PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN SISWA MELALUI KOPSIS SEKOLAH

January 13, 2009 by drarifin

3 Votes Oleh: Dr. Arifin, M.Si. *) I. PENDAHULUAN Pada era sekarang dan yang akan datang, paradigma layanan pendidikan harus berubah dari paradigma teacher center menuju child centered; dari paradigma subject mathod curriculum menuju competence base curriculum; dan dari paradigma exclusive segregative educational menuju inclusive education process (Arifin, 2007). Jadi, seluruh proses layanan pendidikan di setiap satuan pendidikan harus diorientasikan pada pemberdayaan siswa sesuai dengan keberagam potensinya masing-masing. Salah satu bagian kunci dalam proses layanan pendidikan anak atau proses pembelajaran siswa di sekolah adalah ‘membentuk karakter atau sikap mental positif’ siswa, karena terbentuknya sikap mental positif akan mampu mengantarkan setiap individu untuk meraih kesuksesan (Koentjaraningrat, 1982). Ada beberapa rujukan teoritis tentang urgensinya pendidikan sikap mental manusia dalam proses pembangunan, yaitu: (a) teori n-Ach (the need for Achievement), oleh David Mc Clelland. Inti pandangan teori ini adalah ‘setiap individu yang selalu membangun prinsip sepanjang usia hidupnya harus terus berkarya dan berprestasi akan meraih banyak kesuksesan’. Berkarya adalah kebutuhan dasar dalam hidup; (b) Teori Mentalitas Manusia Modern, oleh Alex Inkels dan D.H. Smith. Salah satu ciri mentalitas modern adalah ‘terbuka, berorientasi ke depan dan kompetitif serta inovatif (Budiman, 1995); dan (c) teori Kepribadian Inovatif, oleh Max Weber dan E. Hagen. Salah satu ciri kepribadian inovatif adalah ‘selalu ingin tahu dan meneliti, mengambil tanggung jawab pribadi yang tinggi, terbuka dan tolerir, memaklumi heterogenitas dan selalu mendorong kreativitas dan inovasi di berbagai bidang’ (Sztompka,1993). Berdasarkan ketiga teori tersebut, menunjukkan aspek mentalitas manusia adalah faktor kunci dalam meraih kesuksesan hidup. Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0461/ U/ 1984, tentang Pola Pembinaan dan Pengembangan Kesiswaan dijelaskan bahwa, dua dari delapan materi pembinaan kesiswaan adalah: (a) pembinaan kepribadian

Menumbuhkan sikap berbangsa dan bernegara dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. (b) Pembina OSIS adalah Kepala Sekolah. (c) Pemimpin siswa adalah pengusus OSIS yang dipilih oleh para siswa di sekolah dan kursus untuk jangka waktu tertentu dan mendapat pengesahan dari Kepala Sekolah yang bersangkutan. Peningkatan apresiasi dan penghayatan seni budaya. SMP. Berdasarkan konsep-konsep dasar tentang OSIS dan materi pembinaan kesiswaan tersebut. Melatih siswa dalam berorganisasi dengan baik. (f) Sekbid ketrampilan dan kewirausahaan. SMA/SMK dan kursus-kursus). maka proses pembinaan yang bisa dilakukan oleh Kepala sekolah dan Guru terhadap siswa dalam wadah OSIS adalah menyangkut ‘delapan bidang’ tersebut secara integral. bagaimana cara yang dapat ditempuh dalam menumbuhkan sikap mental wirausaha siswa di sekolah melalui lembaga Kopsis sekolah?. Sebenarnya banyak aspek yang bisa dikaji dalam membahas tentang peran Kopsis bagi siswa. pendidikan politik dan kepemimpinan. (c) Sekbid pendidikan pendahuluan bela negara. Pada Bab IV pasal 4 Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 0461/ U/ 1984 dirumuskan. bahwa materi pembinaan kesiswaan meliputi delapan aspek atau bidang. Sebelum menjelaskan tentang pentingnya layanan pendidikan kewirausahaan bagi siswa melalui Kopsis sekolah. (e) Sekbid berorganisasi. (d) Sekbid kepribadian dan budi pekerti luhur. maka makalah atau . 1985). Memantapkan kegiatan ekstra kurikuler dalam menunjang pencapaian kurikulum pada satuan pendidikan. dan (h) Sekbid persepsi. II. Persoalan yang muncul adalah. namun karena keterbatasan ruang dan waktu. antara lain: (a) OSIS adalah singkatan dari Organisasi Siswa Intra Sekolah. Jadi. yaitu: (a) Sekbid ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. OSIS merupakan satusatunya wadah organisasi siswa di sekolah dan kursus. dan tidak ada hubungan organisatoris dengan OSIS di sekolah atau kursus yang lain (Departemen P dan K. maka fokus kajian hanya pada aspek peran Kopsis dalam pendidikan sikap mental kewirausahaan siswa. (g) Sekbid kesegaran jasamani dan daya kreasi. Persoalan inilah yang menjadi fokus kajian dalam makalah ini. PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN SISWA MELALUI KOPSIS SEKOLAH. Salah satu cara dalam membina siswa pada aspek ketrampilan dan kewirausahaan adalah setiap satuan pendidikan harus ada Koperasi Siswa (Kopsis). (b) Sekbid kehidupan berbangsa dan bernegara. 1985). 1985). Hanya karena keterbatasan ruang dan waktu (space and time). dan Meningkatkan kesehatan jasmani-rohani siswa (Departemen P dan K. di lingkungan pembinaan Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah (SD. guru dan tenaga kependidikan yang bertanggung jawab terhadap pembinaan dan pengembangan OSIS di sekolah dan kursus tersebut. terlebih dahulu perlu diingat kembali beberapa konsep dasar tentang OSIS pada satuan pendidikan.dan budi pekerti luhur. dan (b) pembinaan ketrampilan dan kewirausahaan siswa. yang kemudian dalam tataran operasional diwujudkan dalam bentuk delapan Sekretaris Bidang (Sekbid). Meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. apresiasi dan kreasi seni (Departemen P dan K. dan (d) Tujuan khusus dibentuknya OSIS adalah: Meningkatkan peran siswa untuk menjaga dan membina sekolah sebagai wiyatamandala.

dan (b) melatih dan mendidik siswa dalam memanajemen Kopsis. dan (d) memiliki ketrampilan atau kecapakan untuk berwirausaha. (c) masih banyak terjadi proses pembelajaran yang bersifat guru sentris. dan betul-betul berperan sebagai tempat praktik dan latihan bagi siswa dalam membangun dan mengembangkan sikap mental kewirausahaannya. artinya pada kurikulum sekarang ini (berbasis kompetensi dan KTSP). (c) memiliki kepekaan terhadap arti lingkungan. dan (3) kelemahan dari pada aspek pengembangan kurikulum. Paling tidak ada tujuh konsep penting yang perlu diperhatikan oleh pembina OSIS dalam proses membimbing atau melatih siswa untuk mengembangkan potensi kewirausahaan di lingkungan sekolah. yaitu dengan sistem pembelajaran secara klasikal cenderung guru mengalami kesulitan dalam pemberian kayanan pendidikan kepada siswa sesuai dengan minat dan kemampuan serta bakat masing-masing siswa secara maksimal. khususnya dalam memberikan layanan terbaik terhadap beragam kebutuhan siswa berkaitan dengan kelancaran proses pembelajaran di sekolah. yang sangat dibutuhkan siswa dalam proses hidupnya kedepan.kajian ini lebih menekankan pada aspek kewirausahaan yang terimplementasikan pada pengembangan Koperasi siswa (Kopsis) di setiap satuan pendidikan. (2) kelemahan pada aspek pengorganisasian pengalaman belajar siswa. aspek kewirausahaan . yang diawali dengan hal-hal yang kecil namun dengan perencanaan yang baik. maka pengelolaan atau manajemen Kopsis sekolah harus dilakukan dengan sebaikbaiknya. yaitu: (1) kelemahan pada aspek proses pembelajaran di kelas. diantara faktor penyebabnya adalah masih ada beberapa kelemahan yang dapat dijumpai dalam pelaksanaan layanan pendidikan di setiap satuan pendidikan. antara lain: Pertama. tetapi juga harus mampu ‘melatih dan mendidik siswa dalam mengembangkan potensi kewirausahaan’. antara lain: (a) aktivitas belajar siswa di sekolah masih kurang maksimal dalam memberdayakan potensi dirinya. Agar keberadaan Koperasi Siswa (Kopsis) di setiap satuan pendidikan mempunyai peran penting dalam proses pendidikan kewirausahaan siswa. Kekuatan untuk membangun keempat aspek tersebut sangat ditentukan oleh kondisi pembelajaran budaya yang telah berlangsung dalam lingkungan keluarga siswa. pada hakikatnya peranan sekolah dalam membangun sikap mental berwirausaha siswa adalah sangat sentral. hakikat Kopsis di sekolah bukan hanya semata-mata menyediakan berbagai sarana dan kebutuhan material yang diperlukan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu. (b) memiliki sikap mental untuk berwirausaha. Diantara fungsi keberadaan Kopsis di setiap satuan pendidikan bagi siswa antara lain: (a) melatih dan mendidik siswa dalam mengembangkan potensi kewirausahaan sesuai dengan tingkat minat dan potensi yang dimiliki siswa. Diantara sikap mental manusia atau peserta didik untuk sanggup berwirausaha adalah mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (a) memiliki moral atau motivasi tinggi untuk berprestasi dan berkarya sepanjang usia hidupnya (need for achievement). minat dan bakat yang dimiliki siswa secara beragam. Urgensi pengembangan potensi wirausaha siswa inilah yang menjadi fokus kajian dalam makalah ini. Peranan sekolah tersebut dalam realitasnya masih belum terberdayakan secara maksimal. (b) proses layanan pembelajaran di kelas belum secara maksimal dalam memenuhi kebutuhan.

dekorasi. jahit menjahit. (2) melakukan berbagai jenis kegiatan di sekolah yang mengarah pada pembinaan kewirausahaan siswa. beberapa yang perlu dibenahi adalah: (a) meningkatkan kompetensi guru dan mentalitas inovatif guru. internet dan alat ketrampilan lainnya. menyenangkan dan inovatif. dan (f) laboratorium (Departemen P dan K. antara lain: (a) alat-alat pelajaran berupa buku. 1985) Ketiga. (b) pembenahan sistem pembelajaran yang didesain dalam bentuk ’siswa aktif. Dalam rangka membangkitkan dan menumbuhkan minat siswa terhadap kegiatan kewirausahaan antara lain: (a) penulisan cerita tentang tokoh wirausaha yang berhasil. dan (3) kelemahan pada aspek sarana dan prasarana yang ada di sekolah yang masih terbatas. antara lain: (1) pembenahan pada proses pembelajaran yang mengunakan pendekatan atau model pembelajaran aktif. (d) kunjungan ke tempat-tempat perusahaan atau industri. (4) melaksanakan penataran guru dan tenaga pembina kewirausahaan sampai mencapai suatu jumlah dan mutu yang memadai. audio visual. sikap mental inovatif. kepekaan sosial. kreatif. strategi pengembangan dan pembinaan kewirausahaan siswa harus dilakukan secara bertahap melalui usaha-usaha sebagai berikut: (1) penyebarluasan konsep pembinaan kewirausahaan bagi siswa di setiap satuan pendidikan. (b) koperasi siswa/ sekolah. Dalam rangka menumbuhkan dan meningkatkan ketrampilan ber wirausaha antara lain: (a) praktik ketrampilan seni menjual.siswa belum diintrodosir dan dikembangkan secara maksimal di setiap satuan pendidikan secara intergal dan berjenjang. (c) pembenahan dalam sarana pembelajaran di kelas yang berbasis teknologi yang menunjang pembentukan mentalitas kewirausahaan. Sedangkan pengadaan sarana penunjang pengembangan dan pembinaan kewirausahaan siswa di sekolah adalah: (a) ruang ketrampilan. dan (5) mengembangkan program lembaga pendidikan tenaga kependidikan dengan paket kewirausahaan siswa. kreatif dan inovatif’. radio dan pementasan. 3. (d) menanamkan konsep pada siswa tentang ’siswa berprestasi’ adalah siswa yang mampu mencapai ketuntasan belajar dan mempunyai kualitas pada aspek: moral. (3) pendayagunaan tenaga pembina kewirausahaan yang meliputi tenaga-tenaga yang ada di sekolah atau di luar sekolah. (b) praktek kerja nyata. Dalam rangka menumbuhkan dan meningkatkan sikap mental berwirausaha. (c) fragmen dan wawancara tentang kewirausahaan melalui televisi. masak memasak. rasa tanggung jawab dalam menyelesaikan problem. (c) kebun sekolah. Ada beberapa jenis kegiatan yang dapat dilakukan oleh pembina OSIS atau guru dalam rangka mencapai tujuan pembinaan kewirausahaan siswa sebagai berikut: 1. Kedua. servis dsb. (b) koperasi siswa (kopsis). komputer. (b) lomba baca dan tulis puisi tentang semangat kewirausahaan. efektif. (c) bursa atau pameran buku. Untuk bisa menunjang proses pembelajaran tersebut. (d) ruang kesenian. berkebun. (c) tabungan siswa untuk . (e) ruang perpustakaan. (2) melaksanakan dan mengembangkan program pembinaan kewirausahaan. pertanaman. dan (e) ceramah dan diskusi tokoh wirausaha yang berhasil di sekolah. (d) melaksanakan berbagai lomba karya siswa. 2. berternak. strategi mempersiapkan siswa mempunyai sikap mental berwirausaha melalui proses pembelajaran di kelas. ketrampilan berwirausaha.

Isi dan ruang lingkup kajian (materi pembelajaran) disusun sedemikian rupa sesuai dengan jenjang pendidikan peserta didik. Dalam rangka mengembangkan daya pikir dan bertindak kreatif dan produktif. 4. bukan mengharap keridhaan dari sesamanya. Contoh isi pengembangan kuirikulum kewirausahaan di setiap jenjan pendidikan: (1) jenjang pendidikan TK dan sekolah dasar. Mampu mengenal dan mehami keberagaman hidup. penguasaan bahasa asing. mengenal pasar dan calon pembeli. Keempat. membuat buku catatan harian. menghargai waktu. (e) sikap mental untuk menggerakkan diri. misalnya pembukuan. menghormati harkat dan martabat orang lain. Tidak terlalu banyak merubah sistem pengajaran yang telah berjalan. pandai bergaul atau menjalin komunikasi dengan sesamanya. isi kurikulum kewirausahaan menyangkut: (a) aspek keimanan. menolak pemberian tanpa suatu karya dsb. (f) mengenal risiko. anggaran dan rencana. (e) kemah dan bakti sosial. menjunjung tinggi kejujuran. asuransi. Beberapa alternatif yang dapat dilakukan dalam mengembakan kurikulum wirausaha antara lain: (a) mengembangkan satu bidang studi tentang wirausaha. pembentukan modal dan berhemat.kepentingan pembelajaran berwirausaha. (2) jenjang pendidikan sekolah menengah. (c) penulisan buku-buku rujukan tentang kewirausahaan. (f) menyusun perencanaan melalui pembuatan proyek proposal kegiatan siswa. (d) membangun skap mental keutamaan hasil karya melalui kerjasama. pembenahan pada kurikulum pendidikan formal. Kelima. kesediaan untuk berusaha mencapai keberhasilan. (b) penyiapan kurikulum kewirausahaan ke dalam bentuk aktivitas pembelajaran secara periodik. misalnya mengenal untungrugi. antara lain: (a) lomba karya tulis siswa tentang kewirausahaan. (h) mengenal dasar-dasar manajemen. misalnya risiko konflik. melakukan sesuatu karya dengan hati nurani. Disajikan mengikuti pola pengajaran bidang studi yang ada. pengetahuan tentang hukum. (c) cerita dan nyanyian kewirausahaan. risiko dan persaingan. misalnya : melatih belajar mandiri. peningkatan biaya. siap mencoba berusaha di berbagai bidang. yang meliputi: Kegairahan dalam hidup. diantara pendidikan watak kewirausahaan yang harus dibangun pada diri setiap siswa oleh guru. salesmanship. (d) penataran tenaga instruktur kewirausahaan. (e) diadakan forum wirausaha dari siswa dan untuk siswa. (b) lomba cipta alat produksi. dan (g) melaksanakan studi kelayakan. (c) daya pikir kreatif. empati. pikiran kreatif. isi kurikulumnya menyangkut: (a) cerita kewirausahaan di kalangan hewan. dan gambar atau framen tentang kewirausahaan. survei dan penelitian tentang kewirausahaan. misalnya: keyakinan diri kuat akan keberhasilan usahanya. (b) sikap mental dan kebiasaaan sehari-hari untuk berkarya. risiko inisiatif. artinya kurikulum pendidikan di setiap satuan pendidikan harus memasukkan unsur pendidikan wirausaha pada siswa dengan baik. ulet dan tekun. jiwa dan semangat untuk berkarya atau berjuang demi mengharap ridha Tuhan. mengenal barang dan jasa sendiri. baik pada kegiatan proses pembelajaran maupun dalam . (b) cerita perjalanan petualangan penemuan hal-hal yang baru. (i) ketrampilan dalam berwirausaha. (d) melalui media siswa (warta siswa) dikomunikasikan gemar berwirausaha. mencari kawan berniaga. (g) kemampuan meyakinkan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara. misalnya: sikap mental selalu tidak pus (ingin maju). perbankkan dsb..

(d) bertekad untuk memajukan lingkungannya dan menjunjung tinggi rasa keadilan serta berani menyebarluaskan hal-hal yang baik untuk kepentingan umum. (e) selalu siap bekerja keras dari jenis pekerjaan yang rendah. (d) menjunjung tinggi sikap memberi daripada meminta dan berkepribadian menyenangkan (familier). tekun. Bidang-bdang kewirausahaan yang bisa dilakukan antara lain: (a) kewirausahaan dalam bidang usaha ekonomi. dan suka menjalin interaksi dalam bentuk kerjasama. (b) kewirausahaan dalam bidang karir dan jabatan. (b) dalam berbagai kegiatan yang bersifat khusus kepala sekolah dapat mementuk panitia penyelenggara kegiatan . Diantara daya pikir ketrampilan kewirausahaan. (b) selalu termotivasi untuk berprestai dan selalu suka belajar baik pada pengetahuan terbaru maupun terhadap pengalaman masa lalu (gagal atau berhasil). (b) tidak suka tergantung pada orang lain. Keenam. (d) memperhatikan efisiensi dan efektifitas karya dan berpikiran terbuka serta bertanggung jawab. langkah penunjang dalam pengembangan pendidikan wirausaha siswa di sekolah adalah: (a) memerkokoh institusi pendidikan yang melaksanakan program kewirausahaan. sistem pengorganisasian dan evaluasi pendidikan kewirausahaan siswa di sekolah. (c) kewirausahaan dalam bidang pendidikan Ketujuh. baik melalui proses pembelajaran di kelas maupun praktek Kopsis yang harus dibangun pada diri setiap siswa adalah: (a) mampu menyusun perencanaan seopreasional mungkin. (c) aktif dalam pengembangan penambahan pengetahuan dan ketramilan baru dan suka mendengar nasehat atau pendapat orang lain. tidak mudah putus asa dan pandai bergaul. (d) penyediaan dan pengembangan pelayanan dan fasilitas studi bagi para siswa yang melaksanakan program kewirausahaan pada lapangan usaha dan industri di masyarakat dan pemerintah. gelar. (c) sangat menghargai waktu dan selalu siap berkompetisi secara sehat. kekuasaan dan selalu menerima hasil usaha sendiri. dan berpandangan positif serta kreatif. dan mampu mengendalikan diri untuk tidak konsumerisme. (f) tidak gila pangkat.wadah pembinaan dan pengembangan Koperasi siswa adalah: (a) mentalitas yang berorientasi ke masa depan. (b) dibentuk suatu lembaga koordinasi pembinaan dan pengembangan sekolah yang melaksanakan program kewirausahaan. dan mempunyai rasa tanggung jawab pribadi. melalui Kopsis sekolah sebanyak-banyaknya. baik melalui proses pembelajaran maupun praktik Kopsis antara lain: (a) bahwa pengorgianisasian pelaksanaan kegiatan kewirausahaan sekolah adalah melalui OSIS pada sekretaris bidang (sekbid) kewirausahaan yang diwujudkan dalam bentuk aktifitas koperasi siswa. dan (e) pemerintah mendirikan pusat-puat pengembangan pendidikan dan pengembangan usaha dan industri yang dapat bersinergis dengan institusiinstitusi pendidikan penyelenggara program kewirausahaan. Pola pendidikan kewirausahaan di pendidikan formal harus terjalin sinergis dengan pola pendidikan wirausaha di lembaga non formal (masyarakat) Misalnya setiap unit aktifitas ekonomi masyarakat mengadakan kelompok-kelompok kerja sesuai dengan bidangnya. (c) berdisiplin nurani. dan berani mengambil resiko dari pilihan yang dianggap baik. Diantara jiwa wirausaha yang harus dibangun pada diri setiap siswa adalah: (a) beriman pada Tuhan dan berbuat baik dengan sesama. (b) ulet. (c) diadakan proyek-proyek eksperimen terpadu antar sekolah dalam meningkatkan budaya wirausaha.

Sosiologi Perubahan Sosial. Penerbit PT. PENUTUP Uraian singkat tentang pendidikan kewirausahaan siswa melalui Kopsis sekolah tersebut memberikan kesimpulan sebagai berikut: (a) pendidikan kewirausahaan bagi siswa di setiap jenjang satuan pendidikan adalah sangat penting. 2000. Alimandan (Penerjemah).. 1993. apa yang tersaji dalam makalah ini tentu merupakan salah satu alternatif pemikiran tentang pendidikan wirausaha bagi siswa di sekolah. 2004. dan (c) agar diperoleh hasil evaluasi yang akurat diperlukan format atau instrument yang jelas sesuai dengan jenis kegiatan kewirausahaan sekolah. Mentalitas dan Pembangunan. (b) diantara sarana yang paling efektif dalam proses pendidikan kewirausahaan siswa di sekolah adalah memberdayakan institusi Koperasi Siswa. The Sociology of Social Change. Kanwil Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur. 1982. Pedoman Pembinaan Kewiraswastaan Bagi Siswa. A. Prenada Media. 1993. III. XXXVII/ Oktober 2007. perlu menjalin kerjasama dengan orang tua wali dan tokoh masyarakat (komite sekolah). dan (e) pembinaan kewirausahaan dilakukan secara bertahap. _______. Departemen P dan K. Hal ini berarti tidak menutup kemungkinan adanya alternatif analisis lain yang konstruktif dalam pengembangan dan pembinaan kewirausahaan siswa di sekolah. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Catatan. (b) proses evalusianya dapat menyangkut aspek perencanaan dan pelaksanaan. Departemen Pendidikan Nasional. Surabaya. (d) kepala sekolah dalam menjalin kerjasama lintas sektoral untuk kegiatan kewirausahaan. Jakarta. Soemanto. DAFTAR PUSTAKA Arifin. dan (c) paling tidak ada tujuh konsep penting yang perlu diperhatikan dalam pembinaan dan pengembangan kewirausahaan siswa di sekolah (sebagaimana yang telah diuraikan di atas). Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Gramedia Pustaka Utama. Sztompka. Jakarta. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah.. Sedangkan proses evaluasi terhadap proses pendidikan kewirausahaan baik melalui proses pembelajaran maupun praktik Kopsis adalah: (a) evaluasi kinerja dilakukan setiap akhir semester. W. PT. Jakarta. oleh karena itu manajemen Kopsis sekolah harus dikelola dengan baik. Sekuncup Ide Operasional Pendidikan Wiraswasta. P. 1995. Gramedia.wirausaha. (c) dalam rangka kegiatan kewirausahaan antar sekolah atau antar instansi perlu dibentuk panitia bersama. Jurnal Media. PT. .. Koentjaraningrat. Nomor 08 / Th. Direktorat Pembinaan Kesiswaan. Jakarta. Kebudayaan. Petunjuk Pelaksanaan Organisasi Siswa Intra ekolah (OSIS). dan proses pembinaannya bisa dilakukan secara bertahap. 1985. 2007. Direktorat Pembinaan Kesiswaan. Jakarta. Budiman. Jakarta. Jakarta. 1985. Bumi Aksara. “Problematika SDM Guru Dalam Penerapan KTSP (Sebuah renungan Mencari Jalan Keluar).

standar proses.. (d) standar pendidik dan tenaga kependidikan. ARIFIN. Soetjipto dan Kosasi R.standar kualitas pendidik. (b) standar proses. M. Dalam rangka mengimplementasikan kualitas standar isi. dan (c) Kualitas out put yang mampu menselaraskan dengan beragam tuntutan kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi. (g) standar pembiayaan. (f) standar pengelolaan. sehingga mampu bersaing baik dalam ranah kompetisi lokal. (e) standar sarana dan prasarana. Oleh karena itu setiap layanan pendidikan pada satuan pendidikan harus betul-betul berorientasi pada standar mutu yang telah ditetapkan dalam PP No. Sebagian dari standar mutu yang ditetapkan oleh PP No. kelulusan.*) Penulis adalah Guru SMA Islam dan Dosen FIS di Universitas Brawijaya Malang. 19 tahun 2005 tersebut yang langsung bersentuhan dengan peran dan fungsi guru di sekolah adalah kualitas: standar isi. dan stándar penilaian. . (b) Kualitas proses pembelajaran di kelas. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). 2009 by drarifin Rate This Oleh: Dr. nasional maupun global.Si. O. *) Pendahuluan Pola pelayanan pendidikan kedepan disetiap satuan pendidikan diantaranya adalah harus mampu menghasilkan: (a) Kualitas pola manajemen berbasis sekolah. proses dan penilaian. maka setiap guru dalam satuan pendidikan harus dilibatkan secara aktif dan proporsional dalam ’proses school self evaluation’ (SSE) atau proses evaluasi diri sekolah. yaitu: (a) standar Isi. dan (h) standar penilaian pendidikan (BSNP. 2006). 2002. Disamping itu guru merupakan salah satu unsur terpenting dalam proses pembelajaran di . Makalah ini disajikan dalam Kegiatan Workshop dan Penataran Manajemen Koperasi Siswa pada Pembina Koperasi Siswa Se-Jawa Timur tanggal 9 Nopember 2008 di Gedung PSBB Man 3 Malang PENINGKATAN PERAN GURU DALAM PROSES SCHOOL SELF EVALUATION January 13. (c) standar kompetensi lulusan. stándar kelulusan. karena keberadaan guru sangat sentral dalam menjamin kelangsungan kualitas layanan pendidikan di setiap satuan pendidikan (Hamalik. 1999).

Hanya karena faktor keterbatasan ruang dan adanya asumsi bahwa guru merupakan agent of change menuju kualitas pembelajaran di sekolah. Mencermati sistem pendidikan yang dikembangkan oleh pemerintah dewasa ini. dan Kedua. (b) Guru. maka sebenarnya pihak-pihak yang dapat terlibat dalam proses SSE atau EDS adalah: (a) Kepala sekolah. dan (e) Pengawas sekolah. apabila setiap satuan pendidikan mampu mewujudkan SSE secara sungguh-sungguh. dalam perspektif ke depan. Dua permasalahan inilah yang menjadi fokus kajian ini dengan harapan dari beberapa alternatif wacana yang tersajikan mampu menyentuh ranah fungsional guru dalam proses layanan pendidikan disetiap satuan pendidikan (Hamalik. yang melibatkan lima komponen tersebut di atas. dan (c) sebagai pemberi contoh teladan yang baik bagi siswa dalam proses pembelajaran budaya (Soetjipto dan Kosasi R. antara lain: Pertama. tokoh atau tenaga ahli bidang pendidikan. Pola yang sangat ideal dalam proses school self evaluation untuk mewujudkan kualitas layanan pendidikan intra maupun ekstra sekolah adalah kelima unsur tersebut harus mampu menjalin kerjasama sinergis dalam mewujudkan beragam instrumen layanan pendidikan menuju pencapaian delapan standar nasional pendidikan (SNP). Nasution. sehingga sekolah tersebut mampu memenuhi apa yang dibutuhkan oleh siswa dalam hidup di masyarakat. 2002. Peningkatan Peran Guru Dalam Proses SSE Salah satu strategi dari beberapa strategi yang bisa dilakukan dalam mewujudkan kualitas layanan pendidikan di setiap satuan pendidikan adalah meningkatkan kualitas peran guru dalam proses school self evaluation (SSE) atau evaluasi diri sekolah (EDS) secara konsisten dan berkelanjutan. 1999). 2006). Mengapa proses school self evaluation (SSE) pada era sekarang dan yang akan datang merupakan suatu keharusan objektif (conditio sin cuanon) dalam proses layanan pendidikan di setiap satuan pendidikan?. Hal ini disebabkan peran dan fungsi guru dalam mewujudkan kualitas layanan pembelajaran di kelas menduduki posisi sentral. (b) pembimbingan siswa dalam menghadapi kesulitan belajar dan kesulitan psikis atau pribadi. fokus atau sasaran proses SSE adalah bagaimana kinerja di setiap satuan pendidikan dalam mewujudkan kualitas delapan SNP. wakil masyarakat di sekitar sekolah. Ada beberapa konsep penting yang perlu dipahami tentang proses SSE.sekolah. (b) merancang. (d) Komite Sekolah. maka yang dipilih dalam analisis kajian singkat ini hanya menitik beratkan pada peran guru dalam proses SSE atau EDS. (c) Siswa. termasuk didalamnya tentang peran guru. maka sekolah tersebut akan dapat: (a) memenuhi standar lokal dan standar nasional (delapan SNP). Permasalahannya adalah: Pertama. harus selalu melakukan proses evaluasi diri dalam kaitannya dengan pengembangan karir dan evaluasi diri dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar (PBM). Bagaimana langkah-langkah strategis untuk meningkatkan peran guru dalam proses school self evaluation (SSE) menuju keunggulan layanan pendidikan?. Jadi. yang terdiri dari orang tua atau wali siswa. serta evaluasi diri dalam kaitannya dengan pengembangan institusi pendidikan . mengembangkan dan terus melakukan inovasi pembelajaran dan layanan . yaitu sebagai: (a) pentransfer Iptek kepada peserta didik.

kepribadian dan profesional betul-betul akan menjadi kunci quality development and quality assurance. setiap guru secara internal ’harus’ sanggup untuk melakukan keempat tahap tersebut dalam rangka membangun kualitas ’kompetensi profesional guru’. Ujung tombak dalam pengembangan mutu (quality development) dan jaminan mutu (quality assurance) pembelajaran di sekolah adalah guru. Oleh karena itu kualitas kompetensi guru. maka secara otomatis guru harus terlibat dalam proses SSE. sosial. (c) bersama-sama ikut melakukan identifikasi dan prioritas program pengembangan layanan pendidikan di setiap satuan pendidikan. dan (d) menyusun perencanaan pengembangan sekolah dengan baik. Kedua dimensi tersebut baik dalam ranah konseptual maupun ranah aplikatif harus terintegrasi atau sebagai suatu sistem. (c) menumbuhkan sikap kemandirian sekolah sebagai pusat peradaban (sivilization) yang dibutuhkan siswa dalam hidup di masyarakat. sehingga memungkinkan sekolah tersebut dapat merumuskan target kinerja dan dukungan yang tepat serta output yang berkualitas. lakukan pengulangan informasi dan apabila tidak ada gap pemahaman maka lanjutkan pada aspek berikutnya. artinya sulit rasanya seorang guru meraih sukses sebagai guru profesional tanpa melalui empat tahap tersebut). yaitu kompetensi: paedagogik. Hal ini terjadi karena sistem informasi dan komunikasi antar unsur sekolah dan lembaga terkait berjalan dengan baik. Artinya untuk membentuk individu berkarakter harus melalui tahap satu. dua dan tiga). ketika guru secara internal dan eksternal mampu mengembangkan kompetensinya.pendidikan menuju peningkatan mutu secara berkelanjutan (continuous quality improvement). (d) . Jangan melakukan sesuatu tanpa melalui tahap pemahaman secara benar). Jadi. (c) tahap institutionalized (melembagakan atau membiasakan tanpa lelah sepanjang usia tentang beragam instrumen yang harus dimiliki guru profesional). yaitu: (a) sama-sama memahami hakikat delapan SNP yang harus direalisasikan pada satuan pendidikan. (b) tahap action (lakukan atau wujudkan dalam tindakan nyata tentang beragam instumen yang harus dimiliki oleh seorang guru profesional). dan (b) berusaha membuktikan adanya jaminan mutu (quality assurance) hasil atau output layanan pendidikan. yaitu: (a) tahap understand (memahami secara benar beragam instrumen dalam membangun kompetensi profesional guru. Keempat hal itulah yang menjadi alasan mengapa setiap satuan pendidikan harus bersungguh-sungguh dan secara terus menerus melakukan school self evaluation (SSE). Oleh karena itu hakikat proses SSE endingnya adalah: (a) berusaha secara sungguh-sungguh dalam pengembangan mutu (quality development) layanan pendidikan di setiap satuan pendidikan. dan (e) tahap success ful (meraih kesuksesan. (d) tahap character building (membangun karakter unggul atau manusia yang konsisten di garis kebenaran dan keunggulan karya. seluruh instrumen dalam proses SSE adalah ditujukan untuk mewujudkan delapan standar nasional pendidikan (SNP) yang telah ditetapkan oleh pemerintah. dengan diikuti proses aplikasi program yang melibatkan semua komponen pendidikan. Kedua. Apabila ada gap atau kesenjangan pemahaman atau interpretasi antar guru. sehingga mampu berperan dalam proses SSE dengan baik. (b) sama-sama melakukan evaluasi diri sekolah. Ketiga. Ada lima tahap yang harus ditempuh oleh setiap guru untuk meraih kesuksesan atau kualitas ’kompetensi profesional guru’.

menganggap ide. Keempat tersebut akan bisa diperankan guru dengan baik apabila kepala sekolah di setiap satuan pendidikan mempunyai sikap mental visioner dan terbuka terhadap ide-ide baru serta kepala sekolah yang mampu memberdayakan segala potensi guru yang sangat beragam. Kelima. akan memperoleh kemudahan dalam menyediakan tentang: (1) data dan informasi data untuk perencanaan. (c) Identifikasi kunci pelatihan atau pengembangan yang dibutuhkan sekolah. apabila terjadi gap maka lakukan siklus dua atau tiga. dan mampu memberdayakan potensi semua guru untuk kualitas layanan pendidikan adalah indikator kunci kepala sekolah tersebut disebut sebagai kepala sekolah yang baik. perencanaan dan anggaran pada institusi yang lebih tinggi (Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten. tetapi perlu dibentuk sejenis lembaga penjamin mutu pendidikan (LPMP) di setiap satuan pendidikan untuk efektifitas proses SSE. aspek kemampuan kepala sekolah dalam menjalin komunikasi persuasif dan konstruktif kepada setiap guru. maka guru tersebut (LPMP tingkat satuan pendidikan) harus sanggup untuk memberi informasi secara valid pada pimpinan sekolah tentang: (a) tingkat pencapaian kinerja satuan pendidikan terhadap kebutuhan siswa. maka kepala sekolah sebagai penanggungjawab keseluruhan pencapaian delapan SNP. tidak memberi kesempatan atau menghalangi bawahan dalam . tentang: (a) Identifikasi cakupan prioritas untuk peningkatan infrastruktur. dan (2) data yang diperlukan oleh institusi yang lebih tinggi. Dalam paradigma manajemen pendidikan ke depan. (b) Identifikasi tingkat dan tipe dukungan yang diperlukan sekolah. (b) mengidentifikasi tantangan institusi dan mendiagnosa apa yang dibutuhkan institusi untuk peningkatan mutu layanan pendidikan. (c) mengidentifikasi kesempatan untuk meningkatkan mutu pendidikannya dan menilai bagaimana program pengembangan sekolah berjalan dan dapat memodifikasi bila diperlukan. Kemudian naikan target mutu kinerja sekolah berbasis ‘peningkatn mutu secara terus menerus dan berkelanjutan’. Propinsi dan Nasional). dan (c) beragam data yang ada hubungannya dengan standar lokal (muatan lokal). akan lebih mudah disampaikan. dan (d) Identifikasi sekolah mana yang telah berhasil mencapai indikator-indikator penting dalam pendidikan. (e) sama-ama melakukan validasi eksternal. Oleh karena itu dukungan langsung yang bisa dilakukan oleh guru dalam proses SSE adalah membantu sekolah untuk: (a) mengindentifikasi kekuatan institusi dan merencanakan peningkatan mutu kinerja di masa depan. pemikiran dan langkahnya paling benar. apabila guru betul-betul dilibatkan dalam proses SSE secara maksimal dan proporsional.sama-sama terlibat aktif dalam mengimplementasikan program pengembangan layanan pendidikan. dan (e) sama-sama terlibat aktif sepanjang tahun pelajaran untuk mengevaluasi pelaksanaan delapan standar national (evaluation against the 8 national standads). (b) kapasitas satuan pendidikan dalam peningkatan mutu kinerjanya dan tingkat dukungan yang diperlukan dalam mewujudkan delapan SNP. dan (d) menyusun laporan formal pada institusi terkait sebgai bentuk peningkatan akuntabilitas pengelolaan. pengambilan kebijakan. Dalam realitasnya masih banyak dijumpai pola perilaku kepala sekolah yang membangun sikap mental: tertutup terhadap saran dan kritik dari bawahan. Keempat. ketika guru terlibat aktif dalam proses SSE. Dalam hal ini tentu tidak semua guru harus terlibat langsung dalam SSE.

PT. pengajar. 2002. Nasution. *) Penulis adalah Guru Sosiologi SMA “Islam” Malang. Transformasi Pendidikan Memasuki Milenium. Daftar Pustaka Atmadi. mudah menerima alternatif wacana yang konstruktif. menghargai harkat dan martabat orang lain. Menurut Smith dan Inkeles. Analisis deskriptif pada bagian pertama menunjukkan bahwa setiap satuan pendidikan harus betul betul menerapkan proses school self evaluation (SSE) dengan baik agar lembaga satuan pendidikan terebut mampu mewujudkan delapan standar nasional pendidikan sebagaimana yang ditetapkan dalam PP No. 1995). Gramedia Pustaka Utama. 2006. Standar Isi. pendidikan dan pihak yang terlibat langsung pada proses pembelajaran budaya di kelas. BSNP. . 1995. Budiman. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. Kesimpulan Analisis deskriptif tersebut di atas. Sedangkan bagian kedua sampai kelima memberikan penjelasan tentang peningkatan peran guru dalam proses school self evaluation. Jakarta. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. PT. dan (c) salah faktor kunci penentu keberhasilan proses school self evaluation (SSE) menuju keunggulan layanan pendidikan adalah: kondisi sikap mental guru dan kepala sekolah harus prospektif atau modernis. Setiap guru dan kepala sekolah pada satuan pendidikan tentu sangat berharap dapat memberi kontribusi positif terhadap proses SSE dengan bekal sikap mental dan kemampuan positif. Jakarta..mengembangkan kualitas diri yang melebihi kepala sekolah. dan selalu membangun sikap mental kompetitif untuk meraih keunggulan karya (Budiman. 2000. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta. maka sejatinya faktor penyebab rendahnya kualitas pencapaian delapan SNP adalah ada pada diri kepala sekolah itu sendiri. Badan Standar Nasional Pendidikan. Bumi Aksara. Kanisius dan Unversitas Sanata Dharma. Jakarta. inovator dan selalu berorientai hidup ke depan. A. karena guru sebagai pembimbing. diantara ciri sikap mental manusia modernis antara lain: haus dan cinta pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini. dan tidak transparan dalam manajemen keuangan sekolah. (b) dalam rangka memaksimalkan proses school self evaluation (SSE) menuju keunggulan layanan pendidikan. Bumi Aksara. Dosen FIS Universitas Brawijaya Malang dan Dosen IKIP BU Malang. (ed). 19 tahun 2005. Oemar Hamalik. Yokyakarta. maka peran guru sebagai salah satu komponen satuan pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat penting. 2006. Apabila realitas tersebut masih nampak pada diri kepala sekolah. Insya Allah. membuktikan bahwa: (a) pelaksanaan tentang proses school self evaluation (SSE) pada setiap satuan pendidikan di era sekarang dan yang akan datang merupakan suatu keharusan objektif (conditio sin cuanon) untuk mewujudkan delapan standar nasional pendidikan (SNP).

Menggagas Paradigma Baru Pendidikan (Demokratisasi. (ed). serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan”.Si. Soetjipto dan Kosasi R. 1999. Profesi Keguruan. Otonomi. PEMBERDAYAAN KOMITE SEKOLAH January 13. Nomor 004/U/ 2002). Kanisius. Agar Komite Sekolah mampu melaksanakan empat peran penting. dengan tujuan agar pembentukan Komite Sekolah dapat mewujudkan manajemen pendidikan yang berbasis sekolah/ masyarakat ( school / community based management) (Depdiknas. 2003). bahwa ”Komite Sekolah/Madrasah. dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan. tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISPENAS). Jakarta. Jakarta. yang telah ditetapkan dalam Keputusan Mendiknas No. Landasan Konsepsional Komite Sekolah. 20 tahun 2003. Arifin. pasal 56 ayat 3 disebutkan. Pembentukan Komite Sekolah. jalur pendidikan sekolah maupun jalur pendidikan luar sekolah (Kepmendiknas. Komite Sekolah adalah badan mandiri yang mewadahi peran serta masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu. 2000. 2009 by drarifin Rate This Oleh: Dr. karena telah diwadahi dalam pasal 56 UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dari ayat 1 sampai 4. Dalam UU Nomor 20 tahun 2003.Sindhunata. sarana dan prasarana. M. Globalisasi). Tilaar. sebagai lembaga mandiri. yaitu sebagai: . 2002. baik pada jalur pendidikan prasekolah. pemerataan. dan efisiensi pengelolaan pendidikan di satuan pendidikan. Membenahi Pendidikan Nasional. Yogyakarta. merupakan amanat dari UU Nomor 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) 2000-2004. 004/ U/2002. Civil society. Undang Undang No. *) A. Pembentukan Komite Sekolah menjadi lebih kuat dari aspek legalitasnya. Rineka Cipta. arahan dan dukungan tenaga. Penerbit Rineka Cipta.

fasilitas sekolah. (b) pendukung (supporting). (2) penyusunan kriteria dan identifikasi bakal calon anggota (berdasarkan usulan masyarakat). (2) Melaksanakan peran dan fungsi Komite Sekolah untuk meningkatkan mutu layanan pendidikan. dan (d) mediator. (6) pemilihan komite sekaolah berdasarkan musyawarah mufakat atau pemungutan suara. Ada tiga bagian penting yang bisa diupayakan dalam pemberdayaan Komite Sekolah. yaitu: (1) Melakukan (forum) sosialisasi pembentukan komite sekolah. Sedangkan fungsi komite sekolah adalah: (a). aspirasi berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan masyarakat. Keluarga dan Masyarakat. (5) pengumuman nama-nama calon yang sudah disepakati masyarakat. Penguatan Kelembagaan Komite Sekolah. Kedua. dan (3) Membangun hubungan kemitraan dan kerjasama secara sinergis antara Sekolah. Unsur-unsur yang membentuk komunitas sekolah adalah terdiri dari individu dan kelompok. (c) pengontrol (controlling). yaitu: (1) Penguatan kelembagaan Komite Sekolah. dan (d) Dilandasi kemitraan dan semangat untuk kepentingan bersama. dan (g) Melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program kualitas layanan pendidikan. maka segala potensi yang ada pada kepengurusan Komite Sekolah harus terus diberdayakan secara maksimal. dan (d) mediator. dan (7) penyampaian nama-nama komite sekolah terpilih. (d) Memberi masukan. ada tujuh langkah baku pembentukan Komite Sekolah. membangun hubungan kemitraan dan kerjasama secara sinergis antara Sekolah. Ketiga. sebagaimana yang tergambar pada gambar berikut ini: Prinsip kemitraan adalah (a) Saling membutuhkan. (b) pendukung (supporting). menganalisis ide. orang tua dan keluarga serta masyarakat di sekitar satuan pendidikan tersebut. (f) Menggalang dana masyarakat untuk kualitas layanan pendidikan.(a) pemberi pertimbangan (advisory). (3) seleksi anggota berdasarkan kriteria. Kriteria tenaga kependidikan. Unsur-unsur tersebut harus terbangun jalinan hubungan kemitraan secara sistemik. (4) pengumuman nama-nama bakal calon anggota guna menampung bila ada keberatan terhadap satu atau lebih bakal calon. Ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam upaya penguatan kelembagaan Komite Sekolah. RAPBS. rekomendasi pada sekolah ttg: Kebijakan program pendidikan. (c) pengontrol (controlling). (c) Saling ”menguntungkan” (memberi manfaat). peran dan fungsi Komite Sekolah adalah: Komite Sekolah berperan sebagai: (a) pemberi pertimbangan (advisory). pertimbangan. (b) Melakukan kerjasama dg masyarakat dan pemerintah ttg kualitas pendidikan. (c) Menampung. Keluarga dan Masyarakat. dan (3) Peningkatan wawasan kependidikan pengurus Komite Sekolah (Depdiknas. Pertama. yaitu: (1) Prinsip-prinsip yang menjadi fondasi pembentukan Komite Selah. (b) Saling mempercayai. Mendorong berkembangnya komitmen masyarakat thd kualitas pendidikan. kelompok dalam satuan pendidikan. (2) Peningkatan kemampuan organisasional Komite Sekolah. (e) Mendorong ortu dan masyarakat berpartisipasi dalam peningkatan kual pend. dan kinerja satuan pendidikan. B. 2006). .

latar belakang sosial ekonomi orang tua. Komponen utama RPS adalah: (a) visi dan misi. dan (h) memiliki kemampuan untuk mengerti apa yang terjadi dalam tim. Agar roda organisasi sebagai suatu teamwork bisa berjalan dengan baik. (c) penghematan biaya. dan (g) pengorganisasian. adalah: (a) memberi semangat pada anggota tim yang lain untuk berkembang. Kedua. (2) Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) dan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). memutar roda organisasi dan manajemen Komite Sekolah. (h) lampiran-lampiran ( arus murid selama 3 tahun terakhir. (c) permasalahan kedepan yang dihadapi sekolah. (e) tujuan/ perubahan yang diinginkan. dan (e) memperluas promosi dan dalam kasus bisnis dapat memperluas pangsa pasar. dan (3) Menjalin hubungan dan kerjasama Komite Sekolah dengan Institusi yang terkait. (c) mengakui dan bekerja melalui konflik secara terbuka. Diantara manfaat bekerja dalam sebuah tim yang baik adalah: (a) dapat menciptakan model pemecahan masalah yang lebih tepat. data guru dan tenaga administrasi sekolah. penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) dan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). (e) membuka diri terhadap masukan (feedback) atas perilaku dirinya. info tentang kepadatan penduduk dan mata pencahariannya. Komite Sekolah harus berperan aktif dalam proses penyusunan RPS. Proses penyusunan RPS/RAPBS adalah: (a) kepala sekolah dan komite sekolah . Kemudian data yang diperlukan dalam membuat RAPBS adalah: profil sekolah. (e) anggaran. sasaran dan anggaran dan sumber sumber pembiayaan pendidikan).C. data murid per kelas tiga tahun terakhir. Sedangkan konsep rencana anggaran pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS) adalah meliputi: (a) latar belakang. (g) rencana anggaran pendapatan dan belanja sekolah tahun pelajaran. (f) indikator keberhasilan. Agar program organisasi dan manajemen Komite Sekolah bisa berjalan dengan baik. (b) gambaran pendidikan dan non pendidikan tahun sebelumnya. Ciri-ciri anggota tim yang baik. (b) menghemat waktu untuk pekerjaan yang tidak ada manfaatnya. (d) dapat menghitung faktor-faktor resiko yang dapat diperhitungkan secara finansial. (f) mengerti dan bertekad memenuhi tujuan dari tim. aset sekolah. dan (d) keahlian administrasi. (b) keahlian konseptual. (d) visi dan misi sekolah. peta lokasi sekolah. yaitu: (1) Memutar roda organisasi dan manajemen Komite Sekolah. asal murid. rencana 5 tahun ke depan. (c) keahlian interpersonal. (b) tujuan. Pertama. (f) penjabaran. maka fungsionaris organisasi itu harus membangun kinerja dalam suatu Teamwork. Peningkatan kemampuan organisasional Komite Sekolah. Sifat teamwork adalah anggota tim secara aktif bekerja bersama sedemikian rupa sehingga keahlian masing-masing dimanfaatkan untuk mencapai tujuan bersama. (d) sasaran. (b) respek dan toleran terhadap pendapat berbeda dari orang lain. (c) kegiatan. data yang menggambarkan kondisi lingkungan sekolah. (g) tidak memposisikan diri dalam posisi menang atau kalah terhadap anggota tim yang lain dalam melakukan kegiatan. (d) mempertimbangkan dan menggunakan ide dan saran dari orang lain. Ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam upaya Peningkatan kemampuan organisasional Komite Sekolah. maka keahliankeahlian yang perlu dimiliki tim dan harus dikembangkan adalah: (a) keahlian teknis.

Sedangkan sasaran channeling program pendidikan adalah: (a) dihasilkannya kerjasama komiet sekolah dengan berbagai pihak yang memiliki sumber daya potensi. (b) dalam waktu paling lambat 3 harii kerja TP mengadakan rapat persiapan dan menyusun rencana kerja. (b) berorientasi pada hasil bersama. universitas dll). . pemerintah dan kelompok peduli (LSM. dan (3) wawasan tentang pembelajaran Aktif. masyarakat. (d) terimplementasikannya penyelesaikan seluruh program komite sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan dan pendidikan untuk rakyat miskin. (c) terwujudnya komite sekolah yang memiliki ”posisi tawar” baik dengan pemerintah maupun swasta. Hubungan dan kerjasama komite sekolah dengan institusi yang terkait dalam dilakukan dalam koridor channeling program pendidikan. swasta. yaitu: (1) wawasan tentang sekolah sebagai suatu sistem. dan (c) perlu sinergi potensi dan sumber daya untuk optimalisasi penanganan persoalan bersama. Kreatif. dan kelompok-kelompok peduli) untuk lebih mengoptimalkan upaya peningkatan mutu pendidikan dan pendidikan untuk rakyat tidak mampu. (f) TP menyusun draf final setelah menerima masukan dari dewan guru dan anggota komite sekolah. Efektif.membentuk tim penyusunan (TP) RPS dan RAPBS. (d) TP mempresentasikan dalam rapat dewan guru dan anggota komite sekolah untuk mendapat masukan. (c) TP menyusun draf awal RPS/ RAPBS. (d) proses mengembangkan alternatif ketiga secara bersama. Sedangkan pola hubungan sinergi potensi adalah: (a) punya tujuan bersama. Tujuan channeling program pendidikan adalah: (a) terwujudnya tatanan komite sekolah yang mampu mengakses dan mengoptimalisasi berbagai sumber daya untuk pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian rencana program sekolah. lembaga peduli pengembangan pendidikan) yang berlandaskan kemitraan dan kepentingan bersama dalam rangka mencapai tujuan peningkatan mutu layanan pendidikan untuk rakyat tidak mampu. masyarakat. (e) TP melakukan review draf awal. dan Menyenangkan (PAKEM). D. pemerintah. menjalin hubungan dan kerjasama Komite Sekolah dengan Institusi yang terkait. (b) keterbatasan sumber daya di semua pihak yang terkait. dan (e) optimalisasi akses pendidikan bagi masyarakat miskin. Peningkatan wawasan kependidikan pengurus Komite Sekolah Ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam upaya Peningkatan wawasan kependidikan pengurus Komite Sekolah. dan dihasilkannya sinergi dan integrasi peningkatan mutu pendidikan. (b) terciptanya sinergi antar pemangku kepentingan (komite sekolah. dan (e) kerjasama secara kreatif. dan (g) pengesahan RPS/RAPBS. (2) wawasan tentang manajemen berbasis sekolah (MBS). (b) tumbuhnya tatanan komite sekolah yang inklusif sebagai wujud tanggungjawab bersama pelaku pendidikan. Ketiga. asosiasi. (c) hasil bersama lebih dari penjumlahan hasil masing-masing. Alasan pentingnya membangun kerjasama dengan institusi terkait adalah: (a) persoalan yang dihadapi oleh semua pihak makin kompleks. Kerjasama channeling program pendidikan adalah suatu bentuk kegiatan kerjasama yang dilakukan oleh komite sekolah dengan pihak lain (swasta. pemerintah.

______. Membedah Pendidikan Nasional. Makalah ini disajikan pada kegiatan Workshop atau Temu Koordinasi . Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta. Efektif dan Menyenangkan). 2003. Menggagas Paradigma Baru Pendidikan. masyarakat. (2) Merencanakan bagaimana memperoleh dana sekolah dan penggunaannya. Fasilitas pendidikan. Guru dan Dosen di Malang. Civil Society. dalam hal: Merencanakan program. yaitu: (a) pendidikan merupakan tanggungjawab bersama (orang tua. DAFTAR PUSTAKA Departemen Pendidikan Nasional. (b) pendidikan yang dibutuhkan anak tidak seluruhnya dapat diberikan oleh guru dan sekolah. Penerbit Rineka Cipta. Pemberdayaan Komite Sekolah. Acuan Operasional dan Indikator Kinerja Komite Sekolah.Pertama. Kewenangan tersebut al: (1) Menentukan program sekolah. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Transparan dan Akuntabilitas). Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. pendidik/ guru. Tiga pilar program MBS.. Sekolah sebagai suatu sistem berarti beberapa elemen satu dengan yang lain saling berkaitan dan saling mempengaruhi dalam mewujudkan tujuan pendidikan. *) Penulis adalah Ketua Komite SDN Sawojajar Malang. 2003. wawasan tentang manajemen berbasis sekolah (MBS). Jakarta. sekolah dan pemerintah). dan (5) menentukan jumlah tenaga guru honorer yang diperlukan. 2002. (ed). wawasan tentang sekolah sebagai suatu sistem. kepala sekolah. (4) Menentukan jumlah siswa baru yang diterima. S. 2000. dan menilai program sekolah. Demokrasi. Efektif. Mengambil keputusan. wawasan tentang pembelajaran Aktif. Jakarta. Rosidi. Ketiga. yaitu: (1) Manajemen Sekolah (Demokratis. dan (e) sekolah memerlukan bantuan pemikiran atau gagasan dari orang tua dan masyarakat untuk kemajuan sekolah. Sekolah sebagai suatu sistem dapat diringkas dalam gambar sebagai berikut: Kedua. (3) Mengatur jadwal belajar. paling tidak ada lima hal. MBS adalah bentuk pengelolaan sekolah yang memberikan kewenangan lebih besar kepada sekolah untuk merencanakan. Meningkatkan mutu pembelajaran. ______. Kreatif. Kanisius. Yogyakarta. Staf tata usaha. 2006. Kreatif. dan (3) PSM (Peran Serta Masyarakat). Landasan yuridis formal MBS adalah UU Nomor 20 tahun 2003. Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. 2000. Beberapa elemen sekolah sebagai sistem adalah: peserta didik. pasal 51 ayat 1. Kebijakan Pendidikan dan Dewan Pendidikan Kota Malang. Jakarta. (c) sarana pembelajaran yang dibutuhkan oleh anak di sekolah belum memadai. Globalisasi. Dewan Pendidikan Kota Malang. Sindhunata. (2) PAKEM (Pembelajaran Aktif. Kurikulum. (d) sangat diperlukan pengadaan dan peningkatan sarana pendukung pembelajaran. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. dan Membangun sekolah (sarana pembelajaran Mengapa orang tua dan masyarakat harus ikut membantu dalam meningkatkan layanan pendidikan di sekolah?. dan Menyenangkan (PAKEM). Otonomi. Tilaar.

dan Penyegaran Informasi Fungsionaris Komite Sekolah Tingkat Regional (Jawa Timur) .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful