You are on page 1of 2

Menyelamatkan Bumi, Menyelamatkan Diri

28.Apr.2008

Pada Selasa 22 April 2008 seluruh bangsa di dunia ini merayakan Hari Bumi.
Menyatakan bahwa seluruh orang “merayakan” hari tersebut tentu saja merupakan
pernyataan berlebihan. Hanya sebagian kecil dari kita semua yang mengetahuinya, dan di
antara yang mengetahuinya pun hanya sebagian yang kemudian mengambil jeda untuk
merenungi dampak perilaku kita terhadap Bumi serta melakukan tindakan-tindakan yang
diperlukan untuk memperbaikinya. Bagi sebagian besar orang, Hari Bumi tidaklah
relevan; dan ini merupakan cerminan bahwa buat sebagian besar orang, lingkungan
tidaklah jadi pertimbangan ketika melakukan sesuatu.

Memang, ada beberapa kegiatan yang bisa disaksikan di berbagai media massa
terkait dengan perayaan Hari Bumi ini. Ada festival tiga hari di Senayan, ada berbagai
demonstrasi, ada aksi penanaman pohon dan sebagainya. Namun, di luar waktu tersebut
sangat jarang lingkungan masuk ke dalam relung pemikiran kita. Ketika membeli
sesuatu, faktor fungsi, mutu dan harga hampir selalu menjadi pertimbangan. Tapi
lingkungan? Paling banter hanya dipikirkan oleh sebagian sangat kecil orang. Banyak
pihak berpendapat bahwa kepedulian terhadap lingkungan adalah gejala “post-
materialism”. Ia akan muncul dengan sendirinya manakala masyarakat telah mencapai
kondisi kemakmuran tertentu. Kalau masyarakat masih miskin, tak usahlah berharap
banyak bahwa kesadaran itu akan timbul.

Tapi pendirian itu jelaslah salah. Perhatikanlah cara hidup masyarakat tradisional
yang masih erat menggenggam adat istiadatnya yang sangat menghormati lingkungan.
Mereka jauh dari kaya apabila ukuran-ukuran modern kita pergunakan, namun mereka
telah ratusan atau bahkan ribuan tahun menjaga lingkungan mereka agar tidak rusak. Tak
perlu menunggu kaya. Sebaliknya, lihatlah di jalan-jalan, betapa seringnya kita melihat
dari mobil-mobil sedang dan mewah terlempar bungkusan kertas atau plastik dilempar
dari arah bangku belakang atau depan sebelah kiri. Mereka kaya, tapi tidak menghargai
lingkungan.

Argumentasi yang sama—dan telah dibuktikan salah di atas—juga kerap didengar


ketika kepedulian terhadap lingkungan hendak diterapkan terhadap perusahaan. Banyak
pihak yang menyatakan bahwa hanya perusahaan besarlah yang bisa menanggung
”biaya” peningkatan kinerja lingkungan. Jadi, kita tak perlulah untuk berharap
perusahaan-perusahaan kecil dan sedang untuk mengelola lingkungannya dengan
sempurna, karena mereka bahkan sudah repot mengurus berbagai biaya lainnya.

Sekali lagi, argumentasi tersebut juga tidak dilandaskan pada fakta bahwa besaran
dampak kerap berbanding lurus dengan besaran usaha. Perusahaan kecil biasanya
memiliki dampak yang kecil, dan perusahaan besar memiliki dampak yang juga besar.
Dampak itu proporsional, terutama kalau ditimbang dalam sektor industri yang sama.
Karenanya, baik perusahaan besar maupun kecil hampir selalu memiliki proporsi
tanggung jawab yang sama untuk mengelola lingkungan, juga proporsi biaya yang sama
untuk hal tersebut.
Argumentasi tersebut juga tidak melihat sisi yang lain dari pengeluaran
perusahaan untuk mengelola dampak lingkungan: investasi. Benar, bahwa pengelolaan
lingkungan membutuhkan kapital tertentu, tapi itu tidaklah semata-mata berarti biaya
yang hilang. Ada banyak bukti bahwa ketika perusahaan mengelola lingkungan dengan
baik, maka keuntungan bertubi-tubi bisa diperoleh oleh perusahaan—tak peduli ukuran
perusahaan itu. Pertama-tama, tentu saja, penghematan segala jenis masukan energi dan
barang—bentuk kepedulian terhadap lingkungan yang paling awal—akan menurunkan
biaya pembuatan produk. Ini berarti produk menjadi lebih kompetitif. Berikutnya, produk
yang lebih ramah lingkungan bisa menarik minat ceruk konsumen tertentu yang lebih
sadar lingkungan; bisa menekan kemungkinan denda dan litigasi pelanggaran hukum
lingkungan; bisa menghindari boikot dan kampanye negatif atas produk; bisa menarik
pekerja yang memiliki nilai-nilai yang sama; dan bisa menarik perhatian investor yang
juga ramah lingkungan.

Kerusakan lingkungan di tingkat nasional dan global sudah sangat parah. Sebagai
individu maupun perusahaan, kita memiliki tanggung jawab untuk membalik kondisi
tersebut. Kita tidak memiliki hal untuk merusak lingkungan, sebaliknya kita punya
tanggung jawab untuk menjaga kelestariannya. Dalam bentuk paling ringannya, kita
harus memastikan bahwa dampak negatif kita minimum. Akan sangat terpuji apabila kita
bisa mengupayakan dampak bersih positif yang maksimum. Sebagaimana yang
diingatkan oleh Jared Diamond dalam ”Collapse”, waktu untuk membalik kondisi buruk
ini tidaklah banyak. Kita harus melakukannya sekarang juga, atau kita akan menyesalinya
kelak. Tak ada lagi waktu untuk menjadi penunda serta tak ada tempat lagi bagi pendusta.
Kalau kita ingin selamat, segera selamatkan Bumi.