You are on page 1of 15

LAPORAN PENDAHULUAN CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD) STAGE V EC.

DIABETIC NEFROPATHY

Oleh: Shila Wisnasari 0810720065

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

urine. stenosis arteri renalis) Gangguan jaringan penyambung (SLE. Infeksi saluran kemih (pielonefritis kronis) Penyakit peradangan (glomerulonefritis) Penyakit vaskuler hipertensif (nefrosklerosis. 3. gout. sklerosis sitemik) 5. termasuk abnormalitas pada pemeriksaan darah. 2. dengan tanda-tanda mikroproteinuria intermiten kemudian persisten dan makroproteinuria yang kemudian disusul dengan penurunan fungsi ginjal yang bertahap dan hipertensi. Penyakit metabolik (DM. asidosis tubulus ginjal) 6. sebagai penyulit Diabetes Melitus tipe I maupun tipe II. ginjal polikistik. atau imaging. Definisi Chronic Kidney Disease (CKD) atau gagal ginjal kronik merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit. Penyakit kongenital dan herediter (penyakit ginjal polikistik. gout. nefropati.LAPORAN PENDAHULUAN CKD STAGE V EC. 7. poliarteritis nodusa. diabetik. Kerusakan ginjal yang dimaksud adalah adanya abnormalitas patologis atau adanya marker kerusakan ginjal. yang perjalanannya progresif menuju ke stadium akhir dari gagal ginjal.DIABETIC NEFROPATHY A. Etiologi CKD Penyebab dari gagal ginjal kronis antara lain: 1.73m2 selama ≥3 bulan. penyebab lain seperti hipertensi. Nefropati Diabetik adalah salah satu manifestasi mikroangiopati diabetic atau permulaan mikroangiopati diabetik pada ginjal. B. 4. dan tidak diketahui. 2006) Menurut Mansjoer (2001) etiologi dari gagal ginjal kronik adalah glomerulonefritik. nefropati analgesik. nefropati refluks. CKD didefinisikan sebagai kerusakan ginjal atau penurunan GFR <60 ml/menit/1. menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah). 8. hiperparatiroidisme) Nefropati toksik Nefropati obstruktif (batu saluran kemih) (Price & Wilson. obstruksi. .

85 a) Stadium 1 Ginjal tetap berfungsi secara normal meskipun tidak lagi dalam kondisi 100% sehingga banyak penderita yang tidak mengetahui kondisi ginjalnya dalam stadium 1. anemia atau keluhan pada tulang. b) Stadium 2 Sama seperti pada stadium awal. seseorang yang berada pada stadium 2 juga tidak merasakan gejala karena ginjal tetap dapat berfungsi dengan baik.C. Dengan penurunan pada tingkat ini akumulasi sisa–sisa metabolisme akan menumpuk dalam darah yang disebut uremia. Pada stadium ini muncul komplikasi seperti tekanan darah tinggi (hipertensi). d) Stadium 4 Pada stadium ini fungsi ginjal hanya sekitar 15–30% saja dan apabila seseorang berada pada stadium ini sangat mungkin dalam waktu dekat diharuskan menjalani terapi pengganti ginjal/dialisis atau melakukan transplantasi. walaupun dengan GFR yang mulai menurun. c) Stadium 3 Seseorang yang menderita CKD stadium 3 mengalami penurunan GFR moderat yaitu diantara 30 s/d 59 ml/min. Klasifikasi CKD Klasifikasi CKD berdasarkan Kidney Disease Outcomes Quality Initiative (KDOQI) pada tahun 2002 yaitu: Untuk menilai GFR (Glomelular Filtration Rate) / CCT (Clearance Creatinin Test) dapat digunakan rumus : Clearance creatinin (ml/ menit) = (140-umur ) x berat badan (kg) 72 x creatinin serum *) Pada wanita hasil tersebut dikalikan dengan 0. Kondisi dimana terjadi penumpukan racun dalam darah atau .

GFR masih tinggi. Derajad penyakit ginjal akibat diabetes mellitus dibagi menjadi 5. tekanan darah meningkat. Untuk itu diperlukan suatu terapi pengganti ginjal (dialisis) atau transplantasi agar penderita dapat bertahan hidup. GFR lebih rendah dari normal V Uremia Terjadi gagal ginjal dan menunjukkan tanda-tanda sindroma uremik sehingga perlu terapi pengganti . Selain itu besar kemungkinan muncul komplikasi seperti tekanan darah tinggi (hipertensi). anemia. terjadi penebalan membrane basalis. e) Stadium 5 Pada stadium ini ginjal kehilangan hampir seluruh kemampuannya untuk bekerja secara optimal. penyakit tulang. masalah pada jantung dan penyakit kardiovaskular lainnya. yaitu Derajad I Hiperfiltrasi Penjelasan Peningkatan GFR sampai 40% di atas normal disertai pembesaran ginjal II The Silent Stage Terjadi perubahan struktur ginjal tetapi GFR masih tinggi III Mikroalbuminuria Tahap awal nefropati. dan terjadi peningkatan tekanan darah IV Makroalbuminuria Terjadi proteinuria yang nyata.uremia biasanya muncul pada stadium ini.

Patofisiologi Diabetes Mellitus Defisiensi insulin / penurunan sensitivitas insulin Kelainan metabolisme Karbohidrat Lemak Protein Glikogenolisis  Glukoneogenesis  Glikogenesis  Lipogenesis  Lipolisis  Sintesis asam amino  Mobilitas asam lemak  Hiperglikemia Asetil ko A  Glukosa ke ginjal  Ketogenesis  Sintesa kolesterol  Pertumbuhan jaringan terhambat Luka sulit sembuh Osmotic diuresis Jantung IMA Poliuria ∑ benda keton  Ketonemia Kolesterol darah  Serebral Stroke Dehidrasi Artherosklerosis Makroangiopati Ekstremitas Gangrene Ketoasidosis Mikroangiopati Retina Retinopati Ginjal .D.

basa Mual Muntah Gangguan nutrisi payah jantung kiri Metab.anaerob edema paru Asidosis metabolik Asam laktat ↑ Cardiac output ↓ Penumpukan secret pada jalan napas Fatigue Kompensasi paru  meningkatkan PaCO2 gangguan pola nafas Ketidakefektivan bersihan jalan napas Hiperventilasi . asam .Chronic Kidney Disease (CKD) Gangguan sekresi protein retensi Na Kerusakan sel yg memproduksi EPO Retensi kalium Hiperkalemia sindrom uremia edema Produksi EPO ↓ Perpospatemia pruritus Kerusakan Integritas Kulit kelebihan volume cairan Produksi eritrosit ↓ beban jantung naik Anemia Toksisitas ureum di otak Encepalopa ti Penurunan kesadaran hipertrofi ventrikel kiri Gangguan ritme jantung urokrom tertimbun di kulit perubahan warna kulit Risiko cardiac arrest Suplai O2 ↓ Ggn.

gejala terkadang mulai dirasakan seperti:  Fatigue: rasa lemah/lelah yang biasanya diakibatkan oleh anemia. Hal ini membuat penderita akan mengalami pembengkakan sekitar kaki bagian bawah. kram ataupun restless legs.  Perubahan pada urin: urin yang keluar dapat berbusa yang menandakan adanya kandungan protein di urin.  Penderita GGK stadium 3 disarankan untuk memeriksakan diri ke seorang ahli ginjal hipertensi (nephrolog).  Sulit tidur: Sebagian penderita akan mengalami kesulitan untuk tidur disebabkan munculnya rasa gatal. Manifestasi Klinik Pasien dengan CKD menunjukkan manifestasi yang berbeda-beda. Kuantitas urin bisa bertambah atau berkurang dan terkadang penderita sering trbangun untuk buang air kecil di tengah malam. 3) Stadium 3 Padastadium ini. Selain itu warna urin juga mengalami perubahan menjadi coklat. Rasa sakit sekitar pinggang tempat ginjal berada dapat dialami oleh sebagian penderita yang mempunyai masalah ginjal seperti polikistik dan infeksi. yaitu sebesar 60-89.  Rasa sakit pada ginjal. Dokter akan memberikan rekomendasi terbaik serta terapi – terapi yang bertujuan untuk memperlambat laju penurunan fungsi ginjal. Penderita GGK pada stadium ini biasanya akan diminta untuk menjaga kecukupan protein namun .E. gejala. Penderita juga dapat mengalami sesak nafas akaibat teralu banyak cairan yang berada dalam tubuh. atau merah apabila bercampur dengan darah. seputar wajah atau tangan.  Kelebihan cairan: Seiring dengan menurunnya fungsi ginjal membuat ginjal tidak dapat lagi mengatur komposisi cairan yang berada dalam tubuh. tergantung pada stadium CKD yang dialami. 2) Stadium 2 Seseorang dengan CKD stadium 2 biasanya juga belum merasakan gejala yang menandakan kerusakan ginjal walaupun sudah terdapat penurunan GFR ringan. orannye tua. 1) Stadium 1 Seseorang dengan CKD stadium 1 biasanya belum merasakan gejala yang menandakan kerusakan ginjal karena ginjal masih dapat berfungsi dengan normal. Selain itu sangat disarankan juga untuk meminta bantuan ahli gizi untuk mendapatkan perencanaan diet yang tepat.

Hal ini membuat penderita akan mengalami pembengkakan sekitar kaki bagian bawah.  Rasa sakit pada ginjal.  Kelebihan cairan: Seiring dengan menurunnya fungsi ginjal membuat ginjal tidak dapat lagi mengatur komposisi cairan yang berada dalam tubuh.  Perubahan pada urin: urin yang keluar dapat berbusa yang menandakan adanya kandungan protein di urin. kram ataupunrestless legs.  Bau mulut uremic : ureum yang menumpuk dalam darah dapat dideteksi melalui bau pernafasan yang tidak enak. seputar wajah atau tangan. Tidak ada pembatasan kalium kecuali didapati kadar dalam darah diatas normal. Selain itu warna urin juga mengalami perubahan menjadi coklat. yaitu:  Fatique: rasa lemah/lelah yang biasanya diakibatkan oleh anemia. orannye tua.  Nausea : muntah atau rasa ingin muntah.  Sulit berkonsentrasi 5) Stadium 5 (gagal ginjal terminal) Gejala yang dapat timbul pada stadium 5 antara lain: . Mengontrol minuman diperlukan selain pembatasan sodium untuk penderita hipertensi. Selain itu penderita juga harus membatasi asupan kalsium apabila kandungan dalam darah terlalu tinggi. 4) Stadium 4 Gejala yang mungkin dirasakan pada stadium 4 hampir sama dengan stadium 3.  Sulit tidur: Sebagian penderita akan mengalami kesulitan untuk tidur disebabkan munculnya rasa gatal. atau merah apabila bercampur dengan darah.  Perubahan cita rasa makanan : dapat terjadi bahwa makanan yang dikonsumsi tidak terasa seperti biasanya. Rasa sakit sekitar pinggang tempat ginjal berada dapat dialami oleh sebagian penderita yang mempunyai masalah ginjal seperti polikistik dan infeksi. Membatasi karbohidrat biasanya juga dianjurkan bagi penderita yang juga mempunyai diabetes. Kuantitas urin bisa bertambah atau berkurang dan terkadang penderita sering trbangun untuk buang air kecil di tengah malam. karena menjaga kadar fosfor dalam darah tetap rendah penting bagi kelangsungan fungsi ginjal.tetap mewaspadai kadar fosfor yang ada dalam makanan tersebut. Penderita juga dapat mengalami sesak nafas akaibat teralu banyak cairan yang berada dalam tubuh.

Natrium serum rendah.  Gatal – gatal. menentukan gangguan sistem. terutama di seputar wajah.  Bengkak. Mikroalbuminuria.  Urin tidak keluar atau hanya sedikit sekali. GDA mengalami asidosis metabolic. atau > 0. Mikroalbuminuria digunakan untuk uji saring nefropati pada pasien DM tipe 2.2 rasio albumin/kreatinin urin sewaktu.  Sakit kepala. menentukan derajat GGK.5 gram/hari. magnesium meningkat. Definisi nefropati klinis pada DM tipe 2 adalah. Disebut persisten (menetap) adalah bila 2 dari 3 kali pemeriksaan.  Tidak mampu berkonsentrasi. sedangkan proteinuria klinis menunjukkan penyakit yang irreversible.  Kram otot  Perubahan warna kulit F. Mikroalbuminuria menunjukkan stadium yang reversible pada disfungsi renal. dan membantu menetapkan etiologi. SDM menurun karena terjadi defisiensi eritropoetin. Diagnosis klinis nefropati diabetik sudah dapat ditegakkan bila didapatkan makroalbuminuria persisten (albuminuria > 300 mg/urin tampung 24 jam atau >200 μg/menit urin sewaktu). Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk menentukan ada tidaknya kegawatan. mata dan pergelangan kaki. merupakan istilah untuk ekskresi albumin melalui urin yang melebihi batas normal tetapi kadarnya tidak terdeteksi oleh metode dipstik konvensional. memberikan hasil positif. bila ekskresi albumin dalam urin > 200 μg/menit urin sewaktu.  Merasa lelah. Ht menurun karena adanya anemia. Diagnosis stadium klinis nefropati diabetik secara klasik adalah dengan ditemukannya proteinuria > 0. Kehilangan nafsu makan  Nausea. atau > 300 mg/urin tampung 24 jam. protein menurun. Blood ureum nitrogen (BUN)/kreatinin meningkat. yang dilakukan dalam kurun waktu 6 bulan. Pemeriksaan Diagnostik a. kalium meningkat. kalsium menurun. .

daging) di mana makanan tersebut dapat mensuplai asam amino untuk perbaikan ml/24 dan jam. efusi pleura. karena dehidrasi akan memperburuk fungsi ginjal. asam urat dan asam organik merupakan hasil pemecahan protein yang akan menumpuk secara cepat dalam darah jika terdapat gangguan pada klirens renal.b. untuk menilai sistem pelviokalises dan ureter. Foto Polos Abdomen Sebaiknya tanpa puasa. Pemeriksaan Elektrokardiogram (EKG) Untuk melihat kemungkinan hipertrofi ventrikel kiri. Pemeriksaan Pielografi Retrograd Dilakukan bila dicurigai ada obstruksi yang reversibel. telur. Protein yang dikonsumsi harus bernilai biologis (produk susu. Kemungkinan abnormal menunjukkan ketidakseimbangan elektrolit dan asam/basa. aritmia. Pemberian vitamin juga penting karena pasien dialisis mungkin kehilangan vitamin larut air melalui darah sewaktu dialisa. kardiomegali dan efusi perikadial. Penatalaksanaan a) Konservatif Diet TKRP (Tinggi Kalori Rendah Protein) Protein dibatasi karena urea. . Menilai bentuk dan besar ginjal dan apakah ada batu atau obstruksi lain. dan untuk menilai apakah proses sudah lanjut. c. Pemeriksaan Radiologi Tulang Mencari osteodistrofi dan kalsifikasi metastatik. gangguan elektrolit (hiperkalemia. pertumbuhan Kalori untuk sel. Pieolografi Intra-Vena (PIV) Dapat dilakukan dengan cara intravenous infusion pyelography. G. tanda-tanda perikarditis. Pemeriksaan Foto Dada Dapat terlihat tanda-tanda bendungan paru akibat kelebihan air (fluid overload). Ultrasonografi (USG) Untuk mencari adanya faktor yang reversibel seperti obstruksi oleh karena batu atau massa tumor. g. h. f. Biasanya cairan diperbolehkan 300-600 mencegah kelemahan dari Karbohidrat dan lemak. d. hipokalsemia). e.

Asidosis metabolik pada pasien CKD biasanya tanpa gejala dan tidak perlu penanganan. Hipertensi ditangani dengan medikasi antihipertensi kontrol volume intravaskuler. ditunjukkan dengan kebutuhan ESA yang lebih sedikit setelah pasien menerima suplemen zat besi.0 gr/dL. dan persen transferrin saturation ≥20%. Maintenance serum ferritin yang disarankan yaitu ≥200 ng/mL. diit rendah natrium. Serum ferritin dan persen transferrin saturation mengalami penurunan setelah 1 minggu terapi ESA pada pasien dengan CKD yang menerima dialysis. Anemia Penatalaksanaan anemia dengan rekombinan erythropoiesis- stimulating agents (ESAs) dapat memperbaiki kondisi pasien CKD dengan anemia secara signifikan. diuretik. karena tubuh membentuk banyak sel darah merah. serum ferritin dan persen transferrin saturation harus dipertahankan lebih tinggi daripada individu normal. ESAs harus diberikan untuk mencapai dan mempertahankan konsentrasi hemoglobin 11.b) Simptomatik 1. tubuh juga memerlukan banyak zat besi sehingga dapat terjadi defisiensi zat besi. Karena pasien CKD mengalami gangguan metabolism zat besi. c) Terapi Pengganti 1. Seorang ahli bedah menempatkan ginjal yang baru (donor) pada sisi . Pasien juga harus menerima suplemen zat besi selama menerima terapi ESA karena erythropoiesis yang diinduksi secara farmakologis dibatasi oleh supply zat besi. Gagal jantung kongestif dan edema pulmoner perlu pembatasan cairan. namun suplemen natrium bikarbonat pada dialisis mungkin diperlukan untuk mengoreksi asidosis. Selain itu. digitalis atau dobutamine dan dialisis.0 sampai 12. Transplantasi Ginjal Transplantasi ginjal adalah terapi yang paling ideal mengatasi gagal ginjal karena menghasilkan rehabilitasi yang lebih baik disbanding dialysis kronik dan menimbulkan perasaan sehat seperti orang normal. Transplantasi ginjal merupakan prosedur menempatkan ginjal yang sehat berasal dari orang lain kedalam tubuh pasien gagal ginjal. Sebagian besar pasien CKD membutuhkan suplementasi zat besi parenteral untuk mencapai kadar zat besi yang disarankan. Ginjal yang baru mengambil alih fungsi kedua ginjal yang telah mengalami kegagalan dalam menjalankan fungsinya. 2.

Cuci Darah (dialisis) Dialisis adalah suatu proses dimana solute dan air mengalami difusi secara pasif melalui suatu membran berpori dari satu kompartemen cair menuju kompartemen cair lainnya. difusi solute dan air dari plasma ke larutan dialisis sebagai respons terhadap perbedaan konsentrasi atau tekanan tertentu. yaitu donor hidup atau donor yang baru saja meninggal (donor kadaver).abdomen bawah dan menghubungkan arteri dan vena renalis dengan ginjal yang baru. Dialisis peritoneal mandiri berkesinambungan atau CAPD Dialisis peritoneal adalah metode cuci darah dengan bantuan membran selaput rongga perut (peritoneum). a. Ginjal yang dicangkokkan berasal dari dua sumber. Darah mengalir melalui ginjal yang baru yang akan membuat urin seperti ginjal saat masih sehat atau berfungsi. dan prinsip dasar kedua teknik itu sama. CAPD merupakan suatu teknik dialisis kronik dengan efisiensi rendah sehingga perlu diperhatikan kondisi pasien terhadap kerentanan perubahan cairan (seperti pasien diabetes dan kardiovaskular). sehingga darah tidak perlu lagi dikeluarkan dari tubuh untuk dibersihkan seperti yang terjadi pada mesin dialisis. . 2. Hemodialisis klinis di rumah sakit Cara yang umum dilakukan untuk menangani gagal ginjal di Indonesia adalah dengan menggunakan mesin cuci darah (dialiser) yang berfungsi sebagai ginjal buatan. Hemodialisis dan dialysis merupakan dua teknik utama yang digunakan dalam dialysis. b.

gangguan pernapasan. Pengkajian Untuk mengetahui permasalahan yang ada pada klien dengan CKD perlu dilakukan pengkajian yang lebih menyeluruh dari berbagai aspek yang ada sehingga dapat ditemukan masalah-masalah yang ada pada pasien dengan CKD. dan disritmia. Sistem gastrointestinal Tanda dan gejala: anoreksia.ASUHAN KEPERAWATAN A. Sistem integument Tanda dan gejala: warna kulit abu-abu mengkilat. muntah. konstipasi. proteinuria. rambut tipis dan kasar. hipokalsemia. Pola napas tidak efektif 2. mual. pneumonia. malaise f. hematuria. diare. oedem paru. abdomen kembung. sesak napas. Sistem urinaria Tanda dan gejala: oliguria. perdarahan dari GIT e. pembesaran vena jugularis. Sistem musculoskeletal Tanda dan gejala: kram otot. kejang. edema periorbital. Doengoes (1999) dan Susan Martin Tucker (1998) meliputi: a. asidosis metabolic. gagal jantung. Kelebihan volume cairan 3. kekuatan otot hilang g. asidosis metabolic B. nafas dangkal. Diagnosa Keperawatan 1. Fatigue . kulit tipis dan rapuh. kulit kering bersisik. b. anuria. Sistem kardiovaskular Tanda dan gejala: hipertensi. pericarditis takikardia. echimosis. turgor kulit buruk. c. pruritus. pitting edema (kaki. Smeltzer. sacrum). Pengkajian pada pasien dengan CKD menurut Suzanne C. tangan. Sistem pulmoner Tanda dan gejala: sputum kental. Sistem neurologi Tanda dan gejala: kelemahan dan keletihan. d.

peningkatan BB. tanda-tanda kelebihan volume cairan teratasi dengan kriteria hasil:  Bebas dari edema  BB ideal  Tanda vital dalam batas normal Intervensi:  Monitor BB dengan alat ukur yang sama  Monitor intake dan output  Monitor TTV  Monitor perubahan edema perifer  Batasi pemasukan cairan . Pengelolaan Jalan Nafas  Atur posisi tidur klien untuk maximalkan ventilasi  Lakukan fisioterapi dada jika perlu  Monitor status pernafasan dan oksigenasi sesuai kebutuhan  Auskultasi bunyi nafas  Bersihkan sekret jika ada dengan batuk efektif / suction jika perlu.C.  Perhatikan pergerakan dada. peningkatan TD.  Auskultasi bunyi nafas  Monitor peningkatan ketidakmampuan istirahat.d asidosis metabolik Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2 x 24 jam pola nafas klien menunjukkan ventilasi yg adekuat dg kriteria:  Tidak ada dispnea  Kedalaman nafas normal  Tidak ada retraksi dada / penggunaan otot bantuan pernafasan Intervensi: Monitor Pernafasan:  Monitor irama. penurunan urine output Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x4 jam. kecemasan dan sesag nafas. Kelebihan volume cairan Ditandai dengan edema pada ekstremitas bawah. 2. Pola nafas tidak efektif b. kedalaman dan frekuensi pernafasan. Rencana Keperawatan 1.

irama. Evaluasi derajat edema jika ada  Kolaborasi untuk dialysis sesuai indikasi 3. dan sesudah beraktivitas sesuai indikasi  Observasi gejala yang menunjukkan tidak toleran terhadap aktivitas  Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat  Pertahankan status nutrisi yang adekuat . pasien tidak mengalami kelemahan dengan kriteria hasil:  TTV dalam batas normal  Klien dapat melakukan peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur dengan frekuensi jantung/irama jantung dan TD dalam batas normal  Kulit teraba hangat. selama. merah muda dan kering Intervensi:  Kaji fektor yang menyebabkan keletihan  Pantau frekuensi jantung. Fatigue Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x4 jam. dan perubahan TD sebelum.