TUGAS PERBAIKAN NILAI

TERMODINAMIKA

Oleh RIYANTO H1C004006

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK JURUSAN MIPA - PROGRAM STUDI FISIKA PURWOKERTO 2008

Ada beberapa macam sistem. Sistem tertutup adalah sistem dimana tidak ada massa yang masuk maupun keluar tetapi energinya dapat dipertukarkan dengan lingkungan. Apabila pada sistem tertutup energi sistem tidak dapat dipertukarkan dengan lingkungan. W adalah kerja yang dilakukan oleh sistem. sistem tersebut dikatakan terisolasi. maka jika kerja dilakukan pada sistem .1. Dalam membahas termodinamika. Hal ini berarti energi dalam sistem itu berubah. dari sistem 1. Pada persamaan 15. dalam bentuk persamaan: ∆U = Q − W (15. Benda-benda lain di luar sistem disebut lingkungan.1) Di mana Q adalah kalor total yang ditambahkan ke sistem dan W adalah kerja total yang dilakukan oleh sistem. Namun. W akan negatif dan U akan bertambah. massa dapat masuk maupun keluar demikian pula dengan energinya. . Berdasarkan hukum kekekala energi itulah hukum termodinamika pertama dirumuskan sebagai berikut: Perubahan energi dalam pada sistem akan sama dengan kalor yang ditambahkan ke sistem dikurangi kerja yang dilakukan oleh sistem. secara keseluruhan energi itu tidak ada yang hilang.Termodinamika Termodinamika merupakan cabang fisika yang mempelajari energi dan perubahannya dalam bentuk kalor dan kerja serta besaran makroskopis lainnya yang berkaitan. kita seringkali akan mengacu ke suatu sistem tertentu. Hukum Termodinamika Pertama Aliran kalor atau kerja yang dialami oleh suatu sistem dapat mengakibatkan sistem tersebut memperoleh energi dari lingkungannya atau kehilangan energi ke lingkungannya. Pada sistem terbuka. Sistem merupakan benda-benda dalam daerah yang kita tinjau perubahan energinya.

Persamaan 15. Agar temperatur tetap konstan. dan berarti ∆U = 0 . Gambar 15. Q negatif. sehingga W = Q = 0 . gas harus . Setiap titik pada kurva. Kita juga menganggap bahwa proses penekanan (volume berkurang) atau pemuaian (volume bertambah) dilakukan sangat perlahan untuk meyakinkan bahwa semua gas tetap dalam kesetimbangan pada temperatur yang sama. Persamaan ini juga berlaku untuk sistem terbuka jika kita memperhitungkan perubahan energi dalam yang disebabkan oleh kenaikan atau penurunan jumlah zat.1 disebut isoterm. PV = tetap . adiabatik.1 menunjukkan diagram PV untuk proses isotermal. Proses Isotermal Pada proses isotermal untuk sistem gas ideal maka PV = nRT . Kurva kurva yang ditunjukkan pada gambar 15. Pada temperatur yang lebih rendah. isobarik. sehingga jika kalor meninggalkan sistem. tidak ada kerja yang dilakukan dan tidak ada kalor yang masuk atau meninggalkan sistem.1. sehingga untuk temperatur konstan. sistem akan bergerak ketitik B pada diagram. Penerapan Hukum Termodinamika Pertama pada Beberapa Sistem Sederhana Kita dapat menganalisa beberapa proses sederhana seperti proses isotermal.Dengan cara yang sama. Q positif bila kalor ditambahkan ke sistem. dan sejumlah kalor Q ditambahkan ke sistem. 2. Jika gas pada awalnya berada dalam keadaan yang digambarkan sebagai titik A dalam gambar 15.2) dan bahwa gas bersentuhan dengan reservator kalor (benda yang massanya sangat besar sehingga temperaturnya tidak berubah secara signifikan ketika kalor dipertukarkan dengan sistem). Untuk sistem terisolasi.1 berlaku untuk sistem tertutup. dan isokhorik dengan pandangan hukum termodinamika pertama. seperti titik A menyatakan keadaan sistem pada suatu saat yang diketahui yaitu tekanan P dan volume V .1. proses isotermal lainnya akan digambarkan oleh kurva seperti A’B’ pada gambar 15. Mari kita anggap bahwa gas berada dalam bejana yang ditutup dengan piston yang mudah bergerak (Gambar 15.

Diagram PV untuk gas ideal yang mengalami proses isotermal pada dua temperatur yang berbeda. A’ . Temperatur tetap dijaga konstan sehingga energi dalam tidak berubah. B’ V T lebih tinggi T lebih rendah Gambar 15. P . kerja yang dilakukan oleh gas pada proses isotermal sama dengan kalor yang ditambahkan pada gas. Piston Gas ideal Gambar 15. Berarti.1. dengan hukum termodinamika pertama ∆U = Q − W = 0 . Diagram PV untuk gas ideal yang mengalami proses isotermal pada dua temperatur yang berbeda. sehingga W = Q . .memuai dan melakukan sejumlah kerja W pada lingkungan.2.B .A .

4. Proses isobarik adalah proses dimana tekanan dijaga tetap konstan. berarti temperatur berkurang juga.1 bahwa ∆U = −W . Dua proses termodinamika sederhana lainnya diilustrasikan pada digram PV gambar 15. V B C Gambar 15. kita dapatkan dari persamaan 15.Proses Adiabatik Proses adiabatik adalah proses dimana tidak ada kalor yang dapat mengalir ke dalam atau ke luar sistem.4). Diagram PV proses adiabatik Proses Isobarik Proses isotermal dan adiabatik hanya merupakan dua dari proses yang mungkin terjadi.3 di mana hasil kali PV ( = nRT ) lebih kecil pada titik C dari pada titik B. Pemuaian adiabatik yang lambat dari gas ideal mengikuti kurva seperti yang diberi label AC di gambar 15. atau proses terjadi sangat cepat sehingga kalor tidak memiliki waktu untuk mengalir ke dalam atau ke luar sistem. P A isotermal adiabatik . . Hal ini jelas pada gambar 15. Pada penekanan adfiabatik (dari C ke A) kerja dilakukan pada gas. Situasi ini dapat terjadi jika sistem terisolasi dengan baik. Pemuaian gas yang sangat cepat pada mesin pembakaran dalam merupakan satu contoh proses yang hampir adiabatik.3. . . sehingga proses digambarkan sebagai garis lurus pada diagram PV (Gambar 15. Karena Q = 0 . dan dengan demikian energi dalam bertambah dan temperatur naik.3. yaitu energi dalam bertambah jika gas memuai.

5. B V Gambar 15. F = PA . P .P . A . Tetapi gaya hanya berupa tekanan P dari gas dikalikan luas A dari piston.4.5 memuai dengan lambat terhadap piston. Sebagai contoh. Dengan demikian. W = Fd = PAd .. kerja yang dilakukan bisa dihitung dengan mudah. Diagram PV proses isokorik Seringkali ada gunanya menghitung kerja yang dilakukan pada sebuah proses. Diagram PV proses isobarik Proses Isokorik Proses isokorik atau isovolumetrik adalah proses dimana volume tidak berubah (Gambar 15. . A B V Gambar 15.5). kerja yang dilakukan oleh gas untuk menaikkan piston adalah gaya F dikalikan jarak d . Jika tekanan dijaga konstan (isobarik) selama proses. jika gas pada gambar 15.

atau W = P ∆V (15. Pada proses isokorik (Gambar 15.7 menunjukkan isoterm AB yang kita lihat pada gambar 15. sehingga tidak ada kerja yang dilakukan.6.2) dengan ∆V = Ad adalah perubahan volume gas.1 selain proses lainnya yang mungkin yang digambarkan dengan lintasan ADB. Gambar 15. W = 0 . yang menunjukkan bahwa kerja dilakukan pada gas.5) volume tidak berubah. Luas A d Gambar 15. menggerakkan piston sejauh d. Kerja yang dilakukan pada piston ketika gas memuai. dan ini merupaka kerja total yang dilakukan pada proses ADB. gas melakukan kerja yang sama dengan PB (VB − VA ) .2 juga berlaku untuk zat cair dan padat. dimana ∆V negatif. Persamaan ini juga berlaku jika gas ditekan pada tekanan konstan. . Persamaan 15. dengan syarat tekanan konstan selama proses. Dalam perjalanan A ke D.

Tetapi pernahkah anda melihat yang sebaliknya. A PB . sebuah . atau dengan memperkirakan luas pada kertas grafik.2. kalor mengalir dari yang panas ke yang dingin. Hukum Termodinamika Kedua Hukum termodinamika pertama menyatakan bahwa energi adalah kekal. Sebagai contoh. .PA . seoperti pada prosesd isothermal AB di Gambar 15. Sebagai contoh kedua. Perhitungan kerja yang dilakukan dalam hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan kalkulus. energi ini diubah menjadi energi dalam dari batu tersebut dan tanah disekitar tempat jatuhnya (temperaturnya sedikit naik). Tetapi proses ini tidak berlangsung secara spontan (dengan sendirinya tanpa masukan kerja dalam bentuk apapun).7. Energi potensial batu berubah menjadi energi kinetik pada saat batu jatuh. Diagram PV untuk proses yang berbeda Jika tekanan bervariasi selama proses. 3. B V A V B Gambar 15. persamaan 15. ketika anda menjatuhkan batu ke tanah. dan pada saat mengenai tanah. energi akan tetap bisa kekal. Lebih tepat lagi kerja yang dilakukan sama dengan luas di bawah kurva PV . tidak pernah sebaliknya secara spontan. Jika kalor meninggalkan benda yang dingin dan masuk ke yang panas. ketika sebuah benda yang panas diletakan bersentuhan dengan benda yang dingin. Bagaimanapun ada banyak proses yang bisa kita bayangkan yang merubah energi tetapi tidak tampak dialam.1. Bagaimanapun perkiraan kasar bisa didapat dengan menggunakan nilai rata-rata untuk P pada persamaan 15.2 tidak bisa digunakan langsung untuk menentukan kerja.

dan penemuan alat yang praktis untuk hal ini terjadi sekitar tahun 1700 dengan pengembangan mesin uap. Clusius (1822 – 1888). tidak jelas bagaimana bisa berlaku untuk proses yang lain. Perkembangan peryataan umum hukum kedua sebagian didasarkan pada studi mesin kalor. Yaitu. kalor tidak akan mengalir secara spontan dari benda dingin ke benda panas. Hukum ini dapat dinyatakan dalam berbagai cara.8. Mesin kalor adalah alat yang merubah energi termal menjadi energi mekanik. adalah: Kalor mengalir secara alami dari benda opanas ke benda yang dingin. Tetapi untuk mendapatkan kerja dari energi termal lebih sulit. Diperlukan pernyataan yang lebih umum yang akan mencangkup proses lain yang mungkin. semuanya sama. Kita sekarang meneliti mesin kalor.J. Sebagai contoh. 4. sebagian kalor dapat diubah menjadi kerja mekanik seperti diagram skematis pada gambar 15. Karena pernyataan ini berlaku untuk satu proses tertentu. dengan menggosokkan telapak tangan anda dengan cepat atau dengan proses gesekan apapun.E. Untuk menjelaskan tidak adanya reversibilitas (bisa balik) para ilmuan diparuh abad ke sembilan belas merumuskan prinsip baru yang dikenal sebagai hukum termodinamika kedua. seperti mesin uap dan mesin mobil. Mesin Kalor Adalah mudah untuk menghasilkan energi termal dengan melakukan kerja.batu dalam keadaan diam di tanah tiba-tiba naik ke udara karena energi termal molekul diubah menjadi energi kinetik? Energi dapat kekal dalam proses ini. Dalam proses ini. baik dari sudut pandang praktis maupun untuk menunjukkan kepentingannya dalam mengembangkan hukuim termodinamika kedua. Satu pernyataan yang dibuat oleh R. Gagasan dasar dibalik mesin kalor adalah bahwa energi mekanik bisa didapat dari energi termal hanya ketika kalor dibiarkan mengalir dari temperatur tinggi ke rendah. masukan kalor QH pada temperatur tinggi TH sebagian diubah menjadi kerja W dan sebagian dibuang sebagai kalor QL pada . tetapi kita tidak pernah melihatnya terjadi. dengan cara yang lebih nyata.

Kita akan tertarik hanya pada mesin yang berjalan dengan siklus yang berulang yaitu sistem yang kembali secara berulang ke titik awalnya sehingga bisa bekerja secara kontinu.temperatur yang lebih rendah TL .9) misalkan tidak ada kondensor atau pompa. Temperatur tinggi dan rendah ( TH dan TL ) disebut teperatur operasi mesin.8. gas yang terbuang didinginkan sampai temperatur yang lebih rendah dan dikondensasikan sehingga tekanan pembuangan lebih kecil dari tekanan masukan. Dengan demikian walaupun kerja akan dilakukan oleh gas pada piston ketika dimuaikan. QH = W + QL . Pada mesin uap (Gambar 15. Diagram skematis untuk transfer energi pada mesin kalor Untuk melihat mengapa perbedaan temperatur dibutuhkan untuk menjalankan mesin. kerja ini lebih kecil dari kerja yang dilakukan oleh gas pada piston selama masukan. kerja dengan besar yang sama harus dilakukan oleh piston untuk memaksa uap keluar. dan uap berada pada temperatur yang sama di seluruh sistem berarti tekanan gas yang dibuang sama dengan yang dimasukkan. berarti tidak ada kerja total yang dilakukan. Temperatur tinggi QH W QL Temperatur rendah Gambar 15. Beararti kerja total bisa didapat. . Dengan demikian. Pada mesin yang sebenarnya. Dengan kekekalan energi. mari kita lihat mesin uap. walaupun piston harus melakukan kerja pada gas untuk pembuangannyapada saat pembuangan.

3) Perhatikan bahwa untuk memberikan persen ke efisiensi persamaan 15. . QH η= W WH Karena energi kekal.uap air piston ketel uap kondensor pompa Gambar 15. terhadap masukan kalor pada pada temperatur tinggi. η .3 harus dikalikan dengan 100. Mesin uap Efisiensi. dari mesin kalor dapat didefinisikan sebagai perbandingan kerja yang dilakukannya. W . dan efisiensi mesin adalah: η= W QH − QL Q = = 1− L QH QH QH (15.9. masukan kalor QH harus sama dengan kerja yang dilakukan ditambah kalor yang mengalir keluar pada temperatur rendah ( QL ): QH = W + QL Denagndemikian W = QH − QL .

perubahan entropi S dari sistem. Entropi.5. Untuk proses riil. dinyatakan sebagai: ∆S = Q T (15. . Hukum termodinamika kedua dapat dinyatakan dalam entropi sebagi: Entropi suatu sistem tertutup tidak pernah berkurang. diperkenalkan oleh Clausius pada tahun 1860-an. maka perubahan entropi sistem ∆S S ditambah perubahan entropi lingkungan ∆Senv harus lebih besar dari atau sama dengan nol: ∆S = ∆S S + ∆Senv ≥ 0 Hanya pross ideal yang mempunyai ∆S = 0 . perubahan entropi ∆S lebih besar dari nol: ∆S > 0 Jika sistem tidak terisolasi. Entropi tersebut hanya bisa tetap atau bertambah. Tetapi apa yang kita inginkan adalah pernyataan umum dari hukum termodinamika kedua. Menurut Clausius. hukum termodinamika kedua akhirnya dinyatakan secara umum. Entropi dapat dianggap sebagai ukuran keteraturan atau ketidakteraturan sistem. Entropi bisa tetap sama hanya untuk proses ideal (reversibel). ketika kalor sejumlah Q ditambahkan kepadanya dengan proses yang reversibel pada temperatur konstan. Hukum Termodinamika Kedua: Entropi Kita telah melihat beberapa aspek hukum termodianamika kedua. tidak seperti kalor. dan pernyataan yang berbeda mengenainya yang telah kita bahas dan dibuktikan sama. Proses riil memiliki ∆S > 0 . Entropi total ternyata naik untuk semua proses alami. Baru pada paruh kedua abad ke sembilan belas. merupakan fungsi keadaan sistem.4) dengan T adalah temperatur mutlak. Hal ini kemudian merupakan pernyataan umum hukum termodinamika kedua: Entropi total sistem ditambah perubahan entropi lingkungannya sebagai akibat dari proses alamiah. yaitu dalam besaran yang disebut entropi.