You are on page 1of 6

PENYIAPAN BIBIT UBIKAYU Ubi kayu diperbanyak dengan menggunakan stek batang.

Alasan dipergunakan bahan tanam dari perbanyakan vegetatif (stek) adalah selain karena lebih mudah, juga lebih ekonomis bila dibandingkan dengan perbanyakan menggunakan biji. Namun demikian, kenyataan di lapang menunjukkan bahwa untuk pengembangan ubi kayu secara luas, penyediaan stek (bahan tanam) seringkali menjadi kendala. Pada umumnya petani memenuhi kebutuhan stek untuk periode tanam berikutnya dengan menggunakan stek dari pertanaman ubi kayu sebelumnya, yang seringkali kualitas stek kurang baik dan kemurnian varietas tidak bisa dijamin, di samping juga harus menunggu panen (9 bulan) untuk mendapatkan stek. Untuk memenuhi kebutuhan stek yang berkualitas baik, diperlukan budidaya ubi kayu yang bertujuan khusus untuk produksi stek. PERMASALAHAN PERBENIHAN Sistem perbenihan pada komoditas ubi kayu berbeda dengan komoditas tanaman kacang-kacangan. Pada komoditas tanaman yang diperbanyak secara vegetatif tidak terdapat klasifikasi benih seperti pada komoditas kacang-kacangan, karena bahan yang digunakan dalam perbanyakan adalah tanaman F1. Perbanyakan dari tanaman F1 inilah yang digunakan sebagai benih sumber. Dimana dengan sekali tanam petani tidak perlu membeli stek lagi. Namun demikian, asal usul, kemurnian dan kualitas stek harus tetap diperhatikan. Untuk itu keberadaan benih sumber ubi kayu sangat diperlukan. Benih penjenis yang diproduksi Balitkabi secara formal hanya disalurkan ke Direktorat Perbenihan, yang selanjutnya didistribusikan ke BBI di seluruh Indonesia. Stek ubi kayu tidak bisa disimpan dalam jangka waktu yang lama, sehingga untuk menjaga kualitas stek harus selalu tersedia dalam bentuk pertanaman. Kaitannya dengan mutu fisiologis (daya tumbuh dan vigor), stek ubi kayu cepat mengalami penurunan, terutama apabila penanganan pascapanennya kurang tepat. Kurangnya pemahaman petani tentang pengelolaan stek menyebabkan stek yang digunakan petani umumnya bermutu rendah. DASAR-DASAR PRODUKSI BENIH Secara umum tidak terdapat perbedaan teknik produksi tanaman ubi kayu untuk tujuan produksi benih/stek dan untuk konsumsi. Pada prinsipnya tanaman harus diupayakan tumbuh sehat dan bebas dari tekanan organisme pengganggu. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam produksi benih/stek ubi kayu adalah sebagai berikut.

1. Pilih lahan yang subur dan cukup irigasi. Hindari penanaman tanaman untuk produksi benih/stek pada lahan yang bermasalah dan irigasi tidak tersedia (tidak memadai) serta bukan endemik hama penyakit; 2. Tanam pada saat yang tepat, sehingga pada saat stek dibutuhkan tanaman sudah cukup umur; 3. Lakukan pemeliharaan secara optimal sehingga tanaman tumbuh normal. Pemupukan, penyiangan dan pengairan yang dilakukan terlambat akan menghambat pertumbuhan tanaman; 4. Disarankan menghindari penanaman tanaman untuk benih/stek pada lahan edemik hama/penyakit utama ubi kayu; 5. Lakukan panen stek sesuai dengan kebutuhan untuk menghindari kerusakan stek; TEKNOLOGI PRODUKSI STEK Persiapan Lahan Tanah dibersihkan dari sisa tanaman terdahulu, kemudian baru diolah. Pengolahan tanah didasarkan pada jenis tanah, yaitu: 1. Tanah ringan atau gembur; tanah cukup dibajak atau dicangkul satu kali, kemudian diratakan dan dapat langsung ditanami; 2. Tanah agak berat; tanah dibajak atau dicangkul 12 kali, kemudian diratakan dan dibuat bedengan atau guludan, untuk selanjutnya ditanami; 3. Tanah berat dan berair: tanah dibajak atau dicangkul sebanyak dua kali atau lebih, kemudian dibuat bedengan atau guludan sekaligus sebagai saluran drainase. Penanaman dilakukan di atas guludan. Pada lahan miring atau peka terhadap erosi, pengolahan tanah harus dikelola dengan sistem konservasi, yaitu: 1. Tanpa olah tanah; 2. Pengolahan tanah minimal yaitu dengan pengolahan tanah secara larik atau individual. Pengolahan tanah ini efektif untuk mengendalikan erosi; 3. Pengolahan tanah sempurna dengan sistem guludan kontur, tanah dibajak dengan traktor 37 singkal piring atau secara tradisional (dengan ternak) sebanyak 2 kali atau satu kali yang diikuti dengan pembuatan guludan, guludan dibuat searah kontur. Persiapan Stek Perkecambahan stek tergantung pada kondisi varietas, umur tanaman, penyimpanan dan lingkungan. Teknik pengambilan stek:

1. Stek diambil dari bagian tengah dari tanaman yang berumur 812 bulan; 2. Batang dapat digunakan sebagai stek apabila masa penyimpanannya kurang dari 30 hari setelah panen, atau pada kondisi batang masih segar; 3. Panjang stek optimum adalah 2025 cm; 4. Sebelum tanam, stek dapat diperlakukan dengan insektisida dan fungisida untuk mencegah serangan hama dan penyakit. Untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang baik, maka stek harus dipilih dari tanaman yang sehat, diameter stek antara 2 cm dan umurnya seragam. Pada saat memotong stek, diusahakan kulit batang tidak terkelupas supaya tidak mudah kering dan daya tumbuhnya baik. Untuk perbanyakan stek/bibit ubi kayu menggunakan stek mini, dilakukan dengan cara: - Stek dipotong setiap 23 mata tunas - Potongan stek direndam dalam air yang telah diberi perlakuan fungisida (Benlate 12 cc/liter) untuk mencegah tumbuhnya jamur, kemudian stek siap ditanam. Untuk perbanyakan stek/bibit ubi kayu menggunakan stek normal (panjang 20 25 cm), dilakukan dengan cara: - Stek dipotong sepanjang 2025 cm - Potongan stek direndam selama 12 jam, dalam air yang telah diberi perlakuan fungisida (Benlate 12 cc/liter) untuk mencegah tumbuhnya jamur. - Selanjutnya stek dapat langsung ditanam. Penanaman 1. Cara Tanam a) Untuk perbanyakan stek mini: stek mini yang sudah diperam hingga bertunas, ditanam dengan posisi tidur, 35 cm di bawah permukaan tanah. b) Untuk perbanyakan stek ukuran normal (2025 cm): stek yang sudah siap ditanam dengan posisi tegak, dengan 1/4 bagian berada di bawah permukaan tanah. 2. Jarak tanam Jarak tanam yang digunakan: Normal: 100 x 80 cm2 (12.500 tanaman per hektar) dan 100 x 75 cm2 (13.333 tanaman per hektar) Rapat: 80 x 50 cm2 (25.000 tanaman per hektar), dan 3

50 x 50 cm2 (40.000 tanaman per hektar) Pemupukan: - Pupuk kandang diberikan pada saat pembuatan guludan (510 t/ha) - Pupuk dasar diberikan pada 1 bulan setelah tanam, dengan ditugalkan pada jarak 1015 cm dari pangkal batang (100 kg Urea, 100 kg SP36, 50 kg KCl per ha) - Pupuk ke dua diberikan pada umur 34 bulan setelah tanam dengan dosis 100 kg Urea dan 50 kg KCl per ha Penyiangan, pembumbunan dan wiwil Kelemahan ubikayu adalah pada fase pertumbuhan awal tidak mampu berkompetisi dengan gulma. Periode kritis atau periode tanaman harus bebas gangguan gulma adalah antara 510 minggu setelah tanam. Bila pengendalian gulma tidak dilakukan selama periode kritis tersebut, produktivitas dapat turun sampai 75% dibandingkan kondisi bebas gulma. Oleh karena itu, pengendalian gulma dilakukan pada 2 tahap, yaitu pada umur 45 minggu setelah tanam dan 8 minggu setelah tanam. Pembumbunan dilakukan untuk menggemburkan tanah. Pembumbunan dilakukan pada umur 24 bulan. Pada umur ini tanaman ubi kayu mulai melakukan pembentukan umbi, sehingga dibutuhkan tekstur tanah yang gembur untuk untuk perkembangan umbinya. Wiwil/pengurangan tunas dilaksanakan pada umur 3 bulan dengan menyisakan 2 tunas yang pertumbuhannya normal. Pengairan Pengairan secara intensif dilakukan hingga tanaman berumur 4 5 bulan, dengan interval 1 bulan sekali. Untuk selanjutnya, pengairan dapat dilakukan 1-2 bulan sekali atau tergantung pada kondisi tanah. Pengendalian hama dan penyakit Hama utama pada tanaman ubi kayu adalah tungau merah (Tetranychus urticae). Hama ini lebih banyak dijumpai di daerah beriklim kering dibanding di daerah beriklim basah. Hama ini banyak dijumpai di musim kemarau. Pengendalian hama tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan serbuk biji bengkuang 50 g/liter air, fumigasi menggunakan larutan belerang dicampur dengan larutan sabun juga efektif dalam mengendalikan hama tungau merah. Untuk penyakit yang biasa dijumpai adalah Xanthomonas manihotis (jenis bakteri), gejala serangan: daun mengalami bercak-bercak seperti terkena air panas. Pengendalian dilakukan dengan

menggunakan bakterisida dan penyakit bercak daun (Cercospora henningsii) yang sering dijumpai menyerang daun yang sudah tua. Panen Stek Panen stek dapat dilakukan pada umur 812 bulan setelah tanam. Apabila stek dipanen pada umur sebelum 8 bulan setelah tanam akan mempengaruhi kualitas stek, stek masih muda sehingga kalau ditanam cepat kering, selain itu stek yang dihasilkan juga masih sedikit (3-4 stek). Demikian juga kalau dipanen pada umur di atas 12 bulan setelah tanam, kualitas stek menurun karena stek terlalu tua, diameter stek > 3 cm. Diameter stek yang terlalu besar, akan mempercepat transpirasi kalau stek ditanam, sehingga mempercepat stek kering. Tanaman ubikayu yang layak untuk diambil steknya apabila diameter batang sudah mencapai 2-3 cm, bagian batang yang layak untuk stek lebih kurang sudah mencapai 1 m. Produksi stek tergantung pada jenis varietas dan jarak tanam yang digunakan. Pada varietas yang mempunyai batang yang tinggi akan menghasilkan stek lebih banyak dibanding varietas dengan batang pendek. Tanaman yang ditanam rapat akan menghasilkan jumlah bibit yang lebih banyak dibanding apabila ditanam pada jarak tanam yang normal (Tabel 1). Tabel 1. Produksi stek beberapa varietas ubikayu pada kepadatan populasi Berbeda.
Populasi Tanaman/ha 12.500 25.000 40.000 Produksi stek/bibit per hektar pada beberapa varietas UJ-5 MLG Adira-4 Malang-6 Malang-4 Rata-rata 0311 91.203 123.148 81.944 120.370 104.629 104.259 183.333 231.944 178.703 218.981 201.851 202.963 332.870 388.425 278.240 410.648 365.740 355.185

Keterangan: ukuran stek 20-25 cm Pada kegiatan produksi stek ubikayu ini selain menghasilkan stek, umbinya juga dapat dipanen. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi stek dengan menerapkan jarak tanam rapat, disamping menghasilkan stek dalam jumlah banyak juga menghasilkan umbi. Hasil umbi yang dicapai tidak berbeda nyata dengan jarak tanam normal. Penyimpanan bibit/stek ubikayu Bibit/stek yang sudah dipanen sebaiknya segera dipinggirkan dan ditempatkan secara tegak dalam posisi terbalik ditempat yang teduh seperti di bawah pohon/teras yang terlindung dari panas matahari secara langsung. Membiarkan bibit di bawah terik matahari akan mengakibatkan stek menjadi kering. Penundaan waktu tanam 5

hingga 2-4 minggu dari saat stek dipanen akan mengakibatkan kualitas bibit menjadi rendah karena adanya gangguan dari mikroba dan kadar air dalam stek sudah sangat rendah sehingga mengganggu daya tumbuh maupun vigor tanaman.

Gambar 1. Stek mini dengan 2-3 mata tunas (foto kiri) dan pertananam untuk Bibit (foto kanan)

Gambar 2. Pertanaman bibit siap dipanen (foto kiri) dan penyimpanan sementara bibit yang dipanen (foto kanan)

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian