Geliat Perlawanan Basis

Pusat gerakan perlawanan terhadap politik dominan pemerintah dan keamanan yang dikerjakan adalah menjadikan Kota Madya Sorong sebagai “sentral” informasi dan kampanye. Sedangkan sentral-sentral gerakan perlawanan dipusatkan di beberapa titik, yaitu: 1. Di Ibukota Kota Madya Sorong. 2. Kampung Malaumkarta (Distrik Makbon - Kabupaten Sorong) 3. Kampung Mega (Distrik Moraid - Kabupaten Sorong) 4. Kampung Fef, Bamusbaiman, dan Bamusbama (Kabupaten Tambrauw) 5. Kampung Marey dan Meyah (Kabupaten Maybrat) 6. Semua kampung di Distrik Seremuk (Kabupaten Sorong Selatan) 7. Aimas (ibukota Kabupaten Sorong) 8. Kampung Warimak, Waifoi, Arawai, Beo (Distrik Teluk Mayalibit - Kabupaten Raja Ampat) 9. Kampung Yenbekaki (Distrik Waigeo Timur - Kabupaten Raja Ampat) Sembilan wilayah kampung dan dua wilayah dalam kota di tiap-tiap kabupaten ini dipilih berdasarkan karakteristik wilayah kebudayaan yang menjadi dasar gerakan perlawanan.

Sekilas Sejarah Suku Malamoi (MOI)
Wilayah Kepala burung Provinsi Papua Barat didiami salah satu suku, yaitu suku Moi. Moi berasal dari kata Malamoi, yaitu dua suku kata mala yang berarti burung atau tanah luas dan moi yang berarti halus, lembut. Kata ini lahir pada saat orang Moi mulai bicara tentang adat. Menurut sejarah yang diceritakan para orang tua adat, peradaban orang Moi berawal dari dua kekuatan, yaitu

175

Geliat Perlawanan Basis

Tambrau dan Maladofok. Myte orang Moi menyebut Maladofok sebagai kekuatan perempuan dan Tambrau sebagai kekuatan lakilaki. Teges Maladum adalah wilayah orang-orang Moi pertama tinggal, kemudian berkembang dan mulai melakukan migrasi ke Manokwari, Teminabuan, Ayamaru, dan Kepulauan Raja Ampat. Suku Moi percaya nenek moyangnya keluar dari Gunung Maladofok dan dunia ini dimulai dari gunung itu. Hampir semua suku di wilayah Kepala Burung berasal dari satu nenek moyang Kelinplasa (disebut sebagai menara Babel) di daerah Maladofok. Mereka kemudian terpencar karena menara yang sedang dibangun roboh oleh air bah dan semua orang naik mencari perlindungan di gunung. Karena ”Waktu itu Tuhan menghukum dengan bahasa yang lain”, demikian menurut seorang tua adat. Orang-orang yang hanyut ke tempat lain kemudian hidup terpisah-pisah dan sekarang menjadi suku-suku baru: suku Ayamaru dengan marga-marga Salossa, Kambuaya, Sevaniwi, Bless, Sraun, Duwith, Bleskadith, Kondologit, Konjol, Kamesok, Salambau, dan Momot. Demikian dalam sejarah suku Moi yang menganggap tidak terpisah dengan suku Ayamaru dan Tehit (Teminabuan Sorong Selatan) ataupun suku Maya di Raja Ampat. Sedangkan yang tetap tinggal di tanah asal kemudian menjadi satu suku besar Moi, yang kemudian terbagi dalam 10 subsuku dan 100 marga, dengan sejarah tanah, sistem pembagian wilayah, dan bahasa yang satu. Dalam perkembangannya 10 subsuku ini masing-masing berdiri sendiri dan menganggap mereka suku tersendiri dan tidak ada hubungan sejarah apa pun dengan subsuku lain. Ada banyak rahasia adat yang tidak boleh diketahui orang luar, bahkan oleh orang Moi yang dianggap tidak pantas mengetahuinya.Mereka menyebut rahasia adat dan tempattempat keramat itu sebagai “Hal-hal yang tidak boleh diketahui perempuan”. Karena itu, kelompok masyarakat suku Moi dibagi dalam empat struktur yang telah ada sejak zaman batu, yaitu :
176

Geliat Perlawanan Basis

1. Tokoh-tokoh adat Terdiri atas para Nedla meliputi: Neliging (orang yang berbahasa baik), nefulus (orang sejarah), ne kook (orang kaya), ne foos (orang suci) serta pejabat-pejabat adat : Unsmas,Tukan, Finise (pemimpin pelaksana rumah adat, terdiri atas marga Ulimpa dan Do), tulukma, untlan (guru yang mengajar di kambik), dan Kmaben. Kelompok ini yang berhak mendapatkan pangkat sebagai kepala suku dan panglima perang yang berwenang melakukan sidang-sidang dan acara adat. 2. Alumni Pendidikan Adat (Wilifi) Adalah kelompok dalam struktur adat yang terdiri atas anak laki-laki yang telah mengikuti pendidikan adat di kambik (rumah adat tempat pendidikan adat) dan telah diwisuda secara adat. Kelompok ini dibina untuk menjadi pemimpin seperti kelompok pertama. Mereka yang diajarkan rumah adat ini belajar tentang filosofi kepemimpinan dan seluk-beluk adat-istiadat suku Moi secara lengkap. 3. Kelompok Laki-laki (Nedla) yang dikategorikan sebagai Nelagi (perempuan) Kelompok ini terdiri atas anak laki-laki, pemuda, dan laki-laki dewasa yang belum pernah mengikuti pendidikan adat di kambik, sehingga dalam struktur adat Moi dikategorikan sebagai Nelagi. 4. Kelompok Nelagi Murni Adalah kelompok yang terdiri atas para perempuan Moi. Kelompok ini juga memiliki pemimpin dan tokoh perempuan. Mereka diajarkan berbagai ilmu pengetahuan secara adat yang disebut Fulus (ilmu-ilmu khusus yang dapat dikuasai dan berkaitan dengan masalah perempuan).

177

3. sampai menghilangkan diri dan menghilangkan orang lain. dan hanya boleh diikuti nedla (laki-laki). merekayasa hujan. telah ada dan sudah dibuat masyarakat suku Moi sejak dulu. 5. 7. Perempuan tidak diperbolehkan ikut karena dikhawatirkan jika ikut dalam proses pendidikan di sekolah adat ini. 6 bulan. Mulai dari 3 bulan. 6. membunuh orang dengan kekuatan magis secara massal. 12 bulan. Sistem Pendidikan Adat Suku Moi percaya segala sesuatu yang ada sekarang. menurut jenis ilmu yang dipelajari. Orang Moi percaya nedla 178 . Sistem perkawinan Sistem pembagian harta Sistem adat dalam mengatur perempuan Moi Sistem adat dalam hak ulayat tanah Sistem pembayaran adat bagi yang meninggal Sistem pendidikan Sistem bercocok tanam Sistem pengobatan Sistem marga dengan daerah-daerah keramat 1. 9. Mereka telah belajar dan mengajarkan secara turun-temurun semua unsur tersebut dalam sekolah adat yang disebut kambik.Geliat Perlawanan Basis Dari empat struktur kepemimpinan berdasarkan pendidikan adat tersebut. Masa pendidikan bervariasi. misalnya bahan peledak. Pendidikan adat ini bersifat tertutup dan rahasia. hingga 24 bulan. obat-obatan. Karena pendidikan adat yang diperoleh di rumah adat mengenai segala hal yang menyangkut suku moi diatur. maka kelak jika menikah akan menceritakan rahasia kambik kepada suaminya yang berasal dari marga suku lain. 9 bulan. 8. 4. suku Moi percaya mereka telah menemukan banyak hal yang telah dipakai dunia baru sekarang ini dan mereka tidak merasa kaget dengan perkembangan yang ada. menyembuhkan orang sakit. 16 bulan. 2. Misalnya: 1.

dan gereja karena dianggap sebagai tempat separatis dan kafir. jika belum melewati struktur sekolah adat. ia disebut masih bodoh atau telanjang atau perempuan. maka pemerintah dan aparat keamanan akan membongkar sekolah adat tersebut karena dianggap sebagai tempat “pendidikan gerakan Papua merdeka”. Tanah dianggap sebagai sumber kehidupan. berharap suatu saat sistem pendidikan adat ini dapat dibuka kembali. Saat ini. Biarpun seseorang pintar. Saat ini hanya tinggal alumni kambik yang masih tersisa di kampung dan diangkat sebagai tokoh adat yang dihormati dan ditakuti karena memiliki kekuatan gaib. 2. karena dalam sekolah adat semua kekuatan Moi akan diturunkan oleh para guru adat. falsafah ini mulai luntur pada diri orang Moi. Tanah adalah ibu sehingga menjual tanah sama artinya dengan menjual ibu. Berbicara tentang tanah berarti berbicara tentang perempuan. aparat keamanan. Jual beli tanah 179 . Setiap nedla yang tidak mengikuti pendidikan maka dalam struktur adat istiadat disebut sebagai “masih perempuan atau masih telanjang”. Sejak tahun 1960-an rumah pendidikan kambik dianggap oleh pemerintah dan aparat keamanan sebagai kelompok atau organisasi yang menentang pemerintah. Pada tahun 1970-an pendidikan adat di kambik tidak diselenggarakan lagi karena dilarang oleh pemerintah. jika diketahui ada sekolah adat kambik yang dibangun dan dibuka untuk menerima siswa. Seiring dengan perkembangan zaman. Sistem Adat dalam Hak Ulayat Tanah Suku Moi percaya tanah adalah perempuan (mama/ibu). sehingga dilarang penyelenggaraannya. bagai ibu yang menyusui anaknya.Geliat Perlawanan Basis benar-benar menjadi laki-laki apabila telah mengikuti pendidikan di sekolah adat. terutama para tua adat lulusan sekolah adat. Suku Moi.

Sistem adat mengharuskan suku Moi yang ingin menjual tanah harus memanggil Muwe (saudara-saudara perempuan) jika tidak ingin terkena kutukan. batu. dan dihormati dalam lembaga adat (mereka disebut sebagai orang kaya). gunung. Marga-marga yang memiliki tanah luas ini secara otomatis akan menempati kelas yang penting. Mereka memakai tali rotan. Batas-batas wilayah kepemilikan tanah marga ditandai dengan berbagai benda alam. Sistem Pengobatan Tradisional Sejak dulu suku Moi telah mengenal berbagai jenis pengobatan untuk menolong warga yang sakit. biasanya mereka keturunan anak kepala suku pada masa lampau. sungai.Geliat Perlawanan Basis semakin banyak terjadi. Di antara beberapa marga. daun-daunan. Sebaliknya. dalam setiap pengambilan keputusan setiap orang terikat oleh tali kekerabatan yang tidak bisa dilanggar begitu saja. berpengaruh. Mereka juga memiliki sistem pengaturan kelahiran dengan baik. buah-buahan tertentu. Artinya. sehingga tidak bisa sembarangan masuk ke dusun atau tanah marga lain. Hak ulayat atas tanah adat itu telah diatur dalam lembaga adat. abu panas. suami akan memisahkan diri ke kampung lain sampai anak lahir dan berumur 4 tahun. kulit kayu. harus memanggil para saudara lelaki. Hukum adat ini dipakai untuk membagi wilayah tanah adat kepada marga-marga yang ada di suku Moi. Hal ini mereka lakukan 180 . dan sebagainya. jika seorang perempuan ingin menjual tanah warisannya. ada marga yang memiliki tanah besar (luas atau di beberapa wilayah). meski jual beli tanah bukanlah hal yang mudah. di mana saat istri hamil 3 bulan. dan lain-lain sebagai sarana penyembuhan. Setiap marga biasanya memiliki wilayah atau benda keramat masing-masing yang menjadi tanda tak terbantahkan atas kepemilikan tanah tersebut. jika tidak ingin dimasuki roh. pohon kayu. 3. Seluruh marga yang ada di suku Moi telah mengetahui batas tanah mereka.

mata. Perempuan hanya tinggal di rumah menunggu kedatangan orang tua pihak laki-laki yang akan datang memintanya dari orang tuanya. 181 . rambut. maka pihak perempuan (diwakili saudara laki-laki bapak) harus membayar piring dan gong. berkebun. membuat iviok (tempat ramas sagu). Perempuan harus mampu menokok sagu. Saat ini para pemuda Moi menganggap beban mas kawin laki-laki Moi berat sekali.Geliat Perlawanan Basis untuk menjaga kesehatan ibu. dan membuat sagu. Sistem Pembayaran Adat bagi yang Meninggal Setiap orang yang telah berkeluarga akan dikenai sistem pembayaran adat jika salah satu dari anggota keluarga meninggal dunia. pinggang (dibayar dengan piring). karena dilakukan tidak hanya sekali saat melamar. Sedangkan laki-laki harus mampu membuat rumah. jika suami meninggal. mengetahui berbagai ramuan obat. 5. Saat ini sistem tersebut sudah tidak berlaku lagi karena. Pembayaran itu meliputi ganti susu. 4. telah ada fasilitas kesehatan yang disiapkan pemerintah. maka pihak perempuan yang harus membayar karena dianggap istri tidak menjaga anak dengan baik sehingga sakit dan meninggal. Sistem Perkawinan Suku Moi pada zaman dulu tidak mengenal ”pacaran”. membuat noken. tapi terus-menerus sampai akhir hidupnya. Jika yang meninggal Istri. berkebun. berburu. membuat perahu. memasak papeda. Segala sesuatu menyangkut perjodohan diatur orang tua. tulang belakang (dibayar dengan sebilah parang). maka pihak suami diharuskan membayar secara adat. Namun sebelumnya ada beberapa syarat bagi keduanya. dan lain-lain. dan berharta. tengkorak (dibayar dengan gong). darah (dibayar dengan nemala). Sedangkan jika anak yang meninggal.

Adat istiadat itu dipegang teguh. karena saat itu terjadi pertukaran barang atau barter secara besar-besaran dalam perdagangan. Tetapi kini semua aturan dan adat istiadat itu telah terurai sedikit demi sedikit. Jika ada pelanggaran batas wilayah. mas kawin yang diberikan juga berupa uang. tidak boleh mendahului. Kini kain-kain itu hampir tidak ada lagi karena pemiliknya telah meninggal dunia. mereka belum bisa bertemu. karena pada zaman dulu laki-laki tidak bisa sembarang melihat perempuan. Jika seorang perempuan berjalan. Sejak masuknya VOC. suku Moi mulai mengenal kain dan piring. D isamping kain dan piring. Denda juga diterapkan untuk orang yang menyebut nama kemaluan orang lain. laki-laki bisa didenda. mereka memakai mas kawin botolbotol kuno). barulah si laki-laki dan perempuan bisa dipertemukan. Jika lengkap sesuai dengan yang diminta. maka laki-laki harus di belakang. Setelah ada kesepakatan bersama. Sistem Penyelesaian Konflik Hukum adat suku Moi yang paling keras adalah soal batas tanah adat. bahkan membunuh bisa menjadi hukuman bagi yang melanggarnya. maka kedua orang tua akan mengikat dengan tanda penyerahan mas kawin (sebelum mengenal kain. dan tak ada sanksi apa pun bagi pelanggarnya. Sebelum mas kawin dibayarkan. Sejak itu orang Moi memakai kain teba dan kain kain putri air namanya agmai yang khusus dibuat dari kulit kayu dan dimiliki orang-orang tertentu. Sengaja mengintip perempuan dari jendela saja. bisa terjadi perang 182 . maka ditentukan waktu untuk membayarkan harta kedua muda-mudi yang harus dilalui dengan acara adat yang disebut “guling rokok” sebagai tanda mas kawin laki-laki yang ada di bilik kudus (ruang khusus tempat menaruh barang) akan dilihat oleh orang tua pihak perempuan.Geliat Perlawanan Basis Jika kedua pihak memenuhi syarat-syarat tersebut.

Struktur kekerabatan dan sejarah pewarisan selalu digunakan sebagai cara untuk menelusuri siapa pemilik sah atas tanah. seorang pengacara hukum. Siang itu disepakati sebagai hari penentuan. Sengketa tanah antara marga Kalami dan Sapisa telah berlangsung hampir setahun lebih. Bahkan kerabat Kalami. Konflik antar marga biasanya diselesaikan dengan cara mengundang para orang tua adat yang paham tentang hukum adat dan sejarah tanah. Orang tua adat berkumpul untuk menyelesaikan masalah ini. maka para orang tua adat kemudian memutuskan mengambil jalan terakhir. ”Kami seperti berputar-putar saja di satu tempat. maka jalan terakhir adalah kedua pihak diminta menunjukkan benda keramat sebagai bukti sah kepemilikan tanah yang tidak bisa ditawar lagi. telah mengajukan kasus ini ke pengadilan. yang selama ini dikelola keluarga Sapisa. Konflik besar bisa terjadi jika sebuah marga mengklaim tanah milik marga lain. Sebidang tanah di pesisir kampung Malaumkarta. tiba-tiba diklaim oleh marga Kalami sebagai miliknya. Sulit sekali menemukan gua itu. Distrik Makbon. Keluarga Sapisa diwakili Pendeta Paulus Sapisa STh memimpin pengambilan benda keramat dari dalam gua penyimpanan harta keluarga. Kabupaten Sorong. karena konflik tidak bisa diselesaikan secara musyawarah oleh kedua marga. Demikian juga antar marga. Keluarga Sapisa diminta mengeluarkan benda keramat sebagai bukti kepemilikan yang sah. Beberapa orang yang ikut serta bercerita. Pengambilan ini tidak mudah. Karena kedua pihak tetap mempertahankan haknya. karena masing-masing marga yang bertikai tetap mempertahankan keyakinannya. Jalan akhir ini pada zaman dulu biasanya hanya diterapkan dalam konflik antar suku dan dilakukan untuk mencegah pertumpahan darah dan perang suku.Geliat Perlawanan Basis suku. Namun jika para orang tua yang turun tetap tidak bisa menyelesaikan.” Pendeta Sapisa kemudian mulai mengucapkan doa adat 183 .

” Beberapa saksi menyatakan. Banyak peristiwa ajaib terjadi. etnocide. Batu-batu itu bentuknya sederhana tapi telah kelihatan tua. bukan mengambil selamanya. membuat orang Moi percaya pada penyelesaian adat daripada hukum formal. Perlawananan Mempertahankan Identitas Budaya Krisis identitas sebagai ras Papua Melanesia di negeri sendiri akibat kebijakan-kebijakan pemerintah yang mengandung elemen-elemen rasisme. namun pembuktian adat adalah keputusan alam yang tidak bisa ditawar dengan apa pun. berserakan terapung di tepi pantai Teluk Dore tengah laut. sampai melompat ke pintu karena tidak bisa menahan perasaan aneh saat empat buah batu pengasah parang diletakkan di dalam ruangan. orang-orang menemukan banyak ayam peliharaan orang-orang di kampung seberang beserta kandang-kandang. juga pohon-pohon yang tumbang.Tidak ada korban jiwa dalam badai yang berlangsung selama hampir dua jam itu. Misalnya 184 .Geliat Perlawanan Basis dan mohon izin kepada nenek moyang untuk meminjam bendabenda keramat. pengadilan versi pemerintah dengan mudah bisa dipermainkan dan dibeli oleh pihak yang memiliki uang. termasuk saya. ”Benda-benda keramat itu dipikul masuk. Marga Kalami akhirnya menyerah dan mengakui kebenaran tanah itu milik marga Sapisa. dan pengabaian kultur. Hujan kemudian reda dan saat langit terang kembali. Bagi mereka.” kenang seorang saksi sidang adat itu. Hujan deras turun dan kilat besar menyambar-nyambar. Beberapa orang yang berbadan tegap masuk dan mengambil beberapa barang dan membawanya ke tempat sidang adat. Beberapa orang yang hadir. Air laut seperti diaduk oleh sendok besar. Pantai Malaumkarta mendadak gelap seperti malam hari.Tak lama kemudian gua ditemukan. Saya lihat wajah pemuda yang memikulnya pucat pasi dan kaki gementar. ”Saat itu kami semua terdiam dalam sunyi.

Pandangan bahwa orang Papua bangsa yang primitif. entah dalam bentuk kebijakan peraturan ataupun dalam bentuk pola-pola pendekatan pembanguan. Fenomena kebijakan ini cenderung dinilai orang Papua sebagai etnocide. sebaliknya. juga pembunuhan terhadap budayawanbudayawan Papua seperti yang terjadi pada April 1984 terhadap Arnold Clemens Ap dan Edward Mofu oleh Komando Pasukan Khusus. memunculkan konflik baru dengan menggunakan senjata melalui aksi-aksi militer yang menurut orang Papua hanya terus menambah daftar korban pelanggaran HAM atau lahirlah padang kejahatan kemanusiaan abadi di Papua Barat.Geliat Perlawanan Basis kebijakan Keluarga Berencana di Papua yang membatasi kelahiran anak-anak sementara pertambahan penduduk Provinsi Papua dipompa menggelembung melalui program transmigrasi ataupun peningkatan sarana transportasi laut dan udara. Konflik ini tidak diselesaikan oleh pemerintah Jakarta secara menyeluruh dan konstruktif. Pemahaman ini tergambar dalam berbagai bentuk perlakuan yang tidak manusiawi. Ketiga akar persoalan tersebut terus menjadi penyebab aksi-aksi protes dan perlawanan rakyat yang berbuntut pada siklus sentral konflik berkepanjangan di Papua. Dominasi birokrasi pemerintah maupun akses ekonomi oleh para migran juga turut mendorong proses krisis identitas ini. Larangan terhadap pengembangan kebudayaan-kebudayaan lokal di Papua Barat. Namun. sampai saat ini masih terdengar di masyarakat dan telah menciptakan kultur yang tidak seimbang dalam pergaulan antara penduduk asli dan pendatang. Hal ini mendorong kesadaran kolektif orang Papua untuk membangun diri sendiri sebagai wujud pernyataan sikap akan keberadaanya 185 . bangsa yang terbelakang dan bodoh. Pemerintah Jakarta menganggap pengembangan kebudayaan Papua Melanesia berpotensi menciptakan disintegrasi.

Dalam kebersamaannya orang Papua menyadari akan adanya tiga persoalan utama. Secara nasional. Keterkaguman akan tradisi budaya Papua sekaligus keindahan dan kekayaan sumber daya alam. negara-negara Eropa dan Asia. Budaya Papua Kian Luntur dan Kehilangan Identitas Diri Seni budaya Papua adalah salah satu identitas diri yang menunjukkan kepribadian dari suku-suku yang mendiami pulau Papua. Akan tetapi budaya papua dianggap “budaya kafir” yang harus di perbaiki. diperbarui. penyangkalan sejarah terhadap keberadaannya. Demikian kadang stigma dan slogan yang dikumandangkan untuk membuat perubahan di Papua. membuat Papua menjadi ajang perebutan untuk dikuasai. terjadinya ketidakadilan dalam berbagai aspek kehidupan. dan bila perlu dimusnahkan karena menjadi penghalang untuk peradaban baru yang dibawa masuk. Ketiga. kebudayaan Papua adalah hamparan kebudayaan. Pertama.Geliat Perlawanan Basis sebagai suatu bangsa dan menyatukan langkah untuk berjuang bersama melawan ketidakadilan. baik secara antropologis maupun secara politik. Keragaman budaya etnis Papua adalah warisan leluhur yang memiliki atau terkandung nilai-nilai dasar yang mengatur kehidupan manusia untuk berinteraksi sosial dengan: Alam gaib (dengan roh-roh nenek moyang) Alam semesta (seluruh ekosistem alam) l Sesama etnis (hubungan kekerabatan) l Antar-etnis dan dunia luar (hubungan kerja sama) l l Tataran nilai-nilai dasar tesebut dari waktu ke waktu terus mengalami perubahan sejak tanah Papua didatangi oleh dunia luar. terutama misionaris. Kedua. adanya upaya sistematis untuk menghancurkan kebudayaan Papua. 186 .

namun orang Papua sendiri tidak menyadari bahwa dalam beberapa generasi yang akan datang mereka akan kehilangan 187 . Penghancuran dan pembakaran rumah-rumah bujang (sarana pendidikan tradisional) oleh para misionaris. karena itu yang “bukan kafir”.Geliat Perlawanan Basis Upaya Penghancuran Nasionalisme dan Identitas Papua Sejak masuknya Injil (pengaruh ajaran Kristen) di Tanah Papua pada 5 Februari 1855. Beberapa contoh konkrit dapat kita simak. 2. Kegemaran mengunyah permen karet daripada makan pinang. Kebiasaan menari cha-cha-cha daripada Yospan. Penamaam tempat yang bertentangan dengan nama lokal. Pergantian nama-nama tradisional (nama tanah) dengan nama-nama Eropa atau tokoh-tokoh dalam sejarah Yahudi dan Arab. sedang dan akan terus dialami orang Papua. 5. 6. dengan dalih “kafir” dan orang harus ikut sistem pendidikan modern dan baca Alkitab. Banyak contoh yang menunjukkan telah terjadi pergeseran nilai budaya Papua. Misalnya Ishak atau Ismail. yang secara sadar ataupun tidak sadar. 1. Numbay menjadi Jayapura. 3. Pandangan ini bukan ekstrem menunjukkan sikap rasial Papua. Kegemaran menggunakan bahasa Indonesia daripada bahasa daerah sendiri dalam berkomunikasi dengan kelompok sesuku dan suku lain. kebudayaan Papua mengalami pergeseran yang drastis. 4. Pergeseran tersebut dari waktu ke waktu kian menyurutkan eksistensi budaya Papua. Misalnya Dobonsolo menjadi Cycloop.

Contoh ini dapat dilihat pada pandangan orang Biak dan Raja Ampat tentang manarmakeri dan koreri. Benny Giay.” Pernyataan ini bukan bermaksud menyalahkan agama Kristen atau Islam. apakah pernyataan ini masih relevan. Apakah semua pandangan ini salah dan harus dianggap kafir? Mengapa dianggap kafir? Misalnya pernyataan sederhana yang disampaikan Dr. sehingga mengadopsi nilai-nilai kedua ajaran tersebut kedalam pemahaman budaya orang Papua. maka orang Papua segera meninggalkan ajaran agama suku. Beny Giay dan Theo van den Broek OFM.” ucap seorang Ilaga sambil menyerahkan Alkitab dan sebuah kaos bergambar wajah Yesus kepada Dr. Apakah tindakan orang itu pantas disebut kafir? Tindakan tersebut sebenarnya secara spontan menunjukkan bahwa nilai-nilai Kristen yang dulu diadopsi ke dalam pemahaman 188 . pandangan orang Nimboran tentang kaisep dan wairam. Sejak dulu orang Papua sudah tahu tentang konsep hari kiamat dan surga. pandangan orang Ndani/Nduga tentang nabelan-kabelan/ naberal-kaberal. “Seandainya kitorang yang duluan kenal tulisan.Geliat Perlawanan Basis identitas budaya (sama seperti orang Afro-Amerika atau orang Afrika yang telah berada di Amerika). dan dianggap sebagai kepercayaan kafir. serta mesias atau tokoh pembebas. atau pandangan orang Wandamen dan Waropen tentang kuri dan pasai. ketika dikritik oleh kelompok masyarakat yang menyandera dua warga Belgia di Ilaga? “Ini kamu dua bawa pulang kamu pu gereja dengan agama ini. maka pasti orang di dunia akan percaya sama koreri dan bukan surga. namun karena masuknya pengaruh unsur religi dari luar seperti ajaran Kristen dan Islam. Secara alamiah setiap kelompok manusia (suku) di mana pun selalu mengalami akulturasi (percampuran budaya). namun hendak menunjukkan bahwa orang Papua menerima kedua ajaran agama tersebut sebagai bagian dari proses akulturasi. Namun.

yang mengatur bahwa pembunuhan terhadap lawan yang tidak memiliki senjata. karena melihat perubahan karakter yang terjadi pada orang Papua. Semua peristiwa tersebut bila dikaji dan dilihat dari sisi budaya lokalnya. Abepura 2006). Banyak saudara perempuan yang hamil sebelum menikah. Namun. yang paling mendasar adalah faktor budaya. 2009-2010). adalah bentuk ekspresi rakyat yang sekian tahun ruang berdemokrasinya dikekang. yang sangat bertentangan dengan aturan perang orang Ndani dan suku-suku lain di Pegunungan Tengah. atau hal-hal lain. sehingga pelaku harus membayar denda kepada pihak lawan. dan anakanak adalah suatu pelanggaran perang. Kondisi tersebut saat ini merupakan masalah sosial dan budaya cermin hidup di Papua. yang dulu jarang terjadi (sebelum masuknya ajaran Kristen atau Islam di Papua). karena bias “merdeka” merupakan nilai yang sepadan dengan pemahaman religi orang Ilaga (atau juga orang Papua). Banyak faktor yang menyebabkan munculnya fenomena tersebut. Saat ini banyak pihak menjadi kebingungan. Mengapa? Jawabannya bisa beragam. dan perang suku di Timika (20042005.Geliat Perlawanan Basis orang Ilaga (atau juga orang Papua) mungkin pada saat ini sudah tidak sepadan dengan pemahaman religi mereka. sehingga semua ini muncul? Atau mungkin budaya orang Papua sudah mati? Spirit dan Orientasi Kebudayaan Papua Kekuatan spiritual yang tersirat dalam kebudayaan Papua secara umum dapat dijumpai dalam kesamaan mitologi rakyat. 189 . Terakhir adalah minuman keras yang begitu subur di Papua dan menjadi salah satu mesin pembunuh orang Papua. Ke mana budaya orang Papua yang dulu. Misalnya aksiaksi demonstrasi damai hingga kerusuhan (contoh kasus Wamena 7 Oktober 2000. perempuan.

dan bagaimana menjalaninya? Biasanya agama-agama memberikan tuntunan terhadap seseorang hingga terbentuk persepsi terhadap hakikat hidup. Konsepsi terhadap hakikat hidup. Tanggapan tentang arti karya terdapat banyak variasi yang ditampilkan berbagai kebudayaan. Apa arti hidup ini. Ada yang memandang dan menanggapi hidup ini sebagai kesengsaraan yang harus diterima sebagai ketentuan yang tak dapat dihindari. ideologi. sebagai kesempatan untuk menggembirakan diri. lagu. bahasa lokal. aturan sistem barter dalam adat. idealisme lokal. dan berbagai macam konsepsi lain yang menunjukkan bagaimana manusia hidup dalam kebudayaan tertentu memandang dan menghargai karya itu. dan ideologi Papua. bekerja adalah intensifikasi dari kehidupan untuk menghasilkan lebih banyak kerja lagi. menerima sebagaimana adanya. Spirit dan orientasi kebudayaan Papua yang secara umum dapat dilihat dan ditemui dalam cara pandangnya terhadap alam dan sesama manusia. dinamika budaya dari dampak ajaran agama Kristen. Ada yang memandang karya atau bekerja sebagai aktivitas yang memberikan kedudukan yang terhormat dalam masyarakat atau mempunyai arti bagi kehidupan. Semua kebudayaan di dunia ini memiliki konsep tentang hidup. kekerabatan. Konsepsi terhadap karya manusia. Soal hakikat hidup itu terdapat bermacam tanggapan. dan berbagai tanggapan lainnya. sistem nilai. 2. apa tujuannya. sebagai kesempatan untuk menebus dosa. bekerja adalah pernyataan tentang kehidupan. 1.Geliat Perlawanan Basis tari. nilai-nilai budaya. 190 .

Ada kebudayaan yang menanamkan pada masyarakatnya pandangan terhadap sesama manusia bahwa hubungan vertikal manusia dengan sesamanya amat penting. Dalam kebudayaan serupa itu perencanaan hidup menjadi sesuatu hal yang amat penting. Tanggapan terhadap sesama manusia. Dalam pola kelakuannya. manusia yang hidup dalam kebudayaan 191 . Ada yang beranggapan bahwa orientasi ke masa depan itulah yang terbaik untuk kehidupan ini. Dan berbagai tanggapan lainnya. Mereka hidup menurut keadaan pada masa sekarang. Konsepsi terhadap alam. 4. Ada yang memandang alam sebagai sesuatu yang harus dipelihara keseimbangannya sehingga harus diikuti saja hukum-hukumnya. 5. Ada berbagai tanggapan tentang waktu menurut tiap-tiap kebudayaan. ada pula kebudayaan yang hanya mempunyai suatu pandangan waktu yang sempit. Bagaimana manusia harus menghadapi alam. Mereka memandang waktu sekarang adalah waktu yang terpenting. Ada yang memandang alam sebagai sesuatu yang potensial dapat memberikan kehidupan yang bahagia bagi manusia dengan mengolahnya. Sebaliknya.Geliat Perlawanan Basis 3. Warga dari kebudayaan serupa itu tidak akan memusingkan diri dengan memikirkan zaman yang lampau ataupun masa yang akan datang. Ada yang memandang alam sebagai sesuatu yang sakral dan maha-dahsyat sehingga manusia pada hakikatnya hanya bisa menerima sebagaimana adanya tanpa berbuat banyak untuk mengolah alam. juga terdapat persepsi yang berbeda menurut tiap-tiap kebudayaan. Ada tanggapan bahwa yang sebaik-baiknya adalah masa lalu yang memberikan pedoman kebijaksanaan dalam hidupnya. Tanggapan terhadap waktu.

Namun. dalam suasana meriah yang berlebihan sehingga menghabiskan tenaga dan biaya besar. Ada kecenderungan umum untuk menyelenggarakan upacara-upacara. Nilai budaya yang berorientasi ke masa depan adalah suatu nilai yang mendorong manusia untuk melihat dan merencanakan masa depan dengan lebih saksama dan teliti. Di sisi lain ada juga yang menanamkan pandangan bahwa hubungan horizontal antara manusia dan sesamanya sebagai yang terbaik. baik yang bersifat ritus maupun pesta biasa. Oleh karena itu akan memaksa manusia untuk hidup berhati-hati dan berhemat. dan upacara pembayaran tengkorak (pada orang Meybrat). Dalam kebudayaan seperti ini. 192 .Geliat Perlawanan Basis serupa selalu berpedoman pada pola kepemimpinan lokalnya dan atau pada tetua. individualisme amat dipentingkan dan sangat menghargai orang yang mencapai banyak tujuan dalam hidupnya dengan hanya sedikit bantuan dari orang lain. Berbagai keterangan etnografi tentang kebudayaan di Papua membawa kita pada kesimpulan bahwa orientasi seperti itu tidak dijumpai pada kebudayaan-kebudayaan di Papua. Kita semua tahu sifat hemat yang meluas amat perlu untuk memungkinkan suatu bangsa menyisihkan sebagian dari pendapatannya untuk mengakumulasi modal.adatnya. misalnya orang Meybrat. Dengan demikian mereka selalu dijadikan anutan bagi warganya. dan orang Muyu. upacara pemakaman kembali (pada orang Muyu). Memang ada beberapa suku di Papua yang mengenal prinsip akumulasi modal. modal yang telah diakumulasi itu dipakai habis untuk penyelenggaraan upacaraupacara adat seperti upacara inisisasi (pada orang Me). Dalam pola hubungan ini mereka akan merasa amat tergantung pada sesama. dan usaha untuk memelihara hubungan baik dengan tetangga dan sesama kaum kerabat dianggap amat penting dalam hidup. orang Me.

Namun. karena searah dengan pandangan globalisasi sekarang yang berwawasan lingkungan. juga menilai tinggi mutu dan ketelitian. Itu menjadi penyebab suatu nilai budaya tidak aktif terhadap lingkungan alam. namun di pihak lain pandangan tersebut mematikan daya cipta untuk berinovasi. pengetahuan seperti itu biasanya terbatas dalam lingkungan keluarga sendiri atau dalam kelompok tertentu. Walaupun ada pengetahuan tentang produk-produk alam tertentu. misalnya jenis-jenis tanaman atau tumbuhan tertentu yang dapat digunakan untuk pengobatan tradisional. Lebih tinggi hanya sampai pada tingkat keluarga luas. terutama inovasi teknologi. 193 . Hal ini bersumber pada kepercayaan tradisional yang sampai sekarang belum hilang dimana banyak kebudayaan di Papua meyakini bahwa alam sekitar tempat hidup manusia terdapat kekuatan-kekuatan gaib yang harus ditakuti dan dihormati karena mengontrol kehidupan manusia. tidak ada upaya ke arah peningkatan yang lebih tinggi yang mencakup masyarakat secara luas. Penggunaan teknologi asing tidak bisa begitu saja dipakai. Pembangunan yang memerlukan usaha mengintensifkan produksi tentu harus memanfaatkan teknologi yang kian disempurnakan. Pengetahuan tersebut tidak dikembangkan dan disempurnakan sebagai pengetahuan umum yang berguna bagi bagi kepentingan bersama. Usaha mengadaptasi teknologi juga memerlukan mentalitas yang selain menilai tinggi hasrat bereksplorasi. Di satu pihak pandangan untuk mengharuskan hidup harmonis dengan lingkungan alam adalah baik. kegiatankegiatan itu terbatas hanya pada tingkat kepentingan keluarga inti. Orientasi nilai budaya yang berhasrat mengeksplorasi lingkungan alam guna berinovasi kurang menonjol. Walaupun ada hasrat untuk memanfaatkan sumber-sumber alam dalam berbagai aktivitas ekonomi. tetapi memerlukan adaptasi yang saksama.Geliat Perlawanan Basis Orientasi budaya yang berhasrat mengeksplorasi lingkungan alam dan kekuatan-kekuatan alam akan menambah inovasi.

Catatan tentang orientasi seperti ini penting. adalah manifestasi dari orientasi nilai budaya menghargai karya manusia. disebut bobot. seseorang yang berhasil terutama dalam bidang ekonomi (mempunyai banyak kebun yang luas.Geliat Perlawanan Basis Menilai tinggi usaha atau karya orang yang dapat mencapai hasil. di samping pandai berdiplomasi. Kedudukan seperti ini disebut kedudukan pencapaian (achieved status). kedudukan pemimpin dalam masyarakat ditentukan berdasarkan kemampuan usaha seseorang. karena berguna bagi pembangunan. orang Dani. bermurah hati. kita akan menjumpai bahwa orientasi nilai budaya menilai tinggi upaya orang terdapat pada banyak kebudayaan di Papua. Misalnya pada orang Meybrat. Sikap untuk menilai tinggi usaha seseorang dalam masyarakat mendorong orang untuk mengintensifkan usahanya untuk memberikan hasil yang lebih baik. Apabila kita menggunakan unsur budaya sistem kepemimpinan tradisional di Papua sebagai “pintu masuk” untuk memahami kebudayaan-kebudayan orang Papua. orang Muyu. sedapat mungkin atas usahanya sendiri. Hal ini di satu sisi menumbuhkan rasa percaya diri dan berkarya sendiri dan pada sisi lain menumbuhkan rasa tanggung jawab. seseorang yang berhasil dalam upayanya untuk melaksanakan dan mengintensifkan sistem pertukaran kain timur berupacara sangat dihargai masyarakat. orang Me. Jadi. dan jujur. Dalam kebudayaan orang Meybrat. Wujud nyata dari penghargaan itu adalah pengakuan terhadap orang yang berhasil sebagai pemimpin masyarakat. memelihara babi. dan orang Asmat yang mengenal sistem kepemimpinan tradisional yang dalam kajian-kajian antropologi dan sosiologi dikenal dengan sebutan big man atau pria berwibawa. dan mempunyai banyak istri) sangat dihargai dan diakui sebagai pemimpin dalam 194 . Demikian pula halnya dalam kebudayaan orang Me. Dalam kebudayaankebudayaan itu kita jumpai kedudukan pemimpin didasarkan atas usaha perseorangan.

Sebab.Geliat Perlawanan Basis masyarakat. Misalnya pada orang Biak hubungan antar 195 . Orientasi nilai budaya menghargai usaha orang juga terdapat pada kebudayaan orang Dani dan Asmat. Penghargaan terhadap orangorang yang berhasil menjadi pemimpin perang adalah pengakuan masyarakat terhadap mereka sebagai pemimpin perang dan pemimpin masyarakat. baik yang bersifat kegiatan ekonomi maupun upacara-upacara ritus. ada kebudayan yang sangat kuat berorientasi vertikal. upaya seseorang untuk menampilkan dan mengukuhkan diri sebagai seorang pemimpin perang sangat dihargai dan dinilai tinggi. perang merupakan sarana untuk memperlancar berbagai aktivitas kehidupan manusia. karena keberhasilan usahanya untuk menyelenggarakan upacara pesta babi yang menjadi fokus kebudayaan orang Muyu. kebudayaan yang terdapat di Semenanjung Onim dan daerah Kowiai serta kepulauan Raja Ampat. Hal ini terutama terdapat pada kebudayaan-kebudayaan yang mengenal sistem kepemimpinan berbentuk kerajaan. Nimboran. Sentani. yang berarti pemimpin dan orang kaya. Secara keseluruhan kebudayaan Papua menunjukkan dua macam persepsi tentang hubungan manusia dengan manusia Pertama. Orang seperti itu disebut tonowi atau sonowi. Hal itu dapat dilihat pada penghargaan yang diberikan kepada seseorang untuk menduduki posisi pemimpin. Orientasi menilai tinggi usaha orang terdapat juga pada orang Muyu. Skouw. Misalnya. dan penduduk Teluk Yos Sudarso (Teluk Humboldt). ada kebudayaan di Papua Barat yang sangat kuat berorientasi horizontal. Pada orang Dani ataupun Asmat. kayepak. Kedua. Juga pada kebudayaan-kebudayaan yang mengenal sistem kepemimpinan kepala klen atau kepemimpinan Ondoafi yang didukung sukusuku yang berdiam di bagian timur laut Papua Barat seperti orang Tabla. dalam masyarakat.

Polri. persahabatan. permusuhan. kebencian. dan suku. Tindakan eksploitasi manusia dan budaya Papua oleh pemerintah.Geliat Perlawanan Basis warga dalam kelompok kekerabatan amat kuat. perdamaian. menyebabkan kepentingan kelompok kekerabatan lebih diutamakan daripada kepentingan individu. kelompok resistensi. swasta/investor. karena akan selalu dibantu saat mengalami kesulitan. dan LSM. kini. 196 . Kekuatan budaya ini memegang peran sangat mendasar untuk mengikat masyarakat adat Papua untuk melakukan perlawanan rakyat terhadap kekuatan represif negara. dan nanti”. dan lain-lain terhadap seseorang individu. pemerintah daerah. Spirit rakyat inilah yang kemudian digali dan dikembangkan Grup Mambesak dalam semboyan “Menyanyi untuk hidup. dan sebagainya. gembira. militer. dari dulu. Melihat kekuatan budaya yang dimiliki masyarakat sebagai alat perekat ini. TNI. lembaga agama. Dengan lagu dan tari. kepahlawanan. kelompok. Di antara warga kelompok kekerabatan terdapat perasaan solidaritas yang amat tinggi yang didasarkan pada pandangan pars-prototo sebagian berarti keseluruhan. Sebaliknya. maka dengan kekuatan yang dimiliki negara berusaha melakukan tindakan represif oleh militer dengan melakukan tekanan-tekanan dan tindakan ketidakberpihakan pemerintah daerah dalam pengembangan budaya lokal. seseorang dapat mengungkapkan perasaan duka. Dampak dari ungkapan ini dapat mengakibatkan perang. Nilai filosofi yang tersirat dalam semboyan ini adalah kehidupan spritual rakyat selalu diungkapkan dalam lagu dan tari untuk memperjuangkan hak-hak budaya rakyat Papua. Pandangan demikian menimbulkan rasa aman pada diri warga kelompok kekerabatan. pandangan ini menimbulkan kewajiban untuk terus-menerus berusaha memelihara hubungan baik dengan sesama dan sedapat mungkin membagi keuntungan dengan sesama.

keladi. Keseluruhan sistem ini berkembang dengan subur dari tahun ke tahun. Selain itu tidak adanya aturan daerah yang melindungi hak cipta masyarakat lokal Papua. Para petani dianggap berladang liar. Anakanak didoktrin untuk melecehkan budaya sendiri. ketika proses pendidikan sekolah diberlangsungkan dengan penuh indoktrinasi. Ladang modern adalah sistem sawah di Jawa. Pendidikan Rumah Adat dan Pendidikan Formal Pendidikan formal (sekolah) sebagai impian dan harapan akan membuka pikiran dan wawasan serta membuat orang menjadi kritis. Itulah fenomena yang sedang terjadi di Papua.Geliat Perlawanan Basis dan misionaris adalah fenomena tersendiri yang turut memberi warna dalam penghancuran budaya rakyat Papua. peminggiran budaya Papua dimulai dari kata-kata (verbal). Sedangkan sagu. sistem pendidikan nonformal yang diperoleh masyarakat adat Papua yang diajarkan dalam rumah 197 . Penghancuran yang sistematis terhadap eksistensi masyarakat adat dan budaya yang dimiliki dilakukan melalui: 1. dan perampasan paksa (performance). akan mencabut orang Papua dari akar budayanya. dan ubi-ubian sama sekali tidak pernah dibicarakan. Sementara itu resistensi masyarakat adat juga seirama dan setara dengan tingkatan proses tersebut. Penghancuran Budaya Papua secara Sistematis dan Terencana Jika dilihat dari sudut proses. Padahal. Sistem pemerintahan yang berbasis ideologi budaya Jawa (jawanisasi budaya lokal) turut memberikan peluang yang sangat besar bagi masyarakat pendatang dalam mengeksploitasi budaya Papua untuk kepentingan bisnis mereka. tindak-tanduk (behavioral). Di sisi lain.

saat ini tidak lagi dilaksanakan karena pusat pendidikan adat telah dimusnakan oleh pemerintah. Mereka lebih mengenal hal-hal yang berada di luar kemampuan berpikir dan kerjanya daripada yang ada di sekitar mereka. Budaya-budaya di luar superculture tersebut dianggap primitif. Dominasi Budaya Luar Selama masa pemerintahan Orde Baru. karena dianggap sebagai pusat gerakan perlawanan terhadap pemerintah dan dianggap oleh misionaris dan agama Kristen sebagai tempat penyembahan berhala. sehingga manusianya harus diubah. Sistem dan pola pendidikan dalam rumah adat tidak dijumpai lagi karena masyarakat adat Papua takut terhadap berbagai ancaman dari pemerintah dan militer. kanibal. Kondisi ini dapat dilihat pada berbagai kasus dan stigma yang dialamatkan kepada masyarakat adat yang berusaha mengembangkan budaya lokal. dan lembaga keagamaan (Kristen dan Islam). militer. Maka anak-anak Papua tumbuh menjadi manusia asing di negeri sendiri yang memusuhi budaya sendiri.Geliat Perlawanan Basis adat itulah yang dipraktikkan. dan secara khusus melalui sistem pendidikan nonformal yang diselenggarakan di rumah adat. Pikiran mereka berubah dari pikiran nyata menjadi pemimpi. budaya dipersempit 198 . Pertama. 2. Dan itu identik dengan Papua. Pola pikir semacam ini memberikan sumbangan yang sangat signifikan terhadap proses kepunahan kebudayaan Papua. Pendidikan nonformal yang telah turun-temurun dilakukan orang Papua di rumah adat. Terlebih masalah pengembangan budaya di Papua selalu distigmakan sebagai kegiatan yang bersifat “separatis” yang berusaha merongrong keutuhan integritas negara. misalnya cara bercocok tanam yang baik dan berburu yang baik. pembangunan kebudayaan memiliki tiga ciri utama. biadab.

pertujukan. dan dominasi terhadap budaya-budaya etnik. Sebab. Dominasi budaya luar Papua berkembang dengan begitu cepat dari kota ke kampung. pengembangan budaya harus berorientasi dunia bisnis (komersial). sudah sepantasnya semua pihak merumuskan strategi bersama untuk mengatasi berbagai persoalan yang sedang dan terus berlangsung di tanah Papua. Kedua. Tekanan budaya luar yang begitu besar telah menghadapkan masyarakat pada pilihan-pilihan ekonomis dan politik dengan mengesampingkan budaya. 199 . Dengan demikian terjadi pendangkalan-pendangkalan nilai. bentuk.Geliat Perlawanan Basis hingga menjadi seni budaya. tiap-tiap pihak memiliki strategi sendiri. pertunjukan seni budaya harus sejalan dengan kemauan pemerintah. pesta budaya. Namun yang penting adalah pendekatan budaya dalam menyelesaikan masalah. dan upacara adat harus terlebih dahulu mendapat izin lisan dari kepolisian. penyelenggaraan pesta kawin. Tentu dalam melaksanakan perubahan dan penanganan masalah. upaya menyelesaikan masalah saat ini akan mengalami hambatan. Seiring dengan itu terjadi pemasungan. dan makna kebudayaan. Inisiatif Membangun Gerakan Perlawanan Rakyat Dari berbagai fakta dan kasus yang disebutkan. Melihat dan menyelesaikan masalah secara holistik melalui pendekatan budaya mutlak dilakukan setiap orang yang menyatakan diri pelaku pembangunan di tanah Papua. Ketiga. tanpa ada proteksi yang dilakukan pemerintah daerah ataupun masyarakat adat. fungsi. pelantikan ketua adat. tanpa pendekatan budaya. Di beberapa tempat di Papua. pemerkosaan. saat ini telah beralih fungsi dan mengurus politik. Lembaga-lembaga adat yang dibentuk untuk tetap mempertahankan eksistensi budaya lokal.

Pelatihan usaha ekonomi 5. monitoring. Penelitian 200 . Diskusi-diskusi rutin di 9 wilayah target 2. Pembentukan sanggar-sanggar belajar alternatif yang bisa berfungsi sebagai pusat belajar 4. langkah strategis yang sudah dan sedang dilakukan adalah melaksanakan kegiatan pendidikan kritis di kampung-kampung di 9 wilayah yang telah ditetapkan. 2. seperti telah ditampilkan (lihat peta halaman 2). dokumentasi) 3. Bentuk-bentuk kegiatan pendidikan kritis: 1. baik dari dalam maupun luar suku.Geliat Perlawanan Basis Strategi Perlawanan Membangun Kekuatan Rakyat Strategi yang saat ini dilakukan untuk membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya penghormatan terhadap nilai-nilai budaya lokal sebagai kekuatan untuk mempertahankan diri dari berbagai ancaman.Tujuannya agar mendapat informasi dan data berbagai kasus di wilayah tersebut untuk kemudian dilakukan advokasi. Kegiatan pendidikan kritis ini berkaitan dengan minimnya informasi tentang berbagai aspek yang berkaitan dengan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. seperti: 1. adalah melalui berbagai kegiatan-kegiatan pendidikan di kampung-kampung. Pendidikan Kritis Dari berbagai kasus yang disebutkan. Pelatihan-pelatihan khusus (investigasi. Monitoring dan Investigasi Kegiatan ini terus dilakukan di beberapa wilayah yang dianggap strategis dalam membangun kesadaran rakyat.

penundukan. budaya. religius. dan performance (perampasan) sumbersumber kehidupanan sosial. yang sebenarnya merupakan perlawanan budaya. Terhadap yang verbal. yakni merampas balik apa yang telah dirampas. Tindakan ini biasanya dilakukan apabila tindakan-tindakan lain tidak mendapatkan hasil atau tidak didengar. atau penghancuran terhadap budaya Papua dilakukan secara sistematis. Dokumentasi audio visual 7.Geliat Perlawanan Basis 6. Atau mereka berpindah ke tempat permukiman baru yang bebas dari gravitasi modernisasi. masyarakat Papua merespons dengan tindakan “sikap empati” walaupun sebenarnya mereka secara mental sangat terpukul oleh berbagai bentuk penghinaan verbal. atau membakar. bentuk-bentuk resistensinya adalah masyarakat menerima itu dan menggabungkan dengan politik yang kemudian memunculkan gerakan perlawanan secara kolektif. Perlawanan balik yang dilakukan masyarakat terhadap fonemena sosial dan budaya yang terjadi saat ini di Papua. “masyarakat menerima dan mengadaptasikan” pola perilaku yang baru. ekonomi. Upaya terakhir adalah tindakan “extra-legal”. Dari hal yang bersifat vebal (pelecehan dan penghinaan lisan dan tertulis). Resistensi terhadap contoh perilaku. Penyusunan modul-modul pendidikan kritis Konsolidasi Gerakan Budaya Pembangunan dan penindasan. Baru setelah aksi “ekstralegal” itu biasanya pihak-pihak terkait mengajak masyarakat adat berunding. Sikap perlawanan terhadap perampasan paksa adalah “terpaksa lawan balik”. dan politis masyarakat adat. melakukan perlawanan fisik. Artinya. Sikap apatis dan pragmatis yang dialami masyarakat cukup memberi ruang yang besar untuk melakukan refleksi diri sekaligus melakukan perlawanan terhadap 201 . telah digabungkan dengan masalah politik. behavioral (contoh yang disertai dengan tindakan dan perilaku).

karena stigma negatif (sekolah separatis. dan lain-lain) yang dulu dilaksanakan masyarakat adat di wilayah Kepala Burung dapat dihidupkan kembali. Dengan pendidikan melalui sekolah-sekolah adat. 202 . Dengan demikian. pendidikan adat diharapkan dapat membangkitkan kembali kesadaran kolektif masyarakat untuk melestarikan dan menjadi aset pertahanan rakyat dalam menghadapi perubahan politik yang terjadi dari waktu ke waktu. alam sebagai sumber kehidupan dan tempat tinggal bagi makhluk hidup akan terpelihara dan dapat dimanfaatkan masyarakat adat Papua secara arif dan berkelanjutan.Geliat Perlawanan Basis kondisi yang dialami. bentuk yang ditawarkan adalah melaksanakan pendidikan adat dalam bentuk yang lain. Semangat mengaktifkan kembali sekolah adat terus berjalan dan masyarakat adat. yang tidak pernah menemukan jawaban atas berbagai masalah yang dialami. Untuk menghindari dan mengurangi stigma negatif tersebut. Memang untuk menghidupkan kembali sekolah adat tantangannya sangat besar. yaitu melalui sanggar-sanggar belajar yang dibangun di kampung-kampung dapat dijadikan sebagai pusat belajar adat. mulai menyadari pentingnya sekolah adat dalam rangka mempertahankan dan memproteksi dari ekspolitasi sumber daya alam oleh orang luar yang selama ini merusak alam dan tidak memberikan manfaat bagi masyarakat pemilik tanah dan hutan adat. Konsolidasi gerakan budaya ini dilalui dengan membentuk kelompok-kelompok sel grup adat untuk mulai mendiskusikan kembali nilai-nilai budaya yang dimiliki serta membangun kekuatan budaya lokal untuk mempertahankan diri. khususnya lulusan sekolah adat. Selain itu. Fokus utama yang dianggap penting adalah mengupayakan sekolah-sekolah adat (kambik. gerakan budaya ini diharapkan dapat menjadi media belajar bagi generasi muda di wilayah-wilayah sasaran. kafir) masih melekat pada pendidikan nonformal ini.

monitoring. Salah satu contoh gerakan ini adalah munculnya kesadaran masyarakat adat dan lembaga adat di Seremuk. dan lain-lain 6. Kabupaten Sorong Selatan. Pergelaran musik dan lagu Mambesak Pameran buku koleksi Belantara . 4.Proton dan Mitra Dialog budaya dan HAM Eksebisi melukis di kanfas dengan ludah pinang Ekspedisi turun kampung untuk melakukan pendidikan kritis. 2. Di sisi lain langkah ini merupakan strategi untuk memproteksi hutan adat masyarakat dari kerusakan hutan akibat aktivitas penebangan hutan oleh perusahaan pemegang HPH dan pembukaan lahan kelapa sawit.Geliat Perlawanan Basis Langkah awal membangun gerakan sekolah adat adalah melakukan survei di wilayah yang ditetapkan. Kampanye Publik Untuk membangkitkan kesadaran masyarakat umum akan pentingnya alam dan budaya. assessment. diskusi. pergelaran musik di kampung. 3. Juga membangun pemahaman dan kesadaran bersama tokoh adat agar gerakan budaya melalui sekolah adat dapat berjalan untuk melindungi aset budaya masyarakat yang saat ini tertekan. wilayah-wilayah lain yang menjadi target berikutnya mengikuti jejak ini untuk melindungi hutan-hutan adatnya. 5. Dialog interaktif di RRI melalui “Gelar Senat” (media informasi pendidikan kritis tentang lingkungan hidup dan budaya) 203 . Harapannya. untuk melindungi wilayah hutan dan tanah adatnya melalui Deklarasi Adat pada November 2009 di Kampung Mlaswat. dilakukan beberapa kegiatan: 1. dokumentasi foto dan audiovisual.

Kelompok campuran/modern 5. Kelompok berdasar hubungan saudara senenek moyang/ keret/gen 4. Yang terjadi justru menjamurnya grup musik .tari yang tumbuh. bubar atau mati. berkembang.Geliat Perlawanan Basis Respons Masyarakat Adat di 9 Wilayah Basis Gerakan Perlawanan Budaya Ke mana identitas budaya lokal harus dicari? Bagaimana melakukan usaha-usaha proteksi terhadap pengaruh budaya luar? Sampai saat ini belum ada kerja serius yang dilakukan LSM untuk melihat permasalahan budaya di Papua. Kehancuran alam dan budaya Papua mulai dirasakan dan kebangkitan kesadaran mulai terbentuk di masyarakat dengan membentuk pertahanan-pertanahan kolektif sendiri. Kelompok berdasarkan suku yang mengklaim diri sebagai suku asli (LMA) 204 . Kelompok kesenian (kelompok Suling Tambur) 6. Kalaupun ada. Kelompok berdasarkan (se) kampung 3. Contoh dari proses panjang membangun kesadaran kolektif ini mulai muncul: 1. Kelompok berdasarkan kesamaan marga 2. karena mengejar popularitas semata. Usaha-usaha pemberdayaan masyarakat adat pewaris aktif budaya untuk mengembangkan dan melestarikan budaya lokal tidak berjalan. Usaha ke arah kemandirian masyarakat untuk melakukan proteksi diri belum dilakukan LSM. Belum ada LSM yang bergerak khusus di bidang budaya untuk melakukan kegiatan revitalisasi budaya lokal Papua. hanya bersifat “titipan” dalam berbagai program yang dilakukan.

sumber daya manusia. ekonomi. Tujuan Gerakan Perlawanan 1. Menunjukkan kepada dunia bahwa di belahan dunia ada satu etnik yang masih hidup dan memiliki nilai-nilai budaya yang sangat tinggi dan dapat dituangkan dalam bentuk tradisi lisan 2. serta bagaimana membangun ideologi kerakyatan (masyarakat lokal) dan bagaimana merebut kembali keadilan yang direbut orang lain / negara dalam mengelola sumber daya alam. Kelompok budayawan dan seniman Kelompok-kelompok yang terbentuk ini merupakan bagian dari kesadaran akan identitas lokal yang kian tercabut dari budaya akibat kerusakan alam dan media-media budaya yang dimusnahkan oleh kepentingan politik dominan dari waktu ke waktu hingga saat ini.Geliat Perlawanan Basis 7. sosial. kawasan adat. Kelompok migran yang secara historis kultural dan religius telah berinteraksi begitu lama dengan alam dan manusia di daerah ini. sepanjang negara tidak mengakui kami. 8. Memperkenalkan budaya tradisi lisan etnik Papua 3. keamanan dan kepercayaan. politik. budaya / identitas. Upaya membangun kesadaran identitas budaya Papua merupakan gerakan budaya berperspektif pendidikan politik adat adalah kerangka berpikir membangun ideologi adat (perubahan sosial yang diinginkan) dan dengan menggunakan kesadaran apa. Mencari dukungan internasional untuk pelestarian dan pengembangan tradisi lisan etnik Papua 205 .

Usaha-usaha revitalisasi pengembangan budaya tradisi lisan etnik Papua (internasional. Membangun jaringan kerja sama penyelamatan budaya tradisi lisan etnik Papua 7. lokal) Harapan Tekanan kapitalisme dan krisis ekonomi dan politik yang berkepanjangan berpengaruh dan berdampak sangat besar terhadap kehidupan dan perkembangan budaya lokal di Papua. Oleh karena itu. Usaha-usaha penyelamatan budaya tradisi lisan etnik Papua sebagai bagian dari situs budaya lokal dunia 3. Perhatian dunia internasional terhadap budaya tradisi lisan etnik Papua 2.Geliat Perlawanan Basis 4. Merebut kembali keadilan berekspresi budaya 6. pengakuan terhadap identitas budaya lokal masyarakat adat Papua merupakan wujud membangun 206 . etnik Papua dapat mengimprovisasikan diri melalui tradisi lisan 5. Menunjukkan kepada dunia bahwa meski dijadikan sebagai ladang penggarapan kekuasaan pemerintah dan militer. Membangun ideologi kerakyatan etnik Papua untuk merebut kembali apa yang pernah dimiliki dengan membangun gerakan budaya berperspektif politik untuk mengusahakan perubahan sistem dengan membangun kapasitas kemandirian dan pendanaan Output yang Diharapkan 1. nasiona.

masyarakat adat Papua saat ini terjebak dalam arus globalisasi yang dilandaskan pada paham neoliberialisme. dan sejahtera dalam mengelola budaya lokal akibat intervensi dan tekanan politik. Selain itu. 207 .Geliat Perlawanan Basis demokrasi. dan agama yang begitu kuat. Pertarungan ideologis ini membuat masyarakat dihadapkan pada berbagai pilihan yang kurang aspiratif dan cenderung menciptakan konflik internal dan eksternal dalam kehidupan masyarakat. militer. Kondisi ini demikian kuat menekan sehingga menempatkan masyarakat adat Papua pada posisi dilematis dan traumatis berkepanjangan. nilai-nilai pengakuan dan keyakinan yang terbaik bagi masyarakat adat untuk mengembangkan kreativitas budaya secara demokrasi dan mandiri. makmur. masyarakat adat Papua dilanda peperangan ideologis antara paham otonomisasi dan tuntutan aspirasi merdeka. masyarakat adat Papua saat ini belum memiliki arah alternatif ideologis budaya yang akan membawa mereka ke tempat yang adil. Dampak lain. Memberikan ruang untuk masyarakat mengembangkan dan mengorganisasi diri (institusi lokal) secara otonomi merupakan peluang yang tepat untuk mengembangkan demokrasi adat sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini guna membangun kemandirian dan kepercayaan masyarakat serta mengurangi tekanan politik pemerintahan dan militerisme. khususnya di bidang budaya. Adanya ruang yang luas merupakan bagian dari usaha untuk melakukan penguatan dalam pengelolaan manajemen budaya lokal sekaligus melakukan reorientasi dan reposisi ideologis untuk revitalisasi budaya lokal Papua. Di sisi lain. Wacana pengembangan demokrasi budaya Papua hendaknya dapat menciptakan ruang guna mewujudkan cita-cita.

suatu saat akan terjadi konflik budaya yang meluas di Papua (antar-orang Papua ataupun dengan orang luar) dan ini akan memperkeruh upaya membangun budaya damai yang selama ini diperjuangkan. Pertama. atau mempertahankan sistem lokal atau tidak dalam iklim demokrasi saat ini? Karena pada kenyataannya budaya Papua hanya sebagai pelengkap dan pemuas kepentingan politik. tanpa tekanan politik dan kekuatan militer yang membelenggu kebebasan budayanya? Bila kebebasan budaya terus dikekang. ekonomi.Geliat Perlawanan Basis Masalah pokok yang perlu menjadi perhatian dalam membangun demokrasi budaya Papua dalam ruang otonomi adalah mengembalikan kedaulatan budaya kepada masyarakat untuk menentukan pilihan-pilihan pengembangan budaya tanpa harus diwakilkan. karena demokrasi bukanlah kedaulatan yang diwakilkan. Semoga. Kedua. 208 . apakah masyarakat adat Papua masih memiliki hak untuk mengendalikan. dan keamanan negara. Dari persoalan di atas dapat diidentifikasi dua hal penting. apakah masyarakat adat Papua masih memiliki kesempatan untuk memperjuangkan dan mengendalikan sistem lokal sendiri. mengontrol.

209 . sedangkan Roedy Haryo Widjono AMZ. Kalimantan Timur.Desa Budaya Lung Anai: Dilema Invensi Budaya yang Sirna dan Siasat Penguasaan Sumber Penghidupan Simpul Kalimantan Timur – FBB Prakarsa Rakyat 1 Pembuka Jalan K 1 omunitas Dayak Kenyah Lepoq Jalan di Desa Lung Anai. Abdullah Naim adalah aktivis di Naladwipa Institute for Social and Culture Studies. Keduanya menetap di Samarinda. diselenggarakan pula Pekenoq Tulisan dipersiapkan oleh Abdullah Naim dan Roedy Haryo Widjono AMZ. Koordinator Komunitas Studi Silang Budaya (Nomaden Institute for Cross Culture Studies). Pada tahun 2005 tatkala Lung Anai diresmikan sebagai Desa Budaya. Kecamatan Loa Kulu. sontak menjadi perhatian elite Dayak sejak dikukuhkan sebagai Desa Budaya. Kabupaten Kutai Kartanegara.

dan undrat (tepung beras ketan dicampur gula lalu dimasukkan dalam bambu. Terutama seiring dengan euforia otonomi daerah yang menempatkan kehidupan tradisional suku Dayak beserta sejumlah ritual adat sebagai komoditas pariwisata untuk meraup pendapatan asli daerah Kabupaten Kutai Kartanegara. pelbagai ritual adat yang sekitar 40 tahun ditinggalkan.Geliat Perlawanan Basis Tawai (reuni) suku Dayak Kenyah Lepoq Jalan se-Kalimantan Timur. merupakan ritual adat dalam siklus kehidupan orang Dayak Kenyah di Lung Anai yang ”diputar ulang” untuk kepentingan agenda pariwisata. Perhelatan akbar ini merupakan peristiwa pertama dalam sejarah kehidupan Dayak Kenyah Lepoq Jalan. 210 . 2 Ritual rame teqo’ajao atau pesta panen. Sejak Lung Anai menyandang gelar Desa Budaya. Argumentasinya. mirip lemang). Kedua ritual itu masih menjadi perdebatan keras apakah bisa ditampilkan sebagai agenda budaya atau tidak. Desa Budaya adalah jalan pembuka bagi rekonstruksi identitas Dayak Kenyah. tidak demikian halnya dengan ritual belian (penyembuhan) dan mamat bali akang (merayakan keberanian dalam tradisi mengayau). Sejatinya ritual adat yang direka-ulang diniatkan sebagai ikhtiar membangun kembali identitas Dayak Kenyah Lepoq Jalan. sebagaimana dinyatakan Samuel Robert Djukuw. mulai ”diutakatik” dan ”diputar ulang” untuk dihidupkan kembali dalam suasana kekinian. biasanya menyuguhkan makanan tradisional dari hasil pertanian. seperti lemang (makanan yang terbuat dari ketan dimasukkan dalam bambu lalu dibakar). terutama karena dua ritual itu telah lama sirna sejak komunitas Dayak Kenyah memeluk agama Kristen Protestan. Rame teqo’ajao2 (pesta panen) dan alaq tau (mencari hari baik dalam menanam padi) misalnya. Bila ritual yang bertalian dengan adat perladangan dinyatakan dapat ditampilkan kembali sebagai komoditas budaya.

Sejak perpindahan dari Apo Kayan (1967 -1974). yang juga Asisten 1 Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. Mereka merupakan kelompok migran dari kampung Long Nawang dan Long Ampung di Dataran Tinggi Apo Kayan di perbatasan Indonesia . Ihwal penemuan kembali (invention) kebudayaan Dayak Kenyah ini sejatinya menyimpan perkara menarik bertalian dengan persepsi dan sikap masyarakat sebagai konsekuensi logis terhadap penetapan Lung Anai sebagai Desa Budaya oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara.Geliat Perlawanan Basis Ketua Persekutuan Dayak Kalimantan Timur (PDKT). Peristiwa Ganyang Malaysia di era kepemimpinan Soekarno merupakan salah satu tonggak sejarah migrasi orang Dayak Kenyah. Dilema opsi itulah yang tertuang dalam tulisan ini.Malaysia.1966 memaksa komunitas Dayak bermigrasi ke tempat lain. Benarkah Desa Budaya merupakan jalan pembuka bagi upaya pemulihan identitas kultural Dayak Kenyah Lepoq Jalan? Deskripsi Geografis dan Demografis Orang Dayak Kenyah Lepoq Jalan mulai bermukim di Lung Anai sejak tahun 1985. 211 . yang kini termasuk wilayah Kabupaten Malinau. terutama mengenai resistensi dan siasat yang dimainkan komunitas Dayak Kenyah Lepoq Jalan di Lung Anai. selain ada yang antusias menyambut proyek Desa Budaya. ada pula resistensi dari warga setempat. Kabupaten Kutai Kartanegara. Namun sesungguhnya terdapat ikhtiar strategi survival yang mereka terapkan untuk merebut sumber penghidupan yang selama ini tercerabut akibat gempuran modernitas. Realitas sosial komunitas Dayak Kenyah di Lung Anai mengisyaratkan. Peristiwa Ganyang Malaysia pada 1963 .

Lung Anai semula salah satu dusun di Desa Sungai Payan. Hunian orang Dayak Kenyah Lepoq Jalan di Lung Anai diapit kampung Kuntap di sebelah hilir. terutama dengan alasan murah dan efisien. dan Lung Anai di Kabupaten Kutai Kartanegara. ITCI. tatkala sumber air dari pegunungan dialirkan ke rumah warga. sungai bukan lagi menjadi esensi aktivitas mandi dan mencuci. Kabupaten Kutai Kartanegara. Sungai Bawang. Bahkan sejak 1994. Sejatinya kultur kehidupan sungai lambat laun mulai mereka tinggalkan. Gemar Baru dan Long Segar (Kabupaten Kutai Timur). Kecamatan Loa Kulu. Tepian Buah (Kabupaten Berau). yang membentang mengikuti alur sungai. Warga Dayak Kenyah Lepoq Jalan di Lung Anai tidak memiliki rakit jamban sebagaimana lazim permukiman suku Dayak yang berada di tepi sungai. di antaranya di Datah Bilang (Kabupaten Kutai Barat). Ritan Baru. Jalan sepanjang 25 kilometer ini menghubungkan Lung Anai dengan ibu kota Kecamatan Loa Kulu. Lekaq Kidau. 212 . Orang Dayak Kenyah di Lung Anai lebih intensif menggunakan transportasi darat daripada transportasi sungai.Geliat Perlawanan Basis sebagian dari mereka menetap di Malaysia dan sebagian melakukan perjalanan panjang migrasi ke sejumlah wilayah di Kalimantan Timur. Provinsi Kalimantan Timur. Posisi perkampungan Long Anai tidak mengikuti pola ruang seperti kampung Kuntap dan Sentuk. Hingga saat ini terdapat 22 kawasan konsentrasi hunian orang Kenyah Lepoq Jalan di Kalimantan Timur. dan di sebelah hulu adalah kampung Sentuk yang dihuni suku Kutai dan Banjar. tepat di ujung kampung permukiman warga terdapat jalan raya bekas jalan perusahaan HPH PT. Sentosa. melainkan membentuk pola huruf T dengan tidak mengikuti alur sungai. Pola khas lainnya. yang dihuni suku Dayak Tunjung Benuaq.

213 . Namun. politik (pemilu dan pilkada). Namun karena “perjuangan” para elite Dayak Kenyah yang memiliki kedekatan dengan kekuasaan birokrasi di Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. mereka dianggap tidak memiliki hak menguasai wilayah di sekitar desa. Selain persoalan komodifikasi kebudayaan. Dalam benak mereka. serta penemuan kembali budaya yang sirna. tidaklah mungkin Desa Budaya tanpa memiliki areal ladang. meski secara administratif belum memenuhi persyaratan sebagai desa. pada sisi lain. Kebiasaan berladang niscaya membutuhkan areal yang cukup luas. sebagai pendatang. Penetapan Lung Anai sebagai Desa Budaya mereka percayai sebagai salah satu peluang untuk memastikan kepemilikan sumbersumber penghidupan secara sah sebagai sarana mengekspresikan identitas budaya. warga setempat justru memandang sebagai jalan strategis untuk merebut kembali penguasaan sumber-sumber penghidupan. Maka. pun areal perkampungan. kawasan perladangan mereka di Benuang sebelah hilir Lung Anai statusnya adalah ladang yang dipinjamkan orang Kutai kepada warga setempat. Bahkan. Contoh konkretnya. Stigma sebagai pendatang yang tak memiliki hak penguasaan sumber daya. Lung Anai dapat ditetapkan sebagai desa. Namun. ditambah dengan gelar Desa Budaya. menjadi persoalan hakiki dalam kehidupan mereka. karena tradisi perladangan dan model perkampungan lokal merupakan karakter identitas budaya Dayak Kenyah. diaspora geografis dan demografi Dayak Kenyah di Lung Anai dalam konteks Desa Budaya pada satu sisi dimanfaatkan sebagian elit eDayak Kenyah untuk kepentingan ekonomi (event pariwisata).Geliat Perlawanan Basis Sejak tahun 2007 dusun Lung Anai ditetapkan sebagai desa defenitif. kehadiran mereka di Lung Anai sejatinya dikepung oleh ragam masalah.

Timai. Alim. Lung. dapat disimak dalam Central Borneo. Badeng. Tunjung. Ethnic Identity and Social Life Stratified Society. Apou Lingat. yakni Umaq Daduq. Dalam ingatan Pirin. Mereka hidup berkelompok dalam sistem hunian umaq. perpindahan Dayak Kenyah dapat dikenali dalam tiga periode penting. dan Ma’ut. Timai. sekitar abad ke-17. Lasan. Bem. Lulau. Riwayat kehidupan mereka merupakan sejarah gerak perpindahan jarak dekat. Qe. tatkala mereka menetap pertama kali di kawasan Apo Kayan.6 Migrasi gelombang kedua berlangsung pada masa kolonial sekitar tahun 1900. Pertama. 1990 Penjelasan selengkapnya lihat pada artikel bertajuk “Sejarah dan Pola Perpindahan di Kalangan Orang Kayan dan Kenyah dari Apokayan” karangan Christina Eghenter. Baka. dalam buku “Kebudayaan dan Pelestarian Alam: Penelitian Interdisipliner di Pedalaman Kalimantan”. jauh. Selabing. Ford Foundation dan PHPA. Tukung. Perpindahan mereka membentuk kerangka sejarah prakolonial di kawasan Kalimantan dan terekam dalam tradisi lisan Dayak Kenyah. pada masa prakolonial. Jakarta. Tepu. Jerome Rousseau. Kayan. Migrasi gelombang ketiga berlangsung pada masa Republik Indonesia 3 Lepoq yang termasuk dalam kategori subsuku Dayak Kenyah adalah Lepoq Jalan. Lalut Labok. Penjelasan selengkapnya mengenai sejarah migrasi Dayak Kenyah. Bakung. Punan. Sungan. Tau. Migrasi bagi kalangan Dayak Kenyah merupakan bagian dari sejarah kehidupan. Drak Tuan. Oxford: Clarendom Press. WWF. Naa.Geliat Perlawanan Basis Jejak Migrasi Dayak Kenyah Lepoq Jalan Ihwal suku Dayak Kenyah Lepoq Jalan3 bermula sebagai salah satu suku Dayak yang mendiami wilayah Apo Kayan di kawasan perbatasan Indonesia . Krayan. dari. Juman.Malaysia. Lung Tisai. Kulit. dan Ampung. dan melewati pedalaman Kalimantan. ke.5 Dalam perspektif historis. terdapat 12 umaq dalam rumpun Lepoq Jalan. 1999 4 5 6 214 . Di kawasan Apo Kayan setidaknya terdapat 12 umaq4 (rumah panjang) dan setiap umaq dihuni berpuluh kepala keluarga.

Peristiwa Konfrontasi Malaysia membuat gelombang migran besar-besaran dari tanah leluhur Apo Kayan. Kepala Adat sebenarnya 215 . Diaspora ini berlangsung begitu ”mengerikan”. karena tak ada satu orang Kenyah pun yang kala itu tahu persis ke mana daerah yang akan dituju. ada yang sampai cerai dengan suami atau istrinya karena ada yang mau pindah dan ada yang mau tetap di Apo Kayan. Pertama kali ia meninggalkan Apo Kayan beserta rombongan ratusan orang. Yang diingat saat saat itu ia masih gadis. ketika pindah dari Apo Kayan ke Lung Anai. Kami pindah karena ada imbauan dari Camat Long Nawang untuk segera pindah bagi yang mau pindah. Penggalan peristiwa eksodus itu dituturkan Taman Dion: ”Waktu berangkat dari Apo Kayan. dan Orde Baru melalui proyek Reseltemen Penduduk (Respen) sejak tahun 1970. di masa otonomi daerah proses migrasi terus berlanjut. teristimewa semasa Konfrontasi Malaysia (1963-1967). Tidak ada informasi persis berapa jumlah gelombang migran dari Apo Kayan ke wilayah lain. Lalu lambat-laun kelompok lain mengikuti eksodus dengan jumlah semakin banyak. Disusul kelompok Umaq Lulau dengan 50 kepala keluarga. Rombongan kami sekitar 500-an orang. Dalam ingatan Pirin. meski sedih rasanya meninggalkan kampung leluhur. Ia tidak ingat kapan peristiwa itu terjadi. Umaq Lung Tisai disebut-sebut sebagai kelompok pertama yang pindah dengan jumlah sekitar 200 kepala keluarga. mereka melalui delapan tempat persinggahan. kemudian Umaq Sungan dengan 50 kepala keluarga. warga Lung Anai. Akibat dari perpindahan ini.Geliat Perlawanan Basis yang berlangsung pada kekuasaan rezim Orde Lama. Bahkan. Kami memilih pindah. umur saya sekitar 25 tahun.

Kabupaten Kutai Kartanegara). yang kala itu dikenal dengan istilah banjirkap. Di tempat ini mereka mulai mengadakan kontak dengan pedagang China yang membeli butiran emas. 216 .” Pola migrasi mereka bukan tunggal. tetapi kami tidak peduli. Lantaran Lekaq Way dianggap tidak cocok lagi sebagai hunian. menyusuri Sungai Luy. melewati Long Sule di Kecamatan Long Nawang. Mereka lalu berjalan kaki ke hulu Sungai Tabang.Geliat Perlawanan Basis tidak menginginkan pindah. Mereka menetap di tepi Sungai Lekaq Way sekitar sepuluh tahun. Perjalanan menuju Jeng ditempuh sekitar satu bulan menyusuri Sungai Kayan dan Sungai Lamp ke hilir. masih dalam wilayah Long Nawang. Di antara mereka ada juga yang menjual butiran emas ke Samarinda. mereka masih tetap berkeyakinan perjalanan harus dilanjutkan. Kami diam-diam saja meninggalkan kampung. terdapat beberapa tempat yang menjadi jalur perpindahan kolosal Dayak Kenyah. Selain berladang di Lekaq Way mereka bekerja mencari butiran emas dengan peralatan tradisional. Di hulu Sungai Tabang (kini masuk wilayah Kecamatan Tabang. demi mengikuti anjuran Pak Camat. Dari Apo Kayan mereka menuju Jeng. mereka melanjutkan perjalanan ke Belinau. Belinau adalah kampung yang sudah dihuni orang Dayak Punan. Salah satunya jalur perjalanan mereka seperti yang dilakukan kelompok Lung Tisai. Oleh sebab itu. Perjalanan dimulai lagi menuju Lekaq Way. mereka mulai mengenal kegiatan pembalakan kayu secara tradisional. Meski demikian. Di Jeng mereka bermukim selama tiga tahun. Mereka diterima bermukim di Belinau dengan memberi sebagian lahan untuk berladang. Mereka berladang sambil membuat perahu sebagai persiapan perjalanan selanjutnya.

Bertahun-tahun kami dalam perjalanan. Kabupaten Kutai Barat. Pindah ke Long Anai ini gara-gara Kepala Desa Long Segar menerima pekerja sebagai buruh perkebunan kelapa sawit dan kelapa hibrida. Kami merasa sulit tetap bertahan bersama. Kami melakukan survei di sekitar Lung Anai ini. dan Sentosa (Kabupaten Kutai Timur). Eksodus belum usai. hingga saat ini. Kabupaten Kutai Kartanegara. Jumlah yang mau pindah 25 KK. Kemudian melanjutkan perjalanan menyusuri Sungai Atan menuju ke Gemar Lama (kini termasuk wilayah Kecamatan Muara Ancalong. Pada tahun 1985 dan 1986 mereka melanjutkan eksodus ke Lung Anai. Kepala Adat Lung Anai menjelaskan riwayat perpindahan warga Dayak Kenyah Lepoq Jalan dari kampung Long Segar ke Lung Anai. maka tahun 1985 kami pindah ke sini. warga terbelah. Kabupaten Kutai Timur) dan menetap sekitar sepuluh tahun. Kecamatan Loa Kulu. Gemar Baru. 217 . kemudian bermukim sekitar dua tahun. orang Dayak Kenyah yang bermukin di Lung Anai tidak hanya kelompok migran Apo Kayan yang pernah menetap di kampung Long Segar. Jadinya. Setelah kami merasa yakin. Sebab. Mereka pindah ke Gemar Baru dan bermukim selama sepuluh tahun juga. Pelujuk: Waktu kami pindah dari Apo Kayan. ada sekitar 500 orang. pada tahun 2006 bergabung pula warga Dayak Kenyah Lepoq Jalan yang semula bermukim di Datah Bilang. Sejatinya. Tidak ada lagi persatuan. Setelah itu berpindah ke Lulau Lupa dan bermukim selama dua tahun. Kami pindah ke hilir hingga ke Long Segar. apakah cocok untuk dihuni.Geliat Perlawanan Basis Selanjutnya mereka meneruskan perjalanan hingga Sungai Pedohon. Lalu kami berkeinginan pindah.

atau Lung Anai sekadar persinggahan untuk meneruskan eksodus selanjutnya? Jawabannya niscaya terkait dengan proses penemuan identitas budaya Kenyah. salah seorang tetua adat. apakah penetapan Lung Anai sebagai Desa Budaya dapat membuat mereka betah menetap selamanya. Invensi Budaya yang Sirna Suasana peresmian Lung Anai sebagai Desa Budaya terasa gegap gempita. Mereka sibuk mempersiapkan acara penyambutan Wakil Bupati Kutai Kartanegara yang akan meresmikan desa mereka sebagai Desa Budaya. Pelujuk dan Pangit adalah tetua adat Kenyah yang melakukan survei sebelum memastikan Lung Anai layak dijadikan hunian. Para tetua adat tak henti memanggil warga melalui pengeras suara dengan bahasa Dayak Kenyah agar secepatnya datang ke Balai Adat untuk latihan terakhir.Geliat Perlawanan Basis Perkampungan Dayak Kenyah di Lung Anai semula dikenal dengan sebutan Tanah Merah yang dihuni komunitas Dayak Basap. Gitan dianggap sebagai kawasan yang cocok untuk perladangan. Lalu kami tanam singkong banyak-banyak. Warga Lung Anai terlihat tidak seperti lazimnya. Seiring dengan perkembangan zaman. 218 . Mereka katakan bisa saja menetap di sini. “Kami minta tanah sama orang Basap.” ujar Pelujuk mengenang riwayat perpindahan mereka. Setelah itu kami kembali ke Long Segar mengambil keluarga untuk pindah. Awalnya mereka memilih Gitan yang sudah dihuni komunitas Dayak Basap. sebagaimana dituturkan Musa Din. karena sejatinya migrasi Dayak Kenyah adalah perjalanan sejarah identitas budaya mereka. sedangkan Lung Anai dipilih sebagai tempat pemukiman karena dianggap cocok untuk hunian.

Ada yang latihan menari. memanggil warga untuk pertemuan.. Mereka mengambil posisi sesuai tugas yang diberikan tetua adat. Saat ini mereka kesulitan mendapatkan jenis kayu ini. ”Mengapa kami disuruh menggali kembali tradisi? Bukankah tradisi memanjangkan telinga. Beberapa gadis Kenyah berjalan gemulai membawa baki berisi pemukul gong yang akan digunakan Wakil Bupati9 meresmikan Desa Budaya.. Beberapa orang tua. Namun sejak menganut agama Kristen Protestan. tong. Menurut Yurni. ikut menikmati latihan pada malam itu. Sesekali mereka terbahak-bahak dan bertepuk tangan. tanda bahaya dan darurat seperti kematian. Terdapat tiga jenis bunyi gong sesuai maksudnya. meski terkantuk-kantuk. hudoq7 (tari topeng). Sedangkan kentongan yang terbuat dari kayu mereka sebut gong. Langkanya kayu adau. Pui Pubun. (3).. mereka sedang berdiskusi mengapa tiba-tiba dusun Lung Anai ditingkatkan statusnya menjadi Desa Budaya. bertato. dibuat dari kayu adau.tong…tong. seperti tarian datun julud (tari masal). dan bermain musik sampeq8 serta jatun utan (kelentangan). 8 9 219 . kancet lasan (tari tunggal). Ada pula yang latihan upacara seremonial. yakni: (1). bunyi nadanya dipercepat.Geliat Perlawanan Basis Seluruh warga Lung Anai hadir memenuhi Balai Adat. Sampeq adalah alat musik petik khas Dayak. Kepala Dusun Lung Anai latihan mempraktikan memberikan sambutan. pemuda Dayak Kenyah. berbunyi tong…totong…tong. Memanggil warga untuk acara kesenian. tarian hudoq hanya untuk tarian kesenian saja. menyebutnya hanya untuk main-main saja. sekelompok anak muda asyik bergerombol memperbincangkan apa yang sedang terjadi di kampung. Komunitas Dayak Kenyah menyebut gong sebagai tawaq. Di luar Balai Adat.. Sedangkan ritual alaq tau (melihat bayangan matahari) dilaksanakan untuk menemukan waktu yang baik untuk memulai tanam padi. karena ada yang dianggap lucu. 7 Hudoq dalam tradisi Dayak merupakan tarian persembahan kepada penguasa alam yang dilaksanakan pada awal musim tanam padi. seiring dengan hilangnya hutan mereka. tari perang. (2). salah seorang tetua di Lung Anai.tong. bunyinya tong…tong… tong dengan nada lambat. Di Balai Adat lazim terdapat gong besar sebagai alat informasi memanggil warga.

maka mungkin diganti bahasanya. yang seharusnya warga bekerja di ladang. 220 . apa bisa dilakukan atau tidak. Maka pelaksanaan Alaq Tau pada acara peresmian Desa Budaya merupakan ikhtiar menghidupkan kembali kearifan lokal. Sebenarnya bulan September . Seandainya bisa. Musa Din. Kami pun dulu pernah ada waktu zaman menyembah Bungan Malan. karena diwajibkan ikut dalam kegiatan peresmian Desa Budaya.” Sebenarnya warga desa sudah 15 hari tidak pergi ke ladang. Padahal alaq tau atau mamat bali akang ditampilkan harus hati-hati. demi keberhasilan peresmian Desa Budaya. menuturkan: ”Peresmian Desa Budaya hanya diperagakan sesuai pesanan orang-orang dari Kabupaten dan Dinas Pariwisata. mereka memiliki kebiasaan melalukan ritual alaq tau (melihat bayangan matahari) untuk mencari waktu yang tepat menamam padi. Itulah sejumlah pertanyaan yang sempat terekam dari perbincangan anak-anak muda yang gamang terhadap upaya penemuan kembali budaya yang telah sirna. Mengenai riwayat peresmian Lung Anai sebagai Desa Budaya.Geliat Perlawanan Basis menari. menyanyi sudah lama tak dilakukan? Jika dilakukan hanya sebagai pertunjukan yang berhubungan dengan ritual. warga Dayak Kenyah. Maka kita mesti lihat dulu. Sebelum menganut agama Kristen Protestan. Alaq tau10 yang diperagakan baru pertama kali saya saksikan. Saya juga tidak mengerti betul budaya Kenyah. 10 Alaq Tau sesungguhnya merupakan local wisdom astronomi lokal. orangnya kesurupan. Namun setiap malam warga terpaksa mengikuti latihan kesenian. Begitu juga belian. Masalahnya ada yang pernah menjalankan.” ujar Yurni.Oktober adalah musim nugal. bisa saja tetapi mungkin mantranya yang diganti. tetapi karena terlalu menghayati.

Mereka berikhtiar tiada henti menggali tradisi dan mempraktikkan kembali pelbagai ritual adat dalam kehidupan sehari-hari.Geliat Perlawanan Basis Begitulah faktanya. agar kebudayaan Dayak Kenyah tak sirna ditelan zaman. Ya. Artinya. 221 . Tak heran jika para tokoh masyarakat Dayak Kenyah. warga desa harus mampu berperan sebagai duta budaya dengan mengekspresikan tradisi dan penanda ke-Dayakan mereka. bermain sampeq. dan bertato. Bahkan Wakil Bupati Syamsuri Aspar menganggap Samuel berjasa dalam proses penetapan Lung Anai sebagai Desa Budaya. Sebagian warga Lung Anai menganggap acara peresmian Desa Budaya justru mengganggu kegiatan berladang. Orang tua diajak untuk tidak lupa mengajari anak-anak menari. Sejak Lung Anai dikukuhkan sebagai Desa Budaya. sebagaimana dituturkan salah seorang warga setempat. mengganggu juga kita cari makan. warga setempat terasa menyandang beban gelar tersebut. salah seorang warga Lung Anai. ”Sejak ada desa budaya banyak betul kegiatan di kampung. “Terwujudnya Desa Budaya Lung Anai tidak terlepas dari perjuangan Samuel Robert Djukuw. Ritual belian (tradisi pengobatan) dan ritual mamat bali akang yang mengandung unsur sosio-magis kembali dihidupkan. terutama mereka yang berasal dari kota. yang saat peresmian Desa Budaya menjabat Kepala Dinas Pariwisata.” kata Syamsuri Aspar.” ujar Amat. Penetapan Lung Anai sebagai Desa Budaya memiliki implikasi terhadap warganya yang harus bertindak selaku duta budaya. sebagaimana diungkapkan Samuel Robert Djukuw. tahun lalu saja ada 8 kali. senantiasa menyerukan warga agar berupaya terus-menerus menggali kembali tradisi. dan sepuluh hari kemudian diangkat menjadi Asisten 1 Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. Elite Dayak yang bekerja di pemerintahan justru amat bersemangat dengan peresmian Desa Budaya. memanjangkan daun telinga.

pudau (mohon berkat saat menugal). Ajaran mereka disebut agama Bungan.Geliat Perlawanan Basis Padahal. simak dalam artikel karangan Fredrik Ngindra. Misalnya menyat tana (memohon kesuburan tanah). Pada hakikatnya Bungan Malan Paselong Luan adalah dewa-dewi yang melindungi kehidupan. Tentu saja beberapa ritual upacara adat agama Bungan mengundang perdebatan argumentasi di kalangan warga.11 Dalam keyakinan orang Dayak Kenyah. malan tau (menjalani pantangan agar panen berhasil). Selain bertalian dengan siklus pertanian. dan bunut (panen padi). bertajuk “Upacara Agama Bungan pada Masyarakat Kenyah Bakung di Long Apan Baru”. Terdapat juga ritual adat yang bertalian dengan upacara kelahiran. WWF. Jakarta. praktik agama Bungan berkaitan pula dengan ritual penyembuhan. yang dipercayai bertentangan dengan agama Kristen Protestan yang mereka anut saat ini. Bungan Malan dipercayai sebagai seorang dewi dan Paselong Luan seorang dewa. tetapi terutama karena 11 Uraian selengkapnya. Agama Bungan pertama kali diperkenalkan oleh Jok Apuy yang berasal dari suku Dayak Kenyah Leppo Jalan. Dalam agama Bungan terdapat beberapa upacara ritual berkaitan dengan pertanian. dalam buku “Kebudayaan dan Pelestarian Alam: Penelitian Interdisipliner di Pedalaman Kalimantan”. perkawinan. Perdebatan itu tidak semata karena warga Dayak Kenyah telah meninggalkannya sejak 40 tahun silam. maka ajaran agama Bungan hakikatnya tentang kepercayaan terhadap amenamen (para dewa). penyunting Cristina Eghenter dan Bernard Sellato. kedua ritual ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari konsep ajaran agama lokal Dayak Kenyah yang dahulu dikenal dengan Bungan Malan Paselong Luan. Misalnya belian (pengobatan) dan mending (mengusir roh jahat). Ford Foundation dan PHPA. 1999 222 . dan kematian.

bagi Samuel Legi. Kalau dulu ritual ditujukan kepada para dewa. memotong kepala/ngayau. atau dipertahankan sebagai tontonan saja. tanpa resistensi dari warga setempat. karena sudah ada agama. penyucian kampung. Kepala Adat Sungai Bawang. “Ritual belian dan mamat tidak perlu lagi dipahami sebagai keyakinan. walaupun prosesinya ritual adat. Demikianlah faktanya. Istilah mamat dalam tradisi semula menunjukkan pesta agung berupa serangkaian upacara: pesta tahun baru padi. Ritual upacara mamat sebenarnya sudah lama ditinggalkan orang Dayak Kenyah di Lung Anai karena dilarang agama.” kata Samuel yang berupaya mendamaikan perbedaan pendapat dalam memaknai kelampauan ritual adat dalam kondisi kekinian. ritual adat belian dapat ditumbuhkan kembali. yakni belian dan mamat. dan penentuan kedewasaan seseorang. Begitu pula ritual mamat. penambahan semangat berperang. komunitas Dayak Kenyah di Lung Anai terpaksa melakukan kompromi dan negosiasi agar warisan budaya yang mengandung unsur religus-magis dapat direka ulang dan tampil di panggung Desa Budaya dalam kemasan industri wisata. tetapi tidak untuk diyakini seperti zaman dulu. Mantra doanya bisa dialihkan kepada Tuhan. 223 . Namun. Upacara mamat dilaksanakan seusai panen selama tujuh hari tujuh malam dan merupakan penanda terpenting dalam siklus kehidupan orang Dayak Kenyah. sekarang bisa dialihkan kepada Tuhan. dalam proses invensi budaya.Geliat Perlawanan Basis kebijakan Gereja Kristen Protestan menganggap ritual itu terlarang lantaran mengandung unsur magis dan tahayul Setidaknya dua ritual adat menjadi perdebatan sengit. dapat diramu sedemikian rupa dengan doa Kristen.

“Kami ini orang Dayak Kenyah Lepoq Jalan. yang lebih penting. Tak pelak penetapan Desa Budaya pada satu sisi memunculkan harapan bagi masyarakat untuk penguasaan sumber penghidupan dan mempertahankan hak tanah-tanah mereka. justru dimaknai masyarakat sebagai siasat untuk penguasaan sumber-sumber penghidupan. Bisa jadi kami pindah lagi mencari hunian baru. yang bukan arti sesungguhnya). sehingga kami tidak lagi pindah ke mana-mana. Status Lung Anai sebagai Desa Budaya justru dimanfaatkan sebagai jalan pembuka bagi peneguhan eksistensi mereka di Lung Anai. Mamak Weq misalnya. “Desa budaya hanya untuk membuktikan kami punya tradisi. menganggap Desa Budaya merupakan sarana strategis untuk memastikan mereka tetap bisa berdomisili di Lung Anai dan memiliki hak penguasaan tanah yang berkekuatan yuridis formal. predikat desa budaya melegakan hati. Lung Anai mungkin bukan tempat terakhir. Sedangkan menurut Aweq. 224 .” ujar Mamak Weq penuh keyakinan. orang yang suka berjalan (tafsiran canda Aweq. karena ada kepastian mereka tidak akan lagi melakukan perjalanan migrasi dalam pengertian pindah atau dipindahkan dari Lung Anai.” kata Yurni.” ujar Aweq penuh semangat. Namun. hak kepemilikan kami menjadi lebih kuat. berpindah dari suatu tempat ke tempat lain.Geliat Perlawanan Basis Siasat Penguasaan Sumber Penghidupan Penemuan kembali budaya yang sirna di kalangan warga Dayak Kenyah dengan konsekuensi dilema yang mesti dihadapi. “Rasanya dengan status Desa Budaya. kami menetap di sini. pemuda Dayak Kenyah di Lung Anai. Tapi karena ada Desa Budaya. tanah-tanah kami memiliki sertifikat. sehingga kami dapat mempertahankan tanah dari klaim kepemilikan pihak luar. Namanya juga Lepoq Jalan.

termasuk kepemilikan tanah di desa. Ikhtiar penguasaan sumber penghidupan diakui Kepala Desa Lung Anai yang segera membuat surat-surat kepemilikan tanah orang Kenyah di Lung Anai. antara elite Dayak Kenyah dan warga setempat bersimpang jalan dalam esensi tujuan. Siasat penguasaan sumber penghidupan yang dilakukan warga Lung Anai tidak sepenuhnya dipahami elite Dayak Kenyah di Tenggarong (ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara) dan Samarinda (ibu kota Provinsi Kalimantan Timur) yang tergabung dalam Persekutuan Dayak Kalimantan Timur (PDKT). Desa Budaya merupakan salah satu cara untuk memperjuangkan pengakuan dari pemerintah terhadap keberadaan mereka di Desa Lung Anai. karena di antara mereka memiliki tujuan berbeda. Sejatinya penemuan kembali budaya yang sirna dengan menggali tradisi. oleh warga setempat dianggap tidak dibutuhkan lagi. Mereka menyadari keberadaannya sebagai pendatang.Geliat Perlawanan Basis Keyakinan pendapat Mamak Weq dan Aweq bukan tanpa alasan. salah satu persoalan yang sangat mengkhawatirkan bagi mereka adalah status penguasaan sumber penghidupan. mulai dari tanah permukiman sampai tanah perkebunan. Lantaran sebelum Lung Anai ditetapkan sebagai Desa Budaya. Mereka hanya berkompromi dalam hal kesenian yang sekadar ditampilkan untuk dipertontonkan pada agenda pariwisata. “Saya sudah mulai membuatkan surat-surat tanah milik masyarakat. termasuk ekspansi lahan perusahan perkebunan kelapa sawit di sekitar kampung Lung Anai. Meski Desa Budaya disepakati sebagai upaya penemuan kembali budaya yang sirna. 225 . Sewaktu-waktu kepemilikan atas sumber penghidupan dapat diklaim oleh komunitas lain yang mengaku sebagai pemilik semula. Oleh karena itu.” ujar Tingai Lawing.

Bahkan mereka semakin tercerabut dari akar kebudayaannya. 12 Gong Penutup Riwayat migrasi komunitas Dayak Kenyah Lepoq Jalan sejak di Apo Kayan hingga tiba di Lung Anai sesungguhnya menyimpan catatan sejarah yang tidak semata beraura heroik. mengaku sudah menganggap ritual malang tau (proses mencari ladang) dan alemiud (berpantang) tidak diperlukan lagi. 12 Bagi mereka yang sedang malang ta’u atau mencari area ladang. Sedangkan mereka yang sudah menebas pohon lantas menemukan duktalun (sejenis monyet. maka diharuskan menunda kegiatan mencari ladang dan segera pulang ke rumah. Seiring dengan penemuan Lung Anai sebagai ”tanah terjanji”. saat dalam perjalanan mencari ladang berjumpa burung isit yang terbang di depan dari sisi kiri ke kanan. Bahkan. 226 . maka harus melakukan ritual alemiud (pura-pura bermalam). mereka harus berhadapan dengan ketidakjelasan status kepemilikan terhadap sumber-sumber penghidupan. tetapi juga serpihan sejarah kelam kesirnaan identitas sebagai orang Dayak. diyakini area itu tidak cocok untuk berladang. Begitu pula penanda fisik identitas budaya seperti tato dan telinga panjang. Berpurapura bermalam dapat dilakukan jika burung isit melintas sekali saja. misalnya. bentuk badannya lebih kecil). Yurni. Bila burung itu melintas tiga kali dalam sehari. Jika tidak. sudah tidak relevan seiring kemajuan zaman. karena sudah tidak relevan dengan kehidupan saat ini. maka harus ditinggalkan dan mencari tempat lain yang lebih baik. hingga hampir seluruh sistem kebudayaan sirna seiring dengan derasnya arus modernisasi di era otonomi daerah.Geliat Perlawanan Basis Berbagai tarian berkaitan dengan ritus adat tak lagi bermakna apa-apa bagi mereka. diyakini akan terkena musibah. sistem religi sebagai esensi dari local wisdom yang bersumber dari ”agama bumi” Bungan Malan sirna pula lantaran derasnya gempuran ”agama langit” Kristen Protestan.

227 . bukan lagi tuntutan (wisdom) sebagaimana kehidupan para leluhur. dalam kondisi dilematis harapan membuncah untuk menemukan kembali peradaban silam yang sirna. Sebagian dari mereka merasa gamang. justru mereka menemukan makna Desa Budaya merupakan jalan siasat bagi penguasaan sumber-sumber penghidupan. karena tak menemukan pijakan relevansi terhadap invensi budaya dalam kondisi kehidupan kekinian yang kian bercorak modernitas.Geliat Perlawanan Basis Hingga akhirnya mereka dipaksa bersentuhan dengan ”roh modernisasi” yang bergentayangan dalam kemasan Desa Budaya. Pada sisi lain diyakini sebagai siasat jitu penguasaan sumber-sumber penghidupan. Memang sejarah tak mengenal jalan pulang. pada satu sisi bermakna sebagai ikhtiar invensi budaya memaknai riwayat kelampauan dalam konteks kekinian. Di tengah pergumulan hidup menanggung beban gelar duta budaya. Kemudian mereka melakoni sebagai aktor dalam ikhtiar menggali. mengingat. Komodifikasi budaya Dayak Kenyah melalui Desa Budaya. Meski demikian. Sejatinya orang Dayak Kenyah di Lung Anai berkehendak tak ingin menjadi tumbal modernisasi berlabel Desa Budaya. maknanya sekadar tontonan (art). Maka dunia masa silam beraura eksotis-magis dipercayai sebagai komoditas industri wisata. dan memerankan kembali sebagai pelaku tradisi leluhur yang telah lama mereka tinggalkan.

.

Geliat Perlawanan Kultural Komunitas Nyerakat di Tengah Gempuran Modernitas Simpul Kalimantan Timur – FBB Prakarsa Rakyat 1 Pengantar S 1 ekambing. Segendis. Abdullah Naim. begitulah sebutan awal sebuah kawasan di Kecamatan Bontang Selatan. Teluk Kadere. Seiring perkembangan otonomi daerah. Provinsi Kalimantan Timur. Merah Johansyah Ismail dan Abdullah Naim adalah peneliti budaya pada Naladwipa Institute for Social and Culture Studies. dan Sekangat. Kota Bontang. Ketiganya berdomisili di Samarinda. Santan. yang terdiri atas Dusun Nyerakat. dan Roedy Haryo Widjono AMZ. sejak tahun 2006 Pemerintah Kota Bontang menetapkan kawasan itu sebagai Tulisan dipersiapkan oleh Merah Johansyah Ismail. Pagung. Kalimantan Timur. Roedy Haryo Widjono AMZ adalah Koordinator Komunitas Studi Silang Budaya (Nomaden Institute for Cross Culture Studies). 229 . Baltim.

Akses menuju Nyerakat dapat ditempuh melalui tiga jalur. juga merupakan manifestasi identitas kultural komunitas Nyerakat. Jalan yang dulu milik perusahaan HPH CV Rangga Jati dan CV GST (sudah tidak beroperasi). Di beberapa ruas jalan terdapat beberapa pos penjaga yang bertugas mengawasi pengguna jalan. Maklum ini adalah jalan penghubung kota Bontang dengan Sekambing (Bontang Lestari) yang dinobatkan Pemkot Bontang sebagai kota satelit. karena selain digunakan sebagai moda transportasi angkutan batu bara. Nyerakat misalnya. jalan ini dimanfaatkan juga sebagai jalan alternatif oleh masyarakat Nyerakat dan sekitarnya. terutama karena sebutan nama dusun sekaligus merupakan sebutan bagi komunitas setempat. Perahu-perahu nelayan dilarang memasuki kawasan itu. Menyalakan lampu walau di siang hari sudah menjadi keharusan bagi semua pengendara. kemudian masuk jalan perusahaan batu bara PT Indominco Mandiri. Pertama. kini tertata megah dengan konstruksi jalan dua jalur. selain merupakan nama dusun. Tentu saja perubahan nama itu memiliki konsekuensi sosio-kultural. Bahkan di sepanjang pantai terdapat papan peringatan ”Dilarang 230 . Akses jalan ini dilalui mobil-mobil raksasa pengangkut batu bara yang setiap saat mengancam keselamatan warga yang melintasi jalan bertabur debu itu. Jalur kedua. Dari Kampung Nyerakat hingga kawasan Pelabuhan Tanjung Laut terdapat kawasan perusahaan PT Badak LNG yang mengeksploitasi gas bumi sekaligus menguasai seluruh pantai di wilayah Bontang. Jalur ketiga melalui laut.Geliat Perlawanan Basis kelurahan dan mengubah nama Sekambing menjadi Bontang Lestari. lewat poros jalan Km 10 di ujung selatan Bontang. yang sejak semula digunakan masyarakat Nyerakat sebagai jalur transportasi utama. melalui poros jalan raya Bontang yang menjadi megaproyek Pemerintah Kota Bontang.

Tak pelak Nyerakat kini dikepung kekuatan raksasa berdaya rusak tinggi terhadap budaya orang Nyerakat. Mulanya ada empat keluarga sebagai perintis hunian di Nyerakat. Nyerakat mulai dihuni sejak tahun 1942. Ketika itu tentara Jepang mulai mendarat di Bontang. Stadion utama yang digunakan untuk PON XVII dan kantor DPRD Bontang dibangun dengan megah di kawasan ini. Nyerakat menjadi pilihan strategis karena tempatnya tersembunyi oleh hutan bakau yang membentang di sepanjang pantai. Kekuatan pertama adalah perusahaan (PT Badak LNG dan PT Indominco) yang terus melakukan eksplorasi sumber daya alam di darat dan laut. Bila warga kampung mendekat ke kawasan pantai pasti ditegur oleh satpam.Geliat Perlawanan Basis menambatkan perahu di kawasan pantai Marina”. Ihwal Komunitas: Historis Etnis dan Ritual Adat Dalam ingatan warga setempat. yang terus bernafsu membangun megaproyek di kawasan Bontang Lestari. Motifnya bersembunyi dari kejaran tentara Jepang yang mulai menyisir daerah pantai. Kekuatan kedua adalah Pemerintah Kota Bontang. pasti diusir. sebelum PT Badak beroperasi pada tahun 1978. Sekambing yang kini manyandang nama baru Kelurahan Bontang Lestari terbilang penting dan strategis dalam geliat proses pembangunan di era otonomi daerah. Apalagi bila ada warga yang menambatkan perahu di pantai yang semula menjadi sumber penghidupan mereka. Ironisnya. Hutan bakau ini membentang 231 . Kekuatan ketiga adalah stigma dari para pemuka agama yang bersikukuh pada tafsir tunggal kebenaran ajaran agama. Kekuatan keempat adalah hegemoni negara melalui pemaksaan program pariwisata dan kesehatan. justru komunitas Nyerakat kini menjadi tumbal modernisasi dalam kemasan otonomi daerah.

Sejak awal warga Nyerakat terdiri atas beragam etnis hingga membentuk satu identitas “suku” baru yang mereka sebut Melayu Bontang atau yang dalam tata pergaulan sehari-hari mereka menyebut diri orang Nyerakat sebagai penanda identitas etnis dan kawasan hunian. Secara sosiologis. Orang Nyerakat lebih panjang pada vokal a pada kata maaha dan sejenisnya. Ada juga yang serupa bahasa Melayu Malaysia ”ini bukanlah urusan budak-budak” (ini bukan urusan anak-anak) atau ”tak hendakku” yang lazim disingkat ”tekendakku” (saya tidak mau). yang kala itu disebut banjirkap.Geliat Perlawanan Basis sepanjang 1 kilometer dari “bibir” pelabuhan kampung ke muara laut. sesuai dengan nama kayu yang banyak tumbuh di tempat ini. Namun diksi yang paling dominan digunakan bermuasal dari bahasa Kutai. Kawasan hunian itu mereka beri nama Nyerakat. seperti ”mengapa kau gadoi” (kenapa kamu campuri). ketika sedang ramai pembalakan kayu secara tradisional. Ada juga istilah yang mirip bahasa Makassar. Namun ucapan maaha dalam bahasa Nyerakat berbeda bunyi dari kosa kata maha pada komunitas Kutai. pemberian nama Nyerakat dimaknai sebagai ekspresi kehendak warga agar rekat satu sama lain. 232 . Bahasa yang mereka gunakan terdapat kosa kata mirip bahasa Bugis. Penggunaan bahasa pada komunitas Nyerakat menegaskan hibriditas komunitas ini. Rombongan berikutnya datang dari Bontang Kuala dan Sekangat sekitar tahun 1969. seperti ungkapan kata berakhiran maaha. Di kawasan hunian baru itu mereka membuka ladang pertanian. Kayu jenis nyerakat terkenal kuat untuk bahan membuat perahu. semisal ”sandro” (dukun). Misalnya ”berdua maaha” (berdua saja).

terbangan. Selain bahasa sebagai penanda interaksi sosial. diawali dengan mengundang para arwah leluhur. lepas ayam (untuk menenangkan makhluk halus). kampung. dan China berkumpul untuk maksud perniagaan. dan hutan yang mereka sebut sebagai sahabat. Dalam ingatan warga. Pertunjukan sandiwara mamanda dan kesenian lainnya dilakukan di sela-sela ritual bebalai yang pada masa dulu dilaksanakan selama 11 hari. sungai. Kesenian dan ritual adat yang menjadi karakter multietnis tumbuh dan berkembang dalam komunitas Nyerakat hingga saat ini. nurungkan pisang (mappeno salo’). Kutai. dan Sekangat merupakan tempat awal perjumpaan multi-etnis di kawasan Bontang Kuala. Senganakan. Selangan. Namun belakangan kesenian rakyat seperti mamanda dan jepenan amat jarang dipentaskan dibanding ritual bebalai. Bajo. karang. Bukti lain yang memperkuat fakta. ance (membuang pisang). sejak dulu di Bontang Kuala dan Sekangat dipentaskan kesenian multi-etnis seperti mamanda (sandiwara tradisional Kutai). terdapat pula tempat bersejarah bagi perjumpaan mereka dengan etnis lain. Upacara adat bebalai oleh komunitas Nyerakat dimaknai sebagai ritual pengobatan dan ikhtiar bagi harmoni kosmologi. Multilingual ini menjadi tanda mereka mengalami perjumpaan kultural yang amat erat dengan berbagai komunitas. Sementara untuk laku ritual terdapat bebalai. Ritual turun-temurun ini dilaksanakan pada akhir tahun. dan kuntaw (pencak silat).Geliat Perlawanan Basis Komunitas Nyerakat generasi tua lazim menggunakan bahasa Bugis. 233 . dan mandi buyu (mandi untuk bayi yang terkena penyakit). dan Bajo. Mandar. penguasa laut. di tempat-tempat itulah orang Bugis. jepenan. Bontang Kuala. mandi bunga (pernikahan adat).

Sebagian dari mereka berpendapat bebalai adalah ritual pengobatan warisan suku Kutai. sungai. serta warga setempat. dan hutan menyatu dalam ritual tradisi leluhur. tinggi 2. Langkah dan hentakan kaki pemimpin ritual bebalai. Tetapi Midin mengaku ada beberapa kesamaan antara bebalai dengan ritual belian pada suku Dayak Benuaq. Sulawesi Selatan. Sejatinya Nyerakat dengan ritual bebalai menjadi wahana berkumpul para arwah leluhur dan penguasa alam. darat. Seraya larut dalam suara musik dan tarian bebalai. Bukan hanya warga Nyerakat. ritual bebalai memang berasal dari Makassar.Geliat Perlawanan Basis Selain itu. Ritual bebalai senantiasa disertai tarian diiringi musik gong. Sedangkan yang lain menegaskan bebalai merupakan ritual dari Makassar. waktu masih di Makassar kalau sudah dilarung. juga mengundang semua warga untuk mengobati diri agar tetap sehat jasmani dan rohani. para penunggu laut. semua orang yang turun ke laut tidak basah. Dalam ingatan Mak Beda. “Saya pernah diceritakan oleh ayah. Mereka mengelilingi balai yang terbuat dari bambu persegi empat (1 x 1 meter. mereka yang ikut dalam pusaran tarian mengelilingi balai beberapa kali sudah bisa dipolesi pinang mayang (pucuk kelapa) sebagai medium pengobatan. Selangan dan Melahing yang masih dalam satu rumpun kultur juga hadir dalam ritual ini. Salah satu buktinya adalah tempat bebalai dan tariannya. komunitas Bontang Kuala. kelentangan. karang. Kesamaan juga 234 . Ritual bebalai berlangsung pada malam hari selama tiga hingga empat malam. hingga membentuk putaran tidak terputus. Kehadiran warga. yang menyerupai tarian diikuti keluarga dan warga. Sebenarnya muasal ritual bebalai masih menjadi perdebatan.5 meter) penuh dengan sesaji.” ujarnya. dan dua buah gendang.

Perubahan Nama: Marginalisasi Identitas Sejak Sekambing berubah menjadi Bontang Lestari. yang lazim menggunakan beras kuning. status Nyerakat yang semula dusun berubah menjadi RT 7 dan RT 8 (berdasarkan sisi kiri dan kanan yang dibelah jalan kampung).” ujar Kumala. Penggunaan kata Bontang Lestari sesungguhnya terkait dengan obsesi Pemkot Bontang untuk memastikan agar lingkungan tetap lestari. menurut pemimpin ritual bebalai seperti Mak Kumala dan Mak Beda. Contohnya mantra yang digunakan dari berbagai bahasa. Pembangunan megaproyek di Bontang Lestari justru 235 . Bahkan Sekambing memiliki riwayat identitas sosial dan kultural sebagai wujud pergulatan dan penghayatan panjang masyarakat dalam beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. tetapi sudah bercampur dengan ritual etnis lain. Oleh sebab itu. bebalai lebih tepat disebut ritual yang saling mengambil dan menerima. ”Ada bahasa Kutai. setiap dusun di kawasan Sekambing hingga saat ini tetap eksis menjalankan tradisi budaya yang diwarisi secara turun-temurun. Sedangkan Mak Beda memastikan ritual turun-temurun itu bermuasal dari Makassar. Bugis. seperti komunitas Nyerakat dengan ritual bebalai. Perubahan nama berdasarkan kepentingan administrasi pemerintahan itu bagi orang Nyerakat justru merupakan awal dari peminggiran identitas dan penegasian historis. Ritual bebalai juga mirip dengan ritual suku Kutai. termasuk Nyerakat. Namun obsesi itu justru paradoks dengan realitas empirik.Geliat Perlawanan Basis tampak pada warna dominan pada baju kuning dan beras kuning. Terlepas dari perdebatan muasal. ada juga Melayu. Sejatinya ihwal penamaan Sekambing terkait dengan kambing yang dulu banyak dipelihara warga setempat.

Sebenarnya janji akan menyejahterakan rakyat seiring dengan pembangunan megaproyek Bontang Lestari sudah tersebar dalam kampanye pemilihan Wali Kota Bontang. Ternyata betul beliau memenuhinya dengan pembangunan proyek pemerintahan.Geliat Perlawanan Basis membuat kerusakan lingkungan dan kawasan ini menjadi tidak lestari. Perubahan nama juga terkait dengan pembangunan mega proyek. ”Lestari sekadar retorika pemerintah.” Makanya orang Nyerakat tak peduli dengan perubahan nama. “Sekambing kurang sedap didengar. Sekambing pun diubah menjadi Bontang Lestari untuk memastikan bahwa pembangunan tetap lestari. Tak pelak. meski harus mengabaikan kepentingan warganya. seperti ditirukan Thamrin. menegaskan. “Pak Sofyan (Wali Kota Bontang saat ini) waktu kampaye menjanjikan akan membangun Nyerakat. Mengapa aparat birokrasi Pemkot Bontang alergi dengan sebutan Sekambing? Perubahan nama itu bertalian dengan ditetapkannya kawasan ini sebagai pusat pengembangan kota. Pemerintah memang belum bisa menjadi contoh bagi masyarakat.” kata Wali Kota Bontang Sofyan Hasdam. penamaan Bontang Lestari menjadi awal dari hegemoni persuasif dan sistematis aparat birokrasi dengan tujuan memastikan mega proyek berjalan mulus. Mereka tetap menyebut Sekambing. Buktinya pohon-pohon dan lingkungan malah diporak-porandakan demi pembangunan megaproyek. Anas. karena ada konotasi yang tidak enak.” kata Mak Kumala. dan nama Sekambing terasa tidak sedap sebagai penanda identitas kawasan. Salah seorang pemuda warga Nyerakat menyangsikan pembangunan megaproyek Bontang Lestari dilaksanakan demi 236 . Salah seorang penduduk Nyerakat. bukan Bontang Lestari. warga Nyerakat.

Midin misalnya. orang kota berdatangan ke kampung dan membeli tanah-tanah masyarakat. Menurut warga Nyerakat. kemudian 237 . sepanjang pengamatannya pembangunan itu tidak memberikan peluang apaapa bagi warga setempat. sebagian dari mereka yang rumahnya digusur mendapat ganti rugi Rp 3 juta. kontraktor pembangunan jalan. Lain lagi fakta mengenai pembangunan di kawasan Gedung Olah Raga Bontang Lestari yang juga dibangun di atas tanah warga.” ujarnya.Geliat Perlawanan Basis kepentingan kesejahteraan rakyat. mengaku tidak pernah diikutkan dalam pembahasan musyawarah perencanaan pembangunan di Nyerakat. Arbain. sebagian warga memilih menyewakan sebagian rumah kepada kontraktor proyek jalan. Sesungguhnya warga Nyerakat tidak pernah dilibatkan dalam perencanaan pembangunan di kawasan Bontang Lestari. Sahrul menegaskan. tetapi bukan dari pemerintah. Arbain dengan harga murah. melainkan dari H. Sebelum pembangunan stadion olah raga. Jalan sepanjang 22 kilometer lebar 22 meter dibangun di atas tanah rakyat tanpa ganti rugi. pembangunan megaproyek itu merusak sistem ekologi dan kultural. ”Malah.” kata Midin. tanah milik rakyat dibeli H. Karena intimidasi yang bertubi-tubi. Yang saya tahu. ”Aparat pemerintah tidak pernah memberi tahu kalau akan ada pembangunan proyek. Warga yang menuntut hak terus diintimidasi dan distigma sebagai pembangkang pembangunan. Penyakit Spekulan: Lapar Tanah Jalan Flores yang menghubungkan kawasan mega proyek Bontang Lestari dengan kota Bontang menyimpan riwayat tersendiri bagi orang Nyerakat. Ternyata untuk dibangun stadion.

Geliat Perlawanan Basis

dijual kepada pemerintah dengan harga mahal. Warga Nyerakat tahu H. Arbain adalah kontraktor jalan yang dikenal dekat dengan Wali Kota Bontang. H. Arbain membeli tanah warga seharga Rp 3.000 hingga Rp 5.000 per meter persegi, kemudian dijual kepada Pemerintah Kota Bontang seharga Rp 25.000 per meter persegi. “Maklum kita ini masyarakat kecil, tidak tahu apa-apa,” kata Mak Bian. Senyatanya hamparan tanah yang dulu milik warga Nyerakat kini telah berdiri megah Gedung Olah Raga Bontang Lestari seluas 50 hektare. Sejak kasus jual-beli tanah model H. Arbain merebak, sengketa kepemilikan tanah kian meruyak. Tanah-tanah rakyat yang tidak memiliki sertifikat serta-merta diklaim sebagai tanah negara oleh Pemerintah Kota Bontang. Tumpang tindih kepemilikan tanah semakin menjadi-jadi. Batas kepemilikan tanah kian silang sengkarut, karena saat pembuatan surat keterangan pemilikan tanah tidak diukur dengan saksama. “Batas tanah saat pengukuran diperkirakan saja. Misalnya ditulis 1 hektare, setelah diukur bisa kurang, bisa juga lebih,” ujar Thamrin, Ketua RT 8 Nyerakat. Uniknya, terjadi pula sengketa tanah hibah/wakaf. Misalnya tanah Masjid Nyerakat. Menurut warga, tanah itu sudah dihibahkan pemiliknya, tetapi tidak ada surat keterangan. “Karena suaminya tidak memberi tahu kepada istrinya sebelum meninggal, maka istrinya menuntut kembali,” papar Mak Kumala. Ironisnya, Kampung Nyerakat tidak memiliki tanah pekuburan. Begitulah faktanya, seiring dengan pembangunan megaproyek Bontang Lestari, tanah di sekitar Nyerakat menjadi rebutan para spekulan dari kota. Tak pelak, tanah milik warga kini beralih kepemilikan ke orang-orang kota. Misalnya, H. Ambo memiliki 7 petak empang seluas 4 hektare. Semula empang itu milik orang Nyerakat, kemudian dijual kepada H. Ambo, orang
238

Geliat Perlawanan Basis

Bontang. Sementara di sebelah empang H. Ambo terdapat 3 petak empang seluas 3 hektare milik H. Aziz, pengusaha Hotel Sanrego di kota Bontang. Tidak jauh dari kawasan stadion olahraga Bontang Lestari terdapat bangunan megah gedung kantor DPRD Bontang seluas 40 hektare. Di kawasan ini juga dibangun perumahan Korpri seluas 68 hektare di selatan Nyerakat, berdekatan dengan bangunan SD dan SMP seluas 38 hektare. Di sebelah utara dibangun Sekolah Tinggi Ilmu Teknologi seluas 32 hektare dan tanah di sampingnya dibebaskan oleh Pemkot Bontang. Di ujung Sekambing, hamparan tanah seluas 65 hektare juga telah dibebaskan oleh Pemkot Bontang. “Pemerintah sibuk membebaskan lahan, untuk apa saya tidak tahu,” kata Thamrin, warga Nyerakat. Pada sisi lain, menurut Thamrin, justru ada usaha pemerintah mempersulit warga yang hendak mengurus surat kepemilikan tanah. Warga harus membayar biaya administrasi yang sangat tinggi. Hadirnya pembangunan megaproyek Bontang Lestari sejatinya justru melahirkan sejumlah persoalan sosial. Di kawasan yang semula bernama Sekambing kini ada kesibukan baru bagi warganya, yakni menerima penawaran pembelian tanah dari para spekulan tanah. Tak urung hal itu membuat warga sibuk mengukur tanah mereka. “Saya sering didatangi orang kota yang mau membeli tanah atau sekadar lihat-lihat. Tetapi saya waspada, karena mereka mau menguasai tanah. Mereka sering menipu. Tanah saya sampai saat ini belum dibayar,” ujar Sahrul. Warga menganggap kehadiran megaproyek Bontang Lestari tidak mempunyai pengaruh apa-apa. “Gedung-gedung yang dibangun pemerintah tidak ada manfaatnya bagi kami. Juga tidak berpengaruh apa-apa sama kita, orang kecil ini,”
239

Geliat Perlawanan Basis

kata Sahrul. Realitas sosial itu paradoks dengan pesan Wali Kota Bontang yang selalu disampaikan dalam berbagai kesempatan, agar masyarakat tidak menjual tanah. “Masyarakat Nyerakat jangan menjual semua tanahnya,” kata Wali Kota Sofyan Hasdam, seperti ditirukan Dullah. Tanah rakyat yang masih tersisa namun terancam adalah tanah perkebunan. Kebun di Nyerakat kebanyakan ditanami sayur-sayuran dan lombok. Rata-rata mereka menggarap tanah perkebunan seluas setengah hektare. Setiap hari ada tengkulak yang mengumpulkan hasil kebun warga, lalu menjualnya ke pasar kota. Ahmidin, warga yang berkebun di tanah pinjaman, ratarata panen lombok 3 kilogram per hari dan dijual Rp 8.000 per kilogram. Hasil dari berkebun sayur sementara ini membuat keluarganya bisa tetap bertahan dari himpitan hidup yang kian berat. Ahmidin lebih senang berkebun ketimbang bekerja di proyek bangunan. “Dulu saya kerja di proyek, tetapi kerja kontrak, kemudian 3 bulan berhenti. Kalau kerja kebun terus ada kegiatan, meskipun hanya cukup untuk makan sehari-hari,” katanya. Hal senada dikatakan Ali. Berkebun adalah pertahanan terakhir. “Kalau kami tidak berkebun, ya mati. Mau masuk perusahaan, sudah tua begini, sedangkan proyek bangunan hanya sementara. Apalagi saya tidak pernah sekolah,” kata Ali, yang saat ini punya kebun kacang panjang seluas dua kali lapangan bola voli. Benar kiranya yang dikatakan Ali bahwa berkebun adalah pertahanan terakhir. Sesungguhnya sejak mereka menetap di Nyerakat telah mengolah ladang dan sawah yang lokasinya di sisi barat dan utara kampung. Mereka bekerja menurut kelompok keluarga. Namun ladang yang mereka garap semakin jauh dari kampung dan tidak subur lagi. Sedangkan sawah yang mereka
240

karena tinggal orang-orang tua.Geliat Perlawanan Basis garap juga tidak terlalu luas.” ujar Masdar. mantan Kepala Dusun Nyerakat.” ujarnya. Setelah riwayat pertanian berakhir. masyarakat Nyerakat mengalami kesulitan diterima bekerja di perusahaan. areal persawahan mereka tercemar limbah perusahaan batu bara Indominco Mandiri. Penderitaan itu kian bertambah setelah kawasan lahan mereka beralih fungsi menjadi bangunan megaproyek. “Air di persawahan bau minyak. sekitar 20 hektare. warga kampung sudah tidak sanggup menggarap sawah. Setiap hektare biasanya menghasilkan 100 hingga 200 kaleng padi. Menurut pengakuan warga. menurut pengakuan Anas. warga Nyerakat. Sejak itu warga Nyerakat tidak lagi menggarap sawah. Padahal. kerja belum tentu ada hasilnya. Selain serangan tikus ganas. Bahkan. menanam padi sekaleng kembali hanya sekaleng?” keluh Mak Bian. “Bagaimana tidak berhenti menggarap sawah. tikus. Menurut Mak Bian. Tahun 1999 menjadi tahun kenangan pahit penduduk kampung karena menjadi panen terakhir. “Anak-anak muda lebih suka kerja di perusahaan daripada menggarap sawah. status kepemilikan tanah sudah hampir sepenuhya dalam genggaman para spekulan. Riwayat pertanian di Nyerakat sejatinya tinggal kenangan. Tidak seperti bertani. rupanya air bekas cucian mobil perusahaan. masyarakat mulai kesulitan menggarap tanah karena banyak hama keong. Limbah pencucian alat-alat berat milik perusahaan mengalir ke sawahsawah milik warga Nyerakat. Sekambing 241 . Tahun 1998 sawah mereka mengalami puso. Habis bulan terima gaji. kehadiran perusahan PAMA dan Indominco menjadi penyebab musnahnya tradisi pertanian. dan burung pipit. Karena lebih jelas hasilnya. Menurut Dullah. akibat serangan tikus dan keong.

benar saja. ”Artinya. Seorang pendakwah dari Badan Koordinasi Dakwah Islamiyah Bontang (BKDIB) menyampaikan ajakan dan nasihat. Suatu ketika. Perlawanan Kultural Lewat Ritual Amatan pertama saat masuk Nyerakat adalah sebuah masjid di ujung timur kampung. Tuhan jugalah yang paling tahu. Mengenal penilaian terhadap perbuatan manusia. Selain salat Jumat khusus bagi laki-laki. meskipun dia mempunyai cara sendiri dalam memaknai perintah agama. tak ketinggalan ibu-ibu melaksanakan kegiatan yasinan mingguan. yang paling penting adalah awwaluddin ma’rifatullah. sekitar 40-an orang memenuhi Masjid Nurul Hidayah Nyerakat. disaat salat magrib hanya diikuti tujuh jamaah. apa yang disampaikan pendakwah. Bagi Masdar. Dan sejatinya tradisi pertanian dan kelautan adalah riwayat identitas semula komunitas Nyerakat.Geliat Perlawanan Basis atau kini dikenal dengan sebutan Bontang Lestari adalah kawasan yang cocok untuk pengembangan pertanian. Salah satunya mengajak seluruh jamaah mengamalkan perbuatan baik dalam kehidupan sehari-hari.” ujarnya. Namun dugaan itu meleset. Menurut dia. Sejak tahun 2001 kegiatan arisan dan yasinan mulai 242 . Suatu kali saat salat Jumat. Ternyata warga tidak banyak mengikuti salat berjamaah. hal itu merupakan pandangan pendakwah dalam memahami agama. Menurut Masdar. dirangkai dengan arisan. dari awal sampai akhir. siapa diri kita dan siapa diri orang lain. Tentu sebagaimana lazimnya. kampung ini ramai dengan kegiatan salat berjamaah. manusia harus sempurna mengenal Tuhan dan sesama manusia.

Selepas yasinan. Siti Rokaseh. bukan arisan yang penting. karena masih melaksanakan pelbagai ritual adat. juga perbincangan tafsir agama. dia akan menunaikan haji ke tanah suci. Jadi. Lain lagi pendapat Mak Kumala. Senyatanya. Stigma ritual adat sebagai praktik syirik memang ditimpakan kepada warga Nyerakat. Hal itu juga dibenarkan ketua kelompok yasinan. Menurut mereka tidak perlu terlalu sibuk bernafsu naik haji. sejak ada yasinan. kenapa pergi haji? Itu kata orang yang tahu. Yasinan bagi orang Nyerakat adalah sarana berkumpul. jika tanahnya laku terjual. Ada yang berkisah tentang tanah yang diperjualbelikan. Menurut dia. dalam salah satu fatwanya. Menurut dia. jangan berkelahi. peserta yasinan. karena di dalam tubuh sendiri sudah terdapat makna dan simbol haji.Geliat Perlawanan Basis dilaksanakan di Nyerakat atas usulan Mak Kumala. Misalnya. menguatkan pendapat bahwa ritual bebalai tidak dianggap praktik syirik. Salah satunya mengenai ritual haji. Ka’bah itu sudah ada dalam diri manusia.” ujar Mak Beda. “Kalau orang tahu. melainkan kumpul-kumpulnya. tetapi juga bermakna sebagai perisai menangkal stigmatisasi yang selama ini menimpa komunitas Nyerakat. Kegiatan yang diikuti 36 orang itu dilaksanakan supaya warga memiliki kegiatan dan orang kampung tidak berkelahi. lazimnya terlontar aneka perbincangan.” ujar Mak Kumala sambil tertawa kecil. Majelis Ulama Islam Kota Bontang menegaskan 243 . Mak Kumala sering diundang dalam acara Festival Budaya Pesta Laut yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bontang. Selain itu. “Supaya sadar semua. ”Berhaji itu penting untuk menyempurnakan ibadat seseorang dalam pengabdiannya kepada Allah.” ujar Mak Kumala.

bukan meminta kepada setan dan bukan juga kepada patung. memperingatkan bahwa apa yang ia lakukan menyalahi syariat Islam. Padahal. di Jawa. permohonan ditujukan kepada Allah untuk menunjukkan kekuasaan-Nya dengan menyembuhkan pasien. “Ada pendapat bahwa ritual adat orang Nyerakat itu musyrik. malah mencurigai orang-orang yang mengatakan praktik ritual adat 244 . dan Cina). bambu. karena permohonan mereka tetap ditujukan kepada Allah Yang Maha Kuasa. sebab adat ini ada di mana-mana. memakai jubah dan sering tinggal dari masjid ke masjid. tokoh komunitas Bontang Kuala. Kutai. ritual adat dengan menggunakan makhluk halus tidak bisa dianggap sebagai musyrik. kami tidak meminta berkah kepada makhluk halus.” kata seorang pria asal Sulawesi yang menikah dengan orang Bontang Kuala. Hal serupa dikatakan Masdar. Dalam mengobati. Bahkan ustad itu berusaha menghalangi Mak Kumala mengobati pasiennya. Mereka tidak tahu. Umar. suami Mak Kumala. atau daun-daun. Nasir Makkaraka (HAAT singkatan dari Haji Andi Aji Tan yang melambangkan percampuran etnis Bugis. Sulawesi. Menurut mereka. maka telah menyeret pelakunya ke pengaburan dan pendangkalan akidah. Bahkan HAAT M. Saat sedang mengobati pasien di Melahing. Bahkan bisa terjerumus pada kemusyrikan.Geliat Perlawanan Basis praktik ritual adat seperti bebalai dan ance sebagai lakon syirik yang melanggar ketentuan agama Islam. Sesungguhnya stigma itu telah dibantah komunitas warga Nyerakat dalam berbagai kesempatan.” kata H. Stigma musyrik dialami Mak Kumala. tiba-tiba seorang ustad yang ia sebut seperti orang Arab. ”Kalau ritual itu diyakini membawa kebaikan atau untuk menolak bala. Ketua MUI Kota Bontang.

tidak pernah melarang orang salat. Sebaliknya malah menganjurkannya. Tentu hal itu sesuai dengan prinsip agama Islam yang menekankan pentingnya penghargaan terhadap alam. bukan mengurusi ritual budaya kami.” ujar Masdar. warga akan mendapat musibah. hanya diperciki air putih pasti sembuh.” M. Jadi. Nasir juga menegaskan. ”Dibawa ke rumah sakit. fungsi kebudayaan pada dasarnya meneguhkan agama. nelayan mulai pintar mem-bom ikan dan merusak lingkungan. Bahkan diyakini jika ritual bebalai tidak dilakukan. musyrik itu berbarengan hadirnya dengan modernitas. Mestinya itu yang menjadi perhatian para ulama. ”Saya sebagai pelaku ritual adat. ada orang yang rajin salat tetapi tidak baik relasi sosialnya dengan sesama. Itulah yang menyalahi ajaran agama. 245 . apalagi tidak melaksanakan. ”Kalau mau jujur. diharapkan laut bermurah hati memberikan ikannya bagi para pelaut. Masuknya modernisasi. apabila lalai. Tetapi kalau sudah dilaksanakan bebalai. tetapi juga sosial. Melalui ritual bebalai. Ibadahnya hanya kedok. Maka bagi warga Nyerakat. Kemusyrikan itu tidak semata persoalan teologis. kita dituntut menafsirkan agama sesuai konteks kehidupan. pasti ada saja anak-cucu yang terkena musibah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. bumi menjadi subur sehingga padi dan tanaman lainnya bisa menghasilkan panen berlimpah. Nasir. Hal inilah yang sering dijadikan pembenar bagi orang luar. Masdar mengatakan. setan dan roh-roh jahat sering mengganggu kampung Nyerakat. korupsi di kantor.Geliat Perlawanan Basis seperti bebalai sebagai musyrik tidak memahami agama dengan baik. ritual bebalai diyakini sebagai ritus untuk mendekatkan serta menyatukan manusia dan alam sekitar. agar mereka terus-menerus meyakini ritual adat.” ujar M. dan segala perbuatan tak terpuji lainnya. Tapi ironisnya. tidak apa-apa kata dokter.

agama adalah praktik manusia berbuat baik. dan mandi pesili (mandi tolak bala bagi pengantin baru) lazim disebut mandi bunga yang konon ritual ini berasal dari komunitas Bugis. Selain itu. Resistensi Identitas di Tengah Gempuran Modernitas Stigmatisasi musyrik terhadap komunitas Nyerakat dan Bontang Kuala sejatinya bermuara pada interpretasi makna agama. semisal bercerai dan sakit keras. bukan bagaimana manusia mempraktikkan simbol peribadatan secara kaku dan ritual ibadat agama bukan seremonial semata. ada juga ritual yang dapat dilakukan setiap saat. misalnya buang pisang (larung pisang). 246 . Sekaligus argumen ini menegaskan ritual adat orang Nyerakat tidak mencemari apalagi mendangkalkan agama. ritual samper masih dilaksanakan dan dikabarkan mereka memakai jin kafir dalam laku ritualnya. tetapi juga ritual ance dan samper yang biasanya dilaksanakan setiap tahun. Jika tidak dilakukan akan memunculkan keburukan dalam kehidupan rumah tangga. mandi bunga menjadi keharusan setiap pengantin. mandi buyu (mandi penyakit untuk anak bayi). Namun di Kampung Guntung. Desember 2005.Geliat Perlawanan Basis Sesungguhnya di kalangan komunitas Nyerakat dan Bontang Kuala tidak semata bebalai yang tetap dilaksanakan sebagai ritual budaya. Ritual budaya mandi pesili diyakini sebagai tradisi perkawinan sebelum mereka mengenal agama Islam. Bagi komunitas Nyerakat. Sedangkan ritual adat samper terakhir kali dilaksanakan dalam pesta adat. Bagi warga Nyerakat. Kabar mengenai orang Guntung melakonkan ritual samper memakai jasa jin kafir justru menjadi fakta penguat bahwa orang Nyerakat dan Bontang Kuala masih setia dengan jin Islam.

Tidak mengenal secara mendalam ritual budaya orang Nyerakat menjadi faktor utama yang melatarbelakangi tudingan bernada minor dari pihak luar.” katanya. Hanya ulama-ulamaan dan ustad-ustadan yang sering menganggap ritual budaya kami sebagai praktik musyrik. Mak Kumala mengaku menggunakan patung manusia sebagai syarat pengobatan. Sejatinya komunitas Nyerakat mengakui kampung mereka penuh dengan pesona gaib. Mereka juga meyakini kampung 247 . malahan menganjurkan mempertahankannya. “Mana bisa dilarang. bid’ah. penyakit itu disimbolkan dengan patung. patung itu hanya silih simbol.Geliat Perlawanan Basis Meski warga Nyerakat ”dikepung” stigma. khurafat). sedangkan Tuhan dan Nabi saja punya adat? Mana ada manusia jika Tuhan tidak memiliki adat?” kata salah seorang pemimpin ritual adat bebalai ini.” ujar Mak Bian. tetapi Tuhan dan Nabi sekalipun memiliki adat-budaya. budaya bukan hanya milik manusia. Padahal. Mak Kumala mengatakan. “Ustad yang benarbenar ustad tidak pernah menyinggung ritual budaya. “Sepertinya mereka pernah lihat iblis. masih ada ustad menganjurkan ritual budaya terus dipertahankan. mereka tidak paham. “Padahal. Demikian pula pendapat Mak Bian terhadap para ustad yang sering menyindir ritual budaya orang Nyerakat sebagai penyakit TBC (takhayul. Mak Kumala merasa sulit menjelaskan kepada para uztad.” kata Mak Kumala menyindir penceramah di radio yang kebetulan sedang membahas tema kemusyrikan. Jadi. baru kita obati dengan memohon kesembuhan pada Allah. Namun tetap saja ada yang menganggap ritual budaya mereka adalah praktik adat dengan menggunakan jasa iblis. karena agama dan ritual budaya dapat berjalan seiring dalam kehidupan warga. karena mereka tidak mempercayai pengobatan ala ritual bebalai.

Menurut penuturan Warha. selalu diakhiri dengan membaca doa-doa. Oleh karena itu. 248 . Tatkala gaya tarian menirukan gerak laku buaya. Mereka yang memiliki relasi spiritual dengan roh leluhur biasanya mengalami trance. Pendapat ini dapat dibuktikan saat berlangsung ritual bebalai. mereka dapat berkomunikasi secara langsung dengan roh-roh leluhur. Relasi antara warga dan makhluk gaib. Menurut para tetua. Jika Mak Kumala mendaraskan doa dengan bahasa lokal. Pada ritual bebalai misalnya. Doa itu mereka maknai sebagai penyempurna rangkaian ritual budaya. Keniscayaan relasi harmonis dengan para leluhur merupakan karakter komunitas Nyerakat di tengah gempuran modernisasi. ibaratnya sama saja membuang sandal tanpa makna apa-apa.Geliat Perlawanan Basis Nyerakat dihuni makhluk gaib. Oleh karena itu.” ujar Mak Kumala. teristimewa para leluhur. maka dipercaya leluhur mereka memiliki relasi spiritual dengan buaya. Masdar mengakhiri ritual bebalai dengan doa yang diawali dengan pembacaan Al-Fatihah. di antara mereka ada yang meyakini memiliki leluhur seperti buaya atau binatang lainnya. ”Mana bisa kalau tidak ada doanya? Kalau hanya ritual adat tanpa doa. Saat itulah mereka mengenali para leluhurnya. sangat harmonis dalam kehidupan komunitas. Dalam keadaan trance. diteruskan dengan doa selamat dunia dan akhirat. tradisi mengakhiri ritual adat dengan doa-doa menurut agama Islam sudah sejak dulu dilakukan warga Nyerakat. warga harus bersahabat melalui praktik ritual adat. Keniscayaan itu memberikan makna pengajaran bahwa mereka harus menjaga keseimbangan kosmologi agar senantiasa dapat terus berhubungan dengan para leluhur. warga Nyerakat tetap bersikukuh bahwa ritual budaya mereka tidak musyrik. Harmonisasi antara tafsir agama dan praktik ritual juga mereka jalankan secara saksama.

Pemerintah Kota Bontang juga mempromosikan event pariwisata bertajuk Pesta Laut Bontang Kuala. Menurut Mak Kumala. meski ritual bebalai sejatinya tidak untuk konsumsi publik. sebagaimana Pesta Laut Bontang Kuala.” ujar Mak Bian. Dia menambahkan. ”Ritual bebalai di Nyerakat untuk menjaga keseimbangan relasi antara manusia. mereka meminta maaf kepada roh-roh leluhur. Karena ritual bebalai yang sebenarnya.” ujarnya.Geliat Perlawanan Basis Perlawanan terhadap Hegemoni Negara Seiring dengan eksistensi komunitas Nyerakat yang diekspresikan melalui pelbagai ritual budaya. ada perbedaan tujuan antara bebalai di Nyerakat dengan Pesta Laut. Sedangkan ritual bebalai pada Pesta Laut Bontang Kuala bertujuan mengusir roh-roh aparat pemerintah agar jangan mengganggu ritual budaya kami. akhirnya warga Nyerakat menerima ajakan untuk menampilkan ritual bebalai dalam agenda wisata Pesta Laut. Mak Bian mengaku keterlibatan mereka dalam Pesta Laut sekedar siasat agar pemerintah tidak mengganggu pelaksanaan ritual budaya yang dilaksanakan di Nyerakat. Apa yang dilakukan mak Bian merupakan sebentuk perlawanan terhadap hegemoni negara. Pada sisi lain. Orang Nyerakat dibujuk untuk terlibat dalam pesta budaya beraura industri pariwisata itu. dan para leluhur serta mengusir roh-roh halus yang mengganggu manusia. sepulang dari acara Pesta Laut. Setelah berulang kali menolak. 249 . alam. ya seperti yang diadakan di Nyerakat. hendak membuktikan eksistensi dan identitas orang Nyerakat bahwa ritual budaya mereka tidak menyalahi aturan agama dan negara. “Kami menampilkan bebalai dalam Pesta Laut sekadar menyenangkan pemerintah. karena ritual bebalai dipaksakan sebagai bagian dari komoditas industri wisata.

berpendapat. mulai dari sakit panas. “Saya tidak sepakat dengan model pengobatan ritual bebalai.” ujar Mak Bian yang dikuatkan oleh Mak Kumala. Sekaitan dengan praktik pengobatan versi bebalai. Sejak tahun 1993 Pemerintah Kecamatan Bontang Selatan mulai membuka Puskesmas Pembantu di Nyerakat. warga 250 . Keberadaan Puskesmas Pembantu sejatinya tidak membuat peran pemimpin ritual bebalai terpinggirkan. Pengobatan versi bebalai masih diyakini kemujarabannya oleh warga. hingga penyakit nonmedis. ”Para dukun bebalai bisa dipanggil kapan dan ke mana saja saat warga memerlukan bantuan. sedangkan para dukun bebalai. “Dua-duanya jalan saja.Geliat Perlawanan Basis Gempuran peradaban modern tidak hanya mengusik warga Nyerakat berkenaan dengan ritual adat bebalai.” Kehadiran Puskesmas Pembantu bagi orang Nyerakat tidak menjadi persoalan. Tetapi mereka tidak sepakat jika ritual pengobatan yang diwarisi turun-temurun dianggap tidak memiliki manfaat apa-apa dan dicap tidak ilmiah. siap melayani pasien hingga 24 jam. Kalau tidak bisa dokter. Menanggapi Program Bontang Sehat (PBS) atau yang juga dikenal dengan istilah Program Dokter Keluarga (PDK). dr. Dokter mana bisa? Mereka itu orang sibuk dan tidak punya kebiasaan mengunjungi pasien. Jam kerja saya terbatas. Keyakinan praktik ritual bebalai yang juga bertujuan mengobati orang sakit pun diserang argumentasi medis melalui pelbagai program kesehatan yang diluncurkan Pemerintah Kota Bontang. ya dukun bebalai.” kata Mak Bian. karena mendengar kabar akan ada program pemerintah untuk menghapus praktik pengobatan menurut ritual budaya Nyerakat. Mak Kumala misalnya. persalinan. dokter Puskesmas Pembantu di Nyerakat. Endang. peranan dukun bebalai lebih diperlukan oleh warga daripada dokter. namun juga tidak bisa melarang. dalam seminggu rata-rata melayani empat pasien. Bahkan mereka amat gusar. Bahkan menurut dia.

