You are on page 1of 4

BEBERAPA HAL PENTING BERKAITAN DENGAN PROGRAM KONSERVASI RUSA PT.

VALLE INDONESIA DI BAHODOPI MOROWALI


STRATEGI PROGRAM Komponen Utama : 1. Peningkatan Partisipasi dan Kapasitas Lokal 2. Pngembangan Ekonomi Masyarakat 3. Pengembangan Kelembagaan Konsep implementasi strategi : 1. Peningkatan Partisipasi dan Kapasitas Lokal Partisipasi dan kapasitas lokal dalam pengelolaan kawasan konservasi merupakan salah satu komponen utama yang penting dikembangkan agar tercapai efektifitas dan efisiensi pengelolaan. Komponen ini dapat sekaligus memperkuat hubungan kemitraan dan kohesifitas perusahaan dan masyarakat. Komponen ini diimplementasikan dalam 2 (dua) pendekatan dan metodologi program yaitu, (1) Penelitian dan Perencanaan Partisipatif, dan (2) Pelatihan dan Pendidikan Konservasi. 1.1. Penelitian dan Perencanaan Partisipatif Penelitian dan perencanaan adalah pendekatan dan proses awal dalam implementasi program. Penelitian dan perencanaan pengelolaan kawasan konservasi dilakukan secara partisipatif agar masyarakat local, termasuk pemerintah lokal (daerah) sejak awal sudah terlibat dan dan menjadi bagian dari proses pengelolaan kawasan. Penelitian partisipatif merupakan proses penilaian kebutuhan bagi pengelolaan dan pengembangan kawasan konservasi yang meliputi aspek social, ekonomi, budayan, dan biologi. Data dan informasi yang diperoleh dari assessment partisipatif ini akan menjadi muatan dan masukan bagi proses dan tahapan perencanaan kawasan konservasi. Dalam proses ini, data dan informasi yang tergali dapat diperkuat dengan community mapping guna meletakkannya dalam perspektif ruang kelola masyarakat sebagai bagian dari kerangka tata ruang yang disinergikan dengan RDTR Kawasan Konservasi.

Berkaitan dengan aspek penelitian untuk informasi perencanaan dan pengembagan kawasan konservasi, maka kegiatan yang dapat dilakukan adalah : a. Participatory Need assessment ; Assessment Biologi Assessment Sosial, Ekonomi dan Budaya b. Participatory Action Plan untuk pengelolaan konsevasi; Community Mapping Workshop (melibatkan pemerintah lokal masyarakat)

dan

1.2. Peningkatan kapasitas lokal dan penyadaran masyarakat. Kapasitas dan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan kawasan perlu ditingkatkan guna efektifitas perlindungan flora dan satwa yang terdapat pada kawasan konservasi. Kepentingan aspek ini sangat berkait erat dengan upaya untuk menghindari konflik pemanfaatan antara kepentingan konservasi yang digagas oleh perusahaan dengan ruang kelola masyarakat yang mungkin secara tradisional telah berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan aspek ini antara lain adalah : a. Penyuluhan dan Pelatihan Konservasi b. Publikasi dan disseminasi informasi 2. Pengembangan Ekonomi Masyarakat Penngembangan ekonomi masyarakat merupakan salah satu strategi penting dalam kaitannya dengan upaya pengelolaan kawasan konservasi yang direncanakan. Pengembangan ekonomi ini mencakup upaya pengembangan/perluasan/diversifikasi sumber pendapatan masyarakat. Hal ini dapat dilakukan peciptaan ruang dan akses masyarakat untuk mengembangkan usaha yang berkaitan dengan produk-produk yang menjadi kebutuhan masyarakat baik yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat pertambangan (karyawan perusahaan) maupun kebutuhan masyarakat luas. Disampig itu, pengelolaan kawasan konservasi dalam jangka panjang dapat pula menjadi peluang pengembangan ekonomi yang diharapkan manfaatnya dapat pula dirasakan oleh masyarakat sekitar kawasan. Informasi yang sangat berkait erat dengan strategi pengembangan ekonomi masyarakat ini dapat pula diperoleh melalui assessment partisipatif yang dilakukan pada awal pengembangan program.

Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam kaitan dengan aspek ini adalah : a. b. c. d. Diversifikasi usaha masyarakat (usaha alternatif) Optimalisasi usaha ekonomi masyarakat Input teknologi produksi Pengembangan sistem pemasaran bersama (system kelembagaan dan pasar)

3. Pengembangan Kelembagaan Pengembangan kelembagaan berkaitan erat dengan upaya untuk mengefektifkan pengembangan dan pengelolaan kawasan konservasi. Kelembagaan secara substansial mencakup aspek-aspek mekanisme pengelolaan, aturan-aturan pengelolaan, dan bila diperlukan juga berkaitan dengan sanksi atas pelanggaran kesepakatan dalam pengelolaan, serta organisasi pengelolaan kawasan. Aspek kelembagaan ini menjadi sangat penting ketika masyarakat tetap meyakini kawasan yang akan dikelola merupakan bagian dari ruang kelola mereka, serta keberadaan pemerintah daerah sebagai pengelola wilayah yang dimana terdapat kawasan konservasi. Oleh karena itu maka, bila memungkinkan disarankan untuk menggunakan pendekatan pengelolaan bersama, dimana masingmasing pihak akan melakukan hal-hal yang relevan dengan perannya masing-masing, yang dapat disepakati pada proses perencanaan pengelolaan kawasan. Berkaitan dengan pengembangan kelembagaan, beberapa hal penting yang perlu dilakukan adalah : a. Sistem Pengelolaan Kawasan Konservasi Sisitem pengelolaan bersama Sistem pemantauan bersama (Participatory Sistem) b. Pengembangan Partnership/Kemitraan Demikian secara ringkas strategi yang dapat dikembangkan dalam pengembangan dan pengelolaan kawasan konservasi Rusa PT. Vale Indonesia di Bahodopi, Morowali. Pemantapan strategi masih perlu dilakukan untuk mempertegas bangunan proses yang harus dilakukan agar upaya pengembangan dan pengelolaan kawasan konservasi tersebut dapat berjalan dengan baik.

Monitoring

Palu, Maret 2013

Tim Perencanaan Kawasan Konservasi Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Tadulako