You are on page 1of 50

PEDOMAN DIAGNOSIS DAN TERAPI THT

1. OTITIS EKSTERNA Sri Rukmini, Soepriyadi, Sri Harmadji BATASAN: Otitis eksterna adalah infeksi pada kulit Meatus Akustikus Eksternus (MAE). Kuman penyebab paling sering adalah S. aureus. Penyebab lain adalah P.aeruginosa, jamur golongan Aspergilus atau Kandida. PATOFISIOLOGI A. Sebagai faktor predisposisi: a. Faktor endogen : Keadaan umum yang buruk akibat anemia, hipovitaminosis, diabetes melitus, atau dermatitis seboroik b. Faktor eksogen : Terlalu sering membersihkan telinga, mengakibatkan serumen yang berfungsi sebagai pertahanan kulit MAE hilang. Trauma karena tindakan mengorek telinga, kuman masuk lewat lesi yang ada. Suasana yang lembab, panas, atau alkalis di dalam MAE menyebabkan meningkatnya pertumbuhan kuman dan jamur. Kelembaban kulit terjadi akibat MAE kemasukan air waktu setelah berenang, mandi atau udara yang terlalu panas / berkeringat. Bentuk MAE yang tidak lurus menyulitkan penguapan dan mengakibatkan kulit MAE lebih sering dalam keadaan lembab. Keadaan tersebut menimbulkan udem di kulit MAE yang dirasa gatal sehingga mendorong penderita mengorek telinga, trauma yang timbul akan memperberat infeksi. Korek-korek telinga juga dapat menyebabkan hilangnya protective lipid layer dan acid mantle. Hal ini menyebabka meningkatnya kelembaban dan suhu di MAE. MAE yang lembab, hangat dan kotor merupakan media pertumbuhan kuman yang baik. Penetrasi kuman lebih mudah terjadi. Pada awalnya terjadi penyumbatan pada apopilosebaseus unit yang dilanjutkan dengan terjadinya radang akut yang disebut furunkel. B. Eczomatoid otitis eksterna: Terjadi akibat reaksi hhipersensitifitas, misalkan karena obat tetes telinga yang mengandung antibiotik, pemakaian bahan kimia / logam misalkan hairspray, anting-anting (kontak dematitis), reaksi atopik, atau akibat rangsangan sekret dari otitis media. Termasuk golongan ini adalah Psoriasis dan neudermatitis. C. Otitis eksterna seboroik: Merupakan bagian dari dermatitis seboroik. Penyebabnya tidak diketahui, penyakit ini bersifat heriditer. Kelainan berupa sisik-sisik atau lapisan tebal berminyak terutama terdapat pada kulit kepala. Di telinga kelainan dapat ditemukan di MAE, konka atau di retro aurikuler.

DIAGNOSIS Anamnesis: - Rasa gatal sampai rasa nyeri di dalam telinga. Rasa gatal dapat dirasakan sampai tenggorok. Kadang-kadang disertai sedikit rasa nyeri. Awalnya sekret encer, bening, tetapi dapaat berubah menjadi sekret kental purulen. Pada bentuk kronik sekret tidak ada atau hanya sedikit atau berupa gumpalan, berbau akibat adanya bakteri saprofit ataupun jamur. - Pendengaran normal atau sedikit berkurang. - Pada furunkel MAE gejala yang paling dominan adalah nyeri telinga (otalgi). Nyeri akan bertambah saat gerakan mengunyah atau bila telinga disentuh. Pemeriksaan: - MAE terisi sekret serus (alergi), purulen (infeksi kuman), keabu-abuan atau kehitam-hitaman (jamur). - Kulit MAE udim, hiperemi merata sampai ke membrana timpani. - Pembesaran kelenjar regional: daerah servikal antero superior, parotis atau retro aurikuler. P - ada furunkel didapatkan udim, hiperemi pada pars katrilagenus MAE, nyeri tarik aurikulum dan nyeri tekan tragus. Bila udim hebat membran timpani dapat tidak tampak DIAGNOSIS BANDING: - Otitis media akut - Otits eksterna bulosa PENYULIT: - Perikondritis - Dermatitis aurikularis - Erisipelas PENATALAKSANAAN: - MAE dibersihkan dengan menggunakan kapas lidi. Pemasangan tampon pita ½ cm x 5 cm yang telah dibasahi dengan larutan Burowi filtrata (3%) pada MAE. Tampon secukupnya, tidak boleh diletakkan terlalu ke dalam (nyeri/bahaya melukai membran timpani, sulit mengeluarkan). Tampon setiap 2-3 jam sekali ditetsi dengan larutan Burowi agar tetap basah. Tampon diganti setiap 2 hari sekali. Obat tetes diberikan sampai 2-3 hari setelah gejala nyeri/gatal hilang. Larutan Burowi dapat diganti dengan tetes telinga yang mengandung steroid dan antibiotik. Apabila diduga infeksi kuman Pseudomonas berikan tetes neomisin hidrokortison. Pada infeksi jamur digunakan tetes telinga asam sailisilat 2-5% dalam alkohol 20 %.

Pada otitis eksterna kronik difus dapat diberikan triamsinolon 0.25% krim/salep atau deksametason 0,1% . Antibiotika oral tidak perlu diberikan. DAFTAR PUSTAKA: 1. Linstrom JL, Lucente FE. Infections of the external ear. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. Eds. Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. II Philadelphia: JB Lippincott Company. 1993:1542-56. 2. Meyerhoff WL, Caruso VG. Trauma and infections of the external ear. In: Paparella NN, Shumrick DD, Stuckman JL, Meyerhoff WL, eds. Otolaryngology 3rd ed. Vol. II. Otology and Neuro-otology. Philadelphia, London, Toronto: WB Saunders, Co, 1991:1227-36. 3. Austin DF. Diseases of the external ear. In: Ballenger JJ. Ed. Diseases of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck. 14th ed. Philadelphia, London: Lea & Febiger, 1991:1069-80. 2. PERIKONDRITIS AURIKULA Sri Rukmini, Soepriyadi, Sri Harmadji

BATASAN Perikondritis adalah suatu keradangan supuratif pada perikondrium tulang rawan aurikula. ETIOLOGI Kuman penyebab: - Pseudomonas aeroginosa - Stafilococcus aureus PATOFISIOLOGI Merupakan komplikasi dari: - Trauma - Operasi telinga - OMK, Furunkel MAE, Otitis eksterna. Mula-mula terjadi infiltrat pada perikondrium, kemudian terjadi supurasi, dan selanjutnya dapat terjadi nekrosis tulang rawan yang mengakibatkan terjadinya deformitas daun telinga.

DIAGNOSIS 1. Amnesis : - aurikula terasa bengkak, nyeri, dan merah. - kadang-kadang disertai demam

2. Pemeriksaan: - udim luas pada aurikula dapat meluas keluar aurikula. - Nyeri dan hiperemia - Terdapat fluktuasi bila terjadi supurasi - Terdapat deformitas bila sudah terjadi nekrosis - Pembesaran kelenjar getah bening regional - Suhu tubuh naik, leksoit naik. TERAPI 1. Antibiotik : Untuk yang ringan, diberikan kloksasilin 3 X 500 mg oral/hari.Untuk yang berat diberikan gentamisin intra vena 2 X 80 mg/ hari atau aminoglikosida lainnya. 2. Anti inflamasi/analgesik : asam mefenamat, piroksikam atau diklofenak 3. Insisi bila sudah terjadi supurasi, dilanjutkan dengan eksisi bila sudah terjadi nekrosis tulang rawan. DAFTAR PUSTAKA 1. Linstrom JL, Lucente FE. Infections of the external ear. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. Eds. Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. II Philadelphia: JB Lippincott Company. 1993:1542-56. 2. Meyerhoff WL, Caruso VG. Trauma and infections of the external ear. In: Paparella NN, Shumrick DD, Stuckman JL, Meyerhoff WL, eds. Otolaryngology 3rd ed. Vol. II. Otology and Neuro-otology. Philadelphia, London, Toronto: WB Saunders, Co, 1991:1227-36. 3. Austin DF. Diseases of the external ear. In: Ballenger JJ. Ed. Diseases of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck. 14th ed. Philadelphia, London: Lea & Febiger, 1991:1069-80.

3. TULI MENDADAK Sri Soekesi, Adriani Iskandar, Nyilo Purnami BATASAN Suatu ketulian sensorineural yang terjadi secara tiba-tiba dalam beberapa jam atau beberapa hari (5-7 hari), umumnya unilateral, dan dapat disertai tinitus atau vertigo. PATOFISIOLOGI 1. Teori infeksi virus - Penyebab: virus campak, parotitis, herpes zoster, varisela, influenza, dan penyakit virus lainnya. - Pada koklea menyebabkan labirintitis endolimfatik, dan pada nervus VIII menyebabkan neuronitis dan ganglionitis. - Virus juga menginvasi endotel vaskular dan melekat pada eritrosit sehingga lumen vaskular mengecil akibat pembengkakan endotel dan

terjadi hemaglutinasi yang pada akhirnya menyebabkan aliran darah ke koklea terganggu. 2. Teori vaskular - Fungsi koklea sangat peka terhadap gangguan aliran darah yang dapat menyebabkan anoksia. - Gangguan aliran darah tersebut dapat disebabkan karena vasospame, trombosis, emboli, hiperkoagulasi, penyakit darah (polisitemia, makroglobulinemia, penyakit sickle cell) - Vasospasme dapat diakibatkan oleh stres, kelelahan, emosi, reaksi alergi. - Trombosis dan emboli berhubungan dengan aterosklerosis. 3. Teori ruptur - Terjadi ruptur membran Reissner pada koklea yang mungkin disebabkan barotrauma mendadak, sehingga terjadi perubahan cairan intrakoklea yang mengakibatkan gangguan fungsi koklea. GEJALA KLINIS: - Tuli mendadak dalam beberapa jam atau hari, umumnya unilateral. - Dapat disertai tinitus atau vertigo - Pada penderita perlu ditanyakan mengenai riwayat penyakit dahulu (DM, hipertensi, dislipidemia, penyakit jantung aterosklerosis), adanya barotrauma, febris. PEMERIKSAAN: 1. Pemeriksaan pendengaran: - Audiometri nada murni : tuli sensorineural, umumnya unilateral - Audiometri tutur : SDS <90%, SRT > 30 dB - Tes SISI : positif (skor 70-100%) - Tes Tone Decay : bisa positif atau negatif 2. Pemeriksaan vestibular (bila ada indikasi) - Tes kalori: didapatkan respon abnormal yang bervariasi mulai dari tidak ada respon sampai respon yang berbeda sedikit dari yang normal. 3. Pemeriksaan laboratorium (bila ada indikasi) - Darah lengkap, gula darah, kolesterol, trigliserida, coagulation studies, protein darah. KOMPLIKASI: PENATALAKSANAAN: - Tirah baring (bagi yang baru terjadi dan vertigo) - Vasolidator: betahistin 3 x 8 mg/hari, atau vasodilator lainnya. - Kortikosteroid: prednison 40-60 mg/hari, dosis tunggal, pagi hari, selama 1 minggu, selanjutnya dosis diturunkan bertahap - Vitamin neutropik: B1 1 x 100 mg/hari - Koreksi penyakit dasar yang ditemukan - Terapi terhadap vertigo (bila ada vertigo)

. Eds. Sudden sensory hearing loss.Pendengaran menurun. 2. Sudden deafness. Meyerhoff WL. 1991:1619-28. otitis media musinosa. nasofaring. DIAGNOSIS 1. Philadelphia. In: Paparella NN. Shumrick DD.Telinga terasa penuh. Stuckman JL. Anamnesis: . 1993:1820-25. . Telian SA. .Audiogram : tuli konduktif. Otology and Neuro-otology. WB Saunders.DAFTAR PUSTAKA 1. faring misalnya oleh alergi. Vol.Keradangan kronik pada rongga hidung. DIAGNOSIS BANDING Otitis media supuratif akut tipe kataral. Co. 4. Hinojosa R. Snow JB. Gangguan tersebut dapat terjadi pada: . eds. Pemeriksaan : . OTITIS MEDIA SEROSA Sri Harmadji. Kohut RI.Timpanogram : tipe B atau C. London.Dapat terlihat "air-fluid level" atau "air bubles". glue ear. Sinonim: otitis media efusa. . 3. otitis media sekretoria. Toronto. II. . . II Philadelphia: JB Lippincott Company.Tumor nasofaring. . . Pemeriksaan tambahan: (bila tersedia sarana).Pada otoskopi membran timpani berubah warna (kekuning-kuningan) refleks cahaya berubah atau menghilang. Otolaryngology 3rd ed.Pembesaran adenoid dan tonsil. .Terdengar suara dalam telinga sewaktu menelan/menguap. Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. Wisnubroto BATASAN Otitis media serosa ialah keradangan non bakterial mukosa kavum timpani yang ditandai dengan terkumpulnya cairan yang tidak purulen (serous atau mukus). 2.Celah langit-langit. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. Soepriyadi. terasa ada cairan (grebeg-grebeg). PATOFISIOLOGI Gangguan fungsi tuba Eustakhius merupakan penyebab utama.

Ear. KUMAN PENYEBAB: tersering .Miringotomi dan pasang "ventilating tube" (Gromet). . Otitis media with effusion. Head and Neck. Tahap I : . Otolaryngology 3rd ed. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. Otitis media with effusion. dilakukan ddenotonsilektomi. S. II Philadelphia: JB Lippincott Company. London. Co. . Jung T TK. 5. 1991: 1317-42.Bila ada factor alergi dilakukan perawatan alergi.Obat-obatan terhadap gangguan fungsi tuba. 2.Bila ada pembesarantonsil dan/adenoid. Catarrhal diseases of the middle ear.PENYULIT . TERAPI 1. ((Dekongestan oral atau lokal. lihat terapi Otitis media supuratif akut). Philadelphia. . Soepriyadi. pneumoniae . .H. Toronto.. dengan disertai pembentukan sekret purulen. WB Saunders. Tahap II: . Eds. DAFTAR PUSTAKA 1. Kenna MA. B. Ed.S. 14th ed. Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. 2.Mastoiditis kronik. Austin DF. pyogenes. Shumrick DD. OTITIS MEDIA SUPURATIF AKUT Sri Harmadji. Otology and Neuro-otology. Throat.Timpanosklerosis. Philadelphia. Meyerhoff WL. 1991:1092-103. Goycoolea MV. Paparella MM. Infuenzae Kuman lain yang lebih jarang adalah S. aureus. 3. catarrhalis. eds. 1993:1592-606. Stuckman JL. London: Lea & Febiger. II. Vol. In: Paparella NN.Otitis media kronik. PATOFISIOLOGI Biasanya diawali dengan terjadinya infeksi akut saluran pernafasan . Diseases of the Nose. Wisnubroto BATASAN Otitis media supuratif akut ialah infeksi akut yang mengenai mukoperiosteum kavum timpani. In: Ballenger JJ.

sentral. . . Dibagi dalam 4 stadia : STADIUM ANAMNESIS OTOSKOPI 1. rewel.Pada bayi dan anak telinga luar kadang disertai dengan: gelisah. RESOLUSI Gejala-gejala pada stadium . KATARAL Diawali dengan ISPA . Akibatnya terjadi penyumbatan ostiumnya yang akan diikuti dengan terjadinya gangguan fungsi drainase dan ventilasi tuba Eustakhius. Kavum timpani menjadi vakum dan disusul dengan terbentuknya transudat hydrops ex vacuo. Mukosa saluran pernafasan atas mengalami inflamasi akut berupa hiperemia dan udem.terasa penuh . . kecil di kuadran .Kadang-kadang tampak .Febris. . yang meliputi anamnesis dan pemeriksaan telinga (cara otoskopi). Adanya infiltrasi kuman patogen ke dalam mukosa kavum timpani yang berasal dari hidung dan nasofaring menimbulkan supurasi.Gangguan pendengaran. Bombans dan hiperemia . SUPURASI/BOMBANS .Masih dijumpai lubang perforasi Tinitus dan gangguan pendengaran .Gangguan pendengaran 2. Batuk.Otore.Membran timpani: akut dan diikuti dengan Retraksi.Warna Membran timpani hiperemia 4.Masih ada batuk dan pilek.atas (ISPA).Sekret: mukopurulen kadang tamapak pulsasi .Membran timpani: . warna mulai gejala di telinga: hiperemia .Gangguan pendengaran. konvulsi.Otalgi dan febris mereda perforasi.Membrana timpani: .otalgia hebat .Grebeg-grebeg adanya air-fluid level. pilek.Membran timpani: sebelumnya sudah banyak mereda sudah pulih menjadi normal kembali Kadang masih ada gejala sisa: . PERFORASI . gastro-entetis . DIAGNOSIS Cukup dilakukan dengan diagnosis secara klinis.Belum terjadi otore 3.Belum ada sekret di liang . anteroinferior. mukopurulen .Tidak dijumpai sekret lagi (telinga telah kering) DIAGNOSIS BANDING . termasuk juga pada mukosa tuba Eustachius.

DAFTAR PUSTAKA 1. . In: Ballenger .) Antibiotik diberikan 7-10 hari. 3. Mastoiditis Koalesen Akut Terjadi empyem di rongga mastoid akibat terjadinya blokade di daerah epirimpanum. Komplikasi Intrakranial Mastoiditis koalesen akut kalau tidak dapat segera diatasi dapat meluas ke dalam intrakranial (meningitis dan abses otak). 2. 3. Paresis syaraf fasial perifer Akumulasi pus di dalam kavum timpani pada otitis media supuratif akut dapat menimbulkan kompresi pada syaraf fasial (kanal Falopi yang mengalami dehisensi – pars horisontalis). Sefalosporin II/III oral (sefuroksim. Memperbaiki fungsi drainase dan ventilasi tuba Eustakhius (bila diperlukan). sefiksim. Acute inflamatory diseases of middle ear. Perlu segera dilakukan evakuasi empiem lewat pendekatan mastoidektomi simpel (Schwartze) 2. sefadroksil dsb. Antibiotika Lini I: Amoksisilin: Dewasa 3 x 500 mg/hari Bayi/anak: 50 mg/kg BB/hari Eritromisin: Dosis dewasa/anak sama dengan dosis amoksisilin Co-trimoksazol: (kombinasi TM 80 mg dan SMZ 400 mg-tablet) Dewasa : 2 x 2 tablet Anak-anak : (TM 40 dan SMZ 200 mg) Suspensi 2 x 1 cth Lini II: Bila ditengarai kuman sudah resisten (infeksi berulang) . Sering diikuti dengan terjadinya abses di belakang daun telinga (abses subperiostal mastoid). Austin DF. Evakuasi Mukopus (bila diperlukan. Perlu segera dilakukan parasintesis dan diberikan antibiotika yang adekuat. Pemberian yang tidak adekuat dapat menyebabkan kekambuhan.Kombinasi amoksisilin dan asam klavulanat: Dewasa : 3 x 625 mg/hari Bayi/Anak-anak: disesuaikan dengan berat badan dan usia.Dekongestan: oral/topical. Otitis eksterna TERAPI 1.1. Dilakukan miringotomi (parasintesis) pada kuadran postero inferior membran timpani dengan menggunakan bius lokal (Larutan Xylocain 8 %) PENYULIT 1. pada stadium II). Furunkel liang telinga 2.

Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. II. 3. Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya infeksi berulang: 1. Eds. Eds. Stuckman JL. sinus atau hidung. 4. Vol. Toronto. 1993:1592-606. PATOFISIOLOGI Otitis media supuratif kronik timbul dari infeksi yang berulang dari otitis media supuratif akut. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. Otitis media with effusion. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. Kenna MA. OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK Sri Harmadji. II Philadelphia: JB Lippincott Company. Philadelphia. II Philadelphia: JB Lippincott Company. 2.. Wisnubroto BATASAN Otitis media supuratif kronik ialah keradangan kronik yang mengenai mukosa dan struktur tulang di dalam kavum timpani dan tulang mastoid. Shambaugh Jr GE. Klasifikasi : Otitis media supuratif kronik tipe benigna Disebabkan peradangan atau sumbatan tuba Eustachius akibat penyebaran infeksi dari nasofaring. Otology and Neuro-otology. Timpani. Negatif Gram : Proteus spp. Head and Neck. Shumrick DD. S. eds. 1991:1104-8. Eksogen : infeksi dari luar melalui perforasi m. Philadelphia. Diabetes melitus. 1991:1343-48. 3.. London: Lea & Febiger. Rinogen : dari penyakit di rongga hidung dan sekitarnya. Meyerhoff WL. Pseudomonas spp.coli. sekret mukoid tidak berbau dan ganguan pendengaran ringan sampai sedang Otitis media supuratif kronik tipe maligna Ditandai oleh perforasi total. Endogen : alergi. Tipe ini ditandai dengan perforasi sentral atau subtotal pada pars tensa. Soepriyadi. Acute otitis media and mastoiditis In: Paparella NN. Ed. albus. ETIOLOGI Kuman aerob: Positif Gram : S.JJ. Co. Throat. Intratemporal and intracranial complications of otitis media. Diseases of the Nose. TBC paru. Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. 1993:1607-22 6. marginal atau perforasi atik dengan . pyogenes. Otolaryngology 3rd ed. 14th ed. Girgis TF. E.. WB Saunders. Kuman anaerob : Bacteroides spp. Neely JG. London. 2. Ear.

c. 2. dapat diganti dengan klindamisin 2 x 300-600 mg i. . b. Abses ekstradural. • Pengobatan alergi bila ada latar belakang alergi. c.v/hari. secret. Audiogram nada murni dan nada tutur. b. • Pengobatan sumber infeksi di rongga hidung dan sekitarnya. 3. b. Tipe maligna Terapi pembedahan (mastoidektomi radikal. mukosa kavum timpani. Pemeriksaan THT: a. Untuk persiapan operasi diperlukan pemeriksaan dengan mikroskop. Komplikasi intrakranial: a. 3. Pendengaran menurun (tuli). Bila alergi terhadap penisilin./hari dan Metronidazol 3 x 250-500 mg oral/sup/hari. Meninginitis. Pemeriksaan tambahan a. Antibiotik: Penisilin Prokain 2 x 0. Insisi abses 2. Labirinitis. 2. Paresis/paralisis syaraf fasialis.sekret yang berbau busuk akibat nekrosis tulang. Gangguan pendengaran bervariasi dari tuli ringan sampai tuli total DIAGNOSIS 1. • Perawatan lokal dengan perhidrol 3 % dan tetes telinga (Ofloksasin). 2. radikal modifikasi. Pemeriksaan hidung dan tenggorok untuk mencari factor penyebab kronik.6-1. • Macam teknik pembedahan: atiko-antrotomi dengan miringoplasti. Terdapat kolesteatom dan jaringan granulasi. Tes fungsi tuba. Otorea terus menerus/kumat-kumatan lebih dari 6-8 minggu.2 juta IU i. X-foto mastoid posisi Schuller. 4. b. Tipe benigna yang aktif (eksaserbasi akut) • Antibioik: klindamisin (3 x 150-300 mg oral) per hari selama 5-7 hari. TERAPI 1. Otoskopi : Melihat tipe perforasi. PENYULIT 1. Abses otak.m. radikal dengan rekonstruksi) Untuk OMSK dengan penyulit: Abses retroaurikuler 1. • Pada stadium tenang (kering) dilakukan timpanoplasti. Anamnesis : a. Abses retro aurikula.

Bila meningitis sudah tenang segera dilakukanMastoidektomi radikal. Otolaryngology 3rd ed. 1993:1607-22. Eds. DAFTAR PUSTAKA 1. Diseases of the Nose. Stuckman JL. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. Otology and Neuro-otology. II. Chronic ear diseases.v. Jung T TK. Rehabilitasi Labirinitis Mastoidektomi urgen. Antibiotik: a. Shambaugh GE. Chronic otitis media and mastoiditis. Mastoidektomi urgen dan dekompresi syaraf fasialis. 1991:1381-104. Shumrick DD.3th ed. Antibiotik: ampisilin 4-6 x 2-3 G/hari i. Ed. Austin DF. 1991:1109-118. In: Ballenger JJ. .atau 3 x 150-300 mg oral. eds. 4. Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. Cholesteatoma. London. 1993:1635-46. 14th ed. Philadelphia. 1. Eds. II. Philadelphia. London: Lea & Febiger. Goycoolea MV. Intratemporal and intracranial complications of otitis media. selama 10-14 hari. 4. Otology and Neuro-otology. Vol. 3. Throat. Co. Kloramfenikol 4 x 1 G atau seftriakson 1-2 G/hari i.ditambah b. Perawatan bersama dengan bagian syaraf. Strunk CL. Philadelphia.v ditambah mentronidazol 3 x 500 mg Sup/hari. Shumrick DD. Meninginitis 1. Toronto. Mastoidektomi urgen. Head and Neck. Head and Neck surgery – Otolaryngology Vol. London. 2. London. Paresis/paralisis syaraf fasialis 1. WB Saunders. II Philadelphia: JB Lippincott Company. Proctor B. Meyerhoff WL. eds. Toronto. 1991:1349-76.v. Toronto: WB Saunders & Co. Neely JG. Otolaryngology 3rd ed. Drainase abses oleh bagian bedah syaraf. WB Saunders. 1980:186-220. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. 2. Ear. Perawatan bersama dengan bagian bedah syaraf. Bila sudah tenang. 2. Ampisilin 6 x 2-3 G/hari i. Philadelphia. Meyerhoff WL. Vol. Complications of supurative otitis media In: Paparella NN. 5. Stuckman JL. 3. Abses ekstradural/abses otak. Co. dilakukan mastoidektomi radikal. 3. In: Paparella NN. 6. Surgery of the ear. 2. II Philadelphia: JB Lippincott Company. 3.

penyakit ginjal. dan organ otolit yaitu utrikulus dan sakulus). Surgery in chronic ear diseases. observasi gait (atas indikasi). Head and Neck. Diseases of the Nose.  Adanya gejala yang menyertai: penurunan pendengaran. mual dan muntah. kelainan darah dan obat-obat yang digunakan dsb. tes kalori. London: Lea & Febiger. Pemeriksaan:  THT rutin. tes fungsi serebelum. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. fungsi pendengaran. otore diplakusis rekruitmen. manuver Hallpike. PATOFISIOLOGI Adanya gangguan pada input sistem vestibuler (kanalis semi sirkularis. Surgery of the mastoid and petrosa. Brodie HA. tes fistula. kekuatan otot. dll. lamanya. penyakit kolagen. Stepping. Philadelphia.7. telinga terasa penuh. trauma kepala. . 1991:1119-38. posisional. 8. Ed. 14th ed. Eds. Chole RA. Adriani Iskandar.  Penyakit sitemik: hipotiroid. Vertigo bukan merupakan penyakit tetapi suatu simtom yang dapat disebabkan oleh berbagai penyakit. diabetes melitus. insufisiensi adrenokortikal. sensibilitas. sifilis. tinitus. In: Ballenger JJ. Ear. faktor pencetus dsb. fenomena Tullio. Throat. input visual dan proprioseptif. gangguan penglihatan. penyakit kardiovaskuler. 7.  Tes keseimbangan: Romberg.  Neurologi: saraf kranialis. Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. VERTIGO Sri Soekesi. alergi. Nyilo Purnami BATASAN Gangguan keseimbangan tubuh terhadap ruang sekitarnya atau berhalusinasi dari gerakan berputar yang merupakan gejala dari bermacam-macam penyebab/penyakit. 1993:1647-65.  Adanya nistamus: spontan. II Philadelphia: JB Lippincott Company. paparan bising dsb. ETIOLOGI • Lesi perifer • Lesi sentral • Lesi sistemik • Psikogen DIAGNOSIS Anamnesis:  Sifat gangguan keseimbangan: frekwensi. Austin DF. otalgi.

 Adanya penyakit sistemik dan vaskuler yang menyertai (sesuai dengan anamnesis)  Pemeriksaan psikiatrik: bila diduga ada faktor psikogen. dan apabila ada fasilitas dapat dilakukan BERA (atas indikasi)  Tes kalori. antara lain diazepam 3 x 2-5 mg.  Serangan rekuren yang tak terlalu hebat: a. Penyakit / penyebab: • Penyakit meniere: vertigo hebat dan berulang. • Neuroma akustik: penurunan pendengaran. diuretik hemat kalium pada penyakit Meniere. timpanometri. Tone Deccay tes. kosikosteroid dengan tapering off untuk penyakit Meniere dan neuritis vestibuler. foto mastoid. 1. dapat diberikan terapi non spesifik. penurunan pendengaran yang berfluktuasi. • Neuronitis vestibuler: serangan vertigo yang berat dan mendadak. seringkali disertai rasa cemas. • Labirintitis bakterial: vertigo hebat dan mendadak. Pada kasus berat perlu terapi parenteral: diazepam 5-10 mg i. reflek stapedius. audiometrik nada murni. SISI tes. sensoris maupun motoris yang mendahului). meklizine 3 x 25 mg dan prometazine 3 x 25-50 mg. vertigo umumnya tidak hebat sekali dan kompensasi relatif lambat. flunarisin. rasa penuh di telinga dan tinitus yang progresif. adanya gejala terkenanya saraf otak yang berbatasan. posturografi (atas indikasi). Medikamentosa:  Fase akut: bertujuan untuk menekan mual dan muntah secara sentral. gangguan koordinasi.m. betahistin.  Radiologi: X-foto kepala posisi Stenver dan Towne. rasa tidak seimbang. Pemeriksaan Penunjang:  Pemeriksaan audiologi: tes garpu tala. MRI dsb (atas indikasi).5 mg i. mual dan muntah tanpa disertai gangguan pendengaran.  Pemeriksaan laboratorium dan EKG (atas indikasi). dan kadang disertai vertigo.l difenhidrinat. vertigo yang timbul akibat perubahan posisi kepala. Namun bila penyebabna belum dapat diidentifikasi. CT scan. audiometrik nada tutur. 2.m atau klorfromazin 25 mg supositoria. sinarisin. foto vertebra servikal. prometasin. elektronistagmografi. PENYULIT Tergantung penyebabnya PENATALAKSANAAN Tergantung pada penyebabnya. • Vertigo sentral: umumnya disertai gejala SSP lain (gejala visual. Operatif: hanya sekitar < 5% . droperidol 2. tinitus dan tuli persepsi yang permanen. • Vertigo posisi jinak berulang ( BPPPV = Benign Paroxysmal Positional Vertigo). peningkatan tekanan intra kranial.

basofil. PATOFISIOLOGI Gejala rinitis alergi timbul karena paparan alergen hirupan pada mukosa hidung yang menyebabkan inflamasi dan menimbulkan gejala bersin. . ikan laut. Gejala ini dapat menetap jangka lama pada rinitis yang persisten (chronic ongoing rhinitis). Horak FB. kacang-kacangan dsb. Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol.Ingestan: buah. Pesznecker S. Rehabilitatif: untuk meningkatkan kompensasi sentral dan habituasi yaitu berupa latihan vestibuler. bulu hewan. 1993:1877-81. Mulyarjo. Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. Segera setelah mukosa terkena paparan alergen. Ablatif: transmastoid labirinthectomy. Owen Black F. DAFTAR PUSTAKA: 1. Akumulasi sel radang ini menyebabkan gejala hidung buntu yang merupakan gejala yang lebih dominan pada fase lambat. Eds. vestibular nerve section. ETIOLOGI Alergen: . Pada sebagian penderita akan terjadi reaksi fase lambat yang terjadi beberapa jam setelah fase cepat dan dapat berlangsung hingga 24 jam. 1993: 1883-92. dengan gejala bersin-bersin paroksismal. Peripherial vestibular disorder. Pada penyakit Meniere. RINITIS ALERGI Roestiniadi Djoko Soemantri. . 2. Dwi Reno Pawarti BATASAN Rinitis alergi secara klinis didefinisikan sebagai gejala rinitis yang timbul setelah pajanan/paparan alergen yang menyebabkan inflamasi mukosa hidung yang diperantarai oleh IgE. terjadi reaksi alergi fase cepat dalam beberapa menit dan berlangsung sampai beberapa jam (immediate rhinitis symptoms). In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. jamur.  Non ablatif: endolymphatic sac decompression. II Philadelphia: JB Lippincott Company. dsb. debu kapuk. gatal. susu. eosinofil dan netrofil ke mukosa hidung. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. dan buntu hidung. Konrad HR. 8. Grimm RJ. telur. rinore dan buntu hidung. Eds. endolymphatic sac shunt (penyakit meniere dengan funsi pendengaran yang masih baik) dan posterior canal oclussion (BPPV berat yang tak berhasil dengan terapi rehabilitatif) 3. Central vestibular disorders. Pada fase ini akan terjadi pengerahan sel-sel radang seperti limfosit.Inhalan: debu rumah. II Philadelphia: JB Lippincott Company. pilek encer.

aktifitas sehari-hari saat olah raga dan santai terganggu. • Rinitis alergi ringan : Tidur normal. . alfa metildopa. mata. kadang-kadang disertai sakit kepala. dan buntu hidung. Pemeriksaan tambahan: . Positif bila > 200 IU. saat olah raga dan santai normal. DIAGNOSIS Anamnesis yang lengkap dan cermat. o IgE spesifik (RAST). . kegiatan bekerja dan sekolah normal. Pada rinitis alergi persisten rongga hidung sempit. Mungkin ada riwayat alergi pada keluarga. klonidin. atau berlangsung < 4 minggu • Rinitis alergi persisten : serangan > 4 hari per minggu. adanya alergi di organ lain (asma.Tes kulit:"Prick Test". . • Tidak ada tanda-tanda infeksi (misalnya panas badan). tak ada keluhan mengganggu • Rinitis alergi sedang berat : Tidur terganggu (tak normal). dan fenotiasin yang lain. DIAGNOSIS BANDING . mata sembab dan berair. sekret mukopurulen. aktifitas sehari-hari. sekret seromusinus. • Gangguan pembauan. konka udim hebat. • Didahului rasa gatal pada hidung. klorpromasin. KLASIFIKASI • Rinitis alergi intermiten : serangan < 4 hari per minggu. dan berlangsung > 4 minggu. reserpin.Eosinofil darah.= 400/mm . . adanya keluhan mengganggu.Rinitis akut: ada keluhan panas badan. pilek encer. atau kadang-kadang palatum mole.. dermatitis) Pemeriksaan: Rinoskopi anterior: Konka udim dan pucat.Bila diperlukan dapat diperiksa: o IgE total serum (RIST dan PRIST). • Bersin-bersin paroksismal. mukosa hiperemis. Adanya paparan alergen. terdapat gangguan saat kerja dan sekolah. guanetidin.Eosinofil sekret hidung. Positif bila >.Endoskopi nasal: bila diperlukan dan tersedia sarana. Positif bila > = 25%.Rhinitis medikamentosa (drug induced rhinitis): karena penggunaan tetes hidung dalam jangka lama. .GEJALA KLINIK • Serangan timbul bila terjadi kontak dengan alergen penyebab.

Dapat dikombinasi dengan antihistamin. bila diperlukan. Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. DAFTAR PUSTAKA 1. o Kortikosteroid (deksametason. Jackson RL. Untuk yang non sedatif dapat dipakai: loratadin. Allergy 1994.Polip hidung. hipertiroid. Rhinitis. International Rhinitis Management Working Group. Mabry RL. Kopke RD.)7-9.Meningkatkan kondisi tubuh: o Olah raga pagi.Medikamentosa : o Antihistamin pada saat serangan: dapat dipakai CTM 3 x 2-4 mg. Eds.Sinusitis paranasal . Ingat kontra indikasi. larutan efedrin ½-1%. Mechanisme of Rhinitis. o Makanan yang baik. betametason). 2-3 x 30-60 mg sehari.Rhinitis hormonal (hormonally induced rhinitis): Pada penderita hamil. o Dekongestan lokal: tetes hidung. polip hidung. TERAPI . penggunaan pil KB. Diberikan dengan tappering off. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC.Otitis media.Rinitis vasomator. Desloratadine adalah turunan baru loratadine yang punya efek dekongestan. International Consensus Report of the Diagnosis and Management of Rhinitis. atau komplikasi lain yang memerlukan tindakan bedah. I Philadelphia: .Pembedahan: apabila ada kelainan anatomi (deviasi septum nasi). 1993:269-89.05%.49(Suppl. dan tidak boleh lebih dari seminggu. (triprolidin + pseudo-efedrin. setirizin + pseudo-efedrin. PENYULIT . . Antihistamin baru non sedatif cukup aman untuk pemakaian jangka panjang. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. I Philadelphia: JB Lippincott Company. loratadin + psedo-efedrin) o Steroid semprot hidung untuk rinitis persisten sedang berat.Hindari alergen penyebab. atau oksimetazolin 0. o Istirahat yang cukup dan hindari stres..025%-0. untuk serangan akut yang berat. 2. . Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. Allergic Rhinosinusitis. setirizin (1X sehari 10 mg) atau fleksofenadin (2X sehari 60 mg). . . Eds. o Dekongestan oral: pseudo-efedrin. . 3.

penggunaan pil KB. Co.  Bersin-bersin paroksismal. . RINITIS NON ALERGI Roestiniadi Djoko Soemantri. Otolaryngology 3rd ed.  Biasanya kambuh waktu pagi (dingin).JB Lippincott Company. • NARES : rinore kronik. bersin dan buntu jarang. 4. III. 1991:1873-88. Penyebab belum jelas GEJALA KLINIK • RV :  Pilek encer. Termasuk dalam klasifikasi ini: 1. Co. Mulyarjo. Rinitis vasomotor (RV) 2. 1991:1889-98. Gluckman JL. reserpin.Biasanya ada hubungan dengan kelembaban udara yang tinggi dan udara dingin. Philadelphia. guanetidin. Stuckman JL. Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma (ARIA). Rinitis hormonal 4. hipertiroid. Toronto. ada ketidakseimbangan sistem saraf otonom. Rinitis medikamentosa 3. WB Saunders. Otolaryngology 3rd ed. Shumrick DD. Vol.NARES : Eosinofilia sekret hidung dengan tes kulit negatif. . eds. Meyerhoff WL. Non allergic rhinitis. NARES (non alergic rhinitis with eosinophilia syndrome) PATOFISIOLOGI / ETIOLOGI .Rhinitis hormonal (hormonally induced rhinitis): Pada penderita hamil.RV : Etiologi pasti belum diketahui. . mendung (kelembaban tinggi).Rhinitis medikamentosa (drug Induced rhinitis): karena penggunaan tetes hidung dalam jangka lama. klonidin. London. 5. Toronto. Stuckman JL. Head and Neck. 6. London. Stegmeyer RJ. • Rinitis medikamentosa dan rinitis hormonal : gejala utama adalah buntu hidung. dan fenotiasin yang lain. eds. .. klorpromasin.  Buntu hidung. III. Vol. terutama waktu berbaring. Dwi Reno Pawarti BATASAN Rinitis gejala-gejala kronik yang tidak disebabkan oleh latar belakang alergi. Head and Neck. Shumrick DD. Allergic rhinosinusitis: Diagnosis and treatment.. Executive Summary 2000. Meyerhoff WL. In: Paparella NN. Boyles JH. WB Saunders. Philadelphia. In: Paparella NN. 9. alfa metildopa. 1993:290-301.

dekongestan oral: pseudo-efedrin (30-60 mg) pada saat serangan. dapat dilakukan terapi simtomatik: Untuk RV : Kombinasi antistamin dan dekongestan oral sebelum tidur malam/saat serangan. gizi cukup. Eds.Olah raga pagi. (2-4 mg) pada saat serangan. International Consensus Report of the Diagnosis and Management of Rhinitis. • Konkotomi konka inferior. 1993:269-89. International Rhinitis Management Working Group.Rinoskopi anterior: Pada RV Pada saat serangan: . 3.Rinitis akut PENYULIT .49(Suppl.Polip hidung .Warna mukosa tidak khas Pada Rinitis hormonal dan Rinitis medikamentosa : Konka udim. rongga hidung sempit. Antihistamin: CTM. Untuk rinitis hormonal dan medikamentosa : hentikan penggunaan obat penyebab (bila memungkinkan). DIAGNOSIS BANDING .Allergy 1994. atau kalau lebih berat. Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. Pemeriksaan fisik .Rinitis alergi . Jackson RL. • Kaustik konka inferior.Sinusitis paranasal .):5-30.Sekret serokumukus . .Kalau buntu dapat dilakukan/diberi: • Tetes hidung (waktu serangan akut).DIAGNOSIS 1. I Philadelphia: JB Lippincott Company. Anamnesis yang cermat dan lengkap 2. . Pemeriksaan tambahan Tes kulit. DAFTAR PUSTAKA 1. . In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. sekret sedikit. istirahat cukup.Konka udim . Rhinitis. Pada NARES.Meningkatkan kondisi badan. Kopke RD. 2. . untuk menyingkirkan adanya alergi. sekret seromukus. Kaustik atau konkotomi dapat dicoba. konka udim.Otitis media TERAPI Terapi kausal tidak ada.

3. Inc. 4. Attia EL. mengeluarkan ingus atau menghirup udara kuman dapat masuk ke dalam sinus yang kemudian terjadi sinusitis bakterial. kemudian terjadi pengentalan dan penumpukan sekret. Meyerhoff WL. atresia koane. baro trauma. Pada saat bersin. Catatan: 4 minggu – 3 bulan maksilaris sub akut > 3 bulan sinus maksilaris kronis PATOFISIOLOGI/ETIOLOGI Didahului oleh infeksi virus pada rinitis akut. Co. Disorder of the nose and paranasal sinus. diikuti oleh obstruksi ostium yang akan menyebabkan hipoksi pada rongga sinus. Head and Neck. 1987:195-98. Londom. eds. Dwi Reno Pawarti. Stegmeyer RJ. Gluckman JL. Philadelphia. Toronto. Otolaryngology 3rd ed. 1991:1889-98. Shumrick DD. terjadi udim mukosa pada dan disekitar ostium sinus. Pada skema di bawah ini akan lebih jelas menggambarkan kondisi tersebut: Sumbatan ostium Hipoksia Vasodilatasi Disfungsi silia Disfungsi kelenjar mukus Transudasi Stagnasi sekret Sekret mengental Penumpukan Sekret Kental Pada permulaan terjadi kenaikan tekanan intra sinus yang kemudian diikuti terjadinya tekanan negatif. WB Saunders. benda asing atau tampon . Non allergic rhinitis. 10. Stuckman JL. III. Vol. Bakti Soerarso BATASAN Sinusitis paranasal akut merupakan proses infeksi dari mukosa sinus maksilaris yang akut yaitu kurang dari 4 minggu yang disebabkan oleh mikroorganisme. Faktor penyebab yang lain adalah infeksi apeks gigi geraham atas. Selanjutnya disfungsi silia. Marshall KG. In: Paparella NN. Massachusetts: PSG Publishing Company. polip hidung.. SINUSITIS AKUT BAKTERIAL Siswantoro.

Sekret mukopurulen.Nyeri pada daerah hidung.Abses orbital. catarrhalis.Meningitis . H. . Lini kedua: Bila ditengarai kuman menghasilkan enzim beta-laktamase diberikan . dapat terjadi periorbital udim pada infeksi yang berat. pipi atau dahi (tergantung lokasi sinus). malaise dan kelesuan.Abses otak .Trombosis sinus kavernosus PENATALAKSANAAN Antibiotik: Lini pertama: Amoksisilin.Osteomielitis.Abses epidural / subdural . Kuman penyebab yang sering di dapatkan adalah: S. air fluid level atau perselubungan. Kuman lain yang lebih jarang adalah: S. PENYULIT .Plain foto sinus (posisi Water): penebalan mukosa. . tetapi tidak diperlukan sebagai penentu diagnosis. nyeri tekan supra orbita (pada sinusitis frontal).Pilek berbau busuk pada sinusitis maksila dentogen. . aureus dan kuman anaerob. dan dapat terjadi pada gigi atas(pada sinusitis maksila) Gejala lainnya: . DIAGNOSIS Anamnesis: seperti diatas Pemeriksaan: .Rinoskopi anterior: * Mukosa udim + hiperemi * Sekret muko purulen. . terutama di meatus medius .Rinoskopi Posterior: post anal sekret purulen . . Pemeriksaan radiologi: .hidung yang lama.Transiluminasi: pada sinus yang terkena gelap (sinus maksila). atau eritromisin.Dapat terjadi buntu hidung.Selulitis orbital .CT scan: walaupun dapat memberi gambaran yang lebih jelas.Nyeri tekan daerah fosa kanina dan sulkus gingivobukalis (pada sinusitis maksila). trimetoprim sulfametoksazol(kotrimoksazol). Influenzae dan B. . panas badan. nafas berbau. pilek. pneumoniae. GEJALA KLINIK .

Jangan digunakan lebih dari 5 hari. III. In: Harrison's Manual of Medicine. 4. Toronto.050% semprot hidung. White JA. London. Hauser SL. Perawatan gigi bila diketahui penyebab dentogen. Miller RH. Ed. Philadelphia. Blair PA. In: Ballenger JJ. London: Lea & Febiger. 5. Boston: McGraw Hill International Edition. Paranasal sinus infections. Head and Neck. Bakti Soerarso BATASAN Sinusitis paranasal kronik adalah proses keradangan dari mukosa sinus paranasal yang kronis. SINUSITIS PARANASAL KRONIK Siswantoro. Co.025% tetes hidung untuk anak atau 0. 15th ed. Infections of the upper respiratory Tract. Otolaryngology 3rd ed. Throat. In: Ballenger JJ. Mukolitik: asetil sistein. . Surgical treatment of paranasal sinus infections. Wilson WR. 2. Ed. Facer GW. 11. In: Paparella NN. Antibiotik diberikan minimal 2 minggu. London: Lea & Febiger. 14th ed. Fauci AS. WB Saunders. eds. 3. Jameson JL. Ear. Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. 2002:213-5. pseudo-efedrin. Head and Neck. atau sefalosporin generasi II atau III oral. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. Meyerhoff WL. DAFTAR PUSTAKA 1. Braunwald E. Fam Pract Recertification 2002:24:1-7. Diseases of the Nose. yaitu lebih dari 3 bulan. Dwi Reno Pawarti. Irigasi sinus maksila : bila resorpsi sekret sinus maksila tidak adekuat. Sinusitis: Current concepts and management. Eds. Dekongestan: * Topikal: sol efedrin 1% tetes hidung. Stuckman JL. 6. Vol. Ear. Philadelphia. 1993:366-76. oksimetazolin 0. bromheksin Analgesik/antipiretik bila perlu Antihistamin: diberikan pada penderita dengan latar belakang alergi.kombinasi amoksisilin + asam klavulanat. Shumrick DD. Slavin RG. Longo DL.. Kasper DL. Head and Neck. Kern EB. Infectious diseases of the paranasal sinuses. 1991: 184-202. 1991: 220-32. * Sistemik: fenil propanolamin. 14th ed. Throat. I Philadelphia: JB Lippincott Company. sefaklor. Montgomery WW. Diseases of the Nose. Rhinosinusitis: Epidemilogy and pathology. Philadelphia. 1991:1843-61.

c) Transiluminasi: pada sinus yang terkena gelap (hanya untuk sinus maksila dan sinus frontal). kista. . aeruginosa dan kuman anaerob.PATOFISIOLOGI / ETIOLOGI: Sinusitis paranasal akut dapat menjadi kronik oleh berbagai faktor yakni faktor alergi. kadang-kadang terjadi penurunan penciuman dan pengecapan. . atau bentukan polip/mukokel. faktor gangguan pada komplek ostio meatal (KOM) yang mengganggu patensi ostium (deviasi septum nasi. degenarasi polip. Pada sinusitis maksila dentogen kuman anaerob sangat dominan. Batasan infeksi dan non infkasi sering tidak jelas. polip nasi. . Kuman dominan adalah P.Pemeriksaan gigi atas untuk mencari kemungkinan penyebab dari gigi (dentogen).Sinusitis karena jamur . kadang-kadang bercampur darah. Dapat terjadi sekret bercampur darah dari hidung atau sekret yang turun ke faring (postnasal drip). (b) Dapat terjadi polip yang tampak pada meatus medius. terutama pada meatus medius. (c) Dapat juga terlihat deviasi septum nasi b) Rinoskopi posterior: post nasal drip dengan sekret muko purulen. konka bulosa dan sebagainya). Kuman penyebab: Campuran kuman aerob dan anaerob.Nasal endoskopi : melihat rongga hidung dan meatus medius lebih jelas. 2 Pemeriksaan a) Rinoskopi anterior: (a) Dapat ada sekret muko purulen/kekuningan yang kadang-kadang bercampur darah. perselubungan. Kadang-kadang terjadi sakit kepala.CT Scan kadang-kadang diperlukan khususnya pada yang unilateral untuk menyingkirkan kemungkinan malignansi atau bila disiapkan untuk tindakan pembedahan. Gejala lainnya adalah buntu hidung.Plain foto sinus: penebalan mukosa. Kondisi KOM dapat dievaluasi lebih cermat. DIAGNOSIS 1 Anamnesis seperti di atas.Keganasan . d) Evaluasi untuk adanya latar belakang alergi Pemeriksaan tambahan: . Terjadi perubahan mukosa sinus (penebalan. mukokel). GEJALA KLINIK Gejala utama adalah rinore yang kronik dengan sekret mukopurulen. DIAGNOSIS BANDING .

Paranasal sinus infections. Dapat diberikan amoksisilin.Irigasi sinus maksila (untuk sinusitis maksila). Longo DL. 2002:213-5. klindamisin. 3.Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BSEF) untuk mengembalikan fungsi drainase dan ventilasi sinus.Caldwell – Luc untuk sinusitis maksila kronik. Diseases of the Nose. Meyerhoff WL. III. eds. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. . WB Saunders. terutama juga untuk eradikasi kuman penghasil β laktamase dan kuman anaerob. Facer GW. London. Endoscopic sinus surgery. Kasper DL. Head and Neck. Zinreich SJ. Vol. Ed. sefalosporin generasi II/III oral. Kennedy DW.Abses orbita . Head and Neck. . . Philadelphia. WB .PENYULIT . 4. . Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. 15th ed. Infectious diseases of the paranasal sinuses. Wilson WR. Shumrick DD. Stuckman JL. III. I Philadelphia: JB Lippincott Company. 2.Meningitis . Toronto. I Philadelphia: JB Lippincott Company. Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol.Abses otak .. Braunwald E. Fauci AS.Selulitis orbita . Perawatan gigi bila ada penyebab dentogen.Abses epidural / subdural . Kern EB. Boston: McGraw Hill International Edition. eds. Shumrick DD. Bansberg SF. 14th ed. Co.Trombosis sinus kavernosus PENATALAKSANAAN: . In: Ballenger JJ. Meyerhoff WL. Bila diperlukan penambahan metronidazol untuk infeksi kuman anaerob. Head and Neck. 1991: 184-202. Eds. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. Ear. In: Harrison's Manual of Medicine. Sinus surgery. 6.Osteo mielitis . Hauser SL. Jameson JL. Gustafson RO. In: Paparella NN. 1993:377-87. London. 5. Throat. Untuk patologi di KOM perlu pembedahan. Philadelphia. DAFTAR PUSTAKA 1. Sinusitis: Current concepts and management. In: Paparella NN.Pemberian antibiotik disesuaikan dengan kuman penyebab. 1993:366-76. Otolaryngology 3rd ed. Eds. White JA. Philadelphia. Vol. 1991:1843-61. Infections of the upper respiratory Tract. Otolaryngology 3rd ed. Montgomery WW. London: Lea & Febiger. Toronto.Terutama menghilangkan faktor penyebab. Stuckman JL. amoksisilin + asam klavulanat.

Stroma mengandung jaringan ikat yang terenggang oleh cairan interstisial. banyak pada usia muda dan jarang pada anak-anak. bisa parsial atau total tergantung besar atau banyaknya polip.Multipel. menimbulkan hambatan aliran kembali cairan interstisial dan seterusnya secara berturut-turut timbul udim. sering dijumpai. 1991 7. . Throat. . POLIP HIDUNG Siswantoro.Gejala-gejala lain adalah akibat buntu hidung. Yang masih dianggap sebagai faktor penyebab adalah alergi dan radang kronik yang berlangsung lama dan berulang-ulang. Dwi Reno Pawarti BATASAN Polip hidung adalah pengertian morfologis (bentuk) yang berarti penonjolan mukosa kavum nasi yang panjang dan bertangkai. Ed. Polip hidung dibedakan: . sehingga menentukan timbulmnya polip. misalnya: suara bindeng. In: Ballenger JJ. Blair PA. Polip bukan neoplasma. hiposmia. sekret mukus. sel plasma dan eosinofil dalam jumlah yang bervariasi. Derajat kepadatan jaringan ikat dan pembuluh darah menentukan derajat udim. . 12. penonjolan mukosa. Karena konka nasi inferior dan septum nasi mengandung banyak jaringan ikat padat. Co. tetapi sedikit pembuluh darah dan syaraf.Saunders. Diseases of the Nose.Soliter berasal dari sinus maksilaris dan tumbuh kearah koane (polip koanal). panjang dan bertangkai. .Buntu hidung.Semua gejala-gejala ini bertambah secara lambat tetapi progresif. Bakti Surarso. Miller RH. batuk. Philadelphia. biasanya berasal dari sel-sel etmoid. Ear. sakit kepala. maka polop jarang ditemui pada organ-organ tersebut. GEJALA KLINIK . 14th ed. . London: Lea & Febiger. mengandung banyak saluran limfe yang melebar.Rinorea/pilek yang terus menerus. Head and Neck. PATOFISIOLOGI Penyebab pasti belum diketahui. maka terbentuklah polip. tetapi pseudo-tumor. Surgical treatment of paranasal sinus infections. Didapat tumpukan limfosit. Pilek bertambah hebat dan sekret menjadi encer kalau penderita terserang rinitis akut atau serangan alergi. 1991: 220-32. Polip lebih banyak dijumpai pada laki-laki daripada wanita.

Terapi dari sudut alergi kalau ada latar belakang alergi. Flutikason. I Philadelphia: JB Lippincott Company. Kopke RD.Ekstraksi polip intranasal . Untuk polip yang besar/multipel . PENYULIT Jarang terjadi. . sinusitis paranasal atau otitis media. Rhinitis. steroid oral atau intra-nasal. DAFTAR PUSTAKA 1. dsb) pasca bedah. 1993:269-89.Inverted Cell Papilloma: tampak seperti polip multipel. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. London: Lea & Febiger. 1991: 109-18. Yang dilakukan adalah: Untuk polip kecil dapat diberikan terapi medikamentosa dulu: antibiotik. Miller RH.(lihat Rinitis alergi). Jackson RL. Ed. Triamsinolon. Polip kecil sering tak terlihat. 2 Pemeriksaan fisik i) Inspeksi: dapat dijumpai pelebaran kavum nasi terutama pada polip yang berasal dari sel-sel etmoid. ii) Rinoskopi anterior: tampak sekret mukus dan polip multipel atau soliter.Angiofibroma nasofaring juvenilis: tampak seperti polip koanal.DIAGNOSIS 1 Anamnesis yang cermat dan teliti.Meningokel: biasanya pada bayi atau anak-anak. DIAGNOSIS BANDING .Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BSEF) . . 3 Pemeriksaan tambahan i) Naso-endoskopi untuk melihat KOM secara cermat. Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. Eds. tetapi biasanya unilateral dan banyak pada orang berusia lanjut. kalau ada sebagai akibat tertutupnya ostium sinus paranasal atau ostium tuba yakni polip dalam sinus paranasal. Philadelphia. In: Ballenger JJ. Head and Neck. Throat. polip kecil dapat terlihat.Semprot hidung steroid intranasal (Mometason. iii) Rinoskopi posterior: kadang-kadang dapat dijumpai polip koanal. 2.Operasi Caldwell-Luc kalau polip mengisi sinus maksilaris . Neoplasms of the nose and paranasal sinuses. Diseases of the Nose. Polip jarang dijumpai pada anak-anak maupun bayi. Ear. tetapi relatif mudah berdarah. . TERAPI Terapi kausal belum ada. 14th ed. .

Eberhard R. ossifying fibrome. pada stadium lanjut tergantung asal tumor dan arah perluasannya. . karsinoma sel basal. silindroma.  Odontogenik: kista-kista gigi.Tumor jinak  Dari jinak lunak: fibroma. Wood II RP. throat. In: Ballantyne J. Rongga hidung 3.  Dari jaringan tulang: osteoma. Holmberg K. ameloblastoma. Drake-Lee AB. 5th ed. 5. TUMOR RONGGA HIDUNG DAN SINUS PARANASAL Bakti Soerarso. nose. 4. . 1993:302-28. PATOLOGI Urutan asal tumor menurut kekerapan: 1. Nasal polyps: medical or surgical treatment? Clin Exper Allergy 1998. dispasia fibrosa. Scott-Brown's diseases of the ear. London: Butterwoths. Sinus frontal 5. GEJALA KLINIK Gejala dini tidak khas. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC.Tumor ganas  Dari epitel: karsinoma sel skuamosa. eds. Widodo Ario Kentjono. Nasal polyps. Nasal obstruction. dsb. Eds. 3):23-30 13. meningioma.  Dari jaringan ikat: fibrosarkoma. Karlsson G. Head and Neck surgery – Otolaryngology Vol.26(suppl. Sinus maksila 2. Sinus sfenoid Pembagian menurut hispatologi: . Mulyarjo. kondrosarkoma. neurofibroma. Javek BW. 1987:142-53. I Philadelphia: JB Lippincott Company.  Dari jaringan tulang/tulang rawan: osteosarkoma. limfoepitelioma.3. rabdomiosarkoma. Groves J. Sel-sel etmoid 4. Haryono Kusuma BATASAN Semua tumor jinak maupun ganas yang berasal dari rongga hidung dan/atau sinus paranasal. .Tumor pra ganas: Inverted papilloma. giant cell tumor.

Pembengkakan pipi. Rasa nyeri di sekitar hidung dapat diakibatkan oleh gangguan ventilasi sinus. . dan penurunan visus.Gejala hidung Buntu hidung unilateral dan progresif.Pendesakan ke retrobulbair. . Sinus sfenoid .Pendesakan ke depan menyebabkan benjolan pada dahi. dan gangguan gerakan bola mata. terutama pada tumor di rongga hidung. . . . Purulen dan berbau bila ada infeksi. Kranium lateral : untuk melihat ekstensi ke fosa kranii anterior/media. menyebabkan prostrusio bulbi dan penurunan visus.  Pemeriksaan THT lainnya menurut keperluan.  Rinoskopi posterior untuk melihat ekstensi ke nasofaring. DIAGNOSIS .Gejala lokal masing-masing sinus Sinus maksila Pertumbuhan tumor lebih lanjut dapat menyebabkan: . terjdi diplopi.Pertumbuhan ke arah nasofaring.Anamnesis yang cermat terhadap keluhan-keluhan di atas..  Rinoskopi anterior untuk mengevaluasi tumor di dalam rongga hidung.Geraham ataas goyah.Pemeriksaan tambahan  Pemeriksaan radiologi : X-foto posisi Water: untuk melihat perluasan tumor di dalam sinus maksilaris.Pemeriksaan  Inspeksi terhadap dahi. Sel-sel etmoid. mata. pipi.  Palpasi terhadap tumor yang tampak dan kelenjar leher (bila ada).Pendesakan ke arah depan menyebabkan benjolan pada pangkal hidung. . Sekret yang bercampur darah atau adanya epistaksis menunjukkan kemungkinan keganasan. mendesak bola mata. . maloklusi gigi. . Buntu bilateral bila terjadi pendesakan ke sisi lainnya.Masuk ke orbita melalui lamina papirasea. Sekret hidung bervariasi.Pembengkakan palatum durum. benjolan terlihat pada rinoskopi posterior (RP). Sedangkan rasa nyeri terus-menerus dan progresif umumnya akibat infiltrasi tumor ganas. . . Sinus frontal .Gangguan mata bila tumor masuk orbita.Ke orbita menyebabkan diplopi. geraham dan palatum. . dan sinus frontal. gangguan visus.

bila perlu dapat dilakukan potong beku. London: Lea & Febiger. Diseases of the Nose. 14th ed. 1993:1091-109. DAFTAR PUSTAKA 1. In: Paparella NN. In: Ballenger JJ. Head and Neck. 4. Lane M.. Head and Neck.Pra bedah pada tumor yang radio sensitif (misal: tumor sangat besar/inoperable. Toronto. sebelum radiasi. 1991:1938-58. Untuk kecurigaan terhadap keganasan.Dapat dengan kombinasi eksenterasi orbita  Paliatif: mengurangi besar tumor (debulking). Beberapa macam pembedahan antara lain: . 2. Meyerhoff WL. .Rinotomi lateral . Miller RH. Stuckman JL. II Philadelphia: JB Lippincott Company. TERAPI Tumor jinak: Terapi pembedahan. Radiasi: .Rinotomi lateral . Tumor di dalam sinus maksilaris dibiopsi dengan pungsi melalui meatus nas inferior. eds. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. Eds. Ed. Carrau RL. Donovan DT.Pendekatan trans paltal Tumor ganas: Pembedahan:  Reseksi: . metastasis jauh. Ear. kombinasi dengan radiasi). Shumrick DD. Kemoterapi: sebagai terapi tambahan pada pembedahan dan radiasi. Vol. Co. Otolaryngology 3rd ed. Philadelphia. WB Saunders. In: Calabresi . Untuk tumor kecil di dalam rongga sinus maksila atau rongga hidung dapat dilakukan menggunakan antroskopi atau naso-endoskopi. 3. Levine TM. III. Head and Neck surgery – Otolaryngology Vol. Throat.Maksilektomi partial/total . Philadelphia. Myers EN. Neoplasms of the nose and paranasal sinuses.Dilakukan bila operasi kurang radikal atau residif.Caldwell-Luc . Neoplasms of the head and neck.  Biopsi: Biopsi dengan forsep Blakesley dilakukan pada tumor yang tampak.CT SCAN: untuk mengetahui lebih tepat perluasan tumor. London. 1991: 109-18. Neoplasms of the nose and paranasal sinuses. Tumors of the nose and paranasal sinuses. Krespi YP. Tumor jinak langsung dilakukan operasi.

Kebanyakan dimulai dari infeksi hidung dan sinus paranasal lewat post nasal drip. nasofaringitis. lama kelamaan kental berwarna kuning. influenza. Granula tampak lebih besar dan merah. Dapat sebagai permulaan dari penyakit lain misalnya: morbili. pnemoni. kadang-kadang golongan anaerob. 15. Schein PS. FARINGITIS AKUT Hoetomo. kadang-kadang terdapat eksudat. laringitis. pnemoni. Bila penyebabnya Streptococcus β-Haemoliticus. rubela. Sekret yang terbentuk awalnya bening. Inc. Eds. malaise. Demam. Dwi Reno Pawarti BATASAN Radang akut yang mengenai mukosa faring dan jaringan limfonodular di dinding faring. terutama di daerah lateral band. DIAGNOSIS Tenggorok rasa kering dan panas. atau ke atas melewati tuba Eustakhius menimbulkan otitis media akut. 2nd ed New York: Mc Graw Hill. Medical Oncology. DIAGNOSIS BANDING Tonsilitis akut.P. jarang terjadi penyulit. Sri Roekmini. dsb. PENYULIT Bila daya tahan tubuh baik. Analgestik/antipiretik: parasetamol 3-4 x 500 mg. trakeitis. kecuali untuk infeksi berat. dapat diikuti oleh infeksi bakterial. 3-5 hari. bronkitis. . Masa inkubasi 12 jam – 4 hari. PATOFISIOLOGI Penularan secara droplet infection. dsb. sakit kepala. Tidak diperlukan antibiotika. seperti: laringitis. kemudian timbul nyeri menelan di bagian tengah tenggorok. dapat terjadi komplikasi seperti pada Tonsilitis akut Penatalaksanaan: Istirahat. 1993:565-92. Obat kumur Gargarisma Kan. Penyebab utama adalah virus. Seringkali bersama-sama dengan penyakit saluran napas atas lainnya yakni: rinitis akut. Mukosa faring tampak merah dan udim. Jarang sekali primer akibat infeksi bakteri. Kebanyakan infeksi oleh kuman gram positif atau kadang infeksi campuran gram positif dan gram negatif. parotitis. banyak minum hangat. Dapat terjadi penyebaran ke bawah.

Anak tidak mau makan. Throat. Diseases of the oropharynx. Ear. London: Lea & Febiger. 16. Kornblut AD. Haemophilus influenza. Pneumococcus. Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. Colli. DIAGNOSIS BANDING Difteri tonsil: pseudo membran putih keabuan. Diseases of the Nose. I Philadelphia: JB Lippincott Company. TONSILITIS AKUT Hoetomo. Mulut berbau busuk (foetor ex ore). Ismus fausium menyempit. timbul udim dan eksudasi. Eds. dan virus. meluas keluar dari tonsil. pyogenes). Ed. 2. Ballenger JJ. Terjadi radang pada folikel tonsil. Palatum mole. Pharyngitis. arkus anterior dan posterior tonsil udim dan hiperemi. Philadelphia. Wenig BM. sehingga terjadi penumpukan pada kripte yang disebut detritus. banyak detritus. 1991:243-58. 1993:551-67. Eksudat keluar ke permukaan. Didapati udim perifokal . Nyeri menjalar ke telinga (referred pain) Demam (dapat sangat tinggi). 14th ed. In: Ballenger JJ. E. Sri Roekmini. Infeksi disebabkan oleh kuman Streptococcus β-haemoliticus grup A (S. Kelenjar getah bening jugulodigastrikus membesar dan nyeri tekan. Head and Neck.DAFTAR PUSTAKA 1. Tonsil hiperemi dan membengkak. sedangkan pada dewasa akibat bakteri. Dwi Reno Pawarti BATASAN Infeksi akut pada jaringan tonsil PATOFISIOLOGI Banyak terjadi pada anak. Bailey BJ and Pillsburry III HC. DIAGNOSIS Gejala klinik: Mula-mula tenggorok rasa panas dan kering. Staphylococcus. bila dilepas timbul pendarahan. Disusul timbulnya nyeri telan yang makin hebat. malaise. nyeri kepala. melekat. Pada anak kebanyakan virus. Ptialismus. Pemeriksaan faring : Suara penderita seperti mulut penuh makanan (plummy voice).

1991:243-58. Vol. I Philadelphia: JB Lippincott Company. ear and neck. 4 x sehari) Penyembuhan: 5-7 hari. ed. Eritromisin 4 x 500 mg/hari. Head and Neck. 2. Siswantoro BATASAN . WB Saunders. Toronto. Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. Tonsillitis. Meyerhoff WL.kelenjar leher (Bull Neck) Leukemia. 17. septikimia Penatalaksanaan: Istirahat. 5-10 hari (anak-anak: 7. makan lunak. 3-5 hari (anak-anak: 10 mg/kg BB/dosis. demam rematik. In: Paparella NN. spiramisin.5 mg/kg BB/dosis.5-12. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. 1993:833-47. 3-4 x sehari) Antibiotika (pada tonsilitis karena Streptococcus): fenoksimetil penisilin 4 x 500 mg/hari. 3. Co. Otolaryngology 3rd ed. Sri Herawati. insisi dan pemberian antibiotik seperti di atas. In: Ballenger JJ.5 mg/kg BB/dosis. laring. DAFTAR PUSTAKA 1. Ballenger JJ. minum hangat Obat kumur (Gargarisma Kan) Analgesik/antipiretik: parasetamol 3-4 x 500 mg. Diseases of the nose. Pada Penyulit abses peritonsil: Pungsi. London: Lea & Febiger. London. agranulositosis. 1991:2129-47. III. Diseases of the oropharynx. 5-10 hari (anak-anak: 12. endokarditis bakterial subakut. mononukleosis PENYULIT Lokal: Peritonsilitis. rinosinusitis. LARINGITIS AKUT NON SPESIFIK Sardjono Soedjak. abses parafaring. Non-neoplastic disease of the tonsils and adenoids. Stuckman JL. azitromisin). dapat terjadi glomerulonefritis akut. tonsillectomy and adenotonsillectomy. Kornblut AD. Philadelphia. infeksi leher dalam Sistemik: Bila penyebabnya S. Brodsky L. Shumrick DD. 14th ed. eds. Eds. throat. otitis media akut. Philadelphia. abses peritonsil. pyogenes. rematoid artritis. 4 x sehari) Bila alergi terhadap penisilin dapat diganti makrolid (eritromisin.

Trakeitis . epigastrial .Gejala sumbatan jalan napas atas: * Stridor inspirasi * Sesak saat inspirasi * Retraksi supravikula.Laringitis akut adalah infeksi akut pada mukosa laring. Infeksi ini pada umumnya merupakan kelanjutan dari rhinitis akut atau nasofaringitis akut. kemudian parau sampai afoni (tidak ada suara sama sekali) . malaise.Istirahat.Gejala sumbatan jalan napas atas. S. PATOFISIOLOGI Laringitis akut ini sering terjadi pada anak usia di bawah 5 tahun dan sering menyebabkan sumbatan jalan napas atas. Mukosa laring tampak hipermi dan udim. Walaupun epiglotis termasuk laring. Terjadi dilatasi kapiler.Nyeri menelan atau berbicara . terutama pada anak. DIAGNOSIS .Pneumoni TERAPI .Bronkitis . .Kemudian diikuti suara membesar.5oC). interkostal. infiltrasi lekosit pada mukosa dan submukosa dengan lebih banyak sel mononuklear pada awal infeksi tetapi bila terjadi infeksi sekunder akan lebih banyak sel polimorfonuklear.Panas badan subfebril . PEMERIKSAAN FISIK . batuk dan pilek. batasan ini tidak untuk epiglotitis akut. pneumoniae. aureus dan Pneumococcus.Terapi simptomatis analgetik-antipiretik untuk panas badan dan nyeri menelan .Suara parau sampai afoni . ETIOLOGI Penyebab utama adalah: Virus Kuman penyebab infeksi sekunder: H influenzae.Didapatkan gejala panas badan (subferil: 38. khususnya istirahat bicara . dapat berupa: Sumbatan jalan napas atas .Pemeriksaan laringoskopi indirekta / direkta didapatkan * Mukosa laring dan korda voklais hiperemi dan udim * Rima glotis sempit (terutama pada anak) PENYULIT Lebih sering terjadi pada anak. S.

Koufman JA. Acute and chronic laryngeal infections. Laryngitis. bila korda vokalis udim. rima glotismenjadi lebih sempit . 2. Ed. Meyerhoff WL.Rima glotis "sempit". Ear.Kortikosteroid: deksametason 0. . simetris. Otolaryngology 3rd ed. yang timbul pada perbatasan 1/3 anterior . Stuckman JL. TERAPI . WB Saunders.1-0. RSUD Dr. I Philadelphia: JB Lippincott Company. NODUL VOKAL Sardjono Soedjak. Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. Acute inflamatory diseases of the larynx. Kalau tidak ada kemajuan dilakukan trakeotomi. 4. Siswantoro BATASAN Nodul vokal ("vocal nodule.Berikan oksigen . in: Paparella NN. Head and Neck. chorditis nodosa") adalah benjolan kecil (nodul). 1993:612-19.Stoom uap air untuk mengencerkan lendir dengan kelembaban tinggi. Pedoman diagnosis dan terapi Lab / UPF Ilmu Penyakit Telinga. bilateral. Vol. Philadelphia. London. Diseases of the Nose.3 mg/KgBB i. Fried MP. Co. Throat.Ekspektoran untuk batuk dan mengencerkan lendir . Shapiro J. 18. 3.Kortikosteroid: deksametason 0. Sri Herawati. karena: .Humidifikasi dalam ruangan yang sejuk . 1991:2245-56. 14th ed.m.Amoksisilin diberikan untuk mencegah infeksi sekunder. dingin . Soetomo Surabaya. Hidung dan Tenggorok 1994..o .Infus dan antibiotika. Feehs RS. 1991:605-15. . Head and Neck.Obat diberikan selama 5 – 10 hari Bila ada gejala sumbatan jalan napas atas: . III. Eds. Philadelphia. eds. DAFTAR PUSTAKA 1.Amoksisilin 4 x 25 mg/kgBB/hr p.o .Banyak jaringan ikat kendor pada daerah supra/subglotis. London: Lea & Febiger. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC.2 mg/kgBB/hr p. Laringittis Akut Non Spesifik Pada Anak Sering menyebabkan sumbatan jalan napas atas dan dapat berakibat fatal. .Kalau masih sesak diulang 1 jam kemudian berturut-turut sampai3 kali. Bastian RW. Shumrick DD. Toronto. In: Ballenger JJ.

Re-edukasi suara yang dilakukan oleh bina wicara selama kurang lebih 3 bulan. .Pada anak-anak.  Bila tak ada kemajuan atau nodul bertambah besar.Kista korda vokalis.Karsinoma korda vokalis stadium dini. pengerasan setempat dan akhirnya terbentuk nodul. PENATALAKSANAAN . serta akhirnya menetap. terlalu lama atau dengan nada terlalu tinggi. GEJALA KLINIK Mula-mula penderita mengeluh suara pecah pada nada tinggi. dan biasanya bilateral simetris. . CARA PEMERIKSAAN Pada pemeriksaan laringoskopia indirekta.  Bila ada kemajuan secara subyektif dan obyektif re-edukasi suara dapat diteruskan sampai suara menjadi normal kembali. . . yang merupakan pusat getaran (vibrasi) korda vokalis. Pada awalnya.Polip korda vokalis. suara parau timbul pada sore hari dan membaik keesokan harinya. gagal mempertahankan nada suara. yaitu berbicara terlalu keras.Istirahat suara 1-2 minggu. akan timbul reaksi radang yang berupa udim pada stroma di bawah epitel dan peningkatan vaskularisasi. Nodul inilah yang akan menghalangi kedua pita suara saling merapat pada waktu fonasi. sehingga akibatnya timbul parau. DIAGNOSA BANDING . Dapat terjadi pada anak-anak dan dewasa. direkta atau fiberoptic laryngoscope (FOL). PATOFISIOLOGI Nodul vokal disebabkan oleh penggunaan suara yang salah ("misuse of the voice"/"vocal abuse").dan 1/3 tengah dari bagian medial korda vokalis. karena: . tampak adanya benjolan kecil pada titik pertemuan 1/3 anterior dan 1/3 tengah dari bagian medial korda vokalis. bicara terasa cepat lelah.Kemudian dilakukan kontrol pemeriksaan laring dengan laringoskopia indirekta/direkta/FOL. Sering terjadi pada guru. tidak dilakukan operasi.Papiloma korda vokalis. Selanjutnya timbul penebalan. . Sebagai akibat terjadinya trauma mekanis ini. Lesi terjadi pada perbatasan 1/3 anterior dan 1/3 tengah dari bagian medikal korda vokalis. dilakukan ekstirpasi nodul melalui BLM dan pasca bedah segera diikuti dengan re-edukasi suara. . tidak mampu berbicara lama dan kemudian suara menjadi parau.

Pada tingkat lanjut. Rebeiz EE. tumor dapat meluas ke supraglotik dan subglotik sehingga dapat menutup jalan napas dan menimbulkan sesak napas. Siswantoro BATASAN Papiloma laring adalah tumor jinak yang pada umumnya terdapat di laring walaupun dapat juga tumbuh di trakea/bronkus dan sifatnya residif. interkostal dan supraklavikular. Throat. GEJALA KLINIK Suara parau yang progresif tetapi secara perlahan-lahan (berminggu-inggu). London. I Philadelphia: JB Lippincott Company. Shumrick DD. Kaiser TN. Stuckman JL. Spector GJ. karena vocal abuse. III. Hampir selalu terjadi kekambuhan. PAPILOMA LARING Sardjono Soedjak. Shapshay SM. Pada keadaan lanjut. 14th ed. eds. Philadelphia. Eds. 1993:630-43. In: Ballenger JJ. terjadi sumbatan jalan nafas atas dengan tanda-tanda: sesak nafas inspirasi dan retraksi pada epigastrium. Otolaryngology 3rd ed. Toronto. Meyerhoff WL. Thawley SE.  Hampir semua lesi akan menghilang waktu pubertas. WB Saunders. terutama korda vokalis. Pada dewasa sangat jarang. Sri Herawati. Head and Neck. PATOFISIOLOGI Tumor jinak ini tumbuh secara perlahan-lahan di laring. London: Lea & Febiger. 19. Tumor of the larynx and laryngopharynx. Ed. Benign lesions of the larynx In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. sehingga menyebabkan suara parau. tampak tumor kecil berdungkul-dungkul warna pucat kemerahan. DAFTAR PUSTAKA 1. Vol. 1991: 2307-70. In: Paparella NN. Cyst and tumor of the larynx. Philadelphia. Head and Neck. 2. Umumnya pada anak-anak dibawah usia 10 tahun. DIAGNOSIS BANDING Nodul vokal . CARA PEMERIKSAAN Pada pemeriksaan laring melalui laringoskopia indirekta/direkta/fiberoptic laryngoscope (FOL). Co. Ear. 1991: 682-746. Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. Diseases of the Nose. 3.

in: Paparella NN. Benign lesions of the larynx In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. 3. Meyerhoff WL. I Philadelphia: JB Lippincott Company. bertubi-tubi dan dapat . bronkus).PENATALAKSANAAN: . In: Ballenger JJ. Head and Neck. 1991: 682-746. Diseases of the Nose. Toronto. dilakukan trakeotomi. 1993:630-43. . . kecik. Co. 1991: 2307-70. Vol. sempritan mainan dll. Trakea. Siswantoro BATASAN Benda asing jalan napas adalah benda asing yang secara tidak sengaja terhirup masuk ke jalan napas (laring. Jenis benda asing: kacang. DAFTAR PUSTAKA 1. eds. PATOFISIOLOGI Sering terjadi pada anak-anak dibawah 6 tahun yang pertumbuhan gerahamnya belum terbentuk sempurna. dilakukan ekstraksi lagi melalui BLM. 20. trakea. hebat. Eds. Cyst and tumor of the larynx. London. Otolaryngology 3rd ed. . Anamnesis: . Shapshay SM. sehingga benda tersebut terhisap masuk kedalam laring/trakea/bronkus. Kaiser TN. WB Saunders. . Head and Neck.Pada awalnya timbul batuk mendadak. Ed.Kanul trakea dipakai terus sampai pertumbuhan berhenti minimal 6 bulan atau bila anak telah berusia lebih dari 8 tahun karena hampir selalu residif.Dalam keadaan sesak.Ekstraksi tumor melalui Bedah Laring Mikroskopik (BLM).Keluarga dilatih dalam perawatan kanul dan disadarkan penting kontrol secara teratur. . Bronkus) Sardjono Soedjak. 2. Shumrick DD. Spector GJ. BENDA ASING JALAN NAPAS (Laring. Masuknya benda asing ke dalam laring/trakea/bronkus terjadi ketika benda berada di dalam mulut penderita. DIAGNOSIS 1. Throat. penderita menghirup napas (inspirasi) dengan mulut terbuka (waktu tertawa atau menangis). Thawley SE. Philadelphia. Ear. Philadelphia. Sri Herawati. Stuckman JL. London: Lea & Febiger. Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. Rebeiz EE.Bila residif. Tumor of the larynx and laryngopharynx. 14th ed.Kontrol setiap 1-2 bulan secara teratur. III.

mungkin gejala tersebut di atas tidak ada.Trakeitis . Pemeriksaan fisik: . sering tidak tampak kelainan.Kadang-kadang tidak dapat ditemukan gejala yang jelas. DIAGNOSIS BANDING . terjadi bila timbul penyumbatan total pada salah satu cabang bronkus. kirim segera. .sampai biru (sianosis).Laringitis akut. .Bila benda asing berhenti pada salah satu cabang bronkus: • Gerak napas satu sisi berkurang • Suara napas satu sisi berkurang . hanya dikerjakan pada kasus-kasus tertentu. PENYULIT . di mana udara dapat masuk tetapi tidak dapat keluar. 3. Kemudian diikuti dengan fase tenang.Pada fase tenang. . tidak batuk.Atelektasis. supra sternal. • Biru (sianosis).Pneumoni .Pneumoni . Bila "lepas". .Bronkitis . bila sesak dapat dilakukan trakeotomi.X-foto dada. sebaiknya dengan ambulans dan persediaan oksigen yang cukup. karena bila masih baru dan bendanya non radio opaque. . sangat penting dalam menegakkan diagnosis.Ekstraksi benda asing melalui bronkoskopi. sebab benda asing berhenti pada salah satu cabang bronkus. Bila tidak tersedia fasilitas. Pemeriksaan tambahan: . .Emfisema. Di daerah. terjadi bila timbul check valve mechanism. dapat timbul batuk-batuk lagi.Asma bronkial: didapatkan stridor ekspiratoir.meninggalPenyumbatan total laring/trakea . wheezing.Anamnesis yang cermat.Sesak napas terjadi bila ada penyumbatan pada laring atau trakea. tampak: • Gelisah • Sesak • Stridor inspirasi • Retraksi supraklavikuler. interkostal. . epigastrial. TERAPI .Bila ada penyumbatan jalan napas atas. 2.Bronkitis .

1991: 1278-96. Head and Neck. miring ke sisi obstruksi (anak dipangku ibunya). Vol. Diseases of the Nose. Ed. BENDA ASING DALAM ESOFAGUS Sardjono Soedjak. 2nd ed. . 21. and ear. 2. dibatukkan dan mungkin dapat terjepit pada rima glotis sehingga menimbulkan penyumbatan jalan napas yang fatal. 1991:2399-428.Pada anak-anak yang tersering uang logam. I. Throat. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC.Pada dewasa/orang tua yang sering: daging.Duduk. sebab benda asing dapat "terlepas". Head and Neck. throat. III. Diseases of the nose. Shumrick DD. Eds. biasanya karena secara naluriah memasukkan segala sesuatu ke dalam mulut dan ditambah pula karena kelalaian orang tua yang meletakkan sesuatu secara sembarangan sehingga mudah dicapai anak. In: Ballenger JJ. Pada orang dewasa/orang tua.Diberikan oksigen. 1993:725-37. Caustic ingestion and foreign bodies in the aero digestive tract. . Jackson C. Jenis benda asing: . 1963:842-55. Toronto. Philadelphia. Pada anak-anak. London: WB Saunders Co. Ear. Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. Endoscopy and foreign body removal. DAFTAR PUSTAKA 1. 4. Philadelphia. gigi palsu.Jangan banyak bergerak atau menangis.Cara-cara pengiriman penderita: . Thompson JN. London. PATOFISIOLOGI Sering terjadi pada anak-anak berusia < 6 tahun. Co. London: Lea & Febiger. In: Paparella NN. Browne JD. DIAGNOSIS . Otolaryngology 3rd ed. sebagai akibat mengunyah makanan dengan kurang sempurna karena gigi geligi yang kurang baik/lengkap (memakai gigi palsu/ompong). WB Saunders. Philadelphia. 3. Meyerhoff WL. Stuckman JL. Bronchology. Snow JB. . Mohz RM. Philadelphia: JB Lippincott Company. Siswantoro BATASAN Benda asing dalam espfagus adalah terhentinya benda asing dalam esofagus. 14th ed. Sri Herawati. Jackson CL.. eds.

tenggorok. .Infeksi.Dipersiapkan esofagoskopi yang bersifat urgent dengan pembiusan umum untuk diagnosis pasti dan sekaligus ekstraksi benda asing. Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. Caustic ingestion and foreign bodies in the aerodigestive tract. nyeri dada krepitasi dan febris. Groves J. Pemeriksaan tambahan: . Browne JD. 3.Pemeriksaan X-foto: • Dibuat foto leher-toraks-abdomen AP (anak-anak) atau foto leher AP/lateral (dewasa/orang tua) bila benda asing radio-opaque.Muntah bila ada obstruksi total 2. . throat. TERAPI . Eds. Sebagian (biasanya benda asing uang logam): masih dapat minum sedikit-sedikit. McNab Jones RF. Anamnesis . 2. 1993:725-37.Tes minum: Obstruksi total (biasanya pada benda asing daging): muntah. 4th . In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. DAFTAR PUSTAKA. Foto leher ini harus dibuat sebab sebagian besar (>90%) benda asing berhenti pada daerah krikofaring (just bellow cricopharynx).Faringitis akut.Sakit/sulit waktu menelan . sepsis.Dehidrasi. nose. . • Dibuat foto esofagus dengan kontras (barium + kapas). . bila benda asing tidak radio-opaque dan kecil. In: Ballantyne J.Terasa ngganjel pada tenggorok . I.Lesi esofagus. Thompson JN. dengan tanda-tanda: pendarahan. Pemeriksaan fisik: . Scott-Brown's diseases of the ear. tidak perlu dibuat foto. 1.1. eds.Esofagitis. Philadelphia: JB Lippincott Company. terutama pada penderita diabetes melitus. tak ditemukan kelainan yang khas. hidung. DIAGNOSIS BANDING . Foreign bodies in esophagus. PENYULIT .Tertelan sesuatu . . • Untuk benda asing daging.Pada pemeriksaan telinga.Perforasi esofagus.

padat kenyal. . . Otolaryngology 3rd ed. perluasan ke arah lateral menuju ke fossa spenopalatina masuk ke fisura pterigomaksilaris dan akan mendesak dinding belakang sinus maksila. PATOFISIOLOGI Penyebab terjadinya angiofibroma nasofaring juvenilis (ANJ) masih belum jelas. . Secara makroskopis ANJ berupa tumor berbentuk oval / bulat.Ke lateral menutup tuba Eustachius menyebabkan otitis media. 1979:237-43. dimana pembuluh darah tersebut berdinding tipis tanpa lapisan otot. Meyerhoff WL. London: Lea & Febiger. Perluasan ke intrakranial biasa terjadi melalui intra temporalis atau fissura pterigomaksila menuju ke fosa media. Stuckman JL. III. 1991: 1297-321. Ed. ANGIOFIBROMA NASOFARING JUVENILIS Mulyarjo. Head and Neck. Endoscopy and foreign body removal. Esophagology. 22. London. Bakti Soerarso BATASAN Suatu tumor pembuluh darah yang berasal dari dinding posterolateral nasofaring. Head and Neck.ed. Gambaran mikroskopis terbentuk dari pembuluh darah dan jaringan ikat fibrous. Secara hispatologi jinak. The pharynx and larynx. GEJALA KLINIS .. Philadelphia. 14th ed.Mendesak dorsum nasi menimbulkan frog face. eds. Vol IV. Pada awalnya tumor tumbuh pada mukosa bagian postero lateral nasofaring. . Toronto. Diseases of the Nose. dengan masuk ke rongga hidung menimbulkan buntu hidung unilateral/bilateral. Throat. Ear. Widodo Ario Kentjono. Haryono Kusuma. sedangkan bila melalui sinus ethmoid menuju fosa anterior. bila berkembang akan memasuki fossa intra temporalis sehingga terjadi benjolan di pipi. . Philadelphia. 4. Snow JB.Gejala akibat tumor yang progresif ke anterior. Co. berwarna merah ke abu-abuan atau merah keunguan. fossa temporalis timbul benjolan di pipi. WB Saunders. London: Butterwoths. namun secara klinis ganas karena mempunyai sifat ekspansi kuat dan progresif sehingga menekan tulang dan jaringan sekitarnya. diduga terbentuknya berkaitan dengan ketidakseimbangan hormonal. bila perluasan ke arah depan membentuk tonjolan ke rongga hidung. Vol. . 3.Bila masuk ke fisura pterigomaksilaris. Shumrick DD.Masuk ke orbita menimubulkan protusio bulbi. In: Ballenger JJ.Gejala khas adalah adnya epistaksis yang hebat dan berulang karena tumor kaya pembuluh darah. 1991:2399-428. In: Paparella NN. Mohz RM.

Polip koanal: permukaan rata. Biopsi tidak dianjurkan mengingat bahaya pendarahan. Untuk menentukan derajat perluasan tumor: T1 = Terbatas di nasofaring. DIAGNOSIS 1. Operatif. menyebabkan bombans. 3. fosa pterigomaksilaris. T4 = Tumor meluas ke intra cranial. Anamnesis: .Sering epistaksis.Perlu dilakukan CT-Scan untuk melihat perluasan tumor pada tumor yang besar. . Pemeriksaan tambahan: . . Radiasi  Untuk tumor yang besar (T4) atau untuk tumor yang residif.Inspeksi: tampak mata menonjol dan bentuk muka frog face.Gejala-gejala yang berhubungan dengan pertumbuhan tumor. dengan pendekatan  Ekstraksi melalui mulut dengan kabel. tak ada keluhan epistaksis. Fenomena palatum mole negatif. . posisi di tengah.Foto Water's dan tengkorak lateral untuk mengetahui perluasan tumor. 2. DIAGNOSIS BANDING . 2. sehingga diagnosa angiofibroma nasofaring juvenilis dapat ditegakkan secara klinis. Hormonal .Rinoskopi anterior: Didapatkan tumor di bagian posterior rongga hidung . Sering disertai pembesaran kelenjar leher.Laki-laki.Perluasan ke superior: mendesak dasar tengkorak dan masuk ke rongga tengkorak mendesak otak.  Transpalatal. usia muda (pubertas). T2 = Tumor meluas ke rongga hidung atau ke sinus sfenoid.. fosa intra temporal. orbita dan atau pipi. . .Rinoskpoi posterior: tampak tumor di nasofaring yang berwarna merah keunguan.  Mid facial degloving.Ke inferior: mendesak palatum mole.Adenoid: permukaan tak rata. T3 = Tumor meluas ke satu atau lebih jaringan sekitar a. 3.: Antrum. . sisa tumor setelah operasi. (khusus tumor yang bertangkai). Pemeriksaan fisik: . .l.Karsinoma nasofaring: usia 30-50 tahun. etmoid. . TERAPI 1. pucat mengkilap.  Rinotomi lateral. .Angiografi untuk melihat vaskularisasi tumor. dan bila masuk ke orofaring menyebabkan gangguan menelan dan sesak nafas.

progresif. Pemberian hormon estrogen. In Paparella MM. Co. sedikit demi sedikit. 1991:294-28 2. ear. Philadelphia. 1399-400. KARSINOMA LARING Mulyarjo.B. Sevine TM. throat. Haryono Kusuma. Suara parau pada orang tua lebih dari 2 minggu perlu pemeriksaan laring yang seksama. Gejala lanjut: sesak napas dan stridor inspirasi.Pemeriksaan THT: pada laringoskopi indirekta (LI) dan laringoskopi direkta (LD) atau laringoskopi serat optik(LSO) dapat diketahui adanya tumor di laring. Tumours of the nose and paranasal sinuses. 24. Merupakan 2. The Nasopharynx. Krespi JP. Anamnesis: Gejala dini: suara parau. bertujuan untuk mengecilkan tumor dan mengurangi risiko pendarahan sehingga pembedahan lebih mudah dilakukan DAFTAR PUSTAKA 1. Lippincot Co. Philadelphia. 2. ETIOLOGI Diperkirakan rokok dan alkohol berpengaruh besar terhadap timbulnya karsinoma laring. In: Ballenger JJ. London Toronto Montreal Sydney Tokyo. Shumrick DA. Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. Meyerhoff WL. DIAGNOSIS 1. laring dan tiroid. Gluckman JL. II J. 1993. Kesulitan menelan terjadi pada tumor supraglotik. Diseases of the nose. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. . 3. 3rd ed. Ballenger JJ. Pembesaran kelenjar leher (kadang-kadang). laki-laki lebih banyak daripada wanita dengan perbandingan 10:1. Maves MD.Pemeriksaan leher: • Inspeksi: teutama untuk melihat pembesaran kelenjar leher. Widodo Ario Kentjono. 14th ed Lea & Febiger Philadelphia London. Pemeriksaan fisik: . Vascular tumors of the head and neck. glotik. Umum tersering 40-50 tahun. Bakti Soerarso BATASAN Karsinoma yang mengenai laring (supraglotik. Eds. subglotik).5% keganasan daerah kepala dan leher. 11. atau apabila tumor sudah meluas ke faring atau esofagus. head and neck. 1991:1935-58. Otolaryngology WB Saunders. .

M1 = Metastasis jauh.X-foto leher AP dan Lateral (jaringan lunak). . Stadium I T1 N0 M0 Stadium II T2 N0 M0 Stadium III T3 N0 M0 T1-3 N1 M0 Stadium IV T4 N0 M0 T1-4 N2-3 M0 T1-4 N0-3 M0 T1-4 N0-3 M1 DIAGNOSIS BANDING Tuberkulosis laring . dengan fiksasi korda vokalis. mengenai orofaring.• Palpasi: untuk memeriksa pembesaran pada membran krikotiroid atau tirohioid. gerakan normal. LD. tanpa fiksasi. T3 = Tumor terbatas pada laring. T3 = Tumor masih terbatas di laring dengan fiksasi dan/atau ekstensi tumor ke pos-krikoid. atau sedikit terganggu. T4 = Tumor masif dengan kerusakan pada tulang rawan atau ekstensi keluar laring. jaringan lunak leher. atau melalui bedah laring mikroskopik (BLM). PENENTUAN STADIUM Tumor supraglotik T1 = Tumor terbatas di supraglotik. gerakan pita suara normal. T2 = Tumor keluar dari supraglotik. Tumor glotik T1 = Tumor terbatas di korda vokalis.Tomogram laring atau CT Scan (bila tersedia fasilitas). atau merusak tulang rawan tiroid. yang merupakan tanda ekstensi tumor ke ekstra laringeal. T3 = Tumor terbatas di laring dengan fiksasi korda vokalis. T2 = Mengenai korda vokalis dengan gerakan normal atau sedikit terganggu. T4 = Tumor sudah keluar laring. Infiltrasi tumor ke kelenjar tiroid menyebabkan tiroid membesar dan keras. Memeriksa ada tidaknya pembesaran kelenjar getah bening leher. M0 = Belum ada metastasis jauh. Biopsi: Biopsi dilakukan dengan LI. T2 = Ekstensi ke supraglotik/subglotik dengan gerakan normal. Pemeriksaan tambahan: Pemeriksaan radiologik: . sinus piriformis atau daerah epiglotis. 3. T4 = Tumor masif dengan kerusakan tulang rawan tiroid dan/atau ekstensi keluar laring. Tumor subglotik T1 = Tumor terbatas di daerah subglotik.

In: Calabresi P. Stadium III: dengan/tanpa N1: LT dengan/tanpa DLF/DLR. 1991: 2307-70. Bakti Soerarso . Advance cancer of the larynx. Vol. Head and Neck. diikuti radiasi. Pembedahan: . Toronto.Laringektomi total (LT) Dapat dikombinasi dengan:  Deseksi leher fungsional (DLF). Stadium II : LP/LT. Inc. bila gagal. Ear.Laringektomi parsial (LP . Haryono Kusuma.  Deseksi leher radikal (DLR). Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. Eds. Philadelphia. Otolaryngology 3rd ed. Spector GJ. Medical Oncology. Head and Neck. III. Philadelphia. Widodo Ario Kentjono. London. 2. I2307-70n: Paparella NN. polip). Cyst and tumours of the larynx. Throat. Kaiser TN. Nodul vokal. Radioterapi dan kemoterapi: Stadium I : Radiasi. 3. Diseases of the Nose. DeSanto LW. Lane M. I Philadelphia: JB Lippincott Company. Ed. In: Ballenger JJ. DAFTAR PUSTAKA 1. Meyerhoff WL. 1993:1334-46. Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. diteruskan dengan tindakan pembedahan (LP/LT). London: Lea & Febiger.Tumor jinak laring (papiloma. Donovan DT. Schein PS. kista. eds. WB Saunders. Thawley SE. Shumrick DD. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. Neoplasms of the head and neck. Fried MP. 1993:1347-60. Eds. Tumor of the larynx and laryngopharynx. 1993:565-92. Co. Eds. Supraglottic laryngectomy. 1991: 682-746. 23. 14th ed. I Philadelphia: JB Lippincott Company. TERAPI Trakeotomi: Dilakukan pada penderita yang mengalami sesak napas. Stadium IV: tanpa N/M: LT + DLF diikuti radiasi Stadium IV lainnya: radioterapi dan kemoterapi. Stuckman JL. 4. KARSINOMA NASOFARING Mulyarjo. 2nd ed New York: Mc Graw Hill. 5. Girdhar-Gopal HV.

Lebih radiosensitif.BATASAN Karsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang berasal dari epitel mukosa nasofaring atau kelenjar yang terdapat di nasofaring.Karsinoma tanpa diferensiasi (KTD). . varian sel spindel. . karsinoma anaplastik. Banyak ditemukan pada usia 40-50 tahun. prognosis lebih baik. . Tipe WHO 2: . . Indonesia Cina Tipe WHO 1 29% 35% 2 14% 23% 3 57% 42% .Termasuk disini karsinoma sel skuamosa (KSS). ada tiga faktor yang berpengaruh.Klasifikasi TNM .Faktor lingkungan (polusi asap kayu bakar. ETIOLOGI Penyebab timbulnya karsinoma nasofaring masih belum jelas. . bahan karsinogenik.Paling banyak variasinya. Namun banyak yang berpendapat bahwa berdasarkan penelitian-penelitian epidiomologik dan eksperimental. Tipe WHO 1: .Faktor virus (virus EIPSTEIN BARR) . Tipe WHO 3: .Termasuk disini karsinoma non keratinisasi (KNK). yakni: . HISTOPATOLOGI Klasifikasi histopatologi menurut WHO (1982).Sering eksofitik (tumbuh di permukaan). dll). .Menyerupai karsinoma transisional.Diferensiasi baik sampai sedang. clear cell carcinoma. laki-laki lebih banyak daripada wanita dengan perbandingan 3:1.Faktor genetik (ras mongolid) .Termasuk disini antara lain: limfoepitelioma.

hipofaring atau orbita N menggambarkan keadaan kelenjar limfe regional N0 : Tidak ada pembesaran kelenjar N1 : Terdapat pembesaran kelenjar ipsilateral < 6cm. oftalmoplegi. M0 Stadium IVB : Tiap T. i) Telinga: tinitus. N2 : Terdapat pembesaran kelenjar bilateral < 6 cm N3 : Terdapat pembesaran kelenjar > 6cm atau ekstensi ke supraklavikular. N0-2. iniltratif.Ekspansif  Ke muka: menyumbat koane. M0 Stadium IVC : Tiap T. M0 : Tidak ada metastasis jauh M1 : Terdapat mertastasis jauh Berdasarkan TNM tersebut diatas. pendengaran berkurang. M0. X: paresis palatum mole. M1 GEJALA KLINIK 1 Gejala dini: merupakan gejala pada saat tumor masih terbatas pada nasofaring. 2 Gejala lanjut: merupakan gejala yang timbul oleh penyebaran tumor secara ekspansif. Stadium IVA : T4. ii) Hidung: pilek lronik. Tiap N. M0. atau T3. menyebabkan sakit kepala. Terjadi gangguan menelan/sesak. ingus/dahak bercampur darah. T2a : tanpa perluasan ke parafaring T2b : dengan perluasan ke parafaring T3 : Invasi ke struktur tulang dan/atau sinus paranasal. paresis/paralisis N III. M0. N0. fosa infratemporal. N1. neuralgi trigeminal). . T1 : Tumor terbatas pada nasofaring T2 : Tumor meluas ke orofaring dan/atau fosa nasal. M0 Stadium IIB : T1. faring. N3. T4 : Tumor meluas ke intrakranial dan/atau mengenai saraf otak. . VI secara sendiri atau bersama-sama. V.T menggambarkan keadaan tumor primer. stadium penyakit dapat ditentukan : Stadium I : T1.  Ke samping:  Menekan N IX. atau T2b. M0 Stadium III : T1-2. besar dan perluasannya. gangguan menelan. M0. menyebabkan gangguan pada mata (ptosis. N0. terjadi buntu hidung. N0-1. M0 Stadium IIA : T2a. N0-2. M menggambarkan metastasis jauh. IV. diplopi. grebek-grebek. dan metastasis. T2a.Iniltratif  Ke atas: masuk ke foramen laserum. . N2. N1.  Ke bawah: mendesak palatum mole("bombans").

mukosa nasofaring tampak agak menonjol. ginjal.  Menekan N XII: deviasi lidah. bila perlu dengan bantuan cermin melalui rinoskopi posterior. biopsi dapat diulangi dengan anestesi umum.Faringoskopi dan Laringoskopi: Kadang-kadang faring menyempit karena penebalan jaringan retrofaring. .  Pemeriksaan THT . Menekan N XI: gangguan fungsi otot sternokleido-mastoideus dan otot trapezius. Refleks muntah dapat menghilang (negatif). (kaudal dari ujung mastoid. Biopsi minimal dilakukan pada dua tempat (kiri dan kanan).Pemeriksaan tambahan  Biopsi: Biopsi sedapat mungkin diarahkan pada tumor/daerah yang dicurigai. menyebabkan pembesaran kelenjar getah bening leher. fenomena palatum mole negatif. mata. Bila perlu rinoskopi posterior dilakukan dengan menarik palatum mole ke depan dengan kateter Nelaton. Bila tiga kali biopsi hasil negatif. leher.Rinoskopi Posterior: Pada tumor endofitik tak terlihat masa.Otoskopi: liang telinga. mungkin hanya banyak sekret. tampak tumor di bagian belakang ringga hidung. .Pemeriksaan fisik:  Inspeksi luar: wajah.dan lengkap. melalui rinoskopi anterior. Dilakukan dengan anestesi lokal. tulang dan sebagainya. DIAGNOSIS . Tumor eksofitik tampak masa kemerahan. membran timpani. Biopsi melalui nasofaringoskopi dilakukan bila penderita trismus.Metastasis  Melalui aliran getah bening. Biopsi kelenjar getah bening leher dengan aspirasi jarum halus dilakukan untuk konfirmasi. Pada tumor eksofitik. . atau keadaan umum kurang baik. . Bila perlu biopsi dapat diulang sampai tiga kali. .Anamnesis yang cermat. . . rongga mulut. limpa. medial dari otot sternokleiodo-mastoideus). dorsal dari angulus mandibula. tak rata dan vaskularisasi meningkat. tertutup sekret mukopurulen. paru.  Metastasis jauh ke: hati.Rinoskopi anterior: Pada tumor endofitik tak jelas kelainan di rongga hidung. Dapat dijumpai kelainan fungsi laring. sedang secara klinis mencurigakan adanya karsinoma nasofaring.

17:8-10. Nasopharyngeal Carcinoma. prognosis biasanya jelek. Nasopharyngeal carcinoma: Mode of presentation. Dapat dilakukan CT-scan untuk konfirmasi. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC. Eds. Setelah dosis radiasi penuh. Slavit DH. Clinical evaluation staging system for nasopharyngeal carcinoma: comparison of fourth and fifth editions of UICC TNM classification.Adenoid persisten (pada anak) . Pathmanathan R. Skinner DW. In: Chong VFH and Tsao SY. PROGNOSIS Karena umumnya penderita datang pada stadium III/IV. Eds. I Philadelphia: JB Lippincott Company.Angiofibroma nasofaring juvenilis (pada laki-laki muda). . Pathology. Bila tetap negatif. dan biopsi. Ann Otol Rhinol Laryngol 1991. seterusnya setiap tahun sampai 5 tahun. Clinical presentation and diagnosis. 2. Fong KW. Current status of combination chemotherapy and radiotherapy in the treatment of advanced nasopharyngeal carcinoma. Stanley RE. Medical Progress 2000. Head and Neck Surgery – Otolaryngology Vol. DIAGNOSIS BANDING . 1993:1257-73. Tamori AT. biopsi tetap positif diberikan kemoterapi.100:544-51. Singapore: Armour Publishimg Pte Ltd 1997:6-13 6. Neel III HB. In: Chong VFH and Tsao SY.TBC nasofaring .109:1125-9. Untuk melihat perluasan tumor serta untuk kepentingan pemberian radiasi. Singapore: Armour Publishimg Pte Ltd 1997:29-41 . 3. Tsao SY. Furukawa M. 4. radiasi ditambah (booster). pada tahun kedua pemeriksaan ulang dilakuakn setiap 3 bulankemudianpada tahun ketiga setiap 6 bulan. Van Hasselt CA.Terapi utama: radiasi (4000-6000 R). Bila hasil biopsi negatif dan klinis membaik. TERAPI . DAFTAR PUSTAKA 1. Miwa T. dilakukan pemeriksaan fisik serta biopsi ulang setiap bulan (pada tahun pertama).Terapi ad juvan: kemoterapi Empat minggu setelah radiasi selesai dilakukan evaluasi klinis. Nasopharyngeal Cancer. Prasad U. Nasopharyngeal Carcinoma. Yoshizaki T. X-foto: "CT scan". Bila hasil biopsi positif. Eds. 5. Ann Otol Rhinol Laryngol 2000.

-Shigenoi Haruki .