Budaya Politik Budaya politik yang berlangsung pada suatu bangsa bisa bermartabat,bisa juga tidak.

Budaya politik yang berlangsung di negeri yang penuh konflik pada umumnya tidak bermartabat, atau politik yang tidak berbudaya. Politik yang tidak berbudaya itu lebih machiavelis, menghalalkan segala cara, busuk,penuh tipudaya,intimidasi dan terror. Oleh karena itu struktur politik yang dibangun biasanya juga tidak logic, tidak masuk akal karena dibangun semata-mata hanya untuk mengamankan interest politiknya, bukan untuk membangun tatanan masyarakat terhormat. Pengalaman politik bangsa Indonesia, pada generasi awal, yakni generasi Angkatan 45, mereka pada umumnya masih berpolitik dengan budaya, sehingga konflik politik tidak harus diteruskan dengan konflik kemanusiaan. Para pemimpin politik yang berbeda aspirasi politik selalu "berkelahi" di fgorum politik, di Panitia Persiapan Kemerdekaan,kemudian di Konstituante, tetapi di luar majlis mereka bersahabat mesra. Baru di akhir periode Bung Karno ketika koalisi NASAKOMdipaksakan, kelompok Komunis rajin sekali melakukan politicking membuat suasana politik bagaikan bisul yang siap meledak, sehingga pada tahun 65 disebutkan bahwa ibu pertiwi sedang hamil tua. Dari politicking PKI yang tidak bermartabat itulah lahirG.30.S, dan sebagai actor, PKI harus menerima resiko, dibubarkan, dan aktifisnya diburu oleh rakyat,bahkan dihakimi oleh rakyat di jalanan. Pak Harto yang tampil tepat waktu menyelamatkan keadaan, menghela bangsa ini keluar dari krisis, pada mulanya adalah power yang dipandang tepat untuk mengatasi keadaan. Tetapi kelamaan duduk di kursi kepresidenan membuat game politiknya tidak sportif dan seni politiknya lebih bersifat sandiwara, sehingga ilmu politiknya yang sesungguhnya masuk akal dipersepsi sejalan dengan rekayasa politiknya. Politik Berbudaya Sesungguhnya di alam bawah sadar para pengusung reformasi, ada motivasi kuat untuk mengubah budaya politik repressip ke politik yang berbudaya, yang bermartabat. Oleh karena itulah maka amandemen dilakukan,banyak paradigma diubah, tatanan diubah. Hanya saja

kebencian dan kemarahan yang terlalu besar kepada Pak Harto,Golkar
ABRI dan orde baru,membuat langkah reformasi ini terlalu emosional, kurang konsepsional. Dampaknya sekarang,budaya politik yang berlangsung juga jauh dari harapan mulia reformasi. Kebingungan, jalan buntu dan nyaris frustrasi membayangi kehidupan politik bangsa. Sudah 10 tahun reformasi,kita belum kompak menyusun agenda tujuan, padahal Jepang hanya butuh 15 tahun keluar menjadi pesaing Amerika yang tahun 1945 meluluh lantakkan negeri Sakura itu dengan boom atom. Vietnam yang diluluh lantakkan oleh perang dan pendudukan Amerika,kinipun sudah bangkit. Nampaknya kita harus berani menekan nafsu untuk jangan terlalu menonjolkan nilaikuasa dari budaya kita, tetapi serentak juga mengedepankan nilai siolidaritas, nilai seni,nilai agama. Sedangkan nilai ekonomi dan nilai teori sesungguhnya sudah kita miliki tetapi sayang kita belum bisa

konsisten.Mudah-mudahan tidak terlambat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful