BAB I PENDAHULUAN

Omfalitis adalah infeksi yang terjadi pada tali pusat. Omfalitis biasanya ditemukan sebagai selulitis superficial yang dapat menyebar ke seluruh dinding abdomen dan dapat berkembang menjadi mionekrosis, necrotizing fasciitis, atau penyakit sistemik. Omfalitis jarang ditemukan di negara-negara industry; bagaimanapun, omfalitis merupakan penyebab tersering pada mortalitas neonatus di daerah-daerah berkembang. Omfalitis merupakan penyakit predominan pada neonatus. Hanya sedikit kasus yang dilaporkan terjadi pada dewasa. Sekitar tiga perempat dari kasus omfalitis merupakan polimikrobial. Bakteri aerob ditemukan pada sekitar 85% dari infeksi, didominasi oleh Staphylococcus aureus, Streptococcus grup A, Escherichia coli, Klebsiella pneumonia, dan Proteus mirabilis. Telah dilakukan penelitian mengenai pengaruh organism grampositif (seperti S. aureus dan Streptokokus grup A) sebagain penyebab terjadinya omfalitis. Hal tersebut juga diikuti oleh penelitian mengenai pengaruh bakteri gram negatif sebagai penyebab omfalitis. Penelitian ini menyarankan bahwa perubahan etiologi mungkin telah disebabkan oleh profilaksis tali pusat menggunakan agen anti-stafilokokus seperti hexachlorophene. Monitoring penyebab mikroba dari omfalitis merupakan hal yang pentig, seperti tren masa kini yang kembali lagi ke perawatan kering tali pusat tanpa memberikan antiseptik topikal secara rutin. Hal ini telah diterima dan didukung oleh American Academy of Pediatrics (AAP), dimana mendukung erawatan kering tali pusat setelah kelahiran.perawatan kering tali pusat mengarah ke pemisahan awal tali pusat setelah kelahiran. Hal tersebut juga mengarah ke laporan mengenai tali pusat yang basah dan bau.

1

BAB II LAPORAN KASUS

II.1. SUBJECTIVE Telah lahir bayi secara spontan, jenis kelamin laki-laki, apgar score 8/9/10, berat badan 2800 gram, panjang badan 47 cm, lingkar kepala 32 cm, lingkar dada 30 cm, dengan air ketuban keruh. Pada tanggal 13 Desember 2012. Usia di dalam kandungan: 38 minggu. Nama ibu: Nur Setiani.

II.2. OBJECTIVE Menangis kuat, gerakan aktif Muntah (-) Vital sign o Suhu o Nadi o RR Kepala : : 36.9°C : 120 kali/menit : 44 kali/menit :

o Sianosis (-), ikterik (-), anemis (-), dispneu (-) o Caput suksadeneum (-) o Cephalhematom (-) Toraks o Jantung o Paru Abdomen segar (+) Ekstremitas Genital : akral hangat, sianosis (-) : : o Simetris, retraksi dinding dada (-) : bunyi jantung I>II, regular : suara nafas vesikuler, rhonki (-), wheezing (-) : soefl, bising usus (+), hepar/lien tidak teraba, tali pusat

o Laki-laki, anus (+)

2

3. ASSESSMENT Neonatus aterm II.APGAR SCORE: 0 1 2 Apgar score Tidak ada Tidak ada Lemah Tidak ada Biru / putih Merah jambu. ujung biru-biru TOTAL 8 9 10 Merah jambu Tidak teratur Sedang Meringis Baik Menangis Tonus otot Peka rangsang Warna 1 1 2 1 2 2 2 2 2 Baik <100 >100 Denyut jantung Pernafasan 2 2 2 1 menit 2 5 menit 2 10 menit 2 II. PLANNING Planning diagnostik: Gula darah anak Darah lengkap Planning terapi: Injeksi Neo K 0.4.5 mg Resusitasi ASI/PASI ad libitum Termoregulasi 3 .

Planning monitoring: Keadaan umum Vital sign 4 .

regular : suara nafas vesikuler.Menangis kuat (+) . anemis (-).5. bising usus (+).Keadaan umum .Abdomen : soefl.ASI/PASI banyak .Kepala : o Sianosis (-).Vital sign rhonki (-). wheezing (-) . Planning monitoring: .ASI/PASI ad libitum .Termoregulasi .Toraks o Jantung o Paru : o Simetris. Follow Up Tanggal Subjective .Omphalitis Planning Planning diagnostik: .Gerak aktif (+) . ikterik (-).II.Neonatus aterm .PCR 14 Desember 2012 .BAB/BAK normal .Injeksi picyn 2x150 mg .Rawat tali pusat Objective Assessment . retraksi dinding dada (-) : bunyi jantung I>II.4°C : 120 kali/menit : 44 kali/menit Planning terapi: .Berat badan : 2800 gram . dispneu (-) o Caput suksadeneum (-) o Cephalhematom (-) .Muntah (-) .Vital sign o Suhu o Nadi o RR : : 36. 5 .

Berat badan : 2800 gram .ASI/PASI banyak .Kulit: berkeriput 15 Desember 2012 .Ekstremitas : akral hangat.Omphalitis .Neonatus aterm .hepar/lien tidak teraba.Infus D10 150 ml/24 jam . anemis (-). tali pusat bau (+) . bising usus (+).Abdomen : soefl.Rawat tali pusat Planning diagnostik: .Hiperbilirubinemia Planning terapi: . 6 .Vital sign rhonki (-). ikterik (-). sianosis (-) .Vital sign o Suhu o Nadi o RR : : 36°C : 128 kali/menit : 44 kali/menit .BAB/BAK normal . Planning monitoring: .ASI/PASI ad libitum .Termoregulasi . wheezing (-) .Menangis kuat (+) .Bilirubin direk .Kepala : o Sianosis (-).Muntah (-) . dispneu (-) o Caput suksadeneum (-) o Cephalhematom (-) .Bilirubin total .Keadaan umum . retraksi dinding dada (-) : bunyi jantung I>II.Injeksi picyn 2x150 mg .Gerak aktif (+) . regular : suara nafas vesikuler.Toraks o Jantung o Paru : o Simetris.

50 mg/dl .59 mg/dl . dispneu (-) o Caput suksadeneum (-) o Cephalhematom (-) .Kepala : o Sianosis (-).Bilirubin indirek: 11.Muntah (-) .Menangis kuat (+) .Berat badan : 2900 gram .Injeksi picyn 2x150 mg .Termoregulasi .Gerak aktif (+) . anemis (-).Kulit: Kramer IV .hepar/lien tidak teraba.CRP (+) 16 Desember 2012 .ASI/PASI ad libitum .Rawat tali pusat Planning diagnostik: .BAB/BAK normal .Hiperbilirubinemia Planning terapi: . ikterik (-).Ekstremitas : akral hangat.ASI/PASI banyak .Neonatus aterm .Hasil lab: . sianosis (-) .2°C : 128 kali/menit : 36 kali/menit .Omphalitis . tali pusat bau (+) .Bilirubin direk: 0.Vital sign o Suhu o Nadi o RR : : 36.Fototerapi 1x24 jam .91 mg/dl .Bilirubin total: 12.Infus D10 150 ml/24 jam .Toraks : 7 .

Kepala : Planning terapi: .CRP (+) 17 Desember 2012 .Keadaan umum .Berat badan : 2800 gram . retraksi dinding dada (-) o Jantung o Paru : bunyi jantung I>II.Gerak aktif (+) . Planning monitoring: .DL . regular : suara nafas vesikuler.o Simetris.Omphalitis .Muntah (-) .4°C : 125 kali/menit : 37 kali/menit . bising usus (+).Bilirubin direk .Bilirubin total . wheezing (-) .Neonatus aterm . ikterik (-).Vital sign rhonki (-).Ekstremitas : akral hangat.Vital sign o Suhu o Nadi o RR : : 36.Menangis kuat (+) . anemis (-).Hiperbilirubinemia Planning diagnostik: .Hasil lab . sianosis (-) .BAB/BAK normal .Kulit : Kramer IV .ASI/PASI banyak . tali pusat bau (+) . hepar/lien tidak teraba. dispneu (-) o Caput suksadeneum (-) 8 .Abdomen : soefl.Termoregulasi .Cefixim 2x1 gr o Sianosis (-).ASI/PASI ad libitum .

