You are on page 1of 6

Appendicitis Infiltrat

Appendicular infiltrat adalah Appendicular infiltrat adalah infiltrat/massa yang terbentuk akibat mikro atau makro perforasi dari Appendix yang meradang yang kemudian ditutupi oleh omentum, usus halus atau usus besar. Umumnya massa Appendix terbentuk pada hari ke-4 sejak peradangan mulai apabila tidak terjadi peritonitis umum. Massa Appendix lebih sering dijumpai pada pasien berumur lima tahun atau lebih karena daya tahan tubuh telah berkembang dengan baik dan omentum telah cukup panjang dan tebal untuk membungkus proses radang.16

2.7.3.1. Patofisiologi Bila semua proses patofisiologi Appendicitis berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak kearah Appendix hingga timbul suatu massa lokal yang disebut Appendicularis infiltrat. Peradangan Appendix tersebut dapat menjadi abses atau menghilang.17 Appendicularis infiltrat merupakan tahap patologi Appendicitis yang dimulai dimukosa dan melibatkan seluruh lapisan dinding Appendix dalam waktu 24-48 jam pertama, ini merupakan usaha pertahanan tubuh dengan membatasi proses radang dengan menutup Appendix dengan omentum, usus halus, atau Adnexa sehingga terbentuk massa periappendikular. Didalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi. Jika tidak terbentuk abscess, Appendicitis akan sembuh dan massa periappendikular akan menjadi tenang untuk selanjutnya akan mengurai diri secara lambat. 17 Pada anak-anak, karena omentum lebih pendek dan Appendix lebih panjang, dinding Appendix lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah.17 Kecepatan terjadinya peristiwa tersebut tergantung pada virulensi mikroorganisme, daya tahan tubuh, fibrosis pada dinding Appendix, omentum, usus yang lain, peritoneum parietale dan juga organ lain seperti Vesika urinaria, uterus tuba, mencoba membatasi dan melokalisir proses peradangan ini. Bila proses melokalisir ini belum selesai dan sudah terjadi perforasi maka akan timbul peritonitis. Walaupun proses melokalisir sudah selesai tetapi masih belum cukup kuat menahan tahanan atau tegangan dalam cavum abdominalis, oleh karena itu penderita harus benar-benar istirahat (bedrest). 19

Perlengketan ini dapat menimbulkan keluhan berulang diperut kanan bawah. mual dan muntah. Bila suhu lebih tinggi. malaise.3. mungkin sudah terjadi perforasi. Appendicitis infiltrat atau adanya Appendicular abscess terlihat dengan adanya penonjolan di perut kanan bawah. Bisa terdapat perbedaan suhu axillar dan rektal sampai 1C. Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri di perut kanan bawah yang disebut tanda Rovsing.Appendix yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna. Pada Appendicitis retrosekal atau retroileal diperlukan palpasi dalam untuk menentukan adanya rasa nyeri.17 .7.5C. bisa disertai nyeri lepas. Biasanya juga terdapat konstipasi tetapi kadang-kadang terjadi diare. Dalam 2-12 jam nyeri beralih ke kuadran kanan.18 Pada palpasi didapatkan nyeri yang terbatas pada regio iliaka kanan. Manifestasi Klinis Appendisitis infiltrat didahului oleh keluhan appendisitis akut yang kemudian disertai adanya massa periapendikular. dan demam yang tidak terlalu tinggi. tetapi akan membentuk jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitarnya. Kembung sering terlihat pada penderita dengan komplikasi perforasi.2. Defence muscular menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietale. Jika Appendix intrapelvinal maka massa dapat diraba pada RT(Rectal Toucher) sebagai massa yang hangat. dengan suhu sekitar 37. Gejala klasik Appendicitis akut biasanya bermula dari nyeri di daerah umbilikus atau periumbilikus yang berhubungan dengan muntah. Pada suatu ketika organ ini dapat meradang akut lagi dan dinyatakan mengalami eksaserbasi akut. Terdapat juga keluhan anoreksia. 18 Jika sudah terbentuk abscess yaitu bila ada omentum atau usus lain yang dengan cepat membendung daerah Appendix maka selain ada nyeri pada fossa iliaka kanan selama 3-4 hari (waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan abscess) juga pada palpasi akan teraba massa yang fixed dengan nyeri tekan dan tepi atas massa dapat diraba.17 2. Pada permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang menetap.5-38.3. Nyeri tekan perut kanan bawah ini merupakan kunci diagnosis.7. Pada inspeksi perut tidak ditemukan gambaran spesifik. Pemeriksaan Fisik Demam biasanya ringan. yang akan menetap dan diperberat bila berjalan atau batuk. 18 2. Namun dalam beberapa jam nyeri abdomen kanan bawah akan semakin progresif.3.

amuboma dan Lymphoma maligna intra abdomen. Massa Appendix dengan proses radang yang telah mereda dengan ditandai dengan: 1. yang diikuti dengan adanya massa yang nyeri di region iliaka kanan dan disertai demam. leukositosis sedang. keadaan umum pasien masih terlihat sakit. suhu tubuh tidak tinggi lagi. Adnexitis dan Kista Ovarium terpuntir . enteritis tuberkulosa. penyakit Crohn. anemia dan turunnya berat badan. keadaan umum telah membaik dengan tidak terlihat sakit.18 Tumor Caecum.3. Perlu juga disingkirkan kemungkinan aktinomikosis intestinal. Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator merupakan pemeriksaan yang lebih ditujukan untuk mengetahui letak Appendix. kadang-kadang teraba massa. Hal ini perlu dipastikan dengan colon in loop dan benzidin test. Diagnosis Riwayat klasik Appendicitis akut. biasanya terdapat nyeri tekan dan rigiditas pada kuadran lateral bawah kanan. dengan atau tanpa muntah dan waktu serangan dapat timbul panas badan. biasanya terjadi pada orang tua dengan tanda keadaan umum jelek. Pemeriksaan colok dubur menyebabkan nyeri bila daerah infeksi bisa dicapai dengan jari telunjuk.Peristaltik usus sering normal.7. Kunci diagnosis biasanya terletak pada anamnesis yang khas. maka kunci diagnosis adalah nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur. klinisnya antara lain keluhan nyeri yang tidak begitu hebat disebelah kanan perut. 18 Pada Appendicitis pelvika tanda perut sering meragukan. laboratorium masih terdapat lekositosis dan pada hitung jenis terdapat pergeseran ke kiri. Pada Appendicitis tuberkulosa. mengarahkan diagnosis ke massa atau abscess Appendikuler. 3. 2. dan kelainan ginekolog seperti Kehamilan Ektopik Terganggu (KET). Pada anak-anak tumor Caecum yang sering adalah sarcoma dari kelenjar mesenterium.17 Massa Appendix dengan proses radang yang masih aktif ditandai dengan: 1. suhu tubuh masih tinggi. .18 2. Colok dubur pada anak tidak dianjurkan. peristaltik dapat hilang karena ileus paralitik pada peritonitis generalisata akibat Appendicitis perforata. misalnya pada Appendicitis pelvika.4. Penegakan diagnosis didukung dengan pemeriksaan fisik maupun penunjang. pemeriksaan lokal pada abdomen kuadran kanan bawah masih jelas terdapat tanda-tanda peritonitis. Kadang keadaan ini sulit dibedakan dengan karsinoma Caecum.

Pasien dewasa dengan massa periappendikular yang terpancang dengan pendindingan sempurna. Bila terjadi perforasi. massa tadi menjadi terisi nanah. Hal ini ditandai dengan kenaikan suhu dan frekuensi nadi. dari dalam massa perlekatan ringan yang longgar dan sangat berbahaya. dan . ukuran massa. tidak terdapat tanda-tanda peritonitis dan hanya teraba massa dengan batas jelas dengan nyeri tekan ringan 3. Bila sudah tidak ada demam. dan leukosit normal. massa yang terbentuk tersusun atas campuran bangunan-bangunan ini dan jaringan granulasi dan biasanya dapat segera dirasakan secara klinis. bertambahnya nyeri. semula dalam jumlah sedikit. akan terbentuk abscess Appendix. Jika peradangan pada Appendix tidak dapat mengatasi rintangan-rintangan sehingga penderita terus mengalami peritonitis umum. Masalah ini adalah bilamana penderita ditemui lewat sekitar 48 jam.3. Penatalaksanaan Perjalanan patologis penyakit dimulai pada saat Appendix menjadi dilindungi oleh omentum dan gulungan usus halus didekatnya.7. 17 Tatalaksana Appendicular infiltrat pada anak-anak sampai sekarang masih kontroversial.2. ahli bedah akan mengoperasi untuk membuang Appendix yang mungkin gangrene.17 Massa Appendix terjadi bila terjadi Appendicitis gangrenosa atau mikroperforasi ditutupi atau dibungkus oleh omentum dan atau lekuk usus halus. serta luasnya peritonitis. penderita boleh pulang dan Appendectomy elektif dapat dikerjakan 2-3 bulan kemudian agar perdarahan akibat perlengketan dapat ditekan sekecil mungkin.16 2. dianjurkan untuk dirawat dahulu dan diberi antibiotik sambil diawasi suhu tubuh. massa periapendikular hilang. kebanyakan adalah konservatif yaitu dengan observasi ketat dan antibiotik. Pada massa periappendikular yang pendindingannya belum sempurna. pemeriksaan lokal abdomen tenang. serta bertambahnya angka leukosit. 17 Urutan patologis ini merupakan masalah bagi ahli bedah. dapat terjadi penyebaran pus keseluruh rongga peritoneum jika perforasi diikuti peritonitis purulenta generalisata. tetapi segera menjadi abscess yang jelas batasnya. laboratorium hitung lekosit dan hitung jenis normal. dipersiapkan untuk operasi dalam waktu 2-3 hari saja. Pada anak. Mula-mula. dan teraba pembengkakan massa. sehingga membuat operasi berbahaya maka harus menunggu pembentukan abscess yang dapat mudah didrainase.5. dengan cairan intravena. Dari hasil penelitian kasus terapi Appendicular infiltrat pada anak-anak. dan karena massa ini telah menjadi lebih terfiksasi.

perawatan di rumah sakit antara 7-15 hari. Sebelumnya pasien diberikan antibiotik kombinasi yang aktif terhadap kuman aerob dan anaerob. . Pemasangan infus dan pemberian kristaloid untuk pasien dengan gejala klinis dehidrasi atau septikemia. penurunan panas badan pasien menjadi afebril pada 4-7 hari setelah PLD. Sehingga terapi non-operatif pada appendicular infiltrat yang diikuti dengan Appendectomy elektif merupakan metode yang aman dan efektif. PLD ini tidak terbukti terdapat komplikasi selama intra maupun post operasi.pemasangan NGT bila diperlukan. sedangkan bila dilanjutkan dengan LA. dan pemeriksaan fisik dan laboratorium tidak menunjukkan tanda radang atau abses. antibiotik intravena dapat dilepas 4-5 hari setelahnya.6. Jika ternyata tidak ditemukan keluhan atau gejala apapun. Dari hasil penelitian komplikasi setelah operasi dengan penanganan konservatif terlebih dahulu lebih sedikit bila dibandingkan dengan terapi pembedahan segera seperti cedera pada ileum (Ileal injury). makanan oral dapat diberikan 2-3 hari setelah PLD. Baru setelah keadaan tenang.20 Akhir-akhir ini terdapat manajement terapi yang terbaru yaitu dengan PLD (Primary Laparoscopic Drainage) yang dapat diikuti dengan LA (Laparoscopic Appendectomy). lalu direncanakan untuk dilakukan Appendectomy elektif setelah 4-6 minggu kemudian untuk mencegah kemungkinan risiko rekurensi dan perforasi yang lebih luas. abses intrabdominal. appendectomy direncanakan pada Appendicular infiltrat tanpa pus yang telah ditenangkan.20 Bila sudah terjadi abscess.20 2. dianjurkan untuk drainase saja dan Appendectomy dikerjakan setelah 6-8 minggu kemudian.8 PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan pasien Appendicitis acuta yaitu 1.3. Pada penderita dewasa. Terapi tersebut sama dengan pada orang dewasa yaitu dengan konservatif terlebih dahulu yang diikuti dengan appendectomy elektif. dapat dipertimbangkan membatalkan tindakan bedah. dianjurkan untuk operasi secepatnya. infeksi karena luka saat operasi. Konservatif berlangsung selama ± 6 hari di rumah sakit. yaitu sekitar 6-8 minggu kemudian dilakukan Appendectomy. jika secara konservatif tidak membaik atau berkembang menjadi abscess. komplikasi yang dapat terjadi adalah adhesi obstruksi usus.7) 1. PLD ini rata-rata memakan waktu operasi sekitar 80-100 menit.20 Pada anak-anak.2. Hal ini dikarenakan untuk mencegah komplikasi post operasi dan risiko dari prosedur pembedahan yang besar (extensive).

Puasakan pasien. antibiotika profilaksis harus diberikan sebelum operasi dimulai pada kasus akut. Bila dilakukan pembedahan. Pemberian antibiotika i. 5. digunakan single dose dipilih antibiotika yang bisa melawan bakteri anaerob. 4. Pemberian obat-obatan analgetika harus dengan konsultasi ahli bedah. Pertimbangkan kemungkinan kehamilan ektopik pada wanita usia subur dan didapatkan beta-hCG positif secara kualitatif.2.v. jangan berikan apapun per oral 3. terapi pada pembedahan meliputi. . pada pasien yang menjalani laparotomi.