Tulisan yang pantas untuk dibaca para pelajar dan mahasiswa saat iniyang belum pernah melihat di tv tahun

1998/99 setiap hari tentara membubarkan demonstran dengan peluru dan tank, seperti di medan tempur.

Disusun oleh : Edy Pekalongan 2007

Buku Karya Edy Pekalongan

Buku Anahata , Motivasi Inspirasi . ISBN 978 – 602 – 19498 – 1-8. Buku ini mengajak pembaca mengolah perasaannya menjadi seluas samudra sehingga memiliki sifat kuat, tenang dan damai. Memahami bahwa sesungguhnya terlahir sebagai manusia adalah karunia yang luar biasa, gunakanlah kesempatan ini untuk belajar memahami tujuan penciptaan anda di planet bumi ini, bukan hanya sekedar menghabiskan usia dengan makan, minum, sex, mencari uang, mengurus keluarga dan tidur. Dalam diri manusia ada keistimewaan, hanya tidak semua manusia mengetahuinya dan mengembangkannya. Buku ini akan memotivasi anda agar berani menjadi diri sendiri dan menginspirasi anda agar berani bertindak mewujudkan cita cita. Harga : 77 ribu rupiah Info Kunjungi : http://edypekalongan.blogspot.com/2011/12/karyaku-untuk-indonesia-2012.html

TITIK TERANG DALAM KEGELAPAN
Sebuah catatan tentang Reformasi Indonesia, Suara Pembaharuan , 29 Januari 2001 *)
( kalau anda siap mendengar kebenaran yang pahit, membuat telinga panas, pikiran anda terkejut, silahkan baca tulisan ini. Anda akan ikut merasakan gejolak masyarakat setelah reformasi di tahun 2001 ketika artikel ini dimuat.)

“Sekarang dimana mana orang kecewa.” Kata Bung Hatta pada 1956, seminggu sebelum dia meletakkan jabatan wakil presiden, “ Indonesia yang adil, yang kita perjuangkan itu ,masih jauh sekali,” . Penilaian Bung Hatta itu dinyatakan pada akhir tahun 1950-an, ketika masa singkat percobaan demokrasi akan segera berakhir. Tetapi penilaian itu jadi berguna kembali sekarang ini, ketika demokrasi sedang muncul kembali. “kalau mengamati perkembangan terakhir dalam negara dan masyarakat, kita mendapat kesan bahwa setelah kemerdekaan Indonesia dicapai dengan pengorbanan besar, maka para pemimpin yang idealis dan juga para pejuang kemerdekaan itu didesak ke belakang “ kata Hatta, “Dan yang kemudian muncul di depan adalah para bandit politik-ekonomi, Mereka menunggangi gerakan kemerdekaan, memakai slogan -slogannya dan mereka membonceng di belakang banyak parpol untuk kepentingan dirirnya sendiri. Akibatnya, muncul anarki politik dan ekonomi, diikuti dengan banjirnya korupsi dan demoralisasi “ Dengan sedih Bung Hatta merenungkan kembali mereka yang sudah begitu banyak berkorban, tetapi sekarang hasilnya begitu mengecewakan .

“jelas, bukan kemerdekaan seperti ini yang pernah di bayangkan oleh para pejuang kemerdekaan.” Kesedihan Hatta pasti jauh lebih mendalam kalau dia tahu akibatnya 10 tahun kemudian, ketika hampir satu juta rakyat Indonesia yang tidak berdosa kemudian dibunuh secara mengenaskan oleh diktator yang paling buas pada abad ke-20. Apa yang akan dia katakan seandainya tahu bahwa demokrasi kemudian dibungkam selama 40

tahun, ketika elite yang berkuasa menjarah kekayaan tanah airnya dan menenggelamkan bangsanya dalam tumpukan utang. TIGA GADIS COKELAT Meskipun pemikirannya tajam penuh perasaan, oleh banyak orang Indonesia Bung Hatta dikenang sebagai intelektual yang kering dan tidak bisa dekat dengan hati rakyatnya. Untuk menangkap semangat dan sekaligus kesedihan dalam perjuangan menegakkan keadilan, kita perlu mendengar suara aktivis lain, yang lebih akrab dengan jiwa bangsa Indonesia Seratus tahun yang lalu, dipantai utara jawa, seorang aktivis wanita menulis kalimat ini, “ ini cerita tentang tiga orang gadis cokelat, anak negeri timur yang panas. Mereka lahir dengan dengan mata buta yang diusahakan orang untuk melihat. Disuruh melihat, menikmati dan mengagumi yang indah, yang bernilai dalam hidup. Dan sekarang, setelah mata mereka terbiasa akan cahaya dan keindahan, setalah mereka mencintai matahari,mencintai lingkungan indah dunia yang telah diterangi, mereka merasai lagi kain penutup mata dipasang. Mereka didorong kembali kedalam kegelapan, tempat asal mereka dan tempat dimana semua orang dan setiap warga nenek moyangnya hidup.! “ Aktivis muda itu bernama kartini

Dari satu sisi, tiga bersaudara Kartini itu mengingatkan kita bahwa perjuangan dalam hidup ini tidak pernah mengikuti satu garis yang lurus. Satu kemenangan bisa disusul dengan kekalahan. Pada akhirnya ketiga gadis itu memang harus masuk kedalam pingitan, kembali lagi ke kegelapan. Tetapi berbeda dengan generasi nenek moyangnya, ketiga gadis itu sudah pernah melihat cahaya. Memang kemudian mereka harus hidup lagi dalam kegelapan, tetapi apa yang sudah mereka lihat, yang sudah mereka rasakan, tidak dapat lagi dihapuskan. Memang kemudian,selama belasan tahun dalam pingitan, mereka terus bekerja untuk mendidik bangsanya dan mendidik kaumnya. Dalam surat - surat mereka, kita bisa menangkap pesan lain yang lebih halus, yang lebih tersamar. Memang mudah untuk menindas budak yang seumur hidupnya hanya mengenal belenggu penindasan. Tetapi jauh lebih susah untuk terus menindas mereka yang sudah pernah berhasil berjuang membebaskan dirinya.

Kata kata Hatta dan Kartini penting untuk direnungkan pada titik menentukan dalam sejarah Indonesia seperti sekarang ini. Dengan banyak penderitaan dan pengorbanan, bangsa Indonesia baru saja membebaskan diri dari suatu jaman penindasan yang panjang. Mereka baru saja menyingkap tabir kegelapan Kartini dan melihat kembali cahaya. Mula mula banyak yang merasakan kegairahan dan harapan baru. Itu bisa dipahami.tetapi kalau kemudian kegairahan dan harapan itu berubah menjadi rasa muak dan kecewa, itu juga bisa dipahami. Renungan Hatta dan Kartini menunjukkan segi lain dari semangat manusia. Kita diingatkan bahwa cahaya tidak pernah datang dengan sendirinya. Selalu harus ada orang orang yang mendobrak dalam kegelapan. Mereka orang orang yang nyata, yang sudah benar benar berjuang dan benar benar berkorban.

== Tetapi yang mau terus menebar kegelapan itu juga orang - orang dan kekuatan kekuatan sosial yang nyata. Yang menurut Hatta, mereka adalah “para bandit politik-ekonomi”. Orang Orang istimewa Dalam setiap negara pada setiap zaman ada cukup banyak oportunis. Seperti pemerintah kolonial Hindia Belanda sebelumnya, rezim militer Suharto berhasil membeli dan mengancam banyak orang sehingga mereka menjadi penghianat cita cita bangsa. Cita - cita luhur untuk menciptakan masyarakat adil makmur dan mewujudkan negara hukum, yang tercantumkan dalam undang undang dasar 1945. Tetapi walaupun ribuan bahkan jutaan orang sudah berhianat, tak ada satupun diktator atau rezim penindas yang pernah berhasil membeli semua orang menjadi penghianat. Selalu ada yang tidak pernah menyerah, yang tidak pernah bisa dibeli. Mereka tidak tergiur semanis apapun imbalan dan tidak gentar sekejam apapun apapun ancamannya. Mereka adalah putra putri terbaik bangsa Indonesia. Kalau dalam film atau dongeng, kita banyangkan orang -orang itu seperti satria yang gagah perkasa,

yang tampan dan cantik. Atau orang orang istimewa yang mendapat wahyu. Dalam khayalan, kita bayangkan mereka punya kekuatan gaib, yang berotot kawat dan bertulang besi. Tetapi kenyataannya lebih mengejutkan lagi. Mereka orang biasa yang tidak berbeda dengan kita. Kecuali untuk satu hal : mereka percaya penuh pada prinsip - prinsip dasar kemanusiaan dan mewujudkan prinsip - prinsip itu dengan penuh keyakinan dalam kehidupan sehari - hari. Selain itu mereka sama dengan kita, sama - sama terdiri atas darah dan daging. Ancaman telepon kepada mereka dan kepada keluarganya berhasil membuat mereka gemetar. Gebukan dan setruman listrik dari para penyiksa membuat mereka berteriak kesakitan. Perkosaan membuat mereka kehilangan harga diri dan menderita seumur hidup. Mereka juga mati kalau badannya tertembus peluru.

Orang - orang yang punya prinsip itu bukanlah orang orang yang sempurna, atau selalu bisa sepenuhnya konsisten. Mereka bukan malaikat. Mereka juga membuat kesalahan. Mereka cuma orang yang luar bisa, yang istimewa. Apapun kelemahan dan kekuatannya, ada beberapa kualitas yang khas. Mereka tidak bisa dibeli dan tidak gampang menyerah ketika menghadapi kesulitan. Dengan konsisten mereka terus memperbaiki dirinya dan mencari kawan - kawan baru dalam perjuangan menegakkan keadilan dan menegakkan martabat manusia. Pada tahun 1956 Bung Hatta memang benar ketika mengatakan bahwa mewujudkan keadilan di Indonesia itu perjuangan yang masih panjang sekali. Tetapi sekarang, seperti juga dulu, selalu ada orang yang berani melawan arus, yang terus maju selangkah selangkah menuju cita cita itu. Sebagian besar dari mereka mungkin tidak sadar bahwa mereka menjadi bagian dari proses sejarah di Indonesia yang jejaknya bisa ditelusuri ratusan tahun kebelakang, jauh sebelum kartini berjuang untuk bangsanya danuntuk kaumnya. Kalangan akar rumput Ada dua alasan mengapa penting menulis tentang orang orang luar biasa itu sekarang ini. Pertama untuk mengingatkan kita yang hidup pada zaman prihatin sekarang ini, bahwa walupun setiap hari

kita dengar berita buruk, tetapi ada banyak sekali orang Indonesia tua maupun muda, yang terus mengerjakan hal penting dan mulia. Mereka itu tidak mau bersikap sinis dan tidak pernah putus asa. Sikap mereka mempengaruhi yang lain supaya juga jangan berputus asa dan tetap percaya bahwa keadilan masih bisa diperbaiki. Alasan kedua adalah karena sejarah menunjukkan bahwa langkah langkah maju disetiap negara selalu digerakkan oleh

== orang orang istimewa itu. Bukan oleh nama nama besar dalam politik yang bisa dibaca dikoran koran. Pemain besar itu mengikuti jalan yang sebelumnya sudah dirintis oleh mereka.. Mereka yang mendapat nama ketika resiko dan bahaya sudah jauh berkurang karena sudah didobrak oleh para perintis aktivis yang tidak ternama., tidak mau menonjolkan diri dan bekerja dikalangan akar rumput. Apa yang sudah dikerjakan oleh orang orang indonsia yang istimewa itu, jauh lebih penting dari yang kita sadari. Kita masih bicara secara abstrak tentang orang orang istimewa itu. Itu bisa berbahaya karena bisa jadi akan ada orang berkuasa yang merasa diri merekalah orang - orang yang istimewa. Karena itu sebaiknya kita sebutkan beberapa orang diantaranya. Dimana bisa kita temukan orang orang itu ?. Kita tidak akan meemuka mereka dikalangan par pembesar. kalupun kita punya beberapa pemimpin yang bagus, tetapi sebagian pembesar dalam pemerintahan adalah kaum penjilat, orang orang yang berdarah dingin. Kualitasnya juga pas-pasan saja. Tidak satu pun pembesar saat ini menunjukkan kualitas pemimpin yang benar – benar bermutu. Kita juga tidak akan menemukan orang -orang yang luar biasa itu dalam kalangan para pembesar militer. Mungkin memang masih ada perwira menengah dibawah Brigjen, yang benar - benar berprinsip dan punya pandangan luas. Ada juga beberapa jenderal yang cuma ikut - ikutan saja, dan mencoba menghindari kediktatoran rezim soeharto. Tetapi sebagian besar perwira tinggi sekarang tidak lagi punya hati nurani dan kemanusiaan.

Walaupun dengan kadar yang berbeda beda., mereka semua sudah turut serta dalam berbagai operasi pembunuhan dan terror selama orde baru. Ada yang sama diantara para pembesar militer itu. Untuk mewujudkan ambisinya sendiri dalam mengejar pangkat dan kekayaan, mereka sudah menolong Soeharto dan kroni kroninya menumpuk kekayaan dalam jumlah gila gilaan.

Dengan begitu mereka bersama sama sudah menghianati cita cita luhur bangsanya. Tidak peduli berapa banyak tanda jasa dan medali yang sudah disematkan didada mereka, tidak peduli juga dimanapun mereka dikuburkan, para perwira tinggi itu tidak pernah muncul sebagai pahlawan dimata rakyat. Kita juga tidak akan menemukan satupun orang istimewa itu dalam kalangan penegak hukum dan birokrasi. Mereka sudah lama sekali menjual dirinya. Mereka sudah tenggelam dalam begitu lama dalam ketidakadilan dan korupsi, sehingga mereka sudah tidak paham lagi apa arti keadilan dan kejujuran. Orang orang itu akan terus menjadi penghalang kemajuan selama mereka masih dibiarkan berkuasa. Dimana kita bisa menemukan orang orang istimewa itu ? Kita tidak mungkin menyebutkannya satu per satu. Dan, untuk setiap orang yang kita sebut dalam tulisan ini, ada ratusan lagi yang setara., atau bahkan lebih baik dari mereka, yang namanya dan kerjanya belum pernah kita dengar. Meskipun mereka tidak pernah terdengar, tidak menonjolkan diri, kita yakin orang orang istimewa itu bisa ditemukan dalam setiap lapisan masyarakat. Mereka ada di desa maupun kota, disekolah, di universitas, rumah sakit, panti asuhan, di gereja, pura, dan mesjid - mesjid di seluruh negeri. Penulis akan mulai menyebut mereka yang tidak hanya sudah mengambil resiko dan berkorban, tetapi sudah sampai mengorbankan nyawanya sendiri untuk memperjuangkan kebebasan dan keadilan di tanah airnya. Yang pertama adalah Marsinah. Buruh wanita dari Jawa Timur itu mengorbankan nyawanya karena berani menuntut dengan cara damai tanpa kekerasan supaya buruh diperlakukan sebagai manusia. Karena itu dia diculik, disiksa, diperkosa, dan dilempar dalam keadaan setengah mati di pinggir jalan. Para pembunuh Marsinah ingin menyampaikan pesan kepada jutaan kaum buruh di Indonesia, mereka hanya aman kalau bisa

tutup mulut. Marsinah akan terus dikenang oleh bangsa Indonesia sebagai lambang keberanian, pada saat berjuang untuk keadilan, untuk orang kecil, adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Kematiannya menggugah keberanian

untuk berjuang yang kemudian terus meluas dan memuncak pada Mei 1998. Fuad Muhammad Syafrudin, lebih dikenal sebagai Mas udin, contoh lain dari mereka yang mengorbankan jiwanya untuk menegakkan suatu prinsip. Dia wartawan yang berani menyelidiki dan menulis untuk membongkar korupsi tingkat atas di Kabupaten Bantul. Berulang kali terancam namun tetap menulis. Pada 1996 dia diculik, disiksa dan dilempar dalam keadaan setengah mati di depan rumahnya di Yogyakarta. Akhirnya dia tewas dengan kepala remuk dihantam pipa. Dengan pengorbanan udin, wartawan dan pers Indonesia justru semakin sadar. Masyarakat media paham, mengadili pembunuh Udin adalah bagian dari perjuangan untuk kebebasan pers. Yap Yun Hap bersama enam orang lainnya dibunuh pada September 1999. Tubuhnya ditembus peluru ketika sedang beristirahat setelah suatu aksi di depan kampus universitas Atma Jaya di Jakarta. Yap Yun Hap, mahasiswa tehnik dari UI itu menjadi lambang dari pentingnya gerakan mahasiswa di jalanan dan besarnya resiko yang harus mereka hadapi. Ketika mahasiswa lainnya sedang enak enak dirumah atau ngobrol di kantin kantin kampus, anak muda itu berdiri bahu membahu dengan kawan kawannya, menolak di berlakukannya Undang Undang PKB oleh pemerintah Habibie yang akan menghambat proses demokrasi. Presiden Habibie dan para jendralnya mengira mereka bisa mengesahkan UU-PKB ketika banyak orang sedang lengah. Hanya dengan tekat dan pengorbanan anak anak muda seperti Yap, kelicikan pemerintah habibie itu bisa di bongkar. Kebenaran Jafar Siddiq Hamzah termasuk orang Indonesia yang istimewa walaupun dia sudah menjadi penghuni tetap di Amerika serikat. Sama seperti mereka yang sudah disebutkan tadi, dia juga yakin pada perjuangan untuk keadilan dengan jalan demokratis dan tanpa kekerasan. Tekatnya untuk berjuang dengan cara cara damai menjadi ancaman besar untuk para penindas di Aceh. Menurut

== Sidney Jones, tokoh yang dihormati dari Human Right Watch Asia, “Jafar adalah salah satu pembela HAM paling gigih yang saya kenal “. Melalui International forum untuk Aceh, Jafar berusah mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi di Aceh, baik kepada masyarakat Internasional maupun kepada bangsa Indonesia sendiri. Khususnya, dia mau membeberkan bagaimana rakyat Aceh sudah ditindas dengan sangat kejam selam bertahun tahun. Pada Agustus 2000, Jafar yang tutur katanya lemah lembut itu diculik, dan selama sebulan dia disiksa oleh para penculiknya sementara pemerintahan Abdurahman Wahid tidak melakukan apa apa untuk mencari dia. Akhirnya jenasahnya ditemukan di suatu jurang bersama tiga orang lainnya. Wajahnya hancur dan tubuhnya dililit kawat berduri. Ada lagi yang penulis sebut “ kelompok 18”. Mereka empat mahasiswa trisakti dan enam mahasiswa perguruan tinggi lain, dan delapan orang lagi- adalah putra putri bangsa Indonesia yang tewas dalam pembunuhan di Trisakti dan Semanggi. Anak - anak muda itu di tembak mati degan senapan militer. Beberapa diantaranya ditembak kepalanya oleh para penembak jitu, yang jelas - jelas berasal dari kalangan militer. Siapa “kelompok 18” itu ? apa arti pengorbanan mereka untuk negerinya? Mengapa mereka tetap berdiri di garis depan walupun sudah berulang kali dilarang keluarganya? Yang pasti, mereka tidak turun ke jalan untuk mati. Mereka semua tahu, yang ikut aksi dijalanan memang menghadapi bahaya, memang ada resikonya. Tetapi, mungkin tidak satu pun diantara mereka percaya, tentara akan menembak mati demonstran yang tidak bersenjata. Mereka ikut turun ke jalan karena sadar ,perubahan tidak akan terjadi kalau tidak ada yang mau maju kedepan dan ikut aksiaksi. Mereka paham, hak dan juga kebebasan tidak pernah didapat kalau hanya menunggu dengan pasif. Keduanya harus diperjuangkan. Mereka yang mengorbankan jiwanya itu punya andil yang harus di ingat oleh setiap wartawan yang sekarang bisa menulis

berita kriminal tanpa rasa takut, oleh setiap penerbit yang sekarang bisa terbit tanpa takut dibredel, oleh setiap orang Indonesia yang sekarang bisa bicara terbuka, tidak harus bisik bisik.; oleh setiap guru yang mulai bisa mengajarkan kebenaran dan bukan kebohongan rezim orba., oleh setiap anggota DPR yang sekarang bisa berdiri tegak meghadapi pemerintah dan juga kaum militer. Ketika Marsinah, Udin, jafar, dan Yap itu tewas dibunuh, atau ketika ratusan ribu rakyat Timor Timur di musnahkan, atau ketika satu juta orang di bantai dalam beberapa minggu pada 1965, dimana keadilan ? keadilan bagi mereka hanya bisa ditegakkan dengan menuntut pertanggungjawaban. Harus ditanyakan terus, siapa yang membunuh? Bagaimana ? mengapa? Menemukan jawabnnya sama pentingnya dengan menghukum mereka yang bertanggungjawab.

Setiap generasi
Orang orang Indonesia yang sudah menjadi titik terang dalam kegelapan itu bukan hanya mereka yang mengorbankan jiwa raganya untuk demokrasi dan keadilan, tetapi juga mereka yang masih terus berjuang untuk cita cita itu. Orang orang istimewa itu muncul dalam setiap generasi dan berjuang untuk tujuan yang sama. Penulis akan mulai dengan menyebutkan dua orang yang sudah berumur tapi semangatnya masih menggebu gebu seperti anak muda.Pertama, Pramudya Ananta Toer, orang Indonesia tidak bisa paham sejarahnya sendiri sebelum membaca dan memahami karya - karya pram. Dia berjasa karena pandangannya yang konsisten dan juga karena menolak permintaan maaf yang diucapkan oleh para elit sekarang untuk kejahatan masa lalu. Pram mengerti sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh Presiden Wahid dan kawan-kawannya; kalau sekarang ini hukum tidak bisa ditegakkan bagi mereka yang tangannya berlumuran darah, maka tidak ada dasar untuk percaya bahwa hukum akan bisa ditegakkan bagi penjahat dimasa depan. Keadilan itu terwujud pada saat dia di tegakkan. Keadilan dimulai pada saat pertama kali diadakan penyelidikan, diikuti dengan tuntutan dan hukuman yang sungguh - sungguh bisa dijalankan. Sebelum itu yang ada hanya omong kosong, basa basi, yang biasanya keluar dari mulut mereka yang paling takut dengan keadilan. Pram sering bilang, dia tidak percaya kalau generasi sekarang dan generasi yang lebih tua akan membawa perubahan yang berarti di Indonesia , itu adalah cara pram bicara kepada generasi yang lebih muda. Dia ingin mengatakan, merekalah satu satunya harapan bagi negaranya. Pikiran seperti itu subversive, tetapi sekaligus juga mengilhami.

Dari pada mendengar nasehat dari otokrat seperti Lee Kwan Yew atau orang culas seperti Henry Kissinger, Presiden Wahid, Mengawati dan para jendral TNI akan belajar lebih banyak kalau seminggu sekali mereka mendengar pandangan Bung Pram, yang sudah bersimbah darah dan air mata untuk memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan bagi bangsanya. Ibu Sulami adalah titik terang lain dari generasi Pram. Sama dengan Pram, dia juga mendapat kehormatan untuk dipenjarakan Soeharto selama puluhan tahun. Tidak peduli berapa lamanya diadipaksa meringkuk dalam penjara dengan jari jari tangan yang dibikin remuk oleh penyiksanya. Tekat ibu Sulami menegakkan kebenaran dan keadilan itu tidak pernah bisa dipadamkan.Baru baru ini dia mendirikan suatu lembaga untuk menyelidiki dan mendokumentasikan, desa demi desa, apa yang sebenarnya terjadi dalam pembunuhan massal 1965. Kepada bangsanya ibu sulami mengajukan dua pertanyaan sederhana, tetapi dalam maknanya. Pertama, mengapa kita terus percaya pada suatu rejim yang sudah terbukti penuh dengan para pembohong, koruptor dan pembunuh ? kedua, apakah kita cukup jantan menghadapi masalah kita sendiri ? Bangsa Indonesia juga punya banyak pejuang kemerdekaan dari generasi muda. Kita kenal Hendardi dan T. Mulya Lubis, yang berjuang dalam bidang hukum. Kualitas kedua pejuang itu sebenarnya lebih dari cukup untuk memimpin Mahkamah Agung, dibandingkan tokoh tokoh hukum dari sisa sisa rezim Suharto, yang dicalonkan DPR. Kita kenal juga Wardah Hafidz, Koordinator dari Urban Poor Consorsium, yang bekerja tanpa kenal lelah di kalangan paling bawah, membangun kekuatan dan juga harga diri dari kaum miskin kota. Ada juga Romo Sandyawan yang sangat berani membela korban perkosaan massal terhadap wanita Tiong Hoa pada Mei 1998.

Dari kalangan lebih muda lagi, ada tokoh seperti Budiman Sudjatmiko dan teman temannya di PRD. Sejarah mencatat bagaimana anak - anak muda dari PRD itu sudah lama bergerak di jalanan menuntut Soeharto turun dan diadili, menuntut di cabutnya Dwi fungsi, dihapusnya 5 UU-politik, kenaikan upah buruh, dan menuntut keadilan untuk rakyat Timor Timur dan daerah daerah lainnya. Jauh sebelum Megawati dan PDI berani bersuara. Jauh sebelum tokoh seperti Amin Rais, Habibie dan bahkan Harmoko menobatkan dirinya sendiri sebagai reformis. Sistem hukum orba begitu cepat dijalankan ketika keluar tuduhan bahwa anak-anak muda PRD itu yang mendalangi Peristiwa 27 Juli, walupun bukti buktinya lemah, mereka cepat ditangkap, diadili dan dihukum. Tetapi hukum yang sama begitu lambat dijalankan ketika pembesar militer yang diselidiki dengan tuduhan yang sama dan dengan bukti bukti yang jauh lebih kuat.

TELADAN
Terakhir kita harus mencatat Munir. Dia tokoh paling hebat yang muncul dari HMI dan salah satu orang Indonesia yang bisa dijadikan teladan. Keadilan dan demokrasi di Indonesia, yang menurut Bung Hatta masih begitu jauh, pasti bisa dicapai hanya dalam beberapa tahun saja seandainya tokoh seperti Munir itu bisa di clone, difotokopi, atau bisa menitis menjadi ribuan orang lalu mengorganisasi rakyat untuk mengadakan perubahan. Resminya Munir adalah pendiri Kontras, melalui organisasi itu melakukan kerja yang sangat penting. Tetapi, arti pentingnya buat Indonesia jauh lebih besar lagi. Setiap kali ada pernyataan yang kejam atau gegabah dari para pejabat, Munir mengeluarkan pernyataan tandingan. Setiap kali muncul tindakan aparat negara, polisi atau militer, yang melawan keadilan dan demokrasi, Munir melawan kembali dengan berani. Ketika Presiden Wahid menyambut hangat kembalinya Prabowo ke Jakarta , dan Megawati memuji muji Kopassus, Munir terus berbicara tentang penculikan dan penyiksaan terhadap sembilan orang aktivis gerakan demokrasi dan tentang “hilang”-nya 15 orang aktivis lainnya. Pesan yang ingin disampaikan itu sederhana dan elas. Mula mula harus dibuktikan memang benar ada tanggung jawab dan keadilan. Setelah itu baru ada maaf, pujian, perlengkapan dan senjata baru. Munir dengan Kontras mengeluarkan data pelanggaran HAM oleh militer, seperti pembunuhan dan penyiksaan, terbukti meningkat sejak Presiden Wahid berkuasa. Mereka membuktikan, perjuangan untuk mengakhiri penindasan militer adalah perjuangan hari ini, bukan soal masa lalu. Ketika Wiranto mengeluarkan albumnya, Munir dengan jitu menyatakan peluncuran itu memuakkan. Ketika Yusril mencoba memakai namanya untuk menggolkan RUU-PKB, dengan cepat Munir menyatakan dia tidak mau ikut campur, dan RUU- PKB itu bertentangan dengan keadilan dan demokrasi. Pikiran yang jernih dan prinsip yang dipegang teguh itu jarang ditemukan dinegara manapun. Tetapi khususnya kedua hal itu sukar sekali ditemukan dalam kalangan elite Indonesia. Segi paling penting dari pemikiran dan sumbangan Munir adalah kesadaran dia, bahwa membangun landasan yang kokoh untuk keadilan dan demokrasi orang harus mulai dari bawah keatas. Orang harus mau berjuang terus menerus dalam lapisan akar rumput.

Ketika menerima Rights Livelihood Award tahun 2000, Munir mengatakan tugas paling penting dari kontras adalah, “membangun jaringan antara orang orang biasa untuk mengubah alam pikiran masyarakat setelah puluhan tahun hidup dalam alam totaliter.” Dalam satu wawancara Munir bilang dia merasa malu kalau orang menganggap dia pahlawan, “saya bukan pahlawan”. Dia hanya berharap. “sudah melakukan sesuatu yang baik dan berguna'. Kita hanya bisa mengatakan dia memang sudah melakukan itu. “ Hak Asasi bukan soal hukum,” katanya. “itu juga berarti gerakan masyarakat”. Karena pemikiran dan kegiatannya, kantornya pernah dilempar bom dan satu truk polisi lewat di depan kantornya sambil melepaskan tembakan. Orang seperti Pram, Sulami dan munir itu paham apa yang dimaksud Kartini dengan mata sudah terbuka. Pertama, itu berarti kita harus mendobrak kegelapan dalam alam pikiran. Berikutnya adalah keberanian untuk bertindak, untuk bergerak melakukan sesuatu, yang akhirnya membuat kita benar benar bisa melihat. Setiap hari jutaan orang Indonesia menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia: Indonesia Raya. Kata-kata “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”. Adalah seruan untuk membangkitkan kesadaran yang kemudian dilanjutkan dengan tindakan. Orang orang Indonesia yang disebut tadi, dan banyak lagi yang tidak dapat penulis sebutkan adalah mereka yang paham makna kata kata itu dan sudah membuat kata kata itu menjadi hidup dan mengilhami kita dalam kegelapan ini. (selesai)

Catatan penulis : Munir sudah meninggal di bunuh (2004) , Pramudya Ananta Toer sudah wafat tahun 2006 karena lanjut usia. *) Dimuat dalam buku : “Orba jatuh, Orba bertahan? (Analisa Ekonomi Politik 1998-2004) “ Karya : Prof. Jeffrey A. Winters

Penutup semoga arsip tulisan ini ada manfaatnya. komentar silahkan bisa melalui email: edy_pekalongan @yahoo.co.uk terima kasih.