regular : suara nafas vesikuler.Omphalitis .ASI/PASI banyak . dispneu (-) o Caput suksadeneum (-) 9 . ikterik (-). tali pusat bau (+) . sianosis (-) .5°C : 122 kali/menit : 36 kali/menit .Toraks o Jantung o Paru : o Simetris.Ekstremitas : akral hangat.Termoregulasi .Gerak aktif (+) . retraksi dinding dada (-) : bunyi jantung I>II.Fototerapi 1x24 jam . .Menangis kuat (+) .Vital sign rhonki (-).Neonatus aterm . anemis (-).ASI/PASI ad libitum .DL . bising usus (+).Bilirubin total .Cefixim 2x1 gr o Sianosis (-).Abdomen : soefl.Kulit : Kramer IV 18 Desember 2012 .Berat badan : 2900 gram .Muntah (-) .Keadaan umum . hepar/lien tidak teraba.Kepala : Planning terapi: .Hiperbilirubinemia Planning diagnostik: . wheezing (-) .Vital sign o Suhu o Nadi o RR : : 36.BAB/BAK normal .o Cephalhematom (-) .Rawat tali pusat Planning monitoring: .Bilirubin direk .

regular : suara nafas vesikuler.Bilirubin total: 13 mg/dl 10 . . retraksi dinding dada (-) : bunyi jantung I>II.Vital sign rhonki (-).Rawat tali pusat Planning monitoring: . sianosis (-) .Kulit : Kramer IV . hepar/lien tidak teraba. bising usus (+). wheezing (-) .Hasil lab: . tali pusat segar (+) .Fototerapi 1x24 jam .38 mg/dl .Toraks o Jantung o Paru : o Simetris.Ekstremitas : akral hangat.o Cephalhematom (-) .Bilirubin direk: 2.Abdomen : soefl.Keadaan umum .

Hal ini terutama mempengaruhi neonatus.BAB III TINJAUAN PUSTAKA III. terutama bagi bayi yang dilahirkan di rumah tanpa bidan yang terampil dan berada pada kondisi yang tidak higienis. maka tetap menjadi penyebab morbiditas dan mortalitas yang signifikan di Afrika dan bagian lain di dunia. Meskipun kondisi ini jarang terjadi di negara maju. Definisi Omfalitis didefinisikan sebagai infeksi umbilikus. Omfalitis dapat menyebar ke vena porta dan menyebabkan berbagai macam komplikasi akut yang memerlukan intervensi medis serta bedah. Gambar 1. Variasi pada keadaan kongenital merupakan faktor predisposisi terjadinya infeksi pada tali pusat.1. Proses lepasnya tali pusat 11 . di antaranya kombinasi dari tunggul tali pusat dan penurunan kekebalan yang ditemukan saat infeksi. pada bayi baru lahir. dimana perawatan kesehatan kurang tersedia. khususnya tali pusat. Infeksi tali pusat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap infeksi bayi baru lahir dan kematian neonatus di Afrika. Hal ini jarang dilaporkan di luar masa neonatus.

kotoran sapi. Pengenalan secara dini infeksi tali pusat sangat penting untuk mencegah sepsis. kejadian ini bahkan lebih tinggi di masyarakat dengan aplikasi praktek di rumah yang tidak steril. III. antara lain kulit dan selaput lendir yang tipis 12 . atau minyak sawit pada tali pusat).7 %. Imaturitas kulit juga melemahkan pertahanan kulit. Sebelum luka sembuh merupakan jalan masuk untuk kuman dan infeksi yang dapat menyebabkan sepsis. menyebabkan hipogamaglobulinemia berat. Setelah lahir.3. III. Kerentanan neonatus terhadap infeksi dipengaruhi oleh berbagai faktor. Rumah sakit berbasis penelitian memperkirakan bahwa 2 – 54 bayi per 1000 kelahiran akan mengembangkan kejadian omfalitis. Transpor imunuglobulin melalui plasenta terutama terjadi pada paruh terakhir trimester ketiga.Tali pusat biasanya puput satu minggu setelah lahir dan luka sembuh dalam 15 hari.2. konsentrasi imunoglobulin serum terus menurun. terjadi antara 2 – 7 dalam setiap 100 kelahiran hidup. Untuk kejadian di negara berkembang.2 – 0. Epidemiologi Omfalitis jarang terjadi di negara maju. dengan angka kejadian 0. Infeksi sekunder: o Ketuban pecah dini o Ibu dengan infeksi o Proses kelahiran yang tidak steril o Prematuritas Umumnya imunitas bayi kurang bulan lebih rendah dari pada bayi cukup bulan. bedak bubuk. Namun. Faktor Risiko Faktor risiko yang dapat menyebabkan omfalitis yakni: Penanganan tali pusat yang tidak pantas (misalnya aplikasi budaya seperti pemberian oli mesin.

dan saluran cerna terkolonisasi. o Bayi berat lahir rendah Merupakan faktor resiko terjadinya infeksi. khususnya terhadap Streptokokus atau Haemophilus influenza. Biasanya Staphylococcus aereus sering dijumpai pada kulit. Kombinasi antara defisiensi imun dan penurunan antibodi total dan spesifik. Dengan adanya hal tersebut. aktifitas lintasan komplemen terlambat. Untuk pencegahan terjadinya infeksi tali pusat sebaiknya tali pusat tetap dijaga kebersihannya. IgG dan IgA tidak melewati plasenta dan hampir tidak terdeteksi dalam darah tali pusat. upayakan tali 13 . saluran pernafasan. saat lahir.dan mudah rusak. III. Etiologi Organisme yang dapat menyebabkan omfalitis yaitu: Bakteri aerob: o Staphylococcus aureus (penyebab tersering) Staphylococcus aereus ada dimana-mana dan didapat pada masa awal kehidupan hampir semua bayi. o Ibu tidak mandi (mencuci perineum dengan air dan sabun) atau mencukur sebelum proses kelahiran Faktor risiko lain: o Neonatus dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah atau imunodefisiensi atau yang dirawat di rumah sakit dan mengalami prosedur invasif. Neonatus bisa mengalami kekurangan IgG spesifik. menyebabkan sebagian besar penurunan aktivitas opsonisasi. dan C3 serta faktor B tidak diproduksi sebagai respon terhadap lipopolisakarida. bersama dengan penurunan fibronektin. atau selama masa perawatan. o Sindrom kekurangan leukocyte adhesion (LAD) dan mobilitas neutrofil.4. kemampuan fagositosis dan leukosit immunitas masih rendah.

penggunaan antibiotik. dan praktek-praktek lokal lainnya.6. III. atau berbau busuk. mengeluarkan nanah. III.pusat agar tetap kering dan bersih. Infeksi tali pusat lokal atau terbatas Jika tali pusat bengkak. tanpa penghalang normal pertahanan kulit. resistensi bakteri. Bakteri memiliki potensi untuk menyerang tali pusat. dimana terjadi perubahan dalam perawatan tali pusat. Klasifikasi Klasifikasi infeksi tali pusat: a. yang menyebabkan terjadinya omfalitis. Spektrum bakteriologis dalam omfalitis sedang mengalami perubahan. pada saat memandikan di minggu pertama sebaiknya jangan merendam bayi langsung ke dalam air mandinya karena akan menyebabkan o Streptokokus grup A o Escherichia coli o Klebsiella o Proteus Bakteri anaerob (penyebab sepertiga kasus omfalitis): o Bacteroides fragilis o Peptostreptococcus o Clostridium perfringens basahnya tali pusat dan memperlambat proses pengeringan tali pusat. dan di sekitar tali pusat berwarna kemerahan dan pembengkakan 14 . Biasanya.5. Patofisiologi Tali pusat menyajikan substrat yang unik untuk kolonisasi bakteri. daerah tali pusat menjadi tempat kolonisasi bakteri patogen intrapartum atau segera setelah kelahiran. dan mengalami iskemia dan degradasi sehingga tali pusat mengering dan lepas.

Gejala Klinik Gejala klinik yang dapat ditemukan pada omfalitis yaitu: Gejala lokal: o Discharge yang purulen dan berbau busuk dari umbilicus atau tali pusat. o Eritema. Gambar 2.terbatas pada daerah kurang dari 1 cm di sekitar pangkal tali pusat local atau terbatas. Infeksi tali pusat berat atau meluas Jika kemerahan atau bengkak pada tali pusat meluas melebihi area 1 cm atau kulit di sekitar tali pusat bayi mengeras dan memerah serta bayi mengalami pembengkakan perut. edema. Infeksi Tali Pusat Berat III. disebut sebagai infeksi tali pusat berat atau meluas. dan nyeri tekan di daerah periumbilikal Gejala sistemik: o Takikardi (denyut jantung lebih dari 180 kali per menit) o Hipotensi dan capillary refill menurun o Takipneu (nafas lebih dari 60 kali per menit) o Tanda-tanda gagal nafas atau apneu o Distensi abdomen dengan penurunan bising usus. o Keterlibatan sistem saraf pusat: 15 .7. b.

