Manajemen Rumah Sakit

MANAJEMEN RUMAH SAKIT SEBAGAI RANJAU DILIHAT DARI ASPEK PERATURAN, LSM, SERTA PESAING

ANGGOTA KELOMPOK:

Pasek Suka Okadarma Ni Kadek Novita Dewi I Komang Candra Wiguna Karma Maha Wirajaya Ni Made Alit Prabawati Ketut Didit Nugraha Putu Ika Farmani Ni Putu Emi Yuliastari

0820025020 0820025027 0820025045 0820025051 0820025054 0820025055 0820025059 0820025060

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Rumah sakit merupakan institusi kesehatan yang memberikan pelayanan kepada individu secara paripurna dengan memberikan pelayanan rawat inap maupun rawat jalan. Pelayanan rumah sakit yang baik akan sangat tergantung pada kompetensi dan kemampuan pihak manajemen rumah sakit untuk mengelola rumah sakit. Dengan pengelolaan manajemen rumah sakit yang baik maka pelayanan kesehatan mampu diberikan secara optimal kepada pasien. Dengan semakin berkembangnya rumah sakit baik itu rumah sakit swasta maupun rumah sakit pemerintah akan berdampak pada perubahan sistem manajemen rumah sakit. Pihak manajemen kini lebih mementingkan

keefektifan dan efisiensi dalam pemanfaatan sumber daya yang ada di dalam rumah sakit tersebut baik sumber daya manusia ataupun fasilitas-fasilitas yang tersedia di dalam rumah sakit. Hal tersebut diakibatkan terjadi karena perubahan orientasi rumah sakit dari nirlaba akibat mengemban misi sosial menjadi lebih berorientasi profit demi pengembanganan rumah sakit. Mekanisme yang digunakan adalah dengan yang lebih mengefektifkan dan mengefisiensikan dalam pemberian pelayanan rumah sakit sehingga mendapatkan keuntungan yang lebih banyak. Perubahan orientasi tersebut terjadi secara global sehingga muncul berbagai tantangan-tantangan baik dari internal rumah sakit maupun eksternal rumah sakit. Pihak manajemen rumah sakit sebaiknya memiliki keterampilan dalam mengelola sumber daya yang dimiliki rumah sakit maupun mngelola dan menjaga kemitraan dengan stake holder lainnya seperti pemerintah, LSM, dan masyarakat sekitar rumah sakit. Dengan demikian rumah sakit dapat bertahan dari gempuran tantangan tersebut. Selain bermitra, tantangan-tantangan besar juga muncul secara bersamaan dari stakeholder tersebut. Peraturan perundangan pemerintah yang semakin

ketat, kuatnya pengaruh masyarakat dan LSM dalam mengkritisi sistem pelayanan kesehatan kepada masyarakat, dan berkembangnya kualitas dan kuantitas rumah sakit sehingga menimbulkan persaingan merebut pasar (pasien). Namun persaingan yang dihadapi oleh sebuah rumah sakit tidak hanya timbul dari rumah sakit lain tetapi persaingan antar karyawan rumah sakit. Sistem manajemen rumah sakit yang buruk dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut akan membuat rumah sakit bagaikan gudang ranjau. Pihak manajemen rumah sakit kini harus mulai untuk mengembangkan solusi dan upaya-upaya strategis untuk mengantisipasi dan mengembangkan diri mengatasi tantangan-tantangan yang ada. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut maka terdapat beberapa masalah yang dapat dirumuskan yaitu sebagai berikut: 1.2.1 Bagaimana tindakan pihak manajemen rumah sakit dalam menghadapi peraturan perundangan yang ada? 1.2.2 Bagaimana tindakan pihak manajemen rumah sakit dalam menghadapi tantangan dari pihak LSM yang dapat melakukan promosi dan mengkritisi pelayanan rumah sakit? 1.2.3 Bagaimana tindakan manajemen rumah sakit dalam menghadapi tantangan persaingan memperoleh pasien?

1.3 Tujuan Tujuan dari pembuatan paper ini adalah sebagai berikut: 1.3.1 Mengetahui tindakan pihak manajemen rumah sakit dalam menghadapi peraturan perundangan yang ada 1.3.2 Mengetahui tindakan pihak manajemen rumah sakit dalam menghadapi tantangan dari pihak LSM 1.3.3 Mengetahui tindakan pihak manajemen rumah sakit dalam menghadapi tantangan persaingan memperoleh pasien

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Tantangan Rumah Sakit Sebagai Ranjau Dilihat dari Segi Perundangan Manajemen rumah sakit seharusnya mampu menyediakan faslitas yang sesuai dengan standar serta prosedur dan tata cara pemberian pelayanan yang sesuai dengan peraturan perundangan-undangan yang berlaku. Pihak rumah sakit seharusnya di dalam menentukkan fasilitas-fasilitas apa yang tersedia, persyaratan kesehatan lingkungan, pengolahan limbah yang dihasilkan serta SDM apa saja yang diperlukan harus dipertimbangan secara matang. Pada umumnya rumah sakit tidak memperhatikan kesehatan lingkungan di dalam rumah sakit tersebut dan juga kurang memperhatikan kode etik ataupun standar pelayanan yang harus diberikan oleh rumah sakit. Oleh sebab itu sering kali rumah sakit melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku seperti terjadinya malpratek, pelayanan di bawah standar, kurangnya fasilitas yang tersedia, dan lingkungan rumah sakit yang kotor yang sering kali membuat citra rumah sakit menjadi memburuk yang dengan sendirinya dapat membunuh citra rumah sakit tersebut. Peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh pemerintah terhadap rumah sakit dibuat agar rumah sakit yang didirikan dapat menyediakan pelayanan yang sesuai dengan standar dan mampu menciptakan kesehatan lingkungan yang sehat di dalam rumah sakit yang di dalamnya terdapat SDM yang berkualitas yang cakap dan mampu memberikan pelayanan yang berkualitas. Tetapi pada kenyataannya, banyak sekali rumah sakit yang melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah seperti kasus malpraktek, penyakit pasien yang semakin parah karena sikap petugas yang tidak ramah, dan lain-lain yang berakibat pada buruknya pelayanan di rumah sakit shingga dapat mengakibatkan terhentinya keberlangsungan rumah sakit. Terdapat beberapa kasus mengenai tindak pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yaitu :

 Kasus bayi tertukar Kasus bayi tertukar terjadi di RS Martha Friska Medan telah terjawab. Berdasarkan hasil tes, kata Aspan, diketahui kalau sampel darah Budi Santoso dan istrinya cocok dengan alel paternal dan alel maternal bayi tersebut. Hasil itu menunjukkan propabilitas anak adalah 99.999 persen. Lebih jauh, Aspan mengatakan, tes DNA sample darah I Budi Santoso (ayah) dan sample darah III Siska Nilamsari (ibu) dan sample darah II yakni bayi 99,999 persen bayi tidak tersingkirkan dari ayah dan ibunya. Dengan kata lain, bayi itu adalah anak mereka. Pasangan suami istri ini tetap tidak percaya bahwa bayi yang di tes DNA tersebut bukanlah anak mereka sehingga pasangan ini disarankan untuk melakukan tes DNA di RS yang diakui negara dengan pendampingan polisi. Oleh karena ini polisi memutuskan untuk menyelidiki dari awal peristiwa tersebut. Nilam melahirkan bayi kembar perempuan di klinik Pelita Jln. KL. Yos Sudarso Lr. 18 A pada Senin (13/8) pagi sekira pukul 07:30. Kemudian, petugas klinik menyatakan kedua bayi tersebut memiliki jenis kelamin perempuan. Namun karena kondisinya mengkhawatirkan akibat lahir secara prematur, bayi tersebut dirujuk ke RS Martha Friska. Pada Senin (13/8) menjelang mahgrib, salah satu bayi tersebut meninggal dunia. Sedangkan satu lagi masih menjalani perawatan intensif di ruang khusus bayi. Selasa (14/8) saya datang ke RS Martha Friska, tapi tidak diizinkan masuk untuk melihat bayi. Alasan perawat, ruang tersebut khusus bayi. Sejak itu, kami tidak pernah datang ke rumah sakit ini. Puncaknya pada Jumat (24/8) malam ketika Nilam mendatangi RS Martha Friska untuk menyusui anaknya. Kemudian salah seorang perawat memberinya bayi. Saat itu, Nilam merasa curiga karena bayi yang diberikan perawat kepadanya tidak mau menyusu kepadanya. Sebaliknya, bayi itu malah menangis keras. Tangisan bayi yang begitu keras dikira sebagai pertanda dia buang air besar sehingga Nilam bermaksud mengganti popoknya. Alangkah

terkejutnya Nilam ketika melihat bahwa bayi yang diberikan kepadanya berjenis kelamin laki-laki. Padahal, sewaktu melahirkan di klinik Pelita salah seorang bidan mengatakan bahwa bayi yang dilahirkannya adalah

perempuan. Hal tersebut dikuatkan dengan surat pengantar yang dikeluarkan klinik Pelita. Merasa bayinya tertukar, Nilam

mempertanyakan kepada perawat mengapa yang diberikan kepadanya berjenis kelamin laki-laki. Padahal bayi yang dilahirkannya adalah perempuan. "Waktu ditanya, salah seorang perawat mengatakan bahwa itu adalah keajaiban dari atas. Alasan seperti apa itu. Tidak masuk akal". Kalau memang bayi itu berjenis kelamin laki-laki sejak pertama kali dirujuk, mengapa pihak RS Martha Friska tidak memberitahukan kepada keluarga. Semua keluarga tahu bahwa bayi yang dilahirkan Nilam berjenis kelamin perempuan dan diperkuat surat pengantar rujukan dari klinik Pelita Analisis: Pada kasus dia atas pihak rumah sakit kurang terbuka kepada pasien akan kondisi bayi mereka. Hal ini dapat mengurangi kepercayaan pasien terhadap pelayanan yang diberikan rumah sakit yang akan berimbas pada persepsi . Ketidakseimbangan informasi antara pasien dan pihak pemberi pelayanan kesehatan. Padahal pada UU No.44 Tahin 2009 Tentang Rumah Sakit, tujuan penyelenggaraan rumah sakit salah satunya ialah

memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien, masyarakat , lingkungan rumah sakit, dan sumber daya manusia di rumah sakit. Pelayanan kesehatan yang diberikan rumah sakit pada pasien  Fasilitas yang kurang Pasien Ny.S (20 tahun), G2P1A0, tanggal 22 Juli 2007 jam 04.45 WIB datang ke UGD RSUD dengan keluhan hamil 9 bulan, mules-mules, ketuban sudah pecah di rumah. Diperiksa dokter jaga di UGD. Tandatanda ini menunjukkan pasien sudah dalam proses persalinan (inpartu). Pada waktu bersamaan UGD dalam kondisi sangat sibuk, fasilitas tempat di UGD terbatas, kamar bersalin sedang penuh. Pasien menolak untuk dirujuk ke RS lain (swasta), dengan alasan biaya. pasien mengaku tidak mampu, tetapi tidak memiliki surat keterangan tidak mampu seperti ASKESKIN, JAMKESMAS atau sejenisnya. Tanpa didampingi perawat, dengan dituntun suami, pasien berjalan ke Kamar bersalin, yang berada

pada jarak 30 meter dari UGD. Dalam perjalanan, pasien mendadak merasa mules hebat, jatuh terkulai dilantai, mengejang kuat sehingga bayi lahir spontan. Kebetulan saat itu lewat seorang perawat yang segera memberikan pertolongan, bayi dibersihkan mulut dan hidungnya, dan bayi segera menangis kuat. Salah seorang perawat lain memanggil bidan jaga dari kamar bersalin, yang segera datang dan memotong tali pusat dan melahirkan placenta. Selanjutnya ibu dan bayi dibawa ke kamar bersalin, dan mendapat perawatan sebagaimana mestinya. Keadaan ibu pasca melahirkan baik, jalan lahir utuh (tidak ada robekan), perdarahan berhenti. Bayi normal,bb 2800 kg, panjang badan 48 kg. Sehari sesudah melahirkan ibu dan bayi diperbolehkan pulang dalam keadaan baik. Analisis : Pada kasus ini, terlihat ketidaksiapan rumah sakit dalam mengantisipasi banyaknya pasien yang berkunjung pada suatu waktu tertentu. Petugas kesehatan terlihat kurang peduli terhadap kondisi pasien yang dalam keadaan kritis. Dari fasilitas yang disediakan rumah sakit tidak menyediakan sarana untuk menjangkau kamar tempat pemeriksaan. Dari sisi patient safety, ibu tersebut tidak mendapatkan rasa aman, nyaman dan jaminan keselamatan bayi dan dirinya dari petugas kesehatan. Dari kasus tersebut terlihat bahwa rumah sakit telah melanggar UU No. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dimana pasien tidak dilayani secara baik, jujur dan diperlakukan secara diskriminatif. Kasus ini juga melanggar UU No. 44 tahun 2009 tentang rumah sakit dimana rumah sakit tidak menyediakan sarana dan pelayanan yang memadai untuk masyarakat miskin yang merupakan kewajiban dari rumah sakit.  Malpraktek Pada tahun 2000 Sisi datang ke salah satu rumah sakit di Jakarta untuk melakukan pengangkatan tumor jinak atau mioma pada perutnya. Setelah berkonsultasi dengan dokter, teknik operasi yang akan dilakukan adalah laparoskopi. Pascaoperasi selesai Sisi lega, namun hal ini hanya sekejp. Lima hari setelah operasi , perut Sisi membesar seperti orang hamil. Sisi pun kembali ke rumah sakit untuk mendapat pemeriksaan, ternyata

terdapat gas pada perut Sisi. Penanganan yang dilakukan adalah operasi dan perut Sisi sibuka lagi. Operasi kedua dianggap berhasil, namun sukses ini tidak berjalan lama, lima hari pascaoperasi kedua perut Sisi membesar lagi. Operasi ketiga pun dilakukan, namun kejadian yang timbul berikutnya memaksa Sisi harus dioperasi hingga lima kali. Kini di perutnya terlihat bekas-bekas sayatan yang nampak jelas serta terdapat lubang pembuang. Dampak yang harus ditanggung Sisi ialah aktivitas yang terganggu akibat setelah makan Sisi langsung buang air besar. Kasus ini akhirnya diadukan ke sebuah lembaga swadaya masyarakat yang peduli akan hak pasien. Dalam pencarian keadilan , Ketua Lembaga Perlindungan Hak Pasien menyatakan bahwa Sisi mengalami kebocoran usus. Padahal operasi mioma teknik laparoskopi tidak pernah bersinggungan dengan bagian usus. Berdasarkan rekaman vidio operasi diketahui ternyata dokter yang membedah Sisi juga menerapkan teknik penyuburan, namun hal ini tanpa sepengetahuan pasien. Secara kode etik , tindakan ini sudah benar namun hal ini harusnya dijelaskan kepada pasien. Sebaliknya melalaui kuasa hukumnya dokter yang menangani Sisi menyatakan tindakan di atas meja operasi talah sesuai prosedur dan diperkuat oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran. Akhirnya pihak pasien melaporkan hal ini ke polisi. Analisis : Pada kasus ini, pihak rumah sakit kurang terbuka dalam melaksanakan tindakan yang harus diberikan kepada pasien. Awalnya dokter rumah sakit mengatakan hanya akan melakukan operasi pengangkatan tumor saja dengan menggunakan metode laporskopi, namun dari hasil video diketahui dokter juga menerapkan operasi penyuburan atau fertilisasi. Tindakan penyuburan yang dilakukan dokter ini merupakan suatu ketidakseimbangan informasi yang terjadi antara pasien dan dokter menganai tindakan medis yang hendak dilakukan. Secara tidak langsung kasus di atas memperlihatkan tindakan dokter yang tidak sesuai dengan Undang-undang No.8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen terutama mengenai hak untuk mendapatkan informasi yang benar, jelas, dan jujur oleh konsumen baik itu di sector kesehatan sekalipun. Padahal

pada

UU

No.44

Tahun

2009

Tentang

Rumah ialah

Sakit,

tujuan

penyelenggaraan

rumah

sakit

salah

satunya

memberikan

perlindungan terhadap keselamatan pasien, masyarakat , lingkungan rumah sakit, dan sumber daya manusia di rumah sakit. Kasus di atas memperlihatkan bahwa rumah sakit kurang memperhatikan pasiennya dan juga ketersediaan fasilitas yang ada di dalamnya. Kualitas pelayanan yang mereka berikan sering kali di bawah standar sehingga merugikan pasien. Hal tersebut dapat digolongkan sebagai pelanggaran terhadap peraturanperaturan. Untuk itu perlu suatu strategi yang dapat menghadapi kejadian tersebut yaitu :  Lebih memperketat pengawasan terhadap kinerja pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan rumah sakit yang dilakukan oleh bagian management SDM dan mutu     Menyediakan buku pedoman bagi tenaga kesehatan mengenai prosedur pelayanan yang baik sesuai dengan undang-undang yang berlaku Pelatihan dan pendidikan terhadap petugas kesehatan di dalam memberikan pelayanan yang berkualitas kepada pasien Pemberian reward dan punishment terhadap petugas kesehatan rumah sakit di dalam bekerja agar mereka lebih produktif di dalam bekerja Penentuan pendirian lokasi rumah sakit dan fasilitas yang ada agar tidak merugikan masyarakat dan memberikan pelayanan yang sesuai dengan standar pelayanan    Merencanakan jumlah tenaga kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan rumah sakit Pembayaran terhadap PPK yang sesuai dengan jenis, beban dan resiko dalam melakukan pekerjaan Menyediakan kotak pengaduan dilokasi yang strategis untuk menampung saran serta keluhan-keluhan dari pasien yang berkunjung

2.2 Tantangan yang dihadapi Rumah Sakit menghadapi LSM Lembaga Swadaya Masyarakat atau yang lebih dikenal dengan singkatan LSM merupakan lembaga independent bertujuan untuk memberdayakan masyarakat baik sebagai fasilitator maupun secara langsung turun ke lapangan. Karena sifatnya yang independent maka pada umumnya pendanaan LSM murni berasal dari sumbangan donator yang bisa berasal dari masyarakat, perusahaan atau lembaga luar negeri yang memiliki kepeningan di negara yang ia danai. LSM menjadi populer sejak runtuhnya era orde baru yang berganti menjadi era reformasi yang lebih demoktratis sehingga kebebasan berorganisasi lebih mudah dilakukan. Pada umunya donatur maupun lembaga luar negeri lebih mempercayai LSM karena monitoring dan evaluasinya yang mudah serta mudahnya LSM diterima oleh masyarakat ketimbang lembaga pemerintahan. Dalam hubungannya dengan rumah sakit maka LSM dapat memiliki 2 peran yaitu sebagai lembaga kerjasama intersektoral serta sebagai sarana pengawas kegiatan rumah sakit. a. Lembaga Kerjasama Intersektoral LSM yang memiliki tujuan untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dapat melakukan kerjasama intersektoral dengan rumah sakit, dimana LSM yang memiliki kemampuan pendanaan dan pengumpulan massa berperan sebagai pemrakarsa dan Rumah Sakit yang memiliki sumber daya manusia dan fasilitas kesehatan sebagai pelaksana kegiatannya. b. Sebagai Pengawas Pelaksana Kegiatan Pelayanan kesehatan yang diterima oleh pasien seringkali tidak memuaskan pasien karena pelayanan yang diberikan tenaga medis maupun non-medis di rumah sakit dapat membuat pasien merasa tidak aman dan tidak nyaman, seperti tindakan malpraktek yang dilakukan oleh dokter, sikap pegawai rumah sakit yang tidak ramah kepada pasien ketika memberikan pelayanan. Kondisi ini akan membuat pasien membawa permasalahan – permasalahan yang mereka temui di rumah sakit ke badan hukum . Namun, tidak semua pasien mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan

permasalahan yang mereka hadapi dalam mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit melalui badan hukum. Pasien yang tidak mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan permasalahannya didepan hukum, seringkali dibantu oleh LSM – LSM yang peduli terhadap keselamatan masyarakat dalam mencari pelayanan kesehatan yang berkualitas. Bantuan yang diberikan oleh LSM bisa berupa informasi dari sudut pandang yeng berbeda mengenai tindakan yang disengketakan serta informasi mekanisme pelaksanaan gugatan, penyediaan pengacara bagi pihak masyarakat yang tidak mampu menyewa pengacara, serta bisa juga ikut serta dalam amicus curiae yaitu keadaan ketika pengadilan mengijinkan pihak ketiga yang tidak terlibat dengan pihak yang bersengketa untuk ikut memberikan keterangan serta informasi dari sudut pandang keilmuan mengenai tindakan yang disengketakan. LSM yang membantu pasien untuk mendapatkan keadilan dalam pelayanan kesehatan ini dapat membahayakan posisi rumah sakit atau dapat menurunkan kepercayaan pasien yang datang ke rumah sakit tersebut. Untuk menghadapi situasi yang bisa menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pelayanan di rumah sakit, maka rumah sakit dapat mengatasi hal tersebut melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia rumah sakit. Dalam peningkatan kualitas SDM ini yang dapat dilakukan, yaitu : a. Melakukan berbagai kerjasama dengan LSM dalam berbagai kegiatan yang ada hubungannya dengan meningkatkan status kesehatan masyarakat. Misalnya seperti Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) yang bekerjasama dengan LSM dari Yayasan Kanker Indonesia dan Yayasan Onkologi Anak dalam menyediakan pelayanan deteksi dini kanker dan pengobatannya. b. Meningkatkan fungsi humas untuk mempererat hubungan antar rumah sakit dengan masyarakat serta untuk memberikan berbagai informasi yang ada hubungannya dengan berbagai tindakan yang berisiko menimbulkan kesalahpahaman antara masyarakat dengan Rumah Sakit.

c. Meningkatkan mutu kualitas pelayanan kesehatan baik dari efisiensi waktu, ketepatan diagnosa, pengobatan serta perawatan yang baik. d. Menyediakan kotak saran dan costumer service untuk menampung keluhan serta pertanyaan mengenai pelayanan Rumah Sakit terhadap pasien untuk meminimalisir adanya kesalahpahaman e. Meningkatkan keamanan sistem informasi mengenai data pasien rumah sakit untuk menghindari adanya LSM nakal yang berusaha mendapatkan keuntungan dengan berusaha mencari-cari kesalahan rumah sakit untuk kemudian dimintai ganti rugi. f. Meningkatkan pengetahuan manager rumah sakit mengenai

perundangan yang mengatur tata ruang serta pelaksanaan kegiatan rumah sakit.

2.3 Persaingan Antar Rumah Sakit Persaingan antar rumah sakit di kota – kota besar semakin ketat. Rumah sakit pemerintah mendapat citra kurang baik dari segi pelayanan dibandingkan dengan rumah sakit swasta. Hal ini menyebabkan masyarakat golongan menengah ke atas cenderung memilih rumah sakit swasta untuk mendapatkan pelayanan. Pendirian rumah sakit dewasa ini semakin banyak dan sudah menjadi lahan bisnis. Dengan mudahnya perijinan untuk mendirikan rumah sakit swasta, hal ini menimbulkan adanya persaingan yang semakin ketat. Pendirian rumah sakit

swasta ini sudah tidak memperhitungkan jarak antar rumah sakit. Persaingan antar rumah sakit pun sudah tidak terelakkan lagi dengan sangat mengandalkan kualitas pelayanan, biaya perawatan, tenaga medis, dan elemen pelayanan lainnya. Dengan adanya persaingan ini, manajemen rumah sakit lebih dituntut untuk memberikan inovasi dan strategi untuk mendapatkan pelanggan/ pasien. Jika hal ini tidak dapat dipenuhi maka akan menimbulkan kebangkrutan pada rumah sakit tersebut. Pengelolaan rumah sakit memerlukan prinsip professional seperti yang diterapkan pada perusahaan dan perlunya pelayanan yang lebih baik kepada konsumen. Memenangkan persaingan ini dapat berarti menguasai pasar, melakukan penghematan dan efisiensi, menerapkan prinsip – prinsip bisnis dengan memegang misi social dan organisasi nirlaba. Rumah sakit swasta memiliki kebutuhan cukup banyak dan kemampuan lebih untuk mengelola keuangan dan manajerial agar rumah sakit tetap berkembang serta ditingkatkan pula akuntansi biaya dan akuntansi manajemen (Fakhurindah, 2011). Rumah sakit dipandang sebagai kumpulan pusat biaya yang menghasilkan produk kesehatan baik itu pelayanan medis dan non medis. Konsep Strategi yang digunakan berdasarkan konsep lembaga usaha dengan modifikasi utnuk strategi yang mendukung misi sosial yaitu : a. Strategi untuk mengembangkan kegiatan dengan pengguna kelompok masyarakat yang membeli yaitu pasien yang membeli pelayanan langsung, melalui perusahaan asuransi kesehatan, atau melalui perusahaan tempat bekerja. Strategi ini bertumpu pada mekanisme pasar.

b. Strategi untuk mendapatkan subsidi dan dana – dana kemanusiaan. Strategi ini untuk mendukung misi sosial rumah sakit.

2.3.1

Prospek Bisnis Rumah Sakit Di Indonesia

Bisnis rumah sakit di Indonesia masih sangat terbuka luas untuk mendirikan dan mengoperasikan rumah sakit yang bersifat umum maupun spesialisasi khusus. Adapun penyebabnya yaitu : a. Tingkat kesejahteraan masyarakat cenderung semakin meningkat yang dilihat dari angka GNP sehingga diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan layanan kesehatan yang lebih baik; b. Masih banyaknya masyarakat yang berobat ke luar negeri diantaranya ke Singapura karena membutuhkan layanan dokter dan rumah sakit yang prima; c. Perkembangan wilayah – wilayah pemukiman baru dengan pertumbuhan penduduk dan peningkatan taraf hidup yang berkembang cepat; d. Banyaknya tenaga kerja asing dan turis yang datang ke Indonesia sehingga membutuhkan rumah sakit yang memiliki standar yang baik; e. Perijinan pendirian rumah sakit dari pemerintah yang sederhana.

2.3.2

Solusi Menghadapi Persaingan Ekternal Rumah Sakit

A. Manajemen Pemasaran Pemasaran merupakan ujung tombak bagi suatu rumah sakit khususnya bagi rumah sakit yang dominan menyediakan jasa kesehatan. Isu – isu yang berkembang saat ini yaitu pengembangan teknologi yang cepat, produktivitas yang tinggi dibidang jasa kesehatan, pembiayaan operasional rumah sakit yang berskala besar, dan pemasaran yang menjadi perhatian utama manajemen pada organisasi yang ingin tetap mempertahankan eksistensinya serta mendapatkan keuntungan. Teknologi pemasaran yaitu pemasaran yang dianggap sebagai perangkat teknik manajemen.

Teknik ini menjadi panduan bagi rumah sakit dalam pencarian pasar yang cocok dan dalam mendapatkan serta mempertahankan suatu posisi bersaing di pasar tersebut. Pemasaran juga dapat ditinjau sebagai suatu pendekatan dasar untuk menjalankan bisnis yang disebut falsafah pemasaran. Rumah sakit yang menggunakan pendekatan ini memusatkan perhatian pada suatu cara yang sistematis dan terencana dalam kegiatan pertukaran (termasuk membeli dan menjual) dengan mitra – mitra pasarnya. Pemasaran ini dipandang sebagai perangkat teknik, falsafah, dan pendekatan bisnis. Salah satu tugas manajer yang sangat penting yaitu tetap memegang jalur kecenderunagn yang ada, mengantisipasi kecenderungan masa mendatang, dan memperkirakan implikasinya bagi rumah sakit. Adanya pemasaran sebagai falsafah bisnis yang dilaksanakan oleh rumah sakit dapat menentukan arah penerapan strategi pemasarannya. Komponen utama dalam konsep pemasaran adalah : 1. Memfokuskan pada pasar 2. Berorientasi pada pelanggan/ konsumen 3. Mengintegrasikan semua kegiatan dalam rumah sakit untuk

memuaskan kebutuhan konsumen 4. Mencapai surplus jangka panjang melalui pemuasan kebutuhan konsumen Pelaksanaan ke empat unsur tersebut dengan baik akan membuahkan keberhasilan berupa keberhasilan rumah sakit dan kepuasan konsumen. Perlu disadari pula oleh manajemen rumah sakit yang sudah menjalankan orientasi pada konsumen secara sempurna sudah dilakukan dengan benar melalui riset pemasaran yang baik, pengembangan produk baru yang sudah sesuai dengan kebutuhan konsumen dan diarahkan ke segmen pasar tertentu tetapi rumah sakit tersebut masih mengalami kerugian karena kalah dalam persaingan. Dalam hal ini diperlukan adanya konsep tentang keunggulan kompetitif yang dapat dicapai yaitu memenuhi kebutuhan konsumen dan tetap

mempertahankan keunggulan bersaing dalam hal keunikan produk atau biaya yang lebih rendah (bab 30). Konsep pemasaran stratejik yaitu kombinasi antara orientasi konsumen dan orientasi pesaing. Adapun komponen yang terkandung dalam konsep pemasaran stratejik adalah : 1. Orientasi konsumen yaitu berusaha memuaskan kebutuhan tertentu dari konsumen dan kebutuhan itu dipandang dari sisi konsumen bukannya penjual. Hal ini dilakukan dengan menentukan posisioning yang jelas sehingga masyarakat mengetahui bagaimana pelayanan yang dapat diberikan. Contohnya posisioning yang dikembangkan oleh rumah sakit yaitu dalam bidang pelayanan spesialistik kebidanan penyakit kandungan dan kesehatan anak. 2. Fokus pasar yaitu hanya segmen – segmen pasar tertentu yang menjadi sasaran sehingga batasan tentang pasar sasaran (target market) harus jelas. Hal ini dilakukan dengan mengidentifikasi segmen masyarakat yang terdapat dalam radius pelayanan dan menentukan target segemn yang menjadi focus pelayanan. Contohnya rumah sakit yang mengkhususkan dalam bidang pelayanan spesialistik kebidanan penyakit kandungan dan kesehatan anak, serta ditunjang dengan unit – unit pelayanan spesialistik lainnya. Fasilitas yang ditawarkan meliputi poliklinik, rawat jalan, rawat inap, dan penunjang medis dengan didukung oleh dokter – dokter spesialis yaitu dokter spesialis kebidanan dan kandungan, kesehatan anak dan penyakit dalam.. Segmen pasar misalnya ibu – ibu muda dan anak balita, pendapatan keluarga yang tergolong menengah ke atas. Target segmen yang dilayani rumah sakit adalah ibu – ibu muda yang sedang dalam masa kehamilan atau memiliki anak di usia balita dengan tingkat pendapatan keluarga menengah ke atas. 3. Koordinasi dan integrasi kegiatan pemasaran; 4. Profitabilitas jangka panjang;

5. Orientasi pesaing yaitu berusaha mencapai keunggulan bersaing. Hal ini dilakukan dengan pelaksanaan program – program pemasaran yang inovatif. Contohnya rumah sakit membuat program – program inovatif pada RSIA yaitu : a. Pembuatan galeri bayi pada website rumah sakit untuk menarik ibu – ibu yang baru melahirkan; b. Lomba balitas sehat tahunan yang dapat menjadi media untuk memperkenalkan rumah sakit sebagai rumah sakit ibu dan anak; c. Konsultasi dokter melalui SMS yang dapat menjadi program terobosan yang memungkinkan dokter lebih dekat dengan pasiennya; d. Menyelenggarakan seminar-seminar bagi wanita-wanita yang ingin mempersiapkan kesehatan pra nikah dan kegiatan ini dapat menjadi media promosi yang bagus untuk rumah sakit; e. Menawarkan produk unggulan yaitu klinik andrologi (pemeriksaan masalah kemandulan dan seksualitas pria); f. Klinik menopause; g. Klinik tumbuh kembang; h. Terapi akupuntur (Trenggono, 2010) Faktor persaingan harus dimasukkan untuk mencapai keunggulan dalam persaingan. Dalam era global, persaingan terjadi dengan sesama jenis rumah sakit, berbagai macam lembaga saingan yang lain di seluruh dunia. Rumah sakit dari Negara lain di dunia memiliki peluang untuk memasuki arena pasar yang sama. Kemungkinan seperti ini menimbulkan persaingan jadi semakin ketat. Rumah sakit yang punya keunggulan pasti menempati posisi pasar yang lebih baik dari pesaingnya. Dari sumber yang berbeda (Trenggono, 2010) didapatkan bahwa kunci persaingan dalam bisnis rumah sakit yang dapat diidentifikasikan yaitu : a. Kualitas dan kuantitas dokter yang melayani; b. Kualitas peralatan dan teknologi yang ditawarkan; c. Lokasi rumah sakit;

d. Pengenalan nama rumah sakit; e. Kualitas pelayanan tenaga perawat f. Kemudahan untuk pengurusan administrasi g. Harga atau biaya perawatan yang ditawarkan h. Segmen pasar yang dilayani

B. Efisiensi dengan Strategi Bersaing Jenerik (Swasta, 1994) 1. Strategi Kepemimpinan Biaya Rumah sakit melakukan upaya agar biaya operasional yang terendah sehingga dapat memberikan harga terendah daripada pada rumah sakit lain dan mendapatkan banyak pelanggan. 2. Strategi Diferensiasi Rumah sakit berupaya maksimal pada bidang yang dianggap penting oleh pasar secara keseluruhan. Bidang yang dimaksud meliputi pelayanan, kualitas, teknologi, dan sebagainya. Rumah sakit berusaha menjadi yang terdepan dalam pelayanan, kualitas, dan teknologi. 3. Strategi Fokus Rumah sakit fokus pada satu atau beberapa segmen pasar saja. Setelah mengidentifikasi kebutuhan dari segmen – segmen pasar tersebut, rumah sakit berusaha mengelola biaya atau beberapa bentuk diferensiasi untuk memenangkan persaingan. Misalnya rumah sakit fokus pada pelayanan operasi bedah, kebidanan, anak, atau yang lainnya.

C. Perubahan Manajemen secara Mendasar dan Mengubah Citra Rumah Sakit Pemerintah Mengembangkan kemampuan manajerial sangat diperlukan untuk menghadapi persaingan global. Pada rumah sakit pemerintah yang konsumennya sebagian besar adalah golongan masyarakat menengah ke bawah perlu mendapatkan perhatian yang lebih banyak dari pihak manajemen rumah sakit. Pelayanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau juga berhak didapatkan oleh semua masyarakat. Rumah sakit

harus dapat mengidentifikasi faktor – faktor penantang yang bersifat produk substitusi misalnya para pelaku pengobatan tradisional, dukun patah tulang, hingga tukang obat. Berkembangnya produk substitusi ini dapat dipicu oleh kesulitan pasien sebagai pembeli untuk mendapatkan jasa pelayanan kesehatan oleh rumah sakit. Contohnya di daerah Sumatera Barat berkembang dukun patah tulang karena jumlah dokter bedah tulang sangat sedikit. Manajemen rumah sakit harus mampu melakukan analisis kekuatan dan kekuatan rumah sakit sebagai bahan perencanaan kegiatan organisasi agar lebih tepat sasaran, efektif, efisien, dan memiliki daya saing yang tinggi (Swasta, 1994). Pembuatan standar pelayanan minimal rumah sakit juga dapat dijadikan pedoman dalam memberikan pelayanan yang berkualitas bagi masyarakat.

D. Budaya Mutu dalam Organisasi Rumah Sakit Seiring dengan perkembangan jaman, diiringi pula dengan membaiknya tingkat pendidikan, keadaan ekonomi sosial masyarakat, serta adanya kemudahan di bidang transportasi dan komunikasi, majunya IPTEK serta arus informasi mengakibatkan sistem nilai dalam masyarakat berubah dan cenderung menuntut pelayanan umum yang lebih bermutu termasuk pelayanan kesehatan. Pelayanan rumah sakit tergantung dari kompetensi dan kemampuan para pengelola rumah sakit. Upaya ini dapat ditingkatkan melalui program pendidikan dan pelatihan, pengaturan atau penegakkan disiplin serta moral dan hukum dari pimpinan rumah sakit untuk menjamin terselenggaranya standar pelayanan yang baik. Tanggung jawab ini harus dipikul oleh semua elemen yang berada di rumah sakit. Perlu dilakukan evaluasi secara kontinyu terhadap seluruh faktor – faktor yang berkaitan dengan mutu pelayanan yaitu penyempurnaan pelayanan administrasi rumah sakit, pelayanan klinis, pendidikan professional, serta perawatan pasien yang lebih baik (Fahriadi, 2010)

2.4 Persaingan Internal Rumah Sakit Persaingan tidak hanya dapat terjadi antar pihak rumah sakit tetapi dapat pula terjadi persaingan di dalam rumah sakit. Persaingan internal tersebut dapat ditimbulkan oleh adanya kompetisi antara masing-masing unit kesehatan yang ada di rumah sakit ataupun timbul dari tenaga medis di rumah sakit. Persaingan yang muncul dari para tenaga medis seperti misalnya antar dokter spesialis. Persaingan tersebut dapat ditimbulkan akibat adanya perbedaan jumlah pasien yang dilayani ataupun jumlah gaji atau insentif yang diterima akaibat perbedaan hard skill dan soft skill dari masing-masing tenaga medis (dokter). Di samping itu pula dapat terjadi persaingan jabatan di rumah asakit akibat adanya perbedaan pandangan dalam mengatur sumber daya yang ada di rumah sakit. Pada dasarnya persaingan internal dapat memacu inovasi dan kualitas pelayanan kepada pasien dalam pengembangan rumah sakit. Namun apabila dalam persaingan tersebut hingga muncul kecemburuan sosial di rumah sakit maka dapat berakibat fatal bagi rumah sakit itu sendiri. Salah satu akibatnya adalah dapat menurunkan kualitas pelayanan prima rumah sakit sehingga mempengaruhi citra rumah sakit. Akhirnya tingkat kepercayaan dan kepuasan terhadap pelayaann rumah sakit akan menurun. Persaingan yang paling sering terjadi di sebuah rumah sakit sering kali disebabkan masalah komitmen dokter spesialis di dalam rumah sakit untuk

mencapai visi misi rumah sakit dan menjalankan misi sosial yang diembannya serta kode etik kedokterannya. Salah satu contoh kasus yang paling sering terjadi di rumah sakit yaitu persaingan antar dokter spesialis untuk memperoleh pasien sebanyak-banyaknya tanpa melalui pihak rumah sakit. Dalam hal ini dokter jaga di rumah sakit yang menerima pasien berlomba-lomba untuk memperoleh keuntungan sehingga banyak dokter yang menerima pasien di rumah sakit mengalihkan pasiennya ke praktik swastanya. Praktik dokter seperti ini tentunya tidak sesuai dengan tujuan dari sebuah rumah sakit dan mengakibatkan kerugian bagi pihak rumah.

Kerugian yag dialami oleh pihak rumah sakit tidak hanya akibat hilangnya pemasukan dari pasien yang datang namun tidak memperoleh pelayanan kesehatan yang semestinya tetapi juga bersal dari semakin berkurangnya jumlah pasien di rumah sakit. Berkurangnya jumlah pasien tersebut disebabkan oleh menurunnya kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan oleh pemberi pelayanan (dokter) akibat perubahan orientasi dokter dan ketidaksamaan persepsi antara pihak manajemen dengan dokter. Komitmen pihak dokter terutama dokter spesialis dan bentuk persaingan yang ada di dalam rumah sakit sangat dipengaruhi oleh bentuk

kepemimpinanyang dijalankan oleh pihak manajemen rumah sakit dalam menjalankan dan memperlakukan karyawan khususnya dokter spesialis, menciptakan suasana kerja yang nyaman dan hubungan kerja (interpersonal) yang harmonis, serta sistem insentif yang transparan. Pihak manajemen rumah sakit tentunya harus memikirkan cara dan berbagai upaya untuk menekan persaingan internal yang tidak sehat di dalam rumah sakit. Sistem manajemen yang dapat diterapkan oleh pihak manajemen untuk menekan persaingan internal negatif yang terjadi di rumah sakit antara lain:  Mempertegas dan menekankan visi dan misi rumah sakit kepada setiap tenaga kesehatan di rumah sakit sehingga setiap aktivitas yang dilakukan oleh karyawan rumah sakit fokus pada pemberian pelayanan kesehatan berkualitas kepada pasien dan mencapai tujuan rumah sakit.  Merinci dan memperjelas sistem pemberian gaji dan insentif kepada tenaga medis sehingga tidak menimbulkan kecemburuan sosial di internal rumah sakit  Membangun dan membina hubungan baik antar tenaga medis dan dengan pihak manajemen sehingga mempererat kekerabatan dan kebersamaan di rumah sakit  Mengembangkan soft competency dengan menumbuhkan sikap dan perilaku positif pada semua karyawan.

Hilangnya konflik internal di rumah sakit dapat dilihat dari perubahan sikap dan perilaku, keterlibatan aktif dalam kegiatan rumah sakit dan terciptanya kekompakan antar dokter. Dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan kinerja dokter maupun rumah sakit secara keseluruhan dan meningkatkan revenue rumah sakit.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. tt. Buruknya Manajemen RSUD Dok II Jayapura. Papua.

http://www.dkrpapua.com/component/content/article/14-dkr-papua/76buruknya-manajemen-rsud-dok-ii-jayapura-.html (tgl akses 22 Mei 2011) Adisasmiko, Wiku. 2008. Kesiapan Rumah Sakit Dalam menghadapi Globalisasi. Jakarta: Universitas Indonesia. http://staff.blog.ui.ac.id/wiku-

a/files/2009/02/kesiapan-rs-dlm-menghadapi-globalisasi_edited.pdf (tgl akses 20 Mei 2011) Anonim. tt. Sistem Manajemen Rumah Sakit Dalam Perspekti Sejarah. http://manajemenrs.net/dmdocuments/MRS_BAB%20I%20%20SISTEM%20MANAJE MEN%20RUMAH%20SAKIT%20DALAM%20PERSPEKTIF%20SE JARAH.pdf (tgl akses 20 Mei 2011) Darmadjaja, Djoni. tt. Kajian Proses Pembangunan Komitmen Dokter Spesialis Di Rumah Sakit Umum Daerah Karawang. Jakarta: Universitas Indonesia. http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:msUBXJAoTVYJ:www. digilib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/abstrakpdf.jsp%3Fid%3D73845%26l okasi%3Dlokal+konflik+internal+rumah+sakit&hl=en&pid=bl&srcid= ADGEESgoSBBIahWUa7_6Df86O5tQaJV7OfhSZ65EwzJVpHY89F3 FtrYllCERyLlub0e6jHyOhOSRjDJTVAMi45GB6GZAQJPMmJK9Kct jMF5lU5NJjsrRJ6dYzzIrANBwKBzT31vdfpMc&sig=AHIEtbQ4yBBx ibOsha4RCvJ2MuikCO48lA (tgl akses 21 Mei 2011) FAHRIADI, S., SKM,M.KES. 2010. Budaya Mutu dalam Organisasi Rumah Sakit. Available: http://www.scribd.com/doc/26126320/Budaya-MutuOrganisasi-Rumah-Sakit. FAKHURINDAH, A. 2011. Penerapan Variabel Costing Dalam Penyajian Per Segmen Tindakan Medis Masing - Masing Unit Pelayanan Kesehatan Pada Rumah Sakit Husada Utama, Surabaya. Available:

http://adln.lib.unair.ac.id/files/disk1/301/gdlhub-gdl-s1-2011fakhurinda-15012-abstrak.pdf Listyowati, Rina. 2011. Konsep Patient Safety. Denpasar: Bag. AKK PS IKM UNUD. Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 129/Menkes/SK/II/2008 Tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit

http://dinkessulsel.go.id/new/images/pdf/pdf_rs/kepmenkes%20129%2 0tahun%202008%20-%20spm%20rs.pdf (tgl akses 23 Mei 2011) Nur. 2008. Kualitas Paramedis dan Bidan Perlu Ditingkatkan.Gemari (Edisi 89). http://www.gemari.or.id/file/edisi88/gemari8920.pdf (tgl akses 22 Mei 2011) Susilowati, Rini. 2005. Membangun Keunggulan Bersaing Melalui Penataan Rumah Sakit. Semarang: PS Magister Manajemen Pascasarjana Undip. http://eprints.undip.ac.id/15322/1/RINI_SUSILOWATI_C4A005023.pd f (tgl akses 22 Mei 2011) Suwarto. 2005. Penganggaran Belanja dan Manajemen Konflik. Yogyakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Atmajaya.

http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/9305248259.pdf (tgl akses 23 Mei 2011) SWASTA, B. 1994. Persaingan Menuju Efisiensi Bagi Rumah Sakit. Available: ilib.ugm.ac.id/jurnal/download.php?dataId=1344 Syaefullah, Avip. tt. Model Manajemen Rumah Sakit Pendidikan Dalam Penyelenggaraan Pendidikan Profesi dan Pelayanan Kesehatan. http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:67Kt6Tf43swJ:perpustak aan.upi.edu/abstrak/administrasi/upload/avip_syaefullah_model_manaje men_rumah_sakit_pendidikan_dalam_penyelenggaraan_pendidikan_pr ofesi_dan_pelayanan_kesehatan.doc+manajemen+konflik+internal+ru mah+sakit&hl=en&pid=bl&srcid=ADGEEShxUyZDkVHgcreTVzx1H 1nz8fg3rq2zXoGEPIF4K0DhA7v3AE9pPBQGQys3A2JwQUIb3XyIn

dt5BE7qGCpOwQEZnTrAvpM7fFnboGlSN4961sbzxKTrOXKQBjSl5 Hr_OJmZI&sig=AHIEtbSwWDYF0Fgc1JBGx3DMlsQL1lcEEQ akses 23 Mei 2011) TRENGGONO, S. 2010. Dinamika Persaingan Rumah Sakit Case Study Rumah Sakit Hermina – Bekasi. Available: sakitupload. http://www.scribd.com/doc/2942610/persaingan-rumah(tgl

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful