You are on page 1of 8
LAPORAN PRAKTIKUM Materi Praktikum Hari / Tanggal Nama Kelompok : Cara Pembacaan Sudut : Jum’at - Sabtu/ 02-03Desember 2011 : Helmy Mukti Wijaya Andri Anggara Syauqi Nurul A’dhom Arsenius Basilius Wio Carlos M.E.G Andrade Peralatan : Sokhisa TM 20H/D10127 Statif/Tripod Rambu Ukur Patok/Paku Payung Roll Meter A. Pelaksanaan Praktikum : 1. Menentukan titik awal pengukuran yang digunakan. 2. Memberi tanda pada titik awal tersebut dengan menggunakan paku payung sebagai titik P1. 3. Menentukan titik A yang berjarak 15 meter didepan titik P1, dan titik B yang berjarak 20 meter didepan titik P1. 4. Mendirikan tripod tepat diatas titik P1 dan meletakkan alat ukur theodolite diatas tripod tersebut dengan menyekrup bagian bawahnya. 5. Centering pesawat sehingga alat siap digunakan 6. Pasang rambu ukur dititik A dan B 7. Ubah piringan limbus pada kuadran I yaitu kisaran 00 - 900 8. Arahkan teropong ke titik patok A dengan bacaan biasa 9. Baca sudut Horisontal dan Vertikal di titik A dalam keadaan biasa 10. Setelah mendapatkan sudut Horisontal dan Vertikal di titik A, pindahkan teropong dan bidik ke titik B dengan bacaan biasa (11.25.019) (11.25.028) (11.25.009) (11.25.038) (11.25.033) (1 buah) (1 buah) (1 buah) (3 buah) (1 buah) 11. Baca sudut Horisontal dan Vertikal di titik B dalam keadaan biasa 12. Setelah bacaan biasa titik B selesai, putar teropong sebesar 180 0 untuk mendapatkan baccan luar biasa di titik B 13. Baca sudut Horisontal dan Vertikal di titik B dalam keadaan luar biasa 14. Setelah selesai mendapatkan sudut luar biasa di B, pindahkan dan bidik kembali ke titik A dalam keadaan luar biasa 15. Baca sudut Horisontal dan Vertikal di titik A dalam keadaan luar biasa 16. Lakukan hal yang sama seperti nomor 8-15 pada setiap masing masing kuadran yaitu : a) kuadran II kisaran 900-1800 b) kuadran III kisaran 1800-2700 c) kuadran IV kisaran 2700-3600 d) dan set 000000 B. Perhitungan Data Kuadran I (0o - 90o) Ti = 1.46 m Bacaan skala rambu pada titik A dan titik B sebagai berikut : Titik A Benang Atas Benag Bawah = 1250 mm = 1100 mm Titik B Benang Atas Benag Bawah = 1275 mm = 1075 mm Benang Tengah = 1175 mm 1. Perhitungan Jarak Optis Benang Tengah = 1175 mm DA – P1 = (Benang atas – Benang Bawah) * 100 = (1250 - 1100) * 100 = 15000 mm = 15 m DB – P1 = (Benang atas – Benang Bawah) * 100 = (1275 - 1075) * 100 = 20000 mm = 20 m 2. Perhitungan Jarak Datar DA – P1 = (Benang atas – Benang Bawah) * 100 * Sin2 Z = (1250 - 1100) * 100 * Sin2 900 54’ 40” = 14996.207 mm = 14.996 m DB – P1 = (Benang atas – Benang Bawah) * 100 * Sin2 Z = (1275 - 1075) * 100 * Sin2 900 51’ 00” = 19995.598 mm = 19.995 m 3. Perhitungan Beda Tinggi ∆HTi - A= (Ti - BT) + (Ddatar* Cotg Z) = (1.46 – 1.175) + (14.996 * Cotg 900 54’ 40”) = 0.285 + (-0.238) = 0.047 m ∆HTi - B= (Ti - BT) + (Ddatar* Cotg Z) = (1.46 – 1.175) + (19.999 * Cotg 900 51’ 00”) = 0.285 + (-0.297) = -0.012 m Kuadran II (90o -180o) Ti = 1.46 m Bacaan skala rambu pada titik A dan titik B sebagai berikut : Titik A Benang Atas Benag Bawah = 1350 mm = 1200 mm Titik B Benang Atas Benag Bawah = 1375 mm = 1175 mm Benang Tengah = 1275 mm 1. Perhitungan Jarak Optis Benang Tengah = 1275 mm DA – P1 = (Benang atas – Benang Bawah) * 100 = (1350 - 1200) * 100 = 15000 mm = 15 m DB – P1 = (Benang atas – Benang Bawah) * 100 = (1375 - 1175) * 100 = 20000 mm = 20 m 2. Perhitungan Jarak Datar DA – P1 = (Benang atas – Benang Bawah) * 100 * Sin2 Z = (1350 - 1200) * 100 * Sin2 900 42’ 20” = 14997.725 mm = 14.998 m DB – P1 = (Benang atas – Benang Bawah) * 100 * Sin2 Z = (1375 - 1175) * 100 * Sin2 900 39’ 20” = 19997.382 mm = 19.997 m 3. Perhitungan Beda Tinggi ∆HTi - A= (Ti - BT) + (Ddatar* Cotg Z) = (1.46 – 1.275) + (14.998 * Cotg 900 42’ 20”) = 0.185 + (-0.1846) = 0.0003 m ∆HTi - B= (Ti - BT) + (Ddatar* Cotg Z) = (1.46 – 1.275) + (19.997 * Cotg 900 39’ 20”) = 0.185 + (-0.229) = - 0.044 m Kuadran III (180o - 270o) Ti = 1.46 m Bacaan skala rambu pada titik A dan titik B sebagai berikut : Titik A Benang Atas Benag Bawah = 1450 mm = 1300 mm Titik B Benang Atas Benag Bawah = 1475 mm = 1275 mm Benang Tengah = 1375 mm 1. Perhitungan Jarak Optis Benang Tengah = 1375 mm DA – P1 = (Benang atas – Benang Bawah) * 100 = (1450 - 1300) * 100 = 15000 mm = 15 m DB – P1 = (Benang atas – Benang Bawah) * 100 = (1475 - 1275) * 100 = 20000 mm = 20 m 2. Perhitungan Jarak Datar DA – P1 = (Benang atas – Benang Bawah) * 100 * Sin2 Z = (1450 - 1300) * 100 * Sin2 900 19’ 20” = 14999.525 mm = 14.999 m DB – P1 = (Benang atas – Benang Bawah) * 100 * Sin2 Z = (1475 - 1275) * 100 * Sin2 900 14’ 40” = 19999.636 mm = 19.999 m 3. Perhitungan Beda Tinggi ∆HTi - A= (Ti - BT) + (Ddatar* Cotg Z) = (1.46 – 1.375) + (14.999 * Cotg 900 19’ 20”) = 0.085 + (-0.0842) = 0.0006 m ∆HTi - B= (Ti - BT) + (Ddatar* Cotg Z) = (1.46 – 1.375) + (19.999 * Cotg 900 14’ 00”) = 0.085 + (-0.0814) = 0.0036 m Kuadran IV (270o - 360o) Ti = 1.46 m Bacaan skala rambu pada titik A dan titik B sebagai berikut : Titik A Benang Atas Benag Bawah = 1550 mm = 1400 mm Titik B Benang Atas Benag Bawah = 1575 mm = 1375 mm Benang Tengah = 1475 mm 1. Perhitungan Jarak Optis Benang Tengah = 1475 mm DA – P1 = (Benang atas – Benang Bawah) * 100 = (1550 - 1400) * 100 = 15000 mm = 15 m DB – P1 = (Benang atas – Benang Bawah) * 100 = (1575 - 1375) * 100 = 20000 mm = 20 m 2. Perhitungan Jarak Datar DA – P1 = (Benang atas – Benang Bawah) * 100 * Sin2 Z = (1250 - 1100) * 100 * Sin2 890 56’ 20” = 14999.925 mm = 14.999 m DB – P1 = (Benang atas – Benang Bawah) * 100 * Sin2 Z = (1275 - 1075) * 100 * Sin2 890 52’ 00” = 19999.892 mm = 19.999 m 3. Perhitungan Beda Tinggi ∆HTi - A= (Ti - BT) + (Ddatar* Cotg Z) = (1.46 – 1.475) + (14.999 * Cotg 890 56’ 20”) = -0.015 + (0.01599) = 0.00099 m ∆HTi - B= (Ti - BT) + (Ddatar* Cotg Z) = (1.46 – 1.475) + (19.999 * Cotg 890 52’ 00”) = -0.015 + (0.0465) = 0.0315 m SET (0o 0’ 0”) Ti = 1.46 m Bacaan skala rambu pada titik A dan titik B sebagai berikut : Titik A Benang Atas Benag Bawah = 1650 mm = 1500 mm Titik B Benang Atas Benag Bawah = 1675 mm = 1475 mm Benang Tengah = 1575 mm 1. Perhitungan Jarak Optis Benang Tengah = 1575 mm DA – P1 = (Benang atas – Benang Bawah) * 100 = (1650 - 1500) * 100 = 15000 mm = 15 m DB – P1 = (Benang atas – Benang Bawah) * 100 = (1675 - 1475) * 100 = 20000 mm = 20 m 2. Perhitungan Jarak Datar DA – P1 = (Benang atas – Benang Bawah) * 100 * Sin2 Z = (1650 - 1500) * 100 * Sin2 890 48’ 00” = 14999.817 mm = 14.999 m DB – P1 = (Benang atas – Benang Bawah) * 100 * Sin2 Z = (1675 - 1475) * 100 * Sin2 890 45’ 20” = 19999.636 mm = 19.999 m 3. Perhitungan Beda Tinggi ∆HTi - A= (Ti - BT) + (Ddatar* Cotg Z) = (1.46 – 1.575) + (14.999 * Cotg 890 48’ 00”) = -0.115 + (0.052) = - 0.063 m ∆HTi - B= (Ti - BT) + (Ddatar* Cotg Z) = (1.46 – 1.575) + (19.999 * Cotg 890 45’ 20”) = -0.115 + (0.064) = -0.0296 m LEMBAR ASISTENSI Tanggal Risalah Paraf 02 – 12 -2011 • Laporan Praktikum “Pembacaan Sudut Horisontal dan Vetikal” • Sketsa Situasi • Sketsa Pengukuran • Perhitungan Data • Tabel Pengukuran Poligon • Tabel Koreksi 03– 12 -2011 • Acc Laporan Praktikum “Asisten Dosen” • Praktikum Ulang dengan alat yang baik 04– 12 -2011