P. 1
23352341 Endometriosis

23352341 Endometriosis

|Views: 1|Likes:

More info:

Published by: Muhamad Ridwan Al-Fatih Permana on Jul 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/28/2014

pdf

text

original

ENDOMETRIOSIS

PENDAHULUAN Endometriosis adalah satu keadaan di mana jaringan endometrium yang masih berfungsi terdapat di luar kavum uteri. Jaringan ini yang terdiri atas kelenjar-kelenjar dan stroma, terdapat di dalam miometrium atau pun di luar uterus. Bila jaringan endometrium terdapat di dalam miometrium disebut adenomiosis, dan bila di luar uterus disebut endometriosis. Pada endometriosis jaringan endometrium ditemukan di luar kavum uteri dan di luar miometrium. Daerah yang paling sering terkena adalah organ pelvis dan peritoneum, walaupun organ lain seperti paru-paru juga ikut terkena meskipun jarang. Penyakit ini berkembang dari lesi yang kecil dan sedikit pada organ pelvis yang normal kemudian menjadi massa keras infiltrat dan kista endometriosis ovarium (endometrioma). Perlangsungan endometriosis sering disertai pembentukan fibrosis dan perlekatan luas menyebabkan gangguan anatomi pelvis.1,2,3,4

EPIDEMIOLOGI

Gambar 1. Lokasi anatomis implantasi endometriosis yang ditemukan melalui laparaskopi5

1

Meskipun tidak berhubungan dengan beratnya nyeri.2. dan 53% terjadi pada wainta dengan nyeri pelvis berat yang memerluka evaluasi pembedahan.5-6 Peritoneum Endometriosis Superficial Deep R Superficial Deep L Superficial Deep Posterior Cul-de-sac Obliteration Adhesions R Filmy Dense L Filmy Dense Tube R Filmy Dense L Filmy Dense < 1 cm 1 2 1 4 1 4 Partial 4 < 1/3 Enclosure 1 4 1 4 1 4 1 4 1 1 1–3 cm 2 4 2 16 2 16 Complete 40 1/3–2/3 Enclosure 2 8 2 8 2 8 2 8 1 1 > 3 cm 4 6 4 20 4 20 > 2/3 Enclosure 4 16 4 16 4 16 4 16 Ovary Ovary Tabel 1. dan kedalaman implantasi ovarium dan peritoneum. American Society for Reproductive Medicine Revised Classification of Endometriosis. Stadium II (ringan): 6-15. Pembagian ini berdasarkan permukaan. Stadium: Stadium I (minimal): 1-5. 16-31% pada laparoskopi. permukaan uterus disebut peritoneum. 25-35% pada wanita infertil. Endometriosis diperkirakan terjadi sebanyak 3-10% pada wanita usia reproduktif (usia 15-44 tahun).1Jika ujung fimbria tuba Fallopii tertutup sempurna.Endometriosis merupakan salah satu masalah kesehatan pada wanita yang cukup penting.6 The American Society for Reproductive Medicine Revised Classification of Endometriosis2. 1-2% pada wanita yang menjalani sterilisasi. Stadium IV (berat): >40. pembagian ini dapat memprediksikan kemungkinan untuk hamil. 10% pada operasi histerektomi. Dalam hal ini.5. Stadium III (moderat): 16-40. ukuran. penilaian densitas menjadi 16. 2 .5 SISTEM KLASIFIKASI The American Society for Reproductive Medicine merupakan pedoman yang digunakan untuk klasifikasi endometriosis.

Gambar 2. American Society for Reproductive Medicine Revised Classification of Endometriosis6 3 .

Faktor hormonal Aromatase. dan genetik. Metaplasia selomik Teori mengemukakan sel potensial pada ovarium dan peritoneum bertransformasi menjadi lesi endometriosis akibat stimulasi hormon dan paparan hormonal berulang.5 cm) maka penilaiannya adalah 2. PGE2 (prostaglandin E2) berperan sebagai induksi terkuat produksi aromatase pada implantasi endometriosis.6 ETIOLOGI Penyebab endometriosis masih belum diketahui. hormonal.5. dan mediator radang (interleukin. MIF (migration inhibitory factor). Faktor imunologis Faktor imunologis spesifik yang berperan dalam implantasi endometriosis seperti VEGF (vascular endothelial growth factor). Ransangan ini menyebabkan metaplasi dari sel-sel epitel itu. terdapat 5 implantasi superfisial peritoneum berukuran 0.2. Menstruasi retrogad.Evaluasi lengkap penilaian endometriosis dilakukan searah jarum jam atau berlawanan arah jarum jam. imunologis. sehingga terbentuk jaringan endometrium 4 . Misalnya.6. telah ditemukan pada implantasi endometriosis. TNF) diduga mengalami peningkatan pada situs endometriosis. enzim pencetus produksi estrogen. Saat melakukan pemeriksaan panggul. Sudah dibuktikan bahwa dalam darah haid didapati sel-sel endometrium yang masih hidup.4. dan/atau perlekatan.5 cm (total 2. Menurut Sampson. Beberapa teori muncul menyangkut faktor anatomis. Sel-sel endometrium yang masih hidup ini kemudian dapat mengadakan implantasi di pelvis. walaupun belum ditemukan data bahwa aromatase juga ditemukan pada endometrium normal. 2.7 1. endometriosis terjadi karena darah haid mengalir kembali (regurgitasi) melalui tuba ke dalam rongga pelvis. Robert Meyer mengemukakan bahwa endometriosis terjadi karena ransangan pada sel-sel epitel berasal dari selom yang dapat mempertahankan hidupnya di daerah pelvis. lokasi implantasi endometriosis. 3. perhatikan penomoran. ukuran. 4. plak. endometrioma.

6. dan penggunaan kontrasepsi oral dapat bersifat protektif.7 GEJALA KLINIK Gejala-gejala yang sering ditemukan pada penyakit ini adalah:1. Belum ditemukan defek genetik pada endometriosis. Kebiasaan merokok.7 1) nyeri perut bawah yang progresif dan dekat paha yang terjadi pada dan selama haid (dismenore). tetapi mungkin ada hubungannya dengan vaskularisasi dan perdarahan dalam sarang endometriosis pada waktu sebelum dan semasa haid. 3) nyeri waktu defekasi. 2) disparenunia. peningkatan jumlah lemak tubuh perifer.2.5. dan gangguan haid (polimenore.dan hipermenore.5. Dismenore pada endometriosis biasanya merupakan rasa nyeri waktu haid yang semakin lama semakin menghebat. Sebab dari dismenore ini tidak diketahui. disebabkan oleh karena adanya endometriosis pada dinding rektosigmoid. Defekasi yang sukar dan sakit terutama pada waktu haid. disebabkan oleh karena adanya endometriosis di kavum Douglasi. Kadang-kadang bisa terjadi stenosis 5 . 5) infertilitas. dan berkurangnya paritas). Dispareunia yang merupakan gejala yang sering dijumpai. sebaiknya kelainan ringan dapat menimbulkan gejala nyeri yang keras. Nyeri tidak selalu didapatkan pada endometriosis walaupun kelainan sudah luas. Hal ini dapat menjelaskan mengapa endometriosis pernah ditemukan di daerah paru-paru.2.4. menoragi. 6. 4) poli. Faktor genetik berperan 6-9 kali lebih banyak dengan riwayat keluarga terdekat menderita endometriosis. FAKTOR RISIKO Faktor risiko termasuk usia. Belum ada bukti yang menunjukkan bahwa mengendalikan faktor risiko dapat mencegah munculnya endometriosis. khususnya pada waktu defekasi. Penyebaran limfatis Sebuah studi menunjukkan dari otopsi bahwa sel endometriosis ditemukan dalam kelenjar limfa pelvis pada 29% wanita. Faktor genetik Wanita yang memiliki riwayat keluarga menderita endometriosis berisiko tujuh kali lipat menderita endometriosis. olahraga.

2. biopsi dapat memberi kepastian mengenai diagnosis. Pada endometriosis yang ditemukan pada lokasi seperti forniks vagina posterior. pilihan terapi diambil berdasarkan luasnya endometriosis dan kebutuhan pasien. Regimen pengobatan oral dan pembedahan 6 .3. perineum. dan sebagainya. Endometriosis kandung kencing jarang terdapat. Faktor penting yang menyebabkan infertilitas pada endometriosis ialah apabila mobilitas tuba terganggu karena fibrosis dan perlekatan jaringan di sekitarnya. ditemukan pada endometriosis ringan benda-benda padat sebesar butir beras sampai butir jagung di kavum Douglasi dan pada ligamentum sakrouterinum dengan uterus dalam retrofleksi dan terfiksasi. hanya apabila ada darah dalam tinja atau air kencing pada waktu haid yang menjadi petunjuk tentang adanya endometriosis pada rektosigmoid atau kandung kencing. 30-40 persen wanita dengan endometriosis menderita infertilitas. Pembuatan foto polos dengan memasukkan barium dalam kolon dapat memberi gambaran filling defect pada rektosigmoid dengan batas-batas yang jelas dan mukosa yang utuh. Gangguan haid dan siklusnya dapat terjadi pada endometriosis apabila kelainan pada ovarium demikian luasnya sehingga fungsi ovarium terganggu. Sigmoidoskopi dan sistoskopi dapat memperlihatkan tempat perdarahan pada waktu haid.4. parut laparotomi.7 PENGOBATAN Bila diagnosis endometriosis sudah ditegakkan.1. Kuldoskopi kurang bermanfaat terutama jika kavum Douglasi ikut serta dalam endometriosis. Pada pemeriksaan ginekologik. Ovarium mula-mula dapat diraba sebagai tumor kecil. Tumor ovarium seringkali terdapat bilateral dan sukar digerakkan. Menurut Rubin. Laparoskopi merupakan pemeriksaan yang sangat berguna untuk membedakan endometriosis dari kelainan-kelainan di pelvis. DIAGNOSIS Diagnosis biasanya dibuat atas dasar anamnesis dan pemeriksaan fisis. Pemeriksaan laboratorium pada endometriosis tidak memberi tanda yang khas. kemungkinan untuk hamil pada wanita dengan endometriosis ialah kurang lebih separoh dari wanita biasa. dipastikan dengan pemeriksaan laparoskopi.dari lumen usus besar tersebut. gejala- gejalanya ialah gangguan miksi dan hematuria pada waktu haid. Ada korelasi yang nyata antara endometriosis dan infertilitas. akan tetapi bisa membesar sampai sebesar tinju. khususnya pada pemeriksaan vagino-rekto-abdominal.

6-mg implant SC 28d 10.8-mg implant SC q12wks 1-6 mo Oral Anovulation. (Lupron): 3. Terapi konservatif bertujuan menekan stimulasi estrogen ovarium dengan memotong jalur hipotalamus-hipofisis-ovarium.ditentukan berdasarkan usia. biaya. amenorrhea 30 mg PO 1-90 days Megestrol acetate: 40 Possible bone mg PO 1-6 mo demineralization with 7 . Terapi konservatif Implantasi endometriosis memiliki sifat dan reaksi yang sama dengan endometrium terutama dalam produksi estrogen.75-7. inhibition of ovulation. beratnya penyakit. endometrial tissue. Tujuan dari pengobatan ini adalah:1. endometrial tissue breast tenderness. fatigue leading to ovarian suppression Nafarelin acetate (Synarel): 200-400 µg intranasally 1-6 mo Goserelin acetate (Zoladex): 3. gejala.4. Manajemen terapi dari endometriosis5 Drug Mechanism Dosage Side effects Gonadotropin. fluid decidualization of acetate: 150 mg IM retention. Inhibisi ovulasi dengan gonadotropin melalui siklus seks steroid dapat menghalangi pembentukan endometriosis. risiko pengobatan.4.3. 1. meredakan nyeri sebagai alternatif pembedahan.Down-regulation of Leuprolide acetate Hot flashes. status fertilitas. contraceptives and decidualization of breakthrough bleeding.7 Apa yang diobati (penyakit. bone hormone inhibition of the IM 1-6 mo demineralization.5.. atrophy Monophasic pill Weight gain. bloating. atau keduanya)? Mengapa diberikan terapi? Alasan memberikan terapi: mengembalikan fertilitas. analogs hypothalamicinsomnia. vaginal releasing pituitary receptors. nausea Progestins Atrophy and Medroxyprogesterone Weight gain.6. meredakan nyeri sambil menunggu pembedahan.5 mg dryness. pengobatan sebelumnya. libido pituitary-ovarian axis changes.2. dan lama pengobatan. profilaksis mencegah rekurensi penyakit. suppression of depression gonadotropins.6 Tabel 2. 3mo-4 breakthrough bleeding.

decrease in breast size. 4.3 2.Danazol Anovulation by decreasing the midcycle luteinizing hormone surge 400-800 mg PO 1-6 mo long-term use Amenorrhea. deepening of voice Inhibition of steroidogenesis. creation of highandrogen and lowestrogen environment a. 1.6. Bagi pasien yang infertil. atrophic vaginitis. hot flashes. Terapi bedah definitif meliputi histerektomi total dengan salfingo-ooferektomi bilateral. Terapi bedah konservatif bertujuan untuk mengembalikan posisi anatomi panggul dan mengangkat semua lesi endometriosis yang terlihat. Efek samping obat ini adalah penurunan densitas tulang. hirsutism.7 1. KOMPLIKASI Bila implantasi terjadi di usus atau ureter dapat mengakibatkan obstruksi dan gangguan fungsi ginjal. terapi bedah merupakan pilihan. Inhibisi aromatase Anastrozole 1 mg atau Letrozole 2. pasien diberikan terapi sulih hormone (Hormone Replacement Theraphy). Terapi bedah Terapi konservatif merupakan modalitas untuk pasien yang hanya ingin meredakan nyeri atau meredakan nyeri dengan kondisi fertil. NSAID merupakan obat lini pertama yang digunakan ketika diagnosa endometriosis belum ditegakkan. Setelah pembedahan definitive dilakukan. Pembedahan terbagi atas terapi bedah definitif dan koservatif. atau pasien yang tidak berespon dengan terapi konservatif. virilization.5.7 b. acne. namun hal ini dapat dicegah dengan konsumsi vitamin D dan kalsium. penggunaan kontrasepsi oral 8 . Distorsi pelvis mengakibatkan gangguan fertilitas. Kontrol nyeri Obat anti inflamasi non steroid (NSAID) menghambat prostaglandin yang dikeluarkan oleh endometriosis.6. 2.5 md setiap hari merupakan generasi ketiga inhibitor aromatase yang berperan menghambat perubahan androgen menjadi estrogen sebanyak 50%.

Selain itu jangan melakukan pemeriksaan yang kasar atau melakukan kerokan sewaktu haid.berakibat troboembolisme dan efek hipoetrogen GnRH analog jangka panjang mengakibatkan osteoporosis.6 9 .7 PENCEGAHAN Meigs berpendapat bahwa kehamilan adalah cara pencegahan paling baik untuk endometriosis.1.4. Sikap demikian itu tidak hanya merupakan profilaksis yang baik terhadap endometriosis. dan sesudah perkawinan hendaknya diusahakan supaya mendapat anak-anak yang diinginkan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Gejala-gejala endometriosis memang berkurang atau hilang pada waktu dan sesudah kehamilan karena regresi endometrium dalam sarang-sarang endometriosis. melainkan menghindari terjadinya infertilitas sesudah endometriosis timbul. oleh karena hal itu dapat menyebabkan mengalirnya darah haid dari uterus ke tuba dan ke rongga panggul.1. Oleh sebab itu hendaknya perkawinan jangan ditunda terlalu lama.

84-8. Tong IL. 5.chap. Edmonds DK. 10 . 2007.43. Baltimore: Lippincott Williams & Wilkins.chap.34. 1999.p. Jakarta: YBP-SP. Ilmu Kandungan. 3rd ed. 2007. Reproductive Endocrinology & Infertility.DAFTAR PUSTAKA 1. Benson & Pernoll’s Handbook of Obstetrics & Gynecology. 2007.p. DeCherney AH eds. London: Blackwell. Current Diagnostic & Treatment Obstetrics & Gynecology. The Johns Hopkins Manual of Gynecology and Obstetrics.755-66. The 5 Minute Consult clinical Companion to Women’s Health. Wiknjosastro H. 4. 2001. Fortner KB eds. 1st ed. 7th ed. Hohenhaus MH. edisi kedua. USA: McGraw-Hill. 10th ed. USA: McGraw-Hill. USA: Lippincott Williams & Wilkins. 6.314-27. 7. Pernoll ML. 2. 2007. 10th ed. Texas: Landes. Dewhurst’s Textbook of Obstetrics & Gynecology.chap.40.p. Endometriosis In: McGarry KA.430-9.p. 3. Lewis V. 2007.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->