MRI atau CT-scan dapat digunakan untuk menilai fistula kongenital. BAB berdarah) Sepsis general Jarang. Diagnostik dapat ditegakkan melalui pemeriksaan penunjang berupa: Rontgen abdomen sangat diperlukan jika dicurigai terjadi necrotizing enterokolitis.8. 16 . Diagnosis Banding Diagnosis banding omfalitis antara lain: Granuloma umbilikus (granuloma yang dapat dilihat pada umbilikus) Patent vitello-intestinal duct Patent urachus (pembukaan fistel dengan discharge urin) Necrotizing enterocolitis (distensi abdomen. USG abdomen berguna untuk memberikan gambaran mengenai dinding abdomen jika dicurigai terjadi kista. abses retroperitoneal. anomaly appendiculo-omphalic III. Diagnosis Usap mikrobiologi dari umbilikus harus dikirim untuk kultur aerob dan anaerob. dan abses hepar. Multiple fluid levels dapat mengarah ke obstruksi adhesi tapi dapat pula dijumpai pada ileus. Pada pemeriksaan laboratorium darah. Dapat dijumpai gas di intraperitoneal dimana terjadi peritonitis (disebabkan oleh bakteri penghasil gas).    Iritabilitas Letargi Penurunan refleks menghisap Hipotonus atau hipertonus III. dapat ditemukan neutrofilia (kadang-kadang neutropenia). muntah. Sangat berguna untuk mendiagnosis abses intraperitoneal.9. USG Doppler dilakukan jika dicurigai terjadi thrombosis vena portal. Kultur darah harus disertakan pada saat yang tepat. Fistulogram diindikasikan jika terjadi fistula ke umbilikus.

dapat diberikan terapi antibiotik jangka pendek selama 7 hari. obati seperti infeksi tali pusat berat atau meluas. Farmakologi Antibiotik: ampiclox.5% atau iodium povidon 2. Penatalaksanaan Penatalaksanaan yang dapat diberikan pada omfalitis yaitu: a. b. flucloxacillin. Untuk bakteri anaerob. untuk mencegah berpindahnya kuman dari tangan. Jika kemerahan atau bengkak pada tali pusat meluas melebihi area 1 cm.10. methicillin yang dikombinasi dengan gentamycin.5%) delapan kali sehari sampai tidak ada nanah lagi pada tali pusat.III. Infeksi tali pusat berat atau meluas Cara penanganannya : Lakukan pemeriksaan laboratorium untuk pemeriksaan kultur dan sensivitasi. Olesi tali pusat pada daerah sekitarnya dengan larutan antiseptik (misalnya gentian violet 0. 17 . Terapi diberikan selama 10-14 hari. Untuk omfalitis sederhana yang tidak terjadi komplikasi. Anjurkan Ibu melakukan ini kapan saja bila memungkinkan. Nonfarmakologi Penatalaksanaan omfalitis berdasarkan klasifikasi: a. Infeksi tali pusat lokal atau terbatas Cara penanganannya : Biasakan untuk selalu mencuci tangan sebelum memegang atau membersihkan tali pusat. Bersihkan tali pusat menggunakan larutan antiseptik (misalnya klorheksidin atau iodium povidon 2. cloxacillin.5%) dengan kain kassa yang bersih. dapat diberikan antibiotik berupa metronidazole. b.

Lakukan perawatan umum seperti dijelaskan untuk infeksi tali pusat lokal atau terbatas. sistem limfatik dinding abdomen. III. Komplikasi Patofisiologi komplikasi omfalitis erat kaitannya dengan anatomi umbilikus. vena umbilikalis.11.8 – 12 terjadi dalam 26% dari pasien. 18 . dan dengan penyebaran langsung ke daerah perbatasan. Patofisiologi komplikasi dari omfalitis Komplikasi yang dapat terjadi pada omfalitis berupa : Necrotizing fasciitis Necrotizing fasciitis adalah salah satu komplikasi serius yang paling sering dilaporkan dari omfalitis.5% neonatus dengan omfalitis.- Dapat diberikan pemberian antibiotik sesuai indikasi seperti Kloksasilin oral selama lima hari jika terdapat pustule / lepuh kulit dan selaput lendir. - Cari tanda-tanda sepsis. Telah tercatat terjadi pada 13. Infeksi dapat menyebar sepanjang arteri umbilikalis. 1. Gambar 3.

19 . tanpa pengobatan. diikuti dengan perawatan luka harian. selulitis periumbilikalis dapat dikontrol dengan menggunakan antibiotik parenteal spectrum luas. Secara jarang. dengan cepat menjadi nekrosis kulit dan jaringan subkutan. Gambar 4. presentasi klinik dapat timbul lama. tetapi usus besar mungkin terlibat. Yang biasanya mengalami eviscerasi adalah usus halus. Jika diobati dini. dan dapat menjadi gangren. menghapus semua jaringan yang mati. yang. debridement dapat dilakukan dengan menggunakan parasetamol parenteral atau perrektal untuk analgesia.Kondisi ini dimulai dengan selulitis periumbilikalis. Necrotising fasciitis awal yang dimulai dari umbilikus - Evisceration Evisceration intestinal merupakan komplikasi serius yang sering dilaporkan. Necrotizing fasciitis harus ditangani dengan debridement yang cepat. luka skrotum dapat sembuh dengan baik tanpa penutupan sekunder atau pencangkokan kulit. Jika bayi terlalu sakit untuk anastesi umu. mionekrosis. Luka yang dihasilkan nantinya akan memerlukan penutupan sekunder (atau pencangkokan kulit jika cacat besar). Skrotum adalah yang paling sering terpengaruh oleh necrotizing fasciitis. dan dalam beberapa kasus. Namun. tetapi dinding perut juga mungkin terlibat. Rezim antibiotik harus selalu menyertakan sebuah antianaerob seperti metronodazole.

Jika terdapat gangrene peritonitis atau usus. namun sering intraabdominal. Perawatan dilakukan untuk memastikan bahwa usus tidak terpelintir. Gambar 5. sebuah laparotomi perlu dilakukan untuk mengeringkan dan membersihkan setiap abses rongga peritoneal. atau jika tidak ada fasilitas untuk USG. usus dibersihkan dan dikembalikan ke rongga peritoneal dan umbilikus diperbaiki. Abses apapun dikeringkan dan rongga peritoneal dibersihkan. - Abses Abses dapat terjadi di berbagai tempat. dan ditempatkan dalam kantong usus (atau dapat juga pada kantong plastic transparan). Abses intraperitoneal dilakukan drainase dengan laparotomi. Evisceral intestinal - Peritonitis Peritonitis dapat terjadi dengan atau tanpa abses intraperitoneal. Di bawah anastesi umum. dan operasi biasanya tidak diperlukan. Jika abses intraperitoneal dikonfirmasi oleh USG. infeksi bisa diterapi dengan penggunaan antibiotik intravena spectrum luas. Abses retroperitoneal dilakukan drainase dengan 20 .Eviserasi intestinal ini harus ditutupi oleh kain kasa lembab yang bersih. Jika tidak terdapat abses. maka laparotomi diperlukan.

Komplikasi lanjut yang dapat terjadi yakni: Thrombosis vena porta Portal vein thrombosis (PVT) adalah komplikasi dengan konsekuensi serius. yang dapat menyebabkan obstruksi empedu. Meskipun komplikasi awal. Hernia umbilikalis Hernia umbilikalis adalah masalah umum pada anak-anak di Afrika.pendekatan ekstraperitoneal. Jika abses multiple. tetapi jika terletak anterior di retroperitoneal diperlukan. Dalam kasus-kasus sulit. atau kekambuhan setelah aspirasi jarum. Trombosis dapat menghasilkan carvernoma. dan rongga abses tersebut diairi dengan normal saline. drainase terbuka mungkin diperlukan. Abses dapat terletak di dinding perut anterior atau di lokasi dangkal lainnya. pendekatan intraperitoneal mungkin Abses hati harus benar-benar diketahui lokasinya dengan ultrasonografi atau CT-scan. Adhesi dapat menyebabkan obstruksi usus. tersebut. yang biasanya tidak bisa menerima 21 . dan aspirasi / drainase disediakan untuk kasus yang persisten. Adhesi peritoneal Adhesi peritoneal adalah hasil dari subklinis sebelumnya. Abses disedot oleh jarum dengan lubang yang lebar di bawah bimbingan pencitraan. konsekuensi utama dihasilkan dalam jangka panjang. Dalam satu laporan dari 200 pasien yang menjalani portosystemic shunt untuk hipertensi portal karena PVT. antibiotik parenteral saja mungkin cukup. Hal ini dapat diulangi sekali lagi jika masih terdapat abses. dan beberapa adalah hasil dari melemahnya sikatriks umbilikus dari omfalitis neonatus. Sebuah shunt portosystemic mungkin diperlukan jika hipertensi portal meningkat. Keadaan ini akan membutuhkan drainase. 15% dari PVT diduga merupakan hasil dari omphalitis neonatal.

bagaimanapun. kejadian cukup tinggi dan dipertimbangkan profilaksis untuk mencegah morbiditas dan mortalitas yang mungkin dapat terjadi.12. Merawat tali pusat dengan prinsip bersih dan kering. Pencegahan Insiden omfalitis rendah di negara-negara kaya sumber daya dan untuk mereka yang lahir di rumah sakit. dan proses kelahiran yang sepsis. dan eviserasi. Kematian dapat mencapai 38 – 87 % mengikuti necrotizing fasciitis dan mionekrosis. Thrombosis vena portal dapat berakibat fatal.13. Morbiditas dan mortalitas yang serius dapat terjadi akibat komplikasi seperti necrotizing fasciitis. terkait dengan prognosis yang buruk. Dalam pengaturan rumah sakit di Afrika. digunakan betadine.tindakan nonoperatif. Akses persalinan yang tepat membantu mengurangi kejadian omfalitis. jika lambat diketahui dan pengobatan tertunda. dan terutama setelah melahirkan di rumah. faktor-faktor risiko tertentu seperti prematuritas. sudah tidak digunakan pencucian tali pusat dengan bahan medis. Di negara-negara berkembang. Saat ini. 22 . alkohol dan gentian violet biasanya digunakan untuk perawatan tali pusat. tali pusat juga digosok dengan air dan sabun. Setiap segmen usus iskemik perlu direseksi. Laparotomi dan lisis / eksisi adhesi biasanya diperlukan. Kewaspadaan juga penting untuk mengidentifikasi komplikasi utama dan merujuk pasien awal untuk cepat dilakukan intervensi. bacitracin dan silver sulfadiazine direkomendasikan. Di negara lain. jenis kelamin (laki-laki). Prognosis Omfalitis uncomplicated yang diterapi dengan baik biasanya sembuh tanpa morbiditas serius. Selain itu. saat memandikan bayi. Namun. Jadi. III. III. angka kematian bisa tinggi mencapai 7 – 15%. peritonitis. tetapi hanya menggunakan perawatan kering tali pusat sampai tali pusat tersebut kering dan lepas dengan sendirinya. kecil masa kehamilan.

13 kali lebih mungkin untuk terjadi infeksi tali pusat dibandingkan bayi dari ibu yang menggunakan prosedur tersebut. telah ditemukan untuk mengurangi infeksi tali pusat. Hindari kontak langsung tali pusat dengan air kencing bayi karena air kencing tersebut adalah salah satu penyebab timbulnya infeksi pada tali pusat bayi. 23 .lalu dikeringkan dengan handuk bersih terutama daerah tali pusat yang masih berwarna putih di bagian pangkalnya (tali pusat yang bermuara ke perut bayi). Proses kelahiran yang steril. yang dipelopori oleh United Nations Population Fund (UNFPA). atau dibungkus dengan kasa kering yang steril. Menggunakan popok sekali pakai sebaiknya di bawah pusar.9 kali lebih mungkin untuk terjadi infeksi tali pusat dibandingkan bayi dari ibu yang dimandikan sebelum persalinan. Bayi dari ibu yang tidak menggunakan prosedur tersebut. Bagian pangkal ini bisa dibersihkan dengan cotton budpovidone yodine) dan biarkan terbuka sehingga cepat mengering. Laporan yang sama juga tercatat bahwa bayi dari ibu yang tidak mandi sebelum persalinan adalah 3.

kolesistitis. tetapi kemungkinan besar disebabkan oleh perawatan tali pusat yang kurang baik. Pada hari kedua pemeriksaan. kelainan pada darah. sedangkan untuk neonatus diberikan 1. infeksi intraabdomen. Efek samping yang dapat timbul berupa gangguan pada gastrointestinal. Kontraindikasi: hipersensitif terhadap penisilin. dimana penyebab infeksi bukan karena ketuban berwarna hijau. UTI dan pielonefritis. Pada hari pertama kelahiran.5 – 3 gram. septicemia bakterialis. diberikan picyn sebagai terapi antibiotik. dapat diulang tiap 6-8 jam. Hal tersebut menunjukkan bahwa tali pusat tersebut terinfeksi. ditemukan tali pusat bau. Pada hari kedua (ditemukan tali pusat yang bau). kemerahan pada kulit. Picyn merupakan antibiotik yang mengandung sulfamicillin (ampicillin dan sulbactam). maka dilakukan langkah awal yang terdiri dari: o Hangatkan bayi di bawah pemancar panas o Posisikan kepala bayi sedikit ekstensi o Isap lendir dari mulut kemudian hidung 24 . infeksi tulang dan sendi. Terapi lain yang diberikan untuk bayi Nur yaitu: Resusitasi Begitu bayi lahir tidak menangis.BAB IV PEMBAHASAN Berdasarkan hasil subjective yang diperoleh dan pemeriksaan yang dilakukan terhadap bayi Nur. serta reaksi anafilaksis dan superinfeksi. diindikasikan untuk infeksi saluran nafas atas dan bawah. diberikan injeksi picyn sebagai profilaksis untuk bayi karena air ketuban berwarna hijau. Diberikan dengan dosis 150 mg/kgBB/hari (untuk anak-anak). diperoleh diagnosis neonatus aterm dan tidak ditemukan kelainan lainnya. infeksi kulit dan jaringan lunak. dan infeksi gonokokus. gatal-gatal. selulitis pelvic dan endometritis. pneumonia bacterial.

Indikasi: pencegahan dan pengobatan pada penyakit hemoragik pada bayi baru lahir. reaksi hipersensitif termasuk syok anafilaktik dan kematian. VTP dilanjutkan o Pemasangan pipa ET bisa dilakukan pada setiap tahapan resusitasi o Selanjutnya lihat bagan (bagan algoritma asfiksia neonatal) Injeksi Neo K Kandungan: Phytomenadione. warna kulit. pastikan bayi menerima jumlah yang cukup dengan cara apapun. Dosis: 0. ASI/PASI ad libitum o ASI merupakan pilihan utama o Apabila bayi mendapat ASI. warna kulit. Efek samping: hiperbilirubinemia jika overdosis. 25 . dan denyut jantung o Bila bayi tidak bernafas. lakukan ventilasi tekanan positif (VTP) dengan memakai balon dan sungkup selama 30 detik dengan kecepatan 40-60 kali per menit o Nilai bayi: usaha. dan nilai kemampuan bayi menghisap paling kurang sehari sekali. dan denyut jantung o Bila denyut jantung <60 kali per menit. beri epinefrin dan lanjutkan VTP dan kompresi dada o Bila denyut jantung >60 kali per menit.o Keringkan bayi sambil merangsang taktil dengan menggosok punggung atau menyentil ujung jari kaki dan mengganti kain yang basah dengan yang kering o Reposisi kepala bayi o Nilai bayi: usaha. warna kulit. kompresi dada dihentikan. lanjutkan VTP dengan kompresi dada secara terkoordinasi selama 30 detik o Nilai bayi: usaha. perhatikan cara pemberian ASI. dan denyut jantung o Bila belum bernafas dan denyut jantung <60 kali per menit.5 – 1 mg intramuskular. 1—6 jam setelah kelahiran.

kangaroo mother care. 26 . Termoregulasi (pengaturan suhu tubuh) o Gunakan salah satu cara menghangatkan dan mempertahankan suhu tubuh bayi. pemancar panas. inkubator atau ruangan hangat yang tersedia di tempat fasilitas kesehatan setempat sesuai petunjuk o Jangan memandikan atau menyentuh bayi dengan tangan dingin o Ukur suhu tubuh sesuai jadwal.o Apabila bayi sudah tidak mendapatkan cairan IV dan beratnya naik 20 gram per hari selama 30 hari berturut-turut. timbang bayi 2 kali seminggu. seperti kontak kulit ke kulit. Hal tersebut menunjukkan bahwa bayi Nur mengalami hiperbilirubinemia dimana keadaan tersebut ditatalaksana dengan fototerapi. Prognosis pada bayi Nur adalah dubia ad bonam karena infeksi yang terjadi masih merupakan infeksi tali pusat local dan tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi sistemik. Selain omfalitis. pada bayi Nur juga ditemukan kadar bilirubin direk dan total yang meningkat.

Changing Spectrum of Neonatal Omphalitis. 1998. 2005. Diagnosis and Management. Edisi ketiga. Sawardekar KP. Jakarta : EGC. Major Complications of Omphalitis in Neonates and Infant. Washington DC: Georgetown University Gary F Cunningham.DAFTAR PUSTAKA Ameh EA. 2002. Pediatric Anaerobic Infections. Farrer Helen. etc. Itzhak. 27 . 2002. Brook. Obstetri Williams. 2004. Jakarta : EGC. Nmadu PT. Mochtar Rustam. Pediatric Infectious Disease. Sinopsis Obsetri. Jakarta : EGC. Perawatan Maternitas. 1999.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful