You are on page 1of 22

Distribusi Strontium 90 (Sr 90) dan Radium 226 (Ra 226) di Perairan Selatan Jawa

Usulan Penelitian untuk Menyusun Skripsi Sarjana S1
Oleh: SIGIT KURNIAWAN JATI K2E 009 037

PROGRAM STUDI OSEANOGRAFI JURUSAN ILMU KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2012

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Penelitian

: Distribusi Strontium 90 (Sr 90) dan Radium 226 (Ra 226) di Perairan Selatan Jawa

Nama Mahasiswa NIM Jurusan/Program Studi

: Sigit Kurniawan Jati Wicaksana : K2E 009 037 : Ilmu Kelautan/Oseanografi

Mengesahkan: Pembimbing I Pembimbing II

Ir. Muslim, MSc PhD NIP. 196004041987031002

Dr. Heny Suseno, S.Si. M.Si NIP. 196506251989022 002

Pembimbing Lapangan

Ikhsan Budi Wahyonno, ST. Msi NIP.19740621199903100

ii

Selama enam puluh tahun terakhir.1. Kondisi geografis ini dapat berpotensi sebagai reservoir cemaran bawaan dari negara-negara lain baik secara tidak langsung melalui gerakan massa air yang sangat besar dari samudra Pasifik ke samudra Hindia yang melewati perairan Indonesia ataupun secara langsung dengan membuang bahan cemaran dari perairan Indonesia sendiri. Hal tersebut juga mendasari akan adanya cemaran yang berada di perairan Indonesia.I. PENDAHULUAN 1. Perairan di Indonesia masih menjadi salah satu sumber untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. Strontium-90 dikenal sebagai jenis radionuklida yang berbahaya. yaitu samudera Hindia dan samudera Pasifik. Dengan adanya cemaran zat radioaktif di perairan dapat menimbulkan efek yang merugikan baik terhadap lingkungan maupun kesehatan manusia akibat turunnya tingkat kualitas air laut. Unsur ini saat masuk ke 1 . Sumber primer dari kontaminasi ini adalah Global fallout dari lebih 520 tes senjata nuklir asmoferik antara tahun 1945 dan 1980 yang sebagian besar dilakukan oleh Amerika Serikat dan pendiri USSR (Gafvert et al. 2003 dalam Friedlander et al. aktivitas manusia menghasilkan berbagai macam kontaminasi baik di laut dan di darat dengan radionuklida antropogenik. Strontium-90 dan radium-226 dipilih sebagai variabel penelitian karena kedua unsur tersebut memiliki waktu paruh yang panjang dan bersifat berbahaya bagi manusia. 2005). karena secara kimia komponen ini menyerupai kalsium. Latar Belakang Indonesia adalah negara yang terletak diantara dua samudera.

2009). Membuat daerah ini menjadi aktivitas perikanan yang cukup pesat masyarakat pesisir selatan Jawa. dan menentukan potensial sumber lepasan. maka akan mempengaruhi kesehatan. Parameter seperti angin dan arus mempengaruhi penyebaran cemaran di perairan pantai ke arah laut lepas maupun sebaliknya. terlarut bahkan dapat tertimbun dalam jaringan organisme hidup.2 dalam tubuh biota akan menggantikan unsur kalsium itu sendiri. . membandingkan dengan perubahan parameter lainnya seperti suhu maupun salinitas. Sedangkan radium-226 adalah unsur radionuklida yang beracun (Ishikawa. 2004 dalam Muslim. atau sumber alam sendiri. Di mana banyak aktivitas yang dapat menimbulkan yang memicu terjadinya sumber radionuklida antropogenik seperti limbah PLTU. 2008). Dengan potensi di perairan Selatan Jawa yang memiliki potensi sumber daya laut demersal yang besar (Zarochman. Dan apabila unsur-unsur tersebut masuk dalam organisme laut dan dikonsumsi oleh manusia. Maupun parameter seperti salinitas dan suhu yang mungkin mempengaruhi tingkat radiasi radionuklida itu sendiri. Antara lain arus laut. Perairan selatan Jawa sendiri dipilih sebagai daerah kajian penelitian karena pulau Jawa merupakan pulau dengan aktivitas terpadat di Indonesia. tingkat radiasi radionuklida dipengaruhi oleh beberapa parameter. Pendekatan dan Perumusan Masalah Di suatu perairan. Dalam penyebarannya di suatu perairan. Radionuklida dipengaruhi berbagi macam faktor. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat radiasi radionuklida di lingkungan perairan. 1. Radionuklida yang dibuang ke alam akan tersebar.2.

Selain itu hasilnya diharapkan dapat juga digunakan sebagai masukan bagi kebijaksanaan dan pemantauan lingkungan di Indonesia. Dalam proses tersebut juga memungkinkan terbawanya unsur radionuklida menuju perairan selatan Jawa. 3. 2. 90 Sr . Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Arah penyebaran cenderung mengikuti arah arus yang terjadi. 1. terutama terkait dalam permasalahan pencemaran radionuklida. Mengetahui pengaruh salinitas dan suhu terhadap tingkat radiasi (Strontium 90) dan 226Ra (Radium 226) di perairan Selatan Jawa. 1. Mengetahui tingkat radiasi 90Sr (Strontium 90) dan 226Ra (Radium 226) di perairan Selatan Jawa. Yang merupakan arus yang berasal dari Samudra Pasifik menuju Samudra Hindia melalui perairan Indonesia. salah satunya adalah ARLINDO.3 gelombang atau pengadukan air laut (mixing). Menganalisa sebaran Radionuklida 90 Sr (Strontium 90) dan 226 Ra (Radium 226) di perairan Selatan Jawa.3.4. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi dan gambaran mengenai kondisi di perairan Selatan Jawa radionuklida.

4 1. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi pengambilan sampel dilakukan di sepanjang perairan selatan Jawa. .5. Waktu pengambilan sampel air direncanakan dilakukan pada April 2013. Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) yang akan dilakukan pada bulan berikutnya. Sedangkan untuk analisa kimia guna mengukur tingkat radiasi dilakukan di Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) . Menggunakan kapal Baruna dengan titik lokasi yang disesuaikan dengan kondisi.

angin akan bertiup ke arah barat laut yang menyebabkan massa air dengan salinitas rendah dari Laut Cina Selatan dan Laut jawa bergerak ke tenggara masuk ke jalur Arlindo. Angin musim ini bertiup dengan sangat baik. Sedangkan arus-arus di kedalaman lebih banyak dipengaruhi oleh pasang surut dan sifat-sifat fisik lainnya seperti perbedaan temperatur. Laut Banda dan masuk ke Samudera Hindia. Hal ini akan menyebabkan terjadinya suatu arus pada perairan yang sering disebut juga arus monsoon sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa pada permukaan Laut Indonesia lebih cenderung mendapat masukkan air dari samudera Pasifik (Nontji. walaupun kekuatannya tidak terlalu besar.1. Saat musim barat terjadi. salinitas dan tekanan (Diposaptono. yaitu angin musim barat dan musim timur. 2002 dalam Esry.. di perairan Jawa bertiup angin dari barat ke timur sehingga secara umum arus mengalir dari barat ke timur dan juga terjadi sebaliknya. Arus samudera yang melewati perairan Indonesia disebut Arlindo yaitu arus yang menghubungkan antara Samudera Pasifik dengan Samudera Hindia. Jalur Arlindo berawal dari perairan Mindanao dan Halmahera. Saat musim dingin. kemudian masuk melalui Selat Makasar yang kemudian akan meninggalkan perairan Indonesia melalui selat Lombok dan sebagaian lainnya berbelok ke Laut Flores. 1996). Angin yang berhembus di perairan Indonesia terutama adalah angin musim (monsoon). Ketika 5 . Arus di Perairan Indonesia Arus di perairan Indonesia sebagaian besar didominasi oleh arus yang dibangkitkan oleh angin. TINJAUAN PUSTAKA 2.II. 2011).

Pengolahan dan Proses Kimia Bahan Nuklir Proses Pengkayaan dan Fabrikasi Bahan Bakar Nuklir Operasi Reaktor Nuklir Reprocessing Bahan Bakar Pengelolaan Limbah Radioaktif Proses Pembuatan Radionuklida Penggunaan Radioisotop di Bidang Riset. Industri dan Kedokteran i. h. yang antara lain dapat berasal dari: a. Pemakaian Bahan Bakar Fosil Percobaan dan Ledakan Bom Atom . angin akan berbalik arah dan mengembalikan massa air tersebut pada tempat semula (Hasanudin. 2. Proses Dekontaminasi dan Dekomisioning suatu Fasilitas Nuklir akselerator j. g. baik yang melalui udara maupun air. c. d. e. pada akhirnya akan dapat mencemari manusia. untuk dapat mengetahui masalah pencemaran radioaktivitas lingkungan terlebih dahulu harus diketahui kemungkinan sumber-sumber pencemaran radioaktivitas lingkungan. b.6 memasuki musim panas. 1998). Pencemaran Radioaktivitas Lingkungan Pencemaran radioaktivitas lingkungan.2. f. k. Penambangan. Menurut Wardhana (1994) dalam Badrus (2004).

Radionuklida di Lingkungan Laut Sejak tahun 1945 terjadi pelepasan secara berkala dari teknogenik radionuklida ke lingkungan. Radionuklida yang terserap relatif sedikit oleh sedimen memiliki . Penyerapan radionuklida dalam sedimen berbeda antara lingkungan perairan tawar dan perairan laut. sedangkan di estuari bergantung pada luasan dan interaksi air sungai dengan air laut. perpindahan dan peluruhan radionuklida. Sr 90). 1966). Setelah kecelakaan Chernobyl terjadi peningkatan dratis kuantitas nuklir di lingkungan (Buesseler K. Konsentrasi radionuklida di perairan ditentukan oleh faktor persebaran. Faktor-faktor yang mempengaruhi konsentrasi radionuklida di perairan adalah proses percampuran. Di perairan. sedimen dan partikel tersuspensi. Bagian terbesar dari distribusi dan migrasi kontaminasi nuklida dengan waktu paruh yang panjang (terutama Cs 137. Diketahui bahwa fallout Cs 137 dan Sr 90 sebelum 1986 ditemukan di air laut dalam bentuk terlarut (Shvedov et al.3.. sumber utama kontaminasinya adalah tes senjata nuklir di atmosfer. adalah tak hanya proses hidrofisik tapi juga biosedimentasi. penyebaran dan interaksi dengan sedimen dan material biologis (Anonim..7 2. 1962). 1987). melihat dari akumulasinya di laut dan samudera. radionuklida ada dalam bentuk larut dan tersebar dalam perairan yang kemudian berpindah ke material biologis. 1982). darat dan perairan (Polikarpov.. Parameter terpenting dalam persebaran radionuklida di lingkungan adalah pergerakkan massa air. penyerapan di dasar sedimen dan konsentrasi di biota. dan kurang berpengaruh terhadap migrasi biologi (Strezov. 2012).

dan ikan. Strontium di alam ada dalam bentuk celesit (SrSO4) and strontianit . 1977 dalam Sasongko. Tc 99 dan L 129 (Ophel. 1998). Organisme yang sering dijadikan bioindikator adalah fitoplankton.9%) and strontium 87 (7. yakni pemantauan melalui sampel organisme sebagai indikator dalam selang waktu yang teratur serta pengukuran konsentrasi radionuklida dalam biota yang berhubungan dengan biomagnifikasi dan biovalabilitas organisme yang dijadikan bioindikator. Menurut Dahlgaard (1991) dalam Sasongko (1998). rantai makanan berperan penting dalam distribusi radionuklida di perairan laut karena setiap rantai dapat menyerap radionuklida dan proses perpindahan radionuklida antar rantai memiliki faktor serapan yang relatif tepat. invertebrata. 2. Untuk memantau tingkat konsetrasi radioaktif di perairan laut dapat digunakan bioindikator. Strontium merupakan logam halus berwarna perak putih atau logam kuning yang sangat reaktif secara kimiawi.3. Strontium 88 adalah bentuk yang paling umum. makroalgae.8 kemungkinan untuk tersebar luas. 2010). Di alam biasanya terdapat sebagai mineral celestit dan strontianit (Anonim. berisi sekitar 83% di alam. misalnya Sr 90. Tiga isotope stabil lainnya dan kelimpahannya adalah strontium 84 (0.0%) Dalam senyawa.6%) strontium 86 (9. Strontium adalah logam halus berwarna perak abu abu yang muncul di alam sebagai empat isotope stabil. Strontium Strontium adalah unsur kimia golongan alkali tanah dengan simbol Sr dan memiliki nomor atom 38. Logam strontium menjadi berwarna kuning saat terkena udara.

dilihat sebagai pengganti pengukuran untuk dosis internal dari pembelahan campuran jangka panjang dan aktivitas hasil fallout (Mangano dan Sherman. Sr 90 bersama dengan Cs 137 merupakan radionuklida buatan yang diawasi dalam ilmu radioekologi karena ini merupakan salah satu hasil fisi yang terpenting dan memiliki waktu paruh yang hampir sama (28. Salah satu alasan adalahnya adalah sulit dan metode analisanya yang memakan waktu.4. 1995 dalam HELCOM.6. sebagai tambahan ada ketertarikan yang kurang terhdap Strontium karena dalam fallout Chernobyl memiliki konsentrasi yang lebih kecil daripda Cs 137.7 tahun.. 2006). Radium berwarna hampir putih.9 (SrCO). Strontium 90 adalah buangan radionuklida utama dari bahan bakar nuklir (Argonne National Laboratory. Sr 90 sangat diawasi di lingkungan setelah itu. fallout yang dominan adalah Cs 137 dan Sr 90 dalam aktivitas ratio 1. Sementara empat isotope stabil terjadi di alam. 2. 2007). Dalam tes senjata asmosferik selama tahun 1950-1960. dan ini ada sekitar 0. Sebagai konsekuensinya.5 tahun) dengan Cs 137.dan akan teroksidasi jika terkena udara . Umumnya. strontium 90 dihasilkan dari fusi nuklir.025% dari lempeng bumi. Sr 90 dengan waktu paruh 28. Masukan total dari Sr 90 dari fallout Chernobyl ke laut Baltic diperkirakan 80TBq (peluruhan dikoreksi tahun 1991) sementara untuk Cs 137 adalah 4100-5100 Tbq (Nies et al. 2001). Radium Radium merupakan unsur kimia dengan simbol Ra dan memiliki nomor atom 88. Namun beberapa tahun terakhir frekuensi analisa strontium secara signifikan semakin berkurang.

di negara maju pemakaian Ra 226 sudah . Selain itu. 2010). Radium yang termasuk jenis radioaktif alam adalah Ra 226. dan dijadikan juga sebagai dasar untuk mengidentifikasi aktivitas dari berbagi macam radionuklida. 2010). Radium 226 digunakan sebagai sumber radiasi untuk brakhiterapi. Radium dalam bentuk murninya adalah logam keras berwarna putih keperakan yang segera teroksidasi saat terkena udara. Sebagian besar Ra 226 berasal dari peluruhan uranium alam (U 238) sedangkan Ra 228 dan Ra 224 berasal dari peluruhan Th 232. (Anonim. Satu curie sama dengan tingkat luruh radioaktif dari satu gram Radium 226 (Argonne National Laboratory. Radium mempunyai tingkat radioaktivitas yang tinggi (Anonim. 2006). misalnya Ra 226 meluruh menjadi Ra 222 dan Ra 228 meluruh menjadi Ra 224 sebelum akhirnya membentuk gas radon (Ra 220). memancarkan radiasi alfa dan gama dengan waktu paruh 1621 tahun.75 tahun dan Ra 224 mempunyai waktu paruh 3. Radium adalah unsur radioaktif yang ada di alam dengan konsentrasi yang rendah (sekitar satu bagian per trilyun) di lempeng bumi.66 hari. Radium adalah radionuklida yang terbentuk dari peluruhan uranium dan thorium. Ra 224 dan Ra 228. Isotop isotop Radium meluruh menjadi isotop isotop radon yang berlainan. Namun semenjak tahun 1960an. Radium pertama kali ditemukan tahun 1898 oleh Marie and Pierre Curie. Radium yang banyak terdapat di alam adalah Radium 226. sedangkan Ra 228 merupakan pemancar beta dengan waktu paruh 5. Radium 226 merupakan isotop yang biasa dimanfaatkan.10 dan berubah menjadi hitam. Radium 226 juga dimanfaatkan sebagai penangkal petir. Pada jaman dulu.

dimana konsentrasi atau aktivitas dua kali lebih banyak. 1 Bentuk Skematik profil Radium-226 yang bertambah dari Atlantik ke Pasifik di kedalaman dan dasar perairan (berdasar data GEOSECS). Adanya kecenderungan meningkat menunjukan Ra-226 ditambahkan dari lapisan bawah . Hindia dan Pasifik kecuali di selatan Antartika dalam zona konvergensi. Aktivitas Ra dan Sr di Beberapa Tempat Gambar.11 dihentikan sedangkan dibeberapa negara lain pemakian Ra 226 mulai berkurang (Aisyah.5. sumber : YuChia Chung dan Chen-Tung Arthur Chen. Tipe profil vertikal dari tiga samudera utama ditunjukan dalam skematik gambar 1. 2003). 2. 2002 Pengkuran ekstensif Radium-226 dilakukan pada tahun 1970an selama program Geochemical Ocean Section Study (GEOSECS) menunjukan bahwa aktivitas Radium di permukaan perairan adalah hampir seragam di Samudera Atlantik.

1 mBq/L hingga 50 mBq/L. Dengan hasil yang didapatkan nilai yang bervariasi dari 0. 2 Tingkat Konsentrasi Sr 90 di beberapa perairan sumber : IAEA. Gambar 2 menunjukan perkiraan rata-rata dari konsentrasi Sr 90 di laut dan samudera di dunia yang dilakukan pada tahun 2000. Seperti yang diperkirakan. terutama samudera Antartika (IAEA. 2002). Gambar.12 sedimen dalam sirkulasi dasar perairan dan tingkat masukan lebih besar daripada tingkat luruhnya. 2005). 2005. akan semakin meningkat aktivitasnya (Chung dan Chen. . Proyek WOMARS yang dilakukan pada Maret-April 1998 untuk menentukan tingkat konsetrasi radinuklida antropogenik di permukaan laut. saat air semakin tua. konsentrasi tertinggi berada di lautan Eropa dan terendah di bumi bagian selatan.

Materi Penelitian Dalam penelitian ini digunakan data pokok untuk pengolahan hasil yang nantinya diperoleh dari hasil pengukuran di lapangan (data primer) dan data tambahan yang diperlukan untuk pengolahan hasil yang diperoleh (data sekunder). Data sekunder terdiri dari data temperatur dan data salinitas. Alat dan Bahan yang digunakan dalam Penelitian No Nama 1 2 3 Vacuum pump MnO2 Fiber GPS (Global Positioning System) 4 5 6 7 8 9 10 11 Komputer SMS 10 filter paper (Whatman) Flow meter Perahu Oxalic acid Jerigen Spectrometer L Ci 13 Media pengolah data Software pengolah data Arus Menyaring sampel air Mengukur jumlah debit air Alat transportasi Pengawet sampel Tempat air sampel Mengukur tingkat radiasi sampel Satuan  Kegunaan Memompa air laut Mengikat partikel Radium Menentukan koordinat titik sampling  . Data primer terdiri dari data konsentrasi radiasi Radium 226 dan Strontium 90 di eperairan lokasi penelitian.III.1. MATERI DAN METODE 3. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian tercantum dalam tabel berikut ini: Tabel.

1982). Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang bertujuan untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian yang diteliti atau dikaji pada waktu terbatas dan tempat tertentu untuk mendapatkan gambaran tentang situasi dan kondisi secara lokal (Hadi.5 18 19 H2O Fe 3+ - Pengencer larutan Reagen yang ditambahkan pada sampel agar mencapai pH 8 20 21 Na2CO3 ADCP m/s Mengikat partikel Sr Mengukur kecepatan Arus 3. Tahap pengumpulan data meliputi pengumpulan data primer dan data sekunder. yaitu tahap pengumpulan data dan tahap pengolahan data.2. Penelitian ini dilakukan dua tahap. Sedangkan tahap pengolahan data meliputi pengolahan data primer dan data sekunder. Tahap pengumpulan data primer dilakukan di .14 12 Sonifikator Mempercepat pembentukan zat yang diinginkan 13 14 15 16 17 Hot plate Centrifuge Membran filter Beta-counter NH4OH - Memanaskan sampel Memisahkan unsur partikel Ci - Menyaring sampel Mengukur radiasi partikel beta Reagen yang ditambahkan pada sampel agar mencapai pH 5.

2. 3. 3. Pengambilan sampel hanya dilakukan di permukaan perairan. Sampel air laut yang akan dianalisa aktifitas radiasi diambil dengan menggunakan jerigen plastik. Sebelum sampel air ditampung dalam jerigen. diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai pola distribusi radionuklida di pantai Selatan Jawa. Cara yang diterapkan dalam penentuan titik koordinat lokasi yaitu dengan menggunakan GPS (Global Posotioning System).3. Setelah melalui pengolahan dan analisis data.2. Pada penelitian ini dilakukan pengambilan data konsentrasi radiasi sampel. Setelah itu sampel langsung diasamkan dengan HNO3 agar sampel dapat bertahan selama dibawa ke laboratorium untuk melakukan preparasi sampel dalam proses analisa kimia. 3.2. Teknik Pengambilan Sampel Pengambilan sampel air laut akan dilakukan pada bulan April 2013 dengan tiga kali pengulangan yang akan dilakukan pada saat pasang. Penentuan Lokasi Pengamatan Penetapan lokasi dilakukan dengan metode random sampling di mana mengambil sampel di lokasi secara acak. jerigen tersebut dibilas lebih dulu sampai dua kali dengan air sampel yang akan dikumpulkan. Metode Analisis Data . penentuan posisi ditentukan dengan pertimbangan dapat mewaliki seluruh lokasi penelitian.15 laboratorium hingga didapat data tingkat radiasi sampel.1. Pengolahan data primer yaitu pengolahan hasil laboratorium kemudian diolah dengan software Arc GIS 10.

yang kemudian akan menguap menjadi volume yang lebih kecil sekitar 10-20 mL.8 dengan penambahan larutan 5N NaOH.2. Larutannya kemudian disaring dengan filter paper (Whatman no. Waktu perhitungan biasanya 1-2 hari.16 3. 226 Ra dihitung dari jumlah kecepatan hitung 214 Pb (295 dan 352 keV) dan 214Bi (609 keV). Lapisan kemudian dipindakan ke plastik counting vial dan ditimbang yield kimianya. Endapan tersebut dikumpulkan sedangkan cairannya dibuang. MnO2-fibers direndam dalam larutan panas 300 mL 6N HCl + 1% NH2OHHCl. Pengukuran Konsentrasi Strontium 90 Air laut yang sudah diasamkan ditambahkan dengan NH4OH sampai pH sampel 5. 3.2) dan sesudah itu dilewatkan menuju kolom Fiber MnO2 dengan kecepatan < 1 L/Min.5 sampai menghasilkan endapan Strontium yaitu Sr(Ca)C2O4. Endapan Sr(ca)C2O4 yang . Radium kemudian dilarutkan dengan menambah 150 mL H2O dan diatur agar pH nya sekitar 1. Kemudian vial disimpan selama lebih dari 3 minggu untuk melihat daughter Ra bertambah. dan segera disimpan di lemari pendingin untuk kemudian di analisis di laboratorium. Setelah penambahan 10 mL of 10N H2SO4.3.1. larutan kemudian ditambahkan 125 mg of Pb2+ carrier. Pengukuran konsentrasi Radium 226 Prosedur analisis diambil berdasarkan Yamada dan Nozaki.4). Aktivitas Ra diukur dengan spectrometer. 2009. Lapisan Pb(Ra)SO4 disaring dan didiamkan dalam suhu 450 °C selama 10 jam. MnO2 fiber dilepas dan disimpan dalam kantong palstik yang sebelumnya telah dibersihkan dengan air yang diionisasi.1986 dalam Muslim. Di laboratorium.3. Semua air sampel disaring melalui kertas saring (Whatman No.

Endapan yang terbentuk diukur tingkat radiasi Strontium 90 dengan beta counting. sedangkan larutan yang terbentuk dicampur dengan Na2CO3 (jenuh) yang akan menghasilkan endapan SrCO3 lalu ditambahkan dengan HNO3 dan carear Y3+ dan kita diamkan selama kurang lebih 20 hari. Kemudian disaring dengan kertas saring (To Yo No. Data Parameter Oseanografi Data parameter fisika oseanografi yang akan diukur adalah: data salinitas. data tersebut diolah lebih lanjut dan ditampilkan dalam bentuk grafik atau peta sehingga dapat dilihat pengaruh parameter terhadap . Setelah itu larutan yang sudah didiamkan kita tambahkan dengan larutan NH4OH agar pH larutan 8 sehingga akan menghasilkan Y(OH)3 yang akan ditambahkan lagi dengan HNO3 selanjutnya dialirkan ke dalam kolom kation yang terbuat dari Dowex 50 x 8 dengan ukuran (size) 100~200. kemudian dilarutkan dalam H2O dan 10 mg Fe3+ dan NH4OH sampai pH larutan mencapai 8 yang kemudian akan menghasilkan endapan Fe(Y) (OH)3.17 terbentuk ditambahkan dengan H2O dan HNO3 pekat dan kemudian didihkan selama 24 jam sampai menghasilkan endapan Sr(NO3)2. Data yang diperoleh digunakan untuk melihat pengaruh terhadap derajad konsentrasi sampel. Lalu endapan tersebut diproses lagi dengan menggunakan alat yang bernama sonification.4. 3. Dalam kegiatan analisis. temperatur dan kecepatan arus permukaan pada titik yang sama pada saat sampel diambil. 5C). Endapan yang terbentuk dibuang. Dan larutkan (elute) dengan asam 2-hydroxysobutyric sampai mendapatkan larutan Y yang kemudian di tambahkan asam oxalic maka akan dihasilkan endapan Y2 (C2O4)3.

18 nilai konsentrasi. Untuk melihat pola pergerakan arus laut di perairan Selatan Jawa yang diwakili oleh suatu posisi pengambilan data. . maka dibuat peta distribusi pergerakan arah arus permukaan.

Republic of China.Jurnal Perikanan dan Kelautan Tropis Vol. 1982. Arus Lintas Indonesia (ARLINDO). Baltic Sea Environment Proceedings No. Long-lived radionuclides in seabed of Baltic sea Report of the Sediment Baseline Study of HELCOM MORS-PRO in 2000-2005. Seminar Tahunan Pengawasan Pemanfaatan Tenaga Nuklir. 2006.DAFTAR PUSTAKA Aisyah. Pages 137–158. Alkali Tanah. Oseana. Elevated In Vivo Strontium-90 From Nuclear Weapons Test Fallout Among Cancer Decedents: A Case-Control Study Of Deciduous Teeth. Jakarta.J and J. Vienna International Atomic Energy Agency. 2006. International Journal of Health Services. http://alchemist08. 2007. Y. Strontium. EVS Chung. Institue of Marine Geology and Chemistry. hlm. Generic Models and Parameters for Assessing the Enviromental Transfer of Radionuclides From Routine Releases: Procedures and Data. . Sherman.com/Alkali_tanah (31 Oktober 2012 13:10) Argonne National Laboratory. Keselamatan dalam Pengelolaan Limbah Radium 226. M. 110. Sulawesi Utara. Minahasa Tenggara . HELCOM. J. No 2. 1998. 1-9. Radium. Volume XXIII. Natural and Anthropogenic Radionuclides. Perubahan Garis Pantai Desa Bentenan Kecamatan Pusomaen. Anonim. Opa.C and Cheng-Tung A.files.wordpress. Human Health Fact Sheet. Safety Series No. 2010. Esry T. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi .D. 2011. Hasanudin. Human Health Fact Sheet. P2PLR-BATAN. Universitas Sam Ratulangi. Mangano.LIPI. 57. 2003. Helsinki Comission. 2011. VII-3. Anonim.C. Baywood Publishing Co. 2002. EVS Argonne National Laboratory.

Studi Analisa Dan Pola Persebaran Radioaktivitas Perairan Dan Sedimen (Studi Kasus: Sungai Code Yogyakarta). Yogyakarta. Manusia dan lingkungan. Institute for Nuclear Research & Nuclear Energy. 1998. Agus T dan Rr. 2006. Zaman. Algae and Biota in Black Sea Marine Ecosystems. Pasca Sri R.20 Sasongko. Seminar Keselamatan Nuklir . Heny dan Heru Umbara. P2PLR-BATAN. UNDIP . Suseno. 2012. dan Kusminarto. Strezov. Alexander. 2004. Hlm. Berkala Ilimiah Teknik Keairan Vol. PPLH-UGM. Kajian Radioaktivitas Alam Laut Pesisir Semarang. 13. Pengukuran Radionuklida Alam Dan Antropogenik Di Kawasan Semenanjung Muria. Dwi P. 33. Bulgaria. Badrus. Sustainable Environment Monitoring of Radionuclide and Heavy Metal Accumulation in Sediments.