Geliat Perlawanan Basis

Nyerakat merasa senang saja, sepanjang tidak mengusik tradisi pengobatan mereka. ”Jika ada penyuluhan tentang hidup sehat, ya bagus itu, agar sehingga masyarakat tahu tentang kesehatan. Tapi harus disesuaikan dengan tradisi kami memahami kesehatan,” ujar Edi menanggapi Program Bontang Sehat. Pendapat serupa diungkapkan Mak Bian, disertai komentar bahwa warga Nyerakat juga memiliki pemahaman tentang hidup sehat. “Ya itu menurut dokter, bagaimana cara hidup yang sehat. Tetapi kami juga punya cara berobat, bersih diri dan juga bersih kampung. Maka, dokter dan petugas Puskesmas harus belajar bagaimana hidup sehat menurut tradisi masyarakat,” ujarnya. Menurut pengakuan Mak Bian, dia pernah mengusulkan kepada petugas Puskesmas agar jangan membuang sampah terlalu dekat dengan gedung Puskesmas, apalagi membuang bekas suntikan secara sembarangan di halaman belakang Puskesmas. ”Itu kan tidak sehat. Apalagi saya pernah melihat anak-anak main-main menggunakan bekas suntikan,” ujarnya. Menurut dia, Puskesmas justru memberi contoh mengenai lingkungan yang tidak sehat, terlebih karena limbah sampah Puskesmas tidak dikelola dengan baik, bahkan anjing pun sering keluar masuk lingkungan Puskesmas. Konsepsi tentang sehat jelas berbeda antara orang Nyerakat dan petugas paramedis. Mak Bian mengaku punya cara sehat tersendiri, salah satunya dengan menghargai makhluk halus. ”Jika menebang pohon harus melakukan ritual menghambur beras kuning, supaya penghuni pohon tidak marah dan mengganggu manusia. Ya, cara hidup sehat yang baik, pertama-tama memang harus memelihara adat,” katanya. Bagi orang Nyerakat, penyakit bisa diakibatkan hilangnya harmoni relasi kosmologi, sehingga bukan semata-mata berlabel
251

Geliat Perlawanan Basis

sakit seturut konsepsi medis. ”Maka kami harus menjalankan kewajiban budaya melalui ritual adat. Jika ritual adat tidak dilakukan, ada saja di antara keluarga kami yang sakit,” kata Mak Beda. Tak heran bila warga Nyerakat melakukan perlawanan kultural dalam menghadapi gempuran hegemoni negara melalui ideologi kesehatan yang dikemas melalui Program Bontang Sehat.

Penutup
Dalam sejarah kehidupan orang Nyerakat, mereka mengalami gempuran modernisasi secara bertubi-tubi. Kehidupan orang Nyerakat mulai terusik sejak tahun 1966. Menurut kesaksian warga, kala itu kapal-kapal berbendera Jepang mulai mendarat di Bontang dan membeli kayu berukuran 4 meter dengan diameter mulai 60 centimeter. Kedatangan kapal Jepang ini membuat warga Bontang Kuala, Sekangat, dan Nyerakat mulai terbujuk melayani permintaan orang-orang Jepang, lalu mulai menebangi kayu di kawasan Bontang dan sekitarnya. Peristiwa ini mereka kenal dengan istilah banjirkap. Disebut banjirkap karena pengangkutan kayu menunggu air pasang, sehingga mudah diseret ke laut kemudian diangkut ke kapal milik Jepang. Menggunakan teknologi seadanya seperti gergaji dan kampak, warga mulai menebangi kayu yang dibeli orang Jepang seharga Rp 150 hingga Rp 200 per kubik. “Ya, kita ini orang miskin butuh makan. Terpaksa kami ikut banjirkap,” ujar Kasim yang mengalami peristiwa banjirkap. Peristiwa banjirkap juga memicu migrasi besar-besaran dari Sulawesi. Aktivitas banjirkap mulai meredup tatkala orang Jepang menolak batang pendek dengan mengganti batang panjang dan tidak menerima langsung dari masyarakat. Maka cara kerja banjirkap mulai terorganisasi dalam kelompok. Orang-orang

252

Geliat Perlawanan Basis

Jepang pula yang mengajari masyarakat menggunakan mesin penebang pohon (chainsaw) sejak tahun 1970. Sesungguhnya banjirkap adalah awal dari petaka ekologi bagi kehidupan masyarakat setempat. Petaka ekologi berlanjut dengan masuknya perusahaan yang mengeksplorasi gas bumi (PT Badak LNG) dan batu bara (PT Indominco Mandiri), hingga mereka mengalami tragedi hilangnya tradisi pertanian. Tatanan sosial orang Nyerakat kian porak-poranda seiring dengan pembangunan megaproyek Bontang Lestari. Penghancuran tatanan kehidupan berlangsung terus-menerus secara sistematis didukung peraturan perundang-­ undangan yang diciptakan untuk melanggengkan proses marginalisasi di era otonomi daerah. Proses marginalisasi itu bermuara pada kebijakan hukum yang bias unifikasi, bias formalitas, dan bias hukum positif yang tidak berakar pada prinsip hukum sebagaimana yang dikenal dalam sistem sosial-budaya komunitas Nyerakat. Bahkan marginalisasi didukung legitimasi kebenaran tafsir agama dan desakan program kesehatan untuk menegasikan kearifan lokal. Stigma pun digulirkan, warga Nyerakat yang bersikap kritis, serta merta dicap dengan sebutan ”melawan pemerintah” atau ”menentang pembangunan”. Padahal faktanya, kearifan sistem religi pada komunitas Nyerakat sesungguhnya merupakan dasar norma tingkah laku yang memberi kontribusi terhadap sejumlah praktik kehidupan sebagai manifestasi dari eksistensi mereka. Namun, dipaksakannya proyek industri pariwisata, seperti Pesta Laut Bontang Kuala, sesungguhnya merupakan tindakan sistematis penguasa yang bertujuan melemahkan eksistensi komunitas Nyerakat. Proyek industri pariwisata yang didominasi kepentingan negara dan pengusaha mengakibatkan mereka tidak lagi menjadi pemilik
253

tetapi menjadi buruh yang dikendalikan kepentingan industri wisata dan berorientasi pada syahwat komersial semata. Namun di tengah gempuran modernisasi.Geliat Perlawanan Basis kebudayaan. 254 . komunitas Nyerakat tak hendak menjadi pecundang dan tumbal modernisasi. Jalan kebudayaan telah menjadi pilihan untuk membuktikan bahwa orang Nyerakat sejatinya bukan orangorang yang kalah dalam pertarungan peradaban. Mereka bergerak melakukan perlawanan terhadap hegemoni negara. Ritual adat bebalai merupakan salah satu opsi perlawanan berbasis kultural.

Zainul Arifin. pelaku terancam dikenai hukuman denda berupa rebang alung (memotong kerbau). Kesepakatan ini merupakan hasil gundem (pertemuan) para tokoh adat pada awal Januari 2010 di Sekretariat Persekutuan Masyarakat Adat Lombok Utara (Perekat Ombara) yang membahas pernyataan Kepala Dinas yang menganggap ritual Selamatan Telabah merupakan perbuatan syirik. para tokoh adat menyimpulkan Kepala Dinas Pekerjaan Umum.Jalan Terjal Pergulatan Politik Masyarakat Adat Lombok Utara Simpul NTB – FBB Prakarsa Rakyat 1 B eberapa hari setelah ratusan anggota masyarakat adat melakukan aksi protes terhadap Pemerintah Kabupaten Lombok Utara. 1 Tulisan dipersiapkan oleh Sulistiyono dari Yayasan Koslata Mataram 255 . Pertambangan. telah melecehkan adat dan melanggar hukum adat Nggawe pati ngelepuhing jagad yang membuat masyarakat resah dan bisa menimbulkan konflik. Atas pelanggaran hukum adat tersebut. dan Energi Kabupaten Lombok Utara.

Selamatan Telabah tetap dilangsungkan pada 28 Desember 2009 dihadiri ratusan warga anggota kelompok tani pengguna air dan irigasi yang bersumber dari Bendungan Pekatan. Pengingkaran terhadap hak-hak masyarakat adat di Lombok Utara sebenarnya sering terjadi. Walau demikian. dan 4 dulang 40 ancak makanan yang akan dibagikan kepada fakir miskin. Namun reaksi yang ditunjukkan tidak memperlihatkan gejolak berarti sehingga tidak tersiarkan ke publik. Kepala Dinas menolak permohonan tersebut dengan alasan tidak ada dana serta menyatakan syukuran yang disertai dengan memotong kerbau dan kepalanya dibuang.Geliat Perlawanan Basis seketi kepeng bolong sebanyak 35 keping setara dengan Rp 3 juta lebih. Kejadian tersebut bermula dari permohonan sumbangan dari panitia syukuran Selamatan Telabah kepada Dinas Pekerjaan Umum. kurang bagus dan termasuk syirik. Insiden ini dipicu banjir bandang Kali Segara yang dianggap warga sebagai akibat penebangan hutan dan pemegang HPH ingkar janji untuk tidak menebang pohon radius 100 meter dari makam Bebekeq. menurut agama Islam. Jika pelaku tidak mau membayar denda akan terkena sanksi karma wet atau selong (diusir). Reaksi lebih keras dari masyarakat adat atas pelecehan hakhak masyarakat adat pernah ditunjukkan pada tahun 1999. Warga di sekitar Hutan Monggal membakar base camp PT Angka Wijaya yang memegang izin HPH. Bukan hanya pelecehan terhadap nilai-nilai yang terwujud dalam adat (kebiasaan) tetapi juga menyangkut perampasan hak-hak penguasaaan sumber daya alam. Desa Jenggala. Nilai-nilai yang Semakin Tersingkir Diyakini masyarakat hukum adat di Lombok Utara dulunya merupakan satu kesatuan komunitas yang cukup solid dengan 256 .

seperti: bila bibir (memfitnah). menjadi pondasi tatanan perilaku kehidupan masyarakat. yakni aturan hukum yang mengatur tapsila (kesusilaan). Dalam tata kehidupan sosial terdapat tiga organ kelembagaan adat utama yang dijumpai pada hampir setiap komunitas adat. nyedang (merusak barang milik orang dan masyarakat adat). berlaku secara turun-temurun. Sedangkan sekarang terpecah-pecah dalam banyak komunitas kecil dengan wilayah hukum adat yang kecil pula. Di 257 . bila mapak (menganiaya atau memukul). Pembagian peran ini mengikuti pranata hukum adat yang juga dibedakan menjadi tiga. bila gondang atau sumitra atau ngiwat (berzinah). serta larangan menikah pada bulan puasa. lintas desa.Geliat Perlawanan Basis wilayah hukum adat yang cukup luas. dan pemangku. yaitu pembekel. bila dibandingkan dengan situasi masyarakat Lombok lainnya. dan gama (agama). Nilai-nilai masyarakatnya belum tersentuh atau tercemari budaya modern yang cenderung menitikberatkan kepentingan ekonomi dalam bentuk komoditas dan konsumerisme. masyarakat hukum adat di Lombok Utara masih konsisten menerapkan nilai-nilai adat dalam kehidupan sehari-hari. Nilai ini mewujud dalam bentuk pranata hukum adat yang disebut awiq-awiq. maling (mengambil milik orang lain). Namun. Pembekel merupakan pelaksana yang menjalankan kegiatan atau keputusan lembaga adat melalui gundem (musyawarah). baik dalam berhubungan di antara sesama manusia. pengulu. krama (tata krama). Tingkat keguyuban antara komunitas adat satu dan yang lain berbeda-beda serta relasi sosialnya cenderung semakin renggang. Awiq-awiq merupakan aturan hukum bersumber berbagai kesepakatan masyarakat. Beberapa lokasi di Lombok bagian utara dijumpai pranata hukum atau awig-awiq yang masih diberlakukan sampai sekarang. maupun manusia dengan alam.

Dalam menjalankan tugasnya. Perumbak Daya menjaga wilayah pegunungan sebelah selatan dan Perumbak Lauk menjaga wilayah dataran rendah sebelah utara. atau inan aik. sebagai perumbak (penjaga) daerah tertentu yang menyangkut kepentingan sosial masyarakat (hubungan horizontal). Pembekel Karang Bajo. Berbeda dari pemangku yang juga disebut Lokaq Montong. ngelokoang di Bangket Bayan yang mengatur pengelolaan sumber air. Ntok Lekoq Buaq di Senaru sebagai prosesi pendakian ke Gunung Rinjani. air. hutan. namun wilayahnya lebih kecil dibandingkan dengan wilayah pemangku (perumbak). ketep. pekasih. 258 . mangku alas. pengulu dibantu kiai.Geliat Perlawanan Basis wilayah Bayan dan sekitarnya terdapat empat pembekel beleq. memimpin doa. Tugas perumbak menjaga kearifan yang lingkungan baik di dataran tinggi maupun dataran rendah. Perumbak juga berperan menegakkan awiq-awiq di mana penyelenggaraan sidang adatnya melalui pembekel. termasuk manusianya. membuktikan masyarakat memandang peran mereka sangat penting dalam pengelolaan sumber daya alam. seperti gunung. dan sebagainya. Misalnya. tugasnya menjaga gubuk (kampung). Sedangkan pengulu merupakan organ lembaga adat yang mengurusi bidang keagamaan. dan lingkungan alam. yang di beberapa tempat masih dipatuhi masyarakat. Pemangku merupakan semacam jabatan. yaitu Pembekel Loloan. religi (hubungan vertikal). terutama kegiatan keagamaan di masjid. menunjukkan masyarakat hukum adat telah mempraktikkan sistem atau mekanisme kelola lingkungan sumber daya alam selama turun-temurun. dan Pembekel Bayan Barat. Istilah mabangar. lebe. Adanya jabatan mangku gumi. Lokaq Montong dapat dijumpai di lembaga adat Semokan di Desa Sukadana. Pembekel Bayan Timur. dan modin.

sosial. pauman. Dalam sistem kelola sumber daya lahan ada perbedaan mendasar dalam pemaknaan paer. Biasanya pawang yang tidak boleh dirusak. Pertama.Geliat Perlawanan Basis Sistem yang dikembangkan secara evolutif bahkan membedakan fungsi-fungsi sumber daya yang mengakomodasi berbagai kepentingan seperti kelestarian alam. digunakan sebagai tempat ritual baik untuk pemujaan. Tidak heran beberapa sumber mata air di sekitar hutan adat seperti Bangket Bayan di Desa Bayan. ada kategori pawang dan gawah. ekonomi. fungsi sosial budaya. Dalam perspektif ilmu kehutanan. dan politik. Lain halnya dengan gawah yang boleh digarap dan dimanfaatkan hasil hutannya. yakni hutan adat sebagai pusat pelaksanaan kegiatan sosial budaya dan tempat peninggalan sejarah para leluhur (misalnya makam). budaya. Selain itu pemanfaatan kayu di hutan adat diperuntukkan bahan rumah adat. hutan adat yang dikelola masyarakat adat memiliki tiga fungsi utama. 259 . Pawang merupakan hutan yang harus dijaga kelestariannya. masjid. Sembaik dan Semokan di Desa Sukadana. upacara adat. pecatu. Demikian halnya dalam kelola hutan. dan tanak panguripan gubuk. seperti adanya berbagai macam jenis pepohonan dan kelestarian sumber mata air. dan kepentingan umum lainnya. bahkan di beberapa komunitas dianggap sakral. Kedua. setelah mendapat persetujuan pemangku. dan Pawang Gedeng di Desa Gumantar masih terjaga kelestariannya. atau berziarah. antara lain mata air Pawang Mandala dan mata air Pawang Bangket Bayan. fungsi ekologi dan konservasi yang dapat dilihat pada keanekaragaman hayati. Beberapa sumber mata air di wilayah hutan adat dimanfaatkan PDAM untuk kebutuhan air bersih masyarakat. kondisinya masih utuh.

sehingga berbagai jenis pepohonan tetap dipertahankan. fungsi ekonomi. dan lain-lain. Pengakuan negara terhadap hak-hak masyarakat hukum adat tertuang dalam UUD 1945 Amandemen IV Pasal 18B Poin (2). menambatkan atau melepas hewan ternak. pakis. Paradoks Kebijakan Setelah dalam beberapa dekade (masa Orde Baru) mengalami kekaburan. membuka lahan. Masih berlakunya tiga fungsi hutan ini tidak terlepas dari kepatuhan masyarakat terhadap awiq-awiq.000. Hasil hutan adat yang boleh dimanfaatkan masyarakat adat berupa nira. reket 2 tekelan. anggota masyarakat dilarang menebang pohon. kembilik). umbi-umbian (gadung. Dalam pasal itu 260 . 1 ekor ayam. uang Rp 49. mangga. ketak. di antaranya di wilayah hutan adat Desa Sambik Elen (masyarakat adat Barong Birak). kenari. padi 4 tekelan. kemiri. Pemungutan hasil hutan selain kayu ini biasanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. masyarakat adat Lokok Getak di Desa Loloan. bahkan tidak satu pohon pun terganggu. rotan. dan kebutuhan upacara lainnya seperti gula. walau mati dan tumbang dibiarkan lapuk kembali ke alam. nangka hutan. berburu. dan melakukan pembakaran. masyarakat Gumantar. pisang.Geliat Perlawanan Basis Ketiga. cabe tandan. Pelanggaran terhadap awiq-awiq tersebut akan mendapat sanksi berupa denda 1 ekor kambing. Di kawasan hutan adat. saat ini secara normatif hak-hak masyarakat hukum adat dilindungi konstitusi negara. dan sirih. kelapa. Awiq-awiq berupa larangan yang masih diberlakukan secara ketat. masyarakat adat Buani dan Barumurmas di Desa Bentek. Sanksi diperberat jika pelanggaran awiqawiq dilakukan berulang-ulang atau melakukan perusakan serius terhadap hutan adat.

Di samping itu ditegaskan identitas budaya masyarakat hukum adat. selaras dengan perkembangan zaman. termasuk hak atas tanah ulayat dilindungi.” UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan juga memberikan pengakuan secara tegas terhadap keberadaan masyarakat hukum adat. Pasal 3 UU Nomor 5 Tahun 1960 menyatakan. 261 . dan Budaya menegaskan pemerintah berkewajiban menghormati (obligation to respect) dan melindungi (obligation to protect) komunitas masyarakat adat beserta pranata-pranata. yang diatur dalam undang-undang. Pasal 6 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia menyatakan penegakan hak asasi manusia.Geliat Perlawanan Basis dinyatakan: “Negara mengakui dan menghormati kesatuankesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan RI.” Kovenan Internasional Hak Ekonomi. identitas. seperti tertuang dalam Undang-undang Pokok Agraria Tahun 1960 bahwa hukum adat merupakan dasar bagi pembentukan hukum agraria nasional. “Hukum agraria yang berlaku…ialah hukum adat sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan negara…segala sesuatu dengan menghindarkan unsur-unsur yang bersandar pada hukum agama. dan hukum adatnya serta hak-hak tradisional yang diwariskan dari leluhurnya. masyarakat. Beberapa kebijakan sektoral memuat perlindungan terhadap hak-hak masyarakat adat. dan pemerintah. Sosial. Sedangkan penentuan suatu komunitas sebagai masyarakat adat sepenuhnya berada di tangan komunitas yang bersangkutan (selfidentification and self-claiming). dan kebutuhan dalam masyarakat hukum adat harus diperhatikan dan dilindungi oleh hukum. perbedaan.

Dalam konteks seperti ini. pemekaran wilayah kabupaten. Mendorong Pengakuan Hak atas Hutan Adat Saat ini sejumlah hutan adat terancam hilang. Akibatnya. serta upaya mendorong pengakuan hak-hak masyarakat adat dalam pengelolaan hutan adat. pemerintah cenderung mengambil langkah “pembiaran” terhadap situasi tersebut. Pawang Busur. Pawang Singang Pakok. Alih-alih memberikan perhatian khusus (affirmative). pendidikan. Pawang Montong Leneng. dan Pawang Batu Ampar di Desa Rempek. Pawang Bedugul. Pawang Semboya. Pawang Tutupan Mpeng Bleleng. Pawang Duria. hanya tertinggal namanya. Tutupan Gunung Kono. Mulai dari pembentukan organisasi yang mewakili masyarakat hukum adat. dan Lokok Manisan di Senaru. Tutupan Sentul. kebijakan pembangunan daerah yang selama ini diterapkan justru tidak menjangkau kebutuhan masyarakat adat yang kebanyakan tinggal di wilayah yang terpencil dengan fasilitas kebutuhan dasar pembangunan (kesehatan. dan ekonomi) yang minimal. Selama satu dekade belakangan ini muncul beberapa inisiatif lokal untuk mengubah situasi tersebut. ruang gerak masyarakat hukum adat semakin terbatas dan terkucilkan. Perbenturan kepentingan dan nilai budaya yang terjadi antara masyarakat adat dan komunitas lainnya sering kali mengalahkan hak-hak masyarakat adat. Pelaksanaan pembangunan justru cenderung menyingkirkan keberadaan masyarakat adat.Geliat Perlawanan Basis Namun dalam praktiknya selama ini pemerintah tidak mengindahkan hak-hak masyarakat adat atas sumber daya agraria ataupun kehidupan nilai-nilai adatnya. dan Tutupan Pemandian Sayyidina Ali di Desa Sesait. Tutupan Kubur Setinggi. Lokok 262 .

Bermodalkan kesepakatan tersebut Koslata mengembangkan proses pengakuan hak masyarakat adat dalam 263 . dan Lokok Pejawak di Desa Santong. baik dalam hal pendidikan.Geliat Perlawanan Basis Odang. dan politik. dan infiltrasi nilai budaya modernitas merupakan beberapa faktor yang memiliki andil menciptakan situasi ini. posisi masyarakat adat cenderung “dikalahkan. Hasil kaji tindak partisipatif Tim PAR Rinjani (kerja sama multipihak kalangan pemerintah. Legitimasinya semakin diperkuat dengan adanya kesepakatan multipihak yang merekomendasikan perlunya pengakuan atas hak masyarakat adat dalam pengelolaan hutan. dan permukiman penduduk. kebun. NGO. serta munculnya kecemburuan masyarakat lain terhadap pengelolaan hutan (PAR Rinjani. berlanjutnya kerusakan hutan. bahkan informasi. bahkan beberapa sudah berubah menjadi sawah. kesehatan. Kebijakan negara yang belum mengakui keberadaan masyarakat adat dalam pengelolaan hutan pada khususnya dan sumber daya alam pada umumnya. Sehingga dalam pergulatan kepentingan sosial. serta Tutupan Lende dan Tutupan Saji Bringin Jemarun Gedeng di Desa Kayangan semakin menyempit luasnya. dan masyarakat kawasan Rinjani) menyatakan ketidakjelasan status hukum hak masyarakat adat menimbulkan dampak terjadinya konflik antara pemerintah dan masyarakat. Sejak saat itu mulai dikampanyekan pentingnya pengakuan hak masyarakat adat di Lombok dalam pengelolaan hutan baru. 2004).” Fakta masalah ini mulai dimunculkan Yayasan Koslata yang mengkaji pengaruh pengembangan pariwisata terhadap hak-hak masyarakat adat Senaru di Lombok (1998). administrasi. ekonomi. pembiaran terhadap lemahnya akses politik masyarakat hukum adat. Kondisi tersebut semakin diperparah dengan ketidakberdayaan pelayanan publik dari pemerintah untuk menjangkau masyarakat adat yang umumnya tinggal di pinggiran hutan.

Artinya. hukum adat (awiq-awiq). bupati / wali kota. Ada pranata dan perangkat hukum. Ada kelembagaan dalam bentuk perangkat penguasa adatnya. batas-batas wilayah hukum adat.75/MenhutII/2004 perihal hukum adat dan tuntutan kompensasi/ganti rugi oleh masyarakat adat yang ditujukan kepada gubernur. Secara teknis operasional peraturan perundangan yang berhubungan dengan hak masyarakat adat dalam pengelolaan hutan adalah UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Surat edaran Menteri Kehutanan Nomor S. yang masih ditaati.Geliat Perlawanan Basis pengelolaan hutan adat di Lombok Barat dengan menggunakan peluang kebijakan yang ada. Melakukan peneliteian yang melibatkan pakar hukum adat. memberikan petunjuk kepada kepala daerah manakala ada tuntutan masyarakat hukum adat dengan mengambil langkahlangkah: a. persekutuan masyarakat hukum adat. instansi atau pihak lain yang terkait. dan keberadaan kawasan hutan adat (sebagai tanah ulayat) beserta pranata pengelolaannya. serta memperhatikan aspirasi 264 . Masih mengadakan pemungutan hasil hutan di wilayah hutan sekitarnya untuk pemenuhan kehidupan sehari-hari. Ada wilayah hukum adat yang jelas. keberadaan masyarakat adat secara hukum harus dibuktikan dengan keberadaan lembaga adat. Pasal 67 ayat (1) undang-undang tersebut memberikan pengakuan atas keberadaan masyarakat hukum adat dalam pengelolaan hutan sepanjang memenuhi syarat-syarat: l l l l l Masyarakatnya masih dalam bentuk paguyuban (rechtsgemeenschap). tokoh masyarakat di daerah bersangkutan. khususnya peradilan adat.

Rempek. tokoh masyarakat. Apabila berdasarkan hasil peneliteian. serta peta hutan adat yang diusulkan kepada Menteri Kehutanan dengan rekomendasi gubernur. Sesait. BPN. permohonan tersebut memenuhi syarat. upaya awal yang dilakukan adalah membentuk tim penelitei yang anggotanya terdiri atas akademisi Universitas Mataram. LSM. ditetapkan hutan adat untuk masyarakat bersangkutan. Akar-akar. 265 . luas. Oleh karena itu. Sukadana. b.Geliat Perlawanan Basis masyarakat setempat. serta Dinas Kehutanan NTB dan Lombok Barat. yang ditetapkan melalui SK Bupati Lombok Barat Nomor 374/Koslata/17/ 2005. tetapi juga untuk kepentingan-kepentingan ekologis dan ekonomis. Peneliteian tersebut mengacu pada kriteria sebagaimana ditentukan dalam penjelasan pasal 67 ayat (1) UU Nomor 41 Tahun 1999. masyarakat hukum adat dapat ditetapkan dengan perda provinsi. Loloan. bupati/ wali kota melakukan pengusulan hutan negara tersebut untuk ditetapkan sebagai hutan adat dengan memuat letak. c. Kelompok masyarakat adat bermukim di Desa Sambik Elen. Hasil peneliteian Tim Penelitei dan Pengkaji Lombok Barat tentang keberadaan masyarakat adat di Kabupaten Lombok Barat (2006) menyimpulkan terdapat sejumlah kelompok masyarakat yang secara turun-temurun telah memanfaatkan kawasan hutan untuk berbagai kepentingan. Jenggala. Untuk penetapan hutan negara sebagai hutan adat. Perda tentang keberadaan masyarakat hukum adat selanjutnya disampaikan kepada Menteri Kehutanan untuk diajukan permohonan penetapannya sebagai hutan adat. Senaru. Bentek. tidak saja terkait dengan kepentingan sosial budaya dan agama. Apabila diterima. Tegal Maja. Gumantar. Bayan. dan masyarakat adat Desa Tebango (Pemenang Timur). di mana Menteri Kehutanan dapat menyetujui ataupun menolaknya.

hasil pansus justru merekomendasikan untuk diproses ke Kabupaten Lombok Utara yang pada saat itu sedang menuju penetapan pemekaran dari kabupaten induk (Lombok Barat). Pembentukan perkumpulan masyarakat adat Lombok Utara ini diprakarsai kepala desa dan tokoh masyarakat pada akhir tahun 1999. dilakukan pemetaan hutan adat secara partisipatif oleh Koslata dan YPMP. beberapa kalangan LSM seperti Walhi NTB. Perekat Ombara mulai mewacanakan pemekaran wilayah kabupaten Lombok Utara dari 266 . Pada masa awal berdirinya. yakni Persatuan masyarakat Adat Lombok Utara (Perekat Ombara). Revitalisasi Nilai dan Pemekaran Wilayah Di samping terbentuk lembaga-lembaga dalam lingkup lokal desa. Rancangan perda pengukuhan hak masyarakat adat dalam pengelolaan hutan adat di Lombok Barat pernah dibahas DPRD Lombok Barat yang telah membentuk panitia khusus. Hasil pemetaan mengikuti kaidah dan kelayakan formal serta diverifikasi Dinas Kehutanan dan BPN. Koslata. Namun. kemudian disusun rancangan peraturan daerah untuk kemudian diajukan pembahasannya di DPRD Lombok Barat. “Gelang ini merupakan pertanda kita sudah mengikat janji. Saat itu sebagian anggota Dewan menyatakan komitmennya untuk mendukung raperda ini.” kata perwakilan masyarakat adat Lombok Utara selepas menyerahkan gelang tangan dari untaian benang kepada beberapa anggota DPRD Lombok Barat yang langsung memakainya. bersama perwakilan masyarakat adat melakukan dengar pendapat ke DPRD Lombok Barat pada Juli 2007. Berdasarkan hasil peneliteian dan pemetaan tersebut. juga terbentuk lembaga dalam lingkup lebih luas. Perekat Ombara. Untuk memastikan keseriusan anggota Dewan.Geliat Perlawanan Basis Selain itu.

Para politikus Lombok Utara juga sangat mendukung pembentukan kabupaten baru. Secara politik. terutama urusan administrasi pertanahan. Dua tahun kemudian. Pada tahun 2006 secara formal Bupati Lombok Barat memberikan persetujuan terhadap pembentukan kabupaten Lombok Utara. wilayah Lombok Utara relatif jauh dari jangkauan pelayanan publik pemerintahan kabupaten. pada Juli 2008 ditetapkan pembentukan Kabupaten Lombok Utara melalui Undang-undang Nomor 26 Tahun 2008. dan Gerung. dan urusan surat-menyurat yang harus ditandatangani pejabat kabupaten. Kediri. perizinan. terkandung harapan untuk merevitalisasikan nilai-nilai adat. maka kepentingan dan aspirasi masyarakat tidak banyak diakomodasi dalam kebijakan pembangunan Kabupaten Lombok Barat. seperti Kecamatan Narmada. Dengan mengusung kepentingan kesejarahan dan budaya. keterwakilan masyarakat Lombok Utara yang memiliki peran penentu kebijakan baik di legislatif maupun eksekutif masih terbatas. Karena keterbatasan keterwakilan masyarakat Lombok Utara dalam pembuatan kebijakan.Geliat Perlawanan Basis kabupaten induk Lombok Barat. Sebagian besar politikus dan birokrat dari Lombok Utara yang bergabung dalam Ikatan Keluarga Lombok Utara (Kagalu) cukup sering menyuarakan pentingnya pembentukan kabupaten Lombok Utara. yang kemudian diikuti persetujuan Gubernur melalui Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Barat Nomor 301 Tahun 2006 tanggal 7 Agustus 2006 tentang Persetujuan Pembentukan Kabupaten Lombok Utara sebagai Pemekaran dari Kabupaten Lombok Barat. Wacana ini mendapatkan sambutan masyarakat Lombok Utara yang merasakan jauhnya jangkauan dan aksesibilitas pelayanan publik. isu yang dikedepankan adalah Lombok Utara memiliki ciri khas budaya. 267 . Dibandingkan dengan wilayah lain di Kabupaten Lombok Barat. Dalam kampanyenya.

268 . Beberapa kelompok kesenian semakin tumbuh. berbagai kalangan masyarakat menyambut antusias. sehingga sikap masyarakat adat cukup reaktif. Kegiatan tradisi marak diselenggarakan lagi. Dalam kondisi seperti inilah muncul pernyataan Kepala Dinas Pekerjaan Umum yang dianggap melecehkan nilai adat. Kelembagaan adat juga berbenah.Geliat Perlawanan Basis Mengingat motif utama pemekaran wilayah berangkat dari keinginan untuk menghargai identitas budaya masyarakat Lombok Utara yang selama ini mendapat stigma keterbelakangan. seperti wetu telu. dengan status sebagai kabupaten baru.

gubernur. 269 . memang ibarat memotret sebuah karnaval yang meriah dan penuh warna. rakyat miskin menonton untuk melupakan pahitnya penderitaan hidup mereka. terutama musik. Anak-anak dengan ingus meleleh dan baju rombeng. sampai presiden dan wakil presiden. 1 Penulis adalah Ketua Badan Pengawas Perkumpulan Seni Indonesia.Karnaval Seni Budaya dalam Politik Elektoral FX Rudy Gunawan 1 P emanfaatan sejumlah bentuk seni hiburan populer. wali kota. bila kitapasca memotret situasi politik Indonesia pasca reformasi. sementara di pinggiran jalan. tertawa-tawa melihat badut menari-nari di depan mereka. Dalam konteks ini. bupati. Pemanfaatan ini menempatkan aktivitas seni sebagai sebuah proyek order yang tak berkaitan dengan proses kreatif seorang seniman dalam berkesenian. sudah menjadi semacam keharusan bagi para kader partai politik yang berjuang untuk dipilih sebagai wakil rakyat.

sebenarnya tak akan pernah benar-benar mampu mengajak rakyat 270 . Trio Macan. Tujuannya kurang lebih hanya untuk mendapatkan perhatian rakyat yang menonton karnaval. tampil bersemangat sepanjang karnaval. Selain itu. Mereka menggoyang panggung politik elektoral dengan goyang maut nan aduhai. mulai dari goyang ngecor hingga goyang gergaji. menjadi “komoditas” yang diperjualbelikan. Melalui karnaval meriah. dan trio-trio lainnya. rakyat bisa “diajak untuk lupa” akan penderitaan mereka. Goyang Gerjaji di Panggung Pemilu Semua tumplek-blek dalam karnaval yang meriah itu. ada cendekiawan yang senantiasa tersenyum arif seakan bersaing dengan para agamawan yang juga tersenyum lembut sambil terus berdoa. Jika rakyat sekadar dibius atau dihipnotis melalui sebuah “paket pertunjukan kesenian.Geliat Perlawanan Basis Dalam karnaval itu memang ada banyak badut.” maka rakyat dijadikan objek yang tidak terlalu menderita. Semua mencoba ambil bagian untuk memeriahkan karnaval dengan berbagai cara. hiburan massal secanggih apa pun. ada tokoh-tokoh generasi muda. para selebritas dari berbagai profesi pun turut memeriahkan karnaval. diperas. karena sebuah karnaval hakekatnya adalah hiburan massal. Ada banyak pejabat dan tokoh masyarakat.” tergantung pada situasi apa yang sedang terjadi (aktual) dan tujuan apa yang hendak dicapai (goal) oleh para pemegang kekuasaan. Rakyat. kesenian tradisional mulai dari ondel-ondel sampai jaipongan. Namun. seniman dan budayawan. Lalu para anggota parlemen pun membusungkan dada sebagai wakil rakyat terpilih yang terhormat berkat goyang gergaji di ajang kampanye mereka. masih tetap menjadi “objek”.” Relasi status rakyat sebagai “objek-komoditas-korban. Drum band. dalam kondisi ini. dan bila perlu dijadikan “korban.

Di sisi lain. dan damai sebagai cita-cita reformasi. aman. Panggung politik hasil Pemilu 2009. para pelaku budaya pop masih jauh dari cita-cita membangun masyarakat yang berbudaya. goyang ngecor. karnaval budaya di panggung politik elektoral juga makin ramai. karena masih asyik berkarnaval-ria. Ketidaksiapan ini mirip dengan ketidaksiapan pelaksanaan otonomi daerah.Geliat Perlawanan Basis untuk melupakan lapar yang menggigit. apalagi goyang ngangkang para penyanyi dangdut super seksi di panggung pemilu nasional dan daerah. Demokrasi menjadi pesta yang jauh lebih mahal. dan demokratis. Persis seperti rakyat yang terbius oleh goyang gerjaji. Ada simbiosis mutualisme antara para pelaku budaya pop dan partai politik yang berkembang pesat. sejahtera. karena setiap daerah menyelenggarakan sendiri pemilihan legislatif dan eksekutifnya. panas yang membakar. Umumnya mereka tidak siap untuk mengemban tanggung jawab sebagai wakil rakyat atau wakil gubernur sekalipun. Dalam berkesenian. maka yang terjadi justru pemerataan sistem Orde Baru di berbagai 271 . terutama di wilayah legislatif. Masalahnya kemudian adalah kapasitas. sepertinya jauh dari kenyataan. mungkin bisa menjadi ilustrasi menarik dengan banyaknya selebritas dunia hiburan (budaya pop) yang berhasil merebut kursi legislatif. Sayangnya. para pelaku budaya pop lantas mengambil kesempatan untuk ikut bermain langsung sebagai politikus dadakan. Dari awalnya hanya berperan sebagai vote getter. adil. upaya mewujudkan kehidupan demokratis yang sejahtera. Mungkin ini bisa dianggap sebagai keberhasilan dari karnaval budaya (pop) di panggung pemilu yang memberikan peluang lebih besar kepada para pelaku budaya pop. Otonomi daerah ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan oleh para pemikir desentralisasi. atau dingin yang menusuk tulang. Sifatnya hanya membius sesaat. Jika harapan otonomi daerah adalah pemerataan kesejahteraan.

menjadi sangat menyatu dengan kehidupan masyarakat dan mudah diimplementasikan seketika. Ilustrasi di atas memperlihatkan kepada kita bahwa setiap proses perubahan sistem dalam masyarakat selalu memunculkan tabrakan-tabrakan politik serta rasa masygul. aktivis antikorupsi. Tak mengherankan bila kita mendapati bertumpuk berkas korupsi. Bila dulu korupsi cuma menjadi barang mainan para kroni dan kerabat Soeharto. murahnya biaya pendidikan. Tak jarang kondisi seperti ini dimanfaatkan oleh kekuatan politik lama sebagai rute untuk kembali berkuasa. Tak heran bila kemudian Teten Masduki. Hal tersebut muncul karena jaringan politik lama masih eksis dan proses transformasi belum menunjukkan hasil nyata. Atau menemukan sekian ragam peraturan daerah “aneh-aneh” yang justru bertentangan dengan semangat demokrasi. kini korupsi telah menyebar rata di partai-partai serta lapis-lapis politikus baru dan para birokrat dari pusat hingga daerah. Sementara secara sosial-kultural. baik yang dilakukan oleh anggota parlemen daerah maupun birokratnya. mengatakan bahwa tipologi korupsi pascareformasi mengalami pergeseran baik secara vertikal maupun horizontal. Sistem yang memang sudah membudaya. begitu keran desentralisasi terbuka lebar dan terimplementasikan. seperti turunnya harga kebutuhan pokok. Artinya. Hal-hal yang dipedulikan masyarakat masih seputar kebutuhan dasar. masyarakat yang telah terbentuk oleh sistem lama juga cenderung nerimo dan bersikap apatis saja. 272 . jaminan kesehatan hingga pekerjaan yang memang belum terakomodasi dengan baik. terjadi diseminasi sistem secara instan. otonomi daerah justru diterjemahkan sebagai ajang mengeruk keuntungan di tingkat daerah ketika tak perlu terlalu menghamba pada pemerintah pusat.Geliat Perlawanan Basis daerah. Lebih celaka lagi. karena tidak ada alternatif sistem lain yang diketahui oleh pemerintahan daerah.

Menimbang dengan arif kesalahan dan kemaslahatan lampau. yaitu puisi dan panggung teater. bukan sekedar sebagai peserta karnaval di panggung politik elektoral dewasa ini.Geliat Perlawanan Basis Tak bisa disangkal bahwa proses transformasi politik dan kultur kekuasaan butuh waktu. Seniman-Budayawan di Panggung Politik Di dalam dunia politik. Bukan asal goyang gergaji di panggung pemilu. agenda seperti itu sungguh memerlukan kontribusi besar dari para senimanbudayawan dan cendekiawan. Saking frontalnya berjuang 273 . pada tahun 1970-an. Sekarang waktunya meluruskan sejarah. menggergaji yang bengkok atau miring. Istilah yang digunakannya pun sangat kultural. yakni Wiji Thukul. Memang ia juga pernah melakukan beberapa kegiatan semacam unjuk rasa atau demonstrasi. Namun. Menghukum dan menghargai dengan bijak para pelaku dan korban di masa lalu. Di masa mudanya. Rendra melakukan perlawanan terhadap sistem politik dengan memakai media kebudayaan. budayawan WS Rendra menancapkan keberadaannya sebagai sang pemberi kesaksian yang kritis dan berani. tapi tetap dalam konteks kebudayaan.” misalnya. Seorang penyair atau prosais atau dramawan sudah seharusnya memposisikan diri secara jelas dalam konstelasi dan relasi-relasi kekuasaan yang “bermain” sebagai sistem yang melingkupi dunianya. tak bijak juga untuk menyembunyikan setiap keraguan memerangi sisa kekuatan politik lama dalam permakluman tersebut. “malam tirakatan. Dalam batas-batas tertentu. Kontribusi sebagai pelaku budaya yang menciptakan perubahan dalam masyarakat. Tujuan aksinya hanya berusaha untuk memberikan kesaksian sebagai bentuk perlawanan dan perjuangannya. Kita juga memiliki seorang penyair yang berjuang secara lebih frontal.

Geliat Perlawanan Basis melalui media kebudayaan untuk hak asasi rakyat tertindas. Orang-orang itu mungkin terbuai mimpi indah menjadi raja. Meski Rendra melakukan aksi semacam unjuk rasa. Apa yang dialami Wiji Thukul adalah resiko ekstrim dari perjuangan seorang penyair yang berpihak kepada rakyat tertindas. dia tidak melakukannya sebagaimana Wiji Thukul melakukan aksi turun ke jalan dengan tujuan melawan rezim yang otoriter dan sewenang-wenang. Dia terlibat langsung dan total dalam gerakan rakyat yang diperjuangkannya. ikut berkeringat dan kelaparan. Inilah yang akan membedakan secara jelas seorang Rendra dengan Goenawan Mohamad. Rendra melakukannya hanya untuk membangunkan orang-orang yang tertidur dan tak peduli lagi pada apa yang terjadi di sekelilingnya. Atau Wiji Thukul dengan Joko Pinurbo. Diduga keras Wiji Thukul telah dibunuh dan dibuang entah di mana. atau 274 . Dia tak berjarak sedikit pun. Dia pejuang kemanusiaan yang gigih dan pantang menyerah. Puisi hanya salah satu bentuk perjuangannya untuk menyuarakan penderitaan rakyat. yang juga melakukan penghilangan paksa dan penculikan terhadap sejumlah aktivis antara tahun 1997 dan 1998. dia diculik dan tak diketahui lagi keberadaannya sampai detik ini. menjadi kaya-raya. Tukul adalah bagian langsung dari rakyat jelata yang tertindas. Makna keberadaannya di panggung politik tegas dan jelas dideklarasikan melalui karya dan kiprahnya. ikut berteriak. Tukul memang tidak hanya berjuang melalui puisipuisinya. misalnya. Diduga keras pelakunya adalah kelompok yang disebut sebagai Tim Mawar dari Kopassus. Atau Sapardi Djoko Damono dengan Sutardji Calzoum Bahri. Dia ikut mengacungkan kepalan tangan. dan disiksa oleh aparat keamanan dalam bentrokan-bentrokan yang tak terhindarkan antara rakyat dan aparat.

Geliat Perlawanan Basis menjadi selebritas. Drama Kisah Perjuangan Suku Naga mengangkat tema dari hasil pergulatan Rendra tentang kehidupan sebuah desa. para petani. Orde Baru sedang galak-galaknya sebagai rezim yang baru mereguk kekuasaan selama 10 tahun. Dalam drama ini. memperbaiki. dalam pengertian: hidup adalah usaha-usaha manusia untuk memperluas. tapi ia pernah berpartisipasi untuk Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam kasus Pilkada Depok sekitar Agustus 2005. Rendra mengatakan: tugas kami yang utama / adalah banyak bicara / yang sifatnya membesarkan / tetapi menghindari perdebatan / di dalam 275 . maka semuanya kemudian terlambat. Bagi Rendra. juga anak-anak kecil. Rendra tidak menjadi bagian partai politik. karena semuanya adalah tentang penguasa. Itulah sebabnya dalam menanggapi masalah-masalah politik. Mereka tertidur sampai sebuah mimpi buruk yang nyata mengejutkan dan membangunkan mereka. Dia melakukan observasi dan wawancara dengan kepala desa. Sebenarnya sejak awal Rendra merasa tidak memiliki tendensi politik. dan memperindah kemungkinan-kemungkinan bagi cita-cita bersama masyarakat. dia selalu menggunakan media kesenian dan kebudayaan. hidup adalah kebudayaan itu sendiri. Jadi. anak-anak muda desa yang merantau ke kota. Rendra mengkritik para penguasa dalam bentuk sindiran-sindiran lucu yang sekaligus bisa membuat para penonton tertawa terbahak dan juga takut. Tentang anggota DPR dalam lakon Kisah Perjuangan Suku Naga ini. karena mereka terjaga pada saat mimpi buruk sudah terjadi. Karya dramanya Mastodon dan Burung Kondor jelas mengangkat tema politik sebagai bentuk kepedulian dan keberanian yang besar untuk bersaksi dan memberontak terhadap sistem yang tidak benar. kebudayaan adalah daya hidup manusia yang harus terus dijaga dan ditingkatkan. ibuibu di desa. Pada saat drama itu dipentaskan. Namun.

Geliat Perlawanan Basis

parlemen / persatuan lebih utama dari perdebatan / dan penyebab persatuan / adalah perintah atasan. Sebuah kritik yang tajam. Namun, nyatanya para anggota DPR masa kini tetap tidak menjadi lebih baik. Mereka bahkan meminta kenaikan gaji hingga puluhan juta rupiah di saat rakyat kecil terperosok dalam jurang penderitaan dan kemiskinan yang tak kenal ampun. Para penguasa semakin kejam dan telengas. Mereka tega menculik dan membunuh anak-anak muda yang kritis dan berani. Itulah yang kemudian dialami Wiji Thukul sebagai satu-satunya penyair yang memposisikan diri sebagai pemberontak sekaligus aktivis politik. Jalan yang dipilih Tukul memang berbeda. Ia tidak memperluas konsep dan pemahamannya terhadap media kebudayaan sebagai sikap politik sebagaimana yang dilakukan Rendra. Sebaliknya, Tukul menajamkan dan mempersempitnya menjadi senjata politik untuk melawan dan terjun ke kancah politik praktis. Apa yang diperjuangkan Rendra masih menjadi agenda yang relevan bagi siapa pun yang peduli dan ingin menciptakan kehidupan yang lebih baik melalui jalan kebudayaan. Harapan pada kehidupan yang lebih baik adalah inti semua pemberontakan dan perlawanan yang dilakukan orang-orang seperti Wiji Thukul, Rendra, Pramoedya Ananta Toer, atau bahkan seorang tukang becak dan gelandangan sekalipun. Harapan akan kehidupan yang lebih baik adalah harapan semua orang yang harus diperjuangkan bersama-sama tanpa membeda-bedakan warna kulit, keyakinan, suku, agama, ideologi, atau jenis kelamin. Sayangnya, saat ini justru primordialisme dalam pengertian sempit dan politis, berkembang menjadi sesuatu yang memicu banyak konflik horizontal. Seiring dengan itu, fundamentalisme pun merebak dan meruyak kehidupan dengan senjata tajam terhunus yang meminta banyak korban. Menyedihkan. Kita mengalami

276

Geliat Perlawanan Basis

kemunduran dalam tatanan kehidupan budaya kita yang maunya demokratis, harmonis, dan gemah ripah loh jinawi. Sebagai anggota sebuah tatanan sosial-budaya, setiap manusia dipaksa untuk memenuhi aturan dan sistem nilai yang dipercaya sebagai landasan eksistensialnya. Nilai dan norma ini yang menentukan kewajaran perilaku dan martabat seseorang. Begitu perilaku seseorang keluar dari tatanan dan sistem nilai yang ada di masyarakatnya, ia akan menerima cap sebagai: tidak bermoral, bejat, pemberontak, atau bahkan gila. Untuk menghindari cap ini, berbagai “penyimpangan” perilaku ditutup rapat-rapat dan menjadi rahasia yang dibawa mati atas nama kehormatan dan martabat luhur manusia. Hal ini melahirkan hipokrisi dalam perilaku sebagian anggota masyarakat, terutama pada kalangan terhormat dan terpelajar (kaum bangsawan, ningrat, atau kaum intelektual) yang tak bisa menolak godaan untuk keluar dari sistem nilai tatanan sosial-budaya masyarakatnya. Sosok seperti penyair Chairil Anwar adalah sosok antagonis dari hipokrisi atau kemunafikan kaum terhormat yang juga melakukan berbagai perilaku yang dianggap “tidak bermoral, bejat, atau gila.” Chairil menjadi antagonis karena ia tidak menutup-nutupi perilaku liarnya. Ia menegaskan “kejalangan” dirinya dalam bait puisi fenomenalnya: aku ini binatang jalang / dari kumpulan yang terbuang. Dengan keberaniannya untuk jujur, Chairil membebaskan dirinya dari sistem nilai tatanan sosial-budaya masyarakat kita. Pertanyaannya kemudian: mengapa perilaku-perilaku tersebut muncul dan tak tertahankan, bahkan oleh kaum terpelajar? Jawabannya jelas: zaman berubah. Dunia berubah. Nilai-nilai pun dengan sendirinya mengalami pergeseran. Tidak ada nilai yang absolut, kecuali prinsip-prinsip paling substansial yang menjadi pondasi keberadaan manusia. Misalnya prinsip
277

Geliat Perlawanan Basis

tentang hak asasi manusia bahwa setiap manusia dilahirkan sama dan karenanya memiliki hak yang sama tanpa membedakan suku, agama, ataupun warna kulit. Tanpa membedakan ideologi politik ataupun strata sosial yang hanya merupakan hasil konstruksi kekuasaan.

Arts Activism dan Partisipasinya Dalam Politik Elektoral
Karya sastra dan seni-budaya lain harus peka terhadap pergeseran nilai dan perubahan yang terjadi. Karya seni-budaya seharusnya menjadi alat pembebasan bagi masyarakat. Karya sastra harus membebaskan pembacanya dari konstruksi sistem nilai yang sudah tidak relevan lagi, karena perubahan yang terjadi. Dan hal inilah yang kita dapatkan dari novel-novel Pramoedya Ananta Toer atau puisi-puisi Chairil Anwar yang mengusung pemberontakan pada sisi lain. Ia secara terbuka mengusung nilai kebebasan eksistensial dengan cara yang frontal. Kita harus melihatnya dari sudut pandang yang objektif dan netral. Apa yang dilakukannya adalah pemberontakan terhadap kemunafikan perilaku manusia, adalah upaya untuk menelanjangi kebobrokan moral dari kelompok orang-orang yang dianggap bermoral. Aktivitas seni-budaya (arts activism) harus bertanggung jawab terhadap persoalan-persoalan sosial-politik-budaya yang melingkupinya. Bertanggung jawab terhadap persoalan-persoalan kemanusian dan ketertindasan manusia dalam sistem yang sewenang-sewang dan otoriter. Lantas peran apa yang bisa diambil oleh kesenian dan kebudayaan secara nyata dalam meresponss perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat? Setidaknya kita bisa memulai dengan hal-hal sederhana namun sangat prinsipil. Sebut misalnya soal integritas yang harus dimiliki seniman dan budayawan agar bisa tetap menjaga independensi dan karakter masing-masing. Dengan memiliki integritas yang kuat, maka tidak
278

Perkumpulan Seni Indonesia (PSI) sebagai lembaga seni budaya yang independen. Terjadinya perpanjangan atau perluasan pementasan secara langsung merupakan hasil dan manfaat dari konsep gerakan 279 . Solo dan Semarang. PSI mengolahnya menjadi karya untuk menggugah masyarakat. Dengan menceburkan diri. Bermula dari rencana pementasan di dua kota (Jakarta dan Bandung). sehingga bisa menghasilkan gerakan kebudayaan yang sinergis. maka para senimanbudayawan seharusnya tidak menutup mata terhadap persoalan korupsi. maka persinggungan-persinggungan para seniman-budayawan dengan elemen-elemen masyarakat lain akan lebih intens dan kuat. Jika kini korupsi menjadi persoalan besar yang merusak kehidupan masyarakat. yang memang diperlukan untuk mengubah keadaan. pementasan pun berlanjut ke dua kota lain. mereka harus menceburkan diri dan enerji mereka untuk turut serta membantu memerangi budaya korupsi. Tahun 2009 PSI memproduksi pementasan teater yang diadaptasi dari novel Ladang Perminus karya Ramadhan KH yang bertema korupsi di perusahaan minyak negara. dalam kegiatan-kegiatannya selalu mencoba melakukan sinergi antara seniman-budayawan dan elemen-elemen masyarakat lain seluas-luasnya. berkat konsep berjaringan dan sinergi dengan banyak lembaga. Sebaliknya. Akarnya harus tetap menancap kuat di dalam persoalan-persoalan nyata yang terjadi di masyarakat. Dengan mengangkat persoalan-persoalan sosial-politik yang dihadapi masyarakat. Proyek ini melibatkan sejumlah organisasi di luar dunia seni-budaya yang memiliki kepedulian dan komitmen sama untuk memerangi korupsi. Seni dan budaya tetap harus independen dan berpihak hanya pada nilai-nilai kemanusiaan yang asasi.Geliat Perlawanan Basis perlu dikhawatirkan adanya kepentingan-kepentingan politik yang bisa menunggangi mereka.

karena budaya adalah wilayah kebebasan kreativitas. sutradara. itu semua tidak menjadi persoalan bagi seluruh kru Ladang Perminus. Secara swadaya. dan produser sedari awal bersepakat untuk bisa pentas dalam segala kondisi dan keterbatasan. Saat ini ada kebutuhan mendesak untuk membangun budaya baru di kalangan generasi muda agar mereka tidak hanya mewarisi dan meneruskan nilai-nilai budaya lama yang sudah kedaluwarsa. karena memang ada kepentingan dan komitmen yang sama untuk memerangi korupsi lewat jalur seni-budaya. Meski demikian. Pentas pertama diadakan di Taman Budaya Surakarta dan yang kedua diadakan di aula SMA Pangudi Luhur St Yosef. Membangun sinergi seperti ini memang memerlukan pendobrakan aturan baku dalam wacana budaya an sich. Para pemain. Syukurlah gerakan generasi muda di dunia pop sudah melahirkan apa yang disebut sebagai indie label atau indie spirit yang merupakan wujud keberanian atau pemberontakan 280 . hal ini tak perlu dirisaukan oleh para seniman-budayawan. Pementasan teater bisa di mana saja. yang tentu sangat berbeda dan tidak memiliki sarana laiknya gedung kesenian. Di Solo. jika ingin memperluas kedekatannya dengan persoalanpersoalan sosial-politik yang dihadapi masyarakat luas.Geliat Perlawanan Basis budaya yang sinergis dengan berbagai elemen masyarakat. misalnya. Kendala keterbatasan biaya tidak menjadi halangan. Seniman-budayawan bisa berkarya di mana saja. Namun. Justru dengan membongkar atau mendobrak tembok-tembok pemisah antara seni-budaya dan masyarakatnya inilah bisa terjadi sinergi kekuatan masyarakat lewat jalur kebudayaan. jika tujuannya adalah menjangkau publik yang lebih luas sebagai gerakan kebudayaan atau gerakan penyadaran. beberapa lembaga di Solo dan Semarang mengundang untuk tampil di dua kota itu. pentas diadakan dua kali di dua tempat berbeda. kru.

Tanpa harus sekadar menjadi penggembira dalam karnaval budaya. Seniman-seniman muda dari wilayah itu sudah terbukti mampu menancapkan diri dengan label indie tanpa rasa minder. Mempengaruhi panggung politik elektoral kini dengan gerakan kebudayaan tetap harus dilakukan. terutama melalui pendekatan yang berbasis isu-isu genting. ditentukan oleh generasi muda.Geliat Perlawanan Basis terhadap main stream. Harapan akan masa depan yang lebih baik. Toh. mau tidak mau. 281 . jika tak ingin sekadar menjadi penggembira sebuah karnaval budaya di panggung politik. Sebut misalnya di dunia musik dan film. memberikan kontribusi budaya di dunia politik jelas merupakan tanggung jawab seniman-budayawan. kontribusi politik yang lebih penting dari kalangan seni-budaya adalah upaya membangun generasi muda baru tersebut. Kesadaran ini jugalah yang membuat PSI dalam program-programnya selalu memfokuskan diri pada kalangan generasi muda tingkat SMA. Perubahan hanya bisa dilakukan oleh generasi muda yang mengusung semangat dan nilai-nilai sosial-budaya-politik yang baru. Sebaliknya. menyadarkan masyarakat untuk peduli terhadap kerusakan lingkungan atau untuk melawan korupsi adalah kewajiban setiap anggota masyarakat. Namun.

.

Kabupaten Kepulauan Aru. 283 . yaitu Kota Ambon. dan Kabupaten Maluku Barat Daya.Masyarakat Harus Memiliki Kapasitas untuk Memilih yang Strategis di Antara Berbagai Pilihan Politis Simpul Maluku – FBB Prakarsa Rakyat 1 Latar Belakang M 1 aluku merupakan provinsi kepulauan dengan ibu kota Ambon. Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Tulisan dipersiapkan oleh George Corputty. Kabupaten Seram Bagian Timur. Kabupaten Buru. Kabupaten Maluku Tengah. Kabupaten Seram Bagian Barat. Kabupaten Buru Selatan. Sekretaris Jendral Jaringan Baileo Maluku. Kabupaten Maluku Tenggara. Saat ini Maluku terdiri atas 11 daerah tingkat II. Kota Tual.

Orientasi pembangunan provinsi Maluku saat ini adalah pengembangan pesisir dan laut serta pengembangan rempahrempah. untuk mempersingkat waktu tempuh dari bandara ke Kota Ambon. perkebunan. Faktanya provinsi ini memiliki kekayaan alam di darat (pertanian. Sebagai penguasa ekonomi. pemasaran. Namun. rumput laut. Mencermati alasan yang disampaikan Gubernur Maluku. 284 . yaitu dengan membangun Gong Perdamaian di Kota Ambon (yang menurut penjelasan Pemda provinsi Maluku adalah yang ke-15 di dunia) dan membangun Jembatan Merah Putih yang akan menghubungkan dua jazirah di Pulau Ambon. dan transportasi bagi berbagai hasil produksi. Sedangkan Jembatan Merah Putih. tantangan spesifiknya adalah komunikasi. dan peternakan) serta perikanan dan pesisir (berbagai macam ikan. Bahkan.Geliat Perlawanan Basis Kondisi Ekonomi Potensi sumber daya alam provinsi Maluku belum diberdayakan secara maksimal. yaitu lebih cepat 15 menit (dari 25 sampai 30 menit menjadi 15 menit) dan menurut rencana akan dibuat tarif penggunaan jembatan. Mereka menguasai dari proses produksi dan pemasaran. menurut penjelasan Kepala Dinas Pekerjaan Umum. Kedua proyek besar itu tidak ada kaitan dengan orientasi pembangunan di Maluku. teripang. mereka juga distributor barangbarang ekonomi produksi luar daerah. Dengan letak geografis kepulauan. Banyak pengusaha lokal yang telah menguasai jalur-jalur ekonomi produktif yang strategis. tetapi dijadikan sebagai prioritas pembangunan. dan mutiara). Dua fakta terlihat jelas. pengambilan prioritas pembangunan belum menggambarkan keseriusan dalam menjalankan orientasi pembangunan di Maluku. Gong Perdamaian untuk mendatangkan pendapatan asli daerah dari kunjungan wisatawan.

Selain tidak didiskusikan dengan baik. Ada kecenderungan lain. karena biaya transportasi sangat tinggi untuk mencapai pasar. tidak ada upaya untuk membangun atau mengembangkan strategi ekonomi desa yang berbasis pada potensi sumber daya tersedia (sumber daya alam dan sumber daya manusia) di desa. Yang dilakukan adalah program ekonomi yang dianalisis secara top-down. juga tidak pernah ada kejelasan secara transparan manfaat yang akan diterima masyarakat. Kesan sangat kuat hanya menjalankan tuntutan program dari atas dan masyarakat merasa tidak memiliki program tersebut. Perusahaan-perusahaan mereka sebagian besar dengan tujuan ekspor. Kearifan lokal ini masih digunakan secara 285 . Harga yang mereka tentukan untuk setiap jenis barang ekonomi yang mereka beli dari masyarakat tidak pernah dikonversi dari harga ekspor. Sebagai contoh. sasi masih dihormati dan diakui pemberlakuannya. cenderung ditentukan sendiri. karena terlalu besar pengeluaran jika memasarkan sendiri. sehingga selalu ditolak masyarakat. sehingga banyak yang tidak sesuai dengan ketersediaan sumber daya desa. Selain itu. Kondisi Sosial Budaya Masyarakat Maluku memiliki pola kekerabatan yang masih kuat. beberapa izin HPH dan pertambangan yang selalu dikeluarkan dari pusat (tingkat menteri) tidak pernah mengajak diskusi masyarakat pemilik tanah (kepemilikan petuanan adat adalah kepemilikan komunal). Masyarakat tidak mempunyai pilihan lain.Geliat Perlawanan Basis mereka sangat menguasai jalur produksi dan pemasaran di berbagai wilayah Maluku dan keluar daerah. dengan hukum adat yang masih diakui dan potensial untuk dijadikan sebagai alat kontrol dalam pengelolaan sumber daya alam.

Masih dipertanyakan apa dasar pemberian gelar adat ini. Pulau Dulah. Tetapi harus diakui. Ini yang dibaca dengan baik oleh para pengusaha. degradasi nilai adat terus terjadi. Pada pertengahan tahun 2009. Sebab. yang ada adat suatu desa atau wilayah tertentu. Proses ini penuh dengan muatan politikekonomi. Menurut hasil diskusi pada November 2009 bersama beberapa tokoh adat di Kei. Kota Tual. dan 286 .Geliat Perlawanan Basis strategis untuk membangun sistem kelola pemerintahan di desadesa adat. karena setiap gelar adat selalu didasarkan pada sistem adat yang mendapat pengakuan. mendapat gelar adat dari beberapa tokoh adat di Kei. terutama dalam kaitan dengan eksploitasi sumber daya alam. hal itu menggambarkan dengan jelas bahwa aspek adat dapat digunakan untuk memperkuat proses ekonomi. Lembaga ini diprakarsai Gubernur Maluku. Tidak ada adat Maluku. tetapi dalam aktivitasnya cenderung politis karena lembaga ini kemudian memberikan gelar adat kepada beberapa ”tokoh” nasional dan daerah atas ”jasa-jasa” mereka. Selain itu ada pembentukan lembaga yang cenderung dipaksakan menjadi lembaga adat bernama Lembaga Latupati Maluku. pengusaha David Chiu. penanggung jawab PT Maritim Timur Jaya (MTJ) yang beroperasi di Desa Ngadi. pemberian gelar ini tidak dilakukan secara transparan dan masyarakat menolak dengan menutup Jembatan Usdek yang menghubungkan Pulau Dulah (Kota Tual) dan Pulau Kei Kecil (Kabupaten Maluku Tenggara). gelar adat yang lahir dari proses yang diakui akan memberikan posisi strategis di suatu wilayah adat. bila perlu membayar untuk mendapatkan gelar tersebut. Posisi ini akan sangat memudahkan pengusaha diterima masyarakat untuk mengembangkan usahanya. Terlepas dari proses adat yang tidak sesuai. Akhirnya David Chiu mengembalikan gelar adat itu kepada masyarakat adat Kei.

Kekurangan tenaga dokter dan paramedis serta penempatan yang belum merata. karena situasi letak geografis kepulauan. semua pemberian gelar adat selalu diikuti dengan hak dan kewajiban yang bersifat jangka panjang. Selain itu. Ada beberapa akademisi yang juga bersedia menjadi ”tameng” secara intelektual untuk menyatakan perkebunan kelapa sawit tidak berbahaya untuk keberlanjutan lingkungan. tidak ada dokter yang bersedia ditempatkan di Kabupaten Maluku Barat Daya (penerimaan pegawai akhir tahun 2009) walaupun telah diumumkan dibutuhkan 5 dokter. Organisasi gereja Protestan yang terbesar dan berpengaruh di Maluku juga dimanfaatkan dengan baik untuk kepentingan perusahaan tersebut. Semua tenaga medis terpusat di kota-kota. Wilayah raja-raja ini rencananya akan ditanami kelapa sawit.Geliat Perlawanan Basis semua desa adat di Maluku memiliki sejarah adat yang berbedabeda. hanya sedikit yang mau ditempatkan di daerah terpencil. Misalnya ada perusahaan kelapa sawit di bagian utara Pulau Seram (Kabupaten Maluku Tengah) yang membawa raja-raja ke Sulawesi Tenggara dengan alasan exposure dan jalan-jalan serta diberi sepeda motor. Bahkan. Kesehatan Pemenuhan hak kesehatan masyarakat belum dilaksanakan secara maksimal. Ada pengusaha kelapa sawit yang membaca peta ini dan menggunakan kewenangan beberapa tokoh adat dan raja secara individual untuk memanfaatkan wilayah petuanan mereka. Sesudahnya mereka ”dipaksa” mengizinkan perusahaan tersebut untuk berusaha. 287 . Organisasi keagamaan juga masih terus digunakan untuk kepentingan pemilik modal. karena calon wilayah perkebunan berada di dalam kawasan yang dimiliki jemaat Kristen Protestan.

Ada beberapa gunung api yang memiliki siklus meletus 50 tahun hingga 70 tahun. Pendidikan Situasi yang sama dengan letak geografis kepulauan. infrastruktur yang dibangun tidak diikuti dengan penempatan dokter dan paramedis serta penyediaan obat-obatan. 288 . Selain itu. Faktanya sampai saat ini ada kabupaten pemekaran yang masih tergantung pada kabupaten induk dan belum maksimal mengembangkan potensi sumber daya alam. Namun. karena standar ujian nasional yang tinggi. Faktanya masih kekurangan guru. Pemerintah telah memberikan kartu asuransi kesehatan. Maluku wilayah rawan gempa yang memilik intensitas gempa yang tinggi. tetapi faktanya sering tidak dapat digunakan dengan alasan obat habis. Dalam proses pemekaran berbagai daerah tingkat II cenderung didasarkan pada pertimbangan politis. Bahkan ada kabupaten yang belum memiliki perencanaan strategis yang didasarkan pada konteks wilayahnya. Faktanya belum ada perda yang mengatur dan semua menunggu terjadi bencana baru diatasi. Juga kurang tersedia buku-buku dan kapasitas guru untuk menerapkan kurikulum standar nasional. karena penempatan guru tidak merata. Wilayah Bencana Wilayah Maluku adalah daerah rawan bencana. pemerintah provinsi dan kabupaten/kota belum menyiapkan strategi penanganan gempa dan bencana. Banyak sekolah yang juga sudah dibangun (untuk tingkat SD dan SMP) di desa-desa.Geliat Perlawanan Basis Selain itu. sekolah lebih terpusat di kota kabupaten.

Untuk tingkat DPRD kabupaten/kota dan provinsi sudah mulai terlihat ada kandidat anggota yang terpilih karena memang dipilih berdasarkan kapasitas dan track record. Tetapi untuk DPR. orientasi dasar pembangunan yang didasarkan pada analisis strategis belum terlihat dalam penentuan prioritas pembangunan. DPR. ada yang memanfaatkan kekuasaan partainya. Perencanaan pembangunan dan penentuan prioritas pembangunan tidak didasarkan pada pertimbangan situasi kepulauan dan konteks Maluku. seolah-olah mereka menjadi orang yang akan menyelesaikan masalah yang dihadapi masyarakat. DPD. Pemekaran kabupaten kemudian dijadikan sebagai ajang penjajakan dan penguatan infrastruktur partai politik dan beberapa individu yang akan berpartisipasi dalam pemilihan legislatif dan pemilihan presiden. walaupun dari kuantitas belum signifikan. dan 289 . serta pemilihan presiden dan wakil presiden. Ada anggota DPR yang berlatar belakang pengusaha yang memiliki track record tidak terlalu baik seperti merusak lingkungan dari usaha yang dilakukan perusahaannya. Saat ini para kandidat yang terpilih dan tidak terpilih cenderung melupakan janji ketika kampanye. para kandidat juga membuat pemetaan dan analisis konteks wilayah. Dewan Perwakilan Daerah. Bisa terlihat dari isu yang digunakan untuk mempopulerkan diri para kandidat. Mereka juga menggunakan cara-cara lama dengan menggunakan money politics. ada yang memanfaatkan kekuasaan anggota keluarganya. Inisatif Perlawanan Dalam proses politik praktis pemilihan anggota DPRD II. dan pemilihan presiden tidak bisa diukur lagi.Geliat Perlawanan Basis Melihat beberapa contoh di atas. DPRD I.

tetapi penguatan dari segi pendidikan politik masyarakat harus terus dilakukan. 290 . baik dari parpol kecil/baru yang masih membangun infrastruktur kepartaian maupun parpol besar yang sudah memiliki infrastruktur kepartaian yang besar pula. Proses ini dibangun melalui kerja sama dengan beberapa kelompok di masyarakat yang berpengaruh dalam melakukan proses selama ini. jauh lebih kuat tekanannya daripada berpikir secara logika bahwa sebenarnya mereka tidak memiliki kemampuan secara finansial dan kapasitas. Proses ini menjadi strategis dibangun karena terbukti begitu banyak kandidat anggota parlemen di semua level. Kedudukan politik bukan akhir dari cita-cita membuat perubahan. Sesudah sekitar satu tahun proses ini dibangun. Mereka memiliki keyakinan yang sama besar akan terpilih. Dari semua yang terpilih memang tidak bisa diukur kapasitas dan rekam jejaknya. Kelompok-kelompok ini ada yang bergabung secara individu atau kelembagaan formal. Diperlukan sebuah institusi kolaborasi yang dapat melaksanakan peran dan fungsi kolaborasi lintas sektor yang berbasis masyarakat. Selain itu. yang menjadi soal besar adalah ketidakmampuan masyarakat secara ekonomi. dibentuk Maluku Sustainable Development yang terdiri atas aktivis LSM. Yang terpenting adalah membuat masyarakat agar dapat mengambil pilihan-pilihan politik yang strategis. Ada anggota DPD yang belum teruji melakukan proses di masyarakat dan menggunakan fasilitas kekuasaan.Geliat Perlawanan Basis ada yang menuntut jasa atas pemekaran daerah tingkat II. Institusi ini jugalah yang membangun mekanisme integrasi lintas sektor serta standar-standar kebijakan serta proses dan prosedur yang mengatur kerja sama antar-sektor terkait. Mimpi akan menjadi orang dengan taraf hidup lebih sejahtera dan populer. Proses penguatan masih sama dengan strategi tahun 2009.

Model yang dilakukan adalah dilakukan diskusi kritis bersama untuk membuat analisis terhadap suatu isu didasarkan pada referensi ilmu pengetahuan. memiliki konsistensi pertumbuhan harga jual dan pertumbuhan tingkat permintaan pasar yang baik. dapat dijadikan komoditas pendorong dalam membangun kluster industri berbasis masyarakat lintas wilayah (lintas kabupaten. Pilihan komoditas ini dengan pertimbangan dasar: siklus produksinya pendek (30-45 hari). Peran strategis yang dijalankan tim ini adalah menganalisis berbagai tantangan pembangunan di setiap stake holder’s pembangunan serta membangun solusi atas setiap tantangan dengan prinsip dasar tata pemerintahan yang baik dan pembangunan yang berkelanjutan. sehingga pada akhirnya rumput laut dapat menciptakan economic convergence. saat ini tim mendorong pengembangan industri rumput laut dengan konsep ekonomi kluster yang dikembangkan Advance Maluku (LSM yang bertujuan memberdayakan masyarakat). Dalam kaitan ke masyarakat. dan kontribusi jaringan kemudian ditemukan bersama solusi strategis untuk diusulkan. Kolaborasi yang dilaksanakan adalah memadukan pengorganisasian yang selama ini dilakukan anggota Jaringan Baileo Maluku untuk membangun otonomi desa dengan konsep ekonomi kluster yang dikembangkan Advance Maluku. dan akademisi.Geliat Perlawanan Basis wartawan. karena selama ini para kandidat peserta pemilu selalu memanfaatkan ketidakmampuan 291 . lintas provinsi) karena banyaknya kesamaan kondisi alam berbagai daerah pesisir di seluruh Indonesia. Dalam kaitan dengan otonomi. tokoh masyarakat. Strategi yang mulai dilakukan saat ini di tingkat masyarakat adalah membangun kemampuan otonomi desa dan pengembangan strategi ekonomi desa berdasarkan ketersediaan sumber daya lokal. memiliki produk turunan/derivatif lebih dari 350 jenis. berbagi pengalaman.

termasuk proyeksi keuntungan sebagai kepastian yang dapat diukur. Diskusi ini juga dilakukan dengan individu beberapa parpol. dalam membangun parpol tidak hanya dibangun infrastruktur politiknya. Dengan kekuatan ini akan ada kemampuan di tingkat masyarakat untuk membuat perbaikan. Kaitan dengan membangun strategi ekonomi desa. Masyarakat perlu memahami dengan baik konsep program usahanya dan alasan-alasan strategisnya.Geliat Perlawanan Basis dalam membuat perencanaan pembangunan. Kalau proses ini dibangun dengan baik. Konsep kluster ekonomi yang sedang dikembangan adalah membangun industri rumput laut di Kepulauan Kei. tetapi juga infrastruktur ekonominya. 292 . Sebab. Institusi ini tidak sekadar untuk memprotes atau mengkritisi berbagai kebijakan dan aturan yang dihasilkan penyelenggara pemerintahan di Maluku. Selain itu upaya memandirikan LSM sebagai sebuah upaya strategis. industri pengolahan. mereka juga memberikan solusi. Dalam perkembangannya. produksi. tahapantahapan yang harus dilewati (dari persiapan. Semuanya kemudian diposisikan sebagai syarat mencapai keberhasilan dan dikembalikan ke masyarakat sebagai pilihan strategis. Terakhir adalah membangun pemahaman ekspektasi terhadap usaha yang akan dikembangkan dengan penentuan indikator capaian yang dapat diukur. terutama pada level kabupaten/ kota. Proses yang dibangun adalah membangun partisipasi aktif masyarakat dengan memperkuat kapasitasnya. tetapi lewat studi tematik. hingga pemasaran). proses ini dilakukan dengan pendekatan profesionalisme. masyarakat akan lebih percaya diri dalam menghadapi berbagai kampanye yang dipenuhi janji-janji para kandidat dan parpol peserta pemilu. perencanaan bisnisnya. sejak diinisiasi sampai saat ini banyak kelompok masyarakat yang mulai terlibat dalam diskusidiskusi kritis untuk membuat perbaikan.

” Selain itu ada kelompok akademisi yang tidak promasyarakat tetapi dekat dengan pemerintahan yang berhasil mengambil untung dari pengembangan konsep ini. Yang menjadi strategis. walaupun inisiatif seperti ini harus terus dibesarkan sehingga manfaatnya bisa dirasakan banyak kalangan. ada lembaga pemerintah yang menghalangi pengembangan ekonomi kluster karena memang konsep ini ”bebas project fee. Dalam mengembangkan ekonomi kluster memang kurang mendapat dukungan dari pemerintah provinsi.Geliat Perlawanan Basis Responss Pihak Luar Sesudah inisiatif ini dibangun seperti ada ”ketakutan” dari pemerintahan di Maluku. tetapi kemudian ditanggapi langsung oleh masyarakat yang melaksanakan program kluster ini. Bahkan. Semua pihak yang terlibat dalam proses ini 293 . Analisis Inisiatif Pengembangan komoditas rumput laut dengan konsep kluster dalam skala industri berbasis sumber daya lokal tersedia adalah salah satu contoh solusi yang tidak hanya dibicarakan. tetapi dipraktikkan. masyarakat memang merasa membutuhkan proses kolaborasi seperti ini. Secara positif saat ini banyak kalangan yang mulai terlibat dalam diskusi-diskusi kritis yang dibangun lembaga ini dalam menghadapi kasus-kasus tertentu. Lembaga ini kemudian melakukan berbagai inisiasi untuk ikut memfasilitasi proses perbaikan. karena posisi kritis lembaga ini tetap dikedepankan dengan memberikan solusi. walaupun peluncuran lembaga ini dilakukan di kantor Gubernur. Bahkan ada sebuah ormas yang membangun opini negatif di media massa.

Gubernur Maluku menyatakan tugu itu akan dapat menghasilkan pendapatan asli daerah dari karcis masuk dan pengambilan gambar oleh wisatawan. tidak didasarkan atas pengembangan dengan skala industri yang memiliki daya saing unggulan. 294 . sehingga seluruh program dan kegiatan pembangunan yang dilakukan untuk mendukung kedua program utama. karena yang diprioritaskan adalah membangun tugu Gong Perdamaian dan Jembatan Merah Putih. Selain itu dalam membuat perencanaan pembangunan belum didasarkan pada kapasitas sumber daya alam lokal. prioritas pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan belum terlihat konsisten. Gong Perdamaian dibangun dengan dana miliaran rupiah dan diresmikan Presiden. Pelaksanaan program ini juga didasarkan pada pola berkelanjutan yang mencegah terjadinya kerusakan lingkungan dalam jangka panjang. yaitu pengembangan pesisir dan laut serta pengembangan rempahrempah. karena diperlukan penataan dan pengelolaan lingkungan oleh desa dalam bentuk perencanaan tata ruang desa. Dalam praktiknya. Sedangkan pembangunan Jembatan Merah Putih membutuhkan dana sekitar Rp 400 miliar. dan tidak membuat prioritas capaian. Sebagai contoh. Kekuatan konsep ini adalah pemahaman konsep seluruh peserta program dan juga dihubungkan dengan kearifan lokal.Geliat Perlawanan Basis dapat memahami seluruh konsep mulai dari alasan-alasan strategis sampai tahapan-tahapan yang harus dilakukan. Setiap desa juga didorong membuat sistem kelola berdasarkan kearifan lokal dan ketersediaan sumber daya lokal. Dalam konferensi pers menjelang diresmikan. Pemerintah Daerah provinsi Maluku menyatakan akan mengembangkan dua program utama.

ada beberapa rekomendasi. Bentuk perlawanan yang dilakukan lebih konstruktif. karena tidak didasarkan asal melontarkan kritik. sumber daya. Jembatan ini akan menghubungkan dua jazirah di Pulau Ambon. Secara strategis. pengalaman. Pola kerja kolaboratif dengan melibatkan seluruh pihak adalah sebuah proses. Rekomendasi Dari berbagai elaborasi dan analisis yang diperkuat proses berbagi pengalaman.Geliat Perlawanan Basis Sebagai perbandingan. tetapi juga memberikan solusi hasil analisis. Kalau dianalisis dari sisi mana pun tidak ada hubungannya untuk memberikan dukungan kepada program utama Maluku. maka dibutuhkan kerja kolaboratif yang dapat mengkritisi kinerja penyelenggara pembangunan di Maluku. tetapi membangun konsistensinya adalah proses yang harus terus dijalankan dan ditemukan bangunan kerja samanya. pola kolaborasi dapat dijadikan sebagai model pembangunan ke depan. dan jaringan yang telah dibangun untuk mendorong penegakan kedaulatan rakyat. dana yang dibutuhkan untuk membangun trans Maluku yang akan menguhubungkan pulau-pulau di Maluku lewat darat dan laut adalah Rp 800 miliar lebih (presentasi Kepala Dinas PU pada pertemuan dengan DPD dan masyarakat di kantor Gubernur Maluku). Dari contoh ini. keahlian. 1. Diperlukan proses membangun 295 . Proses perlawanan ini secara strategis adalah upaya perbaikan yang dilakukan masyarakat. Kerja kolaboratif adalah pilihan yang dapat dilakukan untuk dapat menyatukan berbagai potensi. yang menurut penjelasan Kepala Dinas PU. satusatunya manfaat adalah mengurangi waktu tempuh dari Bandara Pattimura ke Kota Ambon dari 30 menit menjadi 15 menit.

296 . menjadikan masyarakat sebagai pelaku yang memahami konsep program. 3.Geliat Perlawanan Basis pemahaman bersama dan mengembangkan konsep yang dapat diterima masyarakat. Mengkritisi kerja penyelenggara pemerintahan daerah harus dilakukan dengan memberikan usulan konstruktif dalam pengembangan konsep dan hasil analisis bersama. 4. Pengembangan konsep pembangunan berdaya saing unggulan yang didasarkan atas karakteristik wilayah dan ketersediaan sumber daya lokal. Penyelenggara pemerintahan harus memiliki arah strategis pembangunan sesuai dengan karakteristik wilayah dan ketersediaan sumber daya lokal. 2. termasuk kearifan lokal.

GRP HAM Sulawesi Utara dan Spirit Korban 65 Simpul Sulawesi Utara – FBB Prakarsa Rakyat 1 S ecara prosedural. Penghormatan terhadap hak-hak rakyat sangat minim. Sulawesi Utara boleh dibilang daerah yang “demokratis. Bahkan boleh dikatakan pelaksanaan demokrasi prosedural telah memperkuat legitimasi bagi politikus yang terpilih untuk melakukan berbagai tindakan korupsi dan penyalahgunaan wewenang. mantan Direktur YDRI periode 2006 2008 dan Ketua Badan Pengurus Kontras Sulawesi Periode 2009 – 2012. 1 Tulisan dipersiapkan oleh Anton Miharjo. 297 . Pemilu legislatif dan pemilihan kepala daerah tidak serta-merta membuat mereka yang terpilih secara “demokratis” mampu mengambil kebijakan yang memihak rakyat. Belum ada kesesuaian antara kebijakan yang diputuskan penjabat publik dan kehendak rakyat.” namun praktik politik sehari-hari masih cukup jauh dari substansi demokrasi.

Sebab.306 miliar rupiah. kemudian elite parpol yang bercokol di DPRD mendapat kemudahan fasilitas. Namun. dana insentif komunikasi. Misalnya Fraksi Partai Golkar di DPRD pada Agustus 2008 pada pembacaan laporan pertanggungjawaban (LPJ) tiba-tiba mempertanyakan program kerja Gubernur yang dianggap begitu memprioritaskan penyelenggaraan World Ocean Conference (WOC) dibanding program lainnya. 9 Januari 2008. Kompromi politik pragmatis bukanlah tanpa imbalan. NGO/LSM. Atau misalnya ketika Gubernur menolak beroperasinya PT MSM yang berencana melakukan penambangan emas karena berpotensi merusak lingkungan. gerakan mahasiswa. Partai Golkar justru mendukung beroperasinya perusahaan tersebut. Berbagai keinginan pragmatis DPRD. Sekwan. pembagian dana THR setiap tahun. yang menyebabkan fungsifungsi pemerintah dalam melindungi kepentingan rakyat begitu terabaikan. 298 . konflik politik seperti ini berakhir begitu saja melalui kompromi politik antara elite politik. mulai pergantian mobil dinas. Padahal. Harian Komentar.Geliat Perlawanan Basis Selama lima tahun terakhir kepentingan politik pragmatis dari elite politik masih sangat dominan. dan gerakan civil society lainnya cenderung menjauhkan 2 Dana studi banding tahun 2007 menghabiskan anggaran 12 miliar dan tahun 2008 menghabiskan anggaran 7. Tarik-menarik kepentingan antara elite politik sekadar memperkuat basis ekonomi-politik menghadapi Pemilu 2009 ataupun Pemilihan Gubernur 2010. sampai alokasi anggaran studi banding setiap tahunnya yang mencatat angka miliaran rupiah telah mewarnai dinamika politik Sulawesi Utara selama lima tahun terakhir. setahun sebelumnya Partai Golkar begitu antusias mendukung pelaksanaan WOC di Kota Manado.2 Ruang demokrasi yang tidak menguntungkan rakyat ini tidak lepas dari kegagapan kekuatan demokratik di Sulawesi Utara dalam merespons Pemilu 2004 dan pilkada.

Sementara PT Meiras Mining Soputan (PT MMS) dan PT Tambang Tondano Nusantara di Kabupaten Minahasa Utara.Geliat Perlawanan Basis diri dari ranah politik dan hanya berkutat di unit-unit swadaya. Setidaknya dalam lima tahun terakhir kasus-kasus pelanggaran hak-hak rakyat masih mewarnai proses dinamika politik rakyat. usaha-usaha pemberdayaan dan pengorganisasian masyarakat. memperkirakan 25.4 Selain kasus-kasus pelanggaran hak rakyat yang terjadi pasca-reformasi. sudah pada tahap pembangunan konstruksi.000 orang di Sulawesi Utara 3 4 Sulawesi Utara berada pada kategori 4 besar terbaik untuk Indeks Pembangunan Manusia Tahun 2008. Saat ini ada 3 investor asing yang sudah masuk. Avocet. Minahasa. advokasi. Sulawesi Utara menyisahkan kisah yang tak pernah tuntas. dan penghilangan secara paksa yang tersistematis dan mereka yang hidup adalah saksi-saksi atas peristiwa tersebut.000an PKL di Kota Manado. Kisah penyiksaan.3 Namun tidak berarti kasus-kasus pelanggaran hakhak rakyat terselesaikan atau minimal negara telah memastikan melindungi kepentingan rakyat. Kondisi ini kemudian melahirkan jurang yang dalam antara persoalan hidup rakyat dan proses perpolitikan formal. konflik agraria (perebutan tanah dan sumber daya alam) terutama di Kabupaten Bolaang Mongondow. Salah satunya mulai beroperasi di Bolmong yaitu PT. Meski kemudian. Sulawesi Utara termasuk daerah yang “aman” dan daerah yang relatif sejahtera. Seperti kasus penggusuran 3. Yosep Kalengkongan. penahanan. yaitu tragedi pelanggaran HAM berat dalam peristiwa 1965. dan Sangihe Talaud dan kasus pertambangan berskala besar yang berpotensi merusak lingkungan dan mengabaikan kepentingan petani di wilayah sekitar tambang. 299 . dalam proses transisi demokrasi. salah satu korban 65 yang giat menelusuri fakta-fakta peristiwa pembantaian.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful