. Jika pembicara dalam Sura tersebut adalah Allah ( yang mana dengan sangat kuat dipercaya adalah benar ), maka kemudian kita mempunyai bukti yang solid bahwa Allah bagi agama Islam adalah total sangat berbeda dengan Tuhan [ Yahweh atau Elohim ] dalam Alkitab yang dikenal oleh bangsa Yahudi dan orang-orang Kristen. Tuhan / Elohim dalam Alkitab mempunyai kasih yang khusus untuk orang-orangnya, Bangsa Yahudi dan orang-orang Kristen. Tuhan dalam Alkitab mengingatkan bahwa Dia sendiri akan berhadapan dengan Jihad yang menindas orang-orangNya : “Dia tidak membiarkan orang menindas mereka; ya, Dia menegur raja-raja demi mereka, Jangan menyentuh yang Kuurapi, dan janganlah mengganggu nabi-nabi-Ku” [ Mazmur 105 : 14-15 ] Tetapi dalam ketaatan kepada panggilan Allah untuk berperang, Muhammad memakai sebagian besar waktunya diantara Hijrah dan kematiannya untuk memetakan strategi jihad dengan tujuan penyebaran agama Islam dan secara pribadi terlibat dalam serangan-serangan mendadak, Ahli sejarah agama Islam menyatakan bahwa Muhammad hadir dalam dua puluh enam konflik bersenjata dan ikut berperang dengan aktif dalam sembilan peperangan diantaranya. ( Risalatu Abdullah & C., 47, CF. Ibn Hisham Vol. 3, P. 78 ). Dalam tiga belas tahun pekerjaan dakwah yang dilakukan secara damai, Muhammad hanya memenangkan ratusan jiwa ke dalam Islam. Tetapi ketika dia mengambil jalan pedang atau jihad, “mukjizat” mulai terjadi. Orang-orang dipaksa untuk memilih diantara Islam dan kematian [ Muhammad memahami Jihad
dengan maksud literal sebagai perang dan bahkan ikut terlibat berpartisipasi dalam konflik tersebut. Sebagai satu hasil, Orang-Orang Muslim Moderat yang menentang jihad mengatakan bahwa jihad tidak memiliki dasar dalam kepercayaan mereka ]. Dengan

hanya kematian sebagai pilihan, delapan tahun sesudah hijrah, Muhammad dapat memobilisasikan suatu angkatan bersenjata yang terdiri dari kira-kira 10.000 para jihad yang dipersiapkan untuk menyerang Mekah ( lihat Ibn Athir Vol.2, P. 93 ). Satu tahun kemudian, kira-kira 9 A.H ( After Hijriah )., 30.000 jihadist menyerang Tabuk. Ketika Khalifa Abu Bakar menaklukkan Siria untuk Islam, Angkatan bersenjata Islam telah tumbuh sangat besar sehingga seluruh wilayah dipenuhi sekawanan pelaku jihad [ Katib’ Waqidi, Futuhu’ Sham, Vol. 1, P. 6, Boombay edition, 1298 A.H. ]

CATATAN SAYA : Kita harus menyadari, bahwa gereja juga dulu pernah melakukan tindakan penyiksaan dan kekerasan dengan cara membunuh dan menyiksa orangorang Yahudi dan orang-orang Muslim di Yerusalem, ketika Pasukan salib menguasai Yerusalem selama perang Salib, dengan motif dan tujuan yang sama seperti dijelaskan olen M. Ali tentang Jihad. Ada Satu buku bagus yang membahas masalah Jihad yang dilakukan oleh orang-orang Kristen dan Gereja yang berjudul, “CHRISTIAN JIHAD” yang ditulis oleh Ergun Mehmet Caner dan Emir Fethi Caner, diterbitkan oleh Kregel Publications, tahun 2004. Kita Selaku pengikut Kristus yang harus mengamalkan Kasih kepada siapapun harus menolak segala bentuk kekerasan, termasuk yang dilakukan atas Nama Kristus dan Gereja. Jadi jangan pernah kita membangga-banggakan kejayaan perang salin yang merupakan “SEJARAH KELAM DAN HITAM” bagi gereja dan orang-orang Kristen pada waktu itu.

KESIMPULAN SAYA : Biarlah kita selaku umat Kristen dan pengikut Tuhan Yesus berdoa agar setiap orang boleh dibukakan mata dan hatinya oleh Roh Kudus agar mereka bisa melihat bahwa Hanya Kasih yang diajarkan dalam Alkitab merupakan jalan keluar dari semua peperangan dan kekerasan yang ada di muka bumi. Salam sejahtera selalu dalam nama Tuhan Yesus.. Thanks & GBU….

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.