You are on page 1of 26

LAPORAN KASUS NYERI PASCAHERPES (NPH

)

Disusun oleh: Nurul Nurnita Afifah 030.08.187

Pembimbing: dr. Mukhdiar Kasim, Sp.S Kepaniteraan Klinik Ilmu Saraf RSUD Cilegon Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta 2013

1

LAPORAN KASUS I. ANAMNESIS Identitas Nama Jenis Kelamin Usia Alamat Agama Status : Tn. R : Laki- laki : 68 tahun : Jl. Kubang wates, Cilegon : Islam : Menikah

Tanggal Masuk RS : 14 Mei 2013 Auto dan Alloanamnesis dilakukan pada tanggal 14 mei 2013 di poli saraf Keluhan utama Nyeri pada bagian dada kanan hingga ketiak dan lengan atas dalam seelah kanan sejak seginggu yang lalu sebelum berobat Keluhan tambahan Bagian yang nyeri terasa dampe, Timbul bintil-bintil di bagian yang sakit, tangan kanan tidak bebas bergerak karena nyeri, batuk dan pilek. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke poli saraf dengan keluhan nyeri pada bagain dada kanan hingga bagian ketek dan lengan atas bagian dalam yang sudah d rasakan sejak seminggu yang lalu sebelum berobat, nyeri yang dirasakan seperti di tusuk-tusuk dan terus menerus, pada bagian nyeri juga dirasakan dampe(kebas) dan timbul bintil-bintil yang timbul bersamaan dengan nyeri, tangan kanan tidak bisa bergerak bebas karena nyeri, terdapat batuk pilek. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien 1,5bulan yang lalu baru sembuh dari penyakit cacar ular. Tidak ada tekanan darah tinggi dan kencing manis
2

RCTL +/+ : normotia. timpani.5 C : normocephal : CA -/-. wh -/: supel. : KGB dan tiroid tidak teraba membesar : BJ I-II reguler. RCL +/+. sianosis (-). bising usus + : akral hangat + + + + udem : Lemah. murmur (-). pupil bulat isokor. serumen +/+ : septum deviasi (-). SI -/-. sekret (-) : mukosa tidak hiperemis. gallop (-) : SN vesikuler. PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis Keadaan umum Kesadaran Tanda vital Tekanan darah Nadi Nafas Suhu Kepala Mata Telinga Hidung Mulut Leher Jantung Paru Abdomen Ekstremitas Status Neurologik • • • GCS : E4 M6 V5 = 15 : 130/80 mmHg : 88 x/menit : 16x/ menit : 36.Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada keluarga yang menderita penyakit seperti pasien. oral hygiene buruk. rh -/-. tampak sakit sedang : Compos mentis Tanda rangsang meningeal: kaku kuduk (-) Peningkatan tekanan intrakranial: Penurunan kesadaran : (-) Muntah proyektil Sakit kepala : (-) : (-) 3 . II.

N. N. V (Trigeminus) 4 . N.II (Opticus) : tidak dilakukan pemeriksaan Kanan Tajam penglihatan Lapang pandang Pengenalan warna 3.Edema pupil • Saraf Kranialis 1. N. N. I (Olfactorius ) Tidak dilakukan 2.III (Oculomotorius) Ptosis Strabismus Nistagmus Exopthalmus Pupil Bentuk Ukuran Gerak bola mata Medial Atas lateral Atas medial Bawah lateral Atas Bawah Kiri Keterangan Tidak dapat dinilai Tidak dapat dinilai Tidak dilakukan Kanan (-) (-) (-) (-) Bulat 3 mm (+) (+) (+) (+) (+) (+) (+) (+) Kiri (-) (-) (-) (-) Bulat 3 mm (+) (+) (+) (+) (+) (+) (+) (+) Keterangan Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Refleks pupil Langsung Tidak langsung 4. IV (Trokhlearis) Kanan Gerak bola mata Bawah medial (+) (+) Normal Kiri Keterangan 5.

Meringis .Daya pengecapan 2/3 Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Simetris Simetris Simetris Simetris Simetris Simetris Simetris Kiri Keterangan Lateral (+) (-) (-) (+) (-) (-) Normal Normal Normal Strabismus Kiri Keterangan 8. VIII (Akustikus) Kanan Suara gesekan jari tangan Suara detik arloji Kiri Keterangan (+) simetris Tidak dilakukan 5 .Mengangkat alis . VII (Facialis) Kanan Motorik: .Lipatan nasolabial . N. VI (Abduscens) Kanan Gerak bola mata Deviasi 7. N.Sudut mulut . N.Menggembungkan pipi .Kanan Sensorik Motorik Membuka rahang Menggigit (+) (+) V1 (opthtalmik) V2 (maksilar) V3 (mandibular) Refleks kornea (+) (+) (+) (+) Kiri (+) (+) (+) (+) (+) (+) Keterangan Normal Normal Normal Tidak dilakukan Normal Normal 6.Mengerutkan dahi .

IX (Glossofaringeus) Keterangan Arkus farings Daya perasa Refleks muntah 10. N. XI (Assesorius) Mengangkat bahu Memalingkan kepala 12.Tes Rinne Tes Webber Tes Swabach 9. N. N. N. X (Vagus) Bicara Menelan Arcus faring 11. XII (Hipoglossus) Menjulurkan lidah Pergerakan lidah Artikulasi Keterangan Normal Normal Normal Kanan (+) (+) Kiri (+) (+) Keterangan Normal Normal Simetris Simetris Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Keterangan Normal Normal • • Kekuatan motorik : 4 5 5 5 Sistem sensorik Raba Nyeri Suhu Kanan (+) (+) Kiri (+) (+) Keterangan Normal Normal Tidak dilakukan 6 .

nodulus-nodulus sekitar bagian kulit yang hipo pigmentasi Palpasi : 1. bagian hipo pigmentasi bagain thoraks kanan setinggi T1 dan T2 Pemeriksaan sensorik raba dan nyeri 7 . tampak bagian kulit yang hipo pigmentasi 2.Propioseptif Tidak dapat dinilai • Refleks Kanan Fisiologis Biseps Triseps Knee Achiles Patologis Babinski Chaddock HoffmanTromer Schaefer Oppenheim Gordon (+) (+) (+) (+) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (+) (+) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) Normal Normal abnormal abnormal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Kiri Keterangan Sistem otonom • Miksi: Inkontinensia Retensi Anuria : (-) : (-) : (-) • Defekasi: Inkontinensia Retensi : (-) : (-) Status lokalis : Thoraks kanan bagain axila ekstermitas dextra proksimal: Inspeksi: 1.

Kanan Raba C5 C6 C8 T1 T2 T3 Nyeri C5 C6 C8 T1 T2 T3 ++ ++ ++ +++ +++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ + + ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ Kiri Keterangan simetris simetris simetris Asimetris Asimetris simetris simetris simetris simetris Asimetris Asimetris simetris 8 .

PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan laboratorium Tidak dilakukan Pemeriksaan pencitraan Tidak dilakukan IV. RESUME Pasien laki-laki. dan di dapatkan sakit mengangkat tangan kanan karena disebabkan nyeri. pada sensorik didapatkan meningkat pada nyeri di thorakal 1 dan dua sedangkan menurun pada raba d bagian T1 dan T2 tersebut. riwayat penyakit dahulu pasien baru sembuh dari sakit cacar ular 1.III. tahun datang ke poli saraf RSUD Kota Cilegon dengan keluhan nyeri seperti diusuk-tusk yang sudah dirasakan sejak seminggu yang lalu di bagian dada hingga lengan atas dalam ternasuk ketiak sebelah kanan. dan juga dirasakan dampe pada bagian tersebut dan di jumpai adnya nodulusnodulus. pada pemeriksaan fisik didapatkan gerakan motorik tangan kanan terbatas karena nyeri.5bulan yang lalu. 9 .

teriris atau nyeri disetetik yang 10 .V. PROGNOSIS Ad vitam Ad sanationam : Bonam : dubia ad malam Ad functionam : Bonam BAB II TINJAUAN PUSTAKA NEURALGIA POST HERPES II. TATALAKSANA Medikamentosa : Renvol (golongan diklofenak na) Nepatic (gabapentin) Zyprax (ansietas) Kalmenthasone (dexamenthason) Myiori (eperisone) VII. 1 Pendahuluan Neuralgia post herpetik (PHN) merupakan komplikasi yang serius dari herpes zooster yang sering terjadi pada orang tua. DIAGNOSIS Diagnosis klinis : nyeri pasca herpes Diagnosis etiologis : Virus varisella zoster VI. Neuralgia ini dikarakteristikan sebagai nyeri seperti terbakar.

8 Herpes zoster merupakan infeksi virus (yang sifatnya terlokalisir) dari reaktivasi infeksi virus varicella-zoster endogen (telah ada sebelumnya dalam tubuh seseorang).2. Tipe Virus yang bersifat patogen pada manusia adalah herpes virus-3 (HHV-3). 4. 11 . Beberapa dari pendekatan ini terbukti efektif namun NPH masih saja merupakan sumber rasa frustrasi bagi pasien dan dokter. Sejumlah pendekatan dilakukan untuk mengatasi nyeri akibat zoster. Ditengahnya terdapat DNA untai ganda. 1.3 Neuralgia pascaherpetik (NPH) merupakan sindrom nyeri neuropatik yang sangat mengganggu akibat infeksi Herpes zoster. biasa juga disebut dengan varisella zoster virus (VZV).bertahan selama berbulan-bulan bahkan dapat sampai tahunan. Virus ini termasuk dalam famili herpesviridae. 2 Etiologi Neuralgia post herpetik disebabkan oleh infeksi virus herpes zooster.7. Virus varisella zoster merupakan salah satu dari delapan virus herpes yang menginfeksi manusia. menghambat progresivitasnya menuju NPH dan mengatasi NPH. Reaktivasi virus sering terjadi setelah infeksi primer. Virus varisella zoster memiliki diameter sekitar 180-200 nm. II. The International Association for Study of Pain (IASP) menggolongkan neuralgia post herpetika sebagai nyeri kronik yaitu nyeri yang timbul setelah penyembuhan usai atau nyeri yang berlangsung lebih dari tiga bulan tanpa adanya malignitas. Struktur virus terdiri dari sebuah icosahedral nucleocapsid yang dikelilingi oleh selubung lipid. Herpes Zooster adalah infeksi virus yang terjadi senantiasa pada anak-anak yang biasa disebut dengan varicella (chicken pox).6. NPH biasanya terjadi pada populasi usia pertengahan dan usia lanjut serta menetap hingga bertahuntahun setelah penyembuhan erupsi (cacar). Virus ini bersifat laten pada saraf sensorik atau pada sarafsaraf wajah dan kepala (saraf kranialis) setelah serangan varicella (cacar air) sebelumnya. Virus ini berdiam di ganglion posterior susunan saraf tepi dan ganglion kranialis terutama nervus kranialis V (trigeminus) pada ganglion gasseri cabang oftalmik dan vervus kranialis VII (fasialis) pada ganglion genikulatum. namun bila sistem kekebalan tubuh mampu meredamnya maka tidak nampak gejala klinis.5.

II. virus berjalan di sepanjang akson menuju ke kulit. insidensnya pada lanjut usia (diatas 60-70 tahun) mencapai 10 kasus per-1000 orang pertahun. virus varisella zoster bereplikasi dan menyebar melalui aliran darah sehingga terjadi viremia dengan manifestasi lesi kulit yang tersebar di seluruh tubuh. sementara NPH juga mencapai 50% pada pasien-pasien ini dan mengalami nyeri yang berkepanjangan (dalam hitungan bulan bahkan tahun). Pada nasofaring. Angka insidens zoster dalam komunitas diperkirakan mencapai 1. Hilangnya imunitas seluler terhadap virus dengan bertambahnya usia atau status imunokompromis dihubungkan dengan reaktivasi klinis. Pajanan pertama biasanya terjadi pada usia kanak-kanak.Sekitar 90% orang dewasa di Amerika Serikat pada pemeriksaan laboratorium serologik (diambil dari darah) ditemukan bukti adanya infeksi varicella-zoster sehingga menempatkan mereka pada kelompok resiko tinggi herpes zoster.4 per-1000 orang tiap tahunnya. Peningkatan usia nampaknya menjadi kunci faktor resiko perkembangan herpes zoster. Saat terjadi reaktivasi.2 hingga 3. akan sangat sulit melakukan penatalaksanaan secara efektif.000 kasus tiap tahun dan sekitar 9-24% pasienpasien ini akan mengalami NPH. Patogenesis terjadinya herpes zoster disebabkan oleh reaktivasi dari virus varisella zoster yang hidup secara dorman di ganglion. virus ini bereplikasi menyebabkan pembengkakan. diperkirakan insidennya bisa mencapai lebih dari 500. 3 Patologi dan patogenesis Infeksi primer virus varisella zoster dikenal sebagai varisella atau cacar air. virus ini bersarang di ganglia akar dorsal. Dari angka tersebut. Sekali NPH terjadi. Setelah infeksi primer dilalui. vakuolisasi dan lisis sel sehingga hasil dari proses ini terbentuk vesikel yang dikenal dengan nama ‘Lipschutz inclusion 12 . Pada kulit terjadi proses peradangan dan telah mengalami denervasi secara parsial. NPH sendiri menimbulkan masalah baru akibat disability. Di sel-sel epidermal. Imunitas seluler berperan dalam pencegahan pemunculan klinis berulang virus varicella zoster dengan mekanisme tidak diketahui. depresi dan terisolasi secara sosial serta menurunkan kualitas hidup. Periode inkubasi sekitar 14-16 hari setelah paparan awal. hidup secara dorman selama bertahun-tahun. Virus ini masuk ke tubuh melalui system respiratorik.

Karena itu sumasi temporal yang wajar hilang. 1. Gambaran leptomeningitis ringan yang terbatas pada segmen spinal. Hal ini menunjukkan adanya kelainan pada proses transduksi. Karena sebagian besar dari serabut tebal sudah musnah. karena impuls yang seharusnya dihantarkan melalui serabut tebal dihantarkan oleh serabut halus. Proses perjalanan virus ini menyebabkan kerusakan pada saraf. Reaksi inflamatorik pada akar spinal dan saraf perifer beserta ganglionnya. Akibatnya sumasi temporal tidak terjadi. dan hilangnya sel-sel saraf. Beberapa perubahan patologi yang dapat ditemukan pada infeksi virus varisella zoster: 1. maka mayoritas dari serabut terdiri dari serabut halus. Mereka tergolong dalam serabut halus yang mengahantarkan impuls nyeri.body’. kranial dan akar saraf yang terlibat. Gambaran poliomielitis yang mirip dengan akut anterior poliomielitis.17 Penghantaran nyeri pada proses transmisi juga mengalami gangguan. Virus herpes zooster kebanyakan memusnahkan sel-sel ganglion yang berukuran besar. 2. Reaksi inflamatorik pada beberapa unilateral ganglion sensorik di saraf spinal atau saraf kranial sehingga terjadi nekrosis dengan atau tanpa tanda perdarahan.11.2. Hal ini diakibatkan oleh hilangnya impuls yang disalurkan oleh serabut tebal maka semua impuls yang masih bisa disalurkan kebanyakan oleh serabut halus. Selain itu pada saraf perifer terjadi perlukaan mengakibatkan saraf perifer tersebut memiliki ambang aktivasi yang lebih rendah sehingga menimbulkan hyperesthesia yaitu respon sensitifitas yang berlebihan terhadap stimulus.4. yang dapat dibedakan dengan lokalisasi segmental. Yang luput dari maut dan tersisa adalah sel-sel berukuran kecil. 1. nekrosis hemoragik.17 13 . Inflamasi pada saraf perifer dapat berlangsung beberapa minggu sampai beberapa bulan dan dapat menimbulkan demielinisasi. Pada ganglion kornu dorsalis terjadi proses peradangan. akar dan ganglion. 4.11. degenerasi wallerian dan proses sklerosis. unilateral dan keterlibatan ‘dorsal horn’. Sehingga semua impuls yang masuk diterima oleh serabut penghantar nyeri.4. yaitu serabut A-delta dan C. 3.2.

yaitu serabut saraf tipe A membawa nyeri tajam.2. dan data ini meningkat dua sampai empat kali lebih banyak pada individu dengan usia lebih dari 60 tahun.5-11 kasus per 1000. Data lain menyatakan pada penderita imunokompeten yang berusia dibawah 20 tahun dilaporkan 0.3 sampai 4.6 kasus per 1000. Kedatangan impuls yang serentak dalam jumlah yang besar dipersepsikan sebagai nyeri hebat yang sesuai dengan sifat neuralgia. Kornu posterior adalah pintu gerbang untuk membuka dan menutup jalur penghantaran nyeri. 14 .2. II. Insedensi dari herpes zoster pada negara-negara tersebut bervariasi dari 1.11.4-1. yaitu nyeri yang disebabkan oleh stimulus normal (secara normal semestinya tidak menimbulkan nyeri). Pada penderita imunidefisiensi (HIV) atau anak-anak dengan leukimia dilaporkan 50-100 kali lebih banyak dibandingkan kelompok sehat usia sama.1. Hal ini mengakibatkan timbulnya allodinia.8/1000 pasien/tahun.1.17 Maka dari itu impuls yang dipancarkan ke inti thalamus semuanya tiba kira-kira pada waktu yang sama dan hampir semuanya telah dihantarkan oleh serabut halus yang merupakan serabut penghantar impuls nyeri.4. tusuk dan selintas sedangkan serabut saraf tipe C membawa nyeri lambat dengan rasa terbakar dan berkepanjangan.11. sedangkan pada pasien yang mengalami herpes zoster tetapi tidak mengalami neuralgia paska herpetika tidak ditemukan atrofi kornu dorsalis. 4 Epidemiologi Kebanyakan data insidensi herpes zoster dan neuralgia paska herpertika didapatkan dari data Eropa dan Amerika Serikat.Dengan hilangnya sumasi temporal maka proses modulasi yang terjadi pada kornu posterior tidak berjalan secara normal akibatnya tidak terjadi proses antara sistem analgesilk endogen dengan asupan nyeri yang masuk ke kornu posterior.4.17 Pada otopsi pasien yang pernah mengalami herpes zoster dan neuralgia paska herpetika ditemukan atrofi kornu dorsalis. Hal ini dapat mengakibatkan munculnya gejala hyperalgesia. Sesuai dengan tipe pada penghantaran serabut saraf masing-masing. sedangkan untuk usia di atas 80 tahun dilaporkan 4.

nyeri yang hebat pada fase akut herpes zoster dan beratnya ruam HZ. tetapi presentasi klinis dan epidemiologi herpes zoster di Asia. 72% penderitanya mengalami neuralgia paska herpetika. 1. 6 Manifestasi klinis herpes zoster dan neuralgia paska herpetika Tanda khas dari haerpes zooster pada fase prodromal adalah nyeri dan parasthesia pada daerah dermatom yang terkena. Pada herpes zoster akut hampir 100% pasien mengalami nyeri.Penelitian Choo 1997 melaporkan prevalensi terjadinya neuralgia paska herpetika setelah onset ruam herpes zoster sejumlah 8 kasus/100 pasien dan 60 hari setelah onset sekitar 4. Neuralgia post herpetik: dimana nyeri menetap > 4 bulan setelah onset lesi kulit atau 3 bulan setelah penyembuhan lesi herpes zoster. 15 . Nyeri lebih dari 1 tahun pada penderita berusia lebih dari 70 tahun dilaporkan mencapai 48%.000 kasus pada 60 hari per 1 juta kasus herpes zoster di Amerika Serikat per tahunnya.000 kasus pada 30 hari dan 45. Sedangkan belum didapatkan angka insidensi Asia Australia dan Amerika Selatan. 2. Dworkin membagi neuralgia post herpetik ke dalam tiga fase: 1.5 kasus/100 pasien. limfoma). dan pada 10-70%nya mengalamia neuralgia paska herpetika. pasien dengan penyakit keganasan (leukimia. Dikatakan bahwa ruam berat yang terjadi dalam 3 hari setelah onset herpes zoster. II. 3. Sehingga berdasarkan penelitia Choo. II. 5 Faktor resiko Beberapa faktor resiko terjadinya neuralgia paska herpetika adalah meningkatnya usia. Fase subakut: fase nyeri menetap > 30 hari setelah onset lesi kulit tetapi < 4 bulan. Australia dan Amerika Selatan mempunyai pola yang sama dengan data dari Eropa dan Amerika Serikat. Fase akut: fase nyeri timbul bersamaan/ menyertai lesi kulit.3 Pada umumnya penderita dengan herpes zoster berkunjung ke dokter ahli penyakit kulit oleh karena terdapatnya gelembung – gelembung herpesnya. Biasanya berlangsung < 4 minggu. lama terjadinya ruam. Faktor resiko lain yang mempunyai peranan pula dalam menimbulkan neuralgia paska herpetika adalah gangguan sistem kekebalan tubuh. diperkirakan angka terjadi neuralgia paska herpetika sekitar 80.

Setelah 3-5 hari dari awal lesi kulit.6 Penyakit ini dapat sangat mengganggu penderitanya. Nyeri dapat dirasakan beberapa hari atau beberapa minggu sebelum timbulnya erupsi kulit. untuk meramalkan bahwa nanti akan muncul herpes adalah sulit sekali. sakit kepala. hiperestesia yang merupakan respon nyeri berlebihan terhadap stimulus. parestesi yang dapat disertai dengan rasa sakit (disestesi). Nyeri yang dirasakan dapat mengacaukan pekerjaan si penderita. Tetapi bila penderita datang sebelum gelembung – gelembung herpes timbul. rasa gata-gatal yang tidak tertahankan dan nyeri yang terus bertambah dalam menanggapi rangsang yang berulang. terutama dalam hal serangannya yaitu tiap serangan muncul secara tiba – tiba dan tiap serangan terdiri dari sekelompok serangan – serangan kecil dan besar. lemah tubuh.1. biasanya lesi akan mulai mengering. Nyeri yang timbul mempunyai intensitas bervariasi dari ringan sampai berat sehingga sentuhan ringan saja menimbulkan nyeri yang begitu mengganggu penderitanya.Keluhan penderita disertai dengan rasa demam. allodinia dan hiperalgesia. setelah gejala prodromal timbul lesi makulopapular eritematosa unilateral mengikuti dermatom kulit dan dengan cepat berubah bentuk menjadi lesi vesikular. 48-72 jam kemudian. atau nyeri seperti terkena/ tersetrum listrik. Keluhan yang paling sering dilaporkan adalah nyeri seperti rasa terbakar. Durasi penyakit biasanya 7-10 hari. sifat nyeri neuralgik ini menyerupai nyeri neuralgik idiopatik. Orang sakit dengan keluhan sakit kepala di belakang atau di atas telinga dan tidak enak badan. tidur bahkan sampai mood sehingga nyeri ini dapat mempengaruhi kualitas hidup jangka pendek maupun jangka panjang pasien. Bedanya dengan neuralgia trigeminus idiopatik ialah adanya gejala defisit sensorik. Dan fenomena paradoksal inilah yang menjadi ciri khas 16 . tetapi biasanya untuk lesi kulit kembali normal dibutuhkan waktu sampai berminggu-minggu. Nyeri sendiri dapat diprovokasi antara lain dengan stimulus ringan/ normal (allodinia). 1 Pada masa gelembung –gelembung herpes menjadi kering. orang sakit mulai menderita karena nyeri hebat yang yang dirasakan pada daerah kulit yang terkena. Nyeri hebat itu bersifat neuralgik. Gangguan sensorik yang ditimbulkan diperberat oleh rangsangan pada kulit dengan hasil hiperestesia. mual. Di mana nyeri ini sangat panas dan tajam.

48-72 jam kemudian. atau nyeri seperti terkena/ tersetrum listrik. Nyeri yang dirasakan dapat mengacaukan pekerjaan si penderita. Keluhan yang paling sering dilaporkan adalah nyeri seperti rasa terbakar. Gangguan sensorik yang ditimbulkan diperberat oleh rangsangan pada kulit dengan hasil hiperestesia. Nyeri yang timbul mempunyai intensitas bervariasi dari ringan sampai berat sehingga sentuhan ringan saja menimbulkan nyeri yang begitu mengganggu penderitanya. Nyeri sendiri dapat diprovokasi antara lain dengan stimulus ringan/ normal (allodinia). Manifestasi klinis neuralgia paska herpetika adalah penyakit yang dapat sangat mengganggu penderitanya. hiperestesia yang merupakan respon nyeri berlebihan terhadap stimulus. Nyeri dapat dirasakan beberapa hari atau beberapa minggu sebelum timbulnya erupsi kulit. justru tempat –tempat bekas herpes yang anestetik itu yang dirasakan sebagai tempat yang paling nyeri. Jika terdapat di dahi dinamakan neuralgia postherpatikum oftalmikum dan yang di daun telinga neuralgia postherpatikum otikum. Intensitas dan durasi dari erupsi kulit oleh karena infeksi herpes zoster dapat dikurangi dengan pemberian acyclovir (5x800mg/hari) atau dengan famciclovir atau valacyclovir. lemah tubuh. gatal dengan derajat ringan sampai sedang pada kulit sesuai dengan dermatom yang terkena. mual.dari neuralgia post herpatik. Neuralgia post herpatik sering terjadi di wajah dan kepala. Setelah 3-5 hari dari awal lesi kulit. 6. tidur bahkan sampai mood sehingga nyeri ini dapat mempengaruhi kualitas hidup jangka pendek maupun jangka panjang pasien. tetapi biasanya untuk lesi kulit kembali normal dibutuhkan waktu sampai berminggu-minggu. Biasanya keluhan penderita disertai dengan rasa demam. Durasi penyakit biasanya 7-10 hari. parestesi yang dapat disertai dengan rasa sakit (disestesi). yaitu anestesia pada tempat – tempat bekas herpes tetapi pada timbulnya serangan neuralgia. biasanya lesi akan mulai mengering. 17 . sakit kepala. setelah gejala prodromal timbul lesi makulopapular eritematosa unilateral mengikuti dermatom kulit dan dengan cepat berubah bentuk menjadi lesi vesikular. allodinia dan hiperalgesia.28 Manifestasi klinis klasik yang terjadi pada herpes zoster adalah gejala prodromal rasa terbakar. rasa gata-gatal yang tidak tertahankan dan nyeri yang terus bertambah dalam menanggapi rangsang yang berulang.

Biasanya berlangsung < 4 minggu . teiris tajam. Fase iritasi. II.II. tetapi merupakan penyakit yang berdiri sendiri yang merupakan komplikasi herpes zoster. penggunaan terapi anastetik lokal intra dermal lebih berguna dibandingkan dengan tipe deaferentasi.Fase subakut: fase nyeri menetap > 30 hari setelah onset lesi kulit tetapi < 4 bulan . Komplikasi lain yang dapat terjadi pada herpes zoster adalah: lesi herpes zoster yang meluas ke seluruh tubuh (biasanya terjadi pada penderita dengan imunodefisiensi). dimana gangguan sensorik (allodinia hilangnya sensorik) terbatas pada lesi kulit dan fase deaferentasi dimana gangguan sensorik meluas dari batas lesi kulit. rasa tersetrum di sepanjang dermatom yang terkena/ terlibat. ensefalitis. Pada fase iritasi. sensitif terhadap perubahan temperatur.Fase akut: fase nyeri timbul bersamaan/ menyertai lesi kulit. Gangguan nyeri ini dapat menganggu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari seperti mandi atau saat berpakaian atau saat tidur. Keluhan sensorik lain yang dapat timbul berupa rasa baal daerah lesi. Neuralgia paska herpetika merupakan suatu kondisi dimana menetapnya nyeri di tempat lesi walaupun lesi kulit sudah sembuh lama. 8 Pemeriksaan penunjang 18 .7 Komplikasi Komplikasi yang paling sering terjadi pada kasus herpes zoster adalah timbulnya neuralgia paska herpetika sehingga neuralgia paska herpetika bukan merupakan kelanjutan dari herpes zoster akut. hepatitis. Menurut Fields. terdapat dua tipe penilaian terhadap derajat dan luasnya gangguan sensorik pada pasien neuralgia paska herpetika. Nyeri digambarkan sebagai rasa seperti terbakar. Dworkin membagi neuralgia paska herpetika ke dalam tiga fase: . rasa tertusuk-tusuk.Neuralgia paska herpetika: dimana nyeri menetap > 4 bulan setelah onset lesi kulit atau 3 bulan setelah penyembuhan lesi herpes zoster. Didapatkan pula gangguan allodinia dimana sentuhan ringan seperti pada pakaian atau seprei tempat tidur menimbulkan rasa nyeri tajam yang sangat mengganggu pasien. pneumonitis.

3. 9 Tatalaksana terapi neuralgia paska herpetika Secara umum terapi yang dapat kita lakukan terhadap kasus penderita dengan neuralgia paska herpetika dibagi menjadi dua jenis. Peningkatan 4 kali lipat mendukung diagnosis herpes zoster subklinis. Valasiklovir diberikan dengan dosis anjuran 1 mg/hari selama 7 hari secara oral. Asiklovir diberikan dengan dosis anjuran 5 x 800 mg/hari selama 7 – 10 hari diberikan pada 3 hari pertama sejak lesi muncul.21. Pemeriksaan neurologis pada nervus trigeminus dan pemeriksaan neurologis lainnya. lemah. · Terapi farmakologis: a. http://kuliahitukeren.Efek samping yang dapat ditemukan dalam penggunaan obat ini adalah mual. Efek samping yang dapat ditemukan da. Famciclovir. dan nyeri perut. Smear vesikel dan PCR untuk konfirmasi infeksi. dan radang tenggorokan.1. Mengukur antibodi terhadap herpes zoster.blogspot. pusing. muntah. Valacyclovir. muntah. Famsiklovir diberikan dengan dosis anjuran 500 mg/hari selama 7 hari selama 7 hari. diare. Kultur viral atau pewarnaan immunofluorescence bisa digunakan untuk membedakan herpes simpleks dengan herpes zoster 7. peningkatan protein 26% dan DNA VZV 22% kasus. sakit kepala. pusing.22 19 .com/ II. 5. yaitu terapi farmakologis dan terapi non farmakologis.lam penggunaan obat ini adalah mual. yaitu:8. nyeri. 2.25. edema.Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan.27 1. sakit kepala. muntah. Pleositosis ditemui pada 46% kasus. Antivirus Intensitas dan durasi erupsi kutaneus serta nyeri akut pada herpes zoster yang timbul akibat dari replikasi virus dapat dikurangi dengan pemberian asiklovir. Elektromiografi (EMG) untuk melihat aktivitas elektrik pada nervus 3. sakit kepala. Efek samping dalam penggunaan opbat ini adalah mual. anoreksia. Cairan cerebrospinal (CSF) abnormal dlm 61% kasus 4. 6.

Anti epilepsi Mekanisme kerja obat epilepsi ada 3. jika dosis tramadol dititrasi hingga maksimum 400 mg/hari dibagi dalam 4 dosis. allodinia. 1. untuk nyerinya diberikan analgetik. efek pada sistem saraf pusat dapat menimbulkan terjadinya amnesia pada orang tua. Karbamazepin. Oxycodone berdasarkan penelitian menunjukkan efek yang lebih baik dibandingkan plasebo dalam meredakan nyeri. 2) meningkatkan efek inhibisi GABA. Analgesik Terapi sistemik umumnya bersifat simptomatik. gabapentin dapat menyebabkan kelelahan. Pregabalin bekerja menyerupai gabapentin. pregabalin bukan merupakan agonis GABA namun berikatan dengan subunit dari voltage-gated calcium channel. Dikatakan pemberian pregabalin mempunyai efektivitas analgesik baik pada kasus neuralgia paska herpetika. Pada sebuah penelitian. dan kecacatan. Jika diserta infeksi sekunder deberikan antibiotic. Dosis yang dianjurkan sebesar 1800-3600 mg/d . Seperti halnya gabapentin. yakni dengan 1) memodulasi voltage-gated sodium channel dan kanal kalsium. Namun. gangguan tidur. Gabapentin bekerja pada akson terminal dengan memodulasi masuknya kalsium pada kanal kalsium. sehingga mengurangi influks kalsium dan pelepasan neurotransmiter (glutamat. dan calcitonin gene-related peptide) pada primary afferent nerve terminals. sehingga terjadi hambatan. Dosis yang digunakan maksimal 60 mg/hari. c. Bekerja sebagai agonis mu-opioid yang juga menghambat reuptake norepinefrin dan serotonin.22. neuropati 20 .b. konfusi. sehingga terjadi hambatan. dan 3) menghambat transmisi glutaminergik yang bersifat eksitatorik. dan somnolen. substance P. Karena bekerja secara sentral. Onset kerjanya lebih cepat. Sedangkan penggunaan analgesik opioid memberikan efektifitas lebih baik. Hal yang harus diperhatikan bahwa pemberian opiat kuat lebih baik dikhususkan pada kasus nyeri yang berat atau refrakter oleh karena efek toleransi dan takifilaksisnya. lamotrigine bekerja pada akson terminal dengan memblokade kanal sodium. Tramadol telah terbukti efektif dalam pengobatan nyeri neuropatik. Analgesik non opioid seperti NSAID dan parasetamol mempunyai efek analgesik perifer maupun sentral walaupun efektifitasnya kecil terhadap nyeri neuropatik.

nortriptiline.3. Obat ini bekerja lebih baik jika kerusakan pada neuron hanya terjadi sebagian. Efek samping TCA berupa sedasi. Obat ini dapat mengurangi nyeri melalui jalur inhibisi saraf spinal yang terlibat dalam persepsi nyeri. sertraline. dilaporkan 47-67% pasien mengalami pengurangan nyeri tingkat sedang hingga sangat baik. konstipasi. imipramine. dan citalopram. Amitriptilin menurunkan reuptake saraf baik norepinefrin maupun serotonin. takikardi. Didapatkan pula hasil perbaikan dalam hal tidur dan ansietas.22 d.1. TCA telah terbukti efektif dalam pengobatan nyeri neuropatik dibanding SSRI (selective serotonine reuptake inhibitor) seperti fluoxetine. sedangkan SSRI hanya menghambat reuptake serotonin. Mekanisme lainnya adalah dengan memodifikasi aktivitas NMDA. konfusi. Pada beberapa uji klinik obat antidepressan trisiklik amitriptilin. 25-150 mg/d secara oral. dan hipotensi ortostatik. Inaktivasi menyebabkan hambatan terhadap terjadinya impuls ektopik spontan. desipramine dan lainnya. 1. paroxetine. Anti depressan Anti depressan trisiklik menunjukkan peran penting pada kasus neuralgia paska herpetika.26 e. Terapi topikal Anestesi lokal memodifikasi konduksi aksonal dengan menghambat voltage-gated sodium channels. Obat ini akan lebih efektif bila dikombinasikan dengan phenitiazine. Obat ini juga dapat meningkatkan berat badan. fungsi nosiseptor tetap ada.22. Alasannya mungkin dikarenakan TCA menghambat reuptake baik serotonin maupun norepinefrin. dan aritmia ventrikel. dengan pemberian tricyclic antidepressant seperti amiitriptyline dengan dosis.1. dan efek kardiovaskular seperti blok konduksi.diabetikorum dan pasien dengan nyeri CNS oleh karena trauma medulla spinalis. menurunkan ambang rangsang kejang. Obat golongan ini mempunyai mekanisme memblok reuptake (pengambilan kembali) norepinefrin dan serotonin.22 21 . Anti depressan yang biasa digunakan untuk kasus neuralgia pot herpetika adalah amitriptilin. dan adanya jumlah kanal sodium yang berlebih.

Telah diketahui bahwa neuron ini melepaskan neuropeptida inflamatorik seperti substansia P yang menginisiasi nyeri.3. 1. TENS (stimulasi saraf elektris transkutan) Penggunaan TENS dilaporkan dapat mengurangi nyeri secara parsial hingga komplit pada beberapa pasien neuralgia paska herpetik. Terdapat beberapa penelitian mengenai terapi akupunktur untuk kasus neuralgia paska herpetika. Penggunaan krim topikal seperti capsaicin cukup banyak dilaporkan. Sebuah studi menunjukkan efek yang baik dengan penggunaan lidocaine patch 5% untuk pengobatan NPH. Counterirritation Dengan menggosok bagian yang terkena NPH dapat menigkatakan inhibisi normal serabut saraf kecil d medula spinalis. Dengan dosis tinggi.22 · Terapi non farmakologis 1.1 22 . Namun penelitianpenelitian tersebut masih menggunakan jumlah kasus tidak terlalu banyak dan terapi tersebut dikombinasi pula dengan terapi farmakologis.1 b. Tetapi sayangnya capsaicin mempunyai efek sensasi rasa terbakar yang sering tidak bisa ditoleransi pemakainya (1/3 pasien pada uji klinik ini).Lidokain topikal merupakan obat yang sering diteliti dengan hasil yang baik dalam mengobati nyeri neuropatik. Metode ini dapat digunakan berulang kali selama periode eksaserbasi nyeri c. Krim capsaicin sampai saat ini adalah satu-satunya obat yang disetujui FDA untuk neuralgia paska herpetika. capsaicin mendesensitisasi neuron ini. Capsaicin berefek pada neuron sensorik serat C (C-fiber). Pendekatan neuroaugmentif a. Akupunktur Akupunktur banyak digunakan sebagai terapi untuk menghilangkan nyeri. Tetapi penggunaan TENS-pun dianjurkan hanya sebagai terapi adjuvan/ tambahan disamping terapi farmakologis. Obat ini dapat digunakan selama bertahun-tahun dan dipakai sebagai pilihan terapi tambahan pada pasien orang tua. Obat ini ditempatkan pada daerah simtomatik selama 12 jam dan dilepas untuk 12 jam kemudian.

Terapi psikososial Manageman stres dan berbagai tehnik kognitif-perilaku. Aplikasi cold pack juga bermanfaat sebagai terapi penunjang. pelepasan. 10 Pencegahan Dari beberapa laporan penelitian didapatkan efektifitas yang cukup baik pada penggunaan kortikosteroid dan antiviral dalam pencegahan timbulnya neuralgia paska herpetika. 3. Terapi penunjang Alodonia taktil dapat diatasi dengan menggunakan artificial skin seperti kolodion spray atau penggunaan pakaian dengan bahan serat natural. Kortikosteroid berperanan dalam mengurangi inflamasi zoster dan mencegah kerusakan saraf. 2. Stimulasi deep brain Pada sebuah studi. LILT (low intensity laser therapy Beberapa tahun terakhir telah dicob penggunan laser untuk pengobatan NH. II. stimulasi di nukleus ventrobasal talamus pada pasien NHP memberian perbaikan nyeri yang bermakna. Prosedural neurosurgikal Merupakan ppilihan terakhir untuk NHP yang referakter.trakotomi trigeminal pernah disarankan beberap tahun yang lalu tapi tidak memberikan hasil yang menguntungkn pengobatan NHP. metabolisme berbgai bahan neurokimia antara lain serotonin dan asetikolin.d. e. simpatektomi. rizotomi. neuroktomi. termasuk latihan relaksasi. 4. dibuat strategi untuk kepatuhan pasien dan mempercepat kembali keaktivitas sebelum sakit. avulsi saraf. Beberapa bukti menunjukan LILT mempunyai efek terhadaad sentesis. sedangkan 23 . Pasien perlu diberikan penjelasan mengenai perjalanan penyakitnya. biofeedback dan hipnosis dapat bermanfaat sebagai terapi penunjang. LILT yang umum digunakan ialah laser HeNe.

II.antiviral (asiklovir) mempunyai manfaat dalam mengurangi nyeri dan eritema. 6. Biasanya di dahului oleh adanya riwayat menderita varicella pada masa kanak-kanak. dan pasien dapat beraktivitas baik seperti biasa. Jika terdapat pasien dengan nyeri yang menetap dan lama dan tidak respon terhadap terapi medikasi maka diperlukan pencarioan lanjutan untuk mencari terapi yang sesuai. 11 Prognosis Umumnya prognosisnya baik. selama pasien mempunyai daya tahan tubuh baik kemungkinan timbul kembali kecil. pada umumnya pasien dengan neuralgia post herpetika respon terhadap analgesik seperti antidepressan trisiklik. 24 . di mana ini bergantung pada tindakan perawatan sejak dini. mencegah timbulnya lesi baru dan menyembuhkan kulit lebih cepat.24 Prognosis ad vitam dikatakan bonam karena neuralgia paska herpetik tidak menyebabkan kematian. terutama pada usia 50 tahun ke atas. Kerusakan yang terjadi bersifat lokal dan hanya mengganggu fungsi sensorik. Ketika telah berumur tua. Manifestasi klinis yang sering di jumpai adalah nyeri seperti rasa terbakar.1 Prognosis ad sanactionam bonam karena walaupun risiko berulangnya HZ masih mungkin terjadi sebagaimana disebutkan dari literatur. atau dalam keadaan imunokmpromise maka virus herpes ini akan mengalami reaktivasi.1 BAB III KESIMPULAN Neuralgia post herpetik adalah nyeri neuropatik yang menetap setelah onset ruam (atau 3 bulan setelah penyembuhan herpes zoster). Prognosis ad functionam dikatakan bonam karena setelah terapi didapatkan perbaikan nyata.

Penatalaksanaan penyakit ini dapat dilakukan dengan terapi farmakologi dan non farmakologi.G. atau nyeri seperti terkena/ tersetrum listrik. ”Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Saraf” . Airlangga University Press pp 349-350 Surabaya 1991.perdossijaya. pada umumnya dapat sembuh dengan terapi yang teratur. Meliala L.org/perdossijaya/index. 63-76 3. Ngoerah I.. diagnosa penyakit ini sudah dapat ditegakkan. cukup dengan anamnesis dan pemeriksaan fisis. [on line] http://www.php? 25 .parestesi yang dapat disertai dengan rasa sakit (disestesi). Ilmiah : NPH. BAB IV DAFTAR PUSTAKA 1.N.G. (1991). 2008. Prognosisnya tidak buruk. Pemeriksaan penunjang pada penyakit ini tidak terlalu berarti. hiperestesia yang merupakan respon nyeri berlebihan terhadap stimulus. 2. Neuralgia Pasca Herpes. Kelompok Studi Nyeri PERDOSSI 2008 . Martin. Nyeri Neuropatik.

Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.option=com_content&view=section&id=7&layout=blog&Itemid=63 – 92k – 4. USA : 2008. MD and S. Eur J Pain 1999. Bidang Ilmu Kedokteran Umum Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Treatment of NPH. Ilmu Penyakit Kulit dan kelamin : Penyakit Virus. Proposed classification of herpes zoster pain. 8. (3): 94-95 9. Suplement : Nyeri Suatu Rahmat Sekaligus Sebagai Tantangan. 11. The lifetime occurence of herpes zoster and prevalence of post-herpetic neuralgia: a retrospective survey in an elderly population. PhD. 2011. W Alvin McElveen. A. 2006. Herpes Zoster and NPH: Diagnosis and Therapeutic Considerations. Bowsher D. Ropper. Portenoy RK. Lancet 1994.com 6. 26 (3) 75-83 5. 2012. Tyring. 2005 (8) : 643-644 7.343:1648. The Challenges of in the Long-Term Care Setting Postherpetic Neuralgia. Tanra.medscape. K. Djuanda. K. K. New York : McGraw-Hill.com/article/1143066-overview. NPH.3:335-42 10. H. Robert Zorba Paster. H. Dworkin RH. chronic meningitis. 11:2 26 . prion disease. Mario Roxas. 12. Principles Of Neurology : Viral Infection of the Nervous system. Diakses dari: http://emedicine. (29) [on line] http:// Skin Therapy Letter . Endo Pharmaceuticals. MBA. 1993. 2006. Sra. ND. MD.1:1. Makassar 2005. Alternative Medicine Review. A dkk.