Kuliah Blok GIS, Rabu 13 Juni 2012.

Sirosis hepatis dan Liver failure
Dr. H. Syafruddin A.R. Lelosutan, Sp.PD-KGEH, MARS, FINASIM Ketua Sub SMF GAstroentero-Hepatologi Departemen Penyakit Dalam RSPAD GSD

Pendahuluan.
Sirosis Hati (Hepatic Cirrhosis – HC) adalah suatu hasil proses perjalanan panjang penyakit hati kronik oleh berbagai sebab yang secara pelan-pelan akan menimbulkan kegagalan fungsi hati, disebut Chronic Hepatic Failure (CHF) yang ditandai oleh adanya suatu Encephalopathy hepaticum (EH) berlarut (mengalami perburukan dalam berbagai gradasi/derajat) sebelumnya. Tetapi suatu keadaan kegagalan fungsi hati yang terjadi tanpa proses HC sebelumnya, bisa saja terjadi akibat kondisi fungsional hati yang terganggu sangat berat, disebut Acute Hepatic Failure (AHF). Pemahaman patofisiologi dan etiologi merupakan dasar utama untuk mengenali Liver Failure atau Hepatic Failure ini. Padanan bahasa Indonesia biasanya disebut dengan Gagal Hati (GH). Sedangkan pemahaman patologi anatomi merupakan bentukan irreversible yang dapat menjelaskan kenapa sampai terjadi GH. Kuliah berikut ini menerangkan – overview - secara umum suatu keadaan GH yang dapat dibedakan atas AHF dan CHF, serta satu kondisi penting penyebab CHF karena dapat menguras tenaga dan pemikiran dokter yang merawat serta menyengsarakan ekonomi dan psikologis penderita, yakni apa yang disebut sebagai HC atau sirosis hati.

Gagal Hati, Permasalahan dan Penatalaksanaannya.
Acute Hepatic Failure (AHF) adalah suatu munculan kondisi yang tidak umum dari proses koagulopati parenkhim hati akibat berbagai keadaan etiologi yang mengganggu fungsi hati yang berlangsung sebelum 26 minggu sejak pertama-kali mendapat serangan penyakit pada parenkhim hati. Status mental yang berubah (encephalopathy) merupakan ciri khas pertama yang tampil pada penderita yang sebelumnya sehat-sehat saja, tidak ada riwayat penyakit hati kronik yang menyebabkan sirosis hati (HC) dan umumnya masih ber-usia muda. Koagulopati biasanya ditunjukkan oleh nilai INR (International Normalized Ratio) yang besar dari 1,5. AHF dibedakan atas Fulminant Hepatic Failure (FHF) dan Subfulminant Hepatic Failure (SHF). Faktor yang menjadi pembeda adalah masalah waktu munculan AHF dan fatalitas etiologi kematian yang ditimbulkan. Umumnya disebut FHF jika munculannya sudah terjadi

Penatalaksanaan sirosis hati (HC) bertujuan untuk memperlambat munculnya GH. Jakarta. baik FHF maupun SHF.sebelum waktu 8 minggu dari serangan pertama penyakit yang dicurigai. 4. Identifikasi Patofisiologi dan Etiologi Gagal Hati Akut (AHF) serta Terapi medikamentosa AHF. Mahasiswa diberikan beban untuk memahami topic ini dalam bentuk PR (pekerjaan rumah). Penyelesaian masalah dan penatalaksanaan yang paripurna dapat menyangkut medikamentosa sampai kepada tindakan orthotropic liver transplantation (OLT). 2. Ensefalopati yang ditimbulkannya merupakan awal adanya kegagalan fungsi hati dalam berbagai tingkat. Sedangkan permasalahan CHF. Masalah Sirosis hati dan Penatalaksanaannya. dikenal dengan stadium ensefalopati hati (Stadium of Hepatic Encephalopathy). dapat dikaji dengan memahami etiologi yang terutama berkaitan dengan intoksikasi hati oleh obat-obatan tertentu. 3. Beberapa pegangan diagnostic untuk sirosis hati adalah pemahaman patofisiologi dengan Kriteria ChildTurqotte Pugh (CTP Criteria) dan hasil biopsy hati dalam skala Metavir. Penutup. Permasalahan AHF. Sirosis hati adalah kondisi akhir dari perjalanan penyakit hati kronik (CLD) dengan irreversible fibrotic process. sedangkan SHF sebelum 26 minggu. memahami patofisiologi dan epidemiologinya serta patologi Anatomi. Penatalaksanaan Terapeutik Sirosis Hati. dapat ditatalaksana dengan terlebih dahulu memahami perjalanan penyakit hati kronik (PHK/CLD – Chronic Liver Disease) hingga menjadi sirosis hati (HC). Penatalaksanaan Ensefalopati hepatikum. Identifikasi Patofisiologi dan Patologi anatomi Sirosis Hati dan CHF. sbb: 1. 13 Juni 2012. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful