BAB I PENDAHULUAN

1.1.

LATAR BELAKANG Struktur penduduk dunia termasuk Indonesia saat ini menuju proses penuaan yang

ditandai dengan meningkatnya jumlah dan proporsi penduduk lanjut usia (lansia). Proporsi penduduk lansia di Indonesia mengalami peningkatan cukup signifikan selama 30 tahun terakhir dan mencapai 19,3 juta (8,37 persen dari total keseluruhan penduduk Indonesia) pada tahun 2009. Peningkatan jumlah penduduk lansia ini disebabkan peningkatan angka harapan hidup sebagai dampak dari peningkatan kualitas kesehatan. Fenomena ini menimbulkan permasalahan global. Permasalahan ini disebabkan keterbatasan lansia terutama karena faktor biologis, penyakit degeneratif dan menimbulkan disabilitas.1 Menurut World Health Organization (WHO) 2005, menyatakan bahwa obesitas telah menjadi masalah dunia. Panama tercatat sebagai negara dengan prevalensi obesitas tertinggi di dunia, yakni 37%. Setelah itu Peru (32%) dan Amerika Serikat (31%). Keadaan ini tidak hanya terjadi di negara maju tapi sudah mulai meningkat di negara berkembang.2 Pada tahun 2009, jumlah penduduk lansia Indonesia mencapai 19,32 juta orang atau 8,37 persen dari total seluruh penduduk Indonesia. Peningkatan jumlah lansia mengindikasikan adanya lansia.3 Terdapat kecenderungan peningkatan prevalensi lansia dengan obesitas pada dekade terakhir. Berdasarkan data survey Kementerian Kesehatan RI, analisis data dari 20.137 lansia, yang terbagi menjadi 9.390 pria dan 10.747 wanita dari perkotaan dan pedesaan. Penelitian menunjukkan bahwa prevalensi obesitas pada pria 7.2 % dan wanita 10.4 %. Prevalensi obesitas lebih tinggi di daerah perkotaan ( 10.8 % ) daripada di pedesaan ( 7.5 % ). Obesitas meningkatan risiko terjadinya penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung koroner, osteoarthritis dan dislipidemia kemudian menyebabkan disabilitas. Disabilitas juga dipengaruhi oleh karakteristik individual, kebiasaan seperti pola makan, merokok dan alkoholisme serta aktivitas fisik.1,2 keberhasilan pembangunan dalam bidang kesehatan terutama disebabkan meningkatnya angka harapan hidup yang berarti akan meningkatkan jumlah penduduk

1

1.2.

RUMUSAN MASALAH 1. Apakah ada hubungan antara karakteristik individual dan disabilitas pada lansia ? 2. Apakah ada hubungan antara aktivitas fisik dan disabilitas pada lansia ? 3. Apakah ada hubungan antara kebiasaan dan disabilitas pada lansia ? 4. Apakah ada hubungan antara penyakit degeneratif dan disabilitas pada lansia ? 5. Apakah ada hubungan antara obesitas dan disabilitas pada lansia ?

1.3. 1.3.1

TUJUAN PENELITIAN Tujuan Umum Untuk meningkatkan derajat kualitas hidup pada lansia

1.3.2

Tujuan Khusus 1. Untuk menentukan adanya hubungan antara karakteristik responden (umur, jenis kelamin, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan dan pendapatan) dan disabilitas pada lansia. 2. Untuk menentukan adanya hubungan antara aktivitas fisik dan disabilitas pada lansia. 3. Untuk menentukan hubungan antara kebiasaan dan disabilitas pada lansia. 4. Untuk menentukan hubungan antara penyakit degeneratif dan disabilitas pada lansia. 5. Untuk menentukan adanya hubungan antara obesitas dan disabilitas pada lansia.

1.4.

HIPOTESIS PENELITIAN Hipotesis dalam penelitian sebagai berikut : 1. Terdapat hubungan antara karakteristik responden ( umur, jenis kelamin, status perkahwinan, pendidikan, pekerjaan dan pendapatan) dan disabilitas pada lansia. 2. Terdapat hubungan antara aktivitas fisik dan disabilitas pada lansia.

2

3. Terdapat hubungan antara kebiasaan dan disabilitas pada lansia. 4. Terdapat hubungan antara penyakit degeneratif dan disabilitas pada lansia 5. Terdapat hubungan antara obesitas dan disabilitas pada lansia.

1.5 . RUANG LINGKUP PENELITIAN 1.5.1 1.5.2 Ruang Lingkup Tempat Puskesmas Kecamatan Mampang Ruang Lingkup Waktu Ruang lingkup waktu dalam penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2012 sampai Maret 2012.

3

kelompok usia lanjut/ senium usia 65 tahun keatas dan usia lanjut dengan risiko tinggi yaitu kelompok yang berusia lebih dari 70 tahun atau kelompok usia lanjut yang hidup sendiri. 2.1 Definisi lansia Pengertian usia lanjut adalah mereka yang telah berusia 60 tahun atau lebih. terpencil.1 LANSIA 2. menderita penyakit berat atau cacat. usia lanjut ( Elderly ) antara 60-74 tahun. tinggal dipanti.2 Batasan-batasan lansia Batasan lansia menurut WHO meliputi usia pertengahan ( Middle age ) antara 45-59 tahun.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. serta usia sangat tua ( very old ) diatas 90 tahun.1. Saat ini berlaku UU No 13 tahun 1998 tentang 4 4 .1.3 Menurut Depkes RI batasan lansia terbagi dalam empat kelompok yaitu pertengahan umur usia lanjut/virilitas yaitu masa persiapan usia lanjut yang menampak keperkasaan fisik dan kematangan jiwa antara 45-54 tahun. dan usia lanjut tua ( Old ) antara 75-90 tahun. Belum ada kesepakatan tentang batasan umur lanjut usia disebabkan terlalu banyak pendapat tentang batasan umur lanjut usia. usia lanjut dini/prasenium yaitu kelompok yang mulai memasuki usia lanjut antara 55-64 tahun.

Pembelahan sel lebih lanjut mungkin terjadi untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan.5 2. sel pada jaringan organ dalam sistem itu tidak dapat diganti jika sel tersebut dibuang karena rusak atau mati. teori sistem imun. Bila sebuah sel pada lansia dilepas dari tubuh dan dibiakkan di laboratorium lalu diobservasi jumlah sel yang akan membelah akan terlihat sedikit. teori rantai silang. Teori-teori biologis terdiri dari teori sintesis protein. Oleh karena itu. sistem muskuloskeletal dan jantung. teori keracunan oksigen.3 b) Teori sintesis protein 5 . teori reaksi dari kekebalan sendiri dan lain-lain. Teori Biologis a) Teori seluler Teori ini menyatakan bahwa kemampuan sel yang hanya dapat membelah dalam jumlah tertentu dan kebanyakan sel-sel tubuh diprogram untuk membelah sekitar 50 kali.kesejahteraan lansia yang menyebutkan lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas.3 Teori-teori penuaan Terdapat banyak teori tentang penuaan yaitu teori biologis.1. Sedangkan pada sistem saraf. teori radikal bebas.3. justru kemampuan sel akan menurun sesuai dengan bertambahnya usia. sistem tersebut berisiko mengalami penuaan dan memiliki kemampuan yang rendah untuk tumbuh dan memperbaiki diri dan sel dalam tubuh seseorang ternyata cenderung mengalami kerusakan dan akhirnya sel akan mati karena sel tidak dapat membelah lagi.

walaupun demikian kemunduran kemampuan sistem yang terdiri dari sistem limfatik dan khususnya sel darah putih. Konsekuensi dari kesalahan genetik adalah adanya penurunan reproduksi sel oleh mitosis yang mengakibatkan jumlah sel anak di semua jaringan dan organ berkurang. Hal ini dimanifestasikan dengan meningkatnya infeksi autoimun dan kanker. 3.6 c) Teori keracunan oksigen Teori ini menyatakan bahwa adanya sejumlah penurunan kemampuan sel di dalam tubuh untuk mempertahankan diri dari oksigen yang mengandung zat racun dengan kadar yang tinggi tanpa mekanisme pertahanan diri tertentu. juga merupakan faktor yang berdistribusi dalam proses penuaan. seiring dengan bertambahnya usia. beberapa protein terutama kolagen pada kartilago dan elastin pada kulit dibuat oleh tubuh dengan struktur yang berbeda dengan protein tubuh orang yang lebih muda. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan kerusakan sistem tubuh. perubahan permukaan kulit yang kehilangan elastisitasnya akan cenderung berkerut. Observasi dapat dilakukan pada jaringan seperti kulit dan kartilago.6 6 . Hal ini dihubungkan dengan adanya perubahan kimia pada komponen protein dalam jaringan tersebut. Membran sel tersebut merupakan alat untuk memfasilitasi sel dalam berkomunikasi dengan lingkungan yang juga mengontrol proses pengambilan nutrien dan proses ekskresi zat toksik di dalam tubuh. Radikal ini menyebabkan sel-sel tidak mampu lagi beregenerasi.Teori sintesis protein menyatakan bahwa proses penuaan terjadi ketika protein tubuh terutama kolagen dan elastin menjadi kurang fleksibel dan kurang elastis. Ketidakmampuan untuk mempertahankan diri dari toksik tersebut membuat struktur membran sel mengalami perubahan dan terjadi kesalahan genetik.6 e) Teori radikal bebas Teori radikal bebas menyatakan bahwa dalam teori terjadi ketidakstabilan radikal bebas sehingga oksidasi bahan-bahan organik seperti karbohidrat dan protein. Banyak kolagen pada kartilago dan elastin pada kulit yang kehilangan fleksibilitasnya serta menjadi lebih tebal.6 d) Teori sistem imun Teori ini mengemukakan kemampuan sistem imun mengalami kemunduran. Pada lansia.

kelelahan atau kebosanan karena kurang variasi dalam kehidupannya. a) Perubahan Kondisi Fisik Setelah orang memasuki masa lansia. Perubahan-perubahan yang terjadi pada lanjut usia Adapun beberapa faktor yang dihadapi lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka adalah perubahan kondisi fisik. perubahan fungsi dan potensi seksual.1. berkurangnya fungsi indra pendengaran. dan disfungsi seksual karena perubahan hormonal atau masalah kesehatan jiwa lainnya misalnya cemas. tenaga berkurang.3 c) Perubahan Aspek Psikososial Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan fungsi kognitif dan fungsi psikomotor. golongan steroid. gigi makin rontok. kulit makin keriput. persepsi.2.3 b) Perubahan Fungsi dan Potensi Seksual Perubahan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali berhubungan dengan berbagai gangguan fisik seperti gangguan jantung. pendengaran berkurang. pikun. penglihatan. Fungsi kognitif meliputi proses belajar. depresi. gerak fisik dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia misalnya badan menjadi bungkuk. penglihatan kabur. tranquilizer ) dan faktor psikologis yang menyertai lansia seperti rasa malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada lansia. dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi makin lambat. perubahan aspek psikososial. perubahan yang berkaitan dengan pekerjaan dan perubahan peran sosial di masyarakat. kekurangan gizi ( karena pencernaan kurang sempurna atau nafsu makan sangat kurang ). Misalnya. Sementara fungsi psikomotorik (konatif) meliputi 7 . sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta diperkuat oleh tradisi dan budaya. sehingga menimbulkan keterasingan. vaginitis. gangguan metabolisme. perhatian. tulang makin rapuh. dan sebagainya.4. pemahaman. pasangan hidup telah meninggal dunia. umumnya mulai dihinggapi adanya kondisi fisik yang bersifat patologis. baru selesai operasi ( prostatektomi ). penggunaan obat-obatan tertentu ( antihipertensi. pengertian.

peran. kegiatan. komunikasi. Isolation (depresi). Impaction (sulit buang air besar).1. communication. smell. dan kulit). skin integrity (gangguan pancaindera.hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan. namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya karena pensiun sering diartikan kehilangan penghasilan. Impairment of vision and hearing. Infection (infeksi). agar tidak merasa terasing atau diasingkan.3 2. Incontinence (beser buang air kecil dan atau buang air besar). yang menurut Kane & Ouslander sering disebut dengan istilah 14 I. mengurung diri. dan sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan. convalescence. jabatan. Impecunity (tidak punya uang). tindakan. Masalah kesehatan pada lansia Adapun beberapa masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia berbeda dari orang dewasa. status.3 d) Perubahan yang berkaitan dengan pekerjaan Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun tujuan ideal pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau jaminan hari tua. Instability (berdiri dan berjalan tidak stabil atau mudah jatuh). selama yang bersangkutan masih sanggup. mengumpulkan barang-barang tak berguna serta merengek-rengek bila ketemu orang lain sehingga perilakunya seperti anak kecil. kedudukan. taste. Inanition (kurang gizi). Jika keterasingan terjadi akan semakin menolak untuk berkomunikasi dengan orang lain dan kadang-kadang terus muncul perilaku regresi seperti mudah menangis. Hal itu sebaiknya dicegah dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas. koordinasi yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang cekatan.5. pendengaran sangat berkurang. penglihatan kabur. penyembuhan.3 e) Perubahan dalam peran sosial di masyarakat Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran. dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia. Iatrogenesis 8 . yaitu Immobility (kurang bergerak). Intellectual impairment (gangguan intelektual/ dementia). Misalnya badannya menjadi bungkuk. penglihatanm gerak fisik. dan harga diri.

Immune deficiency (daya tahan tubuh yang menurun).6. penyakit paru-paru (bronkitis/ dispnea).2 Pengukuran Obesitas 9 . Obesitas merupakan salah satu bentuk salah gizi yang banyak dijumpai di antara golongan masyarakat dengan sosial ekonomi tinggi. jatuh. penyakit atau keluhan yang umum diderita adalah penyakit rematik. obesitas adalah kelebihan lemak dalam tubuh.1 Pengertian Obesitas Kata obesitas berasal dari bahasa latin : obesus. penyakit jantung.7 2. obesitas didefinisikan sebagai kumpulan lemak berlebih yang dapat mengganggu kesehatan dengan Body Mass Index (BMI) ≥ 30 kg/m2. hipertensi. obedere yang artinya gemuk atau kegemukan. OBESITAS 2. Insomnia (gangguan tidur).2.2. diabetes mellitus. dan Impotence (impotensi). Ditinjau dari segi klinis.(menderita penyakit akibat obat-obatan). patah tulang dan kanker. Menurut World Health Organization (WHO) 2006. sekitar organ tubuh dan kadang terjadi perluasan kedalam jaringan organnya.8 2. kecuali untuk bronkitis ( pengaruh rokok pada pria). Obesitas atau gemuk merupakan suatu kelainan atau penyakit yang ditandai dengan penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan. paralisis/ lumpuh separuh badan.7 2.1. TBC paru.2. yang umumnya ditimbun dalam jaringan subkutan (bawah kulit). Lebih banyak wanita yang menderita/ mengeluhkan penyakitpenyakit tersebut daripada kaum pria. Status Kesehatan pada Lansia Indonesia Membicarakan mengenai status kesehatan para lansia.2.

0 Risiko Penyakit Rendah Rata – rata Meningkat Sedang Berbahaya Sangat berbahaya 10 . dan dengan menghitung rasio lingkar pinggang terhadap lingkar panggul. tebal lemak bawah kulit.9 ≥ 40.1 Klasifikasi IMT Menurut WHO Tahun 20049 Kategori Kurus (underweight) Berat badan normal Berat badan berlebih (overweight) Obesitas – kelas 1 Obesitas – kelas 2 Obesitas – kelas3 (obesitas morbid) IMT < 18.1)9 Tabel 2. untuk menentukan overweight dan obesitas dapat diketahui dengan menghitung indeks massa tubuh yang merupakan indikator status gizi.9 30 – 34. Nilai Indeks Massa Tubuh (IMT) dihitung dengan menggunakan rumus : Berat Badan (kg) Indeks Masa Tubuh = ----------------------Tinggi Badan (m)2 WHO telah mendefinisikan sejumlah klasifikasi/kategori IMT yang dapat mencerminkan risiko penyakit tertentu. Dalam hal ini.5 – 24.9 25 – 29. (tabel 2.9 35 – 39.5 18.Banyak metode yang dapat dilakukan untuk menentukan kriteria overweight dan obesitas pada seseorang diantaranya adalah pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT).

9 25.0 23.2.5 – 22.9 > 30.5 18. baik pada laki-laki maupun perempuan. Hasil pemantauan masalah gizi lebih pada orang dewasa yang dilakukan oleh Departemen 11 . normal. dan lebih. dan orang lanjut usia. Dalam menentukan status gizi orang dewasa IMT ternyata sangat sensitif untuk menentukan berat badan kurang. remaja. 2.Tabel 2.0 – 24. Menurut Orang (Person) Masalah obesitas banyak dialami oleh beberapa golongan masyarakat.2 Klasifikasi IMT Menurut Asia Pasifik9 Klasifikasi Kurus (underweight) Berat badan normal Berat badan berlebih (over weight) • • • Berisiko Obesitas – kelas I Obesitas – kelas II > 23. anak sekolah. Epidemiologi Obesitas Distribusi dan Frekuensi Obesitas a.9 Risiko Penyakit Rendah Rata-rata Meningkat Saat ini indeks massa tubuh (IMT) sudah digunakan untuk penentuan status gizi pasien dewasa di beberapa rumah sakit seperti di RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo).3. antara lain balita.0 – 29.0 Sedang Berbahaya Sangat berbahaya BMI (kg/m2) < 18. orang dewasa.

0% pada laki-laki dan 14. prevalensi overweight adalah 12. prevalensi obesitas pada orang dewasa (≥18tahun) adalah 2. Denpasar.9% (wanita). dan Manado dengan subyek siswa sekolah dasar.7% di Medan.2%.6%) lansia mengalami obesitas dari 62 responden. Palembang. Semarang 24. 1. Solo. pada lansia di Posyandu Lansia Wilayah Kerja Puskesmas Amplas Medan.3%. Di Indonesia. menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007. Palembang 13. Jakarta 25. 19 orang (30.4% pada perempuan.Kesehatan tahun 1997 menunjukkan. Menurut Tempat (Place) WHO (2004) menyatakan bahwa obesitas telah menjadi masalah dunia.2%). Padang. 12 .8%.8 b. 15. yakni 37%.17 Menurut penelitian Juwita (2007). diperkirakan 2. 25 orang (20.0%.0%. Setelah itu Peru (32%) dan Amerika Serikat (31%).9% dan perempuan 23. dkk (2002) melakukan penelitian di 10 kota-kota besar yaitu Medan. Panama tercatat sebagai negara dengan prevalensi obesitas tertinggi di dunia. Dari survei Indeks Masa Tubuh (IMT) pada kelompok usia ≥ 60 tahun di kota besar di Indonesia tahun 2004. sedang di daerah pedesaan prevalensi overweight pada laki-laki dan perempuan masing-masing adalah 5. dan Manado 5. Semarang.4%.3 miliar orang dewasa akan mengalami overweight dan 700 juta di antaranya obesitas.7%.3%.6% pria dan 26.1%.3% dan 9. Yogyakarta. prevalensi nasional obesitas pada penduduk berusia ≥ 15 tahun adalah laki-laki 13. Saat ini. Jakarta.6 Di daerah perkotaan Cina. Denpasar 11. Pada tahun 2015.1%.1% wanita mengalami obesitas. Solo 2.16 Sedangkan menurut penelitian pada usia lanjut kelompok binaan Puskesmas di Kecamatan Kota Arga Makmur Kabupaten Bengkulu Utara (2005).6 miliar orang dewasa di seluruh dunia mengalami berat badan berlebih (overweight).7%) lansia mengalami obesitas dari 121 responden. Menurut penelitian Sjarif.8%. dan 400 juta diantaranya mengalami obesitas. Padang 7. Prevalensi obesitas tertinggi terjadi pada kelompok wanita berumur 41-55 tahun (9.5% (pria) dan 5. Surabaya 11. Yogyakarta 4. Surabaya. Hasilnya memperlihatkan prevalensi obesitas pada anak sebesar 17.

jumlah makanan yang dimakan setiap hari jauh melebihi kebutuhan faal tubuh.3%). c. Menurut Waktu (Time) National Health Survey (2004-2005).9%).1 % dan 0. Gorontalo (26.6% dan obesitas dari 11. Hal yang perlu diyakini bahwa obesitas hanya mungkin terjadi.Prevalensi nasional obesitas pada penduduk dewasa berusia ≥ 15 tahun di 10 provinsi di Indonesia tahun 2007 adalah Sulawesi Utara (33. Data yang dikumpulkan dari seluruh dunia memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan prevalensi overweight dan obesitas pada 10-15 tahun terakhir. Kepulauan Riau (22. saat ini diperkirakan sebanyak lebih dari 100 juta penduduk dunia menderita o Berdasarkan data SUSENAS tahun 1989. Bangka Belitung (22. Papua Barat (23.1% menjadi 16. Perubahan ini meliputi dengan banyaknya jenis makanan.5% menjadi 32.0%. Determinan Obesitas a.3 % pada tahun 1999.3 % dan 4.8%).2%). dan Sumatera Utara (20.7%.4%). Dengan kata lain. 2.4%).3%). penelitian yang dilakukan oleh Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) tahun 2004 mendapatkan angka prevalensi obesitas (IMT≥30 kg/m2) 9. prevalensi obesitas di Indonesia adalah 1.0%).4% pada kelompok umur 55-64 tahun.02 % pada wanita. Papua (22.32 Di Indonesia. 13 .9 WHO menyatakan bahwa obesitas telah menjadi masalah dunia. SUSENAS (2004) prevalensi obesitas mencapai 11. Jakarta (26.5%).2. jika terdapat kelebihan makanan dalam tubuh terutama bahan makanan sumber energi.16 % pada pria dan 11.4. masing-masing untuk kota dan desa. metode pengawetan semakin canggih (makanan dapat selalu tersedia) dan banyak produk makanan hanya memerlukan sedikit proses pemasakan sehingga dapat segera dimakan. Pola Makan Pola makan adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai jumlah dan jenis bahan makanan yang dimakan setiap harinya telah banyak berubah. pada penduduk Australia menunjukkan data hasil prevalensi overweight meningkat dari 29. Kalimantan Timur (23.9%). Angka tersebut meningkat hampir lima kali menjadi 5. Maluku Utara (24. makanan dapat dibeli kapan saja.

Kemajuan teknologi menyebabkan berkurangnya kebutuhan untuk menggunakan tenaga otot manusia dalam melaksanakan tugas manual yang memerlukan banyak energi. Oleh karena itu. dimana tenaga manusia telah banyak digantikan oleh mesin. Gangguan emosional akibat adanya tekanan psikologis atau lingkungan kehidupan masyarakat yang dirasakan tidak menguntungkan. Hal ini diperberat dengan kurangnya aktivitas fisik. Jadi memperbanyak aktivitas fisik sangat dianjurkan. orang cenderung kurang gerak atau menggunakan sedikit tenaga untuk aktivitas. Obesitas sering dijumpai pada orang yang senang masak atau bekerja di dapur.10 d. Pola makan yang tinggi kalori dan lemak akan menyebabkan penimbunan energi dalam bentuk lemak.9. sehingga manusia menjadi semakin dimanjakan. Dari segi transportasi.Tampaknya memang ada kebiasaan makan yang berbeda pada orang yang mengalami obesitas. Telah lama diamati bahwa anak-anak obesitas umumnya berasal dari keluarga dengan orang tua obesitas. Dengan kemajuan teknologi.9 c.9 b. juga dijumpai pada orang yang memiliki gejala suka makan pada waktu malam. semakin banyak orang menggunakan kendaraan. Genetik (Riwayat Keluarga) Faktor genetik merupakan salah satu faktor yang juga berperan dalam timbulnya obesitas. Faktor Psikologis Faktor psikologis sering juga disebutkan sebagai salah satu faktor predisposisi yang dapat mendorong terjadinya obesitas. manusia menjadi kurang melakukan aktivitas fisiknya sehingga obesitas menjadi lebih merupakan masalah kesehatan masyarakat. ketimbang berjalan kaki atau bersepeda walaupun pada jarak yang tidak jauh. Bila salah satu orang tua obesitas sekitar 40-50% anak-anaknya 14 . Aktivitas Fisik Obesitas banyak dijumpai pada orang yang kurang melakukan aktivitas fisik dan kebanyakan duduk. Saat sekarang ini dengan meningkatnya mekanisasi dan kemudahan transportasi. Dengan demikian. dapat mengubah kepribadian seseorang sehingga orang tersebut menjadikan makanan sebagai pelariannya. Di samping itu. kurangnya pemanfaatan tenaga akan menyebabkan simpanan tenaga/energi di dalam tubuh yang lambat laun akan semakin bertumpuk sehingga menyebabkan obesitas.

Selain itu. Sejalan dengan itu. dan bukan karena faktor genetis yang khusus. Inggris baru-baru ini menunjukkan peran faktor genetik. 80% anak-anaknya akan menjadi obesitas.10 e.5. pembuluh darah pada lansia lebih tebal dan kaku atau disebut aterosklerosis. Untuk itu lansia hendaknya 15 . Pada umumnya. Seseorang dikatakan menderita hipertensi bila tekanan systole >140 mmHg dan diastole >90 mmHg.1. Metabolisme Basal Metabolisme basal adalah metabolisme yang dilakukan oleh organ-organ tubuh dalam keadaan istirahat total (tidur). metabolisme basal pada usia yang semakin senja akan semakin menurun.akan mengalami obesitas sedangkan bila kedua orang tuanya obesitas. Beberapa penyakit yang disebabkan oleh obesitas. ada yang tinggi dan ada juga yang rendah. sehingga tekanan darah akan meningkat. Penderita obesitas tipe buah apel beresiko lebih tinggi dalam kemungkinan menderita hipertensi dibandingkan dengan orang yang kurus dan penderita obesitas tipe buah pear.9 2. aktivitas fisiknya juga semakin berkurang. Timbulnya obesitas dalam keluarga semacam ini lebih ditentukan karena kebiasaan makan dalam keluarga yang bersangkutan. Seseorang yang mempunyai kecepatan metabolisme rendah akan cenderung lebih mudah gemuk jika dibandingkan dengan orang yang mempunyai kecepatan metabolisme tinggi. berat badan akan semakin meningkat sesuai dengan peningkatan usia. Hanya saja penelitian di laboratorium gizi Dunn di Cambridge. Berat badan yang berlebih sudah tentu akan meningkatkan beban jantung dalam memompa darah keseluruh tubuh. Hal ini menyebabkan tekanan darah cenderung akan lebih tinggi. Secara alami. Kecepatan metabolisme basal setiap orang berbeda. antara lain : a. Komplikasi Obesitas Hasil penelitian membuktikan bahwa kegemukan dan obesitas menimbulkan banyak masalah dan memperbesar risiko seseorang terserang penyakit degeneratif (penyakit yang timbul akibat ada perubahan atau kerusakan tingkat seluler yang meluas ke jaringan yang sama). Hipertensi Penderita kegemukan mempunyai risiko yang tinggi terhadap hipertensi.2.

Adapun pada wanita penderita obesitas. tetapi kondisi tersebut tidak selalu timbul jika seseorang tidak kelebihan berat badan. akibatnya gula dalam darah tertimbun (tinggi). Lemak jenuh dan kolesterol hanya terdapat pada bahan makanan hewani.9 b. Biasanya 75% penderita DM tipe II adalah orang yang mengalami obesitas atau riwayat obesitas. Penyakit Jantung Koroner (PJK) Penyakit jantung koroner merupakan penyakit yang terjadi akibat penyempitan pembuluh darah koroner (pembuluh darah yang mendarahi dinding jantung). Diabetes Mellitus (DM) Obesitas dapat menyebabkan penyakit diabetes mellitus tipe II. Untuk mengurangi risiko terkena kanker. akan mengalami risiko terkena penyakit kanker payudara dan rahim. Sebagaimana diketahui. Diabetes mellitus sebenarnya merupakan penyakit keturunan. konsumsi lemak total harus dikurangi. Wanita yang telah menopause. Meningkatnya faktor risiko penyakit jantung koroner sejalan dengan terjadinya penambahan berat badan seseorang. Pada umumnya. dan protein yang disebabkan oleh kekurangan insulin atau tidak berfungsinya insulin. 16 . Kanker Hasil penelitian menunjukkan bahwa laki-laki yang mengalami obesitas akan berisiko lebih tinggi untuk menderita kanker usus besar. diabetes mellitus adalah suatu keadaan/kelainan dimana terdapat gangguan metabolisme karbohidrat. Konsumsi lemak jenuh dan kolesterol yang berlebihan akan meningkatkan risiko penyakit ini. umumnya pada usia lebih dari 50 tahun dan mengalami kelebihan berat badan akan mudah terserang penyakit kanker payudara. karena garam yang berlebih dalam tubuh dapat meningkatkan tekanan darah. Oleh karena itu.2. penderita diabetes mempunyai kadar lemak yang abnormal dalam darah.mengurangi konsumsi natrium (garam).10 d. usia lanjut lebih disarankan mengkonsumsi ikan karena dapat menurunkan risiko menderita penyakit jantung dibandingkan sumber protein hewan lain. lemak.9 c. rektum dan kelenjar prostat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 500 penderita kegemukan sekitar 88% mendapat risiko terserang penyakit jantung koroner.

Kelainan fraksi lipid yang paling utama adalah kenaikan kadar kolesterol total. Penyakit ini sering menyerang penderita kegemukan yang mengalami kelebihan berat badan > 30% dari berat badan ideal dan kandungan asam urat dalam darahnya tinggi2. Dari berbagai penelitian jangka panjang di negaranegara barat. kenaikan kadar trigliserida serta penurunan kadar HDL.10 f. sehingga tidak mungkin dibicarakan sendiri-sendiri. e.Pengaruh kegemukan pada penyakit jantung koroner tidak selalu berdiri sendiri. kolesterol LDL. dikenal patokan kadar kolesterol total sbb : a) Kadar yang diinginkan dan diharapkan masih aman (desirable) adalah < 200 mg/dl b) Kadar yang sudah mulai meningkat dan harus diwaspadai untuk mulai dikendalikan (bordeline high) adalah 200-239 mg/dl 17 . Dislipidemia Definisi Dislipidemia Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma. yang dikaitkan dengan besarnya resiko untuk terjadinya PKV. penting dikaitkan dengan terjadinya komplikasi kardiovaskuler. tetapi biasanya diperburuk oleh faktor risiko lain seperti hipertensi.10 Kriteria Diagnostik dan Pemeriksaan Laboratorium Dislipidemia Angka patokan kadar lipid yang memerlukan pengelolaan. Ketiga-tiganya sekaligus dikenal sebagai Triad Lipid. Dalam proses terjadinya aterosklerosis semuanya mempunyai peran yang penting dan sangat kaitannya satu dengan yang lain. Arthritis dan Gout Orang yang menderita kegemukan dan obesitas mempunyai risiko tinggi terhadap penyakit arthritis (radang sendi) yang lebih serius bila dibandingkan dengan orang yang memiliki berat badan ideal atau gemuk. diabetes. Gout merupakan salah satu bentuk penyakit arthritis atau lebih tepatnya radang sendi akibat meningkatnya kadar asam urat dan terbentuknya kristal asam urat pada sendi. dan hiperlipidemia.

DISABILITAS PADA LANSIA 2. stroke.2 Disabilitas pada obesitas Selama beberapa dekade akhir.10 2.serta disabilitas fisik dan mental (ganda). Sebaliknya kelompok kontinental memasukkan juga faktor trigliserida dalam algoritma yang mereka anjurkan. NECP (National Cholesterol Education Program) tidak memesukkan kadar trigliserida dalam anjuran pengelolaan lipid mereka.c) Kadar yang tinggi dan berbahaya bagi pasien (high) adalah > 240 mg/dl . Prevalensi dari hipertensi. gangguan muskuloskeletal dan beberapa keganasan. Untuk trigliserida besamya pengaruh terhadap kemungkinan terjadinya komplikasi kardiovaskuler belum disepakati benar.disabilitas mental. UU No. 1 menyebutkan bahwa penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan atau mental. Seperti yang diketahui kelebihan berat badan dan obesitas merupakan masalah kesehatan karena berhubungan dengan meningktanya faktor risiko terjadinya penyakitpenyakit seperti penyakit jantung. 17% pria mengalami obesitas dan selebihnya sekitar 50% mengalami kelebihan berat badan.1 Definisi disabilitas Disabilitas adalah ketidakmampuan untuk terlibat dalam aktivitas penting yang berguna karena keterbatasan fisik maupun mental yang ditentukan secara medis.yang terdiri dari : disabilitas fisik. diabetes tipe 2. kolesterol HDL yang rendah.3.3.11 2. kadar trigliserid yang tinggi dan prevalensi dari penyakit-penyakit lain meningkat seiring 18 .yang dapat menggangu atau merupakan hambatan baginya untuk melakukan kegiatan secara selayaknya.disability dan handicap.4/1997 Psl. dilandasi oleh penelitian mereka di Eropa ( studi Procam dan studi Paris ). hipertensi.yaitu : impairment. dislipidemia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan definisi disabilitas ke dalam 3 kategori.12 Secara keseluruhan. prevalensi dari obesitas di dunia meningkat secara pesat.3.

40 mg/dL dan trigliserida > 200 mg/dL. pengobatan dan intervensi 19 . stroke. Disabilitas dapat juga disebabkan oleh beberapa kondisi medis seperti : diabetes melitus. kanker.dengan peningkatan derajat dari kelebihan berat badan atau obesitas. hipertensi. Pria dengan berat badan normal cenderung mengalami prevalensi penyakit yang lebih rendah.4 % dan 52 % overweight. Pada lansia. berpakaian. nilai rerata BMI pada 4232 pria. menunjukkan hubungan antara peningkatan usia dengan penurunan masa otot dan bertanggung jawab terhadap disabilitas dan penimbunan lemak tubuh. obesitas terjadi pada 17. Kolesterol tinggi didefinisikan sebagai peningkatan kadar kolesterol total lebih dari > 200 mg/dL. penyakit jantung.Penurunan aktifitas fisik berkaitan dengan obesitas paling sering disebabkan oleh osteoarthritis (OA). Obesitas berkaitan dengan beberapa penyakit yang berkaitan dengan disabilitas.12 Penyakit kardiovaskuler merupakan komplikasi serius pada lansia dengan obesitas sehingga dapat menimbulkan terjadinya disabilitas. hubungan antara masa lemak dan disabilitas secara umum. alkohol dan merokok ) telah diterangkan. Dimana didapatkan IMT tinggi berkaitan dengan usia. kelebihan berat badan dan obesitas berhubungan dengan peningkatan yang signifikan dari berbagai penyakit. HDL. Telah diteliti pada sampel laki-laki dan wanita usia 72 sampai 95 tahun. jalan.terutama pada gangguan cerebrovascular dan disabilitas. faktor sosial.11. Disabilitas terbagi dalam tiga kelas yaitu : • • • Tanpa pembatasan aktivitas kehidupan sehari hari Terdapat satu atau dua pembatasan aktivitas kehidupan sehari hari Terdapat lebih dari tiga pembatasan aktivitas kehidupan sehari hari1. penyakit paru dan osteoarthritis. Survey menunjukkan pembatasan aktivitas hidup sehari hari seperti: mandi. yang direfleksikan dengan peningkatan penggunaan obat anti hipertensi. menggunakan kamar mandi. duduk dan berdiri di kursi.13 Berdasarkan penelitian di Inggris ( 2004 ). Klasifikasi yang rinci mengenai metode dan pengukuran risiko kardiovaskuler ( seperti aktivitas fisik. Hipertensi yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan sistolik > 160 mmHg dan tekanan diastolik >90 mmHg dengan atau tanpa obat antihipertensi. penyakit Alzheimer.12 Hubungan antara dua komponen utama tubuh juga telah diperiksa. riwayat merokok dan alkoholisme. makan.

Selain itu juga berkaitan juga dengan osteoarthritis yang prevalensinya cukup tinggi pada pasien obesitas.13 2. Pada 50 % responden obesitas terdapat disabilitas dalam kehidupan sehari-hari. Pelaporan terhadap ada disabilitas terhadap aktivitas sehari-hari pada lansia sesuai dengan peningkatan IMT.4 KERANGKA TEORI KARAKTERISTIK INDIVIDUAL Usia Jenis kelamin Pekerjaan Pendidikan Status perkawinan Pendapatan 20 . Aktivitas fisik yang rendah juga meningkatkan prevalensi disabilitas pada lansia.kardiovaskuler.

1 KERANGKA KONSEP KARAKTERISTIK INDIVIDUAL • • • • • • Usia Jenis kelamin Status perkawinan Pendidikan Pekerjaan Pendapatan 21 . Minum alkohol Pola Makan PENYAKIT DEGENERATIF HIPERTENSI OBESITAS DM DISLIPIDEMIA KANKER PJK AKTIVITAS FISIK PSIKOLOGI GENETIKA OA BAB III KERANGKA KONSEP.TEORI BIOLOGIS Teori seluler Sintesis protein Keracunan oksigen Teori sistem imun Teori radikal bebas MASALAH KESEHATAN DISABILITAS KEBIASAAN Merokok. VARIABEL DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.

KEBIASAAN DAN GAYA HIDUP • • Merokok Alkohol DISABILITAS OBESITAS PENYAKIT DEGENERATIF • • AKTIVITAS FISIK • • • Hipertensi DM Hiperkolesterolemia PJK Osteoarthritis Gambar 2. Variabel Tergantung Disabilitas pada lansia b.2 VARIABEL PENELITIAN a. Kerangka konsep variabel-variabel yang berhubungan dengan disabilitas pada lansia 3. Variabel Bebas 22 .

Gaya hidup dan kebiasaan : • • • Asupan makan Merokok Alkohol iii. Karakteristik individual : • • • • • • Usia Jenis kelamin Status perkawinan Pendidikan Pekerjaan Pendapatan ii. Obesitas Aktivitas fisik Penyakit degeneratif • • • Hipertensi DM Hiperkolesterolemia 23 .i. v. iv.

3 DEFINISI OPERASIONAL 24 .3.

Pendidikan Kuesioner Wawancara 1=Tidak bersekolah 2=Tamat SD 3=Tamat SMP 4=Tamat SMA 5=Tamat Kuliah (D3/S1/ 4. Usia Definisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Usia responden ≥ 60 tahun yang diperoleh dari KTP KTP untuk mengetahui umur dalam tahun.79 tahun 3= ≥ 80 tahun 2.Jenis Kelamin Ciri atau karakteristik yang menunjukkan bahwa responden adalah laki-laki atau perempuan Pendidikan adalah jenjang pendidikan terakhir yang pernah dilalui sesuai dengan tingkat pendidikan formal di Indonesia. Pendapatan Sesuatu yang didapatkan oleh responden dalam bentuk uang yang diukur menggunakan UMR (Upah Minimum Regional) DKI Jakarta pada tahun 2011 Status responden sudah menikah (berpasangan) . Status perkawinan Kuesioner Wawancara 1=Menikah(pasangan m ada) 2= Duda/janda 3= Belum menikah 7. Kuesioner Wawancara 1 = Laki-laki 2 = Perempuan 3. Kuesioner Wawancara 1= < Rp 1290000 2= ≥ Rp 1290000 6. Aktivitas fisik Kebiasaan responden melakukan aktivitas fisik yang diukur mengunakan instrument Physical Activity Scale of Elderly (PASE ) and Paffenbarger Physical Activity Instrumen PASE Wawancara Terdapat 3 domain yang dinilai : 1 = 25 Tinggi 2 = Sedang 3 = Rendah .69 tahun 2= 70. Pekerjaan Sesuatu yang dikeluarkan oleh responden sebagai profesi.Variabel Variabel bebas: 1. Wawancara 1= 60. janda/duda dan belum menikah. sengaja dilakukan untuk mendapatkan penghasilan Kuesioner Wawancara 1=Pegawai Negeri 2= Pegawai Swasta 3= Mandiri/usaha 4= Tidak bekerja 5.

b) Lansia yang kooperatif c) Lansia yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian d) Lansia dengan obesitas 2.3.1 Populasi Terjangkau Populasi terjangkau adalah seluruh lansia ( ≥ 60 tahun ) di Mampang periode Desember 2011 – Januari 2012 sebanyak 550 orang yang datang ke Poli Umum dengan subjek penelitian adalah seluruh lansia yang termasuk ke dalam populasi terjangkau dan memenuhi kriteria penelitian sebanyak orang.2. penyakit jantung) 26 .1 Lokasi Penelitian 4. a) b) c) Kriteria Eksklusi Lansia yang tidak sehat secara mental. 4.3.1 JENIS PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah ini rancangan penelitian observasional jenis analitik dengan mengunakan pendekatan rancangan potong silang (cross sectional). 4. Jakarta Selatan.BAB IV METODE PENELITIAN 4.2. 4. Lansia yang tidak dapat membaca dan menulis Lansia yang mempunyai lebih dari satu penyakit kronik berat (stroke.2 Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan sejak bulan Februari 2012 – Maret 2012.3 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 4.2 Kriteria Inklusi dan Eksklusi 1.2 LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Mampang. Kriteria Inklusi a) Orang dewasa berusia 60 tahun ke atas. 4.

4.3.96)2 x 0. = Besar sampel dari populasi yang infinit = Besar sampel populasi finit ( lansia yang berkunjung ke puskesmas mampang selama Desember 2011 – Januari 2012 ) Karena jumlah lansia yang berkunjung ke Puskesmas Mampang selama periode Desember 2011 – Januari 2012 berjumlah 550 orang maka: n = 236 (1 + 236/550) = 165 lansia = 236.96 = Prevalensi kelompok lansia obesitas dengan disabilitas tahun 2007*= 19 % = Prevalensi/proporsi yang tidak mengalami peristiwa yang diteliti = 1 – 0.81 (0.4 ~ pembulatan 236 27 .19 = 0.19 x 0.05)2 *Penelitian sebelumnya pada tahun 2007 menurut Riskesdas Rumus populasi finit: n n n0 N = n0 (1 + n0/N) = Besar sampel yang dibutuhkan untuk populasi yang finit. Rumus populasi infinit: No Zα P Q d = Zα2 x P x Q d2 = Tingkat kemaknaan yang dikehendaki 95% besarnya 1.2 Sampel Penelitian Besar sampel Perkiraan besar sampel yang digunakan pada penelitian ini menggunakan rumus.81 = Akurasi dari ketepatan pengukuran untuk p > 10% adalah 0.05 No = (1.

7.4. 5. 1. 4. Alat ukur GDS dan kolesterol total Sphygmomanometer Kuesioner Rosow-Breslau Katz basic activities of daily living (ADL) Lawton-Brody (IADL) Timbangan injak Meteran Usia Jenis kelamin Pendidikan Pekerjaan Pendapatan Status perkawinan Kebiasaan (merokok dan alkohol) Pola makan untuk menentukan DM dan dislipidemia sebagai faktor risiko Untuk mengetahui tekanan darah Untuk mengukur aktivitas fisik Untuk mengukur disabilitas Untuk mengukur berat badan Untuk mengukur tinggi lutut 28 . 3.4 INSTRUMEN PENELITIAN No. 6. INSTRUMEN Wawancara FUNGSI INSTRUMEN Untuk mengetahui : • • • • • • • • 2.

5 ALUR PELAKSANAAN PENELITIAN Proposal disetujui Peneliti mendapatkan data yaitu populasi daftar pasien lansia dari Puskesmas Mampang Peneliti turun ke lapangan Mengumpulkan sampel Peneliti melakukan wawancara.4. penyebaran kuesioner. tekstular dan grafik dengan menggunakan Microsoft Excel. Word 2007 dan SPSS 17. dan pemeriksaan BMI Peneliti mengumpulkan data Peneliti mengolah dan menganalisis data dalam bentuk tabular.0 Penyajian data dalam bentuk presentasi Gambar 3: Alur pelaksanaan penelitian 29 .

4.6 JADWAL KEGIATAN PENELITIAN Tahapan Kegiatan A Perencanaan 1 Orientasi dan Identifikasi Masalah 2 Pemilihan Topik 3 Penelurusan kepustakaan 4 Pembuatan Proposal 5 Konsultasi dengan pembimbing 6 Pembuatan questionnaire 7 Presentasi Proposal B Pelaksanaan 1 Ujicoba questionnaire 2 Pengumpulan data dan Survey 3 Pengolahan data 4 Analisis data 5 Konsultasi dengan Pembimbing C Pelaporan Hasil 1 Penulisan laporan sementara 2 Diskusi 3 Presentasi hasil laporan sementara 4 Revisi Presentasi Hasil akhir 5 6 (puskesmas dan trisakti) Penulisan laporan akhir 1 Waktu Dalam Minggu 2 3 4 5 6 7 8 9 Jadwal kegiatan 4.Rp.- 30 . 250.7 PERKIRAAN BIAYA PENELITIAN Penggandaan Kuesioner Transportasi Rp.000.000. 100.

Rp.8 ORGANISASI PENELITIAN 1. 1.000. Chitra Rasjmi Cara 3.Adi Hidayat 2. 15.Rp 100. Pembimbing Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu dr.Rp 35.000. Pembimbing dari Kedokteran Universitas Trisakti Prof. Penyusun dan Pelaksana Penelitian Aditya Prabawa Andikha Putra Maria Henny DAFTAR PUSTAKA 31 .000 Rp.DR.000. 350.Rp.000. 2.000.000.000.dr. 220.Rp.CD Kertas A4 Tinta Printer Cenderamata Strip GDS dan Kolesterol Biaya tak terduga: Rp.070.- 4.

Garcia EL. Diakses pada 14 Februari 2012. Perhimpunan dokter Kardiologi Indonesia. Relationship between obesity. Spain.html. European Journal of Preventive Cardiology 2007. World Health Organization.ISBN 0-9577082-1-1. 4.pdf+html. 8.com/content/14/3/456. 7. Accessed February 14. WHO Expert Consultation. Jakarta: EGC. Active Ageing A Policy Framework. 2005. 5. http://www. Lancet. Health Communications Australia:Melbourne. 9. 2012. Shang B. Penduduk lanjut usia di Indonesia dan masalah Diposkan tanggal 23 Oktober 2007. Hal 4-11. Netuveli G. Setiati S.sagepub.id. Castillan PG.depsos. Roger.2003. Appropiate body mass index for Asian populations and its implication for policy and intervention strategies. 6.14:456-62. (2004). Jakarta:Pusat Informasi dan Penerbit Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Health Affair 2005. The health and cost onsequences of obesity among the future elderly. 3.2004. London. WHO/IASO/IOTF. Lakdawalla DN. 10. Madrid. 2.April 2002. Nasrun MWS.go. Available at kesejahteraannya. Watson. 2012.full. Graciani A. Quality of life in older ages. 15 Februari 2008. 32 . Goldman DP. Diunduh dari http://www. Blane D. The Asia-Pacific perspective: redefining obesity and its treatment. Prevensi dan Tatalaksana Dislipidemia dalam penanggulangan Penyakit Jantung Koroner. Edisi Pertama. Silaswati S.healthaffairs. Pedoman Pengelolaan Kesehatan Pasien Geriatri Untuk Dokter dan Perawat. hypertension and diabetes. Pedoman Deteksi. Perawatan Lansia.who. 363:157-163. Edisi ke-3.org/content/early/2005/09/26/hlthaff. and health related quality of life among the elderly.1.w5. Departemen Sosial RI. Accessed February 14. 2005. et al.int/ageing/publications/active/en.r30. Available at http://cpr. Soejono CH. Banegas JR.Available at http://content.

11. Lawton NP. British Geriatrics Sociaety 2000. Assesment of older people:selt maintaining and instrumental activities of daily living. International Journal of Obesity 2004. 37: 91-99. Breslau N. Association of individual activity of daily living with self-rated health in older people. Francesco VD. 33 . 29: 267-70. Rosow I. 13. Ford AB. 21: 55659. Zoico E. 185: 91419. Overweight and obesity and the burden of disease and disability in elderly men. A guttman health scale for the aged. Damian J. JAMA 1963. 28: 1374-82. et al.The index of ADL:a standarized measure of biological and psychosocial function. 14. 28: 234-41. Moskovitz RW. Katz SC. Brody EM. Molino JP. J Gerontol 1966. 15. 16. Gama EV.J Gerontol 1982. Guralnik JM. Whincup PH. Physical disability and muscular strength in relation to obesity and different body composition indexes in a sample of healthy elderly women. Studies of illness in the aged. 12. Walker M. Lopez MR. Mazzali G. et al. International Journal of Obesity 2004. Wannamethee SG. Shaper AG.