STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN EPILEPSI

A. DEFINISI Epilepsi adalah suatu gangguan serebral kronis dengan berbagai macam etiologi, yang ditandai oleh timbulnya serangan piroksimal yang berkala sebagai akibat lepasnya muatan listrik serebral secara eksesif.(depkes 1995)

B. PATOFIOLOGI Gejala gejala yang ditimbulkan akibat serangan epilepsi sebagian karena otak mengalami kerusakan dan berat ringanya gangguan tersebut tergantung dari lokasi dan keadaan patologinya. Bila terjadi lesi pada bagian otak tengah, thalamus dan korteks serebri kemungkinan bersifat epileptogenik.Sedangkan pada lesi serebellum dan batang otak biasanya tidak mengakibatkan sernagan epilepsi. Serangan epilepsy terjadi karena adanya lepas muatan listrik yang beerlebihan dari neuron neuron di susun saraf pusat yang terlokalisir pada neuron neuron tersebut. Gangguan yang abnormal dari lepasnya muatan listrik ini karena adanya gagguan keseimbangan antara proses eksesif/eksitasi dan inhibisi pada interaksi neuron hal ini juga disebabkan karena gangguan pada sel neuronnya sendiri atau tranmisi sinaptiknya.Tranmisi sinaptik oleh neurotranmiter yang bersifat eksitasi atau inhibisi dalam keadaan gangguan keseimbangan akan mempengaruhi polarisasi membrane sel, dimana pada tingkat membran sel maka neuron epileptic ditandai oleh proses biokimia tertentu yaitu;

Neuron hypersensitifitas dengan ambang yang menurun sehingga mudah terangsang serta dapat terangsang secara beturut turut.neuron ke bagian otak lain dapat terjadi oleh gangguan pada kelompok neuron inhibitoryang berfungsi menahan pengaruh neuron lain sehingga terjadi sinkronisasi dan aktifasi yang berulang – ulang terjadi perluasan sirkuit kortikokortikal melalui serabut asosiasi atau ke kontrablateral melalui korpus kalosum. Kemungkinan terjadi polarisasi yang berlebihan. Ketidakstabilan membrane sel saraf sehingga sel mudah diaktifkan. . 2. Neurotransimer yang bersifat inhibisi akan menimbulkan keadaan depolarisasi yang akan melepaskan muatan listrik secara berlebihan yaitu asetilolin. penyebaran keseluruh ARAS sehingga klien kehilangan kesadaran atau gangguan pada formation retikularis sehingga sistem motorik kehilangan kontrol normalnya dan menimbulkan kontraksi otot polos. nonadrenalin. Penyebab epileptic dari neuron . dopamine. (40 adanya ketidak seimbangan ion yang mungubah lingkungan kimia dari neuron yang dapat menyebabkan membrane neuron mengalami depolarisasi. projeksi thallamokortikal difus. karena terjadi perbedaan potensial listrik lapisan intra sel dan ektra sel yaitu rata rata 70 mvolt dimana lapisan intra sel lebih rendah. 5 hidroksitriptamin. 3. C. KLASIFIKASI Epilepsi dapat dilihat dari praktek sehari .1.hari berdasarkan serangan yang terjadi yaitu . hyperpolarisasi atau terhentinya repolarisasi.

Grand Mal (mayor/umum) 2. Focal (Jacksonian) 5.1. hematom. EEG dysfungsi : Untuk melihat lokasi daerah otak yang mengalami . DATA PENUNJANG 1. glukosa (hipirglikemia) : Untuk melihat lesi otak (infak. edema trauma. Miscellaneous (Myoclonic. CT scan : Elektroli tidak seimbang. akinetik) D. Laboratorium 2. abses. 3. Psychomotor (Simptomatik kompleks) 4. tumor dll). Petit mal 3.

Riwayat kesehatan a. Trauma kepala terbuka. Pemeriksaan fisik a. Pengkajian Pengkajian secara rinci adalah sebagai berikut : 1. Sistem Neurologi . Riwayat keluarga dengan kejang b. Riwayat kejang demam c.BAB II DIAGNOSA KEPERAWATAN A. Tumor intrakranial d. stroke e. Riwayat kejang 1) Berapa sering terjadi kejang 2) Gambaran kejang seperti apa 3) Apakah sebelum kejang ada tanda-tanda awal 4) Apa yang dilakuakn pasien setelah kejang 5) Riwayat penggunaan obat a) Nama obat yang dipakai b) Dosis obat c) Berapa kali penggunaan obat d) Kapan putus obat 2.

Pengetahuan pasien dan keluarga 1) Kondisi penyakit dan pengobatan 2) Kondisi kronik . Sistem Kardiovaskular c. Jenis kelamin c. Usia b. Sistem Urologi f. Sistem Gastrointestinal e. Gaya hidup dan dukungan yang ada g. Peran dalam keluarga e.1) Tingkat kesadaran 2) Abnormal posisi mata 3) Perubahan pupil 4) Gerakan motorik 5) Tingkah laku setelah kejang 6) Apnea 7) Cyanosis 8) Saliva banyak b. Sistem Integumen 3. Pekerjaan d. Strategi koping yang digunakan f. Sistem Respirasi d. Psikososial a.

Resiko tinggi tidak efektif jalan nafas / pola nafas Gangguan konsep diri . Masalah Keperawatan Yang Sering Muncul Resiko tinggi terjadinya kecelakaan . 2. Pemeriksaan diagnostic a. 6. kekurangan oksigen. pemeriksaan diagnostic dan tindakan perawatan diri untuk mencegah komplikasi. 1. 3. kebutuhan belajar tentang keadaannya . Haga diri yamg rendah. Radiologi 5. B.3) Kemampuan membaca dan belajar 4. tauma. tindakan. 4. Identitas diri tidak jelas Kurangnya pengetahuan tentang keadaan yang diderita. Laboratorium b. Kaji pemahaman pasien tentang kondisi. Kaji perasaan pasien tentang kondisi penyakitnya.

2005. 1023. L. M. Pharmacotherapy... L. J. 6 th ed. Jakarta. Jakarta Lacy. Inc.T. Informatorium Obat Nasional Indonesia. Stephen J. Anonim. C. Lexicomp. Royal Pharmaceutical Society of Great Britain Anonim. PT Info Master. 2006.M.. British National Formulary. 2007. USA . Armstrong... 1260-1264.F. Depkes RI. New York Tierney. Mc Graw-Hill Companies.. USA Dipiro. Current Medical Diagnosis & Treatment.L. 45th ed... 246-247. 178-181..DAFTAR PUSTAKA Anonim. 980-986. and Lance. 2006. edisi 52.M IM S.1035. P. 14th Ed. Goldman.P. L. 153-154.L. Mc Graw-Hill Companies. A Pathophysiologic Approach. Maxine A. Volume 8. British Medical Association. 2000. Drug Information Handbook.. M. 2006.

e. penurunan tingkat kesadaran. . Pasien dapat menhindari keadaan yang dapat menyebabkan serangan tiba tiba / epelepsi. Bila sempat gunakan tongu spatel dengan segera ke dalam mulut. kelemahan. gunakan thermometer axilla. Hidarkan alat alat yang membahayakan.aspirasi. Intervensi keperawatan a. tauma. Obsevasi tanda tanda vita. Bila serngan tidak tejadi di tempat tidur letakkan bantal di bawqh kepala klien atau letakakn kepala diatas pangkuan perawat untuk mencegah supaya kepala tidak terbentur ke lanatai. f. Bersama klien mengidentifikasi factor yang dapat menyebabkan serangan tiba tiba . c. Dampingi klien saat serangan berlangsung untuk mencegah bahaya luka fisik. d. ketidakseimbangan emosional. keterbatasan pengobatan. Kemungkinan penyebab Hilangnya koordinasi otot – otot tubuh. Tujuan / kriteria evaluasi Pasien mengemukakan factor factor yang menyebabkan trauma/kurang oksigen. pengaruh obat obatan yang diberikan. lidah tergigit. kekurangan oksigen. Pasien memperlihatkan tingkah laku yang kooperatif dan menghidari diri penyebab terjadinya trauma. Resiko tinggi terjadinya kecelakaan .Intervensi keperawatan 1. Miringkan kepala untuk mencegah aspirasi. g. b.

3. jaga jalan nafas tetap lancer dan terbuka . tidak terjadi aspirasi Intervensi Keperawatan a. missal pasang bed plang bila klien gelisah. Bila terdapat lender di jalan nafas lakukan suction. e.tanda serangan yang mendadak. Longgarkan pakai yang sempitdan tahan ektermitas. menurunyak kesadaran. Tujuan / Kriteria Evaluasi . Bila klien tidak sadar. 2.tipe serangan epilepsi j. d. b. Identifikasi apakah terjadi trauma fisik.h. i. Beri rasa aman klien. Diskusikan tentang tanda . tidak dapat mengontrio keadaan diri saat serangan berlangsung. c. Haga diri yamg rendah. Identitas diri tidak jelas Kemungkinan penyebab Menderita penyakit epilepsy. Tujuan / kriteria evaluasi Jalan nafas / pola nafas efektif. Obsevasi tanda – vital agar makanan / cairan dan elektrolot tetap seimbang. bila perlu beri infuse dan NGT. Catat semua gejala . Kaji apakah klien inget terhadap kejadian tersebut . Resiko tinggi tidak efektif jalan nafas / pola nafas Kemungkinan penyebab : Sumbatan tracheobrohial. Gangguan konsep diri .

kebutuhan belajar tentang keadaanya Kemungkina penyebab Keterbatasan pengetahuan. Tujuan / Kriteria Evaluasi Secara verbal mengerti dengan keadaan dan macam – macam stimulus yang dapat menyebabkan serangan .Klien dapat mengidentifikasi perasaan perasaan. . dapat mengontrol terus untuk mendapatkan pengobatan secara rutin Intervensi Keperawatan a. Diskusi tetang perasaan yang dihadapi klien Dorong pasien untuk mengekpresikan pikiran dan perasaanya. Intervensi Keperawatan a. sesuai dengan keadaan sehingga dapat c. menerima keadaan dirinya dan perubahan fungsi / peran / gaya hidup yang dihadapinya. informasi yang salah terhadap keadaany yang dideritanya. b. memperlihatkan perubahan tingkah laku yang positif sesuai dengan keadaannya. Secara verbal mempunyai harga diri meningkat. Kurangnya pengetahuan tentang keadaan yang diderita. b. Kaji keadaan patologi / kondisi klien dan pengobatan yang pernah di dapat klien Diskusi tentang pentingnya control dan minum obat secara teratur. pola koping yang positif / negative. Kaji kemapuan klien yang positif memanfaatkan kemampuan tersebut untuk meningkatkan harga diri klien dan dapat hidup di masyarakat 4. kegagalan pengobatan.

kehamilan. demam. misalnya hamil. misalnya pekerjaan. . olah raga dan rekreasi. minu. mengendarai mobil. Jelaskan kepada klien tentang keadaan yang sedang dihadapi klien dan factor factor yang dapat menyebakan serangan. alcohol/ obat terlarang.c. a) Jumlah yang tidak adekuat dari obat anti epilepsy dalam darah b) Obat obatan anti epilepsi yang tidak cocok c) Terjadinya hiperventilasi d) Trauma otak. penyakit tertentu e) Kurang / tidak tidur f) Strees emosional g) Perubahan hormonal. mentruasi h) Nutrisi yang buruk i) Cairan dan elektrolit yang tidak seimbang j) Alkohol / obat obatan k) Jelaskan keadaan yang harus dihadapi terhadap keadaanya. l) Anjurkan klien untuk selalu membawa tanda pengenal bila bepergian. berenang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful