Jangan Bungkam Suaraku, Jangan Bunuh Bidangku

Penghilangan dan Penyesatan dalam Pengkajian Sastra Melayu/Indonesia
Amin Sweeney

Siapa tahu, judul ini akan mencetuskan bayangan antik-antik pemerintah yang represif, tak kira Malaysia, entah Indonesia. Maaf, kerajaan dan pemerintah masing-masing baik-baik saja. Lebih seru lagi, agen pembungkaman ialah lembaga asing. Sayangnya, bukan Mossad, bukan CIA, melainkan—ya anti-klimaks sedikit—EFEO Jakarta. Pada tanggal 8 Desember 2009, saya menerima hadiah buku yang baru diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), karena saya salah satu pengarang yang diundang menyumbangkan artikel untuk buku tersebut. Ya, memang artikel itu termasuk prosiding seminar di Paris 1 yang mendasari buku baru ini. Ya, seluruh biaya untuk saya ke Paris pada tahun 2002 itu ditanggung pihak promotor Prancis. Makalah asli yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan atas prakarsa promotor tersebut. Karena terjemahan itu jauh dari memuaskan, makalah itu saya alihbahasa-budayakan sendiri ke dalam bahasa Melayu/Indonesia tujuh tahun yang lalu. Makalah versi Inggris juga telah menerima sentuhan seorang copy editor, yaitu Ibu Rosemary Robson. Versi-versi final telah dikirimkan kepada saya oleh pihak École française d’Extrême-Orient (EFEO). 2 Alkisah walaupun KPG menjadi penerbitnya, tetapi dalam kasus edisi Indonesia buku ini, yang berjudul Sadur; Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia, ternyata bahwa KPG hanya menerbitkan begitu saja bahan yang diserahkan oleh pihak EFEO tanpa dikutak-katik. Maka ketika membelek-belek halaman buku tersebut, kami, yaitu teman-teman di KPG dan saya baru saja melihat bahwa artikel saya sudah tercecer dari Sadur ini. Ya, lebih tepat, dicecerkan oleh pihak EFEO tanpa pemberitahuan apapun pada KPG atau saya. Lucu, karena hanya satu saja orang Malaysia yang diundang menghadiri seminar di Paris. Aku! Untung,
1

2

“International Workshop: The History of Translation in Indonesia and Malaysia”, yang ditaja oleh UMR 8093 (CNRS – EHESS) dan École française d'ExtrêmeOrient. Bengkel ini diadakan di Centre International d'Études Pédagogiques (CIEP), 1 av. Léon Journault, 92318 Sèvres, Paris, Selasa 2 – Jumat 5 April 2002. Fail-Fail: sweeney-E-revision; sweeney-RR; sweeney-I-as.

2

Amin Sweeney

orang Malaysia ini tidak dikurung dalam Tugu Selamat Datang bohongan bersama nama-nama penyumbang makalah yang lain. Pengap! Lihat saja sampul bukunya. Hanya dua orang yang lolos. Mereka berdiri di atas tugu, melambai-lambai kelegaan! Sebenarnya, kata-kata “lega” dan “lolos” bukan candaan. Ironisnya, justru artikel yang dihilangkan itu menjadi saksi, karena di situ terpapar keraguan saya tentang kemungkinan puluhan makalah, hasil seminar, dapat diolah menjadi sebuah sejarah terjemahan yang koheren dan terpadu sebagai keseluruhan. Jelas, kenyataan jauh lebih buruk daripada yang dikhawatirkan. Masalahnya bukan dengan tulisan undangan per se, yang berjumlah lebih daripada enam puluh artikel, melainkan dengan wadah yang menampungnya. “Pendahuluan”, yang seharusnya menjadi bab kunci, tidak berhasil memperlihatkan sebuah kerangka sejarah yang bakal memberi struktur pada buku ini. Yang disajikan hanya rentetan gagasan usang yang sering keliru serta saling bercanggahan. Pemikiran ini diperkembangkan dalam bab “Transkripsi Sebagai Terjemahan”, yang tidak ada sangkut-paut dengan terjemahan antara bahasa. Bab tersebut, yang tidak disampaikan di Paris melainkan baru selesai ditulis pada tahun 2009, merupakan bab yang paling bermasalah dalam seluruh buku. Kenyataan ini akan diperlihatkan secara terperinci di bawah. Bisa dibayangkan ada pembaca yang akan menyangka bahwa tulisan saya ini dicetuskan oleh perasaan tersinggung. Maaf, perasaan pribadi tidak harus ada tempat di sini. Saya menulis ini untuk meluruskan yang bengkok. Usaha ini dimulai dalam artikel yang dihilangkan, karena sebagian artikel tersebut seolah-olah menjadi “pra-resensi” terhadap buku Sadur yang belum berwujud! Sebenarnya kritikan saya merupakan tanggapan terhadap proposal yang mendasari proyek Sadur, dan sebagian besar “Pendahuluan” didasarkan pada proposal tersebut. Nah, sudahlah suara saya dibungkam, ternyata masalah belum selesai. Meskipun Bpk. Chambert-Loir mengira perlu membicarakan Hikayat Abdullah dalam kedua bab yang ditulisnya, ia berpura-pura seolah-olah edisi

Jangan Bungkam Suaraku, Jangan Bunuh Bidangku

3

Hikayat Abdullah saya tidak berwujud, padahal suara saya sepertinya tidak luput dari benaknya ketika menulis, karena masih kedengaran dalam tulisannya. Sebagian signifikan tulisan Bpk. Chambert-Loir tentang “Transkripsi” dalam Sadur itu pula ditujukan kepada saya. Ini juga bukan gede rasa! Dapat dibuktikan. Selain edisi Hikayat Abdullah, perbandingan surel (e-mail) Bpk. Chambert-Loir dengan tulisannya dalam Sadur memperlihatkan beberapa bagian yang sama, verbatim. Tulisannya ini dalam sebuah buku yang mungkin tersebar luas bakal menyesatkan pembaca yang bukan ahli. Saya bernafas dengan bahasa Melayu/ Indonesia selama setengah abad. Saya berhasrat melihat bidang saya ini hidup subur pada masa depan. Judul buku ini mengelirukan. Pertama, ini bukan sebuah sejarah; paling-paling dapat disebutkan survei. Kedua, dan lebih serius, judul ini merupakan pengiklanan palsu. Siapa saja yang membeli buku ini dengan harapan membaca tentang sejarah Malaysia pantas meminta uangnya dikembalikan. Tujuan promotor proyek ini kelihatan dalam proposal awal, sebagaimana disinggung dalam artikel saya. Hanya “Indonesia dan Malaya” disebutkan! Maaf, ya, Malaysia sudah lama merdeka. Tidak ada satu pun tulisan dari orang Malaysia dalam buku. Dan tulisan ini semua atas undangan. Terdapat hanya secebis informasi tentang Malaya, dan Malaysia tidak disentuh. Timbullah tanda tanya: bagaimana buku ini lolos diterbitkan oleh KPG, sebuah penerbit yang sangat profesional dan harum namanya? Seri saya, Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, 1-3, (seterusnya: KLAAKM) diterbitkan KPG dengan cara yang sangat memuaskan. Masalahnya, KPG seolah-olah terikat oleh semacam kesepakatan dengan agensi Prancis, EFEO. KPG sebagai penerbit “bekerjasama” dengan EFEO. Dalam kenyataan, ini berarti bahwa bahan siap cetak diserahkan kepada KPG, yang tidak diizinkan membuat perubahan apapun. KPG yang memiliki segala fasilitas sebagai penerbit sepertinya harus tunduk pada mitos ‘kelebihan Eropa’. “Kerja sama” begini tanpa penilaian luar yang independen membawa risiko buat penerbit. Buktinya justru buku ini. Walau tanpa penilaian luar sekalipun, seandainya pihak KPG membaca secara terperinci naskah yang diserahkan kepadanya, pasti kaget. Lihat saja berapa banyak salah cetak dan kekeliruan dasar yang lain dalam bab “Transkripsi Sebagai Terjemahan”, tulisan penyunting buku ini sendiri. 3
3

Mungkin perlu diterangkan bahwa saya menawarkan seri KLAAKM kepada KPG, bukan kepada EFEO. EFEO kemudian meminta diturutsertakan dalam proyek ini. Selama saya mengerjakan Jilid 1 dan 2, memang dapat ‘kerja sama’ yang luar biasa

sehingga ia berusaha keras untuk mengambil alih penyelenggaraan Jilid 3. Anehnya. Gratis. Jika dikatakan bahwa cetak ulang buku Denys Lombard dari EFEO memang ada indeks. Meskipun saya pernah (tahun 2006) menegaskan kepada Bpk. 4 menyenangkan dari pihak EFEO Jakarta di bawah pimpinan Daniel Peret dan Andrée Feillard. ya benar. Chambert-Loir mungkin kurang paham situasi. Masalahnya. ini baru sakit hati! . begitu banyak sumbangan yang cemerlang oleh puluhan orang diberi wadah yang begini menyedihkan. Bpk. Chambert-Loir indeks itu dianggap tidak penting. tanpa penghargaan! Nah. Ini bukan buku sejarah terjemahan di Malaysia. Dalam kedua bab itu dinyatakan bahwa Hikayat Abdullah itu “mahakarya Abdullah Munsyi (1847)”. Pejabat EFEO berikut. Oleh Bpk. Malah EFEO Jakarta tidak memiliki kemampuan untuk menyusun sebuah indeks.4 Amin Sweeney Baik.) 2004: 128-132. saya menghujat tulisan yang membibitkan potongan ilmu palsu mengenai Abdullah sehingga menjadi ‘klise terbang’ yang menyesatkan. Chambert-Loir (seterusnya HC-L) untuk terus-menerus memutarbalikkan konsep transliterasi dan transkripsi. beliau mengirimi saya informasi yang sangat berguna tentang bahan yang tersimpan di Paris. Nomor halaman merujuk pada dokumen asli. 4 Sayang sekali. penyunting terdorong untuk membicarakan tulisan Abdullah Munsyi dalam dua bab yang ditulisnya. Dalam buku Sadur. Ini menghasilkan pendekatan yang sangat eksentris dalam usaha penyuntingan teks Melayu beraksara jawi. yakni litografi tahun 1847 (hlm. 19). Saya yang membuatnya. tulisan itu paling-paling dianggap sebagai sebuah monograf. Dalam Jilid 2 seri KLAAKM. ChambertLoir bahwa Hikayat Abdullah pertama kali dicetak pada tahun 1849. Lebih menyesatkan lagi adalah kenekatan Bpk. Tanpa indeks. Ini bukan salah cetak karena diulang bahwa Hikayat Abdullah “pertama kali terbit tahun 1847”. Dalam yang berikut saya mulai dengan sorotan utama terhadap bab berjudul “Transkripsi Sebagai Terjemahan”. satu bab tentang “transkripsi” diselipkan dalam buku mengenai terjemahan ini. Ini buku sejarah? Ini buku? Sebuah buku ilmiah atau semi-ilmiah harus mengandung indeks. kesalahan ini tetap dimunculkannya. Juga: Kutipan ini berdasarkan Kassim Ahmad (ed. EFEO bukan penerbitnya! Ini semua disayangkan karena ketika masih di Paris.

bahasa dalam artikel juga meminta perawatan. 1896. Misalnya. ‘penyutingan’. 804). Melihat bagaimana HC-L berulang kali berseru tentang betapa perlunya Ejaan yang Disempurnakan ditaati. maka terasa ironi setitik ketika ia sendiri tetap memilih memakai beberapa bentuk ejaan tidak baku. ‘piliahan’. ‘ditranskrispi’ dan ‘ditransripsi’. ‘terjandung’. 799). Misalnya: Soal apparatus criticus ialah sejauh mana mau kelihatan di samping teks (hlm. Jangan Bunuh Bidangku 5 Kesan Pertama “Transkripsi Sebagai Terjemahan” Pandangan sekilas langsung memperlihatkan betapa mentah keadaan teks ketika dicetak. Jangankan ada pengeditan. . 804). Hanya terasa alangkah baik jika diamalkan segala yang dikhotbahkan. seperti ‘nasehat’. hasil ketikan pun tidak dibaca ulang. Terdapat beberapa kekeliruan yang menarik. ‘menerjemahakan’. dsb. ‘pernerjemah’.Jangan Bungkam Suaraku. tentang kelahiran Abdullah Munsyi: Selanjutnya kebanyakan penulis terus membuat perkiraannya sendiri (1895. ‘Salalat al-Salatin’. melainkan menegur kalimat yang kurang jelas artinya. 804). Kiranya aksara jawi yang dimaksud: …kesusasteraan Melayu lama yang bertulisan Jawa (Arab)… (hlm. 792). ‘hakekat’. Mengapa pula digunakan dengan tidak kurang konsisten ejaan Malaysia ‘kesusasteraan’? Saya menerima saja dengan segala toleransi. ‘kirannya’. kata ‘ditranskripsi’ menjelma sebagai ‘ditanskripsi’. Di sini pun [tentang tanda baca] seperti dalam contoh lain di atas. Di beberapa tempat. ‘formil’. ‘semerta’. apa yang dalam tulisan Jawi bersifat potensial dijadikan nyata berwujud dalam tulisan Latin (hlm. 1897) [sic] sambil terus salah menafsirnya [sic] kalimat kunci (hlm. Ini bukan mau nyinyir tentang gaya bahasa. Untuk kata ‘sastra’ ia konsisten dengan EYD. Juga ‘menhapuskan’. …memaksakan sebuah irama yang kiranya sangat berbeda dengan teks itu patut dibaca (hlm. Maka terdapat bentuk seperti ‘pernerjemahan’. dan seterusnya.

(hlm. yakni akademisi yang mempunyai pendidikan filologi di universitas dan yang menghasilkan buku-buku tercetak dalam tulisan Latin atas dasar teks-teks bertulisan lain yang terkandung dalam naskahnaskah kuno (hlm. 17). 794). 801). dan resensi. Chambert-Loir & Salahuddin… (hlm. tetapi khalayak ini tahu pula maksud “huruf Jawi”. Jelas bahwa khalayak yang diandaikan dalam tulisan ini pembaca awam. melainkan satu peran ciptaan yang terdiri dari jalinan nilai. khalayak andaian bukan orang. Pokoknya. Jilid 1:17-20. dan norma tadi yang dapat diterima atau ditolak oleh manusia yang membaca tulisan itu. . Tentang rahasia filologi (yang menjemput senyum!): …Bo' Sangaji Kai. Pembaca yang berdarah daging ditawari peranan sebagai khalayak andaian yang tersirat dalam teks tadi. Kepada pembaca teks Muhammad Bakir: Dan siapa mengingat asal kata “kolam”? (hlm. Tentang teks yang diterjemahkan: Teks-teks tersebut diterjemahkan pada periode yang berbeda-beda dan dalam konteks yang berbeda pula tetapi akhirnya menyatu dalam keseluruhan tradisi tulis Indonesia. 5 KLAAKM . gagasan. Oh ya. tetapi teksnya begitu korup sehingga baru dapat direstitusikan dan dimengerti melalui suatu pekerjaan filologi yang cukup rumit (lih. 12). Mereka hidup dalam teksnya5 .6 Amin Sweeney Pengarang dan Khalayak Menghadapi sebuah teks. 792). edisi diplomatik. Tentang van Ronkel: …seorang pakar Belanda masa lalu (hlm. pembaca perlu bertanya: siapa berbicara dengan siapa dengan tujuan apa? Apa dampak yang dikehendaki pembicara dari khalayaknya? Cara-cara apa yang dimanfaatkan pembicara untuk meyakinkan khalayaknya. yang perlu diberi tahu segala sesuatu tentang penyuntingan teks apalagi naskah Melayu. Antara lain harus diterangkan apa itu apparatus criticus. serta tentang apa? Baik pembicara maupun khalayaknya merupakan ciptaan pengarang. Tentang edisi yang pernah diterbitkan: Semua teks itu merupakan hasil kerja sejumlah penyunting.

799). percaya bahwa dalam hal edisi naskah. maka pembaca cenderung menganggap sedang membaca sebuah edisi diplomatik (hlm. itu bukan reaksi saya. ia harus berhati-hati. Jangan Bunuh Bidangku 7 Bagaimanapun. Masih menyerempet soal khalayak. menyapurata dalam tanggapannya terhadap pembaca yang dibayangkannya secara umum serta memperlihatkan bakatnya membaca pikiran pembaca itu: Khalayak pembaca. secara sadar atau tidak. jika pembaca merasa bahwa membayangkan teks demikian mudah saja maka sukarlah diterima peranan yang ditawarkan. gagasan. ya . 805). HC-L dapat melampaui pengandaian khalayak biasa sebagai jalinan halus nilai. sekalipun tunggal (hlm. Masalahnya. Kita tidak bisa membayangkan sebuah teks bertulisan Latin yang berupa sebuah kalimat tunggal sepanjang 200 halaman (hlm. dan …karena nama Drewes yang benar-benar patut dikagumi dan dihormati. masalah baru mulai dengan adanya beberapa naskah… Sebetulnya. dan norma. Pungtuasi termasuk proses transkripsi karena sebuah teks dalam tulisan Latin mutlak harus memakai tanda baca. Saya pula yang menulis artikel resensi terhadap kerja Drewes dan Brakel. hanya mengajukan sebagai reaksi umum apa yang dirasakan normal buat dirinya sendiri. Misalnya: Telah kita lihat di atas bahwa tulisan Jawi tidak dapat ditransliterasikan… (hlm. Meskipun ini seolah-olah meremehkan ‘pembaca’. Begitu juga. ketika seorang pengarang berusaha mengajukan argumentasi khususnya. Jangan dulu diasumsikan bahwa pengalaman dan reaksi pembaca dapat diterima jadi akan mirip dengan yang diutarakan pengarang sehingga terus-menerus digabungkan pembicara dan khalayak dalam teks sebagai “kita”. Bila membaca satu teks kita sering puas dengan pengertian yang dangkal atau rumpang (tidak lengkap)… (hlm. Maaf. 803). “kita” tidak melihat dan “kita” tidak puas. Ia menciptakan langsung pembaca utuh. seperti juga sejumlah ahli filologi. masalah mulai dengan keperluan mentranskripsikan naskah. 798).Jangan Bungkam Suaraku. tapi lebih mungkin HC-L. 801). Malah pembaca.

Thomson… (hlm. Begitu juga: Hikayat Abdullah pertama kali terbit tahun 1847 [sic]. Orality and Literacy in the Malay World. Seterusnya. perdebatan tentang tahun tersebut mulai sejak tahun 1865 waktu J. HC-L berusaha memperlihatkan bagaimana pembubuhan tanda baca dalam “transliterasi” sebuah teks jawi bisa mengakibatkan tafsiran yang keliru. Tidak pernah ada “perdebatan”. Abdullah Munsyi juga menyebutkan tempat perhentian dan kuat perlahan dalam pembacaan hikayat. Bagi sebagian sarjana Barat. meskipun mutu terjemahan itu buruk. 6 7 Lihat Sweeney 1987. HC-L mengajukan “salah satu contoh yang paling hebat” kekeliruan demikian. Berkeley: U. Pengarang berusaha mengajukan argumen yang cacat.8 Amin Sweeney saya. Lihat Sweeney KLAAKM. Frasa kuat perlahan memberi indikasi bahwa pembacaan itu dibunyikan. 3: 216-219. Selain huruf tebal dan rubrikasi. 804). 804-805). Seterusnya: Kita boleh heran bahwa sampai baru-baru ini seorang pakar Malaysia (Kassim Ahmad 2004: 356) masih mengutip interpretasi Hill seolah-olah benar (hlm. Begitu juga dalam naskah yang tidak menggunakan tandatanda baca yang berasal dari Eropa. akan merasa bosan disajikan alinea sekitar 380 kata panjangnya hanya untuk menggambarkan rupa bentuk teks Latin tanpa tanda baca.C. terjemahan Hill sepertinya telah menjadi begitu berwibawa sehingga mampu menggeserkan teks Melayu serta menjadi versi resmi Hikayat Abdullah. 3: xiv-xv. terdapat kata-kata yang berfungsi sebagai tanda baca yang berbunyi 6 . Akan tetapi ini kekeliruan HC-L sendiri yang “paling hebat”: contohnya diambil dari terjemahan Hill dalam bahasa Inggris! Dalam teks-teks Melayu (rumi) yang pernah saya baca. . Press: 202-240. 558. KLAAKM. ya ‘Hikayat Hill’. HC-L membesarbesarkan kekeliruan Hill tentang tarikh kelahiran Abdullah sehingga ditampilkannya sebagai penemuan baru. 555. Padahal teks Jawi mengandung berbagai tanda untuk memudahkan pembacaan. 7 Karena terkondisi begini. A Full Hearing. tempat perhentian merujuk pada katakata yang mengisyaratkan tempat bernafas. tidak ada koma di tempat yang dihebohkan.T. karena terjebak dalam salah-anggapan bahwa petunjuk baca harus berupa tanda baca Eropa.

transformasi. Pengertian yang salah ini disebabkan oleh pengandalan pada etimologi. “Seandainya sebuah pengalihaksaraan berusaha memberi padanan setiap huruf jawi. pemindahan. teks Melayu naskah Thomson juga dari saya… “Transkripsi” Melihat bahwa khalayak andaian yang tercipta dalam tulisan ini ternyata pembaca ‘awam’ yang tidak memahami kerja mengedit teks. jenis transformasinya sangat berbeda. Jangan Bunuh Bidangku 9 Rasanya kurang heran.” 9 Sepanjang artikelnya. 792).Jangan Bungkam Suaraku. 799). hasilnya tentu nonsens: mnjadi sprt tulisn aurng gil. 1972. Maka untuk sampai ke situ tidak perlu sebuah artikel. karena mau tak mau tidak boleh ditutup-tutupi lagi jurang perbedaan yang menganga dalam konteks spesifik. Jilid 3: xvi. boleh saja diterima bahwa pengalihaksaraan itu merupakan sejenis penerjemahan. HC-L mencari segala segi dan sisi untuk memperlihatkan kesamaan antara keduanya. dalam Jilid 3 saya. Kedua-duanya memerlukan interpretasi. 8 9 Frederic Jameson. ini jalan yang beranjau lagi buntu. maka agak mengherankan melihat HC-L memaparkan suatu pendekatan yang sangat eksentris. Meskipun transliterasi dan terjemahan melibatkan transformasi atau translasi. Malah transkripsi adalah terjemahan. sehingga ia merasa perlu menolak “transliterasi” berupa “a d fw n mk” dan seterusnya selama empat baris. Namun. Ya. yang ada hanya transkripsi (pengalihan kata demi kata (hlm. Menurutnya. Masalahnya. diberi contoh yang mirip biarpun dengan nada yang berbeda. pengalihaksaraan sebuah teks bersifat transkripsi dan bukan transliterasi. . Seterusnya ia berdebat tetapi tidak jelas dengan lawan bicara spesies apa. transliterasi atau pengalihaksaraan) menyamai “terjemahan” (hlm. 3: 204. sudah ada dalam KLAAKM. Kekeliruan Hill tentang tentang kelahiran Abdullah juga disebutkan pada halaman yang sama. The Prison House of Language. padahal etimologi hanya balik pada dirinya sendiri dan tidak akan menguraikan makna sebuah kata. Kebetulan. Princeton University Press: 6. Oh ya. KLAAKM. 8 Salah pengertian mendorong HC-L untuk menyatakan bahwa: …tidak ada transliterasi (pengalihan huruf demi huruf) dalam bahasa Melayu-Jawi. HC-L berusaha membuktikan bahwa “transkripsi” (baca: perumian.

seperti juga penyunting yang hanya memiliki satu naskah saja. ialah dua edisi dari satu teks selalu berbeda. lihat KLAAKM. bukan karena memakai metode yang berlainan… (hlm. 799). hanya akan memperlihatkan perombakan yang kacau. percaya bersikap seratus persen obyektif waktu mentranskripsikan naskah tersebut dengan hati-hati… (hlm. Kemampuan HC-L melihat ke dalam benak manusia lain tidak terbatas pada pembaca: Penyunting yang memilih metode pertama. itu tidak perlu dibuktikan lagi. pembongkaran. 798). jika tepat. Lihat misalnya keempat edisi naskah Raffles 18 (satu versi Sulalat al-Salatin). Pertamanya. Tetapi. 795). 2: 258. Yang mendahuluinya justru usaha yang keliru untuk menolak jenis “transliterasi” yang sia-sia. ya silakan saja. 3: 120.10 Amin Sweeney Kutipan berikut dimulai dengan sebuah non sequitor. sebab tidak ada yang bisa dilihat secara obyektif. transformasi dsb. Makanya tidak masuk akal jika alinea berikut dimulai dengan “Maka jelas”. . Buktinya yang paling nyata. Berarti para penyunting ingin berlagak saja! 10 Tentang pemakaian bahasa yang ‘patut’. pilihan itu mengikuti patokan yang bersifat “modern” dan “ilmiah”… (hlm. perbedaan antaranya adalah hasil berbagai kekeliruan yang dibuat oleh masing-masing penyunting.. Sebuah perumian yang jelek tidak menjadi bukti bahwa proses perumian per se merupakan perombakan! Jika ingin dikatakan bahwa sebuah transliterasi merupakan hasil perombakan. Tetapi yang menjadi fokus di sini adalah “Buktinya yang paling nyata”: Maka jelas transkripsi merupakan perombakan teks yang mutlak. HC-L mendasarkan wahyunya hanya atas pernyataan “tulus” dua orang yang mengatakan bahwa perumiannya dilakukan “seadanya”. anehnya. Tidak ada fungsinya di sini. serta jarang lagi dipakai orang terdidik. 10 Perasaan hati orang yang akan menyunting juga tidak tersembunyi: Sebuah edisi teks hampir selalu merupakan pilihan suatu versi di antara versi lain. konsep “obyektif” sudah usang. Kritikan panjang lebar terhadap edisi Sulalat al-Salatin yang disunting Muhammad Haji Salleh. yang sering dibaca orang asing secara harfiah.

namun tetap dapat didefinisikan sebagai jumlah keseluruhan naskah yang berjudul demikian (hlm. Supaya jelas. atau Kelisanan dan Keberaksaraan yang dapat menguraikan berbagai masalah tentang budaya kirografis atau pernaskahan. “Apa hakekatnya sebuah teks?” Setelah memberi tahu bahwa teks terdapat dalam berbagai bentuk naskah. penulis terkenal tentang noetika. Lalu: Transkripsi dan penerbitan satu unsur dari teks itu (baik transkripsi satu naskah maupun penyuntingan beberapa naskah) berakibat unsur tersebut tiba-tiba menjadi “teks”-nya sendiri (hlm. 794). Paham ini mirip dengan anggapan Brakel (1980:128-30) bahwa “teks” merupakan “konsep yang agak abstrak”. 794). Lihat saja resensinya dalam Kompas (31 Oktober. beliau juga sadar tentang peri perlunya perkembangan ini. Menurutnya. “teks” bertambah dengan sebuah unsur baru. dan alasan itu? memang demikianlah keadaan suatu teks dalam konteks tradisional (hlm. tetapi kata “teks” diberi tanda kutip. Berarti tulisan dalam sebuah naskah yang. ia mengatakan: Ada alasan tertentu kenapa [sic] teks-teks itu berada dalam bentuk naskah yang berbagai dan beraneka ragam (hlm. 793). Orality and Literacy in the Malay World. 793).Jangan Bungkam Suaraku. HC-L sampai pada mendefinisikan konsep “teks”. Walter J. Jangan Bunuh Bidangku 11 Teks HC-L bertanya. hanya merupakan satu unsur dari teks. Oh ya. baru menjadi “teks” yang mendapat giliran ditandakutipi. Setelah Pak A. Ong. memang memulai karirnya sebagai seorang filolog tradisional. sebuah teks merupakan akumulasi keseluruhan. Itu buku saya… Seterusnya. Saya mengira bahwa anggapan . Teeuw sudah pensiun. Setiap kali. Maaf. Alangkah baiknya jika HC-L membiasakan dirinya dengan studi Noetika. sehingga jika diselenggarakan. maaf lagi. HC-L mengulang definisi “teks”: Kembali kepada definisi satu teks sebagai keseluruhan naskahnaskah yang berjudul sama… (hlm. ini tidak membantu. menurut kebiasaan dianggap sebagai teks. 794). 1988) terhadap buku A Full Hearing.

Tentu saja Hikayat Dewa Mendu berarti cerita/ kisah. Membaca tulisan HC-L. 1980: 12. ya. “Hamba ini Syair …” tetap merupakan tajuk. Brakel (1980). yang malah membawa ke lingkaran setan. Judul Mendefinisi konsep teks dengan ukuran semua naskah yang berjudul sama berarti menempuh jalan yang banyak ranjaunya. penyuntinglah yang menciptakan “teks”. 794). Kata HC-L: Para penyunting teks lama biasa memberikan sebuah judul kepada teks yang disuntingnya (hlm. Kalau satu teks mulai dengan kalimat. Berkeley: University of California Press. Perlu ditegaskan bahwa konsep judul. tidak semestinya mirip dengan istilah titre atau title bahasa Eropa. Hikayat Perintah Negeri Benggala dalam Sweeney. Kuala 11 12 Lihat juga Sweeney. Ini luar biasa eurosentris. pengumpulan naskah itu berdasarkan isinya. barangkali harus diartikan “ini cerita seseorang bernama Dewa Mendu”. Jika begitu. atau lebih baik dalam konteks sastra Melayu. Reputations Live On. Saya pernah merujuk pada teks tersebut dalam tulisan saya sejak tahun 1975. hikayat Dewa Mendu. . teringatlah saya pada beberapa teks yang disunting oleh mahasiswa saya di Universiti Kebangsaan Malaysia sebagai Latihan Ilmiahnya pada tahun 1974. Ada kalanya teks diberi cap ‘wujud’ hanya setelah diselenggarakan oleh penyunting Eropa. Saya pernah membicarakan hal tajuk atau judul dengan panjang lebar dalam buku Malay Word Music (Dewan Bahasa dan Pustaka.12 Amin Sweeney demikian sudah terkubur tiga puluh tahun yang lalu. Tetapi definisi teks tadi lebih terancam lagi. Berarti jika tidak bermakna “teks yang berjudul Hikayat Dewa Mendu” maka bukan judul namanya? Aneh-aneh ’aja. baru diberikan judul. A Full Hearing (1987:29-30). Dan jika tiada tajuk sama sekali. Makanya. 12 Ya. seusai polemik Russell Jones (1980). misalnya. “Ini Hikayat Dewa Mendu”. karena banyak teks tidak mempunyai judul. Hikayat Raja-raja Siam. bahkan di luar bidang agama. dan Kratz (1981) 11 . 794). Lihat misalnya rujukan pada Hikayat Maresekalek. Tidak ada “barangkali”-nya. biasanya akan diberi tajuk dalam interaksi lisan. “tajuk cerita”. karena: Ternyata judul itu acap bermasalah. belum tentu konsep judul ada dalam tradisi Melayu. yang membicarakan polemik tersebut serta memberi rujukan seperlunya. bukan “Ini teks yang berjudul Hikayat Dewa Mendu” (hlm. sudah tentu.

Nah ingin saya ajukan pertanyaan: seperti apa petunjuk dalam tulisan Abdullah yang menunjukkan bahwa tulisannya dimaksudkannya untuk dibaca secara diam-diam? * Anggapan HC-L bahwa. sebagaimana bagian “Perubahan Konteks Sosial”. Ya. bab 2). “Tulisan Jawi sebenarnya bukan saja rumpang (tidak lengkap) tetapi juga cacat (tidak memadai)” mungkin tidak terlalu janggal jika contoh yang ditampilkan dilihat dalam konteks keberaksaraan cetak rumi kini. teringat pada sikap eurosentris Jack Goody yang melihat tulisan Tionghoa sebagai “protoliterate”. Authors and Audiences: 10-11. 13 Yang penting adalah maksud pengarang. Ya. Jangan Bunuh Bidangku 13 Lumpur. diselesaikan revisinya dalam bentuk… naskah juga! Tetapi naskah untuk dicetak batu. jadi biarlah disebut buku cetak saja di sini. malah maksud pencetak belum tentu relevan apalagi mungkin tidak diketahui.Jangan Bungkam Suaraku. Ciri ini sudah banyak dibicarakan (hlm. Pernyataan ini jelas tidak terbatas pada persiapan edisi aksara Latin. 793). Authors and Audiences in Traditional Malay Literature. baik juga ditanya “dimaksudkan” oleh siapa? Belum tentu oleh pencetak. Buku berbentuk cetak batu (litografi) memang pernah didendangkan depan umum. Kemudian pada 1849.14 Akan tetapi. Malah filolog yang akan membicarakan peralihan dari budaya pernaskahan ke budaya percetakan perlu berkecimpung sedikit banyak dalam lautan ilmu noetika. yaitu interaksi di antara bentuk naskah dan cetak. Hikayat Abdullah mula-mula dihasilkannya sebagai naskah pada tahun 1843. sejujurnya. Berkeley. Di situ juga dibahas konsep teks. 1994. Sweeney 1980. Jika buku cetak dimaksudkan dibaca secara diam. ciri ini sudah banyak saya bicarakan. Misalnya: Naskah biasanya dimaksudkan untuk dibacakan seseorang di depan umum dengan suara lantang. Lihat juga catatan kaki 6 di atas. Kedua-duanya bisa berbentuk buku. Filologi yang mengabaikan media lain dari pernaskahan adalah filologi terkandas. pembicaraan mengenai pemindahan dari bentuk naskah ke bentuk buku—yang hanya melihat aspek pengalihaksaraan naskah jawi menjadi edisi teks rumi—akan bersifat sangat simplistis. Munsyi Abdullah justru menulis pada zaman peralihan dari pernaskahan ke percetakan. . Tanpa konteks demikian. Buku dimaksudkan untuk dibaca seorang individu secara diam. 13 14 Lihat Sweeney 1980. dalam konteks perkembangan keberaksaraan.

masuk akal jika dikatakan bahwa masalah penafsiran ejaan diimbangi pada peringkat formula. justru karena pengandalannya pada bahasa formulaik untuk berkomunikasi dengan jelas. Memang HC-L mengulang beberapa aspek uraian saya yang dahulu lagi. semakin banyak diperlukan huruf vokal (KLAAKM. Sarjana Belanda yang asyik mendirikan hukum ejaan jawi justru memilih ejaan yang kuno seperti ini sebagai dasar: Penjinakan ejaan Melayu oleh beberapa sarjana Belanda begini tidak berhenti di situ. A Full Hearing. Daftar seperti timbang-tumbang-tambang dan seterusnya merupakan contoh ejaan lama. Kalau dibandingkan kadar penggunaan formula dengan kadar penggunaan huruf vokal dalam tulisan Melayu sepanjang empat abad.14 Amin Sweeney pernyataan HC-L hanya memperlihatkan pemikiran statis. maka tidak terlintas dalam benak untuk mengembangkan sistem ejaan yang lebih “konsisten”—menurut ukuran sekarang (Jilid 3: 49). Akan tetapi ini sudut pandang yang sungsang. terdapat sungutan tentang “kecerobohan” pengarang karena sering terjadi pembauran antara misalnya ‘c’ dan ‘j’. Jilid 3: 48). Buat penulis dalam sistem pernaskahan berorientasi lisan. Ia tidak mampu menafsirkan bahan yang disorotnya dalam jalinan noetika yang dinamis. ‘gh’ dan ‘ng’. dan KLAAKM. yaitu dalam konteks interaksi antara media: kelisanan dan keberaksaraan. semakin sedikit digunakan huruf vokal. 15 tetapi tanpa hasil. maka kita melihat suatu corak yang agak jelas: Semakin banyak dipakai ungkapan tetap yang umum diketahui bentuknya. keberaksaraan cetak. dapat diandaikan bahwa biarpun pembaca siratan itu dijangka tidak lagi menunjangi penggunaan formula melainkan mampu memahami gaya bahasa Abdullah yang “baru” itu. Buat manusia beraksara cetak. Memadailah di sini jika disampaikan kutipan pendek dari buku terkini: Selanjutnya. 2005. namun berkurangnya formula itu harus diimbangi pada peringkat ejaan. . 2008. seterusnya antara keberaksaraan pernaskahan dan media HC-L sendiri. Semakin berkurangnya pemakaian formula itu. ‘k’ dan ‘g’. Dan Sehubungan dengan ini ialah keluhan para filolog zaman silam tentang tidak konsistennya ejaan dalam naskah lama. Hasilnya diwariskan kepada generasi demi 15 Lihat Sweeney 1987. yaitu formula.

15 Menurut HC-L. Prinsip pendorong HC-L adalah persepsi. 800). Tentu saja terdapat perbedaan . terdapat obrolan bersemangat lewat surel (emel) di antara sekumpulan sarjana mengenai tulisan jawi (‘handwiting again’). Akan tetapi pertukaran pikiran antara mereka yang menaruh minat terhadap naskah Melayu sering terjadi. tulisan bahasa Arab juga “rumpang alias tidak lengkap (defective)”. Apakah patut memakai ejaan modern “yang disempurnakan”. seolah-olah tidak ada kemajuan (memang hampir tidak ada). Sadarlah bahwa keambiguan diatasi bukan hanya berkat morfologi. Kalau ada pertukaran pendapat. seolah-olah tidak tercapai hasil apa pun selama ini. Jilid 2:56-57). yang belum tentu dimiliki orang lain. Keluhan bahwa tidak ada kesepakatan tentang mode transliterasi (bukan transkripsi!) yang terbaik adalah keluhan pribadi. Pada tahun 2009 ini. sebagian sarjana yang meneliti karya sastra pernaskahan memang menghindari julukan “filolog” karena membawa konotasi tertentu yang diwarisi dari zaman kolonial. Ortografi Pengarang-dalam-teks dalam bagian mengenai ejaan berbicara seperti orang yang menderita depresi berat. Para penyunting bertolak dari nol? Hampir tidak ada kemajuan atau pengalaman (?) selama 200 tahun? Ini nonsens murni. perasaan. bahkan tidak ada pengalaman selama 200 tahun ini. Wacana tentang filologi amat jarang? Tidak! Ya. Misalnya. atau secara diam melalui publikasi. dan selera pribadi tertentu. ataukah perlu memakai huruf dan tanda yang menunjukkan bahasa yang bersangkutan bersifat arkais? (Hlm.Jangan Bungkam Suaraku. Memang ada mode pengalihaksaraan yang umum dipakai selama puluhan tahun. Jangan Bunuh Bidangku generasi siswa Indonesia yang diajari sistem bacaan jawi ketinggalan zaman ratusan tahun (KLAAKM. Dijamin dengan harakat. Pernyataan berikut penuh keluhan yang sama sekali tidak berdasarkan kenyataan: Wacana tentang filologi Melayu amat jarang. Tidak ada masukan sama sekali dari Bpk. tidak ada perkembangan yang terus-menerus. sehingga “dapat menimbulkan ketaksaan”. ChambertLoir. Tidak ada ketaksaan. ternyata tidak ada kesepakatan tentang metode filologi yang paling tepat. baik secara lisan selama suatu simposium. para ahli masih memperdebatkan cara yang terbaik untuk mentranskripsi tulisan Jawi. pada tahun 2007. dengan konsekuensi masing-masing penyunting bertolak dari permulaan.

termasuk sarjana Belanda. penuh kekeliruan dan bakal menyesatkan.16 Amin Sweeney tergantung pilihan penyunting masing-masing. tidak perlu memilih antara hujung/ujung. ya silakan saja. termasuk naskah. Perbedaan antara ejaan modern Indonesia dan Malaysia tidak menjadi masalah. termasuk berbagai kecenderungan atau malah aliran yang terdapat untuk mencapai tujuan yang sama. sorotan saya adalah pada teks jawi. tetap dilambangkan dua huruf yang telah disingkirkan dalam ejaan terkini. yaitu ‘ain (‘) dan angka dua (2). namun perumian tersebut harus tetap mudah dibaca. Namun untuk menerangkan berbagai hal tentang ejaan Munsyi Abdullah dan penyalin karyanya. diadakan komentar terperinci dan anotasi yang lengkap. Tetapi ada syarat mutlak. yaitu metode transliterasi yang dipakai harus konsisten. Chambert-Loir sendiri. Kekecualiannya justru Bpk. Makanya kalimatnya—dikutip di atas—yang berbunyi. misalnya. Jika saya menyelenggarakan edisi rumi dari karya jawi. cetak batu dan cetak huruf. Misalnya. maka diadakan modifikasi kecil seperlunya. Penggapaian ini menghendaki perumian yang menyampaikan informasi sebanyak mungkin tentang teks aslinya. Sebuah perumian tentu saja akan berdasarkan ejaan modern yang dimiliki bersama oleh Indonesia dan Malaysia (EYD di Indonesia). Jika beliau memilih mengumumkan dalam Sadur isi pertukaran pikiran lewat email. Tetapi yang diungkapkannya bukan pertukaran pikiran. tujuan saya ialah menguraikan segala sesuatu mengenai teks itu untuk pembaca edisi rumi. Ini diuraikan dengan panjang lebar dalam Jilid 1-3 Seri Karya Lengkap Abdullah. Surelnya dari 2006 itu memaparkan pendekatan transliterasi yang eksentris. Yang sulit jangan dipersulit lagi. Untuk menjangkau tujuan tersebut perlu sekali diungkapkan prinsip kepengarangan serta perkembangan sistem komposisi yang diandalkan pengarangnya. Tidak ada debat apapun antara “para ahli”. Chambert-Loir yang mengkritik metode “transkripsi” saya serta berusaha memaksa-maksakan mode transkripsinya sendiri. Betapapun rumit masalah yang dihadapi. Selain itu terdapat sikap luwes dan toleran. Saya membalas surelnya sewajarnya. tidak konsisten. Usaha ini sangat memerlukan sorotan tajam terhadap sistem ejaan. melainkan hanya pendapat HC-L. “Pada tahun 2009 ini…tulisan Jawi” perlu ditanggapi. Yang terjadi? Pada tanggal 15 Februari 2006. saya menerima surel dari Bpk. Malah pengirimnya menganut paham yang anti-filologis. . bisa dan pantas diterangkan secara sederhana. Supaya teks tidak dibebani.

