Home Pharmacy Care Sebagai Model Pelayanan Kefarmasiaan Prima BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Pelayanan kefarmasian merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan dan merupakan wujud pelaksanaan Pekerjaan Kefarmasian berdasarkan Undang-Undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. Saat ini paradigma pelayanan kefarmasian telah bergeser dari pelayanan yang berorientasi pada obat (drug oriented) menjadi pelayanan yang berorientasi pada pasien (patient oriented) yang mengacu pada azas Pharmaceutical Care. Kegiatan pelayanan yang semula hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai komoditi bertambah menjadi pelayanan yang komprehensif berbasis pasien dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup pasien. Konsekuensi dari perubahan paradigma tersebut maka apoteker dituntut untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan agar mampu berkomunikasi dengan tenaga kesehatan lain secara aktif, berinteraksi langsung dengan pasien di samping menerapkan keilmuannya di bidang farmasi. Apoteker di sarana pelayanan kesehatan mempunyai tanggung jawab dalam memberikan informasi yang tepat tentang terapi obat kepada pasien. Apoteker berkewajiban menjamin bahwa pasien mengerti dan memahami serta patuh dalam penggunaan obat sehingga diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan terapi khususnya kelompok pasien lanjut usia dan pasien dengan penyakit kronis. Menurut Kinsella & Taeuber (1993), populasi lanjut usia Indonesia diperkirakan akan meningkat dengan pesat 414 % dari tahun 1990-2025 suatu angka tertinggi didunia. Umur harapan hidup orang Indonesia mencapai 70 tahun atau lebih pada tahun 2015-2020. Peningkatan umur harapan hidup akan berdampak bertambahnya kelompok lanjut usia dan meningkatnya masalah kesehatan, antara lain masih tingginya infeksi penyakit kronis dan peningkatan penyakit degeneratif. Kondisi ini menyebabkan kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan jangka panjang dan berkesinambungan menjadi meningkat.

1. Terselenggaranya pelayanan kefarmasian di rumah yang tepat sesuai kebutuhan d. 1.1 Home Pharmacy Care 2. Tujuan c. Meningkatkan kompetensi apoteker dalam melakukan pelayanan kefarmasian di rumah. Pelayanan kefarmasian di rumah oleh apoteker diharapkan dapat memberikan pendidikan dan pemahaman tentang pengobatan dan memastikan bahwa pasien yang telah berada di rumah dapat menggunakan obat dengan benar. Bagaimana kondisi kekinian home pharmacy care di Indonesia? pelayanan kefarmasian di rumah yang tepat sesuai kebutuhan b. BAB II ISI 2. asma dan obat-obat untuk penyakitkronis lainnya. Meningkatkan kompetensi apoteker dalam melakukan pelayanan kefarmasian di rumah. TB. Pengertian Home Pharmacy Care . Rumusan Masalah a. pasien yang menggunakan obat dalam jangka waktu lama seperti penggunaan obat-obat kardiovaskuler.1.2.3. maka 1. diabetes. Berdasarkan hal diatas.Salah satu pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat tersebut adalah melalui pelayanan kefarmasian di rumah yaitu pelayanan kepada pasien yang dilakukan di rumah khususnya untuk kelompok pasien lanjut usia.

Tujuan a) Tercapainya keberhasilan terapi obat (tujuan umum) efektifitas. yaitu pasien yang memiliki kemungkinan mendapatkan risiko masalah terkait obat misalnya komorbiditas. lanjut usia. keterlibatan dan kemandirian pasien dan keluarga dalam penggunaan obat dan atau alat kesehatan yang tepat d) Terwujudnya kerjasama profesi kesehatan. Pelayanan kefarmasian di rumah terutama untuk pasien yang tidak atau belum dapat menggunakan obat dan atau alat kesehatan secara mandiri. 2. pasien dan keluarga b) Terlaksananya pendampingan pasien oleh apoteker untuk mendukung 2.2. efektifitas dan keterjangkauan biaya pengobatan b) Meningkatkan pemahaman dalam pengelolaan dan penggunaan obat dan/atau alat kesehatan c) Terhindarnya reaksi obat yang tidak diinginkan d) Terselesaikannya masalah penggunaan obat dan/atau alat kesehatan dalam situasi tertentu 2. kompleksitas pengobatan. Tujuan dan Manfaat Home Pharmacy Care 2. Manfaat 1. kebingungan atau kurangnya pengetahuan dan keterampilan tentang bagaimana menggunakan obat dan atau alat kesehatan agar tercapai efek yang terbaik. Bagi Apoteker a) Pengembangan kompetensi apoteker dalam pelayanan kefarmasian di rumah . lingkungan sosial.Home Pharmacy Care atau pelayanan kefarmasian di rumah oleh apoteker adalah pendampingan pasien oleh apoteker dalam pelayanan kefarmasian di rumah dengan persetujuan pasien atau keluarganya.2.1. karateristik obat. kompleksitas penggunaan obat. Bagi pasien a) Terjaminnya keamanan.2.2.1.1. keamanan dan kesinambungan pengobatan c) Terwujudnya komitmen.1.

Peran apoteker lambat laun berubah dari peracik obat (compounder) dan suplair sediaan farmasi kearah pemberi pelayanan dan informasi dan akhirnya berubah lagi sebagai pemberi kepedulian pada pasien. pemeriksaan kelengkapan resep selalu dilakukan oleh apoteker ( hanya 35.3.37% responden). Berdasarkan hal di atas. pengelolaan obat dan ketenagaan.24% responden) dan pemeriksaan kesesuaian penulisan etiket dengan resep (sebesar 89. Kondisi kekinian Home Pharmacy Care di Indonesia Pembahasan model pelayanan prima dilakukan terhadap masing-masing item model pelayanan kefarmasian prima yang terdiri dari faktor utama yang meliputi pelayanan obat. Dalam hal pelayanan obat.2 Model Pelayanan Kefarmasiaan Prima Sesudah lebih dari 4 dekade telah terjadi kecenderungan perubahan pekerjaan kefarmasian di apotik dari fokus semula penyaluran obat-obatan kearah fokus yang lebih terarah pada kepedulian terhadap pasien. Sedangkan pelayanan obat yang paling banyak tidak dikerjakan adalah mengunjungi rumah pasien sesuai dengan kebutuhan (hanya 21. Di samping itu ditambah lagi tugas seorang apoteker .95% responden). kelengkapan bangunan dan peralatan/fasilitas yang menunjang pelayanan tersedia lengkap. pelayanan ini sangat penting dilaksanakan terkait tujuan dan manfaat dari Home Pharmacy Care.1. diketahui bahwa yang paling banyak dikerjakan di apotek adalah pemeriksaan kesesuaian jumlah/ jenis obat dengan resep (sebesar 90.80% responden) (Mun’im. 2009). pengambilan obat menggunakan sarung tangan/ alat / spatula (hanya 37. Padahal.02% responden). masyarakat umum dan pemerintah c) Terwujudnya kerjasama antar profesi kesehatan 2.b) Pengakuan profesi farmasi oleh masyarakat kesehatan. komunikasi informasi dan edukasi. dapat disimpulkan bahwa Home Pharmacy Care saat ini belum terlaksana sepenuhnya. dan faktor pendukung yang meliputi bangunan. 2.80% responden) dan pemeriksaan kerasionalan resep selalu dilakukan oleh apoteker (hanya 37. secara keseluruhan di empat kota.

pharmaceutical care adalah tanggung jawab pemberi pelayanan obat sampai timbulnya dampak yang jelas atau terjaganya kualitas hidup pasien. Pharmaceutical care (p. Banyak apoteker yang belum mau menerima tanggung jawab ini. Ketika seorang sarjana farmasi mulai bekerja setelah lulus. Para apoteker harus mempunyai kemampuan untuk meningkatkan dampak pengobatan dan meningkatkan kualitas hidup pasien dari sumber daya yang tersedia dan posisi mereka sendiri harus terdepan dalam sistem pelayanan kesehatan. Dasar pengetahuan dari sarjana farmasi sedang berubah. Jadi menurut definisi FIP.c) adalah tanggung jawab pemberi pelayanan obat sampai pada dampak yang diharapkan yaitu meningkatnya kualitas hidup pasien. Meskipun upaya untuk berkomunikasi dengan memberikan informasi . Walaupun apoteker dapat memberikan kemampuannya yang tepat pada praktek kefarmasian. Karena itu diperlukan pendidikan berkelanjutan (life-long learner) salah satu peran apoteker yang baru. berlawanan dengan pekerjaan apoteker beberapa tahun yang lalu. Pendekatan cara ini disebut "pharmaceutical care" (=asuhan kefarmasian. pekerjaan kefarmasian sudah berubah dan merupakan pengetahuan baru. apoteker dapat memberikan kontribusi yang berdampak pada pengobatan serta kualitas hidup pasien. Dengan mengambil tanggung jawab langsung pada kebutuhan obat pasien individual. Meskipun demikian seorang apoteker harus dapat bekerja sesuai dengan pendidikannya. Dengan demikian peran apoteker perlu ditetapkan kembali (redefinisi) dan diarahkan kembali (reorientasi). ( Hepler dan Strand. 1990). Pekerjaan pharmaceutical care adalah baru. lebih efektif dan seaman mungkin serta memuaskan pasien. Perubahan kearah pharmaceutical care adalah faktor yang kritis dalam proses ini. mereka tetap memerlukan pengetahuan dan ketrampilan pada peran yang akan datang. definisi itu ditambah dengan timbulnya dampak yang jelas atau menjaga kualitas hidup pasien. Lebih jelasnya lagi bahwa farmasi /apotek mempunyai peran penting dalam proses reformasi sektor kesehatan. peduli kefarmasian).adalah memberikan obat yang layak. Setelah diadopsi oleh International Pharmaceutical Federation (= FIP = ISFI-nya dunia) pada tahun 1998.

konseling dan koordinasi dengan tenaga kesehatan lain . Bertanggung jawab kepada pasien dan keluarganya terhadap pelayanan yang bermutu melalui pendidikan. Memberikan rekomendasi dalam rangka keberhasilan pengobatan f. akurat dan komprehensif i.3. apoteker juga harus memberikan kontribusi yang vital melalui manajemen terapi obat dan penyediaan obat tanpa resep ataupun terapi alternatif. 2. disimpan didistribusikan. Melakukan monitoring penggunaan obat pasien secara terus menerus j.yang benar pada pasien merupakan faktor penting dalam membantu pengobatan sendiri. Setelah lebih dari 40 tahun peran apoteker telah berubah dari penggerus dan peracik obat menjadi manajer terapi obat. Melakukan telaah (review) atas penatalaksanaan pengobatan g. Tanggung jawab ini lama kelamaan meningkat lagi dalam memberi dan menggunakan obat. Mengaplikasikan peran sebagai pengambil keputusan profesional dalam pelayanan kefarmasian sesuai kewenangan c. Menjunjung tinggi kerahasiaan dan persetujuan pasien (confidential and inform consent) e. Prinsip-prinsip Home Pharmacy Care a. disediakan. Memberikan pelayanan kefarmasian di rumah dalam rangka meningkatkan kesembuhan dan kesehatan serta pencegahan komplikasi d. kualitas obat harus diseleksi. Pengelolaan pelayanan kefarmasian di rumah dilaksanakan oleh apoteker yang kompeten b. Membuat catatan penggunaan obat pasien (Patient Medication Record) secara sistematis dan kontiniu.3 Home Pharmacy Care sebagai Model Pelayanan Kefarmasiaan Prima 2.1. diracik dan diserahkan untuk meningkatkan kesehatan pasien dan tidak menyakitinya. Menyusun rencana pelayanan kefarmasian berdasarkan pada diagnosa dan informasi yang diperoleh dari tenaga kesehatan dan pasien/keluarga h.

3. Dispensing khusus (misal: obat khusus. 2.3. dll e. Penilaian/pencarian (assessment) masalah yang berhubungan dengan pengobatan b. Pendampingan pengelolaan obat dan/atau alat kesehatan di rumah. misal cara pemakaian obat asma. Berpartisipasi dalam aktivitas penelitian untuk mengembangkan pengetahuan pelayanan kefarmasian di rumah. Pasien yang mendapat Home Pharmacy Care Kegiatan pelayanan kefarmasian di rumah tidak dapat diberikan pada semua pasien mengingat waktu pelayanan yang cukup lama dan berkesinambungan. Dokumentasi pelaksanaan pelayanan kefarmasian di rumah 2. Pendampingan pasien dalam penggunaan obat melalui infus/obat khusus g. efektifitas dan keamanan penggunaan obat termasuk alat kesehatan pendukung pengobatan k. Konsultasi masalah obat h. penyimpanan insulin. Pelayanan farmasi klinik lain yang diperlukan pasien l.3. Identifikasi kepatuhan dan kesepahaman terapeutik c. Memelihara hubungan diantara anggota tim kesehatan untuk menjamin agar kegiatan yang dilakukan anggota tim saling mendukung dan tidak tumpang tindih l. Pelayanan yang dapat diberikan oleh Apoteker Jenis Home Pharmacy Care atau pelayanan kefarmasian di rumah yang dapat dilakukan oleh Apoteker.k. Konsultasi kesehatan secara umum i.2. Evaluasi penggunaan alat bantu pengobatan dan penyelesaian masalah sehingga obat dapat dimasukkan ke dalam tubuh secara optimal f. Penyediaan obat dan/atau alat kesehatan d. unit dose) j. meliputi: a. Oleh karena itu diperlukan seleksi pasien dengan menentukan . Monitoring pelaksanaan.

Pasien minum obat 12 dosis atau lebih setiap hari.9 tahun dengan 6. Pasien.47 diagnosa. Pasien dengan terapi jangka panjang misal pasien TB. DM dll 3. Secara keseluruhan menyatakan bahwa 70. Penilaian sebelum dilakukan pelayanan kefarmasian di rumah (Preadmission Assessment ).3. Peran Apoteker dalam Home Pharmacy Care Peran apoteker dalam pelayanan kefarmasian di rumah meliputi: 1. kelayakan untuk pelayanan tersebut. Pasien. interaksi obat dan efek samping obat 2. Pasien yang menderita penyakit kronis dan memerlukan perhatian khusus tentang penggunaan obat. Pasien minum salah satu dari 20 macam obat dalam tabel 1 yang telah diidentifikasi tidak sesuai untuk pasien geriatri  Pasien dengan 6 macam diagnosa atau lebih Di Amerika studi menunjukkan pasien yang dirawat rata-rata berumur 76.8 setiap hari. HIV/AIDS.3% meminum obat yang tidak sesuai bagi populasi mereka. keluarga atau pendamping pasien adalah orang yang akan diberikan pendidikan tentang cara pemberian pengobatan yang benar telah dilakukan penilaian . Ditemukan pasien meminum 7. yang meliputi: a. keluarga atau pendamping pasien setuju dan mendukung keputusan pemberian pelayanan kefarmasian di rumah oleh apoteker b.4. Apoteker harus memastikan bahwa untuk setiap pasien yang dirujuk mendapatkan pelayanan kefarmasian di rumah. padahal terapi obat alternatif tersedia dengan efek samping yang lebih sedikit. Pasien dengan risiko adalah pasien dengan usia 65 tahun atau lebih dengan salah satu kriteria atau lebih regimen obat sebagai berikut:    Pasien minum obat 6 macam atau lebih setiap hari. Pasien lanjut usia sebesar 19.4% pasien geriatric mengalami risiko adverse drug events (ROTD = reaksi obat tidak diharapkan). 2. Pasien yang perlu mendapat pelayanan kefarmasian di rumah antara lain: 1.52 jenis obat dan dosis 12.prioritas pasien yang dianggap perlu mendapatkan pelayanan kefarmasian di rumah.

Apoteker harus menjelaskan manfaat dan tanggung jawab pasien termasuk kewajiban yang berhubungan dengan pembayaran. Adanya dukungan finansial dari keluarga untuk pelaksanaan pelayanan kefarmasian di rumah. tindakan intervensi langsung maupun konsultasi → Penggantian biaya pemakaian obat dan alat kesehatan yang digunakan langsung oleh pasien Besarnya nominal biaya untuk jasa di atas. nomor telepon dan tanggal lahir pasien Nama. Penilaian dan pencatatan data awal pasien Data awal pasien harus dicatat secara lengkap dalam catatan penggunaan obat pasien yang meliputi: a. Informasi di atas dikumpulkan pada saat melakukan penilaian sebelum pelayanan kefarmasian di rumah dimulai. Sebelum pelayanan dimulai. dosis.c. nomor telepon yang bisa dihubungi dalam keadaan emergensi . Biaya pelayanan kefarmasian di rumah meliputi: → Jasa pelayanan kefarmasian mencakup pemberian bantuan. rute dan cara pemberian obat pelayanan kefarmasian di rumah f. Adanya keterlibatan dokter dalam penilaian dan pengobatan pasien secara terus menerus e. Penjelasan diberikan secara rinci kepada pasien. b. keluarga. alamat. Nama pasien. ditetapkan oleh daerah masingmasing disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masyarakat setempat serta pihak asuransi untuk pasien yang ditanggung oleh asuransi. pemberi pelayanan dan dicatat dalam catatan penggunaan obat pasien. Obat yang diberikan tepat indikasi. Kesimpulan dari penilaian sebaiknya disampaikan kepada semua tenaga kesehatan yang terlibat dalam pelayanan kefarmasian di rumah dan didokumentasikan dengan benar. Informasi ini akan menentukan ketepatan dalam memberikan pelayanan kefarmasian di rumah. pasien. alamat. Apoteker pemberi layanan memiliki akses ke rumah pasien d. 2.

alat-alat kesehatan dan alat-alat tambahan yang diperlukan. l. i. Jika apoteker tidak dapat melakukan observasi langsung. jika ada Indikator keberhasilan pelayanan kefarmasian di rumah Untuk memperoleh informasi di atas. Penyeleksian produk. syringes dan administration set). f. maka informasi dapat diperoleh dari penilaian fisik yang dilakukan oleh tenaga kesehatan lain yang terlibat dalam pelayanan kesehatan di rumah. Jika pemberian pelayanan kefarmasian di rumah bersama-sama dengan tenaga kesehatan lain. 3. Tinggi. g. apoteker dapat menggunakan penggunaan obat pasien. berat badan dan jenis kelamin pasien Pendidikan terakhir pasien Hasil diagnosa Hasil uji laboratorium Riwayat penyakit pasien Riwayat alergi Profil pengobatan pasien yang lengkap (obat keras dan otc). hasil uji laboratorium dan melakukan m. nomor telepon dll Institusi atau tenaga kesehatan lain yang terlibat dalam pelayanan kesehatan di rumah dan nomor telepon Rencana pelayanan dan daftar masalah yang terkait obat. j. k. Faktor-faktor yang terlibat dalam memilih alat infus dan alat tambahan adalah sebagai berikut: .c. h. obat tradisional Nama dokter. Apoteker yang berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain dalam memberikan pelayanan kefarmasian di rumah. obat tambahan dan alat-alat tambahan (dressing kit. n. d. alamat. Tujuan pengobatan dan perkiraan lama pengobatan catatan komunikasi langsung dengan pasien/perawat atau dokter. e. bertanggung jawab dalam menyeleksi alat-alat infus. imunisasi. maka apoteker harus menjamin adanya tanggung jawab dan komitmen bersama dari setiap tenaga kesehatan untuk berbagi informasi yang berhubungan dengan pasien.

Rencana khusus pelaksanaan monitoring dan frekuensi monitoring yang akan dilakukan Rencana pelayanan kefarmasian sebaiknya dibuat saat dimulainya terapi dan secara teratur dikaji dan diperbaharui. Fitur pengamanan dari peralatan infus 4. Kemampuan alat infus menerima sejumlah volume obat yang tepat dan pelarut lain serta dapat menyampaikan dosis dengan kecepatan yang tepat c. keluarga dan berkoordinasi dengan tenaga kesehatan lain. Waktu yang memungkinkan bagi pasien untuk menerima infuse f. Gambaran dari hasil terapi yang dilakukan c. Apoteker bertanggung jawab mengkomunikasikan rencana pelayanan kefarmasian kepada pasien dan tenaga kesehatan lain yang terlibat dalam perawatan pasien. Gambaran masalah aktual dan masalah terkait obat dan cara mengatasinya b. Rencana pelayanan kefarmasian ini diperbaharui oleh tim kesehatan dan harus dikomunikasikan ke semua tenaga kesehatan yang terlibat. Stabilitas dan kompabilitas peralatan infus yang digunakan b. Menyusun rencana pelayanan kefarmasian di rumah Dalam membuat rencana pelayanan kefarmasian untuk menyelenggarakan pelayanan kefarmasian di rumah. Usulan pendidikan dan konseling untuk pasien d. Adanya potensi komplikasi dan ketidakpatuhan pasien e. Kemampuan pasien atau pemberi layanan dalam mengoperasikan infuse d. Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang berbagai . Melakukan koordinasi penyediaan pelayanan Apoteker melakukan koordinasi penyediaan pelayanan dengan tenaga kesehatan lain. Rencana pelayanan kefarmasian ini sebaiknya mencakup hal-hal sebagai berikut: a. 5.a. Kegiatan yang dilakukan meliputi: a. Rencana pelayanan kefarmasian dan perubahannya harus didokumentasikan dalam catatan penggunaan obat pasien. apoteker bekerjasama dengan pasien.

Melakukan pendidikan pasien dan konseling Apoteker bertanggung jawab memastikan bahwa pasien menerima pendidikan dan konseling tentang terapi pasien. yang meliputi: a. cara pemberian. pelayanan kesehatan yang tersedia di masyarakat yang dapat digunakan c. Gambaran pengobatan. pasien sesuai dengan kebutuhan mereka d. dosis. Membuat perjanjian (kesepakatan) dengan pasien dan keluarga tentang pelayanan kesehatan yang diberikan e. Teknik penilaian untuk monitoring efektivitas terapi d. Bekerjasama dengan tenaga kesehatan lain dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien sepanjang rentang perawatan yang dibutuhkan pasien g. mencakup obat. interval dosis. Dalam menentukan informasi yang diberikan dalam pendidikan dan konseling pasien. dan lama pengobatan b.b. Teknik aseptis f. Pentingnya mengikuti rencana perawatan e. Mengkoordinasikan rencana pelayanan kefarmasian kepada tenaga kesehatan yang terlibat dalam pelayanan kefarmasian di rumah kepada pasien berdasarkan jadwal kunjungan yang telah dibuat f. Tujuan pengobatan dan indikator tujuan pengobatan c. Apoteker harus mudah dihubungi jika ada pertanyaan atau munculnya permasalahan yang terkait obat. Melaksanakan pelayanan kefarmasian berfokus dengan tujuan akhir meningkatkan kemandirian dan kualitas hidup pasien h. apoteker membutuhkan pendapat dari para professional kesehatan. Perawatan peralatan untuk pembuluh darah. jika ada . Melakukan rujukan dan keputusan penghentian pelayanan kefarmasian di rumah 6. Apoteker juga menyediakan informasi tambahan dalam bentuk tulisan untuk memperkuat informasi yang diberikan secara lisan.

Semua hasil pemantauan ini didokumentasikan dalam catatan penggunaan obat pasien.g. interaksi obat. Pemeriksaan obat dan peralatan yang digunakan i. penanganan dan pembuangan obat. Petunjuk penyiapan. Informasi cara menghubungi tenaga kesehatan yang terlibat dalam pengobatan pasien n. reaksi yang tidak diharapkan dan cara mengatasinya l. Apoteker kemudian menyiapkan suatu analisis interpretasi dari informasi ini dan membuat rekomendasi untuk penyesuaian dosis dan keputusan apakah terapi dilanjutkan atau dihentikan. Peralatan yang digunakan dan cara perawatannya j. Pemantauan terapi obat Apoteker secara terus menerus bertanggung jawab melakukan pemantauan terapi obat dan evaluasi penggunaan obat pasien sesuai rencana pelayanan kefarmasian dan disampaikan semua hasilnya kepada tenaga kesehatan yang terlibat dalam pengobatan pasien. interaksi obat makanan. Petunjuk cara pemberian obat h. Apoteker dalam berkolaborasi dengan dokter dan tenaga kesehatan lain sebaiknya membuat protokol pemantauan terapi obat untuk berbagai pengobatan yang bersifat individual dan khusus didalam rencana pelayanan kefarmasian. Konseling dan pendidikan pasien didokumentasikan dalam catatan penggunaan obat pasien 7. Apoteker menjamin bahwa hasil uji laboratorium sesuai dan dapat digunakan untuk pemantauan. Prosedur emergensi. peralatan dan pembuangan biomedis m. . Potensi munculnya efek samping obat. Apoteker diperkenankan mengetahui hasil laboratorium. Hasil pemantauan ini didokumentasikan dalam catatan penggunaan obat pasien. kontra indikasi. Manajemen inventarisasi di rumah dan prosedur penyelamatan peralatan k.

Efek samping yang muncul dapat dijadikan indikator mutu pelayanan dan monitoring efek samping obat harus menjadi bagian dari program pelayanan secara terus menerus. Melakukan pengaturan dalam penyiapan pengiriman. Pencampuran produk steril harus sesuai dengan standar yang ada. pengiriman dan cara pemberian obat dan panggunaan peralatan kesehatan yang dibutuhkan. Selanjutnya apoteker menjamin kondisi penyimpanan obat dan peralatan harus konsisten sesuai dengan petunjuk pemakaian baik selama pengiriman obat dan saat disimpan di rumah pasien.8. dll. Suhu lemari es tempat penyimpanan obat diatur sesuai dengan suhu penyimpanan dan dimonitor oleh pasien atau pemberi layanan. Pelaporan Efek Samping Obat dan cara mengatasinya Apoteker melakukan pemantauan dan melaporkan hasil monitoring efek samping obat dan kesalahan pengobatan. Dalam . tepat waktu untuk mencegah terhentinya terapi obat. penyimpanan. Apoteker menjamin bahwa pengobatan dan peralatan yang dibutuhkan pasien diberikan secara benar. Reaksi efek samping yang serius dan masalah terkait obat harus dilaporkan ke Badan POM RI (form Pelaporan Efek Samping Obat terlampir) 10. 9. pemberian. Juga dipastikan adanya tempat penyimpanan tambahan obat dan peralatan di rumah pasien untuk mengantisipasi kondisi yang tidak terduga seperti kebutuhan obat dalam dosis besar. Berpartisipasi dalam penelitian klinis obat di rumah Apoteker sebaiknya berpartisipasi dalam penelitian klinis penggunaan obat di rumah yang diawali dengan penelitian di pelayanan kesehatan dan dilanjutkan selama dilakukan pelayanan kefarmasian di rumah. Apoteker memastikan bahwa dokter telah menginformasikan setiap kemungkinan munculnya efek samping obat. penyimpanan dan cara pemberian obat Apoteker harus memiliki keterampilan yang memadai dalam pencampuran.

diperlukan kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama dengan tim kesehatan lain. Telaah rejimen obat adalah suatu proses yang dilaksanakan oleh apoteker. Sebagai tim kesehatan. keamanan dari setiap obat dan ketaatan pasien dalam terapi obat. Pasien dirawat kembali di rumah sakit e.melakukan penelitian klinis obat di rumah. Peran apoteker adalah mengidentifikasi. Untuk dapat berperan dalam tim. memecahkan dan mencegah terjadinya masalah terkait obat/Drug Related Problems (DRP). apoteker juga mempunyai tanggung jawab dalam memberikan pelayanan yang berkualitas. Hasil pelayanan tercapai sesuai tujuan b. Prosedur Tetap Pelayanan Kefarmasian di Rumah . 11. Pasien pindah tempat ke lokasi lain g.3. Dengan menjamin kualitas aktivitas drug regimen review (telaah rejimen obat). Termasuk didalamnya konsiderasi indikasi. Pasien meninggal dunia Melihat peran di atas maka diperlukan kompetensi khusus dan komitmen bagi apoteker yang akan berperan di pelayanan kefarmasian di rumah. Keluarga sudah mampu melakukan pelayanan di rumah d. Pasien menolak pelayanan lebih lanjut f. efektifitas. Sasarannya adalah menjamin hasil optimal dari terapi obat. pasien dan keluarganya. 2. Proses penghentian pelayanan kefarmasian di rumah Kriteria penghentian pelayanan kefarmasian di rumah: a. apoteker sebaiknya telah memperoleh dan memiliki informasi yang cukup tentang protokol penelitian obat. apoteker dapat mempengaruhi kesehatan dan kualitas hidup pasien secara bermakna.4. Kondisi pasien stabil c.

apabila pasien menyetujui pelayanan tersebut. 6. Melakukan (bila rujukan) 8. Mengkoordinasikan pelayanan kefarmasian kepada dokter . tercapainya tujuan dan sasaran serta kualitas pelayanan kefarmasian yang diberikan. Tujuan umum: Masing-masing memberikan informasi kinerja yang berbeda terhadap fase pelayanan kefarmasian yang diberikan kepada pasien. Pelayanan kefarmasian di rumah juga dapat berasal dari rujukan dokter kepada apoteker apotek yang dipilih oleh pasien. Monitoring dan evaluasi Sebagai tindak lanjut terhadap pelayanan kefarmasian di rumah perlu dilakukan monitoring dan evaluasi untuk menilai perkembangan pasien. 2.1. Melakukan penilaian awal terhadap pasien untuk mengindentifikasi adanya masalah kefarmasian yang perlu ditindaklanjuti dengan pelayanan kefarmasian di rumah. Mengkomunikasikan layanan tersebut pada tenaga kesehatan lain yang terkait. meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian di rumah.5. Menjelaskan permasalahan kefarmasian kepada pasien dan manfaat pelayanan kefarmasian di rumah bagi pasien 3. Mendokumentasikan semua tindakan profesi tersebut pada Catatan Penggunaan Obat Pasien. apabila diperlukan. 2. Membuat rencana pelayanan kefarmasian di rumah dan menyampaikan kepada pasien dengan mendiskusikan waktu dan jadwal yang cocok dengan pasien dan keluarganya. Menyiapkan lembar persetujuan dan meminta pasien untuk memberikan tanda tangan. 5. Rencana ini diberikan dan didiskusikan dengan dokter yang mengobati (bila rujukan) 7.3. Monitoring dan evaluasi memiliki fungsi yang saling melengkapi. Menawarkan pelayanan kefarmasian di rumah kepada pasien 4. Tersedianya informasi yang akurat tentang pasien dan pengobatannya untuk pelayanan sesuai dengan jadwal dan rencana yang telahdisepakati.

6.2. Home Pharmacy Care Sebagai Model Pelayanan Kefarmasiaan Prima BAB III PENUTUP .3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful