BAB I (PENDAHULUAN) 1.

Latar Belakang Masalah

Dalam pembahasan pada makalah ini awalnya kami mulai dari sebuah skenario yang diberikan yaitu :

MODUL XV (PENDENGARAN, PENCIUMAN & TENGGOROK) SKENARIO 1

TINITUS Seorang anak umur 8 tahun, sewaktu liburan naik pesawat terbang merasa pendengarannya terganggu dan mengeluhkan rasa sakit di dalam telinga, oleh ibunya anak tersebut diberikan permen untuk diisapisap dan menelan ludah. Hal ini diketahui ibunya atas saran koleganya yang sering melakukan perjalanan dengan pesawat terbang .

1.2 Tujuan Pembahasan Dalam penyusunan makalah ini tentunya memiliki tujuan yang diharapkan berguna bagi para pembaca dan khususnya kepada penulis. Dimana tujuannya dibagi menjadi dua macam. Yang pertama secara umum makalah ini bertujuan menambah wawasan mahasiswa/i dalam kelompok diskusi. Sedangkan secara khusus tujuan penyusunan makalah ini ialah sebagai berikut :

1.

Melengkapi tugas SGD (small group discussion) skenario 1 modul XV.

1 Small Group Discussion IV

2. 3.

Menambah pengetahuan pembaca tentang Pendengaran, Penciuman & Tenggorok Sebagai bahan referensi mahasiswa/i fakultas kedokteran UISUsemester V dalam menghadapi ujian akhir modul.
Itulah beberapa tujuan dalam penyusunan makalah ini dan juga sangat diharapkan dapat

berguna bagi setiap orang yang membaca makalah ini. Semoga seluruh tujuan tersebut dapat tercapai dengan baik. 1.3 Pembatasan Masalah Dalam penyusunan makalah ini kami dihadapkan pada suatu sistem yaitu ada suatu masalah yang harus disusun dalam suatu skema, dimana skema itu juga sekaligus menjadi pembatasan masalah yang akan dibahas pada makalah ini. Berikut merupakan pembatasan masalah dari skenario 1 modul15 tentang Tinitus

1.4 Metode dan Teknik Dalam penyusunan makalah ini kami mengembangkan suatu metode yang sering digunakan dalam pembahasan-pembahasan makalah sederhana, dimana kami menggunakan metode dan teknik secara deskriptif dimana tim penyusun mencari sumber data dan sumber informasi yang akurat lainnya. Setelah itu dianalisis sehingga diperoleh informasi tentang masalah yang akan dibahas. Setelah itu, berbagai referensi yang didapatkan dari berbagai sumber tersebut disimpulkan sesuai dengan pembahasan yang akan dilakukan dan sesuai dengan judul makalah dan dengan tujuan pembuatan makalah ini.Seperti itulah gambaran sekilas tentang metode dan teknik yang digunakan dalam penyusunan makalah ini.

2 Small Group Discussion IV

BAB II ( SUB PEMBAHASAN )

2.1 Learning objective (LO) 1. Mengetahui dan memahami Pendengaran, Penciuman & Tenggorok :

1. 2. 3.

Anatomi Telinga, Hidung dan Temggorok Fisiologi Pendengaran, Penciuman & Pengecapan Histologi

3 Small Group Discussion IV

2.2 SKEMA

Anak Usia 8 tahun

TINITUS

-Hisap Permen Pendengaran - Menelan Ludah _

THT

- Anatomi - Fisiologi - Pensyarafan - Vaskularisasi

4 Small Group Discussion IV

1 PENDAHULUAN Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks (pendengaran dan keseimbanga Anatominya juga sangat rumit . Di antara mereka yang dapat membantu diagnosis dan atau menangani kelainan otologik adalah ahli otolaringologi. perawat. Deteksi awal dan diagnosis akurat gangguan otologik sangat penting. Indera pende¬ngaran berperan penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Anatomi Telinga Secara anatomi dari fungsi telinga dibagi atas: . ahli audiologi. internis. Perawat yang terlibat dalam spesialisasi otolaringologi. saat ini dapat raemperoleh sertifikat di bidang keperawatan otorinolaringologi leher dan kepala (CORLN= cerificate in otorhinolaringology-head and neck nursing).Telinga luar . Sangat penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara. 1. dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan mendengar.Telinga dalam 5 Small Group Discussion IV .Telinga tengah . ahli patologi wicara dan pendidik. pediatrisian.BAB III (PEMBAHASAN) 3.

kebagian tulang rawan. kelenjar serumen dan kelenjar sebasea. Terdiri dari: * Daun telinga (aurikel) * Meatus acusikus eksterna liang telinga luar * Membrana timpani Daun telinga merupakan suatu lempengan tulang rawan yang berlekuk-lekuk ditutupi oleh kulit dan dipertahankan pada tempatnya oleh otot dan ligamentum. yaitu: 6 Small Group Discussion IV . Telinga luar Ialah bagian telinga yang terdapat sebelah luar membran timpani.a. Membran timpani terdiri 3 lapisan. Gendang telinga dan kulit liang telinga bagian dalam mempunyai sifatmembersihkan sendiri yang disebabkan oleh migrasi lapisan keratin epithelium dari membran timpani keluar. Kulit yang melapisi tulang rawan liang telinga luar sangat longgar dan mengandung banyak folikel rambut. Liang telinga luar 2/3 bagian dalam dibentuk oleh tulang.

Kavum timpani.o Lapisan squamosa o Lapisan mukosa o Lapisan fibrosa terdiri serat melingkar dan serat radial Bagian membran timpani sebelah atas disebut pars flacida (membran shrapnel) bagian yang lebih besar disebelah bawah disebut pars tensa membran timpani b. Membran timpani. Membran Timpani Membran timpani dibentuk dari dinding lateral kavum timpani dan memisahkan liang telinga luar dari kavum timpani. Membrana ini panjang vertical rata. Telinga tengah Telinga tengah terdiri dari : 1.posterior kira - 7 Small Group Discussion IV . Tuba eustachius 1. Prosesus mastoideus. 4.rata 9-10 mm dan diameter antero. 3. 2.

kira 8-9 mm. Dari umbo kemuka bawah tampak refleks cahaya ( none of ligt). Secara Anatomis membrana timpani dibagi dalam 2 bagian : 1. 2. letaknya dibagian atas muka dan lebih tipis dari pars tensa dan pars flasida dibatasi oleh 2 lipatan yaitu : 1. Lamina propria yang terdiri dari dua lapisan anyaman penyabung elastisyaitu: 1. Membran timpani terletak dalam salura n yang dibentuk oleh tulang dinamakan sulkus timpanikus.Pembuluhpembuluh epidermal berasal dari aurikula yang dalam cabang dari arteri m aksilaris interna. Plika maleolaris posterior ( lipatan belakang). Pars tensa Merupakan bagian terbesar dari membran timpani suatu permukaan yang tegang dan bergetar sekeliling menebal dan melekat pada anulus fibrosus pada sulkus timpanikus bagian tulang dari tulang temporal. Permukaan mukosa telinga tengah didarahi oleh timpani anterior cabang dari arteri maksilaris interna dan oleh stylomastoid cabang dari arteri aurikula posterior. Stratum mukosum (lapisan mukosa) berasal dari kavum timpani.1 mm . Letak membrana timpani tidak tegak lurus terhadap liang telinga akan tetapi miring yang arahnya dari belakang luar kemuka dalam dan membuat sudut 450 dari dataran sagital dan horizontal. Permukaan dalam disarafi oleh n.rata 0. aurikulo temporalis dari nervus mandibula dan nervus vagus. 8 Small Group Discussion IV . 2. 2. Akan tetapi bagian atas muka tidak terdapat sulkus ini dan bagian ini disebut insisura timpanika ( Rivini). Stratum kutaneum ( lapisan epitel) berasal dari liang telinga. ketebalannya rata.Aliran darah membrana timpani berasal dari permukaan luar dan dalam. Membrana timpani merupakan kerucut. Bagian dalam sirkuler. Pars flasida atau membran Shrapnell. Permukaan luar dari membrana timpani disarafi oleh cabang n. Stratum fibrosum ( lamina propria) yang letaknya antara stratum kutaneum dan mukosum.timpani cabang dari nervus glosofaringeal. dimana bagian puncak dari kerucut menonjol kearah kavum timpani. puncak ini dinamakan umbo. 3. Bagian luar radier . Membran timpani mempunyai tiga lapisan yaitu : 1. Plika maleolaris anterior ( lipatan muka). 2.

saraf yang membentuk pleksus timpanikus. bentuknya seperti ginjal dan berhubungan pada kavum timpani dengan vestibulum. Dibentuk oleh lempengan tulang yang tipis disebut tegmen timpani. Kanalis ini didalam kavum timpani tipis sekali atau tidak ada tulang sama sekali ( dehisensi).6 mm.25 mm x 1. sehingga memungkinkan terjadinya penyebaran infeksi dari kavum timpani ke meningen dari fosa kranial media. Atap Kavum Timpani. Foramen ovale berukuran 3. Dinding ini pada mesotimpanum menonjol kearah kavum timpani. 9 Small Group Discussion IV .vena dari telinga tengah menembus sutura ini dan berakhir pada sinus petroskuamosa dan sinus petrosal superior dimana hal ini dapat menyebabkan penyebaran infeksi dari telinga tengah secara langsung ke sinus. sedangkan diameter transversal 2. Didalam promontorium terdapat beberapa saluran-saluran yang berisi saraf. dinding anterior.75 mm. Kavum Timpani Kavum timpani terletak didalam pars petrosa dari tulang temporal. Diameter anteroposterior atau vertikal 15 mm. 3.2. Pada orang dewasa bahkan vena. Bagian ini juga dibentuk oleh pars petrosa tulang temporal dan sebagian lagi oleh skuama dan garis sutura petroskuama. atau seperti kotak korek api. sebagai tempat jalannya nervus fasialis. Lantai Kavum Timpani Dibentuk oleh tulang yang tipis memisahkan lantai kavum timpani dari bulbus jugularis. yang disebut promontorium Tonjolan ini oleh karena didalamnya terdapat koklea. Dibelakang dan atas promontorium terdapat fenestra vestibuli atau foramen ovale (oval windows). 2. dinding lateral. atau tidak ada tulang sama sekali hingga infeksi dari kavum timpani mudah merembet ke bulbus vena jugularis. penulangan dari sutura petroskuamosa belum terbentuk pada daerah tegmen timpani. Diatas fenestra vestibuli. 1. ini juga merupakan dinding lateral dari telinga dalam. Dinding ini hanya dibatasi oleh tulang yang tipis atau ada kalanya tidak ada tulang sama sekali ( dehisensi). d inding posterior. bentuknya bikonkaf. Dinding Medial Dinding medial ini memisahkan kavum timpani dari telinga dalam. Kavum timpani mempunyai 6 dinding yaitu : bagian atap. dan ditutupi oleh telapak kaki stapes dan diperkuat oleh ligamentum anularis.sinus venosuskranial. dinding medial. lantai. Pada anakanak. Tegmen timpani memisahkan telinga tengah dari fosa kranial dan lobus temporalis dari otak.

3 mm pada bagian anterior dan posterior 1. sebelah superior oleh prosesus brevis inkus yang melekat kefosa inkudis. Resesus fasialis penting karena sebagai pembatas antara kavum timpani dengan kavum mastoid s ehingga bila aditus as antrum tertutup karena suatu sebab maka resesus fasialis bisa dibuka untuk menghubungkan kavum timpani dengan kavum mastoid. ditutupi oleh suatu membran yang tipis yaitu membran timpani sekunder.5 mm x 1. Dinding Posterior Dinding posterior dekat keatap. Lebar resesus fasialis 4. terletak dibelakang bawah. yang menghubungkan kavum timpani dengan atrum mastoid melalui epitimpanum. Dinding medial dari sinus timpani kemudian berlanjut ke bagian posterior dari dinding medial kavum timpani dimana berhubungan dengan dua fenestra dan promontorium. Foramen rotundum ini berukuran 1.6 mm.Disebelah dalam dari piramid dan nervus fasialis merupakan perluasan kearah posterior dari mesotimpani adalah sinus timpani. 4.Kedua lekukan dari foramen ovale dan rotundum berhubungan satu sama lain pada batas posterior mesotimpanum melalui suatu fosa yang dalam yaitu sinus timpanikus. Dibatasi sebelah lateral oleh anulus timpanikus posterosuperior. tempat terdapatnya tendon muskulus stapedius. Suatu ruang secara klinis sangat penting ialah sinus posterior atau resesus fasial yang didapat disebelah lateral kanalis fasial dan prosesus piramidal.01 mm dan tidak bertambah semenjak lahir. Diantara piramid dan anulus timpanikus adalah resesus fasialis. mempunyai satu saluran disebut aditus. sinus dapat meluas sepanjang 9 mm kearah tulang mastoid.Dibawah aditus terdapat lekukan kecil yang disebut fosa inkudis yang merupakan suatu tempat prosesus brevis dari inkus dan melekat pada seratserat ligamen. Dibawah fosa inkudis dan dimedial dari korda timpani adalah piramid. bahwa apabila diukur dari ujung piramid. Perluasan sel. tendon yang berjalan keatas dan masuk kedalam stapes. Dibelakang dinding posterior kavum timpani adalah fosa kranii posterior dan sinus sigmoid. Dinding anterior bawah adalah lebih besar dari bagian atas dan terdiri dari lempeng tulang yang tipis menutupi arteri karotispada saat memasuki tulang tengkorak dan sebelum berbelok ke 10 Small Group Discussion IV .Fenestra koklea atau foramen rotundum ( round windows). Dinding Anterior Dinding anterior kavum timpani agak sempit tempat bertemunya dinding medial dan dinding lateral kavum timpani.sel udara kearah dinding posterior dapat meluas seperti yang dilaporkan Anson dan Donaldson(1981). 5.

anterior. Dibawah tuba. sebagian besar atik diisi oleh maleus inkus. Mesotimpanum Terletak kearah medial dari membran timpani.bagian tulang lemah. Dinding medial atik dibentuk oleh kapsul atik yang ditandai oleh penonjolan kanalis semisirkularis lateral. Bagian tulang berada diatas dan bawah membran timpani. dinding anterior biasanya tipis dimana ini merupakan dinding posterior dari saluran karotis. Epitimpanum Berada dibagian atas membran timpani. Kavum timpani dibagi menjadi 3 bagian yaitu : a. yaitu aditus ad antrum.sel udara yang membuat pneumatisasi pangkal tulang pipi (zygoma). Dinding ini ditembus oleh saraf timpani karotis superior dan inferior yang membawa serabut serabut saraf simpatis kepleksus timpanikus dan oleh satu atau lebih cabang timpani dari arteri karotis interna1. Dinding anterior terpisah dari maleus oleh suatu ruang yang sempit. Dibagian superior epitimpanum dibatasi oleh suatu penonjolan tipis os posterior. Dinding lateral Dinding lateral kavum timpani adalah bagian tulang dan membran. 11 Small Group Discussion IV . termasuk sel. 6. Pertama menyeimbangkan tekanan membran timpani pada sisi sebelah dalam. Diposterior.sel udara mastoid. disebut juga atik karena terletak diatas membran timpani. Diatas tuba terdapat sebeuah saluran yang berisi otot tensor timpani. disini dapat dijumpai muara sel. Tuba ini berhubungan dengan nasofaring dan mempunyai dua fungsi. Merupakan bagian superior kavum timpani. b. kedua sebagai drainase sekresi dari telinga tengah.Dinding anterior ini terutama berperan sebagai muara tuba eustachius. dan lebih anterior ada ganglion genikulatum. Dinding ini biasanya mengalami pneumatisasi yang baik dan dapat dijumpai bagian. yang terletaknya lebih rendah dari pada nervus fasialis pars timpani. Pada bagian anterior terdapat ampula kanalis superior. Dinding anterior mesotimpani terdapat orifisium timpanituba eustachius pada bagian superior dan membentuk bagian tulang dinding saluran karotis asendens pada bagian inferior. Disebelah medial dibatasi oleh kapsul otik. atik menyempit menjadi jalan masuk ke antrum mastoid. yang merupakan tanda ujung anterior ruang atik. Dinding lateral atik dibentuk oleh os skuama yang berlanjut kearah lateral sebagai dinding liang telinga luar bagian tulang sebelah atas.

prosesus anterior. Inkus terletak pada epitimpanum.3 mm.c. Tulang. Malleus ( hammer / martil). memberikan respon rotasi 12 Small Group Discussion IV . bertindak sebagai tempat perlekatan serabut-serabut tunika propria. Maleus dan inkus bekerja sebagai satu unit. sedangkan leher terletak dibelakang pars flaksida membran timpani. stapes). Saraf korda timpani. inkus. Ruang antara kepala dari maleus dan membran Shrapnell dinamakan Ruang Prussak. Prosesus ini berhubungan dengan kepala dari stapes. Kavum timpani terdiri dari : 1.tulang pendengaran ( maleus. dimana prosesus brevis menuju antrum. lehe r. 2. lengan (manubrium). prosesus brevis (lateral).5 mm pada pinggir dari corpus. Maleus ditahan oleh ligamentum maleus anterior yang melekat ke tegmen dan juga oleh ligamentum lateral yang terdapat diantara basis prosesus brevis dan pinggir lekuk Rivinus. Sudut antara prosesus brevis dan longus membentuk sudut lebih kurang 100 derajat. *Inkus Inkus terdiri dari badan inkus ( corpus) dan 2 kaki yaitu : prosesus brevis dan prosesus longus. kepala terletak pada epitimpanum atau didalam rongga atik. prosesus longus jalannya sejajar dengan manubrium dan menuju ke bawah.5 mm. 3.tulang pendengaran terdiri dari : 1. berhubungan dengan bulbus jugulare. Inkus berukuran 4. Ujung prosesus longus membengkok kemedial merupakan suatu prosesus yaitu prosesus lentikularis. panjangnya kira-kira 7. Dua otot. Hipotimpanum atau resesus hipotimpanikus Terletak dibawah membrana timpani.5. Inkus ( anvil/landasan) 3. Stapes ( stirrup / pelana) *Maleus Malleus adalah tulang yang paling besar diantara semua tulang-tulang pendengaran dan terletak paling lateral.0 mm. 2. 4.8 mm x 5. Manubrium terdapat didalam membrane timpani. prosesus longus panjangnya 4.5 sampai 9. Saraf pleksus timpanikus Tulang.

Serabut. Muskulus tensor timpani disarafi oleh cabang saraf kranial ke 5. Stapes terdiri dari kepala. serabut ototnya melekat ke perios kanal tersebut. hampir lurus pada tepi posterior dan melengkung di anterior dan ujung posterior. krura anterior dan posterior dan telapak kaki ( foot plate). Stapedius disarafi oleh salah satu cabang saraf kranial ke 7 yang timbul ketika saraf tersebut melewati m. Tendon stapedius berinsersi pada suatu penonjolan kecil pada permukaan posterior dari leher stapes. M. tingginya 4mm. dan terletak pada fenestravestibuli dimana ini melekat pada tepi tulang dari kapsul labirin olehligamentum anulare Tinggi stapes kira. kerja otot ini menyebabkan membran timpani tertarik kearah dalam sehingga menjadi lebih tegang dan meningkatkan frekuensi resonansi sistem penghantar suara serta melemahkan suara dengan freksuensi rendah.kira 3. Prosesus ini membuat tendon tersebut membelok kearah lateral kedalam telinga tengah.serabutnya bergabung m embentuk tendon stapedius yang berinsersi pada apek posterior leher stapes.5 mg. bentuknya seperti sanggurdi beratnya hanya 2. Kedua berhubungan dengan foot plate yang biasanya mempunyai tepi superior yang melengkung. yang melekat pada foramen ovale dengan perantara ligamentum anulare. *Stapes Merupakan tulang pendengaran yang teringan.terhadap gerakan membran timpani melalui suatu aksis yang merupakan suatu garis antara ligamentum maleus anterior dan ligamentum inkus pada ujung prosesus brevis. stapedius tersebut pada 13 Small Group Discussion IV . Otot ini melekat pada dinding semikanal tensor timpani.4.serabut otot bergabung dan menjadi tendon pada ujung timpanisemikanal yang ditandai oleh prosesus kohleoform.25 mm *Otot-otot pada kavum timpani Terdiri dari : otot tensor timpani ( muskulus tensor timpani) dan ototstapedius ( muskulus stapedius) Otot tensor timpani adalah otot kecil panjang yang berada 12 mm diatas tuba eustachius.4 mm. panjang foot plat e 3 mm dan lebarnya 1. Gerakan. Serabut . Kedua krura terdapat pada bagian leher bawah yang lebar dan krura anterior lebih tipis dan kurang melengkung dari pada posterior. leher.5 mm. Otot stapedius adalah otot yang relatif pendek. Bermula dari dalam kanalnya didalam eminensia piramid. Gerakan rotasi tersebut diubah menjadi gerakan seperti piston pada stapes melalui sendi inkudostapedius. Tendon berinsersi pada bagian atas leher maleus.gerakan tersebut tetap dipelihara berkesinambungan oleh inkudomaleus. Kanal ini terletak diatas liang telinga bagian tulang dan terbuka kearah liang telinga sehingga disebut semikanal.

Saraf dari pleksus ini dan kemudian berlanjut pada : 1. Kemudian berjalan melalui foramen ovale dengan nervus mandibula dan arteri meningeal assesori sampai ganglion otik. Setelah berjalan kearah medial menuju ligamentum maleus anterior. Korda timpani juga mengandung jaringan sekresi parasimpatetik yang berhubungan dengan kelenjar ludah sublingual dan submandibula melalui ganglion submandibular. VII dengan melalui cabang dari ganglion genikulatum. timpani cabang dari nervus glosofaringeus dan dengan nervus karotikotimpani yang berasal dari pleksus simpatetik disekitar arteri karotis interna. *Saraf Korda timpani Merupakan cabang dari nervus fasialis masuk ke kavum timpani dari kanalikulus posterior yang menghubungkan dinding lateral dan posterior.serabut parasimpatis dari N.perputarannya yang kedua. Korda timpani memasuki telinga tengah bawah pinggir posterosuperior sulkus timpani dan berjalan keatas depan lateral keprosesus longus dari inkus dan kemudian ke bagian bawah leher maleus tepatnya diperlekatan tendon tensor timpani.stapedius me narik stapes ke posterior mengelilingi suatu pasak pada tepi posterior basis stapes. Cabang-cabang pada membrana mukosa yamg melapisi kavum timpani. Kerja m. memperlemah transmisi suara dan meningkatkan frekuensi resonansi tulang-tulang pendengaran . antrum mastiod dan sel. Sebuah cabang yang berhubungan dengan nervus petrosus superfisial mayor. diatas dasar fosa kranial media. yang mengandung serabut.sel mastoid. IX. tensor timpani kemudian menerima serabut saraf parasimpatik dari N. Pada nervus petrosus superfisial minor. Saraf ini meninggalkan telinga tengah melalui suatu saluran yang kecil dibawah m. Secara sempurna saraf berjalan melalui tulang temporal. Keadaan ini stapes kaku. dilateral sampai nervus petrosus superfisial mayor. diluar durameter. tuba eustachius. 3. 14 Small Group Discussion IV . saraf ini keluar melalui fisura petrotimpani. Korda timpani memberikan serabut perasa pada 2/3 depan lidah bagian anterior. Kadang.kadang saraf ini tidak berjalan pada foramen ovale tetapi melalui foramen yang kecil sampai foramen spinosum. * Pleksus timpanikus Adalah berasal dari n. 2.

yangmengandung sel unipolar palsu. Pada daerah anterior mendapat vaskularisasi dari a. digastrik dan m. Pada belokan pertama di dinding medial dari kavum timpani terdapat ganglion genikulatum. Korda timpani keluar ke fosa intra temporal melalui handle malleus. bergerak secara vertikal ke inkus dan terus ke fisura petrotimpanik. Sebagian besar pembuluh darah yang menuju kavum timpani berasal dari cabang arteri karotis eksterna. Bagian lain dari saraf kranial VII membentuk percabangan motor ke otot stapedius dan korda timpani. Saraf fasial terutama terdiri dari dua komponen yang berbeda. Belokan kedua terjadi dinding posterior mengarah ke tulang petrosa melewati kanal fasial keluar dari dasar tengkorak melewati foramen stilomastoidea.Serabut post ganglion dari ganglion otik menyuplai serabut. Korda timpani mengandung jaringan perasa dari 2/3 anterior lidah dan jaringan sekretorimotor dari ganglion submandibula. kavum nasi dan orbita.pembuluh darah yang memberikan vaskularis asi kavum timpani adalah arteri. posterior belly m. Sel ini adalah bagian dari jaringan perasa dari 2/3 lidah dan palatum. Saraf intermedius yang terdiri dari saraf sensori dan sekretomotor parasimpatetis preganglionik yang menuju ke semua glandula wajah kecuali parotis. timpanika 15 Small Group Discussion IV . yaitu : 1.otot yang berasal dari lengkung brankial kedua (faringeal) yaitu otot ekspresi wajah. Sel jaringan perasanya terdapat di ganglion genikulatum. terus ke fosa kranial tengah.serabut sekremotor pada kelenjar parotis melalui nervus aurikulotemporalis. *Perdarahan Kavum Timpani Pembuluh. Saraf ini mengandung jaringan perasa dari palatum dan jaringan sekremotor dari glandula atap rongga mulut. Saraf fasial Meninggalkan fosa kranii posterior dan memasuki tulang temporal melalui meatus akustikus internus bersamaan dengan N. Kemudian membelok kearah posterior dalam tulang diatas feromen ovale terus ke dinding posterior kavum timpani. 2. masuk ke dinding anterior kavum timpani. stilohioid. VIII. Saraf motorik untuk otot. Saraf petrosa superfisial yang besar bercabang dari saraf kranial VII pada ganglion genikulatum. stapedius.arteri kecil yang melewati tulang yang tebal. Saraf kranial VII mencapai dinding medial kavum timpani melalui auditori meatus diatas vestibula labirin tulang.

petrosa superior. lebar dan letaknya mendatar maka infeksi mudah menjalar dari nasofaring ke telinga tengah. tuba pendek. mastoidea yaitu a.5 cm.5 mm.kira 2. timpanika psoterior. depan dan medial dari telinga tengah 13 dan pada anak dibawah 9 bulan adalah 17. yang merupakan cabang dari a. 7. a. sedangkan bagian tulang rawan selalu tertutup dan berakhir pada dinding lateral nasofaring. superior dan medial sepanjang 2/3 bagian keseluruhan panjang tuba (4 cm). 2. lebih tinggi dibanding dengan ujungnya nasofaring. Pada daerah posterior mendapat vaskularisasi dari a. bentuknya seperti huruf S. timpanika superior dan ramus inkudomalei. Pada anak-anak. Tuba terdiri dari 2 bagian yaitu : 1. Bagian tulang sebelah lateral berasal dari dinding depan kavum timpani. yang merupakan cabang dari a. Disini terdapat silia dengan pergerakannya ke arah faring. Otot yang berhubungan dengan tuba eustachius yaitu : 16 Small Group Discussion IV .anterior. Pada orang dewasa muara tuba pada bagian timpani terletak kira. Tuba Eustachius Tuba eustachius disebut juga tuba auditory atau tuba faringotimpani. Pada orang dewasa panjang tuba sekitar 36 mm berjalan ke bawah. Pada daerah superior mendapat perdarahan dari cabang a. maksilaris interna yang masuk ke telinga tengah melalui fisura petrotimpanika. Bagian tulang rawan ini berjalan kearah posterior. Bagian tulang terdapat pada bagian belakang dan pendek (1/3 bagian).2. Pembuluh getah bening kavum timpani masuk ke dalam pembuluh getah bening retrofaring atau ke nodulus limfatikus parotis. Bagian tulang tetap terbuka. Epitel tuba terdiri dari epitel selinder berlapis dengan sel selinder. Tuba dilapisi oleh mukosa saluran nafas yang berisi sel-sel goblet dan kelenjar mucus dan memiliki lapisan epitel bersilia didasarnya. dan bagian tulang rawan medial masuk ke nasofaring. stilomastoidea. Bagian tulang rawan terdapat pada bagian depan dan panjang (2/3 bagian). Tuba ini merupakan saluran yang menghubungkan kavum timpani dengan nasofaring. Pembuluh vena kavum timpani berjalan bersama-sama dengan pembuluh arteri menuju pleksus venosus pterigoid atau sinus petrosus superior. Sekitar ostium tuba terdapat jaringan limfosit yang dinamakan tonsil tuba. meningea media juga a. Tempat pertemuan itu merupakan bagian yang sempit yang disebut ismus. kemudian bersatu dengan bagian tulang atau timpani.

Atap mastoid adalah fosa kranii media. Antrum sudah berkembang baik pada saat lahir dan pada dewasa mempunyai volume 1 ml. Prosesus Mastoideus Rongga mastoid berbentuk seperti bersisi tiga dengan puncak mengarah ke kaudal. Dinding medial adalah dinding lateral fosa kranii posterior.Antrum mastoid adalah sinus yang berisi udara didalam pars petrosa tulang temporal. Dinding lateral merupakan bagian dari pars skumosa tulang temporal dan meningkat ketebalannya selama hidup dari sekitar 2 mm pada saat lahir hingga 12. n. Dibawah dan sedikit ke medial dari promontorium terdapat kanalis bagian tulang dari n. Dinding lateral pada orang dewasa berhubungan dengan trigonum suprameatal ( Macewen’s) pada permukaan luar tengkorak. sering disebut sebagai aditus ad antrum. Aditus antrum mastoid adalah suatu pintu yang besar iregular berasal dari epitisssmpanum posterior menuju rongga antrum yang berisi udara. Sinus sigmoid terletak dibawah duramater pada daerah ini. daria atas kebawah 9mm dan dari sisi lateral ke medial 7 mm. M.VII ke prosesus brevis inkus 2. elevator veli palatini 3. Lantai antrum mastoid berhubungan dengan otot digastrik dilateral dan 17 Small Group Discussion IV .25 mm.rata diantara organ : n. VII ke kanalis semisirkularis 1. Pada dinding anterior mastoid terdapat aditus ad antrum. Berhubungan dengan telinga tengah melalui aditus dan mempunyai selsel udara mastoid yang berasal dari dinding. panjang dari depan kebelakang sekitar 14 mm. Prosesus brevis inkus sangat berdekatan dengan kedua struktur ini dan jarak rata. M.36 mm : dan prosesus brevis inkus ke kanalis semisirkularis 1. tensor veli palatini 2.dindingnya.1. Dinding medial merupakan penonjolan dari kanalis semisirkularis lateral. fasialis. M.15 mm pada dewasa. Dinding medial dari antrum berhubungan dengan kanalis semisirkularis posterior dan lebih ke dalam dan inferiornya terletak sakus endolimfatikus dan dura dari fosa kranii posterior.77 mm. Atapnya membentuk bagian dati lantai fosa kranii media dan memisahkan antrum dengan otak lobus temporalis. 8. drenase sekret dari kavum timpani ke nasofaring dan menghalangi masuknya sekret dari nasofaring ke kavum timpani. salpingofaringeus Fungsi tuba eustachius sebagai ventilasi telinga yaitu mempertahankan keseimbangan tekanan udara didalam kavum timpani dengan tekanan udara luar. Dinding posterior terutama dibentuk oleh tulang yang menutupi sinus. M. tensor timpani 4.

Pneumatisasi didefinisikan sebagai suatu proses pembentukan atau perkembangan rongga-rongga udara didalam tulang temporal. Prosesus mastoid berkembang setelah lahir sebagai tuberositas kecil yang berpneumatisasi secara sinkron dengan pertumbuhan antrum mastoid.sinus sigmoid di medial. Terminal 5. dimana sel. dan sel-sel udara yang terdapat didalam mastoid adalah sebagian dari sistem pneumatisasi yang meliputi banyak bagian dari tulang temporal.selnya bertambah besar. pneumatisasi prosesus mastoideus ini dapat dibagi atas : 1.sel ini dapat dibedakan : 1. Maka nanti dapat dilihat pneumatisasi yang terhenti(pneumatisationshemung arrested pneumatisation) atau pneumatisasi yang tidak ada sama sekali (teori dari Wittmack). Oleh karena itu bila ada radang pada sel. drainase tidak begitu baik hingga mudah terjadi radang pada mastoid (mastoiditis). dimana terdapat sel. sedangkan bagian bawah dilalui n.selnya kecil tambah keperifer sel. Menurut tempatnya sel. Bila ada sifat biologis mukosa tidak baik maka daya pneumatisasi hilang atau kurang.sel mastoid. Dinding anterior antrum memiliki aditus pada bagian atas. Proesesus Mastoideus Kompakta ( sklerotik). Pneumatisasi sempurna terjadi antara usia 6 – 12 tahun. Prosesus mastoid sangat penting untuk sistem pneumatisasi telinga. Bila prosesus mastoid tetap berisi tulang.sel disini besar. 3. 2.sel kecil saja.sel yang berpneumatisasi terbatas pada daerah sekitar antrum. Ini juga terjadi bila ada radang pada telinga yang tidak menyembuh. Pada tahun pertama kehidupan prosesus ini terdiri dari tulang-tulang seperti spon sehingga mastoiditis murni tidak dapat terjadi.fasialis dalam perjalanan menuju ke foramen stilomastoid. Sel-sel prosesus mastoid yang mengandung udara berhubungan dengan udara didalam telinga tengah.tulang spon dan pneumatik. Diantara usia 2 dan 5 tahun pada saat terjad i pneumatisasi prosesus terdiri atas campuran tulang. Sellulae mastoideus seluruhnya berhubungan dengan kavum timpani. diomana tidak ditemui sel sel. Zygomatic 18 Small Group Discussion IV . struktur ini bisa berjarak 1 cm dari dinding antrum inferior. meskipun pada aerasi tulang mastoid yang jelek.tulang kompakta dikatakan sebagai pneumatisasi jelek dan sel. Prosesus Mastoideus Spongiosa. Menurut derajatnya. Dekat antrum sel. Luasnya pneumatisasi tergantung faktor herediter konstitusional dan faktor peradangan pada waktu umur muda. Prosesus Mastoideus dengan pneumatisasi yang luas.

terdiri dari cairan kental dan organ Corti.2. Sel rambut ini memprakarsai gelombang saraf yang menyampaikan pesan ke otak. ke arah mana kepala bergerak. Getaran suara yang dihantarkan dari tulang pendengaran di telinga tengah ke jendela oval di telinga dalam menyebabkan bergetarnya cairan dan sel rambut. Kanalis semisirkuler merupakan 3 saluran yang berisi cairan. Facial 3. Gelombang saraf ini lalu berjalan di sepanjang serat-serat saraf pendengaran yang akan membawanya ke otak. 19 Small Group Discussion IV . Walaupun ada perlindungan dari refleks akustik. Saluran ini juga mengandung sel rambut yang memberikan respon terhadap gerakan cairan. Jika terjadi infeksi pada kanalis semisirkuler. Jika sel rambut rusak. Sel rambut yang berbeda memberikan respon terhadap frekuensi suara yang berbeda dan merubahnya menjadi gelombang saraf. yang mengandung ribuan sel-sel kecil (sel rambut) yang memiliki rambut yang mengarah ke dalam cairan tersebut. yang terjdiri dari 2 bagian utama: Koklea (organ pendengaran) Kanalis semisirkuler (organ keseimbangan). Sub dural 8. Koklea merupakan saluran berrongga yang berbentuk seperti rumah siput. Periantral 4. tetapi suara yang gaduh bisa menyebabkan kerusakan pada sel rambut. Jika telinga terus menerus menerima suara keras maka bisa terjadi kerusakan sel rambut yang progresif dan berkurangnya pendengaran. dia tidak akan tumbuh kembali.Telinga Dalam Telinga dalam (labirin) adalah suatu struktur yang kompleks. (seperti yang terjadi pada infeksi telinga tengah atau flu) maka bisa timbul vertigo (perasaan berputar). Gerakan cairan di salah satu saluran bisa lebih besar dari gerakan cairan di saluran lainnya. hal ini tergantung kepada arah pergerakan kepala. yang berfungsi membantu menjaga keseimbangan. Perisinus 6. Perilabirinter 3. sehingga keseimbangan bisa dipertahankan. Setiap gerakan kepala menyebabkan ciaran di dalam saluran bergerak. Sudut petrosal 7.

tulang pendengaran yang berhubungan satu sama lain.3. perilimf dalam skala timpani akan bergerak sehingga tingkap (forame rotundum) terdorong ke arah luar.3 FISIOLOGI PENDENGARAN Getaran suara ditangkap oleh daun telinga yang dialirkan keliang telinga dan mengenai membran timpani. Hidung Luar 20 Small Group Discussion IV .cabang n. sehingga menjadi cembung kebawah dan menggerakkan perilimf pada skala timpani.Skala media yang menjadi cembung mendesak endolimf dan mendorong membran basal. yang kemudian meneruskan rangsangan itu ke pusat sensorik pendengaran diotak ( area 39. 3.40) melalui saraf pusat yang ada dilobus temporalis.4 HIDUNG 1. dan dengan berubahnya membran basal ujung sel rambut menjadi lurus. Pada waktu istirahat ujung sel rambut berkelok-kelok. sehingga membran timpani bergetar.VII. Getaran ini diteruskan ke tulang. Rangsangan fisik tadi diubah oleh adanya perbedaan ion Kalium dan ion Natrium menjadi aliran listrik yang diteruskan ke cabang. Selanjutnya stapes menggerakkan tingkap lonjong (foramen ovale) yang juga menggerakkan perilimf dalam skala vestibuli. Getaran diteruskan melalui membrane Reissener yang mendorong endolimf dan membran basal kearah bawah.

yang dibatasi oleh : .Superior : os frontal. Kerja otot – otot tersebut menyebabkan nares dapat melebar dan menyempit. Nasalis pars allaris. Lubang yang terdapat pada bagian inferior disebut nares. Lubang hidung (nares anterior) Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi kulit. Puncak hidung 4. Batas atas nasi eksternus melekat pada os frontal sebagai radiks (akar). Ala nasi 5. os nasal. Dorsum nasi 3.Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian – bagiannya dari atas ke bawah : 1. os maksila 21 Small Group Discussion IV . jaringan ikat dan beberapa otot kecil yaitu M. Pangkal hidung (bridge) 2. Kolumela 6. antara radiks sampai apeks (puncak) disebut dorsum nasi. Nasalis pars transversa dan M.

Karotis interna). Nasalis posterior (cabang A. sinus sfenoid. Angularis (cabang dari A. Kavum Nasi Dengan adanya septum nasi maka kavum nasi dibagi menjadi dua ruangan yang membentang dari nares sampai koana (apertura posterior). cabang dari a. cabang dari A. fossa kranial anterior dan fossa kranial media. A. Karotis interna) 3. korpus sfenoidale dan sebagian os vomer 22 Small Group Discussion IV . Infratroklearis) 2. Etmoidalis anterior) 2. kartilago alaris mayor dan kartilago alaris minor Dengan adanya kartilago tersebut maka nasi eksternus bagian inferior menjadi fleksibel. Supratroklearis.Sfenopalatinum. Oftalmika. cabang dari A. kartilago nasi lateralis. 2. N. Kavum nasi ini berhubungan dengan sinus frontal.. Perdarahan : 1. Nasalis anterior (cabang A. Maksilaris interna. os frontal.Inferior : kartilago septi nasi. A. Maksilaris (ramus eksternus N. Batas – batas kavum nasi : Posterior : berhubungan dengan nasofaring Atap : os nasal. Cabang dari N. Fasialis) Persarafan : 1. Etmoidalis yang merupakan cabang dari A. Oftalmikus (N. Cabang dari N. lamina kribriformis etmoidale. A.

Palatina mayor menjadi N. Konka nasalis suprema. konka nasalis inferior. Bagian dari septum yang terdiri dari kartilago ini disebut sebagai septum pars membranosa = kolumna = kolumela. os etmoid. Medial : septum nasi yang membagi kavum nasi menjadi dua ruangan (dekstra dan sinistra). Kadang – kadang konka nasalis suprema dan meatus nasi suprema terletak di bagian ini. Posterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari ganglion pterigopalatinum masuk melalui foramen sfenopalatina kemudian menjadi N. pada bagian bawah apeks nasi. Sfenopalatinus. os lakrima. jaringan subkutan dan kartilago alaris mayor. Sedangkan konka nasalis inferior merupakan tulang yang terpisah. septum nasi dilapisi oleh kulit. Oftalmika. Etmoidale anterior yang merupakan cabang dari A. Ruangan di atas dan belakang konka nasalis superior adalah resesus sfeno-etmoid yang berhubungan dengan sinis sfenoid.maksilaris dan A. Perdarahan : Arteri yang paling penting pada perdarahan kavum nasi adalah A. kedudukannya hampir horisontal. Etmoidalis anterior 2. os maksila. Persarafan : 1. Trigeminus yaitu N.Lantai : merupakan bagian yang lunak. Bagian ini dipisahnkan dengan kavum oris oleh palatum durum. Lateral : dibentuk oleh bagian dari os medial.sfenopalatina yang merupakan cabang dari A. 23 Small Group Discussion IV . Vena tampak sebagai pleksus yang terletak submukosa yang berjalan bersama – sama arteri. Anterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari N. bentuknya konkaf dan bagian dasar ini lebih lebar daripada bagian atap. palatum dan os sfenoid. superior dan media merupakan tonjolan dari tulang etmoid.

Mukosa pernafasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang mempunyai silia dan diantaranya terdapat sel – sel goblet. konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Dengan demikian mukosa mempunyai daya untuk membersihkan dirinya sendiri dan juga untuk mengeluarkan benda asing yang masuk ke dalam rongga hidung. Gangguan gerakan silia dapat disebabkan oleh pengeringan udara yang berlebihan.3. Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu dan tidak bersilia (pseudostratified columnar non ciliated epithelium). sel basal dan sel reseptor penghidu. Epitelnya dibentuk oleh tiga macam sel. yaitu sel penunjang. Palut lendir ini dihasilkan oleh kelenjar mukosa dan sel goblet. palut lendir di dalam kavum nasi akan didorong ke arah nasofaring. sekret kental dan obat – obatan. Silia yang terdapat pada permukaan epitel mempunyai fungsi yang penting. Dengan gerakan silia yang teratur. Pada bagian yang lebih terkena aliran udara mukosanya lebih tebal dan kadang – kadang terjadi metaplasia menjadi sel epital skuamosa. Gangguan pada fungsi silia akan menyebabkan banyak sekret terkumpul dan menimbulkan keluhan hidung tersumbat. Dalam keadaan normal mukosa berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous blanket) pada permukaannya. radang. Mukosa Hidung Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi atas mukosa pernafasan dan mukosa penghidu. 24 Small Group Discussion IV . Daerah mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan. Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung.

kekuatan dan bentuk tulang terpelihara .berat dari tulang wajah menjadi berkurang . Terdapat 4 kelompok sinus paranasalis: maksilaris etmoidalis frontalis sfenoidalis.resonansi suara bertambah. yang merupakan ruang berrongga dengan lubang yang mengarah ke rongga hidung. 25 Small Group Discussion IV .SINUS PARANASALIS Tulang di sekitar hidung terdiri dari sinus paranasalis. Dengan adanya sinus ini maka: .

Sebagai jalan nafas Pada inspirasi.5 Fisiologi hidung 1. udara masuk melalui nares anterior. Akan tetapi di bagian depan aliran udara memecah. sebagian lain kembali ke belakang membentuk pusaran dan bergabung dengan aliran dari nasofaring. 3. udara masuk melalui koana dan kemudian mengikuti jalan yang sama seperti udara inspirasi. Partikel kotoran yang masuk ditangkap oleh lendir lalu disapu oleh silia ke rongga hidung. 2. Pengatur kondisi udara (air conditioning) Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk mempersiapkan udara yang akan masuk ke dalam alveolus. Pengaliran dari sinus bisa tersumbat. Pada ekspirasi. sehingga sinus sangat peka terhadap ifneksi dan peradangan (sinusitis).Sinus dilapisi oleh selapus lendir yang terdiri dari sel-sel penghasil lendir dan silia. sehingga aliran udara ini berbentuk lengkungan atau arkus. Fungsi ini dilakukan dengan cara : 26 Small Group Discussion IV . lalu naik ke atas setinggi konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring.

4. sehingga radiasi dapat berlangsung secara optimal. Fungsi ini dimungkinkan karena banyaknya pembuluh darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas. Fungsi ini dilakukan oleh palut lendir. Mengatur kelembaban udara. 5. Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau bila menarik nafas dengan kuat. Palut lendir ini akan dialirkan ke nasofaring oleh gerakan silia. penguapan dari lapisan ini sedikit. d. Debu dan bakteri akan melekat pada palut lendir dan partikel – partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks bersin. konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Pada musim panas. Dengan demikian suhu udara setelah melalui hidung kurang lebih 37o C. disebut lysozime. b. Palut lendir (mucous blanket). 3. Indra penghirup Hidung juga bekerja sebagai indra penghirup dengan adanya mukosa olfaktorius pada atap rongga hidung. udara hampir jenuh oleh uap air. Mengatur suhu.a. Enzim yang dapat menghancurkan beberapa jenis bakteri. Sebagai penyaring dan pelindung Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan bakteri dan dilakukan oleh : a. Silia c. sedangkan pada musim dingin akan terjadi sebaliknya. Rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi b. Resonansi suara 27 Small Group Discussion IV .

28 Small Group Discussion IV . Tenggorokan merupakan saluran berotot tempat jalannya makanan ke kerongkongan dan tempat jalannya udara ke paru-paru. Tenggorokan terbagi lagi menjadi: .orofaring (bagian tengah) . Kotoran yang masuk ditangkap oleh lendir dan disapu oleh silia ke arah kerongkongan lalu ditelan. di bawah rongga hidung dan diatas kerongkongan dan tabung udara (trakea). 6.nasofaring (bagian atas) . Tenggorokan dilapisi oleh selaput lendir yang terdiri dari sel-sel penghasil lendir dan silia. sedangkan adenoid terletak di rongga hidung bagian belakang. Rangsang bau tertentu menyebabkan sekresi kelenjar liur. Sumbatan hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang.6 TENGGOROKAN Tenggorokan (faring) terletak di belakang mulut. Proses bicara Membantu proses pembentukan kata dengan konsonan nasal (m. 7.ng) dimana rongga mulut tertutup dan rongga hidung terbuka. 3. lambung dan pankreas. Tonsil (amandel) terletak di mulut bagian belakang.hipofaring (bagian bawah. Contoh : iritasi mukosa hidung menyebabkan refleks bersin dan nafas terhenti.n.Penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. kardiovaskuler dan pernafasan. sehingga terdengar suara sengau. Refleks nasal Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran cerna. palatum molle turun untuk aliran udara.

yang mengandung pita suara dan berfungsi menghasilkan suara. menghasilkan suara yang bisa dirubah oleh lidah. Pada puncak trakea terdapat kotak suara (laring).Tonsil dan adenoid terdiri dari jaringan getah bening dan membantu melawan infeksi. 29 Small Group Discussion IV . hidung dan mulut sehingga terjadilah percakapan. Jika mengendur. epiglotis menutup untuk mencegah masuknya makanan dan cairan ke dalam trakea. Selama menelan. Epiglotis merupakan suatu lembaran yang terutama terdiri dari kartilago dan terletak di atas serta di depan laring. maka pita suara membentuk lubang berbentuk huruf V sehingga udara bisa lewat dengan bebas. pita suara akan bergetar. Jika mengkerut. Ukuran terbesar ditemukan pada masa kanak-kanak dan secara perlahan akan menciut.

Potensial aksi yang terbentuk akan berjalan sepanjang nervus kranial VII (2/3 anterior lidah). yang akan melakukan transduksi untuk mengubahnya menjadi suatu potensial aksi. Potensial aksi ini akan berjalan sepanjang jaras sensorik menuju susunan saraf pusat. palatum. Antara sel reseptor pengecapan dengan sel-sel lain disampingnya terdapat tight junction. Setiap kuncup kecap diinervasi oleh sekitar 50 serat saraf dan setiap serat saraf aferen menerima input dari 5 kuncup kecap. Sensasi pengecapan merupakan salah satu contoh dari proses tersebut.3. Reseptor pengecapan merupakan suatu kemoreseptor. Ikatan tastant dengan reseptornya akan menyebabkan perubahan permeabilitas kanal ion sehingga terbentuk potensial reseptor. Stimulus ini akan diterima oleh reseptor. Sinaps kedua berada di nukleus ventral posteromedial talamus. IX (1/3 posterior lidah). Sel reseptor pengecapan merupakan suatu modifikasi sel epitel yang memiliki banyak mikrovili dengan reseptor spesifik pada permukaan apikalnya dan membentuk sinaps dengan saraf aferen. Sel reseptor ini akan berdegenerasi setelah 10 hari dan digantikan melalui diferensiasi sel penyokong di sekitarnya. Potensial reseptor ini selanjutnya akan menginisiasi terbentuknya potensial aksi pada ujung saraf aferen. stimulus akan diterjemahkan menjadi suatu persepsi. faring.7 Fisiologi Pengecapan Manusia selalu memperoleh stimulus dari lingkungan sekitarnya. Reseptor spesifik ini hanya akan berikatan dengan larutan kimia. Di sini. lalu ke korteks primer gustatorius di area insular dan opercular. dan epiglotis. Reseptor ini berada pada kuncup kecap di papil-papil permukaan lidah.Neuron dari korteks primer diproyeksikan ke korteks sekunder gustatorius di korteks 30 Small Group Discussion IV . Sinaps pertama akan terjadi di nukleus traktus solitarius pada medula oblongata. dan X.

kafein). Aktivasi reseptor ini menyebabkan penutupan kanal kation sehingga terjadi depolarisasii. dan basal forebrain untuk menambahkan dimensi afektif. gustducin. dimana H+ akan memblock kanal K+ sehingga terjadi depolarisasi. Manusia dapat membedakan ribuan sensasi pengecapan yang merupakan kombinasi dari lima primary taste. Beberapa penelitian terakhir menunjukkan bahwa terdapat kemungkinan memasukkan sensasi lemak ke dalam primary taste. Sensasi asin distimulasi oleh NaCl. Jaras gustatorius ini berjalan ipsilateral. Dari batang otak. Second-messenger ini akan menyebabkan tertutupnya kanal K+ di membran basolateral sehingga terjadi depolarisasi. Ikatan tastant ini dengan reseptor akan menyebabkan aktivasi protein G yang selanjutnya mengaktifkan cAMP. aspartam. sukralosa. Tastant ini berikatan dengan metabotropic glutamate receptor. terutama glutamat. amigdala. Persepsi pengecapan dipengaruhi 31 Small Group Discussion IV . informasi pengecapan ini juga dihantarkan ke hipotalamus.kaudolateral orbitofrontal. Setiap sel reseptor umumnya lebih responsif terhadap salah satu dari kelima primary taste. sakarin. mGluR4. Sensasi umami distimulasi oleh asam amino. maupun thaumatin. yang selanjutnya akan mengaktifkan fosfodiesterase sehingga terjadi penurunan cAMP intrasel. Sensasi asam distimulasi oleh ion H+. Ikatan tastant dengan reseptornya akan mengaktifkan protein G. dimana Na+ akan masuk melalui kanal Na+ sehingga terjadi depolarisasi. Sensasi pahit distimulasi oleh alkaloid (morfin. Sel reseptor sensasi pahit memiliki 50-100 reseptor yang berbeda. nikotin. Sensasi manis distimulasi oleh glukosa.

namun hingga saat ini belum dapat dijelaskan bagaimana korteks mengolah sensasi pengecapan menjadi suatu persepsi. dapat disimpulkan bahwa pembukaan dan penutupan rahang selama penguyahan yang secara relatif merupakan pergerakan sederhana dengan pengaturan pada limbik sebagai penggerak. Jadi. tapi terorganisir secara bilateral. mengunyah. Bagaimanapun. Pergerakan otot rahang.oleh beberapa faktor. dan tekstur makanan. faring. dan menelan makanan dan cairan. dan laring. suhu. FISIOLOGI PENGUNYAHAN PENELANAN Pengunyahan Pergerakan yang terkontrol dari mandibula dipergunakan dalam mengigit. Pengontrolan otot rahang bukan secara resiprokal seperti pergerakan limbik. pergerakan dalam mastikasi adalah suatu yang 32 Small Group Discussion IV . Pergerakan rahang adalah suatu pergerakan yang terintegrasi dari lidah dan otot lain yang mengontrol area perioral. seperti penghidu. terhubung pada midline. serta dalam berbicara. Aktivitas yang terintegrasi dari otot rahang dalam merespon aktivitas dari neuron eferen pada saraf motorik di pergerakan mandibular yang mengontrol hubungan antara gigi rahang atas dan bawah.

Hal ini berulang terus menerus. amyglada dan di korteks cerebral dekat dengan area dengan area sensori untukpengecapan dan penciuman dapat menyebabkan pengunyahan. terutama dalam bidang orthodonti dan prostodonti. tetapi juga menekan bolus lagi. Oleh karena itu. 2. Selama mastikasi. beberapa penelitian dimaksudkan untuk menjelaskan bagian mandibula selama pengunyahan dan untuk mengidentifikasikan posisi mandibula setelahnya. gigi anterior (incisors) berperan untuk memotong dan gigi posterior ( molar ) berperan untuk menggiling makanan. Salah satu tujuan memperbaiki bentuk oklusal adalah untuk memastikan kontak gigi terintegrasi dengan pola pergerakan rahang. Dokter gigi mencari posisi stabil mandibula untuk menfasilitasi penelitian tentang rahang pada alat yang bernama simulator atau artikulator. Sebagian besar otot mastikasi diinervasi oleh cabang nerevus cranial ke lima dan proses pengunyahan dikontrol saraf di batang otak.kompleks dan tidak hanya berupa mekanisme pergerakan menggerinda simple yang mana merupakan pengurangan ukuran makanan. 1. Kehadiran bolus dari makanan di mulut pertama kali menginsiasi refleks penghambat dari otot mastikasi yang membuat rahang bawah turun. yang menghambat otot rahang sekali lagi. Gigi dirancang untuk mengunyah.yang dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Secara otomatis mengangkat rahang untuk menutup gigi. 3. Stimulasi dari area spesifik retikular di batang otak pusat rasa akan menyebabkan pergerakan pengunyahan secara ritmik. juga stimulasi area di hipotalamus. Pergerakan Pengunyahan Pemahaman mengenai pola pergerakan rahang telah menjadi topik yang menarik dalam hal klinis di kedokteran gigi. melawan lining mulut. makanan dikurangi ukurannya dan dicampur dengan saliva sebagai tahap awal dari proses digesti. membuat rahang turun dan mengganjal (rebound) di lain waktu. 33 Small Group Discussion IV .Seluruh otot rahang bekerja bersamaan menutup mulut dengan kekuatan di gigi incidor sebesar 55 pounds dan gigi molar sebesar 200 pounds. Kebanyakan proses mengunyah dikarenakan oleh refleks mengunyah. Penurunan rahang ini selanjutnya menginisiasi reflaks melonggarkan otot rahang memimpin untuk mengembalikan kontraksi.

Makanan yang padat dan cair ditransportasikan di dalam rongga mulut oleh lidah. Pola pergerakan rahang pada beberapa hewan berbeda tergantung jenisnya. Selama penelanan lidah memainkan peran yang penting di dalam mengontrol pergerakan makanan dan pembentukan menjadi bolus. khususnya untuk kebanyakan buah dan sayuran berserat karena mereka memiliki membrane selulosa yang tidak tercerna di sekeliling porsi nutrisi mereka yang harus dihancurkan sebelum makanan dapat dicerna. Penghalusan makanan dalam konsistensi yang baik mencegah penolakan dari gastrointestinal tract dan meningkatkan kemudahan untuk mengosongkan makanan dari lambung ke usus kecil. Pengunyahan merupakan hal yang penting untuk mencerna semua makanan. sehingga tingkat pencernaan bergantung pada area permukaan keseluruhan yang dibongkar oleh sekresi pencernaan. 2. Selanjutnya bolus akan dibentuk selama final periode yaitu sebelum penelanan. Pada periode sebelum penelanan terdapat tiga fase selama rahang membuka dan dua fase selama rahang menutup. Tingkat dan pola pergerakan rahang dan aktivitas otot rahang telah diteliti pada hewan dan juga manusia.4. kemudian berturut-turut ke dalam semua segmen usus. diposisikan oleh lidah pada konjugasi dengan otot buccinators pada pipi diantara oklusal permukaan gigi. Pengunyahan juga membantu proses pencernaan makanan dengan alasan sebagai berikut: a. Pada tahap awal. makanan ditransportasikan ke bagian posterior gigi dimana ini merupakan penghancuran dalam periode reduksi. Selama mastikasi karakteristik pengunyahan seseorang sangat bergantung pada tingkatan penghancuran makanan. Untuk makanan yang dihancurkan. Pengulangan pergerakan pengunyahan berisikan jumlah kunyahan dan penelanan. Urutan kunyah dapat dibagi menjadi tiga periode. fast-opening dan slowopening. Pergerakan Selama pengunyahan rahang akan bergerak berirama. Pergerakan rahang pada ketiga periode ini dapat berbeda tergantung pada bentuk makanan dan spesiesnya. Selama fase slow-opening pada 34 Small Group Discussion IV . Enzim pencernaan bekerja hanya di permukaan partikel makanan. membuka dan menutup. b. Selama periode reduksi terdapat fase opening.

lidah bergerak ke depan dan memperluas permukaan makanan. Tulang hyoid dan badan lidah kembali tertarik selama fase fast. waktu puncak. Aktivitas dari otot penutup rahang meningkat secara lambat seiring dengan bertemunya makanan di antara gigi. I. akan berpindah ke belakang di bawah soft palate oleh aksi menekan dari lidah. I.1. Struktur batang otak lain seperti formasi reticular juga terlibat. lebih aktif daripada otot penutupan rahang kontralateral. Porsi rostral paling banyak dari nucleus ini disebut nucleus sensorik principal (kadang lebih sering sering disebut nucleus sensorik utama) dan sisanya adalah 35 Small Group Discussion IV . Otot penutupan biasanya tidak aktif selama rahang terbuka. Ketika makanan sudah mencapai bagian posterior rongga mulut.1 Nukleus Trigeminal Sensorik Nukleus trigeminal sensorik merupakan kolom neuron yang berada di sepanjang batas lateral batang otak. tipe makanan. dan faktor individu. Aktivitas pada penutupan rahang dimulai pada awal rahang menutup. tingkat penghancuran makanan. Otot penutupan pada sebelah sisi dimana makanan akan dihancurkan. membuat gelombang yang dapat memindahkan makanan ke bagian posterior pada rongga mulut. yaitu trigeminal. tingkat dimana mencapai puncak.opening dan fase-closing.pengunyahan. I. Lidah amat penting dalam pengumpulan dan penyortiran makanan yang bias ditelan. Sedikit yang mengetahui mengenai mekanisme mendasar mengenai pengontrolan lidah selama terjadinya aktivitas ini. ketika otot pembuka rahang sangat aktif. hypoglossal. Pola aktivitas ditentukan oleh factor-faktor seperti spesies. dari pons sampai spinal cord. dan tingkat penurunan aktivitas.2 Struktur batang otak dalam kontrol mastikasi Pergerakan-pergerakan yang terlibat dalam mastikasi membutuhkan gabungan aktivitas beberapa otot.2. fasial.2 Aktivitas Otot Kontraksi otot yang mengontrol rahang selama proses mastikasi terdiri dari aktivitas polaasynchronous dengan variabilitas yang luas pada waktu permulaan. dan nuclei motorik lain yang memungkinkan dari batang otak. sementara mengembalikan lagi makanan yang masih dalam potongan besar ke bagian oklusal untuk pereduksian lebih lanjut.

Divisi ventrolateral terdiri dari interneuron dan 2 populasi neuron proyeksi (satu yang memproyeksi spinal cord. Nukleus sensori utama dapat dibedakan dengan nukleus spinal dari kepadatan neuronnya yang lebih rendah. dan rendahnya populasi neuron besar dengan dendrit primer yang tebal. Cabang utama akan bercabang menjadi limb ascending dan descending. Inervasi perifer dari kolom sel ini muncul dari nervus trigeminus. serta oleh akar trigeminal sensorik di lateral. dan interneuron termasuk ke interkoneksi dalam nucleus sensorik. Sirkuit neuron local mempunyai akson yang dibatasi area batang otak. Pada cabang dendritnya pun relative sederhana. triangular. dan kaudalis. tapi terlihat tidak melebihi batas nucleus. panjang. Nukleus spinal dibagi lagi dari rostral ke kaudal menjadi subnukleus oralis. Dendrit sekunder lebih panjang. dan dikelilingi oleh akar trigeminal motorik di medial. Cabang akson kolateral meninggalkan traktus trigeminal dan memasuki nucleus sensori untuk membentuk sumbu terminal pada beberapa nucleus dengan tingkat yang berbeda. Berdasarkan pada perbedaan morfologi neuron dan pola proyeksi. terdapat seri neuron proyeksi korteks cerebral. dan multipolar pada nucleus sensori utama. 36 Small Group Discussion IV . Dendrit primer berasal dari sedikit perpanjangan badan sel atau secara langsung dari badan sel. interpolaris. subnukleus oralis terdiri dari 3 subdivisi utama: ventrolateral. proyeksi neuron akan mengirimkan akson ke rostral nuclei batang otak yang lain. Di dalam subdivisi dorsomedial. dan lurus. Nukleus sensori utama berada pada tingkat nucleus trigeminal motorik. sementara secara kaudal limb descending membentuk traktus spinal trigeminal di sepanjang aspek lateral nucleus spinal. dorsomedial. dan satu lagi yang mengirimkan akson ke tanduk dorsal medular). Perbedaan lain antara nucleus spinal dan nucleus utama adalah adanya sejumlah gelondong akson bermyelin pada nucleus spinal. dan garis batas. atau secara sederhana turun memasuki batang otak untuk membentuk traktus trigeminal menutupi sekeliling aspek lateral dari nucleus sensori utama. Nukleus terdiri dari kelas-kelas neuron yang berbeda.nucleus spinal trigeminal. Akson yang menginervasi rostral mulut dan wajah berakhir di medial dan akson yang menyuplai wajah kaudal berakhir lebih lateral. Sedangkan grup neuron pada garis batas memproyeksi cerebellum dan tanduk dorsal medullar. Pemeriksaan dengan mikroskop cahaya dan electron menunjukkan adanya neuron berbentuk fusiform.

37 Small Group Discussion IV . Contohnya adalah aktivitas yang memulai gelondong otot untuk menutup rahang tidak mempengaruhi motoneuron pembuka rahang. ditemukan di sepanjang nucleus. tapi di sini terdapat sedikit tumpang tindih antara dendrite motoneuron di region dorsolateral dan ventromedial nucleus motorik. tapi aktivitas neural yang memulai mekanoreseptor pada regio oral dan fasial akan menghambat otot penutup rahang dan meningkatkan aktivitas otot pembuka rahang. Dendrit dari semua grup motoneuron yang berbeda. Sejumlah studi pembuktian neural mendemostrasikan bahwa motoneuron gamma yang menginervasi otot-otot mastikasi dipisahkan secara anatomi di dalam nucleus. Cabang sentral mengeluarkan sejumlah cabang kolateral yang berakhir di nucleus motorik. dan badan sel yang berasal dari reseptor ligament periodontal dibatasi setengah kaudalnya. dan mekanoreseptor palatal berlokasi di dalam nucleus mesencefalic. Penyusunannya unik di dalam sistem saraf pusat. sedangkan motoneuron pembuka rahang berlokasi di divisi ventromedial nucleus. Nukleus Tigeminal Motorik Motoneuron yang mengatur otot-otot mastikasi terdapat pada nucleus trigeminal motorik. gingival. Analisis distribusi ukuran soma motoneuron menandakan bahwa nucleus trigeminal motorik terdiri dari motoneuron gamma dan alfa. dan area lain dari batang otak. Badan sel neuron yang menginervasi gelondong otot.Nukleus Trigeminal Mesencefalic Badan sel dari serabut aferen yang menginervasi gelondong otot penutup rahang dan badan sel dari ligament periodontal. akson tunggal yang bercabang 2 menjadi cabang perifer dan sentral. memperpanjang di luar batas nucleus motorik. Motoneuron penutup rahang berlokasi di dorsolateral. spinal cord. Pengamatan intraselular dan ekstraselular terhadap motoneuron mastikasi menunjukkan bahwa input sinaps untuk motoneuron pembuka dan penutup rahang berbeda. Nukleus neuron mesencefalic berupa unipolar. Dendrit dari motoneuron trigeminal ekstensif dan kompleks.

dan penting untuk memahami mekanisme reflek mastikasi. Otot yang mengontrol bibir atas dan nares mempunyai motoneuron sendiri pada bagian ventral dan dorsal kolom sel lateral. Dendrit pada motoneuron fasial secara luas berada di subdivisi yang sama yang mengandung soma. Dan faktor yang berpengaruh 38 Small Group Discussion IV . Studi pembuktan neural menunjukkan bahwa otot fasial direpresentasikan secara topografi di dalam nucleus. Ia terbentuk dari motoneuron yang besar dan multipolar dan sebuah populasi dari interneuroninterneuron kecil. Interneuron-interneuron kecil memiliki hanya satu atau dua dendrite yang terdiri oleh nucleus secara total. tapi terkadang meluas di luar batas nucleus fasial motorik. Otot bibir bawah disuplai oleh motoneuron pada kolom sel intermediet. Nukleus Fasial Motorik Nukleus fasial motorik terdiri atas tiga kolom longitudinal motoneuron.Teknik ini menghasilkan gambaran yang lebih rinci dari struktur mikro nucleus trigeminal motorik. Input sensori afferent yang terjadi pada nuclei ini juga merupakan faktor yang tak kalah pentingnya dalam pembentukan proses mastikasi. Dendrit-dendrit motoneuron besar melintasi garis tengah ke nucleus hipoglosal kontralateral atau berseberangan dalam formasi reticular. Terdapat perbedaan utama pada pola dendrit antara motoneuron di 3 kolom sel. Nukleus Hipoglosal Motorik Nukleus hipoglosal motorik yang mengatur otot lidah lebih homogen daripada nucleus trigeminal motorik. Kontrol Mastikasi Nuclei sensori dan motorik yang terdapat pada brain stem memiliki peranan yang yang sangat penting dalam proses pengontrolan mastikasi. Pola dasaroscillatory pergerakan mastikasi berawal dari generator neural yang terdapat di brain stem. Otot. Kolom-kolom medial dan lateral yang lebih besar terpisah oleh kolom intermediet yang lebih kecil.otot yang berhubungan dengan telinga dikontrol oleh motoneuron pada kolom sel medial.

brain stem juga bertanggung jawab dalam proses respiratori dan proses penelanan. Neural oscillator ini disebut sebagai generator pola mastikasi atau pusat mastikasi. Input refleksjaw. Dalam gerak refleks orofacial ini terdapat sekurang-kurangnya satu motor nucleus dan beberapa sinaps. Hal ini dibuktikan dengan 39 Small Group Discussion IV . Karena waktu terjadinya yang sangat singkat.closing dan refleksjaw-jerk. Gerak refleks orofacial yang paling sering diteliti adalah gerak refleks padajaw. yang dapat terjadi dengan mengetuk ujung dagu. gerak refleks ini sama dengan gerak knee-jerk refleks dimana hanya satu sinaps yang bekerja (refleks monosynaptic). Hasil percobaan juga membuktikan bahwa faktor-faktor pemicu gerakan mastikasi adalah adanya hubungan dari sirkuit neural yang membentuk jaringan neural oscillatory yang mampu merangsang terjadinya pola gerakan mastikasi. tiga hal inilah yang merupakan faktor utama yang berpengaruh besar terhadap pengontrolan proses mastikasi. dll dapat menimbulkan refleksjaw-closing dalam waktu singkat. muscle spindle pada otot-ototjaw. dan prosesnya termasuk sederhana bila dibandingkan dengan refleks-refleks lain yang lebih kompleks (sebagai contohnya proses penelanan). Aktivitas brain stem selama mastikasi Gerakan dasar mastikasi dapat terjadi tanpa adanya input sensori dalam kavitas oral. TMJ. Setelah waktu yang singkat (sekitar 6 detik) electromyography (EMG) menunjukkan adanya aktivitas yang terjadi pada otot masseter dan temporalis. termasuk juga gerak lidah.besar lagi adalah pusat otak akan mempengaruhi system koordinasi brain stem mastikatori. Selain mastikasi. Gerak refleks yang timbul dari area orofacial bermacam-macam. fakta menunjukkan bahwa gerakan mandibula ke atas dan bawah berasal dari dalam brain stem. Selain adanya neural generator.mastikasi juga terjadi karena aktivitas gerak reflex otot yang diinisiasi oleh stimulasi dari strukur orofacial. facial. dan berbagai gerak rahang.closing tertarik dan menhasilkan input sensori yang akan menginisiasi gerak refleks. Saat mengetuk ujung dagu ini.closing selain muscle spindle adalah stimulasi ligament periodontal. Setelah sekian banyak penelitian dilakukan. EMG juga menunjukkan output berupa gerak motorik pada otot yang akan menutup rahang.

Proses jaw-opening diinisiasi oleh stimuli mekanik dari ligament periodontal dan mekanoreseptor pada mukosa. Stimuli ini menghasilkan eksitasi ototjaw. Proses mastikasi diinisiasi oleh stimuli elektrik dari cortex yang menyokong otot jaw-closing dan jaw-opening. Dalam proses menelany ini diperlukan kerjasama yang baik dari 6 syaraf cranial. yang memerlukan setiap organ yang berperan harus bekerja secara terintegrasi dan berkesinambungan. Proses ini tidak termasuk refleks monosynaptic dan sekurang-kurangnya satu interneuron bekerja. 4 syaraf servikal dan lebih dari 30 pasang otot menelan. Neurofisiologi menelan 40 Small Group Discussion IV . Secara klinis terjadinya gangguan pada deglutasi disebut disfagia yaitu terjadi kegagalan memindahkan bolus makanan dari rongga mulut sampai ke lambung. Proses menelan merupakan suatu proses yang kompleks. Motoneuron masseter depolarisasi saat faseclosing dan hiperpolarisasi (inhibisi) saat faseopening. Pada proses menelan terjadi pemindahan bolus makanan dari rongga mulut ke dalam lambung. akan tetapi tidak hiperpolarisasi saatclosin g. Aktivitas motoneuron trigeminal saat proses pengunyahan diteliti menggunakan aktivitas itrasel dari motoneuron α yang mengontrol otot masseter (jaw-closing) dan digastrics (jaw-opening). Motoneuron digastrics depolarisasi saatopening.opening dan inhibisi pada otot jaw-closing. pada intinya ritme mastikasi dihasilkan dari generator pada brain stem yang diaktivasi oleh pusat dibantu dengan input peripheral yang pada akhirnya menghasilkan output ritmikal dengan frekuensi yang sesuai dengan input yang terjadi.percobaan anestesi yang diaplikasikan pada gigi dan rahang bawah menurunkan input tapi tidak menghentikan refleks. Penelanan Menurut kamus deglutasi atau deglutition diterjemahkan sebagai proses memasukkan makanan kedalam tubuh melalui mulut “the process of taking food into the body through the mouth”. Begitu kompleks proses terjadinya gerak mastikasi.

kemudian uvula tertarik keatas dan ke posterior sehingga menutup daerah nasofaring. m. Tensor veli palatini (n. palato faringeus (n.nX) m. m.IX. setelah otot-otot bibir dan pipi berkontraksi meletekkan bolus diatas lidah.XI) berkontraksi menyebabkan palatum mole terangkat.Proses menelan dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu fase oral. Bagian anterior lidah menekan palatum durum sehingga bolus terdorong ke faring. Proses ini berlangsung secara disadari. Levator veli palatini (n.XII.krikoaritenoid lateralis (n. 41 Small Group Discussion IV . Fase oral Pada fase oral ini akan terjadi proses pembentukan bolus makanan yang dilaksanakan oleh gigi geligi.VII).5 detik Pada fase oral ini perpindahan bolus dari rongga mulut ke faring segera terjadi.XII) Fase Faringeal Fase ini dimulai ketika bolus makanan menyentuh arkus faring anterior (arkus palatoglosus) dan refleks menelan segera timbul. 3.n.X dan n.tirohioid (n. m. Bolus menyentuh bagian arkus faring anterior. 2. palatum mole. fase faringeal dan fase esophageal. Proses ini bertahan kira-kira 0. otot-otot pipi dan saliva untuk menggiling dan membentuk bolus dengan konsistensi dan ukuran yang siap untuk ditelan. lidah. n. m. Laring dan tulang hioid terangkat keatas ke arah dasar lidah karena kontraksi m. Otot intrinsik lidah berkontraksi menyebabkan lidah terangkat mulai dari bagian anterior ke posterior.V) dan m. Pada fase faringeal ini terjadi : 1. servikal 1).X dan n.servikal I).IX. (n.X) berkontraksi menyebabkan aduksi pita suara sehingga laring tertutup. Geniohioid.XII dan n. uvula dan dinding posterior faring sehingga menimbulkan refleks faring.genioglosus (n. Arkus faring terangkat ke atas akibat kontraksi m. n. m ariepiglotika (n. IX.IX.stilohioid.

meningkatkan waktu gelombang peristaltik dan memperpanjang waktu pembukaan sfingter esofagus bagian atas. n. Pergerakan laring ke atas dan ke depan.2.konstriktor faring superior (n.V.XI) dan m. Proses ini hanya berlangsung sekitar satu detik untuk menelan cairan dan lebih lama bila menelan makanan padat. Hypopharyngeal suction pomp (HSP) adalah merupakan tekanan negatif akibat terangkatnya laring ke atas menjauhi dinding posterior faring.V. n.X.IX.konstriktor faring.VII.X) 5. n. pergerakan palatum mole dan pergerakan laring serta pembukaan sfingter esofagus bagian atas.IX. Kriko faring (n. sehingga bolus terisap ke arah sfingter esofagus bagian atas. Kontraksi m. Bolus dengan viskositas yang tinggi akan memperlambat fase faringeal.krikofaring dan serabut otot longitudinal esofagus bagian superior. n.XI). n. Peranan saraf kranial pada fase faringeal Pada fase faringeal ini saraf yang bekerja saraf karanial n.3 dan n.XI dan n.V.4. n.X.XII sebagai serabut efferen.IX. m. Bertambahnya volume bolus menyebabkan lebih cepatnya waktu pergerakan pangkal lidah. m. Sfingter esofagus bagian atas dibentuk oleh m.XI) menyebabkan faring tertekan kebawah yang diikuti oleh relaksasi m. n.konstriktor faring inferior (n.X sebagai serabut afferen dan n.Connel dalam penelitiannya melihat adanya 2 sistem pompa yang bekerja yaitu : 1. n.X. Kecepatan gelombang peristaltik faring rata-rata 12 cm/detik. Waktu Pharyngeal transit juga bertambah sesuai dengan umur. Mc. 42 Small Group Discussion IV . Konstriktor faring inermedius (n. relaksasi dari introitus esofagus dan dorongan otot-otot faring ke inferior menyebabkan bolus makanan turun ke bawah dan masuk ke dalam servikal esofagus. 2. n. Oropharyngeal propulsion pomp (OOP) adalah tekanan yang ditimbulkan tenaga lidah 2/3 depan yang mendorong bolus ke orofaring yang disertai tenaga kontraksi dari m. n.konstriktor faring inferior.X.

Fase ini terdiri dari beberapa tahapan : 1. Gelombang peristaltik primer terjadi akibat kontraksi otot longitudinal dan otot sirkuler dinding esofagus bagian proksimal. Dorsal (berfungsi utuk mengatur fungsi motorik proses menelan) dan nukleus ambigius yg berfungsi mengatur distribusi impuls motorik ke motor neuron otot yg berhubungan dgn proses menelan. Dimulai dengan terjadinya relaksasi m. Cairan biasanya turun akibat gaya berat dan makanan padat turun karena gerak peristaltik dan berlangsung selama 8-20 detik. Bolus makanan turun lebih lambat dari fase faringeal yaitu 3-4 cm/ detik. Gelombang peristaltik pertama ini akan diikuti oleh gelombang peristaltik kedua yang merupakan respons akibat regangan dinding esofagus.otot rongga mulut untuk merangsang gelombang peristaltik primer. Gerakan peristaltik tengah esofagus dipengaruhi oleh serabut saraf pleksus mienterikus yang terletak diantara otot longitudinal dan otot sirkuler dinding esofagus dan gelombang ini bergerak seterusnya secara teratur menuju ke distal esofagus. Perintah diterima oleh pusat penelanan di Medula oblongata/batang otak (kedua sisi) pada trunkus solitarius di bag. Tahap afferen/sensoris dimana begitu ada makanan masuk ke dalam orofaring langsung akan berespons dan menyampaikan perintah. 3. 2.1.2 Gangguan deglutasi/ menelan 43 Small Group Discussion IV . 2.3. II.kriko faring. Tahap efferen/motorik yang menjalankan perintah II.4 Peranan sistem saraf dalam proses menelan Proses menelan diatur oleh sistem saraf yang dibagi dalam 3 tahap : 1.Esophagal transit time bertambah pada lansia akibat dari berkurangnya tonus otot. Fase Esofageal Pada fase esofageal proses menelan berlangsung tanpa disadari.

Secara medis gangguan pada peristiwa deglutasi disebut disfagia atau sulit menelan. atau kelainannya hanya dilihat dari gangguan di esofagusnya. Disfagia merupakan gejala kegagalan memindahkan bolus makanan dari rongga mulut sampai ke lambung. Menurut catatan rata-rata manusia dalam sehari menelan sebanyak kurang lebih 2000 kali. Scott Brown dan Boeis) disfagia dibagi berdasarkan letak kelainannya yaitu di rongga mulut. yang merupakan masalah yang sering dikeluhkan baik oleh pasien dewasa. 44 Small Group Discussion IV . Disfagia dapat disertai dengan rasa nyeri yang disebut odinofagia. memang dapat menelan atau tidak dapat menelan sama sekali. Kegagalan dapat terjadi pada kelainan neuromuskular. lansia ataupun anak-anak. sumbatan mekanik sepanjang saluran mulai dari rongga mulut sampai lambung serta gangguan emosi. atau baru dapat menelan jika minum segelas air. orofaring. esofagus atau berdasarkan mekanismenya yaitu dapat menelan tetapi enggan. Berdasarkan difinisi menurut para pakar (Mettew. sehingga masalah disfagia merupakan masalah yang sangat menggangu kualitas hidup seseorang.

45 Small Group Discussion IV .

Beberapa poin diatas merupakan saran yang kami berikan apabila ada pihak-pihak yang ingin melanjutkan penelitian terhadap makalah ini. Pembahasan yang lebih mendalam mengenai metode penelitian .1 Saran Dalam penyelesaian makalah ini kami juga memberikan saran bagi para pembaca dan mahasiswa yang akan melakukan pembuatan makalah berikutnya : 1. 46 Small Group Discussion IV .BAB IV (PENUTUP) 4. dan demikian makalah ini disusun serta besar harapan nantinya makalah ini dapat berguna bagi pembaca khususunya mahasiswa Fakultas Kedokteran UISU semester V / 2011 dalam penambahan wawasan dan ilmu pengetahuan. Kombinasikan metode pembuatan makalah berikutnya. 2.

EGC. 2001. Fisiologi manusia dari sel ke system.dr. Sherwood Lauralee. 3. II. Nursiah Siti. THT-pdf (usu respiratory) Fisiologi pengunyahan-pdf (scribd) 47 Small Group Discussion IV . Jakarta.Daftar Pustaka 1. 2.

D : Bobby Raemy Delima Herawati Friska yurika Hendra Sitepu Indah Putri rangkuti Julianto Silaen Marissa Afrilia ulfa Melda Susanti Muhammadi Nanda Fadhila Siti Hajar Suhaili Amri Widya Syahrani 48 Small Group Discussion IV .Nama Penyusun Ketua Sekretaris Anggota : Ilham Fajar : Ella Yunita.

49 Small Group Discussion IV .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful