You are on page 1of 12

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Asma merupakan penyakit yang sering ditemukan pada semua usia. Asma adalah suatu keadaan dimana saluran nafas mengalami penyampitan peradangan dan penyempitan yang bersifat sementara. Ini terjadi karena saluran nafas tersebut sangat sensitif terhadap faktor khusus (pemicu) yang menyebabkan jalan udara menyempit hingga aliran udara berkurang dan mengakibatkan sesak nafas dan nafas berbunyi (wheezing). Terapi farmakologis merupakan terapi yang menggunakan obat. Tahap-tahap dalam terapi farmakologis asma ada dua, yaitu Quick-relief medicines dan Long-term medicines. Cara kerja quick-relief medicines yaitu merelaksasi otot-otot di saluran pernafasan, memudahkan pasien untuk bernafas, memberikan kelegaan bernafas, digunakan saat terjadi serangan asma. Cara kerja long-term medicines yaitu mengobati inflamasi pada saluran pernafasan, mengurangi udem dan mukus berlebih, memberikan kontrol untuk jangka waktu lama, membantu mencegah timbulnya serangan asma. Berdasarkan mekanisme kerjanya obat asma dibedakan menjadi golongan bronkodilator, golongan kortikosteroid, dan obat-obat lain. Ada tiga jenis bronkodilator, yaiu simpatomimetika (β2 agonist), metilxantin, dan antikolinergik. Berdasarkan hal tersebut, makalah ini dibuat untuk membahas secara jelas tentang jenis-jenis golongan obat bronkodilator dan hal – hal yang terkait dalam proses penggunaannya seperti penggunaan dosis, dan mekanisme kerja dari obat tersebut.

1.2 TUJUAN
1.2.1 1.2.2 1.2.3 Mengetahui penjelasan mengenai kelenjar tiroid Mengetahui anatomi dan fisiologi kelenjar tiroid Mengetahui kelainan fungsi kelenjar tiroid

1.3 RUMUSAN MASALAH
1.3.1 1.3.2 1.3.3 Apa itu kelenjar tiroid? Bagaimana anatomi dan fisiologi kelenjar tiroid? Bagaimana kelainan fungsi kelenjar tiroid?

1

Terbutalin. bronchiolitis. Contoh obat golongan Simpatomimetika (β2 agonist) adalah Sanbutamol.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Prokaterol. Sistem saraf simpatis memegang peranan penting dalam menentukan ukuran diameter bronkus. Adrenergic menstimulasi reseptor β2 (pada kelenjar dan otot halus bronkus) sehingga terjadi bronkodilatasi. Obat-obat agonis adrenoseptor selektif β2 merupakan simpatomimetik yang paling banyak digunakan dalam pengobatan 2 . isoprotenerol disebut adrenergic. Klenbuterol(Spiroipent).1. Ujung saraf simpatis yang menghasilkan norepinepherine. 2007). Agonis adrenoseptor paling baik diberikan melalui inhalasi karena cara ini menghasilkan efek local yang paling hebat pada otot polos saluran napas dan mempunyai toksisitas sistemik yang terkecil. ephinepherine. dan Formoterol (Tan Hoan Tjay. Salmeterol. Fenoterol. 2. Obat-obat Bronkodilator diresepkan untuk mendilatasi jalan napas karena preparat ini melawan baik edema mukosa maupun spasme muscular dan membantu baik dalam merngurangi obstruksi jalan napas maupun dalam memperbaiki pertukaran gas (Suzanne. Obat-obat bronkodilator adalah obat pelepasan kejang dan bronkodilatasi yang dapat dicapai dengan cara merangsang system adenergis dengan adenergika atau melalui penghambatan system kolinergis dengan antikolinergika (Tan Hoan Tjay.1 GOLONGAN OBAT BRONKODILATOR Obat –obat Bronkodilator merupakan obat-obat yang digunakan untuk mengatasi kesulitan bernafas yang disebabkan oleh asma. Ada tiga jenis obat bronkodilator. 2007).1 Simpatomimetika (β2 agonist) Obat simpatomimetika merupakan obat yang memiliki aksi serupa dengan aktivitas saraf simpatis. metilxantin. 2001). Adrenergic memiliki dua reseptor α dan β (β1 dan β2). dan antikolinergik. yaiu simpatomimetika (β2 agonist). pneumonia dan emfisema. bronchitis.

Contoh lain obat-obat antikolonergik seperti tiotropium dan deptropin (Katzung. Arti penting teofilin sebagai agen terapetik pada terapi asma telah memudar.2 Metilxantin Metilxantin bronkorelaksasinya adalah salah satu golongan bronkodilator reseptor yang daya diperkirakan berdasarkan blockade adenosine penggunaanya secara terus menerus pada terapi pemeliharaan efektif mengurangi frekuensi serangan. Contoh obat golongan metilxantin adalah Teofilin. karena telah ditemukannya obat yang lebih efektif yakni agen adrenoseptor inhalasi untuk asma akut dan agen antiinflamasi inhalasi untuk asma kronik. 2010). Kombinasinya dengan efedrin (asma solon) tidak meningkatkan efek bronkodilatasi. Ipratropium dapat diberikan dalam dosis besar melalui jalur ini karena tidak dabsorbsi dengan baik kedalam sirkulasi dan tidak cepat memasuki susunan saraf pusat. 2. Atropin.3 Antikolinergik Obat antikolinergik merupakan obat yang bekerja sebagai alternative jika reseptor β2 dari system adrenergis terhambat. salah satu obat antikolinergik yang merupakan prototype antagonis kolinergik yang menyebabkna bronkodilatasi bila diberikan intravena dalam dosis yang lebih redah dari yang diperlukan untuk meningkatkan frekuensi denyut jantung. dan Kafein.2010).asma. Sebagai bronkodilator antikolinergik merupakan suatu inhibiyor kompetitif asetilkolin yang kuat pada reseptor muskarinik pasca ganglion. Preparat teofilin yang sering digunakan untuk pengobatan adalah aminofilin. Pada keadaan akut(injeksi aminofilin dapat dikombinasi dengan obat asma lainnya tetapi kombinasi dengan β2-mimetika hendaknya digunakan dengan khati-hati karena kedua jenis obat saling memperkuat efek obat terhadap jantung. suatu kompleks teofilinetilendiamin.1. Agonis adrenoseptor selektif β2 efektif setelah dihirup atau diberikan secara oral dan memiliki masa kerja yang lama (Katzung. sedangkan efeknya terhadap jantung sangat diperkuat. Obat-obat antikolinergik merupakan brokodilator yang efektif. 3 .1. 2. Selektivitas efek atropine dapat lebih ditingkatkan melalui pemberian obat secara inhalasi atau melalui penggunaan derivate ammonium kuartener atropine yang lebih selektif yakni ipratropium bromida. Teobromin.

seperti perangsangan fungsi jantung. 2010).2. Serangan asma ringan sampai sedang umumnya memberikan respon secara cepat terhadap pemberian aerosol seperti salbutamol dan terbutalin. 4 . bambuterol hidroklorida. diperlukan kortikosteroid oral jangka pendek agar asmanya terkontrol.1 Mekanisme kerja obat Simpatomimetika (β2 agonist) Mekanisme kerja obat simpatomimetika adalah melalui stimulus reseptor β2 pada bronkus menyebabkan aktivasi adenilsiklase. Inhibisi PDE4 dalam sel-sel inflamasi menurunkan pelepasan sitokin dan kemokin dari sel-sel tersebut. karena berbagai uji klinik penggunaannya secara rutin tidak memberikan manfaat klinis (Katzung. konsentrasi tinggi berbagai metilxantin dapat menghambat family enzim fosfodiesterase.2. Obat simpatomimetika (β2 agonist) seperti salbutamol dan terbutalin merupakan obat β2 agonist yang paling aman dan paling efektif untuk asma. PDE4 tampaknya merupakan isoform fosfodiesterase yang paling berperan langsung dalam kerja metilxantin pada otot polos saluran pernafasan dan pada sel-sel inflamasi. dan pada beberapa jaringan. fenoterol hidrobromida) dan long-acting (formeterol fumarat. terbutalin sulfat. relaksasi otot polos. Untuk serangan asma yang lebih berat. dan inflamasi sel-sel tertentu. salmeterol). Obat simpatomimetika (β2 agonist) short-acting tidak boleh diresepkan secara rutin untuk pasien dengan asma ringan atau sedang. yang pada gilirannya menyebabkan penurunan migrasi dan aktivasi sel imun (Katzung. Salmeterol dan formeterol kerjanya lebih panjang (long acting). konsentrasi cAMP. intrasel yang lebih tinggi. Meningkatnya kadar cAMP dalam sel menghasilkan efek bronkodilatasi. Karena fosfodieterase menghidrolisis siklik nukleotida. diberikan secara inhalasi 2xsehari.2010).2.2 MEKANISME KERJA OBAT –OBAT BRONKODILATOR 2. Enzim ini mengubah ATP (Adenosintrifosfat) menjadi cAMP (cyclic-adenosine-monophosphat) dengan pembebasan energi yang digunakan untuk proses dalam sel. 2. penghambatan ini menghasilkan konsentrasi cGMP. cAMP bertanggung jawab untuk berbagai fungsi sel. Dari berbagai isoform fosfodiesterase yang berhasil dikenali.2 Mekanisme kerja obat Metilxantin Secara invitro.Obat simpatomimetika (β2 agonist) mempunyai dua aksi yaitu short-acting (salbutamol. Salmeterol dan formeterol mampu memberikan manfaat klinis untuk penggunan rutin tetapi tidak dapat dipakai untuk serangan asma akut. penurunan aktivitas imun.

2.2. Antikolinergik diperlukan dalam konsentrasi yang tinggi untuk dapat menghambat respon otot polos saluran napas terhadap rangsangan non muskarinik. Dalam dosis yang diberikan obat-obat antikolinergik hanya menghambat bagian respon yang diperantarai oleh reseptor-reseptor muskarinik yang bervariasi sesuai stimulus dan lebih lanjut ternyata bervariasi diantara individu-individu dalam memberikan respon terhadap stimulus yang sama (Katzung. 2010).3 Mekanisme kerja obat Antikolinergik Antikolinergik menghambat efek asetilkolin pada reseptor-reseptor muskarinik secara kompetitif dalam saluran nafas asetilkolin dibebaskan dari ujungujung eferen saraf fagus dan antagonis kolinergik ini secara efektif dapat memblokade peningkatan sekresi mucus yang terjadi sebagai respon terhadap aktivitas fagus. 5 .

3 PENGGUNAAN OBAT-OBAT BRONKODILATOR 2.3. dan angio edema.1 Golongan Simpatomimetika (β2 agonist) Berikut ini adalah obat-obat pilihan bronkodilator jenis simpatomimetika (β2 agonist) untuk terpi asma : 1. Lasal®. 2-6th: 1-2mg 3-4xsehari. Sedikit rasa sakit pada tempat injeksi intramuskular 6 . Bromosal®. Butasal® · Indikasi = Asma dan kondisi lain yang berkaitan dengan obstruksi saluran nafas yang reversibel · Kontra indikasi = Hipertiroidisme. Ventab®. Dosis. Ventolin®. Dan Aturan Pakai Peroral (Tablet. lazimnya antara 3-20mcg/menit. urtkaria.2. Dosis tunggal max 8mg. vasodilatasi perifer. Venterol®. aritmia. atau bila perlu Inhalasi aerosol = 100-200mcg (1-2 hisapan). hipertensi · Bentuk sediaan. <2th: 100mcg/kg 4xsehari. Nama Obat Salbutamol · Generik = salbutamol · Dagang = Bromosal®. reaksi hipersensitif termasuk bronkospasma paradoks. takikardi (jarang pada pemberian aerosol). untuk gejala persisten 3-4 kali sehari. kapsul. anak 100mcg (1 hisapan) dapat dinaikkan menjadi 200mcg bila perlu · Efek Samping Tremor halus terutama tangan. Volmax®. kaptab) = 4 mg 3-4xsehari (usia lanjut dan pasien yang sensitif dosis awal 2 mg). ketegangan saraf. hipokalemia sesudah dosis tinggi. Injeksi subkutan = 500mcg diulang tiap 4 jam bila perlu Injeksi intravena lambat = 250mcg diulang bila perlu Infus intravena = 5mcg/menit lalu disesuaikan dengan respon dan denyut jantung. sakit kepala. 6-12tth: 2mg 3-4xsehari. insufisiensi miokard.

pasien usia lanjut. 2. urtkaria. lalu dinaikkan 5mg 2xsehari Anak: 75mcg/kg 3xsehari.· Resiko Khusus Wanita hamil dan menyusui. hipokalemia sesudah dosis tinggi. kaptab) = 2. Sobutal® · Indikasi = Asma dan kondisi lain yang berkaitan dengan obstruksi saluran nafas yang reversibel · Kontra indikasi = Hipertiroidisme. aritmia.5mg 2-3xsehari Injeksi subkutan. pemberian intravena pada pasien diabetes. sakit kepala. 1. hipertensi · Bentuk sediaan. Bintasma®. pasien usia lanjut. Sedikit rasa sakit pada tempat injeksi intramuskular · Resiko khusus Wanita hamil dan menyusui. untuk gejala persisten sampai 3-4xsehari · Efek samping Tremor halus terutama tangan. pemberian intravena pada pasien diabetes 7 . Dan Aturan Pakai Peroral (Tablet. 7-15th: 2. Bricasma Durules®. reaksi hipersensitif termasuk bronkospasma paradoks. ketegangan saraf.5-5mcg/menit selama 8-10jam Inhalasi aerosol = Dewasa dan anak: 250-500mcg (1-2 hisapan). Brasmatic®. Nama Obat Terbutalin Sulfat · Generik = · Dagang = Bricasma®. takikardi (jarang pada pemberian aerosol). intravena lambat = 250-500mcg sampai 4xsehari . vasodilatasi perifer. insufisiensi miokard. Dosis.5 mg 3xsehari selama 1-2 minggu. dan angio edema. 2-15th: 10mcg/kg sampai max 300mcg Infus intravena = Dalam larutan yang mengandung 3-5mcg/ml.

Nama Obat Salmeterol · Generik = · Dagang = Serevent Inhaler®. Sedikit rasa sakit pada tempat injeksi intramuskular · Resiko khusus Wanita hamil dan menyusui. Nama Obat Formoterol Fumarat · Generik = · Dagang = Foradil® · Indikasi = Sama seperti salmeterol 8 . insufisiensi miokard. urtkaria. Serevent Rotadisk® · Indikasi = Obstruksi saluran nafas reversibel (termasuk asma noktural dan asma karena latihan fisik) pada pasien yang memerlukan terapi bronkodilator jangka lama yang seharusnya juga menjalani pengobatan antiinflamasi inhalasi (kortikosteroid) atau kortikosteroid oral (catatan : salmeterol tidak bisa untuk mengatasi serangan akut dengan cepat. vasodilatasi perifer. < 4th tidak dianjurkan > 4th 50 mcg (2 hisapan) 2xsehari · Efek samping Tremor halus terutama tangan. pemberian intravena pada pasien diabetes 4. takikardi (jarang pada pemberian aerosol). dan pengobatan pengobatan kortikosteroid yang sedang berjalan tidak boleh dikurangi dosisnya atau dihentikan) · Kontra indikasi = Hipertiroidisme. hipertensi · Bentuk sediaan. sakit kepala.3. hipokalemia sesudah dosis tinggi. dan angio edema. Dan Aturan Pakai Inhalasi = 50 mcg (2 hisapan) 2xsehari. reaksi hipersensitif termasuk bronkospasma paradoks. hingga 100mcg (4 hisapan) 2xsehari pada obstruksi yang lebih berat. aritmia. Dosis. ketegangan saraf. pasien usia lanjut.

1. vasodilatasi perifer. insomnia. Dan Aturan Pakai Tablet = Dosis awal: sehari 2x1 tablet (pagi dan sore). dan gangguan pengecapan · Resiko khusus Wanita hamil dan menyusui. reaksi hipersensitif termasuk bronkospasma paradoks. mual.3. Amicain · Indikasi = Meredakan dan mengatasi obstruksi saluran napas yang berhubungan dengan asma bronchial dan penyakit paru kronik lain seperti emfisema dan bronkus kronik. · Efek samping Mual. Aminofilin · Generik = Aminophyllinum · Dagang = Phyllocontin. · Efek samping Tremor halus terutama tangan. Dan Aturan Pakai Inhalasi Serbuk = Dewasa : > 18th 12mcg 2xsehari. diare. takikardi. Tidak dianjurkan untuk anak di bawah 18th. Dosis. 9 . urtkaria. hipertensi · Bentuk sediaan.hiperglikemia. takikardi (jarang pada pemberian aerosol). hipokalemia sesudah dosis tinggi.· Kontra indikasi = Hipertiroidisme. pasien usia lanjut. muntah. insufisiensi miokard. pemberian intravena pada pasien diabetes 2. aritmia ventrikuler. Sedikit rasa sakit pada tempat injeksi intramuskular. · Kontra indikasi = Hipersensitivitas terhadap derivate xantin · Bentuk sediaan. iritasi orofaring.2 Golongan Metilxantin Preparat teofilin yang sering digunakan untuk pengobatan adalah aminofilin. sakit kepala. dosis dapat ditingkatkan sehari 2x2 tablet. aritmia. palpitasi. dan angio edema. Dosis. ketegangan saraf. takipnea. iritasi konjungtiva atau udem pelupuk mata. ruam kulit. dapat dinaikkan menjadi 24mcg 2xsehari pada obstruksi jalan nfas yang lebih berat.

anak <12 tahun. takiaritmia. · Bentuk sediaan.3 Golongan Antikolinergik Contoh obat antikolinergik yang sering digunakan sebagai bronchodilator : 1. tidak digunakan selama triwulan pertama kehamilan. Dosis. Ipratropium Bromida · Generik = Ipratropium Br · Dagang = Atrovent. Dan Aturan Pakai Inhalasi = Dosis 3-4 dd(dua kali sehari) 2 semprotan dari 20 mcg (bromida). atau obstruksi leher kandung kemih.· Resiko khusus = 2. 10 . mual. · Efek samping Jarang terjadi dan biasanya berupa mulut kering. · Resiko khusus Pasien dengan predisposisi glaucoma sudut sempit. Berodual · Indikasi = berdaya mengurangi hipersekresi di bronchi dan efektif pada pasien yang mengeluarkan banyak dahak. terutama pada bronchitis kronis · Kontra indikasi = Kardiomiopati obstruktif hipertrofi. hipertrofi prostat.3. nyeri kepala. Fibrosis kitik. dan pusing. Sangat efektif sebagai obat pencegah dan pemeliharaan.

dan Formoterol Fumarat. bronchitis. metilxantin. bronchiolitis. Pilihan bronkodilator jenis simpatomimetika (β2 agonist) untuk terapi asma adalah Salbutamol.BAB III PENUTUP 3. maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa: 1.Ada tiga jenis obat bronkodilator.2 SARAN Sebaiknya dalam penggunaan obat-obat Bronkodilator harus memperhatikan dosis pemakaian karena dapat memberikan efek samping yang berbahaya. golongan antikolinergik yaitu: Ipratropium : Atrovent 3. Metilxantin dapat menghambat family enzim fosfodiesterase sedangkanAntikolinergik menghambat efek asetilkolin pada reseptor-reseptor muskarinik secara kompetitif dalam saluran nafas asetilkolin dibebaskan dari ujung-ujung eferen saraf fagus dan antagonis kolinergik ini secara efektif dapat memblokade peningkatan sekresi mucus yang terjadi sebagai respon terhadap aktivitas fagus. Terbutalin Sulfat. pneumonia dan emfisema. yaiu simpatomimetika (β2 agonist). Mekanisme kerja obat simpatomimetika adalah melalui stimulus reseptor β2 pada bronkus menyebabkan aktivasi adenilsiklase. dan antikolinergik. golongan metilxantin yaitu teofilin dan aminofilin. 2. 3. Obat –obat Bronkodilator merupakan obat-obat yang digunakan untuk mengatasi kesulitan bernafas yang disebabkan oleh asma.1 KESIMPULAN Berdasarkan pejelasan yang telah diuraikan didepan mengenai bronkodilator. 11 . Salmeterol.

. 2010. Katzung.ISFI Penerbitan. Jakarta. dan Rahardja. Kirana. 2011. Jakarta. Jakarta. Suzanne C dan Bare. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi. EGC. 2010. Penggunaan. Bertram G. Edisi VI. Tan Hoan. PT. 2007.DAFTAR PUSTAKA BPOM RI. Dan Efek-Efek Sampingnya. Jakarta. Farmakologi Dasar dan Klinik. Arlina dan Evaria. Jakarta. Cetakan I. 2001. PT BIP. Smeltzer. Buku Ajar Keperawatan MedikalBedah. Obat-Obat Penting: Khasiat. Pramudianto. Brenda G. 12 . Informasi Spesialite Obat Indonesia. Tjay. EGC. Elex Media Komputindo.