PENDAHULUAN Walaupun Tuberkulosis masih memerlukan perhatian yang besar di seluruh dunia, secara keseluruhan di Amerika Serikat seudah

berkurang pada dekade sekarang. Pada tahun 1974, penderita tuberkulosis rata-rata 10 dari 100.000 orang. Penderita tuberkulosis wanita pada masa reproduktif di Amerika Serikat meningkat 40% antara tahun 1985-1992. Hampir 30% kasus penderita tuberkulosis di Amerika Serikat yang dilaporkan dari tahun 1989-1993 adalah keturunan asing. Memang penyebab penyakit ini antara lain karena ketuaan, kata-kata yang miskin, wanita hamil dengan latar belakang sosial ekonominya menunjukkan kemiskinan, perawatan kesehatan yang buruk, lingkungan yang padat, kelompok kecil dan penderita dengan sindrom imunodefisiensi. Diperkirakan tedapat 8.000.000 penduduk dunia terserang tuberkulosis dengan kehamilan 3.000.000 orang (1993). Seiring dengan munculnya epidemi HIV / AIDS di dunia, jumlah penderita tuberkulosis cenderung meningkat pula sehingga WHO mencanangkan “kedaruratan Global” pada tahun 1993 karena diperkirakan seperempat penduduk dunia telah terinfeksi kuman tuberkulosis. Di Indonesia, kasus baru tuberkulosis hampir separuhnya adalah wanita, dan menyerang sebagian besar wanita pada usia produktif. Kira-kira 1-3 % dari semua wanita hamil menderita tuberkulosis. Pada kehamilan terdapat perubahanperubahan pada sistem humoral, imunologis, peredaran darah, sistem pernafasan, seperti terdesaknya diafragma ke atas sehingga paru-paru terdorong ke atas oleh uterus yang gravid menyebabkan volume residu pernafasan berkurang. Dimana kehamilan pemakaian oksigen akan bertambah kira-kira 25% dibandingkan diluar kehamilan, apabila penyakitnya berat atau prosesnya luas dapat menyebabkan hipoksia sehingga hasil konsepsi juga ikut menderita, dapat terjadi, partus prematur prematur, atau kematian janin. Proses kehamilan, persalinan, masa nifas, dan laktasi mempunyai pengaruh kurang menguntungkan terhadap jalannya penyakit. Hal ini disebabkan oleh

karena perubahan-perubahan dalam kehamilan yang kurang menguntungkan bagi proses penyakit dan daya tahan tubuh yang turun akibat kehamilan. IMUNOLOGI Imunitas manusia menunjukkan imunitas alamiah terhadap tuberkulosis, dengan variasi individu yang besar. Penelitian orang kembar telah memperlihatkan bahwa tuberkulosis lebih mungkin timbul pada hubungan darah monozigot dari pada hubungan darah dizigot atau hubungan keluarga lain. Usaha untuk menghubungkan kerentanan terhadap tuberkulosis ke fenotipe HLA telah menghasilkan data bertentangan. Walaupun kerentanan terhadap tuberkulosis telah dihubungkan dengan ras namun bukti telah bersifat anekdot dan tidak menyakinkan. Seperti yang terlihat, usia merupakan faktor penentu penting bagi imunitas alamiah terhadap tuberkulosis. Walaupun data spesifik tentang gizi dan imunitas tuberkulosis tidak ada, namun jelas hubungan tuberkulosis dengan kelaparan. Imunitas didapat pada infeksi tuberkulosis primer. Imunitas spesifik antigen tergantung atau limfosit T dan dapat dipindahkan dengan mengambil limfosit tersebut. Hipersensitivitas tuberkulosis merupakan antigen spesifik di alam dan mengikuti atas monosit efektor. BAKTERIOLOGI Penyebab tuberkulosis adalah Mycabacterium tuberkulosis, sejenis kuman berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/um dan tebal 0,3-0,6/um. Spesies lain kuman ini yang dapat memberikan infeksi pada wanita hamil adalah Mycabacterium bovis, Mycobacterium kansasii, Mycobacterium intra-cellulare . Sebagian besar kuman ini terdiri dari asam lemak (lipid). Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam dan terhadap gangguan kimia dan fisik. Kuman dapat tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat bertahun-tahun dalam lemari es). Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. yAng kemudian dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis

mikrobiologi dan ahli kesehatan masyarakat tentang keseragaman klasifikasi tubekulosis pada kehamilan. minum sus sapi yang sakit tuberkulosis.aktif lagi. tuberkulosis post primer 2) Tuberkulosis paru (koch Pulmonum) aktif. Moderately advanced tubercolusis : terdapat infitrat dan kavitas yang melebihi Moderately advanced tubercolusis. Sifat ini menjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang kandungan oksigennya tinggi. Bila bayangan kasar tidak lebih dari sepertiga bagian satu paru. ahli patologi. tapi tidak lebih dari satu lobus. dan tidak terinfeksi. Pada tahun 1974 American Thoracic Sosiety memberikan klasifikasi baru yang diambil dari klasifikasi kesehatan masyarakat. Masa tunas berkisar antara 4-12 minggu. Cara penularan melalui udara pernafasan dengan menghirup partikel kecil yang mengandung bakteri tuberkulosios. . Sifat lain kuman ini adalah aerob. KLASIFIKASI TUBERKULOSIS Sampai sekarang belum ada kesepakatan diantara klinikus.  Kategori 0 : tidak pernah terpapar. Far advanced tuberculosis : terdapat infitrat dan kavitas yang melebihi. ahli radiologi. mikrobiologi dan radiologi. non aktif dan quiescescesnt 3) Tuberkulosis minimal : terdapat sebagian kecil infitrat non kavitas pada satu kedua paru. Klasifikasi tersebut diatas masing-masing lebih dititik beratkan pada bidang patologi. tes tuberkulin negatif. jumlah infitrat bayangan halus tidak lebih dari satu bagian paru. Dari sistem lama diketahui beberapa klasifikasi seperti : 1) Tuberkulosis primer (chichood tuberculosis). Moderately advanced tubercolusis : ada kavitas dengan diameter tidak lebih dari 4 cm. Riwayat kontak negatif. Masa penularan terus penularan terus berlansung selama sputum BTA penderita positif.

yang terbagi menjadi :  Tuberkulosis paru tersangka yang diobati. ventilasi yang . Kategori II : terinfeksi tuberkulosis tapi tidak sakit. kelainan yang relevan untuk tuberkulosis paru  Status klinik. Kategori I : terpapar tuberkulosis.  Status kemopengobatan. Tes tuberkulin posirif. tes tuberkulin negatif. Dalam klasifikai ini perlu dicantumkan :  Status bakteriologis : mikrospik sputum BTA. gejala-gejala yang relevan untuk tuberkulosis paru. biakan sputum BTA  Status radiologik.   Di Indonesia klasifikasi yang banyak dipakai adalah : 1) Tuberkulosis paru 2) Bekas tuberkulosis paru 3) Tuberkulosis paru tersangka. sputum negatif dan tandatanda klinis juga meragukan. riwayat pengobatan dengan obat anti tuberkulosis PATOGENESIS / PATOLOGI TUBERKULOSIS PRIMER Penularan tuberkulosis paru terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara. radiologis dan sputum negatif. sputum BTA negatif tapi tanda klinis positif  Tuberkulosis paru tersangka yang tidak diobati. Kategori III : terinfeksi tuberkulin dan sakit. tapi tidak terbukti ada infeksi. Partikel in dapat menetap diudara selama 1-2 jam tergantung ada atau tidaknya sinar ultraviolet. Disini rowayat kontak positif.

imunitas penderita sarana dini dapat menjadi : diresorbsi kembali dan sembuh tanpa cacat. Kuman dapat juga masuk melalui luka pada kulit atau mukosa tapi itu sangat jarang. TUBERKULOSIS POST PRIMER Kuman yang dormant pada tuberkulosis primer akan muncul setelah beberapa tahun kemudian sebagai infeksi endogen menjadi tuberkulosis dewasa (post primer). berkomplikasi dan menyebar secara perkominutatum. virulensi kuman. Dalam suasana lembab dan gelap kuman dapat bertahan berhati-hari sampai berbulan-bulan. bila jaringan keju dibatukkan keluar akan terjadi kavitas. kuman yang bersarang di jaringan paru akan membentuk sarang primer atau afek primer. Bila partikel infeksi ini terhisap oleh orang sehat. sembuh dengan sedikit cacat/bekas berupa garis-garis fibrotik. limfogen. Invasnya adalah ke daerah parenkim paru dan tidak ke nodus hiler paru. meluas tapi segera menyembuh dengan sebukan fibrosis. Sarang dini ini jula-mula juga berbentuk sarang pneumonia kecil. Tuberkulosis post primer ini dimulai dengan sarang dini yang berlokasi di regio atas paru-paru (bagian apikal posterior lobus superior atau inferior). atau memadai dan membungkus diri sendiri sehingga terjadi tuberkuloma yang dapat menyembuh atau aktif kembali. maka ini akan menempel pada jalan nafas atau paru-paru. hematogen. ia akan tumbuh dalam sitoplasma makrofag. bronkogen. Kebanyakan partikel ini akan mati atau dibersihkan oleh makrofag keluar dari cabang trakeo-bronial beserta gerakan sila dengan sekretnya. Disini ia akan terbawa keorgan tubuh lainnya. . Kemudian akan timbul peradanaan saluran getah bening menjadi kompleks primer. atau bisa juga bersih dan menyembuh yang disebut sebagai open healed cavity. sarang dini yang meluas dimana granuloma berkembang menghancurkan jaringan sekitarnya dan bagian tengahnya nekrosis membentuk jaringan keju. Bila kuman menetap di jaringan paru. yang selanjutnya dapat menjadi : sembuh tanpa cacat. Tergantung jumlah kuman. kavitas dapat meluas dan menimbulkan sarang baru. dan kelembaban.baik. klasifikasi hilus.

Bila sputum didapat kadang kuman BTA susah ditemukan. Pemeriksaan serologis yang kadang dipakai adalah reaksi Takahashi. Kriteria sputum BTA positif adalah bila ditemukan sekurang-kurangnya ditemukan 3 batang kuman BTA pada satu sediaan. Pada pemeriksaan dengan biakan. Bila setelah 8 minggu . koloni kuman tuberkulosis mulai tampak. sehingga sputum yang mengandung kuman BTA mudah keluar. Kuman baru dapat ditemukan bila bronkus yang terlibat proses ini terbuka keluar. Kriteria yang dipakai di Indonesia adalah tiler 1/128. Untuk pewarnaan sediaan dianjurkan dengan memakai cara Thiam Hok yang merupakan modifikasi gabungan cara pulasan Kinyoum dan Gabbet selain itu pewarnaan Zieh-Neelsen kultur (produksi niacin invitro). setelah 4-6 minggu penanaman sputum dalam medium biakan. Pada awal tuberkulosis jumlah leukosit akan sedikit meninggi dengan pergeseran kekiri. Dalam hal ini 1 hari sebelum pemeriksaan sputum penderita disuruh minum air sebanyak ± 2 liter dan diajarkan melakukan refkeksi batuk. Pemeriksaan sputum penting karena dengan ditemukannya kuman BTA diagnosis tuberkulosis sudah dapat dipastikan. Tetapi kadang tidak mudah mendapatkan sputum terutama pada penderita yang tidak batuk. Laju endap darah mulai meningkat. pemeriksaan darah kurang mendapat perhatian karena hasilnya kadang meragukan. Disamping itu pemeriksaan sputum juga dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang sudah diberikan. Dapat juga dengan memberikan obat mukolitik ekspektoran atau dengan inhalasi larutan garam hipertonik selama 2030 menit. atau ada batuk tapi non produktif. Pemeriksaan dengan mikroskop fluoresens sangat jarang dilakukan karena pewarnaan yang dipakai (auramin) dicurigai bersifat karsinogenik.PEMERIKSAAN LABORATORIUM Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk diagnosa pasti. Pemeriksaan ini menunjukkan tuberkulosis masih aktif atau tidak.000 kuman dalam imi sputum. Pemeriksaan ini mudah dam murah sehingga dapat dikerjakan di lapangan (puskesmas). Pemeriksaan ini kurang mendapat perhatian karena angka positif dan negatif palsunya masih tinggi. Dengan kata lain diperlukan 5.

Medium yang dipakai : ATS. jaringan kelenjar. bahan-bahan selain dari sputum juga dapat diambil dari bilasan bronkus. pieura. Banyak sedikitnya reaksi persenyawaan antibodi selular dan antigen tuberkulin amat dipengaruhi oleh antibodi humoral. Untuk pemeriksaan BTA sediaan mikroskopis biasa dan sediaan biakan. biakan dikatakan negatif.1 cc tuberkulin 5 T. sekarang ini tidak dibutuhkan. cairan lambung. Ini terjadi pada fenomena dead bacili atau non culturable bacili yang disebabkan keampuhan obat antituberkulosis jangka pendek yang cepat mematikan kuman dalam waktu yang lebih pendek. Setelah 48-72 jam tuberkulindisuntikkan. Kadang dari hasil pemeriksaan mikroskop kuman BTA positif sedang pada biakan hasilnya negatif. jaringan paru. tinja. dll. urin. . Alasan alternatif dilakukan tes tuberkulin adalah untuk wanita hamil dengan resiko tinggi. makin kecil indurasi yang ditimbulkan. Sisa dari tes ini dapat positif seumur hidup pada 96-97% pasien. TES TUBERKULIN Walaupun pada rekomendasi yang lalu tes tuberkulin dilakukan pada semua wanita hamil.8%). dan lebih baik digunakan PPD (Purifled Protein Derivative) berkekuatan 5 TU (intermediate stength) yakni dengan menyuntikan 0. Dari hasil biakan biasanya dilakukan juga pemeriksaan terhadap resistensi obat dari identifikasi kuman.penanaman koloni tidak tampak. akan timbul reaksi berupa indurasi kemerahan yang terdiri dari infiltrat limfosit yakni reaksi persenyawaan antara antibodi selular dan antigen tuberkulin. Biasanya hampir seluruh penderita tuberkulosis memberikan hasil mantoux yang positif (99.U intrakutan. cairan pleura. Lowenstein Jensen. cairan serebrospinal. pada ibu hamil makin besar pengaruh antibodi humoral.

kemiskinan. PEMERIKSAAN RADIOLOGIS Pemeriksaan radiologis dada tidak dilakukan secara rutin pada kehamilan karena sangat beresiko terhadap janin. Rumah sakit jiwa. 7) Orang-orang yang tinggal lama di tempat-tempat/fasilitas perawatan. Walaupun pemeriksaan ini jarang memberikan hasil positif palsu dan insidens terjadinya false negatif tidak lebih dari 2 %. pemeriksaan radiologis dada dilakukan pada penderita yang tes tuberkulinnya positif menyusul setelah tes awal negatif dan pada penderita dengan riwayat dan pemeriksaan fisik yang mengarah ke tuberkulosis walaupun tes tuberkulin awal negatif. ras yang mempunyai resiko tinggi. 3) Petugas medis 4) Orang asing yang berasal dari tempat yang tinggi prevalensi tuberkulosisnya. Menurut Amerika Thoracic Sosiety diagnosis pasti tuberkulosis paru adalah dengan menemukan kuman Mycobacterium tuberculosis dalam sputum atau jaringan paru secara biakan. orang spanyol dan orang Amerika.Kelemahan tes ini juga terdapat positif palsu yakni pada pemberian BCG atau terinfeksi Myobacterium lain. Tapi dalam prakteknya tidaklah selalu mudah menegakkan diagnosisnya. 5) Kesehatan lingkungan yang buruk. . Kelompok risiko tinggi yang direkomendasikan untuk skrining tuberkulosis oleh komite penasehat untuk eliminasi tuberkulosis : 1) Orang yang terinfeksi dengan HIV 2) Kontak langsung ataupun tersangka menderita tuberkulosis. Dari uraian-uraian sebelumnya tuberkulosis cukup mudah dikenal mulai dari keluhan klinis. 6) Alkoholik dan pemakai obat-obatan. gejala dan tanda kelainan klinis. termasuk kulit hitam. rumah-rumah perawatan dan fasilitas lainnya. kelainan radiologis sampai dengan kelainan bakteriologi. Dengan pelindung/peresai perut. tinggal serumah ataupun dalan ruang tahanan.

Demam biasanya subfebril menyerupai influenza. status radiologis dan status pengobatannya. Sifat batuk mula-mula kering dan setelah timbul peradangan menjadi produktif. Sesak nafas : pada penyakit yang ringan belum dirasakan sesak. Begitulah demam inflenza yang hilang timbul ini dipengaruhi oleh daya tahan tubuh. Nyeri dada timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. yang disebabkan karena iritasi pada bronkus. serangan demam pertama dapat sembuh kembali. d. c. .Di Indonesia agak sulit menerapkan diagnosis diatas karena fasilitas labaratorium yang sangat terbatas untuk pemeriksaan biakan. Kesalahan diagnosis dengan cara ini cukup banyak sehingga memberikan efek terhadap pengobatan yang sebenarnya tidak perlu. Batuk ini diperlukan untuk membuang produk-produk radang keluar. tapi kadang dapat mencapai 40-41º C. pada keadaan lanjut dapat perdarah (hemoptoe) karena pecahnya pembuluh darah. GEJALA DAN TANDA Keluhan yang dirasakan penderita bermacam-macam atau tanpa keluhan. b. Diagnosis tuberkulosis masih banyak ditegakkan berdasar kelainan klinis dan radiologis saja. keluhan yang terbanyak adalah : Demam Batuk Sesak nafas Nyeri dada Malaise a. status bakteriologis. Nyeri dada : agak jarang ditemukan. berat-ringan infeksi dan jumlah kuman yang masuk. Oleh sebab itu dalam diagnosis tuberkulosis paru sebaiknya dicantumkan status klinis. Sesak ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut dimana infiltrasinya sudah setengah bagian paru-paru. Hanya 30-70% saja dari seluruh kasus tuberkulosis paru yang dapat didiagnosis secara bakteriologis. Batuk : gejala ini banyak ditemukan.

tidak ada nafsu makan. ronki basah kasar nyaring. meriang. Pada pemeriksaan fisis sering tidak ditemukan kelinan terutama kasuskasus dini. Bliah ada kavitas yang cukup besar maka perkusi memberikan suara hipersonor dan auskultasi suara amforik. sarang penyakit terletak didalam. Sebelum tahun 1940. sakit kepala. kehamilan dianggap sesuatu yang mengganggu penyembuhan tuberkulosis paru. Pengaruh tuberkulosis pada persalinan 4. keringat malam. jika diikuti dengan penbalan pleura maka suara nafas vesikuler akan melemah. jika setelah terjadi konsepsi maka dilakukan aborsi. Sejak saat itu. badan semakin kurus (berat badan turun). PERJALANAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PADA KEHAMILAN 1. Pengaruh tuberkulosis pada bayi PENGARUH KEHAMILAN PADA TUBERKULOSIS PARU tidak selalu mudah untuk mengenal ibu hamil dengan tuberkulosis paru. banyak dokumentasi yang menyatakan bahwa riwayat tuberkulosis tidak berubah dengan adanya kehamilan . apalagi bila penderita tidak menunjukkan gejala-gejala yang khas seperti badan kurus. karena hantaran getaran/suara yang lebih dari 4 cm kedalam paru sulit dinilai secara palpasi. batuk menahan. perkusi dan auskultasi.e. Pengaruh kehamilan pada tuberkulosis 2. akan sulit menemukan kelainan. Tempat kelainan yang paling dicurigai adalah bagian apeks paru. Wanita dengan tuberkulosis paru dianjurkan untuk tidak hamil atau. dll. Malaise : penyakit tuberkulosis bersifat radang menahun. bila dicurigai adanya infiltrat yang agak luas maka didapatkan perkusi yang redup dan auskultasi suara nafas yang bronkial. Tuberkulosis aktif tidak membaik atau memburuk dengan adanya kehamilan. atau hemoptoe. gejala malaise yang sering ditemukan berupa : anoreksia. Pengaruh tuberkulosis pada kehamilan 3. Tetapi kehamilan bisa meningkatkan resiko tuberkulosis inaktif menjadi terutama periode post partum. Gejala malaise ini makin lama makin berat dan terjadi hilang timbul secara tidak teratur. nyeri otot.

Bukti. Angka reaktifasi tuberkulosis paru kira-kira 5-10% tidak ada perbedaan antara mereka yang hamil maupun tidak hamil. . aborsi therapeutik jarang dilakukan. kalaupun itu dilakukan atas indikasi komplikasi kehamilan karena tuberkulosis paru. Sekarang. apakah mereka hamil atau tidak hamil.5 tahun pertama. penyakit itu akan meningkat secara progresif antara 15-30 % pada penderita yang tidak mengobati penyakitnya selama 2.pada penderita yang yang diobati. Demikian halnya dengan reaktifasi tuberkulosis paru yang inaktif juga tidak mengalami peningkatan selama kehamilan.

PENGARUH TUBERKULOSIS PADA KEHAMILAN .

infeksi tuberkulosis pada sistem genital dan gejala tidak tampak. Tidak seperti tuberkulosis paru. Infeksi dapat menyebar ke bagian proksimal dari tuba fallopi dan akhirnya uterus juga terkena. dan luasnya kelainan pada paru.Pengaruh tuberkulosis aktif pada kehamilan tidak jelas (vallejo and Starke. setelah bertahun-tahun baru terlihat kelainan dari tuba fallopi yang mencolok . dengan bagian distal yang terkena lebih dahulu. dan meningkatkan kematian perinatal enam kali lipat. Jika infeksi tuberkulosis diobati dengan baik seharusnya tidak berpengaruh terhadap kehamilan begitu juga sebaiknya kehamilan tidak akan berpengaruh terhadap penyakit tersebut. Bayi dari wanita yang menderita tuberkulosis mempunyai berat badan lahir rendah. Tidak ada bukti bahwa tuberkulosis paru meningkatkan angka abortus spontan. pengaruh utama tuberkulosis pada kehamilan adalah mencegah terjadinya konsepsi. Sistem genitalia dapat terjadi fokus primer dari tuberkulosis paru. 1992) kecuali pada negara berkembang. bjerkedai dkk mencatat terjadinya kenaikan taksikemia dan pendarahan pervaginam pada wanita hamil yang menderita tuberkulosis. sesuai dengan luasnya pengalaman yang jarang. Jana dkk (1994) baru-baru ibi melaporkan tubekulosis paru aktif menyebabkan komplikasi dari 79 kehamilan di India. Tetapi. persalinan dan kelahiran prematur pada penderita yang mendapatkan pengobatan obat anti tuberkulosis yang adekuat. Infeksi jarang turun sampai ke serviks atau bagian bawah dari sistem genitalia. Pada awal tahun 1957 sampai 1972. mereka juga melaporkan perbandingan angka kejadian aboetus pada wanita hamil yang menderita tuberkulosis dan yang sehat adalah dibanding 2. Tentunya dengan adanya obat anti tuberkulosis mengurangi pengaruh buruk dari beratnya penyakit. maka banyak diantara penderita tuberkulosis yang mengalami infertilitas. Schaefer dkk (1975) melaporkan dari ibu yang menderita tuberkulosis aktif diobati lahir bayi yang sehat. kelainan kongenintal. kecil masa kehamilan. dua kali lipat meningkatkan persalinan prematur. biasanya sistem genital yang sering terkena dalah tuba fallopi.3 20.1 /100 pasien /100 pasien. Mungkin ini dianggap berhubungan dengan terlambatnya diagnosis pengobatan yang tidak lengkap dan teratur.

PENGARUH TUBERKULOSIS PADA BAYI Bakteriemia selama kehamilan dapat menyebabkan infeksi plasenta. Pada setengah kasus infeksi didapatkan penyebaran hematogen pada hati atau paru melalui vena yang umbilikalism setengah kasus lagi infeksi pada bayi disebabkan aspirasi sekret vagina yang terinfeksi selama proses persalinan. Kombinasi isoniazid (10-20mg/kg/hr). Walaupun beberapa wanita yang menderita tuberkulosis subur dan terjadi konsepsi tetapi implantasi sering terjadi pada tuba fallopi daripada di uterus. kejadian ini jarang tetapi fatal.dan terjadi perlengketan dengan alat dalam rongga panggul. sehingga janinpun dapat terinfeksi.1988). Hanya 29 kasus tuberkulosis kengenital yang dilaporkan literatur Inggris sejaktahun 1980. . Infeksi neonatal tidak mungkin terjadi jika ibunya yang menderita tuberkulosis aktif telah berobat minimal 2 minggu sebelum bersalin. Diagonis tuberkulosis pelvis dibuat dengan dilatasi dan kuretase rongga endometrium yang dilakukan segera pada periode premenstruasi. Karena bayi yang baru lahir lebih mudah terkena tuberkulosis. Jika tidak resiko pada bayi baru lahir dari ibu yang menderita tuberkulosis aktif menderita tuberkulosis 50% pada tahun pertama (Jacobs dan Albemathy. Beberapa rekomendasi menyarankan untuk memisahkan bayi baru lahir dari ibunya yang diduga menderita tuberkulosis aktif. Jaringan tersebut dikirim dan dilakukan pemeriksaan histologi. PENGARUH TUBERKULOSIS DALAM PERSALINAN Setengah dari jumlah kasus yang dilaporkan selama proses persalinan terjadi infeksi pada bayi yang disebabkan karena teraspirasu sekret vagina yang terinfeksi kuman tuberkulosis. Atau kultur sputum mereka negaive. tidak berobat. kalaupun ada. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan histologi pada plasenta. Jika tidak ditemukan maka pada neoantus yang beresiko tinggi dilakukan pemeriksaan pulasan dan kultur dari aspirasi lambung. tuberkulosis milliar. Jika ternyata ditemukan tuberkei pada plasenta maka dilakukan pemeriksaan pada neonatus tersebut. Kalau kuman positif pada pemeriksaan histologi maka bayi tersebut harus diobati dengan baik dimana dapat dimodifikasi atau dihentikan sesuai dengan hasil kultur.

kg/hr) dapat digunakan. PENGOBATAN 1) Pengobatan tuberkulosis dalam kehamilan dibagi 2 yaitu : I. Penangan abstetri 2) Penanganan tuberkulosis dalam persalinan 3) Penanganan tuberkulosis dalam masa nifas 4) Penanganan bayi baru lahir yang sehat dari ibu yang menderita tuberkulosis aktif 5) Cara pemberian ASI pada wanita dengan tuberkulosis.ethambutol (15mg/kg/hr) dan rifampin (15mg. Tindakan ini dimaksudkan agar walaupun nanti mendapat infeksi alami. Lama pemberian sedikitnya 1 tahun. Diagnosis tuberkulosis kongenintal sangat sukar. Malahan beberapa sarjana berpendapat bahwa walaupun kontak demikian telah mendapat vaksin BCG. Tetapi hanya sedikit efek famakologis dan toksikologis yang diketahui dari obat anti Tuberkulosis ini. Ada 11 obat antituberkulosis yang terdapat di . maka profilaksis primer tidak ada salahnya diberikan. tes tuberkulin hampir selalu negatif. dengan dosis 10mg/kgbb/hari. yang dimaksud kemoproflaksis primer adalah pemberian INH pada anak yang nyata kontak dengan penderita tuberkulosis dengan uji tuberkulin masih negatif. pada penderita yang sakit berat dan anergy tes tuberkulin tidak pernah positif. PENGOBATAN TUBERKULOSIS KEHAMILAN PENGOBATAN MEDIS Pengobatan tuberkulosis aktif pada kehamilan hanya berbeda sedikit dengan penderita yang tidak hamil. ini dapat diberikan dengan atau tanpa vaksinasi BCG. Tidak diketahui apakah kemoproflaksis dengan isoniazid bermanfaat untuk bayi. ii. Evaluasi pengobatan Kegagalan pengobatan II. Pengobatan medis i. Tes tuberkulin bisa negatif sampai umur 4-6 minggu. anak dapat terhindar dari terhindar dari komplikasi yang berat. tetapi isolaso tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Kemoprofilaksis ini dapat primer atau sekunder.

ethambutol. Karena banyak terjadi resistensi pada pemakaian obat tunggal maka the Centers for Disease Control sekarang merekomendasikan cara pengobatan dengan menggunakan kombinasi 4 obat untuk penderita yang tidak hamil dengan gejala tuberkulosis. rifampin aman untuk kehamilan jika diberikan dalam dosis yang tepat dan efek terotogenik terhadap janan manusia tidak dapat dibuktikan.Amerika Serikat. Sayangnya. pyrazinamide. Walaupun beberapa penelitian tidak menunjukkan efek teratogenik dari isoniazid pada wanita post partum. cycloserine. beberapa janin. obat tersebut adalah isoniazid rifampin. Beberapa rekomendasi menunda pengobatan ini sampai 3-6 bulan post partum. ethambutol. ethionamide. jikaterjadi penyembuhannya akan memakan waktu yang sangat lama. Obat sekunder adalah obat yang digunakan dalam kasus resisten obat atau intolerensi terhadap obat. 1 Menurut Sniders dkk melaporkan bahwa INH. Alternatif lain dengan menunda pengobatan sampai 12 minggu pada penderita asimtomatik. dan capreomycin. dan streptomycin. Ini termasuk isoniazid. The Centres for disease Control (1993) merekomendasikan resep pengobatan aral untuk wanita hamil sebagai berikut : 1. kanamycin. Untungnya beberapa obat tuberkulosatik utama tidak tampak pengaruh buruknya terhadap. rifampin dan pyrazinamde atau streptomycin diberikan sampai tes resistensi dilakukan. Pengobatan ini mungkin dapat ditunda dan mulai diberikan pada post partum. dan tidak lebih 300 mg per hari bersama pyidoxine 50mg per hari 2. Isoniazid termasuk kategori obat C dan ini perlu dipertimbangkan keamanannya selama kehamilan. Tes resistensi obat dilakukan pada seluruh isolasi pertama. Pengobatan jangka selama setahun dengan isoniazid diberikan kepada mereka yang tes tuberkulin positif gambaran radiologi atau gejala tidak menunjukkan gejala aktif. tidak lebih 600 mg sehari . Kecuali streptomycin yang dapat menyebabkan ketulian kongenintal maka sama sekali tidak boleh dipakai selama kehamilan dapat dibuktikan. Rifambutol 10 mg/kghr. viomycin. empat diantaranya dipertimbangkan menjadi obat primer karena keefektivitasnnya dan toleransinya pada penderita. yang termasuk adalah p-aminasalicylic acid. Isoniazid 5 mg/kg.

dapat diterima penderita) dan merupakan pengobatan yang aman selama kehamilan. disebabkan oleh isoniazid. Lama pemberian paduan obat saat ini 6 bulan merupakan standar yang dipakai untuk pengobatan tuberkulosis paru maupun tuberkulosis diluar pada orang dewasa atau pada anak-anak. Pada tuberkulosis sktif dapat diberikan pengobatan dengan kopmbinasi 2 obat.12 Selain itu Pyrazinamide 50 mg/hr harus diberikan untuk mencegah neuritis periter yang . pengobatan dilanjutkan sekurang-kurangnya 17 bulan untuk mencegah relaps. Ethambutol 5-25 mg/kg/hari. pyazinamide. dengan pyrazinamide. biasanya digunakan isoniazid 5 mg/kg/hr (tidak lebih 300 mg/hari) dan ethambutal 15mg/kg/hr. Pengobatan ini diberikan minimun 9 bulan. murah. viomisin.3. rifampin dan pirazinamid dilanjutkan dengan penggunaan isoniazid dan rifampin pada 4 bulan berikutnya. tetapi streptomycin sebaiknya tidak digunakan karena beresiko otooksik.5 gr sehari (biasanya 25mg/kg/hr selama 6 minggu kemudian diturunkan 15mg/kg/hr). Pengobatan ini tidaqk direkomendasikan jika diketahui penderita telah resisten terhadap isoniazid. dan tidak lebih dari 2. Jika resisten terhadap obat ini. pengobatan awal selama 2 bulan pertama menggunakan paduan obat isoniazid. Jika dibutuhkan pengobatan dengan 3 obat atau lebih dapat ditambah dengan rifampin. capreomisin. Terapi dengan isoniazid mempunyai banyak keuntungan (manjur. rujukan yang dipakai adalah : 2 HRZ/4HR. Dari hasil penelitian menunjukkan ada obat-obat lain yang dapat digunakan selama kehamilan adalah : kanamisin. cycloserine. Keadaan ini disebabkan oleh karena : 1. Pada pengobatan kasus baru dipertimbangkan pemberian obat yang bersifat bakterisid. dapat dipertimbangkan pengobatan. sterilisator dan dapat mencegah terjadinya resistensi. dan thiosemicatbazone. Penggunaan isoniazid disini untuk mengurangi daya infelitilitas dari penderita. total pemberian obat selama 6 bulan dan obat diberikan tiap hari.

selain itu kadang dapat terjadi kejang. Biasanya penderita dikontrol setiap minggu selama 2 minggu.S : hepatotoksis dan gangguan saluran cerna . Streptomycin : nefrotoksik. mencegah kegagalan pengobatan yang disebabkan oleh terjadinya resistensi primer. isoniazid adalah  Hepatotoksik maka tes fungsi hati seharusnya dilakukan dan diulang secara periodik. gangguan n VIII kranial 5. dapat menyembuhkan sebagian penderita dengan strain kuman yang mempunyai resistensi awal terhadap isoniazid dan streptomycin 3. batuk darah hilang. dapat menyembuhkan dengan cepat. hiperuresemia 4. nafsu makan bertambah. nefrotoksik. Biasanya setelah 2-3 minggu pengobatan. BAKTERIOLOGIS. P. enselopati taksik yang paling jarang terjadi Gangguan saluran pencernaan. sputum BTA mulai jadi negatif. Adapun efek samping dari tiap-tiap obat tersebut ialah : 1. selanjutnya setiap 2 minggu selama sebulan sampai akhir pengobatan.A. teratogenik 7. 2.    2. skin rash/dermatitis 6. Pemeriksaan kontrol sputum BTA dilakukan sekali .1. neuritis optik. Secara klinis hendaknya terdapat perbaikan dari keluhan-keluhan penderita seperti : batuk-batuk berkurang. gangguan saluran cerna.EVALUASI PENGOBATAN 1. stupor. dan ataksia. hepatotoksik 3. Pyazinamide : nepatotoksik. terlihat perbaikan setelah 2-3 bulan pengobatan 2. KLINIS. Etionamid : hepatotoksik. Rifampin : Sindrom flu. Reaksi hipersentitif. Ethambutol : neuritis optika. Neurotoksik yang sering adalah neuropoti perifer yang dapat dicegah dengan pemberian vitamin B6.

dimana sputum BTA positif dan tanpa keluhan yang relevant pada kasus-kasus yang memperoleh kesembuhan.alkoholisme.sebulan. bakteriologis dan radiologis tetap tidak ada perbaikan padahal penderita sudah diobati dengan dosis adekuat serta teratur. yakni BTA positif pada 3 kali pemeriksaan biakan (3 bulan). Obat :  Paduan obat tidak adekuat  Dosis obat tidak cukup  Minum obat tidak teratur/tidak sesuai dengan petunjuk yang diberikan  Jangka waktu pengobatan kurang dari semestinya  Terjadinya resistensi obat 2. Drop-out :  Kekurangan biaya pengobatan  Merasa sudah sembuh  Malas beribat/kurang motivasi 3. dll . sputum BTA tetap diperiksa sedikitnya sampai 3 kali berturut-turut bebas kuman. Penyakit :  Lesi paru yang sakit terlalu luas/sakit berat  Penyakit lain yang menyertai tuberkulosis seperti DM. Bila bakteriologis ada perbaikan tetapi klinis dan radiologis. harus dicurigai adanya penyakit lain disamping tuberkulosis paru. Bila sudah negatif. berarti penderita mulai kambuh lagi tuberkulosisnya. perlu dipikirkan adanya gangguan imunologis pada penderita tersebut. Bila klinis. KEGAGALAN PENGOBATAN PADA KEHAMILAN Sebab-sebab kegagalan pengobatan pada kehamilan : 1. Bila ini terjadi. Sewaktu-waktu mungkin terjadi silent bacterial shedding.

dukungan keluarga. pemeriksaan kehamilan yang baik. Kegagalan pengobatan pada kehamilan ini dapat mencapai 50% pada pengobatan jangka panjang. termasuk istirahat yang cukup. mengobati anemia. Terhadap penderita yang sudah berobat secara teratur :  Menilai kembali apakah paduan obat sudah adekuat mengenai dosis dan cara pemberiannya Lakukan tes resistensi kuman terhadap obat Bila sudah dicoba dengan obat tetapi gagal maka pertimbang akan pengobatan dengan pembedahan terutama pada penderita dengan kavitas   B.   PENANGANAN OBSTETRI Pemeriksaan antenatai care yang teratur. Penatalaksanaan obstetrik yang optimal . Adanya gangguan imunologis pada kehamilan Penyebab kegagalan pengobatan pada kehamilan yang terbanyak adalah karena kekurangan biaya pengobatan atau merasa sudah sembuh. karena sebagian besar penderita tuberkulosis adalah golongan yang tidak mampu sedangkan pengobatan tuberkulosis memerlukan waktu yang lama dan biaya yang banyak. ganti dengan paduan obat yang masih sensitif. Untuk mencegah kegagalan pengobatan pada kehamilan ini perlu kerjsama yang baik dari dokter dan paramedis lainnya serta motivasi pengobatan tuberkulosis tersebut terhadap penderita Penanggulangan terhadap kasus-kasus yang gagal pada kehamilan adalah : A. Terhadap penderita dengan riwayat pengobatan yang tidak teratur :  Teruskan pengobatan selama lebih 3 bulan dengan evaluasi bakteriologis tiap-tiap bulan Nilai kembali tes resistensi kuman terhadap obat Bila ternyata terdapat resistensi terhadap obat. makan makanan yang bergizi.

kala 1 dan II diusahakan seringan mungkin. bayi mempunyai resiko infeksi melalui pemaparan dengan pamatasan dari ibunya yang mempunyai penyakit aktif. Untuk perlindungan terhadap bayi yang tidak menunjukkan gejala dan tanda penyakit aktif. Bila ada anemia sebaiknya diberikan tranfusi darah. Kala II diperpendek dengan ekstraksi vakum/forceps  Bila ada indikasi obstetrik untuk seksio sesarea. Usahakan mencegah terjadinya infeksi tambahan dengan memberikan antibiotika yang cukup. ibu hamil diberi obat-obat penenang dan analgetika dosis rendah. Pada kala I. hal ini dilakukan bekerja sama dengan ahli anastesi untuk memperoleh anastesi mana yang terbaik PENANGANAN TUBERKULOSIS DALAM MASA NIFAS  Usahakan jangan terjadi perdarahan banyak : diberi uterotonika dan koagulasia. berikan baik isoniazid maupun vaksinasi BCG. PENANGANAN DALAM PERSALINAN  Bila proses tenang. persalinan akan berjalan seperti biasa dan tidak perlu tindakan apa-apa  Bila proses aktif. kelahiran dan periode pasca persalinan. Walaupun infeksi trans-plasentai jarang. agar daya tahan ibu kuat terhadap infeksi sekunder Ibu dianjurkan segera memakai kontrasepsi atau bila jumlah anak sudah cukup. Berikan isolaso yang memadai selama persalinan.didasarkan pada pertimbangan matemal atau janin. segera dilakukan tubektomi    PENANGANAN BAYI BARU LAHIR YANG SEHAT DARI IBU YANG MENDERITA TUBERKULOSIS . Plasenta harus diukur dan bayi diperiksa untuk mengetahui adanya tuberkulosis.

bovon yang telah dikembangkan 50 tahun yang lalu. jika vaksinasi. Dosis yang idanjurkan 10mg/kg/hr untuk sekurang-kurangnya 1 tahun. Sejak sebanyak 50% bayi baru lahir dari ibu yang menderita tuberkulosis aktif menderita tuberkulosis pada tahun pertamanya. Jika sewaktu-waktu tes tuberkulin ini positif. tapi mungkin sangat aman untuk penggunaan jangka panjang. Bayi dari ibu dengan tuberkulosis reaktif tanpa gambaran klinik dan radiologis yang jelas seharusnya tidak diberikan pengobatan profilaksis. maka kemoprofilaksis dengan isoniazid 1 tahun dan vaksinasi BCG harus segera dilakukan sebelum menyerahkan bayi kepada ibunya. Sayangnya bayi dengan resiko tinggi terhadap tuberkulosis mempunyai orang tua dengan sosial ekonomi lemah dan sering tidak melanjutkan pengobatan. ibu dapat dipercaya dapat mengobati diri sendiri dan bayinya yang baru lahir waktu yang lama.1 ml intrakutan pada regio deltoid. Pada bayi ini harus dilakukan tes tuberkulin setiap 3 bulan selama 1 tahun dan tiap tahun setelah itu. Semua bayi baru lahir dari ibu yang menderita tuberkulosis aktif atau reaktif harus divaksinasi pada hari pertama kelahiran dengan dosis 0. berlekuk dengan jaringan parut putih seumur hidup. Pendapat ini masih diperdebatkan tetapi keputusan akhir dilakukan dengan pertimbangan lingkungan sosial ibu. Walaupun efek jangka panjang obat ini pada neonatus dan bayi tidak diketahui. bayi dipulangkan ke ibunya jika INH profilaksis telah diberikan sampai tes . Setelah 6 bulan papul merah tadi dapat mengecil. profilaksis INH harus dimulai (15mg/kg/hr) dan diteruskan selama 1 tahun.Bayi baru lahir yang sehat dan ibu yang menderita tuberkulosis harus dipisahkan dengan segera setelah lahir sampai pemeriksaan bakteriologi ibu negatif dan bayi sudah mempunyai daya tahan tubuh yang cukup. Efek sampingnya dapat membesar dan terjadi ulkus. alternatif profilaksis yang terbaik adalah dengan isoniazid yang tidak dapat dipungkiri. jika keluarga mampu vaksinasi BCG juga diberikan. Kemoprofilaksis dengan BCG ini menyingkirkan penggunaan isoniazid dalam jangka waktu pemakaian yang lama. Vaksin BCG termasuk golongan kuman hidup yang dilemahkan dari M. Untuk mengurangi waktu pemisahan ibu yang menderita tuberkulosis aktif dengan banyinya dapat diberikan INH dan BCG segera setelah bayi lahir.

masa nifas dan janin. Prognosis pada wanita hamil sama dengan prognasis wanita yang tidak hamil. jUmlah ini tidak cukup untuk menimbulkan gejala dan tidak cukup untuk pengobatan tuberkulosis. Dua syarat menggunakan cara pengobatan ini adalah kuman tuberkulosis ibu sensitive terhadap INH dan penderita dapat dipercaya bisa dan mampu memberikan obat tersebut pada ibunya.tuberkulin positif. Wanita yang menderita tuberkulosis dapat menyusui bayinya dengan menggunakan masker sehingga dapat mencegah terjadinya penularan pada bayi. Sniders dan Powell melaporkan bahwa bayi yang meminum ASI tersebut mendapat tidak lebih dari 20% INH dan kurang dari 11 % dari obat tuberkulosis lain. Oleh karena itu resiko keracunan terhadap obat ini dipercayai rendah. secara umum tuberkulosis tidak memberikan pengaruh yang buruk terhadap kehamilan. PROGNOSIS Pada wanita hamil dengan tuberkulosis aktif yang diobati secara adekuat. penambahan obat anti tuberkulosis dari ASI mungkin dapat menambah toksistas ASI sebaiknya tidak diberikan dalam kasus ini. . Tapi jika bayi mendapat pengobatan tuberkulsosis. CARA PEMBERIAN ASI PADA WANITA DENGAN TUBERKULOSIS Pemberian ASI dari ibu yang meminum obat tubekulosis selama kehamilan dan tetap diteruskan setelah persalinan tidak berbahaya bagi bayi. abortus therapeutik sekarang tidak dilakukan lagi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful