LAPORAN AKHIR

PROFIL KOMODITAS KUBIS

Witono Adiyoga Mieke Ameriana Rachman Suherman T. Agoes Soetiarso Budi Jaya Bagus Kukuh Udiarto Rini Rosliani Darkam Mussadad

BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN

DEPARTEMEN PERTANIAN 2004
1

I. Pendahuluan Kubis memiliki nama ilmiah Brassica oleracea. Dalam dunia tumbuhan, kubis diklasifikasikan sebagai berikut: a. Divisi : Spermatophyta b. Subdivisi : Angiospermae c. Kelas : Dicotyledonae d. Famili : Brassicaceae e. Genus : Brassica f. Species : Brassica oleracea. Kubis merupakan kelompok tanaman yang dikenal sebagai cole crops. Kata "cole" berasal dari kata “col” di Middle English. Orang Romawi menyebut tanaman ini sebagai "caulis", sedangkan orang Yunani menyebutnya sebagai "kaulion". Kesemua kata tersebut pada dasarnya berarti batang. Kelompok tanaman ini meliputi kubis, kubis bunga, brokoli, kale, collards, kohlrabi, dan Brussels sprouts. Tanaman cole liar banyak ditemukan tumbuh di sepanjang pantai Mediterania dan Atlantik, Eropa. Kubis dan kale berasal dari Eropa Barat, sedangkan kubis bunga dan brokoli berasal dari wilayah Mediterania. Kubis dan kale merupakan tanaman pertama dari kelompok ini yang didomestikasi, kira-kira 2 000 tahun yang lalu. Sebelum didomestikasi, kedua tanaman ini dikumpulkan dari daerah liar dan digunakan terutama sebagai tanaman obat atau medisinal herbal. Bentuk-bentuk liar kubis ditemukan sepanjang pantai-pantai Laut Tengah dan atau Jazirah Asia Kecil atau Turki yang kemudian berevolusi menjadi bentuk-bentuk yang dibudidayakan pada saat ini. Semua tanaman cole bersifat interfertile (dapat disilangkan) dan banyak pula yang self-incompatible (bunga tidak dapat difertilisasi oleh polen yang berasal dari tanaman yang sama). Karakteristik ini mempermudah upaya untuk melakukan seleksi jenis tanaman cole yang baru. Self-incompatibility juga menyebabkan produksi benih hibrida cenderung ekonomis. Introduksi tanaman kubis ke Indonesia tidak diketahui secara pasti sejak kapan. Kubis dwi musim sudah ada sejak sebelum Perang Dunia II, ditanam di daerah pegunungan dan benihnya selalu didatangkan dari luar negeri, khususnya Netherland. Varietas kubis yang terkenal pada saat itu adalah RvE (Roem van Enkhuizen). Bagi petani yang menemukan kesulitan untuk mendapatkan benih, biasanya menanam kubis dari stek, sehingga dikenal sebagai kubis stek (Argalingga, Majalengka dan Dieng, Wonosobo). Sampai saat ini kubis stek masih dapat ditemui di daerah Dieng, sedangkan di Argalingga sudah atau hampir punah. Kubis yang dibudidayakan di Indonesia ada dua jenis, yaitu (1) Jenis semusim (annual type) – tipe kubis yang dapat tumbuh, berkrop, berbunga dan berbiji di daerah tropis pada umumnya dan Indonesia pada khususnya, tanpa memerlukan periode pendinginan terlebih dahulu; (2) Jenis dwi musim (biennial type) – dapat tumbuh di daerah tropis namun tidak dapat berbunga secara alami karena tidak adanya musim dingin panjang untuk merangsang pembungaannya. Jenis dwi musim inilah yang banyak diminta konsumen karena kropnya keras/padat, tidak rapuk dan tidak renyah seperti kubis semusim. Namun pengembangan dari sisi pemuliaan dan produksi benihnya terkendala oleh ketidak-mampuan jenis kubis ini untuk berbunga
2

secara alami. Dengan demikian, budidaya kubis di Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat tinggi untuk memenuhi kebutuhan benih dari pasar impor.

II. Area, produksi dan produktivitas Data terakhir dari FAO (2004) menunjukkan bahwa produksi kubis dunia pada tahun 2004 mencapai 68 389 593 ton dan diusahakan pada luasan lahan sekitar 3 214 105 hektar (Tabel 1). Perkembangan terakhir juga menunjukkan bahwa China adalah Tabel 1 Areal panen, produksi dan produktivitas kubis dunia serta lima negara penghasil terbesar
2000 Dunia A (ha) P (t) Y (t/ha) 2 801 396 58 783 149 20,98 2001 3 033 996 60 781 249 20,03 2002 3 066 269 61 515 476 20,06 2003 3 187 864 66 837 584 20,97 2004 3 242 105 68 389 593 21,09

China

A (ha) P (t) Y (t/ha)

1 220 265 23 148 800 18,97

1 485 684 25 262 396 17,00

1 571 113 28 078 001 17,87

1 624 310 30 584 911 18,83

1 669 450 32 601 000 19,53

India

A (ha) P (t) Y (t/ha)

260 000 5 910 000 22,73

250 000 5 510 000 22,04

260 000 5 680 000 21,85

280 000 5 800 000 20,71

280 000 6 000 000 21,43

Russian Fed.

A (ha) P (t) Y (t/ha)

174 130 3 491 820 20,05

172 520 3 855 530 22,35

172 330 3 651 850 21,19

176 460 4 440 570 25,16

178 000 4 500 000 25,28

USA

A (ha) P (t) Y (t/ha)

109 880 2 598 690 23,65

105 000 2 491 660 23,73

103 180 2 371 330 22,98

105 480 2 433 110 23,07

105 480 2 450 000 23,23

Indonesia

A (ha) P (t) Y (t/ha)

99 289 1 551 710 15,63

89 439 1 399 230 15,64

96 405 1 438 190 15,91

95 729 1 551 430 16,21

95 729 1 551 430 16,21

Sumber: FAOSTAT 3

negara produsen kubis terbesar di dunia dengan kontribusi sekitar 47%, diikuti oleh India (9%), Federasi Rusia, Amerika Serikat, termasuk Indonesia. Indonesia termasuk ke dalam lima negara terbesar produsen kubis dunia ditinjau dari luas areal panen dan produksi totalnya. Namun demikian, produktivitas kubis di Indonesia bahkan masih lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata produktivitas kubis dunia. Sementara itu, produktivitas kubis di empat negara produsen lainnya ternyata juga masih belum optimal. Berikut ini adalah beberapa negara yang produktivitas kubisnya jauh melampaui produktivitas kubis di lima negara produsen kubis terbesar. Dalam lima tahun terakhir secara konsisten produktivitasnya:

• > 30 t/ha

• > 40 t/ha • > 50 t/ha

: Australia, Cyprus, Republik Ceko, Honduras, Mexico, Netherlands, Selandia Baru, Norwegia, Palestina, Polandia, Slovenia, Afrika Selatan dan Spanyol : Austria, Belgia, Jepang, Kuwait, Swedia dan Uzbekistan : Jerman, Irlandia, Korea Utara dan Saudi Arabia

Selama periode 1995-2003, luas areal panen kubis di Indonesia cukup berfluktuasi, yaitu antara 69 815 hektar pada tahun 1996 dan 59 207 hektar pada tahun 2001. Sementara itu, produktivitas kubis pada periode waktu yang sama juga menunjukkan fluktuasi dengan kisaran yang relatif sempit, yaitu terendah pada tahun 2001 sebesar 20,4 ton/ha dan tertinggi pada tahun 1995 sebesar 24,7 ton/ha. Dengan demikian, produksi kubis tahunan di Indonesia cenderung bervariasi dengan catatan tertinggi pada tahun 1995 sebesar 1,625 juta ton, dan terendah pada tahun 2001 sebesar 1,205 juta ton. Table 3 Tahun
1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 Rata-rata

Produksi kubis di Indonesia, 1995-2003 Luas Panen (ha)
65,820 69,815 64,990 69,150 65,352 66,914 59,207 60,235 64,520 65,111

Produksi (t)
1,625,227 1,580,408 1,338,507 1,459,232 1,447,910 1,336,410 1,205,404 1,232,843 1,348,433 1,397,153

Produktivitas (t/ha)
24.7 22.6 20.6 21.1 22.2 22.4 20.4 20.5 20.9 21.7

Sumber: Survei Pertanian, BPS (berbagai tahun)

4

Secara agregat, produktivitas kubis di Indonesia selama periode 1995-2003 mencapai rata-rata 21,7 t/ha. Untuk periode yang sama, pencapaian ini ternyata setara dengan produktivitas rata-rata kubis dunia (132 negara), yaitu ± 20 t/ha. Berkaitan erat dengan tingkat adaptabilitasnya, pertanaman kubis di Indonesia tersebar terutama di daerah dataran tinggi. Berdasarkan data produksi dan areal tanam, pertanaman kubis tercatat di 28 propinsi, kecuali Bangka Belitung dan DKI Jakarta. Tabel 4 menunjukkan perkembangan areal tanam dan produksi berdasarkan propinsi penghasil kubis, serta data agregatnya. Empat sentra produksi kubis utama di Indonesia berturut-turut adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara dan Jawa Timur. Keempat sentra produksi tersebut menyumbang 80.4% dari total areal panen dan 80.5% dari produksi total tahun 2003. Walaupun dikembangkan pada agroekosistem yang relatif sama, produktivitas yang dicapai oleh setiap propinsi ternyata cukup beragam. Hal ini mengindikasikan adanya perbedaan intensitas pengelolaan antar sentra produksi yang biasanya tercermin dari perbedaan kualitas dan/atau kuantitas masukan yang digunakan. Tabel 4 Areal tanam (ha), produksi (ton) dan produktivitas (ton/ha) kubis di Indonesia, 1998-2002
1999
Area (ha) Prod (t) Prvt (kwt/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (kwt/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (kwt/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (kwt/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (kwt/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (kwt/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (kwt/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) 192 3.631 18,91 7.545 184.493 24,45 1.788 52.346 29,28 1 4 4,00 354 10.384 29,33 172 2.334 13,57 3.686 86.115 23,36 615 9.757 15,87 -

Propinsi
Aceh

2000
200 2.921 14,61 11.641 268.896 23,10 1.786 45.978 25,74 517 16.628 32,16 238 2.325 9,77 2.690 43.005 15,99 781 9.049 11,59 -

2001
234 3.233 13,82 8.156 198.605 24,35 1.768 66.216 37,45 2 7 3,50 555 22.652 40,81 225 1.553 6,90 1.637 28.113 17,17 517 7.019 13,58 -

2002
56 802 14,32 8.699 272.877 27,92 1.836 21.535 11,73 1.268 20.528 16,19 156 1.483 9,51 3.258 55.898 17,16 344 5.756 16,73 -

2003
575 10.840 18,85 10.027 249.716 24,90 1.632 36.063 22,10 2.030 39.809 19,61 256 2.702 10,55 1.662 25.078 15,09 607 9.883 16,28 -

Sumatera Utara

Sumatera Barat

Riau

Jambi

Sumatera Selatan

Bengkulu

Lampung

Bangka Belitung

5

SUMATERA

Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha)

14.353 349.064 24,32 23.239 613.338 26,39 15.644 262.266 16,76 50 1.718 34,36 8.111 121.074 14,93 47.044 998.396 21,22 1.315 51.893 39,46 411 3.041 7,40 161 645 4,01 1.887 55.579 29,45 12 53 4,42 1 4 4,00 5 18 3,60 85 1.263 14,86 103 1.338 12,99

17.853 388.802 21,78 21.101 501.381 23,76 13.339 207.005 15,52 26 822 31,62 9.563 131.986 13,80 44.029 841.194 19,11 1.376 51.841 37,68 74 1.034 13,97 212 838 3,95 1.662 53.713 32,32 5 22 4,40 5 18 3,60 5 18 3,60 70 414 5,91 85 472 5,55

13.094 327.398 25,00 19.788 490.449 24,79 12.181 185.775 15,25 45 1.358 30,18 8.616 121.794 14,14 1 3 30,00 40.631 799.379 19,67 1.290 48.611 37,68 286 3.211 11,23 165 679 4,12 1.741 52.501 30,16 9 44 4,89 2 7 3,50 36 298 8,28 47 349 7,43

15.617 348.879 22,34 17.729 431.208 24,32 11.537 165.888 14,38 67 2.324 34,69 9.277 166.551 17,95 38.610 765.971 19,84 1.353 50.468 37,30 391 2.868 7,34 218 1.799 8,25 1.962 55.135 28,10 22 77 3,50 1 10 10,00 80 367 4,59 103 454 4,41

16.789 374.091 22,28 18.403 438.091 23,81 14.360 240.134 16,72 40 1.025 25,63 9.068 157.411 17,36 41.871 836.661 19,98 1.282 51.188 39,93 361 3.086 8,55 222 1.208 5,44 1.865 55.482 29,75 179 688 3,84 46 185 4,02 225 873 3,88

DKI Jakarta

Jawa Barat

Jawa Tengah

DI Yogya

Jawa Timur

Banten

JAWA

Bali

NTB

NTT

BALI & NTT

Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha)

Kalimantan Barat

Kalimantan Tengah

Kalimantan Selatan

Kalimantan Timur

KALIMANTAN

6

Sulawesi Utara

Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha)

149 1.168 7,84 143 1.522 10,64 1.293 38.054 29,43 107 905 8,46 1.692 41.649 24,62 20 128 6,40 253 1.756 6,94 273 1.884 6,90 18.308 449.514 24,55 65.352 1.447.910 22,16

493 3.846 7,80 191 1.042 5,46 2.449 46.310 18,91 113 690 6,11 3.246 51.888 15,99 22 60 2,73 17 281 16,53 39 341 8,74 22.885 495.216 21,64 66.914 1.336.410 19,97

320 5.740 17,94 138 624 4,52 2.640 15.831 6,00 141 968 6,87 3 11 3,67 3.242 23.174 7,15 67 831 12,40 385 1.772 4,60 452 2.603 5,76 18.576 406.025 21,86 59.207 1.205.404 20,36

325 2.457 7,56 221 1.207 5,46 2.639 54.384 20,61 243 1.669 6,87 5 19 3,80 3.433 59.736 17,40 18 115 6,39 28 84 3,00 464 2.469 5,32 510 2.668 5,23 21.625 466.872 21,59 60.235 1.232.843 20,47

332 6.456 19,45 158 2.630 16,65 2.721 67.970 24,98 97 501 5,16 3 5 1,67 3.311 77.562 23,43 117 483 4,13 36 540 15,00 306 2.741 8,96 459 3.764 8,20 22.649 511.772 22,60 64.520 1.348.433 20,90

Sulawesi Tengah

Sulawesi Selatan

Sulawesi Tenggara

Gorontalo

SULAWESI

Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha) Area (ha) Prod (t) Prvt (t/ha)

Maluku

Maluku Utara

Papua

MALUKU & PAPUA

LUAR JAWA

INDONESIA

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura

Setelah program penelitian dan pengembangan kubis secara formal berlangsung selama hampir 20 tahun, pertanyaan menyangkut status perkembangan produksi kubis sampai sejauh ini merupakan suatu hal yang perlu mendapat klarifikasi. Indikator penting yang dapat digunakan untuk menjelaskan status perkembangan tersebut adalah kecepatan serta pola pertumbuhan produksi yang diperagakan oleh usahatani kubis. Disamping dapat menggambarkan tingkat pertumbuhan yang bersifat konstan, menurun atau meningkat, indikator ini juga dapat mengidentifikasi sumber atau faktor dominan penentu pertumbuhan -- peningkatan areal tanam, peningkatan hasil/produktivitas atau kombinasi peningkatan keduanya. Lebih jauh lagi, indikator tersebut dapat pula mengidentifikasi komponen-komponen serta sumber ketidak-stabilan produksi (Hazell, 1984).

7

Analisis data tahunan produksi dan areal tanam kubis mencakup periode waktu 1970-2003 menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan rata-rata produksi kubis di Indonesia cenderung menurun sebesar 0.5% (0.005). Tingkat pertumbuhan produksi rata-rata kubis (meningkat/menurun) pada dasarnya dapat dipilah ke dalam pertumbuhan yang disebabkan oleh peningkatan/penurunan areal tanam dan peningkatan/penurunan produktivitas. Kontribusi peningkatan dari komponen areal tanam dan produktivitas terhadap pertumbuhan produksi kubis secara berturut-turut adalah (-) 2.3% dan 1,8%. Dengan demikian, sumber dominan yang menyebabkan penurunan produksi kubis selama periode 1970-2003 adalah penurunan areal tanam. Lebih jauh lagi, keragaman areal tanam menunjukkan kontribusi yang lebih tinggi terhadap ketidak-stabilan produksi sayuran secara umum, dibandingkan dengan keragaman produktivitas. Pola pertumbuhan produksi menurun yang didominasi oleh penurunan areal tanam (kontribusi penurunan areal tanam terhadap penurunan produksi lebih besar dibandingkan dengan kontribusi peningkatan produktivitas), mengandung beberapa implikasi sebagai berikut: (a) strategi dan kegiatan/usaha yang berhubungan dengan inovasi teknologi/penelitian yang ada belum cukup kuat memacu pola pertumbuhan produksi berbasis peningkatan produktivitas, atau program penyuluhan belum berjalan secara optimal, terutama dikaitkan dengan proses alih teknologi di tingkat petani, dan (b) penurunan produksi dimungkinkan oleh adanya dis-insentif akibat perubahan harga masukan dan luaran. Harga masukan yang meningkat lebih cepat dibandingkan harga luaran, sehingga biaya per unit produk lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual per unit produk. Hal ini memungkinkan adanya ketidak-stabilan profitabilitas relatif dari komoditas yang diusahakan, sehingga petani memutuskan untuk tidak menanam komoditas bersangkutan (Bisaliah, 1986). Indikator-indikator yang diperoleh dari hasil analisis, memberikan gambaran perlunya strategi pendekatan pengembangan yang lebih memberikan penekanan pada peningkatan akselerasi pertumbuhan produksi kubis berbasis peningkatan produktivitas atau inovasi teknologi. Sementara itu, variabilitas areal tanam menunjukkan kontribusi yang lebih tinggi terhadap ketidak-stabilan produksi kubis selama periode 1970-2003, dibandingkan dengan variabilitas produktivitas. Hal ini mengindikasikan masih dominannya pengaruh berbagai faktor, misalnya profitabilitas kubis relatif terhadap komoditas sayuran lain, kendala ketersediaan lahan siap tanam secara kontinyu, kendala musim (iklim dan cuaca), dan respon produsen terhadap harga kubis yang bersifat fluktuatif, terhadap realisasi areal tanam.

III. Konsumsi dan jenis pemanfaatan

Keluarga kol (kubis) ternyata banyak sekali jenisnya, diantaranya yang dikenal adalah sawi hijau, sawi putih, kembang kol, kailan, kolrabi, salad air dan brokoli. Semua keluarga kubis-kubisan mengandung senyawa anti kanker dan merupakan sumber vitamin C, vitamin A vitamin B 1, mineral, kalsium, kalium, klor, fosfor, sodium dan sulfur. Kandungan serat kasar pada kol sangat tinggi sehingga dapat
8

memperkecil resiko penyakit kanker lambung dan usus. Hasil penelitian di Amerika membuktikan bahwa kol yang dikonsumsi dalam keadaan mentah atau yang telah dimasak dapat mengurangi terjadinya kanker usus besar sebanyak 66%. Manfaat lain dari kol adalah dapat mencegah dan menyembuhkan luka lambung, menstimulasi kekebalan, menurunkan kadar kolesterol dalam darah serta dapat mencegah infeksi karena jamur. Jenis sayuran ini tidak saja akrab menjadi hidangan sayuran orang Indonesia, tetapi juga oleh warga Cina Singapura, bahkan rata-rata konsumsinya mencapai 40 g/hari atau tiga kali lebih tinggi daripada orang Amerika. Dari beberapa hasil studi epidemologi, dilaporkan bahwa konsumsi kubis-kubisan seperti kubis putih dan merah, brokoli, kembang kol, kale, lobak, dan seledri air dapat menurunkan risiko bergagai jenis kanker, yaitu kanker payudara, prostat, ginjal, kolon, kandung kemih dan paru-paru. Pada kanker prostat, konsumsi tiga atau lebih porsi sayuran tersebut mampu menurunkan risikonya dibanding konsumsi hanya satu porsi per minggu. Demikian halnya, konsumsi sayuran Brassica sebanyak 1-2 porsi/hari dilaporkan dapat menurunkan risiko kanker payudara sebesar 20-40% Namun demikian, mengkonsumsi jenis makanan apapun sebaiknya jangan dalam jumlah yang berlebih, begitu juga dengan kubis. Kandungan goitrins nya dapat menganggu keseimbangan iodium dalam darah. Hal ini dapat terjadi pada orangorang tertentu yang menderita mag, gastritis dan perut kembung. Konsumsi kubis yang berlebih akan menyebabkan terbentuknya gas dalam lambung. Tetapi jika asupan iodium dari makanan lain seimbang, mengkonsumsi kubis tidak perlu lagi dikhawatirkan. Tabel 4 dan 5 memberikan informasi lengkap mengenai komposisi makanan atau nutrisi yang terdapat pada kubis.
Tabel 4 No 1 Komposisi makanan pada kubis-kubisan per 100 gr edible portion Air (%) Protein (gr) Serat (gr) Vit A (SI) 130 130 40 Vit C (mg) 47 33 61 Kalsium (mg) 49 44 42 Besi (mg) 0.4 0.3 0.8

Kubis-kubisan

Kubis putih Mentah 92.4 1.3 0.8 Dikukus 93.9 1.1 0.8 2 Kubis merah Mentah 90.2 2.0 1.0 Dikukus 3 Kubis bunga Mentah 91.0 2.7 1.0 Dikukus 92.8 2.3 1.0 4 Brokoli Mentah 89.1 3.6 1.5 Dikukus 91.3 3.1 1.5 5 Kaelan Mentah 87.5 4.2 1.3 Dikukus 91.5 3.2 1.1 6 Caisim Mentah 92.2 2.3 Dikukus 7 Petsai Mentah 94.8 1.6 0.6 Dikukus 95.2 1.4 0.6 Sumber: Direktorat Gizi, DepKes RI (1981) dan USDA (1975)

60 60 2500 2500 8900 7400 6460

78 55 113 90 125 62 102

25 21 103 88 179 134 220

1.1 0.7 1.1 0.8 2.2 1.2 2.9

3100 3100

25 15

165 148

0.8 0.8

9

Tabel 5

Nutrisi dalam kubis (1 gelas, dicacah, 89 gr)
Nutrient Units 1 cup, chopped 89 g 82.014 22.250 93.450 1.282 0.240 0.632 4.833 2.047 41.830 0.525 13.350 20.470 218.940 16.020 0.160 0.020 0.142 0.801 28.658 0.045 0.036 0.267 0.125 0.085 38.270 0.000 38.270 38.270 0.000 118.370 0.000 6.230 0.093 Nutrient Units 1 cup, chopped 89 g 0.029 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001 0.001 0.026 0.001 0.017 0.000 0.017 0.000 0.000 0.109 0.046 0.061 0.000 0.001 0.000 0.000 0.000 0.000 9.790 0.013 0.044 0.064 0.065 0.060 0.012 0.011 0.040 0.021 0.054 0.072 0.026 0.045 0.125 0.281 0.028 0.248 0.074

Proximates Water Energy Energy Protein Total lipid (fat) Ash Carbohydrate, by difference Fiber, total dietary Minerals Calcium, Ca Iron, Fe Magnesium, Mg Phosphorus, P Potassium, K Sodium, Na Zinc, Zn Copper, Cu Manganese, Mn Selenium, Se Vitamins Vitamin C, tot asc acid Thiamin Riboflavin Niacin Pantothenic acid Vitamin B-6 Folate, total Folic acid Folate, food Folate, DFE Vitamin B-12 Vitamin A, IU Retinol Vitamin A, RAE Vitamin E

g kcal kj g g g g g mg mg mg mg mg mg mg mg mg mcg mg mg mg mg mg mg mcg mcg mcg mcg mcg IU mcg mcg mg

Lipids Fatty acids, total satur 4:0 6:0 8:0 10:0 12:0 14:0 16:0 18:0 Fatty acids, total monounsaturated 16:1 undifferentiated 18:1 undifferentiated 20:1 22:1 undifferentiated Fatty acids, total polyunsaturated 18:2 undifferentiated 18:3 undifferentiated 18:4 20:4 undifferentiated 20:5 n-3 22:5 n-3 22:6 n-3 Cholesterol Phytosterols Amino acids Tryptophan Threonine Isoleucine Leucine Lysine Methionine Cystine Phenylalanine Tyrosine Valine Arginine Histidine Alanine Aspartic acid Glutamic acid Glycine Proline Serine

g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g g mg mg g g g g g g g g g g g g g g g g g g

Sumber: USDA National Nutrient Database for Standard Reference, Release 16 (July 2003)

Beberapa penelitian di negara berkembang mengindikasikan adanya hubungan positif antara pendapatan dan konsumsi sayuran, misalnya kubis. Pada tingkat pendapatan per kapita yang relatif rendah, konsumsi kubis ternyata masih jauh dari
10

titik saturasi. Dengan demikian, sejalan dengan peningkatan pendapatan, konsumsi kubis di negara-negara berkembang juga akan semakin meningkat. Disamping pendapatan per kapita, pertumbuhan konsumsi kubis per kapita juga dipengaruhi oleh harga relatif dan ketersediaan bahan substitusi. Tingkat pertumbuhan ini juga merupakan fungsi dari selera, preferensi serta berbagai faktor demografis dan kultural. Sementara itu, konsumsi kubis di Indonesia menunjukkan peningkatan yang cenderung kurang konsisten dalam 10 tahun terakhir ini. Dengan asumsi akurasi data terjamin, beberapa hal yang dapat dikemukakan sehubungan dengan konsumsi kubis di Indonesia adalah sebagai berikut: • Selama kurun waktu 10 tahun terakhir, konsumsi per kapita kubis nasional menunjukkan peningkatan yang relatif kecil, yaitu sekitar 0,2 kg (1993-2004) • Konsumsi per kapita kubis di daerah pedesaan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan di daerah perkotaan dan menunjukkan kecenderungan semakin meningkat • Konsumsi per kapita kubis di daerah perkotaan menunjukkan kecenderungan semakin menurun (Catatan: penurunan konsumsi per kapita kubis dari tahun ke tahun ini juga terjadi di beberapa negara maju, misalnya Canada, yang konsumsinya secara konsisten terus menurun:1999 (5.71 kg/kapita); 2000 (5.48 kg); 2001 (4.81 kg); 2002 (4.86 kg); dan 2003 (4.13 kg).

Tabel 6

Konsumsi kubis di perkotaan dan pedesaan Indonesia (kg/kapita/tahun)

Tahun
1993 1996 1999 2002 2004

Perkotaan 1.77 1.72 1.47 1.87 1.61

Pedesaan 1.87 1.92 1.66 1.97 2.34

Total 1.87 1.82 1.56 1.92 2.03

IV. Pemasaran, perdagangan dan standardisasi

Rantai pasokan kubis merupakan saluran yang memungkinkan: • Produk kubis bergerak dari produsen ke konsumen • Pembayaran, kredit dan modal kerja bergerak dari konsumen ke produsen kubis
11

• Teknologi didiseminasikan diantara partisipan rantai pasokan, misalnya diantara produsen, pengepak dan pengolah • Hak kepemilikan berpindah dari produsen kubis ke pengepak atau pengolah, kemudian ke pemasar • Informasi mengenai permintaan konsumen serta preferensinya mengalir dari pedagang pengecer ke produsen kubis Uraian di atas menunjukkan bahwa rantai pasokan kubis merupakan suatu sistem ekonomi yang mendistribusikan manfaat dan juga risiko diantara berbagai partisipan yang terlibat di dalamnya. Dengan demikian, rantai pasokan kubis secara tidak langsung telah mengembangkan mekanisme internal serta insentif untuk menjamin ketepatan berbagai komitmen produksi maupun delivery. Lokasi geografis sentra produksi kubis memungkinkan produk sayuran tersebut dipasarkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga antar wilayah/regional. Rantai pasokan yang terjadi pada dasarnya merupakan bentuk pelayanan yang sudah melembaga untuk menjembatani produsen dan konsumen sayuran. Intervensi pemerintah terhadap rantai pasok kubis ini cenderung terbatas pada dukungan ketersediaan infrastruktur fisik, misalnya jalan dan bangunan pasar. Tataniaga kubis seluruhnya ditangani oleh pihak swasta. Hal ini mengimplikasikan bahwa rantai pasok kubis secara umum cenderung beroperasi berdasarkan kekuatan penawaran dan permintaan. Beberapa jenis rantai pasok kubis yang berhasil diidentifikasi diantaranya adalah: 1. produsen – transporter/pengangkut – pedagang pengumpul desa atau bandar – pedagang pengumpul antar wilayah – transporter/pengangkut – pedagang besar/ grosir – pedagang pengecer - konsumen 2. produsen – transporter/pengangkut – pedagang pengumpul desa atau bandar – transporter/pengangkut – pedagang besar/grosir – pedagang pengecer konsumen 3. produsen – pedagang komisioner - transporter/pengangkut – pedagang pengumpul desa atau bandar – transporter/pengangkut – pedagang besar/grosir – pedagang pengecer - konsumen 4. produsen – pengepak - transporter/pengangkut – supermarket - konsumen Rantai pasokan pertama dan kedua diestimasi menyerap sekitar 80% dari total pasok kubis. Sisanya sekitar 20% dipasarkan melalui rantai pasok ketiga dan keempat. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa rantai pasokan kubis masih didominasi oleh rantai pasokan tradisional yang outlet utamanya adalah pasar-pasar tradisional. Diagram di bawah ini menggambarkan berbagai elemen tipikal rantai pasokan kubis (misalnya di Jawa Barat). Tanda panah menunjukkan aliran fisik produk sayuran.
12

PRODUSEN

TRANSPORTER/PENGANGKUT

BANDAR ATAU PEDAGANG PENGUMPUL LOKAL

PEDAGANG PENGUMPUL REGIONAL ASSEMBLY TRADER

PENGEPAK

TRANSPORTER/PENGANGKUT

PEDAGANG BESAR/ GROSIR DI BANDUNG

PEDAGANG BESAR/ GROSIR DI JAKARTA

PEDAGANG PENGECER DI BANDUNG

PEDAGANG PENGECER DI JAKARTA

SUPER MARKET RESTORAN DAN HOTEL

KONSUMEN

Gambar 1

Rantai pasokan kubis dan sayuran secara umum di Jawa Barat

Tabel berikut ini memberikan deskripsi mengenai berbagai elemen utama di dalam rantai pasokan kubis (misalnya di Jawa Barat) serta nilai tambah yang diberikan oleh setiap elemen.
13

Tabel 7

Elemen, deskripsi dan nilai tambah dalam rantai pasokan sayuran/kubis Elemen Deskripsi
Petani yang menghasilkan serta memanen sayuran/kubis, dan untuk beberapa saluran distribusi tertentu juga melakukan kegiatan pengkelasan Pedagang yang membeli sayuran (terutama tomat, kubis, kubis bunga serta sayuran daun lainnya) pada saat tanaman masih berada di lapangan (sebelum panen). Pedagang lokal yang mengumpulkan/ membeli sayuran/kubis dalam volume yang relatif besar dari petani atau beberapa petani dan memasarkannya ke pusat-pusat konsumsi. Jenis pedagang yang berdomisili di luar sentra produksi ini membeli sayuran/ kubis dan memasarkannya ke pasarpasar grosir dan pengecer. Sayuran/ kubis dapat dibeli langsung dari petani atau bandar/ pedagang pengumpul lokal. Jenis usaha yang melakukan pembelian, sortasi, pengkelasan, pengepakan/ pengemasan serta memberikan pelayanan penyimpanan jangka pendek. Elemen ini juga mengkoordinasikan transportasi produk serta memiliki kontrak pemasokan dengan pengecerpengecer besar. Pemberi jasa angkutan produk sayuran/ kubis dari sentra produksi ke pengecer. Kegiatannya mencakup pengangkutan produk ke lokasi-lokasi spesifik dalam kerangka waktu yang telah ditentukan. Jenis usaha yang mengkonversikan sayuran/kubis menjadi makanan o o o

Nilai Tambah
Produksi Panen Pengkelasan (grading)

Produsen

Pedagang tebasan

o o

Panen Pengkelasan

Pedagang pengumpul lokal/desa

o o o o

Pengumpulan Sortasi Pengkelasan Pengangkutan

Pedagang pengumpul antar wilayah

o o o o

Pengumpulan Sortasi Pengkelasan Pengangkutan

Pengepak

o o o o o o o

Jaminan kualitas Pengkelasan Pengemasan Koordinasi transpor dan negosiasi Penyimpanan jangka pendek terkontrol Kontrak pemasokan sayuran Pengangkutan

Transportasi

Restoran/Hotel

o o

Pengolahan sayuran segar menjadi makanan Pemasaran dan distribusi Pemasaran, penjualan dan distribusi ke pengecer Jaminan kualitas Penyimpanan jangka pendek terkontrol Jaminan kualitas Distribusi Promosi

Pedagang besar/grosir

Jenis usaha yang menjual sayuran/kubis dalam volume yang relatif besar dan melayani berbagai klien.

o o o

Pengecer/Supermarket.

Jenis usaha yang mengoperasikan tokotoko pengecer untuk menjual sayuran/ kubis

o o o

Masalah utama yang secara umum berhasil diidentifikasi sepanjang rantai pasokan kubis diantaranya adalah:
14

o o o o o o o o o

Variabilitas harga yang tinggi Kehilangan hasil dan susut yang tinggi Respon terhadap pemesanan yang relatif lambat Kurangnya pengawasan kualitas sepanjang rantai, termasuk kurangnya alat trans-portasi serta gudang penyimpanan berpendingin Kurangnya perencanaan produksi secara umum serta metode produksi yang relatif masih sederhana/konvensional Kemampuan terbatas untuk memenuhi permintaan spesifikasi produk Kurangnya informasi pasar sepanjang rantai pasokan Kurangnya rasa kepercayaan antar elemen yang terlibat di dalam rantai pasokan Kesulitan koordinasi antar pemasok-pemasok skala kecil

Indikator yang kemungkinan dapat digunakan untuk mengevaluasi keragaan rantai pasokan diantaranya adalah (a) farmer’s share dan (b) marjin tataniaga. Bagian petani adalah rasio (dalam persen) antara harga yang diterima petani dengan harga yang dibayarkan konsumen. Sedangkan marjin tataniaga adalah selisih antara harga yang dibayarkan konsumen dengan harga yang diterima petani. Marjin tataniaga merepresentasikan harga untuk membayar jasa atau pelayanan yang diperlukan dalam mempersiapkan produk memasuki pasar. Besarnya marjin tataniaga akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi: (a) kualitas dan kuantitas jasa pemasaran yang diberikan, (b) biaya yang diperlukan untuk jasa/pelayanan pemasaran tersebut, serta (c) efisiensi teknis dan harga jasa/pelayanan pemasaran yang diberikan. Tabel 8 menunjukkan bahwa selama periode 2000-2004, koefisien variasi marjin pemasaran kubis lebih tinggi dibandingkan dengan petsai dan tomat, namun sedikit lebih rendah dibandingkan dengan kentang. Hal ini mengindikasikan bahwa ketidakstabilan marjin kubis lebih tinggi dibandingkan petsai dan tomat, tetapi sedikit lebih stabil dibandingkan kentang.

Table 8

Bagian petani dan marjin pemasaran beberapa sayuran penting di Jawa Barat, 2000-2004

Kubis Marjin Pemasaran (Rp/kg) Rata-rata Standar Deviasi Koefisien Variasi (%) Bagian Petani (%) Rata-rata Standar Deviasi Koefisien Variasi (%)

Kentang

Tomat

Petsai

163.2 142.6 87.4

260.3 242.4 93.1

566.1 264.0 46.6

183.7 105.0 57.2

75.27 14.83 19.7

82.87 11.21 13.5

45.97 13.12 28.5

61.09 18.31 30.0

Secara umum, bagian petani untuk kubis cukup tinggi dan merefleksikan tingkat kompetisi yang cukup tinggi di sepanjang rantai pasokan. Besaran variasi bagian
15

petani secara konsisten selalu lebih rendah dibandingkan dengan besaran variasi marjin tataniaga. Bagian petani dan marjin tataniaga biasanya berkorelasi negatif, artinya jika bagian petani meningkat maka marjin tataniaga akan menurun. Secara implisit hal ini mengimplikasikan adanya keterkaitan yang kuat antara elemen produksi dan elemen pemasaran di dalam rantai pasokan sayuran/kubis tradisional di Jawa Barat. Sementara itu, selama kurun waktu 2001-2003, data perdagangan (ekspor-impor) kubis menunjukkan bahwa Indonesia masih merupakan net exporter dari sisi volume maupun nilainya. Ekspor kubis dalam tiga tahun terakhir menunjukkan penurunan dari sisi volume, tetapi terjadi kenaikan dari sisi nilai. Negara destinasi ekspor kubis terutama adalah Malaysia dan Singapore, namun ada sebagian pula yang diekspor ke Taiwan, Jepang, Hongkong, Thailand, Mongolia dan Mexico. Selama 2001-2003, impor kubis juga menunjukkan kecenderungan serupa dengan ekspor, yaitu penurunan volume, tetapi kenaikan nilai. Negara utama asal impor kubis adalah China dan Australia, dan sebagian kecil berasal dari Korea dan Vietnam. Perlu diperhatikan bahwa unit biaya per kilogram kubis yang harus dikeluarkan untuk ekspor dan impor selalu meningkat dari tahun ke tahun, namun biaya/kg untuk kubis impor selalu lebih tinggi dibandingkan dengan biaya/kg untuk kubis ekspor.

Tabel 9 Tahun

Volume dan nilai ekspor/impor kubis Indonesia, 2001-2003 Ekspor Volume (kg) Nilai (US$.) Unit (US$/kg) 0.14 0.20 0.27 Volume (kg) Impor Nilai (US$) Unit (US$/kg) 0.67 0.72 0.97

2001 2002 2003

48 288 168 49 415 364 42 686 295

6 869 019 9 758 703 11 401 593

701 916 453 784 545 872

472 007 328 417 527 610

Salah satu kebijaksanaan operasional pengembangan pengolahan dan pemasaran hasil pertanian adalah pembinaan mutu dan standardisasi pertanian. Keberhasilan pengembangan pembinaan mutu dan standardisasi pertanian diharapkan akan mampu untuk menunjang peningkatan daya saing serta keberhasilan menembus pasar. Program pemerintah dalam pembinaan mutu hasil pertanian melalui program standardisasi dan akreditasi sejalan dengan tuntutan konsumen baik di dalam maupun di luar negeri. Untuk dapat bersaing di pasar yang bebas dan kompetitif saat ini, komoditas pertanian yang dipasarkan harus benar-benar dapat menarik minat pembeli. Hal ini perlu ditanamkan terhadap pelaku agribisnis bahwa di dalam produk yang akan dipasarkan haruslah terdapat unsur jaminan kepastian mutu. Kepastian mutu ini hanya dapat diperoleh melalui penerapan standar. Pada awalnya standar ini hanya merupakan suatu tuntutan pasar, namun dalam perkembangannya, ternyata standar memberikan banyak sekali nilai tambah bagi
16

petani yang menerapkannya, sehingga mulai dirasakan sebagai kebutuhan bagi petani. Dari aspek pertumbuhan dan pengembangan kegiatan/usaha agribisnis, penerapan SNI dapat memberikan manfaat: (a) mewujudkan tercapainya persaingan yang sehat dalam perda-gangan, (b) menunjang pelestarian lingkungan hidup, (c) meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan melalui sistematika dan pendekatan yang terorganisir pada pemastian mutu, (d) meningkatkan citra dan daya saing petani/pelaku agribisnis, (e) meningkatkan efisiensi di dalam berproduksi, dan (f) mengantisipasi tuntutan konsumen atas mutu produk dan tingkat persaingan usaha yang telah mengalami perubahan sehingga pelaku agribisnis dapat menanggapinya melalui pendekatan mutu, pengendalian mutu, pemastian mutu, manajemen mutu dan manajemen mutu terpadu. Sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor : 12 tahun 1991, standar yang berlaku di seluruh wilayah Indonesia adalah Standar Nasional Indonesia, yang mulai diberlakukan sejak tanggal 1 April 1994. Sebagai tindak lanjut penetapan Standar Nasional Indonesia, melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 303/Kpts/OT.210/4/1994 tanggal 27 April 1994, Standar Nasional Indonesia sektor pertanian adalah standar yang ditetapkan oleh Menteri Pertanian setelah mendapatkan persetujuan dari Dewan Standardisasi Nasional (yang sekarang menjadi Badan Standardisasi Nasional, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor: 13 tahun 1997) dan berlaku secara nasional di seluruh wilayah Indonesia. Tabel 10 memberikan gambaran lebih detil menyangkut SNI 01-3174-1998 untuk kubis segar. Berdasarkan SNI kubis, kubis digolongkan dalam empat ukuran : • Kecil : < 500 gram/butir • Sedang : 501 – 1000 gram/butir • Besar : 1001 – 1800 gram/butir • Sangat besar : > 1801 gram/butir
Tabel 10 SNI 01-3174-1998 untuk kubis segar Karakteristik Mutu I Jumlah daun pembungkus (helai) Keseragaman bentuk Keseragaman ukuran Kepadatan Warna daun luar Kadar kotoran % (bobot/bobot) maks Jumlah cacat (bobot/bobot) maks Panjang batang kubis (cm) maks. 4 seragam seragam padat hijau 2,5 5 2,5 Syarat Mutu II 4 Seragam Seragam Kurang padat Agak kuning 2,5 10 2,5

17

Disamping syarat mutu yang ditetapkan dalam SNI, segmen pasar juga menetapkan persyaratan-persyaratan tertentu dan mengelompokkannya ke dalam beberapa kelas mutu. Persyaratan mutu yang ditetapkan segmen pasar untuk komoditas kubis segar antara lain :
Tabel 11 Persyaratan mutu kubis sesuai dengan permintaan segmen pasar Kriteria Mutu I Ukuran/bobot (gr) Warna daun luar Kesegaran (%) Permukaan kulit Kotoran Hama/penyakit besar/ >1000 Hijau sampai keputihan 90 – 100 Mulus bebas bebas Kelas Mutu Mutu II sedang /< 1000 Hijau sampai keputihan 80 – 89 Mulus bebas bebas

V. Perkembangan harga dan indeks harga musiman

Harga berfungsi sebagai pengendali arah aktivitas ekonomi sayuran dan berperan sebagai rationing mechanism untuk suatu produk yang diproduksi pada suatu periode waktu serta menjadi barometer yang mengukur dimensi perilaku bekerjanya pasar sayuran. Berbagai faktor yang mempengaruhi penawaran dan permintaan akan selalu berubah, sehingga jalur waktu harga sayuran akan selalu menunjukkan variasi. Pada kondisi persaingan, fluktuasi harga dapat disebabkan oleh pergeseran penawaran dan permintaan. Komparasi variabilitas harga di tingkat pasar yang berbeda dapat memberikan indikasi lokus instabilitas harga. Informasi pada Table 12 menunjukkan koefisien variasi harga bulanan kubis di tingkat sentra produksi yang ternyata lebih rendah dibandingkan dengan koefisien variasi harga tomat, tetapi lebih tinggi dibandingkan dengan kentang dan petsai. Hal ini dapat memberikan gambaran bahwa harga kubis relatif lebih stabil dibandingkan dengan tomat, namun lebih tidak stabil dibandingkan dengan kentang dan petsai. Namun demikian, koefisien variasi harga bulanan kubis ternyata paling tinggi di tingkat pedagang besar/grosir. Untuk kubis, variasi marjin tataniaga ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan variasi harganya di tingkat sentra produksi maupun pedagang besar. Perbandingan ini mengindikasikan bahwa dalam jangka pendek, pedagang juga menyerap dampak/akibat yang cukup signifikan dari adanya variabilitas harga kentang dan kubis. Dengan kata lain, pedagang tidak memiliki posisi tawar menawar yang cukup kuat untuk membebankan dampak/akibat dari pergeseran permintaan dan penawaran kepada produsen maupun konsumen. Lebih lanjut diindikasikan
18

bahwa variasi harga kubis (dan kentang, tomat, petsai) di tingkat pedagang besar secara umum lebih rendah dibandingkan dengan variasi marjin tataniaga dan variasi harga di tingkat sentra produksi. Hal ini menunjukkan bahwa dalam jangka pendek pasar cenderung beroperasi untuk mempertahankan stabilitas harga kubis (dan kentang, tomat, petsai) di tingkat pedagang besar. Indikasi ini memberikan penekanan perlunya perbaikan pengelolaan rantai pasokan sayuran tradisional di Jawa Barat yang lebih memberikan perhatian terhadap upaya memecahkan instabilitas harga yang cukup tinggi di tingkat sentra produksi.
Table 12 Variasi harga kubis di tingkat sentra produksi (Pangalengan) dan tingkat grosir (PIKJ), 2000-2004

Kubis Harga di tingkat sentra produksi (Rp/kg) Rata-rata Standar Deviasi Koefisien Variasi (%) Harga di tingkat pedagang besar (Rp/kg) Rata-rata Standar Deviasi Koefisien Variasi (%) Marjin Pemasaran (Rp/kg) Rata-rata Standar Deviasi Koefisien Variasi (%) 163.2 142.6 87.4 691.2 471.1 68.2 527.9 396.8 75.2

Kentang

Tomat

Petsai

1 886.2 780.4 58.4

548.0 427.3 77.9

318.2 195.8 61.5

2 196.5 881.6 55.2

1 114.2 602.2 54.1

501.9 201.6 40.2

260.3 242.4 93.1

566.1 264.0 46.6

183.7 105.0 57.2

Salah satu kunci sukses pemasaran sayuran adalah pemahaman utuh menyangkut pergerakan harga musiman suatu komoditas. Perkiraan pola harga musiman dari suatu komoditas dapat diduga dengan menghilangkan pengaruh trend dan menghitung harga rata-rata bulanan. Perkiraan pola harga musiman dapat terlihat dengan mengekspresikan rata-rata harga setiap bulan sebagai persentase dari ratarata total harga dalam periode waktu tertentu. Tabel 13 menunjukkan pola harga musiman kubis di tingkat sentra produksi (Pangalengan) dan tingkat grosir (Cibitung) dalam periode waktu 2001-2003. Untuk harga kubis di tingkat sentra produksi, pada bulan Agustus, harga kubis rata-rata ternyata berada 33% di bawah harga rata-rata total selama periode 2001-2003, sedangkan pada bulan April harga kubis rata-rata berada 46% di atas harga rata-rata total selama periode 2001-2003. Pola musiman yang sama ternyata juga berlaku untuk harga kubis di tingkat grosir. Hal ini mengindikasikan bahwa selama periode 2001-2003, di tingkat sentra produksi

19

maupun grosir/pedagang besar, harga kubis terendah terjadi pada bulan Agustus, sedangkan harga kubis tertinggi tercapai pada bulan April.
Table 13 Pola musiman harga kubis di tingkat sentra produksi (Pangalengan) dan tingkat grosir (Cibitung), 2001-2003
Bulan

J Tingkt

P

M

A

M

J

J

A

S

O

N

D

Rata-rata harga bulanan (Rp/kg)

Sentra

676,0

549,7

988,3

1062,0

969,0

651,3

598,7

486,3

560,0

743,7

733,3

737,7

Grosir

886,0

1093,7

1208,3

1270,7

1221,0

980,3

830,3

701,7

761,0

915,0

955,0

1029,0

Rata-rata bulanan sebagai % dari rata-rata total

a

Sentra

0,93

0,75

1,35

1,46

1,33

0,89

0,82

0,67

0,77

1,02

1,01

1,01

Grosir
a

0,90

1,11

1,22

1,29

1,24

0,99

0,84

0,71

0,77

0,93

0,97

1,04

Dihitung dengan membagi setiap harga rata-rata bulanan dengan harga rata-rata bulanan total selama periode 2001-2003 (Rp. 729,67 pada tingkat sentra produksi dan Rp. 987,67 pada tingkat grosir)

VI. Sistem pengelolaan (budidaya) dan panen

6.1. Syarat pertumbuhan 6.1.1. Iklim a) Angin berpengaruh terhadap evaporasi lahan dan evapotranspirasi tanaman. Laju angin tinggi yang berlangsung dalam waktu lama (kontinyu) dapat mengakibatkan keseimbangan kandungan air antara tanah dan udara terganggu, tanah kering dan keras, penguraian bahan organik terhambat, unsur hara berkurang dan menimbulkan racun akibat tidak ada oksidasi gasgas beracun di dalam tanah. b) Hasil penelitian mengindikasikan bahwa jumlah curah hujan 80% dari jumlah normal (30 cm) memberikan hasil rata-rata 12% dibawah rata-rata normal. c) Stadia pembibitan memerlukan intensitas cahaya lemah sehingga memerlukan naungan untuk mencegah cahaya matahari langsung yang membahayakan pertumbuhan bibit. Sementara itu, pada stadia pertumbuhan diperlukan intensitas cahaya yang kuat, sehingga tidak membutuhkan naungan.
20

d) Tanaman kubis dapat hidup pada suhu udara 10-24 derajat C dengan suhu optimum 17 derajat C. Kebanyakan varietas kubis tahan cuaca dingin (minus 610 derajat C) untuk waktu singkat, tetapi akan rusak jika dihadapkan pada cuaca dingin yang berlangsung lama. e) Tanaman kubis akan hidup dengan baik pada kisaran kelembaban udara 6090%. Jika kelembaban di atas 90% maka muncul penyakit busuk lunak berair, penyakit semai rebah dan penyakit lain yang disebabkan oleh cendawan. 6.1.2. Media Tanam a) Kondisi fisik tanah yang sesuai untuk pertanaman kubis adalah tanah yang bertekstur sedang, yaitu liat berpasir, berstruktur remah (gembur), subur, banyak mengandung bahan organik. Namun demikian, tanaman kubis juga masih toleran terhadap tanah yang agak berat. b) Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman kubis adalah latosol, regosol dan andosol. Walaupun kubis masih dapat hidup pada jenis tanah lain, tetapi hasilnya kurang optimal. c) Keasaman tanah (pH) yang cocok adalah 5,5-6,5. d) Kandungan air tanah yang baik adalah pada kandungan air tersedia, yaitu pF antara 2,5-4. Dengan demikian lahan tanaman kubis memerlukan pengairan yang cukup baik (irigasi maupun drainase). 6.1.3. Ketinggian Tempat Tanaman kubis dapat tumbuh optimal pada ketinggian 200-2000 m dpl. Untuk varietas dataran tinggi, dapat tumbuh baik pada ketinggian 1000-2000 m dpl.

6.2. Teknik budidaya 6.2.1. Pembibitan Persyaratan Benih Benih yang baik harus memenuhi syarat: a) utuh, artinya tidak luka atau tidak cacat; b) bebas hama dan penyakit; c) murni, artinya tidak tercampur dengan biji-biji atau benih lain serta bersih dari kotoran; d) dari jenis unggul atau stek yang sehat; e) mempunyai daya kecambah 80%; dan f) tenggelam bila direndam dalam air. Penyiapan Benih Penyiapan benih dimaksudkan untuk mempercepat perkecambahan benih dan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan penyakit. Cara-cara penyiapan adalah sebagai berikut: a) Sterilisasi benih, dengan merendam benih dalam larutan fungisida dengan dosis yang dianjurkan atau dengan merendam benih dalam air panas 55 derajat C selama 15-30 menit.

21

b) Penyeleksian benih, dengan merendam biji dalam air, dimana benih yang baik akan tenggelam. c) Rendam benih selama ± 12 jam atau sampai benih terlihat pecah agar benih cepat berkecambah. Kebutuhan benih per hektar tergantung varietas dan jarak tanam, umumnya dibutuhkan 300 gram/ha. Benih harus disemai dan dibumbun sebelum dipindahtanam ke lapangan. Penyemaian dapat dilakukan di bedengan atau langsung di bumbun. Bumbunan dapat dibuat dari daun pisang, kertas makanan berplastik atau polybag kecil. Teknik Penyemaian Benih Hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi persemaian antara lain: (1) tanah tidak mengandung hama dan penyakit atau faktor-faktor lain yang merugikan; (2) lokasi mendapat penyinaran cahaya matahari cukup; dan (3) dekat dengan sumber air bersih. Penyemaian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: a) Penyemaian di bedengan Lahan diolah sedalam 30 cm, kemudian dibuat bedengan selebar 110-120 cm memanjang dari arah utara ke selatan. Tambahkan pupuk kandang yang telah disaring halus dan campurkan dengan tanah dengan perbandingan 1:2 atau 1:1. Bedengan dinaungi dengan naungan plastik, jerami atau daun-daunan setinggi 1,25–1,50 m di sisi timur dan 0,8–1,0 m di sisi barat. Penyemaian dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu disebar merata di atas bedengan atau disebar di dalam barisan sedalam 0,2–1,0 cm. Cara pertama memerlukan benih yang lebih sedikit daripada cara kedua. Sekitar 2 minggu setelah semai, bibit dipindahkan ke dalam bumbunan. Bumbunan dapat dibuat dari daun pisang atau kertas berplastik dengan ukuran diameter 4-5 cm dan tinggi 5 cm atau berupa polybag 7x10 cm yang memiliki dua lubang kecil di kedua sisi bagian bawahnya. Bumbunan diisi media campuran pupuk kandang matang dan tanah halus dengan perbandingan 1:2 atau 1:1. Keuntungan dari cara ini diantaranya adalah hemat waktu, permukaan petak semaian sempit dan jumlah benih persatuan luas banyak. Sedangkan kelemahannya adalah penggunaan benih banyak, penyiangan gulma sukar, memerlukan tenaga kerja terampil, terutama saat pemindahan bibit ke lahan. b) Penyemaian di bumbung (koker atau polybag) Dengan cara ini, satu per satu benih dimasukkan ke dalam bumbunan yang dibuat dengan cara seperti di atas. Bumbunan dapat terbuat dari daun pisang atau daun kelapa dengan ukuran diameter dan tinggi 5 cm atau dengan polybag kecil yang berukuran 7-8 cm x 10 cm. Media penyemaian adalah campuran tanah halus dengan pupuk kandang (2:1) sebanyak 90%. Sebaiknya media semai disterilkan dahulu dengan mengkukus media tersebut pada suhu udara 55-100 derajat C selama 30-60 menit atau dengan menyiramkan larutan formalin 4%, ditutup lembar plastik (24 jam), lalu diangin-anginkan. Cara lain dengan mencampurkan media semai dengan zat fumigan Basamid-G (40-60 gram/m2) sedalam 10-15 cm, disiram air sampai basah dan ditutup dengan
22

lembaran plastik (5 hari), lalu plastik dibuka, dan lahan diangin-anginkan (1015 hari). c) Kombinasi cara a) dan b). Pertama benih disebar di petak persemain, setelah berumur 4-5 hari (berdaun 3-4 helai), dipindahkan ke dalam bumbunan. d) Penanaman langsung. Benih langsung ditanam di lahan, sehingga dapat lebih menghemat waktu, biaya dan tenaga, namun memerlukan perawatan yang lebih intensif. Lahan persemaian dapat diganti dengan kotak persemaian dan dilakukan dengan cara sebagai berikut; 1. Membuat media terdiri dari tanah, pasir dan pupuk kandang (1:1:1). 2. Membuat kotak persemaian kayu (50-60 cm x 30-40 cm x 15-20 cm) dan lubangi dasar kotak untuk drainase. 3. Memasukkan media kedalam kotak dengan tebalan 10-15 cm. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian a) Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi dan sore hari tergantung cuaca. b) Pengatur naungan persemaian dibuka setiap pagi hingga pukul 10.00 dan sore mulai pukul 15.00. Diluar waktu diatas, cahaya matahari terlalu panas dan kurang menguntungkan bagi bibit. c) Penyiangan dilakukan terhadap tanaman lain yang dianggap mengganggu pertumbuhan bibit, dilakukan dengan mencabuti rumput-rumput/gulma lainnya yang tumbuh disela-sela tanaman pokok. d) Dilakukan pemupukan larutan urea dengan konsentrasi 0,5 gram/liter dan penyemprotan pestisida ½ dosis jika diperlukan. e) Hama yang menyerang biji yang belum tumbuh dan tanaman muda adalah semut, siput, bekicot, ulat tritip, ulat pucuk, molusca dan cendawan. Sedangkan, penyakit adalah penyakit layu. Pencegahan dan pemberantasan digunakan Insektisida dan fungisida seperti Furadan 3 G, Antracol, Dithane, Hostathion dan lain-lain. Pemindahan Bibit Pemindahan dilakukan bila bibit telah mempunyai perakaran yang kuat. Bibit dari benih/biji siap ditanam setelah berumur 6 minggu atau telah berdaun 5-6 helai, sedangkan bibit dari stek dapat dipindahkan setelah berumur 28 hari. Pemindahan bibit dilakukan dengan cara sebagai berikut: a) Sistem cabut, bibit dicabut dengan hati-hati agar tidak merusak akar. Bila disemai pada polybag, pengambilan bibit dilakukan dengan cara membalikkan polybag dengan batang bibit dijepit antara telunjuk dan jari tengah, kemudian polybag ditepuk-tepuk perlahan hingga bibit keluar. Bila bibit disemai pada bumbung daun pisang atau daun kelapa, bibit dapat ditanam bersama bumbungnya.
23

b) Sistem putaran, caranya tanah disiram dan bibit dengan diambil beserta tanahnya 2,5 - 3 cm dari batang dengan kedalaman 5 cm.

6.2.2. Pengolahan Media Tanam Persiapan Lahan sebaiknya bukan lahan bekas ditanami tanaman famili Cruciferae lainnya. Pengukuran pH dan analisis tanah tentang kandungan bahan organiknya disarankan untuk mengetahui kecocokan lahan ditanami kol/kubis. Tanah digemburkan dan dibalik dengan dicangkul atau dibajak sedalam 40-50 cm, dibersihkan dari sisa-sisa tanaman dan diberi pupuk dasar. Setelah itu, dibiarkan terkena sinar matahari selama 1-2 minggu untuk memberi kesempatan oksidasi gasgas beracun dan membunuh sumber-sumber patogen. Pembuatan Bedengan Bedengan dibuat dengan arah Timur-Barat, lebar 80-100 cm, tinggi 35 cm dan panjang tergantung keadaan lahan. Lebar parit antar bedengan ± 40 cm (parit pembuangan air PPA 60 cm) dengan kedalaman 30 cm (PPA 60 cm). Pengapuran Pengapuran diarahkan untuk menaikkan pH tanah dan mencegah kekurangan unsur hara makro maupun mikro. Dosis pengapuran bergantung kisaran angka pH-nya, umumnya antara 1-2 ton kapur per hektar. Jenis kapur yag digunakan antara lain: Captan (calcit) dan Dolomit. Pemupukan Bedengan siap tanam diberi pupuk dasar yang banyak mengandung unsur Nitrogen dan Kalium, yaitu Za, Urea, TSP dan KCl masing-masing 250 kg, serta Borax atau Borate 10-20 kg/ha. Pemberian pupuk kandang dilakukan sebanyak 0,5 kg per tanaman.

6.2.3. Teknik Penanaman Penentuan Sistem Pertanaman Penentuan sistem pertanaman sangat bergantung pada kesuburan tanah dan varietas tanaman (dengan jarak tanam 50 x 50 cm). Pola penanaman ada dua, yaitu larikan dan teratur seperti pola bujur sangkar; pola segi tiga sama sisi; pola segi empat dan pola barisan (barisan tunggal dan barisan ganda). Pola segi tiga sama sisi dan bujur sangkar tergolong baik, karena dapat diperoleh jumlah tanaman yang lebih banyak.
24

Pembuatan Lubang Tanam Lubang tanam dibuat sesuai dengan jarak tanam sedalam cangkul atau dengan ukuran garis tengah 20-25 cm sedalam 10-15 cm. Cara Penanaman a) Waktu tanam yang baik adalah pada pagi hari antara pukul 06.00 - 10.00 atau sore hari antara pukul 15.00 - 17.00, karena pengaruh sinar matahari dan temperatur tidak terlalu tinggi. b) Pilih bibit yang segar dan sehat (tidak terserang penyakit ataupun hama). c) Bila bibit disemai pada bumbunan daun pisang atau, ditanam bersama dengan bumbunannya, bila disemai pada polybag plastik maka dikeluarkan terlebih dahulu dengan cara membalikkan polybag dengan batang bibit dijepit antara telunjuk dan jari tengah, kemudian polybag ditepuk-tepuk secara perlahan hingga bibit keluar dari polybag. d) Bila disemai dalam bedengan diambil dengan solet (sistem putaran), caranya menggambil bibit beserta tanahnya sekitar 2,5-3 cm dari batang sedalam 5 cm. e) Bibit segera ditanam pada lubang dengan memberi tanah halus sedikit-demi sedikit dan tekan tanah perlahan agar benih berdiri tegak. f) Siram bibit dengan air sampai basah benar.

6.2.4. Pemeliharaan Tanaman Penjarangan dan Penyulaman Penjarangan dilakukan saat pemindahan bibit ke lahan, yaitu saat bibit berumur 6 minggu atau telah berdaun 5-6 helai (semaian biji) atau berumur 28 hari (semaian stek). Bila bibit disemai pada bumbunan maka penjarangan tidak dilakukan. Sedangkan penyulaman hampir tidak dilakukan karena umur tanaman yang pendek (2-3 bulan). Penyiangan Penyiangan dilakukan bersama dengan penggemburan tanah sebelum pemupukan atau bila terdapat tumbuhan lain yang mengganggu pertumbuhan tanaman. Penyiangan dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu dalam karena dapat merusak sistem perakaran tanaman, bahkan pada akhir penanaman sebaiknya tidak dilakukan. Pembubunan Pembumbunan dilakukan bersama penyiangan dengan mengangkat tanah yang ada pada saluran antar bedengan ke arah bedengan. Tindakan ini berfungsi untuk menjaga kedalaman parit dan ketinggian bedeng dan meningkatkan kegemburan tanah.

25

Perempelan Perempelan cabang/tunas-tunas samping dilakukan seawal mungkin untuk menjaga tanaman induk agar zat makanan terkonsentrasi pada pembentukan bunga seoptimal mungkin. Pemupukan Pemupukan susulan I dilakukan dengan urea 1 gram per tanaman melingkari tanaman dengan jarak 3 cm disaat tanaman kelihatan hidup untuk mendorong pertumbuhan. Pemupukan kedua dilakukan pada umur 10-14 hari dengan dosis 3-5 gram, dengan jarak 7-8 cm. Pemupukan ketiga dilakukan pada umur 3-4 minggu dengan dosis 5 gram pada jarak 7-8 cm. Bila pertumbuhan belum optimal dapat dilakukan pemupukan lagi pada umur 8 minggu. Pengairan dan Penyiraman Waktu pemberian air sebaiknya dilakukan pada pagi dan sore hari. Pada musim kemarau, pengairan perlu dilakukan 1-2 hari sekali, terutama pada fase awal pertumbuhan dan pembentukan bunga. Waktu Penyemprotan Pestisida Untuk pencegahan, penyemprotan dilakukan sebelum hama menyerang tanaman atau secara rutin 1-2 minggu sekali dengan dosis ringan. Untuk penanggulangan, penyemprotan dilakukan sedini mungkin dengan dosis tepat, agar hama dapat segera ditanggulangi. Jenis dan dosis pestisida yang digunakan dalam menanggulangi hama sangat beragam tergantung jenis dan tingkat populasi hama yang dikendalikan. Pemeliharaan Lain Hal-hal yang penting dalam merawat tanaman adalah: a) Menghindari pelukaan pada tanaman karena luka pada tanaman merupakan salah satu jalan yang efektif dalam penularan penyakit dan sangat disukai oleh hama. b) Dalam pemupukan, pupuk tidak boleh mengenai tanaman dan harus selalu diikuti dengan penyiraman.

6.2.5. Hama dan Penyakit Hama a) Ulat Plutella (Plutella xylostella L.) Dikenal dengan nama ulat tritip, Diamond-black moth, hileud keremeng, ama bodas, ama karancang (Sunda), omo kapes, kupu klawu (Jawa). Ciri: (1) siklus
26

hidup 2-3 minggu tergantung temperatur udara; (2) ngengat betina panjang 1,25 cm berwarna kelabu, mempunyai tiga buah titik kuning pada sayap depan, meletakkan telur dibagian bawah permukaan daun sebanyak 50 butir dalam waktu 24 jam; (3) telurnya berbentuk oval, ukuran 0,6-0,3 mm, berwarna hijau kekuningan, berkilau, lembek dan menetas ± 3 hari; (4) larva Plutella berwarna hijau, panjang 8 mm, lebar 1 mm, mengalami 4 instar yang berlangsung selama 12 hari, ngengat kecil berwarna coklat keabu-abuan; (5) ngengat aktif dimalam hari, sedangkan siang hari bersembunyi dibawah dibawah sisa-sisa tanaman, atau hinggap dibawah permukaan daun bawah. Gejala: (1) biasanya menyerang pada musim kemarau; (2) daun berlubanglubang terdapat bercak-bercak putih seperti jendela yang menerawang dan tinggal urat-urat daunnya saja; (3) umumnya menyerang tanaman muda, tetapi kadang-kadang merusak tanaman yang sedang membentuk bunga. Pengendalian: (1) mekanis: mengumpulkan ulat-ulat dan telurnya, kemudian dihancurkan. (2) Kultur teknik: pergiliran tanaman (rotasi) dengan tanaman yang bukan famili Cruciferae; pola tumpang sari brocolli dengan tomat, bawang daun, dan jagung; dengan tanaman perangkap (trap crop) seperti Rape/Brassica campestris ssp. Oleifera Metg. (3) Hayati/biologi: menggunakan musuh alami, yaitu parasitoid (Cotesia plutella Kurdj, Diadegma semiclausum, Diadegma eucerophaga) ataupun predatornya. (4) Sex pheromone : adalah “Ugratas Ungu” dari Taiwan. Bentuk sex pheromone ini seperti benang nilon berwarna ungu sepanjang ± 8 cm. Cara penggunaan : Ugratas ungu dimasukkan botol bekas agua, kemudian dipasang dilahan perkebunan pada posisi lebih tinggi dari tanaman. Daya tahan ugratas terpasang ±3 minggu, dan tiap hektar kebun memerlukan 5-10 buah perangkap.(5) Kimiawi : menyemprotkan insektisida selektif berbahan aktif Baccilus thuringiensis seperti Dipel WP, Bactospeine WP, Florbac FC atau Thuricide HP pada konsentrasi 0,10,2%, Agrimec 18 FC, pada konsentrasi 1-2 cc/liter. b) Ulat croci (Crocidolomia binotalis Zeller) Ulat croci disebut hileud bocok (sunda). Ciri: (1) siklus hidup 22-32 hari, tergantung suhu udara; (2) ulat berwarna hijau, pada punggung terdapat garis hijau muda dan perut kuning, panjang ulat 18 mm, berkepompong di dalam tanah dan telur diletakkan dibawah daun secara berkelompok berbentuk pipih menyerupai genteng rumah; (3) menyerang tanaman yang sedang membentuk bunga. Pengendalian: sama dengan ulat Prutella, parasitoid yang paling cocok adalah Inareolata sp. c) Ulat tanah (Agrotis ipsilon Hufn) Ulat tanah disebut ulat taneuh, hileud orok (Sunda) atau uler lettung (Jawa). Ciri: (1) siklus hidup 6-8 minggu; (2) kupu-kupu ataupun ulatnya aktif pada senja dan malam hari, pada siang hari bersembunyi di bawah daun (kupukupu) dan permukaan tanah (ulat). Gejala: memotong titik tumbuh atau pangkal batang tanaman, sehingga tanaman muda rebah dan pada siang hari tampak layu. Pengendalian: (1) mekanis: mencabut ulat-ulat tanah dan membunuhnya; (2) kultur teknis: pembersihan kebun dari rerumputan atau sisa-sisa tanaman yang dijadikan tempat bertelur hama tanah; (3) kimiawi: dengan umpan beracun dan semprotan insektisida.Campuran dari 125-250
27

gram Dipertex 95 SL, 10 kg dedak, 0,5-1,0 kg gula merah dan 10 liter air untuk tanaman seluas 0,25-0,5 hektar. Umpan tersebut disebarkan disekeliling tanaman pada senja dan malam hari. dapat juga disemprotkan insektisida Dursban 20 EC 1 cc/liter air. Waktu penyemprotan sehabis tanam dan dapat diulang 1-2 kali seminggu. d) Kutu daun (Aphis brassicae) Hidup berkelompok dibawah daun atau massa bunga (curd), berwarna hijau diliputi semacam tepung berlilin. Gejala: menyerang tanaman dengan menghisap cairan selnya, sehingga menyebabkan daun menguning dan massa bunga berbintik-bintik tampak kotor. Menyerang hebat dimusim kemarau. Pengendalian: Menyemprotkan insektisida ORTHENE 75 SP atau Hostathion 40 EC 1-2 cc/liter air. e) Ulat daun Misalnya ulat jengkal (Trichoplusiana sp., Chrysodeixis chalcites Esp., Chrysodeixis orichalcea L.) dan ulat grayuk (Spodoptera sp. S. litura), Ciri: (1) Ulat-ulat jengkal (Trichoplusiana sp.): Cara berjalannya aneh dan melipat dua bila merangkak. Panjang 4 cm, berwarna hijau pucat dan berpita warna muda pada tiap sisi badan. Kupu-kupu ulat jengkal berwarna coklat keabu-abuan dan berbintik-bintik berwarna perak pada setiap sayap depannya, telur berwarna putih kehijau-hijauan diletakkan di bawah daun dan menetas dalam 3-20 hari. (2) Chrysodzeixis chalcites Esp. dan Chrysodeixis orichalcea L.: Berwarna gelap dan terdapat bintik-bintik keemasan berbentuk “Y” pada sayap depan. Telur berukuran kecil berwarna keputih-putihan, diletakkan secara tunggal ataupun berkelompok. Larva berwarna hijau bergaris-garis putih di sisinya dan jalannya menjengkal. (3) Ulat-ulat grayak (S. litura): Ciri khas memiliki bintik-bintik segitiga berwarna hitam dan bergaris kekuning-kuningan pada sisinya dengan siklus hidup 30-61 hari. Kupu-kupunya berwarna agak gelap dengan garis agak putih pada sayap depan. Telurnya berjumlah 25-500 butir diletakkan secara berkelompok di atas tanaman dan ditutup dengan bulu-bulu. Gejala: daun rusak, berlubang-lubang atau kadang kala tinggal urat-urat daunnya saja. Pengendalian: (1) mengatur pola tanam; (2) menjaga kebersihan kebun; (3) penyemprotan insektisida seperti Orthene 75 SP 1 cc/liter air, Hostathion 1-2 cc/liter air, Curacron 500 EC atau Decis 2,5 EC; (4) khusus untuk ulat grayak dapat digunakan sex pheromena (Ugratas Merah); (5) bila terjadi serangan Spodoptera exiqua dapat digunakan Ugratas Biru. f) Bangsa siput Bangsa siput yang biasa menyerang antara lain: (1) Achtina fulica Fer., yaitu siput yang mempunyai cangkang atau rumah, dikenal dengan bekicot; (2) Vaginula bleekeri Keferst, yaitu siput yang tidak bercangkang, warna keabuabuan; (3) Parmarion pupilaris Humb, yaitu siput yang tidak bercangkang berwarna coklat kekuningan. Gejala: menyerang daun terutama saat baru ditanam dikebun. Pengendalian: dengan menyemprotkan racun Helisida atau dengan dikumpulkan lalu dihancurkan dengan garam atau untuk makanan ternak.

28

g) Cengkerik dan gangsir (Gryllus mitratus dan Brachytrypes portentosus). Gejala: menyerang daun muda (memotong) pada malam hari; terdapat banyak lubang di dalam tanah. Pengendalian: dengan insektisida atau menangkap dengan menyirami lubang dengan air agar hama keluar. h) Orong-orong. Hidup dalam tanah terutama yang lembab dan basah. Bagian yang diserang adalah sistem perakaran tanaman. Gejala: pertumbuhan terhambat dan daun menguning. Pengendalian: pemberian insektisida ke liang.

Penyakit a) Busuk hitam (Xanthomonas campestris Dows.) Penyebab: bakteri, dan merupakan patogen tular benih (seed borne), dan dapat dengan mudah menular ketanah atau ke tanaman sehat lainnya. Gejala: (1) tanaman semai rebah (damping off), karena infeksi awal terjadi pada kotiledon, kemudian menjalar keseluruh tanaman secara sistematik; (2) bercak coklat kehitam-hitaman pada daun, batang, tangkai, bunga maupun massa bunga yang diserang; (3) gejala khas daun kuning kecoklat-coklatan berbentuk huruf “V”, lalu mengering. Batang atau massa bunga yang terserang menjadi busuk berwarna hitam atau coklat, sehingga kurang layak dipanen. Pengendalian: (1) memberikan perlakuan pada benih seperti telah dijelaskan pada poin pembibitan sub poin penyiapan benih; (2) pembersihan kebun dari tanaman inang alternatif; (3) rotasi tanaman selama ± 3 tahun dengan tanaman tidak sefamili. b) Busuk lunak (Erwinia carotovora Holland.) Penyebab: bakteri yang mengakibatkan busuk lunak pada tanaman sewaktu masih di kebun hingga pasca panen dan dalam penyimpanan. Gejala: (1) luka pada pangkal bunga yang hampir siap panen; (2) luka akar tanaman scara mekanis, serangga atau organisme lain; (3) luka saat panen; (4) penanganan atau pengepakan yang kurang baik. Pengendalian: (1) Pra panen: membersihkan sisa-sisa tanaman pada lahan yang akan ditanami; menghindari kerusakan tanaman oleh serangga pengerek atau sewaktu pemeliharaan tanaman; menghindari bertanam kubis-kubisan pada musim hujan di daerah basis penyakit busuk lunak. (2) Pasca panen: menghindari luka mekanis atau gigitan serangga menjelang panen; menyimpan hasil panen dalam keadaan kering, atau kalau dicuci dengan air bersih, harus dikeringkan terlebih dahulu sebelum disimpan; berhati-hati dalam membawa atau mengangkut hasil panen ketempat penyimpanan untuk mencegah luka atau memar; menyimpan hasil ditempat sejuk dan mempunyai sirkulasi udara baik. c) Akar bengkak atau akar pekuk (Plasmodiophora brassicae Wor.) Penyebab: cendawan Plasmodiophora brassicae. Gejala: (1) pada siang hari atau cuaca panas, tanaman tampak, tetapi pada malam atau pagi hari daun tampak segar kembali; (2) pertumbuhan terlambat, tanaman kerdil dan tidak mampu membentuk bunga bahkan dapat mati; (3) akar bengkak dan terjadi
29

bercak-bercak hitam. Pengendalian: (1) memberi perlakuan pada benih seperti poin penyiapan benih; (2) menyemai benih di tempat yang bebas wabah penyakit; (3) melakukan sterilisasi media semai ataupun tanah kebun dengan Besamid-G 40-60 gram/m2 untuk arel pembibitan atau 60 gram/m2untuk kebun; (4) melakukan pengapuran untuk menaikkan pH; (5) mencabut tanaman yang terserang penyakit; (6) pergiliran atau rotasi tanaman dengan jenis yang tidak sefamili d) Bercak hitam (Alternaria sp.) Penyebab: cendawan Alternaria brassica dan Alternaria brassicicola. Gejala: (1) bercak-bercak berwarna coklat muda atau tua bergaris konsentris pada daun; (2) menyerang akar, pangkal batang, batang maupun bagian lain. Pengendalian: (1) menanam benih yang sehat; (2) perlakuan benih seperti pada poin penyiapan benih. e) Busuk lunak berair Penyebab: cendawan Sclerotinia scelerotiorumI, menyerang batang dan daun terutama pada luka-luka tanaman akibat kerusakan mekanis dan dapat menyebar melalui biji dan spora. Gejala: (1) pertumbuhan terhambat, membusuk lalu mati; (2) bila menyerang batang, maka daun akan menguning, layu dan rontok; (3) bila menyerang daun, maka daun akan membusuk dan berlendir; (4) gejala lain terdapat rumbai-rumbai cendawan yang berwarna putih dan lama-kelamaan menjadi hitam. Pengendalian: (1) gunakan biji sehat dan rotasi tanaman dengan tanaman yang tidak sejenis. (2) pemberantasan dengan insektisida. f) Semai roboh (dumping off) Penyebab: cendawan Rhizitonia sp. dan Phytium sp. Gejala: (1) bercakbercak kebasahan pada pangkal batang atau hipokotil; (2) pangkal batang busuk sehingga menyebabkan batang rebah dan mudah putus; (3) menyerang tanaman di semaian, tetapi dapat pula menyerang tanaman di lahan. Pengendalian: perlakuan benih sebelum ditanam, sterilisasi media semaian dan rotasi tanaman dengan jenis selain kubis-kubisan. g) Penyakit Fisiologis Penyebab: Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) disebut penyakit fisiologis. Kekurangan Nitrogen: bunga kecil-kecil seperti kancing atau disebut “Botoning”. Kelebihan Nitrogen warna bunga kelabu dan berukuran kecil. Kekurangan Kalium massa bunga tidak kompak (kurang padat) dan ukurannya mengecil. Kelebihan Kalium tumbuh kerdil dan bunganya kecil. Pengendalian: dengan pemupukan yang berimbang. 6.2.6. Panen Ciri dan Umur Panen Umur masak petik atau panen tanaman kubis tergantung pada varietasnya, berumur pendek (genjah) dan berumur panjang (dalam). Sebagai contoh:
30

a) Premium Flat Dutch: umur panen 100 hari, produksi 4,5 kg/tanaman. b) Early Flat Dutch: umur panen 83 hari, produksi 2,4-2,7 kg/tanaman. c) O-S Cross: umur panen 80 hari, produksi 2 kg/tanaman. d) Surehead: umur panen 93 hari, produksi 3-4,5 kg/tanaman. e) Globe Master: umur panen 75 hari, produksi 2-2,5 kg/tanaman. f) Emerald Cross Hybrid: umur panen 45 hari, produksi 1.2 kg/tanaman. g) Copenhagen Market: umur panen 72 hari, produksi 1.8-2 kg/tanaman. h) K-K Cros: umur panen 58 hari, produksi 1,6 kg/tanaman. i) Green Cup: umur panen 73 hari, produksi 1,5 kg/tanaman. j) Ecarliana: umur panen 60 hari, produksi 1 kg/tanaman. Ciri-ciri kemasakan kubis adalah sebagai berikut: a) Krop kubis mengeras ditandai dengan cara menekan krop kubis. b) Daun berwarna hijau mengkilap. c) Daun paling luar sudah layu. d) Besar krop kubis telah terlihat maksimal. Cara Panen Pemetikan yang kurang baik akan menimbulkan kerusakan mekanis, sehingga krop kubis terinfeksi patogen dan memudahkan pembusukan. Langkah-langkah dalam memetik kubis: a) Pilih kubis yang telah tua dan siap dipetik. b) Petik kubis dengan menggunakan pisau yang tajam dan bersih. Pemotongan dilakukan pada bagian pangkal batang kubis. c) Urutan pemetikan adalah dimulai dengan kubis yang sehat, kemudian dilakukan pemetikan pada kubis yang telah terkena infeksi patogen. Periode Panen Kubis merupakan tanaman yang dipanen sekaligus, sehingga periode panen sama dengan periode tanam. Prakiraan Produksi Produksi atau produktivitas kubis bergantung pada varietas yang digunakan. Secara umum, produksi per tanaman dapat mencapai 0,75-4 kg. Produktivitas di daerah tadah hujan dengan pemeliharaan semi intensif dapat mencapai 25-35 ton per hektar, dan dengan pemeliharan intensif dapat diperoleh 85 ton per hektar. 6.2.7. Pascapanen Pengumpulan Setelah dipetik, kubis dikumpulkan pada tempat yang teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung, agar laju respirasi berkurang sehingga didapatkan kubis yang tinggi kualitas dan kuantitasnya. Pengumpulan dilakukan dengan hati-hati dan jangan ditumpuk dan dilempar-lempar.
31

Penyortiran dan Penggolongan Penyortiran untuk memisahkan krop kubis baik dan bermutu dari yang kurang baik atau rusak, seperti retak, lecet dan kerusakan lainnya. Penggolongan bertujuan untuk mengolongkan krop ke dalam mutu kelas I, kelas II dan seterusnya berdasarkan jumlah daun pembungkus krop, keseragaman bentuk, keseragaman ukuran, kepadatan krop, kadar kotoran maksimum, kecacatan kubis maksimum dan panjang batang kubis maksimum. a) Jumlah daun pembungkus: mutu I=4 helai; mutu II=4 helai. b) Homoginetas bentuk: mutu I=seragam; mutu II=seragam. c) Homogenitas ukuran: mutu I=seragam; mutu II=seragam. d) Kepadatan krop: mutu I=padat; mutu II=kurang padat. e) Kadar kotoran maksimum: mutu I=2,5%; mutu II=2,5%. f) Kubis cacat maksimum: mutu I=5%; mutu II=10%. g) Panjang batang kubis maksimum: mutu I=2,5 cm; mutu II=2,5 cm. Penyimpanan Penyimpanan kubis harus memperhatikan varietas kubis, suhu, kelembaban dan kadar air. Pada suhu 32-35 derajat F dan kelembaban udara 92-95%, kubis dapat disimpan 4-6 bulan (kubis kadar air tinggi) dan 12 bulan (kubis kadar air rendah) dengan kehilangan berat sebesar 10%. Pengemasan dan Pengangkutan Pengemasan dilakukan dengan plastik polyethylene dan dalam pengangkutan kemasan perlu dimasukkan ke dalam kotak atau peti kayu (field boxes) dengan kapasitas 25-30 kg/peti.

VII.

Analisis finansial usahatani

Analisis finansial produksi kubis konsumsi

Secara umum, kubis dapat dikategorikan sebagai tanaman sayuran yang memiliki karakteristik: membutuhkan masukan tinggi, menghasilkan luaran tinggi dan mengandung risiko pengusahaan tinggi (a high-input, high-output, high-risk crop). Respon hasil yang tinggi terhadap masukan, misalnya bibit berkualitas baik, pupuk, pestisida dan tambahan tenaga kerja, memotivasi petani untuk menggunakan masukan lebih tinggi pada tanaman kubis dibandingkan dengan tanaman sayuran lain. Namun demikian, perlu pula diperhatikan bahwa tanaman kubis ini rentan terhadap serangan hama penyakit, cekaman kelembaban serta perubahan cuaca ekstrim. Kerentanan tersebut cenderung menyebabkan produksi kubis memiliki variabilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman lainnya. Variabilitas
32

hasil, fluktuasi harga serta biaya input tinggi menyebabkan usahatani kubis termasuk jenis usaha yang berisiko tinggi. Komersialisasi usahatani kubis pada dasarnya tercermin dari proporsi hasil panen yang seluruhnya atau sebagian besar dijual ke pasar. Struktur hubungan harga pasar yang terbentuk berdasarkan keterkaitan antara petani, surplus hasil dan pasar, akan sangat berpengaruh terhadap alokasi masukan usahatani. Sebelum memulai usahatani kubis, sangatlah penting untuk mempertimbangkan berbagai komponen biaya yang berkaitan erat dengan operasionalisasi usaha. Tabel 14 menunjukkan contoh komposisi biaya berbagai komponen masukan pada usahatani kubis di salah satu sentra produksi penting di Indonesia. Kontribusi komponen input tertinggi diperlihatkan oleh tenaga kerja dan secara berturut-turut diikuti oleh pestisida, pupuk organik, pupuk buatan dan bibit. Relatif besarnya komponen biaya pestisida secara tidak langsung mencerminkan masih tingginya ketergantungan petani terhadap cara pengendalian kimiawi. Pencegahan dan resiko kegagalan panen merupakan pertimbangan utama yang mendorong petani melakukan penyemprotan rutin dan bahkan pencampuran pestisida. Secara teoritis, setiap pelaku ekonomi bertujuan untuk mendapatkan keuntungan maksimal dari bidang usaha yang dipilihnya. Keuntungan maksimal ini dapat diperoleh dengan meminimalkan biaya produksi pada tingkat output tertentu, atau sebaliknya memaksimalkan ouput pada tingkat biaya produksi tertentu. Selain itu, keuntungan maksimal juga dapat diperoleh melalui substitusi faktor produksi yang satu dengan lainnya, sepanjang nilai yang dikeluarkan untuk input pengganti lebih kecil dibandingkan dengan nilai input yang digantikan (pada tingkat output yang sama). Pelaku ekonomi akan terus meningkatkan produksinya sepanjang penerimaan dari setiap unit ouput masih lebih besar dibandingkan dengan biaya produksinya (Colman and Young, 1989). Dalam pengambilan keputusan seperti di atas, pelaku ekonomi membutuhkan indikator kelayakan yang dapat diperoleh dari analisis biaya dan pendapatan (ABP). ABP dapat mencerminkan perencanaan fisik dan finansial operasionalisasi suatu usahatani pada periode waktu tertentu. ABP merupakan teknik sederhana yang paling banyak digunakan dalam analisis ekonomi untuk membantu pengelola dalam mengambil keputusan usahatani yang dapat memaksimalkan keuntungan (Dillon & Hardaker, 1980). Informasi input-output yang dihimpun pada Tabel 14 menunjukkan bahwa nisbah benefit/biaya > 0 (indikasi bahwa usahatani tersebut memperoleh keuntungan dan layak secara finansial). Namun demikian, indikator tersebut perlu diinterpretasikan secara hati-hati, karena besaran nisbah penerimaan/biaya sangat sensitif terhadap perubahan harga (terutama harga luaran). Fluktuasi harga kubis seringkali menghadapkan petani pada tingkat harga di bawah titik impas, sehingga peluang mengalami kerugian yang secara eksplisit tidak tergambarkan pada Tabel 14 sebenarnya juga cukup tinggi.

33

Tabel 14

Contoh kasus biaya produksi dan pendapatan usahatani kubis per hektar
Pangalengan, Jawa Barat, 2004 Uraian Jumlah Nilai (Rp. 000) % 60.53 32 738 tan 16 785 kg 785 kg 357 kg 357 kg 5 kg 7 kg 2 kg 1 893 3 161 1 257 393 571 27 143 26 22.09 57,44 l 10,71 kg 3 875 418 26.24 35,71 31,90 9,28 22,38 39,76 12,85 30,47 3,57 76,19 70,99 48,80 142,86 155,36 hok hok hok hok hok hok hok hok hok hok hok hok hok 268 239 70 168 298 96 228 27 571 532 366 1 071 1 165 13.23 2 500 71 19 434 100,00 9.74 16.27 12.44

A. Sarana Produksi Bibit Pupuk Organik Pupuk Buatan • NPK • UREA • PONSKA • KNO3 • PROGIB • SUPERGRO Pestisida • Insektisida • Fungisida B. Tenaga Kerja • • • • • • • • • • • • • Mencangkul Membuang rumput Membuat garitan Membuat lubang tanam Angkut & pasang ppk.kandang Menimbun pupuk Tanam Menyulam Melakukan pengobatan Pasang ppk.susulan Menimbun tanaman Menyiram Melakukan pemanenan

C. Lain-lain Sewa lahan Perekat Biaya Total

3,60 l

• •

Harga (Rp/kg) Produktivitas (kg/ha)

512,50 48 000

Penerimaan Total Keuntungan Bersih R/C B/C Titik Impas Harga (produktivitas konstan/tetap) (Rp/kg) Titik Impas Produksi (harga konstan/tetap) (kg/ha)

24 600 5 166 1.266 0.266 404.875 37 920

34

Analisis finansial produksi semaian kubis di rumah plastik

Data yang digunakan dalam analisis finansial ini merupakan data yang diperoleh dari studi kasus usaha semaian kubis di Dieng, Wonosobo pada tahun 2003. Beberapa tabel yang disajikan secara bertahap menunjukkan langkah-langkah yang ditempuh untuk menghitung Rasio Manfaat Biaya (Benefit Cost Ratio), Nilai Bersih Saat Ini (Net Present Value) dan Tingkat Pengembalian Internal (Internal Rate of Return).
A. Investasi dan Modal Kerja 1 Investasi • Rumah kasa/plastik • Kerangka besi/metal • Plastik UV • Net 1 dan net 2 (paranet) • Tenaga kerja • Lain-lain Sub total 2 Modal Kerja • Sewa tanah • Kotak tempat semaian • Rak bambu • Pengawas/Supervisor 5 x 36 000 5 x 150 000 2 x 120 000 5 x 12 x 50 000 Sub total Total

1 200 360 830 100 279 2 769 180 750 240 3 000 4 170 6 939

000 000 000 000 600 600 000 000 000 000 000 600

B. Sumber Pendanaan 1 2 Pinjaman/kredit dari Bank dengan tingkat bunga 10% Dana sendiri/kelompok Total 2 000 000 4 939 600 6 939 600

C. Production Plan
Tahun 1 140 000 25 3 500 000 150 000 30 4 500 000 160 000 35 5 600 000 170 000 40 6 800 000 180 000 45 8 100 000 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5

Semaian (tanaman) Harga jual (Rp.) Nilai (Rp.) Semaian (tanaman) Harga jual (Rp.) Nilai (Rp.) Semaian (tanaman) Harga jual (Rp.) Nilai (Rp.) Semaian (tanaman) Harga jual (Rp.) Nilai (Rp.) Semaian (tanaman) Harga jual (Rp.) Nilai (Rp.)

35

D. Biaya Produksi Biaya Variabel Tahun Benih (Rp.) 1 1 1 1 2 600 714 828 942 057 000 286 571 857 143 Input Lain (Rp.) 130 150 170 190 210 000 000 000 000 000 Tenaga Kerja (Rp.) 500 000 550 000 600 000 650 000 700 000 Total Sub total (Rp.) 2 2 2 2 2 12 230 414 598 782 967 992 000 286 571 857 143 857

1 2 3 4 5

Biaya Tetap Tahun Pemeliharaan (fasilitas dan peralatan) (Rp.) 732 500 Lain-lain (Rp.) 500 000 Total (Rp.) 1 232 500

1–5

E. Analisis Finansial Anggaran Implementasi Sumber Pendanaan 1. Pinjaman Rp. 2 000 000 • Penggunaan/Pemanfaatan Rumah kasa/plastik Rp. 2 769 600 o Kerangka besi, plastik UV, net 1 & 2, tenaga kerja dan lainlain Modal kerja Rp. 4 170 000 • Sewa tanah, kotak tempat semaian, rak bambu dan pengawas/supervisor Rp. 6 939 600

2. Kelompok

Rp.

4 939 600

Total 600

Rp.

6 939

Total

Pembayaran kembali pinjaman dan bunga Tahun 1 2 3 4 5 Pokok (Principal) 2 000 000 1 600 000 1 200 000 800 000 400 000 Cicilan Tahunan 400 000 400 000 400 000 400 000 400 000 Bunga (10%/year) 200 000 160 000 120 000 80 000 40 000

36

Keragaan Laba/Rugi

No

Tahun

1

2

3

4

5

A

Penerimaan Semaian Harga jual (Rp.) Nilai (Rp.) Penerimaan Total 140 000 25 3 500 000 3 500 000 150 000 30 4 500 000 4 500 000 160 000 35 5 600 000 5 600 000 170 000 40 6 800 000 6 800 000 180 000 45 8 100 000 8 100 000

B

Biaya Operasional Biaya tetap • • • • • • Pengawas Sewa lahan Kotak semaian Rak bambu Pemeliharaan Lain-lain 600 36 150 120 146 100 000 000 000 000 500 000 600 000 36 000 150 000 146 500 100 000 600 000 36 000 150 000 146 500 100 000 600 36 150 120 146 100 000 000 000 000 500 000 600 000 36 000 150 000 146 500 100 000

Biaya variabel • • • • Benih Input lain Tenaga kerja Bunga (10%) 1 600 130 500 200 000 000 000 000 1 714 150 550 160 286 000 000 000 1 828 170 600 120 571 000 000 000 1 942 190 650 80 857 000 000 000 2 057 210 700 40 143 000 000 000

Biaya Operasional Total

3 582 500

3 606 786

3 751 071

4 015 357

4 039 643

C

Kentungan/Benefit

- 82 500

893 214

1 848 929

2 784 643

4 060 357

D

Pajak (20%)

0

178 643

369 786

556 929

812 071

E

Keuntungan bersih

- 82 500

714 571

1 479 143

2 227 714

3 248 286

37

Analisis Manfaat/Biaya

No

Tahun

1

2

3

4

5

A

Penerimaan Semaian Harga jual (Rp.) Nilai (Rp.) Penerimaan Total 140 000 25 3 500 000 3 500 000 150 000 30 4 500 000 4 500 000 160 000 35 5 600 000 5 600 000 170 000 40 6 800 000 6 800 000 180 000 45 8 100 000 8 100 000

B

Biaya Investasi Biaya tetap • Pengawas • Sewa lahan • Kotak semaian • Rak bambu • Pemeliharaan • Lain-lain Biaya variabel • Benih • Input lain • Tenaga kerja • Bunga (10%) Cicilan Pokok Biaya Total 2 769 600

600 36 150 120 146 100

000 000 000 000 500 000

600 000 36 000 150 000 146 500 100 000

600 000 36 000 150 000 146 500 100 000

600 36 150 120 146 100

000 000 000 000 500 000

600 000 36 000 150 000 146 500 100 000

1 600 130 500 200

000 000 000 000

1 714 150 550 160

286 000 000 000

1 828 170 600 120

571 000 000 000

1 942 190 650 80

857 000 000 000

2 057 210 700 40

143 000 000 000

400 000 6 752 100

400 000 4 006 786

400 000 4 151 071

400 000 4 415 357

400 000 4 439 643

C

Keuntungan

- 3 252 100

493 214

1 448 929

2 384 643

3 660 357

D

Pajak (20%)

0

98 643

289 786

476 929

732 071

E

Keuntungan Bersih

- 3 252 100

394 571

1 159 143

1 907 714

2 928 286

38

F. NPV pada DF (10%), (15%), (20%) dan (30%)

Thn

Penerimaan

Biaya

Pajak

Keunt. Bersih
(4) = (1)-(2)-(3) 0 - 3 252 100 394 571 1 159 143 1 907 714 2 928 286

DF=10%

NPV pd DF=10%
(6) = (4) x (5) - 2 956 159 325 916 870 516 1 302 969 1 818 466

Keunt. Didiskon
(7) = (1) x (5) 3 181 500 3 717 000 4 205 600 4 644 400 5 030 100

Biaya Didiskon
(8) = (2+3)x(5) 6 137 659 3 391 084 3 335 084 3 341 431 3 211 634

(1)

(2)

(3)

(5)

1 2 3 4 5

3 500 000 4 500 000 5 600 000 6 800 000 8 100 000

6 752 100 4 006 786 4 151 071 4 415 357 4 439 643

0.909 0.826 0.751 0.683 0.621

98 643 289 786 476 929 732 071

1 361 708

20 778 600

19 416 892

Thn

DF=15%

NPV pd DF=15%
(10)=(4)x(10)

DF=20%

NPV pd DF=20%
(12)=(4)x(11)

DF=30%

NPV pd DF=30%
(14)=(4)x(13)

(9) 1 2 3 4 5 0.870 0.756 0.658 0.572 0.497

(11) 0.833 0.694 0.579 0.482 0.402

(13) 0.769 0.592 0.455 0.350 0.269

- 2 829 327 298 296 762 716 1 091 212 1 455 358

- 2 708 999 273 832 671 144 919 518 1 177 171

- 2 500 865 233 586 527 410 667 700 787 709

778 255

332 666

- 284 460

Beberapa temuan dari hasil analisis: • Metode penghitungan NPV menggunakan biaya oportunitas modal sebagai tingkat diskon. Oleh karena itu, aliran tunai operasional diasumsikan diinvestasikan kembali pada tingkat diskon yang sama dengan biaya modal (prespecified). NPV biasa digunakan untuk menaksir kelayakan usaha. Suatu jenis usaha dinilai layak jika NPVnya sama dengan atau lebih besar dari nol. Namun demikian, besaran NPV ini harus didiskon pada tingkat biaya oportunitas modal yang layak. Dalam kasus ini, NPV pada DF(10%) sama dengan 1 361 708 (positif). Hal ini mengimplikasikan bahwa keuntungan bersih yang akan diterima pada lima tahun ke depan sebesar Rp. Rp. 3 137 614 nilainya sekarang adalah sebesar 1 361 708 dengan mengasumsikan tingkat bunga sebesar 10% per
39

tahun selama lima tahun. Oleh karena NPV lebih besar daripada nol, maka opsi usahatani semaian kubis ini secara finansial dapat diterima atau layak. • Kelayakan suatu jenis usaha akan mengacu pada adanya insentif finansial atau motif keuntungan (penerimaan harus melebihi biaya). B/C ratio adalah perbandingan antara semua penambahan keuntungan dan biaya tahunan yang didiskon dari suatu jenis usaha. Besaran ini mengekspresikan keuntungan yang diperoleh dari suatu jenis usaha per unit biaya usaha tersebut dalam nilai sekarang. Suatu usaha yang tidak dapat membayar tingkat bunga, akan mendorong B/C ratio kurang dari satu, karena pengembalian (returns) yang dihasilkan tidak dapat menutupi biaya awal (nilai sekarang dari biaya akan melebihi nilai sekarang dari keuntungan). Hasil analisis menunjukkan bahwa B/C = 20 778 600/19 416 892 = 1.07 > 1. Hal ini mengimplikasikan bahwa opsi proyek ini dikategorikan layak dan direkomendasikan sebagai proyek “go”. IRR (internal rate of return) adalah tingkat pinjaman maksimal atau tingkat bunga maksimal yang dapat dibayarkan oleh suatu jenis usaha untuk menutupi semua investasi dan biaya operasional. Hasil analisis menunjukkan bahwa IRR untuk usahatani semaian kubis adalah: IRR = 20% + [(332 666)/{(332 666) – (-284 460)}] [30% - 20%] = 20% + [(332 666/617 126)] [10%] = 20% + 5.59% = 25.59% Hal ini berarti bahwa jika biaya modal dari usaha di atas dibiayai dari pinjaman dengan tingkat bunga sampai 25% (tingkat bunga aktual yang digunakan dalam analisis diasumsikan 10% per tahun), maka usaha ini masih dapat memperoleh cukup penerimaan untuk membayar pinjaman dan bunganya. Evaluasi finansial memberikan indikasi bahwa opsi usahatani semaian kubis dapat dikategorikan layak dan direkomendasikan sebagai proyek “go”.

VIII. Perkembangan penelitian

Pemuliaan

Penelitian pemuliaan dan plasma nutfah kubis periode 1980-2000 yang telah dipublikasikan berjumlah 12 artikel, yang terdiri dari 5 artikel tentang hibridisasi dan seleksi, 4 artikel tentang uji daya hasil pendahuluan dan lanjutan, 1 artikel tentang uji adaptasi dan multilokasi, 1 artikel tentang uji resistensi genotip kubis terhadap hama Plutella xylostella dan 1 artikel tentang perbenihan kubis. Cakupan topik penelitian pemuliaan kubis dapat dilihat pada Tabel 15 dengan penjelasan singkat sebagai berikut :

40

Tabel 15

Topik, varietas, asal, agroekosistem dan penerbit makalah penelitian pemuliaan dan plasma nutfah tanaman kubis periode 1980-2000.
Jml. artikel 4 1 KR Impor DT J.Hort. 5(3):1619.1995 Varietas Asal Agroekosistem Penerbit

No

Topik/Judul penelitian

A. 1.

Hibridisasi dan seleksi Pengaruh zat pengatur tumbuh terhadap perakaran, pertumbuhan dan hasil krop stek tunas. Pengamatan pendahuluan segregat F2 KK cross, KY cros dan Gloria Osena

2.

1

F2 KK cross, F2 KY cross, F2 Gloria Osena

F1 impor F2 Balai Import

DT

Bull.Penel.Hort VolX.No.1. 1983.

3.

Pengujian beberapa varietas kubis di Lembang

1

Gloria Osena, Konstanta, King hybrid, NS cross, Titan, Dutchman, Fukamidori,Ursa,Dece ma, Predena Pujon, Yoshin

DT

Bull.Penel.Hort Vol.XI.No.3.19 84

4.

Penentuan daya ketidakmampuan menyerbuk sendiri pada kubis semusim pujon dan yoshin Percobaan pendahuluan kultur anthera 2 kultivar kubis Yoshin dan Pujon Uji Daya Hasil Pendahuluan/ Lanjutan Pengujian daya hasil varietas kubis asal introduksi

1

Lokal

DT

Bull.Penel.Hort Vol.XVI.No.3 1988

5

1

Yoshin dan Pujon

Lokal

DT

Bull.Penel.Hort Vol.XXIII.No.4. 1992.

B.

4

1.

1

Anosha, TS cross, YT cross, YK cross, Krauprinttz, Histona, Ones, Gloria Ocena, KK cross, KY cross, Hy85-85, Hy85-56, Hy85-57, Hy85-58,..…. 73 16 varietas hibrida, 2 varietas OP, 5 galur tetua, F1-KK cross, F1Green Coronet, F1Gloria Osena Green Coronet, Rare Ball, KR-1, Victory, YR Natubare, Grand 11, Rare 8004 KR-1, Summer Autum 633, N.4962, Summit 637

Bld., Den., Jpg., Lbg.

DT

Bull.Penel.Hort Vol.XVI.No.1.1 988

2.

Evaluasi daya hasil dan kualitas varietas hibrida kubis semusim produksi Lembang di dataran tinggi

1

-

DT

Bull.Penel.Hort Vol.XXIII.No.3. 1992.

3.

Introduksi beberapa varietas kubis kualitas ekspor

1

-

DT

Bull.Penel.Hort Vol.XXVII.No.3 1995.

4.

Pengujian varietas kubis introduksi yang sesuai untuk ekspor

1

-

DT

Jurnal Hortikultura 5(1):102-105. 1995.

41

C.

Uji adaptasi/ multilokasi Evaluasi pertumbuhan dan daya hasil sepuluh genotip kubis di dataran tinggi dan medium

1

1.

1

Mancanta, Green Baru, Cheers, Constanza, Irodori, Summer Autumn, KA#128, Spring Light, KR#1

-

DT dan DM

J.Hort. 7(4):864-869. 1998.

D.

Uji resistensi genotip kubis terhadap hama/penyakit Resistensi tanaman krusifer terhadap hama ulat daun kubis, Plutella xylostella

1

1.

1

20 jenis kubis putih, kubis merah, kubis bunga, brokoli, petsai, caisim, lobak

-

DT

Bull.Penel.Hort Vol.XV.No.1.19 87

E. 1.

Perbenihan kubis Pengaruh konsentrasi garam NaCl terhadap daya kecambah dan vigor benih kubis

1 1 KK cross DT Bull.Penel.Hort Vol.XI.No.2.19 84.

A. Hibridisasi dan seleksi (5 artikel) 1. Pengamatan pendahuluan segregat F2 kubis KK cross, KY cross dan Gloria Osena menunjukkan 14-20 % segregat menyerupai F1, lebih lanjut 67 % segregat F2 Gloria Osena menyerupai kubis merah. 2. Penggunaan hormon NAA dengan dosis 100 ppm dapat meningkatkan jumlah dan panjang akar stek tunas kubis. Penggunaan Rootone F baik untuk pembibitan kubis asal stek tunas. Bibit dari stek tunas dapat menghasilkan krop dengan berat 0,9-1,2 kg/tanaman. 3. Pengujian beberapa varietas kubis di Lembang menunjukkan varietas Gloria Osena memberikan hasil tertinggi dan kualitas terbaik, sehingga dapat memenuhi selera petani dan pasar. 4. Penentuan daya ketidakmampuan menyerbuk sendiri pada kubis semusim Pujon dan Yoshin menunjukkan sifat SI pada tanaman kubis dikendalikan oleh suatu seri allel S yang terletak pada satu lokus dan diatur secara sporofitis. Pada galur S6 kubis semusim Pujon dan Yoshin tidak menunjukkan adanya sifat SI (self incompatible), melainkan SC (self compatible). 5. Percobaan pendahuluan kultur anthera 2 kultivar kubis Yoshin dan Pujon menunjukkan persentase tertinggi kultur anthera berkembang membentuk kalus didapat pada media MS ditambah 2,4 D 0,15 mg/l dan NAA 0,15 mg/l .

B. Uji Daya Hasil Pendahuluan/Lanjutan (4 artikel) 1. Pengujian daya hasil varietas kubis asal introduksi menunjukkan Gloria Osena, KK cross, Histona, Krautprinz, TS cross, Anosha dan TK cross memberikan hasil tinggi dan kualitas krop yang baik.
42

2. Empat hibrida kubis semusim masing-masing F1 99-11,-12,-13 dan-23 memiliki berat tanaman yang seimbang dengan Gloria Osena, kepadatan krop hibrida kubis semusim masih lebih rendah dibandingkan kubis dwi musim. 3. Introduksi varietas kubis kualitas ekspor menunjukkan varietas Green Coronet dan KR-1 memberikan hasil tertinggi 107 kg/plot dan kekerasan krop Green Coronet 0,27 lb/mm2. 4. Pengujian varietas kubis introduksi yang sesuai untuk ekspor di dataran tinggi Berastagi menunjukkan varietas Summit 637 memberikan hasil tertinggi dan mutu terbaik.

C. Uji adaptasi/Multilokasi (1 artikel) 1. Evaluasi pertumbuhan dan daya hasil sepuluh genotip kubis di dataran tinggi dan medium menunjukkan Early Green introduksi asal Belanda dapat beradaptasi di dataran tinggi dengan hasil krop tertinggi dan umur genjah. Sedangkan untuk dataran medium terpilih Green Baru introduksi asal Jepang.

D. Uji Resistensi Genotip Kubis terhadap Hama/Penyakit (1 artikel) 1. Resistensi tanaman krusifer terhadap hama ulat daun kubis (Plutella xylostella) menunjukkan Rotan F1 (kubis putih), Marner Rocco (kubis merah) dan Cirateun (kubis bunga) resisten terhadap P. xylostella Beberapa catatan umum yang dapat disimpulkan dari kegiatan penelitian pemuliaan dan plasma nutfah kubis, adalah sebagai berikut: 2. Kubis (Brassica oleracea var. capitata) adalah tanaman dwi musim. Secara alamiah kubis tidak dapat berbunga di daerah tropik termasuk di Indonesia. Oleh sebab itu sampai saat ini benih kubis belum dapat diproduksi di dalam negeri, sehingga benih harus diimpor dari luar negeri. 3. Usaha untuk merangsang kubis dwi musim berbunga dan membentuk biji ternyata belum berhasil. Benih kubis asal vernalisasi mengalami segregasi yang sangat besar dan terjadi penurunan hasil dan kualitas. Oleh karena itu, sering dilakukan perbanyakan vegetatif untuk mendapatkan genotip yang sama dengan induknya. 4. Luas area penanaman kubis berkisar 50.000 ha per tahun dan 90% ditanam di dataran tinggi, sedangkan sisanya 10% ditanam di dataran medium dan rendah. 5. Kebutuhan benih kubis diperkirakan 6 ton setiap tahun dan 95% merupakan benih impor berupa kubis hibrida dwi musim. 6. Varietas RVE#37 pernah menjadi varietas unggulan, tetapi ternyata varietas ini peka terhadap penyakit busuk hitam Xanthomonas campestris sehingga ditinggalkan petani.

43

7. Varietas hibrida KK cross dan KY cross dari Jepang muncul kemudian, namun kurang memenuhi selera petani karena bentuk kropnya gepeng dan kurang kompak sehingga mudah pecah. 8. Varietas hibrida Gloria Osena dari Denmark pernah populer dan memenuhi selera petani dan pasar, karena bentuk kropnya bulat dan sangat kompak; tetapi ternyata varietas ini peka terhadap penyakit Club Root. 9. Saat ini varietas hibrida Green Coronet paling banyak ditanam petani dan memenuhi selera pasar.

Agronomi Sebaran topik, varietas, ekosistem dan hasil pada penelitian agronomi selama kurun waktu 1980-2003 disajikan pada Tabel 16. Beberapa catatan umum yang dapat ditarik dari Tabel 16 adalah: h Topik penelitian didominasi oleh pemupukan sekitar 70% h Jenis kultivar yang dominan digunakan adalah Gloria Osena h Ekosistem yang digunakan untuk penelitian kubis 90% dilaksanakan di dataran tinggi, sisanya di dataran rendah

Tabel 16
No. 1.

Topik, jumlah artikel, hasil penelitian agronomi, 1980 - 2003
Topik Jumlah Artikel 4 Varietas Ekosistem Hasil

Aplikasi Pupuk N

Gloria osena

Dataran tinggi

Pemakaian pupuk Urea, ZA, Amonium Nitrat dan Calcium Amonium Nitrat sebagai sumber N tidak mempengaruhi pertumbuhan dan hasil kubis (Bul. Penel. Hort. 17 (1), 1988: 1-4)

KK Cross, KY Cross

Dataran rendah

KK Cross mempunyai daya adaptasi dan hasil yang lebih tinggi 100 kg N/ha cukup memadai untuk menghasilkan kubis di dat. Rendah pemberian mulsa tidak meningkatkan hasil dan kualitas hasil kubis (Bul. Penel. Hort.17 (3), 1989: 99-107)

KK Cross

Dataran rendah

Aplikasi mulsa meningkatkan pertumbuhan, hasil dan kualitas hasil kubis Waktu pemupukan N (200 kg/ha) 2 kali (14 hst + 28 hst) menghasilkan pertumbuhan dan bobot kubis per tanaman tertinggi daripada waktu

44

pemupukan 4 kali, 2 kali (saat tanam + 14 hst) maupun sekaligus ( saat tanam /14 hst) (Bul. Penel. Hort.17 (3), 1989: 53-62) Green Coronet Dataran tinggi 100 kg Urea/ha dan 125 kg ZA/ha yang diberikan setengahnya satu hari sebelum tanam dan setengahnya umur 30 hst menunjukkan efisiensi tertinggi pada bobot kubis per tanaman dan per plot (161,02 kg atau + 45,99 t/ha) (Bul. Penel. Hort.27 (2), 1995: 17-27) 2. Pemupukan P dan K 3 Green Coronet Dataran tinggi Pemberian pupuk P (100-200 kg P2O5/ ha) dan pupuk K (100-200 kg K2O/ha meningkatkan pertumbuhan dan bobot krop per tanaman dan per plot (Bul. Penel. Hort 24 (1), 1992: 129140) Green Coronet Dataran tinggi Hasil kubis tertinggi diperoleh pada perlakuan 250 kg P2O5/ha dan 1250 kg dolomit/ha (Bul. Penel. Hort 26 (2), 1994: 15-24) KK-Cross Dataran rendah 100 kg P2O5/ha adalah dosis terbaik Jerami padi merupakan mulsa yang paling cocok untuk tanaman kubis di dataran rendah (Bul. Penel. Hort 27 (1): 1-11) 3 Aplikasi pupuk NPK 3 Gloria Osena, Konstanta Dataran tinggi Peningkatan dosis pupuk N lebih dari 100 kg/ha tidak menaikkan pertumbuhan dan hasil kubis pada tingkat P dan K 100 kg/ha Pada tingkat dosis 200 kg /ha P dan K, peningkatan dosis N meningkatkan pertumbuhan dan hasil kubis (Bul. Penel. Hort. 9 (5), 1982: 25-32) Gloria Osena Dataran tinggi Pupuk nitrofosfat dengan dosis 125 dan 150 kg/ha menghasilkan bobot krop lebih tinggi daripada 100 kg/ha Pupuk nitrofosfat (14-9-20) dan (1515-15) nyata meningkatkan bobot krop kubis dibandingkan macam pupuk nitrofosfat lainnya (Bul. Penel. Hort. 25 (4), 1993:15-21)

45

Green Coronet

Dataran tinggi

Dosis NPK 1250 kg/ha dengan cara aplikasi pupuk dibenamkan menghasilkan bobot dan diameter krop kubis tertinggi (Bul. Penel. Hort. 25 (4), 1993:108118)

4.

Pupuk Daun dan Zat Pengatur Tumbuh

2

Gloria Ocena

Dataran tinggi

Pemberian Wokozim dosis 300 ml/ha dengan aplikasi sekaligus (umur 25 hst) meningkatkan pertumbuhan, laju pertumbuhan dan bobot bersih kubis (Bul. Penel. Hort. 19 (!), 1990: 55-66)

KR

Dataran tinggi

Penggunaan 100 ppm NAA dapat meningkatkan jumlah dan panjang akar stek tunas kubis Penggunaan Rootone F cukup baik untuk pembibitan kubis asal stek tunas dilihat dari persentase tumbuh, jumlah dan panjang akar serta berat krop (J. Hort. 5 (3), 1995: 16-19)

5.

Aplikasi Pupuk Organik

8 Gloria Osena Dataran tinggi Aplikasi kompos jagung 30 t/ha dan kompos jerami 15 t/ha dapat meningkatkan bobot bersih kubis per hektar (Bul. Penel. Hort 27 (4), 1989: 80-91) Gloria osena Dataran tinggi Penggunaan pupuk kandang sapi dapat digantikan dengan kompos jagung atau kompos jerami pada dosis 20 t/ha. Tanpa aplikasi pupuk organik hasil kubis sangat rendah. (Bul. Penel. Hort. 16 (4), 1988: 37-41) Gloria osena Dataran tinggi Penambahan pupuk P dan dolomit dalam kompos jagung hanya meningkatkan pertumbuhan vegetatif , sedangkan dalam kompos jerami padi nyata meningkatkan pertumbuhan dan hasil kubis. Namun hasil tertinggi terjadi pada perlakuan kompos padi + P (Bul. Penel. Hort. 16 (2), 1988:74-79) Gloria osena Dataran tinggi Pemakaian pupuk sari humus pada dosis 7,5 l/ha yang diaplikasikan melalui tanah seminggu sebelum tanam nyata meningkatkan hasil kubis

46

bersih dengan kenaikan hasil sebesar 24,18% (Bul. Penel. Hort. 15 (2), 1987: 213218) Gloria osena Dataran tinggi Aplikasi kompos jagung 30 t/ha dan kompos jerami 15 t/ha dapat meningkatkan bobot bersih kubis per hektar (Bul. Penel. Hort. 15 (1), 1987: 6-17) Dataran tinggi Pemberian pupuk kandang ayam (10 t/ha) dan sapi (40 t/ha) mampu memproduksi kubis rata-rata 1,8 kg/tanaman atau + 54 t/ha Pupuk kandang ayam, sapi, kambing dan kuda dibutuhkan dalam budidaya kubis untuk mempertahankan produksi 31-55t/ha (Bul. Penel. Hort. 26 (3), 1994: 37-42) KY, KR, Marcanta Dataran tinggi Pupuk organik hanya berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan, sedangkan terhadap mutu dan produksi tidak berpengaruh (J. Hort. 23 (2), 1992: 127-133 KR-1 Dataran tinggi 5 g OST + 16 g NPK memberikan hasil kubis yang cukup memadai dan dapat menghemat 75% pemakaian pupuk kandang (Bul. Penel. Hort. 27 (3), 1995: 31-37) 6. Penggunaan dolomit 1 Gloria Osena Dataran tinggi Pemberian dolomit dengan cara setempat dan diaduk rata di sekitar lubang tanam dengan dosis 2,25 t/ha memberikan pertumbuhan dan hasil yang baik pada kubis (Bul. Penel. Hort. 27 (1), 1994: 27-34) 7. Pola Tanam 3 KR-1 Dataran tinggi Hasil krop kubis tidak dipengaruhi oleh tanaman tumpangsari (kentang, ercis, tomat, bawang prei, bawang putih, dan petsai) Kombinasi kubis + petsai dan kubis + ercis memberikan keuntungan terbesar dengan nisbah R/C masing-masing 1,21 dan 1,16 (J. Hort. 6 (3), 1996: 255 – 262)

47

Gloria Ocena

Dataran tinggi

Tumpangsari kubis dengan ercis atau kentang menghasilkan produk kubis yang tidak berbeda nyata dengan monokropnya Pendapatan bersih perlakuan monokrop kubis baris tunggal, baris ganda serta tumpangsarinya dengan ercis dan kentang masing-masing adalah Rp 10.747,21; Rp 10.547,21; Rp. 8.733,10 dan Rp 13.809,97 per 15,36 m2 (J. Hort. 4 (2), 1992: 66-72)

Gloria Ocena

Dataran tinggi

Tumpangsari tomat, ercis dan kubis meningkatkan hasil tomat, ercis dan kubis per tanaman masing-masing sebesar 17,34%, 12,51% dan 26,56% jika ditanam selang satu baris Produktivitas lahan meningkat sebesar 74% pada sistem tumpangsari tomat, ercis dan kubis yang ditanam di dalam satu baris (Bul. Penel. Hort. 22 (3), 1992: 38-44)

8.

Konservasi Tanah

2 Gloria Ocena Dataran tinggi Bedengan memotong lereng atau searah kontur berpengaruh nyata dalam menekan erosi dan kehilangan hara (C organik, N, P dan K) tanah, tetapi tidak memberilkan hasil panen kubis yang berbeda nyata dengan bedengan searah lereng. Pemberian mulsa plastik pada tanaman kubis monokrop mampu menekan erosi dan kehilangan hara tanah (C organik, N, P dan K), meningkatkan pertumbuhan dan hasil kubis. Sedangkan pemberian mulsa organik cenderung meningkatkan serangan penyakit bengkak akar pada tanaman kubis

(LHP Balitsa 2001) Gloria Osena Dataran tinggi cara pengolahan tanah barisan tidak menunjukkan sifat kimia, biologi dan fisik yang lebih baik daripada cara pengolahan tanah konvensional. Cara pengolahan tanah tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman dan hasil kubis, kecuali terhadap bobot segar tanaman. Tanaman penutup tanah dari jenis tanaman kacang-kacangan meningkatkan sifat kimia (C organik, P total tanah) dan sifat biologi (mikroba tanah) serta pertumbuhan dan hasil

48

kubis. (LHP Balitsa 2002) 9. Pengendalian Gulma 3 Gloria Osena Dataran tinggi Pengendalian gulma dengan aplikasi herbisida Goal 2 E yang diberikan secara pre-emergence (pra tumbuh) dan post-emergence (setelah tumbuh) mampu menekan gulma sampai 24% sampai 56,93%. Goal dengan dosis 1,00 l/ha sebelum tanam menghasilkan produk kubis tertinggi (69,7 kg/30 m2) (Bul. Penel. Hort. 12 (2), 1985:20-26) Gloria Osena Dataran tinggi Penyiangan gulma dua kali (21 dan 42 hst kubis) lebih efektif dibanding dengan pemberian herbisida Herbisida Gesaprim hanya efektif menekan pertumbuhan gulma jenis daun lebar dan rerumputan sampai umur 21 hst dan menyebabkan tingkat keracunan yang tinggi pada tanaman kubis (Bul. Penel. Hort. 27 (1), 1994: 41-47) Green Coronet Dataran tinggi Sepuluh jenis dari 45 jenis gulma yang terdapat pada komunitas kubis-tomat yang penting adalah Alternanthera

philoxeroides, Drymaria cordata, Galinsoga parviflora, Portulaca oleracea, Polygonum nepalense, Richardia brasiliensis, Eleusine indica, Panicum repens, Axonopus compressus dan Cyperus rotundus
Sistem tumpangsari kubis-tomat dapat menekan populasi gulma mulai umur 9 minggu setelah tanam Hasil panen kubis tertinggi (1,7 kg/tan.) diperoleh pada sistem kubistomat yang tidak dilakukan penyiangan, sedangkan terendah pada sistem monokultur dengan penyiangan (Bul. Penel. Hort. 27 (4), 1995: 93102)

Tanggapan umum terhadap hasil-hasil penelitian agronomi kubis adalah sebagai berikut:

49

1. Hasil penelitian pemupukan masih terbatas pada jenis tanah tertentu dengan hanya mencari sumber dan dosis pupuk yang terbaik dalam peningkatan hasil kubis. Umumnya tidak ada pengujian nilai data tanah yang menyebabkan tidak adanya kajian yang akurat antara hubungan nilai data tanah dengan dosis aplikasi hara yang diperlukan untuk mendapatkan hasil yang optimum. Perlu dikembangkan penelitian yang komprehensif yang meliputi respon tanaman terhadap berbagai tingkat keragaman dan dinamika kesuburan tanah dengan dosis pupuk yang dibutuhkan, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya sehingga dapat ditentukan rekomendasi kebutuhan hara secara akurat. 2. Meskipun penelitian pupuk kandang sudah banyak dilakukan dengan hasil yang tinggi namun tidak ada hasil yang menunjukkan berapa dosis optimum yang dibutuhkan tanaman. Penelitian umumnya lebih ke arah membandingkan macam pupuk kandang yang terbaik untuk menghasilkan produksi tertinggi. 3. Topik penelitian tumpangsari masih berorientasi pada membandingkan atau mencari jenis tanaman tumpangsari yang cocok dalam meningkatkan hasil dan pendapatan dengan tidak memberikan kajian yang lebih tajam mengenai aspek fisiologis yang dihubungkan dengan efisiensi penggunaan hara, air maupun cahaya. Dalam topik ini belum ada informasi tentang jarak tanam kubis yang optimum, baik untuk sistem monokrop maupun tumpangsarinya. 4. Kajian topik konservasi tanah masih sangat terbatas baru menyangkut salah satu aspek yaitu cara pengolahan tanah untuk pengendalian erosi. Konsep konservasi tanah untuk menjaga atau mempertahankan kesuburan tanah harus didesain secara holistik dan simultan dengan kajian berbagai aspek menyangkut pengelolaan lahan secara fisik, kimia dan biologi dalam beberapa musim tanam. 5. Informasi penelitian mengenai mulsa, zpt dan pupuk daun juga masih terbatas ditinjau dari jumlah maupun kajian ilmiah menyangkut mekanisme respon tanamannya 6. Topik pengairan untuk tanaman kubis kiranya perlu dilakukan terutama menyangkut efisiensinya 7. Umumnya hasil kubis yang diperoleh terutama pada topik pemupukan menunjukkan hasil yang sangat tinggi sampai mencapai diatas 50 t/ha

Hama Penyakit

Sebaran topik, varietas dan ekosistem penelitian hama penyakit kubis, khususnya yang telah dipublikasikan dari tahun 1982-2004 disajikan pada Tabel 17. Beberapa catatan umum yang dapat ditarik dari Tabel 17 adalah sebagai berikut:

50

1. Topik penelitian hama proporsinya lebih besar dibandingkan dengan penyakit. Penelitian hama mencapai 73%, penyakit 14,6%, nematoda 4,2% dan topik lain 8,2% (48 artikel). Dari topik hama yang dominan diteliti adalah Plutella xylostella, sedang dari penyakit adalah Plasmodiophora brasicae (clubroot/akar gada). 2. Jenis kultivar yang dominan digunakan adalah Gloria Ocena. 3. Ekosistem yang digunakan untuk penelitian kubis adalah dataran tinggi, medium dan rendah. Dari ketiga ekosistem tersebut paling dominan dataran tinggi (90%).
Tabel 17
No . A. 1.

Topik, jumlah artikel, varietas dan ekosistem penelitian hama penyakit kubis, 1982-2004
Σ artikel Ekosistem

Topik HAMA-HAMA KUBIS Plutella xylostella a. Kehilangan hasil b. Pengendalian insektisida kimia

Varietas

Sumber

1 17

Gloria Ocena Green Coronet (4) KK Cross Gloria Ocena (12)

DT DT (17)

Skripsi HPT UNPAD 1985 Bull.Hort.Vol.X/1, Vol.XIX/4, Vol.XX/3, Vol.XXII/3 dan 4, Vol.XXIII/3, Vol.XXVI/1, Vol.XIV/2, Vol.X/106, Vol.XXVI/2, Skripsi FPN UNINUS 1989, Skripsi Akpernas 1981, Skripsi UNBAR 1988, Skripsi UNINUS 1989, Skripsi UNBAR 1989, Skripsi UNINUS 1989, Skripsi UNBAR 1992 Bull.Hort. Vol.XVI/4, Vol. XIII/1, Skripsi Biologi UNPAD 1985, Skripsi HPT UNINUS 1990, Disertasi UNPAD 1987, Skripsi FPN UNINUS 1991 Bull.Hort.Vol.XV/1

c. Pengendalian secara biologi

7

Gloria Ocena

DT (6) DM (1)

d. Pengendalian dengan varietas resisten

1

Myr-3329, Gloria, Michili 70, Ocena, Roton F.1 , Hybrid Conguesh, Gloria Ocena

DT

e. Pengendalian secara kultur teknis 2. Croccidolomia binotalis a. Kehilangan hasil b. Pengendalian insektisida kimia

1

DT

Tesis FPN UNSOED 1986

1 5

KK Cross Green Coronet, Gloria Ocena, Danish

DR DT (5)

J.Hort.Vol.III/2 1993 Bull.Hort.Vol.XV/3 (87), Vol.XXIII/2(92), Vol.III/2 (93), Skripsi FPN UNBAR 1992, Skripsi HPT UNINUS 1992

51

c. Pengendalian secara biologi 3. Agrotis ipsilon Pengendalian insektisida kimia B. 1. NEMATODA

3

KR I Gloria Ocena

DT, DM DR

Bull.Hort.Vol.XXIII/2 (92), Vol.I/4 (95)

1

Gloria ocena

DT

Bull.Hort.XVII/3 (89)

Meloidogyne sp.
a. Kehilangan hasil b. Pengendalian dengan varietas resisten 1 7 Gloria Ocena Gloria Ocena, Green Coronet, KY Cross, KK Cross, Titanga, NS Bross, Nagano, Bruswick DT DT Bull.Hort.Vol.XXIII/2 (92) Bull.Hort.Vol.X/4 (95)

C. 1.

PENYAKIT KUBIS Plasmodiophora brassicae (Clubroot) a. Kehilangan hasil b. Pengendalian secara biologi 7 2 Gloria Ocena DT (3) Bull.Hort.Vol.VI/5 (76), Bull.Hort.Vol.XIX/1 (90), Vol.XXI/2 (91)

2.

Erwinia carotovora (Busuk basah) a. Pengendalian secara kimiawi b. Pengendalian secara kultur teknis 1 King Hibrid DT (2) Bull.Hort.Vol.XVI/1 (88)

1

Yosin

Bull.Hort.Vol.XXV/1 (93)

3.

Peronospora parasitica (Embun bulu) Pengendalian secara Kimiawi 2 R.E. 37, G. Ocena DT (2) Bull.Hort.Vol.IV/4 (76), Vol.XXII/1 (92) Bull.Hort.Vol.XV/4 (87), Media Pen. Sukamandi No. 1 (88) Eugenia Vol.1/4 (95).

D.

RESIDU PESTISIDA

2

Green Coronet, Gloria Ocena

DT (2)

E.

PHT

1

Gloria Ocena, Green Coronet

DM

Jumlah

48

Hasil penelitian per topik tahun 1982-2004 adalah sebagai berikut : A. Hama-hama kubis 1. Pengendalian Plutella xylostella
52

Kehilangan hasil kubis oleh P. xylostella Terjadi interaksi yang positif antar umur tanaman dengan serangan larva

P. xylostella. Semakin muda umur tanaman kubis terserang oleh P. xylostella,
maka semakin tinggi kehilangan hasilnya. Tanaman kubis yang berumur 2 minggu setelah tanam sudah terserang P. xylostella maka kehilangan hasilnya hampir mencapai 100%. • Pengendalian secara kimiawi

Efikasi insektisida - Dari 25 artikel yang menyoroti hama Plutella xylostella dapat dibagi menjadi 5 kelompok topik pengendalian, dan juga paling dominan adalah kegiatan penelitian efikasi insektisida. Adapun insektisida yang diuji dan efektif terhadap P. xylostella adalah Teflubenzuron (2 gr/l), Flufenoksuron (2 gr/l), Klorfluazuron (2 gr/l), Bezsultap (Buncol 50 WP 2 gr/l), Diafenturon (Polo 500 EC 1-2 cc/l), Permetrin (2 cc/l). Dalam efikasi ini, frekwensi penyemprotan insektisida seminggu sekali. Insektisida Ovisida - Insektisida Teflubenzuron (hair formulasi 375 ppm) selain bersifat larvasida juga bersifat ofisida, dapat menenkan penetasan telur sebesar 88,75%. Sinergisme insektisida - Efektifitas insektisida Profenofos, Deltametrin dan Kartop Hydroklorida (3000 ppm) menunjukkan sinergisme terhadap P. xylostella, bila dicampur dengan klorfirifos. Nisbah sinergismenya berturut-turut 2,93 kali, 5,06 kali dan 1,94 kali. Insektisida selektif - Beberapa insektisida kimia yang bersifat selektif, artinya efektif terhadap larva P. xylostella tetapi aman terhadap musuh alaminya (Diadegma eucerophaga), antara lain Sipermethrin, Fenvolerat, Asetat (Ancothene ®75 2 gr/l), Klorfluazuron (Atabron ®50 EC), B. thuringiensis (Bastaspene ® WP, Thuricide ® HP dan Dipel ® WP). Status resistensi hama terhadap insektisida Plutella xylostella strain Lembang dan Pangalengan resisten terhadap Deltametrin, Profenofos dan Bacillus subsp/var. Kurstaki strain HD-7 (pada tahun 2004). P. xylostella strain Kejajar (Dieng) dan Batu resisten terhadap Deltametrin dan Profenofos (pada tahun 2004). P. xylostella strain Berastagi resisten terhadap Bacillus subsp/var. Kurstaki strain HD-7 (pada tahun 2004). P. xylostella strain Lembang telah resisten terhadap Triazofos, Asetat dan Dekametrin, dan tingkat resistensinya berturut-turut 31 kali, 172
53

-

kali dan 267 kali lipat lebih tinggi dibanding Permetrin (pada tahun 1988). Ngengat P. xylostella jantan dan betina strain Lembang dan Pacet telah resisten terhadap Supermetrin dan Fenvalocat dengan relative Toxicity ≥ 10 (pada tahun 1989).

Efisiensi alat semprot Penyemprotan insektisida dengan menggunakan modifikasi “boom sprayer” lebih efisien (66%) dibandingkan “knapsack sprayer”. Penyemprotan insektisida dengan menggunakan sprayer (nozel) kipas Teejet XR 8002 VS, Teejet D6 1102 VS dan Twenjet TJ60.8002 VS lebih efisien (rata 30%) dibandingkan nozel Hollowcone 4 lubang. Ambang Kendali (AK) Aplikasi insektisida B. thuringiensis atau Khlorfluazuron yang berdasarkan pada AK 5 larva 110 tanaman efektif menekan serangan P. xylostella, dan mampu mempertahankan hasil kubis tetap tinggi, serta dapat menghemat penggunaan insektisida sebesar 50% (pada tahun 1991). Aplikasi insektisida B. thuringiensis berdasarkan AK 20 imago jantan/perangkap seks feromon dapat mempertahankan hasil panen kubis sebesar 23,59 ton/ha, dan dapat menghemat penggunaan insektisida. • Pengendalian Secara Biologis

Insektisida asal mikroba - Pengendalian P. xylostella dengan menggunakan insektisida mikroba ratarata efektifitasnya baru terlihat tiga hari setelah aplikasi. - Insektisida mikroba dengan bahan aktif Bacillus thuringiensis (kons. formulasi 50, 100, 500 ppm) efektif terhadap larva P. xylostella. - Insektisida mikroba dengan bahan aktif bakteri Streptomyces avermestylis (Avermestrin 1,8 EC, 18 gr BA/ha) efektif terhadap larva P. xylostella. Insektisida asal nabati - Ekstrak biji nimba dengan konsentrasi formulasi 103 ppm bersifat sebagai antifeedant dan repellen terhadap larva P. xylostella. - Ekstrak daun pacar cina dan daun kirinyuh bersifat toksik terhadap larva P. xylostella, dengan nilai LC50 berturut-turut 0,495% dan 0,389%. Selain bersifat toksik kedua daun tersebut juga bersifat antifeedant dengan nilai penghambatan makan berturut-turut sebesar 41-81% dan 40-75%. Pemanfaatan musuh alami - Parasitoid Diadegma eucerophaga merupakan musuh alami utama hama P. xylostella di daerah sentra kubis dataran tinggi. Dikarenakan: memiliki kemampuan; daerah pancaran yang luas; mampu meregulasi populasi hama P. xylostella dengan tingkat parasitasi 50 larva/hari.

54

-

Pemeliharaan parasitoid D. eucerophaga di dalam kurungan besar (90 x 90 x 90 cm3) dapat meningkatkan parasitasi dan nisbah imago betina dibandingkan dalam kurungan kecil (50 x 50 x 50 cm3).

Pengendalian dengan varietas resisten Beberapa varietas kubis yang resisten terhadap hama P. xylostella adalah Rotan F.1 (kubis putih), Marmer Rocco (kubis merah) dan Cirateun (kubis bunga) (pada tahun 1987).

Pengendalian kultur teknis Tanaman Rape yang ditanam mengelilingi tanaman kubis (sebagai border) dapat berfungsi sebagai tanaman perangkap hama P. xylostella.

2. Pengendalian Croccidolomia binotalis • Kehilangan hasil kubis oleh C. binotalis Kehilangan hasil kubis akibat serangan hama C. binotalis dapat mencapai 65,80%. Pengendalian secara kimiawi

Efikasi insektisida kimia - Beberapa insektisida yang telah diuji efikasinya dan efektif terhadap C. binotalis antara lain : Elson 50 EC (0,2%), Dursban 20 EC (0,2%), Bayrusil 25 EC, Hostation 40 EC, Karphos 25 EC, Lonnate 90 WSP, Phosvel 300 E, Reldan 24 EC, Thuricide 25 EC, Tamaron 200 LC, Khlorfluazuron (0,2%) dan pemberian Magnesium (200 kg/ha). Ambang pengendalian - Nilai ambang kendali hama ulat krop kubis C. binotalis adalah 3 kelompok

telur/10 tanaman, atau 30 larva instar II/10 tanaman. Penggunaan insektisida berdasarkan AP tersebut dapat menghemat pemakaian insektisida sebesar 80-90%, dan dapat mempertahankan hasil sampai 23 ton/ha (pada tahun 1992).
Status resistensi C. binotalis terhadap insektisida - Pada tahun 1993, lama C. binotalis strain Lembang belum menunjukkan

gejala resistensi terhadap insektisida profenofos, permetrin dan BPMC.
• Pengendalian secara biologis

khlorfluazuron,

khlorfirifos,

Insektisida asal mikroba Jamur Metarrhizium anisopliae dengan dasar 1010 spora/ha dapat menekan serangan C. binotalis sampai 53% dan dapat menekan kehilangan hasil/sampai 84%.
55

-

Jamur Fusarium sp dengan kerapatan spora 105-107 dapat menekan populasi hama C. binotalis sampai 68-76%.

Insektisida asal nabati Ekstrak biji bengkuang (0,1%) dapat menurunkan populasi larva C. binotalis instar 2 dan 3 sampai 84%.

3. Pengendalian Agrotis ipsilon • Pengendalian secara kimiawi - Penggunaan Karbaril dengan dosis 8 gr/100g dedak dapat menurunkan populasi A. ipsilon sampai 33,3% dan dapat menekan tingkat kerusakan sampai 10%.

B. Nematoda Dari 48 artikel mengenai hama dan penyakit kubis hanya 2 artikel yang menyoroti tentang nematoda dan jenis nematodanya adalah Meloidogyne spp. • Kehilangan hasil kubis oleh nematoda Kepadatan populasi awal Meloidogyne spp 500 larva/1 kg tanah tidak berpengaruh terhadap penurunan hasil kubis. Pengendalian dengan varietas resisten - Tanaman kubis varietas N.S. Cross tahan terhadap M. incognita maupun M. javanica, sedangkan varietas K.K. Cross hanya tahan terhadap M. javanica. - Varietas Titan 90, Brunswick dan Siuntung agak tahan terhadap M. incognita dan M. javanica.

C. Penyakit Kubis Dari 48 artikel mengenai hama dpenyakit kubis, terdapat artikel yang menyoroti tentang penyakit dan penyakit tersebut adalah Plasmiodophora brassicae, Erwinia caratovora dan Peronospora parasitica. 1. Pengendalian Plasmiodophora brasicae (culbroot) • Pengendalian secara biologi - Pemberian cendawan Mostierella sp yang diikuti dengan pengapuran dapat menekan serangan P. brasicae. - Dedak + glukosa dapat digunakan sebagai media tumbuh Mortierella sp atau Trichoderma sp, yang dapat digunakan untuk mengendalikan P. brasicae.
56

Pengendalian kultur teknis - Drainase dan pengapuran dapat menekan serangan P. brasicae. - Pergiliran tanaman dengan bukan kubis dapat menekan insiden kerusakan kubis oleh P. brasicae.

2. Pengendalian Erwinia sp (busuk lunak) • Pengendalian kultur teknis - Penggunaan mulsa jerami padi pada pertanaman kubis dapat menekan serangan Erwinia sp sampai 39,4%. Pengendalian pada pasca panen - Perlakuan dengan silicagel 100% atau larutan tawas 30% dapat menekan pembusukan oleh Erwinia sp.

3. Pengendalian Peronospora parasitica • Pengendalian secara kimiawi Efikasi fungisida - Fungisida yang diuji efikasinya dan efektif terhadap P. parasitica antara lain : Antracol, Polyram, Combi, Manzate 200 dan Vandozeb. - Perlakuan fungisida dengan cara disemprotkan pada kecambah lebih baik daripada ke medium pada waktu akan semai. • Pengendalian kultur teknis Penggunaan media semai dengan tanah sub soil + pasir + kompos (1:1:1) dan dipupuk NPK, efektif untuk mengendalikan P. parasitica di pesemaian.

D. Residu Pestisida Sayuran kubis yang dihasilkan dari Lembang, Pangalengan dan Cisurupan (Garut) mengandung residu pestisida Supermetrin (0,20 ppm), Dekametrin (0,10 ppm), Permetrin (0,10 ppm) dan Profenofos (0,41 ppm) (pada tahun 1988). E. Pengendalian Hama Terpadu pada Kubis • • • Penerapan PHT telah dilaksanakan antara lain di Kecamatan Tomohon, Lab. Minahasa, Sulawesi Utara. Penerapan PHT tersebut didahului dengan kegiatan sekolah lapang (SLPHT), dan berjalan dengan lancar atau baik. Komponen pengendalian yang dipadukan dalam penerapan PHT tersebut adalah :
57

-

-

-

secara biologi yaitu pelepasan parasitoid Diadegma eucerophaga. Dari pelepasan tersebut tingkat parasitoid telah mencapai 80%, berarti parasitoid tersebut telah mapan. Pengendlaian kultur teknis yaitu dengan penanaman rope (Brassica campestris) sebagai border untuk perangkap hama P. xylostella. Pemasangan perangkap imago jantan (sex feromone) mendpaat respon yang baik dari ngengat P. xylostella jantan sehingga banyak yang tertangkap. Pengendalian secara kimiawi dengan berdasarkan : 1. Penggunaan insektisida yang selektif (dengan dosis rekomendasi : contoh insektisida selektif antara lain, klorfluazuron (Ataboon ® 50 EC) dan B. thuringiensis (Bastospend ® WP, Thuricide ® HP, dan Dipel ® WP). 2. Aplikasi insektisida didasarkan pada ambang pengendalian : AP. P. xylostella adalah 3 larva/10 tanaman contoh. AP. C. binotalis adalah 3 kelompok telur/10 tanaman contoh. Pengendalian

Dengan penerapan PHT tersebut dapat menghemat pestisida sebesar 50% dan hasil panen kubis mencapai 21.5 ton/ha.

Pasca Panen

Catatan umum penelitian pasca panen kubis dalam kurun waktu 1980-2002: 1. Pada teknik prapanen belum ditemukan teknologi yang dapat mempercepat atau memperlambat waktu/umur panen. Hal ini akan sangat bermanfaat dalam mendukung kontinuitas supplai dan pengendalian fluktuasi harga. 2. Umur panen akan sangat tergantung kepada varietas, musim tanam, kesuburan tanah dan teknik budidaya. Kriteria panen yang sudah lazim digunakan oleh petani dan layak menurut hasil penelitian yaitu krop sudah kompak, daun tua agak menguning, bagian atas krop agak menonjol dengan kisaran umur tanaman 85-100 hari setelah tanam. 3. Teknik penanganan hasil yang dianggap kritis dan mempunyai andil besar dalam kehilangan hasil adalah penanganan pra pengemasan dan pengangkutan. Pengapuran pangkal krop, baik dengan semen putih, tawas dan silikagell memberikan pengaruh baik terhadap penekanan busuk lunak. Kerusakan hasil akibat pengangkutan antar kota tidak terlalu tinggi sementara dalam pengangkutan antar pulau bisa mencapai 80% terutama musim hujan. 4. Potensi diversifikasi produk dan teknologi pengolahan kubis sangat terbatas. Permintaan dan pemanfaatan saat ini lebih kepada produk segar, baik untuk konsumsi domestik maupun ekspor.

58

Tabel 18 No. 1.

Topik dan varietas penelitian pasca panen, 1982-2004 Varietas King Hybrid Hasil/Sumber • Perlakuan pemutaran tanaman 90o sebelum panen dapat mempertahankan berat krop kubis dengan tingkat kerusakan dan susut bobot terendah masing-masing 1,70 % dan 4,26% (Hortikultura, No. 25 – 1989) • Cara pengolahan tanah sempurna dan tumpangsari kubis + kacang jogo, baik secara parsial maupun kombinasi keduanya menghasilkan kubis dengan mutu dan daya simpan terbaik. (LHP TA 1999/2000) • Di dataran tinggi kubis dapat dipanen pada umur 80 –95 HST, dengan berat individu krop 896,21 – 1996,70 g; diameter 17,4 – 22,4 cm; tinggi 10,3 – 11,7 cm; PTT 4,6 – 4,9 %Brix; dan kekerasan 22,2 – 29,4 pond/cm2 . (J.Hort. vol 6(5) 1997). • Penanganan hasil kubis sejak panen sampai distribusi umumnya dilakukan oleh pedagang. • Titik kritis dalam penanganan pascapanen kubis adalah pra pengemasan dan pengangkutan. • Hasil survai ke Pontianak-Kalbar menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan kubis di Kalbar seluruhnya berasal dari Jawa Barat dengan volume 200 ton/bulan dengan frekwensi pengiriman 2 hari sekali (Pros. Sem. Ilmiah Nas. Sayuran. 1995). • Hasil pengamatan sifat kimia kubis adalah: kadar air kubis berkisar antara 91,78% 93,55%; kadar serat 0,66 – 3,82%; bahan kering 6,45 – 7,52%; PTT 5,00 – 6,85 %Brix; Vit.C 9,62 –12,11 mg/100 g). (BPH. Vol XVI (4) 1988). • Hasil pengamatan sifat fisik kubis: diameter 16,83–20,46 cm; tinggi 14,26–17,74 cm; berat per krop 1755–2180 g; kepadatan 13,16–22,09 kg/cm2; ketebalan daun 0,52–1,03 mm. (BPH. Vol XVI (2) 1988). • Hasil pengamatan terhadap beberapa varietas kubis lainnya diperoleh keragaan sifat fisikokimia berikut: kadar air 86-93%; kadar serat 4,086,66%; PTT 2,10 – 6,89; Dilihat dari sifat kepadatan dan tebal daun serta kualitasnya diperoleh 9 varietas yang berpotensi baik untuk ketahanan dalam pengangkutan, yaitu: Hinova, 2016 A, Oscar, Hitoma, 2017, L.F. Dutch, N.S. Cross; King Hybrid; dan Predena. (Hortikultura. No 10-1980).

Topik Prapanen

2.

Panen

KR-1

3.

Pengangkutan

-

4.

Quality Control

-

-

59

• Hasil analisis residu pestisida diperoleh data seperti berikut: Kadar residu pestisida terbesar pada daun kubis limbah pertanian (0,144 mg/kg), limbah rumah tangga (0,131 mg/kg) dan pada krop (0,125 mg/kg). Dengan demikian dapat dilihat bahwa semakin ke dalam residu semakin rendah. Sedangkan perlakuan pascapanen seperti pencucian dan perebusan juga berdampak kepada penurunan residu. (MI-UNSUD. No. 5 – 1999). • Dari hasil pengamatan terhadap kualitas kubis introduksi diperoleh dua varietas yang secara berurutan mempunyai kualitas expor yaitu Summit 637 dan KR-1. (J.Hort. Vol 5(1) 1995). 5. Pengapuran King Hybrid • Perlakuan dengan Silikagel 100% dan tawas 30% setelah 4 jam panen dengan mengoleskan pada pangkal krop, kemudian dianginkan pada rak bambu selama 1 malam memberikan pengaruh baik dalam menekan busuk lunak kubis. (BPH. Vol. XVI (1) 1988). • Kimchi yang mempunyai rasa cukup baik, mengandung total asam sebagai asam laktat 0,8 – 1,3%, pH 4,0 – 4,2 dihasilkan oleh penambahan garam 2 – 4% dengan fermentasi 3 – 6 hari di Jakarta dan 9 hari di Lembang. Rasa kimchi yang di fermentasi di Lembang lebih enak dibandingkan dengan yang difermentasi di Jakarta. (LHP- BPH 1982/1983). • Kombinasi perlakuan blansing media air pada suhu 80 –90oC selama 15 menit dengan jarak rak selang 2 (± 15 cm) memberikan mutu kubis kering terbaik. Namun warna agak coklat dan kapasitas oven jadi lebih rendah. (LHP-Balitsa TA 2000). • Kombinasi suhu pengering 50oC dengan lama pengeringan 27 jam, dan suhu 60oC dengan lama pengeringan 22 jam memberikan tingkat rehidrasi paling tinggi dan kualitas kubis kering terbaik. (LHP-Balitsa TA 1999/2000). • Kombinasi perlkuan asam askorbat 0,02% dan jenis kemasan aluminium foil dapat mempertahankan kubis kering selama 3 bulan penyimpanan dengan kondisi sifat fisikokimia seperti berikut: kadar air 12,67%, Vitamin C 174 mg/g dan warna relatif masih dapat dipertahankan dengan skor nilai 1,33 dan aroma yang masih normal.

6.

Olahan

-

60

Agro Ekonomi

Tabel 19 memperlihatkan sebaran topik serta ekosistem pada penelitian agroekonomi selama kurun waktu 1984-2004. Beberapa catatan umum yang dapat ditarik dari Tabel 19 adalah sebagai berikut: • Topik penelitian ekonomi produksi proporsinya lebih dominan dibandingan dengan topik penelitian agro-ekonomi lainnya. • Ekosistem yang digunakan untuk penelitian kubis seluruhnya dataran tinggi (5).
Tabel 19 No. 1. Topik dan ekosistem penelitian agroekonomi kubis 1984-2004. Topik Studi ekonomi produksi Jlh. Laporan./ Artikel 4 Ekosistem dt (4) Sumber BPH XI (4): 20-25; BPH XII (4): 8-18; BPH XXII (3): 90-98; BPH XXVII (4): 34-39 JH 7 (3) : 840-851

3.

Studi pemasaran dan analisis harga

1

dt (1)

Keterangan : dt = dataran tinggi BPH = Buletin Penelitian Hortikultura JH = Jurnal Hortikultura

Tabel 20 No. 1.

Hasil penelitian agroekonomi kubis 1984-2004. Varietas • Hasil/Sumber Secara teknis, penggunaan tenaga kerja (tanpa disiang, penyiangan dengan tangan dan penggunaan herbisida/Goal 2 E) pada usahatani kubis di Lembang tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap produksi. Sementara itu secara ekonomis, penggunaan herbisida Goal 2 E dan pestisida Tamaron 200 L merupakan alternatif investasi yang paling menguntungkan, yaitu yang ditunjukkan oleh tingkat pengembalian marjinalnya yangtertinggi (2256 %). Pada usahatani kubis di Lembang yang ditumpangsarikan dengan tanaman tomat, kacang jogo dan bawang daun (tanaman sampingan/ catch crop), secara teknis tidak berpengaruh nyata terhadap produksi tanaman utama (main crop) kubis. Secara ekonomis kombinasi tanaman kubis + bawang daun merupakan alternatif terbaik yang memberikan keuntungan/pendapatan bersih tertinggi dengan tingkat pengembalian marjinal paling tinggi (135,6 %) dibandingkan dengan kombinasi lainnya. Bila dikaji dari segi produktivitas tanah yang 61

Topik Studi ekonomi produksi

Ocena

-

dihitung berdasarkan nisbah kesetaraan (NKT/LER = land equipment ratio), ternyata kombi-nasi tanaman kubis + tomat memberikan NKT yang paling tinggi (2,01). Komposisi biaya usahatani kubis di Solok, Sumatera Barat (1998) menunjukkan bahwa, komponen biaya tenaga kerja menempati urutan tertinggi (25,8 %), diikuti pestisida (16,7 %), pupuk (15,4 %), biaya lain-lain (14,4 %) dan biaya bibit (10,7%). Dengan tingkat produksi yang cukup tinggi (28,3 t/ha) dan nilai produksi Rp. 2.405.500, maka tingkat keuntungan yang dapat diterima petani cukup tinggi, yaitu Rp. 1.431.852 (R/C ratio = 2,47). Produktivitas usahatani kubis di daerah ini ternyata masih belum optimal, peningkatan produksi masih dapat diusahakan dengan meningkat-kan penggunaan pupuk, luas lahan garapan dan tenaga kerja. Ditinjau dari segi penggunaan inputnya, usahatani kubis di daerah Pangalengan, Bandung masih belum efisien. Secara nyata produksi masih dapat ditingkatkan dengan menam-bah penggunaan pupuk ZA dan KCl. Dalam periode 1985-1995, terdapat indikasi bahwa marjin tataniaga riil dan nominal kubis di Jawa Barat dan Sumatera Utara terus menunjukkan peningkatan. Namun demikian, marjin tataniaga riil dan nominal kubis di Jawa Barat lebih tinggi dibandingkan dengan Sumatera Utara. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir (1985-1995), bagian petani relatif lebih stabil dibandingkan dengan marjin tataniaga. Semakin tinggi nilai ekonomis suatu komoditas, semakin tinggi pula bagian yang diterima petani. Semakin tinggi marjin tataniaga, semakin rendah bagian petani dari harga yang dibayarkan konsumen. Perbandingan koefisien variasi marjin tataniaga, harga produsen dan harga konsumen mengindikasikan bahwa dalam jangka pendek, mekanisme pasar cenderung mendorong stabilitas harga di tingkat konsumen. Sementara itu, jika ditinjau dari sisi produksi kubis (Jawa Barat dan Sumatera Utara), mekanisme pasar cenderung lebih mendorong stabilitas marjin tataniaga dibandingkan dengan harga di tingkat produsen. Dalam usaha perbaikan sistem pema-saran perlu lebih ditekankan untuk memecahkan masalah ketidakstabilan atau tingginya variasi harga di tingkat produsen.

-

2.

Studi pemasaran dan analisis harga

-

62

Catatan Umum 1. Informasi mengenai sosial ekonomi kubis masih sangat terbatas. Dalam kurun waktu 1984-2004 (20 tahun), studi sosial ekonomi kubis yang dapat dikumpulkan hanya 5 buah artikel (4 buah artikel studi ekonomi produksi dan 1 buah artikel studi pemasaran dan analisis harga). 2. Informasi studi ekonomi produksi sudah relatif lama (terakhir tahun 1994) dan mengingat perkembangan perubahan yang terjadi dalam satu dasawarsa terakhir yang cukup signifikan, maka dirasa perlu untuk segera memperbaharuhi datadata tersebut melalui kegiatan-kegiatan penelitian pada masa yang akan datang. 3. Mengingat komoditas kubis memiliki nilai ekonomi yang relatif tinggi dan banyak diminati serta ditanam petani, maka pada tahun-tahun mendatang dirasa sangat perlu untuk memperbanyak penelitian sosial ekonomi kubis yang menyangkut berbagai aspek, yaitu mulai dari studi produksi, pemasaran hingga studi konsumen (selera pasar). IX. Kendala pengembangan kubis dari sisi tekno-sosio-ekonomis

Analisis data tahunan produksi dan areal tanam kubis mencakup periode waktu 1970-2003 menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan rata-rata produksi kubis di Indonesia cenderung menurun sebesar 0.5% (0.005). Tingkat pertumbuhan produksi rata-rata kubis (meningkat/menurun) pada dasarnya dapat dipilah ke dalam pertumbuhan yang disebabkan oleh peningkatan/penurunan areal tanam dan peningkatan/penurunan produktivitas. Kontribusi peningkatan dari komponen areal tanam dan produktivitas terhadap pertumbuhan produksi kubis secara berturut-turut adalah (-) 2.3% dan 1,8%. Dengan demikian, sumber dominan yang menyebabkan penurunan produksi kubis selama periode 1970-2003 adalah penurunan areal tanam. Lebih jauh lagi, keragaman areal tanam menunjukkan kontribusi yang lebih tinggi terhadap ketidak-stabilan produksi sayuran secara umum, dibandingkan dengan keragaman produktivitas. Pola pertumbuhan produksi (negative) yang didominasi oleh penurunan areal tanam (kontribusi penurunan areal tanam lebih besar dibandingkan dengan kontribusi peningkatan produktivitas), mengindikasikan beberapa kendala pengembangan sebagai berikut: • Inovasi teknologi/penelitian yang ada belum dapat memacu pertumbuhan produksi berbasis peningkatan produktivitas. Salah satu diantaranya adalah belum adanya varietas baru kubis (local) yang dikategorikan lebih unggul daripada yang telah banyak digunakan di tingkat petani. • Komponen teknologi budidaya yang tersedia secara umum belum dapat memacu peningkatan produktivitas kubis. • Program penyuluhan, terutama dikaitkan dengan proses alih teknologi di tingkat petani, belum berjalan secara optimal.

63

Keragaman areal tanam menunjukkan kontribusi yang lebih tinggi terhadap ketidak-stabilan produksi kubis secara umum, dibandingkan dengan keragaman produktivitas. Dengan demikian, probabilitas terjadinya fluktuasi pasokan relatif lebih tinggi.

Komparasi dengan beberapa negara di Asia (Cina, Singapura) mengindikasikan bahwa konsumsi kubis di Indonesia masih jauh dari titik saturasi. Pertumbuhan konsumsi kubis per kapita juga dipengaruhi oleh harga relatif, ketersediaan bahan substitusi, selera, preferensi serta berbagai faktor demografis dan kultural. Dari sisi konsumsi, diversifikasi pemanfaatan yang relatif masih rendah dan terbatas pada perkembangan permintaan kubis relatif lambat. Hal ini pada gilirannya dapat pemanfaatan untuk pangan (bahkan bukan bahan pangan pokok) menyebabkan dikategorikan sebagai salah satu faktor pembatas pengembangan produksi kubis di Indonesia. Indikator bagian petani (farmer's share) sebesar 75% dari harga eceran serta minimalnya campur tangan (pasar) pemerintah, memberikan gambaran bahwa struktur pasar domestik kubis dapat dikategorikan bersaing sempurna dan keragaannya cukup efisien. Namun demikian, hal ini tampaknya tidak terjadi pada ekspor-impor kubis. Data perdagangan (ekspor-impor) kubis menunjukkan bahwa Indonesia masih merupakan net exporter dari sisi volume maupun nilainya. Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa unit biaya per kilogram kubis yang harus dikeluarkan untuk ekspor dan impor selalu meningkat dari tahun ke tahun, namun biaya/kg untuk kubis impor selalu lebih tinggi dibandingkan dengan biaya/kg untuk kubis ekspor. Dugaan bahwa kubis Indonesia kebersaingannya (competitiveness) semakin menurun perlu mendapat klarifikasi lebih lanjut. Variasi harga kubis di tingkat pedagang besar secara umum lebih rendah dibandingkan dengan variasi marjin tataniaga dan variasi harga di tingkat sentra produksi. Hal ini menunjukkan bahwa dalam jangka pendek pasar cenderung beroperasi untuk mempertahankan stabilitas harga kubis di tingkat pedagang besar. Indikasi ini memberikan penekanan perlunya perbaikan pengelolaan rantai pasokan kubis di Jawa Barat yang lebih memberikan perhatian terhadap upaya memecahkan instabilitas harga yang cukup tinggi di tingkat sentra produksi. Selama periode 2001-2003, di tingkat sentra produksi maupun grosir/pedagang besar, harga kubis terendah terjadi pada bulan Agustus, sedangkan harga kubis tertinggi tercapai pada bulan April. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun kubis pada dasarnya dapat ditanam sepanjang tahun pola perilaku harga kubis secara eksplisit menunjukkan adanya pola musiman penanaman dan penawaran kubis (peak and low season). Sampai saat ini, hama penyakit masih merupakan kendala biotis utama produksi kubis, karena dapat menyebabkan kehilangan hasil dengan kisaran 25-90%. Kendala biotis penting pada kubis diantaranya penyakit busuk hitam (Xanthomonas campestris Dows.); busuk lunak (Erwinia carotovora Holland.); akar bengkak atau
64

akar pekuk (Plasmodiophora brassicae Wor.) dan bercak hitam (Alternaria sp.) serta hama ulat Plutella (Plutella xylostella L.); ulat croci (Crocidolomia binotalis Zeller); ulat tanah (Agrotis ipsilon Hufn); kutu daun (Aphis brassicae) dan cengkerik atau gangsir (Gryllus mitratus dan Brachytrypes portentosus). Intensitas penggunaan input yang tinggi pada penanaman kubis menyebabkan usahatani ini dikategorikan sebagai jenis usaha berbiaya tinggi. Intensitas penggunaan input tinggi, terutama pestisida, bahkan tidak saja berimplikasi terhadap tingginya biaya usahatani (tingkat kebersaingan produk), tetapi juga terhadap semakin terganggunya keseimbangan ekosistem.

X. Prospek, kebijakan dan strategi pengembangan

Berbagai indikator di atas (pertumbuhan produksi, konsumsi, stabilitas harga dan kelayakan finansial) memberikan gambaran bahwa prospek pengembangan komoditas kubis di Indonesia masih cukup baik. Gambaran tersebut secara implisit juga menunjukkan bahwa prospek peranan kubis dalam sistem pangan Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor dan perubahan demografis, ekonomi, politis serta lingkungan. Beberapa faktor penentu utama diantaranya adalah pertumbuhan penduduk, tingkat urbanisasi, tingkat pendapatan serta penurunan/ peningkatan daya beli konsumen. Perlu pula diperhatikan bahwa perubahan diet, liberalisasi pasar dan perdagangan serta tekanan/proteksi terhadap basis sumberdaya alam juga akan mempengaruhi penawaran dan permintaan kubis di masa depan. Berbagai perubahan ini cenderung mendorong produsen dan konsumen untuk memproduksi dan mengkonsumsi lebih banyak kubis dengan cara, utilisasi dan penggunaan teknologi baru. Sejak awal dibudidayakan, kubis sebagian besar ditanam di daerah atau ekosistem dataran tinggi. Kendala utama peningkatan produksi kubis di tingkat usahatani adalah penurunan kesuburan tanah, serangan hama penyakit serta ketergantungan terhadap benih impor. Oleh karena itu, isu penting yang perlu diantisipasi berkenaan dengan strategi pengembangan kubis adalah aspek keberlanjutan usahatani secara keseluruhan. Perlu penelitian interdisiplin berupa studi dampak pengelolaan intensif usahatani kubis terhadap sustainabilitas ekosistem, terutama dataran tinggi. Beberapa topik penelitian yang juga perlu dipertimbangkan diantaranya adalah status kesuburan tanah dan pola tanam, status hama penyakit, preferensi petani terhadap varietas, bahkan kelayakan pengembangan kentang berdasarkan pendekatan ekstensifikasi. Keterbatasan lahan untuk ekspansi serta ekspektasi tinggi untuk meningkatkan produktivitas cenderung mengarah pada penggunaan input, terutama pupuk dan pestisida, secara berlebih. Hal ini pada gilirannya telah meningkatkan biaya produksi dan mengurangi kebersaingan komoditas kubis, terutama untuk pasar ekspor. Sementara itu, observasi lapang mengindikasikan bahwa rekomendasi PHT kubis masih belum banyak diadopsi petani, karena risiko kehilangan hasil dari teknologi tersebut

65

masih dipersepsi tinggi. Oleh karena itu, kaji ulang untuk berbagai teknologi kubis perlu dilakukan sebagai bahan masukan untuk program pengembangan. Beberapa usulan kebijakan dan strategi pengembangan yang bersifat generik dapat dikemukakan sebagai berikut: a. Perlu dipertimbangkan pelaksanaan studi dampak berkenaan dengan teknologi usahatani kubis yang ada sekarang terhadap status kesuburan tanah, hama penyakit dan sistem pertanaman atau sistem usahatani untuk mendapatkan assessment apakah teknologi yang ada cenderung lebih memberikan solusi atau justru lebih menimbulkan masalah. Penelitian dan pengembangan komoditas kubis perlu diarahkan untuk menciptakan teknologi tepat guna yang memiliki karakteristik sebagai pengurang tingkat risiko. Secara implisit, hal ini juga mencakup teknologi yang menghasilkan output di bawah tingkat produksi maksimal dan bertumpu pada pemanfaatan proses biologis serta sumberdaya yang renewable. Penataan kelembagaan dan kebijakan yang diarahkan untuk memberikan fasilitas kredit serta memperbaiki sistem pemasaran merupakan langkah penting yang perlu segera diinisiasi agar keragaan dan efektivitas pengembangan kubis dapat terus ditingkatkan. Dalam rangka memperlambat degradasi lingkungan di dataran tinggi, berbagai komponen teknologi yang mengarah pada integrated crop management (teknologi yang mempertimbangkan sensitivitas lingkungan, viabilitas ekonomis, pendekatan keseluruhan usahatani, teknologi moderen, efifiensi penggunaan input, produk berkualitas sesuai kebutuhan konsumen dan strategi jangka panjang) perlu lebih dipacu perancangannya. Komponen teknologi tersebut perlu pula didukung oleh kebijakan pemerintah yang jelas menyangkut pemanfaatan dan pengelolaan ekosistem dataran tinggi. Disamping itu, berbagai kemungkinan pengembangan kubis ke dataran medium/rendah juga perlu dijajagi kembali kelayakan teknis, ekonomis dan sosialnya secara lebih komprehensif. Keragaan pasar kubis dengan segala permasalahannya perlu mendapat perhatian yang lebih besar dari pemerintah. Dalam hal ini, pemerintah perlu terus didorong untuk memfasilitasi pasar persaingan sempurna (melalui penerbitan regulasi pasar standar, pemberian jasa informasi pasar serta perbaikan infrastruktur pasar). Khusus untuk pasar ekspor, kebersaingan kubis Indonesia dalam jangka panjang perlu ditingkatkan melalui upaya pengurangan biaya produksi.

b.

c.

d.

Daftar Pustaka Bisaliah, S. 1986. Soybean development in India: A methodological frame. In CGPRT. Socio-economic research on food legumes and coarse grains: Methodological issues. CGPRT No. 4. Bogor, Indonesia.
66

Colman, D & Young, T. 1989. Principles of agricultural economics: Markets and prices in less developed countries. Cambridge University Press, Great Britain. Dillon, J. L. & Hardaker, J. B. 1980. Farm management research for small farmer development. Food and Agriculture Organization Agricultural Services Bulletin, Rome. Hazell, P. B. R. 1984. Sources of increased instability in Indian and US cereal production. Amer. J. of Agr. Econ., 66(2): 302-311.
Pustaka penelitian agronomi kubis No 1. Nama Penulis A. Darwin Harahap, P. Nainggolan dan DJ. Sinaga A. Wasito Tahun 1996 Judul Pola tanam tumpangsari pada tanaman kubis Penggunaan pupuk majemuk nitrofosfat pada tanaman kubis kultivar Gloria Osena Pengaruh susunan barisan pada tumpangsari kubis terhadap produksi dan pendapatan bersih Pengaruh tumpangsari tomat, ercis dan kubis terhadap hasil dan produktivitas lahan Respon tanaman kubis terhadap dosis dan cara aplikasi dolomit Pengaruh organic soil treatment (OST) pada tanaman kubis Pengaruh pemupukan N, P dan K terhadap pertumbuhan dan hasil kubis varietas Osena dan Konstanta Pemberian pupuk Nitrogen dan mulsa pada tanaman kubis di dataran rendah Pengaruh macam pupuk nitrogen terhadap pertumbuhan dan hasil kubis varietas Osena Pengaruh dosis dan waktu aplikasi pupuk nitrogen dalam pemupukan berimbang terhadap pertumbuhan dan hasil kubis Perbaikan kultur teknis pada sistem pertanaman sayuran dataran tinggi untuk pengendalian erosi Perbaikan kultur teknis pada sistem pertanaman sayuran dataran tinggi untuk pengendalian degradasi lahan Pengaruh zat pengatur tumbuh terhadap perakaran, pertumbuhan, Sumber J. Hort. 6 (3): 255 - 262 Bul. Penel. Hort. 25 (4): 15-21 J. Hort. 4 (2): 66-72 Bul. Penel. Hort. 22 (3): 38-44 Bul. Penel. Hort. 27 (1): 27-34 Bul. Penel. Hort. 27 (3): 31-38 Bul. Penel. Hort. 9 (5),: 25-32 Bul. Penel. Hort.17 (3),: 99-107 Bul. Penel. Hort. 17 (1),: 1-4 Bul. Penel. Hort. 27 (2),: 17-27 LHP Balitsa

2.

1993

3.

F. Silalahi

1992

4.

F. Silalahi

1992

5.

Holil Sutapradja dan Y. Hilman Loso Winarto dan M. Samin Nani Sumarni

1994

6.

1995

7.

1982

8.

Nikardi Gunadi dan A ziz A. Asandhi Nunung Nurtika

1989

9.

1988

10

Nunung Nurtika, E. Koeswara dan Mastur

1995

11.

12.

Rini Rosliani, N. Gunadi, N. Sumarni, A. Hidayat dan I. Sulastrini Rini Rosliani, N. Gunadi, N. Sumarni, A. Hidayat dan I. Sulastrini S. Simatupang

2001

2002

LHP Balitsa

13.

1995

J. Hort. 5 (3): 16-19 67

14.

Subhan

1987

15.

Subhan

1988

16.

Subhan

1988

17.

Subhan

1989

18.

Subhan

1989

dan hasil krop stek tunas kubis Pengaruh macam dan dosis pupuk organik terhadap hasil kubis kultivar Gloria Osena Pengaruh penambahan pupuk P dan Mg dalam kompos terhadap pertumbuhan vegetatif dan hasil tanaman kubis varietas Ocena Pengaruh pupuk bahan-bahan organik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kubis Pengaruh mulsa dan waktu pemberian pupuk N terhadap pertumbuhan dan hasil kubis varietas KK Cross di dat. rendah Uji banding pemakaian kompos jagung, kompos jerami, dan pupuk kandang domba terhadap hasil kubis kultivar Gloria Osena Pengaruh pemberian pupuk P dan K terhadap pertumbuhan dan hasil kubis kultivar Green Coronet Pengaruh dosis dan cara pemberian pupuk majemuk NPK (15-15-15) terhadap pertumbuhan dan hasil kubis kultivar Green Coronet Pengaruh pupuk fosfat dan dolomit terhadap pertumbuhan dan hasil kubis dataran tinggi kultivar Green Coronet Pengaruh dosis fosfat dan mulsa terhadap pertumbuhan vegetatif dan hasil kubis kultivar KK-Cross Pengaruh tumpangsari kubis-tomat dan penyiangan terhadap komunitas gulma dan serangga Pengaruh pupuk biokimia “sari humus” pada tanaman kubis Pengaruh pupuk organik Tress terhadap mutu dan produksi kubis Pengaruh dosis bermacam-macam pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan produksi kubis Upaya pengendalian gulma dengan berbagai jenis herbisida dan secara manual pada budidaya kubis Dosis dan waktu aplikasi pupuk daun Wokozim Crop Plus pada tanaman kubis kultivar Gloria Ocena Percobaan efikasi herbisida pra tumbuh Goal 2 E pada pertanaman kubis

Bul. Penel. Hort. 15 (1: 617 Bul. Penel. Hort. 16 (2),:74-79 Bul. Penel. Hort. 16 (4),: 37-41 Bul. Penel. Hort.17 (3),: 53-62 Bul. Penel. Hort 27 (4): 80-91

19.

Subhan

1992

20

Subhan

1993

Bul. Penel. Hort. 24 (1): 129-140 Bul. Penel. Hort 25 (4): 103-118

21.

Subhan

1994

Bul. Penel. Hort 26 (2): 15-24

22.

Subhan dan Agus Sumarna Sudarwohadi S., Z. Abidin, F. A. Bahar dan A. Ramlan Suwandi dan Nunung Nurtika T. Sembiring, F. Silalahi dan E. Bangun Wardjito, Z. Abidin dan Suwahyo Wardjito dan Zainal Abidin Y. Hilman, A.A. Asandhi dan E. Sumiati Zainal Abidin

1994

Bul. Penel. Hort 27 (1): 1-11 Bul. Penel. Hort 27 (4): 93-102 Bul. Penel. Hort. 15 (2): 213-218 Bul. Penel. Hort. 23 (2),: 127-133 Bul. Penel. Hort 26 (3): 37-42 Bul. Penel. Hort 27 (1): 41-47 Bul. Penel. Hort. 19 (1): 55-66 Bul. Penel. Hort. 12 (2):2026

23.

1995

24.

1987

25.

1992

26.

1994

27.

1994

28.

1990

29.

1985

68

Pustaka penelitian hama penyakit kubis No . Judul Penulis Publikasi/Th. Volume/Hal

HAMA
A. 1. Plutella xylostella Pengaruh umur tanaman kubis (Brassica oleraceae L.) dan tingkat populasi larva (Plutella xylostella Linn) terhadap tingkat kerusakan dan hasil panen kubis. Pengaruh beberapa insektisida terhadap hama ulat daun kubis dan parasitoid (Diadegma eucerophaga). Efikasi Teflubenzuron, Flufenoxuron dan Chlorfluazuron terhadap hama Plutella xylostela L. dan Croccidolomia binotalis Zell.) pada tanaman kubis Pengaruh banyaknya aplikasi insektisida Permetrin terhadap keperidian Plutella xylostella L. pada tanaman kubis di laboratorium. Emma Agustien Hasyim Skripsi Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan. FPN UNPAD. Th. 1985 Buletin Penelitian Hortikultura Th. 1983 Buletin Penelitian Hortikultura Th. 1990 110 hal

2.

Sudarwohadi S. Tonnny K. Moekasan Rustaman, E.S. Duskarno

Vol. X No. 1 Hal : 21-30

3.

Vol XIX No. 4 Hal : 117-123

4.

Haeruman Selamet

5.

6.

7.

Efektivitas insektisida Teflubenzuron terhadap telur, larva dan imago Plutella xylostella L. (Lepidoptera : Yponomeutidae) di laboratorium. Efisiensi dan efektivitas modifikasi alat semprot “Boom Sprayer” dalam pengendalian hama Plutella xylostela L. (Lepidoptera : Yponomeutidae) pada tanaman kubis. Pengaruh konsentrasi insektisida asetat terhadap serangan beberapa jenis hama kubis dan tingkat parasitasi

Am Am Gilang Yatmaha

Skripsi Jurusan Hortikultura Akademi Pertanian Nasional Yayasan Pembina Pendidikan Pertanian Bandung. Th. 1986 Skripsi FPN Univ. Bandung Raya Th. 1989

59 hal

51 hal

Purnomo Dwi Sasongko

Skripsi Jurusan Ilmu Hama dan Penyakit. FPN UNINUS Bandung. Th. 1989

64 hal

Sutiana

Skripsi FPN Univ. Bandung Raya Th. 1992

68 hal

Diadegma semiclausum
8. Hellen. Kemangkusan insektisida Diafentiuron (Polo 500 EC) terhadap kerusakan daun Plutella xylostella L. dan Croccidolomia binotalis Zell pada tanaman kubis. Kemangkusan Bensultap 50 Tinny S. Uhan Buletin Penelitian Hortikultura Th. 1992 Vol. XXII No. 4 Hal : 56-62

9.

Laksanawati

Buletin Penelitian

Vol. XXIII No. 3

69

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

WP (Panol) terhadap laju serangan Plutella xylostella L. dan Croccidolomia binotalis Zell pada tanaman kubis. Sinergisme insektisida klorpirifos dan beberapa insektisida serta PB terhadap larva Plutella xylostella L. Ambang kendali ulat daun kubis (Plutella xylostella L.) pada tanaman kubis. Efisiensi penggunaan insektisida pada tanaman kubis berdasarkan hasil tangkapan ngengat Plutella xylostella L. dengan seks feromon Px dan perangkap kuning. Telaahan ambang kendali hama Plutella xylostella L. pada tanaman kubis. Status resistensi Plutella xylostella L. (Lepidoptera : Yponomeutidae) strain Lembang terhadap beebrapa jenis insektisida golongan organofosfor, piretroid sintetik dan benzoil urea. Resistensi ngengat Plutella xylostella L. (Lepidoptera : Yponomeutidae) strain Lembang dan Pacet terhadap beberapa jenis insektisida piretroid sintetik. Status resistensi lima strain Plutella xylostella L. terhadap formulasi fipronil, delbametrin, profenofos, abamektin dan Bacillus thuringiensis. Penggunaan bakteri

H.D. Mastur Suparman Tinny S. Uhan Ineu Sulastrini

Hortikultura Th. 1992

Hal : 49-56

Buletin Penelitian Hortikultura Th. 1993 Buletin Penelitian Hortikultura Th. 1991 Buletin Penelitian Hortikultura Th. 1992

Vol. XXVI No. 1 Hal : 133-137

Sudarwohadi S. Tata R. Omoy Wiwin Setiawati Sudarwohadi S.

Vol. XX No. 3 Hal : 95-104 Vol. XXII No. 3 Hal : 64-74

L.P. Astuti Gatot Mudjiono T. Nur Rofiyah Adi Sukwida

Habitat April 1999. Skripsi FPN Univ. Bandung Raya Th. 1988

Vol. 10 No. 106 Hal : 9-13 77 hal

Hanifah Sobarioh

Skripsi FPN Univ. Islan Nusantara Bandung Th. 1989

85 hal

17.

Streptomyces avermectylis
sebagai insektisida mikroba untuk pengendalian hamahama utama tanaman kubis. Pengaruh penggunaan formulasi bakteri Bacillus thuriensis Berliner terhadap mortalitas larva Plutella xylostella L. dan kerusakan yang ditimbulkan oleh P. xylostella pada tanaman kubis di laboratorium. Perpaduan pengendalian secara hayati dan kimia hama ulat daun kubis (Plutella xylostella L. (Lepidoptera :

Moekasan, T.K. S. Sastrisiswojo T. Rukmana H. Sutanto I.S. Purnamasari A. Kurnia Anna Laksanawati H.D.

Jurnal Hortikultura Th. 2004

Vol. 14 No. 2 Hal : 84-90

Buletin Penelitian Hortikultura Th. 1988

Vol. XVI No. 4 Hal : 70-75

18.

Sukma Nuswantara

Skripsi Jurusan Biologi FMIPA UNPAD Bdg. Th. 1985

110 hal

19.

Sudarwohadi Sastrosiswojo

Disertasi Universitas Padjadjaran Th. 1987

388 hal

70

20.

21.

22.

23.

Yponomeutidae) pada tanaman kubis. Aktivitas ekstrak biji nimba (Azadirachta indica A. Zuss) sebagai antifeedant dan repellent terhadap larva Plutella xylostella L. (Lepidoptera : Yponomeutidae). Efektivitas insektisida mikroba dan kimia secara tunggal dan campurannya terhadap hama Plutella xylostella L. (Lepidoptera : Yponomeutidae) dan Croccidolomia binotalis Zell (Lepidoptera : Pyralidae) pada tanaman kubis. Pengujian toksisitas ekstrak daun pacar cina, Aglaia odorata dan daun kirinyu, Cromolaena odorata terhadap ulat daun kubis Plutella xylostella L. Resistensi tanaman krusifer terhadap hama ulat daun kubis, Plutella xylostella L.

Rika Kartika

Skripsi Jurusan Hama & Penyakit Tumbuhan FPN UNINUS Bandung Th. 1990 Skripsi Jurusan Hama & Penyakit Tumbuhan FPN UNINUS Bandung. Th. 1990

57 hal

Dadang Wahyu Iriana

95 hal

Martua Suhunan S. Toto Suharto

Jurnal Agrikultura April 2002

Vol. 13 No. 1 Hal : 30-38

24.

25.

Pengaruh tanaman perangkap terhadap populasi Plutella xylostella L. dan kerusakan pada tanaman kubis. Pengaruh ukuran kurungan pada tingkat parasitasi dan nisbah kelamin Cotesia plutellae Kurdj (Hymenoptera : Broconidae) terhadap larva Plutella xylostella L. (Lepidoptera : Yponomeutidae).

Sudarwohadi S. Anggorohadi Permadi A. Laksanawati H.D. Itja Misra Bidari Setiati Aisyah

Buletin Penelitian Hortikultura Th. 1987

Vol. XV No. 1 Hal : 29-37

Ratna Ningsih

Skripsi FPN Univ. Jendral Soedirman Th. 1986 Skripsi Jurusan Hama & Penyakit Tumbuhan FPN Univ. Islam Nusantara Bandung Th. 1991

87 hal

53 hal

B. 1.

Crocidolomia SP.
Kehilangan hasil panen kubis karena ulat krop kubis (Croccidolomia binotalis Zell.) dan cara pengendaliannya. Pengujian bebrapa macam insektisida terhadap hama Croccidolomia binotalis Zell pada tanaman kubis. Pengaruh pemberian Magnesium dan insektisida terhadap serangan hama Croccidolomia binotalis Zell pada tanaman kubis (Brassica Tinny S. Uhan Jurnal Hortikultura Th. 1993 Vol. 3 No. 2 Hal : 22-26

2.

Tata Resta Omoy

Buletin Penelitian Hortikultura Th. 1987 Buletin Penelitian Hortikultura Th. 1992

Vol. XV No. 3 Hal : 110-116

3.

Amral Fery Hubagyo K. Losowinarto

Vol. XXIII No. 2 Hal : 63-68

71

oleracea L. var. Capitata).
4. Penetapan ambang kendali Tisna

Croccidolomia pavonana (F)
(Lepidoptera : Pyralidae) pada tanaman kubis (Brassica oleracea var. Capitata). Pengujian ambang kendali ulat krop kubis Croccidolomia binotalis Zell (Lepidoptera : Pyralidae) pada tanaman kubis. Resistensi Croccidolomia binotalis Zell strain Lembang terhadap beberapa jenis insektisida. Efikasi plasma nutfah bengkuang (Pachyrhizus erosus) terhadap ulat krop kubis (Croccidolomia pavanana F.) Pengaruh jamur Metarrhizium anisopliae terhadap serangan Croccidolomia binotalis Zell pada tanaman kubis varietas KR-1. Patogenitas jamur yang berasosiasi dengan larva Croccidolomia binotalis Zell.

Skripsi FPN Univ. Bandung Raya Th. 1992 Skripsi Jurusan Hama & Penyakit Tumbuhan FPN Univ. Islam Nusantara Th. 1992 Jurnal Hortikultura Th. 1993

67 hal

5.

Barnas Subhana

76 hal

6.

Tinny S. Uhan Ineu Sulastrini

Vol. 3 No. 2 Hal : 75

7.

Budi Martono

Agr. UMY Th. 2004

Vol. XII No. 1 Hal : 17-22

8.

Hubagyo K. Loso Winarto Amral Fery S. Sembiring Berty H. Assa Henny Makal

Buletin Penelitian Hortikultura Th. 1992

Vol. XXIII No. 2 Hal : 58-62

8.

Eugenia Th. 1995

Vol. 1 No. 4 Hal : 40-43

C. 1.

Agrotis ipsilon Hufn
Pengaruh beberapa umpan beracun terhadap ulat tanah (Agrotis ipsilon Hufn; Lepidoptera : Noctuidae) dan kerusakan tanaman kubis. NEMATODA Tinny S. Uhan Buletin Penelitian Hortikultura Th. 1989 Vol. XVII No. 3 Hal : 24-30

D. 1.

Meloidogyne spp.
Ketahanan varietas kubis dan bebawangan terhadap nematoda bengkak akar (Meloidogyne spp.) berdasarkan reproduksi nematoda pada tanaman inang. Hubungan antara densitas populasi awal Meloidogyne incognita ras 1 dari hasil tanaman kubis. PENYAKIT A. Widjaya W. Hadisoeganda Buletin Penelitian Hortikultura Th. 1992 Vol. XXIII No. 2 Hal : 33-40

2.

A. Widjaya W. Hadisoeganda

Jurnal Hortikultura Th. 1995

Vol. 5 No. 4 Hal : 55-60

E. 1.

Plasmodiophora brassicae
First report on the incidence of clubroot on cabbage in Indonesia; current spread, damage and importance. Suhardi Euis Affandi H. Vermevlen Buletin Penelitian Hortikultura Th. 1976 Vol. IV No. 5 Hal : 19-24

72

2.

Pemanfaatan mikroba tanah untuk pengendalian Plasmodiophora brassicae War pada kubis (Brassica oleracea Linn) Pengaruh Mortirella sp., Trichoderma sp. dan media tumbuhnya terhadap serangan Plasmodiophora brassicae M. pada kubis.

I. Djatnika

Buletin Penelitian Hortikultura Th. 1990

Vol. XIX No. 1 Hal : 32-35

3.

I. Djatnika

Buletin Penelitian Hortikultura Th. 1991

Vol. XXI No. 2 Hal : 34-38

F. 1.

Erwinia carotovora
Pencegahan pasca panen terhadap serangan penyakit busuk lunak pada kubis dengan senyawa kapur tawas dan silika gel. Pengendalian busuk basah pada kubis secara kultur teknis. Sjaifullah Besman Napitupulu Mass H. Lunis Hanudin I. Djatnika Buletin Penelitian Hortikultura Th. 1988 Vol. XVI No. 1 Hal : 60-66

2.

Buletin Penelitian Hortikultura Th. 1993

Vol. XXV No. 1 Hal : 32-36

G. 1.

Peronospora parasitica
(Fr) Tul Pengujian fungisida terhadap Peronospora parasitica (Fr) Tul pada tanaman kubis di persemaian. Pengendalian embun bulu (Peronospora parasitica Pers. Ex. Fr) pada kubis di pesemaian. Pengamatan penyakit pada pertanaman kubis (Brassica oleracea L. var. Capitata) di kebun percobaan Balai Penelitian Hortikultura Lembang dan sekitarnya. II. ALAT SEMPROT Tata R. Omoy Tonny K. Moekasan Buletin Penelitian Hortikultura Th. 1994 Vol. XXVI No. 2 Hal : 100-108 Harmidi Widjorini Buletin Penelitian Hortikultura Th. 1976 Buletin Penelitian Hortikultura Th. 1992 Skripsi Jurusan Ilmu Hama & Penyakit Tumbuhan - FPN IPB Th. 1984 Vol. IV No. 4 Hal : 23-26

2.

Euis Suryaningsih

Vol. XXII No. 1 Hal : 64-70

3.

Eveline Herlina

60 hal

1.

Perbaikan teknik penyemprotan insektisida dengan penggunaan beberapa macam nozel pada tanaman kubis. III. RESIDU PESTISIDA Pengaruh tingkat konsentrasi penyemprotan insektisida Acephate, Kuinalfos dan Triazofos terhadap residu pestisida pada tanaman kubis. Pemeriksaan residu insektisida dalam buah tomat dan tanaman kubis di Kecamatan Lembang, Pangalengan dan Cisurupan.

1.

Tonny Koestoni M. Ineu Sulastrini Sudarwohadi S. Rustaman E.S. Sudarwohadi S.

Buletin Penelitian Hortikultura Th. 1987

Vol. XV No. 4 Hal : 87-97

2.

Media Penelitian Sukamandi Th. 1988

No. 6 Hal : 13-21

73

IV. 1.

PHT C.S. Rante D.T. Sembel M. Meray N.N. Wanta Eugenia Oktober 1995 Vol. 1 No. 4 Th. XI Hal : 44-50

Penerapan pengendalian hama terpadu pada tanaman kubis di Kecamatan Tomohon, Kabupaten Minahasa.

Pustaka penelitian pasca panen kubis No. 1. 2. 3. 4. Judul Pengaruh umur panen terhadap hasil dan mutu kubis Penilaian mutu fisik enam hibrida kubis Penilaian mutu kimia enam macam kubis hasil silangan Pencegahan pascapanen terhadap srg. penyakit busuk lunak pada kubis dengan senyawa kapur tawas dan silikagel Studi orientasi dan inventarisasi cara dan alat pengiriman kubis antar pulau Perlkuan prapanen untuk mempertahankan kualitas dan hasil krop kubis Pembuatan kimchi dari limbah kubis; Pengaruh konsentrasi garam, lama dan lokasi fermentasi Perbandingan mutu krop beberapa varietas kubis Residu pestisida Diazinon dalam daun kubis dari saat panen sampai penanganan sebelum dikonsumsi Pengujian varietas kubis introduksi yang sesuai untuk ekspor Pengaruh perlakuan pra-pengeringan dan jarak rak pengering terhadap mutu dan daya simpan wortel dan kubis kering Teknik pengeringan dengan kontak panas (Konveksi) pada Sayuran Wortel dan Kubis Uji ketahanan simpan wortel dan kubis kering dengan antioksidan dan beberapa jenis kemasan Kajian mutu dan daya simpan kubis hasil tumpangsari Penulis Sabari, dkk. Ali Asgar, dkk. Ali Asgar, dkk. Syaifullah, dkk. Publikasi Jurnal Hort. Vol 6 (5) 1997 : 477– 483 BPH. Vol XVI (2) 1988: 107-110 BPH. Vol XVI (4) 1988: 14 BPH. Vol XVI (1) 1988: 60 – 66 Pros. Seminar Ilmiah Nas.Sayuran. 1995. 582590 Hortikultura. No 25, 1989: 42 - 43 LHP-BPH. 1982/1983: 66 – 73 Hortikultura. No 10-1980: 267 – 271 Majalah Ilmiah- UNSUD No. 5 tahun 1990. Jurnal Hort. Vol 5 (1) 1995: 102-105 LHP-Balitsa TA 2000

5.

Darkam dkk. Marsono

M.,

6. 7.

P. Sihombing, dkk. RM. Sinaga Theresia S.

8. 9.

10. 11.

Sudjiyo, dkk Kusdibyo dan Darkam Dian H. Darkam Kusdibyo Darkam dan dan

12. 13.

LHP-Balitsa TA 1999/2000 LHP-Balitsa TA 2000

14.

Darkam M, dkk

LHP-Balitsa TA 1999/2000

74

Pustaka penelitian agro-ekonomi kubis No. 1. Judul Pengaruh penggunaan tenaga kerja dan pestisida terhadap pendapatan bersih usahatani kubis Pengaruh tumpangsari terhadap tingkat produksi dan pendapatan usahatani kubis Analisis usahatani kubis di Sumatera Barat (Studi kasus di Desa Galagah, Kabupaten Solok) Efisiensi penggunaan faktor produksi dalam usahatani kubis di tingkat petani Marjin tataniaga dan bagian petani untuk kentang, kubis dan tomat di Jawa Barat dan Sumatera Utara Penulis Adiyoga, W. Publikasi Bul. Penel. Hort. XI (4) 1984: 20-25 Bul. Penel. Hort. XII (4) 1985: 8-18 Bul. Penel. Hort. XXII (3) 1992: 90-98 Bul. Penel. Hort. XXVII (4) 1995: 34-39 Jurnal Hort. 7 (3) 1997: 840-851

2. 3.

Adiyoga, W. Arifin, M. dan G. S. Hardono Nurmalinda dan M. Ameriana Adiyoga, W.

4.

5.

75

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful