You are on page 1of 12

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Perawatan konservasi gigi adalah suatu tindakan perbaikan yang dilakukan pada gigi untuk mengembalikan bentuk struktur gigi. Perawatan konservasi gigi tersebut terdiri atas perawatan operative dentistry dan perawatan endodontik. Dalam melakukan perawatan operative dentistry dan endodontik, seorang dokter gigi harus bisa mempertahankan daerah kerja karena banyak sekali masalah -masalah yang ditemukan oleh dokter gigi. Gigi yang dibasahi oleh saliva, lidah yang menggangu penglihatan, bahan kimia dan instrumen yang tertelan, gingival dan mukosa yang berdarah, tuntutan hukum yang terjadi di berbagai daerah, akibat tindakan dokter gigi yang kurang berhati - hati merupakan beberapa masalah yang sering dihadapi dokter gigi dan harus diatasi, sebelum melakukan perawatan dengan teliti dan tepat. Agar diperoleh daerah kerja yang bersih dan kering serta memberikan banyak keuntungan bagi pasien yang dirawat, dokter gigi dan memperkecil kerugian yang dapat terjadi pada waktu dokter gigi bekerja (Baum, Lund & Philips, 1997 ; Pace, 2006 ; Torabinedjad & Walton, 1997). Salah satu metode modern dapat dipergunakan oleh dokter gigi untuk mengisolasi daerah kerja antara lain, mempergunakan rubber dam atau nama lain isolator karet ( bendungan karet ). Alat ini diperkenalkan oleh Standford Christie Barnum, seorang dokter gigi di New York pada abad kesembilan belas tahun1863. Penemuan tersebut didukung oleh Dr. C. E. Francis dengan memberitahukan kepada teman sejawat satu profesinya untuk belajar. I.2 Rumusan Masalah 1. 2. 3. 4. Apa itu pengertian isolator karet? Bagaimana isolator karet untuk mengisolasi daerah kerja? Apa saja pemilihan bahan untuk isolasi daerah kerja? Bagaimana pembuatan lubang pada isolator karet? 5. Apa saja persiapan untuk mengisolasi daerah kerja? 6. Bagaimana cara pemasangan isolator karet? 7. Bagaimana stabilisasi karet? 8. Bagaimana cara membuka isolator? 9. Bagaimana cara membuat klem? 10. Bagaimana cara pemasangan klem klas V? 11. Apa itu isolasi jembatan cekat? 12. Bagaimana isolasi dengan cara bedah? I.3 Tujuan 1. 2. 3. 4. Untuk mengetahui apa itu pengertian isolator karet. Untuk mengetahui bagaimana isolator karet untuk mengisolasi daerah kerja. Untuk mengetahui apa saja pemilihan bahan untuk isolasi daerah kerja. Untuk mengetahui bagaimana pembuatan lubang pada isolator karet. 5. Untuk mengetahui apa saja persiapan untuk mengisolasi daerah kerja. 6. Untuk mengetahui bagaimana cara pemasangan isolator karet.
1

7. Untuk mengetahui bagaimana stabilisasi karet. 8. Untuk mengetahui bagaimana cara membuka isolator. 9. Untuk mengetahui bagaimana cara membuat klem. 10. Untuk mengetahui bagaimana cara pemasangan klem klas V. 11. Untuk mengetahui apa itu isolasi jembatan cekat. 12. Untuk mengetahui bagaimana isolasi dengan cara bedah.

BAB II PEMBAHASAN

II.1 Pengertian (Sera Ayu Wulandari, 11-048) Isolasi daerah kerja merupakan suatu keharusan. Gigi yang dibasahi saliva, lidah yang mengganggu pengelihatan dan ginggiva yang berdarah adalah sedikit dari masalah masalah yang harus diatasi sebelum kerja yang di teliti dan tepat dapat dilakukan. Beberapa metode dapat digunakan untuk mengisolasi daerah kerja : Evakuasi kecepatan tinggi (HVE) Saliva ejektor Gulungan kapas dan Isolator karet Saliva ejektor dan evakuator keceptan tinggi memiliki perbedaan : SALIVA EJEKTOR EVAKUATOR KECEPATAN TINGGI Diameter 4mm Diameter 10mm Untuk menghisap saliva yang tertumpuk Untuk menyerap semua air dan debris dari didasar mulut daerah kerja Dibiarkan tergantung didasar mulut Dioperasikan oleh asisten dokter gigi

Ujung saliva ejektor adalah bagian yang paling kritis karena terus berada didasar mulut, dibawah tekanan negatif yang konstan dan dapat menarik jaringan lunak kedalam orifisnya sehingga menimbulakn lesi yang jelek. Biasakan memiriksa ejektor untuk memastikan tidak terjadinya penutupan pada ujung ejektor, terutama menghilangkan respon respon sensori didasar mulut pasien saat melkukan anastesi lokal. Gulungan kapas untuk menyerap saliva adalah cara yang cukup efektif dalam menghasilkan isolasi jangka pendek, karena biasanya kapas harus sering diganti karena gulungan kapas yang sudah dipenuhi oleh saliva. II.2 Isolator Karet untuk Mengisolasi Daerah Kerja (Reza Yandi Medry, 11-050) Lembaran karet ini dengan gigi yang menonjol melalui lubang pada lembaran itu memberikan isolasi yang positif,dan jangka panjang pada gigi-gigi yang perlu di rawat. Keuntungan pemakaian isolator karet ini adalah: a. b. c. d. e. f. Memberikan isolasi gigi yang sempurna dari saliva dan darah. Mencegah tertelannya instrumen endodontik yang digunakan. Daerah kerja kering dan jelas serta mudah didesenfeksi. Melindungi gusi, lidah dan pipi dari trauma iatrogenic (akibat tindakan operasi). Mempersingkat waktu perawatan yang dilakukan dokter gigi. Proteksi pasien dan operator selama bekerja.

Sedangkan kerugiannya adalah:


3

Perbedaan

a. b. c. d.

Pasien masih merasakan sensitif atau rasa nyeri setelah pemakaian rubber dam. Membutuhkan biaya perawatan yang besar dan waktu aplikasi yang lama. Mempersulit foto rontgen. Dapat terjadi trauma pada papilla gingival.

II.3 Pemilihan Bahan a. Isolator Karet ( Rubber Dam ) Bahan ini harus yang baru.setelah dalam 2-3 tahun dalam rak, isolator mudah berubah dan mudah koyak bila tertarik di atas gigi. Karena warnanya kontras dengan warna gigi yang putih, di pilih warna yang gelap karena lebih efektif. Ukuran standar untuk anak-anak adalah 5x5 inci dan untuk dewasa adalah 6x6 inci. Isolator karet tersedia dalam berbagai ketebalan : tipis (0,15 mm), sedang (0,20 mm), tebal (0,25 mm), ekstra tebal (0,30 mm), khusus ekstra tebal (0,35 mm). Juga tersedia dalam berbagai warna : hijau dan biru. Keuntungan isolator karet yang tipis adalah mudah di pasang dan memberikan rasa nyaman pada pasien.sedangkan keuntungan isolator karet tebal adalah kemampuannya menarik jaringan lunak dan daya tahannya terhadap goresan bur gigi. Walaupun kesukaan individu berbeda sesuai dengan lokasi dan pemakaian tiap tipe,ketebalan medium dianjurkan untuk gigi molar,tebal (atau ekstra tebal)untuk gigi-gigi anterior dan premolar b.Klem (Helsi Yuliastri, 11-052) Penjangkaran karet pada ujung distalnya dilakukan dengan klem.Bahan dasar untuk klem adalah dua jaw,dan 4prong,busur,lubang-lubang dan sayap,klem berbeda mengenai prong mesial dan distalnya tergantung pada keliling eksternal dan bentuk gigi.keempat prong harus memegang gigi dengan tepat pada keempat sudutnya.Bila prong mesial dan distal ditutup,maka menggenggam hanya permukaan bukal dan lingual gigi bila berjauhan akan tergantung bebs,membuat logam penghubung mencekeram gigi melalui kontak tangensial.keadaan terakhir ini lebih buruk disbanding yang sebelumnya karena klem cenderung terdorong kebelakang dan kedepan,mengikis sementum lunak dariakar dan mengenai jaringan lunak gingiva. Rasio dan proporsi ditentukan oleh mata hati operator ketika ia memilih klem untuk gigi anterior,premolar atau molar.diikuti dengan mencoba mengepaskan klem kegigi.dengan melalui percobaan ini klem yang diinginkan kemudian dipilih .Busur dari klem karena terbuat dari baja pegas yang dipanaskan,lebih berat dan lebih kasar untuk klem molar,sedangkan busur dari klem untuk gigi anterior dan premolar yang lebih kecil adalah lebih halus. Gigi yang erupsi sebagian sering kali sulit dipegang ,sehingga membutuhkan klem dengan prong inverted .Lubang-lubang dalam suatu klem harus sesuai dengan paruh dari tang klem.seringkali lubanglubang tidak sesuai dengan paruh tang tersebut.paruh dari beberapa tang mungkin cukup kecil sehingga bisa masuk kelubang klem tetapi terlalu besar untuk mengeluarkan klem sesudah dipasang kegigi,pabrik klem da tang tidak terlalu teliti dalam control kualitas mengenai hal ini,dan modifikasi oleh dokter gigi mungkin diprlukan untuk membuatnya dapat digunakan. Suatu klem dapat memiliki 4sayap proyeksi,2di lateral dan 2 dianterior ,karena ditunjukan untk menahan karet agar tidak menutupi daerah kerja ,sayap-sayap ini seringkali menghalangi penempatan penempatan retainer matriks dan instrument-instrumen lainnya ketika bekerja.pda tiap
4

tingkatan,mahasiswa didorong untuk mengunakan isolator karet sesering mungkin,tiap pemakaian memiliki pengetahuan menyeluruh mengenai pemakaiannya,dapat dipilih klem yang tepat an dipasang karet dengan terampil.latihan adalah penting keterampilan sebagaidokter gigi operatif,pertama kali haruslah berupa terampil dalam memasang isolator karet. c. Pelumas Isolator karet lebih mudah dipasang bila digunakan pelumas.bila pelumasnya dapat larut dalam minyak dan dapat larut dalam air,akan berpenetrasi dan dengan cepat menyebabkan karet menjadi rusak.sabun cukur adalah pilihan pertama sebagai pelumas.gosok permukaan batangan abun yang basah,ambil yang hacur dengan jari dan oleskan ke lubang-lubang pada prmukaan dalam isolator karet tersebut. d.Handuk (Reza Andika Putra, 11-054) Handuk digunakan untuk kenyamanan pasien.Keringat dan saliva yang keluar mudah di blok oleh handuk untuk memisahkan isolator dari kulit. e. Pemegang Isolator Karet Isolator katet harus di tarik umtuk mendapatkan akses yang luas ke rongga mulut. Ada berbagai type dan desain pemegang isolator karet. Pada dasarnya meliputi, (a).traksi servikal, dengan strap di sekeliling kepala atau leher atau (b).rangka fasialn yang menghasilkan tarikan sirkumferensial di sekeliling mulut itu sendiri. Yang pertama lebih menguntungkan dari sudut pandang operator karena bisa menarik karet ke belakang dan memnjaganya tetap setinggi wajah.Traksi servikal memberikan akses yang lebih besar dan memperbaiki tumpuan jari,karena tangan operator dapat di letakan lebih dekat ke daerah kerja.Strap kadang\-kadang menggangu pasien karena potongan rambutnya menjadi rusak.Juga jika metode ini fiksasi strap di gunakan,lebih sulit menempatkan penyedot kecepatan tinggi dan menggontrol aliran air selama prosedur pengeboran. Rangka fasial lebih mudah serta lebih cepat di pasang dan lebih cepat di tolerir oleh pasien.Meskipun demikian,rangka memang menghambat pergeraakan operator dan tidak memberikan keamanan dan pengjangkaran sebanyak type servikal. Pemakaian salah satu type tersebut dapat memenuhi kebutuhan operator,dan keduanya harus di kuasai-rangka untuk kegiatan rutin dan type servikal untuk pemakaian yg sulit atau kompleks. II.4 Pembuatan Lubang (Fitriyani, 11-056) Lubang-lubang dibuat untuk mempertegas kurvatur rahang dan diberi jarak sesuai dengan jarak di antara gigi-gigi. Untuk memastikan keseragaman batas-batas karet setelah pemasangan, 2 tanda utama harus selalu diingat. Pertama, untuk pemasangan rahang atas, gigi-gigi insisivus harus terletak 1 ici dari batas atas. Kedua, untuk pemasangan rahang bawah, lubang yang paling posterior sedikit ke kanan atau ke kiri dari pusat karet.

Keliling dari rahang juga menentukan lokasi lubang. Tujuan menjarakkan lubang agar karet dengan mudah menempati tiap gigi tanpa mengkerut. Bila terlalu rapat atau tidak tepat gigi bisa dimasukkan dalam lubang tetapi karet akan ditarik ke samping, sehingga memungkinkan saliva keluar. Buat lubang gigi dalam jumlah cukup banyak pada pemasangan isolator karet untuk prosedurprosedur operatif. Misalnya, pemasangan di anterior harus meliputi sedikitnya 7 gigi. Gigi yang menonjol keluar melalui karet memberikan akses pada operator, emnarik bibir, dan memberikan sejumlah gigi anterior kering yang berfungsi sebagai tempat tumpuan jari. Pemasangan posterior harus mencakup dari M1 atau M2 ke kaninus di seberangnya. Klem diletakkan satu gigi lebih distal dari gigi yang sedang dikerjakan. Pemakaian dan pemeliharaan yang cermat dari pembuatan lubang tidak boleh diabaikan. Pembuatan lubang harus diberi minyak, tidak boleh di autoklaf, dan harus disimpan di tempat yang kering. Di atas segalanya, operator harus yakin bahwa kon pembuat lubang sebelum ditekan untuk melubangi karet. Kecerobohan dalam hal ini akan merusak instrument yang mahal ini. Lubang-lubang harus jelas dan rapi. Lubang dengan sisi yang bergeruntul akan menyebabkan robeknya karet bila ditarik kuat-kuat. Dalam memasang isolator karet, ada tiga langkah yang harus dilakukan : persiapan, pemasangan, dan stabilisasi. II.5 Persiapan (Evy Christiana, 11-058) Penyiapan bahan-bahan dan inspeksi gigi-gigi adalah hal yang penting. Peralatan: 1. Peralatan dasar: kaca mulut, sonde, penjepit kapas, instrument plastic. 2. Pelubang isolator karet 3. Tang klem isolator karet 4. Isolator karet yang telah ditandai untuk dilobangi 5. Pemegang isolator karet 6. Handuk isolator karet 7. Dua potong pita gigi (dental tape) panjang 18 inci 8. Pelumas karet 9. Saliva ejector 10. Gunting 11. Klem R-D Kalkulus dan debris lainyya dibersihkan, titik kontak diperiksa dengan meewatkan pita gigi, dan sudu-sudut tajam dari email yang dapat mengoyakkan isolator karet dibuang. Nklem yanb akan digunakan telah dicoba ke gigi dan telah diuji untuk memastikan agar klem tidak lepas. Pita gigi harus dikaitkan ke busur sebagai jaminan agar klem tidak lepas. Pasien juga diberi ppelumas seperti Borofax ke bibir, terutama pada sudut bibir. II.6 Pemasangan (Dina Aulya Amli, 11-060) Urutan yang dianjurkan : 1. Pemasangan klem 2. Pemberian pelumas pada karet
6

3. Pemasangan karet ke gigi distal dan klem termasuk semua sayap. 4. Pemasangan handuk isolator karet. 5. Pemasangan pemegang. Suatu tanda identifikasi dalam bentuk lubang dibuat pada sudut kanan bawah darv karet untuk patokan dalam mengorientasikan karet sebelum pemasangan pemegang. 6. Karet kemudian di tarik ke gigi seberangnya. Biasanya gigi caninus atau premolar 7. Bekerja dari gigi ini kebelakang klem, karet ditarik dengan ibu jari pada permukaan labial dan jari telunjuk pada permukaan lingual. Untuk membantunya, kuku ibu jari dari tangan lain dapat digunakan. 8. Pita gigi sekarang digunakan untuk melewatkan karet melalui satu atau dua titik kontak yang tersisa. II.7 Stabilisasi Karet (Dwiky Zulya, 11-062) 1) Gunakan klem isolator karet,tentu saja untuk memegang ujung distal dari karet sekng paeliling gigi yaling posterior.kadang perlu menggunakan klem lain untuk menahan karet sekeliling kaninus atau premolar pertama pada sisi rahang yang berlawanan.ini dapat dicegah dengan menggunakan sepotong pipa karet yang lebar yang di ambil dari sudut karet.menahan dan menariknya untuk mendapat sepotong pita gigi dan melewatkannya melalui titik kontak kaninus dn premolar pertama.tegangan yang dilepaskan akan memungkinkan karet mengikat kembali dan dengan kuat memeluk gigi pada embrasure ginggiva untuk mencegah isolator karet lepas dari antara gigi- gigi ( gambar 8-27) 2) Pemeriksaan pada karet yang mengelilingi gigi yang di klem dapat menunjukan suatu sayap yang tidak di lingkari oleh karet atau beberapa jaringan gigi distal yang dimasukan bersama gigi.manipulasi karet dengan jari atau instrumen plastic dapat dengan mudah membetulkan posisi karet untuk memblokir masuk nya cairan mulut. 3) Invaginasi karet di sekeliling leher gigi hanya diperlukan pada daerah yang akan dirawat.tetapi memasukan karet kedalam sulkus disekeliling semua gigi akan menghasilkan suatu lapangan kerja yang sangat rapi dan bersih. 4) Pemegang diperiksa untuk kenyaman pasien dan karet dibawah hidung diperiksa untuk memastikan pasien dapat bernapas dengan bebas. 5) Dengan adanya lipatan pada karet,kerutan berlebihan pada isolator yang menutupi dagu dapat dihilangkan. 6) Banyak pasien tidak membutuhkan saliva ejektor tetapi bila diperlukan harus diletakan tanpa menggangu kenyaman pasien sebaik nya melalui lubang didalam isolator karet (gambar 8-29)lubang tersebut harus dibuat berlawanan dengan daerah kerja agar tidak mengganggu pemakaian henpis.sebagai suatu pilihan,ejektor dapat dilewatkan dibawah isolator karet dan masker muka. 7) Daerah tersebut harus disiram,difakum,dikeringkan. II.8 Membuka Isolator (Diang Fitri, 11-064) Membuka isolator karet relatif sederhana. Caranya sebagai berikut: 1. Pertama-tama klem dibuka dan dikesampingkan 2. Dengan menarik karet ke bukal atau lingual, operator memotong karet pada tiap septum dengan gunting. 3. Masker karet sekarang dibuka diikuti dengan penempatan handuk dingin untuk melap bibir dan menyegarkan pasien kembali.
7

Walaupun pembukaannya mudah, pemotongannya septal dari karet dapat tertinggal tanpa diketahui. Secara rutin, operator harus memengang penutupnya ke atas ke arah cahaya untuk membuka apakah ada fragmem-fragmen karet yang tertinggal yang mungkin masih terdapat di sulkus ginggiva. II.9 Membuat Klem Walaupun bentuk dan ukurannya sesuai dengan hampir semua gigi, perubahan-perubahan pada jaw, sayap dan prongnya harus dilakukan sebagai hal yang rutin. Bur fisur yang kasar dengan cepat mengubah klem stok menjadi yamg siap pakai. Walaupun suatu klem telah di modifikasi, tidak perlu di buang karena bisa di simpan untuk pemakaian di lain waktu. II.10 Pemasangan Klem Klas V (Silvia Desrianita, 11-066) Tujuan pemasangan klem adalah untuk menstabilkan isolator karet dan mengisolasi daerah kerja pada atau dekat akar.Pemasangan sangat penting untuk klem tipe 212.Mamfaat terbesarnya adalah kesderhanaan dan busurnya yang rapuh, yang memungkinkan akses ke daerah kerja. Salah satu persyaratan dari klem ini yang berbeda dari yang lain adalah kepasifannya. Semua klem baik yang terdapat dari baja tahan karat atau baja berlapis kromium, tidak dapat dibengkokkan. Klem ini akan membuka kembali bila dibengkokkan dan tekanan yang melewati batas elastisitasnya akan menyebabkan fraktur.hal ini tidak dijumpai pada klem 212. Walaupun pun kuat dan kaku klem ini bias dibengkokkan dan diubah bentuknya. Begitu telah selsesai dibuat, klem baja tahan karat sulit dilunakkan dan diubah lagi. Klem dari baja yang tinggi kadar karbonnya, dapat dilebur dengan memanaskannya sampai merah dan membiarkannya mendingin. Pada umumnya suatu klem pasif yang belum dibentuk tidak memeluk gigi seketat klem yang telah terbentuk, dan harus ditangani dengan baik hati-hati dan teliti sementara meretraksi ginggiva. Bila paruh dari klem sudah terlalu terbuka, dapat dirapatkan kembali dengan jari dan dipasang krmbalike gigi. Pemasangan klem ke gigi dilakukan sebelum pemasangan isolator karet. Akan merupakan keadaan yang ideal bila lokasi batas ginggiva dari lesi di bukal sama tingginya dengan tepi ginggiva di lingual. Tang dapat membengkokkan paruh k eats atau ke bawah agar mendapatkan keadaan pas yang di inginkan ( gambar(8-38 dan gambar 8-39). Efeksivitas sebernya dari klem No. 212 klas V tidak diberikan oleh logam itu sendiri, tetapi oleh bahan cetak kompoun yang melekatkannya dengan kuat ke gigi. Gigi-gigi dapat sedikit dgosok dengan peroksida atau dilapisi dengan vernis kavitas untuk menjamin perlekatan yang lebih baik dari kompoun tersebut. Pemberian kompoun tidak sulit. Petunjuk-petunjuk berikut sangat membantu dalam pemasangan klem 212. 1. Jari-jari diolesi sedikit dengan pelumas (Borofax atau Petroleum jelly)untuk mencegah kompoun melekat ke jari (Beberapa operator lebih menyukai air untuk tujuan ini dan juga untuk membentuk kompoun). 2. Klem distabilisasi memegang paruh bukal menggunakan ibu jari sampai kompoun tersebut telah dilekatkan seluruhnya, dibentuk, dan didinginkan. 3. Pemberian kompoun yang pertama adalah di bawah busur distal. Setelah dibentuk, ulangi untuk busur mesial.

4. Setelah kompoun tersebut dilekatkan dan dibentuk, pendinginan dapat dipercepat dengan meletakkan gulungan kapas yang basah ke kompoun tersebut. Aksi penguapan mendinginkan kompoun tersebut ketika udara disemprotkan ke permukaannya. II.11 Isolasi Jembatan Cekat (Dinda Rosmaulisa, 11-068) Isolasi gigi yang telah diberi jembatan cekat yang terletak di sebelah bagian yang di solder, perlu di isolasi. Selain bahan-bahan standarn jarum jahit melingkar nomor 4 (ujung tumpul) dan pemegang jarum juga di gunakanm. Lubang-lubang dibuat dengan cara yang sama, termasuk lubang-lubang yang lebih besar ukurannya untuk tiap unit jembatan. Isolator karet diletakkan diatas semua gigi kecuali untuk geligi tiruan sebagian cekat. Jarum diberi benang dengan pita gigi dan dilewatkan melalui sisi bukal dari lubang nomor 1 (pilar (abutment) anterior di bawah pertemuan solder anterior dan keluar dari sisi lingual lubang no1 juga. Dengan mengubah arah jarum tersebut sekarang ditarik ke belakang melalui sisi lingual dari lubang nomor2 (pontik), tetapi masih di bawah penyatuan solder medial, dan keluar dari sisi fasial lubang nomor2. Kedua ujung pita tersebut disatukan dan diikat kuat dengan satu simpul persegi dan dipotong. Dengan cara yang sama, pita ditarik di bawah penyatuan solder posterior melalui lubang nomor3 (pilar posterior) dalam arah lingual dan kembali melalui lubang nomor 2 dalam arah fasial. Pita tersebut ditarik kuat, diikat, dan dipotong (gambar 8-50 sampai 8-54). Setelah kerja tersebut selesai dilakukan, pembukaan isolator dapat dengan mudah dilakukan dengan memotong daerah intersepsial karet di atas penyatuan solder menggunakan instrumen yang tajam. Potongan-potongan pita yang kecil dibuang dan mulut diperiksa untuk melihat ada tidaknya fragmen-fragmen karet yang tersisa. II.12 Isolasi dengan Cara Bedah (Nadya Pratiwi, 11-070) Dua metode lain dapat dilakukan oleh dokter gigi bila ingin mendapatkan dareah kerja yang kering dan akses dalam melakukan pelayanan klinis.Dua metode ini melibatkan invasi bedah jaringan lunak di sebelahnya dan kedua metode ini digunakan untuk mendapatkan akses kepermukaan akar yang biasanya berada di bawah jarngan gingiva. a. Metode 1 Retraksi bedah adalah salah satu cara untuk mendapatkan akses ini.Hal ini dilakukan dengan cara membebaskan jaringan dari perlekatannya,yang sering melibatkan insisi,dan membuka flap ke atas (atau kebawah) sehingga tidak menutupi dareah kerja .Isolator karet dangan klem,di pasang untuk mengontrol cairan dan menahan gingival selam proses operatif dilakukan.Bila telah selesai,klem dan karet dibuka dan jaringan direposisi kembali dan di tahan di tempatnya,biasanya dengan jahitan atau pak periodontal. b. Metode 2 Menghilangkan jaringan yang tidak diinginkan dengan bedah elektro.Pendarahan pada bedah elektro biasnya bukan karena ujung ujung arteri di kauterisasi dengan aksi memotong.Pemakaian utama dari bedah elektro adalah untuk preparasi mahkota; tetapi sering digunakan untuk membuka permukaan fasial gigi.Karena itu metode ini dapat digunakan dengan atau tanpa isolator karet ,tergantung keadaan pada saat tersebut. Semua prosedur operativ sebaiknya dilakukan di permukaan yang kering dan tidak terkontaminasi sehingga bahan yang di gunakan dapat memberikan sifat-sifat fisisnya yang optimal pada dokter gigi.Pada sisi lain,mata operator dapat melihat dengan jelas dan tak terganggu bila daerah kering dan tidak di tutupi debris.
9

BAB III PENUTUP


III.1 Kesimpulan Isolasi daerah kerja merupakan suatu keharusan. Gigi yang dibasahi saliva, lidah yang mengganggu pengelihatan dan ginggiva yang berdarah adalah sedikit dari masalah masalah yang harus diatasi sebelum kerja yang di teliti dan tepat dapat dilakukan. Beberapa metode dapat digunakan untuk mengisolasi daerah kerja : Evakuasi kecepatan tinggi (HVE) Saliva ejektor Gulungan kapas dan Isolator karet

Keuntungan pemakaian isolator karet ini adalah: a. b. c. d. e. f. Memberikan isolasi gigi yang sempurna dari saliva dan darah. Mencegah tertelannya instrumen endodontik yang digunakan. Daerah kerja kering dan jelas serta mudah didesenfeksi. Melindungi gusi, lidah dan pipi dari trauma iatrogenic (akibat tindakan operasi). Mempersingkat waktu perawatan yang dilakukan dokter gigi. Proteksi pasien dan operator selama bekerja.

Sedangkan kerugiannya adalah: a. b. c. d. Pasien masih merasakan sensitif atau rasa nyeri setelah pemakaian rubber dam. Membutuhkan biaya perawatan yang besar dan waktu aplikasi yang lama. Mempersulit foto rontgen. Dapat terjadi trauma pada papilla gingival.

III.2 Saran Dalam melakukan perawatan operative dentistry dan endodontik, seorang dokter gigi harus bisa mempertahankan daerah kerja karena banyak sekali masalah -masalah yang ditemukan oleh dokter gigi. Sebaiknya melakukan isolasi daerah kerja karena gigi yang dibasahi saliva, lidah yang mengganggu pengelihatan dan ginggiva yang berdarah adalah sedikit dari masalah masalah yang harus diatasi sebelum kerja yang di teliti dan tepat dapat dilakukan.

10

DAFTAR PUSTAKA

Amy. 2011. Isolasi Daerah Kerja. (http://www.scribd.com/doc/61577875/My-Skripsi), diakses 6 November 2012. Asmalia, Dha. 2010. Penggunaan Alat Kedokteran Gigi Secara Rasional - modul 302. (http://dhaasmalia.blogspot.com/2010/11/penggunaan-alat-kedokteran-gigi-secara.html), diakses 6 November 2012. Baum, Lund & Philips. 1995. Buku Ajar Ilmu Konservasi Gigi. edisi III. EGC : Jakarta. Hasanah, Iradatul Syahril. 2011. Pulp Cuping Tutorial-Isolasi. (http://www.scribd.com/doc/110821492/Pulp-Capping-Tutorial), diakses 6 November 2012.

11

1. Risa Nanda : Menurut kelompok anda, lebih bagus dan sering penggunaan isolasi jembatan cekat atau isolasi dengan cara bedah? ( Dijawab oleh : Menurut kami, isolasi jembatan cekat dan isolasi dengan cara bedah itu berbeda. Itu tergantung oleh kasus dari pasien tersebut. Isolasi jembatan cekat jika ada masalah pada gigi cekat pasien, sedangkan isolasi dengan cara bedah melibatkan invasi bedah jaringan lunak dan untuk mendapatkan akses kepermukaan akar yang biasanya berada di bawah jarngan gingiva.

2. Idola Putri : Jelaskan perbedaan evakuasi kecepatan tinggi dengan saliva ejector! ( Dijawab oleh : Evy Christiana SALIVA EJEKTOR Diameter 4mm Untuk menghisap saliva yang tertumpuk didasar mulut Dibiarkan tergantung didasar mulut EVAKUATOR KECEPATAN TINGGI Diameter 10mm Untuk menyerap semua air dan debris dari daerah kerja Dioperasikan oleh asisten dokter gigi Perbedaan

3. Rexo : Jelaskan perbedaan isolasi dengan cotton roll dan tampon! ( Dijawab oleh : Reza Andika Tampon untuk menghentikan pendarahan, biasanya penggunaannya dengan digigit oleh pasiennya. Cotton roll untuk menyerap saliva yang diletakkan pada sebelah bukal/labial dan lingual tergantung elemen gigi yang dirawat.

12