You are on page 1of 18

Sekilas Sejarah Dinasti Cina1

Cin Pratipa Hapsarin

Berikut adalah sepintas gambaran dinasti yang pernah berkuasa dalam sejarah Cina.

DINASTI PERIODE

Prehistori 1.7 juta tahun - 21 SM.

21 - 16 SM

Terdapat 17 orang raja dalam Dinasti Xia yang terdiri dari 14
generasi. Pada masa ini ditemukan tembikar dan beberapa bahan
lain yang menunjukkan cikal bakal aksara Cina modern. Sistem
perbudakan dikenal sementara model kekaisaran ini kelak
digunakan sebagai asas dinasti-dinasti selanjutnya.

Satu legenda yang terkenal dari jaman ini adalah kisah Raja Jie
yang terpana oleh kecantikan Mei Xi, puteri Raja muda
setempat, Youshi.
Dinasti Xia (Hsia)
Dalam cerita dikatakan bahwa sebelumnya Raja Jie hampir
menghukum Youshi (ayah Mei Xi) yang kurang memberi upeti.
Untuk menyiasati hal tersebut Youshi mengirim anaknya Mei Xi
dan meminta anaknya untuk menggerogoti kekuatan Jie. Setelah
Jie dan Mei Xi menikah, Mei Xi meminta banyak hal dan semua
dituruti oleh Jie. Salah satu pembangunan yang terbesar adalah
Istana Miring. Ketika permintaan tak ada habisnya, Jie memilih
untuk mendapatkan tambahan dana dari wilayah sekitar. Atas
petunjuk Zhao Liang, salah satu mentrinya, disusunlah rencana
untuk menawan pangeran dari wilayah kaya Shang, Cheng
Tang. Rencana berhasil dan pembangunan terus dilaksanakan.

1
Dikutip dari http://www.travelchinaguide.com/intro/history; http://budaya-tionghoa.org,
http://logon.org; http://www.ccg.org bagian Mistisisme Bab 8 Asia Timur-Cina; dan Jepun dan berbagai
sumber lainnya.
Pada suatu saat ketika Cheng Tang berhasil memperkuat
kerajaannya, atas saran Yi Yin dari klan Youxin, ia menyerang
Xia dan menjatuhkan Jie dengan bantuan rakyat. Jie kemudian
ditangkap dan dipenjara di Nanchao sampai akhirnya tiga tahun
kemudian ia wafat.

16 - 11 SM.

Terdiri dari 31 raja dan 17 generasi. Shang adalah nama suku
yang mendiami salah satu bagian Sungai Huang He, yang
merupakan bagian dari Xia Dinasti.

Pada masa ini penggunaan perunggu sebagai bahan kerajinan
telah membangkitkan gairah perekonomian (dan satu yang
terbesar adalah bejana perunggu kaki empat simuwu dengan
Dinasti Shang
berat 732,84 kg dan dianggap bejana terbesar di dunia).
Sehingga pada masa Tang ini bukan hanya teknologi pertanian
yang maju pesat tetapi juga bidang-bidang lain secara
menyeluruh, seperti sosial, politik maupun kesenian dan budaya.

Sayangnya kemajuan itu terganggu dengan penyerbuan suku
sekitar dan hal tersebut menyebabkan Shang harus berpindah-
pindah ibu kota (sebanyak lima kali). Dinasti ini meninggalkan
bukti tertulis kuat akan eksistensinya.

Zhou adalah negri di daerah perbatasan yang sangat maju.
Ketika Ji Fa (Raja Wu) menjadi raja menggantikan ayahnya,
Raja Wen yang wafat, ia memutuskan untuk menyerang Di Xin
(raja terakhir Shang). Tentara Shang yang saat itu banyak
menderita karena kebijakan Di Xin pada akhirnya berbalik
mendukung Wu. Di Xin kemudian bunuh diri dan berdirilah
Zhou Dinasti.

Dinasti Zhou (Chou) Secara tradisional Dinasti Zhou terbagi menjadi dua periode:

a. Masa Zhou Barat, beribukota di Houjing, berkuasa
hingga tahun 711 SM.

b. Masa Dinasti Zhou Timur yang memindahkan ibu kota ke
bagian timur (sekarang Kota Luoyang). Pada jaman ini Zhou
Timur mengalami dua masa penting lagi, yakni

Ø Chun Qiu, Spring and Autumn Period
atau Jaman Musim Semi dan Rontok (770-476 SM).
Ø dan Jaman Zhan Guo, Warring States Period
atau Masa Perang Antar Negeri (475-221 M).

Dinasti Zhou memerintah kurang lebih 800 tahun dan terkenal
karena pencapaiannya dalam bidang filosofis dan kerap disebut
Masa Seratus Aliran Pikiran.

Pada masa ini lahirlah para filosof yang terkemuka, seperti
misalnya: Lao Zi, Kong Zi (Confucius), Meng Zi (Mencius),
dan lain sebagainya. Selain ketiga ahli filsafat terkemuka
tersebut, terdapat pula aliran filsafat yang cukup penting, yakni
legalisme (Fajia) yang akan berperanan penting terhadap
penyatuan Tiongkok di bawah Dinasti Qin.

221 - 206 SM

Dari jaman “Perang Antar Negeri” yang berlangsung dari tahun
475 – 221 SM, Qin menjadi satu dari tujuh Negara bagian
terkuat (mereka adalah Han, Wei, Zhao, Qin, Chu, Yan, dan Qi)
dan Ying Zheng atau Qin Shihuangdi adalah pemimpin pertama
Qin.

Antara tahun 230 – 221 SM Zheng memulai usaha untuk
menaklukkan seluruh Cina dan ketika usahanya ini berhasil ia
mendirikan dinasti baru sebagai ganti Dinasti Zhou.

Zheng menggelari dirinya sebagai Qin Shihuangdi yang berarti
“Kaisar Pertama dari Dinasti Qin”, dengan demikian ia adalah
raja pertama yang menobatkan dirinya sebagai Kaisar (tidak lagi
Dinasti Qin (Tsin atau Ch’i)
sekedar raja), yang akan diikuti oleh seluruh generasi dinasti di
bawahnya bahkan hingga dinasti terakhir di Cina, Qing Dinasti.

Pada masa pemerintahannya ini, Qin Shihuangdi berhasil
membentuk satu pemerintahan pusat yang kuat yang mengontrol
36 provinsi yang dihubungkan dengan jalan raya sepanjang
7500 km dan berhasil membuat terusan yang menghubungkan
sungai Huang He, Huai He dan Chang Ciang. Selain itu ia juga
membangun tembok raksasa yang membentang sepanjang 3000
km yang berfungsi untuk menghalau serangan bangsa-bangsa
utara.

Standarisasi ukuran maupun huruf juga diberlakukan pada masa
ini dan satu sistem penulisan huruf Mandarin yang dibuat pada
masa itu akhirnya tetap dikenal hingga hari ini.
Qin Dinasti adalah penganut Fajia (legalisme) Shang Yang.2
Boleh jadi kebijakan Qin berasal dari kebijaksanaan Shang
Yang yang telah dimodifikasi. Kebijakan Shang Yang itu
meliputi:

1. Menghapus gelar bangsawan secara waris. Hanya orang
yang mendapat jasa dalam perang berhak memperoleh
gelar kebangsawanan sementara anak cucunya tidak
dapat mewarisi.
2. Menetapkan pangkat militer dan hadiah atas jasa
mereka, sehingga kemampuan militer meningkat drastis.
3. Melarang terciptanya keluarga besar (bila didapati dua
kepala keluarga dalam satu keluarga maka keluarga itu
harus membayar pajak ganda).
4. Menata administrasi pemerintahan, mengumpulkan kota
kecil menjadi 31 kabupaten dan menetapkan pejabat
untuk menjalankan kebijakan pemerintah pusat.
5. Otonomi daerah. Membagi penghuni di tiap daerah
menjadi kelompok-kelompok dan masing-masing
memiliki maupun memilih sendiri ketua kelompoknya.
6. Landreform. Rakyat mempunyai kepemilikan yang sah
dari lahan yang dibuka, dengan cara demikian
pertumbuhan ekonomi meningkat dan pendapatan
rakyatpun bertambah.
7. Merangsang kompetisi produksi, yakni dengan jalan
memberi hadiah kepada petani yang sukses dan
menghukum mereka yang panennya gagal atau kurang.
8. Mendirikan ibukota baru di Xianyang yang lebih
strategis secara geografis.
9. Menyatukan segala macam ukuran, antara lain ukuran
satuan panjang, ukuran kereta, lebar jalan raya, dan lain
sebagainya, agar memiliki standar yang tetap.
10. Menetapkan undang-undang yang adil dan tegas dalam
pelaksanaannya (jika putra mahkota melanggar hukum,
bukan hanya dia yang akan dihukum namun juga guru
yang mengajarnya).

2
Shang Yang mengatakan bahwa manusia memiliki bakat atau kecenderungan jahat, oleh karena itu
ia harus dipimpin dengan cara-cara keras. Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu, oleh karena itu
disiplin dan mekanisme kontrol benar-benar harus diperhatikan. Reformasi Shang Yang ini sebenarnya di
terapkan pada masa Qin Shiaugong, sebelum masa Qin Shihhuang (bahkan setelah Qin Shiaugong
meninggal, Shang Yang dicincang sampai mati oleh para bangsawan yang membencinya karena mereka
kehilangan eksklusivitas setelah penerapan sistim ketatanegaraan yang baru). Sepuluh tahun setelah
reformasi Shang Yang, Qin berubah dari negara yang lemah menjadi negara yang kuat. Kira-kira seabad
kemudian barulah Ying Zheng lahir.
Pada suatu masa, Qin Shihuangdi pernah memerintahkan agar
buku karya para filsafat jaman sebelumnya dibakar dan mereka
yang menolak perintah ini dibakar hidup-hidup. Adapun alasan
pembakaran ini adalah untuk menjaga stabilitas dan mencegah
berkembangnya kritik yang dilancarkan oleh kaum Rujia
(Konfusian) yang telah dimanfaatkan oleh bangsawan-
bangsawan lama maupun musuh politik Zheng.3

Masa itu keturunan bangsawan dan kerabat raja-raja dari enam
negara yang dikalahkan, terus berusaha membunuh dan
menjatuhkan Qin Shihuangdi. Mereka mencari satria untuk
menghadang Zheng juga mendekati para sarjana terutama aliran
Konfusianis. Karena banyak dari mereka yang belum terbiasa
hidup dalam pola hidup yang disiplin sesuai undang-undang Qin
maka banyak dari aliran ini yang menulis kritikan yang tidak
membangun dan mencela kebijaksanaan Qin. Mereka menolak
penerapan sistim baru yang membongkar habis pola pikir feodal
dan menuntut kembali pada pola kekaisaran tempo dulu.

Selain itu sikap keras Qin Shihuangdi ini sendiri sebenarnya
dipicu dari kenyataan bahwa para Rujia itu terlalu sering
bertentangan dengan sesamanya sendiri dan tidak mengindahkan
yang lain.4 Karena kebijakannya itu, Qin Shihuangdi kerap
dianggap sebagai tiran.5

Setelah Zheng wafat pada tahun 210 SM, Li Si - penasehat
kaisar yang bekerja sama dengan Zhao Gao sang kasim kepala,
merekayasa agar putera kedua raja, yang bernama Hu Hai naik
tahta dan bergelar Er Shihuangdi (Kaisar Kedua). Pada masa itu
pajak naik dan kesejahteraan rakyat menurun drastis. Tak lama
iapun dijatuhkan oleh Liu Bang yang segera mendirikan dinasti
baru.

Dinasti Han Han Barat (206 SM - 24 M)

3
Setelah mengusai satu wilayah, raja-raja terdahulu biasanya akan membagikan daerah kekuasaan
barunya itu kepada sanak famili dan para bangsawan, namun tidak demikian halnya dengan Qin Shihhuang.
Struktur negara pun diringkas menjadi tiga perdana menteri dan sembilan menteri. Dengan demikian Zheng
mengubah sistem feodalisme istana menjadi sistem ketatanegaraan. Zheng juga kerap melakukan perjalanan
peninjauan dan pengawasan pembangunan negaranya, dia bahkah meninggal dalam perjalanan tugasnya dan
rupanya hal ini tidak menyenangkan banyak pihak, terutama mereka yang feodal.
4
Misalkan saja pada waktu Qin Shihuangdi ingin mengadakan upacara Feng Shan (upacara legitimasi
sebagai Kaisar oleh para leluhur) di Gunung Tai, ternyata para Rujia tidak mengetahui tata cara upacara
tersebut dan mereka justru bertengkar meributkan tata cara itu. Kasus yang sama juga menimpa Han Wudi.
5
Sangat masuk akal karena pada masa-masa setelah itu hegemoni berada di tangan kaum Rujia atau
para Konfusian dan mereka inilah yang membuat catatan sejarah.
Han Timur (25 - 220)

Liu Bang kemudian berhasil naik tahta dan mendirikan dinasti
baru yang bernama Han (206 SM – 221 M) dan bergelar Han
Gaozu (206-195 SM).6

Karena mewarisi kekacauan dari Qin, Kaisar Han Gao-di
membuat program ‘Wen Jing’. Pajak rakyat diringankan,
hukuman ditekan seminimal mungkin dan produksi ditingkatkan
sesuai keahlian masing-masing. Oleh sebab itu di bawah dinasti
ini, Cina mencapai banyak kemajuan dalam banyak bidang seni
dan sains (penemuan kertas dari bambu pada masa ini
tampaknya mendorong perkembangan ilmu pengetahuan).
Selain itu hubungan jalur Barat dan Timur yang dikenal dengan
jalur sutera terbuka.7

Penemuan penting dalam bidang teknologi lainnya adalah
seismograf oleh Zhang Heng (78 – 139 M) yang dapat
menghitung kekuatan gempa serta daerah arah asalnya. Pada
masa ini Konfusianisme menjadi agama ‘negara’ ketika Budha
masih berada di awal perkembangannya di Cina. Sayangnya,
Dinasti Han tidak terorganisir dengan baik seperti Dinasti Qin.
Praktek korupsi dan perpecahan terus berlanjut.

Satu yang terpenting, Dinasti ini juga berhasil menumbuhkan
kebanggaan akan nasionaliti mereka. Identitas Cina sebagai Han
berawal pada masa ini.

220 – 280

Jaman Tiga Kerajaan Di masa akhirnya Dinasti Han diperintah oleh kaisar yang
(San Guo) lemah. Pemberontakan pun pecah, yang terbesar adalah
Pemberontakan Topi Kuning (Huang Qin), yang dipimpin tiga
bersaudara Zhang. Akhirnya klan Cao mengkudeta kaisar Han

6
Dinasti ini sempat terputus oleh kudeta dari Wang Mang, yang mendirikan Dinasti Xin, tetapi
Guang Wudi berhasil merestorasi kembali Dinasti Han. Oleh sebab itu Dinasti Han sebelum pemberontakan
Wang Mang disebut dengan Dinasti Han Barat (beribu kota di Chang an) dan Dinasti Han sesudahnya
disebut dengan Han Timur (beribu kota di Luoyang).
7
Hubungan ini berawal dari ekspedisi yang dipimpin Zhang Qian (utusan Han Wudi), awalnya
bertujuan untuk menjalin persekutuan dengan negara lainnya dalam menghadapi serangan bangsa barbar
(Xiongnu). Walau gagal, Zhang Qian berhasil mencapai Baktria dan Ferghana (Turkestan modern). Ia
kembali dengan membawa informasi mengenai Asia Tengah maupun Romawi. Tahun 104, 102, dan 42 SM,
tentara Cina melintasi Pegunungan Pamir, mencapai Ferghana serta bekas Kerajaan Yunani. DI sana mereka
mengalahkan pasukan Xiongnu dan Romawi. Perjalanan inilah yang pada akhirnya membuka jalur
perdagangan Barat-Timur. Jalur Sutera menjadi ramai dan ibu kota Han penuh dengan pedagang Barat dan
barang-barang mewah yang berasal dari sana.
terakhir, Han Xiandi (189-220). Ia berhasil merebut kekuasaan
dan mendirikan Kerajaan Wei.

Tindakan kudeta membuat Liu Bei, seorang keturunan Dinasti
Han, merasa perlu untuk meneruskan kelangsungan Dinasti
Han. Maka ia pun mendirikan kerajaan Shu-Han.

Seorang jenderal yang juga mengangkat dirinya sebagai kaisar
adalah Sun Quan. Kerajaannya dikenal dengan nama Wu.
Tahun 264 M Kerajaan Wei terjatuh ke tangan seorang
menterinya yang bernama Sima Yan. Ia merebut kekuasaan dari
Kaisar Wei terakhir dan mendirikan Dinasti Jin.

Sima Yan menaklukkan kedua kerajaan lain dan menyatukan
Cina kembali. Pada masa ini sebuah perpustakaan di Luoyang
yang beris lebih dari 30.000 jilid buku dibangun. Selain itu peta
Dinasti Jin dengan sistem rasio yang dibuat dengan perhitungan garis
lintang dan bujur dibuat oleh Pei Xiu. Masa ini terbagi menjadi
dua periode, yakni Jin Barat (265 - 316) dan Jin Timur (317 –
420).

Tak lama Jin pun runtuh. Cina kembali pecah dan masuk dalam
masa rawan. Sisa-sisa Dinasti Jin yang sempat melarikan diri
diri ke selatan karna serangan bangsa bar-bar di utara (kemudian
disebut dengan Jin Timur). Sementara peperangan di utara
dimenangkan oleh Wei Utara (386-534). Karena terbagi menjadi
Dinasti Selatan dan Utara
dua maka jaman ini disebut jaman Dinasti Utara (386 - 581)-
Selatan (420 - 589).

Pada masa ini Zu Chongzhi (429-500) seorang ilmuwan dari
Dinasti Selatan menemukan perhitungan nilai phi (yakni nilai
antara 3,1415926 dan 3,1415927).

581 – 618

Dinasti Sui (581-618) didirikan oleh Yang Jian dengan gelarnya
Sui Wendi (581-604). Ditangannya ia berhasil memulihkan
Dinasti Sui keadaan dan sempat membangun peningkatan pertanian.
Sayangnya penggantinya, Sui Yangdi (604 - 617) tidaklah cakap
mengendalikan pemerintahan.

Dinasti ini meneruskan pembuatan terusan yang
menghubungkan Utara-Selatan yang sudah dimulai oleh
pendahulunya, Sui Wendi, yang panjangnya mencapai 2000 km.
Ia juga sempat membangun ibu kota kedua di Luoyang dengan
biaya tinggi dan kemewahan yang serba. Istana seluas 155 km2
itu dilengkapi dengan taman, danau buatan dan daun serta bunga
dari sutra jika musim dingin tiba. Dinasti ini jatuh karena
kegagalan menaklukan Korea yang telah menghabiskan biaya
besar juga karena meluapnya Sungai Huanghe.

Penderitaan membuat kerusuhan menjadi marak hingga
akhirnya Li Yuan seorang tokoh militer dari Utara menaklukkan
ibu kota Chang-an. Kaisar akhirnya melarikan diri ke Selatan.
Di sana ia dicekik sampai mati oleh anak seorang pegawai yang
pernah dipermalukannya. Li Yuan sempat mengangkat cucu
Yang Di menjadi kaisar tetapi tak lama setelah itu diturunkan
digantikan oleh dirinya sendiri. Dinasti Tang pun berdiri
menggantikan Sui.

618 – 907

Li Yuan memimpin dan segera digantikan puteranya, Li Shimin,
yang bergelar Kaisar Tang Taizong (626 - 649). Cina menjadi
adikuasa di bawah pemerintahan Taizong. Kaisar ini berhasil
mengkonsolidasikan kekuatan militer dan kecerdasan
diplomasinya, hingga ia berhasil melumpuhan kekuatan suku -
suku Turki Timur dan menguasai Ordos dan Mongolia Dalam.

Selain itu selama berlangsungnya Dinasti Tang, sistem
administrasi Cina didirikan. Sistem ujian negara dan
Dinasti Tang pembentukan propinsi (yang diperintah dengan persetujuan
administrator dan selanjutnya dibagi dalam 300 administratif
dan 1500 kabupaten) adalah produk kebijakan dinasti ini, dan
tetap digunakan hingga masa Dinasti terakhir Cina.
Perkembangan di bidang budaya, seni, ilmu dan agama yang
sebelumnya tidak dikenal dalam proses internasionalisasi Cina,
melalui pedagang asing yang tidak hanya membawa barang
dagangan tetapi juga mendirikan sekolah baru untuk belajar.

Pengaruh “Pax Sinica” meluas di sepanjang Asia Timur: di
utara, Mongolia pertama kali diperintah oleh Cina, di selatan,
Vietnam-Annam juga jadi protektorat Tiongkok. Di timur,
Korea dan Jepang juga mendapat pengaruh dari Cina.
Seluruhnya mengakui supremasi kebudayaan dan peradaban
Cina (Wibowo, 2004: 12-13).8

Agama Budha menjadi agama resmi dan menyebar hingga ke
seluruh kawasan Asia Tenggara (masa ini juga terkenal karena
perjalanan yang dilakukan Bhiksu Xuanzang yang mengambil
Tripitaka di India dan hal itu membuat Xuanzang disebut
Marcopolo Cina). Agama Islam dan Kristen Nestorian juga
masuk secara berkala. Islam mulai masuk Cina, ditengarai
melalui perjanjian dengan misi Islam yang terjadi pada tahun
651 (Weiming, 2003: xxiii).

Namun kekaisaran setelah Taizong benar-benar lemah. Bahkan
setelah kematian penggantinya, Gaozong, kekaisaran sempat
dikuasai oleh selir Gaozong yang bernama Wu Zetian. Atas
nama Gaozong, Wu Zetian mengangkat Zhongzong dan
Ruizong sebagai kaisar boneka. Setelah itu Wu Zetian
mengangkat dirinya sendiri menjadi Kaisar dan dinastinya
disebut Zhou. Namun karena pemerintahannya tidak didukung
oleh kebijakan yang baik, Wu pun kemudian turun tahta.

Kaisar Tang selanjutnya, Xuanzong (712 - 756), kembali
menghidupkan kebudayaan Tang. Namun akhirnya dinasti ini
benar-benar runtuh setelah An Lushan melakukan
pemberontakan pada masa pemerintahan dua kaisar, yakni
Suzong (756 - 762) dan Daizong (762 - 779).

Kelemahan ini dimanfaarkan Tibet yang mulai menyerang sejak
tahun 777. Satu yang terkuat dan menghancurkan Tang adalah
Zhu Wen, seorang gubernur yang berhasil membunuh Kaisar
Zhaozong (888 - 904). Ia mengangkat anaknya yang
kesembilan, Aidi (904 - 907) sebagai kaisar boneka, sebelum ia
sendiri naik menjadi kaisar dan memproklamasikan Dinasti
Liang.

Selama periode berikutnya, Cina kembali mengalami
perpecahan dan kekacauan. Lima dinasti secara berturut-turut
Jaman Lima Dinasti
dan Sepuluh Negara berkuasa di utara: Liang Akhir (907 - 923), Tang Akhir (923 -
936), Jin Akhir (936 - 946), Han Akhir (947 - 951), dan Zhou
Akhir (951 - 960), sementara itu di selatan terdapat sepuluh
kerajaan (902 - 979).

8
Korea dan Jepang mulai menggunakan karakter Han sebagai bahasa tulis mereka. Feodalisme Korea
dan Jepang juga mencontoh sistem kekaisaran Tang. Di selatan, pengaruhnya begitu kuat sehingga mereka
tidak lagi menganggap diri sebagai Han, melainkan sebagai Tang.
Seorang jenderal dari Dinasti Zhou Akhir, Zhao Kuangyin,
berhasil mempersatukan Cina dan mendirikan Dinasti Song.
Gelarnya adalah Song Taizu (960 - 976). Sejarah menceritakan
jika ia telah dipaksa para prajuritnya untuk mengenakan jubah
kekaisaran serta menjadi penguasa baru. Setelah menjadi kaisar,
karena merasa khawatir para anak buahnya memberontak
terhadap dirinya, ia kemudian membujuk mereka agar
mengundurkan diri secara sukarela. Iapun berhasil
menghapuskan kekuasaan para gubernur militer setempat,
sehingga politik menjadi lebih stabil.

Dinasti ini terbagi menjadi dua, yakni Song Utara (960 - 1126)
dan Song Selatan (1126 - 1279).

Dinasti Song (Sung) Dinasti Song membawa pada Cina apa yang disebut sebagai
revolusi perdagangan. Salah satunya adalah memperkenalkan
uang kertas, yang digunakan dalam perdagangan (pada masa ini
uang kertas pertama kali diberlakukan, menggantikan logam dan
dicetak di Chengdu, Sichuan, tahun 1024). Kota berkembang
sangat cepat, ke arah yang lebih besar seperti keadaan yang juga
sedang terjadi di Eropa pada saat yang sama.

Revolusi perdagangan meluas ke daerah luar kota dimana teknik
pertanian diperkenalkan. Sementara keberhasilan lainnya adalah
pembuatan jam bertenaga air pada tahun 1090 di Kaifeng, serta
penemuan teknik mencetak 500 tahun sebelum Gutenberg.
Konsep Neo-Konfusianisme mulai berkembang (Lih. Pengantar
Penerbit Sufi dari Cina, 2003: xix).

916 --- 1125 dan 1115 --- 1234

Pada saat yang bersamaan dengan Dinasti Song, di Utara
berdirilah Kerajaan Liao dan Jin yang berasal dari suku semi
nomadik Manchuria. Karena merasa terancam oleh Liao maka
Song kemudian bersekutu dengan Suku Jin (Jurchen) untuk
mengalahkan Liao. Namun akhirnya Song benar-benar
Dinasti Liao dan Jin dikalahkan Jin, setelah kedunya berhasil menaklukan Liao.
Tahun 1127 Jin menyerbu dan menaklukkan Kaifeng, ibu kota
Dinasti Song Utara. Mereka juga berhasil menawan Kaisar
Huizong serta Qinzong dan akhirnya mengakhiri
kepemerintahan Song Utara.

Mengenai Song Selatan, pemerintahan berhasil diselamatkan
Zhao Gou. Ia memindahkan ibu kota ke Hangzhou di selatan
setelah Kaifeng jatuh ke Bangsa Jin. Gelarnya adalah Gaozong
(1127 - 1162). Untuk menyelamatkan Song Selatan dari tekanan
Jin, Zhao Gou menjadi daerah bawahan Jin. Untuk itu ia harus
memberi upeti 500.000 unit sutra dan perak. Xiaozong (1163 -
1190) pengganti Gaozong tampaknya berhasil membawa Cina
memasuki masa arung samudera.9 Penemuan kompas (1119)
nampaknya telah mendorong semangat berlayar itu.

Sayangnya prestasi itu dibarengi dengan naiknya kekuatan
Mongol di utara yang pada gilirannya kemudian berhasil
menjatuhkan dinasti ini.10

1271 --- 1368

Ekspansi yang paling menakutkan dan tidak diakui sebagai
bagian dari “Pax Sinica”.

Dinasti ini menundukkan Jin dan Song Selatan. Peperangan
dengan Song Selatan adalah pertempuran pertama dengan
senjata api. Selepas pitu dinasti ini dikenal dengan sebuatan
“Pax Mongolica”. Pada masa ini Marco Polo membuat banyak
catatan sebagai utusan – duta Khan dan sempat tinggal beberapa
waktu lamanya.
Dinasti Yuan (Mongol)
Genghis Khan merebut Beijing (bukan Ibukota Cina) tahun
1215. Untuk beberapa dekade secara administratif pemerintahan
diserahkan pada dinasti Song. Selama waktu itu perluasan
wilayah terus dilaksanakan. Cucu Genghis Khan, Kublai Khan
akhirnya menaklukkan Cina di tahun 1279, termasuk kerajaan
Yunnan Thai di Nanchao. Meskipun Kublai Khan menaklukan
Cina di tahun 1279, Dinasti Yuan didirikan Kublai Khan tahun
1271 sampai 1368. Dibawah kekuasaannya, Kublai Khan
memperluas daerah jajahan ke wilayah barat, tepatnya sampai
ke Moskow dan Baghdad.

9
Ilmu navigasi dan pembuatan kapal mencapai puncaknya. Kapasitas kapal Cina saat itu berkisar
antara 200 - 600 ton. Salah satu kapal Song yang ditemukan kembali, panjangnya mencapai 40 m dan
lebarnya kurang lebih 10 m.
10
Awalnya Mongol adalah taklukan Jin, tapi akhirnya mereka berhasil mendirikan kerajaan sendiri.
Genghis Khan membawa Mongol merebut Xianyang, yang menjadi benteng pertahanan utama Song. Hal itu
terjadi pada masa Duzong (1265 - 1274) selanjutnya pengganti Duzong: Gongzong (1275), Duanzong (1276
- 1278), dan Bingdi (1279), menghabiskan hidup mereka dalam pelarian dan kejaran pasukan Mongol. Pada
tahun 1279, sisa dinasti Song berlari hingga menuju laut. Namun pasukan Mongol berhasil mengepung
mereka dan ketika dirasa tidak lagi ada harapan, salah satu menteri yang mengiringi keluarga tersebut, Lo
Shiufa, memeluk Bingdi, keduanya menceburkan diri ke laut.
Pada masa-masa penaklukan, Islam Cina berkembang cukup
pesat. Ini karena tentara Mongol terdiri dari berbagai kalangan
suku, diantaranya adalah beberapa kelompok Muslim yang
kemudian berhasil membangun diri menjadi komunitas yang
solid. Penempatan para prajurit diseluruh kawasan Cina rupa-
rupanya mendukung persebaran tersebut. Kelompok ini secara
sosial berada di bawah bangsa Mongol namun demikian berada
di atas Han dan hal tersebut memang dengan sengaja dibuat.
Keuntungan penyekatan sekaligus pemberian tempat kepada
kelompok ini adalah untuk membatasi aktifitas kaum Han dan
upaya menahan pemberontakan mereka.

Mongol menyusun pemerintahan Cina dengan cara
memiliterisasikannya. Banyak keputusan penting dibuat
menggunakan asas kebudayaan Cina sehingga tidak dapat
dibedakan dengan Cina sebenarnya, kecuali bahwa pada waktu
itu seluruh Orang Cina wajib membayar pajak sementara
sisanya, dibebaskan.

Peristiwa terpenting pada jaman ini antara lain pembangunan
perpanjangan terusan yang telah dibangun oleh Kaisar Sui
Yangdi, untuk memudahkan pengiriman gandum dari selatan ke
ibu kota mereka dan upaya penyerangan ke Jawa dan Jepang.11
Kubilai Khan digantikan oleh cucunya Temur Oljeitu (1294 -
1307). Perjanjian dengan Jepang ditandatangani pada masa itu.

Setelah digantikan Toghon Temur (1333 - 1368), bencana alam
seperti banjir dan wabah penyakit sampar turut melemahkan
keadaan. Pemberontakan terjadi di mana-mana dan yang terkuat
adalah Zhu Yuanzhang. Ia berhasil merebut Dadu, ibu kota
Dinasti Yuan tahun 1368 dan berakhirlah sejarah Dinasti Yuan.

1368 --- 1644

Setelah mengusir Mongol, Zhu Yuanzhang menobatkan dirinya
Dinasti Ming sebagai kaisar dengan gelar Ming Daizhu (1368 - 1398). Cina
di bawah Dinasti Ming awal tidak terpencil. Perdagangan luar
negeri dan hubungan-hubungan dengan bagian-bagian lain di
dunia, khususnya dengan Jepang bertambah. Pedagang-
pedagang Cina juga menjelajah kesemua Lautan Hindi dan tiba

11
Waktu itu seluruh armadan tenggelam di laut Jepang karena dihantam taifun yang tiap tahun
menerpa Jepang pada bulan Juli.
di Afrika Timur dengan pelayaran Zheng He, yang berada di
bawah mandat Kaisar Yong Le.12

Sistem pemerintahan Ganda didirikan, dengan Beijing dibagian
utara dan Nanjing dibagian selatan. Bandar-bandar di kota itu
mendorong pertumbuhan industri swasta, khususnya industri
skala kecil seperti kertas, sutera, kapas, dan porselin. Dengan
demikian banyak pusat bandar yang agak kecil dengan pasar-
pasar berdiri di seluruh negara. Namun berbanding terbalik
dengan dinasti Song dan Yuan, Ming di bawah Zhu Yuanzhang
atau (Hong-wu) tampaknya lebih tertarik mengembangkan
sektor pertanian daripada perdagangan (potensi Cina selatan
dikelola, akibatnya berbagai jenis tanaman baru berkembang
meluas dan industri-industri seperti porselen dan tekstil
berkembang maju).

Kepemilikan tanah segera direstrukturisasi. Kepemilikan pribadi
dilarang. Ladang besar dirampas kerajaan dan kemudian
disewakan. Karena sistem tersebut, setelah Yong Le tiada,
banyak petani memiliki tanah pertanian sendiri dan hal tersebut
rupanya membuka jalan untuk menghapuskan kemiskinan
karena perang terus menerus yang terjadi pada masa
sebelumnya. Selain itu penempatan pedagang dan para tukang di
bawah undang-undang anti-swasta membuat sektor niaga Cina
benar-benar merosot. Pada masa ini pula setelah jumlah
penduduk menyusut selama periode pemerintahan Mongol,
pertambahan segera terjadi dan pembagian kerja menjadi lebih
rumit.

12
Yongle digantikan oleh putera tertuanya Hongxi (1425), yang hanya memerintah setahun, namun ia
memiliki rasa ketertarikan pada astronomi. Ia telah berhasil mengenali bintik matahari, jauh sebelum bangsa
Barat mengenalnya. Kaisar Dinasti Ming yang terkenal berikutnya adalah Wanli (1573 - 1620).
13
Walau demikian keruntuhan Dinasti ini kelak dianggap menyebabkan komunitas Islam Cina
menderita baik dari segi politik atau sosial. Dinasti selanjutnya, Manchu disebut-sebut telah bersikap tidak
adil dan melakukan penindasan terhadap Islam. Antara lain dengan melarang orang Islam menunaikan Haji,
melarang orang Islam membangun Masjid serta melarang para ulama luar memasuki negara China .Selain
itu, Dinasti Manchu juga melaksanakan dasar 'pecah dan perintah'. Mereka sentiasa berlaku tidak adil dengan
memihak kepada orang Cina bukan Islam ketika berlaku pertelingkahan antara orang Islam dan bukan Islam.
Inilah yang mengakibatkan kebangkitan orang Islam menentang kerajaan Dinasti Manchu
(http://suarajumaat.kym.edu.my/ suarajumaat/sanasini.html).
14
Kaisar Dinasti Ming terakhir adalah Chongzhen (1628 - 1644), pada jamannya terjadi
pemberontakan yang dipimpin oleh Li Zicheng. Ia berhasil merebut Beijing, ibukota Dinasti Ming pada
Bulan April 1644, menyatakan dirinya sebagai kaisar dan mendirikan Dinasti Xun. Kaisar Chongzhen bunuh
diri dengan cara menggantung diri dan pada saat yang sama dengan kematiannya, berakhir pulalah Dinasti
Ming. Jenderal Wu Sangui yang ditugaskan menjaga perbatasan masih setia pada Dinasti Ming, maka ia
meminta tolong Bangsa Manchu yang saat itu dipimpin Shunzhi (1644 - 1661) untuk mengusir Li Zicheng.
Tetapi ternyata setelah Li berhasil diusir, Bangsa Manchu tidak bersedia meninggalkan Tiongkok, sehingga
dengan demikian berawalah kekuasaan Dinasti Qing di Tiongkok.
Intelektual neo-Konfusianisme mulai mendapat tempat dan
menjadi semakin popular. Berkait dengan Muslim Cina, Ming
tampaknya dualis. Disatu sisi mereka mendukung pembangunan
Masjid-masjid tetapi di lain sisi Ming memberi batasan kepada
para Hui-hui yang merupakan majoritas Muslim Cina.13

Dinasti Ming adalah sebuah kerajaan pusat yang kukuh. Peran
raja cenderung autokratik dan rupanya hal ini modal penyatuan
sekaligus penghalang kerajaan untuk menyesuaikan diri dengan
perkembangan yang ada. Menjelang akhir Dinasti Ming, Bangsa
Manchu di utara menjadi bertambah kuat. Pemimpin mereka
Nurhachi beserta puteranya Aberhai pada awal abad ketujuh
belas berhasil merebut Liaoning dari tangan Dinasti Ming.
Setelah merasa kuat mereka mendirikan dinasti sendiri yang
diberi nama Qing (1626).14

Peninggalan arsitektur dinasti ini yang masih dapat ditengok
hingga hari kini adalah Istana Kota Terlarang di Beijing dan
penyelesaian Tembok Besar Cina.

1644 --- 1911
Kebijakan pintu tertutup.

Qing sama dengan Yuan merupakan dinasti bangsa asing di
Cina, karena mereka ini adalah Kaum Manchu alias para
Jurchen dan Shunzhi adalah kaisar pertamanya. Walaupun
mereka penakluk asing tetapi mereka mengamalkan
Konfusianisme, norma kerajaan Cina tradisional dan akhirnya
memerintah dengan gaya dinasti asli. Namun demikian untuk
memperkuat posisinya, dinasti ini mewajibkan para Han untuk
menerapkan adat Manchu. Misalkan, pakaian Cina tradisional
(Hanfu) diganti dengan Qipao (pakaian laskar panji-panji) dan
Dinasti Qing / Manchu Tangzhuang yang biasanya dianggap sebagai pakaian tradisional
Cina hari ini sebenarnya merupakan pakaian gaya Manchu.
Selain itu potongan rambut tocang (menggunting semua rambut
bagian depan kepala dan menjadikan rambut di bagian belakang
kepala sebagai kucir panjang) diberlakukan oleh pada semua
warga Han. Siapa yang tidak mematuhi undang-undang tersebut
mendapat hukuman mati. Dan Maharaja Kangxi sempat
menitahkan penciptaan sebuah kamus askara Cina yang paling
lengkap ketika itu. Di bawah Maharaja Qianlong, penyusunan
sebuah katalog tentang karya-karya kebudayaan Cina dilakukan.

Pada paruh abad kemudian, Manchu mengukuhkan kuasanya di
kawasan yang awalnya dikuasai oleh Ming, termasuk Yunnan.
Mereka juga memperluas lingkungan pengaruhnya ke Xinjiang,
Tibet, dan Mongol. Memasuki abad-19, kekuasaan Qing
merosot. Cina mengalami sengketa sosial besar-besaran,
ekonomi tidak berkembang, dan mulai merambat masuknya
pengaruh Barat.

Saat itu Inggris berhasrat untuk membuka hubungan dengan
Cina, namun ketika utusan Inggris datang menyampaikan
maksudnya, Kaisar Qianlong (1736 - 1795) menolak upaya
kerjasama itu. Seluruh barang persembahan Inggris hanya
diandaikan sebagai upeti saja. Hingga pada suatu hari Cina tidak
dapat menolak sistem barter yang dibuat Inggris. Kerjasama itu
adalah tukar sutra dan teh Cina kepada Inggris yang dibayar
dengan candu asal India. Jumlah pemadat Cina kemudian terus
bertambah, tahun 1830-an jumlah itu mencapai 10 juta jiwa,
hingga Cina akhirnya harus mengimpor candu dari Inggris.
Dalam kurun waktu 40 tahun impor candu membengkak dari
1000 kotak menjadi 40.000 kotak. Meningkatnya pecandu jelas
melemahkan negara, yakni melemahnya sumber daya manusia
serta mengalirnya kekayaan ke barat.

Kaisar Daoguang (1821 - 1850) akhirnya memutuskan untuk
mengeluarkan surat perintah pada Lin Zexu (1785 - 1850) untuk
menekan perdagangan candu. Lin kemudian menyita dan
membakar seluruh candu milik Inggris. Walau demikian Cina
juga memberi ganti rugi berupa uang perak 10 tael serta teh 1
bal untuk setiap peti candu (sebelum tindakan keras ini
dilakukan Lin telah sempat menulis surat kepada Ratu Inggris
dan mohon untuk menghentikan kegiatan perdagangan candu
via EIC atau East India Company). Inggris meradang dan
menyatakan perang kepada Cina dan terjadilah Perang Candu
(1840 - 1842).

Perang ini diakhiri dengan kekalahan Cina, karena persenjataan
barat yang lebih canggih15 dan makin melemahnya kekuatan
Qing (pada periode sebelum Perang Candu hingga saat yang
sama, dinasti ini banyak menghadapi perlawanan dari dalam,
terutama ketika Qianlong digantikan oleh putera kelimanya
Jiaqing (1796 - 1820) berkembang perasaan anti Manchu yang
mendorong timbulnya berbagai perkumpulan rahasia untuk
menggulingkan Dinasti Qing, seperti misal perkumpulan Teratai
Putih). Di samping itu, pada masa sebelumnya pun Rakyat Cina
masih lagi tidak menerima kekalahan dari Inggris yang
menyebabkan mereka harus menyerahkan Hongkong kepada
Inggris (1842). Inggris bersama sekutu-sekutunya termasuk

15
Penggunaan serbuk mesiu yang meluas pada masa Song dan Ming sempat dilarang oleh Dinasti
Qing tak lama setelah mereka mengambil alih Cina.
Amerika Serikat yang berhasil mengalahkan Cina akhirnya
berhasil memperoleh hak istimewa perdagangan. Cina
mengalami kerugian besar akibat perang candu ini karena ia
harus membayar ganti rugi biaya perang. Ekonomi kacau
(terutama karena banyaknya aliran dana keluar dalam
perdagangan candu). Huru-hara menjadi fenomena sehari-hari
dan makin meningkat karena dinasti ini tidak mengambil
tindakan yang cukup untuk menangani masalah. Selain itu
perasaan dihinakan hampir menjadi gejala umum setelah selama
beratus abad Orang Cina menikmati hegemoninya di Asia
maupun Dunia.

Sebagai contoh adalah Pemberontakan Taiping Tianguo (1850 -
1864) gerakan agama kuasi-Kristian yang terjadi pada masa
pemerintahan Kaisar Xianfeng (1851 - 1861) ini dipimpin oleh
Hong Xiuquan "Raja dari Syurga".16 Setelah menghabiskan
waktu 14 tahun, akhirnya kekuatan ini berhasil ditumpas pada
pertempuran ketiga di Nanking, 1864. Pertempuran ini
menewaskan hampir 20-50 juta jiwa penduduk. Kekuasaan
beralih cepat, Cixi menggantikan Guangxu yang telah
dituduhnya memiliki depresi mental (ada dugaan kematian
Guangxupun akibat racun yang diberikan Cixi). Cixi
memerintah dengan gaya konservatif dan mementahkan gerakan
reformis, termasuk pada Perang Boxer.17

Resah dengan keadaan tersebut, kelompok tentara mengadakan
pemberontakan yang dikenal dengan nama Pemberontakan
Wuchang. Pemberontakan terjadi pada 10 Oktober 1911 di
Wuhan. Kerajaan sementara Republik Cina dibentuk di Nanjing
pada 12 Maret 1912 dan menetapkan Sun Yat Sen sebagai
Presiden. Tetapi kedudukan itu diserahkan Sun Yat Sen pada
Yuan Shikai, ketua Tentera Baru serta Perdana Menteri kerajaan
Qing, satu keputusan yang kemudian disesali Sun.

Rupanya hal tersebut merupakan bagian dari perjanjian tentang
penurunan takhta Qing. Pada tahun berikut, Yuan Shikai
membubarkan dewan-dewan perundangan negara serta provinsi
dan pada tahun 1915, mengangkat diri sebagai raja. Sudah pasti
hal ini ditentang oleh kaum republiken. Yuanpun turun takhta
setelah menghadapi kemungkinan pemberontakan dan
meninggal tak lama kemudian (1916). Sejak itu Cina dipimpin

16
Awalnya Barat bersimpati pada pemberontakan ini, namun setelah mengetahui bahwa Hong
mempunyai doktrin yang agak "miring", dengan menyatakan diri sebagai adik Yesus Kristus, maka bangsa
Baratpun berbalik mendukung Dinasti Qing. Pemberontakan ini pada akhirnya berhasil dipadamkan dengan
bantuan barat sehingga menunjukkan makin bergantungnya Tiongkok pada barat.
17
Mereka ini adalah kaum reformis anti imperialis konservatif yang mencoba memulihkan Cina
kepada kejayaan lama.
oleh kerajaan campuran yang terdiri dari ketua tentara provinsi
yang berubah-ubah.

Namun akhirnya, dengan bantuan Soviet, Sun Yat Sen kembali
menyatukan Cina. masa kekaisaran yang telah berdiri lebih dari
5000 tahunpun runtuh. Berturut-turut Cina mengalami masa
kepemimpinan Chiang Kai-shek yang kemudian dilanjutkan
Mao Zedong (Mao Tse-tung).

Walau sejarah dinasti ini bergitu ‘kacau’ beberapa kalangan
tetap berpendapat bahwasanya jaman ini bidang perekonomian
mencapai puncak keemasannya, yakni pada jaman Kang-Yong-
Qian (singkatan dari tiga kekaisaran: Kangxi, Yongzheng dan
Qianlong). Kangxi meletakkan dasar stabilitas politik,
Yongzheng mereformasi sistem administrasi pemerintahan dan
paling anti korupsi dan Qianlong meneruskan kebijakan
Yongzheng membawa Tiongkok berjaya selama 60 tahun.

Sinolog I Wibowo (2004: 26) mengatakan bahwa sepanjang rentang tersebut Cina telah
mengalami empat kali proses ‘globalisasi’. Pertama adalah pada masa awal masehi ketika Cina
membangun relasi dagang dengan kekaisaran Roma, khususnya melalui jalur perdagangan sutera,
yang kemudian diikuti dengan masuknya agama Budha.
Globalisasi kedua terjadi ketika masa Dinasti Ming (1368-1644), yakni ketika Cina
berhubungan dengan bangsa Barat. Hal ini terutama ditandai dengan masuknya misionaris Jesuit ke
daratan Cina. Selain menyebarkan agama, persinggungan dengan tehnologi, seni dan berbagai ilmu
menjadi puncak perkenalan Cina dengan konsep ‘dunia’. Kedekatan ini terus berlanjut hingga awal
kepemimpinan Qing (1644-1911) namun terpenggal oleh kebijakan pintu tertutup yang
diberlakukan oleh Kaisar Kingxi. Para misionaris menghadapi tuduhan bahwa mereka telah
menghina Kaisar dan kebudayaan Cina. Hampir 100 tahun Cina hanya dapat ‘dikunjungi’ melalui
Canton (Guangzhou).
Perang Candu (1840) menjadi titik bagi globalisasi ketiga. Pada periode ini Inggris berhasil
memaksa Cina untuk menandatangani serangkaian perjanjian yang menandai dibukanya perbagai
pelabuhan dan kota-kota di Cina. Masa itu adalah masa gelap kekaisaran Cina karena mereka
merasa dihina dan direndahkan. Konflik antar golongan memuncak hingga masa-masa pasca
Perang Dunia II. Kepercayaan kepada Kaisar berkurang dan puncaknya adalah tumbangnya
Kekaisaran Cina digantikan oleh sistem konstitusi republik yang modern. Secara ideologis mereka
meninggalkan “Da Tong” atau harmoni agung dan memilih konsep masyarakat tanpa kelas–
Komunisme (Partai Komunis Cina didirikan tahun 1921). Sun Yat Sen pun menjadi Presiden
pertama.
Dan akhirnya berkuasanya Partai Komunis Cina (1949) menandai proses globalisasi
keempat. Kemenangan kaum Bolshevik, 1917 di Rusia merangsang semangat Mao Zedong dan
kaum intelektual Cina untuk mengalahkan Barat dengan ‘cara’ Barat pula.
Pada masa ini Cina membongkar struktur hirarkis tradisional dan menggantinya dengan
monoculture a la Marxisme/Komunisme. Kata sosialis dan revolusioner menjadi panji yang
melegitimasi pengerusakan segala sesuatu yang berbau tradisi dan dianggap reaksioner. Semua itu
diberlakukan bukan saja pada manusia tapi juga pada bidang kebudayaan: bangunan, makanan,
pakaian, bacaan, dan lainnya. Klimaks dari situasi ini adalah “Revolusi Kebudayaan“, tahun 1966.
Rupanya Cina berusaha mendekonstruksi seluruh masa lalunya yang berumur ribuan tahun.
Mereka menghancurkan tradisi dan menggantikannya dengan ideologi yang berakar dari Eropa
Barat—walau ideologi itu sendiri tidak pernah muncul di Eropa—dan hanya menyisakan satu
elemen saja, yakni bahasa. Deng Xiaoping yang kemudian menggantikan Zedong akhirnya
mempercepat sekian laju yang telah terbangun. Gaige, Kaifang (reformasi) dan membuka diri
menjadi slogan utama yang mendorong Cina untuk merangkul neoliberalisme. Deng Xiaoping juga
berhasil membawa Cina keluar dari krisis pasca pembantaian Tiananmen, 4 Juni 1989 dan
menganjurkan “Perjalanan ke Selatan” untuk meneruskan perjalanan globalisasi mereka. Sejak
saat itulah Cina melesat dan terus ‘bersatu’ (integrated) dengan dunia.

(bahan ini adalah bagian dari telaah atas
“Politik Identitas Jawa-Cina: Kajian Atas Ungkapan Tradisional ‘Jawa Safar Cina Sajadah’
Yang Terdapat Pada Tradisi Lisan Jawa”, FISIP, Univ. Atma Jaya Yogyakarta, 2008)