You are on page 1of 8

Ringkasan Latar Belakang: Krisis hiperparathiroid adalah suatu penyakit yang jarang ditemukan, merupakan suatu keadaa yang

kritis, dan berpotensi fatal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengklasifikasikan program klinis yang berbeda dari penyakit ini, menurut respon medis sebelum operasi dan menyarankan waktu yang tepat untuk operasi. Metode: Pasien yang telah menjalani parathiroidectomi untuk krisis hiperarathiroid, yang terdaftar antara 1 Januari 1994 dan 31 Januari 2009. Perawatan medis preoperatif dan respon dalam hal faktor predisposisi, lokalisasi pre operasi, operasi dan temuan patologis, hasil pasca operasi, dan interval dari obat-obatan hingga operasi, yang ditinjau secara retrospektif. Hasil: Sebanyak 11 pasien, menerima lebih dari 72 jam dari perawatan medis, yang dibagi menjadi tiga jenis berdasarkan respons medis pra operasi yaitu: Tipe I (tiga pasien yang resisten terhadap obat-obatan dengan persisten serum Ca > 14 mg/mL dan akhirnya diobati dengan pembedahan darurat; dua meninggal karena kegagalan pernapasan pasca operasi dan kegagalan hati), Tipe II (enam pasien dengan abnormal serum Ca <14 mg / mL) dan Type III (dua pasien yang kalsiu serumnya kembali normal sebelum operasi. Satu pasien berhasil diobati dengan operasi darurat 18 jam pasca rawat inap). Kami tidak menemukan metode untuk memprediksi respon medis, tetapi semua pasien tipe I menunjukkan serum Ca yang tinggi (> 14 mg/mL) setelah 48 jam perawatan medis. Semua kelenjar paratiroid yang abnormal panjangnya > 1,8 cm dan mudah terdeteksi dengan menggunakan ultrasonografi pra operasi. Kesimpulan: Karena respon terhadap pengobatan farmasi krisis hiperarathiroid adalah tak terduga, menghilangkan dehidrasi pasien perlu terlebih dahulu. Membuat diagnosis pasti dan melaksanakan Paratiroidektomi awal dalam waktu 48 jam kemudian diperlukan, terutama pada pasien menunjukkan respon medis yang buruk.
1. Pendahuluan

Krisis Hiperparathiroid (disebut juga "krisis paratiroid") didefinisikan sebagai hiperparatiroidisme dengan peningkatan hormon paratiroid (PTH) yang

Penyakit ini biasanya dipicu oleh penyakit lain atau stress. data laboratorium seperti serum intact PTH (iPTH). komplikasi dan hasil dari pembedahan. tingkat kesadaran. gejala klinis. Namun sebelum tahun 1980-an. Kami mengumpulkan data mengenai usia. Sebagai tambahan. jenis kelamin. patologi. dan onset akut dari tanda-tanda dan gejalagejala yang berat seperti dehidrasi. Kami secara retrospektif meninjau catatan dari 12 pasien dengan pengobatan bifosfonat untuk menentukan waktu operasi yang tepat. Pasien dan metode Kami secara retrospektif meninjau catatan medis pasien yang didiagnosis krisis hiperarathiroid antara 1 Januari 1994 dan 31 Januari 2009 pada 4 rumah sakit di Taiwan (University Hospital Cheng Kung-Nasional. disfungsi jantung. Penyebab pasti krisis hiperparathiroid masih belum diketahui. Rumah Sakit Veteran Kaohsiung. blood urea nitrogen (BUN).6% pada pasien hiperparatiroidisme. anoreksia. tanda-tanda vital yang tidak stabil yang utamanya disebabkan oleh karena dehidrasi. biasanya mengakibatkan tertundanya operasi. berkisar antara 1. Cepatnya operasi pengangkatan kelenjar paratiroid adalah terapi yang paling dasar dan efektif untuk penyakit yang berpotensi fatal ini. ventricular aritmia. penemuan operatif. perubahan logam. perawatan medis pra operasi. diagnosis pasti krisis hiperparathiroid sangat memakan waktu karena ketidaksempurnaan assay hormon dan lokalisasi pra operasi. Budha Tzu-Chi Rumah Sakit. dan Kaohsiung Medical University Hospital). kalsitonin dan bifosfonat telah banyak digunakan untuk mengobati krisis hiperparathiroid. Krisis hiperparathiroid adalah suatu penyakit yang jarang ditemukan. 2. kalsium dan fosfat. namun perdarahan akut dari kelenjar paratiroid juga dapat terjadi tanpa adanya faktor pencetus. kalsium serum > 15 mg/dL. tetapi hanya sedikit laporan yang membahas bagaimana kedua obat ini mempengaruhi pendekatan pembedahan. dan gangguan fungsi ginjal.nyata. Pada dua dekade yang lalu. Pasien dikeluarkan bila tidak terdapat informasi medis .6% . muntah. dan lebih sering ditemui pada orang berusia di atas 40 tahun daripada pasien usia muda. pengukuran ultrasonografi dari ukuran kelenjar paratiroid yang patologis. waktu untuk operasi.

Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan SPSS 12. usia rata-rata 67. dan patah tulang pada dua pasien (humerus dan femur) (Tabel 1). Akhirnya. dengan atau tanpa diuretik. pneumonia aspirasi. kalsium. resusitasi yang memadai atau pemantauan kadar kalsium. Tiga pasien menerima Tc-99m-radiolabeled Sestamibi scan. 3. Semua pasien menerima lokalisasi ultrasonografi pra operasi dilakukan oleh dua senior ahli bedah endokrin. infeksi saluran kemih pada dua pasien (satu dengan urosepsis) dan infeksi saluran pernapasan atas. Parameter variabel kontinu berarti ± standard error dari mean (SEM). dan fosfat dilakukan untuk mengevaluasi respon medis. kalsitonin. rentang usia: 44 . termasuk prosedur aspirasi jarum halus (fine deedle aspiration).86 tahun). kateterisasi jantung. Definisi krisis hiperarathiroid adalah hiperkalsemia berat (> 15 mg/dL) berhubungan dengan gejala dan tanda-tanda akut.3 tahun. perdarahan saluran cerna bagian atas. dan bifosfonat. Hasil Kondisi mental pasien pada awalnya berkisar dari letargi sampai semi-koma.0 for Windows. Para pasien menerima pengobatan hipokalsemi meliputi: hidrasi.9 ± 4.yang utuh. Faktor-faktor pencetusnya sangat beragam. Pengukuran secara serial serum iPTH. diabetes mellitus dengan koma hiperglikemia hiperosmolar nonketotik pada dua pasien. . data dari 11 pasien dikumpulkan dalam penelitian ini (5 pria dan 6 perempuan. Semua pasien menerima parathyroidectomy.

Berdasarkan respon terhadap terapi medis pra operasi dan kadar Ca serum pada hari operasi.439. kalsitonin dosis penuh. nomer 1-3): respon medis buruk dengan serum Ca >14. Tiga pasien tipe I yang resisten terhadap pengobatan medis dan diberikan parathyroidectomi pada hari 4.3 pg/mL (rentang: 881 . 6. Setiap pasien diberi hidrasi yang memadai. dan pengobatan bifosfonat. nomor 4-9): respon sebagian dengan serum Ca >10.8 ± 218.0 mg/dL. dan Tipe III (dua pasien. dehidrasi menyebabkan terjadinya kegagalan hati.3372 pg/mL). setelah masing-masing pasien di diagnosis krisis hiperarathiroid.6 mg/dL). Dua pasien tipe III (nomor . Tipe II (enam pasien.2 ± 0.23. dan pada pasien nomor 3.0 tetapi <14. Kadar iPTH yang meningkat secara nyata dan naik menjadi 1. dan 13.Kadar kalsium pra operasi yang tertinggi adalah 17. dan delapan pasien juga diberikan diuretik. Dua pasien (nomor 2 dan 3) meninggal akibat kegagalan pernapasan pasca operasi dan kegagalan hati. hiperkalsemia menginduksi mual dan muntah. pertama-tama kita klasifikasikan menjadi 11 pasien (nomor 1-11) menerima perawatan medis selama lebih dari 72 jam menjadi tiga jenis (Gambar 1-3): Tipe I (tiga pasien.0 mg/dL. sehingga menyebabkan terjadinya pneumonia aspirasi dan selanjutnya menyebabkan kegagalan pernapasan. Dua pasien tipe I (Nomor 1 dan 3) diberi hemodialisis.0 mg/dL. Nomor 10 dan 11): respon baik dengan serum Ca <10. Pada pasien nomor 2. dengan riwayat hepatitis C kronis.9 mg/dL (rentang: 15. berturut-turut.0 .

Kadar kalsium pada semua pasien tipe II dan III turun menjadi <13 mg/dL dalam 48 jam pertama (Tabel 1).8 mg/dL dan 9.0 mg/dL menjadi antara 10. . Enam pasien (nomor 4-9) sebagian berespon terhadap pengobatan medis. Laporan patologi meyatakan adenoma paratiroid soliter pada 10 pasien.32 ± 0. oleh karena itu.4 mg/dL menjadi 9. namun hasil kadar iPTH mungkin tertunda oleh karena proses laboratorium rutin institusi. Kadar kalsium mereka turun dari 15. Diskusi Waktu untuk diagnosis pasti krisis hiperarathiroid selalu mendesak. Hasil bedah pada pasien ini menguntungkan (Gambar 4).6 mg/dL dan 15. kami melakukan paratiroidektomi awal 18 jam setelah masuk.2 cm). setelah diberi hidrasi yang memadai dan dipastikan diagnosis krisis hiperarathiroid menggunakan iPTH cepat dan ultrasonografi leher. mengenai pengelolaan pasien nomor 12. adenoma ganda pada satu pasien. Tidak ditemukan perdarahan intraparathyroid. dan mereka dilakukan operasi parathyroidectomi secara elektif pada hari ke-6 (nomor 10) dan 29 (nomor 11). dan kemudian dianalisis secepat mungkin. Mereka juga dilakukan elektif parathyroidectomi pasca masuk antara hari 10 dan 28. Tiga pasien diberi Tc-99mradiolabeled sestamibi scan untuk mengkonfirmasi lokalisasi. atau nilai palsu yang lebih rendah dan menunda diagnosis. dan karsinoma paratiroid pada satu pasien.8 cm (rata-rata: 3. Semua kelenjar paratiroid patologis diidentifikasi menggunakan ultrasonografi pra operasi. untuk pasien nomor 12.54 cm. kesalahan pemeliharaan sampel dapat menyebabkan hasil tes yang salah.0 mg/dL dan 15. disimpan pada suhu 2-8o C.8-7. Semua kelenjar patologis berdiameter > 1. Karena ketidakstabilan secara biologis dan waktu paruh iPTH pendek (3-5 menit). Seharusnya sampel darah di letakkan dalam tabung EDTA. tingkat kalsium mereka turun antara 23.10 dan 11) berespon baik terhadap perawatan medis. Oleh karena itu. 4. kisaran: 1.6 hari (kisaran: 18-29 hari).7 mg/dL.4 mg/dL dan 12. direkomendasikan “quick” iPTH.6 mg/dL berturut-turut pada hari ke-4 dan ke-3.7 ± 2. Interval rata-rata dari pengobatan konservatif ke operasi adalah 14.

Dari data kami. Terapi hidrasi selalu digunakan sebagai pengobatan awal untuk memulihkan deplesi volume dan menstabilkan tanda-tanda vital pada pasien dengan krisis hiperarathiroid. kalsitonin telah digunakan untuk melawan efek PTH pada ginjal dan tulang. tetapi juga mengurangi kadar kalsium sekitar 1-2 mg/dL dalam waktu 24 jam. hidrasi. muncul tidak hanya pada hidrasi dan kalsitonin tetapi juga bifosfonat (Serum calcium >14 mg/mL bahkan . bifosfonat tidak memiliki efek sampai 48 jam setelah diberikan. Namun. penggunaan furosemide yang berlebihan dapat menyebabkan dehidrasi dan meningkatkan reabsorpsi kalsium. Tingkat iPTH pada delapan pasien (rata-rata: 691. Namun. dan bifosfonat. Ketiga pasien dengan respon yang buruk masih memiliki serum Ca yang tinggi > 14 mg/mL setelah 48 jam. Dalam seri kami. Namun. dan mencegah overload cairan ketika volume intravaskular meningkat. Kami menemukan bahwa terapi berbasis bifosfonat mengurangi kalsium serum ke tingkat normal pada dua pasien (Tipe III). Furosemide menurunkan reabsorpsi kalsium dalam tubulus ginjal.7 pg/mL dengan lima dari mereka <500 pg/mL) dalam studi Phitayakorn dan McHenry jauh lebih rendah daripada tingkat iPTH dari pasien dalam penelitian kami (rata-rata: 1439. yang menghambat fungsi osteoklas telah digunakan untuk mengobati krisis hiperarathiroid sejak awal tahun 1990an. pemberian isotonic normal saline yang memadai tidak hanya membalikkan hemokonsentrasi intravaskular yang disebabkan oleh hiperkalsemia. menyebabkan calciuresis. tetapi pengobatan ini hanya efektif untuk 72 jam. respon pengobatan tampaknya menjadi jelas setelah 48 jam pengobatan. kalsitonin. 1186.Selama 20 tahun terakhir. telah digunakan untuk mengobati krisis hiperarathiroid. Biasanya. Sejak 1980-an. yang belum pernah dilaporkan dalam literatur. Keparahan tampak lebih tinggi pada seri/rangkaian kami. tiga pasien (Tipe I) resisten terhadap terapi kombinasi ini dan memiliki kadar iPTH 1140. dengan atau tanpa furosemide. Bifosfonat. tetapi pengurangan serum kalsium bervariasi dalam setiap kasus. Terapi berbasis bifosfonat disarankan sebagai jembatan dan untuk dilakukaknnya ketika paratiroidektomi pasien elektif dengan oleh krisis dapat Phitayakorn McHenry menangani hiperarathiroid. dan 881 pg/mL. tanda-tanda vital sistemik stabil dalam waktu 24 jam setelah rehidrasi.8 pg/mL).

Meskipun Paratiroidektomi dikenal sebagai pengobatan yang paling efektif untuk krisis hiperarathiroid.setelah 72 jam). Beberapa klinisi telah merekomendasikan bahwa operasi harus ditunda sampai manifestasi hiperkalsemia dan volume intravaskular telah diperbaiki. dengan respon pengobatan sebelum operasi buruk. Oleh karena itu. krisis hiperkalsemia yang berkepanjangan telah dilaporkan kemungkinan adanya kematian dan beberapa kegagalan organ. Tingkat kematian krisis hiperarathiroid secara bertahap menurun dari 93% pada tahun 1956 menjadi 0% pada 2008 terutama karena diagnosis dini dan peningkatan intervensi medis. Sama seperti kasus yang dilaporkan dalam literatur.8%) kasus yang kami ditinjau. semua lesi paratiroid dalam seri kami panjangnya > 1. Neck eutopic solitary parathyroid adenoma adalah temuan yang paling pada krisis hiperarathiroid. Semua kasus kami dideteksi menggunakan ultrasonografi leher pra operasi. Namun. Sebuah lesi yang besar hampir rutin ditemukan dalam krisis hiperarathiroid. tingginya kalsium serum masih memperburuk fungsi hati pada hepatitis C. delapan pasien lain (Tipe II dan III) berespon positif terhadap pengobatan dalam waktu 48 jam dan setelahnya (Tabel 1). tetapi belum ada konsensus tentang pemilihan waktu paratiroidektomi karena kesulitan dalam membandingkan kasus yang jarang terjadi. Sebaliknya.8 cm. sestamibi scan digunakan hanya untuk mengkonfirmasi atau mendeteksi kemungkinan lesi ektopik jika . Pasien semi koma (Nomor 2) mengalami mual dan muntah yang hebat. mengakibatkan pneumonia aspirasi. timbul komplikasi yang mematikan pasca operasi. Dua dari pasien kami (74 tahun dan 80 tahun). dan akhirnya meninggal akibat gagal nafas. Intervensi bedah dalam waktu 48 atau 72 jam setelah masuk telah direkomendasikan. kami merekomendasikan agar ultrasonografi leher secara rutin digunakan untuk krisis hiperarathiroid dan Tc-99m-radiolabeled ultrasonografi leher negatif atau samar-samar. Meskipun pasien nomor 3 menerima paratiroidektomi pada hari ke-4 masuk rumah sakit. dan ini ditemukan pada 10/12 (81. Teknik iPTH assay dan waktu menunggu hasil laboratorium adalah dua hambatan untuk diagnosis dini dalam 24 jam pertama setelah ditemukan. Namun uji iPTH cepat dan frekuensi tinggi ultrasonografi leher baru-baru ini menghilangkan hambatan-hambatan tersebut.

dikarenakan tingginya tingkat keberhasilan lokalisasi leher. Oleh karena itu. Sebagai contoh. usia tua dan komorbiditasnya dapat mengakibatkan kematian. Fang dkk menyarankan bahwa pasien hiperparatiroidisme dengan resiko tinggi dapat diobati dengan minimally invasive (targeted) parathyroidectomy. menentukan faktor untuk memprediksi pola respon terhadap pengobatan medis tampak sulit. serta pasien sudah cukup terhidrasi (Gambar 5).mengakibatkan terjadinya kegagalan hati. Berdasarkan data kami. dan kami juga merekomendasikan menggunakan teknik ini pada krisis hiperarathiroid untuk menghindari peningkatan risiko aritmia jantung yang disebabkan oleh karena hipercalcemia selama anesthesia umum. Singkatnya. pasien nomor 12 berhasil diobati dengan intervensi bedah awal pada 18 jam setelah masuk. maka sangat disarankan dilakukannya paratiroidektomi awal dalam waktu 48 jam (terutama untuk pasien dengan respon pengobatan yang buruk) setelah diagnosis ditegakkan dan lokalisasi. tetapi hiperkalsemia yang berkepanjangan. kami percaya bahwa intervensi bedah awal dalam waktu 48 jam bagi pasien dengan respon buruk sangat penting untuk menyelamatkan nyawa. Operasi dapat dengan mudah diterapkan pada pasien dengan krisis hiperarathiroid dalam waktu singkat. kami menyimpulkan bahwa karena respon pengobatan medis konservatif pada krisis hiperarathiroid tidak dapat diprediksi. kami juga menyarankan untuk dilakukannya paratiroidektomi awal setelah diagnosis dikonfirmasi dan tanda-tanda vital stabil. . Anestesi lokal dikombinasikan dengan iPTH cepat sebelum operasi paratiroidektomi dianjurkan pada pasien yang diobati dirumah sakit tetapi tidak tinggal di rumah sakit (outpatient). Selain itu.