menyeterika tata bahasa Indonesia sehingga semua tertib pada hukum. ia bisa tahu motivasi para residivis yang “tidak mau menaati ejaan modern”. Menurut HC-L. 16 dan sebagainya supaya patuh pada aturan di Malaysia atau Indonesia. karena/kerana. bagaimana pula mempunyai dijadikan memunyai? Gilinglah! Seterikalah! Jadikanlah bahasa Melayu ini sistem mekanis tanpa jiwa. Sistem EYD sendiri mengandung banyak bentuk yang tidak “konsisten”. Jika tidak. teks patut ditranskripsikan ke dalam ejaan termodern 16 17 Baik kerana maupun karena terdapat dalam ejaan jawi Semenanjung Tanah Melayu. Pilihan ditentukan oleh bentuk jawi. dari mana muncul dugaan HC-L yang aneh-aneh? Sayangnya. Melihat bahwa beberapa bagian dalam surelnya (2006) dimasukkannya verbatim (dalam terjemahan) ke dalam tulisan Sadur ini. serta “memakai huruf dan tanda yang menunjukkan bahasa yang bersangkutan bersifat arkais”. malah sistem EYD jauh lebih konsisten daripada sistem ejaan bahasa lain yang pernah saya lihat. Misalnya. Lihat hlm. Mereka ingin “menunjukkan secara beruntun bahwa teks yang bersangkutan bukan teks modern”. kabar dan Kamis tetapi akhir dan ikhtiar. khabar/kabar. pengarang-dalam-teks di bab Sadur. Nah balik ke HC-L. Akan dilihat bahwa ini justru relevan pada anggapannya yang keliru tentang terjemahan. Sebenarnya ini sangat normal. 17 Penciptaan sistem ejaan rumi yang memang muncul dari pengalihaksaraan tulisan jawi menghasilkan sebuah sistem yang cenderung begitu fonemik sehingga kini ada pihak berwenang lagi sinting yang ingin menggiling EYD sehingga tidak ada kekecualian. Sudahlah menterjemahkan menjadi menerjemahkan. maka sangat mungkin HC-L terpancing oleh pemakaian frasa sense of the archaic dalam balasan saya. tersebutnya archaic dalam tulisan saya itu tidak ada sangkut-paut dengan metode perumian saya! Sebaliknya. supaya berhasil mengatasi kerterbatasannya berpikir serta memahami konsep “pentradisian kembali”. Jangan Bunuh Bidangku 17 wang/uang. Dasar argumen yang cacat lalu ditumpangtindihi silogisme yang juga cacat: Teks asing diterjemahkan ke dalam bahasa termodern Transkripsi adalah terjemahan Maka. hasil kerja yang disebutnya “transkripsi” harus ditampilkan dengan EYD. saya bermaksud mengusulkan bacaan yang mungkin berguna buat HC-L. 26 di bawah.Jangan Bungkam Suaraku. . Hebatnya.

Misalnya: Seandainya ada pembaca yang melihat ada yang “aneh-aneh” begitu dalam teks Hikayat Abdullah ini. Tersebutnya ejaan van Ophuijsen dan Soewandi 18 hanya memperlihatkan dugaan keliru HC-L bahwa saya mencontoh sistem ejaan yang usang. Dalam proyek saya terkini. Misalnya: 18 Belanda tidak mempunyai monopoli. Dalam kasus ejaan. perlu kehati-hatian ketika berhadapan dengan karya dari tahun 1950-an.18 Amin Sweeney Aduh. Cimera ini menutupi kenyataan bahwa yang diajukan sebagai kesimpulan hanya berupa pernyataan perasaan dan persepsi pribadi semata-mata. alangkah baiknya jika dipelajari sedikit banyak tentang seni terjemahan sebelum membuat generalisasi yang konyol. Ya. supaya terjemahan tidak terjerumus ke dalam anakronisme yang lucu. ini benar-benar terasa seperti persiapan untuk kuliah tahun pertama. melainkan dalam bahasa Melayu menurut seleranya sendiri (KLAAKM. transliterasi apalagi transkripsi juga bukan terjemahan bahasa asing. yaitu menerjemahkan seluruh puisi Taufiq Ismail ke dalam bahasa Inggris. Penyair sendiri sering bermain dengan konvensi bahasa dan gaya bahasa lama dan baru. Ini sudah saya paparkan dengan panjang lebar dalam Jilid 1-3. Apakah ini harus diabaikan penerjemah supaya “menaati” konvensi termodern? Maaf. maka itulah reaksi yang diharapkan! Berarti pembaca menerima isyarat bahwa Abdullah tidak menulis dalam bahasa Malaysia atau Indonesia yang baik dan benar. Sebaliknya saya berusaha menggunakan sistem perumian terkini yang cocok untuk menguraikan hakikat teks jawi. Jangan lupa ejaan Wilkinson! . Ya. Homerus belum diterjemahkan ke dalam ragam bahasa koran. transkripsi bukan transliterasi. HC-L berpanjang lebar untuk menolak pelambangan huruf ‘ayn dalam teks rumi. serta kepelbagaian gaya bahasa yang dimanfaatkan untuk menampung transformasi teks asli dalam wadah yang sesuai. Berulang kali dinyatakan perasaan yang itu-itu juga. Kepribadian itu pula ditutuptutupi lagi dengan dengan dua cara: perasaan pribadi dijadikan perasaan khalayak. Lihat saja keanekaragaman jenis teks yang pernah diterjemahkan. 3: 203). Segala sesuatu yang ditampilkan HC-L sebagai argumentasi sebenarnya berupa fatamorgana semata. dan diajukannya dengan kalimat bertele-tele bersifat kuasiilmiah.

Menulis [kata dengan ‘ayn] berakibat menarik perhatian atas konsonan Arab ‘ayn padahal sudah lama hilang atau diganti huruf “k” (hlm. manipulasi ideologi boleh dikatakan banyak kalau termasuk rinci-rinci transkripsi yang kelihatan sepele. sehingga menambah nuansa Arab teks asli. Yang “sudah lama hilang” tidak hilang dari teks yang dikaji. masalahnya Islam! Siapa dulu tukang manipulasi! Belum tentu semua teks jawi bersifat Islam. misalnya. yang “seharusnya disatukan”. Misalnya. Dan ini mempunyai akibatnya sendiri karena nyaris semua kata yang diberi tanda demikian adalah kata Arab (hlm. Perbedaan antara kedua sistem ejaan tersebut masih ada sekarang . Tidak terlalu mengherankan jika penggunaan ‘ayn memperlihatkan kata yang berasal dari bahasa Arab. 19 Berkali-kali saya membaca ini mencari makna yang rasional. Kitab Giok Lek Nabi Maharaja Orang Cina? Keperluan HC-L untuk menghapus segala kesan sistem ejaan jawi dari “transkripsi” menjadi obsesi yang aneh. “akibatnya sendiri”. 800). 797). tetapi berakibat menggarisbawahi katakata asal Arab. yang kelihatan lebih bersifat Islam dalam transkripsi daripada dalam naskah (hlm. ialah [sic] ditangkap sebagai petunjuk etimologi (“kata ini Arab”). 800). …unsur yang lazim dalam suatu tulisan dijadikan mencolok dalam tulisan lain. tanpa hasil. Kebiasaan ini merupakan “manipulasi ideologi”! Selain itu pula. menjadi masalah baginya: Pilihan antara ejaan Indonesia dan Malaysia dengan semerta [sic] melahirkan sebuah rona lokal yang tidak terdapat dalam teks asli. Bagaimana. …unsur yang kelihatan begitu sederhana seperti ejaan sebetulnya dapat mempunyai dampak besar karena (dalam contoh di atas) menggarisbawahi kata-kata Arab dan hanya kata Arab saja (hlm. ya “dampak besar”. Ah. Kita berurusan dengan aksara jawi. perbedaan antara ejaan Indonesia dan Malaysia. hanya menyangkut ejaan saja. yaitu Arab-Melayu! Ternyata HC-L curiga bahwa penggunaan huruf ‘ayn menyembunyikan konspirasi! Ya. Jangan Bunuh Bidangku Bila huruf Arab ‘ayn ditranskripsi sebagai apostrof (menghasilkan ejaan “do‘a”) maka petunjuk yang diberikan kepada pembaca dapat saja diartikan lain.Jangan Bungkam Suaraku. 800-801).

dalam buku Sadur. Sayangnya. Pembubuhan tanda baca bakal berakibat yang sama: Di sini pun seperti dalam contoh lain di atas. sementara penyunting menggunakan ejaan semisal “bua2han” [sic] (padahal sebenarnya tidak persis sama dengan ejaan Jawi). yang kurang jelas relevansinya di sini: 19 I think these reverse apostrophs [sic] and angka dua are part of the ahli pilologi toys that have no place in your book. 804). karena keteledoran. untuk ini ia memanfaatkan keahliannya dalam bahasa Arab. Kini hanya satu bentuk angka dua yang mau dihujatnya. HC-L telah mengundurkan diri setapak dengan akibat yang menarik. Jika dipilih sistem perumian yang waras. Tetapi buat HCL. 801-802). meski keduanya seharusnya disatukan sejak tahun 1972 (hlm. 801).20 Amin Sweeney ini. gara-gara perbedaan ejaan: Akibatnya ciri yang dalam tulisan Jawi terdapat secara potensial menjadi terwujud dalam tulisan Latin (hlm. saya juga merasa wajar diungkapkan bahwa dalam surel tersebut beliau sangat menentang penggunaan angka dua. tidak akan ada masalah. karena tidak menepati ejaan yang betul dan benar di sisi sistem EYD. … Menulis “bua2han” [sic] ialah merancukan transkripsi dan pengalihan huruf (hlm. HC-L menolak kebiasaan ini atas dasar sikap anti ‘transliterasi’-nya. 19 Nah. Melihat bahwa Bapak Chambert-Loir telah menerbitkan verbatim beberapa bagian surelnya. apa yang dalam tulisan Jawi bersifat potensial dijadikan nyata berwujud dalam tulisan Latin (hlm. Misalnya: Saya pikir apostrof terbalik dan angka dua merupakan sebagian mainan ahli pilologi [sic] yang tidak punya tempat dalam buku anda. Anehnya. . Akibatnya kata “buah2han” [sic] yang ganjil ini mencolok di tengah-tengah sebuah teks yang tertulis sesuai dengan ejaan biasa. 801). Ya. tidak jelas bentuk mana persis yang tidak disenanginya: Terdorong keinginan memberikan pembaca indikasi tentang sistem ejaan Jawi.

Tidak diberi tahu sumbernya! Misalnya: Kassim (salah) Hampirlah —— kitab itu kubaca bukan— jalan bahasa Melayu HC-L (betul) hampirlah habis kitab itu kubaca bukannya jalan bahasa Melayu Tetapi ada juga tempat HC-L taat pada kesalahan Kassim. Ada kekeliruan dalam teks Kassim yang sudah diperbaiki dalam “kutipan”. yakni litografi tahun 1847 [sic] (hlm. rahasia dan . 801-802). kutipan HC-L justru melanggar hukumnya sendiri. akan tetapi membaca.Jangan Bungkam Suaraku. Jangan Bunuh Bidangku Para penyunting teks Arab sudah lama menetapkan bahwa tidak ada gunanya menulis “jbl” dan “bldn” sebagai transkripsi kata Arab… (hlm. HC-L mengutak-ngatik teks. Tetapi itu perlu dilihat secara teliti. Tapi bua2han? Dua kali? Sekarang sampai ke pengunduran diri HC-L setapak tadi. buah2han. 21 “Para punyunting teks Arab” mana? Kapan? Bukankah masuk akal jika mengandalkan harakat? Apa sangkut-pautnya dengan contoh angka dua tadi? Memang dalam teks-teks Abdullah terdapat empat bentuk begini: buah2an. Melihat bahwa kata transliterasi berarti transkripsi dalam kamus HC-L. maka kenyataannya jauh berbeda. Setapak besar! Dalam “Pendahuluan” buku Sadur ini. Nomor halaman merujuk pada dokumen asli. apakah kata berdasarkan juga harus diberi tafsiran lain dari yang konvensional? Soalnya. Gara-gara ‘koreksinya’ pada ejaan yang “tepat”.) 2004: 128-132. Kassim (salah) dalam surat-surat Melayu membacakan. akan tetapi Seterusnya. jika pembaca mengira bahwa kutipan tersebut merupakan transkripsi atau salinan yang patuh pada teks Kassim Ahmad. semua bentuk penggandaan menggunakan angka dua! Ada temanteman yang merasa yakin bahwa kutipan itu disalin dari Jilid 3 saya. HC-L mengajukan sebuah kutipan panjang dari Hikayat Abdullah. buah-buahan dan buahan2. 19). Ya. menurut dogma HC-L harus digunakan hanya buah-buahan. pembaca tidak akan tahu bahwa noktah. akan tetapi HC-L (salah) Betul dalam surat2 Melayu dalam surat Melayu membacakan. Rujukannya: Kutipan ini berdasarkan Kassim Ahmad (ed. Sedangkan Kassim menurut aturan EYD dalam hal penggandaan.

Namun. Drewes dsb. komentar dan anotasi diterjemahkan dari bahasa Prancis. . Intipati dogma HC-L berbunyi: …kalau dieja dengan tepat dalam tulisan Jawi. sahaja. segala sesuatu yang dikhotbahkannya cenderung bersifat angin lewat. Edisi Datoek Besar dan Roolvink malah lebih ‘prataat’ pada EYD. dan Inggeris. Khalid Hussain. Kerajaan Bima Ketika membaca surel Bpk. semua daerah! Dan yang menghakimi benar salahnya tulisan jawi? Tentu HC-L sendiri. erti. Kriteria? Jika tidak dieja dengan tepat? Masalahnya. banyak kata lain dibiarkan ejaannya. Namun diadakan sedikit sekali keterangan dan anotasi mengenai isi teks yang ditampilkan. yang lebih mencerminkan teks asli. yaitu Kerajaan Bima. 21 Ternyata sebagian besar buku tersebut merupakan cetak ulang dari 1982 dan 1985. Tulisannya penuh kritikan terhadap kekeliruan orang lain baik secara khusus seperti Muhammad Haji Salleh. Saya menguji kemampuan beberapa pembaca Indonesia sebidang memahami beberapa bagian teks Kerajaan Bima. École française ďExtrême-Orient. Chambert-Loir. Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah. saya merasa penasaran untuk melihat bagaimana pendekatannya dalam bukunya yang relatif baru diterbitkan. Pemikiran begini didasari anggapan bahwa terdapat semacam ejaan jawi yang tepat untuk semua zaman. “sementara penyunting” dsb. termasuk edisi Datoek Besar dan Roolvink.. Rosak juga diubah menjadi rusak. sedangkan ia sendiri tidak kunjung sunyi dari kekeliruan merata-rata. atau secara umum. Contohnya yang representatif: Maka pada seorang-orang menterinya itu tujuh laksa tujuh keti tujuh ribu tujuh ratus tujuh puluh tujuh orang yang berbaju besi 20 21 Dalam surel: “…as long as they are correctly spelled in jawi. HC-L menekankan bahwa buku yang diterbitkan dalam seri Kerajaan Bima ditujukan kepada pembaca ‘awam’. serta digunakan dalam perumian lain. “para penyunting”. fikir. Kepustakaan Populer Gramedia. “kutipan” menjadi teks kacukan. 801). Hasilnya. walau bertentangan dengan EYD: hairan. Henri Chambert-Loir (ed). rahsia dan tau. tidak dilakukan sendiri. maka semestinya dieja dengan tepat pula dalam tulisan Latin 20 (hlm. Jakarta.22 Amin Sweeney tahu diubah dari nokta. 2004.. they should be correctly spelled in rumi”.

Hasilnya sebuah teks yang tidak dapat digunakan untuk mengkaji bahasa asli teks tersebut. Tidak ada yang paham. Terdapat kecenderungan untuk memakai ejaan yang bukan standar EYD: sangau. hakekat. komentar mengandung berbagai bentuk menarik. Mengapa pula kata Melayu loceng harus diterjemahkan ke dalam lonceng? Mengapa kerana dijadikan karena? Walau “ejaan asli” kata-kata tertentu diubah supaya sesuai dengan EYD. saya merasa tertarik untuk mengetahui bentuk asli kata tentaranya dan tepermanai.Jangan Bungkam Suaraku. Dalam kutipan di atas. ejaan Malaysia. momohonkan dan paraduan yang tidak diterangkan. Tidak jelas apakah ini varian.105. diantar dan dihantar. Kata sahlat muncul beberapa kali dalam teks. Mengapa memberitahu dan menghisap. ada varian ejaan yang tidak dianotasi. yang mungkin merupakan pengindonesiaan bentuk asli Melayu tenteranya dan tepermenai. tetapi tidak disediakan penerangan apapun. tidak mengherankan. malah pada halaman yang sama terdapat mahkota dan makota. seksama. Seharusnya khatib dan kabar. Jelas kesalahan. baru ditemukan catatan kaki pada hlm. ada pula bentuk yang lebih mencerminkan bentuk asli. 23 Tak seorang pun mengerti kata-kata yang dihurufmiringkan. pendeta dan pandita. dan bukan memberi tahu dan mengisap ala EYD? HC-L juga sering tidak patuh pada bentuk yang tidak konsisten dalam EYD. ada pula banyak kekeliruan dan bentuk yang tidak konsisten serta tidak patuh pada EYD. dalam penyuntingan ini. Jangan Bunuh Bidangku dan berketopong besi lain daripada segala rakyat bala tentaranya tiadalah tepermanai banyaknya. Berikut beberapa contoh: Belum sampai ditampilkan perumian. Ditemukan juga bentuk aneh seperti handak. terdapat bentuk ejaan yang memang diterjemahkan ke dalam EYD—kadang-kadang lebih tepat disebutkan kata yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia—yang cenderung menghilangkan ciri-ciri asli teks sehingga benar merupakan terjemahan dari bahasa Melayu teks asli ke dalam bahasa Indonesia metropolitan kejawaan. mesjid. Mengempalakan? Munjelis? Bagainda? Sendrik? Terdapat kata yang diberikan ejaan yang berbedabeda. baik dalam komentar maupun perumian. karena tidak ada anotasi: emas dan mas. bukan pikir. Harus disisir buku. tetapi HC-L menggunakan khatib dan khabar. namun: . yang masuk akal. Tapi Kidir? Malah bentuk EYD yang konsisten acapkali tidak ditaati: fikir. Masalahnya.

: …ejaan dibetulkan dengan menambah atau mengurangi huruf h tersebut oleh karena dalam hal itu ejaan naskah tidak mempunyai arti fonetik yang dapat dirumuskan (hlm. ada pula digunakan baik bentuk yang dibetulkan maupun bentuk asli tanpa keterangan. pantas bertanya: “arti fonetik” bahasa mana? Apalagi. dan lain-lain (hlm. Hukum tersebut: Akhiran –an menjadi –kan jika kata asalnya berakhirkan kaf atau qaf mati.. Perumian ejaan varian bahasa Melayu Bima juga tidak konsisten. yang harus “dibetulkan”. Terjemahan? Setelah selesai tahap pertama kampanye untuk menegaskan bahwa proses penyuntingan (yaitu pengalihaksaraan) itu mirip dengan penerjemahan. seperti mengadap. dsb. Diketahui ini bukan salah cetak hanya karena ditampilkan foto halaman berkenaan. Misalnya. terhurai dsb. 244). Pendekatan yang normatif dan menyempitkan jelas kelihatan dalam pernyataan tentang “huruf h awal yang kelebihan”. kata letap dibetulkan menjadi letak. 245). Tetapi sebagian huruf ‘h’ ini tidak “kelebihan” dalam bahasa Malaysia. Tetapi dengan kata lain. Berarti jika HC-L tidak dapat merumuskan “arti fonetik”. maka berhak mengutak-ngatikkan ejaannya. menengar. seperti hujung. diharung. terhurai. Lihat saja kata menghisap yang dipakai HC-L sendiri. di tempat lain lagi. yang memakai diharung. Orang Melayu Malaysia. mengadang. Lihat gelap dan gelab. mengunus. mengadang memang ejaan EYD (menurut Kamus Besar BI)! Bagaimanapun. dan 362: kedudukkan dan bait 403: kenaikkan (hlm. Pernyataan HC-L yang menyingkapkan kejahilannya menyeluruh tentang hukum dasar ejaan jawi berbunyi sebagai berikut: Dan huruf k pada akhir kata dasar empat kali digandakan di depan akhiran –an (seolah-olah dikelirukan dengan akhiran –kan): bait 300. 77). secara bercanggahan. 356. Yang “menganggap” tentu HC-L. Misalnya terdapat sair di samping syair. di tempat lain yang dikatakan “ejaan asli” dimasukkan dalam teksnya dengan catatan kaki. ada pula dilestarikan varian di beberapa tempat.24 Amin Sweeney …beberapa kata dipertahankan ejaan aslinya kalau dianggap termasuk satu ragam bahasa yang khas. HC-L sadar bahwa ia terpaksa memperlihatkan perbedaan antara keduanya .

tulisan modern (tulisan lain. bahasa lain). Teks Jawa Kuno menjalani terjemahan murni. Maksudnya sebuah teks yang ditranskrispi [sic]/diterjemahkan dengan tepat dapat ditranskripsi/diterjemahkan balik sedemikian rupa menghasilkan teks aslinya kembali… (hlm. 792). misalnya teks berbahasa Jawa Kuno… (hlm. Di sini Umberto Eco harus berurusan dengan HC-L. hanya. jika dapat diterjemahkan/dialihaksarakan balik dari B ke A. sebuah terjemahan/pengalihaksaraan dari bahasa/aksara A ke bahasa/aksara B. yang sebenarnya tidak lain dari terjemahan. Tidak jelas apa ukuran untuk nilai “baik” dalam ini! Pikiran waras akan mengira 22 Untuk pembicaraan tentang pengalihbudayaan khalayak. Tambahan lagi. . Jangan Bunuh Bidangku 25 karena artikelnya membicarakan pengalihaksaraan. bukanlah peralihan dari sebuah teks kuno ke dalam sebuah bahasa modern (tulisan sama. mengandalkan perbandingan dengan kasus Prancis kuno tidak akan membantu pembaca Indonesia. bahasa sama) (hlm. 22 Pembedaan yang diadakan di antara penerjemahan dan pengalihaksaraan tetap kabur: Yang menjadi perhatian kita. bukan terjemahan dalam arti biasa. sebuah pengalihan kata yang tepat” dan “bukan sebuah transkripsi yang baik. hasilnya. “ke dalam bahasa Indonesia”. melainkan peralihan dari sebuah tulisan kuno ke dalam sebuah tulisan modern (tulisan lain. kasus Jawa Kuno tidak melibatkan “sedikit banyak diubah” dan sebagainya. “bukan sebuah terjemahan yang baik. Dikatakan bahwa teks dalam bahasa kuno disajikan pada khalayak masa kini dalam: …bentuk yang sedikit banyak diubah dan disesuaikan. hanya sebuah pengalihan aksara yang tepat”. 801). 792). Itulah pula yang terjadi dengan sejumlah teks Indonesia lama. ragam bahasa berbeda). lihat artikel saya yang dicecerkan: “Di Bawah Pucuk Gunung Es Terjemahan Tertulis”. ragam bahasa berbeda) HC-L melihat bahwa: Sebuah persamaan lain antara transkripsi dan terjemahan adalah mitos keterbalikannya. Namun terasa ada dalih untuk mengelabui mata. Ini seharusnya berbunyi: bahasa modern (tulisan sama. Konon.Jangan Bungkam Suaraku. walaupun “persis seadanya”. Maaf.

font khusus. Tetapi yang diajukan sebagai contoh kebiasaan ini kurang sesuai. yang ditujukan pada golongan yang jelas belum akademisi.26 Amin Sweeney bahwa jika latihan tadi mencapai tujuannya maka berhasil. Tentang ejaan bahasa di negeri-negeri Eropa terdapat generalisasi luar biasa dan keliru. Tetapi andaian menembak buta seperti yang berikut menimbulkan tanda tanya: Andaikan edisi-edisi yang selama ini dikerjakan oleh orang asing diperbandingkan dengan edisi oleh orang pribumi. Lalu? Apa sangkut-pautnya dengan ini semua? Spekulasi dan Generalisasi tanpa Dasar Selain spekulasi dan generalisasi yang sudah ditampilkan. orang tidak akan tahu bahwa ini bukan yang asli. serta spekulasi demikian tidak diajukan sebagai argument berdasarkan bukti. Coba saja bahasa Gaelige: Masalah ejaan amat rumit di Indonesia (dibandingkan misalnya dengan negeri-negeri Eropa) oleh karena ejaan modern (Latin) pernah beberapa kali dimodifikasi sejak tahun 1900… (hlm. Malah jika diperlihatkan yang “didaur ulang”. 802). 793). paling dalam bidang Melayu. 797). Edisi hasil perumian biasanya masuk lingkungan para akademisi: Buku (dalam hal transkripsi teks sastra lama) langsung termasuk suatu lingkungan tertentu. Tidak ada salahnya berspekulasi asalkan terdapat tanda atau petunjuk yang mendorong ke satu arah. ada yang unik: Kekacauan ini merupakan fenomena unik dan ganjil dalam bidang filologi Melayu… (hlm. . Ya. catatan dan kurung… (hlm. 795). biasanya lingkungan terbatas para akademisi (hlm. simbol. 799-800). mungkin sekali akan tampak perbedaan sikap. Contoh tersebut mengacu pada “edisi kritis pertama”. Tentang penyalinan naskah yang kacau urutannya. masih ada yang wajar dicatat. yang sebagian bersifat ideologi (hlm. bandingkanlah! Tentang banyak edisi yang belum saya lihat: Banyak edisi tampak seperti mayat di meja forensik: teks tertutup oleh ribuan tanda.

tidak ada terjemahan Melayu dari teks dalam salah satu bahasa Nusantara yang lain (hlm. “Sastra Melayu pun banyak berhutang pada sastra Jawa. Lihat bagaimana alinea berikut dimulai dengan “Namun demikian”. Tambahan lagi. Namun sambil mengarung. oleh Dewan Bahasa dan Pustaka. sebagian tanggapan saya sudah termasuk artikel yang menghilang. Pada satu ketika. buat saya. sehingga teksteks Melayu lama… tidak juga terjangkau oleh publik umum di Indonesia…” (hlm. ada kalanya teks MLS lebih nyaman diandalkan. tetapi akibat larangan ini. berhubung sejumlah penulis Indonesia juga menyumbangkan tulisannya dalam bahasa Inggris. saya akan berusaha mengharungi (oh. sebagian besar. 23 “Pendahuluan” Untuk mengelak pengulangan yang bertele-tele. Kecuali jika tidak pernah ada karya bahasa Melayu yang diterjemahkan? . Tetapi HC-L hanya mengajukan 27 teks EFEO dan 34 teks KITLV yang ditekankan keilmiahannya. Maaf. 19). 12). Meskipun judul buku ini ialah Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia. dikatakan bahwa. Misalnya: Terjemahan dari bahasa Melayu ke dalam satu bahasa Nusantara lain juga berarti bahwa proses penerjemahan berganda: dari bahasa aslinya dulu. buku-buku tersebut sepertinya tidak masuk perhitungan. 12). “Berarti” bagaimana? Ada pula jumlah yang rasanya kurang tepat hitungannya: Di antara 65 [sic] karangan yang terkumpul. ya itu ejaan Melayu!) bab “Pendahuluan” tanpa banyak komentar. Jangan Bunuh Bidangku 27 Edisi sastra Melayu lama dalam aksara rumi yang paling luas tersebar adalah teks dalam Malay Literature Series (MLS) dan seri lain. hanya 11 ditulis langsung dalam bahasa Indonesia.” Tetapi sebentar lagi kita diberi tahu bahwa: …sebelum zaman modern. saya membuat catatan pendek di sana sini.Jangan Bungkam Suaraku. 792). 54 [sic] artikel perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia… (hlm. misalnya. Apalagi setelah Tanah Melayu merdeka. kemudian dari bahasa Melayu 24 (hlm. ratusan teks sastra lama diterbitkan. Bagaimana cerita Panji? 23 24 HC-L menyebutkan “…larangan mengimpor buku dari Malaysia. yang dimanfaatkan di sekolah-sekolah Semenanjung Tanah Melayu. Alhasil.

Renungan yang paling spesifik serta panjang lebar apalagi perseptif dalam sastra Melayu datang dari pena Munsyi Abdullah dalam Hikayat Abdullah. Ini keliru. 45-52. Tetapi yang konon dibicarakan di sini adalah terjemahan di Nusantara. baru mungkin terungkap segala macam pengarang dan khalayak di muka bumi. Paham HC-L simplistis dan keliru: Di dunia Barat. Agama Katolik dahulu berpegang teguh pada pemakaian bahasa Latin. Lihat Sweeney. Saya pernah menulis panjang lebar tentang persoalan ini. yang kini menarik hanya dari segi sejarah. Seterusnya: 25 26 27 Istilah lain manakah yang dapat merangkumi Katolik dan Protestan? Dalam bahasa Indonesia. Bukankah “dunia Barat” mewarisi falsafah Yunani kuno dari terjemahan yang dilakukan sarjana Islam? Daripada mencari ilham dalam tulisan Schleiermacher dari 1813. A Full Hearing: 19-20.28 Amin Sweeney Dua hal memerlukan sorotan yang lebih tajam. 10). Katolik bukan Kristen! Untuk bahasa Indonesia. lebih baik seorang calon penerjemah mengkaji ilmu “Retorika Baru”. tidak pernah ada di Nusantara suatu renungan spesifik dalam bahasa apa pun mengenai kerja dan seni terjemahan (hlm. Dalam Jilid 3. dorongan untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam “segala bahasa di dunia” dimulai hanya setelah berkembang agama Kristen Protestan. 10). Malah timbulnya gerakan Protestan itu hanya mungkin dalam masyarakat beraksara cetak. sarjana Katolik tidak kalah dalam bidang penerjemahan. bahasa yang dipelajari. Yang pertama mengenai soal teori terjemahan di dunia Kristiani 25 dan Islam. bahasa ilmiah Eropa. teori penerjemahan sudah berkembang selama lebih dari dua puluh abad… (hlm. 26 Pendeknya. . 27 Namun. antara lain karena usaha yang terus menerus untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam segala bahasa di dunia (suatu usaha yang sangat bertentangan dengan konsep Islam tentang kesakralan mutlak bahasa al-Qur’an). lihat KLAAKM Jilid 1:28 dst. saya memperlihatkan betapa senada pandangan Abdullah dan Daud Soesilo. 34-35. yang menulis pada tahun 2001. 1987. Keengganan menerjemahkan al-Qur’an di dunia Islam sama sekali tidak menghambat kemajuan teori dan praktek terjemahan. HC-L mengatakan: …selama satu milenium sampai beberapa dasawarsa belakangan ini.

Diperlukan kurun waktu lebih dari satu abad untuk para penginjil menyuarakan masalah yang telah diungkapkan Abdullah pada tahun 1843. karena justru mereka yang dikritiknya. Akhirnya. seperti juga pada periode awal zaman Islam. 3: 194) 29 Di sini bertemu lagi dunia Barat dan Islam. Itu baru mendahului zamannya! (KLAAKM. Babak ketiga sedikit berbeda karena pengaruh politik dan ideologi yang diakibatkan penjajahan juga diiringi peminjaman suatu sistim tulis (Latin) dan penerjemahan berbagai teks. yang sesuai dengan pembabakan sejarah Nusantara pada umumnya. Jika dibicarakan hal terjemahan. pengaruh Islam dan pengaruh Eropa. Tetapi lihat skemanya—ya.Jangan Bungkam Suaraku. Di sini. 11). ungkapan itu hanya masuk koleksi “klisé mengenai Abdullah”. memperlihatkan bahwa hampir tidak ada apa pun yang asli dalam sastra . kemudian huruf Arab) dan suatu bahasa (bahasa Sanskerta. misalnya. yang tidak mungkin diresapi dari misionaris. kemudian bahasa Arab). Jangan Bunuh Bidangku Abdullah sering dikatakan “mendahului zamannya” tetapi tanpa penjelasan. Yang mampu menguraikan rahasia terjemahan justru Abdullah. ternyata bahwa pendapat Abdullah mengenai mutu penerjemahan Injil serta sebab musababnya merupakan hasil pemikiran orisinal. suatu bahasa dan suatu agama. tetapi ternyata misionaris yang menjadi majikan Abdullah tidak memiliki perbekalan teori. tetapi tidak disertai perpindahan bahasa dan agama yang dapat diperbandingkan dengan kedua masa sebelumnya (hlm. yakni periode pengaruh India. Di antara ketiga babak itu terdapat persamaan yang mencolok. tentu saja kita berhadapan dengan pengaruh asing. Saya mengira bahwa paham usang kolonialis ini sudah lama terkubur! Ternyata anggapan bahwa sejarah Nusantara hanya sejarah pengaruh asing masih bernyawa! Dalam bidang sastra Melayu pun. dibicarakan pembabakan sejarah. penerjemahan dari suatu bahasa tertentu mengiringi peminjaman suatu sistim tulis. Pada masa pengaruh dari India. kemudian Islam) mengiringi peminjaman suatu sistim tulis (tulisan Palawa. pakemnya—yaitu “tiga babak yang sesuai dengan pembabakan sejarah Nusantara pada umumnya”. pembabakan menyesatkan demikian dilakukan Winstedt 70 tahun yang lalu. yaitu setiap kali. Menurut HC-L: Selama satu milenium itu terjemahan terbagi atas tiga babak. perpindahan suatu agama (Hindu dan Buddha.

bahasa. Ini masuk periode Arab atau Eropa? Bagaimanapun. Apalagi orang Minang menganut agama Islam secara umum hanya beberapa ratus tahun setelah Islam ‘datang’ ke Nusantara. . 12). 12). Tiba-tiba. bukan topik usang ini yang akan dibicarakan di sini. baru akan diketahui di mana perbedaan yang dimaksud. kurang relevan di sini. Dikatakan bahwa penerjemahan “mengiringi peminjaman” sistem tulis.30 Amin Sweeney Melayu. selain sistem tulisan. paham itu juga sudah lama masuk kubur. Sehingga penerjemahan pada babak ketiga “tidak disertai perpindahan bahasa yang dapat dibandingkan…”? Ya. Paham tentang “peminjaman” agama tidak kurang simplistis. pembagian pada periode kronologis berdasarkan pengaruh asing itu menanggung risiko. berjudul Galila dan Damina. Persamaan tadi. Walau terjemahan jelas berurusan dengan yang asing. Kalimat yang berteletele melalui tiga tahap dari alasan lewat beranggapan sampai boleh mengajukan 28 Lihat A Full Hearing: 24-43. yang akhirnya dikatakan tidak berlaku untuk babak ketiga. yang konon “mencolok” jelas tidak mencolok. Apakah terjemahan dari Pancatanderan bahasa Tamil yang dilakukan oleh Munsyi Abdullah dan temannya pada tahun 1835. syukur. Kalau meminjam agama Islam. dan agama. kapan harus dikembalikan. HC-L kembali ke babaknya: Persamaan antara ketiga babak di atas menjadi alasan kuat untuk beranggapan bahwa kita boleh mengajukan hipotesis mengenai masa silam atas dasar kenyataan pada zaman modern (hlm. harus dimasukkan dalam periode pengaruh India? Bagaimana dengan: Buku Alf laila wa laila (Seribu Satu Malam) umpamanya disadur ke dalam bahasa Melayu dari satu versi Belanda oleh penerjemah Indo… (hlm. Tanya saja orang Manado dan sebagian besar orang Batak. Di sini kata “peminjaman”. Peminjaman bahasa Sanskerta dan Arab bagaimana? Ini tak mungkin bermaksud bahwa orang Nusantara berbahasa Sanskerta dan Arab sehari-hari. dan kemudian “perpindahan”. Saya lebih tertarik untuk menatap “persamaan yang mencolok” antara tiga babak tadi. pak? Seterusnya. 28 Walau kemerdekaan fisik belum tertu berarti kemerdekaan mental. pada halaman berikut. bisa saja dibandingkan. yang menjadi masalah.

itu bukan reaksi pribadi lagi. yang malah selalu menulis “aku”. Dia sendiri menciptakan fakta dalam bentuk pernyataan. itu dinaikkan ke peringkat sejagat: “mencolok”. Jika sesuatu menyolok mata HC-L. HC-L menggembar-gemborkan kata “filologi” lima belas kali dalam babnya tentang transkripsi. Belanda dan Indo) pada paruh kedua abad ke-19 dan paruh pertama abad ke-20 kiranya memperkuat dugaan bahwa komunitas non-pribumi dan peranakan juga memainkan peranan penting pada masa silam (hlm. . Hanya diberikan contoh untuk mendukung sesuatu yang tidak dijelaskan: Sebagai satu contoh saja. Begitulah dalam menghasilkan perumian. 12). ia menumpukan fokusnya hanya pada yang dianggapnya signifikan. peranan yang dimainkan oleh para penerjemah nonpribumi (Tionghoa. tersegel. Jangan Bunuh Bidangku 31 hipotesis masih tidak berhasil mengemukakan sebuah hipotesis. teks yang dihasilkannya menjadi teks tertutup. tetapi misinya lebih bersifat anti-filologi. [sic] Drewes dan L. padahal itulah misi para filolog serta peneliti sastra pernaskahan lain yang tidak lagi ingin dijuluki filolog. yang tidak memungkinkan orang lain menemukan signifikansi baru. Pokoknya. persamaan itu tidak mengajukan apa-apa. Dialah menjadi hakim yang menentukan segala sesuatu yang signifikan. bukan “kami” (hlm. kini dan pada masa depan. Contoh yang paling mengagetkan dalam tulisan HC-L ini menyinggung kepengarangan edisi puisi Hamzah Fansuri: Buku ini diterbitkan atas nama J. Teks itu tidak berusaha menguraikan isi naskah asli. sehingga perasaan orang yang di luar pembicaraan bisa terluka.F. 806).Jangan Bungkam Suaraku. Fokus pada segala sesuatu yang bersifat pribadi bisa membawa pada hal yang tidak wajar. Perasaan itu hanya perlu dinyatakan. perasaan dan selera pribadi diajukan sebagai ukuran mutlak. Dengan cara demikian. Paling jauh. dapat dikatakan bahwa terjemahan dilakukan oleh orang yang bilingual.W. dan sebagian besar peranakan menguasai dua bahasa. Masalahmya. tetapi bukan rahasia dikerjakan oleh Drewes seorang. Yang diitampilkan sebagai argumentasi cenderung berupa penyulaman dan penyulapan yang hanya balik pada pernyataan tadi. Penutup Terasa ada semacam fatamorgana pasca-modernisme dalam tulisan HCL ini.J. langsung menjadi fakta. Brakel.

32 Amin Sweeney Sayalah menulis artikel yang disebutkan malah dipuji-puji HC-L dalam Sadur. tetapi inilah manusia yang sedang menderita penyakit kanker terminal. sehingga tidak lama kemudian sampailah juga ajalnya. Maut sudah menjemput. Kesehatan Drewes pada masa itu telah merosot. 2005-2008. Lode Brakel. 31 Maret 2010. meneruskan kerja edisi sampai diterbitkan. yang menghubungi saya lewat surat-menyurat mengenai mendiang suaminya. Ia meneruskan kerjanya dengan gigih. Versi HC-L tidak benar dan kurang sensitif. Jilid 1-3. 1-33. Horison Online. Saya berurusan dengan pengarang-dalam-teks edisi itu. Kesinambungan dan penyelarasan jelas tidak memuaskan. yang kebetulan menjadi tamu saya di Berkeley. Rabu. . dalam usia amat lanjut. Clara Brakel. Artikel yang Menghilang “Di Bawah Pucuk Gunung Es Terjemahan Tertulis: Interaksi Lintas Media Dalam Bahasa Melayu/Indonesia”. yaitu Profesor A. saya mendapat informasi tentang segala seluk-beluk tragedi kemanusiaan yang melatari penyuntingan edisi tersebut. Sumber saya bisa diandalkan. Judul lengkap KLAAKM Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. sesudah terbit artikel tersebut. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Teeuw. dan Dr. sehingga edisi hasil kerjanya tidak baik. tetapi jauh sebelum selesai kerjanya itu. Memang kurang teliti. Drewes. Sebagian besar kerja tekstual mempersiapkan edisi ini dilakukan Brakel. Namun.

Akan tetapi kitab itu hurufnya Melayu dan bunyinya Melayu. dan di tempat bukan2 hubungannya perkataan itu dihubungkannya. Kuperhati2kan segala noktahnya itu perlahan2. Akan tetapi kitab itu hurufnya Melayu dan bunyinya Melayu. tetapi jalan bahasanya itu bukannya jalan bahasa Melayu. Dan lagi yang bukan-bukan tempat perkataan itu dipakaikannya. Dan lagi yang bukan2 tempat perkataan itu dipakaikannya. Dan lagi yang bukan2 tempat perkataan itu dipakaikannya. Setelah satu muka kitab itu kubaca maka kemudian daripada itu kubacalah dengan derasnya semalam2an itu. Kassim Ahmad Maka serta aku sampai ke rumahku. hampirlah habis kitab itu kubaca. dan di tempat bukan-bukan hubungannya perkataan itu dihubungkannya. .Jangan Bungkam Suaraku. hampirlah habis kitab itu kubaca. Akan tetapi kitab itu hurufnya Melayu dan bunyinya Melayu. 18) Sweeney Maka serta aku sampai ke rumahku. Chambert-Loir Maka serta aku sampai ke rumahku. Hampirlah —— kitab itu kubaca. tetapi jalan bahasanya itu bukan— jalan bahasa Melayu. lalu duduklah aku membaca kitab itu. Setelah satu muka kitab itu kubaca maka kemudian daripada itu kubacalah dengan derasnya semalam2man itu. lalu duduklah aku membaca kitab itu. Setelah satu muka kitab itu kubaca maka kemudian daripada itu kubacalah dengan derasnya semalammalaman itu. Kuperhati2kan segala noktanya itu perlahan2. Jangan Bunuh Bidangku 33 Sebagian Kutipan dari Hikayat Abdullah dalam “Pendahuluan” Saduran (hlm. Kuperhati-hatikan segala nokta{h}nya itu perlahan-lahan. dan di tempat bukan2 hubungannya perkataan itu dihubungkannya. lalu duduklah aku membaca kitab itu. tetapi jalan bahasanya itu bukannya jalan bahasa Melayu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful