PEMERIKSAAN FISIK

By : Ahmad Kusnaeni S.Kep,Ns

TEHNIK PEMERIKSAAN FISIK
--> Dilakukan dengan 4 cara : Inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi

1. Inspeksi
---> Adalah memeriksa dengan melihat dan mengingat .

Langkah kerja :
• • • • • • Atur pencahayaan yang cukup Atur suhu dan suasana ruangan nyaman Posisi pemeriksa sebelah kanan pasien Buka bagian yang diperiksa Perhatikan kesan pertama pasien : perilaku, ekspresi, penanmpilan umum, pakainan, postur tubuh, dan gerakan dengan waktu cukup. Lakukan inspeksi secara sistematis, bila perlu bandingkan bagian sisi tubuh pasien.

2. Palpasi
Adalah pemeriksaan dengan perabaan, menggunakan rasa propioseptif ujung jari dan tangan.

Cara kerja :
• • • • • Daerah yang diperiksa bebas dari gangguan yang menutupi Cuci tangan Beritahu pasien tentang prosedur dan tujuannnya Yakinkan tangan hangat tidak dingin Lakukan perabaan secara sistematis , untuk menentukan ukuran, bentuk, konsistensi dan permukaan : • Jari telunjuk dan ibu jari --> menentukan besar/ukuran • Jari 2,3,4 bersama --> menentukan konsistensi dan kualitas benda • Jari dan telapak tangan --> merasakan getaran • Sedikit tekanan --> menentukan rasa sakit

3. Perkusi
Adalah pemeriksaan dengan cara mengetuk permukaan badan dengan cara perantara jari tangan, untuk mengetahui keadaan organ-organ didalam tubuh.

Cara Kerja :
• • Lepas Pakaian sesuai dengan keperluan Luruskan jari tengah kiri , dengan ujung jari tekan pada permukaan yang akan diperkusi.

• •

Lakukan ketukan dengan ujung jari tengah kanan diatas jari kiri, dengan lentur dan cepat, dengan menggunakan pergerakan pergelangan tangan. Lakukan perkusi secara sistematis sesuai dengan keperluan.

4. Auskultasi
Adalah pemeriksaan mendengarkan menggunakan alat STETOSKOP. suara dalam tubuh dengan

STETOSKOP Bagian-bagian stetoskop : • Ear Pieces --> dihubungkan dengan telinga • Sisi Bell ( Cup ) --> pemeriksaan thorak atau bunyi dengan nada rendah • Sisi diafragma ( membran ) --> Pemeriksaan abdomen atau bunyi dengan nada tinggi.

Cara Kerja :
• • • • • Ciptakan suasana tenang dan aman Pasang Ear piece pada telinga Pastikan posisi stetoskop tepat dan dapat didengar Pada bagian sisi membran dapat digosok biar hangat Lakukan pemeriksaan dengan sistematis sesuai dengan kebutuhan.

dan gerakan jari pada 8 arah untuk mengetahui fungsi otot gerak mata. bandingkan kanan dan kiri . Lakukan inpeksi rambut dan rasakan keadaan rambut. reflek pupil menurun. Beritahu pasien melihat lurus ke depan 2. Beritahu pasien pandangan lurus ke depan 2. Inspeksi keadaan bola mata. catat adanya kelainan : endo/eksoptalmus. ( normal : tidak anemis ) 3. Bedakan antara bola mata kanan dan kiri 4. Bila pakai kaca mata dilepas 3. 2. senter mata dari arah lateral ke medial 3. catat adanya kelainan : icterus. catat adanya kelainan : ptosis. Inspeksi keadaan muka pasien secara sistematis. MATA A. Beritahu pasien untuk mengikuti gerakan jari. Dengan palpasi. Atur posisi pasien duduk. Dengan menggunakan pen light. Kelopak Mata 1. B. atau berdiri 2. Anjurkan pasien memandang lurus kedepan. Luruskan jari dan dekatkan dengan jarak 15-30 cm 5. Catat dan amati perubahan pupil : lebar pupil. serta kulit dan tulang kepala 4. lesi. Amati kelopak mata. 3. entro/ekstropion. alismata rontok. Kemudian amati sclera. sclera dan kornea 1. 2. catat adanya kelainan nistagmus. Konjungtiva. Kemudian amati sklera. Bola mata Cara Kerja : 1. xantelasma. catat adanya kelainan : kekeruhan ( normal : hitam transparan dan jernih ) D. lesi / benjolan ( norma : putih ) 4. Tekan di bawah kelopak mata ke bawah. vaskularisasi. Pemeriksaan pupil 1. catat adanya nyeri tekan dan keadaan benjolan kelopak mata C.PEMERIKSAAN KEPALA DAN LEHER KEPALA Cara Kerja : 1. amati konjungtiva dan catat adanya kelainan : anemia / pucat. strabismus.

4. diameter 3 mm Abnormal : reflek pupil menurun/-. 3. Atur posisi pasien duduk/atau berdiri. Pemeriksaan tajam penglihatan 1. catat adanya : lesi. 4. adanya benjolan dan tanda radang. dan keutuhannya. Perawat berdiri di sebelah sisi pasien. 3. berutahu pasien untuk menebak hurup yang ditunjuk perawat. dengan 2 jari tekan bola mata. lubang telinga dan membrane tympani 1. 4. 2. amati lubang telinga luar . 5. cerumen. perawat berdiri di depan pasien bagian yang tidak diperiksa ditutup Beritahu pasien untuk melihat lurus kedepan ( melihat jari ) Gerakkan jari kesamping kiri dan kanan jelaskan kepada pasien. Masukkan spikulum telinga. 5. agar memberi tahu saat tidak melihat jari TELINGA • Pemeriksaan daun telinga. medriasis/meiosis E. • Pemeriksaan fungsi pendengaran Tujuan : menentukan adanya penurunan pendengaran dan menentukan jenis tuli persepsi atau konduksi. Atur posisi pasien duduk 2. catat : warna. Gerakkan daun telinga. Kemudian perhatikan membrane tympani. amati daun telinga dan catat : bentuk.Normal : reflek pupil baik. Pemeriksaan lapang pandang 1. bentuk. ( normal : warna putih mengkilat/transparan kebiruan. 3. 6. Lakukan prosedur 1-6 pada sisi telinga yang lain. . tekan tragus dan catat adanya nyeri telinga. Siapkan alat : snelen cart dan letakkan dengan jarak 6 meter dari pasien. 5. isokor. Anisokor. Dengan alat : Dengan alat Tonometri ( perlu ketrampilan khusus ) F. Pemeriksaan tekanan bola mata Tampa alat : Beritahu pasien untuk memejamkan mata. pasien diminta menutup salah satu mata ( atau dengan alat penutup ). 2. dengan lampu kepala / othoskop amati lubang telinga dan catat adanya : cerumen atau cairan.catat adanya nyeri telinga. dan cairan yang keluar. Kemudian minta pasien untuk menebak hurup mulai dari atas sampai bawah. catat adanya ketegangan dan bandingkan kanan dan kiri. datar dan utuh ) 7. tarik daun telinga ke belakang atas. Perawat berdiri di sebelah kanan alat. tentukan tajam penglihatan pasien G. adanya lesi atau bejolan.

letakkan pangkal garputala pada tulang mastoid. Getarkan garputala 2. Tanya kepada pasien. dan anjurkan penderita agar memberutahu mendengar suara getaran atau tidah. Normalnya getaran didengar sama antara kanan dan kiri. 5. Getarkan garputala. kemudian sampai pasien tidak mendengar. • Scwabach Test 1. Bila pasien tidak merasakan getaran. Normalnya : pasien masih mendengar saat ujung garputala didekatkan pada lubang telinga.Tehnik pemeriksaan : 1. sampai pasien tidak mendengar ( normal : masih terdengar pada jarak 30 cm ) 4. lakukan pada kedua sisi telinga dan bandingkan 2. Kemudian jauhkan. Test Romberg . 4. Letakkan pangkal garputala di tengah-tengah dahi pasien 3. dekatkan ujung jari garputala pada lubang telinga. 4. Perawat duduk di sebelah sisi pasien 2. pegang arloji disamping telinga pasien 2. Test Audiometri • Pemeriksaan Fungsi Keseimbangan 1. lalu bandingkan dengan pemeriksa. Voice Test ( tes bisik ) Cara Kerja : • Dengan suara bilangan 1. dengan menekan jari garputala dengan dua jari tangan 3. Test garputala • Rinne test 1. dan jelaskan pasien agar memberitahu bila tidak merasakan getaran. 2. sebelah mana teinga mendengar lebih keras ( lateralisasi kana/kiri). getarkan garputala 2. • Weber test 1. 3. perawat di belakang pasien dengan jarak 4-6 meter bagian telinga yang tidak diperiksa ditutup bisikkan suatu bilangan ( tujuh enan ) beritahu pasien untuk mengulangi bilangan tersebut bandingkan dengan telinga kiri dan kanan • Dengan suara detik arloji 1. beritahu pasien menyatakan apakah mendengar arloji atau tidak 3. 3. letakkan ujung jari garputala pada lugang telinga pasien 3.

karies gigi. adanya benjolan. warna. Salah satu lubang hidung ditekan 3. Test Kalori HIDUNG DAN SINUS • Inspeksi dan palpasi hidung bagian luar dan sinus-sinus 4. telan ludah. keadaan septum nasi. tanda radang pada batas lubang hidung. Lakukan pada ke dua sisi. catat : kebersihan dan bau mulut. catat : benjolan. etmoidalis. sumbing 3. dekatkan ke lubang hidung dan minta pasien untuk menebaknya 4. Amati bibir. catat : pembesaran dan tanda radang tonsil. dan bandingkan kanan dan kiri. Mata pasien dipejamkan 2. maksilaris ) catat : adanya nyeri tekan Inspeksi hidung bagian dalam 1. catat : kebersihan gisi. lesi. Minta pasien menjuliurkan lidah. keadaan septum nasi. Gunakan bahan yang mudah dikenali. lesi mukosa 4. catat : merah. • • • MULUT DAN TONSIL 1. Amati lubang hidung luar. 5. Pemeriksa duduk dihadapan pasien 2. tanda radang pada batas lubang hidung. catat : kesimetrisan. cyanosis. Pemeriksaan potensi hidung 1. Palpasi 4 sinus hidung ( frontalis. gigi palsu. Test Fistula 3. 6. Palpasi hidung. Pakai lampu kepala dan elevasikan ujung hidung dengan jari 3. minta pasien membunyikan huruh “ A “. 3. 6. Duduklah dihadapan pasien 2. gigi berlubang. Pasien duduk berhadapan dengan pemeriksa 2. masukkan spikulum hidung. spenoidalis. Buka mulut pasien. lesi. catat : bentuk dan kesimetrisan Palpasi : . Tekan salah satu lubang hidung. Amati bentuk dan kulit hidung. 7. dan bentuk khusus hidung. catat : kelenturan dan adanya nyeri 7. massa/benjolan. beritahu pasien untuk menghembuskan napas lewat hidung. catat : kesimetrisan. catat : kesimetrisan dan tanda radang. Amati tonsil tampa dan dengan alat cermin. LEHER • Kelenjar Tyroid Inspeksi : Pasien tengadah sedikit. amati lubang hidung bagian dalam. Lakukan bergantian. 4. catat : benjolan. tanda radang. Tekan lidah dengan sudip lidah.2. Amati gigi. Pemeriksaan fungsi penghidu 1. kering. Pemeriksa duduk di hadapan pasien 5. suruh pasien merasakan apakah ada hambatan. amati uvula.

catat : adanya bising ( normal : tidak terdapat ) • Trakhea Inspeksi : Pemeriksa disamping kanan pasien. • JVP ( tekanan vena jugularis ) Posisi penderita berbaring setengah duduk. Normalnya : simetris. jari tengah dan telunjuk ke dua tangan ditempatkan pada ke dua istmus. 4. Normalnya : tidak lebih dari 4 cm. kesimetrisan. Normalnya : tidak ada bising. stroke . Atau Posisi penderita berbaring setengah duduk. trachea tertarik ke bawah ). konsidstensi.pada uremia. beritahu pasien merubah posisi ke duduk dan amati pulsasi denyut vena. • Bising Arteri Karotis Tentukan letak denyut nadi karotis ( dari tengah leher geser ke samping ). Dari arah depan. catat adanya bising. tentukan batas atas denyut vena jugularis. ukuran. catat : gerakan napas dan tanda-tanda sesak napas  Normalnya : Gerak napas simetris 16 – 24 X. INSPEKSI  Cara Kerja : 1. misal . ukur tinggi denyut vena dengan penggaris. ) dan letakkan penggaris diatasnya. Normalnya : saat duduk setinggi manubrium sternum. bentuk. tentukan batas atas denyut vena. koma DM. raba ke atas dan ke samping. Normalnya : simetris ditengah. abdominal / thorakoabdominal. gagal jantung • Bradipneu  napas lambat ( < 16 X ).Pasien duduk dan pemeriksa di belakang. Posisi pasien dapat duduk dan atau berbaring 2.  Abnormal : • Tarchipneu  napas cepat ( > 24 X ) . tanda oliver ( pada saat denyut jantung. Dari arah samping dan belakang tentukan bentuk dada. tentukan titik nol ( titik setinggi manubrium s. tidak ada penggunaan otot napas dan retraksi interkostae. tempelkan jari tengah pada bagian bawah trachea. catat : adanya benjolan . catat : letak trachea. PEMERIKSAAN THORAX DAN PARU Tujuan Pemeriksaan : • Mengidentifikasi kelaian bentuk dada • Mengevaluasi fungsi paru A. Dari arah atas tentukan kesimetrisan dada. 3. misal . Letakkan sisi bell stetoskop di daerah arteri karotis. pada demam. Auskultasi : Tempatkan sisi bell pada kelenjar tyroid. raba disepanjang trachea muali dari tulang krokoid dan kesamping.

lakuka perkusi secara merata pada daerah paru. misal . misal : meningitis • Kusmoul  Pernapasan lambat dan dalam. • Asimetris  pneumonie. kemudian dangkal dan diserta apneu berulang-ulang. fibrosis. pasien diminta napas biasa. penyakit jantung. tumor paru. 5. Atur posisi pasien berbaring / setengah duduk 2. ada masa paru Meningkat : Pleura efusi. PALPASI Cara Kerja : 1. Misal : pada Srtoke. Menurun : konsolidasi paru. • B. catat adanya perubahan suara perkusi : Normalnya : sonor/resonan ( dug ) Abnormal : . Atur posisi pasien duduk atau berbaring 2. • Dangkal  emfisema. dan daya kembang paru 4. Gunakan tehnik perkusi.Cheyne Stokes  napas dalam. efusi pericard/pleura. C. ekspirasi sangat pendek. Dengan posisi berbaring / semi fowler. konsolidasi. ginjal. besar. normalnya : tidak ada. adanya benjolan ( tentukan konsistensi. • Biot  Dalam dan dangkal disertai apneu yang tidak teratur. catat . pleura Efusi. TBC. PERKUSI Cara Kerja : 1. paru kiri lebih tinggi Abnormal : • Meningkat  anak. misal pada lesi pusat pernapasan. TBC paru. Acidosis metabolic • Hyperpneu  napas dalam. pneumonie. lakukan palpasi daerah thorax. iga 8 MAL. efusi. paru fibrotik. emfisema. Letakkan kedua tangan seperti pada no 2/3. catat : gerak napas simetris atau tidak dan tentukan daya kembang paru ( normalnya 3-5 cm ). dan tentukan batas – batas paru Batas paru normal : • Atas : Fossa supraklavikularis kanan-kiri • Bawah : iga 6 MCL. covenrne paru. sehingga ke dua ibu jara berada diatas Procecus Xypoideus. pneumothorax 3. tumor paru. letakkan ke dua tangan pada punggung di bawah scapula. Atau Dengan posisi duduk merunduk. tentukan getaran suara dan bedakan kanan dan kiri. dengan posisi tangan agak ke atas. tentukan : kesimetrisan gerak dada. emfisema. tumor paru. adanya nyeri. koma DM. mobilitas … ) 3. minta pasien untuk bersuara ( 77 ). ascites • Menurun  orang tua. dengan kecepatan normal • Apneustik  ispirasi megap-megap. letakkan kedua tangan ke dada. iga 10 garis skapularis. Dari arah depan tentukan adanya pelebaran vena dada .

Suara napas Normal : • Trachea brobkhial  suara di daerah trachea. • Vesikuler  suara di daerah paru. alveoli. auskultasi paru secara sistematis pada trachea. fibrosis ) • Suara bronkhovesikuler terdengar di daerah paru • Suara vesikuler tidak terdengar. suara jelas • Egovoni  sengau dan mengeras ( pada efusi pleura + konsolidasi paru ) • Menurun / tidak terdengar  Efusi pleura. Abnormal : • Suara trac-bronkhial terdengar di daerah bronchus dan paru ( missal . pneumonie. kavitas Kurang resonan  “deg” : fibrosis. dua. edema paru Pekak  seperti bunyi pada paha : tumor paru. 3. catat : suara napas dan adanya suara tambahan . bronkus dan paru. emfisema Suara tambahan Normal : bersih. infiltrate.• • • • Hyperresonan  menggendang ( dang ) : thorax berisi udara. AUSKULTASI Cara kerja : 1. Missal : fibrosis. kavitas paru yang berisi cairan ( seperti gesekan rambut / meniup dalam air ) • Whezing  suara seperti bunyi peluid. suara belum jelas ( misal : pnemonie lobaris. ekspirasi seperti trac-bronkhial. cavitas paru ) • Pectoriloguy  meningkat sekali. emfisema. beritahu pasien untuk mengucapkan satu. tidak ada suara tambahan Abnormal : • Ronkhi  suara tambahan pada bronchus akibat timbunan lender atau secret pada bronchus. Dengan stetoskop. seperti meniup besi. effuse pleura. karena penyempitan bronchus dan alveoli. catat bunyi resonan Vokal : • Bronkhofoni  meningkat. pneumothorax . Atur posisi pasien duduk / berbaring 2. pleura menebal Redup  “bleg” : fibrosis berat. inpirasi lebih keras dan pendek dari ekspirasi. • Bronkhovesikuler  suara di daerah bronchus ( coste 3-4 di atas sternum ). fibrosis D. nada rendah inspirasi dan ekspirasi tidak terputus. • Krepitasi / rales  berasal daru bronchus. Kemudian. inpirasi spt vesikuler. ….

dan efusi perikard. Sulit dilihat payudara besar. emfisema.PEMERIKSAAN JANTUNG A. nampak meningkat dan bergetar ( Thrill ). Abnormal --> bergeser kearah lateroinferior . Pemeriksa berdiri sebelah kanan pasien setinggi bahu pasien 3. Amati dan catat bentuk precordial jantung Normal  datar dan simetris pada kedua sisi. kepala ditinggikan 1530 2. 1. INPEKSI Hal – hal yang perlu diperhatikan : 1. Intensitas bunyi jantung Normal : Di daerah mitral dan trikuspidalis intensitas BJ1 akan lebih tinggi dari BJ 2 • Di daerah pulmonal dan aorta intensitas BJ1 akan lebih rendah dari BJ 2 3. trikuspidalis. Amati dan catat pulsasi daerah aorta. Denyut vena hanya dapat dilihat pada vena jugularis interna dan eksterna. Amati dan catat pulsasi apeks cordis Normal  nampak pada ICS 5 MCL selebar 1-2 cm ( selebar ibu jari ). dan ephygastrik NormaL  Hanya pada daerah ictus 7. Abnormal  Cekung. lebar > 2 cm. AUSKULTASI Hal – hal yang perlu diperhatikan : 1. Sifat bunyi jantung • . 3. Bentuk perkordial Denyut pada apeks kordis Denyut nadi pada daerah lain Denyut vena Cara Kerja : 1. Irama dan frekwensi jantung Normal : reguler ( ritmis ) dengan frekwensi 60 – 100 X/mnt 2. B. 6. pulmonal. Amati dan cata pulsasi denyut vena jugularis Normal tidak ada denyut vena pada prekordial. buka pakaian dan atur posisi pasien terlentang. Cembung ( bulging precordial ) 5. Motivasi pasien tenang dan bernapas biasa 4. 2. dinding toraks yang tebal.

ASD. 5. Normal : tidak terdapat murmur Abnormal : terdapat murmur  kelainan katub . irama gallop. catat : sifat. 5.Normal : . catat : sifat. . Bila ada murmur ulangi lagi keempat daerah. Adanya Bising ( Murmur ) jantung  adalah bunyi jantung ( bergemuruh ) yang dibangkitkan oleh aliran turbulensi ( pusaran abnormal ) dari aliran darah dalam jantung dan pembuluh darah. murmur Bj1. splitting BJ2. Irama Gallop ( gallop ritme )  Adalah irama diamana terdengar bunyi S3 atau S4 secara jelas pada fase Dyastolik. 4. 4. Periksa stetoskop dan gosok sisi membran dengan tangan 2. dan murmur Bj2. Fase Systolik dan Dyastolik Normal : Fase systolik normal lebih pendek dari fase dyastolik ( 2 : 3 ) Abnormal : . simak Bunyi jantung terutama BJ2.bersifat tunggal. 3.  Splitting BJ 2 fisiologik  normal Spliting BJ2. Tempelkan stetoskop pada sisi membran pada daerah pulmonal. . kwalitas di banding dg BJ2. yang disebabkan karena darah mengalir ke ventrikel yang lebih lebar dari normal. catat adanya bising aorta. kemudian ke daerah aorta. kemudian ke daerah mitral. simak Bunyi jantung terutama BJ1.Fase systolic memanjang / fase dyastolik memendek . sehingga terjadi pengisian yang cepat pada ventrikel Normal • • • : tidak terdapat gallop ritme Gallop ventrikuler ( gallop S3 ) Gallop atrium / gallop presystolik ( gallop S4 ) Gallop dapat terjadi S3 dan S4 ( Horse gallop ) Abnormal : Cara Kerja : 1. catat mana yang paling jelas. kemudian napas ditahan sebentar” .Tedengar bunyi “ fruction Rub”  gesekan perikard dg ephicard. Geser ke daerah ephigastrik. terdengar “ sesaat setelah inspirasi dalam “ Abnormal : • Splitting BJ 1 patologik  ganngguan sistem konduksi ( misal RBBB ) • Splitting BJ 2 Patologik : karena melambatnya penutupan katub pulmonal pada RBBB. Tempelkan stetoskop pada sisi membran pada daerah Tricus. kwalitas di banding dg BJ1. splitting BJ1. shunt/pirau 6. PS. frekwensi DJ.Terbelah/terpisah dikondisikan ( Normal Splitting )  Splitting BJ 1 fisiologik  Normal Splitting BJ1 yang terdengar saat “ Ekspirasi maksimal.

Mulai inspeksi bentuk. Geser pada daerah mitral. Normal  terba di ICS V MCL selebar 1-2cm ( 1 jari ) Abnormal  ictus bergeser kea rah latero-inferior. posisi pasien duduk. amati ketiak. menonjol 5. kedua tangan rileks disisi tubuh. besar. PERKUSI Cara Kerja : 1. Inspeksi. dan catat adanya : benjolan. catat : adanya keluaran. lakukan perkusi dan catat perubahan suara perkusi redup. 2. Catat : lesi. nyeri tekan. lebar. Inspeksi areola mama. pakaian atas dibuka. Geser jari ke ICS 3 kiri kemudian sampai ICS 6 . konsistensi dan nyeri. catat : pulsasi. datar/menonjol/masuk kedalam. Dengan menggunakan 3 jari tangan dan dengan tekanan ringan. lift/heave. PALPASI Cara Kerja : • • • • Lakukan palpasi pada areola. palpasi daerah aorta. ukuran dan kesimetrisan payudara Normal : bulat agak simetris. adanya thrill. catat : adanya benjolan. Lakukan perkusi mulai intercota 2 kiri dari lateral ( Ant. sulit diraba Abnormal : mudah / meningkat D.C. bau. mobilisasinya. Buka lengan pasien. benjolan dan tanda radang. Tentukan batas-batas jantung PEMERIKSAAN PAYUDARA DAN KETIAK Inspeksi 1. tentukan besar denyutan. Normal  tidak ada pulsasi 2. jumlah. ada thriil / lift 3. catat perubahan perkusi redup 2. . PALPASI Cara Kerja : 1. Geser pada daerah ephigastrik. tentukan letak. 3. axial line ) menuju medial. tanda radang dan lesi. Normal : gelap. pulmo dan trikuspidalis. tanda radang dan lesi 4. Lakukan palpasi payudara dengan 3 jari tangan memutar searah jarum jam kea rah areola. catat : warna. warna. Normal : teraba. catat : adanya pulsasi. Palpasi daerah ketiak terutama daerah limfe nodi. kecil/sedang/besar 3. Catat : nyeri dan adanya benjolan Bila ada benjolan tentukan konsistensi.

Strie livide/gravidarum. 3 = hypokondrium ka/ki 2 = ephigastrium 4. Lakukan inspeksi.5. bantal dikepala dan lutut sedikit fleksi Kedua lengan. Kandung kencing dalam keadaan kosong Posisi berbaring. • Bifurkasio aorta 2 cm bawah umbilicus ke kiri INSPEKSI Cara Kerja : 1.PEMERIKSAAN ABDOMEN Abdomen dibagi menjadi 9 regio : 1. 4. tidak tegang. tidak ada lesi Abnormal : • Strie berwarna ungu  syndrome chusing • Pelebaran vena abdomen  Chirrosis • Dinding perut tebal  odema • Berbintil atau ada lesi  neurofibroma • Ada masa / benjolan abnormal  tumor 6. Perhatikan bentuk perut Normal : simetris Abnormal : • Membesar dan melebar  ascites • Membesar dan tegang  berisi udara ( ilius ) • Membesar dan tegang daerah suprapubik  retensi urine . 3. dan perhatikan Kedaan kulit dan permukaan perut Normalnya : datar. 2.9 = iliaka ka/ki 8 = hypogastrium 1 6 7 2 5 8 3 4 9 • Hati terdapat pada 1 dan 2 • Lambung di daerah 2 • Limfa di daerah 3 • Kandung empedu pada batas 6 dan 2 • Kandung kencing pada daerah 8 • Apendik pada 7 dan bawah 6. 6 = lumbal ka/ki 5 = umbilicus 7. disamping atau didada Mintalah penderita untuk menunjukkan daerah sakit untuk dilakukan pemeriksaan terakhir 5.

Dengan merubah posisi/menggerakkan abdomen. Normalnya : tidak ada 3. gerakan peristaltic pada orang kurus. redup bila ada organ dibawahnya ( misal hati ) Abnormal : • Hypertympani  terdapat udara • Pekak  terdapat Cairan 2. kelaparan 3. pembesaran organ dalam perut 7. catat adanya tanda radang dan hernia AUSKULTASI Cara Kerja : 1. untuk menentukan batas bawah hepar. catat adanya perubahan suara perkusi : Normalnya : tynpani. lakukan perkusi dari kwadran kanan atas memutar searah jarum jam. AbnormaL: • Terjadi sebaliknya  kelumpuhan otot diafragma • Tegang tidak bergerak  peritonitis • Gerakan setempat  peristaltic pada illius • Perhatikan denyutan pada didnding perut • Normal : dapat terlihat pada ephigastrika pada orang kurus 8. PERKUSI Cara Kerja : 1. Gunakan stetoskop sisi membrane dan hangatkan dulu 2. Perhatikan umbilicus. Letakkan stetoskop pada daerah ephigastrik. Lakukan auskultasi pada satu tempat saja ( kwadaran kanan bawah ). catat bising aorta. Perhatikan Gerakan dinding perut Normal : mengempis saat ekspirasi dan menggembung saat inspirasi. untuk menentukan batas atas Lakukan perkusi di sekitar daerah 1 da 2 untuk menentukan batas-batas hepar yang lain.• Membesar asimetris  tumor. Normal : tidak ada. cata bising dan peristaltic usus. catat gerakan air ( tanda ascites ). PALPASI . Lakukan perkusi daerah paru ke bawah. 5-35X/mnt Abnormal : • Bising dan peristaltic menurun / hilang  illeus paralitik. Normal : Bunyi “ Klikc Grugles “. Cara : • • • Lakukan perkusi pada MCL kanan bawah umbilicus ke atas sampai terdengar bunyi redup. lakukan perkusi di daerah hepar untuk menentukan batas dan tanda pembesaran hepar. post operasi • Bising meningkat “ metalik sound “  illius obstruktif • Peristaltik meningkat dan memanjang ( borboritmi ) diare.

• Mulailah dengan tekanan ringan untuk menentukan pembesaran limfa • Minta pasien napas dalam.obliq ) di daerah tempat redup hepar bawah / di bawah kostae. Lakukan palpasi perlahan dengan tekanan ringan. saat pasien melepas napas. rasakan adanya masa hepar. konsistensi dan bentuk permukaannya. rasakan adanya masa hepar. dan adanya masa superficial atau masa feces yang mengeras. ujung tajam. Abnormal : • • Teraba nyata ( membesar ). tentukan besar. saat pasien melepas napas. Tentukan ketegangan. konsistensi dan bentuk permukaan. • Mulailah dengan tekanan ringan untuk menentukan pembesaran hepar. • Minta pasien napas dalam. Normal : Sulit di raba. dan pegang otot dan lakukan penilaian. 4. kontraksi dan tremor. pembesaran. teraba bila ada pembesaran PEMERIKSAAN SISTEM MUSKULOSKELETAL OTOT Hal – hal yang perlu diperhatikan : • Bentuk. tekan segera dengan jari kanan secara perlahan. lutut sedikit fleksi. pembesaran. Normal : tidak teraba / teraba kenyal. tonus dan spasme otot • Kekuatan otot UJi Kekuatan Otot Cara kerja : • Tentukan otot/ektrimitas yang akan di uji • Beritahu pasien untuk mengikuti perintah. ujung ireguler  hepatoma Lien • Letakkan tangan kiri menyangga punggung kanan penderita pada coste 11 dan 12 • Tempatkan ujung jari kanan ( atas . pada seluruh daerah perut 3. keras tidak merata. Penilaian : 0 ( Plegia ) : Tidak ada kontraksi otot . tekan segera dengan jari kanan secara perlahan. Lanjutkan dengan pemeriksaan organ Hati • • Letakkan tangan kiri menyangga belakang penderita pada coste 11 dan 12 Tempatkan ujung jari kanan ( atas . konsistensi dan bentuk permukaannya.Cara Kerja : 1. Beritahu pasien untuk bernapas dengan mulut. 2. adanya nyeri tekan. ukuran dan kesimetrisan otot • Adanya atropi.obliq ) di bawah kostae kanan. lunak dan ujung tumpul  hepatomegali Teraba nyata ( membesar ).

PEMERIKSAAN KHUSUS 1. tahan selama 60 detik. tentukan kwalitas benjolan. luruskan sampai timbul nyeri. mobilitas • Tanda radang dan fraktur Cara kerja : • Ispkesi tulang. Angkat Tungkai Lurus • Angkat tungkai pasien. Uji TINEL’S • Lakukan perkusi ringan di atas syaraf median pergelangan tangan • Abnormal : ada kesemutan atau kesetrum 3. jari yang lain meraba adanya cairan. dorsofleksikan tungkai kaki • Abnormal : nyeri tajan ke rah belakang tungkai  ketegangan / kompresi syaraf 2. Tanda BALON Tekan kantung suprapatela dengan jari tangan. krepitasi… PERSENDIAN Hal-hal Yang perlu diperhatikan : • Tanda-tanda radang sendi • Bunyi gerak sendi ( krepitasi ) • Stiffnes dan pembatasan gerak sendi ( ROM ) Cara Kerja : • Ispeksi sendi terhadap tanda radang. konsistensi. ekstensi. • Palpasi tulang. catat : krepitasi. . fleksi. Uji CTS ( Carpal Tunnel Syndrome ) Uji PHALEN’S • Fleksikan pergelangan tangan ke dua tangan dengan sudut maksimal. inverse/eversi. catat adanya deformitas. tanda radang. dan palpasi adanya nyeri tekan • Palpasi dan gerakan sendi. tidak timbul gerakan ( parese ) : Timbul gerakan tidak mampu melawan gravitasi ( parese ) : Mampu melawan gravitasi ( good ) : mampu menahan dengan tahanan ringan ( Normal ): mampu menahan dengan tahanan maksimal TULANG Hal-hal yang perlu diperhatikan : • Adanya kelainan bentuk / deformitas • Masa abnormal : besar. pronasi/supinasi. benjolan abnormal. nyeri tekan. • Abnormal : Baal / kesemutan pada jari-jari dan tangan.1 2 3 4 5 ( parese ) : Ada kontraksi. protaksi. adanya kekakua sendi dan nyeri gerak • Tentukan ROM sendi : Rotasi.

General. hypopigmentasi. crusta. nodula. peradangan 3. fissura. elastisitas menurun. Suhu Normal : hangat Abnormal : dingin ( kekurangan oksigen/sirkulasi ). Tekstur dan konsistensi Normal : halus dan elastis Abnormal : kasar. distribusi dan konfigurasinya. Kemerahan Abnormal : cyanosis / pucat 2. scar. eskoriasi. macula. Soliter. ulceratif. Tekstur kulit Normal : tegang dan elastis ( dewasa ). Turgor kulit Normal : baik . elastisitas meningkat ( tegang ) 2. plaque. Bergerombol • Palpasi 1. pigmentasi. bentuk Lesi Lesi Primer : bulla. 2. tentukan : 1. vesikel.PEMERIKSAAN SISTEM INTEGUMEN KULIT Inspeksi 1. Warna kulit Normal : nampak lembab. suhu meningkat ( infeksi ) 3. Kelainan / lesi kulit Normal : tidak terdapat Abnormal : Terdapat lesi kulit. lichenifikasi. papula. pustula • Lesi Sekunder : Tumor. erosi. lembek dan kurang elastis ( orang tua ) Abnormal : menurun  dehidrasi. Unilateral. nampak tegang  odema.

Abnormal : menurun / jelek  orang tua. membentuk huruf. Sensasi Taktil • Siapkan alat kuas halus. dahi amati adanya lekukan ( pitting ) Normal : tidak ada pitting Abnormal : terdapat pitting ( non pitting pada beri-beri ) KUKU • Observasi warna kuku. kapas. dehidrasi 4. ODEM • Tekan beberapa saat kulit tungkai. Adanya hyponestesia/anestesia 5. Normal : tidak pucat. catat warna dan suhu . minta pasien menebak. ujung jari ( bila terpaksa ) • Penderita dapat berbaring atau duduk rileks. Adanya nyeri Pemeriksaan Khusus AKRAL • Ispeksi dan palpasi jari-jari tangan. minta pasien untuk membandingkan. minta pasien “ya” bila merasakan dan “ tidak “ bila tidak merasakan • Lakukan mulai dari ujung distal ke proksimal ( azas Ekstrem ). beri sentuhan beberapa tempat. catat perubahan warna Normal : warna berubah merah lagi < 3 detik Abnormal : > 3 detik  gangguan sirkulasi. • Lakukan sentuhan. perut. warna dan pertumbuhan rambut PEMERIKSAAN SISTEM PERSAYARAFAN PEMERIKSAAN FUNGSI SENSORIK 1. bentuk kuku. kemudian lepas. dingin  kekurangan oksigen CR ( capilari Refiil ) • Tekan Ujung jari berarapa detik. tanda radang Abnormal : • Jari tabuh ( clumbing Finger )  penykait jantung kronik • Puti tebal  jamur RAMBUT TUBUH • Ispeksi distribusi. hangat Abnormal : pucat. Kelainan : . mata di pejamkan • Lakukan sentuhan ringan ( jangan sampai menekan ). elastisitas kuku. dan bandingkan kanan dan kiri ( azas Simetris ). • Cari tempat yang tidak berbulu. lesi.

Siku penderita diletakkan pada tangan pemeriksa Ibu jari pemeriksa diletakkan pada tendo bisep. hiperestesia. dan simetris. • Lakukan rangsangan dengan ujung tumpul dan runcing. Reflek pada Lengan • Reflek Bisep • • • • Pasien duduk santai. • Tempelkan alat. hiperalgesia. 2. deserebrate. hipestesia. dingin ( 5-10 ) • Posisi pasien berbaring dan memejamkan mata. belum patologik +4 = hyperaktif. minta pasien merasakan nyeri atau tidak • Lakukan azas ekstri. . 3. decorticate. Lengan lemas.. Sensasi Gerak dan posisi • Pasien memejamkan mata • Bagian tubuh ( jari-jari ) digerakkan pasif oleh pemeriksa • Minta pasien menjelaskan posisi dan keadaan jari PEMERIKSAAN FUNGSI MOTORIK • • • • Posisi Tubuh  postur hemiplegia. PEMERIKSAAN REFLEK FISIOLOGIS ( Muscle Stretch ) Penilaian : 0 = negative +1 = lemah ( normal ) +2 = normal +3 = meninggi. termhipestesia. minta pasien untuk menebaknya. termhiperestesia. Sensasi Nyeri superficial • Gunakan jarum salah satu runcing dan tumpul • Mata pasien dipejamkan • Coba dulu. catat adanya kegagalan. sedikit fleksi dan pronasi. sering disertai klonus 1. Kelainan : Analgesia. Pemeriksaan sensasi suhu • Siapkan alat Panas ( 40-45 derajat ). kemudian pukul ibu jari dengan perkusi hamer. kekakuan. Tonus otot  Spastis. tiks. flasid Koordinasi  Tunjuk hidung jari : perintahkan pasien menyentuk hidung dan jari bergantian dan berulang-ulang. untuk menentukan tekanan maksimal • Beri rangsangan dengan jarum runcing. isotermognosia 4.• Anestesia. Gerakan involunter  tremor. Hypalgesia. chorea . dan minta pasien menebak panas atau dingin • Lakukan azas simetris dan ekstrim Kelainan : Termastesia. • Trikoanestesia  kehilangan senasi gerak rambut • Gravanestesia  tidak mampu mengenal angka/huruf.

rasakan gerakan. fleksi dan sedikit supinasi lengan bawah • Reflek Trisep • Pasien duduk santai. chadoc. Reflek pada tungkai • • • Reflek patella ( kuadrisep ) • • • Posisi pasien duduk. keatas menuju ibu jari kaki. • Lengan lemas. denga kedua kaki menjuntai Tentukan daerah tendo kanan dan kiri Tangan kiri memegang bagian distal ( paha pasien ). yang satu melakukan perkusi pada tendo patella Hasil : Ada kontraksi otot kuadisrep. Hasil : Gerakan menyentak kaki PEMERIKSAAN REFLEK PATOLOGIS • Reflek Babinski • • • Posisi penderita terlentang Gores dengan benda lancip tapi tumpul pada telapak kaki : dari bawah lateral. gerakan menyentak akstensi kaki • Reflek Achilles • • • Pasien dapat duduk menjuntai. jari yang lain meregang Abnormal : terjadi gerakan mencekeram jari-jari kaki Tugas : tehnik reflek Gordon. pegang lengan pasien dan letakkan tangan pasien diatas tangan pemeriksa dalam posisi fleksi dan pronasi. • lengan penderita diletakkan pada tangan pemeriksa • Pukul tendo pada fosa olekrani Hasil : Trisep akan kontraksi menyentak yang dirasakan oleh tangan pemeriksa • Reflek Brachioradialis Posisi penderita duduk santai Lengan relaks. ophenhein. dengan menekkan ujung tapak tangan Lakukan perkusi pada tendo. atau berlutut dengan kaki menjulur di luar meja Tendo Achilles diregangkan. Amati gerakan jari-jari kaki Hasil : Normal : gerakan dorsofleksi ibu jari.• Amati gerakan lengan pasien Hasil : Kontraksi otot bisep. PEMERIKSAAN REFLEK MENINGEAL ( Meningeal Sign ) . • Pukul tendo Brachioradialis Hasil : Gerakan menyentak pada tangan 2. sedikit fleksi dan pronasi.

Tanda kernig • Posisi pasien berbaring • Angkat kaki. IV. cemberut . abdusen ) • periksa gerakan bola mata V ( trigeminal ) • Raba kontraksi temporal • Periksa gerakan mengunyah  otot maseter • Periksa reflek kornea • Uji sentuhan dan nyeri pada wajah VII ( fasialis ) • Periksa gerakan otot wajah  tersenyum. III ( Optikus dan Okulomotoris ) • periksa reaksi pupil terhadap cahaya III. dengan mengangkat kepala agak cepat Hasil : + terdapat tahanan kuat 2. 3. Buzinsky 2 • Posisi pasien berbaring • Lakukan fleksi pada lutut kaki • Amati kaki sebelahnya Hasil : + bila kaki sebelahnya mengikuti gerakan fleksi PEMERIKSAAN SYARAF KRANIAL I ( olfaktorius ) • pemeriksaan fungsi penghidu II ( Optikus ) • periksa fungsi penglihatan dan lapang pandang II. Kaku Kuduk • Pasien posisi berbaring • Fleksi kepala. Buzinsky 1 • Posisi pasien berbaring • Fleksi kepala. bersamaan dengan fleksi kepala 4. dengan mengangkat kepala agak cepat • Perhatikan gerakan tungkai kaki Hasil : + bila terjadi fleksi tungkai. VI ( Okulomotoris. dan luruskan kaki pada lututnya Hasil : Normal : kaki dapat lurus. trokleal. mengkerutkan dahi. atau tahanan dengan sudut minimal 120 derajat Abnormal ( + ) : terjadi tahanan < 1 20 dan nyeri pada paha.1.

amati adanya atropi. . X ( Glusofaringius dan vagus ) • Amati kesulitan menelan • Dengarkan suara • Amati naiknya langit-langit dg bunyi “ ah “ • Amati gag reflek XI ( Aksesoris ) • Kaji kemampuan mengangkat bahu • Kaji gerakan berputar wajah XII ( Hipoglosal ) • Dengarkan artikulasi pasien • Julurkan lidah.VIII ( akustik ) • Periksa fungsi pendengaran IX. asimetris.