Faringitis Tuberkulosis

FARINGITIS TUBERKULOSIS

PENDAHULUAN Tuberkulosis masih merupakan penyakit yang sangat luas didapat dinegara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Tuberkulosis dibagi menjadi tuberkulosis primer dan tuberkulosis sekunder. Tuberkulosis primer merupakan infeksi pertama dari tuberkulosis, sedangkan tuberkulosis sekunder adalah infeksi yang terjadi akibat adanya penyebaran dari kuman penyebab tuberkulosis primer ke tempat yang lain melalui aliran darah atau kelenjar getah bening. Faringitis tuberkulosis biasanya merupakan proses sekunder tuberkulosis paru, kecuali bila infeksi disebabkan oleh kuman tahan asam jenis bovinum.(1)

ANATOMI FARING Untuk keperluan klinis dibagi menjadi tiga bagian utama : nasofaring, orofaring dan laringofaring atau hipofaring.(2)

Nasofaring Ruang nasofaring yang relatif kecil terdiri dari atau mempunyai hubungan yang erat dengan beberapa struktur yang secara klinis mempunyai arti penting yaitu : 1. Pada dinding posterior meluas ke arah kubah adalah jaringan adenoid. 2. Terdapat jaringan limfoid pada dinding faringeal lateral dan pada resesus faringeus, yang dikenal sebagai fasa Rosenmuller.
Yuna Marini. S, 991001233, FK-UISU Halaman KKS SMF THT RSU Dr. Pirngadi Medan 2005

1

vena jugularis interna. Tonsila palatina struktur limfoidnya adalah sistem kripta. Pirngadi Medan 2005 2 . leukosit dan bakteri. Selama peradangan Yuna Marini. S. sehingga menjadi mudah tersumbat oleh partikel makanan.(2) Orofaring Orofaring termasuk cincin jaringan limfoid sirkumferensial yang disebut cincin Waldeyer.Faringitis Tuberkulosis 3. 7. mucus sel epitel yang terlepas. tonsila lingual dan folikel limfoid pada dinding posterior faring. 4. 991001233. Tulang temporalis bagian petrosa dan foramen laserum yang terletak dekat bagian lateral atap nasofaring. vagus dan asesorius spinalis. 6. Ostium dari sinus-sinus sphenoid. tonsila palatina. Struktur pembuluh darah yang letaknya berdekatan termasuk sinus petrosus inferior. Foramina kranial. cabang-cabang meningeal dari oksipital dan arteri faringeal asenden dan foramen hipoglosus yang dilalui saraf hipoglosus. FK-UISU Halaman KKS SMF THT RSU Dr. Komponennya adalah jaringan adenoid. yang terletak berdekatan dan dapat terkena perluasan dari penyakit nasofaring. Kripta merupakan tempat utama pertumbuhan bakteri patogen. Adenoid struktur limfoidnya tersusun dalam lipatan. 5.ole. termasuk foramen jugularis yang dilalui oleh saraf kranial glosofaringeus. refleksi mukosa jaringan diatas kartilago saluran tuba eustacius yang berbentuk bulat dan menunjan. 8. Kripta-kripta ini lebih berlekuk pada kutub atas tonsila. Tonus tubarius . tampak sebagai tonjolan seperti ibu jari kedinding lateral nasofaring tepat diatas perlekatan palatum . Koana posterior rongga hidung.

hingga sebagian besar fokus primer tuberkulosis terdapat dalam paru. Basil tuberkulosis tidak membentuk toksin (baik endotoksin maupun eksotoksin). Pirngadi Medan 2005 3 . tetapi dalam cairan pada suhu 60oC mati dalam 15 – 20 menit. Selain melalui udara penularan dapat peroral misalnya minum susu yang mengandung basil tuberkulosis . Fraksi protein basil tuberkulosis menyebabkan nekrosis jaringan.Faringitis Tuberkulosis akut. S. FK-UISU Halaman KKS SMF THT RSU Dr. Yuna Marini. Hipofaring terdiri dari sinus piriformis. 991001233. kripta dapat terisi dengan koagulan yang menyebabkan gambaran folikular yang khas pada permukaan tonsil. Mycobacterium tuberkulosis ditemukan oleh Robert Kock dalam tahun 1882.(2) Hipofaring Epiglotis bertindak sebagai pembagi antara orofaring dan hipofaring.(2) ETIOLOGI DAN PENULARAN Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium tuberkulosis dan mycobacterium bovis. sedangkan lemaknya menyebabkan sifat tahan asam dan merupakan faktor penyebab terjadinya fibrosis dan terbentuknya sel epiteloid dan tuberkel.(3) Penularan mycobacterium tuberkulosis biasanya melalui udara. dinding faring posterior dan kartilago post krikoid berbentuk corong. Tonsila lingualis mempunyai kripta-kripta kecil yang tidak terlalu berlekuk-lekuk. Basil tuberkulosis dapat hidup dan tetap virulen beberapa minggu dalam keadaan kering.

maka tonsil dapat terkena pada kedua sisi. Terjadinya infeksi dipengaruhi oleh virulensi dan banyaknya basil tuberkulosis serta daya tahan tubuh manusia. 991001233. Cara infeksi ini disebut cara eksogen. dinding lateral hipofaring dan palatum mole serta palatum durum. S. Pirngadi Medan 2005 4 . Infeksi primer biasanya terjadi dalam paru. Dapat juga terjadi dengan kontak langsung misalnya melalui luka atau lecet dikulit.(3) GAMBARAN KLINIS Tuberkulosa pada faring terdapat dalam tiga bentuk. Lesi sering ditemukan pada dinding faring posterior. melalui aliran darah dan limfe. Bila infeksi timbul secara hematogen.(3) PATOGENESIS Masuknya basil tuberkulosis dalam tubuh tidak selalu menimbulkan penyakit. Kelenjar regional leher membengkak. FK-UISU Halaman KKS SMF THT RSU Dr. Menurut Meyerson (1960) akan terbentuk ulkus pada satu sisi tonsil dan jaringan tonsil itu akan mengalami nekrosis. arkus faring anterior.(4) Yuna Marini. Sedangkan cara endogen yaitu penyebaran melalui darah (hematogen) pada tuberkulosis miliaris dan melalui aliran limfe (limfogen). basil tuberkulosis dapat mencapai faring. ulkus tuberkulosis kronis dan lupus vulgaris. yaitu : tuberkulosis milier akut.Faringitis Tuberkulosis biasanya mycobacterium bovis.

palatum mole.Faringitis Tuberkulosis Tuberkulosis milier akut Pada tuberkulosis milier akut manifestasi penyakit berhubungan dengan penyebab mikroba/ kuman dalam aliran darah. Bentuk erupsi berupa “apple jelly nodules” yang Yuna Marini. Ulkus mempunyai sifat dangkal. pertumbuhan lambat. dasar lidah atau mukosa pipi. Timbul rasa tidak enak pada stadium ini. 991001233. Ditemukan erupsi tuberkel di daerah faucis. tepi tidak teratur dengan dasar yang bersih. S. Pirngadi Medan 2005 5 . Pada tenggorok biasanya mengenai palatum mole dan faucius jarang pada tonsil. Ujung saraf masih utuh sehingga timbul rasa nyeri dengan gejala yang ada hubungan dengan disfagia akut. (4) Ulkus tuberkulosa kronik Selalu berhubungan dengan tuberkulosa paru yang lanjut dengan sputum mengandung kuman tuberkulosa. FK-UISU Halaman KKS SMF THT RSU Dr. Keadaan umum pasien segera memburuk dan terdapat beberapa jenis gangguan dengan suhu badan yang meningkat. lendir kental melekat kedaerah yang berulkus. tetapi bila erupsi meluas membentuk ulkus barulah timbul rasa sakit sekali dan disfagia. Terdapat kecenderungan untuk berdarah dan keluar air liur yang banyak. Terjadi ulserasi pada faring dan lidah dimana ulkus biasanya terletak pada ujung lidah.(4) Lupus vulgaris Lupus vulgaris adalah proses tuberkulosa pada kulit. Dalam bidang THT lokasi yang sering ialah di bagian depan septum nasi serta konka inferior dan dari sini dapat menyebar ke muka atau faring.

serta mencari basil tahan asam di jaringan. FK-UISU Halaman KKS SMF THT RSU Dr. 991001233. Tidak jarang terdapat regurgitasi.(1) DIAGNOSIS Untuk menegakkan diagnosis disamping dijumpainya gambaran klinis juga diperlukan pemeriksaan sputum untuk melihat adanya tuberkulosis paru. Proses berlangsung sangat kronik dengan kecenderungan menyembuh disebagian tempat tetapi proses penyakit terus berlanjut sehingga terbentuk sikatriks pada palatum. nodul akan pecah sehingga permukaan mukosa rusak dan tampak daerah granuler.(4) Secara umu pasien mengeluh nyeri yang hebat ditenggorokan. Tahap selanjutnya kualitas suara akan berubah karena adanya fiksasi pada palatum dan timbulnya disfagia.(1) Yuna Marini. Terdapat juga adinopati servikal.Faringitis Tuberkulosis segera menjadi abu-abu dan lebih padat. karena anoreksia dan nyeri untuk menelan makanan. Mukosa menjadi keras dan hilang mobilitasnya. S. terdapat juga nyeri di telinga (otalgia). Bila palatum durum terkena maka tulang akan terbuka tetapi tulang tidak terkena proses penyakit. Dilakukan juga biopsi jaringan yang terinfeksi untuk menyingkirkan adanya proses keganasan. Keadaan umum pasien buruk. Gejala pada tahap awal berupa adanya rasa terbakar dan sakit sedikit pada tenggorok. Pirngadi Medan 2005 6 . Uvula dapat mengecil atau lenyap. Selain dari nyeri yang sangat menonjol untuk menelan. Pada tahap sangat lanjut dapat terjadi regurgitasi cairan ke dalam hidung.

Pirngadi Medan 2005 7 .  Tenaga pengawas pengobatan menjadi lebih hemat/ efisien. sehingga lama pengobatan keseluruhan menjadi 6-9 bulan. Terapi ini selanjutnya berkembang menjadi terapi jangka pendek dimana diberikan INH + rifampisin + streptomisin atau etambutol atau pirazinamid (Z) setiap hari sebagai fase initial selama 1-2 bulan dilanjutkan dengan INH + rifampisin atau etambutol atau streptomisin 2-3 kali seminggu selama 4-7 bulan. Setelah ditemukannya rifampisin panduan obat menjadi : INH + rifampisin + streptomisin atau etambutol setiap hari (fase initial) dan diteruskan dengan INH + rifampisin atau etambutol (fase lanjut).  Jumlah penderita yang membangkang menjadi berkurang.  Biaya keseluruhan untuk pengobatan menjadi lebih rendah. S.Faringitis Tuberkulosis PENATALAKSANAAN Sebelum ditemukannya rifampisin metode terapi terhadap tuberkulosis paru adalah dengan sistem jangka panjang (terapi standart) yakni : INH (H) + streptomosin (S) + PAS atau etambutol (E) tiap hari dengan fase initial selama 1-3 bulan dan dilanjutkan dengan INH + etambutol atau PAS selama 12-1 bulan. 991001233. FK-UISU Halaman KKS SMF THT RSU Dr. Dengan pemberian terapi jangka pendek akan didapat beberapa keuntungan seperti :  Waktu pengobatan lebih dipersingkat. Yuna Marini.

Evaluasi yang baik mencakup : 1. 6. FK-UISU Halaman KKS SMF THT RSU Dr. 991001233. dan dilanjutkan dengan isoniazid + rifampisin 2 kali seminggu selama 5 bulan).I. S.Faringitis Tuberkulosis Oleh karena itu Departemen Kesehatan R. 12 dan 24 bulan setelah dinyatakan sembuh. Disamping terapi diatas dapat ditambah dengan terapi simptomatis seperti obat kumur dan obat-obat simptomatik lainnya.(5) Yuna Marini.(1. Prognosis biasanya baik dengan pengobatan yang terkontrol. Evaluasi foto toraks 6. dalam rangka/ program pemberantasan penyakit tuberkulosis paru lebih menganjurkan terapi jangka pendek dengan panduan obat HRE/ 5 H2R2 (isoniazid + rifampisin + etambutol setiap hari selama satu bulan. dari pada terapi jangka panjang H 2Z/ 11 H2Z2 (INH + streptomisin + pirazinamid setiap hari selama satu bulan dan dilanjutkan dengan INH + pirazinamid 2 kali seminggu selama 11 bulan). 2.6) PROGNOSIS Pasien dengan infeksi kuman mycobacterium tuberkulosa harus mengikuti petunjuk pengobatan yang benar agar tidak timbul resistensi kuman. 12 dan 24 bulan setelah dinyatakan sembuh. Pirngadi Medan 2005 8 . Penderita tuberkulosis yang telah dinyatakan sembuh tetap dievaluasi minimal 2 tahun setelah sembuh untuk mengetahui adanya kekambuhan. Sputum BTA mikroskopik 3.

3. 4. Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium tuberkulosis dan mycobacterium bovis. ulkus tuberkulosa kronik dan lupus vulgaris. Yuna Marini. Faringitis tuberkulosa biasanya merupakan proses sekunder paru. kecuali bila infeksi disebabkan oleh kuman tahan asam jenis bovinum. S. 991001233. Tuberkulosis pada faring terdapat dalam tiga bentuk yaitu : tuberkulosa milier akut.Faringitis Tuberkulosis KESIMPULAN 1. Pirngadi Medan 2005 9 . 5. 2. FK-UISU Halaman KKS SMF THT RSU Dr. gambaran klinis faringitis tuberkulosis disesuaikan dengan terapi tuberkulosa paru ditambah dengan terapi simptomatik. Cara infeksi adalah melalui cara eksogen dan endogen.

Soepardi EA dkk. FKUI. Jilid 2. Jakarta. S. Penyakit dan Kelainan Tonsil dan Faring. Hal : 26-60. Jakarta. Dalam Buku Ajar Penyakit THT. Arsyad Efiaty. Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok. 2000. 6. Terapi dan Masalahnya. Diagnosis. Hal : 176-179. Soepardi EA. Dalam Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak Jilid 2. 2. Adam GL. Higler TA. Caroline Wijaya. 7. Yayasan Penerbit Ikatan Dokter Indonesia. Disease The Nose. Hal : 320-322. Boeis LR. Jakarta. Tuberkulosis. Edisi 6. Anatomi dan Fisiologi Rongga Mulut. 3. Jakarta. 991001233. Faring. FK-UISU Halaman KKS SMF THT RSU Dr. Edisi 2 Balai Penerbit FK-UI. Edisi 3. 5. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK-UI. Iskandar N. Tuberkulosis Anak. Hal : 723-724. & Head Neck. Aditama MY. 2002. Penatalaksanaan Penyakit dan Kelainan THT. 8. Penyakit & Kelainan THT. Soeparman S. Pirngadi Medan 2005 10 . Jakarta. 4. 2000. 1997. 1998. Hal : 219-220. Balai penerbit UI. Jakarta. Hall & Colmans. Jakarta. Hal : 22-229.Faringitis Tuberkulosis DAFTAR PUSTAKA 1. Elbs 2001. Edisi III. Dalam Buku Ilmu Penyakit Dalam. Alih Bahasa Dr. 1994. Edisi 4. Throat & Ear. EGC. 1985. Infomedica. Hal : 110. Hal : 573578. Embriologi. Asril Bahar : Tuberkulosis Paru. Oesofagus dan Leher. Yuna Marini. Gaya Baru.

Rehulina Surbakti. Sp.THT. Pirngadi Medan 2005 Januari 2005 11 . Roderthani. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Hj. SpTHT. Dengan penulisan makalah ini penulis bermaksud membahas mengenai “Faringitis Tuberkulosis” sebgai salah satu persyaratan Kepaniteraan Klinik Senior dibagian Ilmu Penyakit Telinga Hidung dan Tenggorok di RSU. Dr. T.THT sebagai pembimbing dalam Kepaniteraan dibagian Ilmu Penyakit THT serta dokter-dokter lainnya yang telah banyak memberikan bimbingan selama Kepaniteraan Klinik dipoliklinik THT. SpTHT. SpTHT.THT Dr. Dr. Linda Samosir. Magdalena Hutagalung.            Dr. Dr. Dr. Beresman Sianipar. S. SpTHT. Medan. Zalfina Cora. Pembimbing Yuna Marini. Ita L. SpTHT. Sp. Dr.Faringitis Tuberkulosis KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. SpTHT. Ali Syahbana Siregar. Dr. SpTHT. Sp. Taufiq Ishaq. 991001233. Dalam kesempatan ini penulis bermaksud menyampaikan terima kasih kepada Dr. SpTHT. Dewi Fauziah Syahnan. M. Sp. Dr. karena atas karunia-Nyalah penulis dapat menyelesaikan makalah ini.THT. Dr. Yohanita. Netty Harnita. Dr. Zulkifli. Pirngadi Medan. FK-UISU Halaman KKS SMF THT RSU Dr. Dr.

............................................................................... Taufiq Ishaq..................................................................................... Pendahuluan........................................................................................................................ Diagnosis.................... Penatalaksanaan................................................ Gambaran Klinis.............................  Hipofaring............................................THT Penulis DAFTAR ISI Kata Pengantar ....................................................................................................................... Pirngadi Medan 2005 12 ......  Nasofaring................. Daftar pustaka......................................... Etiologi dan Penularan........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................... i ii 1 1 1 2 3 3 4 4 6 7 8 9 10 Yuna Marini........................ Kesimpulan..................................................... Patogenesis..... Prognosis..................... FK-UISU Halaman KKS SMF THT RSU Dr......................................................................................................... Daftar Isi....................................... Anatomi........ 991001233................................  Orofaring.................Faringitis Tuberkulosis Dr......................................... M.................................................. S............. Sp......................................................................................................................................................