Gareng

Gareng dalam filsafat tokoh punakawan Jawa juga disebut “Nala Gareng”. Secara epistimologi Nala artinya hati. Gareng artinya kering, atau gering yang berarti menderita. Secara terminologi Gareng memiliki makna perilaku prihatin manusia dalam menjalankan kehidupan di muka bumi ini. Keprihatinan dalam dunia Gareng bukanlah keprihatinan yang akan membuat kehidupannya menjadi fatal dan gagal, akan tetapi keprihatinan itu adalah suatu kenyataan hidup yang memang membutuhkan ketegaran hati untuk terus menerus bisa lebih tegas dan lebih tegar. Gareng juga bisa ditafsir dengan makna “kebulatan tekad”. Manusia yang hidup di dunia ini memang membutuhkan kebulatan tekad meskipun kondisi kehidupan sangat menderita, akan tetapi ketabahan hati dan kebulatan tekad akan mengangkat segala kenyataan hidup itu menjadi lebih tertangani dengan sebaik-baiknya. Tentu saja semua orang akan mengerti, apa yang sebenarnya mampu dilakukan dalam kehidupan ini untuk menjadi lebih baik dan lebih berarti. Sehingga kenyataan kehidupan di muka bumi ini menjadi lebih baik.

Dalam serat Wedhatama disebutkan gumekng agolonggiling. Merupakan suatu tekad bulat yang selalu mengarahkan setiap perbuatannya bukan untuk pamrih apapun, melainkan hanya untuk netepi kodrat Hyang Manon. Nala Gareng menjadi simbol duka-cita, kesedihan, nelangsa. Tentu saja ketika seseorang berbuat sesuatu atas nama pamrih terhadap seseorang, tentu saja apa yang dilakukannya juga asal-asalan, apalagi pamrih yang diharapkannya justru tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya, tentu saja mereka akan selalu menggerutu. Akan tetapi sifat itu tidak ada dalam diri Gareng, ia adalah sosok yang baik, sosok yang melakukan segala hal hanya untuk kekuasaan Sang Hyang. Jika demikian, semua tingkah laku yang dilakukan oleh Gareng juga bertumpu pada perintah Sang Hyang. Semuanya memiliki kelebihan batiniah yang luar biasa, petualangan spirit yang akan menciptakan kehidupannya menjadi lebih baik ke depan. Dan hanya orang-orang yang mengerti cara yang terbaik bagi kehidupannya yang akan menjadikan ruang kinerja keseharian tanpa adanya pamrih. 1. Analisa Simbol Fisik A. Mata Juling B. Lengan Bengkok atau Cekot C. Kaki Pincang, Bila Berjalan Harus Menjinjit D. Mulut Yang Berbentuk Aneh Dan Lucu Nama lengkap dari Gareng sebenarnya adalah Nala Gareng, hanya saja masyarakat sekarang lebih akrab dengan sebutan “Gareng”.

Gareng adalah punakawan yang berkaki pincang. Hal ini merupakan sebuah sanepa dari sifat Gareng sebagai kawula yang selalu hati-hati dalam bertindak. Selain itu, cacat fisik Gareng yang lain adalah tangan yang ciker atau patah. Ini adalah sanepa bahwa Gareng memiliki sifat tidak suka mengambil hak milik orang lain. Diceritakan bahwa tumit kanannya terkena semacam penyakit bubul. Dalam suatu carangan Gareng pernah menjadi raja di Paranggumiwayang dengan gelar Pandu Pragola. Saat itu dia berhasil mengalahkan Prabu Welgeduwelbeh raja dari Borneo yang tidak lain adalah penjelmaan dari saudaranya sendiri yaitu Petruk. Dulunya, Gareng berujud satria tampan bernama Bambang Sukodadi dari pedepokan Bluktiba. Gareng sangat sakti namun sombong, sehingga selalu menantang duel setiap satria yang ditemuinya. Suatu hari, saat baru saja menyelesaikan tapanya, ia berjumpa dengan satria lain bernama Bambang Panyukilan. Karena suatu kesalahpahaman, mereka malah berkelahi. Dari hasil perkelahian itu, tidak ada yang menang dan kalah, bahkan wajah mereka berdua rusak. Kemudian datanglah Batara Ismaya (Semar) yang kemudian melerai mereka. Karena Batara Ismaya ini adalah pamong para satria Pandawa yang berjalan di atas kebenaran, maka dalam bentuk Jangganan Samara Anta, dia (Ismaya) memberi nasihat kepada kedua satria yang baru saja berkelahi itu. Karena kagum oleh nasihat Batara Ismaya, kedua satria itu minta mengabdi dan minta diaku anak oleh Lurah Karang Kadempel, titisan dewa (Batara Ismaya) itu. Akhirnya Jangganan Samara Anta bersedia menerima mereka, asal kedua satria itu mau menemani dia menjadi pamong para kesatria berbudi luhur (Pandawa), dan akhirnya mereka berdua setuju. Gareng kemudian diangkat menjadi anak tertua (sulung) dari Semar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful