TINJAUAN PUSTAKA

ANESTESI UMUM

OLEH Maria Victoria Seran, S.Ked Rico Rotinggo, S.Ked Yurinda K. Rambu Sori, S.Ked

Pembimbing : Dr. Budi Yulianto Sarim, Sp.An

SMF / BAGIAN ILMU ANESTESI FK UNDANA RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes

KUPANG MEI 2012

1

Jadi tergantung dari konsentrasi molekul – molekul bebas aktif. tidak pada obat anestetika parenteral. Trudel (1963) mengemukakan molekul obat anestetika mengadakan interaksi dengan membrana lipid meningkatkan keenceran (mengganggu membran). Istilah anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1846. I. Pauling (1961) mengemukakan teori kristal mikrohidrat (The Hidrat Micro-crystal Theory). TEORI ANESTESI UMUM Ada beberapa teori yang membicarakan tentang kerja anestesi umum. kemampuan untuk merasa"). Ferguson (1939) mengemukakan teori efek gas inert (The Inert Gas Effect). Obat anestetika larut dalam lemak. Efeknya berhubungan langsung dengan kelarutan dalam lemak. diantaranya : a. Ini hanya berlaku pada obat inhalasi (volatile anaesthetics). Obat anestetika berpengaruh terutama terhadap interaksi molekul – molekul obatnya dengan molekul – molekul di otak. b. Meyer dan Overton (1989) mengemukakan teori kelarutan lipid (Lipid Solubity Theory). Anestesi Umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan bersifat reversible. tanpa" dan aesthētos. Makin mudah larut di dalam lemak. yang pertama kali terpengaruh adalah jaringan yang banyak 2 . Potensi analgesia gas – gas yang lembab dan menguap terbalik terhadap tekanan gas – gas dengan syarat tidak ada reaksi secara kimia. relaksasi otot tanpa menimbulkan resiko yang tidak diinginkan dari pasien. Obat anestesi yang diberikan akan masuk ke dalam sirkulasi darah yang selanjutnya menyebar ke jaringan. "persepsi. d. Anestesi umum yang sempurna menghasilkan ketidaksadaran. makin kuat daya anestesinya. c.ANESTESI UMUM (GENERAL ANESTESI) Anestesi (pembiusan. berasal dari bahasa Yunani an. secara umum berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh."tidak. analgesia.

Pasien dengan gangguan ginjal. obat yang merangsang susunan saraf simpatis pada penyakit diabetes basedow karena dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah. infeksi akut. Sedangkan komplikasi kadang – kadang tidak terduga walaupun tindakan anestesi telah dilakukan dengan sebaik – baiknya. b. DM tak terkontrol. obat – obatan yang diekskresikan melalui ginjal harus diperhatikan. harus dihindarkan pemakaian obat yang bersifat hepatotoksik. hipertensi dimana terjadi peningkatan 3 . Hambatan persepsi rangsang sensorik sehingga timbul analgesia yang cukup untuk tindakan operasi. KONTRAINDIKASI DAN KOMPLIKASI ANESTESI UMUM Adapun syarat ideal dilakukan anestesi umum adalah : a. Memberikan keadaan pemulihan yang halus cepat dan tidak menimbulkan ESO yang berlangsung lama. Timbulkan keadaan amnesia d. tapi bukan otot pernapasan. Kontraindikasi mutlak dilakukan anestesi umum yaitu dekompresi kordis derajat III – IV. Timbul situasi pasien tak sadar atau tak berespons c. analgesik. Komplikasi dapat dicetuskan oleh tindakan anestesi ataupun kondisi pasien sendiri. Komplikasi dapat timbul pada waktu pembedahan ataupun setelah pembedahan. SYARAT. Pada paru. yang mengakibatkan kesadaran dan rasa sakit hilang. Pada pasien dengan gangguan hepar. GNA. relaksasi dan stabilisasi otonom. sedangkan pada bagian endokrin hindari obat yang meningkatkan kadar gula darah. Timbulkan relaksasi otot skeletal. Tergantung pada efek farmakologi pada organ yang mengalami kelainan. hindarkan obat yang memicu sekresi paru. TUJUAN ANESTESI UMUM Tujuan anestesi umum adalah hipnotik. Memberi induksi yang halus dan cepat. dan sifat fisik obat itu sendiri. Kontraindikasi Relatif berupa hipertensi berat/tak terkontrol (diastolik >110). II. AV blok derajat II – total (tidak ada gelombang P). sirkulasi. e. sepsis. Pada pasien dengan gangguan jantung. f. Komplikasi kardiovaskular berupa hipotensi dimana tekanan sistolik kurang dari 70 mmHg atau turun 25 % dari sebelumnya. Kecepatan dan kekuatan anestesi dipengaruhi oleh faktor respirasi.vaskularisasinya seperti otak. obat – obatan yang mendepresi miokard atau menurunkan aliran koroner harus dihindari atau dosisnya diturunkan. III.

Klasifikasi ASA juga dipakai pada pembedahan darurat dengan mencantumkan tanda darurat ( E = EMERGENCY ). ASA III : Pasien dengan gangguan atau penyakit sistemik berat yang diakibatkan karena berbagai penyebab. dilakukan pemeriksaan gigi – geligi. Contohnya : pasien tua dengan perdarahan basis kranii dan syok hemoragik karena ruptur hepatik. hipersensitifitas ataupun adanya peningkatan suhu tubuh. Contohnya : pasien batu ureter dengan hipertensi sedang terkontrol. misalnya pemeriksaan darah (Hb. Komplikasi ini dapat membahayakan khususnya pada penyakit jantung karena jantung bekerja keras dengan kebutuhan – kebutuhan miokard yang meningkat yang dapat menyebabkan iskemik atau infark apabila tidak tercukupi kebutuhannya. tindakan buka mulut. Dari hasil kunjungan ini dapat diketahui kondisi pasien dan dinyatakan dengan status anestesi menurut The American Society Of Anesthesiologist (ASA). ASA IV : Pasien dengan kelainan sistemik berat yang secara langsung mengancam kehidupannya. leukosit. dilakukan wawancara (anamnesis) sepertinya menanyakan apakah pernah mendapat anestesi sebelumnya. Contohnya: pasien appendisitis perforasi dengan septisemia. ASA I ASA II : Pasien dalam keadaan normal dan sehat. : Pasien dengan kelainan sistemik ringan sampai sedang baik karena penyakit bedah maupun penyakit lain. IV. tidak sadar . radiologi. ASA V : Pasien tak diharapkan hidup setelah 24 jam walaupun dioperasi atau tidak. Pada saat kunjungan. masa pendarahan. EKG. Kemudian pada pemeriksaan fisik. dan alergi obat. atau pasien ileus obstrukstif dengan iskemia miokardium.tekanan darah pada periode induksi dan pemulihan anestesi. Contohnya : Pasien dengan syok atau dekompensasi kordis. atau pasien appendisitis akut dengan lekositosis dan febris. Perhatikan pula hasil pemeriksaan laboratorium atas indikasi sesuai dengan penyakit yang sedang dicurigai. adakah penyakit – penyakit sistemik. leher kaku dan pendek. Komplikasi lain berupa gelisah setelah anestesi. masa pembekuan). PERSIAPAN UNTUK ANESTESI UMUM Kunjungan pre-anestesi dilakukan untuk mempersiapkan pasien sebelum pasien menjalani suatu tindakan operasi. misalnya ASA IE atau IIE 4 . saluran napas. ukuran lidah.

 Gol.  Gol. antimual dan muntah.4 – 0. Dosis premedikasi dewasa 25 – 100 mg IV. periksa ulang apakah pasien atau keluarga sudah memberi izin pembedahan secara tertulis (informed concent). Obat – obat premedikasi yang bisa diberikan antara lain :  Gol. menekan refleks yang tidak diharapkan. memberikan analgesia dan mencegah muntah.membuat amnesia.  Gol. pada bayi dan anak 3 – 5 mg/kgBB. pengosongan lambung dilakukan dengan puasa : anak dan dewasa 4 – 6 jam. menghilangkan rasa khawatir. Transquilizer 5 . Pada pembedahan darurat pengosongan lambung dapat dilakukan dengan memasang pipa nasogastrik atau dengan cara lain yaitu menetralkan asam lambung dengan memberikan antasida (magnesium trisilikat) atau antagonis reseptor H2 (ranitidin).1 jam sebelum induksi anestesia dengan tujuan melancarkan induksi. Obat ini dapat diberikan secara oral atau IM. Antikolinergik Atropin. Pethidin juga berguna mencegah dan mengobati menggigil pasca bedah. melemaskan tonus otot polos organ – organ dan menurunkan spasme gastrointestinal. Dosis 0. Keuntungannya adalah masa pemulihan tidak diperpanjang dan efek depresannya yang lemah terhadap pernapasan dan sirkulasi serta jarang menyebabkan mual dan muntah. penyempitan bronkus pada pasien asma. rumatan dan bangun dari anestesia. Premedikasi sendiri ialah pemberian obat ½ . Pada pembedahan elektif. Diberikan untuk sedasi dan mengurangi kekhawatiran sebelum operasi. Diberikan untuk mengurangi kecemasan dan ketegangan menjelang operasi. Analgetik narkotik Morfin. Diberikan untuk menekan tekanan darah dan pernapasan serta merangsang otot polos. bayi 3 – 4 jam. Hipnotik – sedatif Barbiturat (Pentobarbital dan Sekobarbital). mual dan muntah pasca bedah ada. Dosis premedikasi dewasa 10 – 20 mg. Kerugian penggunaan morfin ialah pulih pasca bedah lebih lama. Kandung kemih juga harus dalam keadaan kosong sehingga boleh perlu dipasang kateter.Pengosongan lambung untuk anestesia penting untuk mencegah aspirasi lambung karena regurgutasi atau muntah. Dosis dewasa 100 – 200 mg.6 mg IM bekerja setelah 10 – 15 menit. Sebelum pasien masuk dalam kamar bedah. Pethidin. mengurasi sekresi saliva dan saluran napas. Diberikan untuk mencegah hipersekresi kelenjar ludah.

Stadium I Stadium I (St. lakrimasi (+). Stadium II Stadium II (St. Merupakan golongan benzodiazepine. St. Stadium III Stadium III yaitu stadium sejak mulai teraturnya lagi pernapasan hingga hilangnya pernapasan spontan. Stadium ini berakhir dengan ditandai oleh hilangnya reflekss bulu mata (untuk mengecek refleks tersebut bisa kita raba bulu mata).Diazepam (Valium). VI. V. dapat dilakukan pada stadium ini. METODE PEMBERIAN ANESTESI UMUM Obat obat anestesi umum bisa diberikan melalui Perenteral (Intravena. Perinhalasi melalui isapan. Tindakan pembedahan ringan. semprotan yang dimasukan ke anus. Eksitasi.2 mg/kgBB IM. pergerakan bola mata tidak teratur. stadium 3 dan stdium 4 sampai henti napas dan henti jantung. STADIUM ANESTESI Tahapan dalam anestesi terdiri dari 4 stadium yaitu stadium pertama berupa analgesia sampai kehilangan kesadaran. Pemberian dosis rendah bersifat sedatif sedangkan dosis besar hipnotik. hilangnya reflekss kelopak mata dan dapat digerakkannya kepala ke kiri dan kekanan dengan mudah. Pada stadium ini pasien masih dapat mengikuti perintah dan terdapat analgesi (hilangnya rasa sakit). seperti pencabutan gigi dan biopsi kelenjar. pupil melebar dengan reflekss cahaya (+). Cisorientasi) dimulai dari saat pemberian zat anestetik sampai hilangnya kesadaran. Analgesia/ St. Intramuscular). Stadia ini ditandai oleh hilangnya pernapasan spontan. Delirium) Mulai dari akhir stadium I dan ditandai dengan pernapasan yang irreguler. 6 . tablet. stadium 2 sampai respirasi teratur. pasien disuruh tarik nafas dalam kemudian berikan anestesi perinhalasi secara perlahan. Dosis premedikasi dewasa 0. tonus otot meninggi dan diakhiri dengan hilangnya reflekss menelan dan kelopak mata. perektal (melalui anus) biasanya digunakan pada bayi atau anak-anak dalam bentuk suppositoria.

Refleks cahaya Untuk refleks cahaya yang kita lihat adalah pupilnya. Apabila saat dicek refleks bulu mata (-) maka pasien tersebut sudah pada stadium 1. Refleks bulu mata Refleks bulu mata sudah disinggung tadi di bagian stadium anestesi.1 jam) Keadaan umum baik (ASA I – II) Lambung harus kosong Prosedur :   Siapkan peralatan dan kelengkapan obat anestetik Pasang infuse (untuk memasukan obat anestesi) 7 . ada / tidak respon saat kita beri rangsangan cahaya. TANDA REFLEKS PADA MATA Refleks pupil Pada keadaan teranestesi maka refleks pupil akan miosis apabila anestesinya dangkal. TEKNIK ANESTESI UMUM a.Stadium IV Ditandai dengan kegagalan pernapasan (apnea) yang kemudian akan segera diikuti kegagalan sirkulasi/ henti jantung dan akhirnya pasien meninggal. VII. Sungkup Muka (Face Mask) dengan napas spontan Indikasi :    Tindakan singkat ( ½ . Pasien sebaiknya tidak mencapai stadium ini karena itu berarti terjadi kedalaman anestesi yang berlebihan. kalau tidak berarti menandakan pasien sudah masuk stadium 1 ataupun 2. midriasis maksimal menandakan pasien mati. caranya adalah kita tarik palpebra atas ada respon tidak. Refleks kelopak mata Pengecekan refleks kelopak mata jarang dilakukan tetapi bisa digunakan untuk memastikan efek anestesi sudah bekerja atau belum. midriasis ringan menandakan anestesi reaksinya cukup dan baik/ stadium yang paling baik untuk dilakukan pembedahan.

Intubasi setelah induksi dan suksinil 3. sulit mempertahankan airway (operasi di bagian leher dan kepala) Prosedur : 1. sedikit demi sedikit. Bila fasikulasi (-) → ventilasi dengan O2 100% selama kira . Pastikan semua persiapan dan alat sudah lengkap 2. Plester untuk fiksasi pipa agar tidak terdorong atau tercabut I = Introductor. Batang laringoskopi pegang dengan tangan kiri. Pemeliharaan Untuk persiapan induksi sebaiknya kita ingat STATICS: S = Scope. Premedikasi + / sedasi/anti-anxiety :benzodiazepine. Penyedot lendir dan ludah Teknik Intubasi 1. Intubasi Endotrakeal dengan napas spontan Intubasi endotrakea adalah memasukkan pipa (tube) endotrakea (ET= endotrakeal tube) kedalam trakea via oral atau nasal. operasi lama. Masukan laringoskop (bilah) mulai dari mulut sebelah kanan. tangan kanan mendorong kepala sedikit ekstensi → mulut membuka 5. Laringo-Scope T = Tubes. menggeser lidah kekiri 8 . Induksi sampai tidur.kira 1 mnt 4. Usia > 5 tahun dengan balon (cuffed) A = Airway. Stilet atau mandrin untuk pemandu agar pipa trakea mudah dimasukkan C = Connector. Pipa mulut faring (orofaring) dan pipa hidung faring (nasofaring) yang digunakan untuk menahan lidah saat pasien tidak sadar agar lidah tidak menymbat jalan napas T = Tape. berikan suksinil kolin → fasikulasi (+) 3. analgesia: opioid. Indikasi . Penyambung pipa dan perlatan anestesia S = Suction. non opioid. Sama dengan diatas. hanya ada tambahan obat (pelumpuh otot/suksinil dgn durasi singkat) 2. Pipa trakea. dll   Induksi Pemeliharaan b. menyelusuri kanan lidah. Stetoskop untuk mendengarkan suara paru dan jantung.

OBAT – OBAT DALAM ANESTESI UMUM Jenis obat anestesi umum diberikan dalam bentuk suntikan intravena atau inhalasi. Setelah operasi selesai pasien dipancing dan akhirnya bisa nafas spontan kemudian kita akhiri efek anestesinya.6. Cari epiglotis → tempatkan bilah didepan epiglotis (pada bilah bengkok) atau angkat epiglotis ( pada bilah lurus ) 7. 9 VIII. Temukan pita suara → warnanya putih dan sekitarnya merah 9. Masukan ET melalui rima glottis 10.    Teknik sama dengan diatas Obat pelumpuh otot non depolar (durasinya lama) Pemeliharaan. Hubungkan pangkal ET dengan mesin anestesi dan atau alat bantu napas ( alat resusitasi ) Klasifikasi Mallampati : Mudah sulitnya dilakukan intubasi dilihat dari klasifikasi Mallampati : c. obat pelumpuh otot dapat diulang pemberiannya. Intubasi Endotrakeal dengan napas kendali (kontrol) Pasien sengaja dilumpuhkan/benar2 tidak bisa bernafas dan pasien dikontrol pernafasanya dengan kita memberikan ventilasi 12 .20 x permenit. . Cari rima glotis ( dapat dengan bantuan asisten menekan trakea dar luar ) 8.

Thiopentone Sodium Merupakan bubuk kuning yang bila akan digunakan dilarutkan dalam air menjadi larutan 2. b. dan waktu pemulihan yang lebih cepat. Midazolam : induksi : 0. d. Dosis pemakaian ketamin untuk bolus 1. atropine like effect. Propofol dapat menghasilkan anestesi kecepatan yang sama dengan pemberian barbiturat secara inutravena. Propofol Merupakan salah satu anestetik intravena yang sangat penting. pasien resiko tinggi dan asma. cepat melewati barier plasenta. 10 .6 mg/kg IV. Indikasi pemberian thiopental adalah induksi anestesi umum. Dosis : Diazepam : induksi 0. Dosis : 2 – 2. Anestetik intravena  Penggunaan          Untuk induksi Obat tunggal pada operasi singkat Tambahan pada obat inhalasi lemah Tambahan pada regional anestesi Sedasi : : Cara pemberian Obat tunggal untuk induksi atau operasi singkat Suntikan berulang (intermiten) Diteteskan perinfus Obat anestetik intravena meliputi : a. tindakan ortopedi. Kontraindikasi : porfiria dan hamil.2 – 0. pelemas otot ringan. Benzodiazepine Sifat : hipnotik – sedative.1.45 mg/kg IV. amnesia anterograd.5 mg/kg IV. Indikasi pemakaian ketamin adalah prosedur dengan pengendalian jalan napas yang sulit.2 mg/kgBB dan pada pemberian IM 3 – 10 mg/kgBB. Ketamin Ketamin adalah suatu rapid acting nonbarbiturat general anaesthetic. c.15 – 0.5%atau 5%. prosedur diagnosis.

Efek analgesic halotan lemah tetapi relaksasi otot yang ditimbulkannya baik. dalam kombinasi dengan zat lain b. tidak berbau. brom. Karet larut dalam halotan. magnesium. N2O biasanya tersimpan dalam bentuk cairan bertekanan tinggi dalam baja. Kadar optimum untuk mendapatkan efek analgesic maksimum ± 35% . tembaga. N2O Nitrogen monoksida merupakan gas yang tidak berwarna. gas ini sering digunakan pada partus yaitu diberikan 100% N2O pada waktu kontraksi uterus sehingga rasa sakit hilang tanpa mengurangi kekuatan kontraksi dan 100% O2 pada waktu relaksasi untuk mencegah terjadinya hipoksia. dan untuk mengatasi kejang. c. karet dan plastic. cepat. tidak berasa dan lebih berat daripada udara. tetapi secara farmakologi berbeda. Dengan kadar yang aman waktu 10 menit untuk induksi sehingga mempercepat digunakan kadar tinggi (3-4 volume %). Halotan bereaksi dengan perak. tidak ada iritasi mukosa jalan napas. Isofluran berbau tajam sehingga membatasi kadar obat dalam udara yang dihisap oleh penderita karena 11 . aluminium. baja. tidak mudah terbakar dan tidak mudah meledak meskipun dicampur dengan oksigen. Isofluran Merupakan eter berhalogen yang tidak mudah terbakar.76% volume.operasi singkat. dengan inhalasi 20% N2O dalam oksigen efeknya seperti efek 15 mg morfin. Anestetik tunggal N2O digunakan secara intermiten untuk mendapatkan analgesic pada saat proses persalinan dan Pencabutan gigi. sedasi anestesi regional. Dosis 5 mg/kg IV. titanium dan polietilen tidak sehingga pemberian obat ini harus dengan alat khusus yang disebut fluotec. 2. Anestetik inhalasi a. Halotan Merupakan cairan tidak berwarna. H2O digunakan secara umum untuk anestetik umum. sedangkan nikel. hamil 3 mg/kg IV. Keuntungannya :induksi mudah. tekanan penguapan pada suhu kamar ± 50 atmosfir. N2O mempunyai efek analgesic yang baik. Kadar minimal untuk anestesi adalah 0. berbau enak. Secara kimiawi mirip dengan efluran.

2-2 mg atau dosis kecil narkotik (8-10 mg morfin atau 0. IX. Setelah pemberian medikasi preanestetik stadium induksi dapat dilalui dengan lancer dan sedikit eksitasi bila diberikan bersama N2O dan O2. Isofluran meningkatkan aliran darah otak pada kadar labih dari 1. 2 Pucat. Pada anestesi yang dalam dengan isofluran tidak terjadi perangsangan SSP seperti pada pemberian enfluran. isofluran merelaksasi otot sehingga baik untuk intubasi. maka perlu melakukan penilaian terlebih dahulu untuk menentukan apakah pasien sudah dapat dipindahkan ke ruangan atau masih perlu di observasi di ruang Recovery room (RR). 2 Dangkal namun pertukaran udara adekuat. 1 Sianosis. d. 0 Pernapasan    Dapat bernapas dalam dan batuk. Penurunan volume semenit dapat diatasi dengan mengatur dosis. Aldrete Score Nilai Warna    Merah muda.penderita menahan nafas dan batuk. sesudah hipoksia atau hipertemia diatasi terlebih dulu. Tendensi timbul aritmia amat kecil sebab isofluran tidak menyebabkan sensiitisasi jantung terhadap ketokolamin. 0 12 . SKOR PEMULIHAN PASCA ANESTESI Sebelum pasien dipindahkan ke ruangan setelah dilakukan operasi terutama yang menggunakan general anestesi.1 MAC (minimal Alveolar Concentration) dan meningkatkan tekanan intracranial.1 mg fentanil). 1 Apnoea atau obstruksi. A. Peningkatan frekuensi nadi dan takikardiadihilangkan dengan pemberian propanolol 0. Sevofluran Obat anestesi ini merupakan turunan eter berhalogen yang paling disukai untuk induksi inhalasi.

2 Bangun namun cepat kembali tertidur. 1 Tidak berespons.1 Tidak bergerak. 0 Aktivitas    Seluruh ekstremitas dapat digerakkan. 0 Jika jumlahnya > 8. menangis 2 Pertahankan jalan nafas 1 Perlu bantuan 0 Kesadaran    Menangis 2 Bereaksi terhadap rangsangan 1 Tidak bereaksi 0 Jika jumlah > 5. 2 Tekanan darah menyimpang 20-50 % dari normal. Steward Score (anak-anak) Pergerakan    Gerak bertujuan 2 Gerak tak bertujuan 1 Tidak bergerak 0 Pernafasan    Batuk.Sirkulasi    Tekanan darah menyimpang <20% dari normal. penderita dapat dipindahkan ke ruangan B. 1 Tekanan darah menyimpang >50% dari normal. 2 Dua ekstremitas dapat digerakkan. 0 Kesadaran    Sadar. penderita dapat dipindahkan ke ruangan 13 . siaga dan orientasi.

Petunjuk Praktis Anestesiologi. R.dkk.. The Anaesthesia Drugs Handbook. Bagian Anestesiologi dan Terapi FK UI. 2002. Jakarta 14 . Dachlan. 1995. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Suryadi KA. Omuigui .REFERENSI Latief SA. Mosby year Book Inc. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 2009. 2nd ed.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful